Wednesday, 11 September 2019

Sepenggal Hikmah Harian : Tentang Waktu


Kemarin terasa lain dari hari biasanya. Mungkin anak-anak akan menyebutnya sebagai Hari Ayah. Kemarin Abiya mengambil libur dan beliau memanfaatkannya untuk membersamai anak-anak seharian. Di pagi hari, kami membuat penawaran ke anak-anak, yang hasilnya pun sudah bisa ditebak. Raysa ingin diantarjemput sekolah oleh Abiya sedangkan Ahsan ingin bermain di Spielplatz (taman bermain) yang ada mobil-mobilannya dengan Abiya. Maka kemarin Ahsan tak menemaniku berangkat Deutschkurs (les bahasa Jerman), aku pun tak perlu menjemput Raysa di Kindergarten (TK) sepulang Deustchkurs seperti biasanya.
Deutschkurs berdurasi total 3.5 jam, termasuk sesi pause (istirahat) 10 menit sebanyak dua kali. Sesi pause ini biasanya kugunakan untuk membersamai Ahsan di Kinderbetreuung (Kids Corner) untuk makan camilan atau bermain bersama. Waktu yang singkat, namun ternyata selama ini cukup untukku dan Ahsan. Karena kemarin aku berangkat sendirian, maka sesi pause menjadi bonus waktu yang bisa kugunakan. Muncullah pertanyaan dalam benak, 
Hal penting apa yang bisa kugunakan di bonus waktu ini? Terutama sebuah hal yang untuk melakukannya biasanya aku kesulitan mencari waktu.
Aha! Aku teringat sebuah rencana. Yaitu mengutarakan ide membuat WhatsApp Group untuk kelas Deutschkurs kepada Lehrerin (pengajar). Ide ini sebenarnya dicetuskan dan dilakukan oleh teman dari kelas lain, beliau sudah melakukannya untuk kelasnya dan mendorongku juga untuk menginisiasi hal tersebut di kelasku. Saat semester lalu, aku belum berani. Kemampuan berbahasa Jermanku sungguh sangat pas-pasan kala itu. Sebenarnya sekarang pun masih pas-pasan juga, namun setidaknya sudah ada pembekalan dari proses belajar di kelas semester lalu. Sesi istirahat pertama aku gunakan untuk menyampaikan hal tersebut pada pengajar. Beliau menyampaikan, 
Jika kamu menginginkan kami sebagai tim penyedia layanan belajar ini membuat grup tersebut, tentu tidak memungkinkan. Namun jika kamu bersedia untuk membuatkan grupnya dan memasukkan nomor teman-teman ke grup tersebut, itu adalah ide yang sangat cemerlang. Aku bisa membagikan tautan materi belajar atau hal lainnya padamu untuk kemudian didistribusikan di grup. OK, kita tawarkan di kelas ya. Jika teman-teman setuju, grup tersebut bisa dibuat.
Alhamdulillah, bonus waktu di sesi istirahat pertama pun termanfaatkan dengan baik. Masih ada sisa waktu juga untuk sejenak ke kamar mandi. Segera setelah itu, pengajar mengumumkan penawaran tersebut di kelas. Teman-teman menyambut dengan positif dan antusias. Pengajar pun menyiapkan selembar kertas agar kami bisa menulis nama dan nomor telefon di sesi istirahat kedua. Sesi istirahat kedua aku manfaatkan untuk menanyakan materi yang belum aku pahami ke pengajar juga memasukkan sebagian nomor kontak teman-teman di kelas. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku tuntaskan perihal pembuatan WAG kelas ini.
Aku bersyukur bonus waktu yang Allah berikan bisa terlampaui dengan menuntaskan satu program. Waktu seringkali berlau tanpa disadari, seperti yang tersampaikan dalam hadits Bukhari :
Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.
Rentetan aktivitas dan kesibukan adalah sebuah keniscayaan. Teringat kalimat yang dinukil oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,
Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.
Alhamdulillah, ruang belajar untuk menyampaikan ide dan berdiskusi dalam bahasa Jerman pun bertambah, insyaAllah diniatkan untuk memberanikan diri mencoba memperbanyak menyampaikan pesan dalam bahasa Jerman sekalipun grutal-gratul atau kurang pas di sana-sini. Kesalahan akan menjadi lecutan untuk terus melakukan perbaikan. Karena seringkali, sekalipun salah dalam susunan kata, lawan bicara cukup menangkap dan memahami pesan yang ingin kusampaikan. Tak jarang, saat aku mencoba berbicara dalam bahasa Jerman dan menyampaikan bahwa aku sedang belajar, lawan bicara menjadi lebih sabar dalam menyimak hingga maksudku tertangkap olehnya. Bahkan tetangga kamar atas membenahi susunan kalimat yang saya ucapkan saat kami mengobrol singkat. Kaitannya dengan pemanfaatan waktu, proses belajar bahasa Jerman yang saat ini sedang kujalani, kuupayakan untuk berjalan dengan seoptimal mungkin. Dengan tetap menjaga keseimbangan peran yang sudah teramanahkan. Ya Allah, mudahkan dan selimuti dengan keberkahan.

Semoga ke depan, semakin bijak dalam memanfaatkan waktu, karena  dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat bersantai dan bermain-main, sebagaimana firman Allah :
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Al-Mukminun (23):115].
Dan hari ini, Eyang B.J. Habibie berpulang. Innalillahi wainna ilaihi roji’un… dan kembali mengingatkanku tentang waktu.

Wina, 11 September 2019


Saturday, 24 August 2019

Every Mother is a Changemaker, Insight dari Konferensi Ibu Profesional 2019


Sapaan bu Septi pada perwakilan peserta teleconference Konferensi Ibu Profesional


Konferensi Ibu Profesional menjadi sebuah event yang memberikan suntikan semangat bagi diri saya secara pribadi, untuk tetap keep on track dalan menjalankan peran sebagai istri, ibu dan agen perubahan dengan bahagia. Bukankah bahagia itu harus diciptakan? Dan ini adalah satu cara saya untuk recharge energy.
Tidak semua sesi bisa saya ikuti dengan optimal. Selisih waktu antara CEST dan WIB yang mana di sini lebih lambat lima jam.Tapi tak mengapa, rekaman video full session akan didapatkan oleh peserta teleconference secara lengkap. Tugas saat ini adalah mengikuti sebaik-baiknya sesi yang bisa saya ikuti dengan mengantongi izin dari suami dan anak-anak.

Sesi yang sempat saya ikuti antara lain :
  1. Every Mother is a Changemaker   
  2. Pergerakan Perempuan Indonesia
  3. Cahaya Saujana : Pamella Swalayan
  4. Cahaya Saujana : Konseling Berperspektif Gender
  5. Tangan Terampil : Eco Enzyme
  6. Sesi Changemaker  1 : Jogokariyan
  7. Sesi Changemaker  2 : Kandidat Changemaker
  8. Perempuan Berdaya  1 oleh Pak Dodik Mariyanto
  9. Perempuan Berdaya  2 oleh Bu Tri Mumpuni


Beberapa bulan lalu saat mengetahui informasi penyelenggaraan Konferensi Ibu Profesional, saya tertarik untuk mengikutinya. Beberapa pertanyaanpun muncul di pikiran. Namun, sebelum pertanyaan bagaimana cara mengikutinya, saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang bermunculan seketika dan membuatnya menjadi sebuah daftar tanya jawab.

Mengapa saya ingin mengikuti Konferensi Ibu Profesional?
Karena saya membutuhkannya. Konferensi Ibu Profesional yang mengangkat tema Synergy for Change menggelitik hati saya untuk semakin menguatkan langkah untuk menjadi seorang Ibu Pembaharu.
Apa yang ingin saya ketahui dari acara KIP ini?
  • Cara untuk menjadi seorang Agen Perubahan
  • Cara untuk memfasilitasi anak Aqil Baligh menjadi seorang Pembaharu
  • Strategi menjadi seorang Perempuan Berdaya

Apa yang ingin saya dapatkan di acara KIP ini?
  • Transfer energi positif dari lingkungan lingkungan yang kondusif dan suportif
  • Semangat membara untuk terus memantaskan diri menjadi Ibu Profesional kebanggaan keluarga
  • Bekal untuk membuat Family Strategic Planning ke depan


Dari daftar tanya jawab ini, saya menimbang dan memutuskan bahwa ya, saya perlu mengikuti event Konferensi Ibu Profesional. Maka saya lanjutkan untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana cara mengikutinya?”. Pertanyaan ini saya coba jawab dengan melakukan pendekatan ke panitia dan mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang ada sehingga muncullah rencana Teleconference yang Alhamdulillah akhirnya bisa terwujud. Benar adanya bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus berusaha.

Sesi pertama yang saya ikuti bertajuk Every Mother is a Changemaker. Sesi ini sangat menarik, dibuka dengan penuturan Rere dan Lita, dua perempuan usia aqil baligh yang terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker dan Ashoka Young Pioneer mengenai social project yang sudah mereka jalankan dan dampak positifnya sudah dirasakan oleh masyarakat luas.
Apa yang mereka lakukan di usia belia tersebut?
Maria Angelita atau yang akrab disapa Lita menginisiasi sebuah proyek bertajuk Melukis dan Berkarya Bersama.  Lita menyampaikan bahwa anak-anak harus berani bermimpi, karena mimpi adalah tujuan hidup. Melalui proyek tersebut, Lita  mengajak anak-anak untuk bercerita mengenai mimpinya, kemudian dia membantu mereka untuk memvisualisasikannya dan membuat karya bersama.  
Sedangkan Rere atau Amarylisse MC Ganz memulai perjalanannya dari aktivitas yang dia sukai, membaca dan menulis. Rere menuturkan bahwa sejak kecil orangtua tidak memfasilitasi rumah dengan televisi. Sebagai gantinya, buku-buku disediakan di rumah dalam jumlah banyak. Membaca buku menjadi sebuah aktivitas rutin yang menyenangkan bagi Rere. Rere kecil tumbuh menjadi seorang anak yang lekat dengan dunia literasi. Kecintaannya pada membaca dan menulis bertemu dengan tergugahnya empati saat melihat kondisi di lingkungan sekitar menggerakkkan hatinya untuk membuat Rumah Baca Mc Ganz. Darinya saya belajar untuk bersegera melakukan hal kecil untuk sebuah perubahan besar, dimulai dari diri kita sendiri.
Lalu, bagaimana bentuk dukungan orangtua bagi Ashoka Young Changemaker dan Ashoka Young Pioneer ini?
Rere menuturkan,“Orangtua adalah sebagian dari diri saya. Orangtua selalu mendukung apa yang kita lakukan. Orangtua adalah elemen terbesar dari anak-anak.”
Bu Wiwin, ibu dari Rere pun menyampaikan,“Support itu total! Saya merelakan ruang tamu di rumah enjadi lebih sempit agar ada ruang untuk rumah baca yang diinisiasi Rere.”
Beliau pun melanjutkan dengan memberikan pesan,“Jika kita ingin memiliki anak yang berjiwa besar, maka perlakukan anak-anak seperti orang besar sekalipun secara fisik mereka masih kecil.”

Bu Indri, ibunda dari Lita membagi cerita mengenai kesepakatan beliau dan suami untuk menjadikan sekolah inklusi sebagai partner dalam bekerjasama untuk pendidikan Lita tidak lain dengan tujuan agar putrinya tumbuh menjadi seorang yang lebih peka dan respect.Bermula dari kesadaran beliau diamanahi seorang anak yang tumbuh di era perubahan, yang mana orangtua pun harus siap belajar dan terbuka terhadap perubahan serta bisa mendukung hal positif dari sang anak. Beliau mengingat-ingat masa beliau seusia Lita, disibukkan dengan hal-hal akademik namun tak memiliki dampak positif bagi lingkungan.
Beliau pun mengajak untuk terus mendukung para generasi pembaharu. Tak lupa keluarga sebagai support system pertama dan utama harus memberikan value  yang kuat sehingga anak memiliki pegangan dan koridor yang kuat. Bagaimana, siap menjadi agen perubahan yang mengawali langkah dari rumah?

Sesi ini disarikan dengan sangat baik oleh Ara Kusuma sebagai pemandu sesi, yang menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kaya akan pertanyaan. Jika secara umum, kata kunci yang dikenal untuk bertanya adalah 5W+1H, maka keluarganya menambahkannya dengan kata kunci “Bagaimana jika” dan “Mengapa tidak”.  Tidak perlu takut untuk bertanya, karena dengan sering bertanya daya imajinasi dan empati anak akan terlatih dengan baik. Bukankah seorang anak luar biasa terlahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa? Maka siapkan kita untuk terus belajar, senantiasa memantaskan diri menjadi ibu dari seorang anak luar biasa?
Penutup dari sesi ini adalah sebuah tantangan dari program keluarga pembaharu yang digagas Ashoka Indonesia, yaitu :
  1. Ide apa yang bisa dilakukan untuk memfasilitasi anak?
  2. Dapatkah kita memulai upaya bersama untuk mendukung anak-anak?
  3. Bagaimana kita bisa menciptakan sinergi ini sebagai satu tim?
  4. Siapa saja yang perlu kita libatkan dalam pergerakan ini?


Yuk, mari kita jawab tantangan bersama ini.

Saya mencoba menjawab tantangan diatas di sini :
  1. Untuk memfasilitasi anak, saya mencoba untuk mendengar dengan hati, membersamai dengan mindfulness dan mengajak eksplorasi agar mereka tumbuh dengan kaya aktivitas dan kaya wawasan di tahap tujuh tahun pertamanya.
  2. Bisa. Langkah untuk hal ini yang saat ini saya lakukan ada dua. Secara online dan offline. Secara offline, saya sedang berkolaborasi dengan tim TPA Masjid WAPENA, bergerak bersama orangtua untuk menjalankan pendidikan Islam untuk anak-anak Indonesia di kota Wina. Secara online, saya mengambil peran di bidang Training and Consulting di komunitas Ibu Profesional Non ASIA.
  3. Memetakan potensi masing-masing, bergerak sesuai potensi tersebut dan mengajak orang lain untuk berkolaborasi membangun sebuah tim.
  4. Diri sendiri, keluarga, teman terdekat. Bergerak dulu, meluas kemudian.

Menurut teman-teman bagaimana? Yuk, silahkan turut menjawab juga.



Monday, 4 March 2019

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas


Membuat Skala Prioritas

Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas. 

Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya. Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat ditarik benang merah, yang mana peran-peran tersebut saling terkait dan menguatkan satu sama lain.

Tak dipungkiri, beberapa peran yang diampu seringkali menimbulkan tantangan berupa ketidakseimbangan langkah. Terjadi sebuah ketimpangan yang mengganggu keseimbangan diri baik fisik maupun mental. Di materi kedua ini, kami dibekali tips dan trik untuk merumuskan skala prioritas dalam menjalankan aktivitas, serta menjalankan manajemen waktu yang tepat. Dengan gamblang, mba Rima memaparkan tips dan trik yang beliau jalanan selama ini dengan ragam peran yang berhasil beliau ampu. 

Bagaimana cara membuat skala prioritas?
Pertimbangan Skala Prioritas

Ternyata ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan acuan untuk membuat sebuah skala prioritas. Pertimbangan tersebut antara lain :

  • Tingkat urgensi. Yang mana aktivitas dengan urgensi paling tinggi yang dijadikan prioritas pertama. Urgensi tinggi versi saya adalah yang menyangkut kepentingan banyak pihak dan memiliki batas waktu kesempatan yang sudah mendekati akhir.
  • Kemampuan diri. Semisal kemampuan diri sudah mencapai batas optimal, maka kita perlu menahan diri. Di Ibu Profesional, biasanya lazim dikenal dengan slogan, “Kesempatan ini menarik, tapi saya tidak tertarik.”
  • Kesempatan yang dimiliki. Kesempatan emas bagi saya adalah dimana ada sebuah kesempatan berupa ruang aktualisasi diri sekaligus proses pembelajaran bertahap dan berkelanjutan yang dalam perjalanannya sekaligus bisa dirasakan kebermanfaatannya oleh orang lain. Seperti halnya pada kepengurusan komunitas Ibu Profesional
  • Pertimbangan masa depan. Aktivitas-aktivitas yang kita prioritaskan untuk dilakukan saat ini adalah aktivitas yang menjadi bekal atau modal masa depan. Dunia akhirat. 

Setelah memaparkan mengenai pertimbangan dalam menentukan skala prioritas, disampaikan juga mengenai strategi dalam manajemen waktu. Kami pun membuka-buka kembali catatan kelas matrikulasi. Mulai dari membuat kuadran aktivitas, kandang waktu hingga jadwal tertulis di buku maupun aplikasi. Secara naluri, saya menyukai perencanaan yang detail termasuk dalam hal manajemen waktu. Target hidup dibedah per tahun, per bulan, per minggu, per hari hingga per jam. Setelah menyimak pemaparan mba Rima, saya tersadar bahwa sikap perfeksionis dan menunda masih sering saya lakukan dan hal inilah yang peru segera diperbaiki.
Kuadran Aktivitas


Saat sebuah perencaan sudah dibuat, jadwal telah disusun, kemudian saat dijalankan menemui kebuntuan, kehabisan ide, saya mudah merasa kesal kemudian ingin lekas beralih ke aktivitas lainnya. Atau saat mengerjakan suatu hal namun merasa ada yang kurang, saya enggan untuk mengumpulkan dan cenderung memilih menunda agar dapat mendapat hasil optimal. Namun ternyata, saya tidak memiliki cukup waktu untuk menuntaskannya hingga sempurna (versi saya). Hingga kemudian tugas malah tak kunjung selesai dan tugas yang lain antri menanti untuk dikerjakan. Ayat Al Qur’an berikut pun menjadi pengingat diri, 
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Dalam rangka memperbaiki manajemen waktu diri, saya juga menyimak pemaparan Ustadz Adi Hidayat berikut : https://www.youtube.com/watch?v=L_pCkp_zDf0

Di video tersebut beliau menjelaskan bahwa seorang muslim idealnya memiliki manajemen waktu yang tertata rapi. Jelas jadwalnya dan terbentuk sebuah pola kebiasaan rutin. Ah, saya banyak tertohok dan mendapat pelajaran dari video ini. 

Maka, berkaitan dengan manajemen prioritas dalam berkomunitas, strategi yang akan saya jalankan ke depan adalah :
1. Menjaga niat dan tujuan
2. Menjaga fokus
3. Disiplin pada jadwal 
4. Memperbanyak syukur 

Semoga Allah mudahkan dan bimbing senantiasa. Kalau strategi teman-teman bagaimana? Dinantikan sharingnya ya :)






Monday, 28 January 2019

Sebuah Kontemplasi, Mengasah Peran Diri dalam Komunitas


Alhamdulillah, atas izin Allah, kuliah WhatsApp perdana di grup Magang Internal Ibu Profesional Non ASIA telah terlaksana dengan baik. Program ini bermula dari kebutuhan diri untuk semakin profesional dalam mengemban peran dan amanah baik sebagai diri, dalam keluarga maupun komunitas. Yang kemudian dirasa perlu untuk membuat sebuah sesi pembekalan bagi para pengurus Ibu Profesional Non ASIA sehingga memiliki pijakan yang kuat, pemahaman yang terintegrasi sebelum melangkah menjalankan amanah kepengurusan.
Gambar 1. Flyer Program Magang Internal 

Kuliah WhatsApp sesi pertama mengambil tema “Mengasah Peran Diri dalam Komunitas” dengan menghadirkan narasumber Direktur Resource Center Ibu Profesional, mba Nesri Baidani. Materi yang disajikan bisa jadi terkesan tidak banyak, namun justru itu ciri khas mba Nesri. Beliau menyampaikan sesuatu dengan singkat dan padat, kemudian melanjutkannya dengan lontaran pertanyaan yang membuat diri merenung dan mengasah logika berpikir. Maka, cara untuk menyerap banyak pembelajaran dari sesi ini adalah dengan terlibat aktif dan langsung menjalankannya melalui praktik.
Gambar 2. Cuplikan materi dari mba Nesri Baidani

Pendidikan adalah tanggungjawab keluarga dan komunitas. Keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.
Dalam materinya, mba Nesri mengajak kita untuk membuka kembali materi di kelas matrikulasi mengenai misi hidup. Dimulai dari misi diri, kemudian misi keluarga lalu misi komunitas. Jika ketiga misi ini sudah terjawab, maka kita bisa menemukan irisan antara ketiganya, dan menemukan keselarasan antara misi diri, keluarga dan komunitas.
Gambar 3. Keselarasan misi berlanjut membangun peradaban

Lalu saya pun merenung dan kembali membuka catatan…
Hasil talents mapping menunjukkan kombinasi bakat kuat saya adalah input, discipline, maximizer, significance, empathy, relator, futuristic. Menilik masa kecil, sejak usia Sekolah Dasar saya selalu memiliki buku catatan kecil. Saya gunakan untuk mencatat hal-hal penting, karena saya menyadari bahwa saya pelupa. Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saat ini. Dan terverifikasi dengan adanya bakat kuat discipline. Aktivitas dalam komunitas belajar selalu membuat saya berbinar, usut punya usut, ternyata berkomunitas menjadi jawaban untuk saya dalam memenuhi kebutuhan bakat relator, maximizer, significance, futuristic maupun input. Untuk bakat empathy, ada kaitannya dengan kecintaan pada dunia anak-anak. Dikelilingi banyak anak kecil menghadirkan energi positif dan membangun mood  yang baik, entah mengapa. Meski tentu saya pernah memarahi anak, pernah bersuara tinggi ataupun tersulut emosi. Sembari terus berlatih untuk semakin sabar dan istiqomah. Saya juga menyukai ranah pengembangan diri. Itulah mengapa saya mendalami Talents Mapping, berawal dari kebutuhan memahami diri seutuhnya, suka mendengar dan menginterpretasikan. 
Gambar 4. Training TM Dynamics bersama Abah Rama dan Pak Endro

Maka, jika boleh mencoba merumuskan, misi individu saya saat ini adalah sebagai konselor.
Gambar 5. Learning by sharing mengenai Talents Mapping

Bagaimana dengan misi keluarga?
Hingga saat ini pun kami masih terus menggali. Kolaborasi yang cukup terasa adalah dinamika bakat saya dan suami yang saling melengkapi. Beberapa bakat yang menempati urutan terendah saya, terlihat dominan pada diri suami, seperti bakat focus, restorative dan analytical. Begitu pun sebaliknya. Aktivitas yang sama-sama kami sukai adalah diskusi serta mengambil insight dari kejadian. Maka di waktu yang sempit, kami upayakan mengalokasikan waktu untuk bertukar pikiran dan pendapat. Hal ini juga yang mendasari penamaan hometeam Griya Riset untuk keluarga kami.
Gambar 6. Griya Riset, nama hometeam keluarga

Kemudian, untuk misi komunitas. Tak dipungkiri, informasi saat ini sudah amat sangat mudah untuk didapatkan. Justru tantangannya saat ini adalah mencegah terjadinya banjir informasi, bersikap skeptis untuk setiap informasi yang didapatkan, serta menjaga fokus. Ibu Profesional adalah komunitas yang sudah saya ikuti sejak akhir tahun 2013. Wadah yang menjadi rumah kedua sekaligus tempat saya bertumbuh. Mengawali perjalanan dengan bergabung di Ibu Profesional Bandung saat baru saja diinisiasi. Kemudian mengajukan diri terlibat sebagai tim admin WAG untuk mendapat akses belajar langsung ke para teteh-teteh pengurus senior. Di periode berikutnya mengemban amanah sebagai sekretaris yang masuk dalam jajaran kepengurusan inti. Sempat keteteran, suami juga sempat mengingatkan kala itu. Terus belajar manajemen waktu dan prioritas. Mendapat kesempatan belajar juga menjadi fasilitator kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang. Sempat pindah domisili ke Jombang dan bersama teman-teman menginisiasi Ibu Profesional Jombang. Dan saat ini mendarat di Ibu Profesional Non ASIA dan mengasah peran diri dengan berkecimpung di divisi Training and Consulting.
Gambar 7. Sudahkah saya mengasah peran diri di komunitas?

Jika kita sudah mengenali diri, mulai memahami misi diri dan mengidentifikasi misi keluarga, maka saat bertemu dengan banyak wadah belajar, kita bisa mengenali dan memilih mana yang selaras. Jika sudah menemukannya, maka kita bisa berkontribusi aktif di dalamnya dengan memilih peran yang sesuai dengan misi diri dan keluarga. Sehingga, emban amanah dalam komunitas akan mengasah misi diri, menguatkan misi keluarga dan menciptakan sebuah sinergi yang meluaskan kebermanfaatan.  
Bergabung di komunitas belajar yang memiliki misi yang selaras dengan misi diri dan keluarga, akan memudahkan perjalanan kita. Saat pertama kali merantau di Wina, dengan beragam tantangannya, saya merasa terbantu dengan materi-materi yang sudah didapatkan di Institut Ibu Profesional. Antara lain materi Manajemen Menu 10 Hari, Manajemen Waktu, Keluarga Multimedia, A Home Team dan lain sebagainya. Durasi kerja suami di kampus yang 12-14 jam setiap harinya, tugas domestik yang tak bisa didelegasikan ke pihak lain dan ragam tantangan lainnya alhamdulillah bisa dijalani dengan emosi yang cukup stabil. Ditambah dengan bergabungnya saya di Ibu Profesional Non ASIA, memberi kesempatan saya untuk banyak bertanya dan mendapatkan ilmu dari para ibu diaspora yang sudah banyak pengalaman di rantau.
Secara offline pun, Allah takdirkan kami sekeluarga tinggal di kota yang mana terdapat masjid Indonesia – Asia Tenggara, yang di dalamnya sudah berjalan aktif beragam kegiatan, sudah ada komunitas WAPENA (Warga Pengajian Austria) yang hangat. Sudah ada Taman Pendidikan Al Qur’annya juga dengan kegiatan rutin setiap akhir pekan. Alhamdulillah, rezeki yang amat saya syukuri. Maka, saat kemudian saya bergabung dalam kepengurusan TPA pun, saya merasa ini adalah tugas yang Allah berikan untuk mengasah peran diri. Yang mana beberapa bulan kemudian periodisasi kepengurusan pun  berganti, amanah sebagai koordinator TPA disematkan di pundak, maka innalillahi wainna ilaihi rojiun, semoga saya bisa menjalankannya dengan penuh sungguh.
Gambar 8. Apa maksud Allah menempatkan kita disini saat ini?

Terus belajar dan berproses memperbaiki diri. Memantaskan diri menjalankan misi hidup yang digariskan olehNya.


Wien, Januari 2019




Sunday, 13 January 2019

Ide Belajar untuk Anak yang Tercetus dari Buku Shahabat Rasulullah

Gambar 1. Sampul Buku yang Menjadi Sumber Inspirasi


Awal tahun 2019 ini, saya membuka kembali sebuah buku berjudul Karakteristik Peri Hidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah. Buku ini pernah tuntas saya baca di tahun 2015 saat masih tinggal di Bandung, dan kemarin di masjid As-Salam kota Wina-Austria, saya menjumpainya kembali dan tergerak untuk membaca ulang.

Penuturan penulis mengisahkan perjalanan para shahabat terasa begitu syahdu. Melukiskan kegigihan dalam perjuangan, kekokohan dalam memegang aqidah dan ketulusan sebuah pengorbanan. 
Setelah membaca kembali buku ini, saya teringat anak-anak. Sulung yang meginjak usia lima tahun, amat menyukai kisah-kisah yang kami tuturkan. Dengan tekun ia menyimak penuturan kami dan menanyakan hal-hal diluar ekspektasi. Kisah shabata Rasulullah tentu akan menjadi stimulan yang baik untuk fitrah keimanannya. Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah, bagaimana menyampaikannya pada anak dengan metode yang menyenangkan untuk mereka? Kami berencana menuturkan kisah para shahabat satu demi satu dengan cara yang mereka sukai. Salah satunya melalui kartu-kartu. Ahad lalu baru saja saya menyampaikan tata cara sholat pada para santri TPA As-Salam WAPENA dengan bantuan kartu. Bisa saya cobakan kembali untuk kisah shahabat. Kisah pertama yang akan disampaikan adalah kisah dari Shahabat Bilal bin Rabah.
Gambar 2. Kisah Bilal bin Rabah 


Gambar 3. Kartu kata kunci untuk Kisah Bilal bin Rabah

Saturday, 29 September 2018

Komunikasi Produktif pada Diri Sendiri Saat Menghadapi Kompleksitas Tantangan

Jurnal Belajar Kelas Bunda Sayang Materi 1
Komunikasi Produktif

Bismillahhirrohmanirrohim…
Kembali masuk ke kelas Bunda Sayang adalah sebuah kesempatan yang amat saya syukuri. Difasilitasi langsung oleh manajer Bunda Sayang dan bertemu dengan teman diskusi yang aktif berbagi, mempelajari materi dan mempraktikkannya tahap demi tahap bersama keluarga adalah sebuah keasyikan tersendiri. Karena kali ini kelas yang saya masuki adalah kelas Bunda Sayang Leader, aturan mainnya sedikit berbeda. Peserta tidak diwajibkan menyetorkan tantangan 10 hari, karena sudah menjalankannya di kelas Bunda Sayang regular yang sudah atau sedang dijalankan. Lalu apa tugas peserta? Peserta diminta untuk membuat sebuah jurnal belajar. Sebuah jurnal untuk setiap level materi.
Setiap level materi berlangsung kurang lebih selama sebulan lamanya. Jika tantangan 10 hari adalah melakukan praktik harian kemudian menyetorkannya dengan konsisten setiap hari selama periode waktu yang ditentukan, maka jurnal dikumpulkan menjelang garis akhir level materi. Sebuah durasi panjang disediakan agar para peserta berkesempatan menyerap materi dengan baik, menjalankan praktik dengan bahagia juga menuliskan insight yang didapatkan selama proses pembelajaran tersebut berlangsung sehingga terikat makna mendalam.
Materi komunikasi produktif yang tersampaikan di bulan September 2018 ini bertepatan dengan aneka tantangan yang sedang saya rasakan saat ini. Maka, komunikasi produktif yang menjadi project kali ini berfokus pada komunikasi produktif pada diri sendiri.
(bersambung...)                                                                               

Sunday, 2 September 2018

Kebutuhan Aktualisasi Diri Seorang Ibu

Kebutuhan aktualisasi diri merupakan sebuah hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk seorang ibu. Di sesi materi Pra Bunda Sayang kali ini, peserta diminta untuk membuat kartu nama beserta narasi mengenai diri.

Kartu nama diri sudah saya buat sekitar dua tahun yang lalu, saat saya mencoba semakin mengenali diri dan memperbanyak memberi ruang dan makna pada aktivitas yang saya cintai. Berikut penampakannya :


tampak depan

tampak belakang

Saya memilih profesi sebagai Home based Educator. Apa itu? seorang pendidik terutama bagi anak-anak yang memulai perjalanan perannya dari dalam rumah. Rumah identik dengan tempat tinggal, tempat bernaung, tempat beraktivitas bersama. Rumah erat kaitannya dengan sebuah tim di dalamnya, yaitu keluarga. Belajar dan berkarya bersama keluarga dan berbahagia menjalani prosesnya. Saya ingin menjadi penyokong penuh terwujudnya misi suami yang kemudian menjadi misi keluarga kami, Griya Riset.