Sunday, 22 April 2018

Saat Bakat Diri Teridentifikasi, Ilmu Apa yang Kubutuhkan dan Siapakah Maestronya?

Ilmu yang menunjang bakat diri :

Bakat discipline dan input : ilmu manajemen rumah tangga, manajemen diri, manajemen perubahan. Maestro : Marie Kondo, Irawati Istadi, Renald Kasali

Bakat emphaty : ilmu pendidikan anak dan keluarga, ilmu pendidikan anak usia dini, ilmu pendidikan anak dalam Islam. Mestro : Septi Peni Wulandani, Budi Ashary, Kiki Barkiah

Bakat significance dan maximizer : ilmu berkomunitas, public speaking. Maestro : ada masukan?

Thursday, 19 April 2018

Hanashimasyou : Bebenah ala KonMari, Our Family Project

Kamis, 19 April 2018 adalah jadwal saya mengisi sesi hanashimasyou di kelas intensif KonMari level Shokyuu – Jawa 1. Saya akan berbagi mengenai perjalanan saya dalam mengenal, memahami dan menerapkan KonMari bersama keluarga serta melakukan tidying festival yang masih terus berjalan.

Ohayou sensei, minna san…

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…

Perkenalkan, saya Mesa Dewi, domisili di Jombang – Jawa Timur. Ada yang pernah atau sedang berdomisili di Jombang?

Saat memutuskan untuk belajar KonMari dan mendaftar kelas intensif level Shokyuu, saya bertekad menjadikan proses bebenah ala KonMari ini menjadi sebuah family project. Ada dua alasan yang menjadi pijakan saya,

Alasan pertama, karena hidup kami yang sedang nomaden. Pertengahan tahun 2016 kami pindahan dari Bandung ke Jombang dan harus mengosongkan kontrakan. Proses pindahan membuka mata saya bahwa ada banyak barang yang tidak sempat kami pakai. Bahkan memilikinya saja pun kami lupa. Barang-barang seisi rumah pun ada yang kami buang, ada yang kami carikan pemilik berikutnya, ada juga yang kami bawa ke rumah orangtua. Untuk yang kami bawa ke rumah orangtua, kami usahakan yang sudah tersortir bahwa memang benar-benar penting. Berangkat dari proses pindahan tersebut dan rencana kami ke depan untuk tinggal di rantau selama beberapa tahun ke depan, membuat saya merasa perlu untuk membangun pola pikir yang ringkas serta dapat bebenah dengan benar.    

Alasan kedua, bebenah merupakan sebuah ketrampilan hidup. Saya bukanlah orang yang suka bebenah. Ibu saya lah yang suka bebenah dan menyimpan. Namun, justru dari situ saya merasa bahwa saya perlu memiliki cara agar proses bebenah rumah dapat saya lakukan dengan cepat dan ringkas. Banyaknya barang yang ada di rumah dan banyaknya tempat penyimpanannya membuat saya merasa waktu untuk bebenah mengambil porsi yang besar dalam keseharian. Dan saya tak ingin terjebak disitu. Saat ini tepatnya sejak 1.5 tahun lalu saya tinggal di rumah orangtua, bersama dua anak saya yang berusia 4 tahun dan 1.5 tahun. Sejak Juli 2017 suami melanjutkan studi ke Austria dan keluarga belum bisa langsung ikut karena adanya tantangan terkait proses administrasi. Dengan posisi berjauhan dengan suami, praktis urusan pengasuhan anak secara fisik saya lakukan sendiri. Di rumah orangtua juga tidak ada ART, maka praktis urusan domestikpun kami lakukan bersama-sama sekeluarga. Dengan kondisi demikian, saya merasa amat perlu untuk dapat bebenah dengan benar, demi menghemat waktu dan tenaga juga melegakan pikiran. 

Indikator sebuah proses layak menjadi family project adalah setiap anggota keluarga dapat menjalankannya dengan bahagia. Dan jika project tersebut tuntas dijalankan, akan meningkatkan level kebahagiaan kami. Bukan hanya salah satu anggota keluarga, tapi seluruhnya. Siap berbahagia dengan berKonMari? Ya!


Apa yang menjadi catatan kami selama proses KonMari dan tidying festival ?

Children see, children do

Tidak ada pilihan lain bagi saya selain melibatkan anak-anak dalam proses tidying festival.  Karena selama mata tak terpejam, mereka terus beraktivitas bersama saya. Maka, tidying festival pun kami lakukan bersama-sama. Kakak membantu saya mensortir pakaian-pakaiannya. Yang sudah kekecilan atau tak disukai dimasukkan ke kardus donasi. Dia turut memberi ide kepada siapa kira-kira pakaiannya cocok diberikan. Saat proses melipat baju, tak jarang lipatan-lipatan yang sudah berjajar rapi menjadi tak berbentuk kembali. Namun justru dari proses melipat tersebut, kakak menjadi ikut melipat ala KonMari.


Saat tidying festival buku, kami menemukan beberapa buku anak yang masih bersegel. Rencananya, buku-buku tersebut akan kami donasikan atau berikan pada teman-teman dari anak-anak. Awalnya, kakak merasa keberatan, kakak ingin membaca dan memiliki semua buku tersebut. Lalu kemudian, ada teman ummi yang datang ke rumah, memiliki putri seumuran kakak yang tak ikut serta. Sebagai oleh-oleh kami membawakannya sebuah buku. Sesampainya teman ummi di rumah, teman ummi cerita, kalau putrinya amat menyukai buku tersebut. Dari situ, kakak menjadi semakin bersemangat untuk berbagi dan melepaskan barang untuk orang lain.


Bisa jadi tidying festival kami memang berjalan lambat, namun kami bersyukur proses tersebut berbonus kebiasaan-kebiasaan baik yang berjalan alami. Dengan menata pakaian ala KonMari, kakak lebih mudah menemukan pakaian miliknya dan adik. Sehingga dengan senang hati menolong ummi mengambilkan pakaian adik saat dibutuhkan. Anak pun menangkap pola keteraturan yang mudah diadaptasi oleh mereka. Karena setiap barang sekarang sudah ada “rumahnya” maka anak-anak dengan mudah mengembalikan setiap hal ke tempatnya juga menjadi alarm otomatis saat melihat anggota keluarga yang lain tidak meletakkan barang pada tempatnya. 



Two in one Tidying Festival

Karena kami berencana menemani studi suami di tahun ini, maka packing pun menjadi agenda utama kami. Saat tidying festival, barang-barang yang sudah tersortir dan lulus sparks joy segera kami pilah. Mana yang kami simpan di rumah dan mana yang kami bawa merantau. Sekaligus membuat daftar kode penyimpanannya. KonMari amat memudahkan kami dalam bebenah. Terimakasih KonMari Indonesia :)

Saturday, 7 April 2018

Sunday, 1 April 2018

Saat Dokumen, Kertas dan Buku Catatan Harus Dirapikan ala KonMari



Apa saja kendala yang dialami saat berbenah kertas ala KonMari?

Kendala tidying festival kertas, buku tulis dan lainnya adalah, kesukaan saya untuk menulis dan mengumpulkan barang bukti. Maka, menumpuklah kertas-kertas hasil coretan, berpuluh buku agenda juga kertas bon pembayaran dan sejenisnya. 
Maka, saat berbenah kertas, saya membuka satu persatu dan ternyata cukup memakan waktu. Tapi lega setelahnya, alhamdulillah.


Sedangkan untuk dokumen-dokumen penting, sudah tersortir dengan cukup baik dan diletakkan pada document keeper.Sehingga saya cukup menatanya kembali dan membuat label di setiap document keeper.

#shokyuuclass
#task7
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass

Saturday, 31 March 2018

Membuat Kandang Waktu Harian untuk Aktivitas Produktif


PROJECT RUANG BERKARYA IBU #2
TUGAS MATERI 3
Setelah membuat 'ruang' untuk unik diri di Tugas Materi 2, tantangan selanjutnya adalah:
Urutkan 'ruang' tersebut berdasarkan prioritas dari dalam keluar, dari lingkar inti yaitu anak dan pasangan, berlanjut ke lingkar luar tetangga, komunitas, dan masyarakat.
Jika di Tugas Materi 2 yang dibuat adalah urusan ranah publik semua, maka sekarang di tugas 3 bisa dibenahi, mulai dari lingkaran inti berlanjut ke lingkaran luar.. 
Silahkan dibuat kandang waktu produktivitas diri sesuai 'ruang' yang sudah ditetapkan:
✳ Ranah Keluarga
✳ Ranah produktif
Laksanakan dan patuhi waktu yang telah dibuat
Tuliskan tugas dengan menyertakan hashtag:
#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateriTiga
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Jawaban :
Menilik kembali jawaban saya di tugas 2, maka ranah produktif yang sedang saya jalankan beserta urutan dan kandang waktu hariannya adalah :
Menjalankan program Home Education untuk Mentari Pagi dan Langit (09.00-11.00 WIB)
Menjalankan program Cerita Kita (20.00-20.30 WIB)
Menjalankan program perencanaan dan evaluasi harian dengan rutin dan terstruktur (dini hari dan malam hari)
Menulis perjalanan proyek keluarga Kumbang Kelana (dini hari)
Menjalankan program buku Bunda Sayang (11.00-12.00)




Wednesday, 28 March 2018

Munculnya Inisiatif di Sesi Makan


Mentari Pagi berusia 4 tahun, Langit berusia 1 tahun 4 bulan. Mengamati aktivitas mereka, ummi menjadi sadar bahwa sejatinya fitrah belajar memang sudah Allah installkan pada setiap diri manusia. Justru larangan dari orangtua dan lingkungan yang tanpa sadar mencederai fitrah tersebut sehingga anak-anak tumbuh menjadi pemuda pemudi yang apatis dan kurang peka pada lingkungan. Pemuda pemudi ini pernah peka, pernah berinisiatif, namun lingkungan menekan dan menghambat fitrah tersebut. Aah…ini menjadi bahan kontemplasi ummi…

Hari ini kami belajar di sesi makan. Terinspirasi dari buku Totto Chan, pagi ini ummi menghadirkan sarapan dengan menu “makanan yang berasal dari laut dan pegunungan.” Ya, cah kangkung untuk makanan yang berasal dari pegunungan dan cumi-cumi untuk makanan yang berasal dari laut. Dan ini berhasil menggugah rasa penasaran Mentari Pagi dan membantu mereka makan dengan lahap. 

Kejadian apa saja yang ummi temui di sesi makan ini? 

  1. Mentari Pagi dan Langit akan mulai makan bersama. Mereka duduk di kursinya masing-masing menghadap piringnya masing-masing. Ummi izin ke dapur sebentar, kemudian Mentari Pagi berinisiatif menyuapi Langit
  2. Langit teramat suka dengan air. Kali ini dia merasa haus. Dia dekati tempat air, diambilnya gelas dan berkata, “eh..eh..eh…” artinya, dia meminta tolong untuk dibukakan kran air supaya air mengalir ke gelasnya. Setelah dirasa cukup, dia berjalan kembali ke tempat duduknya, kemudian meminum air tersebut.
  3. Jika hausnya telah hilang dan air di gelas masih ada, langit tak akan menyia-nyiakannya. Dengan senyum kecil dan melirik kiri kanan dia jungkirkan gelas ke bawah. Airnya tumpah? Tentu. Tikar jadi basah? Iya. Maka dia beranjak ke ruang tengah, mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap tikar. Kiri-kanan, maju-mundur, persis seperti apa yang dilihat dari sang kakak saat mengelap sesuatu.
  4. Saat makan, sesi duduk manis di kursi tentu bertahan hanya beberapa menit. Untuk Mentari Pagi, dia bisa tahan cukup lama, bisa sampai dia merasa kenyang. Untuk langit, di menit pertama duduk manis, di menit kedua dia mengeksplorasi alam sekitar, haha. Kali ini Langit naik ke meja makan. Mengambil mangkok yang ada sendoknya dan mencoba mengambilnya. Apa yang dia lakukan? Ternyata dia berupaya mengambil beberapa potong cumi dari mangkok, dan memindahkannya ke piring miliknya. Persis seperti yang ummi lakukan. Kemudian, dia gunakan sendok tersebut untuk menyuapkan cumi ke mulutnya. Berantakan? Iya. Namun Langit belajar banyak hal, bukan?

Apa yang ummi bisa amati, catat dan pelajari dari kejadian-kejadian diatas?

  • Naluri kakak beradik anak-anak Allah semaikan dengan indah. Inisiatif Mentari Pagi sebagai seorang kakak, muncul secara naluriah saat ummi tidak ada. Dia merasa adiknya butuh disuapi saat makan dan dia lakukan itu seperti yang biasa ummi lakukan pada adik. Ummi terkaget saat datang dari dapur dan mendengar Mentari Pagi berucap, “Aaa dulu dek…Nah, pinter... Lhooo..ada nasi yang jatuh, sebentar…sebentar…kakak ambil dulu.”. Muncul inisiatif disitu, muncul rasa tanggungjawab diri sebagai seorang kakak, muncul ketelatenan, yang semuanya dibalut oleh rasa kasih sayang. Alih-alih berkata, “Kakaaaaaak….itu makanannya jadi padha tumpah…tikarnya jadi kotor, baju adik juga kotor. Kenapa ngga nunggu ummi ajaaa? Ummi kan Cuma sebentar ke dapurnya. Jadi nga karu-karuan beginiiii…semuanya kotor.” Ummi lebih memilih untuk terharu, tersenyum bangga dan mengapresiasi inisiatif kakak. Menjadi saksi yang menyakinkan Mentari Pagi bahwa sang adik senang disuapi oleh kakaknya. Apresiasi akan membuat anak semakin percaya diri dalam mengambil keputusan dan berinisiatif atas sebuah kondisi. Di usianya saat ini, perkembangan emosi Mentari Pagi ada di fase Initiative vs Guilt. Di fase ini, anak menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orangtua, bahwa dia dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Maka, ummi mencoba memfasilitasi dengan memberi ruang dan kepercayaan serta apresiasi penuh setelahnya. Coba kita bayangkan jika yang terjadi adalah sebaliknya, mengoreksi dan menyalahkan. Apa yang terjadi? Timbul rasa bersalah pada dirinya dan memudarkan kepercayaan diri sang anak. Lambat laun, anak tersebut akan sulit untuk bergerak jika tidak didikte orang lain.
  • Kejadian Langit menumpahkan air dari gelas, bisa saja ummi respon dengan kekesalan. Ummi gendong Langit dan mengelap tikar yang basah sambil bersungut-sungut. Lebih cepat beres memang. Namun ummi akan kehilangan momen munculnya inisiatif Langit untuk memecahkan masalah dengan mengambil tisu dan mengelap tikar. Saat Langit bosan di kursi dan beranjak naik ke meja kemudian menyendok cumi dari mangkok ke piring, ummi bisa segera menggendongnya dan mengelap kuah yang tumpah di meja. Namun ummi kehilangan momen menyaksikan motorik kasar dan halus Langit terstimulasi saat merangkak dan menyendok juga semai fitrah belajar Langit saat memindahkan cumi dan menyuapkan ke mulut. Bukankah itu salah satu tanda yang menunjukkan kemandirian bahwa Langit siap makan sendiri? Usia 0-2 tahun adalah fase basic trust vs mistrust dalam tahapan perkembangan emosi anak. Dengan memberinya ruang kepercayaan, anak akan mendapat pengalaman yang menyenangkan sehingga tumbuh rasa percaya diri. Kotornya meja makan, basahnya tikar dan lantai, terasa sebanding dengan terpuaskannya rasa ingin tahu anak dan bertambahnya rasa percaya diri padanya.
  • Bagaimana dengan air yang sengaja Langit tumpahkan? Apa yang membuat Langit melakukannya? Untuk menjawab ini, ummi mencoba menarik ingatan ke belakang, memposisikan diri menjadi anak-anak. Ooh…bisa jadi Langit menumpahkan air karena sedang senang mengamati air yang mengalir. Disini ada faktor ketidaksengajaan dari anak. Namun kalau mengingat dia menumpahkan sembari melirik-lirik dan menyimpan senyum, nampaknya Langit melakukannya juga untuk mencari perhatian dan melihat respon ummi. Salah satu fitrah emosi balita adalah, suka mencari perhatian dan menyengaja. Langit bisa jadi paham resiko menumpahkan air adalah membuat tempat duduk dan pakaian menjadi basah, dan Langit ingin melihat bagaimana reaksi ummi atas kondisi tersebut. “Toh, tikar yang basah bisa kulap dengan tisu...namun dengan ini, tentu ummi akan memusatkan perhatiannya padaku. Hihihi…”
Kurang lebih demikian pengamatan dan pencatatan ummi hari ini. Memahami setiap aksi laku Mentari Pagi dan Langit, kemudian mengaitkannya dengan tahapan perkembangan emosi balita dan fitrah anak, membuat ummi bisa merilis emosi dengan lebih baik. Mengedepankan nalar dan logika dengan mendudukkan pemikiran ummi sejajar dengan pemikiran kalian, anak-anak.


#ChallengeHEbATKediriRaya
#day2
#ChallengePortofolioAnak


Tuesday, 27 March 2018

Belajar Bersama Alam dan Lingkungan




Hari ini adalah jadwal kami berkegiatan di luar rumah. Tak jauh-jauh, kami berkegiatan di sekitar rumah, tetap berada di dalam kompleks perumahan. Jalan-jalan pagi ini memang kegiatan yang sudah mereka nantikan, terutama bagi Mentari Pagi. Sedari bangun tidur, dia sudah menodong ummi untuk jalan-jalan pagi. Namun, ummi justru menjawab dengan memberi pertanyaan. “Kalau mau jalan-jalan pagi, syaratnya apa?” Mentari Pagi menjawab segera, “Mandi dan sarapan dulu.” Jawaban singkat itu diikuti langkah cepat menuju kamar mandi, bersegera menuntaskan standar pagi. Mandi sudah, sarapan pun sudah. Mentari Pagi dan Langit bermain di teras rumah sembari menunggu ummi. Fitrah fisik yang Allah anugerahkan membuat setiap anak menyukai aktivitas bergerak aktif berinteraksi dengan alam. Untuk itulah minimal tiga kali dalam seminggu ummi jadwalkan jalan-jalan pagi untuk mengasah semai fitrah dan mempelajari fenomena alam karunia Allah.

Sebelum jalan-jalan, ummi melakukan briefing singkat. Ini penting, supaya anak-anak memiliki bayangan akan perjalanan yang akan mereka lalui. Fitrah bernalar mereka pun semakin terasah. Ada beberapa tempat yang akan kami tuju, dan disepakati bahwa ummi dan Langit akan berjalan kaki sedangkan Mentari Pagi mengendarai sepeda. Dengan catatan, sepeda harus dikendarai dari awal perjalanan hingga pulang kembali. Destinasi pertama kami adalah tetangga di gang belakang. Selain menyampaikan titipan yangti, kami juga bertemu dengan dua anak balita yang sedang bersepeda. Mendengar kami bertiga bernyanyi dan bermain, mereka mendekat dan larut dalam permainan. Kami bermain permainan tradisional yang ummi dapatkan di seminar permainan tradisional dengan metode BERLIAN awal bulan lalu. 

Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menari-nari selalu riang gembira
Umpan yang lezat itulah yang dicari
Ini dianya yang terbelakang

Riuh tawa suara empat balita mendamaikan hati ummi. Permainan ini tentu dijalankan dengan amat sederhana, bahkan belum memenuhi aturan main yang berlaku. Titik tekannya ada di pengenalan permainan tradisional dan melekatkan bonding kebersamaan antar anak dan fasilitator, Semua nyaman, semua senang.

Usai bergerak, kami duduk melingkar. Ummi memberikan kesempatan pada masing-masing anak untuk bercerita. Ada yang hanya tersenyum, ada yang mengeluarkan sepatah kata, ada juga yang bercerita mengenai ummi yang sedang memasak sedangkan anaknya makan permen. Sesi ini menstimulasi fitrah bahasa dan keberanian untuk berbicara. 

Tak lama, kami bertiga pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa Mentari Pagi mengajak teman-temannya untuk bermain bersama setiap pagi di rumah yangti, bergabung di jam riset kami. Usai mengucap salam, roda sepeda terkayuh dan Langit berada dalam gendongan ummi. Tinggal satu tujuan sebelum kembali ke rumah, ke teknisi listrik. Saat tiba di rumah bapak teknisi, Mentari Pagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bapak teknisi. Dia belajar fitrah sosial dengan orang tua di momen itu. Dalam perjalanan pulang, langkah kami terhenti. Mentari Pagi menemukan tanaman yang menarik untuknya. Dia ambil beberapa dan dia sampaikan, “Ummi…ini nanti kalau direndam di air, bisa meletus.” Sesampainya di rumah, kami buktikan dan ternyata benar. Hanya saja ummi belum tahu apa nama tanaman itu. Fitrah belajar Mentari Pagi dan Langit pun terasah. 

Membersamai kalian, anak-anak…membuat ummi belajar banyak hal. Membuka mata fisik dan hati agar peka dan awas akan setiap tanda-tanda keunikan yang Allah sematkan pada kalian. Agar ummi tak abai dan terus mengasah fitrah keayahbundaan yang Allah sematkan. 

#ChallengeHEbATKediriRaya
#day1
#ChallengePortofolioAnak