Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ODOP#99days

Karena Segala Sesuatu Ada Tempatnya

Tujuh hari tantangan kemandirian terlewati sudah. Latihan kemandirian berupa makan mandiri, terlewati dengan cukup baik. Di hari kedelapan ini, kami mencoba beralih ke bentuk kemandirian yang lain, yaitu meletakkan barang di tempatnya. Diawali dengan membaca salah satu buku dari paket buku “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Di dalam buku ini ada cerita mengenai Jumper yang kesulitan mencari sepatu di rumahnya, karena rumahnya sangat berantakan. Sebagai teman yang baik, Goop si Beruang membantunya mencari sepatu sekaligus menata rumah Jumper. Goop teringat nasihat ayahnya, “Berikan tempat untuk segala sesuatu dan segala sesuatu ada tempatnya”. Kata-kata ini menarik bagi Ummica! Meski bisa jadi masih terlalu kompleks bagi kakak untuk mencernanya, tapi dari sini Mica justru mendapat ide untuk latihan kemandirian kakak. Maka, jadilah hari ini kami memberikan tempat untuk segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan barang-barang milik kakak. Selain itu, kami juga menata barang yang telah...

Bersih Tanpa Sisa

Teruslah bergerak, maka Allah akan bukakan pintu kemudahan-kemudahanNya dari jalan yang tak kau sangka. Teruslah optimis, hasil manis akan terlihat seiring langkah kala ragu telah kau kikis. Ummi tersenyum melihat perkembanganmu, Nak. Di hari ketujuh ini, kakak mulai dapat mengambil makan sesuai porsi, dan menghabiskannya dengan mandiri. Serta menaruh piring bekas makannya langsung ke tempat cucian piring. Ummi sadar Nak, beradaptasi di lingkungan baru, menyandang status baru sebagai kakak, berjauhan dengan orang kesayanganmu adalah bukan hal yang mudah untukmu. Wajar, jika kau sedikit manja. Mungkin itu bentuk adaptasimu atas perubahan kondisi ini. Wajar, jika kau sedikit merajuk. Harusnya ummi bisa memakluminya. Bukan melabeli bahwa itu merupakan suatu kemunduran kemandirian. Ummi, bercerminlah. Jika ada sebuah perubahan menyapamu, bukankah kau memerlukan dukungan orang sekeliling untuk menguatkan pijakan? Jika ada hal baru yang datang dan membuatmu menja...

Sayur Bening Kesukaan Kakak

Hari ini kakak makan dengan lahap dan penuh kemandirian. Sayur bening bikinan yangti sanggup membuat kakak berbinar, bergegas mengambil piring dan nasi sesuai porsinya. Kami makan bersama di meja makan lesehan. Kakak memilih duduk dekat yangkung. Awalnya, sebelum kakak tertarik untuk makan, kakak memang sudah menempel dengan yangkung. Mencicipi beberapa suap makanan yang sedang disantap oleh yangkung. Hingga kemudian, Yangkung : “Kak, makan ya, yangkung suapi ya. Kakak : “Iya, mau yangkung” Mica : “Hmm…enak bangeeeet masakannya yangti. Kalau begini, ummi juga mau makan ah. Ummi mau ambil piring, ambil nasi sendiri terus makan sendiri. Ummi kan ummi mandiriiiii…” (Sambil lirik-lirik kakak, semoga terdengar) Kakak : “Kakak juga Mi, kakak juga mau ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri. Yuk, makan bareng-bareng. Yangti, Om, yuk makan bareng-bareng. Mica : Ayooook, makan bersama  yaaaa… (“yes, alhamdulillah!” bergumam dalam hati sembari pasang senyum lebar mengapre...

Memunculkan Inisiatif

Menu kesukaan menyambut hari kelima praktik makan mandiri kakak. Ya, Yangti masak opor ayam. Karena semalam kakak makan opor ayam yang didapat dari acara pengajian dengan lahap. Tapi ternyata, pola “cukup sekali saja” masih berlaku bagi kakak, sekalipun pada menu kesukaannya. Kakak bisa makan dengan lahap untuk menu favoritnya. Tapi tidak akan terulang di sesi makan berikutnya. Jadi, meski menunya sama, kakak sudah datar-datar saja. Hari ini, Mica belajar untuk memunculkan inisiatif kakak saat makan. Teringat materi yang disampaikan oleh bu Septi minggu lalu, bahwasanya dalam memandu kemandirian untuk anak seusia kakak, jadilah anak-anak yang menjalankan kesepakatan tersebut, jangan berperan sebagai orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya. Baiklah, bagaimana cara Mica menjadi teman makan kakak hingga kakak menganggap sedang makan bersama teman sebayanya? Hihihi Begini, sejak kelahiran adiknya, kami seri...

Kakak Masih Kenyang, Mi

Memasuki hari keempat tantangan melatih kemandirian anak, Mica masih berjibaku untuk menghadapi pernyataan ini. “Kakak masih kenyang, Mi” Mica seringkali menjawab dengan senyuman. Itu adalah jawaban yang mengisyaratkan bahwa kakak belum ingin makan. Hihi Kalau ingat bahwa sedari pagi kakak belum makan apapun, ingin rasanya ummi mengatakan, “Ummi suapin ya kak?” atau “Ummi merem, pesawat meluncur ke mulut kakak, siaaap?” Tapi Mica menahan diri hingga kata-kata tersebut tak sampai terlontar. “Kakak, kakak kan belum makan dari tadi, koq bisa kenyang?” “Iya Mi, kakak masih kenyang, kakak minum susu aja ya..” Maka, saya putuskan untuk mengalah dulu lalu menawarkan kesepakatan padanya. “Oke, boleh. Tapi nanti, setelah jamaah Dhuhur di masjid kakak makan ya.” “Iya, Mi.” Dan mengawali sesi makan dengan kesepakatan terasa lebih ringan untuk dijalankan, dibanding harus menawarkan kemudahan dan menggunakan bujuk rayu. #hari4

Ada Banyak Orang yang Bisa Menyuapiku, Mi

Hari kedua ini Mica coba awali dengan sounding saat dia jelang bangun tidur pagi. Mica sampaikan padanya kalau kakak bisa makan sendiri, menyiapkan piringnya sendiri dan menghabiskan makanannya tanpa sisa. Bismillah…semoga hari ini dimudahkan. Saat sarapan, agak kaget juga saat tadi akan makan tiba-tiba kakak sampaikan kalau kakak mau mengambil nasi sendiri dari magic com. Kebiasaan yang akhir-akhir ini menghilang  karena adanya pelayanan. Karena permintaan kakak, maka Mica turunkan magic com nya ke lantai. Kakak ambil piring di rak piring kakak, kemudian mengambil beberapa centong nasi ke piringnya. Kami pun duduk bersila di hadapan meja makan, siap untuk makan bersama Mica : Kakak, anak yang shalihah dan mandiri, Ummi yakin kakak bisa makan sendiri. Kita sekarang makan bareng-bareng yuk… Kakak : Tapi kakak maunya disuapi… Mica : Kenapa? Ini lihat, ummi makan, kakak juga makan. Sama-sama menyuapkan nasi ke mulut. Yuuuuuk… Kakak : Ngga mau, kakak maunya disuapi ...

Karena Karbohidrat Tak Harus Nasi

Nak, Ummi tidak ingin kau makan dengan terpaksa. Maka, saat sarapan tadi kau menolak untuk menyantap nasi yang sudah terhidang, ummipun membiarkan. Hingga hari semakin siang dan kau pun tak kunjung menyentuh nasi di piring. Ummi menanti dengan mawas hati. Hingga kemudian ada penjual roti yang suara belnya sudah akrab di telingamu sejak kita masih tinggal di Bandung. Dan kau pun meminta untuk membelinya. Setelah roti berada dalam genggamanmu, kau menyantap dengan lahap. Dua potong besar kau habiskan. Ummi pun sedikit tersenyum lega. Di lain waktu, kakak juga lebih melirik kolak pisang dibanding piring makan yang terhidang di meja. Mica pun membolehkan. Kakak bebas menentukan mana yang dikonsumsi terlebih dahulu. Asupan karbohidrat memang telah terpenuhi di porsi itu, tapi belum merupakan gizi seimbang. Tapi kakak sudah menolak jika ditawari menu makanan yang lain. Bagi kakak, tak mudah mengidentifikasi rasa lapar. Kakak baru mengatakannya jika sudah merasa sangat lapar...

Yuk Nak, Kita Biasakan Lagi

Makan sendiri bukanlah kebiasaan baru untuk kakak.  Saat dulu tinggal masih hanya bertiga saja di Bandung, kakak sudah terbiasa untuk makan sendiri. Memang, belum sepenuhnya. Namun dia bisa melalui sesi makan dengan memasukkan beberapa suap makanan secara mandiri. Dan biasanya dia akan berhenti menyuap sendiri, saat melihat piring Mica dan Biya sudah kosong. Mungkin dia merasa sesi makannya pun sudah usai. hihihi Berpindah tempat tinggal ke rumah Yangti Yangkung, membuat kebiasaan menjadi sedikit goyang. Dualisme pola pengasuhan, kehadiran adik, tempat tinggal dan lingkungan yang baru membuat kakak perlu menyesuaikan diri. Dan dalam hal makan, dia pun memilih yang membuatnya nyaman. Mica : Kakak, makan yuk… Kakak : Iya nanti, kakak belum lapar Mi Yangti : Nanti sebentar lagi ya. Makan sama Yangti, Yangti suapi kakak. Kakak : Iyaaaaa… Contohnya seperti itu. Tidak ada siapa yang salah siapa yang benar, karena Mica yakin, dalam pandangan Yangti Yangkungpun, it...

Ummi, Bersabarlah dalam Membersamainya

Ada pelajaran dalam setiap peristiwa, pun kemarin saat membersamai ananda.  Hari kemarin, kakak memilih untuk bersepeda di luar rumah. Sembari menggendong adik, saya menemani kakak bersepeda. Menyemangati kala kesulitan mengayuh pedal, membantunya melewati jalan yang tidak rata atau memberikan apresiasi saat kakak berhasil menyeberang. Adik tenang dalam buaian. Lambat laun, stok energi saya menipis. Tak sebanding dengan semangat kakak untuk bergerak kesana kemari. Mulailah saya melayangkan negosiasi. Ummi : Kak, Ummi masuk sebentar ya. Mau taruh adik di kamar. Kakak : Lho, jangan. Adik temani kakak main sepeda. Sambil digendong Ummi. Ummi : Tapi sebentar aja ya. Ini panasnya menyengat kak. Kakak : Lho, kakak maunya main sepeda yang lama Ummi : Hmm..begini saja ya. Ummi pasang alarm 10 menit, nanti kalau alarmnya berbunyi, kita masuk rumah. Sepakat? Kakak : Nah, iya. Sepakat Mi. Bahu sudah pegal-pegal, ingin memintanya main di dalam rumah, ingin meletakkan adi...

Mari Kita Buktikan Intuisimu, Nak

Di rumah yangti, kakak terbiasa mengikuti pengajian majlis ta’lim yang tempatnya tepat di depan rumah. Untuk menuju kesana kami cukup menyeberang saja. Dan untuk melihat pengajian berjalan sesuai jadwal atau libur, cukup melihat tanda pintu samping terbuka atau tidak.  Sore tadi, tidak ada jadwal pengajian disana, tapi ada rapat bulanan untuk pengurus majlis ta’lim. Sepulang sholat jamaah Ashar, kakak melihat ada beberapa motor berjejer parkir di depan rumah depan. Usai melipat mukena, Mica mengajaknya mandi. Mica : Kak, mandi yuk…mumpung adik masih tidur. Kakak : Ayo Mi, kakak mau mandi, terus mengaji di rumah depan Mica : Ada pengajian gitu di rumah depan? Kakak : Ada, kakak sudah lihat. Mica : Biasanya kalau ada pengajian, yangti kan selalu ikut. Nah, kita tanya yangti ya, benar atau ngga. Kakak : (ke yangti) Yangti, di rumah depan ada pengajian ya? Yangti : Oh, ngga. Di rumah depan itu sedang ada rapat ibu-ibu. Nih buktinya yangti ngga ikut. Kalau pengajian...

Cancel Cancel Go Away

Hijrah ke lingkungan yang berbeda tentu membuat diri menyesuaikan diri. Terbiasa berada di lingkungan kondusif untuk belajar dan berdiskusi, membuat Ummica merasa kehilangan saat di lingkungan baru belum ada forum belajar serupa. Saat bertemu dengan orang-orang yang menanyakan aktivitas, saat Ummi menjawab, “mendidik anak dan menulis.”, tanggapannya adalah “oh, berarti di rumah saja ya.”. Mica pun meringis. Sempat terbawa arus perasaan menjadi sedih dan merasa powerless . Tapi alarm diri berbunyi, Mica merasa itu tidak tepat. Anggap saja Mica sedang bertemu Mr. Loose Loose. Yang harus dihadapi dengan jurus cancel-cancel go away .  Kalimat-kalimat negatif yang diterima, diubah menjadi energi untuk bersiap melompat lebih tinggi. Karena pikiran mempengaruhi segalanya. Mica pun menguatkan tekad untuk semakin bersungguh-sungguh menjalankan Pendidikan Keluarga ( Home Education ) untuk kakak dan adik. Maka, Mica putuskan untuk fokus dan terus bergerak. Beberapa bulan lalu M...

Perhatian dan Pengertian

Sejak family forum tanggal 1 Februari 2017 lalu, Abiya selalu berusaha menghubungi Ummica kala istirahat siang maupun ba’da Isya’. Tidak setiap saat jadwal kami berpadu. Kadang saat tengah hari, Mica masih membersamai anak-anak, atau saat malam hari, Biya masih lembur kerja. Biya : Assalamu’alaykum wr wb Mica : Wa’alaykumsalam wr wb Biya : Ummi lagi apa? Bisa diskusi? Mica : Harus sekarang? Kalau ditunda dulu bisa? Jam 2 gitu, Bi. Sekarang masih menemani kakak makan. Biya : Oke, bisa. Ngga masalah. Kami berusaha menerapkan kaidah Clear and Clarify . Biya menanyakan dulu keluangan waktu Mica, dan Mica menanyakan dulu apakah diskusi tersebut bisa ditunda atau tidak. Bagaimana komunikasi kami sebelumnya? Saya sulit mengeluarkan isi hati dan keinginan. Contohnya begini, Biya : Assalamu’alaykum wr wb Mica : Wa’alaykumsalam wr wb Biya : Ummi lagi apa? Mica : Tidur (jawaban yang muncul karena merasa disindir oleh Biya, sembari nggrundel mbatin, “Masa’ Abi ng...

Ummi, Turunkan Egomu

Suatu tantangan tersendiri bagi Mica, kala pekerjaan domestik sedang menumpuk, dan kakak meminta perhatian khusus. Seperti siang ini, saat Mica sedang mencuci perkakas dapur usai memasak, kakak yang sedang ada di meja makan, meminta untuk diambilkan piring. Sebenarnya kakak bisa dan biasa mengambilnya sendiri, tapi kali ini memilih untuk diambilkan. Kakak : Ummi, mau kedelai edamame (sudah ada di atas meja) Mica :  Boleh, kakak ambil piring untuk tempat kulitnya ya Kakak : Ngga mau, ummi aja yang mengambil Mica : Kakak, kakak bisa. Ayo, ambil sendiri Kakak : Ngga, ummi ajaaaaaaa (mulai menggunakan nada tinggi) Mica : Kakak, kakak sudah bisa jalan, bisa berjalan kan? Ayo, ambil sendiri ( kekeuh tidak mau mengambilkan dan hati mulai terasa kesal memanas) Kakak : Ngga mauuuuu, mau diambilkan ummi aja (nada tinggi maksimal :D) Mica : (menahan gemas sambil mencuci panci, rasa-rasanya ingin menggigit panci. Tetap tidak mengambilkan tapi mendatangi kakak, dan melihat be...

Siap Menerima Resiko?

Usai sholat Isya’, kakak terlihat sudah mengantuk. Ummi : Kakak sudah mengantuk? Kakak : Iyaaaa….ngantuk Mi, mau tidur Ummi : Boleh…Yuk., gosok gigi dulu Kakak : Ngga mau, kakak mau tidur… Ummi : Boleh… Kak, kakak ingat cerita yang di buku kakak? Yang Maura makan coklat itu. Habis makan, gula-gula makanan itu menempel di gigi dan merusak gigi. Kakak siap menerima resiko? Siap giginya bolong? Kakak : Ngga Miiiii… kakak mau gosok gigi sekarang Ummi : Boleh, yuk. Mau digosokin Ummi atau sendiri? Kakak : Sendiri aja. Ummi : Oke, Ummi gosok gigi juga ya. Kita sama-sama. Ummi juga ngga mau giginya bolong (Lalu kakak dan ummi beranjak ke kamar mandi dan menggosok gigi) Kakak : Sudah Mi Ummi : Oke. Kakak, Ummi boleh periksa kebersihannya? Kakak : Buat apa? Ummi : Siapa tahu ada yang belum kena gosok, kakak belum menjangkau. Kakak : Iya, boleh. (Gosok gigi pun selesai, kami menuju kamar tidur) Ummi : Udah bersih dan segar ya kak. Kita sama. Kakak  : Iy...

Dialog Hati

Adik, kali ini Mica ingin berterimakasih padamu. Atas pengertian yang kau wujudkan dalam sikapmu. Mica jadi teringat saat berdiskusi dengan om. Om bertanya sebab dari kecemburuan kakak padamu. Diskusi pun mengalir. Kala itu Mica sampaikan bahwa kakak sebagai anak pertama memiliki “standar perhatian orangtua” yang tinggi. Karena orangtua selalu membersamai segala aktivitasnya. Sedangkan adik sebagai anak kedua, “standar perhatian orangtua” lebih rendah, karena sedari lahir, perhatian orangtua sudah terbagi, untuknya dan untuk sang kakak. Maka saat Mica harus membersamai kakak yang sedang beradaptasi menyambut adik, Mica meminta pengertian padamu untuk bermain mandiri setelah disusui dan tidur dengan nyenyak setelah kenyang. Dan adik benar-benar melakukannya. Pun pagi tadi, saat hanya ada Mica, kakak dan adik di rumah, serta n akan ada diskusi parenting di rumah. Mica mengkondisikan alur acara agar seandainya nanti adik butuh digendong dan kakak butuh perhatian, acara tetap dapat be...

Productive Family Stories di Kala Berjauhan

Sejak berumahtangga, kami nyaris tidak pernah berjauhan kecuali saat awal menikah dan persalinan anak-anak. Dan sekarang adalah momen berjauhan ketiga dalam pernikahan kami. Kami yang terbiasa berdiskusi langsung, membicarakan apa saja dengan bertatap muka, berlatih untuk tetap berkomunikasi produktif meski berjauhan. Jika saat bersama, gadget menjadi penghalang komunikasi kami, saat berjauhan justru gadget menjadi sahabat kami. Berjauhan, terlalu larut dengan aktivitas masing-masing, seringkali membuat kami lupa untuk saling memberi sapaan pagi atau menanyakan kabar seharian. Dan ini seringkali membuat komunikasi menjadi tidak produktif. Emosi meninggi dan nalar menciut. Terutama bagi perempuan ya, hihi Dan, hari ini kami membahas hal ini. Saling menurunkan ego masing-masing, tidak sama-sama merasa paling benar dan fokus pada solusi, perubahan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keproduktifan kami dalam berkomunikasi. Maka kami sepakati :   Menggagas famiy...

Nak, Susah? Coba Kalahkan dengan Bismillah

Baju-baju yang berhasil MeGi gantungkan Pagi tadi Ummica dan MeGi menjemur baju.  Seperti biasa, baju dewasa digantung di hanger besar, baju kakak dan adik digantung di hanger kecil. MeGi melongok ke dalam ember, diambilnya baju-baju miliknya dan milik adik.  Oh... rupanya MeGi ingin mengambil peran. Mica : Kakak mau bantu jemur baju? MeGi : Iya, kakak mau jemur baju kakak sendiri, sama punya adik juga. Mica : Boleeeeeeh….Ummi seneng kalau kakak mau menjemur baju sendiri. Ini hanger kecilnya disini ya (sembari menggantungnya di tempat handuk), bajunya kakak dan adik Ummi pilihkan dari ember ya. Tak lama kemudian baju dan hanger sudah berada di tangan MeGi. Ia pun berusaha memasangkan keduanya. MeGi : Miiiii….susah Miiiii…susaaaaah…gimana ini Mi? Keluhan mulai terdengar, hihi Mica : Kakak bisa! Kakak sudah baca bismillah? Coba baca dulu yuk, sama-sama. Bismillahhirohmanirrohim… (sembari membantunya memasangkan baju ke hanger kecil). Tuuuuh…bisa ka...

Ummi, Jangan Dahulukan Rasa Malasmu

MeGi yang bersikeras sholat berjamaah di masjid Tulisan ini menjadi setoran hari ke-1 untuk tantangan 10 hari komunikasi produktif dalam kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 27 Januari 2017 Hari ini, sepanjang pagi hingga sore kami hanya bertiga di rumah. Mica, kakak MeGi dan adik. Yangti yang biasanya membersamai kami, sedang pergi keluar kota sejak beberapa hari lalu. Sebelum pergi, yangti sempat berpesan pada kakak, kurang lebih begini pesannya : "Kakak, kakak biasanya pergi sholat jamaah Dhuhur dan Ashar di masjid dengan yangti ya. Karena yangti tidak ada di rumah, kalau Ummi  repot, adik menangis atau hujan deras, kakak sholatnya di rumah saja ya. Bantu Ummi, kasihan kalau harus mengantar kakak ke masjid padahal adik sedang menangis. Nanti kalau yangkung dan om sudah ada di rumah, kakak bisa berangkat ke masjid lagi ikut sholat jamaah." "Iya yangti.” Ucap kakak sembari mengangguk Di pertengahan hari, adzan Dhuhur pun berkumandang...

Mengunci Ilmu dengan Amal, Final Nice Homework Program Matrikulasi Ibu Profesional

Alhamdulillah Allah berikan kelancaran untuk menapaki program matrikulasi Ibu Profesional hingga garis akhir ini.  Apa artinya saya sudah menjadi ibu profesional?  Sama sekali belum, malah masih jauh dari kriteria. Apa artinya saya sudah menjalankan tantangan yang diberikan di setiap minggunya? Mengerjakan setoran Nice Homework  memang sudah, namun proses menjalankannya masih saya lalui dengan tertatih.  Apa yang membuat ini begitu susah? Sebenarnya, jika sekadar menuliskan jawaban mungkin tidak terlalu sulit. Toh, sejak duduk di bangku sekolah hingga kuliahpun, saya sudah terbiasa mengerjakannya. Guru memberikan soal, saya menjawab. Guru memberikan tugas, saya mengerjakannya. Namun jika saya diberi ilmu kemudian syarat kelulusannya adalah dipraktikkan dalam keseharian hingga menjadi karakter, bagi saya itu merupakan sebuah pembelajaran seumur hidup.  Saya tidak mau menyerah, karena saya ingin bersungguh-sungguh menjalankan peran yang telah diberi...

Kelompok Bermain Griya Riset, Nice Homework 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

NHW#8 BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang kita pakai : PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sehingga Bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri. Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.  Bagaimana caranya?...