Friday, 15 May 2020

Menentukan Titik Nol dengan Melakukan Self Assessment pada Keterampilan yang sedang Diasah


Perjalanan pekan kedua program Mentorship di tahap Kupu-Kupu Institut Ibu Profesional baru saya mulai di hari ketiga. Hal ini dikarenakan materi dan diskusi berlangsung di akhir pekan, yaitu di hari Sabtu dan Minggu. Secara pribadi, hari Sabtu dan Minggu adalah hari dimana saya mengurangi aktivitas daring. Gawai di akhir pekan sengaja saya gunakan hanya untuk mengikuti kajian, dan mengajar TPA. Di sisi lain, saya perlu menerapkan adab menuntut ilmu dan memahami bahwasanya guru baru berkesempatan menyampaikan materi di akhir pekan.
Lalu, bagaimana strategi saya menjalaninya?
Saya baru menyimak materi dan diskusi di hari Senin pagi sembari mencatat hal penting, kemudian segera saya tindak lanjuti dengan membuka chat diskusi di WAG Ketua HIMA dan meneruskan informasi-informasi penting seputar teknis pengerjaan tugas pekan kedua ini. Setelah itu, saya koordinasi dengan mentor dan mentee, membuat kesepakatan kapan akan melakukan video call.
Apa yang harus dikerjakan pekan ini?
Poin intinya adalah, Self Assessment terhadap keterampilan yang akan dan sedang diasah. Maka saya memulai dengan menilai tingkat keahlian saya terhadap keterampilan Adaptif ala Ibu Rantau dan Beauty Care from Heart.

Keterampilan Adaptif ala Ibu Rantau
Keterampilan adaptif ala ibu rantau sebenarnya merupakan topik yang saya rumuskan, yang di dalamnya mencakup hal-hal spesifik yang sedang saya pelajari dan latihkan dalam diri tiga tahun belakangan ini. Setelah saya mencoba menyusun peta belajar yang selama ini dijalankan, perjalanan terdiri dari empat fase, yaitu persiapan, keberangkatan, kedatangan kemudian menjadi diaspora pembaharu di tempat baru.

Beauty Care from Heart
Ada beberapa tantangan khas yang dirasakan seorang ibu rantau, antara lain : kerinduan dengan tanah air, keharusan untuk menjalankan multi peran, kesibukan suami di kampus yang menuntut kemandirian diri, dan minimnya intensitas bertemu dengan teman dekat tak jarang memberikan tekanan batin tersendiri. Maka penting bagi seorang ibu rantau untuk menemukan metode Self Care versi dirinya sehingga bisa senantiasa berbahagia. Di musim dingin kemarin, kulit wajah saya sangat bermasalah. Saya akui memang saya abai akan hal ini. Kulit saya pun semakin kering dan sempat mengelupas. Bermula dari kondisi inilah, saya mantap untuk mengambil topik Beauty Care di tahap Kupu-Kupu ini. Sebagai bentuk Self Care dengan memperhatikan kebutuhan diri saat ini.
Bagaimana dengan Self Assessement untuk keterampilan ini?
Saya baru memulai dan belum pernah mengasah keterampilan ini sebelumnya. Di pekan pertama lalu saya banyak mengulik kebutuhan dasar perawatan wajah. Mentor sangat membantu saya untuk memahami teknik-teknik dasar dalam perawatan wajah. Saya pun menyampaikan pada beliau target yang saya canangkan selama tahap Kupu-Kupu ini adalah memiliki kulit yang sehat dan terawat dengan benar dan baik. Beliau pun memberikan dukungan, bahwa jika saya berproses dengan kesungguhan selama sebulan, maka perubahan signifikan akan saya rasakan. Kuncinya komitmen da konsisten. Bismillah.

Bagaimana rasanya bertemu dengan mentor dan mentee melalui Video Call?
Saya melakukan video call  via Facebook Messenger  dengan mentor dengan durasi sekitar tiga puluh menit. Saya mengajukan beberapa pertanyaan dan beliau menjelaskan poin-poin penting terkait hal tersebut. Senang rasanya mendapat mentor yang perhatian dan aktif memberikan bimbingan. Terima kasih mba Rini.
Keesokan harinya, saya melakukan video call  dengan kedua mentee. Dengan mba Nurul sekitar lima belas menit. Kami membahas mengenai manajemen waktu, karena tantangan terbesar beliau untuk beradaptasi di lingkungan baru ada di subtopik tersebut. Kami cukupkan karena anak kedua saya sudah terbangun dari tidurnya. Berlanjut sesi video call dengan mba Mita, mentee kedua yang hanya bisa berlangsung selama lima menit karena situasi kurang kondusif. Hari setelahnya, saya melanjutkan berkomunikasi dengan mba Mita melalui pengiriman audio. Dan hari Kamis pun mba Mita mengirimkan audio suaranya yang saat ini masih bertahap saya dengarkan.

Dengan mendengarkan mentee menyampaikan apa yang sudah dijalankan beliau terkait keterampilan tersebut, saya merasakan bahwasanya kami sedang menaklukkan tantangan serupa. Seperti misalnya seorang mentee mengkonsultasikan manajemen waktu. Poin yang sempat kami garis bawahi bersama adalah hal yang serondolan yang sering menjadi tantangan dalam manajemen waktu. Bagaimana mentee banyak mendapatkan tantangan berupa sering menerima ajakan dari pihak lain yang berakibat banyaknya hal serondolan yang masuk di agenda keseharian. Saya pun berbagi mengenai komunikasi produktif dan asertif yang sudah saya jalankan untuk menghindari hal serondolan. Juga mengenai kandang waktu, cut off time, penjadwalan kegiatan pekanan yang menjadi benteng berlapis saya dalam menerapkan manajemen waktu.





Friday, 8 May 2020

Saatnya Mencoba Hal Baru, Belajar Memanfaatkan Fitur Facebook Mentorship Program

Bagaimana rasanya saat kita sudah beberapa pekan berdiam diri di rumah, kemudian kembali keluar rumah, kembali merasakan semilir angin dan menikmati hangatnya sinar matahari? Rasa syukur dan gembira tentu menyelimuti. Namun, ada juga rasa kagok yang dirasakan, bukan?
Beberapa hari lalu, saat pemerintah kota Austria mengumumkan bahwa masa lockdown sudah berakhir, kami sekeluarga mengungkapkan rasa syukur dengan berjalan kaki ke taman. Saya juga kembali berbelanja ke toko Asia dan India, sebuah hal yang tidak saya lakukan selama lockdown karena untuk menuju ke sana harus menggunakan alat transportasi umum. Ya, selama lockdown saya hanya berbelanja di toko-toko yang cukup dekat, yang jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sungguh semakin terasa sebagai sebuah karunia yang amat besar. Alhamdulillah.
Apa kaitannya dengan kelas Bunda Cekatan? Perasaan senada saya rasakan saat memasuki pekan pertama tahap Kupu-Kupu di ini. Setelah selama satu bulan berproses di tahap Kepompong yang sunyi, hingga saya merasa sangat nyaman dan bisa fokus mengerjakan tantangan 30 hari dan puasa menuju cekatan dan terampil berbahasa Jerman, di tahap Kupu-Kupu ini kami kembali bergerak dalam keramaian. Sebuah tantangan baru menanti, menjalankan program Mentorship via Facebook. Wah, sebuah tantangan menarik!

Program Mentorship ini belum pernah saya ketahui dan coba sebelumnya. Bagaimana aturan mainnya, sama sekali belum saya ketahui. Ditambah lagi bahasa pengantar pada aplikasi Facebook di smartphone saya adalah bahasa Jerman, tidak lain adalah karena saya menggunakan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar di smartphone. MasyaAllah, semesta mendukung! Bagaimana tidak, setelah saya memutuskan untuk menjalankan proyek Mama lernt Deutsch pada peta belajar di kelas Bunda Cekatan, banyak kejadian tak terduga yang “memaksa” saya untuk belajar bahasa Jerman dengan sungguh-sungguh. Mulai dari lockdown karena COVID-19 yang membuat kursus intensif offline berpindah via online sehingga saya harus kuat memegang prinsip "ojo kalah karo wegah" dan mengendalikan diri dari distraksi sehingga tetap on track belajar mandiri dengan strategi baru, dan kali ini dihadapkan untuk belajar memahami hal baru dengan deskripsi bahasa Jerman. Ya, saya memilih untuk tidak mengganti bahasa pengantar untuk dapat memahami teknis Mentorship.
Pada program Mentorship ini, setiap mahasiswi diminta untuk menjalankan peran sebagai mentor dan mentee. Dalam waktu yang bersamaan, dalam topik yang berbeda, menjalankan dua peran sekaligus. Merasakan bagaimana rasanya membimbing dan dibimbing. Proses ini penting, karena dengan merasakan langsung, kita dapat mengolah rasa dalam diri. Sehingga kelak bisa memposisikan diri dengan tepat dan semakin paham mengenai adab menuntut ilmu. Dengan menjadi mentee, kita mendapat kesempatan untuk mengasah keterampilan diri di bidang yang belum kita kuasai, langsung pada seseorang yang sudah ahli atau berpengalaman di bidang tersebut. Dengan menjadi mentor, kita mendapat kesempatan untuk memfasilitasi seseorang untuk mengasah keterampilan di bidang yang kita sudah lebih awal berkecimpung di dalamnya. Sebuah lingkaran yang saling menguatkan, bukan?
Saya akui bahwa peta belajar yang saya buat di tahap telur sangatlah spesifik. Sengaja demikian memang, agar tuntas bersamaan dengan berakhirnya kelas Bunda Cekatan. Jika sudah tuntas, bisa saya tambahkan cabang bidang belajar yang berikutnya. Mengapa saya buat strategi demikian? Karena bakat dominan saya adalah input yang mana secara alami mudah menyerap informasi dari luar. Jika tidak dibatasi, kekuatan ini akan membuat saya overload dalam menerima informasi. Sehingga membuat peta belajar yang spesifik merupakan sebuah strategi untuk mengoptimalkan bakat tersebut. Nah, di peta belajar tersebut, cakupan bidang yang sedang saya pelajari adalah bahasa Jerman. Pada tahap ini, rasanya sulit untuk mendapatkan mentor bahasa Jerman. Dan di sisi lain, saya pun sedang mengikuti kursus intensif B1 bahasa Jerman dan kelas online ÖIF (Österreichische Integrationsfonds) yang membutuhkan alokasi waktu belajar per harinya sekitar tiga jam.
Saya pun menyimak tema kelas-kelas online yang belakangan ini saya ikuti. Perhatian saya tertuju pada kelas Self Care. Saya sangat menikmati pembelajaran di topik ini, dan saya merasa perlu melanjutkannya. Saya ingin melanjutkan untuk mendalami topik ini, namun ternyata narasumber materi Self Care di kelas yang saya ikuti sebelumnya tidak membuka kelas Self Care dalam Mentorship kali ini. Tak apa, artinya belum berjodoh. Topik apa yang tepat untuk menjadi bahan belajar lanjutan mengenai Self Care? Saya berpikir sembari mencari di forum. Saat mencari mentor di fitur Mentorship grup kelas Bunda Cekatan, saya langsung “klik” dengan mba Setio Rini. Beliau mengajukan diri menjadi mentor di topik Beauty Care. Aha! Ini yang sedang saya butuhkan. Topik ini juga klop dengan obrolan saya dan suami beberapa waktu lalu. Bersegera saya menghubungi beliau, mengajukan diri menjadi mentee. Alhamdulillah lamaran diterima. Kami pun berkenalan satu sama lain dan mengkomunikasikan jam online. Berikut profil mentor saya :

Membaca profil beliau, saya merasakan Allah mempertemukan saya dengan orang yang tepat, serasa mendapatkan kakak mentor belajar. Obrolan pun mengalir asyik, seperti sudah mengenal lama. Benarlah adanya, ketika kita berada dalam sebuah komunitas belajar dari diikat oleh kesamaan value, maka "klik"nya pun cepat. Di pekan ini beliau mengajukan pertanyaan awalan seperti definisi cantik versi saya juga strong why saya menjalankan proyek dalam topik Beauty Care ini.
Jadi selama program Mentorship ini, saya akan belajar mengenai Beauty Care from Heart. Bagaimana menghadirkan kecantikan baik dengan merawat mental maupun fisik diri. Hmm…kalau boleh jujur, pengambilan topik ini cukup membuat saya bergerak keluar dari zona nyaman saya. Dan saya tertantang untuk mencoba hal baru yang menjadi kebutuhan belajar saya saat ini. Mba Rini, mohon bimbingannya yo mbaaa… 

Selanjutnya, terkait mentee. Di program ini saya mengajukan diri menjadi mentor dengan topik “Adaptif ala Ibu Rantau”. Mengapa? Karena selama tiga bulan belakangan saya berjibaku menaklukkan tantangan tersebut. Merujuk dari tiga tahun silam saat saya mempersiapkan aneka dokumen kebutuhan untuk bisa mengikuti suami merantau, mencari informasi seputar calon negara tempat tinggal dan menjalani proses adaptasi termasuk belajar bahasa Jerman. Dari yang rasanya serba tak tahu apa-apa, kemudian secara perlahan Allah bukakan satu demi satu jalan, melaui skenarioNya Allah perkenalkan dengan satu demi satu orang. Berproses salah dan gagal berulang kali. Deg-degan setiap menjajal hal baru dan memasuki forum belajar baru. Menepis rasa malu, membekali diri dengan mencari informasi detail sebelum melangkah. Proses adaptasi memang tidak mudah, dan kesiapan yang matang serta adanya teman sebagai tempat bertanya sangat membantu kelancaran prosesnya. Semoga bisa menjadi teman berbagi untuk teman-teman yang akan atau sedang dalam kondisi serupa.


Saya menerima dua mentee. Saya batasi jumlah mentee sesuai kesanggupan diri dan alokasi waktu yang dimiliki saat ini. Maka ada calon mentee yang saya tak sanggupi permintaannya. Namun insyaAllah beliau juga sudah menemukan mentor yang beliau butuhkan. Siapakah dua orang mentee tersebut? Seorang adalah teman dekat sejak berada di IP regional Jombang. Beliau menghubungi sejak hari pertama Bu Septi menyampaikan materi. Bahkan di saat saya belum memutuskan akan mengajukan diri sebagai mentor dalam bidang apa. Beliau merantau ke kota lain dan membutuhkan teman berbagi untuk proses adaptasinya. Seorang lagi adalah seorang yang berencana untuk merantau ke luar negeri juga untuk mendampingi suami beliau studi lanjut. Kami berkenalan kemudian saya pun menyimak tujuan dan target yang para mentee tetapkan selama tahap Kupu-Kupu ini. Sehingga saya bisa menyesuaikan dan menelaah, kebutuhan apa saja dari para mentee yang bisa saya fasilitasi untuk mendukung tercapainya target beliau berdua.

Dan karena saya juga mengambil peran sebagai Ketua HIMA regional, maka saya pun terlibat diskusi di WAG Ketua HIMA dan bertuga menyampaikan informasi pada para member Bunda Cekatan regional. Teknis seputar mentor dan mentee membutuhkan alokasi waktu yang cukup besar di beberapa hari ini. Baik untuk memahami apa yang disampaikan oleh fasilitator, menerjemahkannya ke dalam ranah teknis, hingga menyampaikannya pada teman-teman Bunda Cekatan regional. Terlibat aktif berdiskusi di WAG Ketua HIMA menjadi sebuah langkah solusi untuk mengkonfirmasi pemahaman yang saya serap dari informasi lisan dan tulisan yang disampaikan fasilitator sehingga pemahaman saya clear dan bisa menyampaikan kembali ke teman-teman regional dengan utuh dan yakin. Saya pun belajar praktik komunikasi produktif via online di pekan ini. Menginterpretasikan maksud tersirat dan menyampaikannya dengan bahasa teknis yang jelas. Tantangan yang mengiringi adalah manajemen waktu. Rangkaian hal diatas tentu membutuhkan perhatian, fokus dan alokasi waktu. Maka saya perlu membagi langkah menjadi beberapa tahapan dan kandang waktu. Dalam durasi waktu sepekan, kapan saya harus memahami arahan atau instruksi yang diberikan, kapan saya harus sudah membagikan arahan tersebut kepada teman-teman, kapan saya perlu melakukan clear and clarify atas pemahaman saya, kapan saya harus menjalankan peran sebagai mentor dan mentee, kapan saya harus mulai membuat rencana aksi terkait proyek sebagai mentor dan mentee ini juga kapan mengalokasi waktu untuk menuliskan jurnal. Sepaket tantangan yang memicu adrenalin. Fokus, jaga keseimbangan dan senantiasa memohon petunjukNya! Bismillah.
Semoga Allah mudahkan langkah menuju pekan-pekan penuh kejutan berikutnya. Aamiin.










Tuesday, 28 April 2020

Belajar Menakar Kemampuan dan Melatih Konsistensi Diri


Tahap Kepompong ini adalah tahap belajar mengendalikan diri. Terbebas dari hiruk piruk informasi lalu lalang. Terlepas dari riuh ramai suara di sekitar. Menepi dan menyendiri. Menentukan satu keterampilan yang konsisten igin dilatih menjadi sebuah tantangan yang dijalankan selama tiga puluh hari berturut-turut bukanlah perkara mudah. Goals utama dari proses ini tentu melatih konsistensi diri untuk menjalankan suatu hal yang kita butuhkan untuk berproses menjadi cekatan di bidang tertentu. Oke, saya longok lagi peta belajar. Sengaja di peta belajar saya khusus menuliskan Mama lernt Deutsch sebagai proyek prioritas karena keterampilan ini merupakan suatu hal yang memang saya perlukan saat ini dan berpengaruh pada hal lainnya.
Di tahap telur, ada rasa aneh dimana saya justru mengambil bidang bahasa, bukan termasuk bidang yang famous di kalangan peserta Bunda Cekatan kala itu. Namun karena ini merupakan kebutuhan belajar prioritas saat ini, maka saya maju terus. Terlebih kala pak Dodik menyampaikan bahwa fokus pada durasi belajar selam enam bulan kelas Bunda Cekatan. Aha, poin yang saya tangkap, semakin spesifik semakin bagus. Karena akan semakin mudah mengasah keterampilannya.
Di tahap ulat, bidang bahasa terbukti merupakan bidang dengan sedikit peminat. Namun di tahap ini saya mendapat kesempatan untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan bahan belajar baik yang didapatkan dari peserta lainnya maupun mencari mandiri di perpustakaan. Saya pun bersiap untuk masuk ke kelas kursus intensif B1 di awal Maret lalu. Namun ternyata baru dua pekan masuk, kami harus belajar mandiri di rumah karena wabah COVID-19. Wah, tantangan baru ini menjelang tahap kepompong. Karena ternyata saya tidak bisa menjalani kursus intensif seperti dua semester sebelumnya. Yang dalam empat hari dalam sepekan saya pergi ke tempat kursus untuk belajar offline selama sekitar tiga jam dan menitipkan Ahsan di Kinderbetreuung.
Kursus intensif sempat jeda tanpa kabar selama beberapa hari. Sampai kemudian guru kami membuatkan WhatsApp Group untuk media penyampaian tugas dan diskusi singkat. Format belajar menjadi mengerjakan soal kemudian dikoreksi oleh guru. Masuk tahap kepompong bersamaan dengan berpindahnya kursus dari offline ke online seolah memberi tantangan pada saya untuk ojo kalah karo wegah. Jadi, tantangan tiga puluh hari apa yang akan saya jalankan dengan situasi di luar dugaan seperti ini?
Tadinya, saya terpikir untuk menjadikan sesi belajar bahasa Jerman secara mandiri di rumah sebagai sebuah aksi tantangan tiga puluh hari. Tapi saya mengurungkan niat tersebut. Terlalu egois dan kurang realistis rasanya untuk kondisi pandemi seperti ini. Suami full bekerja di rumah dan seringkali butuh fokus sehingga perlu mengurung diri di kamar. Anak-anak tentu membutuhkan perhatian khusus di kondisi tidak ideal ini. Saya memikirkan benang merah antara : belajar bahasa Jerman - menjalankan Home Education  - memanfaatkan buku perpustakaan yang sudah kami pinjam dalam jumlah banyak sebelum terjadi pandemi.  Saya merasa belum tuntas membacakan setiap buku karena setiap kali membacakan seringkali terdistraksi dengan kantuk sehingga mencukupkan diri membacakan hingga ke halaman pertengahan saja. Jarang tuntas hingga akhir. Maka bismillah, tantangan yang tercetus adalah
Membacakan buku anak berbahasa Jerman satu buku satu hari selama tiga puluh hari berturut-turut.
Dengan membacakan buku anak, saya bisa belajar kosakata dan susunan kalimat baru setiap harinya. Anak-anak pun terfasilitasi kebutuhan belajarnya dengan dibacakan buku secara rutin. Bahkan mereka menjadi support system yang terus menanyakan kapan sesi membacakan buku itu tiba. Kondisi ini mengingatkan saya pada perkataan pak Dodik di sesi Nge-ZOOM bareng tadi, bahwa yang terpenting dari kita adalah terus bergerak. Nanti saat bergerak, akan datang kejutan dukungan positif dari lingkungan terdekat, dari anak-anak maupun suami, tanpa kita menuntut mereka. MasyaAllah.
Karena fokus utama saya adalah berjalannya Home Education maka indikator keberhasilan yang saya canangkan bukan seputar capaian bahasa Jermannya, namun tingkat fasilitasi saya. Maka muncullah tingkatan badge sebagai berikut :
Need improvement : Jika saya tak sempat membacakan buku atau tak sampai tuntas satu buku.
Satisfactory : Jika saya membacakan buku sampai tuntas namun sembari mengerjakan hal lain.
Very Good : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain.
Excellent : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain dan memfasilitasi rasa penasaran anak dengan sabar.
Di pekan pertama, saya merasa tingkatan ini kurang tepat jika peta belajar saya adalah belajar bahasa Jerman. Saya sempat ingin menggantinya namun setelah berpikir ulang, saya mengurungkan niat tersebut. Setidaknya saya perlu menjalankannya selama tiga puluh hari sehingga saya bisa benar-benar merasakannya.  Tidak hanya sekadar terkena godaan sementara. Dan ternyata benar, sekarang saya merasakan indikator yang saya canangkan di awal sudah cukup sesuai karena dengan tercapainya semakin banyak indikator capaian, secara tidak langsung berpengaruh  positif pada mood anak-anak sehingga kami bisa bekerja sama dan saling mendukung dalam setiap kegiatan, termasuk penulisan jurnal tantangan tiga puluh hari bagi saya.
Untuk menambah bobot kualitas belajar bahasa Jerman dalam pengerjaan tantangan tiga puluh hari, maka saya membuat resume singkat dari setiap buku yang telah saya bacakan. Karena saya menulis tantangan di blog, maka saya rasa aneh jika tulisannya sangat singkat. Nah, resume buku tersebut sekaligus membantu saya untuk menyajikan jurnal yang cukup panjang setiap harinya. Langkah membuat resume ini juga menjadi tolok ukur pemahaman saya atas buku anak yang saya baca. Berapa kosakata baru yang saya serap? Berapa susunan kalimat yang baru saya temui? Tak jarang, materi yang sedang disampaikan di kursus bahasa secara online atau materi grammar yang sedang dibahas, saya temukan contoh kalimatnya di buku anak yang sedang saya bacakan. Ini improvisasi teknis di luar skenario awal namun sangat membantu untuk tetap on track pada peta belajar dengan tetap memfasilitasi salah satu customer utama yaitu anak-anak.

Buku Anak yang Menemani Proses menuju Cekatan
Tantangan tiga puluh hari yang dijalankan bersamaan dengan tantangan puasa, membuat proses belajar menjadi saling menguatkan. Tantangan puasa yang saya jalankan di dua pekan pertama adalah manajemen emosi. Mengapa? Karena ketidakidealan situasi yang terjadi secara tiba-tiba cukup menggoyah kestabilan emosi. Tak ingin berlarut dan berujung konflik maka saya menjadikannya sebagai tantangan puasa. Hasil dari tahap ini, suami memberikan testimoni positif dan apresiasi atas proses ini. Jurnal puasa manajemen emosi bisa disimak di sini dan di sini 
Puasa dilanjutkan di pekan ketiga dan keempat denga topik berbeda, yaitu gadget hours management. Selama pandemi, mendadak banyak hadir kelas online gratis. Makin susah untuk praktik  “menarik tapi tidak tertarik”. Saya sempat terjebak ikut di beberapa kelas online yang sifatnya serondolan atau di luar rencana. Namun kemudian pada akhirnya hanya satu yang saya putuskan sebagai prioritas utama dan saya ikuti dengan penuh kesungguhan hingga akhir. Sedangkan kelas lainnya saya belajar ikhlas untuk melepaskannya. Dalam tantangan ini saya juga menjalankan gadget hours berkesadaran dan mengidentifikasi tantangan yang muncul terkait peran yang diemban dan dijalankan via online. Kemudian merumuskan strategi lanjutannya. Tulisan mengenai tantangan puasa gadget hours management bisa disimak di sini dan di sini
Frame Apresiasi Tantangan Puasa
Karena konsisten itu berat, maka tantangan tiga puluh hari yang saya kerjakan pun cukup sederhana, bisa dikerjakan dalam durasi dua hingga tiga jam per harinya sepaket dengan pengerjaan jurnalnya. Alokasi waktunya cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan), prosesnya membahagiakan diri dan anak-anak dan signifikan untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi (butuh belajar bahasa Jerman,perlu memfasilitasi anak-anak dan menghilangkan kebiasaan tak tuntas membacakan buku). Ini poin-poin yang cukup signifikan bagi saya, sebagai tolok ukur sederhana bahwa saya bisa menakar kemampuan pribadi.
Frame Apresiasi Setoran 30 Hari Berturut-turut
Di tahap ini, dengan izin Allah saya berhasil menuntaskan tantangan tiga puluh hari selama berturut-turut dan menyelesaikan empat jurnal puasa. Karena berhasil konsisten tanpa rapel, ada kejutan apresiasi berupa nge-ZOOM bareng pak Dodik dan bu Septi. Saat „lebaran“ tahap kepompong pun ibu dan bapak mengapresiasi setiap peserta dengan pencapaiannya masing-masing. Sangat terasa jargon „apresiasi,bukan evaluasi“ dan „fokus pada hal baik, bukan kekurangan“. Sudah disiapkan badge cantik untuk setiap peserta yang lulus dan lanjut ke tahap kupu-kupu.
Sesi Kejutan ZOOM bersama pak Dodik dan bu Septi

Jika dalam Adversity Quotion (AQ) ada tiga tipe kepribadian, maka saya belajar dan berupaya untuk menjadi seorang Climbers. Maka seusai tahap Kepompong, bulan Ramadan dan bulan Syawal menjadi momen untuk menempa diri selanjutnya. Proyek Mama lernt Deutsch masih terus berjalan dan akan menjadi master untuk proyek-proyek diri berikutnya. Sekian aliran rasa tahap kepompong kali ini.Yuk, optimalkan momen ini sebaik-baiknya menuju pribadi bertaqwa. Aamiin.








Saturday, 25 April 2020

Strategi Lanjutan dalam Menggunakan Gawai untuk Menjaga Keseimbangan Peran


Setelah di pekan ketiga lalu saya menjalankan tantangan puasa belajar sadar dalam menggunakan gawai, saya jadi tahu dan bisa membuat kategori pemakaian gawai saya selama ini. Ini penting bagi saya yang peka perasaan. Biar ngga sering kejebak dengan persepsi, „Rasanya baru sebentar deh buka Facebook-nya“, “koq kayaknya dari tadi aku scrolling doang belum jadi-jadi posting  atau cari informasi“
Nah, di pekan keempat ini, saya merasakan beberapa tantangan setelah menerapkan strategi berkomunikasi yang efektif dan efisien. Dari sana saya merumuskan beberapa strategi lanjutan, antara lain :

Memasukkan kegiatan online di target capaian harian. 
Kegiatan online seringkali dirasa bisa dikerjakan sambil lalu. Terutama jika kegiatannya berupa koordinasi. Tanggungjawab atas peran terkadang memang menuntut untuk membersamai. Dan hal tersebut memang membutuhkan alokasi waktu tersendiri. Maka masukkan jadwal koordinasi dan fasilitasi ke gelondongan waktu harian. Menyisipkannya sebagai kegiatan sambilan justru akan mengganggu kegiatan utama dan berujung dengan ketidakoptimalan hasil bagi kedua kegiatan tersebut (yang utama dan yang sambilan).

Mengukur kapasitas dan cukupkan diri.
Jika gadget hours tidak cukup mengcover pekerjaan online, artinya perlu ada yang dikurangi. Contohnya kemarin saya mengikuti empat kelas online dadakan. Di awal, saya merasa semuanya memanglah hal yang saya butuhkan. Namun saya memiliki waktu yang terbatas. Kesemuanya memiliki sesi-sesi lanjutan. Saya belajar dengan sangat baik di kelas Selfcare. Banyak insight  yang saya dapatkan selama prosesnya, saya pun mengerjakan keseluruhan worksheet dengan tuntas, memperbaiki sesuai dengan tanggapan lalu mengirimkannya kembali, serta berbalas pesan dengan mba Farda selaku narasumber. Namun saya harus ikhlas melepas kelas manajemen waktu, problem solving dan program i-kuttab yang sudah keburu expired sebelum saya optimal mencerna materinya dan menuntaskan setiap tahapannya. Dari sini lagi-lagi saya belajar skala prioritas.

A great leader creates more leaders.
Seorang leader yang sukses adalah seorang leader yang mampu mencetak leaders berikutnya. Bukan mencetak banyak followers. Ini sedang saya bangun. Saya sedang berada di titik mempraktikkan apa yang sudah saya pelajari dan mengajak orang lain untuk berproses bersama-sama dengan saya. Saya mencoba fokus pada proses dengan bergerak dan menggerakkan. Memang, dengan gadget hours yang terbatas, seringkali kita tidak bisa langsung merespon. Namun kalau memang kecepatannya baru bisa demikian, menurut saya tak apa. Dan jika kedekatan emosionalnya sudah terbangun, maka komunikasinya semakin mudah, semacam ada telepati, haha. Di sisi lain, pemahaman setiap orang akan peran yang dijalankan pun merupakan suatu poin penting yang perlu dibangun di awal, karena akan menjadi pondasi seseorang untuk bergerak. Dengan pemahaman yang jelas, seseorang mengetahui kapasitas perannya. Dengan pemahaman konsep yang matang, seseorang akan sadar akan tanggungjawabnya. Bergerak optimal dengan porsi yang ideal. Karena kami juga sedang berproses bersama menjalankan beragam peran (sebagai hamba Allah, istri, ibu, perempuan produktif dan agen perubahan) dan berupaya menjaga keseimbangannya. Gadget hours juga berperan menjaga kewarasan ibu, menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menggunakan gawai. Saya belajar bergerak sesuai porsi dan kendali.

Demikian catatan puasa pekan keempat ini. Semoga senantiasa Allah jaga setiap langkah prosesnya.


Wednesday, 22 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 30 : Membacakan Buku Anak berjudul "Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule"

MasyaAllah, Allah sampaikan di titik akhir tantangan tiga puluh hari ini. Ya, hari ini adalah hari terakhir menjalankan tantangan tersebut. Semoga Allah mampukan pula untuk menjaganya sebagai sebuah kebiasaan baru. Aamiin. Karena hari ini adalah hari terakhir, maka saya memilih buku spesial untuk dibacakan dan terpilihlah buku “Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule”. Apa sisi spesial buku ini dibanding buku-buku yang sebelumnya dibacakan? Yaitu karena buku ini lebih tebal dari biasanya. Terdiri dari 69 halaman yang didominasi oleh tulisan. Untuk membacakan buku ini, butuh effort lebih dari dalam diri saya, untuk melawan keengganan dan pikiran semacam, „koq tebal ya? Lama dong selesainya nanti...“. Nah, ini juga sekaligus mengecek sudah ada peningkatan apa saja dalam diri setelah penempaan tiga puluh hari ini. Kan seharusnya jika prosesnya berjalan benar, maka setelah berjibaku membangun kebiasaan di durasi waktu tersebut, ada kompetensi yang meningkat juga kebahagiaan yang menguatkan diri. 
Maka, kami baca buku ini bersama. Karena buku ini tebal, maka ceritanya pun cukup kompleks. Satu tema mengenai kedatangan ke sekolah, terbagi ke dalam delapan cerita. Dan kesemuanya menarik, karena memuat konflik yang beragam. 
Cerita pertama memaparkan pertemuan Kokosnuss dengan Fressdrache saat Kokosnuss berangkat ke sekolah Naga (Drachen Schule) untuk menghadiri penyambutannya sebagai murid baru. Berlanjut cerita kedua, yang mana Kokosnuss menjalani hari pertamanya di kelas, berkenalan dengan teman-teman yang beraneka ragam, termasuk dengan nama masing-masing yang terdengar asing di telinganya. Dia juga mulai belajar berhitung sederhana
Di cerita ketiga, mulai ada konflik. Saat di hutan, Kokosnuss bertemu dengan monyet dan Fressdrache yang sedang beradu argumen. Berapa dua dan empat? Menurut monyet jawabannya adalah enam sedangkan menurut Fressdrache jawabannya adalah delapan. Kokosnuss menengahi. Dia menjawab, jika dua ditambah empat adalah enam, sedangkan dua dikali empat adalah delapan. Usai kejadian itu, Kokosnuss mengajak Fressdrache untuk bersekolah, namun Fressdrache menolak karena orangtuanya tak mengizinkannya bersekolah. Cerita keempat berisi tentang Kokosnuss yang berkunjung ke rumah Fressdrache. Dia ingin membantu Fressdrache untuk meyakinkan kedua orangtuanya agar membolehkan Fressdrache sekolah. Sayangnya upaya mereka belum berhasil. Bagi orangtua Fressdrache terutama sang ayah, sekolah bukanlah hal penting. Namun mereka bersepakat untuk mencobanya di lain waktu. 
Di cerita keempat, Fressdrache mencoba untuk masuk sekolah. Dia belajar membaca, berhitung, juga berenang! Cerita kelima menceritakan kesedihan Fressdrache karena tidak bisa mengikuti kegiatan piknik sekolah yang akan berlangsung dua hari dua malam. Dika tidak pulang ke rumah, orangtua bisa marah. Di cerita keenam, Fressdrache menyaksikan rombongan kelasnya yang akan berangkat piknik ke Pulau Kura-Kura. Kemudian tiba-tiba ada barang berharga yang jatuh ke bawah laut, dan Fressdrache menyelam mengambilnya. Kedua orangtuanya ternyata berada di sana juga, dan menyaksikan kejadian itu, mereka berdua terkaget mengetahui anaknya bisa berenang.
Cerita keenam menceritakan keharuan orangtua Fressdrache karena menyaksikan anaknya terampil berenang, mematahkan pendapat pada umumnya bahwa jika terjun ke air mereka akan tenggelam. Akhirnya mereka pun mengizinkan Fressdrache untuk sekolah dan turut berpiknik di Pulau Kura-kura. Konflik pun usai dan di cerita kedelapan, sampailah rombongan di tempat tujuan, menyapa kura-kura yang mengantuk dan mendirikan tenda lalu makan bersama. Kemudian beristirahat karena hari sudah larut. 

Konflik yang dipaparkan di buku ini terlihat sederhana, namun dekat dengan keseharian anak-anak. Ada juga celetukan khas anak-anak seperti misalnya saat Kokosnuss dibangunkan orangtuanya di pagi hari dengan kalimat, 
„Ayo bangun, ini hari besar untukmu?“
sembari mengucek mata Kokosnuss menjawab,
„Apa itu hari besar? Apakah juga ada hari kecil?“
Polos banget khas bocah! Hihihi.

Dari buku ini saya belajar membuat kalimat langsung dalam tulisan. Yang mana itu jarang saya temui di buku-buku sebelumnya. Banyak kalimat spontan dengan letak yang tak biasanya. Dan ini hal baru juga untuk saya terkait alternatif penyusunan kalimat. Alhamdulillah, tantangan tiga puluh hari tertunaikan selama 30 hari berturut-turut. Baik menjalankan prosesnya maupun menuliskan setorannya. Menjaga komitmen dan konsistensi sungguh tak mudah, namun Allah memudahkan saya untuk bisa memenuhinya dalam tantangan ini. Semua atas kemudahan Allah. Semoga penempaan ini melatih mental saya untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan meningkat kualitas takwanya dari hari ke hari. Marhaban ya Ramadan.  

Tuesday, 21 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 29 : Membacakan Buku Anak berjudul “Papperlapapp zum Thema Farben”


Wah, kurang dua hari lagiiii! MasyaAllah... semoga semangat dan konsistensi untuk rutin membacakan buku anak-anak bisa terus teraplikasikan. Buku yang kami baca hari ini masih dari Papperlapapp dengan tema spesifik seputar warna. Ada dua cerita di dalamnya. Cerita pertama berjudul „Frau Grau und Herr Kunterbunt“ yang bercerita tentang kehidupan dua orang, yaitu Tuan Kunterbunt (warna-warni) dan Nyonya Abu-Abu. Herr Kunterbunt tinggal di sebuh rumah yang penuh warna. Isi rumahnya pun penuh warna dan pembawaannya ceria. Herr Kunterbunt memiliki tetangga yang bernama Frau Grau. Seperti namanya, Frau Grau memakai pakaian abu-abu. Rumahnya pun abu-abu. Tanpa pernah bertemu langsung, Herr Kunterbunt menganggap bahwa Frau Grau adalah seorang yang aneh, karena semua yang ia miliki berwarna abu-abu. Beragam asumsi berkelebat. Apakah ia tak mengenal warna lain? Bukanlah banyak warna cerah yang bisa dipilih? Apakah dia sedih atau kesepian? Hingga kemudian sebuah surat beramplop abu-abu datang ke Herr Kunterbunt, dari Frau Grau. Aha, sebuah surat undangan. Herr Kunterbunt menyiapkan hadiah untuk dibawa memenuhi undangan. Dia merasa kuas dan cat aneka warna adalah hadiah yang tepat. Menjelang sampai ke rumah Frau Grau, Frau Grau menyambut dengan ramah dari kejauhan. Dan betapa kagetnya Herr Kunterbunt, bahwa ternyata isi rumah Frau Grau amat kaya warna. Ternyata alasan Frau Grau memilih cat rumah luar berwarna abu-abu adalah karena ia sudah dikenal sebagai Nyonya Abu-Abu sejak lama dan ia ingin orang lain mudah menemukan kediamannya karena berciri khas. Pembelajaran dari cerita ini adalah jangan mudah berasumsi, apalagi dengan melihat tampilan luarnya atau secara kasat mata saja.

Sedangkan cerita yang kedua berjudul “Welche Farbe hat der Himmel?“ menceritakan tentang warna langit yang berbeda-beda menurut persepsi masing-masing hewan. Menurut Coati langit  berwarna biru, menurut Capybara langitnya berwarna emas, oranye, pink dan merah. Sedangkan menurut Kelelawar langit itu berwarna biru hitam. Namun langit hari itu tak menampakkan warna sesuai persepsi mereka. Mereka pun mencari langit dengan warna sesuai dengan persepsi mereka. Ada yang menemukannya saat pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari dan juga saat menjungkirbalikkan badannya dari atas ke bawah. Cerita ini sangat kocak. Kami tertawa bersama.
Alhamdulillah sesi ini berjalan lancar. Tinggal satu hari lagi menuju hari kemenangan. Akankah saya menang menaklukkan tantangan ini? Saatnya berkontemplasi.





Monday, 20 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 28 : Membacakan Buku Anak berjudul “Papperlapapp zum Thema Musik”

Hari ini kami melanjutkan membaca buku Papperlapapp. Kali ini tentang tema Musik. Seperti buku sebelumnya, di buku ini ada dua berita yang disajikan. Cerita yang pertama berjudul„Das Mitternachtskonzert“. Membaca judul ini sebenarnya saya langsung membayangkan jalan cerita berupa bunyi hewan-hewan kecil yang bersahut-sahutan di malam hari. Itu mah kondisi di Indonesia banget ya, ada bunyi jangkrik, disusul bunyi tonggeret atau garengpung. Di sini tentu berbeda. Das Mitternachtskonzert yang diceritakan di sini bermula dari dua kakak beradik yang mencoba untuk tidur malam di pekarangan rumah menggunakan tenda. Saat hari sudah larut, mereka membuka perbekalan dan dari wadah makanan itu dihasilkan bunyi-bunyian. Nah, itulah konser tengah malam mereka. Mona dan Kira membunyikan apa yang ada di tangan mereka secara bergantian. Mereka lupa bahwa hari sudah malam, hingga kemudian ayah mereka keluar dari rumah dan mengingatkan mereka untuk melanjutkan permainan di esok hari. Ayah khawatir orang-orang yang sedang tertidur terusik oleh bunyi-bunyian yang dibuat Kira dan Mona. Nasihat Ayah pun dipahami oleh Kira dan Mona. Mereka meletakkan barang-barang yang ada di tangan, kemudian bergegas tidur di dalam tenda berdua. Mona tidak bisa langsung tidur, ia membuka mata beberapa kali karena mendengar bunyi-bunyi yang tak biasa ia dengar. Namun ia abaikan karena hal tersebut bukanlah suatu yang menakutkan. 


Cerita kedua berjudul „Ein Kuss fuer die Kaiserin“, menceritakan tentang masa kecil seorang pemusik terkenal dari Austria, Wolfgang Amadeus Mozart. Suatu hari ia dan keluarganya diundang ke istana Schoenbrunn karena Mozart dan kakaknya, Nannerl piawai bermain piano dan violin. Mereka bermain musik di depan Maria Theresa dan keluarga.

Selain dua cerita diatas, ada juga ide membuat gitar sendiri yang bisa dicoba di rumah, juga ada beberapa lembar aktivitas yang bisa dikerjakan anak-anak. 

Ada beberapa kalimat yang menarik perhatian, karena susunan kalimatnya merupakan hal baru bagi saya, antara lain :
Das Zelt steht zwar nur in ihrem Garten, aber ein Abenteuer ist es trotzdem.
Zur Sicherheit haben wir deshalb auf der Reise noch schnell ein paar seiner Stuecke auswendig gelernt. 
Penggunaan kata penghubung "da" 
Da will sogar ihre grosse Schwester Kira mitmachen.
Juga penggunaan kata „lassen“ 
Ich lasse die Terrasentuer offen.
Membaca buku anak secara perlahan, menemukan kata-kata asing yang belum saya pahami, menjadi sebuah keasyikan tersendiri dalam pengerjaan tantangan 30 hari ini. Dan semoga kebiasaan ini bisa terus berlanjut sekalipun periode tantangan sudah selesai, karena aktivitas ini bisa menjadi salah satu cara belajar bahasa Jerman dengan menyenangkan dan melibatkan anak-anak. Juga semoga pemahaman yang Allah berikan dari proses ini, menjadi sebuah jalan kebermanfaatan yang terjaga niatnya. Aamiin.