Sunday, 2 September 2018

Kebutuhan Aktualisasi Diri Seorang Ibu

Kebutuhan aktualisasi diri merupakan sebuah hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk seorang ibu. Di sesi materi Pra Bunda Sayang kali ini, peserta diminta untuk membuat kartu nama beserta narasi mengenai diri.

Kartu nama diri sudah saya buat sekitar dua tahun yang lalu, saat saya mencoba semakin mengenali diri dan memperbanyak memberi ruang dan makna pada aktivitas yang saya cintai. Berikut penampakannya :


tampak depan

tampak belakang

Saya memilih profesi sebagai Home based Educator. Apa itu? seorang pendidik terutama bagi anak-anak yang memulai perjalanan perannya dari dalam rumah. Rumah identik dengan tempat tinggal, tempat bernaung, tempat beraktivitas bersama. Rumah erat kaitannya dengan sebuah tim di dalamnya, yaitu keluarga. Belajar dan berkarya bersama keluarga dan berbahagia menjalani prosesnya. Saya ingin menjadi penyokong penuh terwujudnya misi suami yang kemudian menjadi misi keluarga kami, Griya Riset. 

Saturday, 25 August 2018

Belajar Adab Menuntut Ilmu di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional



Tulisan ini dibuat dalam rangka pengerjaan tugas belajar online di kelas Bunda Sayang Leader Institut Ibu Profesional

NHW Adab Menuntut Ilmu adalah dengan menjawab tiga pertanyaan berikut.

Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?

Kelas Bunda Sayang leader yang saya ikuti saat ini merupakan kesempatan kedua saya untuk hadir, belajar dan menyelami kembali ilmu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Sebelumnya, saya sudah lulus kelas Bunda Sayang kelas Fasilitator di bulan Maret 2018 lalu. Mengapa saya ingin belajar kembali di kelas Bunda Sayang? Yang menjadi alasan terkuat adalah karena saya ingin membekali diri untuk mumpuni dalam memfasilitasi anak-anak. Menjadi fasilitator utama dan pertaman bagi anak-anak merupakan profesi yang membahagiakan diri dan keluarga. Tak dipungkiri, selama proses menjalani kelas Bunda Sayang selama lebih dari satu tahun, ada banyak ilmu yang saya dapatkan. Sedikit demi sedikit, saya upayakan untuk menelaah dan mempraktikkannya dalam keluarga. Mengingat manfaatnya yang terasa begitu besar bagi kami sekeluarga, saya mantap untuk memasuki kelas Bunda Sayang kembali. Kali ini di kelas leader, bersama para leader Ibu Profesional dari berbagai regional. Bismillah, saya siap J  

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Mengalokasikan waktu secara rutin dalam jadwal waktu harian untuk menelaah materi yang didapat, mempraktikkan dalam keseharian, menyerap makna yang terungkap juga mendiskusikannya bersama suami di family forum
  • Membuat mindmap materi dan mencari referensi yang berkaitan dengan materi tersebut
  • Terlibat dalam diskusi aktif baik dengan suami di rumah maupun teman sekelas dan peer group
  • Menyiapkan dua buku tulis khusus untuk pembelajaran kelas Bunda Sayang. Terpisah antara materi dan jurnal praktik.

 Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaikidalam proses mencari ilmu tersebut?

  • Mengupayakan untuk menyimak diskusi di waktu yang telah disepakati bersama
  • Menyederhanakan masalah besar, mengurangi sikap perfeksionis
  • Menyegerakan dalam pengerjaan tugas. Tidak harus segera mengumpulkan, namun menyegerakan dalam memulai dan bersungguh-sungguh dalam pengerjaannya
  • Menyampaikan kebutuhan waktu untuk belajar kepada suami dan anak-anak, meminta ridho dan doa dari mereka
  • Selalu memegang family first. Ilmu Bunda Sayang saya pelajari untuk semakin meningkatkan servicing pada para customer utama, yaitu suami dan anak-anak.
  • Fokus tinggi dan selalu meminta ridho dan kemudahan dari Allah

Bismillah, dengan masuk kelas Bunda Sayang leader ini, saya berupaya untuk menjaga keseimbangan antara menuntut ilmu, mengaplikasikannya bersama keluarga dan menebar kebermanfaatannya. Semoga senantiasa Allah jaga, mudahkan dan kuatkan dalam menjalankan kelas Bunda Sayang Leader ini. Aamiin…


x

Monday, 20 August 2018

Saling Mendengar


“Itu hasil dari sebuah totalitas mi..."

cetus Abiya (panggilan saya untuk suami), usai kami menyaksikan bersama video rekaman acara pembukaan Asian Games 2018 kemarin yang mengundang banyak decak kagum.

Abiya melanjutkan,
“Karakter ini pun yang harus dimiliki oleh keluarga kita. Mengerjakan amanah dengan fokus dan penuh kesungguhan. Hasil akan mengikuti.”

Saya manggut-manggut sembari membereskan ruangan. Hari itu hari libur, saya mendedikasikan diri untuk menjadi pendengar yang baik untuk beliau. Sebelum anak-anak bangun dan berebut ingin didengarkan juga.

Beliau memberi isyarat untuk mendekat. Ingin menunjukkan pada saya video berikutnya. Bukan, bukan video mengenai Asian Games. Kali ini sebuah video mengenai perjalanan karier seorang animator, Alan Becker. Di video tersebut Alan Becker menceritakan awal mula beliau masuk ke dunia animasi di tahun 2005 hingga sampai di titik saat ini dimana channel Youtubenya sudah memiliki 5.4juta subscribers. Wow, perjalanan selama kurang lebih 13 tahun, terangkum apik dalam sebuah video singkat. Menarik dan inspiratif.  

Percakapan kembali mengalir. Ternyata karya-karya Alan Becker sudah digemari Abiya semenjak awal masa mahasiswa. Dan mungkin banyak subscribers yang juga demikian, mengikuti sejak bertahun-tahun lamanya. Pertanyaannya, mengapa karyanya disukai banyak orang dan membuat orang tertarik untuk terus mengikutinya? Ya, tentu saja karena karyanya bagus dan beliau konsisten menjaga kualitas karya tersebut. Kisah Alan Becker melanjutkan inspirasi pagi kami, Allah sampaikan pada kami bukti dari sebuah kesungguhan yang dibarengi dengan konsistensi.

Apa sebelumnya saya mengetahui tentang Alan Becker? Tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya pun bukan penyuka animasi. Bidang-bidang yang menarik bagi suami, memang asing bagi saya. Saya tak mengerti animasi, coding,maupun hal-hal yang menjadi bidang kesibukan suami. Pun sebaliknya. Namun dari sekian banyak hal yang berbeda maupun bertolak belakang, kami menemukan sebuah irisan. Kami suka berdiskusi. Saya suka mengumpulkan informasi, sedangkan suami suka menganalisa. Maka, kami perbanyak ruang diskusi dalam keseharian. Kami berupaya saling mendengarkan dengan baik, memahami kebutuhan masing-masing diri dan mengalirkan aneka topik bahasan dalam sebuah muara, pembelajaran untuk keluarga.

Saya selalu menantikan momen ini, family forum sarat makna, saat the man of vision and mission sedang mentransfer pandangan hidupnya, untuk kemudian nanti dijalankan oleh saya, sang pelaksana harian pendidikan.


Hasil jepretan Mentari Pagi di depan Schonbrunn Palace

Monday, 16 July 2018

Pertemuan dengan Seorang Anak yang Jiwa Sosialnya Tinggi

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menuangkan cerita di blog. Semoga cerita demi cerita yang akan kembali tertulis disini, Allah jaga dalam bingkai kebajikan sehingga bisa menjadi sebuah kebermanfaatan bagi yang menuliskan maupun yang membaca. 

Bismillahhirrohmanirrohim…



Kemarin sore, ada sebuah kejadian menarik saat saya menemani anak-anak bermain pasir di taman. Seperti biasa, saya duduk di pinggir bak pasir di dekat tempat anak-anak asyik bermain. Mentari Pagi dan Langit asyik bermain dengan peralatan yang mereka bawa. Ada jerigen air mini dan cetakan kastil dilengkapi empat sekop untuk mengeruk pasir. Di bak pasir itu ada beberapa anak yang juga bermain. Mayoritas dari mereka membawa peralatan bermainnya masing-masing. Hmm…ada seorang anak yang menarik perhatian saya. Dilihat dari postur tubuhnya, usia gadis kecil itu sekitar 6 hingga 7 tahun. Jika diamati dari gaya berpakaian ibunya, mereka berasal dari India. Dia menyapa akrab saya dan Mentari Pagi. Sapaan “Halo” yang dia utarakan, saya jawab disertai senyum manis. Nampaknya gadis kecil ini mengartikan balasan hangat dari kami sebagai lampu hijau baginya untuk bisa bermain bersama kami. Kam pun tak keberatan. 

Si gadis kecil tertarik dengan jerigen air mini milik Mentari Pagi. Dengan bahasanya, dia mengisyaratkan bahwa ingin memakainya. Mentari Pagi tak membolehkan, karena jerigen itu juga sedang ia gunakan untuk bermain pasir. Gadis kecil itu beberapa kali membujuk, namun Mentari Pagi tetap teguh tak membolehkan. Yang menarik, bujukan gadis kecil ini selalu disertai senyuman. Meski belum juga diperbolehkan, tak lantas membuat raut wajahnya berubah. Dia tetap meminta dengan tersenyum. Karena Mentari Pagi tetap pada pendiriannya, gadis kecil itu pergi. Melakukan aktivitas lain seperti berkeliling bak pasir atau bermain ayunan. Selang beberapa lama, muncul seorang anak perempuan lain yang juga bermain di bak pasir. Si gadis kecil tadi juga mendekat, menyapa, melakukan hal yang sama seperti dia memperlakukan kami. Kali ini teman barunya tersebut memperbolehkannya ikut memainkan peralatan. Gadis kecil itu pun asyik bermain selama beberapa saat. Tak lama, dia kembali berkeliling bak pasir dan menyapa anak-anak lain. Hingga kemudian dia kembali menghampiri kami. 

Saat itu, Mentari Pagi sedang membutuhkan air untuk pasirnya. Dengan cekatan, si gadis kecil ini menawarkan diri untuk mengambilkan air di kran yang masih berada di dekat bak pasir. Namun si gadis kecil itu kembali dengan jerigen yang tetap kosong. Rupanya tangannya belum mampu menarik tuas pembuka air di kran. Kran air itu memang sulit jika dibuka oleh anak-anak. Tenaga anak-anak tak cukup kuat untuk menarik tuas kran air tersebut. Telunjuk tangannya bergerak ke atas sembari bola matanya bergerak ke kanan kiri. Saya menanggapi dengan memberikan pertanyaan, “Bagaimana solusinya?” Tak lama dia tersenyum dan berujar, “Aha, aku punya ide…” Dia mengajak saya mengikuti langkahnya ke kran. Ternyata idenya adalah dia meminta bantuan saya untuk menarik tuas pompa air. Hihihi…

Usai jerigen terisi air, dengan sigap dia mendatangi Mentari Pagi dan menawarkan untuk menyiramkan air ke pasir. Mentari Pagi menyambutnya dengan suka cita. Di ujung lainnya, temannya tadi juga memanggilnya dan mengatakan bahwa dia juga membutuhkan air. Hingga saya hitung sampai akhir, ada sekitar lima kali bolak balik gadis kecil ini mengisi air untuk melayani teman-temannya yang membutuhkan air. Dan dia melakukannya selalu dengan senyum lebar. Saya mengulurkan tangan mengajaknya give me five saat usai membantu anak lain. Beberapa saat kemudian, dia yang mengajak saya mengulanginya setiap dia tuntas membawakan air untuk teman-temannya. Dia menyukai apresiasi ini. Kami terus bermain dengan pola demikian. Tak ada lagi anak yang protes, tak ada lagi anak yang bosan hingga menangis, tak ada lagi ibu yang berteriak karena merasa anaknya merugikan orang lain. Alhamdulillah. Dari sini saya membaca sesuatu. Gadis kecil ini memiliki bakat servicing yang tinggi. Bagi orang yang baru mengenalnya, mungkin orang lain merasa risih dengan sikapnya yang selalu mendekat. Namun saat saya menyaksikan cara dia bermain bersama Mentari Pagi dan teman lainnya, saya dapat melihat binar bahagia di sorot matanya setiap kali orang lain berterimakasih padanya atas bantuan yang dia ulurkan. 

Hari menjelang sore, saya dan anak-anak pun berpamitan pada ibunya untuk pulang dulu ke rumah. Ibunya berterimakasih pada kami karena senang bermain dengan gadis kecilnya. Melihat saya menyalami sang ibu, gadis kecil itu berlari mendekat dan menjabat tangan saya dan Mentari Pagi. Ada rasa hangat yang menjalar di hati ini. Saya berharap, semoga Allah senantiasa mudahkan kami para orangtua untuk fokus melihat keunggulan setiap anak, memahami dan memberi ruang pada mereka untuk mengekspresikan keunggulan tersebut. Aamiin…

Wednesday, 23 May 2018

Bermain Bersama di Fasilitas Umum

Hari ini kami bermain pasir bersama di taman. Anak banyak anak yang bermain pasir. Untuk bermain di fasilitas umum, kita perlu berdiskusi dan membuat kesepakatan dengan anak agar bermain menjadi lebih nyaman. Terlebih di negeri orang. Antara lain :

Jika ada anak yang ingin bermain bersama, orangtua perlu mengawasi secara berkala. Supaya tidak terjadi pertengkaran atau hal yang tidak diinginkan. Bahasanya kan kita belum paham ya. Jadi lebih baik mengurangi potensi konflik.

Peralatan bermain diberi label nama terlebih dahulu. Ada sebuah kejadian dimana ada seorang ibu yang mendatangi kami saat bermain dan menanyakan apakah kami (orangtua) mengetahui alat bermain milik anaknya? Alhamdulillah saat itu saya bersama teman yang sudah cukup paham bahasa Jerman, sehingga kemudia teman saya membukakan tas tempat alat bermain anak-anak kami dan menunjukkan bahwa alat bermain yang ibu tersebut maksud tidak ada. Dengan demikian, ibu tersebut merasa puas dengan jawaban dan sikap kami.

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day12

Tuesday, 22 May 2018

Sarana Transportasi yang Ramah Anak

Wina merupakan kota yang terkenal akan fasilitas transportasinya. Tak heran, meski bepergian bersama dua anak kecil, kami tetap dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Ada u-bahn, tram maupun bus yang siap kami gunakan setiap saat. 

Mengapa ramah anak?
Semua jadwal kedatangan alat transportasi di halte atau stasiun bisa dimonitor dengan aplikasi sehingga dapat kita ketahui estimasi waktu kedatangannya. Ini memudahkan kita untuk menenangkan anak saat mulai jenuh menunggu. 

Di semua alat transportasi, ada tempat untuk kursi roda dan stroller. Seberapapun berdesak-desakannya, mereka akan memberi ruang untuk stroller bayi dan anak. Ada kursi khusus juga yang diprioritaskan untuk orang yang sudah tua, orang sakit, ibu hamil, orang tua yang membawa anak kecil maupun anak-anak.

Jarak antara halte maupun stasiun amat dekat. Dan semuanya bisa dilihat melalu aplikasi. Bahkan kita bisa memilih rute sesuai prioritas. Mau rute yang paling cepat, yang waktu jalan kakinya paling pendek atau yang perpindahan alat transportasinya paling minim. 

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day11

Monday, 21 May 2018

Kebiasaan Harian yang Perlu Kami Ubah Disini

Ada kebiasaan-kebiasaan yang harus berganti semenjak kepindahan kami ke Wina. Memang tak mudah, perlu waktu untuk memahamkan dan perlu proses untuk berganti kebiasaan. Anak-anak bisa menikmati dengan bahagia.

Beberapa kebiasaan tersebut adalah :

Cara kami membersihkan badan seusai buang air besar dan buang air kecil. Karena disini toiletnya adalah toilet kering maka kami membersihkan najis tetap dengan air namun dengan volume yang lebih sedikit dan dibantu dengan tisu.

Makan selalu di rumah. Karena tidak ada warung makan yang sesuai dengan lidah dan selera kita disini. Selain kehalalannya juga dipertanyakan (Selain kebab berlabel halal), harganya pun kurang ramah kantong. hihihi. Jadi jika bepergian kami berupaya mempersiapkan bekal makanan berat dari rumah.

Pergi berbelanja selalu membawa kantong belanja. Kantong belanja disini benar-benar membayar, dengan harga yang cukup mahal. Sayang kan uangnya. Supaya ramah lingkungan juga, lebih baik bawa kantong belanja dari rumah :)
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day10