Tuesday, 30 August 2016

Memulai Perjalanan Menulis dengan Nge-Blog



Pertama Kali Berkenalan dengan Menulis dan Blog

Sebenarnya sayapun tergolong baru berkenalan dengan blog ini. Memang sih, pertama kali membuat blog sudah saya awali sejak masa SMA. Tapi blog-blog itu terbengkalai dan berujung dengan lupa password. Meski saya suka menulis, saya belum memiliki keberanian untuk memposting tulisan dan hasil pemikiran yang bakal dibaca khalayak ramai. Sehingga kala itu penulisan lebih sering dituangkan dalam bentuk karya ilmiah dan curhatan di buku diary saja.
Saat Allah menurunkan SK profesi sebagai ibu rumah tangga, keinginan untuk mengasah kemampuan menulispun kembali muncul. Saya kembali berlatih menulis serta mengikuti kursus menulis artikel secara online yang diadakan INDSCRIPT CREATIVE. Tak berselang lama, ada tawaran untuk bergabung menjadi tim freelance writer di website parenting islami, www.abiummi.com.
Seiring perjalanan waktu, timbul keinginan untuk menulis sebagai sarana dokumentasi hal-hal yang saya rasakan ataupun alami. Merekam jejak perjalanan belajar maupun membersamai ananda, tidak berdasar keyword tertentu.  Disini saya teringat perkataan seorang guru, bahwa Allah akan memperjalankan hambaNya yang bergerak.  Tak berselang lama, seorang rekan dari  Institut Ibu Profesional Bandung, teh Santy Dewi Arifin menginisiasi program menulis bertajuk One Day One Post for 99 days. Sebagai amunisi untuk mengikuti program inilah saya membuat blog di blogspot, dengan alamat www.griyariset.blogspot.com. Dari sinilah, perjalanan saya menulis blog bermula.

Mengapa Perlu Menulis Blog?

Ini merupakan pertanyaan mendasar yang harus ditemukan dulu jawabannya sebelum kita memutuskan untuk nge-blog. Ini jawaban saya :

Mengakses Saripati Ilmu dengan Mudah

Sebagai ibu pembelajar, tentu kita sangat bersemangat untuk mengikuti forum-forum belajar baik secara offline maupun online. Tak jarang kita mencatatnya dengan rapi dan sistematis, di buku maupun kertas. Tapi pernahkah saat kita membutuhkan ilmu itu kembali, kita bingung mencarinya? Kita sibuk mengingat-ingat dimana kita meletakkan lembaran-lembaran penting itu? Atau jika kita menyimpan dalam bentuk file di laptop maupun HP, kita lupa meletakkannya di folder mana.

Memicu Diri untuk Berkata yang Baik

Saat memposting tulisan di blog, tentu kita sudah menyadari bahwa tulisan tersebut akan dikonsumsi oleh khalayak umum. Siapapun memiliki akses untuk membacanya. Maka ini dapat melatih diri kita untuk menulis dengan baik, sama halnya seperti saat menggunakan lisan.  Tanpa kita sadari, ini bukan hal yang baru bagi kita. Bukankah hal yang sama juga berlaku saat kita berceloteh di media sosial?

Sarana Berbagi

Saat kita mengikuti forum belajar, atau akan menjajal sebuah metode baru, tak jarang bukan, seorang teman menitip, “Nanti mau resumenya, ya…”, atau, “Nanti bagi ya pengalamannya…” Alih-alih menjadi sebuah beban, lebih baik menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk menebar manfaat. Ini juga akan menghemat waktu kita saat pertanyaan muncul dari beberapa orang. Kita tinggal memberi link tulisan yang berisi resume/pengalaman kita tersebut.

 Branding

Para blogger profesional banyak yang menggunakan blog sebagai sarana personal branding. Dan umumnya, mereka sudah memiliki topik-topik yang spesifik. Seperti www.carolinaratri.com
dengan creative writingnya atau www.dapurotun.com dengan resep-resep lezatnya. Saya pribadi lebih senang menggunakan blog sebagai family branding. Griyariset sendiri merupakan nama hometeam keluarga kami. Sedangkan misi hidup yang ingin saya capai adalah menjadi home educator dan fasilitator handal untuk keluarga. Sehingga isi blogpun tak jauh dari perjalanan kehidupan keluarga dan pendidikan rumah yang sedang kami terapkan.

Pilih platform  yang mana ya?

Ada banyak domain gratis yang bisa dipilih. Beberapa yang sudah tidak asing di telinga kita seperti blogspot, wordpress, tumblr. Secara pribadi, saya sudah mencoba menggunakan blogspot dan wordpress.

Mengapa saya memakai blogspot?

Atas masukan dari suami. Masih ingat, dulu sempat ada blog multiply? Seiring waktu, domain ini menghilang. Berkaca dari situ, suami menyarankan untuk menggunakan blogspot. Mengingat blogspot merupakan bagian dari Google, yang mana Google eksistensinya terbilang stabil dan kuat. Di sisi lain, kekurangan blogspot yang saya rasakan adalah loading yang lambat dan tampilan yang terkesan klasik.

Bagaimana dengan wordpress?

Beberapa waktu belakangan, saya membuat blog di wordpress  untuk tulisan-tulisan yang terkait kontemplasi. Disini, saya menemukan berbagai template tampilan yang menarik dan loading yang lebih cepat. Sebagai gambaran konkrit, silahkan klik www.mesadewi.wordpress.com. Tapi setelah belajar mengutak-atik kategori di blogspot, sepertinya kontemplasi pun akan saya jadikan bagian di blog griyariset. Jadi blog wordpress ini sepertinya tidak bertahan lama.

Dari domain gratisan ke domain berbayar

Ya, 25 Agustus 2016 lalu saya memutuskan untuk pindah ke domain berbayar untuk blog griyariset. Alasannya, karena saya ingin lebih serius mengelola blog tersebut. Saat migrasi ke domain berbayar, cukup merogoh kocek yang sangat terjangka. Ini keuntungan memiliki blog di platform blogspot. Sssttt..saya cukup membayar empat pulu ribu rupiah saja di tahun pertama ini untuk membeli domain via qwords.com. Blog sayapun saat ini berganti alamat menjadi www.griyariset.com

Langkah membuat blog di Blogspot :


Segera klik New blog. Nanti akan muncul form untuk kita isi judul dan alamat blog sekaligus pilihan template yang kita inginkan. Klik create blog!
Nah, nama blog ini bisa dipikirkan mulai dari sekarang. Bisa nama pribadi, nama keluarga, atau apa saja, selama nama tersebut masih available alias belum ada yang memakai. Alangkah baiknya kalau nama blog ini mencerminkan isi blog kita nanti.
  • Mulailah dengan posting tulisan pertama

Bagi saya, akan lebih enak kalau menulis draft tulisan terlebih dahulu di Microsoft Word Setelah tulisan selesai, baru dicopy-pastei  di blog sekaliyan edit sana-sini. Ini lebih hemat juga lo, cukup online saat akan posting tulisan saja. Fitur-fitur di atas kolom draft mulai dari simbol undo hingga check spelling juga sudah biasa kita gunakan saat mengetik di Microsoft Word.
  • Atur Posting-an

Masih di laman draft, tengoklah bagian kanan. Disitu ada tampilan Post Setting. Ini nih tempatnya kita mengatur pernak-pernik tulisan mulai dari label, jadwal, permalink, lokasi hingga opsi lainnya. Ya, untuk memudahkan pencarian dari tulisan-tulisan kita nanti, kita bisa melengkapi tulisan dengan label. Misalnya, saat saya ingin menemukan tulisan-tulisan saya mengenai Mini Project yang kami lakukan, maka saya cukup klik label atau kategori “Mini Project”. Atau klik “ODOPfor99days” jika ingin menemukan tulisan-tulisan yang saya ikutkan dalam project ODOP#99days.
  • Mempercantik Tampilan

Layaknya sebuah rumah, kita tentu ingin memberi tampilan terbaik untuk tamu supaya indah dipandang mata. Jika template tampilan yang tersedia dirasa masih sangat sederhana, silahkan cari free template yang banyak tersedia di internet. Tinggal unduh dan copy paste kodenya. Jangan lupa simpan kode template lama sebagai langkah aman. Layoutpun bisa diatur sesuka hati. Kita bisa menggunakan jasa www.canva.com untuk membuat header picture yang aku banget! Tapi, jangan samapi urusan mempercantik blog ini menjadi beban ya. Ini bisa dilakukan sambil jalan. Menulis tetap menjadi fokus dan prioritas utama.


Nah, ternyata membuat blog adalah hal yang gampang kan? Sip, jangan tunda lagi. Ayo bikin blog mulai dari sekarang. Bagi yang sudah punya blog, ayo kita rawat dengan tulisan-tulisan bergizi dan saling kunjung-mengunjungi :)

#ODOPfor99days
#day109
#griyariset







Thursday, 25 August 2016

Membuat Cerita Anak tentang Warna Sekunder : Woti Kini Lebih Percaya Diri

Mesa Dewi
Project : Membuat Cerita Anak
Topik : Membuat Cerita Mengenai Warna Sekunder
Woti Kini Lebih Percaya Diri
(Cerita tentang Woti, Wortel Oranye yang Sempat Minder karena Warna Sekunder yang Dimilikinya)
Woti Si Wortel Oranye kecil hidup di ladang sejuk yang terhampar luas di daerah Lembang, Bandung, Jawa Barat. Bersama keluarga dan teman-temannya, dia menghuni Ladang Bahagia, membantu pak Tani memenuhi kebutuhan sayuran masyarakat di berbagai penjuru daerah. Stiap sore, biasanya anak-anak sayuran akan berkumpul untuk melakukan aktivitas bersama. Mereka sering membuat prakarya, mengaji, mendengarkan dongeng, sampai membaca buku bersama. Di sore yang cerah ini, Kak Caca si Cabai Merah, mengajak mereka untuk bermain sains. Terdengar seru yah!
Kak Caca datang membawa beberapa gelas bening dengan ukuran yang sama, tisu gulung dan pewarna makanan. Kak Caca mau bikin apa ya? Ada yang tahu?
Ternyata, sore ini mereka akan bermain rambatan warna! Ada yang sudah pernah mencoba di rumah belum ya?
Kak Caca meminta anak-anak Ladang Bahagia untuk menyusun gelas bening berjajar, dari kiri ke kanan, diberinya nomor urut 1 sampai 7. Di gelas nomor 1, ditetesi pewarna makanan warna merah, gelas nomor 3 ditetesi warna kuning, nomor 5 dengan warna biru, nomor 7 dengan warna merah lagi. Kemudian, di gelas yang sudah ditetesi pewarna, dituang air hingga tinggi larutan mencapai ¼ tinggi gelas. Anak-anak sibuk membantu mengaduknya hingga warna merata. Tisu gulung yang sudah disiapkan dipotong dan ujung-ujungnya dimasukkan ke masing-masing gelas hingga menghubungkan dua gelas yang bersebelahan.  Lalu, kak Caca meminta anak-anak untuk bersama-sama mengamatinya.
Apa yang terjadi?
Larutan warna perlahan terserap oleh tisu yang merambat naik menuju gelas yang kosong. Lambat laun, airpun menetes dan mengisi gelas-gelas kosong. Gelas nomor 2 menampung warna oranye, gelas nomor 4 menampung warna hijau, gelas nomor 6 menampung warna ungu. Darimana warna-warna itu bisa terjadi? Anak-anak menggaruk-garuk kepala karena tak paham.
Kak Caca tersenyum sembari mengeluarkan roda warna dari dalam tas ranselnya. Anak-anak diminta duduk manis merapat. Kak Caca menjelaskan fenomena yang terjadi pada rambatan warna tadi. Oooo..ternyata air bisa meresap dan mengalir pada tisu, karena tisu memiliki daya kapilaritas. Dan warna oranye, hijau dan ungu yang mengisi gelas kosong itu merupakan warna sekunder yang berasal dari percampuran warna primer. Lebih jelasnya kita lihat di gambar berikut :


Anak-anak tertegun. Mereka terheran-heran melihat klasifikasi warna. Kak Caca pun mengabsen, “Siapa yang disini berwarna ungu?” 
Teru si terong ungu mengacungkan jari, “Saya Kak”
“Nah, warna cerahmu itu berasal dari warna apa?” kak Caca memberi tebakan.
“Merah dan biru ya Kak?” jawab Teru setengah yakin.
“Iyap, betul sekali” Sahut kak Caca.
Suasana menjadi riuh ramai anak-anak yang menebak kategori warna masing-masing. Menjelang senja, aktivitas main bersama ditutup dengan membaca doa kafaratul majlis. Anak-anak pun segera pulang ke rumah masing-masing. Kak Caca tersenyum gembira melihat keriangan mereka.
Eh, tapi lihatlah, ada anak yang berjalan pulang dengan langkah gontai dan tertunduk lesu. Siapakah dia?
Kak Caca pun segera menghampirinya. Ternyata Woti si Wortel. Ada apa gerangan? Usut punya usut, saat mendengarkan penjelasan kak Caca tadi, Woti menjadi minder. Dia merasa bukan sayuran yang keren, karena memiliki warna sekunder. Baginya, keren itu jika dia berwarna primer, seperti kak Caca si Cabai Merah yang berwarna merah menyala atau pak Jaja Jagung Manis berwarna kuning. Dia ingin berwarna primer, menjadi dasar warna-warna lainnya. Kak Caca mengangguk-angguk, mencoba memahami perasaan Woti.
“Woti, setiap pribadi itu unik. Adanya klasifikasi warna seperti warna primer, sekunder dan tersier hanya untuk memudahkan penggolongan warna saja. Bukan berarti yang memiliki warna primer lebih hebat daripada warna sekunder dan tersier. Coba kamu ingat-ingat, betapa keberadaanmu sangat dinantikan oleh pak petani dan masyarakat. Engkau sangat mudah menjadi sayuran idola anak-anak, karena selain rasamu yang enak, kandungan nutrisimu sangat bermanfaat bagi manusia. Justru, warna oranyemu itu yang menandakan dirimu kaya akan betakaroten yang merupakan sumber vitamin A. Lihatlah aneka kelebihanmu Woti, dan berdayakan dengan optimal. Jangan terpaku pada kelemahanmu dan menjadi lemah karenanya. ”
Ah iya, Woti tersadar akan kesalahannya. Dia terlalu fokus pada kelemahan dan meremehkan banyak kelebihan yang Allah titipkan padanya. Dia berjanji membuang perasaan minder itu jauh-jauh. WotI dan kak Caca pun melanjutkan perjalanan pulang dengan hati riang.
#ODOPfor99days
#day108
#griyariset
#ceritaanak
#warnasekunder




Saturday, 20 August 2016

Belajar Menulis Kreatif dari Carolina Ratri di Kulwap ODOP#99days

19 Agustus 2016 lalu, kembali berkesempatan untuk menimba ilmu melalui Kuliah WhatsApp yang difasilitasi oleh grup ODOPfor99days. Kali ini narasumber yang berbagi ilmu adalah mba Carolina Ratri. Dari beliau, kami belajar mengenai tips dan trik dalam menulis kreatif. Ppsssttt...kelincahan beliau dalam menjiwai kalimat dalam setiap tulisannya adalah hasil kesungguhannya dalam menulis blog selama 10 tahun loh. Siap berproses? Yuk, kita simak ringkasannya dulu. Ringkasan Kulwap ini disusun oleh teh Shanty yang kemudian saya edit dan tandai bagian-bagian yang jlebb banget buat pengingat diri.

Belajar Menulis Kreatif dari Carolina Ratri di Kulwap ODOP#99days

#1 Pertanyaan Anittaqwa - Surabaya
Akhir-akhir ini saya kok kehilangan gairah menulis bukan sekedar writing block tapi lebih parah lagi, justru saya asyik dengan kegiatan baru. 
Gimana ya cara mengembalikan semangat menulis?
Jawaban:
Been there done that
Kalau sudah asyik dengan mainan baru, memang kadang jadi bikin lupa ya. Tapi, biasanya sih, kalau memang sudah mencintai menulis ya kita akan balik lagi kok. Ada rasa kangennya gitu.
Cuma, kalau ditinggalin lama-lama jadi berasanya kayak pedekate lagi ya. Uhuk. Jadi lama aja gitu adaptasinya lagi.
Pelan-pelan saja. Pertama buka dulu dengan membaca tulisan-tulisan lama kita. Kita jadi merasa dekat lagi dengan kegiatan menulis. Lalu lanjut dengan membaca-baca tulisan lain yang bergizi, yang sesuai minat. Jangan baca yang bikin emosi ya, macam berita politik atau berita gosip. Eh tapi kalau minatnya di politik dan entertainment ya bisa aja sih dua jenis berita itu membakar semangat.
Intinya pancing semangat menulis dengan membaca. Otak ibarat tubuh. Saat dia dikasih nutrisi yang cukup, maka keluarnya juga yang sehat-sehat. Tinggal nutrisi sehat yang tujuannya buat apa kan? Kalau buat nulis, ya banyak baca. Kalau saya sih, it works everytime. Kadang abis baca terus ya, bisa langsung nulis based on apa yang dibaca. Dikembangkan sendiri.
Makin banyak nulis, makin peka kita bisa menangkap ide.

#2 Pertanyaan Novita - Tangsel
Bagaimana cara mengelola blog supaya layak jual. Apa harus fokus pada satu tema atau beragam tema?
Jawaban:
Saya, pribadi, menyarankan agar teman-teman fokus ke satu tema atau niche. Kenapa? Karena dengan demikian teman-teman sebagai blogger akan lebih mudah dikenali. Misalnya nih, tema ditentukan dari awal adalah parenting. Parenting ini juga masih luas sih. Bisa dipersempit lagi.
Misal, toddler parenting, atau teen parenting. Dengan demikian lebih gampang dikenal, oh si Ibu A itu ya, yang suka nulis teen parenting. Kalau ada hal-hal yang pengin diketahui mengenai teen parenting, orang akan langsung menuju ke blog Ibu A. Nggak akan ke yang lain. Karena pasti di sana, ditemukan jawaban dari permasalahan yang dialami.
Dengan niche atau tema yang kuat, teman-teman juga akan lebih mudah "ditemukan" oleh brand/agency yang membutuhkan jasa teman-teman. Dan pasti kebanyakan yang datang, pasti yang cocok juga dengan tema blog teman-teman.
Bukannya blog dengan beragam tema itu nggak bagus. Bagus juga. Boleh kok, tapi usahakan ada satu kategori yang lebih menonjol ketimbang yang lain.
Dengan blog berniche, kita juga lebih kreatif meramu konten lho. Kayak saya kemarin, diminta untuk bantuin teman campaign soal reksadana. Gimana ya, caranya supaya nggak maksain masuk ke niche blog saya yang creative writing? Akhirnya saya pilih angle dari sudut freelancer yang lagi mau bikin dana pensiun.
Angle tulisan yang berbeda seperti ini biasanya disukai banget sama agency/brand. Kalau mereka suka, next mereka pasti akan nyari lagi kalau butuh.
Amin yaaaa…

#3 Pertanyaan Monik - Belanda
Bagaimana cara mengatasi procrastination saat menulis. Jadi pas nulis tu kadang suka meleng, tadinya cuma mau nyari 'sinonim kata' lewat thesaurus, atau cuma mau browsing suatu bahan tulisan. Eh malah merembet browsing yg lain, trus mampir sosmed dll deh.
Jawaban:
Eh itu mah penyakit yg biasa menjangkiti kita ya.
Pekerjaan menulis, termasuk menulis blog, memang bukan pekerjaan yang bisa dianggap gampang. Butuh fokus dan konsentrasi tinggi. Makanya sebelum mulai nulis, singkirkan dulu semua pengganggu.
Kalau saya caranya gini, saya harus siapkan dulu outline sebelum menulis. Outline selesai, saya cari waktu yang benar-benar bebas gangguan. Saat saya mulai menulis, ya fokus nulis. Just write away. Nggak boleh sambil liat tesaurus, ga boleh sambil riset dll. Cuma nulis. Ancur ya biarin. Pokoknya selesaiin dulu. Karena riset kan seharusnya sudah kita lakukan saat ngerjain outline. Masalah typo dan tesaurus itu kita kerjakan nanti saat self editing.
Pokoknya tulis dulu.
Nulisnya selesai, baru editing. Ini sambil buka tesaurus, buka rima kata dsb. Edit edit. Nggak boleh buka medsos sama sekali. Kalau lagi nulis pun, hp selalu saya silent.

#4 Pertanyaan Shanty - Bandung. Bagaimana ceritanya awal menekuni bidang menulis padahal sebelumnya sempat kerja dalam bidang desain?
Jawaban:
Awalnya ya karena ngeblog, Mbak. Ngeblog sesuka hati. Terus suka bikin flashfiction. Terus belajar nulis gratisan di blog teman-teman yang lain. Hahaha. Akhirnya keterusan sampai nulis buku dan sekarang urus portal media online.
Udah nasibnya ke situ kayaknya.
b. Mau tau dong bagaimana ceritanya bisa menggawangi RockingMama yang bagian dari Zetta Media? Padahal Ratri di Yogya dan bukan di Jakarta?
Jawaban:
Itu juga #berkahngeblog tuh. Saya awalnya karena teratur update blog, dan saya share di medsos. Eh, ternyata diamati sama Mas Brilliant Yotenega, founder nulisbuku.com. Akhirnya suatu hari pas Mas Ega datang ke Jogja, saya ditawarin untuk bikin portal khusus mama-mama itu. Katanya sih, gaya tulisan saya pas banget sama yang dia cari.
Alhamdulillah ya. Hihihi. Portal media online seperti itu kan nggak terbatas ruang ya, Mbak. Karena dikerjakan secara online. Jadi bisa dikerjakan oleh siapa pun yang punya koneksi internet. Sudah gitu aja sih.
c. Apa sih beda yang penting saat menulis untuk media online dengan artikel di majalah?
Jawaban:
Sebenarnya sama saja sih. Mungkin di majalah tampaknya lebih 'mentereng'. Hihihi. Tapi sekarang majalah banyak yg tutup, Mbak. Beberapa majalah kesayangan saya sudah tutup lho. Kayak Chic, Sekar ... hiks. Katanya sih kalah berkembang sama media online. Majalah mahal sih ya, sedangkan media online kan cenderung lebih murah buat orang-orang. Asal punya kuota kan bisa baca-baca.
d. Siapa penulis favorit Ratri dalam dan luar negeri? Kenapa suka mereka?
Jawaban:
Penulis favorit dalam negeri aku banyak, Mbak. Aku suka Agus Noor, SGA, Yetti AKA, Ucu Agustin, Djenar Maesa Ayu, Clara Ng ... Banyak! Kalau luar negeri, siapa ya? Kayaknya nggak gitu ngefans sama tulisan penulis tertentu sih kalau luar. Tergantung bukunya aja.
Saya suka bgt mereka karena tiap kali selesai baca buku mereka, tiba2 semangat nulis saya idup, Mbak. Tulisan mereka tuh mood booster banget!
e. Ratri biasa menulis berapa jam sehari? Menulisnya di kantor atau di rumah?
Jawaban: 
Wah, berapa jam yaaa. Kan aku freelancer, Mbak, di kantor. Jadi nggak harus ada di kantor 9 - 5 tiap hari. Jadi aku bisa bebas menentukan sendiri waktu kerjaku. Biasanya sih aku nulis justru di weekend. Sabtu, itu aku bisa seharian nabung artikel. Minggu kalau sore aja sih, karena Minggu siang aku buat anak-anak kalau mereka pengin jalan-jalan. Sehari-hari, aku paling edit-edit aja karena itu aja sudah time consuming ya.
(Lanjutan)
Target 10 artikel tiap Sabtu Minggu. Kadang tercapai kadang enggak. Kalau nggak tercapai ya gpp santai aja. Kan pemyebabnya saya juga tahu. Intinya, tertarget tapi santai.
Asal anak-anak udah asyik punya mainan sendiri, aku bisa nulis hahaha. Dopingnya kopi palinganlah.

Tabungan Artikel yang sudah siap tayang
Itu disiapin dulu outlinenya Mbak. Jadi tinggal tulis aja. Nyiapin outline kan bisa kapan pun di mana pun. Dioret-oret di mana pun kan. Sambil nunggu jemput anak aku juga ng-outline.
Tanggapan Miranti:
Mba Ratri, kalo nulis outlinenya cuma di awang-awang maksudnya ga ditulis di kertas, enaknya diapain yah?
Ngebayangin bikin outline di laptop juga kok males yah.
Jawaban:
Kalau di awang-awang itu ketiup angin langsung terbang Mbak.
Makanya aku selalu bawa notes kemana-mana.

Outline berupa poin-poin

Outline yang sudah dilengkapi detil bahsan

#5 Pertanyaan Dessy - Bandung
a. Mba Carra kan punya 2 orang anak dan saya lihat produktif sekali dalam menulis, biasanya kapan waktu yang tepat untuk menulis di rumah?
Jawaban:
Ya itu aku alokasikan, Mbak. Aku bisa nulis kalau anak-anak sekolah, atau pas mereka tidur. Dan itu aku efektifkan banget. No medsos, hanya menulis.
b. Bagaimana cara untuk menentukan prioritas pekerjaan, karena selain blogger, Mba Carra juga bekerja di Rocking Mama dan Stiletto Book? Kadang saya nggak bisa membagi waktu yg baik antara menulis artikel, pekerjaan dan penelitian saya. Ketika harus fokus, yg lain benar-benar ditinggalkan. Bagaimana mba Carra menyiasati pekerjaan-pekerjaan tersebut?
Jawaban: 
Aku bikin time pie, Mbak. Jam 7 - 9, aku editing RM. Jam 9 - 14 aku ngerjain kerjaan Stiletto Book (masih disela dengan jemput anak sekolah, nyiapin makan mereka dll), terus abis itu aku urus anak-anak. Mandi, belajar, makan malam dll. Terus malam (tergantung aku siumannya jam berapa) aku bisa pake lagi buat nulis atau editing.

#6 Pertanyaan Marina
Mbak Ratri, mau nanya kalau seandainya kita mau membukukan postingan yg ada di blog, apa ada tips khusus atau do/donts nya?
Bagaimana membuat penerbit tertarik, padahal pengunjung blog kita masih sedikit?
Terima kasih.
Jawaban:
Tergantung bahasan blognya ya, Mbak. Kalau memang topiknya oke, ya bisa saja langsung dikirimkan ke penerbit. Cek saja ketentuan kirim di masing-masing penerbit, karena beda-beda ya. Lalu dipatuhi.
So far sih saya sudah melamar Mbak Ridha Innatika dan Mbak Fitriani Firmansyah, yang dua-duanya food blogger, membukukan blog mereka, bisa dibilang gitu kan ya. Kenapa? Karena memang saat itu Homemade MPASI dan Bento lagi trending ya. Ndilalahnya dua-duanya penjualannya bagus.
Bagaimana membuat penerbit tertarik, ya balik lagi ke konten dan topik, Mbak. Makanya ayo, bikin konten yang bagus dengan topik yang fokus. Kalau topiknya ke mana-mana penerbit juga bingung, ini nanti bukunya bahas apa.

#7 Pertanyaan Afina - Bandung
Kalau boleh tau, penghasilan mba Carra dari menulis kira-kira berapa mba?
Jawaban:
Berapa penghasilan sebagai penulis?
Banyakkkkk buanget, Mbak! Sampe nggak bisa diitung!
Saya bisa bergabung di banyak project, saya kenal dengan orang-orang hebat di dunianya, saya punya ilmu banyak, saya diajak jadi narasumber, saya ditarik menjadi managing editor, saya bikin buku, saya nulis di blog ...
Banyak banget kan?

#8 Pertanyaan Wini Nirmala Gunawan - Bandung
Mbak Ratri. Pernah dapet komen ga enak? Gimana nanggepinnya? 
Jawaban:
Seriiiing. Apalagi di artikel-artikel viral.
So far saya cuekin aja sih. Hahahaha.
Pendapat kan boleh beda-beda ya. Kalau semua dibaperin, kita nggak akan pernah maju.
Ya down sebentar sih. Abis itu, ah, cuek aja. Tapi kita juga perlu bijak saat berpendapat. Saya misal, kalau soal-soal yang sensitif mendingan keep it private aja.
Saya orangnya males ribut soalnya hahaha
Down mah biasa. Tapi ya aku prinsipnya, kalau aku nggak merugikan orang secara fisik, mental dan materi, aku nggak akan terlalu musingin.

#9 Pertanyaan Miranti - Bandung
Bagimana bisa posting artikel di RM? Ada jalur khusus ga buat member grup ini?
Jawaban:
Biasanya aku akan buka lapak nanya kali ada yg punya draft yg sesuai atau artikel di blog. Biasanya aku akan minta link artikelnya ditulis di kolom komen.
Nah kalau sesuai, aku akan minta repost di Rocking Mama.
Nah, nanti kalau sudah ada draft di RM, aku akan ajak gabung di RM Writing Labs. Nah di sana kita akan share dan brainstorming bareng
Sebenarnya bebas aja sih mau posting di RM. Langsung sign in aja kok.

Pesan Penutup
Ya itulah ya, teman-teman, nikmati saja setiap prosesnya. Jangan buru-buru mikirin hasil. Fokus saja pada apa yang dikerjakan sendiri. Saling berbagi, keep learning. Karena perkembangan zaman itu luar biasa banget.

Intinya, ya kalau setengah2 ngerjainnya, hasilnya juga akan setengah aja. Kalau males, ya ntar rezeki juga angot-angotan dateng. Harus dicari cara masing-masing supaya terus semangat.


Poin-poin yang sempat saya catat untuk pengingat dari materi diatas :
  • Pancing semangat menulis dengan membaca
  • Fokuskan blog ke 1 niche
  • Cara mengatasi procrastination : bikin outline - nulis - edit. NO GADGET
  • Teratur update blog 
  • Bawa notes kemana-mana untuk bikin outline. Bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.
  • Sangat mengefektifkan waktu saat tidak ada anak-anak untuk menulis. Hanya MENULIS.
  • Mengatur waktu dengan time pie. Mirip dengan teknik membuat aktivitas gelondongan di manajemen waktu Ibu Profesional.


Thursday, 18 August 2016

Cerita tentang Pengenalan Warna Primer

CREATIVE TEAM #1
KEGIATAN UNTUK ANAK USIA DINI (RENTANG USIA 3-5 TAHUN)
TEMA MINGGU I : WARNA
Mesa : Membuat Cerita tentang Warna Primer

Hari ini Megi diajak oleh ibunya berbelanja ke pasar. Ibu akan membeli kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan. Untuk Megi, sebelum berangkat ibu memberinya uang lima belas ribu rupiah.  Uang ini akan Megi gunakan untuk membeli pewarna makanan. Minggu kemarin pewarna makanan yang dia biasa gunakan di rumah, sudah habis, padahal dia ingin membuat donat aneka warna dari playdough.
Sesampainya di pasar, mereka membeli kebutuhan yang sudah ada di catatan ibu. Megi mengikuti langkah kaki ibu yang bergerak cepat. Sesekali pandangannya melirik ke aneka rupa jajanan pasar, juga mainan impiannya yang berjajar rapi dijajakan penjual. “Aaaah…mengapa tempat ini dipenuhi barang-barang yang aku inginkan?” batin Megi. Megi ingin membelinya, tapi dia harus menahan keinginannya. Karena jika dia membeli makanan atau mainan, maka jatah uang untuk membeli pewarna makanan akan berkurang dan bahkan habis. Setelah menemani ibu kesana kemari, sampailah mereka di etalase penjual bahan makanan. “Asyik, ibu akan membelikan pewarna makanan aneka warna untukku.”pikirnya. Dia sudah membayangkan playdough berwarna-warni yang akan dia ciptakan. 

“Ibu, Megi mau warna merah, hijau, biru, kuning, oranye, ungu, pink… Warna-warni pokoknya ya. Biar donat bikinan Megi jadi berwarna-warni, Buuu….” pinta Megi bersemangat.
Ibu mengangguk mengiyakan. Tapi Megi lihat, ibu hanya membelikan 3 botol pewarna, yaitu warna merah, kuning, dan biru. Megi langsung saja protes, “Bu, koq cuma 3? Kan Megi mau warna yang bermacam-macam…”
Ibu tersenyum, menunduk  menyejajarkan pandangan dengannya. “Tenang sayang, 3 warna yang ibu berikan tadi bisa membuat donat playdoughmu nanti menjadi beraneka warna.”
Masa’ Bu? Benarkah? Bagaimana caranya?
Ibu tersenyum simpul. “Nanti kita buktikan di rumah ya…” ujar ibu sembari meminta Megi membayar. Megipun menyodorkan uang lima belas ribu rupiah yang sudah disiapkan di saku roknya pada penjual. Alhamdulillah cukup, tapi dia masih penasaran dengan apa yang dijanjikan ibunya.  
Begitu sampai rumah, Megi bergegas mengambil playdough  yang sudah dibuatnya sebelum berangkat ke pasar tadi dan pewarna makanan yang baru saja dibelinya. Jam menunjukkan pukul 08.45 WIB, 15 menit menuju jam belajarnya bersama ibu dimulai. Megi sangat bersemangat menunggu penjelasan ibu.
Tepat pukul 09.00 WIB, Megi dan ibu sudah duduk manis bersama. Setelah membaca doa sebelum belajar bersama-sama, ibu mengambil 3 botol pewarna yang tadi dibeli. Megi diminta membagi playdough menjadi beberapa bagian. Masing-masing bagian ditetesi satu warna. Selanjutnya, ibu meminta Megi mencampurkan 2 warna ke masing-masing bagian. Ada yang merah-kuning, merah-biru dan kuning-biru, dengan jumlah tetes yang seimbang. Kemudian, playdough diuleni hingga warna yang diteteskan menyebar merata.
Tarraaaa…Megi takjub melihat hasilnya. Ternyata perpaduan 2 warna tadi menghasilkan warna baru! Campuran warna merah dan kuning menghasilkan warna oranye yang cerah. Campuran warna merah dan biru menghasilkan warna ungu menawan serta campuran warna kuning dan biru menghasilkan warna hijau yang segar. Horeeee…alhamdulillah….
“Kereeeen ya Bu, koq bisa begitu ya Bu?” tanya Megi sembari tersenyum gembira. Ibu pun menjelaskan, “Betul kan apa yang ibu janjikan tadi. Ini bisa terjadi karena warna merah, kuning dan biru merupakan warna primer, Nak. Warna primer itu adalah warna dasar yang menyusun warna-warna lainnya. Warna yang muncul dari perpaduan dua warna primer, dinamakan warna sekunder. Seperti warna ungu, hijau dan oranye ini. Nah warna sekunder ini juga bisa dicampur, yang nantinya bisa menghasilkan warna tersier. Ini, ibu tunjukkan ya diagramnya.”


Gambar 3 . Warna primer, sekunder dan tersier

“Daaaaan..masih banyak lagi aneka warna lainnya. Itu semua bisa kita temukan di skeeliling kita. Coba, warna kulit ibu dan Megi, sama tidak? Mirip ya, tapi tidak sama kan? Maha Besar Allah yang sudah menciptakan segala sesuatunya dengan sangat teratur dan lengkap seperti spektrum warna ini ya, Nak. Dengan kita pelajari dan gali lebih dalam, kita akan semakin menyadari dan yakin betapa besar karunia yang Allah berikan pada hamba-hambaNya, sehingga rasa syukur kita padaNya juga sudah sepatutnya terus kita tingkatkan, bukan?” Ibu memberikan penjelasan panjang lebar.
Megi pun mengangguk mengiyakan. Dia bersyukur hari ini belajar banyak mengenai warna, belajar menahan diri dari keinginan, juga bersyukur memiliki ibu yang cerdas dan sabar dalam menemaninya belajar. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.

Keterangan :
Gambar 1. Sumber : Dokumentasi pribadi

Ditulis oleh Mesa Dewi. Seorang ENJFJ. Ibu rumah tangga yang memiliki cita-cita besar menjadi Home Educator dan fasilitator keluarga yang handal. Dapat ditemui akun Mesa Dewi (FB), @griyariset(IG/twitter), maupun blog griyariset.blogspot.co.id



#ODOPfor99days
#day104
#menulisceritaanak
#creativeteam
#warnaprimer

Thursday, 4 August 2016

Mini Project : Bikin Salt Dough, Yuk!

[Mini Project]
4 Agustus 2016

Bikin Salt Dough Yuk!

Kemarin MeGi minta main donat. Ngeh si maksudnya. Yang dia maksud adalah, kita ingin main playdough. Terakhir dimainkan memang kita bikin kreasi donat dari playdough  itu. Jadi yang dia ingat adalah donatnya. Lihat bahan-bahan di dapur, ada sih. Paling pewarna makanannya aja yang hampir habis. Karena sayang rasanya kalau harus memakai minyak, kita bikin saltdough aja ya Nak. Ini tanpa minyak. Cuma campuran terigu, garam dan air.

Bahan :
  • 500 gram terigu
  • 250 gram garam
  • (Perbandingan pemakaian terigu : garam = 2 : 1)
  • Air secukupnya
  • Beberapa pewarna makanan


Cara membuat :
  1. Campur terigu dan garam, uleni dengan menambahkan air sedikit demi sedikit hingga tercapai tekstur yang diinginkan. Saat menguleni adonan dengan tangan, taburi tangan dengan terigu terlebih dahulu supaya adonan tidak menempel di sela-sela jemari.
  2. Bagi menjadi beberapa bagian, tetesi saltdough dengan pewarna makanan. Uleni kembali hingga berubah warna.
  3. Saltdough siap dimainkan.

Dari segi tekstur, saltdough ini tidak lengket dibanding playdough yang menggunakan minyak. Tidak terasa berminyak dan cenderung lebih kering. Oya, saltdough ini cepat kering kalau dibiarkan di udara terbuka ya. Jadi cocok kalau segera dimainkan langsung dan membuat cetakan-cetakan dari miniatur binatang yang nantinya akan mengeras.
Lewat permainan sederhana ini, MeGi yang berusia 2 tahun 3 bulan ini bisa mengeksplorasi banyak hal. Inisiatifnya banyak tumbuh sejak saat kita melakukan persiapan. Tanpa diminta, saat Micha mengambil terigu di lemari dapur dan mengajaknya membuat dough, dia sudah berinisiatif mengambil pewarna makanan di rak meskipun untuk mengambilnya pun dia membutuhkan bantuan kursi kecil. Saat mencampur adonan, dia juga yang menyendok dan menuang terigu, garam dan menghitung jumlah sendokan bersama-sama. Dia juga yang mencampur terigu dan garam dan menguleni. Baru saat adonan mulai menjadi liat dan lengket, dia bertahan sebentar, lalu memilih menuju kamar mandi untuk mencuci tangan. Setelah adonan dough jadi, dia kembali berpartisipasi meneteskan pewarna. Jadi, warna doughnya bergantung MeGi, berapa banyak dan apa saja warna yang dia teteskan dan campurkan, hihi. Untuk meratakan warna di adonan, tentu masih dengan bantuan Micha. Dia menguleni sebentar, sepertinya masih terlalu berat untuknya jika harus meratakannya. Tak lama, taraaa…jadi deh. Saltdough siap dimainkan. J



Bikin sesuatu yuk dari saltdough! Ada ide?

#griyariset
#miniproject
#ODOPfor99days
#day103

#exploringsalt

Mini Project : Mencampur Air Panas dan Air Dingin

[Mini Project]
2 Agustus 2016

Mencampur Air Panas dan Dingin

Hingga hari ini, untuk aktivitas mandi MeGi masih menggunakan air hangat. Memang komposisi air panas yang ditambahkan makin sedikit, tapi dia belum siap jika harus benar-benar menggunakan air dingin saja. Saya maklumi, karena udara di Bandung cukup dingin, terlebih di daerah ini yang tergolong perbukitan. Beda halnya jika sedang mudik ke tempat kedua Yangti Yangkungnya di Jombang, tanpa keberatan dia akan bersedia mandi dengan air dingin.
Belakangan ini, setiap akan mandi dia selalu bertanya, “Mi, air panasnya sudah?” dilanjut dengan celoteh tentang air panas, air dingin menurut imajinasinya. Ada momen dimana saya sempat menyisipkan mengenai air hangat saat dia berceloteh. Bahwa air panas dan air dingin yang bercampur menjadi air hangat yang akhirnya digunakannya untuk mandi. Namun dia menolak, dengan kekeuh dia meyakini kalau dia mandi dengan air panas.



Dari sinilah terpikir ide main yang sangat sederhana. Hanya menyiapkan air panas, air dingin, dan tiga wadah yang masing –masing dilengkapi dengan tulisan “air panas”,”air dingin”,”air hangat”. Kemudian saya memanggil MeGi, “Nduk, main yuk!” Seperti biasa, setiap mendengar kata “main”, matanya langsung berbinar, melonjak kegirangan dan menyambut dengan sangat antusias. Sayapun mengenalkan bahan dan alat yang dibutuhkan, dan mencoba memberi sebuah panduan sederhana.
Saya perlihatkan padanya keterangan di masing-masing wadah. Ya, dia memang belum bisa membaca, tapi dia paham bahwa tulisan di setiap wadahnya menandakan sebuah keterangan. Sama halnya ketika saya menuliskan “Meja Makan MeGi” di sebuah kertas dan saya tempel di dinding atas meja TV yang berubah fungsi menjadi meja makannya, maka setiap kali dia menunjukkan meja makan miliknya, dia akan menunjuk tulisan tersebut supaya orang lain membacanya. Nampaknya dia mulai mengerti pelabelan, hihi. Dari ketiga wadah itu, saya jelaskan bahwa selain air dingin dan air hangat, ada juga air hangat yang merupakan campuran keduanya. Jika air hangat ini dirasa terlalu panas atau terlalu dingin, kita masih bisa menambahkan air untuk mendapatkan komposisi panas yang dirasa pas. Air hangat inilah yang dia gunakan untuk membersihkan badan sehari-hari. Dia pun mengangguk, sepertinya sudah tak sabar bermain air.
MeGi saya minta untuk menuangkan air dingin terlebih dahulu ke wadah kosong yang bertuliskan air hangat. Lalu dia merasakannya. “Dingin” ujarnya. Saya pun meminta dia menambahkan air panas di atasnya. Dia mengernyitkan dahi. Rupanya ada kekhawatiran di benaknya. Saya yakinkan padanya, “Kalau pelan dan hati-hati, insyaAllah bisa. Biar tidak terkena badan, tuangkan dengan posisi badan yang agak menjauh.” Diapun mau mencoba menuang air panas. Lalu dia rasakan lagi air hangatnya, ternyata terlalu panas. Atas inisiatifnya, dia tambahkan kembali air dingin, hingga tak lama dia menemukan komposisi air hangat yang sesuai.
Alhamdulillah, dengan permainan yang sangat sederhana ini, dia lebih mudah memahami mengenai konsep air hangat. Diapun tak lagi menolak kalau disebutkan dia mandi dengan air hangat. Justru sekarang dia berkeinginan supaya air panasnya dituang terlebih dahulu oleh Micha, sehingga dia berkesempatan untuk menambahkan air dingin hingga hangatnya sesuai.

 #griyariset
#miniproject
#ODOPfor99days
#day102
#exploringwater