Sunday, 18 October 2020

Belajar Membuat Passion Canvas Diri dan Bersama Rekan Satu Co-House Merumuskan Project Passion

Bismillahhirrohmanirrohim…

Berikhtiar kembali untuk mengumpulkan jurnal sebelum pekan ini berakhir. Supaya tidak terburu-buru lagi dan menjalankan jadwal kegiatan awal pekan dengan lebih mindfulness dan efektif.

Setelah pemilihan umum berlangsung, maka pekan berikutnya kami libur menuliskan jurnal. Agenda utama adalah berkenalan dengan tetangga satu Co-House. Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih untuk kebijakan ini. Karena berkenalan secara virtual artinya menggunakan jam daring yang alokasinya sama halnya dengan menulis jurnal. Dengan meliburkan penulisan jurnal di pekan tersebut artinya, terlebih bagi saya pribadi, adalah tetap menggunakan jam daring secara proporsional sesuai jadwal dan porsi yang dimiliki, tidak perlu menambah alokasi waktu.  

Dalam pekan ini kami mendapat tantangan untuk membuat Passion Canvas individu dan merumuskan ide serta mendiskusikan bersama tetangga Co-House mengenai sebuah Project Passion yang nantinya akan dikerjakan bersama sepanjang kelas Bunda Produktif. Wah, menarik sekali! Sudah lama saya ingin belajar praktik langsung dari ahlinya, bagaimana merumuskan sebuah proyek bersama yang di dalamnya kebutuhan belajar setiap anggota tim dapat terfasilitasi sehingga kesemuanya dapat mengambil peran yang „aku banget!“. Dan di kelas Bunda Produktif ini kesempatan emas itu pun datang, masyaAllah.

Bagaimana dengan Passion Canvas yang saya buat?

Jujur, baru hari Sabtu siang saya bisa membuka dokumen-dokumen yang diberikan dan mencermatinya. Bukan karena enggan atau bahkan malas, tapi karena belum berkesempatan. Hari Jum’at yang memang saya jadwalkan sebagai jatah daring untuk belajar seputar IIP, baru cukup saya gunakan untuk koordinasi pengurus HIMA regional, menyimak live presentasi ibu Walikota Hexagon City, membaca e-book  Passion to Nation dan menyusul menyimak bahasan diskusi di WAG Co-House.  Menjadi sebuah catatan pribadi untuk saya, untuk perlu meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan durasi waktu daring  agar bisa berjalan lebih efektif dan efisien sehingga target tercapai dengan alokasi waktu yang tersedia. High impact activities.

Maka, Sabtu siang itu saya membuat oret-oretan di kertas kemudian mempresentasikannya pada suami. Dari presentasi yang saya sampaikan, suami menanyakan poin yang saya letakkan di Hard Skills dan Soft Skills serta (lagi-lagi) tentang alokasi waktu belajar. Beliau memberikan masukan, “Memungkinkan ngga, kalau ummi mengerjakan PR kursus di siang hari usai pulang kursus sebelum menjemput Raysa?” Saya menggeleng. Sepulang kursus saya bersegera untuk memasak dan menemani Ahsan makan siang. Kemudian bermain sebentar, mengajaknya tidur siang dan bersiap menjemput si sulung. Saya menunjukkan jadwal yang sudah saya buat dan tempel di dinding. Sebenarnya sudah tertulis  alokasi waktu satu jam untuk belajar bahasa Jerman setiap sore yang ternyata sulit untuk direalisasikan. Maka kami pun mendiskusikan beragam alternatif sehingga alokasi waktu untuk belajar bahasa untuk saya tetap ada dan realistis. Mulai dari alternatif memasak masakan yang simpel sehingga menghemat waktu di dapur, sepulang kursus skip belanja eceran dan dimampatkan di sesi belanja akhir pekan, hingga memundurkan jam tidur. Untuk hal ini saya masih mengotak-atik hingga kini.

Dan inilah Passion Canvas  diri saya :



Berbagi  Passion Canvas ini bertujuan untuk membuka kesempatan mendapatkan input masukan dari yang sudah berpengalaman di perjalanan serupa, kesempatan untuk saling menyemangati bagi yang sedang berada di perjalanan yang senada, kesempatan untuk berbagi cerita atau bahkan belajar bersama dengan pada teman-teman yang sedang mengawali belajar bahasa Jerman. 


Lalu bagaimana dengan Project Passion? Di kelompok Co-House, kami memiliki kesepakatan untuk berdiskusi via ZOOM setiap hari Sabtu jam 15 CEST. Bagi saya, kesepakatan ini sangat sesuai karena dengannya diskusi bisa berjalan dengan efektif efisien.  Diskusi Co-House ini dimulai dengan menelaah ide yang tertuang di Passion Canvas masing-masing. Dari kesebelasan Co-House kami, ide yang terkumpul antara lain sebagai berikut :

  • Video tutorial bahasa Inggris
  • Resensi buku melalui suara maupun tulisan
  • Rekomendasi buku bacaan
  • Read Aloud  melalui video maupun suara
  • Materi presentasi berbahasa Inggris
  • Buku antologi

Setelah tabungan ide terdata, maka kami pun mulai berdiskusi. Ide pertama adalah sebuah ide yang spesifik dan mengerucut, yaitu melakukan Read Aloud mengingat mayoritas ide pribadi pun banyak yang mengarah ke situ. Kemudian ide kedua adalah sesi berbagi dimana masing-masing anggota bisa memiliki kesempatan untuk berbagi. Hal ini sesuai dengan ide yang dicetuskan Ummu Sofwa sebagai berikut :

Kami pun menimbang antara proyek yang mengerucut spesifik atau yang luas dan umum. Masing-masing pun mengutarakan pendapatnya. Dengan menyimak pendapat teman-teman, saya mendapat insight mengenai bentuk Project Passion sehingga kemudian saya mengusulkan sebuah ide sebagai berikut :

Definisi proyek : sebuah produk berupa ­e-book dan video, yang berfokus pada satu tema yang erat kaitannya dengan pendidikan karakter anak-anak Indonesia. Kami memiliki impian, bahwa produk yang kami buat ini akan menjadi sebuah paket Starter Kit yang membantu masyarakat Indonesia dalam mendampingi ananda membangun sebuah karakter baik bersama-sama melalui literasi.

Durasi proyek : 6 bulan

Nama proyek : sedang proses diskusi. Saya mengusulkan nama = LiterAksi Tematik. Untuk gambaran besar proyeknya, baru saja saya tuntas tulis dan mengirimkan ke Co-House Leader.

Dalam diskusi via ZOOM lalu kami juga sepakati adanya presensi saat diskusi. Bukan untuk menuntut kehadiran setiap orang di setiap waktu, namun untuk menjaga semangat, saling menyemangati dan mengoptimalkan kesempatan belajar yang dimiliki. Teknisnya pun sangat ramah kondisi, dimana di setiap pekan akan ada tiga kali diskusi, dan setiap diskusi akan berlangsung sekitar dua hari, kecuali agenda via ZOOM setiap Sabtu jam 15 CEST yang sudah disepakati sedari awal. InsyaAllah aturan ini memudahkan dan saling memuliakan satu sama lain.

Sekian jurnal pembelajaran di pekan ini. Alhamdulillah atas izin Allah, jurnal bisa tuntas sebelum berganti pekan sesuai target perbaikan yang dicanangkan.

Salam Ibu Profesional,

Wien, 18.Oktober 2020

Mesa Dewi Puspita

 

 

 

 

 

Wednesday, 14 October 2020

Ein 60-Tage-Sommerprojekt : Proyek Solutif Keluarga yang Terinspirasi dari Perkuliahan Institut Ibu Profesional

Gugus Bintang Penjelajah merupakan program seru yang diinisiasi tim Selasar Institut Ibu Profesional sebagai tempat berkumpulnya para mahasiswa Institut Ibu Profesional yang mengejawantahkan hasil belajarnya di kelas IIP menjadi sebuah proyek karya baik berupa buku, jurnal ilmiah, kegiatan daring maupun luring dan juga produk. Saya bergabung di salah satu gugus bintang yang spesifik pada ranah kegiatan daring. Dari program ini, saya berjejaring dengan sesama mahasiswa yang sudah, sedang dan akan menghasilkan karya-karya hebat. Tidak menutup kemungkinan, ke depan bisa terjalin kerjasama satu sama lain dengan menggagas sebuah proyek bersama.

Proyek karya yang sudah tuntas saya kerjakan dan saya bagikan di program ini adalah proyek keluarga yang kami kerjakan saat masa liburan musim panas lalu, bertajuk “Ein 60-Tage-Sommerprojekt” yang merupakan dokumentasi kegiatan Home Education yang kami lakukan secara konsisten selama 60 hari baik secara luring maupun daring berturut-turut. Dokumentasi perjalanan lengkapnya saya tuliskan di sebuah album khusus di akun Facebook pribadi di tautan ini.  

Perjalanan bintang penjelajah membuat saya berefleksi diri. Tujuan bergabungnya saya di Institut Ibu Profesional adalah meningkatkan kapasitas dan kualitas diri dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan, istri, ibu dan agen perubahan dan masyarakat. Dan proyek Home Education  “Ein 60-Tage-Sommerprojekt”  ini merupakan langkah saya menjawab tantangan yang hadir saat itu.

Apakah tantangan yang saya rasakan?

Layaknya kebiasaan yang berlangsung di negara Eropa lainnya, musim panas adalah waktu untuk berlibur keluarga baik di luar kota maupun luar negeri. Mayoritas teman melakukannya dan tak jarang pertanyaan terkait pun menghampiri, “Kapan liburan? Kemana?”.  Tahun lalu saya menjawab dengan senyum tipis dan ada keinginan juga untuk bepergian keluar kota. Wajar saja banyak teman yang bepergian ke luar kota atau luar negeri. Dengan izin tinggal yang kami semua pegang, bepergian ke luar kota bahkan luar negeri selama masih dalam kawasan Uni Eropa merupakan hal yang mudah dengan biaya tiket yang cukup terjangkau jika dipesan sejak jauh hari. 

Namun kondisi studi suami memang cukup hectic sehingga tak memungkinkan bagi kami untuk bepergian keluar kota barang beberapa hari saja. Akhir pekan saja beliau seringkali bekerja. Dulu sempat ada masa di mana saya membandingkan kondisi studi suami dengan rekan mahasiswa lainnya. “Mengapa? Apa yang berbeda?” begitu pikir saya kala itu. Hingga kemudian ada suatu momen yang saya saksikan sendiri hingga meyadarkan saya untuk tidak membandingkan kondisi dengan pihak lain dan fokus bergerak solutif di lintasan sendiri. Studi lanjut suami ke sii adalah sebuah proyek keluarga. Maka bersama-sama kita sukseskan proyek ini, sesuai pembagian tugas masing-masing. Saling menjadi support system.

Di tahun ini, saya tidak mau terlarut dalam opini kebanyakan orang dan memilih untuk menciptakan kebahagiaan. Kami mencoba mengambil langkah nyata untuk switch dan memulai bergerak dengan persepsi baru. Mulailah saya membuat mindmap rencana proyek kegiatan selama musim panas yang seiring perjalanan diberi nama“Ein 60-Tage-Sommerprojekt”. Saat merencanakan proyek ini, kami jadi banyak berdiskusi sekeluarga dan menyadarkan diri bahwa ada banyak hal dan tempat di kota Wina yang belum kami eksplorasi. Berikut mindmap proyek ini :



Target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proyek ini alhamdulillah tercapai. Saya ingin meningkatkan bonding dengan anak-anak, mengambil jeda dari kegiatan daring yang beruntun, lebih mindfulness daam berkegiatan bersama dan silaturahim luring dengan beberapa pihak yang belum bisa dijalankan saat belum masa liburan. Pasca terlaksananya proyek ini saya merasa memiliki energi positif yang lebih besar karena berhasil menjalankan proyek yang muncul dari hadirnya sebuah tantangan diri.

Dari perjalanan gugus bintang penjelajah saya menemukan bahwasanya sebuah proyek yang didasari oleh kebutuhan belajar diri akan memunculkan energi besar dan menularkan kebahagiaan ke pihak lain. Tak hanya saya, anak-anak dan suami pun merasakan kebahagiaan selama liburan musim panas ini karena menjalankan banyak ragam aktivitas, memperoleh aneka wawasan baru dan banyak mengeksplorasi berbagai tempat. Ini adalah langkah awal dari sebuah gerakan inside out. Jika proyek itu memang gerak ikhtiar kita menjawab tantangan yang sedang dijalani, maka saat menjalankannya pun lelah beriringan dengan rasa bahagia dan mata berbinar. 

Gugus bintang penjelajah membuat saya berkontemplasi. Saat berdiaspora, seringkali saya mendapat tantangan yang berbeda kondisi dengan saat saya tinggal di Indonesia. Maka ternyata, saya cukup berfokus menghadapi tantangan itu saja dengan seoptimal mungkin. Tak perlu berkecil hati dengan  menakar besaran atau luasan dampak yang dimunculkan, itu takkan pernah ada ujungnya. Selama tantangan di depan mata tersolusikan, cukuplah hal tersebut menjadi penentram hati dan pijakan untuk melangkah di proyek berikutnya. 

Untuk semesta karya yang akan dilakukan di tahun 2021, saya ingin menulis sebuah buku solo. Membagikan pengalaman hidup di bumi Eropa ini sehingga menjadi jejak perjalanan yang tak lekang oleh waktu. Adapun bekal potensi diri dan dukungan yang dibutuhkan antara lain manajemen diri yang semakin baik, juga jejaring yang luas dengan pihak editor dan penerbit.

Terima kasih tim Gugus Bintang Penjelajah, dari proses ini saya belajar banyak hal.

Wina, 14 Oktober 2020

Salam Ibu Profesional,

Mesa Dewi Puspita

 

 

Sunday, 4 October 2020

Hal yang Menarik Perhatian selama Proses Pemilihan Walikota Hexagon City

Hmm….belajar apa saja saya di kelas Bunda Produktif pekan ini?

Jika pekan lalu saya sudah membuat rancang rumah produktivitas diri, pekan ini sebenarnya saya masih mengutak-atik desain rumah tersebut dengan aplikasi planner 5d. Ya, durasi belajar pekan lalu baru cukup saya gunakan untuk memikirkan ruangan-ruangan apa saja yang benar-benar saya butuhkan untuk rumah selama berada di Hexagon City, bertemu dengan para tetangga di Co-House  dan menyepakati siapa yang menjadi Co-House leader.  Cerita detail tentang proses tersebut saya tuliskan di jurnal pekan lalu disini.

Pembelajaran pekan ini masih dalam cakupan teman Membangun Struktur Organisasi Kota (2). Jadi di hari Rabu lalu, pada jadwal live kami menyimak pemaparan dari enam calon Wali Kota terpilih. Sayangnya saya tak bisa mengikuti jadwal live tepat waktu di jam 20.00 WIB atau 15.00 CEST karena jamnya bentrok dengan jam keluar rumah untuk menjemput sekolah si sulung. Saya mencoba menyimak live tersebut di malam hari dengan terpotong-potong.

Sesi live hari Rabu baru saya alokasikan untuk disimak di hari Jum’at karena di hari Rabu dan Kamis saya memiliki keterbatasan dalam pengalokasian waktu. Kalau boleh jujur, di level kursus bahasa Jerman saat ini saya merasa memiliki tantangan yang lebih besar daripada level sebelumnya sehingga usai jam kursus di pagi hari saya perlu mengalokasikan waktu khusus di sore atau malam hari untuk menyicil mengerjakan PR yang diberikan atau belajar mandiri dengan membaca teks atau buku agar ta tetap bisa mengikuti kelas dengan pemahaman yang mencukupi. Menyikapi tantangan di bidang-bidang yang sedang saya pelajari saat ini saya memutuskan untuk mengelola jadwal belajar harian. Pembelajaran kelas Bunda Produktif dan koordinasi intensif terkait amanah sebagai leader HIMA saya alokasikan di hari Jum’at. Namun hal-hal yang bersifat urgent seperti meneruskan informasi seputar teknis perkuliahan dari pusat ke HIMA regional juga mengikuti perkuliahan sesuai jadwal kuliah yang diatur oleh tim pusat, tetap saya upayakan untuk bisa berjalan sesuai timeline tim pusat.

Di rentang waktu Rabu dan Kamis, saya melakukan koordinasi dengan teman-teman di Co-House. Seputar penataan lingkungan bersama, logo hingga pengumpulan foto diri setiap warga. Mba Sari selaku Co-House leader sangat mengayomi setiap warga. Saya sangat mengapresiasi dan terbantu dengan chat pribadi dari beliau yang mengingatkan saya untuk mengumpulkan sesuatu jika saya belum menyimak atau hadir di WAG Co-House.

Beberapa chat pribadi terkait dengan pemilihan Walikota pun masuk. Ada pertanyaan siapa calon Walikota pilihan saya dan jika sama, beliau mengajak saya untuk bergabung sebagai tim sukses. Hati saya menghangat. Ada gerak bersama yang cepat dari para ibu untuk memakmurkan Hexagon City ini. Namun saya belum memiliki kecondongan terhadap pihak mana pun. Dan saya merasa berkewajiban untuk memilih secara objektif berdasar data dan informasi yang para calon paparkan selama kampanye. Dan satu-satunya cara untuk dapat menentukan pilihan adalah dengan menyimak visi misi dan kampanye setiap calon Walikota. Maka saya pun menyatakan ketidakbersediaan saya untuk menjadi tim sukses salah satu calon sebagai langkah objektivitas diri.

Chat lain yang masuk yang masih terkait dengan pemilihan Walikota adalah, ajakan pada Hexagonia regional Efrimenia untuk menyimak kampanye para calon Walikota. Ini tentu erat kaitannya dengan peran saya sebagai ketua HIMA regional Efrimenia yang sekaligus tercatat sebagai warga Hexagon City. Sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak, saya merasa tak memiliki kuasa untuk menentukan, karena WAG warga Hexagonia Efrimenia tak lain adalah wadah bersama yang menyangkut kepentingan bersama. Maka saya memilih untuk menanyakan kesediaan teman-teman Hexagonia regional terlebih dahulu. Dan suara yang muncul dari warga adalah mereka memilih menyimak live di grup Facebook saja. Dan saya pun menyampaikan keputusan tersebut pada pihak yang mengajak.

Saat tiba hari Jum’at, hari dimana saya menjadwalkan menyimak sesi live dengan mindfulness, saya menghadapi fakta bahwa saya sudah tertinggal jauh. Bahkan mungkin sangat jauh. Karena ternyata sudah berderet bahan kampanye dari setiap calon Walikota. Baik itu pemaparan visi misi setiap calon, testimoni warga lain seputar sepak terjang calon selama beraksi nyata di Ibu Profesional hingga jadwal kampanye live satu jam untuk setiap calon di hari Jum’at dan Sabtu. Ternyata gerak kampanye sudah berjalan sangat cepat! Pergerakan cepat ini bisa jadi sebuah analogi kecepatan perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Lalu langkah apa yang perlu saya lakukan agar tak tertinggal? Saya memilih untuk membaca visi dan misi setiap calon Walikota dan mendukung semuanya dengan mengapresiasi dalam komentar postingan para calon dan menyimak forum live ARGUMEN di hari Sabtu malam yang menghadirkan keenam calon Walikota.

Proses pemilihan Walikota ini menyadarkan saya akan kesungguhan para Hexagonia dalam menjalankan setiap peran yang diembannya. Bagaimana founding mother menyiapkan paduan berupa playbook  dengan segenap hati. Bagaimana para tim formula merancang sistem pemilihan yang runut, sistematis, adil dan beradab. Bagaimana setiap calon Walikota adalah orang-orang yang visioner, berpengalaman dalam memimpin dan berkilau dengan potensi uniknya masing-masing. Bagaimana tim sukses setiap calon Walikota mencurahkan segenap tenaga, pikiran dan kreativitas untuk menyukseskan ajang pemilihan pemimpin ini. Bagaimana setiap warga tak cukup puas jika hanya sebagai penonton saja sehingga setiap warga sibuk menelaah dan mengapresiasi setiap kampanye dari siapapun calon Walikotanya. Ada mimpi yang dititipkan setiap warga untuk setiap calon Walikota terpilih. Ada tujuan bersama yang diperjuangkan. Ada kesungguhan dalam setiap keberjalanan peran.

Fakta unik khas seorang ibu pun terlihat di sepanjang prosesnya. Seorang calon Walikota tampil menyampaikan argumen dengan menyusui putranya. Warga pun mengapresiasi sikap beliau. Bukankah apresiasi dan pengertian adalah respon yang amat berarti bagi perempuan saat berada di kondisi sulit? MasyaAllah. Seorang calon lain berpendapat ditemani putra di sampingnya. Sang anak menyaksikan langsung bagaimana sang ibu unjuk diri menampilkan versi terbaik dirinya. Kelak saat dia dewasa dan tampil di podium, mungkin bayangan momen ini akan otomatis melintas di benaknya.

Dari proses ini, saya menyaksikan teladan dengan jelas, bahwa saat setiap perempuan mengenali diri dan berproses menuju versi terbaik diri, memiliki ruang gerak dan berkolaborasi satu sama lain, maka akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Saat setiap perempuan memiliki kepedulian pada perempuan lain, mengakui kekuatan perempuan lain, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama maka kolaborasi akan membuahkan hasil yang lebih dahsyat dan berdampak ketimbang berkompetisi.  

Di hari Ahad, ternyata saya berhalangan menyimak analisa pemilu Hexagon City bersama pak Dodik dan cerita seru di balik layar kampanye bersama tim sukses setiap calon Waikota. Baiklah, bergerak ke jadwal berikutnya saja, menggunakan hak pilih di hari Senin. Di pagi hari saya melakukan cek WAG Ketua HIMA dan mengingatkan teman-teman Bunda Produktif regional untuk menyiapkan ID Card. 

Sore hari usai menuntaskan urusan domestik dan menjemput anak-anak, saya memilih calon Walikota. Dalam formulir, sebelum memilih kami mengisi data diri, seputar alamat e-mail, NIM dan no.ID Card. Kemudian calon pemilih bisa membaca ulang visi dan misi dari setiap calon Walikota untuk meyakinkan diri dalam menentukan pilihan. Selain pilihan enam kandidat, juga tersedia pilihan untuk tidak memilih kandidat siapapun. Ini menarik, artinya tim panitia menghargai dan memberi ruang untuk semua ragam pilihan. Kemudian, disediakan pilihan juga terkait peran yang kami ambil di pemilihan Walikota ini. Saya mengambil posisi sebagai penggembira. Berperan aktif dalam proses pemilihan dengan mengikuti setiap proses, menjalankan amanah sebagai ketua HIMA regional dan terlibat aktif dalam diskusi di Co-House 



Dan syukur Alhamdulillah, terima kasih untuk diri sendiri, yang sudah berhasil menunaikan target pribadi yaitu menuntaskan jurnal pekan ini sebelum akhir pekan berlalu. Semoga kebiasaan baik ini bisa berlanjut di pekan-pekan berikutnya dan mejadi kebiasaan baik baru yang terlatih dalam diri. Semoga Allah seantiasa tuntun dan istiqomahkan langkah ini. Aamin. 



Salam Hexagonia bahagia,

Wina, 4 Oktober 2020

Monday, 28 September 2020

Sechseck-Haus von Mesa, Hunian Produktif di Hexagonia City

 

Bismillahhirrohmanirrohim…



Kembali mengisi blog dengan tugas di kelas belajar Institut Ibu Profesional. Kali ini saya menapak di kelas Bunda Produktif. Di kelas ini, kami belajar dengan metode gamifikasi, dimana kelas Bunda Produktif disulap menjadi sebuah kota bernama Hexagon City. Para peserta perkuliahan mendapat julukan Hexagonia yang nantinya akan membangun kota bersama-sama. Saat awal disampaikan bahwasanya di kelas Bunda Produktif ini setiap peserta akan menjadi warga yang membangun sebuah kota, maka saya tersadar bahwasanya di kelas ini akan penuh dengan aksi dan karya. Membangun adalah sebuah kata kerja yang memiliki arti dalam KBBI bangkit berdiri atau naik. Maka kami perlu bersiap untuk bergerak aktif bersama-sama mewujudkan sebuah mimpi bersama yaitu sebuah kota produktif yang dihuni warga yang kreatif dan penuh solusi.



Nah, titik awal untuk membangun sebuah kota adalah memilih passion yang akan ditekuni selama perkuliahan Bunda Produktif ini. Dengan ketertarikan tinggi dan niat ingin menguatkan bidang yang sedang dipelajari saat ini sehingga antar kelas belajar yang saya ikuti bisa saling menguatkan satu sama lain, bismillah saya memilih bidang passion literasi dan bahasa. Panduan dalam menjalankan gamifikasi ini berupa Playbook  yang memuat aturan main, struktur organisasi kota, karakter moral dan karakter kinerja warga serta peta perjalanan selama sekitar tujuh bulan ke depan. 

Tugas yang perlu dijalankan di pekan pertama ini adalah membangun rumah produktivitas diri. Wajar ya, sebelum membangun sebuah kota tentunya para Hexagonia perlu memiliki rumah terlebih dahulu. Setiap dari kami diberikan lahan kosong berbentuk segi enam yang bebas kami bangun dan rancang sekeinginan kami. Ternyata saya memerlukan waktu lebih dari satu pekan untuk mewujudkan rumah produktivitas versi saya banget. Di pekan pertama saya menyetorkan rumah Hexa sebagai berikut :

Rumah ini saya beri nama : Sechseck-Haus von Mesa yang artiya rumah segi enam milik Mesa.



Karena ini merupakan rumah yang dibangun atas dasar kebutuhan pribadi diri terkait passion yang sedang digeluti yang nantinya akan menjadi bagian dari sebuah kota produktif, Hexagonia City, fungsi setiap bagian di rumah ini pun erat kaitannya dengan kegiatan di bidang Literasi dan Bahasa. Di pekan kedua saya pun membenahi tatanan rancangan rumah dan belajar memakai aplikasi Planner 5d dan menghasilkan rumah sebagai berikut :


Belajar literasi dan bahasa adalah sebuah proses yang menyenangkan, maka untuk menunjang pembelajaran dan produktivitas di ranah tersebut maka disediakan beraneka ruangan belajar, antara lain :

Sprachencafe

Tempat orang-orang berdiskusi mengenai sebuah tema dengan bahasa tertentu, sembari makan camilan dan minum bersama sehingga terkesan santai dan nyaman.

Mini-Kino

Siapa yang suka belajar bahasa dengan menonton film? Ruangan ini disediakan untuk hal tersebut.

Mini-Bibliothek

Terinspirasi dengan perpustakaan kota yang sering kami kunjungi, keberadaan aneka buku sangat mendukung pembelajaran bahasa.

Kreativ-Raum

Merupakan tempat untuk melakukan kegiatan kreatif bersama yang menjadi ragam variasi dalam belajar bahasa dan meningkatkan daya literasi.

Spiel-Ecke

Terinspirasi dengan tempat kursus bahasa yang saya ikuti dua tahun belakangan dimana menyediakan fasilitas tempat bermain anak sehingga anak bisa berkegiatan di tempat tersebut selama sang ibu belajar bahasa. 

Alhamdulillah, saya bersyukur bisa menaklukkan tantangan menggunakan aplikasi desain rumah ini. Akhirya bisa juga, setelah gagal mengulik beberapa aplikasi sebelumya. Jadi teringat materi Bunda Sayang level 12, mengenai Keluarga Multimedia.

 

 

Tuesday, 21 July 2020

Ich weiss, wer ich bin und was ich kann : Aliran Rasa Kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional


Bismillahhirrohmanirrohim...
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang telah menakdirkan saya untuk sampai di tahap ini, akhir kelas Bunda Cekatan dengan kondisi optimal sekemampuan saya.
Bagi diri saya secara pribadi, sebuah kelulusan adalah akhir dari sebuah proses belajar pada suatu fase dan pijakan untuk mengawali langkah di fase berikutnya. Mencakup keseluruhan aspek, baik dari semangatnya, performanya bahkan hingga konsistensi dalam menjalankannya. Maka, pertanyaan untuk diri ini, pijakan seperti apa yang saya butuhkan untuk melangkah di fase berikutnya? Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang mendasari gerak langkah di fase ini.
Selebrasi : mengucap syukur dan terima kasih, menceritakan proses diri dan menerima umpan balik

Sekalipun terlihat sederhana, jalankan prosesmu dengan penuh kesungguhan. Prinsip inilah yang saya jalankan selama belajar di kelas Bunda Cekatan ini. Saya bertekad untuk mengerjakan setiap tantangan dengan sungguh-sungguh dan menuliskan jurnal dengan lengkap. Mengapa? Karena bagi saya, menjalankan setiap tantangan dengan sungguh-sungguh dan konsisten serta menuliskan jurnal secara lengkap adalah sebuah ikhtiar untuk meraih keberkahan sebuah ilmu dari Allah. Fokus saya cukup pada hal-hal di dalam kontrol internal diri. Perihal Allah akan memberikan karunia berupa pemahaman yang utuh dan runut, perubahan kebiasaan ke arah yang lebih baik, kebermanfaatan yang dirasakan keluarga dan lingkungan sekitar, kesemuanya adalah kuasa Allah. Perjalanan belajar di kelas Bunda Cekatan merupakan sebuah proses perjalanan belajar secara merdeka yang polanya akan bisa diduplikasi untuk perjalanan belajar mandiri ke depan. Maka proses belajar di kelas Bunda Cekatan ibarat proses mempersiapkan master pola untuk jangka panjang. Perlu kesungguhan, kehati-hatian dan keistiqomahan. Karena ini adalah aliran rasa sepanjang kelas Bunda Cekatan, maka saya mencoba flashback perjalanan diri dari awal hingga akhir.

Dimulai dari tahap Telur

Peta Belajar Spesifik selama Kelas Bunda Cekatan
Di tahap Telur ini, saya belajar mengidentifikasi aktivitas yang saya suka dan bisa. Dilanjutkan dengan keterampilan yang ingin dikuasai dan ilmu yang dibutuhkan terkait keterampilan tersebut. Karena bahasannya masih menyeluruh, wajar jika cakupannya luas. Bahasan mulai mengerucut saat di pekan keempat tahap Telur, tugas yang diberikan adalah membuat mindmap atau peta belajar. Saya membuat dua versi peta belajar. Pertama, peta belajar yang kompleks. Kedua, peta belajar yang akan menjadi prioritas belajar selama kelas Bunda Cekatan berlangsung sekitar enam bulan. Peta belajar kedua-lah yang saya jadikan panduan hingga akhir perjalanan. Spesifik, jelas, terukur, dan realistis.



Masuk ke tahap Ulat


Berbagi Tips Belajar Bahasa dengan Mudah dan Menyenangkan
Apa kegiatan seekor Ulat? Yap, makan! Di tahap ini kami mendapat banyak kesempatan untuk makan dan berbagi makanan. Dimulai dari mengidentifikasi rasa lapar di ranah apa, berlanjut berkumpul dengan keluarga yang memiliki kebutuhan belajar di bidang serupa untuk berdiskusi, menjadi perwakilan keluarga bahasa untuk berbagi Tips Belajar Bahasa yang Mudah dan Menyenangkan, hingga bertemu buddy untuk saling menguatkan satu sama lain. Di keluarga Bahasa saya bertemu dengan sesama pembelajar bahasa, namun dengan kebutuhan ragam bahasa yang berbeda. Sekalipun demikian, kami tetap belajar bersama. Proses ini mengajarkan saya untuk siap berbagi dan mendengarkan. Ada waktunya kita berbagi ilmu yang kita miliki, ada kalanya kita menyiapkan telinga untuk menjadi pendengar yang aktif, sekalipun bisa jadi yang disampaikan bukan hal yang ingin kita ketahui saat ini. Belajar toleransi dan empati. Hal ini pun sering kita temui dalam keseharian, bukan?

Selanjutnya ke tahap Kepompong

Aneka buku anak yang menemani saya menjalankan tantangan 30 hari

Setelah kenyang makan beraneka sumber ilmu di tahap Ulat, di tahap ini saya berproses untuk melatih konsistensi dengan mengerjakan tantangan 30 hari dan puasa pekanan. Kegiatan yang saya jalankan untuk tantangan 30 hari adalah membacakan buku anak berbahasa Jerman satu buku satu hari, mengkombinasikan pemenuhan kebutuhan peran Home Educator dan target belajar bahasa Jerman. Sedangkan untuk puasa, saya mengambil puasa manajemen emosi dan manajemen gawai. Dua hal yang jika berhasil dilatihkan dalam diri akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar bahasa Jerman yang sedang ditargetkan untuk dicapai.

Sekarang, tahap terakhir, Kupu-Kupu!

Proyek Bunda Cekatan : Mama lernt Deutsch

Di tahap ini saya belajar hal baru, yaitu Facebook Mentorship Program. Kejutan dan tantangan! Karena metode ini merupakan hal baru bagi saya, maka di awal tahap Kupu-Kupu saya merasa waktu yang disediakan terlampau singkat untuk memenuhi target belajar pekan pertama yang ditugaskan. Saya sempat memberi masukan ke depan pada tim Institut untuk memperpanjang durasi proses di pekan pertama tahap Kupu-Kupu ini. Di pekan kedua, saya berinteraksi dengan mentor. Namun justru di bidang yang tidak sesuai peta belajar karena saya tidak menemukan mentor belajar bahasa Jerman. Diskusi dengan mentor berjalan seru, saya pun menikmati belajar hal baru, yaitu Beauty from Heart. Hingga di pekan ketiga saya menemukan mentor bahasa Jerman dan membuat saya mengambil langkah ekstrim berupa berganti mentor. Namun alhamdulillah proses pergantian mentor ini bisa berjalan lancar dan terkomunikasikan dengan baik pada setiap pihak yang terkait. Syukur alhamdulillah. Saya pun kembali ontrack menjalankan proyek Mama lernt Deutsch di program Mentorship ini. 

Sedangkan sebagai mentor saya mengajukan diri sebagai mentor bidang Adaptif ala Ibu Rantau. Sebuah bidang yang amat spesifik namun memang sedang saya geluti dan sungguhi selama tiga tahun belakangan ini. 

Mengapa menjalankan proyek Mama lernt Deutsch selama kelas Bunda Cekatan?

Proyek Mama lernt Deutsch bukanlah sebuah proses belajar bahasa Jerman pada umumnya. Namun sebuah proses belajar bahasa Jerman oleh seorang ibu yang melibatkan suami dan anak-anak yang kesemuanya berbahagia menjalankan proses tersebut bersama-sama. Saling memberikan dukungan, tanpa mengorbankan kepentingan pihak lain. Tolok ukur keberhasilannya bukan hanya lulus Pruefung B1 OeIF, namun juga keberkahan dan kebermanfaatan ilmu yang dirasakan oleh diri dan keluarga. Karena penguasaan bahasa merupakan pintu pembuka akses ilmu-ilmu berikutnya, peluang bergabung di forum-forum belajar dan membangun jejaring lebih luas lagi. Perjalanan proses belajar di kelas Bunda Cekatan memang tak mudah, apalagi saya mengambil peran juga sebagai Ketua HIMA. Namun syukur alhamdulillah setiap tantangan terlewati dengan menyenangkan. Mengapa? Karena terasa sebagai anak tangga yang semakin mendekatkan diri pada sebuah impian.
Jalan menuntut ilmu memang bukanlah jalan yang mulus tanpa hambatan, bukan pula jalan dataran bahkan turunan yang bisa dilalui dengan santai. Jalan menuntut ilmu adalah jalan mendaki lagi sukar, yang dalam perjalanannya sering kita temui onak duri, bebatuan penghalang langkah, bahkan tanjakan terjal. Namun itulah jalannya para climbers. Yang memilih tak menyerah sekalipun sulit senantiasa terasa. Yang memilih bertahan dan terus melaju meski langkah terengah-engah. Dan itulah yang membuat kita sampai hingga di tahap akhir Kupu-Kupu dan kelas Bunda Cekatan.

Hal baik apa yang sudah berjalan dan menjadi semakin baik selama berproses di kelas Bunda Cekatan?

Bagi diri saya pribadi tentu masih banyak hal yang perlu diperbaiki, masih banyak kebiasaan buruk yang harus direduksi. Namun kali ini saya ingin mencatat hal yang sudah baik dan menjadi semakin baik selama mengikuti kelas Bunda Cekatan. Hal-hal tersebut antara lain :
  1. Belajar untuk lebih runut dan sistematis
  2. Mengadakan selebrasi dengan keluarga. Menyampaikan progress belajar diri di hadapan suami dan anak-anak
  3. Berani mendengarkan feedback dari suami, guru dan teman, termasuk kritik yang membangun
  4. Berlatih menjadi leader yang walk the talk
  5. Praktik meningkatkan keterampilan manajemen waktu dan manajemen emosi

Video Selebrasi Regional, Bukti Kekompakan Sebuah Tim

Mengakhiri proses belajar di kelas Kupu-Kupu, kami membuat sebuah tugas kelompok berupa video selebrasi regional. Kekompakan dan koordinasi kami diuji di sini. Sebagai leader HIMA saya bertekad menjadikan tugas kelompok ini sebagai ruang aktualisasi bakat dan potensi para member hingga tugas akhir ini bisa menjadi tugas bahagia dan membahagiakan dan menguatkan high energy ending. Saya cukup mengawali sesi diskusi dengan pertanyaan dan ide awalan. Tak lama, diskusipun mengalir lancar. Setiap mahasiswi, di jam daring sesuai zona waktu masing-masing memberikan idenya. Ini yang mahal, keberanian untuk mengutarakan ide dan kesediaan untuk terlibat juga saling mendengarkan dengan aktif. Mba Suci sebagai pencetus konsep keren didaulat menjadi pimpinan proyek. Mba Selly yang jago edit video, menawarkan diri untuk mengemas video menjadi sebuah alur cantik. Alhasil jadilah video selebrasi regional yang kental nuansa belajarnya, terlihat keterlibatan setiap anggota keluarganya dan tampak ciri khas regionalnya, yaitu adanya interaksi dengan warga lintas negara.  Video selebrasi bisa disimak melalui tautan berikut :

Saya Mesa Dewi Puspita, saya bersyukur dan bahagia Allah takdirkan untuk bisa menjalankan setiap langkah di kelas Bunda Cekatan. Siap melanjutkan praktik dalam kehidupan dan terus meningkatkan kualitas diri sebagai seorang hamba, perempuan, istri dan ibu.

Salam Ibu Profesional,
Wina, 22 Juli 2020


Lampiran :
Tautan keseluruhan jurnal yang dituliskan sepanjang kelas Bunda Cekatan. 

Tahap Telur

Tahap Ulat

Tahap Kepompong
Aliran Rasa

Tahap Kupu-Kupu
Pekan kedelapan tugas jurnal tidak ada, diganti berupa membuat video selebrasi regional

Tuesday, 7 July 2020

Merayakan Kemajuan dengan Menuliskan Apresiasi untuk Pasangan dan Melukiskan Perasaan Diri


Bismillahhirrohmanirrohim…
Salah satu ciri khas pembelajaran di Ibu Profesional yang saya sukai adalah, adanya kebiasaan untuk saling mengapresiasi dan berkolaborasi satu sama lain. Ini penting, karena sering saya rasakan, perbedaan pendapat antar ibu satu dengan yang lainnya berujung pada kompetisi dan perpecahan.
Saling mengapresiasi itu tidak mudah, karena untuk bisa mengapresiasi orang lain, kita perlu untuk mampu mengapresiasi diri sendiri. Berkolaborasi pun bukan perkara sepele, jauh lebih mudah dan cepat jika bergerak sendiri. Lalu mengapa saling mengapresiasi dan berkolaborasi antar sesama ibu dan perempuan itu penting? Karena sebuah apresiasi identik dengan penerimaan dan penerimaan itu penting bagi seorang perempuan, keberadaan teman yang percaya terhadapnya pun akan menguatkan pijakan diri.  Dan dengan berkolaborasi, sebuah pergerakan akan bisa memiliki dampak yang meluas.
Setelah enam pekan saya menjalankan program Mentorship dengan menjadi mentor dan mentee dalam waktu bersamaan, saya jadi merasakan bagaimana rasanya berada di posisi pasangan saya. Saat saya menyapa mentor, saya bisa merasakan bagaimana perasaan mentor saya menerima sapaan saya. Saat mentee saya menyampaikan banyak pertanyaan beruntun, hingga Video Call pun berdurasi sampai satu jam, saya bisa merasakan antusiasme beliau dalam belajar dan mengulik suatu hal yang sedang ditekuni karena saya merasakan juga bagaimana sensasi berada di posisi mentee. Berikut kemajuan yang saya rasakan dari mentor dan mentee saya.


Untuk masing-masing pasangan saya, saya menyiapkan satu surat. Berikut surat untuk mentee saya, kami belajar bersama seputar Manajemen Waktu ala Ibu Rantau yang merupakan spesifikasi dari program Adaptif ala Ibu Rantau :

Dan berikut adalah surat untuk mentor saya, yang bersama beliau saya mengasah keterampilan berbahasa Jerman :

Surat diatas bisa jadi banyak salahnya. Karena justru di program ini saya belajar dari ketidaksempurnaan. Ada salah tak apa, namun dari kesalahan itu saya belajar memperbaikinya. Saya sangat terbuka jika pembaca sekaliyan berkenan menyampaikan dimana saja letak kesalahan saya sehingga bisa saya perbaiki dan pelajari kembali.
Di pekan pertama dan kedua Mentorship, saya belum mengambil keterampilan bahasa Jerman, saya memilih bidang Beauty Care bersama seorang mentor yang dari beliau saya belajar banyak hal dalam waktu singkat. Karenanya, saya pun membuat surat untuk beliau.

Setelah membuat selebrasi kemajuan dengan menuliskan surat untuk mentor dan mentee, saya mewarnai kupu-kupu yang menggambarkan suasana hati saya selama menjalankan program Mentorship ini. Jujur, di awal saya bingung bagaimana mewarnai kupu-kupu ini. Saya merasa belum menemukan dasar pemilihan warna dan cara mewarnainya. Namun kemudian saya menganalogikan bahwa setiap garis di sayap dan badan menunjukkan tahapan perkembangan dalam proses belajar yang saya jalankan selama program ini.

Proses mewarnai kupu-kupu ini membuat saya terdiam sesaat. Melukiskan suasana hati? Suasana hati yang saya rasakan selama program Mentorship ini tentu naik turun. Ada kalanya bingung, ada kalanya antusias, ada kalanya kecewa, ada kalanya bahagia bahkan hectic. Namun rasa itu tak melebur jadi satu, melainkan silih berganti. Maka saya memilih untuk member warna di setiap haris sayap dan badan.
Sayap saya analogikan sebagai fase menjalani proses sebagai mentee. Bagaimana saya bertumbuh dengan berproses mengasah keterampilan bahasa Jerman, yang sejatinya melibatkan semua aspek kehidupan. Bagaimana maksudnya? Poin intinya memang belajar bahasa Jerman, namun untuk bisa memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan mengerjakan tugas, saya dilatih untuk menjalankan manajemen waktu. Agar prioritas utama saya ini dipahami oleh para anggota keluarga lain sehingga mereka justru bisa menjadi support system utama di proses ini, saya mendapat kesempatan untuk mempraktikkan komunikasi produktif. Agar apa yang sedang dipelajari ini tak hanya menjadi kesibukan dunia namun juga meraih keberkahanNya, setiap kesulitan materi yang saya rasakan, menjadi momen untuk mengadu dan memohon pada Allah.
Sayap kupu-kupu saya warnai berurutan dari bawah ke atas, saya analogikan sebagai perjalanan yang saya mulai dari pekan pertama hingga nanti pekan kedelapan dan aliran rasa. Di awal program saya merasa bingung bagaimana cara memulainya, saking antusias di awal hingga saya sempat berbelok arah tujuan dengan mengambil bidang keterampilan yang menarik hati padahal tak ada di peta belajar saya. Pekan ketiga pun temaran karena diliputi keresahan. Berlanjut di pekan keempat saya merasa hectic namun antusias karena saya sudah mantap menentukan pilihan untuk berpindah bidang. Artinya saya kembali fokus di prioritas utama yang sudah saya tetapkan sejak tahap telur namun konsekuensi logisnya adalah saya harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan. Sejak kembali ke bidang yang sedang digeluti, saya merasa jauh lebih nyaman. Antara kelas Bunda Cekatan dan kursus intensif yang saya lakukan bisa berjalan seiring sejalan. Ya, mungkin kapasitas saya masih harus fokus di satu bidang dulu, belum sanggup bercabang. Namun satu yang spesifik ini saya tekadkan sungguhi sepenuhnya.
Sedangkan untuk badan kupu-kupu, saya warnai seiring dengan proses belajar saya menjadi mentor di program ini. Di awal, dimulai dari bagian bawah, saya masih meraba-raba, bidang apa yang akan saya tawarkan? Kemudian seteah mendapatkan mentee, muncul pertanyaan pada diri, sistem mentorship seperti apa yang akan kami jalankan? Sembari jalan, saya bersyukur hanya memiliki mentor dalam jumlah sedikit. Awalnya dua, namun yang berlanjut hanya satu orang hingga saat ini. Sedangkan yang satunya tidak ada kabar sejak pekan ketiga mentorship. Mungkin sedang ada urusan lain yang mendesak dan diprioritaskan untuk saat ini. Mentee satu yang aktif ini memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar yang tinggi. Jika memungkinkan, beliau selalu ingin diskusi dan konsultasi via Video Call. Karena bidang manajemen waktu juga merupakan bidang yang menjadi concern saya, maka saya merasa mendapatkan teman bertumbuh dan berbagi insight. Akhirnya saya merasa skenario Allah begitu baik. Satu mentee saja namun dengan karakteristik demikian, sesuai dengan kapasitas diri saya sehingga kesempatan mentorship ini pun bisa saya jalankan bersama beliau dengan optimal dan interaktif. Alhamdulillah.  
Bersyukur rasanya Allah sampaikan pada pekan ketujuh di program Mentorship pekan ini. Ada kalanya saya takut melangkah karena harus menjajal hal baru, ada kalanya saya galau karena merasa salah langkah dan harus menentukan sikap untuk langkah berikutnya, ada kalanya konsekuensi yang ditanggung atas sebuah pilihan itu terasa berat dijalankan, ada kalanya juga saya sedih karena merasa kurang optimal dalam berproses. Namun secara keseluruhan, saya merasa bahagia, antusias dan berbinar menjalankan rangkaian proses belajar di program Mentorship ini. Terima kasih pada semua pihak yang sudah menjadi supportsystem, yang memberikan dukungannya, yang memberikan testimoninya, bahkan memberikan kritik dan saran yang membangun. Setiap langkah dalam proses ini tak lain dan tak bukan adalah salah satu cara untuk menggapai ridaNya.

Wina, 7 Juli 2020.



Monday, 29 June 2020

Mendeteksi Perkembangan Proses Belajar dengan Mastermind dan Mendengarkan Testimoni


Bismillahhirrohmanirrohim…

Apa yang dilakukan di pekan ini?

Kembali menuliskan jejak perjalanan belajar yang memasuki pekan keenam di program Mentorship ini. Di pekan ini kami ditugaskan untuk fokus pada perkembangan proses belajar. Hal apa saja yang perlu dilakukan terkait hal tersebut? Yang pertama, kami melakukan proses mentoring seperti biasanya, kemudian membuat mastermind harian yang mencakup sudah sukses apa hari ini, apa kunci sukses hari ini? Ingin sukses apa esok hari? Dan ditutup dengan aliran rasa pekan keenam ini.
Selain membuat mastermind, kami juga diajak untuk bermain dan berpikir kreatif dengan cara membuat analogi suasana diri, kemudian membuat analogi untuk mentee dan mentor kita. Selanjutnya adalah kita membutuhkan testimoni dari lingkungan terdekat kita mengenai proses belajar yang sedang kita jalankan.


Bagaimana langkah yang saya lakukan?

Setelah menyimak materi dari ibu, sebenarnya pikiran saya berfokus pada Abschlusstest yang dilakukan keesokan harinya. Namun karena tugas pekan ini adalah tugas rutin harian, maka saya bertekad untuk menjalankannya segera secara rutin untuk melatih konsistensi, bukan merekap menjelang akhir periode tantangan.  Maka rencana aksi yang saya jalankan adalah menuliskan bahan mastermind di buku agenda, sekaliyan dengan rencana kegiatan yang rutin dibuat per hari dan membuat setoran gambar analogi per hari sebagai postingan di media sosial.
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari untuk berkegiatan bersama keluarga dan bersosialisasi secara luring. Sudah ada dua kelas daring yang harus saya ikuti di akhir pekan, juga sesi TPA bersama santri yang masih berjalan daring. Karenanya, tugas Bunda Cekatan maupun koordinasi terkaitnya, selain rencana aksi rutin harian diatas, saya jadwalkan pengerjaannya di hari Senin.

Hal apa saja yang didiskusikan dengan mentee?

Hari Senin saya melakukan telefon dengan mentee sesuai permintaan beliau. Beliau memilih untuk berdiskusi dengan telefon ketimbang dengan teks atau kirim suara. Ada banyak poin yang beliau ajukan jadi bahan diskusi seputar manajemen waktu. Kami memulainya dengan topik strategi menjaga fokus. Taraaa....menjaga fokus ini sungguh tak mudah bagi mayoritas perempuan. Ditambah lagi diri ini memang mudah terdistraksi. Hasil asesmen Talents Mapping sudah mengkonfirmasinya koq. Alhasil, menjaga fokus ini cukup jadi tantangan tersendiri. Strategi yang dijalankan saat ini adalah membuat to do list rutin di buku agenda. Mencatat target harian dan membuat rencana kegiatan dengan durasinya. Sengaja saya memilih buku agenda yang dilengkapi kolom per jam, sehingga memudahkan saya untuk membuat kandang waktu harian.
Kami juga membahas mengenai efektivitas penggunaan suatu aplikasi. Pada intinya, aplikasi bisa jadi tak memiliki faktor pengganggu yang mengurangi kenyamanan diri dalam menggunakannya. Wajar saja, karena sang pembuat pun tidak bisa dan tidak pelru juga menyenangkan semua orang. Kita bisa menemukan solusi dengan mencari alternatif aplikasi lain yang serupa, atau melakukannya secara manual tapi bantuan aplikasi. Poin pentingnya adalah kita terus membangun support system untuk keterampilan yang sedang kita asah ini. Jadi, mari fokus pada solusi!

Bagaimana mastermind  yang saya buat?

Di hari Senin, seperti pekan sebelumnya, saya juga mengirimkan logbook harian kepada mentor. Kemudian saya mulai merekap hasil mastermind dan analogi diri yang sudah dibuat secara harian. Berikut mastermind saya :

Lalu, apa kabar analogi diri?


Untuk mentee, saya menganalogikan beliau sebagai seorang yang merawat anggrek. Terinspirasi dari anggrek pemberian teman, yang mana sempat layu karena saya belum bisa merawatnya, kemudian diselamatkan oleh teman yang datang ke rumah. Dari mba Intan, saya belajar bagaimana merawat anggrek. Saya memberikan analogi tersebut kepada mba Nurul karena mba Nurul menjalankan program Mentorship  dengan optimal. Sebelum jadwal telefon, biasanya beliau sudah memiliki daftar pertanyaan dan menyetorkan progress harian beliau. Hal ini memudahkan kami untuk berdiskusi dengan efektif, efisien dan tepat sasaran.

Untuk mentor saya, saya menganalogikan beliau sebagai bibi titi teliti. Beliau mengoreksi tulisan yang saya buat dengan sangat teliti, disertai penjelasan yang detail dalam setiap koreksian. Hal ini memudahkan saya untuk menangkap maksud beliau sekalipun beliau tak memberikan penjelasan secara lisan. Ada kalimat kompleks yang saya buat, dan saya bingung bagaimana merangkainya dengan tepat. Setelah beliau mengoreksi, beliau memberikan alternatif memecahnya menjadi dua kalimat sederhana. Ah iya, terasa lebih mudah dimengerti!
Sumber gambar : https://www.kekenaima.com/2012/07/ke-bobo-fair-bertiga-ajah.html
Dari mentor, saya mendapatkan analogi matahari pagi. Ah, mengapa bisa pas banget dengan apa yang saya sukai? Bahkan saya memanggil si sulung dengan sebutan mentari pagi. Seperti dalam tulisan beberapa tahun lalu ini http://www.griyariset.com/2018/02/lewat-aplikasi-whatsapp-mentari-pagi.html. Terima kasih mba Retno. :)

Kemudian dari mentee, saya mendapat analogi penguin jantan.


Maknanya sangat mendalam. Ternyata ada kebiasaan khusus para penguin jantan ketika masa berkembang biak. Dan mba Nurul menganalogikan dengan hal tersebut karena di proses belajar yang kami jalankan bersama, mentor memberikan teladan konsistensi menjalankan waktu dari pengalaman langsung, seperti halnya penguin jantan yang menunjukkan arti konsistensi kepada anaknya lewat proses pengeraman telur. Memberikan nasehat/ilmu/hikmah saat mentee membutuhkan, yang dianalogikan dengan suapan susu dari penguin jantan kepada anaknya. Aamiin. Semoga proses memfasilitasi mentee dalam hal manajemen waktu ini juga menjadi langkah bagi saya menguatkan manajemen waktu diri dan Allah mudahkan menghadapi tantangan terkait hal tersebut. Aamiin. Bukankah semua ilmu dan keterampilan adalah untuk beribadah padaNya? 

Kini saatnya menyimak testimoni 

Pemberian testimoni untuk diri saya, haruslah dari seorang yang memahami proses belajar bahasa Jerman saya selama ini. Saya mengajukan permintaan testimoni pada suami, guru kursus dan teman dekat yang juga teman sekelas di tempat kursus. Guru kursus belum memberikan jawaban, sehingga saya baru menerima testimoni dari suami dan teman. Testimoni dari teman, beliau menilai saya belajar bahasa Jerman tidak hanya di tempat kursus saja, tapi juga di kehidupan sehari-hari. Hahaha. Beliau tahu persis getolnya saya mengikuti forum belajar kesana-kemari. Beliau sering bertanya, „Mesa ngga capek?“ atau berkata, „Mesa kan hobinya gitu.“ Saat saya menghubungi pihak tertentu untuk mencari informasi atau mendaftar ke sebuah acara.
Testimoni dari suami adalah testimoni yang paling saya nantikan. Meskipun sebenarnya saya perlu menyiapkan mental untuk bisa menerimanya dengan tetap tenang. Beliau seorang yang serius dan cespleng dalam memberi masukan. Bukan devil advocate sih, karena bahkan beliau adalah seorang yang sangat jarang marah atau mengkritisi dengan ekstrem. Namun saya yang dulu cenderung sensitif ini, mudah tersinggung saat mendengarnya. Setelah tujuh tahun menjadi mentee beliau, sekarang saya lebih mudah menerima, terlebih setelah lambat laun paham bahwa ternyata yang beliau sampaikan terbukti benar.
Beliau mengapresiasi saya yang memiliki semangat belajar tinggi dan target yang jelas. Nah, karena ada target maka tentu memiliki standar. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan manajemen agar prosesnya berjalan seimbang dengan peran saya lainnya, juga efektif dan efisien. Beliau mengingatkan saya untuk memperbaiki manajemen secara umum, dari beragam aspek, saya membedahnya menjadi manajemen diri, juga waktu, emosi, dan energi. Yang beliau garis bawahi adalah, segera kerjakan tugas di malam hari sehingga tidak ada lagi tanggungan di pagi hari dan bisa fokus ke pengerjaan standar pagi dan persiapan berangkat kursus. Di musim panas ini waktu Isya' baru masuk di jam 22.30 CEST, seringkali anak-anak baru beranjak tidur jam segitu dan saya alih-alih mengerjakan tugas, kerap terlena untuk ikut tidur saat menemani anak-anak. Bismillah perbaiki diri!
Beliau berpesan bahwa seorang profesional adalah seorang yang mengalokasikan suatu hal dan bisa mencapainya. Bergeraklah ke arah sana. Tugas seorang ibu itu banyak dan ibu di ranah domestik memiliki fleksibilitas tinggi. Itu tantangan. Jam kerja ditentukan sendiri, target capaian pun ditentukan sendiri, tidak ditagih-tagih orang lain atau mengikuti jadwal pihak eksternal. Maka, disiplinkan fleksibilitas diri dan jangan terlena dengan fleksibilitas itu. Ahamdulillah, lega rasanya mendapat testimoni langsung dari beliau, di tengah keheningan malam, duduk bersebelahan di depan meja belajar masing-masing. Ya Allah, ampuni kekhilafan hamba dan mudahkan hamba untuk berproses untuk lebih baik lagi, dalam upaya meraih rida-Mu. Aamiin... Setiap orang memiliki lintasan masing-masing, dan lintasan inilah yang hamba pilih dan jadikan jalan menuju-Mu.

Wina, 30 Juni 2020


Tuesday, 23 June 2020

Antara Topik Manajemen Waktu Ibu Rantau dan Belajar Bahasa Jerman : Bagaimana Kesesuaian antara Rencana Aksi dan Realisasi?

Bismillahhirohmanirrohim…

Membuat jurnal kembali, menuliskan apa yang sudah dikerjakan di pekan kelima program Mentorship ini. Berpijak dari apa yang disampaikan bu Septi di Facebook Live pada hari Kamis lalu, hari Sabtu saya mengalokasikan waktu untuk berdiskusi dengan mentor dan mentee. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur, artinya porsi family time lebih banyak daripada hari efektif sehingga saya mencoba membuat timeline yang realistis untuk pengerjaan jurnal pekan ini.
Jum’at : memahami materi yang disampaikan bu Septi, membuat notulen saat menyimaknya.
Sabtu : berkoordinasi dengan mentor dan mentee
Minggu : Video Call dengan mentee, sekaligus mencatat poin penting untuk bahan penulisan jurnal
Senin : Video Call dengan mentor, sekaligus mencatat poin penting untuk bahan penulisan jurnal
Selasa : menulis jurnal
Bersegera itu penting, dengan tetap menjaga keseimbangan. Maka inilah timeline bersegera menuliskan jurnal versi saya. Karena memang ada beberapa hal lain yang juga berada di prioritas utama untuk dikerjakan dengan optimal.
Fehler feiern (Selebrasi Kesalahan) sumber : https://twitter.com/groeschelwalter/status/880674391352279041

Sesi bersama mentee

Sebelum menentukan jadwal pertemuan, saya menanyakan terlebih dahulu pada mentee, model forum seperti apa yang sesuai untuk beliau. Dan beliau menghendaki berdiskusi berdua saja dengan saya. Video Call bersama mentee dimulai dengan membahas perkembangan yang dicapai mentee selama melatih keterampilan manajemen waktu bersama Al Qur’an. Strategi kandang waktu yang dijalankan beliau, menemukan kunci pola di dua kandang waktu berdurasi total empat jam di setiap pagi hari. Yaitu pada jam 05.00 – 07.00 dan 07.00 – 09.00. Jika target selama dua kandang waktu tersebut terpenuhi, maka akan memudahkan diri untuk mencapai target harian secara keseluruhan. Alhamdulillah.
Kemudian kami membahas mengenai ketercapaian target pekanan. Beliau mengakui bahwasanya tantangan berat beliau adalah menolak serondolan, terutama yang berasal dari pihak lain. Setelah beliau menyampaikan kesalahan beliau dalam proses ini, saya pun mengapresiasinya dan mengajaknya berdiskusi bersama seputar tantangan yang dialaminya, seputar serondolan.

Bagaimana saya menyikapi serondolan?

Seperti yang pernah saya sampaikan, bahwasanya manajemen waktu memang erat kaitannya dengan keterampilan diri lainnya, termasuk komunikasi produktif. Untuk poin-poin yang bersifat serondolan, saya pun pernah merasakannya. Yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini adalah menuliskan bentuk serondolannya dan mengklasifikasikan faktor pencetusnya. Saya membagi faktor pencetus dalam dua bagian, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tak lain adalah faktor yang berasal dari diri kita sendiri. Kita perlu awas, agar jangan sampai faktor pencetus internal, kita masukkan ke faktor eksternal dan mengkambinghitamkan pihak lain.
Saya ceritakan saja apa yang sering saya alami. Di pagi hari biasanya saya alokasikan waktu untuk belajar bahasa Jerman atau mengerjakan PR kursus. Namun sebelumnya, saat membuka WhatsApp saya melihat ada bahasan di WAG komunitas. Ternyata ada hal yang penting, informasi perlu diteruskan atau sesuatu yang perlu segera ditindaklanjuti. Kolaborasi bakat empathy dan relator pada diri saya membuat saya menciptakan serondolan itu. Waktu pagi hari yang seharusnya digunakan untuk belajar bahasa Jerman, saya gunakan untuk mengerjakan tugas komunitas. Alhasil, PR jadi belum selesai dan ada target belajar yang tak tercapai. Nah, faktor pencetus serondolan dari kasus ini bukanlah hal yang diberikan orang lain pada kita (faktor eksternal), namun kita yang mengizinkan kegiatan lain yang tak semestinya, masuk ke kandang waktu hal lain yang sudah kita prioritaskan (faktor internal). Masalahnya ada pada diri saya, dan saya harus berubah menjadi lebih saklek dan tegas dalam bersikap.
Jika faktor pencetusnya adalah pihak eksternal atau berasal dari orang lain, maka saya menyarankan untuk membuat klasifikasi langkah yang harus diambil, yaitu lakukan sekarang juga seperti misalnya anak sakit, agendakan misalnya ajakan menjenguk tetangga yang melahirkan  atau abaikan misalnya ajakan untuk ghibah. Untuk menyampaikan langkah kita pada orang lain, diperlukan sebuah komunikasi produktif. Misalnya saya dengan teman terbiasa untuk menanyakan agenda terlebih dahulu sebelum mengajak bermain bersama. Contoh praktik : „Ada agenda apa sore nanti? Kalau ada waktu luang, bisakah kita bertemu di taman dan anak-anak bermain bersama?“ Nah, untuk poin ini diperlukan pemahaman kedua pihak untuk berkomunikasi versi orang dewasa, yang mana mendahulukan nalar ketimbang emosi atau dominasi perasaan.

Bagaimana dengan pendelegasian tugas?

Setelah berdiskusi panjang mengenai serondolan, diskusi kami berlanjut ke cara mendelegasikan tugas yang tepat. Wajar adanya jika kita membutuhkan bantuan orang lain. Pun jika orang lain membutuhkan bantuan kita. Namun jika hal tersebut terjadi berulang, maka perlu adanya komunikasi dan kesepakatan bersama antara kedua belah pihak agar salah satu pihak tak merasa menjadi korban. Saya kembali menceritakan apa yang saya jalankan seputar pendelegasian dalam keluarga.
Misal, karena sedang ada deadline pekerjaan selama sekitar tiga pekan, suami menyampaikan bahwa pada hari X tidak bisa mengantarkan si sulung ke sekolah seperti biasanya. Keterbatasan tersebut dikomunikasikan beberapa hari sebelumnya sehingga saya bisa mempersiapkan diri dan anak-anak agar kondusif untuk saya antar dan jemput sebelum dan sesudah saya kursus. Pun jika saya belum bisa membereskan rumah untuk beberapa hari karena harus mempersiapkan diri menjelang ujian bahasa, saya menyampaikannya pada suami sejak awal pekan atau jauh hari sebelumnya. Sehingga kondisi tersebut bisa dipahami bersama dan satu sama lain bisa saling menjadi support system.
Diskusi saya bersama mentee berlangsung selama sekitar satu jam. Saya merasa cukup banyak poin yang kami bahas dan diskusikan bersama. Semoga apa yang sudah kami diskusikan, bisa memudahkan mentee untuk berproses menapaki action plan berikutnya.

Sesi bersama mentor

Saat mentor menawarkan ingin sesi seperti apa di Mentorship pekan ini, saya mengusulkan untuk membuat forum bersama dengan mentor dan mentee beliau yang lainnya. Sehingga kami bisa saling menyemangati dan mendapatkan feedback lebih banyak. Sebagai awalan, mentor mempersilakan saya untuk menyampaikan perkembangan proses saya mengasah keterampilan belajar bahasa Jerman di pekan ini. Saya pun menjelaskan poin-poin berikut :
Tujuan Saya
Langkah Saya
Deadline Saya
Progress Saya
Perbaikan Kesalahan

Fasih berbahasa Jerman baik secara lisan maupun tulisan.
Indikator kesuksesan :
Lulus B1 Pruefung dengan nilai optimal
Tidak canggung dan berbicara aktif di forum diskusi
Bisa memahami isi diskusi di forum belajar dengan jelas
Bisa bertanya dengan cepat dan benar
Orang lain bisa menerima penjelasan yang saya sampaikan
Strong Why:
Memudahkan dalam mengurus segala sesuatu dan berkegiatan.
Bisa bersama anak belajar bahasa Jerman.
Optimal memanfaatkan kesempatan join forum-forum belajar.
Pintu pembuka memahami ilmu baik lisan maupun tulisan.
Home Education dan mengajar TPA dengan multibahasa
Konversationsstunde 1x

Juni – Agustus 2020
W-24 mengikuti Konversatiosstunde di NZ16, membahas mengenai Wortschatz tapi mikrofon rusak, jadi bisa dengar ngga bisa bicara.  Mengoptimalkan belajar dengan mendengarkan.
W-25 jadwal KS bentrok dengan jadwal offline. Tapi sempat konsultasi dengan Frauenberatung, Bezirkamt, Beraterin di VFI dan ngobrol dengan siapapun yang ditemui dengan bahasa Jerman, sehingga target tetap bisa tercapai. (70%)
Terlalu banyak mengikuti forum belajar membuat saya target menjadi tak realistis untuk dicapai.KS memang memberi ruang untuk latihan berbicara tapi saya perlu cek agenda dalam pekan tersebut. Sampai dengan Juli 2020 Konversationsstunde target ditiadakan dulu. Optimalkan waktu buat  persiapan Pruefung. Setelah Pruefung bisa ikut Deutsch im Park selama Sommer. 
Kursus VFI 4x
Maret – Juli 2020
Alhamdulillah bisa hadir setiap hari. Kadang ngga mindfulness karena proses di kelas terasa lambat. Jadi kepikir nyambi ngerjain yang lain (nulis agenda harian, koordinasi komunitas). Setelah evaluasi, saya salah. Ngga boleh gitu. Harus sabar dengan proses. (80%)
Mencoba mindfulness selama jam kursus. Mendengarkan dengan aktif dan menjadikan jam kursus sebagai kesempatan untuk CnC pemahaman. Mumpung masih kursus! Jaga adab pada guru dan ilmu.
OeIF B1 onlinekurs
Mei – Juni 2020
W-25 Ngga ikut karena bentrok jadwal offline. (20%)
Sama seperti Konversationsstunde, saat ini ngga jadi prioritas.
Lulus OeIF B1 Pruefung
Agustus 2020
Persiapan
Ikhtiar & tawakkal.
W-26 : tuntas baca semua materi kursus, buat menyambut Abschlusstest
W-27 : baca buku yang dipinjam dari perpustakaan, utamakan buku persiapan OeIF Pruefung.
W-28 : Sprechen, E-Mail Schreiben
W-29 : SIAP TEMPUR. Istirahat jelang ujian.
Memahami Deutsch level B2 baik via kursus, atau belajar mandiri
Desember 2020



Mentor juga memberikan saran saya untuk menentukan prioritas kegiatan utama agar tidak overload Strategi saya untuk memfokuskan langkah ke persiapan Pruefung juga menunda untuk mengikuti Konversationsstunde dan OeIF B1 Kurs disetujui sebagai langkah realistis yang bisa dijalankan saat ini. 
Di pekan ini saya juga mulai menjalankan target yang sudah saya canangkan dan sampaikan ke mentor sejak awal pertemuan kami yang terlambat. Yang mana saya berkomitmen untuk menghubungi beliau setiap hari Jum’at untuk mengkonsultasikan hal yang belum saya pahami seputar materi yang sedang saya pelajari dan setiap hari Senin untuk menyetorkan perkembangan belajar harian (saya membuat logbook harian untuk proyek Mama lernt Deutsch, terinspirasi saat penelitian di laboratorium saat di bangku kuliah S1 dahulu).

Yang saya konsultasikan saat hari Jum’at lalu adalah Schreiben menggunakan Praeteritum sedangkan logbook yang saya tuliskan adalah sebagai berikut :

Ein Bordbuch fuer ein Mentorship-Program
im Schmetterling Schritt - Bunda Cekatan
 Institut Ibu Profesional
Tujuan : fasih berbahasa Jerman dengan benar
Nu.
Datum
Schritte
Notizen
0
Awal mentorship – 7 Juni 2020
Kursus online B1
Futur 1
Praeteritum
Obwohl, trotzdem
Konnektoren
Um...zu...
damit
Awal kursus, langsung ujian materi. Banyak yang lupa. Perlu belajar lagi.
1
8 Juni 2020
OeIF Kurs
-
2
9 Juni 2020
(an)statt = zu + Infinitiv
nicht... +sondern
Sprechen : unterschiedlichen Rollen haben Frauen, Karriere
-
3
10 Juni 2020
Hoereuebung
Lesen : Die Elternkarenz
-
4
11 Juni 2020
LIBUR KURSUS : baca buku anak
Membaca buku anak adalah salah satu cara belajar bahasa Jerman yang menyenangkan, baik buat saya dan anak-anak. Manfaatnya pun ganda. Maka, langkah ini terus dijalankan dan dirutinkan.
5
12 Juni 2020
OeIF Kurs
Ke Perpustakaan pinjam buku anak
-
6
13 Juni 2020
Baca buku anak
-
7
14 Juni 2020
mit Verkauferin sprechen
-
8
15 Juni 2020
OeIF Kurs
Mit Frauen Beratung besprechen
-
9
16 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Lesen verstehen
Nachdem, bevor, waehrend
-
10
17 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
E-Mail Schreiben : beschwerden
-
11
18 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Konjunktiv II : haben, sein, wuerde
Pinjam banyak buku dari perpustakaan. Optimalkan buat persiapan.
12
19 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Konjunktiv II
Perbanyak latihan Hoeren. Hoeren B1 banyak kosakata baru dan pilihan jawaban pun sering menjebak
13
20 Juni 2020
Konsultasi Schreiben Praeteritum
Lebih teliti dalam penentuan kasus (Dat-Akk)
14
21 Juni 2020
Revisi Schreiben Praeteritum
-
15
22 Juni 2020
Fehlerfeiern
Sadari kesalahan, pasang strategi perbaikan, bangun mental pejuang.

Schreiben
Eine Geschichte ueber mich als Kind
Als ich ein Kind war, schwamm ich zweimal pro Woche. Ich blieb in der Volksschule bis 3 Uhr. Danach ging ich ins Schwimmbad, weil ich an einem Schwimmkurs teilnahm. Es gab einen Schwimmlehrer, der mich und andere Kinder zu schwimmen unterrichtete. Der Schwimmkurs war jeden Donnerstag und Samstag von 15:30 Uhr bis 17:30 Uhr.
Bevor ich schwamm, machte ich eine Aufwaermung. Die Aufwaermung und  Dehnuebungen vor dem Schwimmen waren sehr wichtig. Sie halfen der Koerper, sich auf die intensive koerperliche Aktivitaet vorzubereiten. Nachdem ich eine Aufwaermung gemacht hatte, unterrichtete meiner Schwimmlehrer mich und meine Klassenkameraden. Er gab uns vier Schwimmarten oder Schwimmtechnik. Zuerst lernte ich Freistilschwimmen oder Kraulschwimmen, zweite war Brustschwimmen, dritte war Schmetterlingsschwimmen und vierte war Rueckenschwimmen.

Fuer mich war das Brustschwimmen die einfachste Technik und das Schmetterlingsschwimmen die schwierigste Technik. Meine Lieblingstechnik war aber Schmetterlingsschwimmen, weil damit ich sehr schnell schwimmen konnte. Jetzt schwimme ich nie. Seit zwei Jahren, wenn ich nach Wien kam, schwamm ich noch nicht.

Alhamdulillah, perasaan saya jauh lebih lega dan merasa memiliki support system tambahan dalam menjalankan proyek Mama lernt Deutsch ini. Jurnal ini dituliskan untuk mendokumentasikan perjalanan belajar selama satu pekan ini, dalam rangka memantaskan diri menuju Cekatan di keterampilan yang sedang diasah saat ini. Semoga Allah rida dan jaga ikhtiar ini agar senantiasa dalam bingkai ketaatan padaNya. Aamiin.
Wina, 23 Juni  2020