Tuesday, 18 February 2020

Temuan dan Pembelajaran yang Saya Dapatkan selama Sesi Berkemah Kelas Bunda Cekatan



Setelah kenyang memakan Apel di Kebun Apel, berbagi dan mendapatkan daun renyah yang disukai di pohon masing-masing, perjalanan si Ulat sampai di Hutan Pinus. Di Hutan Pinus ini si Ulat akan  berkemah, menyalakan api unggun, memasang tenda dan saling berkunjung ke teman-teman peserta Camping. Sembari itu, si Ulat tetap bergerak mencari makanan utamanya, baik menikmati dedaunan yang sudah tersedia di pohonnya ataupun mencari daun yang dibutuhkannya sendiri sebagai makanan spesifik yang memenuhi kebutuhannya. Kurang lebih inilah analogi yang saya tangkap dari dongeng yang disampaikan bu Septi di sesi diskusi. Menyimak cerita dan terlibat aktif dalam sebuah gamifikasi memang selalu menyenangkan. Analogi yang digunakan membuat tahapan belajar tervisualisasikan jelas sehingga semakin mudah dipahami dan menantang untuk segera dikerjakan.

Bagaimana saya menjalankan prosesnya?

Saat sesi live diskusi, saya tidak bisa menyimaknya. Jam diskusi bersamaan dengan jam pulang sekolah si sulung dan berlanjut dengan agenda mendatangi rumah teman untuk bermain bersama. Saya baru bisa menyimak keesokan harinya. Di hari Jum’at saya mulai dengan mendengarkan siaran ulang diskusi untuk dapat memahami apa saja yang harus saya lakukan untuk memenuhi penulisan jurnal pekan ini. Bersamaan dengan ini mulai berdatangan sapaan hangat dari teman-teman. Bagi saya, memahami sebuah tugas secara utuh adalah hal penting sebelum memulai langkah teknis yang sekaligus membuat saya bisa mengkaitkannya dengan pembelajaran sebelumnya untuk menemukan konsep secara keseluruhan. Setelah menyimak diskusi, saya membuat alur langkah yang harus saya lakukan. Kurang lebih demikian :
  • Membuat daftar nama teman yang perlu diwawancarai selama camping ground
  • Menyusun daftar pertanyaan yang diajukan ke teman
  • Mengumpulkan data
  • Mengolah hasil wawancara dalam bentuk diagram
  • Menulis jurnal

Yang pertama tercantum dalam daftar nama teman yang perlu diwawancarai adalah teman-teman mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Efrimenia (Non Asia). “Apakah saya belum mengenal mereka?” Tentu sudah, namun ada pertanyaan lanjutan, yaitu “Seberapa dekat saya mengenal mereka?” Mereka adalah sosok-sosok yang berada di lingkaran pertama atau terdekat saya saat ini di komunitas ini. Saya merasa ini merupakan kesempatan untuk mengenal teman-teman terdekat dengan lebih dekat, menyapa teman-teman secara personal dan menguatkan ikatan emosional sekalipun kami belum pernah bertatap muka karena berada di wilayah yang berbeda negara bahkan benua. Setelah itu, saya menghubungi teman-teman secara acak, juga membalas perkenalan dan sapaan teman-teman pada saya.
Layaknya proses Masa Orientasi Sekolah, kami saling bertukar dan mengumpulkan data antar mahasiswa. Bergerak kesana-kemari untuk berkenalan dan saling menyapa. Secara garis besar, saya mulai menyapa teman-teman terutama mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Efrimenia di hari Jum’at siang usai menyimak sesi diskusi sekaligus menyiapkan template pertanyaan untuk kenalan-kenalan dan template perkenalan diri yang tepat tujuan (mencakup kelas favorit dan alasannya serta kebahagiaan berada di kelas tersebut). Di hari Jum’at sebelum Shubuh, saya mengalokasikan waktu untuk menjawab sapaan, membalas perkenalan dan mencatat setiap data yang masuk. Sengaja tak saya gunakan google form karena saya menyukai interaksi intensif, memfasilitasi bakat relator saya yang termasuk kekuatan dominan. Proses pengumpulan data berlanjut kembali di hari Senin dan Selasa. Satu hal yang saya lakukan selama proses ini adalah membuka chat obrolan dari gawai sembari menghadap ke laptop untuk sekaligus melakukan pengumpulan data.  
Berikut data hasil survey saya di Camping Ground pada 47 teman di kelas Bunda Cekatan :


Data Hasil Survey 47 Peserta Kelas Bunda Cekatan


Data lengkap hasil survey dapat disimak di file berikut.
Dan berikut diagram hasil survey kelas favoritnya :
Diagram Hasil Survey Kelas Favorit 47 Peserta Kelas Bunda Cekatan

Apa saja yang saya temukan?

Kejujuran dan keterbukaan teman-teman dalam berinteraksi.

Saya menyukai proses menjalin relasi ini karena saya memiliki kesempatan untuk mendengar lebih banyak. Pada kenyataannya, tidak semua teman yang saya jumpai mengalami rasa bahagia. Ada yang merasa kurang bahagia karena merasa riweuh dan tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan tantangan kali ini. Saya berempati dan amat memahami kondisi ini. Memang perlu alokasi waktu khusus untuk membangun jejaring pertemanan pada tantangan kali ini. Dan ada yang tidak bisa mengalokasi waktunya karena keterbatasan kondisi. Selama perjalanan, saya menemui beberapa teman yang menghadapi ujian. Ada teman yang di pekan ini diuji dengan meninggalnya orangtua sehingga dalam kondisi berduka, ada yang menjalankan multi peran sebagai student mom di negara asing dan alokasi waktu untuk kelas Bunda Cekatan sangat sempit, ada juga  yang diuji dengan sakitnya anggota keluarga. Dari kondisi yang saya temui ini saya mencoba membantu beberapa diantaranya dengan memberikan ringkasan sesi diskusi sehingga mereka paham tugas dalam waktu singkat.

Mendapat banyak kejutan! Hal baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Lingkaran pertemanan menjadi meluas. Di sesi ini saya banyak mengenal orang-orang baru dan terinspirasi dari mereka. Ada seorang teman yang berusia menjelang 50 tahun dan amat bersemangat menjalani setiap tantangan di kelas Bunda Cekatan ini. Dari beliau saya belajar mengenai kegigihan. Dari sesi ini saya juga bertemu kenalan yang kemudian bercerita kalau beliau dulu memiliki minat tinggi pada bahasa namun tidak didukung orangtua namun kini beliau sedang menggeluti hal yang dibutuhkannya dengan bahagia. Bertemu dengan teman yang menjalani profesi yang sama dengan yang saya geluti saat ini, pengelola Taman Pendidikan Al Qur’an sehingga bisa sekaligus belanja ide program ke depan. Bahkan bertemu dengan kenalan baru yang ternyata adalah saudara dari teman belajar di negara ini.
Sensasi proses ini mengingatkan saya pada situasi yang saya rasakan saat mengikuti workshop atau camp saat di Indonesia. Bertemu dengan orang-orang baru, yang bisa jadi berbeda selera dengan kita tapi ada hal menarik yang bisa menjadi inspirasi dan  transfer energi positif satu sama lain. Proses ini mengingatkan saya akan pentingnya menjalin dan menjaga tali silaturahim antar manusia.

Pembelajaran apa saja yang saya dapatkan?

Manajemen waktu dalam berjejaring

Di sesi diskusi, bu Septi sempat mengingatkan akan pentingnya manajemen waktu di camping kali ini. Saya jadi teringat kebiasaan bu Septi dan pak Dodik setiap kali saya mengikuti acara yang mengundang beliau berdua sebagai narasumber. Selepas acara bu Septi tentu saja diserbu peserta dan panitia untuk berkonsultasi. Bu Septi selalu menyambut dengan mata berbinar. Namun kemudian, suara pak Dodik mengingatkan, “Sepuluh menit lagi ya Bunda”. Atau saat mengobrol bu Septi menyampaikan pada peserta, “Saya ada waktu hanya sampai lima belas menit ke depan ya. Setelahnya, saya harus masuk ke kamar untuk beristirahat. Sudah diwanti-wanti pak Dodik.” Pembelajaran yang saya dapatkan adalah, setiap kegiatan ada porsi waktunya masing-masing, pun kegiatan yang disukai sekalipun.   Keseimbangan dalam menjalankan peran perlu senantiasa dijaga agar tidak timpang dan tidak ada pihak yang dirugikan. Setelah setiap kegiatan ada kandang waktunya, perlu konsisten menerapkan cut off time.

Mengenal gaya dan modalitas belajar diri sebelum berjalan jauh

Selain berjejaring, saya perlu terus bergerak untuk mencari makanan utama. Jangan sampai keasyikan mengobrol membuat saya terlena dan melupakan timeline pencapaian peta belajar. Nah, bagaimana jika ternyata cara belajar secara online melalui WAG melalui pola menyimak chat adalah bukan gaya belajar yang sesuai dengan diri? Ini merupakan tantangan, sebuah ajang latihan untuk meningkatkan keterampilan beradaptasi. Namun, perlu juga alokasikan waktu untuk belajar sesuai dengan gaya dan modalitas belajar yang saya banget. Misalnya, saya lebih suka belajar melalui buku daripada chat, lebih suka belajar teori sedikit lalu praktik baru kemudian tambah teori baru. Nah, waktu untuk membaca buku dan praktik perlu teralokasikan dengan cukup juga sehingga kebutuhan belajar merdeka dapat terpenuhi dan bahagia dalam menjalankannya.

Komunikasi produktif dalam berkomunitas

Dalam proses ini, diperlukan menjaga pola komunikasi agar bisa berjalan KISS (Keep Information Short and Simple). Bagaimana dengan waktu yang terbatas, kita saling bertukar informasi yang saling dibutuhkan, dan saling meringankan tantangan yang dimiliki. Kunci yang saya rasakan adalah, fokus ke tujuan (poin informasi apa saja yang ingin diperoleh dan disampaikan), mengajukan pertanyaan dan menyiapkan jawaban yang jelas dan menghindari pembahasan yang melebar. Dari sini saya merasa keterampilan bertanya pun ikut terasah.

Membangun empati saat tangki kebahagiaan pribadi terisi

Dalam diskusi bu Septi sampaikan bahwa sembari memakan makanan utama, belajar sesuai peta belajar yang sudah dibuat, kita perlu tengok kiri-kanan untuk berkenalan dan menyapa teman-teman kita. Mengamati sekeliling, barangkali ada tetangga kita yang masih kelaparan dan membutuhkan bantuan kita. Siapa tahu ada teman yang belum bahagia dan kita bisa menularkan kebahagiaan kita padanya. Hanya yang memilikilah yang sanggup berbagi. Maka kita perlu belajar dengan cukup terlebih dahulu agar kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman yang sudah kita miliki. Maka kita perlu bahagia terlebih dahulu agar bisa menularkan kebahagiaan itu pada yang lainnya. Bukankah dengan berbagi, hal yang kita miliki tidak akan berkurang dan kebahagiaan yang kita rasakan juga tidak akan hilang? Ya, justru akan berlipat karena. Inilah prinsip dasar dalam berkomunitas. Memiliki semangat untuk senantiasa berbagi dan melayani. Give and given. Setelah sebelumnya tangki kebutuhan ilmu dan kebahagiaannya terisi sehingga bisa menjadi pondasi yang kuat untuk diri.

Demikian proses yang saya jalankan, temuan dan pembelaran yang saya dapatkan selama berada di Camping Ground kelas Bunda Cekatan ini. Semoga Allah mampukan untuk mengkaitkan pembelajaran dari setiap tahapan yang terlampaui. Aamiin. 




Tuesday, 11 February 2020

Portofolio Belajar Diri di Kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional


Kembali menuliskan jurnal Bunda Cekatan. Kali ini saya akan membagikan cerita mengenai perjalanan belajar bahasa Jerman yang menjadi makanan utama saya di peta belajar dan perjalanan menyimak beberapa ilmu yang saya jadikan camilan belajar di pekan ini. Mengapa keduanya saya tuliskan? Mengapa tidak makanan besar saja? Karena di pekan ini saya sedang menyusun portofolio belajar diri, Menelusuri seberapa fokus saya berproses belajar bahasa Jerman sekalipun kursus sedang libur, menjalani target-target yang sudah dicanangkan sejak awal masa libur dan memastikan bahwa camilan yang dimakan menjadi pendukung proses belajar. Dengan demikian, waktu yang dihabiskan untuk belajar pun cukup dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Sehingga bisa tepat sasaran, meraih ridho suami dan anak-anak dan berujung pada ridho Allah. Aamiin…
Pekan ini ada banyak sekali ilmu di kelas Bunda Cekatan. Para peserta yang dianalogikan sebagai ulat, setelah berkumpul di keluarga dengan bidang minat yang sama, diperbolehkan untuk pindah keluarga. Peta belajar setiap peserta tentu berbeda dan kebanyakan cakupannya luas, sehingga sangat mungkin jika dalam peta belajarnya memuat bidang minat lebih dari satu. Itulah mengapa ada kesempatan untuk berpindah keluarga untuk mencari makanan besar yang berada di keluarga lain untuk memenuhi kebutuhan belajar sesuai peta belajar yang sudah disusun. Jadwal tayangan Go Live pun mengular terlebih di pekan pertama, karena awalnya jadwal Go Live hanya tiga hari untuk empat puluh keluarga. Namun setelah berjalan jadwal Go Live diperpanjang hingga satu bulan.

Lalu, apa yang saya lakukan?

Saya tidak berpindah keluarga, tetap berada di keluarga bahasa. Alasan utamanya, adalah karena saya membuat peta belajar yang cukup spesifik, yaitu sebuah proyek dengan nama Mama lernt Deutsch. Peta belajar ini cakupannya sangat sempit, yaitu seputar upaya saya untuk belajar bahasa Jerman dengan optimal. Dan keberadaan saya di keluarga Bahasa sudahlah tepat.
Alasan kedua, saya sangat menyadari bahwa saya tipikal orang yang sulit fokus. Ya, saya mudah terdistraksi. Di sisi lain, kekuatan discipline dan maximizer saya berada di tujuh kekuatan teratas. Keluarga bahasa sudah menjadi lingkungan yang kondusif untuk menjalankan peta belajar saya sekaligus tempat yang nyaman untuk berbagi seputar perkembangan belajar bahasa dari waktu ke waktu.
Alasan ketiga, ilmu di luar bahasa Jerman, saya masukkan sebagai camilan. Saya membutuhkan camilan yang sehat, yaitu camilan yang mendukung proses saya belajar bahasa Jerman. Jadi, selain makan makanan utama, saya juga makan beberapa camilan.

Apa yang saya pelajari terkait makanan utama saya, yaitu bahasa Jerman di pekan keempat ini?


Belajar grammatik yaitu mengenai plusquamperfekt.
Untuk memahami dengan mendalam, saya berdiskusi dengan teman saat berkunjung ke rumahnya juga membaca penjelasan di beberapa buku, berlatih soal hingga menulis ulang pola yang mudah saya pahami.

Melatih kemampuan berbicara : berkonsultasi perihal tempat tinggal ke MA35 dan OeH
Menguasai bahasa pengantar tempat tinggal adalah kunci terbukanya kesempatan belajar dan pemahaman mendalam mengenai banyak hal. Ada banyak aturan yang belum saya mengerti di kota Wina ini, salah satunya mengenai tempat tinggal. Karenanya, saya memberanikan diri untuk berkonsultasi ke pihak berwenang, yang darinya bisa saya dapatkan informasi faktual untuk menentukan langkah ke depan.

Melatih kemampuan berbicara : menjalani cek kesehatan (Vorsorgeuntersuchung)
Setiap orang dikenakan asuransi kesehatan yang terbilang cukup mahal. Timbal baliknya, ada fasilitas cek kesehatan gratis per tahunnya. Informasi perihal ini saya dapatkan dari dokter yang memberikan penyuluhan di tempat kursus bahasa. Sejak saat itu, saya bertekad untuk mencoba melakukan cek kesehatan kelak saat sudah cukup memahami bahasa Jerman. Awal tahun 2020 ini saya memberanikan diri untuk melakukannya. Dimulai dari mendaftar ke dokter umum (Hausarzt), mengisi form pemeriksaan, pengambilan sampel darah dan urine hingga berkonsultasi hasilnya dengan dokter. Alhamdulillah berjalan lancar dan menyenangkan.

Melatih kemampuan berbicara : menemani anak untuk cek kesehatan
Jika kursus bahasa sudah kembali berjalan, saya seringkali kesulitan untuk membuat jadwal ke dokter karena jadwal kursus yang cukup padat. Sehingga selama libur kursus saya agendakan juga untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Setelah berkonsultasi dengan dokter anak, beliau memberi masukan untuk melakukan rontgen tulang dan tes endokrin. Tentu saya menyambutnya dengan antusias. Pekan ini saya mengantar anak-anak untuk rontgen dan membuat jadwal untuk tes endokrin.

Membaca buku Schritte Plus tapi belum membuat resume materinya di buku catatan
Buku ini menjadi buku favorit saya untuk belajar grammatik saat ini karena saya merasa penyampaian materi di buku ini mudah dipahami. Saya membaca beberapa materi dan menandai poin penting di dalamnya. Hal-hal yang saya rasa penting, ingin saya catat di buku.

Mencari amunisi buku di perpustakaan lagi
Perpustakaan adalah tempat ternyaman bagi saya dan anak-anak. Sepekan ini kami berkunjung sebanyak tiga kali ke perpustakaan dan saya membawa tiga buku ini untuk melengkapi referensi belajar.

Apa yang menjadi camilan saya di pekan keempat ini? Yang saya dengarkan sembari beraktivitas domestik hingga meningkatkan indeks kebahagiaan?


Mengenal High Sensitive Person  (HSP) di Youtube Channel Satu Persen. 
Saya menyadari bahwa saya orang yang cukup sensitif. Dan dari video tersebut saya mendapatkan pembelajaran bahwa orang yang terlalu sensitif perlu menjaga fokusnya kuat-kuat hingga kepeduliannya tersalurkan pada hal-hal yang penting saja.

Memahami Diri dan Sekitar melalui Talents Mapping, Go Live keluarga TM oleh mba Ningrum 
Berbekal training TM Basics dan TM Dynamics yang sempat saya ikuti di Indonesia, belakangan saya sangat merasakan manfaat memahami diri sendiri dan orang lain, termasuk dalam membangun hometeam, berkomunitas hingga menemukan cara yang “saya banget” dalam belajar.
Ilmu Komunikasi dari Pemaparan Go Live Keluarga K3B yang Diwakili Mba Yani
Komunikasi harus efektif, efisien dan produktif. Bagaimana menyampaikan pesan dengan clear and clarify, tidak menimbulkan bias. Bagaimana pesan bisa diterima dengan baik sekalipun via daring.
Manajemen Waktu, Pemaparan Go Live Keluarga Uluwatu yang Dituturkan Mba Laily
Teknik-teknik yang dipaparkan beberapa sudah saya terapkan dan pahami polanya. Seperti misalnya, teknik Pomodoro bagi saya cocok untuk menjaga fokus saat beraktivitas domestik namun tidak untuk kegiatan belajar. Pembuatan life plan dari yearly-monthly-weekly-daily juga sangat bermanfaat untuk saya yang kekuatan discipline-nya cukup dominan. Yang sangat mengena, adalah mengenai kebiasaan menunda dan cara memutusnya. Ini sangat penting untuk saya, karena seringkali saya menunda mengerjakan suatu hal dengan alasan mengajak orang lain terlebih dahulu atau mengerjakan hal yang ringan dahulu atau mengumpulkan ide hingga pengerjaannya dapat optimal.

Lalu, apa yang dibahas di keluarga Bahasa di pekan keempat ini?


Keluarga Bahasa merupakan keluarga kecil yang hangat. Saya sangat nyaman berada di dalamnya. Pekan ini para anggota keluarga berbagi makanannya juga perkembangan belajar bahasanya. Mba Novi berbagi ringkasan buku Nahwu I’rab. Membagikan catatan mengenai jabatan pokok, jabatan pelengkap al mabniyyat, mabni, juga al majrurat : ism. Mba Atin berbagi tautan channel Youtube belajar bahasa Jerman yang sering dijadikannya sebagai rujukan, yaitu : https://www.youtube.com/playlist?list=PLF9mJC4RrjIhS4MMm0x72-qWEn1LRvPuW. Kemudian mba Ita Roihanah juga membagikan aplikasi sumber belajar bahasa Inggris yang baru saja dikumpulkannya.


Demikian portofolio belajar saya juga portofolio belajar keluarga bahasa pekan ini. Satu quote yang bu Septi bagikan saat diskusi di hari Kamis lalu sangat mengena, You are the best decision maker, and I trust you! Ya, jangan takut untuk membuat keputusan. Termasuk untuk memutuskan ilmu dan informasi mana saja yang akan disimak dan diserap. Karena hal tersebut juga berkaitan dengan waktu yang akan dialokasikan. Ya, waktu, sebuah hal yang sangat berharga namun seringkali terbuang sia-sia. :(






Monday, 3 February 2020

Bertemu dan Makan bersama Keluarga lalu Berbagi Perbekalan di Hutan Pengetahuan


Di pekan ini, kami bertemu keluarga! Ya, para peserta yang dianalogikan sebagai ulat-ulat, bertemu dengan ulat lain yang memiliki makanan yang sama atau serupa di sebuah wadah yang dianalogikan sebagai pohon Apel.  Setelah didata, ternyata ada empat puluh keluarga! Artinya setelah diklasifikasikan, 1.700++ ulat ini menyebar di empat puluh pohon Apel. Satu peserta cukup memilih satu keluarga saja untuk menjaga fokus dan dapat berproses dengan optimal. Ada kondisi di mana peserta memiliki peta belajar dengan topik yang beragam. Nah, untuk kondisi tersebut maka perlu dibuat skala prioritas, topik mana yang paling mendesak dan penting untuk ditindaklanjuti dalam proses pencarian makanan ini.

Menentukan Fokus

Sejak awal pembuatan peta belajar, mengingat durasi belajar kelas Bunda Cekatan adalah enam bulan saja, maka saya memilih memfokuskan peta belajar pada project Mama lernt Deutsch. Jadi project inilah yang akan menjadi sampel selama kelas Bunda Cekatan. Apakah kebutuhan belajar saya hanya belajar bahasa Jerman? Tentu tidak, saya pun perlu belajar bidang lain, pun bidang-bidang yang banyak digemari peserta, seperti manajemen waktu dan manajemen emosi. Namun saatnya bukan sekarang, atau sekarang cukup menjadi camilan seiring praktik saja. Karena selama minimal setengah tahun ini setidaknya saya perlu mengalokasikan waktu sekitar empat sampai lima jam per hari untuk belajar bidang ini. Dan lembaga kursus memiliki standar yang cukup tinggi, persaingan yang cukup ketat dan pekerjaan rumah yang cukup banyak. Hal ini yang saya rasakan selama dua level yang sudah dijalankan di tahun lalu. Karena keterampilan berbahasa Jerman masuk kategori kebutuhan belajar yang penting dan mendesak saat ini, maka saya ingin fokus,mengkolaborasikan antara kuantitas dan kualitas untuk berikhtiar optimal. Di luar waktu tersebut tentu saya tetap menjalankan peran sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat. Seperti memberikan pelayanan untuk suami, memfasilitasi Home Education anak, mengkoordinir pengelolaan TPA, mengikuti kelas tahsin, menjalankan tugas leader HIMA IP Non Asia dan menulis.

Proses Berkeluarga

Perjalanan pekan ketiga ini dimulai dengan menggali spesifikasi kebutuhan belajar teman-teman HIMA regional Non Asia. Setelah terklasifikasikan, data dikirimkan ke tim Bunda Cekatan. Setelah itu, data dari seluruh regional diolah oleh tim BUnda Cekatan hingga kemudian menghasilkan pengumuman berupa empat puluh keluarga beserta kepala keluarganya. Kepala keluarganya inilah yang bertugas membuatkan grup sebagai rumah berkumpulnya keluarga tersebut. Saya bersyukur karena kepala keluarga Bahasa bergerak cepat membuatkan grup kemudian mulai membuka diskusi perdana di hari Sabtu 19.00 WIB. Di diskusi perdana itu, kami melakukan perkenalan dimulai dari nama, domisili, bahasa yang ingin dikuasai dan tujuan yang ingin dicapai.
Inilah anggota keluarga Bahasa
Anggota keluarga Bahasa

Keluarga bahasa merupakan sebuah keluarga kecil, dengan anggota keluarga yang hanya sepuluh orang. Hal ini memudahkan kami untuk berkoordinasi dan menggali ide. Dalam diskusi pertama, kami menggali ide sumber referensi belajar (yang terbagi dalam tiga kelompok bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa Jerman) dan tips belajar bahasa asing. Setelahnya, kami beralih topik mengenai tema Go Live! Tercetus tiga usulan tema, yaitu : 
  • Bagaimana belajar TOEFL dan IELTS untuk kebutuhan sekolah atau promosi kerja
  • Bagaimana belajar bahasa Jerman yang mudah dan bisa diaplikasikan
  • Bagaimana belajar bahasa dengan mudah dan menyenangkan

Setelah proses diskusi, akhirnya diputuskan bahwa tema Go Live! yang akan dibawakan adalah “Tips Belajar Bahasan dengan Mudah dan Menyenangkan”.  Mba Ika selaku kepala keluarga menawarkan siapa anggota keluarga yang percaya diri untuk Go Live! Saya menyanggupi untuk mempersiapkan jika yang dibagikan adalah pengalaman belajar bahasa asing. Dan anggota lain pun menyetujuinya. Maka, amanah saya saat ini, mempersiapkan untuk menjadi perwakilan keluarga dengan optimal.

Persiapan Go Live!

Diskusi kedua dilaksanakan keesokan harinya, hari Minggu jam 14.00 WIB. Mba Ika selaku kepala keluarga membagi tugas dengan apik. Mba Rita ditunjuk sebagai Koordinator Go Live! beliau mempersiapkan kisi-kisi bahasan selama penampilan sekitar tiga puluh menit tersebut, kemudian mba Ika melengkapinya dengan menambahkan estimasi waktu per bagian. Setelah disepakati alur bahasannya, dilengkapi dan diklasifikasikan data sumber referensi dan tips belajar bahasa oleh mba Sari, Kepala Keluarga pun mendaftar sesi Go Live! Dan saya agak curiga, jangan-jangan penampilan keluarga kami menjadi penampilan perdana, mengingat jam di jadwal yang terisi kesemuanya masih setelah jam yang kami ajukan. Dan benar saja, keluarga kami menjadi keluarga perdana yang berbagi.
e-flyer yang disiapkan tim Bunda Cekatan untuk seluruh peserta

Jadwal yang kami ajukan adalah Senin, 14.00 WIB atau jam 08.00 CET, ini sesuai dengan jadwal yang saya ajukan ke mba Ika selaku kepala keluarga. Karena di awal, jadwal Go Live! hanya sampai Rabu, 5 Februari 2020 saja. Koordinasi berjalan sangat baik, mba Sari mengklasifikasikan tips hasil gali ide sehingga lebih mudah terbaca. Mba Rita merapikan kembali alur bahasan yang perlu saya sampaikan saat sesi berbagi nanti. Anggota keluarga lain menawarkan bantuan dengan sigap. Saya sangat merasakan kesigapan, kehangatan  semangat berbagi dan melayani  yang tinggi antara satu sama lain. Senin selepas Shubuh, saya membuat mindmap alur bahasan untuk Go Live! sembari menunggu konfirmasi dari mba Ika Pratidina selaku Co-Fasil.

Mindmap untuk bekal Go Live! hasil dari diskusi keluarga Bahasa

Go Live! Keluarga Bahasa
Tiga puluh menit sebelum jam Go Live! saya berkoordinasi dengan mba Ika untuk persiapan teknis. InsyaAllah cukup saya pahami. Tepat jam 08.00 WIB saya memulai live di grup Bunda Cekatan. Lima menit berjalan, belum ada respon sama sekali. Saya mulai merasa janggal, siaran saya putuskan untuk dimatikan sementara. Terlebih keluarga Bahasa juga menyampaikan belum menyaksikan tayangan live saya di grup. Saya ulangi sekali lagi, hal yang sama terulang. Ada apakah ini? Apa yang perlu saya lakukan? Ibu kepala keluarga mengontak saya, kemudian kami diskusi via telefon WhatsApp, di saat bersamaan, mba Ika mengabarkan bahwa baru saja menjadikan saya sebagai admin grup. Aha! Solusi ditemukan. Ternyata tayangan saya tadi tidak bisa dilihat peserta lain karena saya live sebagai anggota, belum sebagai admin grup. Di sekitar menit kedua belas lepas dari jam delapan, saya bisa live mewakili keluarga Bahasa.
Sesi Go Live! yang disimak juga oleh Bu Septi

Alhamdulillah presentasi dan berbagi pengalaman tadi berjalan lancar. Semoga Allah limpahkan berkah dan manfaat bagi yang mempersiapkan, menyampaikan dan mendengarkan di sesi tadi. Seusai sesi Go Live! kami mengapresiasi kerja bersama yang sekeluarga jalankan. Juga ada beberapa anggota keluarga yang baru masuk. Kami pun melanjutkan diskusi seputar proses belajar bahasa yang sedang kami jalani masing-masing.


Tuesday, 28 January 2020

Berbagi Potluck Pengalaman dan Menelusuri Makanan yang telah Dicerna

Tantangan pekan ini sungguh mencengangkan! Kami perlu membuat audio atau video berbagi pengalaman sebagai potluck untuk teman-teman sesama peserta kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Aku Berbagi Pengalaman tentang ...

Apa yang saya bagikan?
Tentu sesuatu yang sudah saya jalankan. Beberapa tema sudah sempat saya tuliskan di kolom “Aku Tahu Tentang…” di jurnal pekan lalu. Namun potluck seperti apa dari pengalaman saya yang sekiranya bisa bermanfaat bagi teman-teman?
Awalnya saya ingin membuat video mengenai belajar bahasa Jerman untuk pemula. Namun saya urungkan. Saya mencari topik lain yang lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh teman-teman di samping saya juga bahagia membagikan pengalaman tersebut. Mengapa tidak saya ceritakan perjalanan proyek Ibu Profesional Diaspora, project yang saya canangkan sejak awal menginjakkan kaki di kota Wina, Austria sebagai bentuk komitmen akan tekad bersungguh-sungguh belajar selama membersamai suami studi lanjut di kota ini? Saya merasakan banyak pembelajaran yang Allah berikan selama 20 bulan proses belajar ini, dan tiga pembelajar utama yang saya rasakan sangat terasah adalah kemandirian keluarga, adaptif dan berani mencoba, serta menjaga fokus saya bagikan di video berdurasi sekitar tiga menit ini.


Maka lahirlah video ini, yang dibuat dalam perjalanan pulang usai dari Magistrat Abteilung 35 menemani suami mengurus perpanjangan izin tinggal dan ke Berangtunszentrum fuer Migranten untuk berkonsultasi.

Makananku Pekan Ini

Lalu, makanan apa yang saya pelajari sepekan ini?
Pertanyaan ini sungguh penting untuk menjaga fokus diri. Saya perlu menuliskan makanan apa saja yang saya dapatkan di hutan pengetahuan kemudian menarik benang merah kesesuaian antara makanan-makanan yang ada di hutan pengetahuan dengan peta belajar yang sudah saya buat. Jangan sampai, makanan-makanan yang saya cicipi tidak berkaitan dengan peta belajar saya. Bisa-bisa saya kekenyangan manyicipi aneka kudapan yang ada sedangkan makanan utama yang saya butuhkan belum sempat saya makan karena kehabisan waktu.
Maka, saya memilih untuk belum menjelajah hutan pengetahuan atau the jungle of knowledge. Bukan tidak mau, namun perlu saya tunda. Saya perlu memastikan makanan akan kebutuhan belajar saat ini terpenuhi terlebih dahulu baru kemudian jika nanti ada bonus waktu bisa saya gunakan untuk mencicipi potluck. Bismillah, berikut rekam jejak jelajah sepekan dalam mencari makanan utama :

  • Mengikuti Konversationsstunde di Perpustakaan Wieden.  


Di forum ini kami berdiskusi mengenai penggunaan alkohol dan regulasinya di kota Wina. Saya sekelompok dengan seorang mahasiswi Korea dan seorang dokter dari Amerika. Dari diskusi ini saya jadi mengetahui aneka minuman dengan prosentase alkohol yang berbeda-beda, reaksi badan saat mengkonsumsinya dan dampak negative bagi kesehatan pecandu alkohol. Saya juga mengajak teman-teman satu kelompok kursus untuk ikut forum diskusi ini, ada satu orang yang mendaftar dan kami bertemu di forum tersebut. Setelah forum ini, teman saya itu justru meminta untuk belajar bersama mempersiapkan diri menyambut kursus semester depan yang dimulai di bulan Maret esok.

  • Periksa ke Dokter dan Mencoba Rangkaian Cek Kesehatan. 


Selama 20 bulan tinggal di sini, saya belum pernah memeriksakan diri ke dokter. Berbekal bahasa Jerman yang dimiliki saat ini, saat saya merasa kurang fit, saya memberanikan diri untuk pergi ke dokter untuk memeriksakan diri sekaligus bertanya mengenai fasilitas Vorsorgeuntersuchung atau cek kesehatan. Benar saja, ada form berbahasa Jerman yang perlu saya isi sebelum menjalankan cek kesehatan. Proses pengisian form dan tanya jawab dengan dokter memperkaya kosakata bahasa Jerman dan keberanian saya daam praktik berkomunikasi.


  • Membacakan Anak-Anak Buku Berbahasa Jerman


Siapa anak-anak yang menolak untuk dibacakan buku? Sepertinya tidak ada ya. Yang ada anak-anak justru meminta dibacakan buku berulang kali. Dalam memenuhi kebutuhan belajar dan membaca buku, kami memanfaatkan fasilitas peminjaman buku dari perpustakaan pemerintah. Setiap pekan minimal satu kali, kami mengunjungi perpustakaan baik untuk mengikuti kegiatan maupun membaca kemudian meminjam buku. Saya dan anak-anak memiliki kartu perpustakaan masing-masing. Setiap pemegang kartu, memiliki kesempatan untuk meminjam 25 media yang disediakan perpustakaan baik itu buku, CD, DVD, majalah maupun lainnya. Pekan ini kami meminjam buku anak. Kartu perpustakaan anak-anak sampai penuh, yang artinya ada 50 buku anak milik perpustakaan di rumah. Konsekuensinya tentu anak-anak dibacakan beragam buku di rumah. Selain memenuhi kebutuhan belajar anak, sesi membacakan buku anak ini juga membantu saya menambah kosakata baru. Apalagi bahasa di buku anak-anak lebih sederhana, sesuai dengan tahap pembelajaran bahasa Jerman saya saat ini. Untuk menambah nilai pembelajaran, saya menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an atau Hadits yang sesuai sehingga fitrah keimanan pun turut terstimulasi dalam proses ini sekalipun buku Islam sangat minim keberadaannya di sini.

  • Berkomunikasi dengan Petugas Publik


Hari ini saya menemani suami mengurus perpanjangan izin tinggal. Suami selama ini belum bisa berbahasa Jerman. Beliau cukup berbahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari di kampus. Saya amati saat kita bisa menggunakan bahasa Jerman dalam berkomunikasi, orang sini akan lebih komunikatif dan kooperatif. Di sini saya kembali praktik. Saya mencoba sejak awal mengawali percakapan dengan bahasa Jerman dengan petugas. Karena mendapati sedikit tantangan, petugas menyarankan kami untuk ke Beratungszentrum fuer Migranten, lagi-lagi saya dihadapkan pada tantangan praktik berbahasa Jerman. Dan pengalaman memang guru terbaik. Sekalipun saya sering terbata-bata namun saya belajar banyak hal dari pengalaman praktik ini.

Nah, di bonus waktu malam hari ini saya mengalokasikan waktu untuk mencicipi beberapa potluck di hutan pengetahuan. Ada dua potluck yang saya cicipi yang keduanya berkaitan dengan bahasa. Yang pertama adalah dari mba Novida Fatma Dewita yang berbagi mengenai perlakuan yang tepat saat menemui anak yang menggunakan bahasa campur-campur. Kemudian satu lagi, potluck dari mba Rifni seputar tips belajar bahasa secara otodidak. Setelah mendengar tips dari beliau, saya semakin bersemangat untuk belajar bahasa Jerman dengan intensif.
Demikian potluck  yang saya bagikan ke hutan pengetahuan, daftar makanan saya pekan ini terkait peta belajar yang sudah saya buat dan potluck yang saya cicipi dari hutan pengetahuan kelas Bunda Cekatan. Tak ada tujuan lain selain mengharap ridhoNya. Semoga Allah senantiasa tuntun setiap proses ini hingga terliputi dengan keberkahan dariNya. Aamiin.

Wien, 28 Januari 2020



Tuesday, 21 January 2020

Saatnya Mencari Sumber Ilmu di Hutan Pengetahuan, Gunakan Petamu Agar Tak Tersesat!


Setelah berhasil mengidentifikasi kebutuhan belajar diri selama kurang lebih satu semester ke depan di tahap Telur, peserta kelas Bunda Cekatan beranjak ke tahap berikutnya yaitu tahap Ulat. Di tahap Ulat ini, peta belajar yang sudah dibentangkan di akhir tahap telur menjadi pijakan untuk mengerjakan tantangan pekan pertama. Apa sajakah tantangannya?
Pertama, menceritakan hasil belajar yang didapatkan selama sepekan ini  dan membagikannya sebagai potluck untuk teman-teman sesama peserta kelas Bunda Cekatan.
Proyek yang saya tuliskan di peta belajar adalah Mama lernt Deutsch. Proyek ini terinspirasi dari kelas bahasa Jerman yang sedang saya ikuti sejak setahun belakangan ini dimana para ibu bisa belajar bahasa Jerman dengan membawa anaknya yang masih kecil atau belum bersekolah dan menitipkannya di Kinderbetreuung sepanjang jam kursus berlangsung. Ada banyak lembaga kursus bahasa Jerman namun sangat sedikit yang menyediakan fasilitas Kids Corner  atau Kinderbetreuung.  Di lembaga kursus tempat saya belajar sekarang pun, dulu saat mendaftar saya tidak langsung diterima. Hasil tes penempatan level saya tidak mencukupi untuk bisa menjadi peserta kursus. Saya perlu belajar lagi dan mencoba tes kembali di semester berikutnya baru kemudian diterima.
Lembaga kursus ini mengadakan kursus bahasa Jerman intensif, empat kali per minggu, dengan durasi 3,5 jam setiap harinya dan pemberian pekerjaan rumah secara rutin. Materi disampaikan secara runut oleh guru yang sangat berkompeten. Tak hanya program belajar di kelas, tersedia pula program kunjungan ke ruang-ruang publik di kota Wina, menonton film bersama dan mendiskusinya ceritanya, mendatangkan narasumber dari suatu bidang untuk berbagi ilmu, sehingga kami tidak hanya mendapatkan materi bahasa Jerman namun juga keterampilan untuk mengakses fasilitas ruang publik dan memahami sistem yang berlaku di kota Wina.
Berawal dari lingkungan yang kondusif inilah saya merasa perlu mengoptimalkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Pun bahasa Jerman merupakan menu belajar yang penting dan mendesak untuk saat ini sehingga fokus belajar saya selama satu semester ini berfokus pada belajar bahasa Jerman dengan penuh kesungguhan yang teracik dalam proyek Mama lernt Deutch di peta belajar.
Tahap pertama yang perlu saya lakukan adalah membagikan sumber belajar yang saya pelajari di pekan ini. Ada dua potluck yang saya bagikan, yang pertama mengenai menetapkan fokus. Tema ini menjadi salah satu subtopik dalam peta belajar saya. Saya perlu fokus tinggi untuk menjalankan proyek yang sudah ditetapkan agar keseimbangan dalam menjalankan beragam peran pun bisa tetap terjaga.

Terkait praktik menetapkan dan menjaga fokus, saya menjalankan dengan berupaya melakukan manajemen waktu yang detail dan disiplin menaatinya. Jika saya disiplin dengan kandang waktu yang ditetapkan maka memudahkan saya beralih hari dengan target yang baru dan ini melegakan. Maka menerapkan komunikasi asertif agar aktivitas serondolan tidak mudah masuk juga menjadi sebuah keterampilan yang perlu saya kuasai.

Potluck kedua yang saya bagikan adalah sumber ilmu yang berkaitan langsung dengan proyek Mama lernt Deutsch. Dua website yang menjadi langganan untuk didatangi saat perlu berlatih soal (terutama saat menjelang tes kemarin).
Setelah menghidangkan potluck,  tugas berikutnya adalah mencari camilan di hutan belantara. Saya menyadari bahwa proyek saya cukup spesifik sehingga akan sangat jarang ditemui camilan yang sesuai. Namun setelah menyusuri satu demi satu potluck, saya tertarik dengan potluck dari mba Syifa Achyar yang berisi ulasan buku The Power of Planning yang ditulis oleh mba Karina Nurin. Setelah itu saya mulai mengisi kolom berikutnya.

Aku tahu tentang :
Saya mengisi kolom tersebut dengan ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari dan praktikkan seperti :
  • Bahasa Jerman level A1-A2 yang saya pelajari di lembaga kursus selama tahun 2019 lalu
  • Talents Mapping berbekal training TM Basic dan TM Dynamic yang sudah saya ikuti dan baca bukunya, juga pengalaman mengasesmen diri dan orang lain.
  • Makhorijul Huruf dari kelas Tahsin Rumah Tajwid Luar Negeri dan kelas Tahsin offline untuk pengajar TPA Masjid As-Salam WAPENA

Juga pelajaran yang saya ambil dari proses menjalankannya, antara lain :
  • Manajemen waktu ibu diaspora dengan tantangan uniknya
  • Mengelola TPA masjid Indonesia di kota Wina
  • Memilih dan mendaftarkan anak ke Sekolah Dasar (Volksschule) di kota Wina
  • Ragam aktivitas anak usia 0-6 tahun di kota Wina
  • Pengelolaan sampah di kota Wina

Sedangkan untuk kolom berikutnya,
Aku ingin tahu tentang :
Saya berfokus pada peta belajar dan proyek yang sudah saya tuliskan. Sehingga saya ingin mempelajari mengenai strategi totalitas dalam belajar bahasa Jerman terutama mengenai focus! act more! do it now! ontime!. Untuk poin utamanya, saya ingin belajar bahasa Jerman level B1 dan B2 juga lancar berkomunikasi  berbahasa Jerman.
Beberapa buku yang mayoritas meminjam dari perpustakaan untuk amunisi belajar bahasa Jerman

Pembuatan peta belajar sangat membantu diri untuk fokus dan menahan diri untuk menggelengkan kepala untuk menolak potluck yang menggiurkan namun belum menjadi prioritas saat ini. Sedangkan kolom-kolom yang disediakan untuk dituliskan jawabannya membantu diri untuk mengidentifikasi jejak belajar yang selama ini sudah dijalankan dan kebutuhan belajar yang mendukung tercapaikan proyek yang sudah dicanangkan di peta belajar.
Duhai diri yang sedang menjelma menjadi ulat pembelajar, makanlah sesuai kebutuhan, kunyah hingga lembut dan cerna hingga terpenuhi kebutuhan nutrisimu dengan optimal. Selamat bertumbuh!









Monday, 13 January 2020

Mama lernt Deutsch, Proyek Diri di Kelas Bunda Cekatan


Membuat sebuah peta belajar bukanlah sebuah hal mudah, namun bagi saya yang lebih tidak mudah adalah menentukan urutan prioritas tahap belajarnya. Menilik apa yang sudah saya jalankan di tahun-tahun kemarin, mudah bagi saya untuk membuat sebuah gambaran besar, namun saya kesulitan untuk membaginya dalam sebuah porsi-porsi kecil yang spesifik dan detail. Saya seringkali merasa semua hal penting dan semua hal harus dikerjakan segera sehingga berjalan multitasking dan mendapatkan hasil yang biasa saja atau tidak sampai tuntas banget.

Kali ini, di kelas Bunda Cekatan saya ingin mengerjakan hal penting dan mendesak untuk saat ini dengan detail dan penuh kesungguhan. Proyek yang saya jalankan adalah :



Atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya adalah ibu belajar bahasa Jerman.
Di tahun 2019 lalu, saya sudah menjalankan kursus selama dua semester, di level A1+ dan A2. Satu tahun berproses belajar bahasa membuat saya bahagia. Saya antusias setiap kali pergi ke Deutschkurs, mengerjakan tugas maupun bertemu materi yang belum saya pahami. Karena benefit  dari kepahaman berbahasa sangat saya rasakan, memudahkan dalam segala hal. Kefasihan berbahasa membuka peluang untuk menjalin jejaring pertemanan baru, mendapatkan pengalaman belajar yang belum pernah didapatkan sebelumnya hingga menaikkan level kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Di tahun ini saya perlu belajar bahasa Jerman hingga level B2. Dan untuk bisa sampai ke sana, bukahlah hal yang mudah untuk saya. Perlu ada tekad, dedikasi dan kegigihan.
Menilik kembali telur hijau, telur merah dan telur oranye yang sudah saya tetapkan, semua masih on track. Proyek Mama lernt Deutsch ini menjadi praktik penerapan ilmu-ilmu penting dan mendesak yang saat ini perlu saya kuasai dengan segera.
Berikut mindmap proyek saya :

InsyaAllah dengan peta belajar ini saya siap menjelajah ke hutan pengetahuan. J

Tuesday, 7 January 2020

Temukan Tujuan dan Cara Belajarmu, Belajarlah dengan Merdeka


Perjalanan penulisan jurnal telur oranye ini cukup panjang. Pertama, saya menyimak materi dan diskusi live bersama bu Septi dan mencatat beberapa poin penting. Kedua, saya tergelitik untuk menggali pemahaman mengenai ilmu dan keterampilan. Saya bertanya-tanya, mengapa ilmu-ilmu yang dibutuhkan (telur oranye), digali dari keterampilan – keterampilan (telur merah) yang ingin dikuasai? Bagaimana menentukan sesuatu sebagai keterampilan atau ilmu? Bukankah ilmu-ilmu yang saling berkaitan berkumpul dalam sebuah rumpun ilmu? Semisal saat kuliah S1 saya mengambil jurusan Teknologi Pangan, maka saya mempelajari ilmu Mikrobiologi, Bioteknologi, Kimia dan setiap ilmu tersebut ada spesifikasinya lagi seperti untuk Mikrobiologi ada mata kuliah Mikrobiologi Umum dan Mikrobiologi Pangan.
Lalu apa makna ilmu dan keterampilan di sini? Apakah sebuah ilmu itu memang merupakan bagian dari sebuah keterampilan? Pencarian makna ini berkutat di kepala selama beberapa hari. Di sini saya sedang mempelajari hal baru dalam sebuah pembelajaran baru. Maka pemaknaan yang digunakan bisa jadi berbeda dari makna yang sudah saya pahami sebelumnya. Perlu ada proses adaptasi dalam pola berpikir saya, maka saya menggali kembali, mencari pemaknaan di proses belajar kali ini. Pemaknaan ini bagi saya merupakan sebuah hal yang krusial, karena menjadi dasar daam sebuah alur berpikir. Maka merujuklah saya pada KBBI. Menurut KBBI, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan.
Definisi yang saya dapatkan di atas, nampaknya cukup dapat menjawab makna dan hubungan antara keterampilan dan ilmu di kelas bunda cekatan ini. Sebuah ilmu tentu bersinggungan dengan ilmu lainnya, pun memiliki turunan ilmu yang kompleks. Seorang yang terampil bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tertentu, namun ilmu-ilmu yang dimiliki dapat saling terintegrasi dan teraplikasikan dalam sebuah aksi nyata yang memukau. Artinya, saya sedang mendeteksi kebutuhan ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk dapat cakap menjalankan peran hidup diri saya.
Proses belajar secara merdeka sangat saya rasakan di sini. Saya tidak disuapi dengan materi-materi (outside in) namun diajak untuk mengenal diri dan menggali kebutuhan belajar diri, hingga diberi keleluasaan untuk meracik menu belajar ala diri sendiri. Bingung? Pasti. Bongkar pasang? Jelas. Trial Error? Tentu. Learning by doing. Proses ini mengasah kepekaan rasa dan membuat pembelajaran menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan bahagia dan mata berbinar, karena berasal dari kebutuhan diri. Dan sepertinya ini memang ciri khas pembelajaran ala Institut Ibu Profesional.
Pemahaman alur proses antara pembuatan telur hijau, telur merah dan telur oranye cukup jelas, dan saya menjadi merasa perlu menggali dan mendaftar keterampilan apa saja yang saya butuhkan juga ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan di setiap keterampilan baru kemudian membuat urutan berdasar skala prioritas. Ya, saya perlu membuat sebuah peta belajar untuk merekam jejak pembelajaran selama ini dan merencanakan menu belajar ke depan.
AHA! Membuat peta belajar adalah sebuah perjalanan panjang, bisa dicicil namun tak perlu segera tuntas sekarang. Mungkin perlahan akan saya buat, tapi tidak untuk memenuhi tugas telur oranye ini karena terlalu kompleks. Tak perlu terburu-buru, saya perlu lakukan setahap demi setahap. Dalam pekan ini saya perlu mengarahkan fokus pada tahap menemukan cara belajar. Saya membaca kembali jurnal yang saya kerjakan terkait aktivitas di telur hijau (disini) dan keterampilan di telur merah (disini).

Ilmu yang Berkaitan dengan Keterampilan Prioritas

Dari setiap lima telur hijau dan telur merah, ada satu yang berada di urutan paling prioritas. Yaitu yang terletak di ujung daun. Ya, aktivitas prioritas bagi saya adalah Home Education dan keterampilan yang berada di prioritas utama adalah manajemen pikiran (Mind Management). Ilmu-ilmu yang perlu saya kuasai dalam lima bulan berada di kelas Bunda Cekatan ini saya turunkan satu keterampilan terlebih dahulu, yaitu yang paling prioritas, manajemen pikiran. Berikut lima ilmu yang saya prioritaskan untuk dipelajari selama berada di kelas Bunda Cekatan.
Berikut penjabarannya :

Fokus

Ilmu fokus perlu saya pelajari karena saya menyadari bahwa saya masih sering terdistraksi oleh suatu hal yang tak menjadi prioritas saat itu. Saya perlu belajar strategi menjaga fokus untuk orang yang mudah hilang fokus, bagaimana cara meningkatkan fokus, dan cara menghindar dari godaan distraksi.

Prokrastinasi

Saat sedang mengerjakan sesuatu, merasa ada bahan referensi yang kurang, merasa perlu mencari tahu terlebih dahulu, merasa ada poin penting yang  terlupa. Padahal jadwal untuk mengumpulkan tugas adalah hari ini. Daripada kurang optimal, maka saya tunda pengerjaannya untuk bisa melengkapi hal yang kurang. Namun ternyata, saya tak cukup waktu untuk mengulik dalam hal tersebut saat ini. Ada yang merasakan pola serupa? Kita sama ya. Karenanya, saya merasa perlu mempelajari mengenai prokrastinasi. Apa penyebabnya (agar saya bisa lebih waspada), bagaimana cara pencegahannya, dan strategi untuk berhenti melakukan prokrastinasi atau penundaan. Saya perlu menguatkan prinsip, “Tuntaskan sekarang meski dirasa kurang sempurna. Kau masih punya kesempatan untuk terus memperbaikinya. Sekarang saatnya menyelesaikannya dan beralih mengerjakan tugas berikutnya.”

Cipta Positif

Saat setiap janjian dengan orang lain, kita selalu tepat waktu sedangkan yang lainnya tidak, apakah kita kesal? Alih-alh menggerutu, saya berlatih untuk menepuk pundak sendiri sembari berkata, “Gut gemacht, Mesa! Kamu sudah menjaga konsistensi untuk datang tepat waktu.”
Saat donat yang sedang digoreng menjadi coklat karena api agak besar dan sempat ditinggal karena membantu anak yang sedang di WC, saya merasa kesal. Namun si sulung datang dan berkata, “Donatnya kakak taburi gula ya Mi.” Dan ternyata saat dimakan, rasanya tidak pahit. Ternyata pikiran saya menuju ke arah negatif yang hanya kekhawatiran semata. Bukankah sebenarnya saya tidak perlu kesal, karena ternyata donatnya tetap layak dikonsumsi?
Saya perlu belajar bagaimana melatih diri untuk menjadi pribadi yang senantiasa berpikir positif? Apa penyebab datangnya pikiran negatif? Dimana saja bisa saya dapatkan atmosfer positif? Ini penting bagi saya. Bukankah laku dan ucap kita mencerminkan bagaimana pola pikir diri kita?

Batas Waktu (Cut off Time)

Yaaa…ngga sempat memasak, karena pengerjaan tugas yang saya estimasikan cukup dua jam ternyata perlu waktu empat jam.
Yaaa…telat masuk diskusi Bunda Cekatan, karena durasi beberes rumah ternyata perlu waktu tiga jam. Saya kira dua jam cukup.
Saya perlu mendalami ilmu seputar Cut off Time atau teknik menentukan batas waktu. Apakah durasi aktivitas yang saya jadwalkan sudah realistis? Bagaimana strategi mengatur kandang waktu agar sesuai antara jumlah pekerjaan dan alokasi waktu? Apakah perlu disediakan jeda waktu di setiap pergantian kandang waktu? Bagaimana bersikap tegas dan disiplin pada diri?

Berpikir Bertindak

Tak bisa saya pungkiri, bahwa di setiap amanah perlu alokasi waktu yang saya sediakan tidak hanya untuk bertindak (menulis jurnal, mengikuti perkuliahan, mengajar santri, datang ke Deutschkurs, mengerjakan PR) namun juga berpikir (merencanakan jadwal, merancang kegiatan, menemukan pola). Nah, seringkali ada ide-ide menarik yang terlintas, yang kemudian saya catat. Namun sebenarnya, alokasi waktu untuk mengerjakannya belum saya perhitungkan. Sehingga kemampuan dan kesempatan (alokasi tenaga dan waktu) tidak berbanding lurus dengan keinginan yang terpikirkan. Nah, saya perlu belajar untuk membedakan antara berpikir dan bertindak. Apa yang membedakan berpikir dan bertindak? Mana yang lebih penting, berpikir atau bertindak? Bagaimana mengeksekusi ide hingga tuntas sampai menjadi sebuah aksi?  


Tujuan Belajar

Apa alasan terkuat sehingga saya harus menguasai keterampilan manajemen pikiran?
Karena saya ingin bahagia dalam berproses. Mengatasi faktor penghambat, belajar dengan merdeka dan menemukan misi hidup.

Sumber Ilmu

Tuliskan berbagai sumber ilmu yang bisa saya pelajari untuk menata puzzle ilmu yang saya perlukan.
  • Mempelajari Al Qur’an dan Sunnah.
  • Mendatangi sumber ilmu (ulama dan guru).
  • Mengikuti seminar dan pelatihan.
  • Membaca kitab dan buku.
  • Bergabung dalam kelas belajar baik daring maupun luring.
  • Forum keluarga.


Cara Belajar

Bagaimana cara belajar yang “Mesa banget” sehingga mempercepat proses belajar saya?
Menuntut ilmu secara luring tentu lebih saya utamakan daripada daring. Mendatangi majelis ilmu secara langsung tentu juga merupakan sebuah upaya menjemput keberkahan. Cara belajar yang paling saya sukai adalah belajar intensif dengan guru secara privat atau kelompok kecil yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah. Dengan cara ini, saya bisa menyimak detail setiap materi yang disampaikan guru. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan feedback dari beliau, masukan mengenai pemahaman atau praktik yang saya jalankan setelah mendapatkan ilmu dari beliau tersebut, juga koreksi jika ada yang kurang tepat dan saran bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Saat ini proses belajar demikian berjalan di Deutschkurs (kursus bahasa) yang sedang saya ikuti.
Kalau cara diatas tidak bisa terpenuhi, maka tingkatan cara belajar kedua adalah dengan bertemu langsung dengan guru melalui seminar atau pelatihan. Saat mendatangi seminar dan pelatihan luring, saya merasakan hawa dan semangat belajar yang sangat kuat yang terpancar di dalam ruangan. Menyimak pemaparan narasumber dengan seksama, menghadirkan transfer energi yang nyata, terlebih jika kesempatan bertanya menghampiri. Jawaban yang narasumber sampaikan akan terpatri kuat di ingatan.
Karena saat ini sedang merantau, maka akses untuk mengikuti majelis ilmu secara luring dari para pakar Indonesia tentu terbatas. Teknologi menjawab keterbatasan ini, kesempatan belajar secara daring terbuka luas. Sekalipun daring tentu berbeda dan tidak seoptimal luring namun hal itu jauh lebih baik daripada tidak ada akses.
Untuk daring, saya menyukai cara belajar yang menghadirkan narasumber secara live, seperti cara belajar di kelas Bunda Cekatan saat ini. Memperhatikan gesture, mimik muka adalah hal penting bagi saya, karena dengan demikian saya mengetahui penekanan ada di bagian mana saja. Kesempatan mengajukan pertanyaan dan berdiskusi juga memancing saya untuk mengoptimalkan diri dalam menyerap dan mengolah informasi. Karena untuk bisa mengajukan pertanyaan yang berbobot dan aktif berdiskusi, saya perlu memiiki pemahaman yang baik akan materi tersebut.
Bagaimana jika menggunakan teks? Untuk belajar melalui teks, saya memilih untuk belajar melalui buku. Saat belajar melalui teks, saya membutuhkan informasi yang lengkap dan mendetail untuk mendapatkan ilmu yang utuh, tidak terpotong-potong.
Saat menyimak pemaparan dari guru, akan optimal bagi saya jika saya membuat catatan-catatan penting. Biasanya jika menyimak materi dan diskusi kelas Bunda Cekatan, HP saya gunakan untuk menyimak Facebook live sedangkan jemari saya mengetik di laptop atau menulis di buku catatan. Hal-hal yang terkait penggalian diri, misal bu Septi mencotohkan kebiasaan beliau mengikuti kuliah umum di UI, saat itu juga saya menuliskan pengalaman serupa supaya tidak terlupa seperti misalnya mengikuti workshop guru TK bersama Ayah Edy dengan membawa dua anak, mengikuti kuliah umum mahasiswa Psikologi Universitas Darul Ulum bertema Permainan juga bersama anak-anak. Kemudian saya juga mencatat praktik baik apa yang bisa langsung saya mulai begitu sesi belajar selesai.
Jika materi berlanjut dengan tugas,maka saya mencatat poin-poin penting yang harus saya kerjakan di buku catatan kecil, yang kemudian menjadi kata kunci untuk menemukan ide. Seperti misalnya di telur oranye ini, saya memikirkan perihal ilmu vs keterampilan. Setelah terjawab, beralih ke ilmu-ilmu mana saja yang diprioritaskan untuk dikuasai untuk keterampilan manajemen pikiran. Menggali-gali, tantangan apa saja yang sering saya temui? Apa pencetusnya? Bagaimana strategi ke depan?
Jika belajar dengan cara membaca buku, biasanya saya menyiapkan post it (jika bukunya pinjam dari perpustakaan atau teman) atau spidol warna untuk menandai bagian penting. Kemudian menyalin poin-poin itu ke buku yang saya beri judul jurnal belajar dengan bahasa sendiri. Pada intinya saya perlu mengulang-ulang materi yang sudah tersampaikan untuk semakin meningkatkan pemahaman akan materi tersebut.

Demikian releksi diri saya mengenai cara belajar di telur oranye ini. Semoga Alah tuntun senantiasa pada pemahaman yan benar dan lurus. Aamiin…

Wina, 7 Januari 2020