Saturday, 4 April 2020

Membedakan Keinginan dan Kebutuhan, Berproses Menuju Keluarga Cerdas Finansial


Sebagai ibu yang bergabung di komunitas Ibu Profesional, tentu sudah tidak asing dengan prinsip, “Rejeki itu Pasti, Kemuliaanlah yang Dicari”.
Ya, hal tersebut senada dengan konsep rejeki dalam Islam.
Konsep rejeki dalam Islam
Semua makhluk, yang berakal maupun yang tidak berakal, rejekinya telah dijamin oleh Allah.
Dalam QS. Hud ayat 6 :
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Tidak ada satupun yang bergerak di muka bumi ini kecuali Allah yang menanggung rejekinya.

Dalam hadis dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang proses penciptaan manusia.

ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Kemudian diutus malaikat ke janin untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk mencatat 4 takdir, takdir rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya.” (HR. Muslim 6893).

Ibnu Katsir menceritakan,
Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini,

اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل

“Anakmu yang rejekinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam. (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510
Prinsip ini beriringan dengan usaha. Bukan mengajarkan untuk berpangku tangan dan diam tidak bekerja, dengan anggapan semua telah ditakdirkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan usaha menjemput rejeki.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberikan rejeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rejeki kepada seekor burung, yang keluar pada pagi hari dalam keadaan lapar lalu sore harinya pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Turmudzi 2344, Ibn Hibban 730 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).
Imam Ahmad menjelaskan,
“Hadis ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rejeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rejeki.”
Hakikat dari rejeki kita adalah apa yang kita konsumsi dan yang kita manfaatkan. Sementara yang kita kumpulkan belum tentu menjadi jatah rejeki kita.
Dalam hadis dari Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat. (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya).
Setelah memahami konsep rejeki maka berikutnya adalah memahami mengenai kebutuhan dan keinginan.
Banyak teori menyebutkan bahwa kebutuhan merupakan hal dasar dalam memenuhi keberlangsungan hidup dan harus segera terpenuhi. Pemenuhan kebutuhan yang dilakukan makhluk hidup khususnya manusia menjadi faktor dasar dalam melakukan bisnisnya. Dalam dunia ekonomi, terdapat tingkatan terhadap pemenuhan akan kebutuhan barang dan jasa. Tingkatan tersebut adalah keinginan dan kebutuhan.
Keinginan adalah segala kebutuhan lebih terhadap barang ataupun jasa yang ingin dipenuhi setiap manusia pada sesuatu hal yang dianggap kurang. Keinginan tidak bersifat mengikat dan tidak memiliki keharusan untuk segera terpenuhi. Keinginan lebih bersifat tambahan, ketika kebutuhan pokok telah terpenuhi. Kebutuhan adalah semua barang ataupun jasa yang dibutuhkan manusia demi menunjang segala aktivitas dalam kehidupan sehari-sehari manusia tersebut. Kebutuhan tidak akan lepas dari kehidupan sehari-sehari.

Kebutuhan Berdasarkan Sifat
Terbagi menjadi 2 diantaranya jasmani dan rohani. Jasmani sendiri ialah kebutuhan dalam menjaga kesehatan fisik seperti olahraga dan istirahat. Kebutuhan rohani melingkupi keperluan dalam pemenuhan jiwa seperti beribadah, mendapatkan hiburan dengan rekreasi.

Kebutuhan Berdasarkan Waktu
Seperti namanya, waktu menunjukkan masa dengan meliputi kebutuhan saat ini, masa depan, dan waktu yang tidak terduga sebelumnya. Kebutuhan saat ini ialah suatu hal yang tidak bisa ditunda contohnya dalam kesehatan untuk menjalani operasi. Kemudian masa mendatang ketika mempersiapkan kelahiran seorang bayi. Pada kebutuhan tidak terduga yang datang secara tiba-tiba seperti pengobatan setelah terjadi kecelakaan.

Kebutuhan Berdasarkan Subjek
Dilatarbelakangi oleh subjek yaitu pelaku, maka terdapat 2 poin penting yang masuk dalam kebutuhan berdasarkan subjek yaitu individu dan kelompok. Kebutuhan individu jelas yang diperuntukan bagi perseorangan, misalnya seorang direktur membutuhkan seorang sekretaris dalam perkerjaannya. Terakhir pada kebutuhan kelompok cenderung mengarah pada kepentingan masyarakat yaitu pasar, rumah sakit, angkutan umum, dan lain sebagainya.
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dimiliki manusia karena tingkat keperluan atau urgensinya yang tinggi. Jika seseorang memiliki kebutuhan terhadap barang atau jasa, biasanya hal paling penting yang menjadi pertimbangan adalah manfaat yang dapat diambil dari barang atau jasa tersebut beserta fungsinya.

Keinginan berada di sisi lain, biasanya bersifat subjektif, tidak terlalu berpengaruh pada kelangsungan hidup seseorang. Pemenuhan terhadap ‘keinginan’ biasanya bersifat kepuasan semata dan cenderung menyesuaikan terhadap selera individu. Keinginan bisa bersifat positif jika pemenuhannya memberi nilai tambah atau memberi dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan yang telah tercapai.

Sumber referensi :

Tantangan 30 Hari Day 12 : Membacakan Buku Anak berjudul "Der kleine Drache Kokosnuss - Das grosse ABC-Buch"


Buku ini adalah buku untuk mengenalkan alfabet pada anak. Jadi di setiap lembar dari buku ini, menceritakan tentang sebuah benda yang mana memiliki awalan kata berurutan di setiap halamannya. Kemudian juga ada benda-benda lain dalam cerita yang memiliki awalan huruf serupa.

Durasi membacakan buku hari ini adalah selama 25 menit. Buku ini cukup menarik, namun kurang memantik keingintahuan anak-anak. Tapi anak-anak tetap saja antusias mendengarkannya. Banyak kosakata asing yang baru saya dapati dari buku ini. Belum dicari semuanya, mungkin nanti bisa dicari saat jam belajar bahasa Jerman tiba sembari mengerjakan tugas yang belum tersentuh. Anyway, selamat berakhir pekan bersama keluarga ya!



Friday, 3 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 11 : Membacakan Buku Anak berjudul “So schoen sind die Jahreszeiten”


Saya suka buku ini! Buku ini termasuk buku yang baru saya pinjam dari perpustakaan menjelang karantina Corona ini. Saat meminjam, saya hanya membacanya cepat. Sepertinya cocok untuk bahan ngobrol bareng anak-anak mengenai musim semi yang saat itu baru saja dimulai. 
Buku ini menceritakan petualangan tiga anak tupai bersaudara, bernama Matz, Fratz dan Lisettchen dalam melewati empat musim.  Ketiga kakak beradik ini memulai petulangan mereka dari musim semi. Mereka berlompatan dari dahan satu ke dahan lainnya, sampai ke pohon sakura, bergerak ke pohon lainnya hingga kemudian bertemu dengan seekor burung. Burung ini kelaparan dan mereka berniat untuk membantunya dengan mencarikan makanan. Namun mereka tak tahu makanan apa yang tepat untuk sang burung. Mereka mencarikan biji pinus, makanan yang biasa mereka gigit setiap harinya. Namun sang burung menolak. Mereka pun mencari makanan lainnya. Tebakan mereka berikutnya jatuh ke madu, sehingga mereka memetik bunga untuk diberikan pada burung. Lagi-lagi sang burung menolak dengan wajah sedih. Ketiga anak tupai ini pun bingung, apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu sang burung? Lalu kemudian datanglah sang induk burung dengan membawa cacing. Mereka bertiga tersenyum lega seraya menggumam,
yang kurang lebih artinya, setiap anak (hewan) di seluruh dunia hanya makan makanan yang disukainya. Dan setiap ibu sangat cerdas dan paham persis makanan terbaik untuk anaknya.
Perjalanan mereka berlanjut ke musim panas. Di musim ini mereka bermain-main di hutan lalu turun hujan deras. Mereka berteduh di lubang tempat tinggal tikus dan bertemu beberapa hewan. Mereka berteduh bersama hingga hujan dan gelegar petir mereda. Setelah itu, musim gugur. Di musim ini mereka diajak sang ayah untuk mengumpulkan biji pohon ek untuk persediaan makanan di musim dingin. Sang ibu menjahitkan baju hangat untuk mereka bertiga hingga larut malam ditemani sang ayah. Saat mereka bermain keluar rumah sembari mengenakan baju hangat, mereka berpapasan dengan kelompok burung yang juga mengenakan baju hangat tanpa lengan. Mereka pun bertanya, dan burung-burung itu menjelaskan bahwa mereka perlu mengepakkan sayap sehingga memakai baju hangat demikian.  Di musim salju, mereka bermain seluncuran salju diantar sang ayah. Saat mencoba bermain seluncuran, sang ayah ketagihan, lalu pulanglah sang ayah ke rumah dan diajaknya sang ibu untuk bermain seluncuran berdua. Kejutan! Yang membuat sang ibu bahagia dan ketiga anak tupai itu tertegun. :D

Cerita di buku ini unik sekali. Banyak pesan yang disisipkan di dalamnya. Sesi membacakan buku ini berlangsung 30 menit. Karena Raysa sudah membacanya sendiri terlebih dahulu, maka dia beberapa kali mengetahui lebih dulu jalan ceritanya sebelum saya melanjutkan ke halaman berikutnya. Memasuki putaran sepuluh hari kedua, apa yang saya rasakan? Alhamdulillah bahagia. Saya menjadi belajar beraneka jenis buku dan belajar mengenal lebih spefisik buku seperti apa yang disukai Raysa atau Ahsan. Banyak kosakata baru yang juga saya dapati dari proses ini. Alhamdulillah atas nikmat kesempatan yang Allah berikan. Di hari kesebelas ini saya sematkan badge Excellent! untuk proses hari ini.


Thursday, 2 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 10 : Membacakan Buku Anak berjudul “Wie vie list viel?” (2)


Hari ini kami melanjutkan membaca buku yang sama dengan buku kemarin. Kemarin kami baru selesai membaca hingga halaman 20. Dan kini kami melanjutkannya hingga akhir, halaman 45.
Cerita apa saja yang kami temui kali ini? Cerita pertama mengenai kue ulang tahun yang dibuat dua anak perempuan untuk ibunya. Mereka menggunakan satuan gelas yogurt, sendok makan, sendok teh, jumput, irisan dan genggam  untuk membuat takaran bahan-bahan. Cerita berikutnya adalah pengukuran satuan dengan cara sederhana. Dilanjutkan dengan mengenal ukuran berat, menganalogikan berat badan bayi dengan beberapa buah gula atau tepung yang biasanya dikemas per satu kilogram. Juga prinsip timbangan dengan membandingkan satu benda dengan benda yang lain dan permainan jungkat-jungkit.


Hari ini saya kembali menyematkan badge Need Improvement karena lagi-lagi saya tidak membacakan satu buku hingga tuntas dalam satu hari. Namun secara penyampaian, proses berlangsung dengan baik. Hari ini saya juga mencoba aplikasi Boosted untuk merekam durasi pengerjaan tantangan ini dari hari ke hari, membantu saya menjaga konsistensi dalam proses.

Belajar bahasa Jerman memang merupakan peta belajar prioritas di tahun ini, namun membersamai anak pun aktivitas yang menjadi prioritas utama dalam keseharian. Saya bersyukur tantangan ini membuat saya belajar banyak kosakata baru. Seperti di buku ini, saat membacakan saya bertemu kalimat yang menggunakan „um...zu“ yang materinya baru saja menjadi bahan latihan mendengar (hoeruebung) yang ditugaskan di kursus kemarin lusa.  Di buku tersebut dituliskan :

Und wie muesst ihr euch verteilen, um die Wippe in die Waagerechte zu bringen und dann die Balance zu halten?

Dengan demikian, antara kegiatan membersamai anak dan belajar bahasa Jerman bisa dijalankan secara beriringan dalam tantangan ini. Tentunya saya juga mengalokasikan waktu tersendiri untuk mengerjakan tugas kursus ataupun belajar dengan menyendiri. Kalau ini, biasanya saat anak-anak tidur. 

Wednesday, 1 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 9 : Membacakan Buku Anak berjudul „Wie vie ist viel?


Hari ini kami membaca buku anak berjudul „Wie viel ist viel?“ yang kurang lebih artinya „Seberapa banyak „banyak“ itu?“ Kata banyak memang relatif ya, dan buku ini memudahkan anak-anak memahami arti kata „banyak“ dengan cerita-cerita dan studi kasus yang disampaikan.


Cerita pertama mengisahkan tentang anak-anak yang bermain jual beli di hutan secara barter. Mereka mengumpulkan benda-benda yang mereka temui sebagi benda yang dijual juga alat tukar. Mereka menjadikan bulu-bulu, sarang burung tua, biji pohon ek, biji pinus, kacang chestnut sebagai barang dagangan. Kemudian anak-anak yang berperan sebagai pembeli menjadikan kerikil kecil sebagai alat tukar. Si penjual menjelaskan harga masing-masing barang dagangannya. Seperti misalnya biji pinus kecil, sehelai burung seharga dua kerikil kecil. Sedangkan biji pinus besar seharga tiga kerikil kecil.  Barang dagangan pun laris diserbu pembeli. Kemudian datanglah seorang anak yang ingin memberi sarang burung tua. Benda itu seharga tiga kerikil besar. Sayangnya, dia hanya memiliki dua kerikil besar. Dia pun menawar, namun si penjual menolak dan menjawab, „Barang yang besar tentu membutuhkan biaya yang besar pula“.
Anak itu pun berlalu, dia mencari cara bagaimana agar dia bisa membeli sarang burung itu. Tak lama dia tersenyum dan mencari yang dia butuhkan. Saat dia kembali, penjualnya pun bertanya padanya, „Bagaimana, apa kau sudah memiliki tiga kerikil kecil?“ Dia menjawab,“Tidak, tapi aku punya sesuatu yang lebih baik“ seraya menyerahkan sebongkah batu besar. „Dengannya aku bisa membeli seluruh daganganmu“ ujarnya.
Cerita ini unik. Menggambarkan pikiran anak yang konkrit mengartikan kata-kata „Barang yang besar tentu membutuhkan biaya yang besar pula“. Isi buku ini menarik untuk dibacakan pada anak untuk menstimulasi kecerdasan matematika logis.
Mengenai proses hari ini, kami membaca tanpa distraksi dan saya menyampaikan arti dalam bahasa Indonesia juga supaya semakin jelas dipahami oleh anak-anak. Secara proses, badge Excellent layak tersematkan. Namun saya tidak bisa membacakan buku ini hingga selesai karena jumlah halamannya cukup banyak, yaitu 45 halaman dengan teks yang cukup padat di setiap halamannya. Apakah saya terpikir untuk mengganti indikator perolehan badge? Awalnya iya, karena memang ada buku-buku yang tebal dengan cerita panjang. Toh saya bisa menyelesaikan setengah buku hari ini. Ditambah lagi porsi belajar bahasa Jerman saya saat ini cukup rutin karena adanya keharusan mengerjakan PR dari kursus yang sedang berjalan via daring. Namun saya urung melakukannya. Saya ingat bahwa ini sudah memasuki hari kesembilan. Semakin banyak godaan menerpa baik dari segi alokasi waktu ataupun kegiatan lainnya. Maka saya perlu konsisten menjalankan apa yang sudah saya rancang sendiri di awal tantangan. Setidaknya saya perlu bertahan hingga tantangan ini usai hingga akhir. Dan untuk menaikkan kualitas, maka saya perlu mengalokasikan waktu lebih banyak dalam sehari dan membaginya dalam beberapa sesi, agar buku yang tebal pun bisa tuntas dibacakan dalam sehari.




Tuesday, 31 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 8 : Membacakan Buku Anak berjudul "Mein erstes Mix-Max-Ratebuch"


Hari ini saya baru bisa membacakan buku di sore hari. Di pagi dan siang hari, saya mengerjakan tugas domestik dan mengerjakan tugas kursus bahasa. Buku yang dibacakan kali ini adalah buku pilihan Ahsan. Buku berjudul „Mein erstes Mix-Max-Ratebuch“. Jadi setiap lembar buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian atas berisi gambar beberapa profesi, bagian bawah berisi gambar beraneka kendaraan. Nah, di setiap lembarnya anak-anak diminta untuk mencocokkan antara gambar atas dan bawah. Mana kendaraan yang tepat untuk dinaiki setiap pengendara.

Buku ini sederhana sekali, cocok untuk Ahsan tapi terlalu mudah untuk Raysa. Durasi membacakan buku ini sangat singkat. Tak banyak pertanyaan muncul dari anak-anak, mungkin karena isi bukunya juga mudah ditangkap oleh pikiran anak-anak ya. Karena di sesi ini kami menjalaninya dengan cukup singkat, namun juga hingga tuntas, tanpa distraksi dan anak-anak tidak banyak bertanya, maka saya menyematkan badge Very Good. Alhamdulillah. Semoga dengan momen ini, kami bisa semakin mensyukuri waktu yang diberikan Allah dengan kebersamaan sepenuhnya. 

Monday, 30 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 7 : Membacakan Buku berjudul “Hase, Fuchs und Reh fahren LKW!”


Hari ini alhamdulillah berhasil menjalankan sesi membacakan buku di pagi hari lagi. Tapi kesempatan untuk mengetik laporannya baru bisa mepet deadline lagi euy. Hihihi.
Buku yang dibacakan hari ini adalah buku pilihan Ahsan. Sebuah buku boardbook minim teks dan full gambar. Buku ini ingin menyampaikan tentang ragam jenis kendaraan dan aneka binatang. Cocok untuk anak usia 0-3 tahun. Bagi Ahsan, ini menambah kosakata bahasa Jerman yang dikenalinya.
Badge Excellent tersematkan hari ini karena berhasil memenuhi setiap indikator. Karena saat dibacakan buku ini Raysa masih tidur, Ahsan jadi bebas bereksplorasi dan bertanya segala hal. Pembelajaran yang saya dapatkan hari ini, pemakaian buku yang tepat berdasar usia dan ketertarikan tiap anak anak membuat sesi membacakan buku semakin optimal.