Tuesday, 21 January 2020

Saatnya Mencari Sumber Ilmu di Hutan Pengetahuan, Gunakan Petamu Agar Tak Tersesat!


Setelah berhasil mengidentifikasi kebutuhan belajar diri selama kurang lebih satu semester ke depan di tahap Telur, peserta kelas Bunda Cekatan beranjak ke tahap berikutnya yaitu tahap Ulat. Di tahap Ulat ini, peta belajar yang sudah dibentangkan di akhir tahap telur menjadi pijakan untuk mengerjakan tantangan pekan pertama. Apa sajakah tantangannya?
Pertama, menceritakan hasil belajar yang didapatkan selama sepekan ini  dan membagikannya sebagai potluck untuk teman-teman sesama peserta kelas Bunda Cekatan.
Proyek yang saya tuliskan di peta belajar adalah Mama lernt Deutsch. Proyek ini terinspirasi dari kelas bahasa Jerman yang sedang saya ikuti sejak setahun belakangan ini dimana para ibu bisa belajar bahasa Jerman dengan membawa anaknya yang masih kecil atau belum bersekolah dan menitipkannya di Kinderbetreuung sepanjang jam kursus berlangsung. Ada banyak lembaga kursus bahasa Jerman namun sangat sedikit yang menyediakan fasilitas Kids Corner  atau Kinderbetreuung.  Di lembaga kursus tempat saya belajar sekarang pun, dulu saat mendaftar saya tidak langsung diterima. Hasil tes penempatan level saya tidak mencukupi untuk bisa menjadi peserta kursus. Saya perlu belajar lagi dan mencoba tes kembali di semester berikutnya baru kemudian diterima.
Lembaga kursus ini mengadakan kursus bahasa Jerman intensif, empat kali per minggu, dengan durasi 3,5 jam setiap harinya dan pemberian pekerjaan rumah secara rutin. Materi disampaikan secara runut oleh guru yang sangat berkompeten. Tak hanya program belajar di kelas, tersedia pula program kunjungan ke ruang-ruang publik di kota Wina, menonton film bersama dan mendiskusinya ceritanya, mendatangkan narasumber dari suatu bidang untuk berbagi ilmu, sehingga kami tidak hanya mendapatkan materi bahasa Jerman namun juga keterampilan untuk mengakses fasilitas ruang publik dan memahami sistem yang berlaku di kota Wina.
Berawal dari lingkungan yang kondusif inilah saya merasa perlu mengoptimalkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Pun bahasa Jerman merupakan menu belajar yang penting dan mendesak untuk saat ini sehingga fokus belajar saya selama satu semester ini berfokus pada belajar bahasa Jerman dengan penuh kesungguhan yang teracik dalam proyek Mama lernt Deutch di peta belajar.
Tahap pertama yang perlu saya lakukan adalah membagikan sumber belajar yang saya pelajari di pekan ini. Ada dua potluck yang saya bagikan, yang pertama mengenai menetapkan fokus. Tema ini menjadi salah satu subtopik dalam peta belajar saya. Saya perlu fokus tinggi untuk menjalankan proyek yang sudah ditetapkan agar keseimbangan dalam menjalankan beragam peran pun bisa tetap terjaga.

Terkait praktik menetapkan dan menjaga fokus, saya menjalankan dengan berupaya melakukan manajemen waktu yang detail dan disiplin menaatinya. Jika saya disiplin dengan kandang waktu yang ditetapkan maka memudahkan saya beralih hari dengan target yang baru dan ini melegakan. Maka menerapkan komunikasi asertif agar aktivitas serondolan tidak mudah masuk juga menjadi sebuah keterampilan yang perlu saya kuasai.

Potluck kedua yang saya bagikan adalah sumber ilmu yang berkaitan langsung dengan proyek Mama lernt Deutsch. Dua website yang menjadi langganan untuk didatangi saat perlu berlatih soal (terutama saat menjelang tes kemarin).
Setelah menghidangkan potluck,  tugas berikutnya adalah mencari camilan di hutan belantara. Saya menyadari bahwa proyek saya cukup spesifik sehingga akan sangat jarang ditemui camilan yang sesuai. Namun setelah menyusuri satu demi satu potluck, saya tertarik dengan potluck dari mba Syifa Achyar yang berisi ulasan buku The Power of Planning yang ditulis oleh mba Karina Nurin. Setelah itu saya mulai mengisi kolom berikutnya.

Aku tahu tentang :
Saya mengisi kolom tersebut dengan ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari dan praktikkan seperti :
  • Bahasa Jerman level A1-A2 yang saya pelajari di lembaga kursus selama tahun 2019 lalu
  • Talents Mapping berbekal training TM Basic dan TM Dynamic yang sudah saya ikuti dan baca bukunya, juga pengalaman mengasesmen diri dan orang lain.
  • Makhorijul Huruf dari kelas Tahsin Rumah Tajwid Luar Negeri dan kelas Tahsin offline untuk pengajar TPA Masjid As-Salam WAPENA

Juga pelajaran yang saya ambil dari proses menjalankannya, antara lain :
  • Manajemen waktu ibu diaspora dengan tantangan uniknya
  • Mengelola TPA masjid Indonesia di kota Wina
  • Memilih dan mendaftarkan anak ke Sekolah Dasar (Volksschule) di kota Wina
  • Ragam aktivitas anak usia 0-6 tahun di kota Wina
  • Pengelolaan sampah di kota Wina

Sedangkan untuk kolom berikutnya,
Aku ingin tahu tentang :
Saya berfokus pada peta belajar dan proyek yang sudah saya tuliskan. Sehingga saya ingin mempelajari mengenai strategi totalitas dalam belajar bahasa Jerman terutama mengenai focus! act more! do it now! ontime!. Untuk poin utamanya, saya ingin belajar bahasa Jerman level B1 dan B2 juga lancar berkomunikasi  berbahasa Jerman.
Beberapa buku yang mayoritas meminjam dari perpustakaan untuk amunisi belajar bahasa Jerman

Pembuatan peta belajar sangat membantu diri untuk fokus dan menahan diri untuk menggelengkan kepala untuk menolak potluck yang menggiurkan namun belum menjadi prioritas saat ini. Sedangkan kolom-kolom yang disediakan untuk dituliskan jawabannya membantu diri untuk mengidentifikasi jejak belajar yang selama ini sudah dijalankan dan kebutuhan belajar yang mendukung tercapaikan proyek yang sudah dicanangkan di peta belajar.
Duhai diri yang sedang menjelma menjadi ulat pembelajar, makanlah sesuai kebutuhan, kunyah hingga lembut dan cerna hingga terpenuhi kebutuhan nutrisimu dengan optimal. Selamat bertumbuh!









Monday, 13 January 2020

Mama lernt Deutsch, Proyek Diri di Kelas Bunda Cekatan


Membuat sebuah peta belajar bukanlah sebuah hal mudah, namun bagi saya yang lebih tidak mudah adalah menentukan urutan prioritas tahap belajarnya. Menilik apa yang sudah saya jalankan di tahun-tahun kemarin, mudah bagi saya untuk membuat sebuah gambaran besar, namun saya kesulitan untuk membaginya dalam sebuah porsi-porsi kecil yang spesifik dan detail. Saya seringkali merasa semua hal penting dan semua hal harus dikerjakan segera sehingga berjalan multitasking dan mendapatkan hasil yang biasa saja atau tidak sampai tuntas banget.

Kali ini, di kelas Bunda Cekatan saya ingin mengerjakan hal penting dan mendesak untuk saat ini dengan detail dan penuh kesungguhan. Proyek yang saya jalankan adalah :



Atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya adalah ibu belajar bahasa Jerman.
Di tahun 2019 lalu, saya sudah menjalankan kursus selama dua semester, di level A1+ dan A2. Satu tahun berproses belajar bahasa membuat saya bahagia. Saya antusias setiap kali pergi ke Deutschkurs, mengerjakan tugas maupun bertemu materi yang belum saya pahami. Karena benefit  dari kepahaman berbahasa sangat saya rasakan, memudahkan dalam segala hal. Kefasihan berbahasa membuka peluang untuk menjalin jejaring pertemanan baru, mendapatkan pengalaman belajar yang belum pernah didapatkan sebelumnya hingga menaikkan level kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Di tahun ini saya perlu belajar bahasa Jerman hingga level B2. Dan untuk bisa sampai ke sana, bukahlah hal yang mudah untuk saya. Perlu ada tekad, dedikasi dan kegigihan.
Menilik kembali telur hijau, telur merah dan telur oranye yang sudah saya tetapkan, semua masih on track. Proyek Mama lernt Deutsch ini menjadi praktik penerapan ilmu-ilmu penting dan mendesak yang saat ini perlu saya kuasai dengan segera.
Berikut mindmap proyek saya :

InsyaAllah dengan peta belajar ini saya siap menjelajah ke hutan pengetahuan. J

Tuesday, 7 January 2020

Temukan Tujuan dan Cara Belajarmu, Belajarlah dengan Merdeka


Perjalanan penulisan jurnal telur oranye ini cukup panjang. Pertama, saya menyimak materi dan diskusi live bersama bu Septi dan mencatat beberapa poin penting. Kedua, saya tergelitik untuk menggali pemahaman mengenai ilmu dan keterampilan. Saya bertanya-tanya, mengapa ilmu-ilmu yang dibutuhkan (telur oranye), digali dari keterampilan – keterampilan (telur merah) yang ingin dikuasai? Bagaimana menentukan sesuatu sebagai keterampilan atau ilmu? Bukankah ilmu-ilmu yang saling berkaitan berkumpul dalam sebuah rumpun ilmu? Semisal saat kuliah S1 saya mengambil jurusan Teknologi Pangan, maka saya mempelajari ilmu Mikrobiologi, Bioteknologi, Kimia dan setiap ilmu tersebut ada spesifikasinya lagi seperti untuk Mikrobiologi ada mata kuliah Mikrobiologi Umum dan Mikrobiologi Pangan.
Lalu apa makna ilmu dan keterampilan di sini? Apakah sebuah ilmu itu memang merupakan bagian dari sebuah keterampilan? Pencarian makna ini berkutat di kepala selama beberapa hari. Di sini saya sedang mempelajari hal baru dalam sebuah pembelajaran baru. Maka pemaknaan yang digunakan bisa jadi berbeda dari makna yang sudah saya pahami sebelumnya. Perlu ada proses adaptasi dalam pola berpikir saya, maka saya menggali kembali, mencari pemaknaan di proses belajar kali ini. Pemaknaan ini bagi saya merupakan sebuah hal yang krusial, karena menjadi dasar daam sebuah alur berpikir. Maka merujuklah saya pada KBBI. Menurut KBBI, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan.
Definisi yang saya dapatkan di atas, nampaknya cukup dapat menjawab makna dan hubungan antara keterampilan dan ilmu di kelas bunda cekatan ini. Sebuah ilmu tentu bersinggungan dengan ilmu lainnya, pun memiliki turunan ilmu yang kompleks. Seorang yang terampil bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tertentu, namun ilmu-ilmu yang dimiliki dapat saling terintegrasi dan teraplikasikan dalam sebuah aksi nyata yang memukau. Artinya, saya sedang mendeteksi kebutuhan ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk dapat cakap menjalankan peran hidup diri saya.
Proses belajar secara merdeka sangat saya rasakan di sini. Saya tidak disuapi dengan materi-materi (outside in) namun diajak untuk mengenal diri dan menggali kebutuhan belajar diri, hingga diberi keleluasaan untuk meracik menu belajar ala diri sendiri. Bingung? Pasti. Bongkar pasang? Jelas. Trial Error? Tentu. Learning by doing. Proses ini mengasah kepekaan rasa dan membuat pembelajaran menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan bahagia dan mata berbinar, karena berasal dari kebutuhan diri. Dan sepertinya ini memang ciri khas pembelajaran ala Institut Ibu Profesional.
Pemahaman alur proses antara pembuatan telur hijau, telur merah dan telur oranye cukup jelas, dan saya menjadi merasa perlu menggali dan mendaftar keterampilan apa saja yang saya butuhkan juga ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan di setiap keterampilan baru kemudian membuat urutan berdasar skala prioritas. Ya, saya perlu membuat sebuah peta belajar untuk merekam jejak pembelajaran selama ini dan merencanakan menu belajar ke depan.
AHA! Membuat peta belajar adalah sebuah perjalanan panjang, bisa dicicil namun tak perlu segera tuntas sekarang. Mungkin perlahan akan saya buat, tapi tidak untuk memenuhi tugas telur oranye ini karena terlalu kompleks. Tak perlu terburu-buru, saya perlu lakukan setahap demi setahap. Dalam pekan ini saya perlu mengarahkan fokus pada tahap menemukan cara belajar. Saya membaca kembali jurnal yang saya kerjakan terkait aktivitas di telur hijau (disini) dan keterampilan di telur merah (disini).

Ilmu yang Berkaitan dengan Keterampilan Prioritas

Dari setiap lima telur hijau dan telur merah, ada satu yang berada di urutan paling prioritas. Yaitu yang terletak di ujung daun. Ya, aktivitas prioritas bagi saya adalah Home Education dan keterampilan yang berada di prioritas utama adalah manajemen pikiran (Mind Management). Ilmu-ilmu yang perlu saya kuasai dalam lima bulan berada di kelas Bunda Cekatan ini saya turunkan satu keterampilan terlebih dahulu, yaitu yang paling prioritas, manajemen pikiran. Berikut lima ilmu yang saya prioritaskan untuk dipelajari selama berada di kelas Bunda Cekatan.
Berikut penjabarannya :

Fokus

Ilmu fokus perlu saya pelajari karena saya menyadari bahwa saya masih sering terdistraksi oleh suatu hal yang tak menjadi prioritas saat itu. Saya perlu belajar strategi menjaga fokus untuk orang yang mudah hilang fokus, bagaimana cara meningkatkan fokus, dan cara menghindar dari godaan distraksi.

Prokrastinasi

Saat sedang mengerjakan sesuatu, merasa ada bahan referensi yang kurang, merasa perlu mencari tahu terlebih dahulu, merasa ada poin penting yang  terlupa. Padahal jadwal untuk mengumpulkan tugas adalah hari ini. Daripada kurang optimal, maka saya tunda pengerjaannya untuk bisa melengkapi hal yang kurang. Namun ternyata, saya tak cukup waktu untuk mengulik dalam hal tersebut saat ini. Ada yang merasakan pola serupa? Kita sama ya. Karenanya, saya merasa perlu mempelajari mengenai prokrastinasi. Apa penyebabnya (agar saya bisa lebih waspada), bagaimana cara pencegahannya, dan strategi untuk berhenti melakukan prokrastinasi atau penundaan. Saya perlu menguatkan prinsip, “Tuntaskan sekarang meski dirasa kurang sempurna. Kau masih punya kesempatan untuk terus memperbaikinya. Sekarang saatnya menyelesaikannya dan beralih mengerjakan tugas berikutnya.”

Cipta Positif

Saat setiap janjian dengan orang lain, kita selalu tepat waktu sedangkan yang lainnya tidak, apakah kita kesal? Alih-alh menggerutu, saya berlatih untuk menepuk pundak sendiri sembari berkata, “Gut gemacht, Mesa! Kamu sudah menjaga konsistensi untuk datang tepat waktu.”
Saat donat yang sedang digoreng menjadi coklat karena api agak besar dan sempat ditinggal karena membantu anak yang sedang di WC, saya merasa kesal. Namun si sulung datang dan berkata, “Donatnya kakak taburi gula ya Mi.” Dan ternyata saat dimakan, rasanya tidak pahit. Ternyata pikiran saya menuju ke arah negatif yang hanya kekhawatiran semata. Bukankah sebenarnya saya tidak perlu kesal, karena ternyata donatnya tetap layak dikonsumsi?
Saya perlu belajar bagaimana melatih diri untuk menjadi pribadi yang senantiasa berpikir positif? Apa penyebab datangnya pikiran negatif? Dimana saja bisa saya dapatkan atmosfer positif? Ini penting bagi saya. Bukankah laku dan ucap kita mencerminkan bagaimana pola pikir diri kita?

Batas Waktu (Cut off Time)

Yaaa…ngga sempat memasak, karena pengerjaan tugas yang saya estimasikan cukup dua jam ternyata perlu waktu empat jam.
Yaaa…telat masuk diskusi Bunda Cekatan, karena durasi beberes rumah ternyata perlu waktu tiga jam. Saya kira dua jam cukup.
Saya perlu mendalami ilmu seputar Cut off Time atau teknik menentukan batas waktu. Apakah durasi aktivitas yang saya jadwalkan sudah realistis? Bagaimana strategi mengatur kandang waktu agar sesuai antara jumlah pekerjaan dan alokasi waktu? Apakah perlu disediakan jeda waktu di setiap pergantian kandang waktu? Bagaimana bersikap tegas dan disiplin pada diri?

Berpikir Bertindak

Tak bisa saya pungkiri, bahwa di setiap amanah perlu alokasi waktu yang saya sediakan tidak hanya untuk bertindak (menulis jurnal, mengikuti perkuliahan, mengajar santri, datang ke Deutschkurs, mengerjakan PR) namun juga berpikir (merencanakan jadwal, merancang kegiatan, menemukan pola). Nah, seringkali ada ide-ide menarik yang terlintas, yang kemudian saya catat. Namun sebenarnya, alokasi waktu untuk mengerjakannya belum saya perhitungkan. Sehingga kemampuan dan kesempatan (alokasi tenaga dan waktu) tidak berbanding lurus dengan keinginan yang terpikirkan. Nah, saya perlu belajar untuk membedakan antara berpikir dan bertindak. Apa yang membedakan berpikir dan bertindak? Mana yang lebih penting, berpikir atau bertindak? Bagaimana mengeksekusi ide hingga tuntas sampai menjadi sebuah aksi?  


Tujuan Belajar

Apa alasan terkuat sehingga saya harus menguasai keterampilan manajemen pikiran?
Karena saya ingin bahagia dalam berproses. Mengatasi faktor penghambat, belajar dengan merdeka dan menemukan misi hidup.

Sumber Ilmu

Tuliskan berbagai sumber ilmu yang bisa saya pelajari untuk menata puzzle ilmu yang saya perlukan.
  • Mempelajari Al Qur’an dan Sunnah.
  • Mendatangi sumber ilmu (ulama dan guru).
  • Mengikuti seminar dan pelatihan.
  • Membaca kitab dan buku.
  • Bergabung dalam kelas belajar baik daring maupun luring.
  • Forum keluarga.


Cara Belajar

Bagaimana cara belajar yang “Mesa banget” sehingga mempercepat proses belajar saya?
Menuntut ilmu secara luring tentu lebih saya utamakan daripada daring. Mendatangi majelis ilmu secara langsung tentu juga merupakan sebuah upaya menjemput keberkahan. Cara belajar yang paling saya sukai adalah belajar intensif dengan guru secara privat atau kelompok kecil yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah. Dengan cara ini, saya bisa menyimak detail setiap materi yang disampaikan guru. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan feedback dari beliau, masukan mengenai pemahaman atau praktik yang saya jalankan setelah mendapatkan ilmu dari beliau tersebut, juga koreksi jika ada yang kurang tepat dan saran bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Saat ini proses belajar demikian berjalan di Deutschkurs (kursus bahasa) yang sedang saya ikuti.
Kalau cara diatas tidak bisa terpenuhi, maka tingkatan cara belajar kedua adalah dengan bertemu langsung dengan guru melalui seminar atau pelatihan. Saat mendatangi seminar dan pelatihan luring, saya merasakan hawa dan semangat belajar yang sangat kuat yang terpancar di dalam ruangan. Menyimak pemaparan narasumber dengan seksama, menghadirkan transfer energi yang nyata, terlebih jika kesempatan bertanya menghampiri. Jawaban yang narasumber sampaikan akan terpatri kuat di ingatan.
Karena saat ini sedang merantau, maka akses untuk mengikuti majelis ilmu secara luring dari para pakar Indonesia tentu terbatas. Teknologi menjawab keterbatasan ini, kesempatan belajar secara daring terbuka luas. Sekalipun daring tentu berbeda dan tidak seoptimal luring namun hal itu jauh lebih baik daripada tidak ada akses.
Untuk daring, saya menyukai cara belajar yang menghadirkan narasumber secara live, seperti cara belajar di kelas Bunda Cekatan saat ini. Memperhatikan gesture, mimik muka adalah hal penting bagi saya, karena dengan demikian saya mengetahui penekanan ada di bagian mana saja. Kesempatan mengajukan pertanyaan dan berdiskusi juga memancing saya untuk mengoptimalkan diri dalam menyerap dan mengolah informasi. Karena untuk bisa mengajukan pertanyaan yang berbobot dan aktif berdiskusi, saya perlu memiiki pemahaman yang baik akan materi tersebut.
Bagaimana jika menggunakan teks? Untuk belajar melalui teks, saya memilih untuk belajar melalui buku. Saat belajar melalui teks, saya membutuhkan informasi yang lengkap dan mendetail untuk mendapatkan ilmu yang utuh, tidak terpotong-potong.
Saat menyimak pemaparan dari guru, akan optimal bagi saya jika saya membuat catatan-catatan penting. Biasanya jika menyimak materi dan diskusi kelas Bunda Cekatan, HP saya gunakan untuk menyimak Facebook live sedangkan jemari saya mengetik di laptop atau menulis di buku catatan. Hal-hal yang terkait penggalian diri, misal bu Septi mencotohkan kebiasaan beliau mengikuti kuliah umum di UI, saat itu juga saya menuliskan pengalaman serupa supaya tidak terlupa seperti misalnya mengikuti workshop guru TK bersama Ayah Edy dengan membawa dua anak, mengikuti kuliah umum mahasiswa Psikologi Universitas Darul Ulum bertema Permainan juga bersama anak-anak. Kemudian saya juga mencatat praktik baik apa yang bisa langsung saya mulai begitu sesi belajar selesai.
Jika materi berlanjut dengan tugas,maka saya mencatat poin-poin penting yang harus saya kerjakan di buku catatan kecil, yang kemudian menjadi kata kunci untuk menemukan ide. Seperti misalnya di telur oranye ini, saya memikirkan perihal ilmu vs keterampilan. Setelah terjawab, beralih ke ilmu-ilmu mana saja yang diprioritaskan untuk dikuasai untuk keterampilan manajemen pikiran. Menggali-gali, tantangan apa saja yang sering saya temui? Apa pencetusnya? Bagaimana strategi ke depan?
Jika belajar dengan cara membaca buku, biasanya saya menyiapkan post it (jika bukunya pinjam dari perpustakaan atau teman) atau spidol warna untuk menandai bagian penting. Kemudian menyalin poin-poin itu ke buku yang saya beri judul jurnal belajar dengan bahasa sendiri. Pada intinya saya perlu mengulang-ulang materi yang sudah tersampaikan untuk semakin meningkatkan pemahaman akan materi tersebut.

Demikian releksi diri saya mengenai cara belajar di telur oranye ini. Semoga Alah tuntun senantiasa pada pemahaman yan benar dan lurus. Aamiin…

Wina, 7 Januari 2020



Wednesday, 1 January 2020

Family Strategic Planning ala Griya Riset Hometeam



Family Strategic Planning yang kami jalankan dimulai dari diri saya secara pribadi. Bakat discipline dan futuristic dalam diri, membuat saya rutin membuat rencana tahunan, bulanan, pekanan hingga harian. Namun jangan dikira praktiknya berjalan mulus. Target digeser ke hari berikutnya karena belum tercapai di hari tersebut, sering terjadi. Target yang tidak berjalan sama sekali pun ada, karena ternyata target tersebut tidak menjadi prioritas selama setahun lalu. Namun bagi saya yang mudah terdistraksi, membuat rencana aktivitas dan target capaian sangat membantu diri untuk fokus pada target yang sudah direncanakan.
Sejujurnya, FSP ini sudah saya gaungkan ke suami dan anak-anak sejak pergantian tahun baru Hijriyah. Namun ternyata kami belum memiliki cukup energi dan alokasi waktu untuk benar-benar membahasnya secara mendalam. Perlu ada waktu jeda dari aktivitas rutin yang tak cukup beberapa jam saja. Dan kesempatan itu baru ada di pekan libur pergantian tahun ini. Si sulung libur sekolah selama dua pekan, kursus bahasa Jerman yang saya jalani pun sedang jeda hingga Februari, aktivitas di komunitas dan kelas belajar yang saya jalani libur selama kurang lebih sepekan. Suami bisa mengalokasikan waktu dua hari tanpa memegang pekerjaan. FSP keluarga kami pun bisa dimulai.

Bagaimana teknisnya?
Sebenarnya materi Family Branding yang kami dapatkan di Mini Perak tahun 2016 lalu cukup menuntun kami dalam hal teknis. Rangkuman materinya bisa disimak di sini. Saya memulainya dengan membuat Mastermind diri sendiri terlebih dahulu, yang mencakup :
Apa yang sudah tercapai di tahun 2019?
Apa yang belum tercapai di tahun 2019?
Apa yang tidak tercapai di tahun 2019?
Secara garis besar, aktivitas saya sepanjang 2019 didominasi oleh kebutuhan belajar bahasa Jerman baik melalui kursus intensif maupun aktif mengikuti kegiatan-kegiatan baik untuk dewasa maupun anak-anak. Selain itu, berkomunitas baik secara luring maupun daring di Taman Pendidikan Al Qur’an Masji As-Salam WAPENA maupun di komunitas Ibu Profesional Non Asia. Dua kegiatan ini mengambil porsi dominan selama tahun 2019.
Terkait menulis, alhamdulillah bersama teman-teman komunitas saya berkontribusi di enam buku antologi bertema pendidikan keluarga dan manajemen rumah tangga.
Untuk mengawali, saya menyampaikan apa yang sudah saya tulis mengenai tiga poin tersebut ke suami dan anak-anak. Suami menanggapi, memberikan masukan juga kritik yang membangun. Oh iya, selama kami menjalani FSP ini, kami meliburkan diri dari aktivitas lain, termasuk tugas domestik. Kami sepakati untuk membiarkan rumah berantakan sementara waktu, makan di tempat makan (tak jauh-jauh dari biasanya, stand kebab dan sejenisnya :D) dan mencari suasana baru di luar rumah. Bagi kami, FSP merupakan bahasan yang cukup sensitif, perlu pikiran yang jernih dan hati terbuka juga kestabilan emosi. Dan kesepakatan diatas merupakan upaya untuk mencapai kondisi tersebut.

Saat giliran suami, beliau mengutarakan dua hal saja. Singkat dan padat. Saya yang menuliskan detailnya. Kami saling menggali, dukungan apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai target masing-masing? Bagaimana bentuk kolaborasi satu dengan yang lain? Dan seterusnya.
FSP kami tutup dengan yel-yel sederhana namun penuh semangat,
FSP Griya Riset 2020, SUKSES!


 Semoga Allah mudahkan dan senantiasa tuntun langkah bersama ini. Aamiin.






Monday, 23 December 2019

Meningkatkan Indeks Kebahagiaan dengan Mengasah Keterampilan Diri


Materi kedua di kelas Bunda Cekatan ini menjadi salah satu jawaban atas gejolak yang sempat saya rasakan. Menjadi seorang ibu merupakan peran yang diambil secara sadar oleh seorang perempuan, yang membuatnya berkesempatan menjadi madrasah pertama dan utama untuk anak-anaknya. Sebuah peran istimewa yang berpotensi membuka ragam jalan kebajikan untuk dirinya. Lalu, apakah karena peran mulia tersebut, adalah wajar jika seorang ibu mengorbankan kebahagiaannya? Namun jika tidak, bagaimana beliau bisa menjalankan beragam peran diri beriringan dengan menjalankan aktivitas yang beliau suka dan bisa?
Kata kuncinya adalah,
Temukan aktivitas suka dan bahagia, kemudian asah keterampilan sehingga indeks kebahagiaan akan naik.
Mengasah keterampilan di sini, bukan hanya keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas di ranah bisa dan suka. Namun juga keterampilan menyelesaikan faktor tambahan yang berpotensi mengganggu keseimbangan peran dan kebahagiaan dalam mengerjakan aktivitas bisa dan suka.
Mengapa perlu mengasah keterampilan?
Karena keterampilan akan meningkatkan kompetensi seorang ibu, termasuk dalam hal mengatasi konflik antara aktivitas yang ibu suka dan bisa dengan kondisi yang harus dihadapi. Ibu terampil juga akan menghadirkan kebahagiaan bagi diri dan para customer utama.
Berpijak pada lima aktivitas suka dan bisa yang pekan lalu saya temukan, saya membuat kuadran keterampilan sebagai berikut :


Keterampilan di kuadran penting dan mendesak juga penting dan tidak mendesak dirumuskan dengan mengacu pada lima aktivitas suka dan bisa di telur hijau yang sudah ada di tulisan sebelumnya. Sedangkan keterampilan di kuadran tidak penting dan mendesak merupakan keterampilan yang perlu saya kuasai sebagai faktor pendukung sehingga saya memiliki alokasi waktu untuk semakin mengasah keterampilan penting dan mendesak. Bagaimana di kuadran tidak penting dan tidak mendesak? Bagi saya, keterampilan di kuadran tidak penting dan tidak mendesak adalah keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas di kuadran tidak suka dan tidak bisa. Saya tidak perlu mengasah keterampilan untuk aktivitas di kuadran tersebut namun saya perlu menguatkan diri untuk terampil menahan diri saat melihat sebuah peluang belajar. Bagi orang lain mungkin mudah,namun bagi saya yang memiliki kombinasi kekuatan diri empathy, maximizer dan significance, ingin rasanya tak membiarkan kesempatan berlalu begitu saja. Padahal kemudian saat saya mengambilnya, saya belum memiliki keterampilan manajemen pikiran dan alokasi waktu pengerjaan yang cukup memadai, sehingga terjadi ketidakseimbangan peran. Apakah hal itu pernah terjadi? Pernah, dan memang ketidakseimbangan itu tidak sehat. Tidak apa-apa, sebuah pengalaman yang sangat berharga. Untuk menjaga keseimbangan ini, saya meminta bantuan suami yang memiliki kekuatan focus untuk senantiasa mengingatkan.
Setelah menimbang dan memilah, saya menemukan lima keterampilan yang penting dan mendesak untuk segera saya latihkan pada diri saya sehingga meningkatkan kompetensi diri dalam menjalankan aktivitas bisa suka. Kelima keterampilan yang saya letakkan di telur merah yaitu :




Berikut penjelasan setiap keterampilannya :

Manajemen Pikiran
Saya berada di era keramaian, masa yang penuh dengan distraksi. Distraksi berdatangan tanpa jeda dan tanpa diminta, bahkan saya seringkali mendatangkan distraksi di saat saya tak menghendakinya. Seperti apa bentuknya? Bagi saya, membuka media sosial berupa Facebook, Instagram atau WhatsApp sudah merupakan aktivitas mendatangkan distraksi pikiran. Di sisi lain, untuk bisa menghasilkan sesuatu dengan optimal, saya perlu mindfulness dalam menjalankan aktivitas. Maka saya merasa perlu untuk membentuk beberapa gerbang pertahanan untuk beragam informasi yang mendesak masuk ke pikiran.
Gerbang pertama adalah dengan menjalankan manajemen gawai dan jam online dengan disiplin. Bagaimana kalau gagal? Coba kembali, berulang kali. Saya merasakan penerapan jam online membuat saya memiliki catatan singkat mengenai siapa saja yang perlu saya hubungi, diskusi apa saja yang harus dijalankan dengan efektif dan tugas apa saja yang harus dikerjakan saat jam online tiba sehingga jam online bisa termanfaatkan dengan optimal.
Gerbang kedua adalah dengan membuat ruang-ruang imajiner di pikiran. Ruang imajiner yang dibuat menyesuaikan amanah yang saat ini sedang diemban, seperti ruang tugas domestik, ruang home educator, ruang koordinator TPA, ruang Ibu Profesional, ruang Deutschkurs dan sebagainya. Ruang imajiner ini mencegah sesuatu dipikirkan dengan berlarut-larut. Misalnya, saya memiliki waktu luang satu jam yang ingin saya gunakan untuk diskusi pengurus inti Ibu Profesional regional Efrimenia dan mengerjakan PR Deutschkurs. Maka saat setengah jam pertama berlalu, saya perlu berpamitan dari diskusi, menyimpan tantangan yang belum terselesaikan dan menutup ruang  Ibu Profesional. Segera beralih fokus membuka ruang imajiner Deutschkurs lalu mengerjakan PR.
Keterampilan manajemen pikiran yang masih ingin saya tajamkan adalah kecepatan untuk switch dan menjaga fokus saat sedang mengerjakan suatu hal.

Komunikasi Asertif
Dalam berkomunitas dan mengemban peran sentral seperti leader, ada kebutuhan menyampaikan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, merespon pesan dengan bijak , bersikap tegas dan terbuka namun tanpa menyakiti orang lain. Saya ingin meningkatkan keterampilan saya dalam berkomunikasi dengan menguasai keterampilan komunikasi asertif.
Bertanya
Belajar mengenai cara belajar identik dengan proses pembelajaran yang merdeka. Bukan lagi duduk manis dan bersiap menerima materi, namun saya pribadi memiliki peta belajar yang sudah dipelajari selama ini, sudah memiliki tujuan belajar yang jelas dan bisa mengidentifikasi kebutuhan belajar diri. Nah, keterampilan bertanya perlu saya miliki untuk bisa bertanya dengan benar sebagai upaya memfasilitasi intellectual curiosity atau rasa ingin tahu diri.  

Membuat jurnal kegiatan
Saat menyimak pemaparan mas Pandu mengenai Metakognisi kemarin, hal yang paling mengena pada diri saya adalah dokumentasi proses belajar. Selama ini, perencanaan dan proses pembelajaran bisa saya rasakan sudah berjalan cukup baik, namun saya sering menunda untuk menuliskan jurnal kegiatannya hingga kemudian tak terlaksana karena sudah tertimpa oleh kegiatan-kegiatan berikutnya. Padahal poin dokumentasi ini sangat penting untuk menelusuri jejak pembeajaran yang sudah saya jalani. Maka, keterampilan pembuatan jurnal penting untuk saya latihkan pada diri. Saya mulai menggali apa yang membuat saya sering menundanya. Tidak sempatnya mengapa? Karena merasa terlalu berat dan ribet? Jika iya, mari sederhanakan dengan cukup menuliskan poin-poin pentingnya saja. Lebih baik sederhana, sembari perlahan melengkapi ketimbang sekadar wacana saja.

Bahasa Jerman
Aha, ini menarik! Sejak lulus dari bangku kuliah, saya mengikuti banyak kelas belajar, namun mayoritas dilakukan online dengan jam belajar yang fleksibel. Kelas bahasa Jerman yang saya ikuti belakangan ini merupakan kelas belajar intensif pertama yang saya lakukan secara offline dengan penuh kesungguhan dan mata berbinar dalam mengerjakannya. Saya mengambilnya karena saya menyukainya dan saya membutuhkannya. Saya jelas membutuhkannya karena saya hidup di negara dengan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantarnya. Kefasihan dalam berbahasa tentu sangat bermanfaat untuk mengurus dokumen, mengakses fasilitas publik dan memahami surat-surat yang kita terima. Tapi mengapa saya menyukainya? Tak lain karena lingkungan yang kondusif. Lembaga kursus bahasa Jerman  saya di setahun belakangan ini memiliki tempat penitipan anak sehingga saya bisa membawa serta Ahsan setiap harinya. Lembaga kursus ini memiliki sistem pembelajaran yang profesional, guru yang berpengalaman dan teman-teman sekelas dengan semangat belajar yang tinggi. Lingkungan positif ini menjadi sebuah support system yang sungguh menyenangkan. Karenanya, saya belajar dengan penuh kesungguhan dan mengerjakan tugas dengan seoptimal mungkin. Saat ini kelas bahasa sedang jeda sekitar dua bulan. Di masa liburan ini saya berencana untuk belajar mandiri dengan meminjam buku-buku dari perpustakaan dan mengikuti kelas diskusi yang diadakan di perpustakaan maupun di Nachbarschaftszentrum.

Demikian lima keterampilan yang saya prioritaskan untuk segera saya kuasai dalam waktu dekat. Saya merasa perlu untuk menggali kebutuhan diri akan keterampilan-keterampilan dari setiap aktivitas suka dan bisa. Saya juga merasa perlu membuat peta belajar untuk melihat jejak perjalanan belajar selama ini juga sebagai bentuk praktik dari materi yang sudah saya terima dari mas Pandu. Perlahan dan bertahap insyaAllah mencoba dikerjakan. Semoga Allah mudahkan, aamiin...

Wina, 23 Desember 2019



Sunday, 15 December 2019

Lima Aktivitas Prioritas, Pijakan Menuju Merdeka Belajar


Mengawali menulis kembali di blog, dengan jurnal Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional. Kelas Bunda Cekatan merupakan kelas lanjutan bagi IPers yang memilih jalur Institut sebagai wadah belajarnya dan telah lulus kelas Matrikulasi dan kelas Bunda Sayang. Sebenarnya, kelas Bunda Cekatan sendiri sudah saya kenal sejak awal bergabung di Komunitas Ibu Profesional, yaitu sekitar tahun 2015. Saat itu kami mengenal dua belas materi yang perlu dipelajari untuk menjadi seorang Bunda Cekatan. Namun, di kelas Bunda Cekatan kali ini ternyata sangat berbeda dengan apa yang saya dapatkan dulu. Pola belajar dua belas materi yang saya dapatkan dulu merupakan menu belajar yang berasal dari kebutuhan belajar bu Septi belasan tahun lalu. Pola belajar tersebut dirasa kurang relevan dengan perkembangan zaman saat ini dan kebutuhan belajar para ibu masa kini. 
Maka kelas Bunda Cekatan kali ini mengusung tagline, 
Merdeka Belajar, Belajar Merdeka. 
Para peserta tak akan disuapi, melainkan akan mencari makanannya sendiri. Mata pun berbinar, siap untuk bermain bersama dengan penuh kesungguhan!

Di pekan pertama ini, kami bermain dengan telur-telur. Peserta perlu menemukan aktivitas suka dan bisa yang akan diasah keterampilannya di tahap berikutnya.  Aktivitas suka bisa ini dianalogikan sebagai telur hijau. Bagaimana menemukan aktivitas suka dan bisa? Tak ada cara yang lebih efektif selain melakukannya dan merasakannya.  Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah dengan membuat daftar aktivitas harian ter-update . Setelah daftar aktivitas dibuat, ternyata banyak juga ya variasi kegiatan dalam keseharian seorang perempuan. Yang mana saya artikan, bahwa sebenarnya sudah cukup banyak aktivitas yang telah saya cicipi yang berpotensi menjadi ruang aktualisasi diri saya.
Daftar aktivitas yang saya buat tak akan saya boyong kemari.Saatnya melangkah ke tahap berikutnya, yaitu memilah aktivitas-aktivitas tersebut ke dalam empat kuadran. Dalam proses memilah ini, saya mendapati temuan menarik. Bahwasanya sebelum memasukkannya ke dalam kuadran-kuadran, saya perlu mengelompokkannya sehingga lebih mudah terklasifikasi. Seperti misalnya, aktivitas berkontemplasi, membuat perencanaan dan pencatatan saya satukan dalam kelompok aktivitas menulis. Kemudian, beberapa aktivitas ada yang saya ragu untuk memasukkannya ke kelompok bisa dan suka atau bisa tidak suka, seperti aktivitas domestik. Setelah ditelisik lebih lanjut, saya bukan suka tapi lega karena rumah telah beres, masakan telah matang. Ada kebahagiaan karena berhasil menyelesaikan pekerjaan. Setelah mengelompokkan dan merasakan berulang, berikut kuadran aktivitas saya,




Ada delapan aktivitas yang berada di kuadran suka dan bisa. Dari delapan aktivitas itu, saya mampatkan menjadi lima aktivitas untuk mengisi telur-telur hijau yang akan menjadi pijakan saya dalam melangkah belajar merdeka di kelas Bunda Cekatan ini. Berikut telur hijau saya,



Lima isi telur hijau tersebut adalah :

Menulis
Aktivitas menulis yang saya jalankan saat ini adalah melakukan perencanaan berjangka, pencatatan, berkontemplasi dan pembuatan jurnal belajar serta artikel. Beberapa testimoni menyampaikan bahwa terkait pencatatan, saya melakukan dengan cukup rapi sehingga nyaman untuk dilihat. Saya merasakan kehadiran bakat discipline yang mendorong saya untuk melakukannya. Jika perencanaan tidak tercatat dengan baik, pembelajaran tidak terdokumentasikan dengan runut, saya merasa gelisah dan butuh memperbaikinya.

Membaca
Proses membaca difokuskan pada membaca buku dan koran. Baik untuk pemenuhan kebutuhan diri maupun anak-anak. Buku-buku pilihan yang dibaca adalah seputar Islam, pendidikan keluarga, buku-buku anak dan bahasa Jerman. Saya percaya bahwa teori dan praktik adalah sebuah perpaduan yang sempurna, keduanya saling menguatkan. Riuhnya dunia informasi saat ini, ramainya lalu lalang informasi bisa disikapi dengan benar jika saya memiliki daya literasi yang baik. Bagi saya, cara untuk memiliki daya literasi yang baik adalah dengan terus membaca buku.

Belajar
Saat ini saya mengikuti beberapa kelas belajar untuk memenuhi kebutuhan diri, antara lain Deutschkurs, tahsin, dan kelas Bunda Cekatan. Ketiganya merupakan mata pelajaran yang sedang saya butuhkan dalam kehidupan. Maka saya berkomitmen dan mengalokasikan waktu untuk menjalankan ketiganya dengan penuh kesungguhan.

Berkomunitas
HIMA Ibu Profesional Non Asia dan TPA Masjid As-Salam WAPENA menjadi wadah belajar yang menempa keterampilan saya dalam berkomunitas. Di keduanya, saya memegang peran sentral, yaitu sebagai leader. Maka seni memimpin dengan berbagi dan melayani diasah di sini.

Home Education
Sebuah komitmen yang saya dan suami sepakati sejak kami dikaruniai anak pertama. Sejatinya Home Education merupakan aktivitas utama dari lima aktivitas prioritas diri saya. Sehingga keempat aktivitas lainnya selalu kami tarik benang merahnya dengan Home Education.

Demikian lima telur hijau yang saya pilih secara sadar. Saya sadari lima aktivitas beserta turunan dan konsekuensinya ini akan membutuhkan manajemen waktu yang sangat baik agar bisa berjalan dengan seimbang dan kebahagiaan terus terjaga. Juga disiplin mematuhi jam daring yang sudah dirancang dan melatih kecepatan peralihan fokus antar amanah sehingga tak terbuai. Siap melangkah ke tahap berikutnya, insyaAllah. J

Wina, 15 Desember 2019


Wednesday, 11 September 2019

Sepenggal Hikmah Harian : Tentang Waktu


Kemarin terasa lain dari hari biasanya. Mungkin anak-anak akan menyebutnya sebagai Hari Ayah. Kemarin Abiya mengambil libur dan beliau memanfaatkannya untuk membersamai anak-anak seharian. Di pagi hari, kami membuat penawaran ke anak-anak, yang hasilnya pun sudah bisa ditebak. Raysa ingin diantarjemput sekolah oleh Abiya sedangkan Ahsan ingin bermain di Spielplatz (taman bermain) yang ada mobil-mobilannya dengan Abiya. Maka kemarin Ahsan tak menemaniku berangkat Deutschkurs (les bahasa Jerman), aku pun tak perlu menjemput Raysa di Kindergarten (TK) sepulang Deustchkurs seperti biasanya.
Deutschkurs berdurasi total 3.5 jam, termasuk sesi pause (istirahat) 10 menit sebanyak dua kali. Sesi pause ini biasanya kugunakan untuk membersamai Ahsan di Kinderbetreuung (Kids Corner) untuk makan camilan atau bermain bersama. Waktu yang singkat, namun ternyata selama ini cukup untukku dan Ahsan. Karena kemarin aku berangkat sendirian, maka sesi pause menjadi bonus waktu yang bisa kugunakan. Muncullah pertanyaan dalam benak, 
Hal penting apa yang bisa kugunakan di bonus waktu ini? Terutama sebuah hal yang untuk melakukannya biasanya aku kesulitan mencari waktu.
Aha! Aku teringat sebuah rencana. Yaitu mengutarakan ide membuat WhatsApp Group untuk kelas Deutschkurs kepada Lehrerin (pengajar). Ide ini sebenarnya dicetuskan dan dilakukan oleh teman dari kelas lain, beliau sudah melakukannya untuk kelasnya dan mendorongku juga untuk menginisiasi hal tersebut di kelasku. Saat semester lalu, aku belum berani. Kemampuan berbahasa Jermanku sungguh sangat pas-pasan kala itu. Sebenarnya sekarang pun masih pas-pasan juga, namun setidaknya sudah ada pembekalan dari proses belajar di kelas semester lalu. Sesi istirahat pertama aku gunakan untuk menyampaikan hal tersebut pada pengajar. Beliau menyampaikan, 
Jika kamu menginginkan kami sebagai tim penyedia layanan belajar ini membuat grup tersebut, tentu tidak memungkinkan. Namun jika kamu bersedia untuk membuatkan grupnya dan memasukkan nomor teman-teman ke grup tersebut, itu adalah ide yang sangat cemerlang. Aku bisa membagikan tautan materi belajar atau hal lainnya padamu untuk kemudian didistribusikan di grup. OK, kita tawarkan di kelas ya. Jika teman-teman setuju, grup tersebut bisa dibuat.
Alhamdulillah, bonus waktu di sesi istirahat pertama pun termanfaatkan dengan baik. Masih ada sisa waktu juga untuk sejenak ke kamar mandi. Segera setelah itu, pengajar mengumumkan penawaran tersebut di kelas. Teman-teman menyambut dengan positif dan antusias. Pengajar pun menyiapkan selembar kertas agar kami bisa menulis nama dan nomor telefon di sesi istirahat kedua. Sesi istirahat kedua aku manfaatkan untuk menanyakan materi yang belum aku pahami ke pengajar juga memasukkan sebagian nomor kontak teman-teman di kelas. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku tuntaskan perihal pembuatan WAG kelas ini.
Aku bersyukur bonus waktu yang Allah berikan bisa terlampaui dengan menuntaskan satu program. Waktu seringkali berlau tanpa disadari, seperti yang tersampaikan dalam hadits Bukhari :
Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.
Rentetan aktivitas dan kesibukan adalah sebuah keniscayaan. Teringat kalimat yang dinukil oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah,
Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.
Alhamdulillah, ruang belajar untuk menyampaikan ide dan berdiskusi dalam bahasa Jerman pun bertambah, insyaAllah diniatkan untuk memberanikan diri mencoba memperbanyak menyampaikan pesan dalam bahasa Jerman sekalipun grutal-gratul atau kurang pas di sana-sini. Kesalahan akan menjadi lecutan untuk terus melakukan perbaikan. Karena seringkali, sekalipun salah dalam susunan kata, lawan bicara cukup menangkap dan memahami pesan yang ingin kusampaikan. Tak jarang, saat aku mencoba berbicara dalam bahasa Jerman dan menyampaikan bahwa aku sedang belajar, lawan bicara menjadi lebih sabar dalam menyimak hingga maksudku tertangkap olehnya. Bahkan tetangga kamar atas membenahi susunan kalimat yang saya ucapkan saat kami mengobrol singkat. Kaitannya dengan pemanfaatan waktu, proses belajar bahasa Jerman yang saat ini sedang kujalani, kuupayakan untuk berjalan dengan seoptimal mungkin. Dengan tetap menjaga keseimbangan peran yang sudah teramanahkan. Ya Allah, mudahkan dan selimuti dengan keberkahan.

Semoga ke depan, semakin bijak dalam memanfaatkan waktu, karena  dunia ini adalah tempat beramal, bukan tempat bersantai dan bermain-main, sebagaimana firman Allah :
Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? [Al-Mukminun (23):115].
Dan hari ini, Eyang B.J. Habibie berpulang. Innalillahi wainna ilaihi roji’un… dan kembali mengingatkanku tentang waktu.

Wina, 11 September 2019