Skip to main content

Posts

Nak, Susah? Coba Kalahkan dengan Bismillah

Baju-baju yang berhasil MeGi gantungkan Pagi tadi Ummica dan MeGi menjemur baju.  Seperti biasa, baju dewasa digantung di hanger besar, baju kakak dan adik digantung di hanger kecil. MeGi melongok ke dalam ember, diambilnya baju-baju miliknya dan milik adik.  Oh... rupanya MeGi ingin mengambil peran. Mica : Kakak mau bantu jemur baju? MeGi : Iya, kakak mau jemur baju kakak sendiri, sama punya adik juga. Mica : Boleeeeeeh….Ummi seneng kalau kakak mau menjemur baju sendiri. Ini hanger kecilnya disini ya (sembari menggantungnya di tempat handuk), bajunya kakak dan adik Ummi pilihkan dari ember ya. Tak lama kemudian baju dan hanger sudah berada di tangan MeGi. Ia pun berusaha memasangkan keduanya. MeGi : Miiiii….susah Miiiii…susaaaaah…gimana ini Mi? Keluhan mulai terdengar, hihi Mica : Kakak bisa! Kakak sudah baca bismillah? Coba baca dulu yuk, sama-sama. Bismillahhirohmanirrohim… (sembari membantunya memasangkan baju ke hanger kecil). Tuuuuh…bisa ka...

Ummi, Jangan Dahulukan Rasa Malasmu

MeGi yang bersikeras sholat berjamaah di masjid Tulisan ini menjadi setoran hari ke-1 untuk tantangan 10 hari komunikasi produktif dalam kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 27 Januari 2017 Hari ini, sepanjang pagi hingga sore kami hanya bertiga di rumah. Mica, kakak MeGi dan adik. Yangti yang biasanya membersamai kami, sedang pergi keluar kota sejak beberapa hari lalu. Sebelum pergi, yangti sempat berpesan pada kakak, kurang lebih begini pesannya : "Kakak, kakak biasanya pergi sholat jamaah Dhuhur dan Ashar di masjid dengan yangti ya. Karena yangti tidak ada di rumah, kalau Ummi  repot, adik menangis atau hujan deras, kakak sholatnya di rumah saja ya. Bantu Ummi, kasihan kalau harus mengantar kakak ke masjid padahal adik sedang menangis. Nanti kalau yangkung dan om sudah ada di rumah, kakak bisa berangkat ke masjid lagi ikut sholat jamaah." "Iya yangti.” Ucap kakak sembari mengangguk Di pertengahan hari, adzan Dhuhur pun berkumandang...

Mengembalikan ke Tempatnya, Kan?

Mengembalikan sesuatu sesuai dengan kondisi semula. Poin ini merupakan salah satu bentuk kemandirian yang sedang kami biasakan bersama. Bukan, bukan hanya untuk si kecil berusia 2.5 tahun itu, tapi juga untuk Umminya. Yang seringkali tanpa sadar, masih meletakkan barang di sembarang tempat, tak mengembalikan ke tempat semula. Pagi tadi, ceritanya kami berdua baru saja membaca buku bersama di kamar yangti. Selesai membaca, kami pun keluar dari kamar. Saya dulu, baru MeGi. Namun, kaki mungil MeGi melangkah cepat mendahului saya menuju ruang makan sembari bertanya, "Kursi bulat MeGi mana ya, Mi?" Belum sempat saya menjawab, dia sudah datang kembali mengangkat kursi bulat itu dan meletakkannya di depan pintu kamar. Saya bingung. Apa yang mau dilakukannya? Ternyata dia ingin menutup pintu kamar. Tapi karena belum bisa menggapai gagang pintu, maka kursi bulat itu dijadikan sebagai alat bantu untuk melakukan aksinya. "Udah ditutup Mi, pintu kamarnya yangti." ...

Nak, Ibu Dikritik Cucu

Sudah sekitar 2 minggu ini saya dan MeGi tinggal di rumah orangtua. Sejak itu, MeGi mempunyai kebiasaan baru. Mengikuti kemana saja neneknya melangkah. Yangti lagi ngapain? Yangti mau kemana? Yangti disini aja, temenin MeGi main Dan celotehan lainnya yang menyiratkan keinginan untuk terus membersamai neneknya. Ini perubahan pesat dalam catatan saya. Menarik mundur memori satu tahun ke belakang, saat MeGi masih berusia sekitar 1 tahun, dia masih menganggap orang lain selain Abi Ummi-nya adalah orang asing. Kepada kakek neneknya sekalipun. Jangankan mengikuti langkah, digendong saja dia enggan. Biasanya baru mau setelah beberapa hari tinggal bersama. Perlu waktu untuk mendekat padanya, karena sepertinya dia tipikal anak yang slow to warm child. Dan kedekatan ini tidak hanya dengan ibu saya, tapi juga dengan bapak, adik serta ibu ayah mertua dan adik ipar. Bagi saya, ini merupakan sebuah kemudahan dari Allah menjelang persalinan anak kedua nanti. Kembali pada kedek...

Mengunci Ilmu dengan Amal, Final Nice Homework Program Matrikulasi Ibu Profesional

Alhamdulillah Allah berikan kelancaran untuk menapaki program matrikulasi Ibu Profesional hingga garis akhir ini.  Apa artinya saya sudah menjadi ibu profesional?  Sama sekali belum, malah masih jauh dari kriteria. Apa artinya saya sudah menjalankan tantangan yang diberikan di setiap minggunya? Mengerjakan setoran Nice Homework  memang sudah, namun proses menjalankannya masih saya lalui dengan tertatih.  Apa yang membuat ini begitu susah? Sebenarnya, jika sekadar menuliskan jawaban mungkin tidak terlalu sulit. Toh, sejak duduk di bangku sekolah hingga kuliahpun, saya sudah terbiasa mengerjakannya. Guru memberikan soal, saya menjawab. Guru memberikan tugas, saya mengerjakannya. Namun jika saya diberi ilmu kemudian syarat kelulusannya adalah dipraktikkan dalam keseharian hingga menjadi karakter, bagi saya itu merupakan sebuah pembelajaran seumur hidup.  Saya tidak mau menyerah, karena saya ingin bersungguh-sungguh menjalankan peran yang telah diberi...

Kelompok Bermain Griya Riset, Nice Homework 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

NHW#8 BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang kita pakai : PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sehingga Bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri. Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam.  Bagaimana caranya?...

Ibu sebagai Agen Perubahan, Materi 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

Disampaikan pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2016 MATRIKULASI IBU PROFESIONAL BATCH #1 SESI #8 IBU SEBAGAI AGEN PERUBAHAN Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama. Keberadaan Ibu di masayarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat. Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena “mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi ”, Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka ak...