Friday, 23 June 2017

Saat Kakak Belajar Membaca Kondisi


Hari Ahad lalu, ummi, kakak dan adik bersiap mengikuti dzikir ma'tsurat di majlis ta'lim depan rumah. Sebelum berangkat, ummi dan kakak membuat kesepakatan. Ummi mengingatkan kakak bahwa forum dzikir adalah forum orang dewasa, yang mana membutuhkan konsentrasi dan terhindar dari kegaduhan. Artinya, saat kami siap masuk dan mengikutinya, kami akan taat aturan untuk anteng, dan tidak bersuara keras hingga memecah konsentrasi orang lain yang sedang berdzikir.

Sampai di tempat dzikir, kami duduk. Tak lama, adik sudah mulai bergerak merangkak. Kakak mulai menggaruk-garuk badan karena kegerahan. Tapi dia menyampaikan ke ummi dengan suara berbisik. Kakak masih ingat bahwasanya tidak boleh membuat kegaduhan di tempat tersebut.

Usai dzikir ma'tsurat, acara berlanjut dengan pelatihan Master of Ceremony yang diadakan Yayasan Khoirun Nisa'. Kebetulan hari itu adalah sesi kedua, yang mana peserta diberi kesempatan untuk praktik. Materi sudah narasumber berikan di sesi pertama di minggu sebelumnya. Kami berdialog,

Ummi : Kakak, ummi boleh praktik di depan?
Kakak : (menggeleng) ngga boleh...

Tak berapa lama, kakak meralat jawabannya,
Kakak : ummi boleh tampil di depan, tapi sambil nggendong kakak.
Ummi : ngga mungkin kakak, kalau sambil nggendong kakak, ummi bakal kesulitan. Ngga usah tampil aja ya kalau begitu :)
Kakak : lhooo...ummi maju, tapi sambil nggendong kakak...

Negosiasi pun dimulai. Ummi belum bisa mengikuti kemauan kakak. Kakak mulai merengek. Tapi dengan suara yang lirih... Dan lama-lama, dia tertidur. Ternyata kakak mengantuk. Ummi pun memutuskan tidak praktik di depan, karena belum siap juga :D

Menjelang acara usai, kakak terbangun. Saat ummi sampaikan kalau ummi belum praktik ke depan, kakak meminta kami maju dan praktik. Negosiasi dimulai kembali. Ummi menawarkan pada kakak untuk tampil di rumah saja, di hadapan yangti, yangkung dan om. Awalnya kakak keberatan, tapi kemudian dia berpikir  dan menyetujui ide ummi. Kami pulang bersama dengan riang. Dan kakak berhasil menjaga sikap dan kesepakatan saat berada di forum umum.





Thursday, 22 June 2017

Diskusi Keluarga tentang Proses Literasi



WhatsApp merupakan media andalan saat kami perlu berdiskusi keluarga mengenai suatu hal. Biasanya, bahasan-bahasan penting terkait keluarga, kami bahas di grup hometeam, termasuk materi #5 kelas Bunda Sayang, mengenai menumbuhkan kecintaan membaca.

Kondisi Long Distance Marriage yang kami jalani sejak 9 bulan lalu, membuat kami berupaya mengoptimalkan penggunaan gadget untuk memenuhi kebutuhan komunikasi keluarga. Dan kemarin, tahapan literasi ini menjadi topik bahasan seru yang kami bahas via telfon, kemudian suami coba tuangkan ringkasannya pada gambar diatas.


Dia Melihat dan Meniru, Maka Sampaikan Teladan Terbaik Untuknya


Anak mungkin bisa salah mengerjakan instruksi. Namun dia tak pernah salah meng-copy. -Septi Peni Wulandani-

Pesan ini terngiang kembali saat saya membersamai pembelajaran anak kemarin. 

Kemarin, mica bersama anak-anak, juga adik dan ibu, memulai perjalanan mudik kami menggunakan alat transportasi kereta. Jadwal pemberangkatan kereta dari stasiun Jombang jam 12.04 WIB, waktu yang 'nanggung' untuk sholat Dhuhur di rumah. Maka, kami memutuskan untuk berangkat ke stasiun lebih awal supaya ada waktu untuk sholat Dhuhur di stasiun. 

Karena perjalanan jauh, dari rumah kakak mica minta memakai sepatu. Dan kakak mencari kaos kaki. Katanya, kalau pakai sepatu, berarti pakai kaos kaki, kayak ummi. Okeee...dipahami.

Memasuki pelataran masjid stasiun, mica mengajak kakak mengambil air wudhu. Karena tempat wudhu perempuan masih agak terbuka, kami wudhu di kamar mandi. Kaos kaki yang mica pakai, baru mica lepas saat kami sudah tak terlihat dari pandangan umum. Dan kakak mengikutinya. Kakak melepas kaos kaki sambil berpegangan ke dinding, menaruhnya di dalam tas mica, persis seperti apa yang mica lakukan. 

Di mushola, kami tidak menemukan sajadah. Karena ada jilbab, maka mica gunakan jilbab sebagai sajadah darurat kami. Dan kakak tiba-tiba melepas jilbab, menaruhnya di atas jilbab mica. Ingin membuat sajadah darurat sendiri. 

Usai sholat, kakak tiba-tiba meminta izin memakai ciput yang mica kenakan. Ujarnya, "Kakak pengen pakai ciput kayak ummi. Ini kakak pakai ya Mi?". Anggukan kepala mica disambut dengan senyum ceria. Kamipun bergegas berkemas, merapikan barang-barang dan bersiap menuju ruang tunggu stasiun. Lima menit lagi jadwal kedatangan kereta yang akan kami naiki. 

Mica duduk di pelataran masjid, memakai sepatu sandal. Begitu pun dengan kakak. Tak ada lagi keluhan saat kesulitan memakai sepatu. Dia terlihat lebih pelan dalam mengenakannya. Otot-otot tangannya semakin terlatih, pun mica tak lagi menggegasnya dan mengajaknya bersegera seperti dulu. 

Untuk melatih kebiasaan baik, perlu proses. Dan sebuah proses membutuhkan waktu. Maka, saat kami membersamai anak-anak dalam menjalankan proses belajar mereka, sejatinya kami sedang menjalankan latihan kesabaran yang Allah tempakan pada kami. Bukankah tumbuh bersama itu akan saling menguatkan dan mengokohkan? :)

Tuesday, 20 June 2017

Naluri Kakak Beradik


Betapa Allah sampaikan banyak pembelajaran dalam setiap ruas garisNya. Menjelang 38 bulan usia kakak dan 7 bulan usia adik, saya terkekeh melihat tingkah polah mereka berdua.  

Saat kakak membangun menara dari sekumpulan balok susun, adik datang menghampiri. Bagi adik, dia sedang menunjukkan besarnya keinginannya untuk terlibat keseruan bermain sang kakak. Namun bagi sang kakak, tangan mungil adik membuyarkan imajinasi dan meruntuhkan menara impiannya yang sudah dibangun dengan susah payah. Lontaran kekesalan kakak disambut adik dengan wajah tak bersalahnya.

Saat adik memulai berMPASI, saya dudukkan dia di sebuah kursi makan. Memakaikan celemek makan dan bersiap menyuapkan makanan. Namun tiba-tiba terdengar permintaan dari kakak, “Ummi…kakak aja yang nyuapi adik ya…” Anggukan kepala saya disambut wajah sumringah sang kakak. Suapan demi suapan dia berikan ke adik. Sesekali dia bertanya ke saya, “Segini mi? Gini ya mi?” Dan adik, dengan lapang dada menerima suapan cinta dari kakak yang porsinya terlalu banyak atau sedikit berbelok dari mulut adik. Antusiasme kakak bertemu dengan ekspresi bingung adik.
Saat saya menitipkan adik sejenak pada kakak karena ada urusan dapur atau kamar mandi, kakak perlahan mulai bisa diandalkan. Terdengar celoteh panjang kakak yang sedang membacakan buku untuk adik, atau candaan kakak mengajak adik tertawa bersama. Sesekali juga ada teriakan, “Mi, adek mau jatuh…” alarm tanda adik bergerak hingga ke pinggir kasur.

Tak saya pungkiri, saat kehamilan adik, muncul kekhawatiran saya akan kecemburuan Raysa saat kelak menjadi kakak. Namun hal tersebut coba saya tepis. Jika tidak mungkin untuk dihindari, maka saya mencoba untuk meminimalisasi seoptimal mungkin, sejauh upaya yang bisa dilakukan. Maka, mulailah proses sounding,melibatkan dia dalam berbagai aktivitas persiapan menyambut adik, bermain peran menjadi kakak dan sebagainya.

Dan perlahan, Allah menjawab dengan pemahaman kakak. Semakin lama mereka beraktivitas bersama, semakin besar usia mereka berdua, semakin terlihat naluri kakak beradik yang mereka miliki. Ah iya, bukankah saat Allah memberikan peran pada hambaNya, maka saat itu juga Allah kirimkan naluri dan kemampuan untuk menjalankan? Maka, tugas manusia hanyalah taat.                                                                                                                   

Saturday, 17 June 2017

Hati yang Tertaut dengan Masjid

Hati yang Tertaut dengan Masjid
Hari ini, hati saya tergelitik untuk menuliskan tentang ini setelah beberapa pertanyaan yang serupa menghampiri.
“Mba, Raysa koq bisa anteng ya di masjid? Mengikuti gerakan sholat. Ngga bikin gaduh. Gimana cara melatihnya?”
Laa haula walaa quwwata illa billah…
Sesungguhnya, untuk menjawab saja saya tak sanggup. Karena tidak ada lain ini adalah bentuk karuniaNya semata. Nikmat Allah begitu dekat dan nyata.
“Sebelum mengajak anak ke masjid, pahamkan mereka dulu dengan adab berada di masjid.” Begitu pesan seorang ahli parenting saat saya mengikuti kelas beliau.
Apa saja adab di dalam masjid?
Dalam buku prophetic parenting, dijabarkan adab-adab di dalam masjid yang antara lain adalah masuk masjid dengan tenang, meletakkan alas kaki pada tempatnya, permisi pada orang yang dilewatinya, tidak berlari-larian di dalam masjid, tidak mengganggu orang-orang dewasa, mendengarkan dan menyimak khutbah, belajar, sholat, tidak main-main dan sebagainya.
Imam Malik rahimahullah ditanya tentang seseorang yang datang ke masjid dengan membawa anak, apakah dianjurkan?Beliau menjawab, “Apabila (anak) sudah mengerti dan mengetahui tentang adab serta tidak main-main, maka saya rasa tidak apa-apa. Apabila masih terlalu kecil dan tidak dapat tenang serta masih suka bermain-main, maka aku tidak menganjurkannya.”




Terkait dengan mendekatkan hati anak dengan masjid, saya teringat cuplikan isi buku Prophetic Parenting. Saya kutipkan sedikit disini. Karena ini menjadi landasan saya dalam hal ini.


Thursday, 15 June 2017

Belajar tentang MPASI


Siang tadi, usai menemani om ke calon sekolah lanjutannya, kakak meminta untuk dibelikan jus buah. Padahal kesepakatan kami selama ramadhan adalah, kakak tidak makan dan minum di tempat umum. Maka mica tidak bisa mengabulkannya. Kakak sempat protes dan tetap meminta jus buah. Mica mencoba negosiasi dengan menawarkan membeli pepaya untuk di rumah. Kakak masih menolak. Kami pun mendekati gerobak penjualnya dan melihat ternyata gerobaknya masih tutup. Kakak menerima tawaran mica, membeli pepaya saja. Perjalanan pulang berlanjut dengan lancar.

Karena baru saja membeli pepaya, maka siang tadi menu makan adik adalah puree pepaya. Mica mengupas dan memotong bersama kakak, kakak membantu membuang bijinya. Saat menghaluskan pepaya  kami berdialog,

Kakak : Mi, pepayanya mau diapain?
Mica : Dihaluskan, mau buat makan adik
Kakak : Lho, pepaya kan manis mi. Adik belum boleh makan manis kan?
Mica : Ah iya…benar. Adik memang belum boleh makan manis. Tapi rasa manis yang berasal dari gula pasir itu kak. Kalau rasa manis yang ada di buah, boleh dimakan adik kak…
Kakak : Ooh..jadi pepaya manis boleh ya mi dimakan adik? Kakak yang nyuapin adik ya mi?
Mica : Iya, betul. Boleh dong, nyuapinnya gantian ya sama ummi. Adik kayaknya udah laper tuh. Pengen cepet-cepet maem.


Sesi obrolan tentang gula dalam MPASI ini pun berlanjut saat momen membaca bersama di malam hari, usia sholat tarawih.Mica membacakan isi buku MPASI, terutama bagian larangan penambahan gula untuk MPASI di usia bawah 1 tahun. Buku tentang MPASI memang sedang mica agendakan untuk dibaca dalam game level #5 ini. Terimakasih kakak, sudah mendorong mica membaca lebih banyak dan lebih cepat.

Wednesday, 14 June 2017

Membaca dan Mencocokkan Gambar

Di usia 3 tahun, anak memang belum bisa membaca tulisan, tapi dia bisa belajar membaca gambar. Puzzle ini adalah salah satu amunisi yang bisa membuat kakak anteng selama ikut mica mengaji. Dia membaca gambar aneka profesi, membaca gambar aneka bahan dan peralatan yang digunakan masing-masing profesi, dan menghubungkan keduanya. Saya sengaja mengamati proses belajar kakak dengan media ini. Bagaimana dia merekam informasi yang saya jelaskan di awal penggunaan ini, bagaimana dia mencari hubungan antara gambar profesi dan gambar peralatan profesi.

Saat puzzle ini saya berikan padanya, dia terdiam agak lama. Kemudia mulai menyusunnya satu persatu. Dimulai dari profesi-profesi yang favorit bagi dia. Kemudian dia mengambil gambar satu dengan yang lainnya, dilepas, ambil yang lain. Oh, ternyata dia sedang mencari hubungan dengan mencari kesamaan benda yang ada di gambar. Misal, profesi polisi, terlihat di gambar adalah seorang ibu dengan peluit terpasang di pakaian dinasnya. Maka kakak mengambil gambar yang ada peluitnya, dilanjutkan dengan memikirkan kembali, apa benda-benda di sebelah peluit, juga terpasang di pakaian dinas bu polisi? Begitu seterusnya.

Hingga kemudian, dia mencari-cari puzzle tertentu. Pasangan dari puzzle yang sedang dia pegang. Dan tidak mau beranjak memasangkan yang lain dahulu. Puzzle itu memang setelah mica cari juga tidak ada. Ternyata memang ketinggalan di rumah.

Membaca adalah sebuah perintah Allah, dan tidak melulu soal membaca tulisan dan buku. Membaca bisa dilakukan setiap saat, dalam setiap lini kehidupan. Dengan membaca, cakrawala terbentang luas, pikiran semakin matang dan semakin bijak dalam bersikap. Maka, ajak anak membaca dengan bahagia. Hingga membaca menjadi jalan pemecahan masalah baginya, dan muncul sebuah solusi dan inspirasi dalam setiap jejaknya.



Tokoh Buku Bacaan yang Serupa


Hari ini kakak memilih dibacakan buku “MasyaAllah, Ciptaan Allah yang Kecil tapi Ajaib”
Buku ini berisi tentang makhluk hidup kecil ciptaan Allah yang membawa manfaat sangat besar. Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi di setiap halaman, dengan tokohnya adalah seorang anak laki-laki berambut keriting. Buku ini baru kami beli menjelang ramadhan. Sengaja disiapkan sebagai amunisi belajar selama bulan ramadhan. Dan, baru hari ini dibuka segelnya dan kami baca. Setelah membaca beberapa halaman, kakak menyeletuk, “Ummi, masnya ini koq kayak yang di buku ya, buku apa ya?”. Ummi pun bingung, lupa buku mana dan tokoh siapa yang dimaksud. “Yang itu loh mi, yang pangeran. Pangeran Karim mi…”

Owalah…ternyata kakak mengingat dan membandingkan, ada kemiripan tokoh di buku yang sedang dibaca, dengan buku yang sudah kakak miliki. Setelah mica pikir-pikir, iya ya, memang benar, serupa. Sama-sama anak kecil berambut keriting. Goresan karikaturnya pun ada kemiripan.
Jadilah kami mencari buku yang kakak maksud, dan membandingkan keduanya.

Apa yang ummi pelajari hari ini?

Ada banyak hal yang mampu anak serap dari proses membaca buku. Bisa dari alur ceritanya, pesan moralnya, bahkan menajamkan ingatan dengan merekam gambar ilustrasi buku tersebut. Maka mica, janganlah pernah bosan untuk menemani anak-anak membaca. Jadilah teman membaca yang asyik untuk anak, karena melalui engkaulah, mereka menyerap berbagai ilmu dan nilai dari sebuah benda mati bernama buku.

Mengisi Buku Aktivitas Ramadhan



Hari ini kakak dan adik ikut ummi mengaji. Artinya, ummi harus mempersiapkan diri, mengkondisikan agar kakak dan adik tetap merasa nyaman selama mengikuti aktivitas ummi dalam 2 jam ke depan. Perbekalan pun ummi siapkan. Beberapa buku cerita, buku aktivitas dan pulpen untuk kakak. Ummi tidak membawa makanan dan minuman, karena sedang bulan ramadhan. Apakah kak Raysa sudah berpuasa? Belum, tapi di usianya yang 3 tahun ini, dia belajar menghormati orang yang sedang berpuasa dengan cara tidak makan dan minum di luar rumah terlebih di hadapan orang lain.

Saat akan berangkat mengaji, dia bertemu dengan teman sebaya, cucu dari guru kami mengaji. Mereka pun bermain bersama, berlarian di bagian belakang tempat mengaji. Tak berselang lama, teman kakak kedatangan tamu teman sekolahnya. Sesama laki-laki. Yang mana setelah itu, mereka berdua bermain mobil-mobilan bersama. Dan kakak, merasa tidak diajak. Kakak pun sedih, dia ingin bermain mobil-mobilan bersama duo lelaki itu. Tetapi sepertinya mereka berdua terlalu asyik bermain sehingga tidak menyadari kekecewaan kakak, hihi.


Kakak kembali ke tempat mengaji dengan langkah gontai. Ummi menawari membaca buku, kakak tolak dengan cepat. Kakak bersikeras ingin main mobil-mobilan bersama temannya. Oke, sepertinya butuh hal menarik untuk mengambil perhatian kakak nih. Ummi mengambil buku aktivitas ramadhan.` Ummi buka bagian menghubungkan titik-titik hingga membentuk gambar. Ummi meminta om untuk memberikan contoh menghubungkan titik-titik hingga membentuk sebuah gambar. Berhasil, kakak tertarik! Beberapa saat setelahnya, ummi mendapati kakak duduk manis, anteng mendengarkan dan mengamati apa yang om sampaikan dan lakukan. Om Wildan yang mengerjakan lembar aktivitasnya, kakak mengangguk-angguk belajar memahami. Ummi jadi bisa konsentrasi mengaji sembari menggendong adik. Alhamdulillah, terimakasih kakak, terimakasih om Wildan…

Sunday, 11 June 2017

Antara Kakak dan Teman Baca


Sore tadi, saat kakak baru saja bangun dari tidur siangnya dan mica sedang memandikan adik, kak Aileen datang dengan membawa tas berisi mukena. Saat mica tanya ada apa, kak Aileen bercerita kalau tadi saat sholat berjamah di masjid dan bertemu kakak, kak Aileen berjanji untuk menghampiri kakak dan bersama-sama mendengarkan pengajian jelang buka puasa di masjid perumahan.

Kakak yang awalnya kurang bagus moodnya, berubah menjadi lebih ceria. Dengan semangat, ia bergegas mandi dan menyiapkan diri untuk pergi ke masjid. Sembari menunggu kakak, kak Aileen mica tawarkan untuk membaca buku. Kak Aileen usianya sekitar tujuh tahun, menuju ke kelas 2 SD. Dan dia suka sekali membaca. Dalam beberapa kesempatan, mica sering menawarkan buku padanya dan dalam tempo singkat dia sudah asyik mengeja dan membaca buku-buku yang ada.

Bagaimana dengan kakak?
Dia sangat suka menempel ke kak Aileen untuk membaca bersama. Kakak memang belum bisa membaca, tapi dia ingin merasakan keasyikan yang sama saat membaca buku. Usai kakak mandi dan bersiap, mereka tenggelam dalam buku-buku selama beberapa saat sebelum berangkat ke masjid.

Pelajaran apa yang mica dapatkan hari ini?
Menstimulasi anak suka membaca tak melulu soal mengajarkan anak untuk mengeja dan membaca. Jauh sebelum itu, anak-anak butuh ruang untuk mencintai buku. Kalau di materi bunda sayang, tahapannya adalah mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
Mica tak akan memusingkan perihal kapan batas waktu dari masing-masing tahapannya, karena mica percaya, jika setiap tahapan berjalan dengan matang dan tuntas, tahap berikutnya akan Allah izinkan untuk datang.
Tahapan yang kakak lalui saat ini adalah mendengar. Baik dari dibacakan buku, diceritakan kisah maupun menyimak teman yang sedang membaca. Bukankah artinya, proses ini selalu membutuhkan teman? Teman untuk membacakan buku, teman untuk menceritakan kisah, maupun teman untuk menularkan semangat dan imaji positif mengenai membaca buku. Maka, buku dan teman baca adalah pasangan stimulasi yang tak terpisahkan.  

Sepucuk Kartu Ramadhan dari Padepokan Margosari


Siang kemarin suara pak pos mengagetkan kami. Ada sepucuk kertas yang mendarat. Sebuah kartu pos manis dari Salatiga, kiriman padepokan Margosari. Beberapa waktu lalu memang mba Ara meminta alamat-alamat keluarga perak, karena akan mengirimkan kartu pos – kartu pos kepada kami. Dan, kiriman itu kini sudah sampai di tempat tinggal kami.

Kartu pos itu disambut kakak dengan mata berbinar. Maklum, ini pertama kalinya dia melihat dan memegang kartu pos. Maka, jadilah ini mini project dengan tema kartu pos. Dengan cepat dia bertanya,

“Ini apa Mi?”
“Dikirim sama pak pos? Kenapa?”
“Ada gambarnya juga ya, kayak punya kakak yang gambar hello kitty…”

Pernyataan terakhir ini membuat saya agak berpikir. Hooo….ternyata gambar yang kakak maksud adalah stempel berwarna merah yang dibubuhkan disamping tulisan. Kalau kata mba Ara di grup perak, cap merah itu sama fungsinya dengan tanda tangan. Bertulisankan Zheng Feng Ing, yang artinya Zheng adalah marganya, feng adalah lebah dan ing adalah perkasa. Nah, kebetulan kak Raysa juga punya stempel yang dibelikan Abiya waktu beliau sempat mengikuti konferensi di Korea. Cuma bedanya bergambar Hello Kitty, hihi.

“Apa isinya?”

Hmmm…apa ya isinya? Selayaknya kartu pos lainnya, isinya adalah sebuah pesan.  Pesan ucapan 
selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan disertai bumbu pengingat,
“It is only 1% of not eating and drinking, the rest 99% is bringing our heart closer to Allah.”
Ah, benar. Puasa memang tak hanya menahan diri dari lapar dan haus. Tetapi tentang sebuah proses membawa hati untuk lebih mendekat pada Allah.
Pengingat ini membawa saya membuka kitab ringkasan Ihya’ Ulumuddin. Kebetulan beberapa waktu lalu saya dan suami sempat membahas mengenai tiga tingkat dalam puasa. Dalam kitab ini, dipaparkan bahwa puasa memiliki tiga tingkat, yaitu puasanya orang awam, puasanya orang khusus dan puasa khususnya orang khusus.

Puasanya orang awam adalah menahan makan dan minum dan menjaga kemaluan dari dorongan syahwat. Sedangkan puasanya orang khusus adalah selain poin tingkat pertama, ditambahkan pula menahan pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa khususnya orang khusus adalah puasanya hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah.

Ya Allah, malu rasanya. Tujuan kami tentu ingin meraih tingkatan tertinggi. Tapi usaha yang dilakukan, masih sekedar di tingkat pertama saja, itupun entah tercapai atau tidak. Tak apa, yang terpenting adalah keuletan dan ketangguhan untuk pantang menyerah. Mencoba lagi dan lagi. Setidaknya, Allah menilai semangat perbaikan yang kita upayakan.

Untukmu anakku, kakak dan adik, dari sini kita melihat contoh cara membahagiakan orang lain. Tak perlu mewah, cukup dengan ketulusan dan kehadiran hati. Maka semangatmu dalam memberi, akan memberi kehangatan dan kegembiraan bagi sang penerima. Hingga Allah gerakkan hati mereka untuk berbagi lebih luas lagi. Pemberian mendatangkan kebahagiaan, bukan? Untuk penerimanya, dan terlebih, adalah untuk pemberinya J

Referensi :
Grup WhatsApp PERAK 2017
Kitab Ringkasan Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Ghazali 

                

Thursday, 8 June 2017

Buku Apa Saja yang Akan Kami Baca?


Di hari kedua ini, kami melanjutkan tantangan dengan memilih buku-buku yang akan kami baca selama periode tantangan ini.

Buku apa yang mica pilih?
  1. MPASI Perdana Cihuy! Mengingat adik yang sedag memulai MPASI ria. Sekaligus menyusun menu hariannya.
  2. Ihya’ ‘Ulumuddin. Kitab milik biya, yang mica baca sepotong-sepotong. Di ramadhan ini, harapannya bisa membaca kitab ini lebih banyak lagi
  3. Tarbiyatul Aulad. Ini kitab yang dipinjami guru mengaji. Sebenarnya buku ini sudah ada di rumah, sama-sama ditulis Abdullah Nashih Ulwan juga. Tapi beda penerbit dan sepertinya yang dipinjami ini jauh lebih dulu terbit. Beda generasi.

Buku apa yang kakak pilih?
  1. Juz Amma Super
  2. Ayo Belajar Puasa
  3. Amazing seri cerita-cerita dalam Al Qur’an
  4. Diary Ramadhan
  5. Buku busa Haji. Kata kakak, ini buku untuk dibaca adik, hihi

Lalu, bagaimana dengan biya?

Saat family forum kemarin, biya punya target membaca jurnal-jurnal yang cukup banyak. Jurnal elektro, yang mica sama anak-anak belum paham :D

Poin pembelajaran hari ini :
Apapun buku yang kau pilih untuk dibaca, upayakan untuk konsekuen dalam membacanya. Hingga akhir, hingga selesai, dan hingga mendapat saripatinya. Saripati itu bagi mica adalah buah pemikiran yang merupakan hasil dari sebuah proses input dan mengolah informasi. 

Diskusi Keluarga tentang Rencana Pohon Literasi


Setelah beberapa minggu jeda liburan tantangan, kali ini kami kembali mengakrabkan diri dengan tantangan 10 hari game level 5 kelas bunda sayang. Karena materi kali ini adalah tentang menstimulasi anak suka membaca, maka tantangannya tak jauh dari buku. Kami sekeluarga ditantang untuk membuat pohn literasi dan merimbunkannya dengan daun-daun judul buku.

Hari pertama tantangan, kami mulai dengan family forum. Forum ini dilakukan di WhatsApp Group keluarga karena kami sedang tinggal berjauhan. Biya yang sedang sibuk dengan targetnya, mempercayakan teknis pembuatan pohon pada kami. Oke, pimpinan project adalah mica, sekaligus sebagai perencana dan dokumentator. Biya berperan memonitor dan kakak adik sebagai tim hore. 

Apa yang kami lakukan dalam family forum? Mengobrol dan diskusi. Peran apa yang bisa diambil oleh biya, peran apa yang bisa dijalankan oleh mica dan peran apa yang mulai bisa ditunaikan anak-anak. Tujuan kami dalam proses ini adalah bagaimana menjalankan sebuah pembelajaran dengan menyenangkan. Lepas dari kesempurnaan, lepas dari proses keluarga lain. Pun, menyesuaikan dengan kondisi kami sekeluarga. Tak perlu berkecil hati, karena setiap keluarga itu unik. Terus saja berjalan pada track yang telah Allah gariskan pada griya riset, keluarga kami, tim ini.

Monday, 5 June 2017

Surat Sederhana untuk Putri Kecilku

Hai putri kecil, mengapa kau sudah begitu besar?
Baru kemarin ummi beritahu engkau untuk tak membawa makanan ke kamar.
Hari ini, dengan nyanyianmu, kau ingatkan ummi yang sedang memegang kerupuk sembari mengetik di dalam kamar.
Adindaku, terimakasih telah mengingatkan ummi. Tentang banyak hal yang ummi sampaikan padamu, tapi raga ini kerap kali lalai dan justru melanggarnya. Darimu, ummi belajar menjaga komitmen dan konsistensi

Hai putri kecil, mengapa kau tumbuh dengan cepat?
Baru kemarin ummi memakaikan baju untukmu, menyisir rambutmu dan memilihkan jilbab untuk menutup auratmu.
Hari ini, kau menolak bantuan ummi, memenuhi kebutuhanmu sendiri seraya berkata, kakak anak mandiri ya Mi?
Ah nak, tak sanggup ummi menjawab dengan kata. Hanya anggukan dan dekapan bangga yang ummi persembahkan padamu.

Hai putri kecil, kau baru saja menunjukkan keberanian dan adab yang baik
Saat sepulang tarawih tadi, kau berlari menghampiri ummi sembari melapor, “Ummi, kakak pulang dari masjid sendirian… Kakak berani Ummi, ngga ada motor, ngga ada orang, padahal gelap loh…Yangti masih jalan disana, di belakang kakak.”
Ummi tersenyum mengapresiasi dan melihat rona sumringah di wajahmu. Setibanya yangti di rumah, tiba-tiba kau berkata, “Yangti, maaf ya, kakak tadi jalan duluan…”
Sepenuh harap, ummi ingin menjadi teman bermainmu. Yang pertama dan utama. Hingga laku ini kau tiru, hingga ucap ini kau gugu.
Terus bertumbuhlah, menjadi muslimah tangguh nan lemah lembut. Yang antara tutur dan laku berjalan beriringan, seiya sekata





Friday, 2 June 2017

Pondok Ramadhan Pertama Kakak


Mata berbinar dan senyum terkembang menghiasi wajahnya siang itu. Rona wajahnya menyiratkan keinginan untuk segera berangkat, berjumpa dengan peserta pondok ramadhan lainnya yang sudah berkumpul di aula majlis ta’lim yang terletak di depan rumah.

Dengan memanggul tas ransel kecil di pundak, dia menunduk mengenakan sandalnya seraya memanggil, “Miiii…ayo berangkat Mi…”

Ummi yang sedang memakai gendongan, bersiap membawa adik, tergopoh-gopoh menenteng tas dan mengunci pintu. Bersegera, tak ingin menghilangkan raut antusias di wajah kecil kakak.
“Yuk kak, berangkat…” ajak mica sembari menggendong adik. Ya, hanya menyeberang jalan, lalu sampai ke tempat tujuan. Alhamdulillah, sebegitu nikmatnya, Allah dekatkan kami dengan majelis ilmu.

Pondok ramadhan ini berlangsung selama 3 hari 2 malam. Pesertanya semua anak-anak, namun lintas usia. Peserta terkecil adalah Raysa, sedangkan peserta paling besar adalah omnya Raysa dan teman-temannya, yang baru saja usai mengikuti Ujian Nasional Sekolah Dasar. Tak ada target apapun untuk kakak. Hanya memberikan ruang baginya untuk berpikir dan mencerna, kondisi sekitar yang berbeda dari biasanya. Kalau bosan, kakak bisa pulang. Toh tinggal menyeberang jalan.  Yangti pun menjadi panitia acara sehingga hampir selalu standby di tempat acara.

Ada sedikit catatan mica dari proses belajar kakak selama pondok ramadhan kemarin,
  1.  Kakak melihat langsung aktivitas para peserta pondok ramadhan yang mana hampir semua usianya diatas kakak. Kakak belajar bagaimana seorang anak memenuhi kebutuhannya sendiri, menyiapkan pakaian, menyimpan alat sholat sampai makan dengan tertib. Suatu malam, seusai buka bersama, kakak pulang ke rumah dan melapor, “Ummi…kakak makannya habis dan makan sendiri lo.” Atau saat adzan berkumandang, ummi menanyakan dimana mukena kakak, kakak jawab “Kakak simpan di bawah meja itu lo mi, kayak mba-mba.” Maksudnya kakak simpan di bawah meja, seperti santriwati peserta pondok ramadhan. Beberapa hari terakhir, sepulang dari pondok ramadhan, kakak menolak kalau ummi membantu melipatkan mukena. Alasannya, kakak sudah besar, sudah mandiri. Padahal sebelumnya biasanya kami berbagi. Kakak melipat bawahan, ummi melipat atasan. Hore, ummi semakin diringankan :)
  2. Ada proses melihat dan mendengar untuk menyerap informasi, kemudian memproses dan mencerna dengan daya nalarnya hingga kemudian menghasilkan pemikiran. Seperti misalnya saat akan berangkat, kakak  berujar, “Ummi, kakak nanti mau ikut pondok romadhon. Tidurnya disana ya. Sama mba A, mba B, temennya kakak yang…. (terdiam agak lama)…ngga laki-laki.”Pernyataan ini adalah kesimpulan sederhana yang muncul dari serangkaian proses berpikir kakak mengenai bagaimana acara pondok romadhon, apa yang akan dia lakukan disana, juga pemahaman perbedaan dan batasan antara laki-laki dan perempuan
  3. Anak dengan tipikal easy, slow to warm maupun difficult child, perlu diberikan ruang untuk mengasah kepercayaan dirinya. Maka terlepas dari apapun tipikal kakak, tugas kami sebagai orangtua adalah memfasilitasinya. Di acara kemarin, mica mendapat kesempatan mengisi sesi Cerita Anak Muslim, maka mica pun memperkenalkan diri sebagai kak Mesa dan dek Raysa. Sesi diawali oleh kakak dengan menyanyi lagu Ramadhan yang kami buat untuk bekal acara PERAK 2017 lalu, sebagai berikut :
Sebentar lagi datang bulan apa? Romadhon
Bulan puasa bagi siapa? Umat Islam
Yuk kita sambut dengan ceria, yuk kita sambut romadhon…

Simpel banget, khas anak batita. hihihi
Keesokan harinya, saat acara penutupan, kakak maju untuk mendapat apresiasi sebagai peserta terkecil. Kakak malu, minta didampingi ummi. It’s okay, ummi pun ikut maju mendampingi, ini pun sebuah bentuk memfasilitasi. Tak perlu khawatir, itu bukanlah pertanda bahwa anak tak berani tampil. Dia hanya mencari kenyamanan dan perlu kita penuhi itu.
Setelah pondok ramadhan ini, kakak semakin siap menjalani Ramadhan dengan penuh keceriaan :)