Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kemandirian Anak

Karena Segala Sesuatu Ada Tempatnya

Tujuh hari tantangan kemandirian terlewati sudah. Latihan kemandirian berupa makan mandiri, terlewati dengan cukup baik. Di hari kedelapan ini, kami mencoba beralih ke bentuk kemandirian yang lain, yaitu meletakkan barang di tempatnya. Diawali dengan membaca salah satu buku dari paket buku “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Di dalam buku ini ada cerita mengenai Jumper yang kesulitan mencari sepatu di rumahnya, karena rumahnya sangat berantakan. Sebagai teman yang baik, Goop si Beruang membantunya mencari sepatu sekaligus menata rumah Jumper. Goop teringat nasihat ayahnya, “Berikan tempat untuk segala sesuatu dan segala sesuatu ada tempatnya”. Kata-kata ini menarik bagi Ummica! Meski bisa jadi masih terlalu kompleks bagi kakak untuk mencernanya, tapi dari sini Mica justru mendapat ide untuk latihan kemandirian kakak. Maka, jadilah hari ini kami memberikan tempat untuk segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan barang-barang milik kakak. Selain itu, kami juga menata barang yang telah...

Bersih Tanpa Sisa

Teruslah bergerak, maka Allah akan bukakan pintu kemudahan-kemudahanNya dari jalan yang tak kau sangka. Teruslah optimis, hasil manis akan terlihat seiring langkah kala ragu telah kau kikis. Ummi tersenyum melihat perkembanganmu, Nak. Di hari ketujuh ini, kakak mulai dapat mengambil makan sesuai porsi, dan menghabiskannya dengan mandiri. Serta menaruh piring bekas makannya langsung ke tempat cucian piring. Ummi sadar Nak, beradaptasi di lingkungan baru, menyandang status baru sebagai kakak, berjauhan dengan orang kesayanganmu adalah bukan hal yang mudah untukmu. Wajar, jika kau sedikit manja. Mungkin itu bentuk adaptasimu atas perubahan kondisi ini. Wajar, jika kau sedikit merajuk. Harusnya ummi bisa memakluminya. Bukan melabeli bahwa itu merupakan suatu kemunduran kemandirian. Ummi, bercerminlah. Jika ada sebuah perubahan menyapamu, bukankah kau memerlukan dukungan orang sekeliling untuk menguatkan pijakan? Jika ada hal baru yang datang dan membuatmu menja...

Sayur Bening Kesukaan Kakak

Hari ini kakak makan dengan lahap dan penuh kemandirian. Sayur bening bikinan yangti sanggup membuat kakak berbinar, bergegas mengambil piring dan nasi sesuai porsinya. Kami makan bersama di meja makan lesehan. Kakak memilih duduk dekat yangkung. Awalnya, sebelum kakak tertarik untuk makan, kakak memang sudah menempel dengan yangkung. Mencicipi beberapa suap makanan yang sedang disantap oleh yangkung. Hingga kemudian, Yangkung : “Kak, makan ya, yangkung suapi ya. Kakak : “Iya, mau yangkung” Mica : “Hmm…enak bangeeeet masakannya yangti. Kalau begini, ummi juga mau makan ah. Ummi mau ambil piring, ambil nasi sendiri terus makan sendiri. Ummi kan ummi mandiriiiii…” (Sambil lirik-lirik kakak, semoga terdengar) Kakak : “Kakak juga Mi, kakak juga mau ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri. Yuk, makan bareng-bareng. Yangti, Om, yuk makan bareng-bareng. Mica : Ayooook, makan bersama  yaaaa… (“yes, alhamdulillah!” bergumam dalam hati sembari pasang senyum lebar mengapre...

Memunculkan Inisiatif

Menu kesukaan menyambut hari kelima praktik makan mandiri kakak. Ya, Yangti masak opor ayam. Karena semalam kakak makan opor ayam yang didapat dari acara pengajian dengan lahap. Tapi ternyata, pola “cukup sekali saja” masih berlaku bagi kakak, sekalipun pada menu kesukaannya. Kakak bisa makan dengan lahap untuk menu favoritnya. Tapi tidak akan terulang di sesi makan berikutnya. Jadi, meski menunya sama, kakak sudah datar-datar saja. Hari ini, Mica belajar untuk memunculkan inisiatif kakak saat makan. Teringat materi yang disampaikan oleh bu Septi minggu lalu, bahwasanya dalam memandu kemandirian untuk anak seusia kakak, jadilah anak-anak yang menjalankan kesepakatan tersebut, jangan berperan sebagai orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya. Baiklah, bagaimana cara Mica menjadi teman makan kakak hingga kakak menganggap sedang makan bersama teman sebayanya? Hihihi Begini, sejak kelahiran adiknya, kami seri...

Kakak Masih Kenyang, Mi

Memasuki hari keempat tantangan melatih kemandirian anak, Mica masih berjibaku untuk menghadapi pernyataan ini. “Kakak masih kenyang, Mi” Mica seringkali menjawab dengan senyuman. Itu adalah jawaban yang mengisyaratkan bahwa kakak belum ingin makan. Hihi Kalau ingat bahwa sedari pagi kakak belum makan apapun, ingin rasanya ummi mengatakan, “Ummi suapin ya kak?” atau “Ummi merem, pesawat meluncur ke mulut kakak, siaaap?” Tapi Mica menahan diri hingga kata-kata tersebut tak sampai terlontar. “Kakak, kakak kan belum makan dari tadi, koq bisa kenyang?” “Iya Mi, kakak masih kenyang, kakak minum susu aja ya..” Maka, saya putuskan untuk mengalah dulu lalu menawarkan kesepakatan padanya. “Oke, boleh. Tapi nanti, setelah jamaah Dhuhur di masjid kakak makan ya.” “Iya, Mi.” Dan mengawali sesi makan dengan kesepakatan terasa lebih ringan untuk dijalankan, dibanding harus menawarkan kemudahan dan menggunakan bujuk rayu. #hari4

Ada Banyak Orang yang Bisa Menyuapiku, Mi

Hari kedua ini Mica coba awali dengan sounding saat dia jelang bangun tidur pagi. Mica sampaikan padanya kalau kakak bisa makan sendiri, menyiapkan piringnya sendiri dan menghabiskan makanannya tanpa sisa. Bismillah…semoga hari ini dimudahkan. Saat sarapan, agak kaget juga saat tadi akan makan tiba-tiba kakak sampaikan kalau kakak mau mengambil nasi sendiri dari magic com. Kebiasaan yang akhir-akhir ini menghilang  karena adanya pelayanan. Karena permintaan kakak, maka Mica turunkan magic com nya ke lantai. Kakak ambil piring di rak piring kakak, kemudian mengambil beberapa centong nasi ke piringnya. Kami pun duduk bersila di hadapan meja makan, siap untuk makan bersama Mica : Kakak, anak yang shalihah dan mandiri, Ummi yakin kakak bisa makan sendiri. Kita sekarang makan bareng-bareng yuk… Kakak : Tapi kakak maunya disuapi… Mica : Kenapa? Ini lihat, ummi makan, kakak juga makan. Sama-sama menyuapkan nasi ke mulut. Yuuuuuk… Kakak : Ngga mau, kakak maunya disuapi ...

Karena Karbohidrat Tak Harus Nasi

Nak, Ummi tidak ingin kau makan dengan terpaksa. Maka, saat sarapan tadi kau menolak untuk menyantap nasi yang sudah terhidang, ummipun membiarkan. Hingga hari semakin siang dan kau pun tak kunjung menyentuh nasi di piring. Ummi menanti dengan mawas hati. Hingga kemudian ada penjual roti yang suara belnya sudah akrab di telingamu sejak kita masih tinggal di Bandung. Dan kau pun meminta untuk membelinya. Setelah roti berada dalam genggamanmu, kau menyantap dengan lahap. Dua potong besar kau habiskan. Ummi pun sedikit tersenyum lega. Di lain waktu, kakak juga lebih melirik kolak pisang dibanding piring makan yang terhidang di meja. Mica pun membolehkan. Kakak bebas menentukan mana yang dikonsumsi terlebih dahulu. Asupan karbohidrat memang telah terpenuhi di porsi itu, tapi belum merupakan gizi seimbang. Tapi kakak sudah menolak jika ditawari menu makanan yang lain. Bagi kakak, tak mudah mengidentifikasi rasa lapar. Kakak baru mengatakannya jika sudah merasa sangat lapar...

Yuk Nak, Kita Biasakan Lagi

Makan sendiri bukanlah kebiasaan baru untuk kakak.  Saat dulu tinggal masih hanya bertiga saja di Bandung, kakak sudah terbiasa untuk makan sendiri. Memang, belum sepenuhnya. Namun dia bisa melalui sesi makan dengan memasukkan beberapa suap makanan secara mandiri. Dan biasanya dia akan berhenti menyuap sendiri, saat melihat piring Mica dan Biya sudah kosong. Mungkin dia merasa sesi makannya pun sudah usai. hihihi Berpindah tempat tinggal ke rumah Yangti Yangkung, membuat kebiasaan menjadi sedikit goyang. Dualisme pola pengasuhan, kehadiran adik, tempat tinggal dan lingkungan yang baru membuat kakak perlu menyesuaikan diri. Dan dalam hal makan, dia pun memilih yang membuatnya nyaman. Mica : Kakak, makan yuk… Kakak : Iya nanti, kakak belum lapar Mi Yangti : Nanti sebentar lagi ya. Makan sama Yangti, Yangti suapi kakak. Kakak : Iyaaaaa… Contohnya seperti itu. Tidak ada siapa yang salah siapa yang benar, karena Mica yakin, dalam pandangan Yangti Yangkungpun, it...

Mini Project : Melipat Mukena Sendiri

[Mini Project] Memandu Kemandirian : Melipat Mukena Sendiri Melipat mukena adalah salah satu tugas kemandirian yang kami latihkan untuk MeGi di usia 2 tahun. Karena dia senang mengenakan mukena, kami berinisiatif memesankan mukena ke tetangga untuk MeGi. Ibu tetangga ini pintar menjahit, sehingga kami bisa memesan dengan ukuran khusus. Berbonus sajadah bermotif senada pula. Alhamdulillah. Sebelumnya, MeGi cukup puas mengenakan kerudung saya jika beraktivitas sholat. Kegembiraannya memakai mukena baru, kami jadikan momen untuk memandu kemandirian dan melatih tanggung jawab. MeGi yang biasa sholat berjamaah dengan saya, secara otomatis mengikuti setiap gerak gerik yang saya lakukan. Maka, usai sholat sayapun bersegera melipat mukena. Di awal, dia akan bersemangat sekali ikut melipat mukena. Namun saat melihat mukena saya sudah terlipat rapi sedangkan miliknya masih tak berbentuk, dia mulai kesal. MeGi     : “Mi, susaaaaaaah…”   Saya  ...

Mini Project : Yuk, Baca Al Qur'an Bersama-sama

[Mini Project] Yuk, Baca Al Qur’an Bersama-sama Raising your children, raising ourselves Quote diatas memang benar adanya. Jika menginginkan anak yang sholih dan sholihah, langkah pertama dan utama yang harus ditempuh adalah membuat diri menjadi pribadi yang sholih terlebih dahulu. Maka, dalam mendidik anak, keteladanan jauh lebih utama dibandingkan nasihat. Dan ini menjadi PR besar bagi kami. Setiap anak pasti memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, terutama atas apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Setiap kali orangtua melakukan sesuatu, tidak berselang lama anak akan menirukannya. Pun saat membaca Al Qur’an. Saat kita membaca Al Qur’an, sudah bisa ditebak dia pasti juga ingin membaca Al Qur’an. Bukan buku bacaan yang lain, yang bahkan mungkin ilustrasinya lebih beragam, gambarnya lebih menarik dan warnanya lebih mencolok. Bukan, bukan itu. Dia lebih mengingingkan apa yang ada dalam genggaman kita, yang sedang kita gunakan. Mungkin dia berpikir, dia juga ingin...

Mini Project : Bermain di Kolam Renang

Saat mudik lebaran ke rumah Yangti Yangkung, MeGi memang membawa baju renang muslim. Bukan beli di toko, tapi hasil karya handmade ibu tetangga. Ibu tetangga hobi dan ahli menjahit, beliau membuat baju-baju renang untuk anak mulai usia 3-4 tahun. Saat MeGi ditawari, MeGi memilih baju renang muslimah lengkap dengan jilbabnya. Karena ukuran paling kecil yang ada masih terlalu panjang buatnya, dengan senang hati ibu tetangga mengecilkan ukurannya hingga pas dikenakan MeGi. Dan dibawalah baju renang itu selama mudik, cukup seharga lima puluh ribu rupiah. Jauh lebih murah dibandingkan harga baju renang anak yang ada di pasaran. Tak jauh dari rumah Yangti, ada kolam renang desa yang sudah buka di beberapa hari setelah lebaran. MeGi yang waktu itu Micha ajak masuk untuk melihat kolam renang anak, langsung saja meminta untuk berenang. Karena niat awal kami berdua hanya jalan-jalan, kami berjalan kaki dan tidak membawa pakaian ganti untuk MeGi, maka kami berdua memutuskan pulang. Mengambil ...

Toilet Training Saat Mudik? Tetaplah Berjalan, Allah yang Mudahkan

Jauh hari sebelum mudik lebaran, saya sudah berpikir mengenai proses toilet training MeGi. Ya, saat ini MeGi sedang menjalani toilet training . Progress dia sebelum berangkat mudik adalah sebagai berikut : Kalau ingin BAK, selalu lapor, tapi kadang sat masih kering, kadang saat sudah basah. Semakin kesini dia semakin sering laporan saat celana masih kering. Ini sangat kami syukuri. Beberapa kali bepergian jarak dekat, kami lepas pospak dan kami sering tanyakan apakah dia ingin BAK/tidak. Beberapa momen berhasil, beberapa kali juga sempat kecolongan yang mana dia bilangnya mendadak dan keburu tidak kuat menahan pipis. Sedangkan untuk BAB, dia masih lebih seringlapor saat sudah mulai mengejan. Jadi celana tetap kotor meski BAB belum sepenuhnya keluar. Saat mempersiapkan amunisi mudik, saya meminta izin suami untuk melanjutkan toilet training  selama di rumah orangtua. Sayang kalau progress hingga sata ini sia-sia dan harus memulai lagi dari 0 semata-mata hanya karena saya e...