Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Kontemplasi

Menjaga Keseimbangan dan Memiliki Rasa Cukup

Judul di atas nampaknya merupakan  insight  yang saya tarik dari ragam aktivitas yang berjalan di pekan ini. Ya, pekan ini saya mengambil keputusan (yang menurut saya) cukup besar. Yaitu saya memilih mengajukan izin untuk tidak hadir ke sekolah  Ausbildung  di hari sekolah (hari Rabu dan Kamis). Mengapa? Karena sepanjang pekan ini (sejak hari Senin hingga Jum‘at) si sulung tidak mendapatkan kuota untuk mengikuti program Summercitycamps. Ditambah informasi dari Kindergarten pemuda kecil yang kami terima di pekan lalu, bahwa ternyata di hari Kamis dan Jum‘at pekan ini Kindergarten juga tutup karena ada konferensi guru di sekolah. Padahal sebenarnya di sekolah Ausbildung  sedang tidak dalam kondisi santai. Justru di hari Kamis dimana saya izin tidak masuk, di kelas kami diadakan Lernzielkontrolle  untuk pelajaran pangan. Saat ada tes malah izin tidak masuk sekolah, siapa hayo yang memiliki pengalaman serupa? Hehe. Toh, kondisi tersebut memungkinkan dan legal u...

Lima Hal yang Bisa Dilakukan untuk Mengupayakan Pertemuan yang Efektif

Sejak awal Juli lalu, Sommerferien  atau liburan musim panas di Wina dimulai. Anak -anak libur sekolah selama dua bulan, lebih bahkan, sampai awal September nanti. Selama dua bulan tersebut, saya pribadi memiliki jatah libur dua pekan. Selebihnya, tetap masuk Ausbildung seperti biasa. Karena mode lingkungan adalah masa liburan, meski kami beraktivitas seperti biasa (yang artinya yaitu, suami tetap studi dan bekerja, saya tetap masuk Ausbildung , si sulung mengikuti kegiatan Summercitycamps, pemuda kecil tetap berangkat ke Kindergarten ), namun ritme kami juga turut lebih santai. Kami mengupayakan bisa family time  di akhir pekan, mengikuti beberapa acara anak yang banyak diadakan oleh pemerintah dalam rangka mengisi masa liburan, juga besilaturahmi dengan teman-teman sesama warga Indonesia. Kondisi ini justru mengajarkan saya untuk belajar menjalani kehidupan dengan seimbang. Memberi porsi untuk setiap kegiatan sesuai takaran prioritasnya. Terkait dengan agenda bertemu dengan ...

Catatan Belajar mengenai Urgensi Membangun Kepribadian Islami

Bismillahirrohmanirrohim… Pekan lalu saya mengikuti kajian Islam dengan topik “Urgensi Membangun Kepribadian Islami” Judul tersebut membuat saya merenungi diri. Sebenarnya, untuk apa kita membangun kepribadian Islami? Bukankah segala langkah yang diupayakan menuju ke arah tersebut adalah untuk keselamatan diri saya sendiri? Banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah membuat saya tertunduk malu. Forum-forum kajian seperti ini bagi saya merupakan salah satu kenikmatan fasilitas luar biasa yang Allah berikan pada kami yang saat ini tinggal di bumi Eropa, dimana agama Islam menjadi agama minoritas. Tak terdengar kumandang Adzan dalam keseharian, tak ada yang menganggap aneh jika kita makan dengan tangan kiri maupun dalam posisi berdiri, bahkan tak ada yang peduli saat kita berbuat maksiat. Maka saya sangat mensyukuri adanya kajian rutin ini yang bisa dijalankan di sini. Ustadzah menyampaikan bahwasanya ada tiga aspek yang perlu dibangun oleh seorang muslim, antara lain : 1.  ...

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapa...

Sebuah Kontemplasi, Mengasah Peran Diri dalam Komunitas

Alhamdulillah, atas izin Allah, kuliah WhatsApp perdana di grup Magang Internal Ibu Profesional Non ASIA telah terlaksana dengan baik. Program ini bermula dari kebutuhan diri untuk semakin profesional dalam mengemban peran dan amanah baik sebagai diri, dalam keluarga maupun komunitas. Yang kemudian dirasa perlu untuk membuat sebuah sesi pembekalan bagi para pengurus Ibu Profesional Non ASIA sehingga memiliki pijakan yang kuat, pemahaman yang terintegrasi sebelum melangkah menjalankan amanah kepengurusan. Gambar 1. Flyer Program Magang Internal  Kuliah WhatsApp sesi pertama mengambil tema “Mengasah Peran Diri dalam Komunitas” dengan menghadirkan narasumber Direktur Resource Center Ibu Profesional, mba Nesri Baidani. Materi yang disajikan bisa jadi terkesan tidak banyak, namun justru itu ciri khas mba Nesri. Beliau menyampaikan sesuatu dengan singkat dan padat, kemudian melanjutkannya dengan lontaran pertanyaan yang membuat diri merenung dan mengasah logika berpikir....

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi. Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini. Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut. Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu...

Sejauh Mana Saya Mengenal Diri Saya?

Pertanyaan ini muncul dalam benak saya saat mendapat tugas menjawab pertanyaan sebelum mengikuti kuliah WhatsApp bersama Abah Rama di grup Ruang Berkarya Ibu. Dua minggu lalu saya baru saja berbincang panjang dengan Abah. Saya berkesempatan mengikuti Talents Dynamics di Surabaya untuk lebih mendalami Talents Mapping dan memanfaatkannya untuk mengembangkan kapasitas diri, keluarga dan umat. Saat training lalu, Abah memaparkan ada banyak definisi bakat. Dan berbeda-beda, bergantung dari sudut pandang mana. Bagaimana Talents Mapping mendefinisikan bakat? Bakat merupakan sifat yang produktif. Sifat yang jika diasah secara kontinyu, akan menghasilkan kebermanfaatan bagi umat dan alam. Bakat merupakan nature , sifat bawaan yang dikaruniakan Allah pada setiap hambaNya, secara spesifik. Setiap orang memiliki peta bakat masing-masing. Maka, antara bakat dan kerja keras, tidak ada yang lebih penting. Keduanya sama pentingnya bagi setiap manusia. Dengan mengetahui peta bakat, kita ...

Catatan Pengingat dari buku Khadijah, The True Love Story of Muhammad

Rasulullah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah disana.” Jika kita mencari sosok muslimah teladan, seorang ibu tangguh nan inspiratif, maka pada nama beliaulah pencarian kita berujung. Wanita yang karena sepak terjangnya dalam perjuangan, membuat Allah berkenan mengirimkan salam melalui Jibril. Terlalu berat rasanya jika saya menuliskan rangkuman atas buku ini, karena banyak pelajaran berharga yang sayang untuk sekadar terangkum. Kalimat-kalimat yang akan lebih mengena jika dibaca secara utuh dan menyeluruh. Maka, pada tulisan ini, izinkan saya untuk menandai kalimat-kalimat penting yang saya resapi dari buku ini, hingga ke depan, catatan ini menjadi pengingat dan penggugah di kala hati sedang sempit dan dilanda resah. Seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran . (halaman 13) Saat Nafisah meyakinkan bahwa Khadijahl...