Monday, 4 March 2019

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas


Membuat Skala Prioritas

Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas. 

Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya. Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat ditarik benang merah, yang mana peran-peran tersebut saling terkait dan menguatkan satu sama lain.

Tak dipungkiri, beberapa peran yang diampu seringkali menimbulkan tantangan berupa ketidakseimbangan langkah. Terjadi sebuah ketimpangan yang mengganggu keseimbangan diri baik fisik maupun mental. Di materi kedua ini, kami dibekali tips dan trik untuk merumuskan skala prioritas dalam menjalankan aktivitas, serta menjalankan manajemen waktu yang tepat. Dengan gamblang, mba Rima memaparkan tips dan trik yang beliau jalanan selama ini dengan ragam peran yang berhasil beliau ampu. 

Bagaimana cara membuat skala prioritas?
Pertimbangan Skala Prioritas

Ternyata ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan acuan untuk membuat sebuah skala prioritas. Pertimbangan tersebut antara lain :

  • Tingkat urgensi. Yang mana aktivitas dengan urgensi paling tinggi yang dijadikan prioritas pertama. Urgensi tinggi versi saya adalah yang menyangkut kepentingan banyak pihak dan memiliki batas waktu kesempatan yang sudah mendekati akhir.
  • Kemampuan diri. Semisal kemampuan diri sudah mencapai batas optimal, maka kita perlu menahan diri. Di Ibu Profesional, biasanya lazim dikenal dengan slogan, “Kesempatan ini menarik, tapi saya tidak tertarik.”
  • Kesempatan yang dimiliki. Kesempatan emas bagi saya adalah dimana ada sebuah kesempatan berupa ruang aktualisasi diri sekaligus proses pembelajaran bertahap dan berkelanjutan yang dalam perjalanannya sekaligus bisa dirasakan kebermanfaatannya oleh orang lain. Seperti halnya pada kepengurusan komunitas Ibu Profesional
  • Pertimbangan masa depan. Aktivitas-aktivitas yang kita prioritaskan untuk dilakukan saat ini adalah aktivitas yang menjadi bekal atau modal masa depan. Dunia akhirat. 

Setelah memaparkan mengenai pertimbangan dalam menentukan skala prioritas, disampaikan juga mengenai strategi dalam manajemen waktu. Kami pun membuka-buka kembali catatan kelas matrikulasi. Mulai dari membuat kuadran aktivitas, kandang waktu hingga jadwal tertulis di buku maupun aplikasi. Secara naluri, saya menyukai perencanaan yang detail termasuk dalam hal manajemen waktu. Target hidup dibedah per tahun, per bulan, per minggu, per hari hingga per jam. Setelah menyimak pemaparan mba Rima, saya tersadar bahwa sikap perfeksionis dan menunda masih sering saya lakukan dan hal inilah yang peru segera diperbaiki.
Kuadran Aktivitas


Saat sebuah perencaan sudah dibuat, jadwal telah disusun, kemudian saat dijalankan menemui kebuntuan, kehabisan ide, saya mudah merasa kesal kemudian ingin lekas beralih ke aktivitas lainnya. Atau saat mengerjakan suatu hal namun merasa ada yang kurang, saya enggan untuk mengumpulkan dan cenderung memilih menunda agar dapat mendapat hasil optimal. Namun ternyata, saya tidak memiliki cukup waktu untuk menuntaskannya hingga sempurna (versi saya). Hingga kemudian tugas malah tak kunjung selesai dan tugas yang lain antri menanti untuk dikerjakan. Ayat Al Qur’an berikut pun menjadi pengingat diri, 
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Dalam rangka memperbaiki manajemen waktu diri, saya juga menyimak pemaparan Ustadz Adi Hidayat berikut : https://www.youtube.com/watch?v=L_pCkp_zDf0

Di video tersebut beliau menjelaskan bahwa seorang muslim idealnya memiliki manajemen waktu yang tertata rapi. Jelas jadwalnya dan terbentuk sebuah pola kebiasaan rutin. Ah, saya banyak tertohok dan mendapat pelajaran dari video ini. 

Maka, berkaitan dengan manajemen prioritas dalam berkomunitas, strategi yang akan saya jalankan ke depan adalah :
1. Menjaga niat dan tujuan
2. Menjaga fokus
3. Disiplin pada jadwal 
4. Memperbanyak syukur 

Semoga Allah mudahkan dan bimbing senantiasa. Kalau strategi teman-teman bagaimana? Dinantikan sharingnya ya :)






Monday, 28 January 2019

Sebuah Kontemplasi, Mengasah Peran Diri dalam Komunitas


Alhamdulillah, atas izin Allah, kuliah WhatsApp perdana di grup Magang Internal Ibu Profesional Non ASIA telah terlaksana dengan baik. Program ini bermula dari kebutuhan diri untuk semakin profesional dalam mengemban peran dan amanah baik sebagai diri, dalam keluarga maupun komunitas. Yang kemudian dirasa perlu untuk membuat sebuah sesi pembekalan bagi para pengurus Ibu Profesional Non ASIA sehingga memiliki pijakan yang kuat, pemahaman yang terintegrasi sebelum melangkah menjalankan amanah kepengurusan.
Gambar 1. Flyer Program Magang Internal 

Kuliah WhatsApp sesi pertama mengambil tema “Mengasah Peran Diri dalam Komunitas” dengan menghadirkan narasumber Direktur Resource Center Ibu Profesional, mba Nesri Baidani. Materi yang disajikan bisa jadi terkesan tidak banyak, namun justru itu ciri khas mba Nesri. Beliau menyampaikan sesuatu dengan singkat dan padat, kemudian melanjutkannya dengan lontaran pertanyaan yang membuat diri merenung dan mengasah logika berpikir. Maka, cara untuk menyerap banyak pembelajaran dari sesi ini adalah dengan terlibat aktif dan langsung menjalankannya melalui praktik.
Gambar 2. Cuplikan materi dari mba Nesri Baidani

Pendidikan adalah tanggungjawab keluarga dan komunitas. Keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.
Dalam materinya, mba Nesri mengajak kita untuk membuka kembali materi di kelas matrikulasi mengenai misi hidup. Dimulai dari misi diri, kemudian misi keluarga lalu misi komunitas. Jika ketiga misi ini sudah terjawab, maka kita bisa menemukan irisan antara ketiganya, dan menemukan keselarasan antara misi diri, keluarga dan komunitas.
Gambar 3. Keselarasan misi berlanjut membangun peradaban

Lalu saya pun merenung dan kembali membuka catatan…
Hasil talents mapping menunjukkan kombinasi bakat kuat saya adalah input, discipline, maximizer, significance, empathy, relator, futuristic. Menilik masa kecil, sejak usia Sekolah Dasar saya selalu memiliki buku catatan kecil. Saya gunakan untuk mencatat hal-hal penting, karena saya menyadari bahwa saya pelupa. Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saat ini. Dan terverifikasi dengan adanya bakat kuat discipline. Aktivitas dalam komunitas belajar selalu membuat saya berbinar, usut punya usut, ternyata berkomunitas menjadi jawaban untuk saya dalam memenuhi kebutuhan bakat relator, maximizer, significance, futuristic maupun input. Untuk bakat empathy, ada kaitannya dengan kecintaan pada dunia anak-anak. Dikelilingi banyak anak kecil menghadirkan energi positif dan membangun mood  yang baik, entah mengapa. Meski tentu saya pernah memarahi anak, pernah bersuara tinggi ataupun tersulut emosi. Sembari terus berlatih untuk semakin sabar dan istiqomah. Saya juga menyukai ranah pengembangan diri. Itulah mengapa saya mendalami Talents Mapping, berawal dari kebutuhan memahami diri seutuhnya, suka mendengar dan menginterpretasikan. 
Gambar 4. Training TM Dynamics bersama Abah Rama dan Pak Endro

Maka, jika boleh mencoba merumuskan, misi individu saya saat ini adalah sebagai konselor.
Gambar 5. Learning by sharing mengenai Talents Mapping

Bagaimana dengan misi keluarga?
Hingga saat ini pun kami masih terus menggali. Kolaborasi yang cukup terasa adalah dinamika bakat saya dan suami yang saling melengkapi. Beberapa bakat yang menempati urutan terendah saya, terlihat dominan pada diri suami, seperti bakat focus, restorative dan analytical. Begitu pun sebaliknya. Aktivitas yang sama-sama kami sukai adalah diskusi serta mengambil insight dari kejadian. Maka di waktu yang sempit, kami upayakan mengalokasikan waktu untuk bertukar pikiran dan pendapat. Hal ini juga yang mendasari penamaan hometeam Griya Riset untuk keluarga kami.
Gambar 6. Griya Riset, nama hometeam keluarga

Kemudian, untuk misi komunitas. Tak dipungkiri, informasi saat ini sudah amat sangat mudah untuk didapatkan. Justru tantangannya saat ini adalah mencegah terjadinya banjir informasi, bersikap skeptis untuk setiap informasi yang didapatkan, serta menjaga fokus. Ibu Profesional adalah komunitas yang sudah saya ikuti sejak akhir tahun 2013. Wadah yang menjadi rumah kedua sekaligus tempat saya bertumbuh. Mengawali perjalanan dengan bergabung di Ibu Profesional Bandung saat baru saja diinisiasi. Kemudian mengajukan diri terlibat sebagai tim admin WAG untuk mendapat akses belajar langsung ke para teteh-teteh pengurus senior. Di periode berikutnya mengemban amanah sebagai sekretaris yang masuk dalam jajaran kepengurusan inti. Sempat keteteran, suami juga sempat mengingatkan kala itu. Terus belajar manajemen waktu dan prioritas. Mendapat kesempatan belajar juga menjadi fasilitator kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang. Sempat pindah domisili ke Jombang dan bersama teman-teman menginisiasi Ibu Profesional Jombang. Dan saat ini mendarat di Ibu Profesional Non ASIA dan mengasah peran diri dengan berkecimpung di divisi Training and Consulting.
Gambar 7. Sudahkah saya mengasah peran diri di komunitas?

Jika kita sudah mengenali diri, mulai memahami misi diri dan mengidentifikasi misi keluarga, maka saat bertemu dengan banyak wadah belajar, kita bisa mengenali dan memilih mana yang selaras. Jika sudah menemukannya, maka kita bisa berkontribusi aktif di dalamnya dengan memilih peran yang sesuai dengan misi diri dan keluarga. Sehingga, emban amanah dalam komunitas akan mengasah misi diri, menguatkan misi keluarga dan menciptakan sebuah sinergi yang meluaskan kebermanfaatan.  
Bergabung di komunitas belajar yang memiliki misi yang selaras dengan misi diri dan keluarga, akan memudahkan perjalanan kita. Saat pertama kali merantau di Wina, dengan beragam tantangannya, saya merasa terbantu dengan materi-materi yang sudah didapatkan di Institut Ibu Profesional. Antara lain materi Manajemen Menu 10 Hari, Manajemen Waktu, Keluarga Multimedia, A Home Team dan lain sebagainya. Durasi kerja suami di kampus yang 12-14 jam setiap harinya, tugas domestik yang tak bisa didelegasikan ke pihak lain dan ragam tantangan lainnya alhamdulillah bisa dijalani dengan emosi yang cukup stabil. Ditambah dengan bergabungnya saya di Ibu Profesional Non ASIA, memberi kesempatan saya untuk banyak bertanya dan mendapatkan ilmu dari para ibu diaspora yang sudah banyak pengalaman di rantau.
Secara offline pun, Allah takdirkan kami sekeluarga tinggal di kota yang mana terdapat masjid Indonesia – Asia Tenggara, yang di dalamnya sudah berjalan aktif beragam kegiatan, sudah ada komunitas WAPENA (Warga Pengajian Austria) yang hangat. Sudah ada Taman Pendidikan Al Qur’annya juga dengan kegiatan rutin setiap akhir pekan. Alhamdulillah, rezeki yang amat saya syukuri. Maka, saat kemudian saya bergabung dalam kepengurusan TPA pun, saya merasa ini adalah tugas yang Allah berikan untuk mengasah peran diri. Yang mana beberapa bulan kemudian periodisasi kepengurusan pun  berganti, amanah sebagai koordinator TPA disematkan di pundak, maka innalillahi wainna ilaihi rojiun, semoga saya bisa menjalankannya dengan penuh sungguh.
Gambar 8. Apa maksud Allah menempatkan kita disini saat ini?

Terus belajar dan berproses memperbaiki diri. Memantaskan diri menjalankan misi hidup yang digariskan olehNya.


Wien, Januari 2019




Sunday, 13 January 2019

Ide Belajar untuk Anak yang Tercetus dari Buku Shahabat Rasulullah

Gambar 1. Sampul Buku yang Menjadi Sumber Inspirasi


Awal tahun 2019 ini, saya membuka kembali sebuah buku berjudul Karakteristik Peri Hidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah. Buku ini pernah tuntas saya baca di tahun 2015 saat masih tinggal di Bandung, dan kemarin di masjid As-Salam kota Wina-Austria, saya menjumpainya kembali dan tergerak untuk membaca ulang.

Penuturan penulis mengisahkan perjalanan para shahabat terasa begitu syahdu. Melukiskan kegigihan dalam perjuangan, kekokohan dalam memegang aqidah dan ketulusan sebuah pengorbanan. 
Setelah membaca kembali buku ini, saya teringat anak-anak. Sulung yang meginjak usia lima tahun, amat menyukai kisah-kisah yang kami tuturkan. Dengan tekun ia menyimak penuturan kami dan menanyakan hal-hal diluar ekspektasi. Kisah shabata Rasulullah tentu akan menjadi stimulan yang baik untuk fitrah keimanannya. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, bagaimana menyampaikannya pada anak dengan metode yang menyenangkan untuk mereka? Kami berencana menuturkan kisah para shahabat satu demi satu dengan cara yang mereka sukai. Salah satunya melalui kartu-kartu. Ahad lalu baru saja saya menyampaikan tata cara sholat pada para santri TPA As-Salam WAPENA dengan bantuan kartu. Bisa saya cobakan kembali untuk kisah shahabat. Kisah pertama yang akan disampaikan adalah kisah dari Shahabat Bilal bin Rabah.
Gambar 2. Kisah Bilal bin Rabah 


Gambar 3. Kartu kata kunci untuk Kisah Bilal bin Rabah

Saturday, 29 September 2018

Komunikasi Produktif pada Diri Sendiri Saat Menghadapi Kompleksitas Tantangan

Jurnal Belajar Kelas Bunda Sayang Materi 1
Komunikasi Produktif

Bismillahhirrohmanirrohim…
Kembali masuk ke kelas Bunda Sayang adalah sebuah kesempatan yang amat saya syukuri. Difasilitasi langsung oleh manajer Bunda Sayang dan bertemu dengan teman diskusi yang aktif berbagi, mempelajari materi dan mempraktikkannya tahap demi tahap bersama keluarga adalah sebuah keasyikan tersendiri. Karena kali ini kelas yang saya masuki adalah kelas Bunda Sayang Leader, aturan mainnya sedikit berbeda. Peserta tidak diwajibkan menyetorkan tantangan 10 hari, karena sudah menjalankannya di kelas Bunda Sayang regular yang sudah atau sedang dijalankan. Lalu apa tugas peserta? Peserta diminta untuk membuat sebuah jurnal belajar. Sebuah jurnal untuk setiap level materi.
Setiap level materi berlangsung kurang lebih selama sebulan lamanya. Jika tantangan 10 hari adalah melakukan praktik harian kemudian menyetorkannya dengan konsisten setiap hari selama periode waktu yang ditentukan, maka jurnal dikumpulkan menjelang garis akhir level materi. Sebuah durasi panjang disediakan agar para peserta berkesempatan menyerap materi dengan baik, menjalankan praktik dengan bahagia juga menuliskan insight yang didapatkan selama proses pembelajaran tersebut berlangsung sehingga terikat makna mendalam.
Materi komunikasi produktif yang tersampaikan di bulan September 2018 ini bertepatan dengan aneka tantangan yang sedang saya rasakan saat ini. Maka, komunikasi produktif yang menjadi project kali ini berfokus pada komunikasi produktif pada diri sendiri.
(bersambung...)                                                                               

Sunday, 2 September 2018

Kebutuhan Aktualisasi Diri Seorang Ibu

Kebutuhan aktualisasi diri merupakan sebuah hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk seorang ibu. Di sesi materi Pra Bunda Sayang kali ini, peserta diminta untuk membuat kartu nama beserta narasi mengenai diri.

Kartu nama diri sudah saya buat sekitar dua tahun yang lalu, saat saya mencoba semakin mengenali diri dan memperbanyak memberi ruang dan makna pada aktivitas yang saya cintai. Berikut penampakannya :


tampak depan

tampak belakang

Saya memilih profesi sebagai Home based Educator. Apa itu? seorang pendidik terutama bagi anak-anak yang memulai perjalanan perannya dari dalam rumah. Rumah identik dengan tempat tinggal, tempat bernaung, tempat beraktivitas bersama. Rumah erat kaitannya dengan sebuah tim di dalamnya, yaitu keluarga. Belajar dan berkarya bersama keluarga dan berbahagia menjalani prosesnya. Saya ingin menjadi penyokong penuh terwujudnya misi suami yang kemudian menjadi misi keluarga kami, Griya Riset. 

Saturday, 25 August 2018

Belajar Adab Menuntut Ilmu di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional



Tulisan ini dibuat dalam rangka pengerjaan tugas belajar online di kelas Bunda Sayang Leader Institut Ibu Profesional

NHW Adab Menuntut Ilmu adalah dengan menjawab tiga pertanyaan berikut.

Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?

Kelas Bunda Sayang leader yang saya ikuti saat ini merupakan kesempatan kedua saya untuk hadir, belajar dan menyelami kembali ilmu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Sebelumnya, saya sudah lulus kelas Bunda Sayang kelas Fasilitator di bulan Maret 2018 lalu. Mengapa saya ingin belajar kembali di kelas Bunda Sayang? Yang menjadi alasan terkuat adalah karena saya ingin membekali diri untuk mumpuni dalam memfasilitasi anak-anak. Menjadi fasilitator utama dan pertaman bagi anak-anak merupakan profesi yang membahagiakan diri dan keluarga. Tak dipungkiri, selama proses menjalani kelas Bunda Sayang selama lebih dari satu tahun, ada banyak ilmu yang saya dapatkan. Sedikit demi sedikit, saya upayakan untuk menelaah dan mempraktikkannya dalam keluarga. Mengingat manfaatnya yang terasa begitu besar bagi kami sekeluarga, saya mantap untuk memasuki kelas Bunda Sayang kembali. Kali ini di kelas leader, bersama para leader Ibu Profesional dari berbagai regional. Bismillah, saya siap J  

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Mengalokasikan waktu secara rutin dalam jadwal waktu harian untuk menelaah materi yang didapat, mempraktikkan dalam keseharian, menyerap makna yang terungkap juga mendiskusikannya bersama suami di family forum
  • Membuat mindmap materi dan mencari referensi yang berkaitan dengan materi tersebut
  • Terlibat dalam diskusi aktif baik dengan suami di rumah maupun teman sekelas dan peer group
  • Menyiapkan dua buku tulis khusus untuk pembelajaran kelas Bunda Sayang. Terpisah antara materi dan jurnal praktik.

 Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaikidalam proses mencari ilmu tersebut?

  • Mengupayakan untuk menyimak diskusi di waktu yang telah disepakati bersama
  • Menyederhanakan masalah besar, mengurangi sikap perfeksionis
  • Menyegerakan dalam pengerjaan tugas. Tidak harus segera mengumpulkan, namun menyegerakan dalam memulai dan bersungguh-sungguh dalam pengerjaannya
  • Menyampaikan kebutuhan waktu untuk belajar kepada suami dan anak-anak, meminta ridho dan doa dari mereka
  • Selalu memegang family first. Ilmu Bunda Sayang saya pelajari untuk semakin meningkatkan servicing pada para customer utama, yaitu suami dan anak-anak.
  • Fokus tinggi dan selalu meminta ridho dan kemudahan dari Allah

Bismillah, dengan masuk kelas Bunda Sayang leader ini, saya berupaya untuk menjaga keseimbangan antara menuntut ilmu, mengaplikasikannya bersama keluarga dan menebar kebermanfaatannya. Semoga senantiasa Allah jaga, mudahkan dan kuatkan dalam menjalankan kelas Bunda Sayang Leader ini. Aamiin…


x

Monday, 20 August 2018

Saling Mendengar


“Itu hasil dari sebuah totalitas mi..."

cetus Abiya (panggilan saya untuk suami), usai kami menyaksikan bersama video rekaman acara pembukaan Asian Games 2018 kemarin yang mengundang banyak decak kagum.

Abiya melanjutkan,
“Karakter ini pun yang harus dimiliki oleh keluarga kita. Mengerjakan amanah dengan fokus dan penuh kesungguhan. Hasil akan mengikuti.”

Saya manggut-manggut sembari membereskan ruangan. Hari itu hari libur, saya mendedikasikan diri untuk menjadi pendengar yang baik untuk beliau. Sebelum anak-anak bangun dan berebut ingin didengarkan juga.

Beliau memberi isyarat untuk mendekat. Ingin menunjukkan pada saya video berikutnya. Bukan, bukan video mengenai Asian Games. Kali ini sebuah video mengenai perjalanan karier seorang animator, Alan Becker. Di video tersebut Alan Becker menceritakan awal mula beliau masuk ke dunia animasi di tahun 2005 hingga sampai di titik saat ini dimana channel Youtubenya sudah memiliki 5.4juta subscribers. Wow, perjalanan selama kurang lebih 13 tahun, terangkum apik dalam sebuah video singkat. Menarik dan inspiratif.  

Percakapan kembali mengalir. Ternyata karya-karya Alan Becker sudah digemari Abiya semenjak awal masa mahasiswa. Dan mungkin banyak subscribers yang juga demikian, mengikuti sejak bertahun-tahun lamanya. Pertanyaannya, mengapa karyanya disukai banyak orang dan membuat orang tertarik untuk terus mengikutinya? Ya, tentu saja karena karyanya bagus dan beliau konsisten menjaga kualitas karya tersebut. Kisah Alan Becker melanjutkan inspirasi pagi kami, Allah sampaikan pada kami bukti dari sebuah kesungguhan yang dibarengi dengan konsistensi.

Apa sebelumnya saya mengetahui tentang Alan Becker? Tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya pun bukan penyuka animasi. Bidang-bidang yang menarik bagi suami, memang asing bagi saya. Saya tak mengerti animasi, coding,maupun hal-hal yang menjadi bidang kesibukan suami. Pun sebaliknya. Namun dari sekian banyak hal yang berbeda maupun bertolak belakang, kami menemukan sebuah irisan. Kami suka berdiskusi. Saya suka mengumpulkan informasi, sedangkan suami suka menganalisa. Maka, kami perbanyak ruang diskusi dalam keseharian. Kami berupaya saling mendengarkan dengan baik, memahami kebutuhan masing-masing diri dan mengalirkan aneka topik bahasan dalam sebuah muara, pembelajaran untuk keluarga.

Saya selalu menantikan momen ini, family forum sarat makna, saat the man of vision and mission sedang mentransfer pandangan hidupnya, untuk kemudian nanti dijalankan oleh saya, sang pelaksana harian pendidikan.


Hasil jepretan Mentari Pagi di depan Schonbrunn Palace