Sunday, 10 December 2017

Saturday, 9 December 2017

Friday, 8 December 2017

Thursday, 7 December 2017

Pingu dan Salju

Parade Dongeng Griya Riset

by Mesa Dewi

Hai…Assalamu’alaykum…namaku Pingu. Aku bersama temanku, Beri si beruang akan mengajak kalian berkeliling di tempat tinggal kami, yaitu Kutub Utara.

Bagaimana rasanya? Dingin? Semakin lama semakin dingin? Disini memang amat dingin. Bayangkan saja, suhu udara disini bisa mencapai -45 C. Jangan heran kalau sejauh mata memandang, yang terlihat adalah es batu dan es batu J

Lalu, adakah manusia yang tinggal di Kutub Utara? Yang bisa bertahan di suhu sedingin ini?

Atas izin Allah, ada sebuah suku yang mampu bertahan hidup disini, loh. Mereka menjejakkan diri, mencari bahan makananan dan menjalankan kehidupan sehari-hari disini. Mereka adalah suku Eskimo. Lihatlah, mereka selalu memakai jaket yang amat tebal dan kuat, bernama armor. Selain membantu untuk bertahan di suhu dingin, armor juga melindungi orang Eskimo dari serangan binatang buas.

Apakah mudah bertahan hidup disini?

Tentu tidak, bagi manusia ini tentu hal yang sulit. Coba perhatikan wajah orang Eskimo, pipi mereka kemerahan pertanda mereka masih merasa kedinginan. Namun bagi suku Eskimo, tak ada kata menyerah. Untuk dapat bertahan hidup, mereka harus bersahabat dengan dinginnya Kutub Utara.

Lalu, apa yang mereka lakukan?

Mereka merumuskan strategi.  Strategi yang pertama, adalah dengan menggunakan jaket armor dimanapun mereka berada. Strategi yang kedua, dengan banyak mengonsumsi makanan hewani sehingga membantu menjaga suhu tubuh agar tetap hangat. Sulit memang, namun tidakkah kau melihat bahwa mereka tak memilih untuk menyerah dan pasrah?

Maka, saat kesulitan menghadangmu, berdoalah pada Allah dan hadapilah dengan tangguh layaknya orang Eskimo menaklukkan dinginnya Kutub Utara J

Saturday, 2 December 2017

Semangat Memperbaiki Diri dan Mengajak pada Kebaikan

Menjadi fasilitator dalam sebuah kelas belajar sesama ibu, bagi saya bukanlah hal yang mudah. Dari segi pengalaman menjadi ibu, tentu ibu yang memiliki anak yang sudah berusia aqil baligh jauh lebih berpengalaman daripada saya. Dari segi keilmuan, ibu dengan latar belakang pendidikan, humaniora maupun psikologi tentu jauh lebih mumpuni daripada saya. Lalu, mengapa saya menjadi fasilitator?

Institut Ibu Profesional sudah saya ikuti sejak akhir tahun 2013, sejak kehamilan anak pertama. Hingga saat ini, saya merasakan banyak perbaikan yang terjadi dalam keluarga kami, melalui materi-materi dari Institut Ibu Profesional yang perlahan kami aplikasikan dalam kehidupan keluarga kami. Saya membayangkan, akan sangat baik jika banyak ibu mengetahui dan mempelajari hal ini. Alhamdulillah, pembelajaran di Institut Ibu Profesional saat ini tersusun secara runtut dan sistematis. Untuk dapat menjangkau banyak ibu, tentu perlu banyak kelas belajar yang dibuka dan keterlibatan banyak pihak perantara. Salah satunya, fasilitator. Fasilitator bukanlah guru. Layaknya sebuah kelas belajar mandiri di sekolah, fasilitator akan memfasilitasi peserta kelas untuk menggagas banyak ide, mengumpulkan dan menelaah berbagai referensi maupun menyusun solusi dari tantangan yang dihadapi. Fasilitator adalah teman belajar yang membersamai proses belajar peserta. Berjalan beriringan dan bertumbuh bersama.



Dengan menyampaikan apa yang sudah tersampaikan, saya berharap lebih memahami ilmu-ilmu Ibu Profesional. Terlebih, Ibu Profesional tidak memperbolehkan untuk menyampaikan hal-hal yang belum pernah dilakukan. Maka, dengan menjadi fasilitator, saya memecut diri saya untuk terus mempraktikkan ilmu yang telah didapatkan sembari berbagi cerita dengan peserta kelas.

(bersambung) 

Saturday, 25 November 2017