Monday, 1 March 2021

Momen Refleksi Seorang Bunda (menuju) Produktif

Bismillahirrohmanirrohim…

Refleksi saya adalah bahwasanya kelas Bunda Produktif ini sangat identik dengan kerja kelompok. Untuk sukses melaluinya, setiap Hexagonia perlu memiliki sikap proaktif, inisiatif, dan project ownership yang tinggi sebagai kunci sukses dalam membangun kota bersama-sama.



STOP

Proses apa saja yang selama ini tidak bekerja untuk project passion kita?

Apa saja yang harus kita “stop” dan tidak dikerjakan lagi, apabila project passion ini akan berlanjut?

Alur kerja yang tidak end to end.

START

Apa hal-hal baru yang bisa kita usulkan untuk meningkatkan proses kinerja kita apabila project passion ini akan dilanjutkan?

Mengangkat ragam tema, sambil mengenalkan tema tertentu pada anak

Tahap membuat buku cerita satu tema tertentu

Read Aloud beserta aktivitas pendukung dilanjutkan

Menampung kebutuhan bahasa Inggris dan Jerman dengan membuat buku tiga bahasa

CONTINUE

Apa saja yang sudah bekerja baik di project passion kita, dan akan kita lanjutkan? Proses/hal-hal apa saja yang akan kita eksplor lebih lanjut ke depannya?

Sistem kerja yang sudah baik, Pembagian beberapa peran

Sudah bisa mengidentifikasi keunggulan teman-teman sesuai bakatnya

Saling support

Kontrol dari PJ milestone dan leader

Meet up pekanan



False Celebration

1.       Apa kesalahan yang pernah saya lakukan selama di Hexagon City

Kurang presisi dalam mengukur kapasitas diri sebelum masuk kelas Bunda Produktif terkait ketersediaan waktu yang dimiliki sepaket dengan jumlah amanah yang sedang diemban saat ini.

 

2.       Belajar apa saya dengan kesalahan tersebut?

Semakin menyadari bahwa setiap pilihan selalu diiringi dengan konsekuensi.

3.       Sekarang saya jadi tahu apa saja yang harus saya lakukan, agar tidak terjadi kesalahan yang sama

Di kelas Bunda Produktif ini saya banyak belajar mengenai manajemen diri,  bagaimana bergerak sesuai prioritas, bertanggungjawab dengan tugas, mengerjakan amanah dengan efektif dan efisien, dan komunikasi produktif dengan pihak lain.

4.       Tepuk tangan dan apresiasi

Syukur alhamdulillah, berhasil berproses hingga titik ini. Semoga Allah rida dan tuntun langkah ini senantiasa. Berproses menjadi seorang ibu profesional, kebanggaan keluarga.



 

Wina, 2 Maret 2021

Friday, 26 February 2021

Bagaimana Pembelajaran TPA Masjid As-Salam WAPENA selama Pandemi COVID-19?

Bulan ini adalah bulan pertama dimana kegiatan TPA Masjid As-Salam WAPENA mulai berjalan sebagaimana jadwal yang sudah dicanangkan. Jadi karena terkait pandemi, TPA kembali berjalan secara daring dimulai dari bulan Januari lalu. Namun kami mencoba mengutak-atik jadwal agar sesuai dengan ritme dan kapasitas para pengajar dengan tetap memperhatikan agar kebutuhan santri terpenuhi.

Sebelumnya, mari kita ulas jadwal TPA sebelum pandemi ya. Yang artinya masa dimana TPA berlangsung secara luring di masjid setiap hari Minggu. Kegiatan TPA berjalan rutin sepekan sekali, seiring dengan acara kajian yang berlangsung setiap pekan. Sebelum acara TPA dimulai, para pengajar TPA mengikuti kelas tahsin bersama Ustadz Wisnu Arfian sebagai bekal dalam memfasilitasi para santri TPA. Jadi dulu jadwal rutin setiap hari Minggu adalah saya berangkat ke masjid jam 11.30 CET kemudian ada acara tahsin pengajar TPA dari jam 12.00 CET hingga jam 13.30 CET. Jam 14.00 CET biasanya warga sudah mulai berdatangan ke masjid dan kajian ALT (As-Salam Leadership Talk) pun dimulai. Usai ALT, kami salat Ashar berjamaah kemudian sesi TPA pun dimulai bersamaan dengan dimulainya kajian pekanan. Setiap pengajar memfasilitasi 2-3 santri.

Sejak pandemi, TPA berlangsung via daring setiap pekan. Jumlah pengajar yang bisa memfasilitasi via daring sedikit. Intensitas sepekan sekali pun terasa padat. Maka belajar dari perjalanan TPA daring selama tiga bulan tersebut, per Januari 2021 TPA mulai berjalan secara daring dengan teknis sebagai berikut :

  1. Satu pengajar cukup memegang satu kelompok belajar yang terdiri dari dua hingga tiga anak.
  2. Kegiatan TPA daring berkelompok dilaksanakan dalam durasi satu jam untuk satu kelompok dengan frekuensi dua pekan sekali.
  3. Setiap bulan akan ada kajian anak muslim dengan materi yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan belajar membaca Al Qur’an para santri TPA
  4. Disiapkan formulir laporan perkembangan yang bisa diisi oleh pengajar dan wali santri untuk saling melengkapi data perkembangan santri.

Di bulan Januari lalu di akhir bulan saya masih berjibaku dengan pematangan konsep dan teknis pelaksanaannya dengan memohon pertolongan Allah. Perlahan fiksasi mulai bisa dilakukan dan program mulai berjalan sesuai jadwal. Dan di bulan Februari ini, menjelang akhir pekan keempat, yang mana tidak ada kegiatan TPA di pekan keempat ini, saya bisa merasakan jeda sesuai jadwal yang berjalan.

Saya sangat bersyukur Allah kirimkan anggota tim, para pengajar yang bersedia meluangkan waktu untuk memfasilitasi para santri sekalipun via daring. Di sela kesibukan beliau-beliau berjibaku dengan studi dan penelitian. Bahkan para pengajar TPA yang sudah kembali ke Indonesia namun tetap berada di grup WhatsApp TPA saat saya menyampaikan rencana program TPA dan membuka peluang kebaikan untuk turut mengajar, beliau-beliau pun menyatakan kesediaan. Sungguh ini saya rasakan sebagai bentuk nikmat dari Allah yang tidak disangka-sangka kehadirannya. MasyaAllah tabarakallah...

Para wali santri pun antusias dan bersemangat untuk aktif berkontribusi. Ada yang menghubungi para pengajar untuk sinkronisasi jadwal, ada yang menanyakan bagaimana pengisian formulir perkembangan santri juga teknis seputar iuran TPA memudahkan saya dan tim pengurus untuk menjalin kerjasama bersama wali santri dalam menghadirkan pendidikan islam untuk para santri TPA. Dari segi pribadi dan keluarga, anak-anak pun semakin bersemangat belajar karena belajar bersama teman-teman. Mereka bertemu bersama dalam satu ruang Zoom sebulan sekali. Alhamdulillah...

Menjalankan sebuah project memang tidak mudah, namun Allah berikan kejutan kenikmatan di dalamnya. Ini adalah sebuah ikhtiar bersama dari semua pihak untuk menghadirkan pendidikan islam untuk anak-anak muslim Indonesia di Austria. Semoga Allah hadirkan keberkahan dalam langkah yang jauh dari sempurna ini. Semoga Allah hadirkan orang-orang yang silih berganti bergerak bersama-sama mengaktifkan TPA di masjid As-Salam WAPENA ini. Kehadiran saya dan keluarga di kota Wina ini memang mungkin hanya sekejap saja. Namun semoga sekejapnya ini bisa menghadirkan segaris warna yang menghadirkan kebermanfaatan dan kebaikan. Aamiin...aamiin...allahumma aamiin...

Tulisan ini dibuat untuk mendokumentasikan perjalanan sebuah Community based Education di Wina yang dimulai dengan keberjalanan TPA. Semoga menjadi inspirasi sederhana untuk teman-teman pembaca yang sedang merintis pembuatan TPA di kota atau negaranya masing-masing. Semoga juga Allah mudahkan prosesnya. Aamiin…

 

Wina, 26 Februari 2021

 

 

 

 

Thursday, 25 February 2021

Catatan Belajar mengenai Urgensi Membangun Kepribadian Islami

Bismillahirrohmanirrohim…

Pekan lalu saya mengikuti kajian Islam dengan topik “Urgensi Membangun Kepribadian Islami”

Judul tersebut membuat saya merenungi diri. Sebenarnya, untuk apa kita membangun kepribadian Islami? Bukankah segala langkah yang diupayakan menuju ke arah tersebut adalah untuk keselamatan diri saya sendiri?

Banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah membuat saya tertunduk malu. Forum-forum kajian seperti ini bagi saya merupakan salah satu kenikmatan fasilitas luar biasa yang Allah berikan pada kami yang saat ini tinggal di bumi Eropa, dimana agama Islam menjadi agama minoritas. Tak terdengar kumandang Adzan dalam keseharian, tak ada yang menganggap aneh jika kita makan dengan tangan kiri maupun dalam posisi berdiri, bahkan tak ada yang peduli saat kita berbuat maksiat. Maka saya sangat mensyukuri adalah kajian rutin ini yang bisa dijalankan di sini.

Ustadzah menyampaikan bahwasanya ada tiga aspek yang perlu dibangun oleh seorang muslim, antara lain :

1.       Ruhiyah/ Maknawiyah

QS. Asy Syams ayat 7-10

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

QS. Al Hadid 16

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik.

Ruhiyah yang baik akan menghadirkan aqidah yang kokoh dan lurus. Akhlak yang baik, juga merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Rasulullah diutus pun untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ada masa di mana kita merasa dekat dengan Allah, namun ada juga masa di mana kita merasa futur, jauh dengan Allah, merasa kering dan rapuh. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah mengaruniai kita rasa itu, agar kita memahami bahwa ada hal yang tak beres dalam diri. Kemudian bersegera memperbaiki diri dan mendekat padaNya. Melantunkan doa “Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

2.       Fikriyah.

Kejernihan fikroh. Di mana kreativitas seseorang akan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Apakah ada tidak adanya kita, situasi di sekeliling kita akan sama?

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” HR Ahmad. Aksi nyata terkait hal ini banyak saya rasakan saat belajar dan bertumbuh di komunitas. Di mana saat kita paham kebutuhan diri kita, kemudian kita mengamati sekeliling, apakah lingkungan sekitar kita juga memiliki kebutuhan yang sama? Jika ya, kita bisa bergerak untuk memenuhi kebutuhan diri kita sembari mengajak orang lain untuk turut bergerak sehingga terpenuhilah kebutuhan bersama. Bergerak dan menggerakkan. Bagaimana langkah kita dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh diri kita dan keluarga kita namun juga orang-orang di lingkungan sekitar kita. Sebuah langkah yang meluas dampak dan kebermanfaatannya.

Poin yang kedua adalah menghasilkan wawasan dan pola pikir Islami. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” HR Ibnu Majah. Menuntut ilmu baik terkait Islam maupun ilmu yang berkaitan dalam peran atau profesi yang dijalankan dalam kehidupan. Karena setiap amal perlu dijalani dengan dibekali ilmu. Selanjutnya poin yang ketiga adalah sikap disiplin. Bagaimana agar langkah yang kita lakukan, ilmu yang kita pelajari menjadi sebuah amal dan karakter? Tentu diiringi dengan disiplin diri yang tinggi.  

3.       Amaliyah

QS. At Taubah 105

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Amaliyah adalah satu diantara tiga tuntutan. Bekerja adalah perintah untuk setiap mukmin. Bergerak, dan menjalankan peran yang diemban sebagai bentuk beribadah pada Allah. Tak pandang peran apapun yang dijalankan, sepanjang dalam kebenaran dan di jalan Allah, maka menjadi sebuah lahan juang dan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semoga Allah tuntun langkah kita senantiasa. Aamiin...

Wina, 25 Februari 2021

 

 

 

 


Monday, 22 February 2021

Zona Open Space Ketiga, Momentum untuk Mendalami Makna dari Kebutuhan

Hari ini adalah hari terakhir Hexagon City Virtual Conference. Di awal pembukaan zona Open Space saya membuat rencana tahapan belajar, yaitu di tahap pertama saya mengambil peran sebagai Bumble Bee yang menclok ­sana menclok sini yang selain untuk mendapatkan ilmu juga untuk membaca situasi jika mengambil peran sebagai Speaker itu seperti apa. Di tahap kedua saya mengambil peran sebagai Speaker dengan membawakan topik yang sesuai dengan kebutuhan saya banget saat itu, sebuah momen refleksi diri dalam proses bertumbuh menjadi seorang Ibu Profesional Diaspora. Dan di tahap ketiga, saya mengambil peran sebagai Butterfly. Apakah semua berjalan mulus? Tentu tidaaaak, hehehe…

Saat tahap pertama, gegap gempita Virtua Conference amat terasa. Peran saya sebagai Hexagonia sekaligus leader HIMA yang menyalurkan informasi jadwal Virtual Conference membuat saya perlu mengalokasikan jam daring ekstra agar bisa mengerjakan amanah. Ditambah dengan menyimak sesi live yang disajikan oleh teman-teman Speaker. Di saat bersamaan, saya juga berkontribusi di regional dalam rangkaian milad tiga tahun Efrimenia berupa aneka karya persembahan setiap benua dan lima Virtual Tour yang sangat menarik. Melaju ke tahap kedua, saya mengambil peran sebagai Speaker. Karena akhir pekan saya ada agenda amanah peran lain di komunitas lokal yang cukup padat sekaligus persiapan materi dan teknis live sebagai Speaker, fokus saya berpusat di dua kegiatan tersebut, sehingga di tahap kedua ini saya tidak terlalu larut dalam keriuhan Virtual Conference.

Masuk di tahap ketiga, ada lima tetangga Co-Housing yang akan mau sebagai Speaker, demikian halnya dengan teman-teman dekat. Maka saya bertekad untuk melakukan extra miles dengan duduk sebagai peserta dan menjadi support system teman-teman, meski ternyata jam saat live ternyata berbenturan dengan aktivitas kursus bahasa Jerman di sini yang tidak bisa saya tinggalkan atau masih dini hari waktu CET. Sedih rasanya, namun saya mencoba mendata sesi teman-teman dan menyimak rekamannya saat malam hari (kecuali untuk yang via ZOOM, karena tidak ada susulannya). Hingga saat ini saya sudah menjadi Bumble Bee di sesi mba Nurul Choiriyah, mba Endah, mba Sari, dan mba Wita. Seru dan bermanfaat semua, masyaAllah… Semua menyampaikan materi dari hati dan dengan performa terbaiknya. Sedangkan yang masuk wishlist untuk segera disimak saat ini adalah sesi mba Lia dan mba Nurul Fitriyah.

Dalam sesi Huddle bersama Founding Mother, ada sebuah kejutan yang dipaparkan. Bahwasanya ada 368 Speaker, penggunaan platform tersebar merata mulai dari Youtube, Facebook Fanspage, Instagram,WhatsApp Group, Telegram Group, hingga Zoom. Dan kejutan berikutnya, Co-Housing kami, Literasi dan Bahasa 3 masuk dalam presentasi karena andil yang cukup besar. Ya, 8 dari 11 anggota mengambil peran sebagai Speaker. Cluster yang menaungi kami, Cluster Meraki juga muncul dalam presentasi. Alhamdulillah… Video testimoni dari peserta umum juga mengundang haru dan rasa syukur. Dampak positif dari aksi berbagi ini sangat nyata dan testimoni yang digulirkan membuat hati menghangat. MasyaAllah tabarakallah...

Zona Open Space pekan ketiga ini semakin menyadarkan saya untuk menerima kondisi sebagai ibu diaspora sepaket dengan tantangan yang dijalankan. Ternyata, jika saya memaksakan diri melakukan extra miles dengan menyimak Virtual Conference secara live, maka selain saya tidak bisa menyimak dengan fokus, pun amanah offline-pun berjalan kurang optimal. Jam konferensi biasanya adalah jam 08.00-21.00 WIB yang mana jika dikonversi ke waktu Austria adalah jam 02.00-15.00 CET.  Yang mana pada jam tersebut agenda adalah masih terlelap tidur, kemudian bangun, beribadah, beraktivitas domestik, mengantar anak-anak ke sekolah, menjalankan kursus bahasa Jerman berdurasi tiga jam, dalam perjalanan, menjemput anak di sekolah, menyiapkan makan siang, membersamai anak-anak dan kembali menjemput anak di sekolah. Belum ada slot waktu untuk duduk manis menyimak ibarat peserta konferensi di dunia nyata. Pernah saya menyimak sembari beraktivitas domestik, namun justru pekerjaan domestik jadi lebih lambat tuntasnya dan poin penting dari materi pun tidak saya dapatkan karena tidak mindful. Pernah juga nyaris turun di halte yang salah saat menyimak live dalam perjalanan. Kocak dan bikin kapok, hihihi.

Saya memang mengalokasikan waktu satu jam per hari untuk berkomunitas secara daring. Setengah jam di dini hari saya gunakan untuk mengerjakan amanah kepengurusan HIMA dan menyalurkan informasi dari pusat ke regional. Setengah jam berikutnya saya alokasikan di sore hari waktu CET, untuk menyimak Virtual Conference juga rangkaian acara milad Ibu Profesional Efrimenia karena qodarullah momennya bertepatan. Maka saya perlu membuat strategi dalam aktivitas Virtual Conference ini, yaitu dengan membuat diagram alir keputusan terkait menentukan aksi diri dalam Virtual Conference. Berikut diagram alir sederhana, visualisasi dari isi pikiran saya selama membuat keputusan dalam melangkah di Hexagon City Virtual Conference. Bagaimana saya menentukan kapan join, tunda dan memasukkannya dalam wishlist atau skip.



Adalah hal yang wajar jika sepanjang perjalanan Virtual Conference, saya sebagai Hexagonia merasa tertarik dengan aneka sesi, karena memang para Hexagonia berbagi ilmu dan pengalaman dengan topik-topik yang sangat erat dengan tantangan yang dialami para ibu dalam menjalankan peran. Saya bahkan membayangkan betapa besar dampak forum ini untuk para ibu Indonesia yang menyimak. Yang mayoritas bisa diakses secara gratis dan terbuka untuk khalayak umum. Di sisi lain, saya belajar menyadari bahwa saya bisa mereguk ilmu dari Virtual Conference ini secukupnya, sesuai kebutuhan dan kesempatan yang ada. Jika ada topik penting, saya membuat wishlist dengan mencatat topik materi, pemateri dan platform apa yang digunakan sehingga bisa saya akses dan simak di kemudian hari di waktu yang tepat. Tak perlu terburu menyimak materinya padahal di saat bersamaan ada amanah daring lain yang juga harus saya selesaikan. Kondisi ini justru akan membuat saya gagal fokus, terlarut dalam rasa bersalah dan mangkir dari jadwal harian yang sudah saya jalankan seperti biasanya. Di titik ini saya pun belajar bagaimana melakukan kontrol diri terhadap suatu godaan di depan mata.

Perjalanan di kelas Bunda Produktif ini tentu tak lepas dari dukungan penuh dari suami dan anak-anak. Mereka mungkin tak menyampaikan dukungan secara lisan, namun sikap mereka sudah lebih dari sekadar dukungan. Suami adalah teman diskusi yang selalu memberikan pandangan berbeda yang seringkali luput dalam pandangan saya, saya juga menggunakan laptop beliau untuk live karena laptop milik saya kurang mendukung. Sedangkan anak-anak, mereka adalah pihak yang berbesar hati memberikan waktu untuk sang ummi melakukan me time lebih lama dari biasanya dengan mengikuti perjalanan zona Open Space ini. Maka tak heran jika Hexagon City pun akrab di telinga mereka. MasyaAllah tabarakallah...

Saat suami saya minta memberikan testimoni terkait Virtual Conference, beliau tidak bersedia, karena memang beliau tidak mengikuti Virtual Conference tersebut. Beliau memilih memberikan testimoni mengenai proses belajar kelas Bunda Produktif yang saya jalankan. Masukan dari beliau adalah, akan semakin baik jika peserta kelas Bunda Produktif mendapatkan informasi garis besar kelas bunda produktif secara umum sebelum proses belajar berjalan, sehingga peserta bisa melakukan sinkronisasi antara peta belajar diri dengan program-program di kelas Bunda Produktif.

Zona Open Space ini secara tidak langsung menjadi laboratorium percobaan bagaimana menjadi seorang Digital Mama. Allah berikan kesempatan untuk belajar mengoperasikan Streamyard, menemukan strategi yang saya banget untuk bisa berselancar di tengah gencarnya arus informasi dan kesempatan, bahkan meregulasi emosi agar tidak terjebak dalam rasa bersalah atau rasa sungkan, namun bisa tetap saling mendukung dan menguatkan. Terima kasih dan apresiasi mendalam saya sampaikan pada Founding Mother, segenap Tim Formula dan City Leader beserta jajarannya, termasuk para PIC platform dan seluruh Hexagonia. MasyaAllah tabarakallah, atas izin Allah, Hexagon City Virtual Conference terselenggara dengan apik dan sangat berkesan. Yuk, tepuk tangan bareng dan saling tepuk pundak, dengan izin-Nya, langkah kita semua luar biasa…

Wina, 22 Februari 2021

 

Monday, 15 February 2021

Zona Open Space Kedua, Belanja Pengalaman dengan Mengambil Peran sebagai Speaker di Hexagon City Virtual Conference

Bismillahhirrohmanirrohim…

Alhamdulillah zona Open Space memasuki pekan kedua. Setelah pekan sebelumnya saya sempat oleng karena kehadiran Virtual Conference yang mengejutkan di sela-sela rangkaian Milad ketiga Ibu Profesional Efrimenia dan rapat kerja HIMA 2021, maka pekan ini kondisi berangsur membaik karena sudah mulai bertemu ritme yang pas. Setelah menimbang selama beberapa hari seiring berlangsungnya Virtual Conference, di tahap kedua saya memutuskan untuk menjadi Speaker dengan mengambil topik yang sudah saya jalankan dan bisa saya bagikan dengan versi saya banget.



Di pekan lalu, perjalanan Bumble Bee benar-benar menclok sana menclok sini. Benar-benar hanya poin-poin utama saja yang sempat saya garis bawahi dalam setiap Virtual Conference yang saya hadiri.

  • Di sesi Literasi Keuangan pada Anak saya belajar cara mengajarkan konsep harta pada anak, membedakan kebutuhan dan keinginan melalui permainan juga bagaimana cara yang bijak untuk memberi upah pada anak atas kegiatan ekstra yang ia lakukan.
  • Di sesi Gadget and Mama saya mendapatkan insight bahwasanya manajemen waktu terkait pemakaian gawai bisa efektif berjalan dengan mematikan notifikasi media sosial, menjaga privasi di media sosial, bijak menghadapi ilusi media sosial hingga pengingat bahwa gawai perlu rutin dibersihkan agar sampah di dalamnya tak menumpuk sehingga membuat bingung saat mencari sebuah data.
  • Di sesi Meal Praparation dan Food Preparation saya mendapat suntikan semangat untuk kembali rajin menyusun menu pekanan setelah belakangan ini cukup berpatok pada budgeting saja karena sedang berdamai dengan rutinitas kursus bahasa kembali yang saya jalankan setiap hari.

Sadar bahwasanya saya berada di zona waktu CET yang enam jam lebih lambat daripada WIB, dimana artinya slot waktu yang memungkinkan untuk saya ambil semakin sempit (ngga mungkin kan saya ambil jadwal pagi atau siang WIB, di CET masih dini hari dan pagi hari, waktunya berjibaku dengan tugas domestik juga persiapan sekolah dan kursus) maka saya perlu menjalankan strategi dalam mendaftarkan diri agar bisa mendapatkan jadwal yang sesuai dengan jam daring saya.  Yakin dengan topik yang akan disampaikan saat menjadi Speaker adalah bekal penting dalam pengisian formulir. Selama menunggu pembukaan formulir tahap berikutnya, akan sangat memudahkan diri sendiri jika kita sudah mantap mau berbagi seputar topik apa. Juga merencanakan beberapa pilihan waktu, hari apa jam berapa kita bisa tampil, dan platform apa yang akan dipilih sebagai wadah berbagi. Begitu mendapat pengumuman bahwasanya formulir dibuka, bismillah saya segera mengisi formulir kemudian membagikan informasi tersebut di WAG Co-Housing dan Hexagonia regional. Beberapa jam berselang, jadwal pun segera penuh terisi. Antusiasme Hexagonia dalam berbagi ilmu dan pengalaman sungguh patut diacungi jempol.


Saya memantapkan diri untuk berbagi seputar proses bertumbuh menjadi seorang ibu profesional diaspora. Terdengar aneh? Mungkin, tapi sejak Founding Mothers menyampaikan akan diselenggarakannya Virtual Conference dan ada pilihan peran Speaker, topik refleksi diri langsung muncul di benak saya. Terlepas dari saya sedang belajar apa di kelas Bunda Produktif ini dan bertumbuh di Co-Housing mana. Toh topik yang disampaikan pun tak harus linier dengan bidang yang sedang ditekuni di Hexagon City. Mengambil peran sebagai Speaker saya jadikan momentum untuk sejenak menengok ke belakang, atas sebuah perjalanan yang sudah dimulai dan masih terus berlanjut hingga kini. Untuk dapat semakin mensyukuri setiap langkah dan memperbaiki kekurangan di sana-sini.



Terkait hal teknis, usai mendaftar, proses berikutnya yang harus dilakukan adalah, menghubungi PIC Platform dan melakukan persiapan live. Saya coba detailnya persiapannya ke dalam poin-poin berikut ya,

  1. Menghubungi PIC platform (untuk FB : mba Uli)
  2. Membuat twibbon, meletakkannya di google drive dan memberikan tautannya ke mba Uli.
  3. Membuat e-flyer acara kemudian mengkonsultasikannya ke mba Uli. Jika mba Uli mengkonfirmasi OK, maka e-flyer siap sebar.
  4. Mempersiapkan teknis live. Saya memilih menggunakan Streamyard untuk live di Facebook. Memanfaatkan fasilitas penyewaan Streamyard berbayar dari mba Himmah (Cluster CIA) dengan biaya sewa 20 koin hexa untuk live satu jam (sudah termasuk fasilitasi gratis durasi latihan, durasi ekstra di awal dan akhir).
  5. Mempersiapkan materi presentasi. Sebenarnya ini tidak wajib, tak ada pun tidak masalah. Namun saya tipikal orang yang bakal bicara tidak terarah kalau ngga ada rambu-rambunya. Maka slide presentasi saya persiapkan untuk menjadi rambu dalam menyampaikan materi agar on point dan ngga ngalor ngidul ngetan ngulon saat live.


Hal apa yang baru dan menjadi insight sesi live?

Alhamdulillah bisa menghubungkan Streamyard ke akun Fanspage Facebook, mencoba fitur counting down, mengoperasikan Streamyard sendirian menggunakan dua layar meski membuat scrolling-nya seringkali kelamaan :D, Allah sempatkan untuk membuat slide presentasi di waktu sempit begitu usai kursus siang tadi. Yang sebenarnya kemarin saya bahkan masih bingung merumuskan bagaimana alur penyampaian materi agar sesuai untuk saya jadikan momentum refleksi diri. Alhamdulillah Allah berikan petunjuk dan mudahkan prosesnya. Mba Uli selaku PIC platform dan mba Himmah selaku PIC Streamyard berbayar pun sangat memfasilitasi kebutuhan saya.

Dengan mengambil peran sebagai Speaker, ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan. Bukan hanya belajar berbagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki kepada orang lain saja, namun juga belajar hal teknis persiapan live yang ternyata printhilan-nya cukup banyak dan penting semuanya. Dengan demikian, masing-masing Speaker dapat merasakan bagaimana riweuhnya Cityt Leader, Tim Formula dan Founding Mothers setiap akan menyampaikan sapaan atau materi untuk warga Hexagon City. Merasakan sensasi deg-degan saat ada kendala teknis, belajar mengambil keputusan dengan cepat dan cermat hingga proses menyampaikan materi yang menempa diri untuk memiliki struktur berpikir yang semakin baik. Video rekaman live tersebut bisa disimak di Facebook Fanspage dengan tautan berikut



Hal apa yang saya pelajari dan perbaiki ke depannya?

Saya sudah beberapa kali menggunakan Streamyard dan dihubungkan ke akun Youtube. Namun kali ini perdana dihubungkan ke akun Facebook dan Fanspage pula. Hal yang belum berhasil adalah, membagikan video. Saya salah persepsi dalam memahami instruksi. Saya kira menayangkan video adalah dengan melakukan share screen dan memutar videonya. Yang ternyata hasilnya, gambarnya saja yang jalan, suaranya tidak terdengar. Lain kali, saya perlu mengunduh dulu videonya, lalu memilih opsi membagikan video. Yang kedua, belum bisa menggunakan background sesuai arahan karena belum ada green screen  di rumah. Belum memungkinkan juga untuk membuat green screen ala-ala. Tak apa, optimalkan yang tersedia dulu, itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.



Menjadi Speaker bukanlah sebuah kewajiban. Peran ini diambil dengan sukarela dan bahagia. Berbagi adalah bentuk empati, berbagi menandakan bahwa kita memiliki, dan dengan berbagi apa yang kita miliki, kebahagiaan dan kepercayaan diri akan tumbuh berlipat, insyaAllah. Kita pun menjadi bisa mengukur kapasitas diri, mulai dari kedalaman pemahaman kita mengenai topik tersebut, kompetensi kita dalam menyampaikan materi di hadapan pihak lain (Public Speaking) dan efektivitas efisiensi waktu yang kita gunakan untuk menjalankan seluruh rangkaian persiapannya. Seorang diri yang merdeka, akan menentukan pilihan dengan bahagia, dan menjalankan konsekuensi atas pilihan yang sudah diambil dengan penuh tanggung jawab.

Jika tahap pertama sudah menjadi Bumble Bee, tahap kedua menjadi Speaker maka saya bersiap untuk menjadi Butterfly di tahap ketiga nanti. Sekaligus mempersiapkan launching untuk Project Passion kami yang sudah digarap dengan sepenuh hati, Literaksi Tematik. Semoga senantiasa dalam rida Allah. Aamiin…

Wina, 16 Februari 2021

  

Monday, 8 February 2021

Zona Open Space Pertama, Semarak Virtual Conference di Hexagon City, Sudah Belajar Apa Saja?

Bismillahirrohmanirrohim...



Kembali membuat jurnal di kelas Bunda Produktif. Kelas belajar di Institut Ibu Profesional merupakan kelas yang sungguh dinamis dan penuh dengan kejutan. Saya teringat di sebuah grup beberapa waktu lalu, ada yang menebak makna zona O dengan sebutan Opportunity. Karena setiap zona berurutan dan membentuk kata HEXAGON, sedangkan zona yang sudah terlewati adalah zona Habit, 4E, X-tra miles, Agility, Growth, maka masuk akal juga jika huruf O ditebak kepanjangannya adalah Opportunity. Namun ternyata Open Space.

Apa itu zona Open Space?

KEJUTAN! Di zona ini dihelat Hexagon City Virtual Conference! Seperti halnya diskusi panel dalam sebuah konferensi, Hexagonia ditantang untuk berkontribusi layaknya seorang peserta konferensi. ada empat peran yang bisa dipilih dan dijalankan secara bergantian, yaitu :

Speaker : berbicara di depan khalayak umum, dengan platform yang bebas dipilih, kemudian menyiapkan materi presentasi atau diskusi dan menampilkannya ke peserta yang hadir menyimak.

Participant : menikmati sajian-sajian speaker dengan seksama

Bumble bee : hadir di banyak forum namun kesemuanya tidak sampai tuntas. Hadir 10 menit di forum, lalu berpindah ke forum B, beberapa menit kemudian beralih ke forum C. Mengumpulkan ide-ide dari setiap forum yang diikuti.

Butterfly : hadir ke salah satu forum kemudian merefleksikan materi yang didapatkan.

Empat peran yang disodorkan sebagai pilihan membuat saya semakin memahami arti dari "Setiap pilihan senantiasa diiringi dengan konsekuensi". Memilih menjadi speaker tentu tantangannya adalah mempersiapkan materi untuk berbagi sepaket dengan persiapan teknisnya. Sedangkan menjadi Bumble bee yang notabene hobi belanja ide, konsekuensinya ya masuk ke kolam info menarik untuk bisa memilih dan memilah yang sesuai dengan kebutuhan diri. Lalu apa yang memilih menjadi Butterfly yang anteng berefleksi itu aman, tak ada tantangannya? Tidak juga menurut saya. Seorang butterfly ditantang untuk bisa fokus berefleksi sesuai dengan peran yan sudah dipilihnya. Ya, sesudah memilih peran, kita memiliki konsekuensi untuk menjalankan peran dengan performa terbaik. 

Wah, ini acara yang seru sekali! Saya sangat mengapresiasi kinerja tim formula dan City Leader yang mempersiapkan teknis dan alur konferensi sehingga tertata apik dan rapi. Saya membayangkan bahwasanya jam tidur beliau-beliau jauh berkurang untuk menyiapkan acara ini. Dan pengorbanan tersebut berbuah manis, semarak acara terdengar membahana di media sosial. Menyebarkan berita baik dan aksi konkrit sebuah alternatif solusi dari kondisi sulit masa kini. Semoga usai acara ini, tim formula dan city leader tergantikan waktu istirahatnya ya. Pengerjaan proyek ini pun menghasilkan binar bahagia di mata banyak ibu, luasnya dampak yang diberikan menghangatkan hati ini. Semoga tim formula dan City Leader senantiasa terjaga kesehatan, baik secara fisik maupun psikis. Aamiin...

Manajemen waktu saya kembali dilatih. Jika selama sepekan menjelang zona O dimulai, jam jelang Shubuh yang saya alokasikan untuk menjalankan peran sebagai Hexagonia berjalan dengan cukup baik, maka sekarang saya perlu mengubah strategi. Tiga hari pertama (Rabu hingga Jum’at) di zona O saya gunakan untuk menyimak pemaparan bu Septi dan Walikota dengan seksama dan mengajukan pertanyaan. Hari keempat (Sabtu), saya gunakan untuk menyimak pengumuman terkait dengan hal teknis.Hari kelima (Minggu) saya offline dari Hexagon City sekaligus saya gunakan untuk jeda. Hari keenam saya merasakan keriuhan kota dengan mindful dan bahagia lalu dari situ saya memutuskan bahwa di pekan ini saya akan menjadi Bumble Bee. Belanja ide sembari memberi apresiasi dan dukungan lalu melanjutkan perjalanan dengan terbang dari satu forum ke forum lainnya. Karena zona waktu CET terpaut enam jam lebih lambat dari WIB, maka saya hadir tidak secara live namun dengan menyimak rekaman. Memang nuansa dan sensasinya berbeda ya dengan jika live, namun aksi tersebut saya rasa sudah optimal dengan kondisi saat ini. Lagi-lagi saya belajar, bahwasanya rasa syukur dan penerimaan atas ketidaksempurnaan seringkali menghadirkan kedamaian dalam hati.



Saya berbisik pada diri, terima kasih ya, sudah belajar untuk tenang dalam keramaian. Membuat keputusan dengan mindful, jeda dulu untuk tenang meski di luar terasa ramai. Secara pribadi, ini penting bagi saya. Mengapa? Saya menyadari bahwa maximizer saya tinggi. Artinya, pengaruh lingkungan luar memiliki andil cukup besar pada diri saya. Namun, saya menyadari bahwa penting bagi diri saya menghasilkan keputusan dengan mendengarkan suara hati. Mempertimbangkan dengan objektif, mendengarkan semua bisikan diri dari beragam arah. Jeda sejenak dari keramaian, ambil keputusan, baru setelahnya keluar dan berbaur lagi dengan kondisi keputusan yang sudah digenggam di tangan.  

Tentang bidang yang sedang diasah di kelas Bunda Produktif ini, yaitu bahasa Jerman. Bagaimana progress-nya? Hmm….kursus daring yang saya jalankan sejak pekan lalu ternyata membuahkan tugas rutin yang cukup banyak. Asyik memang, dan menyadarkan saya untuk lebih banyak mengalokasikan waktu untuk belajar. Kemarin, saya mencoba untuk mengikuti sebuah Minikurs. Daftar sudah sejak lama, namun awalnya yang ada di bayangan adalah, saya duduk manis menyimak penjelasan. Namun ternyata, itu adalah sesi konsultasi. Saya hanya bersama satu peserta lainnya, konsultasi dengan satu Beraterin. Beliau menyediakan lembar isian yang perlu peserta tulis jawabannya selama lima belas menit, kemudian didiskusikan. Durasi total Minikurs tersebut adalah 100 menit. Sangat menantang, namun menarik, ada banyak insight yang saya dapatkan dan saat saya sampaikan pada suami, beliau pun seperti mendapatkan sebuah perspektif baru. 

Saya juga praktik belajar berbagi dengan membuat IG live mengobrol bersama Mona, teman dari Mesir di IG live @ibuprofesional.efrimenia menggunakan bahasa Indonesia dan Jerman. Feedback  yang Mona sampaikan usai IG live membuat saya terharu. Beliau sangat senang bisa berbagi dan mengobrol bersama teman-teman sesama perempuan dari Indonesia. Kami juga sempat lanjut mengobrol sebentar mengenai kebiasaan menulis untuk menjaga kesehatan psikis juga manajemen waktu menggunakan buku agenda. Dan beliau berharap kami bisa lebih sering bertemu untuk bisa bertukar pikiran. Ah, ingin rasanya beliau juga bisa merasakan hal baik yang saya rasakan sepanjang mengikuti pembelajaran di kelas-kelas Ibu Profesional. 

Di hari ketujuh ini, sembari mengetik jurnal, saya membagikan informasi jadwal Virtual Conference ke WAG HIMA Efrimenia, sekaligus memanjat chat diskusi di WAG KaHIMA. Tiga kegiatan dilakukan bersamaan namun karena bahasannya berada di ruang lingkup yang sama maka memungkinkan untuk saya lakukan secara multitasking. Beda cerita kalau ruang lingkup beberapa kegiatan tersebut berbeda.



Alhamdulillah, senang sekali bisa berpartisipasi di Virtual Conference Hexagon City, kota virtual yang menghadirkan solusi nyata bagi tantangan yang dirasakan para ibu Indonesia di seluruh penjuru dunia. Di pekan pertama ini saya masih menyesuaikan jam sekolah anak-anak yang sudah mulai luring kembali dengan jam kursus bahasa Jerman saya yang masih daring. Saya juga berpartisipasi di rangkaian acara milad Ibu Profesional Efrimenia. First things first. Sinkronisasi antara kebutuhan luring dan daring. Urutkan to do list berdasarkan skala prioritas dan urgensi. Maka pekan pertama ini belanja ide dulu sebagai Bumble bee. Mau ambil peran apa yang di pekan kedua nanti? 

Salam Ibu Profesional kebanggaan keluarga,

Wina, 9 Februari 2021

 

 

 

 

 

Monday, 1 February 2021

Zona Growth Ketiga, Menyelesaikan Tantangan Tim menggunakan Metode Six Thinking Hats

Kelas-kelas di Ibu Profesional senantiasa mengajak untuk learning by doing. Di era arus informasi yang begitu deras saat ini, tantangan yang seringkali dialami pembelajar adalah ilmu yang sudah didapatkan menguap begitu saja karena tidak sempat dilanjutkan dengan praktik dan menuliskan resume. Adanya tugas tim pasca menyimak materi yang kemudian dituliskan dalam bentuk jurnal, efektif untuk memahami dan mendalami materi yang dipaparkan.

Materi yang disampaikan dalam Huddle kali ini dari founding mother, Bu Septi Peni Wulandani adalah seputar alur berpikir, mengacu pada metode Six Thinking Hats yang ditulis oleh Edward de Bono. Salah satu ciri khas pembelajaran yang saya sukai dari kelas Ibu Profesional adalah senantiasa melatih para ibu untuk berpikir logis, menyeimbangkan intuisi perasaan dengan kemampuan logika berpikir. Namun jika boleh mengajukan masukan, saya ingin mengajukan perpanjangan waktu durasi dalam setiap tahapnya, yang tadinya sepekan jadi dua pekan. Sehingga pekan pertama bisa fokus mengulik materi yang diberikan dengan membaca referensi-referensi terkait, yang kemudian bisa menjadi pijakan pemahaman dalam praktik di diskusi tim yng dijalankan di pekan kedua. Dengan porsi jam daring yang cukup, tidak terlalu banyak sehingga harus mengurangi jam tidur atau mengambil porsi di peran lainnya.

Metode Six Thinking Hats dirancang oleh Edward de Bono pada tahun 1984. Saat bukunya ditulis, metode tersebut banyak digunakan oleh sekolah-sekolah untuk anak usia empat tahun dan eksekutif perusahaan besar dunia. Menarik! Artinya metode ini bisa digunakan dengan cara yang sangat sederhana sehingga bisa dipahami oleh anak-anak, namun juga efektif untuk membantu para eksekutif bisnis dalam menyelesaikan tantangan perusahaan skala dunia.

Dalam buku Think! Disebutkan bahwa tidak diperlukan urutan yang tetap, topi mana yang lebih dulu dipakai. Hanya saja ditekankan bahwa beberapa tahapan yang lebih bermanfaat akan didahuluan pengerjaannya. Namun urutan yang sudah founding mothers sampaikan saat Huddle bagi saya sudah cocok untuk menyelesaikan tantangan di zona Growth kelas Bunda Produktif kali ini.



Terimakasih kelas Bunda Produktif, mengantarkan saya mengenal banyak metode keren dan mencari buku-buku tersebut di perpustakaan. Karena keberadaan buku-buku tersebut mayoritas berbahasa Jerman, menjadi extra miles bagi diri saya secara pribadi untuk belajar bahasa Jerman lebih serius lagi. Kali ini buku yang saya gunakan sebagai bahan referensi jurnal adalah buku Think! Denken, bevor es zu spaet ist yang ditulis Edward de Bono. Ada beberapa halaman di buku tersebut yang mengupas tentang Six Thinking Hats.

Bagaimana praktik Six Thinking Hats ini dalam kerja tim?

Materi founding mother yang diberikan di hari Rabu malam baru saya simak di hari Jum’at, sedangkan program Walikota Menyapa baru saya simak di hari Sabtu. Bukan karena mau menunda, namun di hari Rabu dan Kamis ada agenda lain juga yang membutuhkan fokus cukup tinggi. Menyadari Koordinasi CH yang berjalan kurang lancar, kami bersepakat untuk mengadakan kembali pertemuan via Zoom agar situasi kembali lekat dan hangat.

Dalam sesi Zoom kami mengalirkan rasa satu per satu kecuali yang hadir di pertengahan acara dan yang berhalangan hadir. Kemudian saling memaparkan kerikil-kerikil hambatan yang terjadi dalam koordinasi tim. Leader pun mengingatkan beberapa poin penting namun luput dari proses pengerjaan project passion. Usai sesi Huddle via Zoom, sense of belonging kami terhadap project passion meningkat. Masih ada waktu untuk mengejar target, meskipun memang perlu mengayun langkah lebih ekstra. Tak menutup kemungkinan perlu strategi khusus, baik itu berupa mengurangi porsi tidur atau pelan dulu dalam mengerjakan hal lain di luar Hexagon City. Kami menyepakati timeline baru dan siap untuk saling mengingatkan satu sama lain.

Selesai Zoom, kami membuat enam topi berpikir versi pribadi yang dikumpulkan keesokan harinya. Berikut Six Thinking Hats versi pribadi saya,


Kemudian leader merekapnya menjadi enam topi berpikir tim dan memilahnya ke beberapa action. Berikut Six Thinking Hats versi tim CH,


Dilanjutkan dengan action items berikut,


Ada juga Six Thinking Hats versi tim Suporter Cluster, yang dibuat oleh mba Saras dan dibagikan oleh leader CH kami di WAG CH. Terkait poin ini, untuk diskusinya sendiri memang tidak berjalan. Saya sendiri pun kesulitan untuk membagi porsi waktu jika ada diskusi mengenai hal ini juga di cluster dalam keberjalanan proses selama sepekan. Sehingga yang baru terlaksana bagi diri saya adalah menelaah materi, berdiskusi aktif di CH, kontak personal dengan anggota CH untuk koordinasi dan saling memahamkan dan mengerjakan tugas terkait PP.




Masih terus menjaga keseimbangan peran antara di dalam kelas Bunda Produktif dan di luar kelas Bunda Produktif.
Apalagi per Senin, 1 Februari 2021 kemarin saya juga memulai kembali kursus intensif bahasa Jerman di setiap weekdays. Jam mengerjakan jurnal ternyata molor, melebihi waktu yang dialokasikan. Saatnya melaju ke todolist harian berikutnya, mempersiapkan anak berangkat ke TK. Semoga semua langkah membuat diri ini mendekat, menggapai rahmat dan ridaNya, aamiin.

Salam Ibu Profesional kebanggaan keluarga,

Wina, 2 Februari 2021

Sumber referensi :

Bono, Edward De. 2010. Think! Denken, bevor es zu spaet ist.  Muenchen : MVG Verlag