Thursday, 24 September 2015

Temukan Aneka Rupa Model Belajar dalam Homeschooling


Webinar Homeschooling sesi kedua yang diadakan Rumah Inspirasi ini membahas mengenai Model dan Legalitas Homeschooling.
Model homeschooling merupakan hal yang cukup penting dipahami oleh pelaku maupun calon pelaku homeschooling, dengan tujuan untuk membuka cakrawala akan keberagaman model belajar. Terlebih di dalam dunia pendidikan, terdapat sudut pandang yang juga beragam. Baik sudut pandang terhadap anak, sudut pandang terhadap cara belajar yang tepat untuk anak, sudut pandang terhadap minat bakat anak, sudut pandang terhadap tujuan pendidikan dan lain sebagainya.
Secara umum, model homeschooling terbagi menjadi dua jenis. Keduanya sangat berbeda, baik secara konsep maupun praktik. 

Yang pertama, 

SCHOOL AT HOME

Model School at Home ini bisa diibaratkan seperti memindahkan sekolah ke rumah. Sekolah digunakannya sebagai model utama, sehingga modul yang digunakan juga berupa textbook atau buku pelajaran pada umumnya, dilakukan secara berjenjang dari K-1 hingga K-12, menggunakan kurikulum, serta ada evaluasi secara periodik dan menggunakan metode pengajaran teacher-centered.
Mengkondisikan rumah menjadi seperti sekolah bukanlah perkara yang mudah, apalagi orangtua juga bukanlah guru semua mata pelajaran. Ditambah dengan adanya evaluasi periodik yang membuat anak cenderung belajar untuk lulus ujian (learn for test)  akan membuat model ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga yang menjalaninya. Agar dapat menjalaninya dengan nyaman, kita dapat melakukan beberapa inovasi seperti mengambil perspektif jangka panjang, bersikap lebih fleksibel dalam proses belajar, menggunakan model belajar modular maupun memperkaya materi dan cara belajar dengan cara magang, membuat projek dan sebagainya. 

Yang kedua, 

UNSCHOOLING

Di model ini, anak diperlakukan sebagai sosok individu. Jangan bertanya mengenai kurikulum, jadwal maupun hal-hal yang bersifat terstruktur pada pelaku unschooling ini, karena mereka belajar secara natural. Mungkin ada beberapa pelaku unschooling yang memiliki jadwal maupun kurikulum, namun itu hanya sebagai pelengkap saja. Mereka lebih mengedepankan proses belajar melalui kegiatan alami di dunia nyata dengan melihat potensi/kebutuhan anak. Proses ini minim intervensi, orangtua lebih fokus untuk membangun koneksi dengan anak-anaknya.
Para pelaku unschooling  percaya bahwa anak bukanlah kertas kosong. Dengan demikian, mereka menyediakan lingkungan belajar yang kaya stimulus dan memperkaya proses yang dijalani oleh anak. Orangtua berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan anak untuk berkembang sesuai fitrahnya. 

Contoh UNSCHOOLING


Masih ingat dengan Andri Rizki Putra, pemuda yang berani melawan kecurangan di sekolahnya? Penulis buku “Orang Jujur Tidak Sekolah” ini hanya 1 bulan mengenyam bangku SMA formal, selanjutnya lebih memilih untuk keluar dari sekolah dan menempuh pendidikan yng sering ia sebut sebagai unschooling. Kemudian dengan berbekal ijazah kesetaraan paket C, Rizki masuk ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Dalam dunia homeschooling, langkah Andri ini biasa disebut dengan deschooling. Ya, berhenti dari persekolahan dan melanjutkan pendidikannya di rumah secara mandiri.
Bagaimana Andri menjalani unschoolingnya?
Mengutip wawancara dari sini, Andri belajar secara otodidak. Dia bahkan tak pernah membeli buku cetak sama sekali. Sebagai gantinya, ia meminjam buku bekas milik saudara, teman dan senior. Semua buku ia terima. Namanya buku bekas, kurikulumnya tentu berbeda dengan kurikulum saat ini. Namun itu bukan masalah baginya. Ujarnya, “Entah kurikulumnya berganti, buku cetaknya berganti, toh 1+1 tetap hasilnya 2 kan di berbagai buku?”
Andri belajar dengan meringkas. Ia membaca secara skimming seluruh buku tersebut mulai dari buku kelas 1 hingga kelas 3 SMA, kemudian ia tandai bagian mana saja yang relevan untuk Ujian Nasional. Setelah terkumpul, ia mengetik materi tersebut satu persatu hingga menjadi ringkasan yang siap ia pelajari. Tak tanggung-tanggung, seluruh dinding kamarnya ia tempeli materi hingga ke pintu-pintu. Cara ini memudahkannya untuk belajar setiap saat.
Kemudian, ia tetapkan uji coba berkala untuk mengukur kemampuan secara mandiri. Ia membuat simulasi sendiri dalam mengerjakan uji coba. Dalam hal ini, ia melakukannya sama seperti yang dilakukan oleh sekolah, hanya saja ia memonitor perkembangan belajarnya secara mandiri. Ia tidak pernah terpaku oleh kurikulum dan bahkan tidak mengerti tujuan dari berbagai kurikulum tersebut. Ia belajar sesuai keinginannya.
Hambatan yang ia rasakan dalam menjalani unschooling adalah “mengalahkan diri sendiri”. Ia harus benar-benar disiplin dan bertanggungjawab atas pengaturan waktu belajar dan sistem pembelajaran yang ia rencakan sendiri. Konsekuensi lainnya dari belajar secara otodidak adalah ia harus memecahkan masalah secara mandiri. Keharusan memahami materi pelajaran sendiri nyaris membuatnya sangat tertekan dan depresi, namun atas ijin Allah dan dengan daya juang yang tinggi, ia dapat keluar dari permasalahan tersebut.
Keuntungan yang ia rasakan dalam menjalani unschooling, ia menjadi lebih kritis, bahkan sangat kritis. Dari kebiasaannya meringkas buku, ia dapat mengukur kualitas materi buku tersebut. Ia tidak mau menerima konten buku begitu saja tanpa mencari lebih lanjut kebenaran teori dan praktiknya. Maka, dalam ringkasan yang ia buat, ia juga tambahkan opini-opini pribadi atas materi yang dituangkan tersebut.

Yang lainnya, 

MODEL KLASIKAL

Model ini mengacu pada pendidikan yang menjadi akar peradaban modern Eropa, yaitu abad pertengahan Yunani. Model ini sangat menekankan studi literatur, sejarah, aktivitas intelektual yang terstruktur dan disiplin. Model ini membangun pendidikan dasar dengan penekanan pada penguasaan bahasa, logika dan retorika.

CHARLOTTE MASON

Beberapa gagasan Charlotte Mason yang menjadi inspirasi homeschooling antara lain living books, narasi dan habit training.

MONTESSORI

Beberapa gagasan pendidikan Montessori yang menjadi inspirasi homeschooling antara lain fokus kepada anak, lingkungan belajar yang terkendali, belajar dari hal nyata hingga abstrak dan belajar berkelompok lintas usia.

EKLEKTIK

Model Eklektik ini menggunakan prinsip mix and match  sesuai kebutuhan dan kondisi keluarga. Model ini tidak mengikuti aliran tertentu secara ketat, namun menyerap dan memadukan berbagai pemikiran dan aliran yang disesuaikan dengan visi pendidikan keluarga.

Sebuah Catatan Pengingat, mengenai Tanggung Jawab Mendidik Anak

At Tahrim ayat 6




Dari Ibnul Qayyim al-Jauziyah,
“Barang siapa yang dengan sengaja tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti ia telah melakukan suatu kejahatan yang sangat besar. Kerusakan pada diri anak kebanyakan datang dari sisi orangtua yang meninggalkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dalam agama berikut sunnah-sunnahnya. Para orangtua itu melalaikan mereka di waktu kecil, sehingga mereka tidak sanggup menjadi orang yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak dapat memberi manfaat kepada orangtua mereka. Ada sebagian orangtua yang mencela anaknya karena telah bersikap durhaka. Sang anak membantah, “Wahai Bapakku, engkau sendiri telah mendurhakaiku di masa aku kecil, maka sekarang aku mendurhakaimu setelah engkau tua. Sewaktu aku kecil engkau melalaikanku, maka sekarang aku pun melalaikanmu di masa tuamu.””
  
Dalam buku Prophetic Parenting, dijelaskan tanggung jawab mendidik anak adalah sebuah kewajiban bagi orangtua. Pendidikan adalah hak anak atas kedua orangtuanya. Perlu ada usaha dan kerja keras secara terus menerus dalam mendidik anak, memperbaiki kesalahan mereka dan membiasakan mereka mengerjakan kebajikan. Mengajak anak-anak untuk beriman, dan beribadah kepada Allah semata.
Berangkat dari amanah yang Allah embankan inilah, kami menggunakan Al Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan utama dan pertama. Termasuk dalam memilih model homeschooling  kelak.
Kami juga mendapatkan referensi framework berbasis fitrah dan akhlak dari ust. Harry Santosa yang kami dapatkan dari grup WA Home Education berbasis Potensi dan Akhlak.






Wednesday, 16 September 2015

Homeschooling, Sebuah Cara Alternatif Orangtua Menjawab Tantangan Dunia




Alhamdulillah, selesai juga saya mendengarkan rekaman webinar #1 Rumah Inspirasi. Di sesi 1 kemarin, saya tidak bisa mengikuti kelas online sesuai jadwal karena menghadiri acara di rumah tetangga. Namun, siangnya saya sudah melahap materi berupa podcast maupun ebook serta mengajukan pertanyaan via email. Supaya ga rugi-rugi amat. hehe...

Apa yang dipelajari di dalam webinar #1 ini?

Karena model pendidikan adalah sebuah pilihan, maka saat Raysa (17 bulan) nanti sudah berada di usia sekolah, kami akan menawarkan padanya untuk sekolah di lembaga sekolah atau di rumah. Dan jika kelak dia memilih untuk sekolah di rumah, sanggupkah kami memfasilitasinya? Kami tidak dapat menjawabnya sekarang, tapi saat ini kami berupaya mempersiapkan perbekalan untuk dapat menjawab tantangan itu kelak. 

“Setiap tempat adalah perguruan dan setiap orang adalah guru.” Ki Hajar Dewantara

Setelah mengikuti webinar Basic Homeschooling minggu lalu, kami mencoba merefleksikannya sebagai tantangan bagi orangtua. Kami merangkumnya dalam 3 poin di bawah ini :

1. Membangun Karakter Perintis

Homeschooling  merupakan sebuah model pendidikan alternatif. Sehingga jika kita menjalankannya, maka kita harus memiliki mental sebagai perintis atau anti mainstream. Perasaan “berbeda dengan orang lain” harus menjadi suatu hal yang nyaman bagi diri kita. Tidak merasa minder karena tidak menyekolahkan anak-anak, dan tidak sombong karena merasa memiliki anak-anak yang lebih baik daripada anak yang bersekolah pada umumnya. 
Pemikiran out of the box juga harus kita miliki jika ingin melakukan homeschooling. Karena dalam homeschooling segala sesuatu boleh dipertanyakan, maka kita harus siap menerima pertanyaan-pertanyaan yang “tidak biasa” dari anak-anak kita. Bersama-sama mencari esensi dari setiap pembelajaran, dan menemukan yang terbaik dari setiap pilihan.
Karakter perintis, berbeda dengan orang lain, berkaitan erat dengan rasa percaya diri. Kepercayaan diri itu menular. Maka orangtua harus percaya diri terlebih dahulu, kemudian dapat menularkannya pada anak-anak. Bagaimana menumbuhkan rasa percaya diri orangtua? Salah satunya dengan mempersiapkan perbekalan seoptimal mungkin.

2. Berkomitmen untuk belajar tanpa henti

“Ummi, Ini apa? Itu apa? Kalo ini apa? Itu apa?”

“Kenapa, mi? Kenapa ga boleh? Koq bisa gitu?”

Saat memasak, tiba-tiba anak datang dengan rentetan pertanyaan tak berujung sembari bergelayut di kaki kita. Saat mencuci, sang anak datang, memainkan air sabun dan memindahkan cucian satu demi satu ke ember yang lain. Saat menyetrika, anak datang dan berusaha memindahkan pakaian-pakaian rapi itu ke lemari. Pakaian rapi pun menjadi lusuh kembali. Kerjaan belum beres, dihujani pertanyaan-pertanyaan aneh dan sulit, ditambah anak meminta perhatian. Kompleks, ya? Bagaimana cara menghadapi dengan tepat? 

Dibutuhkan pengelolaan emosi yang baik dan wawasan luas untuk dapat menghadapi perilaku anak dan memberikan jawaban dengan tepat. Itulah mengapa, dalam homeschooling, orangtua harus memiliki jiwa pembelajar yang tinggi. Belajar apa? Bukan mata pelajaran seperti kimia, sejarah maupun matematika, supaya dapat menggantikan peran guru sekolah. Tapi belajar ilmu aqidah, ilmu parenting dan turunannya sebagai modal untuk menggali dan mengeluarkan fitrah baik anak. Poin ini mengingatkan saya akan konsep yang dikemukakan oleh Bpk. Harry Santosa dalam grup Home Education berbasis Potensi dan Akhlak, bahwa tugas mendidik bukan menjejali OUTSIDE IN,tetapi INSIDE OUT, yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitrah baiknya sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh.
Belajar tanpa henti ini juga meliputi sebuah komitmen yang telah disepakati bersama dan konsistensi dalam menjalankan proses. Jika salah satu anggota jenuh, anggota yang lain akan mencari cara dan strategi untuk memantik semangatnya. Dalam homeschooling, masing-masing anggota keluarga tumbuh menjadi individu yang kuat dan menguatkan.
Belajar untuk lentur dalam proses akan berkaitan dengan resiko yang akan kita hadapi saat memilih homeschooling. Sikap ini akan membantu kita saat dihadapkan dengan ketidakpastian dan minimnya infrastruktur dalam pembelajaran.

3. Bertanggungjawab sepenuhnya

Dalam homeschooling orang tua tidak mendelegasikan tanggungjawab pendidikan ke sistem ataupun lembaga tertentu, tapi memikulnya sendiri. Semata-mata agar potensi unggul anak dapat tumbuh dengan baik. Tentu saja hal ini membuat orangtua dihadapkan pada sebuah kompleksitas, karena banyak hal yang perlu dirancang sebelum memulai homeschooling. Ingat, homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga, maka penguatan keluarga adalah sebuah pijakan penting sebelum memulai langkah.
Karena berangkat dari visi misi keluarga, tak heran jika homeschooling dalam setiap keluarga amat beragam dan memiliki keunikan tersendiri. Layaknya sebuah tim, setiap anggota keluarga memiliki peran masing-masing untuk mencapai tujuan bersama. Meminjam istilah dari Bu Septi Peni, start from the finish line. Tetapkan tujuan, baru kemudian susun langkah pencapaian. Langkah pencapaian ini sangat variatif, sarat dengan hal-hal baru. Kata kunci dalam homeschooling adalah BOLEH, bukan HARUS. Boleh mencari ijazah, boleh tidak. Boleh menggunakan kurikulum, boleh tidak. Boleh belajar di rumah, sambil berjalan-jalan ataupun dengan mengutak-atik sesuatu. Semua boleh asal dapat dipertanggungjawabkan dan sesuai dengan tujuan bersama.

Demikian catatan kecil kami dari webinar sesi 1 lalu. Sebuah catatan pengingat bagi kami untuk memiliki karakter sebagai pembelajar mandiri. Masih ada 9 sesi ke depan yang akan kami pelajari dan diskusikan bersama.

Sebagai penutup catatan, sekaligus semangat pembuka untuk mengikuti webinar homeschooling nanti malam, berikut lirik lagu “Belajar Dimana Saja” karya mba Lala 

Aku senang belajar bersama ibuku
Aku senang belajar bersama ayahku
Aku senang belajar bersama kakakku
Aku senang belajar bersama adikku
Dimana saja… kapan saja…
Bersama siapa saja aku belajar…
Dimana saja… kapan saja…
Bersama siapa saja aku belajar…

Sunday, 6 September 2015

Materi Belajar : Apa dan Bagaimana Home Education

Sesi Kegiatan: Berbagi refleksi masing-masing keluarga terhadap materi yang akan kami posting setelah ini.🏡 "Apa dan Bagaimana Home Education"
                                                                                   
Narasumber : Ust.Harry Santosa dan Ibu Septi Peni Wulandani
----------------------------

Bagian 1
💖 Home Education
(Pendidikan berbasis Rumah)

Peradaban sesungguhnya berawal dari sebuah rumah, dari sebuah keluarga. Home Education itu sifat wajib bagi kita yang berperan sebagai penjaga amanah. Karena sesungguhnya HE itu adalah kemampuan alami dan kewajiban syar’i yang harus dimiliki oleh setiap orang tua yang dipercaya menjaga amanahNya.

Jadi tidak ada yang “LUAR BIASA” yang akan kita kerjakan di HE. Kita hanya akan melakukan yang “SEMESTINYA” orangtua lakukan. Maka syarat pertama “dilarang minder” ketika pilihan anda berbeda dengan yang lain. Karena kita sedang menjalankan “misi hidup” dari sang Maha Guru.

Home Education dimulai dari proses seleksi ayah/ibu yang tepat untuk anak-anak kita, karena hak anak pertama adalah mendapatkan ayah dan ibu yg baik. Setelah itu dilanjutkan dari proses terjadinya anak-anak, di dalam rahim, sampai dia lahir. Tahap berikutnya dari usia 0-7 tahun, usia 8-14 tahun, dan usia 14 tahun ke atas kita sudah mempunyai anak yg aqil baligh secara bersamaan.

Home Education sebagai orang tua dan anak nyaris selesai di usia 14 th ke atas. Orang tua berubah fungsi menjadi coach anak dan mengantar anak menjadi dewasa, delivery method HE pun sudah jauh berbeda.

Kita dipercaya sebagai penjaga amanahNya, SEMESTINYA kita menjaganya dengan ilmu. Jadi orang tua yang belajar khusus untuk mendidik anaknya seharusnya hal BIASA, tapi sekarang menjadi hal yang LUAR BIASA karena tidak banyak orang tua yg melakukannya.

Hal-hal yang SEMESTINYA orang tua lakukan :
Mendidik
Mendengarkan
Menyanyangi
Melayani (pd usia 0-7 thn)
Memberi rasa aman&nyaman
Menjaga dari hal-hal yg merusak jiwa dan fisiknya
Memberi contoh dan keteladanan
Bermain
Berkomunikasi dengan baik sesuai usia anak

Bagian 2
💖 “OUTSIDE IN“ vs “INSIDE OUT”

Tugas mendidik bukan menjejali “OUTSIDE IN“, tetapi “INSIDE OUT” yaitu menemani anak-anak menggali dan menemukan fitrah-fitah baik itu sehingga mereka menjadi manusia seutuhnya (insan kamil) tepat ketika mencapai usia aqil baligh. Satu-satunya lembaga yang tahu betul anak-anak kita, mampu telaten dan penuh cinta hanyalah rumah dimana amanah mendidik adalah peran utama ayah bundanya.

Anak lahir ke muka bumi membawa fitrahnya, sehingga perlu pendidikan yang mengeluarkan fitrah anak tersebut:

✅ Fitrah Kesucian. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap manusia mengenal dan mengakui adanya Tuhan, memerlukan Tuhan, sehingga manusia memiliki sifat mencintai kebenaran, keadilan, kesucian, malu terhadap dosa.
✅ Fitrah Belajar.
Tidak satupun manusia yang tidak menyukai belajar, kecuali salah ajar. Khalifah di muka bumi tentunya seorang pembelajar tangguh sejati.
✅ Fitrah Bakat.
Ini terkait misi penciptaan spesifik atau peran spesifik khilafah atau peradaban, sehingga setiap anak yang lahir ke muka bumi pasti memiliki bakat yang berbeda-beda.
✅ Fitrah Perkembangan.
Setiap manusia memiliki tahapan perkembangan hidup yang spesifik dan memerlukan pendidikan yang sesuai dengan tahapannya, karena perkembangan fisik dan psikologis anak bertahap mengikuti pertambahan usianya. Misalnya, Allah tidak memerintah ajarkan shalat sejak dini, tetapi ajarkan shalat jika mencapai usia 7 tahun. Pembiasaan boleh dilakukan tapi tetap harus didorong oleh dorongan penghayatan aqidah berupa cinta kepada Allah dari dalam diri anak-anak.

🔻 Pendidikan Berbasis Shiroh

Kita perlu mengkaji lebih dalam pendidikan yang dialami oleh Rasulullah dari lahir sampai dewasa, sebagai contoh pendidikan untuk anak-anak nanti. PENDIDIKAN dan PERSEKOLAHAN adalah hal yang berbeda. Bukan sekolah atau tidak sekolah yang ditekankan, tetapi bagaimana pendidikan yang sesuai dengan fitrah anak sehingga potensi alamiah anak dapat dikembangkan, karena setiap anak memiliki potensi yg merupakan panggilan hidupnya.

🔻 Pendidikan Berbasis Potensi & Akhlak

Yang dimaksud adalah yang terkait dengan performance. Dimulai dengan mengenal sifat bawaan atau istilah Abah Rama dengan Personality Productive yang kemudian menjadi aktivitas dan performance, lalu  menjadi karir dan peran peradaban yang merupakan panggilan, akhirnya menentukan destiny. Jadi pengembangan potensi berkaitan dengan performansi, namun performansi memerlukan nilai-nilai yang disebut sebagai akhlak dan moral karakter.

Dalam mengembangkan bakatnya, anak-anak perlu diingatkan dan diteladankan dengan nilai-nilai dalam keyakinannya (Al Islam) agar perannya bermanfaat dan rahmat atau menjadi akhlak mulia. ” Setiap keluarga memiliki kemerdekaan untuk menentukan dan mengejar mimpinya , termasuk dalam hal pendidikan.”

Bagian 3
💖 Tazkiyatunnafs.

Secara sederhana dimaknai sebagai pensucian jiwa, membersihkan hati dengan banyak mendekat, memohon ampun, menjaga serta berhati-hati dari hal-hal yg syubhat apalagi haram atau waro’ kepada Allah dengan harapan keridhaan Allah SWT agar ditambah hidayah sehingga fitrah nurani memancar dalam akhlak dan sikap serta kesadaran yang tinggi atas peran (tauiyatul a’la). Pendidikan anak atau generasi memerlukan ini sebagai pondasi awal. Selanjutnya adalah masalah teknis.

Umumnya kecemasan, obsesif, banyak menuntut atau banyak memaksa atau sebaliknya, tidak konsisten (dalam arti sesuai fitrah anak, bukan obsesi orang tua), tidak percaya diri mendidik anak, muncul karena kurangnya tazkiyatunnafs para orang tuanya sehingga mudah terpengaruh oleh “tuntutan atau perlakuan” yang tidak sesuai atau menciderai fitrah.

Tujuan tazkiyatunnafs orang tua, adalah agar kita kembali kepada kesadaran fitrah kita dengan memahami konsep pendidikan sejati sesuai fitrah.
Ketika orang tua menginginkan anaknya shalih maka orang tua harus memahami konsep kesejatian/fitrah anak dan makna keshalihan sesungguhnya. Shalih adalah amal, bukan status.
Pesan dari Bunda Septi yang selalu kami pegang,  “Untuk itu siapkan diri, kuatkan mental, bersihkan segala emosi dan dendam pribadi, untuk menerima SK dari yang Maha Memberi Amanah. Jangan pernah ragukan DIA. Jaga amanah dengan sungguh-sungguh, dunia Allah yang atur, dan nikmati perjalanan anda.”

Bagian 4
💖 Metode dan Cara

Sudah tidak diragukan lagi bahwa mendidik (bukan mengajarkan) Aqidah sejak usia dini, adalah hal yang mutlak. Aqidah yg kokoh akan amat menentukan pilihan2 serta pensikapan2 yg benar dan baik dalam kehidupan anak2 kita kelak ketika dewasa. Lalu bagaimana metode dan caranya?

Menurut yg saya pahami secara sederhana, bahwa pertama, setiap pendidik atau ortu perlu menyadari bhw sesungguhnya setiap anak manusia yg lahir sudah dalam keadaan memiliki fitrah aqidah atau keimanan kpd Allah Swt. Setiap manusia pernah bersaksi akan keberadaan Allah swt, sebelum mereka lahir ke dunia. Maka tdk pernah ditemui di permukaan bumi manapun, bangsa2 yg tidak memiliki Tuhan, yaitu Zat Yang Maha Hebat tempat menyerahkan dan menyandarkan semua masalah dalam kehidupan.

Dengan demikian maka, yg kedua adalah bahwa tugas mendidik adalah membangkitkan kembali fitrah keimanan ini, namun bukan dengan doktrin atau penjejalan pengetahuan ttg keimanan, namun dengan menumbuhkan (yarubbu/inside out) kesadaran keimanan melalui imaji-imaji positif tentang Allah swt, tentang ciptaanNya yang ada pada dirinya dan ciptaanNya yg ada di alam semesta.

Dengan begitu maka, yg ketiga adalah dengan metode utk sebanyak mungkin belajar melalui hikmah-hikmah yang ada di alam, hikmah yang ada pada peristiwa sehari-sehari, hikmah pada sejarah, hikmah2 pada keteladanan dstnya.

1. Menjadi penting membacakan kisah2 keteladanan orang2 besar yg memiliki akhlak yg mulia sepanjang sejarah, baik yg ada dalam Kitab Suci maupun Hadits maupun yg ditulis oleh orang2 sholeh sesudahnya.
2. Menjadi penting senantiasa merelasikan peristiwa sehari2 dengan menggali hikmah2 yg baik dan inspiratif.
3. Menjadi penting untuk senantiasa belajar dengan beraktifitas fisik di alam dgn, meraba, merasa, mencium aroma, mengalami langsung dstnya.

Metode berikutnya, tentu saja kisah2 penuh hikmah itu perlu disampaikan dengan tutur bahasa yg baik, mulia dan indah bahkan sastra yg tinggi. Menjadi penting bahwa tiap anak perlu mendalami bahasa Ibunya dan bahasa Kitab Sucinya. Bukan mampu meniru ucapan, membaca tulisan dan menulis tanpa makna, namun yg terpenting adalah mampu mengekspresikan gagasan2 dalam jiwanya secara fasih, lugas dan indah, sensitif thd makna kiasan2 dalam bahasa sastra yg tinggi.

Para Sahabat Nabi SAW yg dikenal tegas namun memiliki empati dan sensitifitas yg baik serta visioner umumnya sangat menggemari sastra.
Semua metode itu, kembali lagi, adalah bertujuan utk membangun kesadaran keimanan melalui imaji2 positif lewat kisah yg mengisnpirasi, melalui kegairahan yg berangkat dari keteladanan, pemaknaan yg baik melalui bahasa ibu yg sempurna dstnya.

Imaji negatif akan melahirkan luka persepsi dan luka itu akan membuat pensikapan yg buruk ketika anak kita kelak dewasa.

Sampai sini kita menyadari bhw peran orangtua sebagai pendidik yg penuh cinta serta telaten maupun sebagai sosok yg diteladani dan menginspirasi tidak dapat digantikan oleh siapapun, apalagi dalam membangkitkan kesadaran keimanan anak2nya. Maka penting bagi para pendidik untuk melakukan pensucian jiwa (tazkiyatunnafs) sebelum memulai mendidik dgn kitab dan hikmah.

Bukankah orangtua lah yg akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat, bukan yang lain?

Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasispotensiakhlak
----------------------------
♻ Disusun oleh: Tim Pengurus Pusat HE-BPA

Saturday, 5 September 2015

Melatih Kemandirian Anak, Perjalanan Panjang Menjadi Orangtua Mandiri


Kemandirian adalah kunci utama menumbuhkan rasa percaya diri anak. Yang perlu dibantu secara keseluruhan adalah bayi usia 0-12 bulan. Selanjutnya, perlu dilatihkan kemandirian secara bertahap sesuai tingkatan usia.
Apa yang menjadi KENDALA?
Kondisi yang dialami anak saat ini, terutama yang sekolah formal, adalah terbebani dengan banyak PR. Anak overload dan stres sehingga terjadi perubahan mental seperti takut bertemu banyak orang, mencari pelarian ke game.
Contoh kasus : Ketika melihat anak banyak PR, orangtua kasihan dan memberikan keleluasaan pada anak-anak, membebaskannya dari tugas rumahan. Sehingga tugas hidup anak-anak yang idealnya dilatihkan dengan bertahap sepenuhnya dikerjakan oleh orang tua.
Bagaimana INDIKASInya?
Ada rasa takut ketika lepas dari orangtua. Kemandirian berkorelasi dengan kepercayaan diri. Apakah kita adalah orangtua yang tidak sabar saat melihat anak tidak rapi dalam melakukan pekerjaannya? Jika ya, maka kita telah menghilangkan kesempatan latihan baginya.
Memberikan rasa percaya pada anak merupakan hal penting dalam melatih kemandirian untuknya.
Bagaimana KITA (sebagai orangtua) DI MATA ANAK?
Apakah Ibu yang harus dibantu? Atau Ibu yang mandiri? Sudahkah kita menjadi teladan yang baik untuknya?

PENYAKIT ORANGTUA
1. MEMANJAKAN ANAK
Memberikan apa yang tidak dibutuhkan anak dan melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh anak.
Contoh:
Membelikan sepatu bertali dengan gambar yang lucu. Padahal dia belum bisa menggunakan sepatu bertali/belum selesai dengan motoriknya. Sehingga menimbulkan konflik, dimana anak belum bisa menalikan sendiri dan membuat repot orangtua.
2. TIDAK KONSISTEN
Mengikuti semua kemauan anak, aturan sangat longgar, tidak ada punishment ketika anak melakukan kesalahan. Punishment disini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebuah kesepakatan. Sebagai konsekuensi dari melakukan kesalahan/tidak melakukan kesepakatan.
Jadi saat anak melakukan kesalahan, kita diam. Atau bahkan kita sendiri yang tidak konsekuen.
3. UNSECURE
Takut kehilangan anak. Sehingga orangtua sangat melindungi anak.
4. MERASA BERSALAH
Saat orangtua hadir, merasa bahwa itu merupakan sarana untuk membalas semua waktu yang hilang.
5. PENGALAMAN MASA KECIL
Suasana yang menyedihkan/sengsara saat kecil, bisa juga suasana sangat nyaman.
6. TIDAK MAU RIBUT DENGAN ANAK
Semua dikerjakan sendiri oleh orangtua.

APA YANG DIPERLUKAN JIKA KITA INGIN MELATIH KEMANDIRIAN ANAK?
1. KONSISTENSI
Buat program, dalam 7 hari konsisten membersihkan kamarnya sendiri. Bukan hanya anak, tapi seluruh anggota keluarga di rumah.
2. MOTIVASI
Hubungkan dengan mimpi anak.
Misal, mimpi kuliah keluar negeri. Siapkan menata kamar sendiri, menyiapkan sarapan sendiri, mengelola keperluan pribadinya sendiri.
3. KETELADANAN
Orangtua juga turut andil dalam program tersebut dengan melakukan hal yang sama.

LANGKAH MENDUKUNG KEMANDIRIAN ANAK
1. Rumah didesain untuk anak.
Merupakan faktor pendukung kemandirian anak
Contoh : Desain saklar supaya anak bisa menyalakan lampu sendiri, desain gantungan baju di kamar mandi supaya anak bisa menaruh baju dan handuk dan keluar kamar mandi dengan baju yang sudah berganti, desain wastafel cucian piring yang membuat anak dapat mencuci piringnya sendiri.
2. Membuat aturan bersama anak
Sering ngobrol bersama keluarga, family meeting. Semisal saat weekend, selesai sholat maghrib, minum teh bersama. Jika tidak sering, maka anak akan tahu, bahwa ngobrol dilakukan saat ada momen tertentu, misal saat anak melakukan kesalahan
3. Konsisten melakukan aturan.  Jalankan konsekuensi yang telah disepakati saat family meeting.
Bukan orangtua yang memutuskan punishment.
4Anak diberitahu resiko. Saat anak mau belajar di dapur, kenalkan resiko mulai dari cipratan minyak, terkena api dan kenalkan manajemen resikonya  (safety first).
Contoh :
Jika masak lalu terkena cipratan minyak, ambil salep dan terigu yang dimasukkan dalam kulkas.
Membawa gelas beling. Andaikata pecah, jelaskan langkah-langkah penanganannya.
Biasanya, yang membuat anak menangis, adalah respon orangtua yang kaget dan emosi.
Dengan mengenalkan resiko,  anak menjadi tidak cepat mengeluh. Mereka tumbuh menjadi orang yang suka dengan solusi.
5. Anak diberikan tanggungjawab sesuai tingkatan umur dan kemampuaN
6. Memotivasi anak

TOLOK UKUR KEMANDIRIAN
0-12  bulan masih tahap sensomotorik, sangat tergantung orang lain.
1-3 tahun diajak mengontrol diri sendiri. Toilet training, berbicara jika membutuhkan sesuatu. Membereskan mainan, mengambil baju. Sehingga penting bagi orangtua untuk mengontrol keinginan untuk segera membantu anak.
Latihan kemandirian ini akan berat latihan di 6 bulan pertama saja. Setelah itu anak akan terpolakan.
Contoh aturan berbicara : di rumah ini, hanya yang berbicara baik yang akan didengarkan ucapannya.
Contoh aturan membereskan mainan : Mainan diletakkan di toples-toples mainan. Jika mainan di toples A selesai, mau ambil toples B, maka toples A harus dibereskan dahulu.
3-5 tahun, menunjukkan inisiatif yang besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginan sendiri, meniru perilaku dewasa. Membereskan mainan, membantu ibu menaruh piring kotor/baju kotor. Beri peran untuk masing-masing anak. 
Lakukan dengan suasana yang menyenangkan. Kemas dalam sebuah permainan. Prinsipnya : belajar adalah bermain, bermain adalah belajar
Usia sekolah : anak-anak PEMBELAJAR MANDIRI. Kemampuan anak untuk mengontrol pembelajarannya sendiri, muncul internal motivation
Contoh praktek kemandirian :
- Melakukan pekerjaan harian seperti mencuci, memasak
- Bermain dengan DIY. Jika anak meginginkan mainan, kita ajak putar otak untuk membuatnya sendiri.Tidak langsung membelikan mainan yang anak minta akan membuat anak lebih menghargai proses.

TAHAPAN MEMBUAT ANAK MANDIRI
1. Awali dengan ketrampilan mengurus diri sendiri (makan, menggosok gigi sendiri)
2. Beri waktu untuk bermain bebas
3.  Membantu tugas rumah, menyiram tanaman, membuang sampah
4. Biarkan mengurus waktu sendiri dalam urusan bermain dan belajar. Ditanyakan pada anak, “Besok ingin belajar apa, Nak?”
5. Diberi tanggungjawab dan dimintai pertanggungjawabannya.
Gunakan transfer of feeling.”Bagaimana perasaanmu setelah menjadi direktur sampah 1 minggu?”
6. Kondisi badan yang fit dan kuat, imbangi dengan olahraga dan kegiatan bermain bersama alam
7. Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri
8. Ingat, anda tidak akan selalu bersama mereka

Setelah sesi materi dan pertanyaan, kuliah ini ditutup dengan tugas rumah berikut ini.



disampaikan oleh ibu Septi Peni W, Institut Ibu Profesional.
dalam Kuliah Bunda Sayang Materi 2. Selasa 1 September 2015 secara online via wizIQ



Friday, 21 August 2015

Bunda Produktif, Buah Manis dari Kesungguhan Seorang Ibu dalam Menjalankan Amanah

http://smartworksinc.ca/wp-content/uploads/2014/02/Productivity-Coach-Cropped.jpg

Tadi malam, perdana ikutan webinar Bunda Produktif dengan judul “Mengapa Harus Jadi Bunda Produktif?”
Webinar dimulai tepat jam 20.00 dan dibuka dengan fine tuning terlebih dahulu.
Ada 3 pertanyaan nih yang kudu dijawab sesuai versi masing-masing peserta. Berikut pertanyaan plus jawaban subjektif dari seorang Mesa ya :)

T : Apakah yang dimaksud dengan produktif?
J : Menghasilkan sesuatu yang positif dan bermanfaat
T : Alasan hidup apa yang membuat kita harus produktif?
J : Meningkatkan kualitas hidup. *ini jawaban suami. Beliau ikutan jawab pas bu Septi ngasih pertanyaan ini. Setelah beliau jawab, mendadak saya jadi kehabisan ide dan setuju dengan jawabannya.
T : Apa tujuan yang ingin dicapai ketika kita masuk ke ranah bunda produktif?
J : Menghasilkan karya yang bermanfaat dan dapat dibagi untuk orang lain serta dapat mandiri secara finansial. 

Lanjut bu Septi, semua jawaban dari seluruh peserta adalah BENAR. Tidak ada jawaban yang salah. Selanjutnya, saatnya kita samakan persepsi.

Apakah PRODUKTIF itu?
Menurut KBBI, arti produktif kurang lebih adalah mampu menghasilkan, mendatangkan, menguntungkan. Menghasilkan secara teratur dan digunakan terus menerus.
Sedangkan arti dari BUNDA/IBU adalah perempuan yang telah melahirkan seseorang
Sehingga, jika digabungkan, BUNDA PRODUKTIF adalah perempuan yang mampu memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada pada dirinya sehingga menghasilkan manfaat bagi diri dan lingkungan sekitarnya. Senantiasa aktif menjalankan misi hidup dan tidak akan pernah berhenti sampai misi hidupnya selesai. Keren ga si? Jadi makin semangat nih! hehe..

Oke, selanjutnya, makna Bunda Produktif versi Ibu Profesional
adalah Bunda yang senantiasa menjalankan proses untuk menemukan dirinya, menemukan MISI PENCIPTAAN dirinya di muka bumi ini, dengan menjalankan aktivitas yang membuat matanya BERBINAR-BINAR. Sehingga muncul ghirah/semangat yang luar biasa dalam menjalani hidup ini bersama keluarga dan buah hati.

Indikator keberlangsungan Bunda Produktif :
1. menemukan jati diri
2. menemukan misi hidup
3. menjalani jalan hidup

Bagaimanakah berbinar-binar itu?

Tidak ada perbedaan antara waktu libur dan waktu bekerja. Tidak mengenal jenuh. Jika pun jenuh, maka hanya terjadi sesaat. Dapat segera bangkit lagi dan kembali berbinar-binar. Jika tidak bangkit lagi, maka itu pertanda minat belum bertemu dengan bakat.

BENEFIT BUNDA PRODUKTIF
1. Menjalani hidup penuh makna. Memulai dan menutup hari dengan bahagia
2. Meningkatkan rasa percaya diri
3. Memiliki gairah hidup
4. Meningkatkan daya tahan tubuh
5. Makin “selesai” dengan dirinya
6. Bisa semakin memberikan manfaat untuk banyak orang terutama keluarga

PRINSIP BUNDA PRODUKTIF
a. Memaknai semua aktivitas sebagai sebuah proses ikhtiar menjemput rizqi.
b. Berikhtar menjemput rizqi, tanpa harus meninggalkan amanah utamanya, yaitu anak dan keluarga.
“Allah berjanji menjamin rizqi kita, maka melalaikan ketaatan padaNya, mengorbankan amanahNya, demi mengkhawatirkan apa yang sudah dijaminnya adalah kekeliruan besar.” 
c. Aktivitas amalan para bunda untuk meningkatkan sebuah kemuliaan hidup
“Karena RIZQI itu PASTI, KEMULIAANlah yang harus dicari”
Kemuliaan ini meliputi banyak aspek. Kemuliaan sebagai hamba Allah, kemuliaan diri, kemuliaan sebagai perempuan dsb.


REMINDER
a. Tugas kita sebagai bunda produktif bukan untuk mengkhawatirkan rizqi keluarga, melainkan menyiapkan sebuah jawaban “dari mana” dan “untuk apa” atas setiap karunia yang diberikan untuk anak dan keluarga kita.
b. Bunda Produktif di Ibu Profesional tidak selalu dinilai dengan apa yang tertulis dalam ANGKA dan RUPIAH, melainkan apa yang bisa dinikmati dan dirasakan sebaga sebuah KEPUASAN HIDUP, sebuah pengakuan bahwa dirinya bisa menjadi Ibu yang BERMANFAAT bagi banyak orang.Jika kita memiliki banyak uang tapi tidak mendapatkan kepuasan hidup dan tidak bermanfaat bagi banyak orang, maka bukan bunda produktif.
c. Menjadi produktif itu adalah bagian dan ibadah, sedangkan rizqi itu urusanNya. Menjadi produktif juga bertujuan untuk memberikan anak sebuah role model,  bahwa sang Ibu adalah ibu yang selalu berusaha dan berdaya juang tinggi.

d. Segala yang kita kerjakan di Bunda Produktif ini adalah sebuah ikhtiar, yang wajib dilakukan dengan sungguh-sungguh (profesional)
e. Ikhtiar itu adalah sebuah laku perbuatan, sedangkan rizqi adalah kejutan. Rizqi adalah kejutan yang datangnya dari arah tak terduga, untuk seorang ibu yang menjalankan perannya dengan sungguh-sungguh dan selalu bertaqwa.
f. Rizqi hanya akan menempuh jalan yang halal, maka para Bunda Produktif perlu menjaga sikap saat menjemputnya. Kemudian ketika sudah mendapatkannya, jawab pertanyaan berikutnya, “Buat Apa?”. Karena apa yang kita berikan ke anak-anak dan keluarga, halalnya akan dihisab dan haramnya akan diazab.
g. Ketika kita berjalan pada jalan hidup kita, maka kita tidak akan mencari peluang. Peluanglah yang akan mencari kita.

Materi Bunda Produktif dapat dimulai saat materi di Bunda Sayang dan Bunda Cekatan sudah berjalan 70% keatas (untuk mengetahui ini, silahkan buat checklist).
CONTOH PRODUKTIF DI RANAH IBU DAN ANAK :
Seminggu sekali muncul permainan baru, ternyata membutuhkan alat peraga. Seminggu sekali muncul alat peraga baru.
Seminggu sekali menulis artikel mengenai pengalaman aktivitas bersama anak.

TUGAS MATERI INI :
Temukan aktivitas yang kita bisa lakukan dan kita suka.
Perbanyak waktu di ranah tersebut. Rutinitas jalankan dengan durasi waktu yang pendek.
Ujicoba aktivitas. Di aktivitas mana kita paling lama bertahan.