Wednesday, 30 December 2020

Perjalanan Mencari Kursus Bahasa Jerman Gratis yang dilengkapi Fasilitas Penitipan Anak di Kota Wina, Austria

Bismillahirrohmanirrohim…

Sudah sejak lama, saya ingin menulis seputar perjalanan dalam mencari kursus bahasa Jerman. Namun masih terus tertunda, perlu mendahulukan prioritas lainnya mengingat alokasi waktu yang terbatas. Alhamdulillah kali ini Allah hadirkan kesempatan tersebut, saat di sini sedang libur Natal sehingga sekolah dan kursus bahasa Jerman juga sedang libur.

Mengapa harus kursus bahasa Jerman?

Harus? Ngga juga. Bergantung tingkat urgensi yang dirasakan setiap orang saat bermukim di rantau. Ada alasan yang bagi seseorang adalah hal yang penting banget, tapi buat orang lain biasa saja. Ada juga yang merasa alasan tersebut penting, namun memilih jalan lain untuk mencapai tujuan tersebut. Hal itu wajar dan ngga apa-apa. Poin utama menurut saya adalah, sebelum belajar sesuatu, penting bagi diri untuk menemukan strong why terlebih dahulu. Contoh kasus bagi saya, kenapa sih perlu belajar bahasa Jerman? Demi apa memilih melangkah  di upaya tersebut?

Apapun upaya yang kita jalani, sebagai muslim tentu muaranya adalah meraih rida Allah. Apakah dengan belajar hal ini, bertambah amal kebaikan yang bisa saya lakukan? Apakah melalui usaha ini ,bertambah kesempatan mendulang ilmu dan wawasan, yang kemudian bisa jadi jalan kebermanfaatan? Ini menjadi renungan setiap memulai langkah.

Bagi saya pribadi, strong why belajar bahasa Jerman adalah untuk hidup adaptif. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini kota Wina merupakan kota layak huni terbaik di dunia. Maka bagi saya pribadi dua tahun lalu, saat Allah sudah memberikan kesempatan tinggal di kota ini, bagaimana cara saya mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan? Salah satu jalan mengoptimalkan kesempatan belajar yang sudah terpampang di depan mata adalah dengan mempelajari bahasa Jerman, bahasa lokal yang digunakan dalam keseharian warga asli.

Ada sebuah motto yang terkenal, „Sprachen öffnen Türen“, yang kurang lebih artinya "Bahasa membuka banyak pintu". Ya, bahasa ibarat kunci yang membuka pintu peluang belajar berbagai ilmu baru. Aktivitas saya bersama anak-anak berkegiatan ruang publik membuat saya tersadar bahwa penting bagi diri saya untuk menguasai bahasa Jerman sebagai bekal tinggal di sini. Qodarullah beberapa bulan setelah kedatangan kami di kota Wina, anak kedua kami sempat menjalani rawat inap di rumah sakit dan mengharuskan saya berinteraksi dengan para tenaga medis yang kerap memberikan paparan dengan bahasa Jerman. „Saya harus segera belajar bahasa Jerman agar bisa menjalankan peran diri dengan optimal!“ gumam saya dalam hati. Mungkin tingkat urgensi yang saya rasakan berbeda dengan suami yang sehari-hari banyak beraktivitas di kampus menggunakan bahasa Inggris. Tak banyak tantangan bahasa yang beliau alami sehingga beliau tak perlu segera belajar bahasa Jerman.

Cara belajar bahasa Jerman yang paling efektif tentu dengan mengikuti kursus. Namun ternyata harganya selangit, sangat mahal untuk ukuran keluarga mahasiswa seperti kami. Selain itu, di tempat kursus tersebut tidak menyediakan fasilitas penitipan anak sedangkan anak kedua saya saat itu masih berusia 1.5 tahun. Dari pihak lain, muncul masukan opsi solusi turunan agar saya bisa belajar bahasa Jerman, seperti memasukkan anak lebih dini ke Kindergarten atau dengan mengundang guru privat untuk datang ke rumah. Namun saya dan suami belum merasa itu sebagai pilihan yang akan diambil. Kami masih bertanya-tanya, adakah peluang belajar lain yang lebih ramah kondisi?

Alhamdulillah ternyata ada! Saya bersyukur banyak warga Indonesia di kota Wina. Setiap pekan pun kami rutin bertemu di acara pengajian di masjid. Dari forum silaturahim tersebut, saya mendapatkan informasi kursus bahasa Jerman untuk para ibu di Vereinigung für Frauenintegration (VFI). Lembaga kursus ini hanya buka dua kali sepanjang tahun dan ada tes penempatan terlebih dahulu. Di akhir bulan Agustus, saya datang mengantri dan melakukan tes penempatan, namun hasil tes saya belum cukup tinggi untuk bisa mendapatkan kuota, menyisihkan ratusan peserta lainnya. Saya sudah menebaknya, karena memang saya merasa mengerjakan soal dengan tidak lancar. Ngga apa-apa, setidaknya sudah mencoba ya. Selain penolakan, saya mendapatkan oleh-oleh dua lembar kertas berisi informasi aneka lembaga kursus yang bisa saya hubungi untuk kursus bahasa Jerman. Baik, saya pun mulai menghubungi satu-persatu. Jika dirangkum, berikut daftar lembaga yang saya datangi atau kontak via telefon :

Station Wien

Jawaban : ditolak. Karena kursus hanya untuk para ibu yang menempuh pendidikan maksimal delapan tahun. Lebih dari itu, tidak bisa diterima. Namun semester lalu saya mencoba Sprachencafé, program lain yang mereka miliki, seperti kelas Conversation setiap hari Selasa hingga Kamis dengan beberapa pilihan waktu. Selama pandemi, kegiatan tersebut juga bisa diikuti secara daring.

LEFÖ

Jawaban : ditolak, dengan alasan serupa dengan Station Wien.

Integrationshaus

Jawaban : ditolak, karena untuk kursus di situ, harus memiliki dasar minimal A1 sedangkan saya belum pernah kursus sama sekali.

Ada juga beberapa tempat kursus yang saya datangi dan kontak, namun saya lupa namanya. Masih belum mendapatkan jawaban positif, bahkan ada yang ternyata lokasinya sudah pindah dan alamat tersebut sudah beralih fungsi menjadi kantor lain. Namun saat saya menceritakan kebutuhan saya, mereka memberikan rekomendasi tempat yang mereka ketahui.

Mencari tempat kursus dari satu tempat ke tempat lain bersama baduta saat itu cukup menghadirkan kelelahan. Saat tak kunjung mendapatkan jawaban positif, saya sempat meminta pandangan mereka,

„Saya baru tiba di Wina empat bulan dan butuh belajar bahasa Jerman. Saya memiliki anak berusia 1.5 tahun. Ada banyak lembaga kursus namun belum ada yang saya temui menyediakan fasilitas penitipan anak. Apakah Anda memiliki rekomendasi tempat lain, di mana saya bisa belajar?”

Setelah mencoba datang ke berbagai tempat juga menghubungi via telefon namun hasilnya masih nihil, sebuah ayat dalam Al Qur'an mengingatkan saya, 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (An Nisa [4] : 32)

Bahwasanya ikhtiar senantiasa diiringi dengan tawakkal, memohon pada Allah ditunjukkin jalan yang terbaik, dan berpasrah padaNya. Beberapa pekan kemudian, saat saya merasa bahwa Allah menyuruh saya untuk belajar sendiri terlebih dahulu dan kembali tes di VFI untuk semester berikutnya, saya mendapatkan telefon dari salah satu lembaga kursus yang sudah saya kontak dahulu. Beliau menawarkan satu kuota untuk saya karena ada peserta yang mengundurkan diri dan tidak datang kembali. Namun jamnya adalah jam siang hari dan proses belajarnya agak lambat. Karena prioritas saya saat itu adalah gratis dan tersedia fasilitas penitipan anak, maka saya pun menerima tawaran tersebut.

Perjalanan di babak baru pun dimulai, saya dan anak-anak mulai beradaptasi, menempuh perjalanan ke tempat kursus sepulang menjemput si sulung di Kindergarten. Biasanya saya menjemput si sulung sebelum jam dua belas sehingga tiba lebih awal di tempat kursus dan ada waktu untuk makan siang. Tidak mudah memang, terlebih saat musim dingin dan saat anak mengantuk di siang hari. Namun kami coba menjalankan prosesnya dengan bahagia. Perlahan, anak-anak pun memahami bahwa saya memang perlu belajar bahasa Jerman. Di titik ini saya merasa bahwa Allah memberi kesempatan saya belajar lebih dari bahasa, namun justru mengenai daya tahan dan pembentukan pola pikir positif. Bahwa bahagia itu merupakan sebuah pola pikir yang dibentuk berlandaskan rasa syukur, bukan hanya sebuah respon.

Semester berikutnya, saya kembali mengikuti tes di VFI. Kali ini, alhamdulillah diterima di kelas A1+ dan mendapat kelas pagi hari. Saya pun mengurus perpanjangan durasi si sulung di Kindergarten agar bisa saya jemput sepulang kursus. Anak kedua pun sudah tumbuh besar, lebih bisa memahami kondisi, beradaptasi dan mood-nya lebih bagus karena masih di pagi hari. Selama tiga semester, saya belajar bahasa Jerman di sini.

Gambar 2. Vereinigung für Frauenintegration


Lulus dari VFI, saya kembali mencari tempat kursus baru. Untuk level B2 di Verein, alternatifnya bisa di Integrationshaus dan Peregrina. Namun saat saya menghubungi Integrationshaus, jadwal yang dimiliki baru ada dua semester ke depan, artinya saya perlu menunggu satu semester. Sedangkan di Peregrina, masuk ke daftar tunggu di semester berikutnya sehingga saya tidak perlu menunggu berbulan-bulan. Namun karena B2 sudah bukan termasuk level pondasi, maka ada biaya sebesar 70 Euro untuk satu evel tersebut. Harga tersebut masih jauh terjangkau daripada biaya pada umumnya (300-400 Euro per level).

Setelah datang langsung untuk mendaftar dengan menunjukkan hasil tes level B1 dan menunggu kabar, alhamdulillah hasilnya positif diterima. Kali ini si sulung sudah masuk Volksschule dan anak kedua mulai masuk Kindergarten. Kini, saat saya menulis cerita ini, alhamdulillah kelas B2 baru selesai. Informasi mengenai pembukaan kelas level B2 di Peregrina bisa diakses di situs berikut. Belakangan ini saya mulai memberanikan diri mengikuti forum diskusi dan meminjam buku yang saya minati. Motto „Sprachen öffnen Türen“ sangat terasa. Menguasai bahasa Jerman membuka peluang belajar sebuah ilmu baru dan berinteraksi lebih luas lagi.

Gambar 3. Peregrina


Bagi teman-teman yang sedang mencari kursus bahasa Jerman di kota Wina dengan fasilitas penitipan anak, silakan membuka situs pemerintah kota Wina berikut. Ada banyak informasi lembaga kursus yang bisa dikunjungi situsnya satu persatu dan dikontak langsung via telefon untuk mengetahui ketersediaan kuota kursus dan hal detail lainnya. Jika membutuhkan informasi seputar LEFÖ, VFI maupun Peregrina, silakan kontak saya untuk diskusi lebih lanjut ya. Semoga dengan  membaca tulisan ini, teman-teman  yang sedang mencari hal serupa, bisa bertemu dengan tempat kursus yang tepat, dengan waktu yang lebih singkat dari yang saya alami. Dalam perjalanan belajar bahasa Jerman ini, amat saya rasakan bahwa pertolongan Allah itu sangat nyata dan dekat. Dan semoga rida Allah senantiasa mengiringi setiap langkah yang terayun dalam menapak keluasan ilmuNya. Aamiin.

 

  

 

Monday, 21 December 2020

Zona Extra Miles Kedua, Melaju dengan Aksi Unik diiringi Komitmen dan Konsisten

 

Gambar 1. Bagan Challenges Deep Dive Extra Miles

Kota Produktif, Warga Kreatif, Penuh Ide Solusi

Begitulah tagline Hexagon City.  Jika kemudian saya memutuskan untuk menjadi bagian di dalamnya dan siap bertumbuh sebagai Hexagonia, artinya saya siap untuk bertumbuh lebih produktif, kreatif dan solutif, bukan?

Maka bismillahhirrohmanirrohim...siap untuk terus berproses dan melaju optimal.

Setelah pekan sebelumnya kami diajak untuk bergerak dengan extra miles yang hingga saat ini pun aksinya masih terus diupayakan, di pekan ini ada kejutan lagi! Kami diajak berkontemplasi terkait perjalanan hingga saat ini dikaitkan dengan tagline kelas Bunda Produktif. Masih on track atau tidak ya? Sederhananya, yuk check in kondisi diri dulu…

Apakah saya sudah produktif di kota ini?

Ya. Tujuan awal saya bergabung di kelas Bunda Produktif adalah untuk produktif menghasilkan karya tulisan dan berbagi ilmu seputar pembelajaran bahasa Jerman. Jika dirunut karya tulis yang saya hasilkan selama mengikuti kelas bunda Produktif adalah :

  1. Tulisan jurnal yang ditulis di blog www.griyariset.com, saya tulis segenap hati untuk mengikat ilmu dan menjadi pengingat di masa depan karena kelas Ibu Profesional adalah kelas kehidupan yang pola belajarnya sangat bisa diduplikasi implementasinya dalam dunia nyata.
  2. Membuat satu artikel dengan topik „Pengalaman Read Aloud  di Wina, Austria“ sesuai dengan aktivitas yang disepakati di milestone 2.1.
  3. Di luar Hexagon City, menghasilkan karya antologi cerita anak yang mana ini merupakan karya pertama saya menulis cerita anak setelah sebelumnya saya memiliki limiting belief bahwa saya tidak berkompeten untuk menulis cerita anak.

Sekreatif apa kita sampai di zona Extra Miles ini?

Arti kreatif menurut KBBI adalah memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Wah, selama di Hexagon City ini saya sudah menciptakan apa ya? Hehehe.

Dimulai dari merumuskan ide proyek Co-House. Di masa awal berkumpul dengan tetangga Co-House, kami saling memperkenalkan diri dan menyampaikan kekuatan maupun hal yang disukai masing-masing. Tentunya dalam cakupan bidang yang kami pilih, Literasi dan Bahasa. Setelah menyimak pemaparan masing-masing tetangga dan menilik kebutuhan belajar diri, maka saya terpikir bentuk ide project passion berupa kolaborasi dari berbagai kekuatan yang akhirnya kami sepakati untuk dijalankan bersama, LiterAksi Tematik.

Kreatif juga seputar aksi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Terkait dengan hal ini, aksi kreatif terkait project passion adalah membuat review buku anak berbahasa Jerman. Sudah ada keinginan untuk melakukannya sejak lama, namun saat tuntas membacakan, enggan rasanya melanjutkan aksi dengan membuat review. Dan milestone 1 kemarin, berhasil memaksa saya untuk melawan keengganan tersebut hingga bisa membuat lima review buku. Bonus yang dirasakan, saya jadi mengenali kosakata baru dan membaca isi buku berulang kali hingga paham alur cerita secara detail.

Aksi kreatif berikutnya adalah mendalami Read Aloud dengan mengikuti Training of Trainers Read Aloud. Rencana lama yang terus tertunda, qodarullah akhirnya Allah tuntun untuk bisa tereksekusi sekarang. Belajar bagaimana melakukan Read Aloud dengan teknik yang benar, juga bagaimana belajar membuat kajian teks sederhana. Mirip dengan membuat review namun lebih berupa poin-poin yang beragam. Menarik, masyaAllah! Karena pekan ini kursus bahasa semester ini pun sudah berakhir maka alokasi waktu belajar bisa optimal saya gunakan untuk mengulik seputar Read Aloud ini.

Ada problematika apa yang terjadi selama pengerjaan project passion?

Sebelum melaju pada solusi dan masuk ke ranah challenges deep-dive, penting untuk menelusuri permasalahan yang dihadapi baik disadari atau tidak. Ibu Septi selaku founding mothers mewanti-wanti agar jangan sampai kita terkena jebakan Rat Race. Yaitu kondisi dimana kita melakukan hal yang sama terus menerus, secara berulang, dan stagnan. Jika hal tersebut terjadi pada aktivitas kita, kemudian kita tidak melakukan extra miles, maka kondisi akan tetap sama, tidak berubah ke arah yang lebih baik. Mengingatkan saya pada sebuah ayat, QS. Ar-Ra'd:11 bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”

Ada tiga jenis permasalahan yang memungkinkan terjadi pada diri kita, yaitu :

Sia-sia

Jika kita melakukan sesuatu di bidang yang tidak terlalu dipahami bahkan dengan target yang biasa sekalipun.

Hal ini mengingatkan saya pada proses pemilihan bidang passion. Pantas saja tim formula menghimbau untuk memilih bidang yang diminati, memang sedang ditekuni dan memiliki passion atau gairah yang besar dalam menjalankannya. Agar kami sudah memiliki pondasi dasar terkait bidang tersebut (meski tidak harus mahir) juga tangguh dalam menghadapi setiap tantangan.

Jalan di tempat

Jika kita hanya mau melakukan sesuatu di area yang sudah kita kenal dan dengan target yang biasa saja.

Ini memang sebuah cara aman untuk menghemat energi. Namun, bukan belajar di kelas Ibu Profesional namanya jika tidak penuh dengan kesungguhan. Sekadar menggugurkan kewajiban tak akan membawa perubahan dalam diri. Bidang literasi dan bahasa memang bukan hal yang asing bagi saya, saya perlu berhati-hati agar tak terjebak diam di tempat. Saya menyukai bidang ini dan memang menyungguhinya. Beberapa hal baru yang saya kerjakan selama di kelas Bunda Produktif ini antara lain : membuat review buku anak berbahasa Jerman, menulis artikel review pengalaman dan mendalami ilmu seputar Read Aloud.  

Merasa istimewa

Jika kita melakukan sesuatu yang sudah kita kenal dengan target yang melebihi standar, namun ternyata tidak terlalu berarti karena cara yang kita lakukan begitu-begitu saja. Makjlebb sekali menyimak definisi ini. Merasa tertohok, dan mawas diri, jangan-jangan selama ini saya terjebak di permasalahan ini? Sudah melakukan usaha dengan effort yang lebih untuk mencapai target yang lebih tinggi namun saya masih menggunakan "cara lama" dalam menggapai target tersebut. Demikiankah yang berlangsung selama ini? Inovasi proses apa yang sudah saya upayakan? Jangan-jangan belum ada. Jentikkan jemari, baca basmalah dan berucap switch! Tidak mau! Memutuskan untuk melakukan langkah berbeda saat itu. Apa itu? Saya tuliskan di kolom X-tra Ordinary Action.

Ide solutif apa yang ingin saya canangkan sebagai Xtra Miles kali ini?

Saat ini pengerjaan project passion akan memasuki milestone 3, yaitu membuat video Read Aloud. Di awal perjalanan project passion, saya menyadari belum memiliki kompetensi mumpuni untuk Read Aloud baik secara teori maupun praktik . Aha! Project passion ini adalah jalan pembuka saya mengenal Read Aloud dan memahaminya secara detail. Maka setelah kemarin saya sudah melakukan X-tra Miles dengan mengikuti ToT Read Aloud, kali ini saya ingin menambah X-tra Miles dengan penjabaran sebagai berikut :

Ide solusi :

Belajar Read Aloud secara lebih mendalam sebagai bekal keterampilan untuk mengerjakan milestone 3

X-tra Miles Concept Note :

Membuat poin-poin rencana aksi yaitu :

  1. Membuat kajian teks sederhana
  2. Membuat review acara ToT Read Aloud
  3. Praktik Read Aloud buku anak seputar emosi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jerman

X-tra Miles Action :

Sudah belajar membuat kajian teks sederhana. Sedang membuat review acara ToT Read Aloud dan mencoba praktik Read Aloud  buku anak terkait emosi.

X-tra Ordinary Concept Note :

  1. Membagikan review acara ToT Read Aloud jika sudah selesai dikerjakan
  2. Menjaga energi dan konsistensi dalam menjalankan extra miles

X-tra Ordinary Action :

Tanggal 16-18 Desember 2020 lalu saya off karena ada jadwal Pruefung atau ujian bahasa Jerman. Konsekuensi ketidakhadiran saya di tanggal tersebut adalah mengejar ketertinggalan dengan menyimak rekaman materi dan mengerjakan milestone  2.2 berupa alih bahasa kosakata terkait emosi di akhir pekan. Sekali pun membuat saya perlu mengurangi jam tidur tapi saya bahagia karena saya melakukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan belajar saya. Tapi cukup untuk momen ini saja, tidak untuk setiap hari. :D

Secara pribadi, aksi mengejar ketertinggalan merupakan x-tra ordinary action sebagai bentuk tanggung jawab saya di Co-House. Sehingga bisa kembali mengikuti ritme dan tidak menjadi delays. Lagi-lagi saya diingatkan bahwa komitmen dan konsistensi adalah kunci dari produktivitas.



Agar tidak terjebak di permasalahan “merasa istimewa”, saya perlu melakukan aksi nyata yang berbeda, dengan low effort high impact. Melakukan hal yang tidak membutuhkan energi banyak tapi memberikan  dampak besar dalam pengerjaan project passion. Mendorong kekuatan bakat relator, saya mencoba mencari informasi mengenai Read Aloud Austria. Bertemulah dengan akun Instagram @oesterreichischer_vorlesetag dan website www.vorlesefest.at. Kemudian mereka memberikan tips untuk bisa saya pelajari lebih lanjut. Alhamdulillah.

Go to the Extra Impact :

Impact adalah ranah Yang Maha Penggerak Hati, maka untuk melihat dampak, saya cukup bertawakkal pada-Nya dan berikhtiar dengan extra miles. Tugas saya saat ini adalah menjalankan apa yang sudah dituliskan dengan penuh komitmen dan konsisten.

Salah satu poin extra miles saya sebelumnya adalah mengenai manajemen waktu, yang hingga saat ini hal tersebut pun masih terus diupayakan. Anak-anak mengajukan protes karena jam daring yang bertambah belakangan ini. Saya menyadari konsekuensi mengikuti kelas belajar adalah alokasi waktu jam daring. Protes anak-anak menjadi pengingat diri untuk lebih efisien dalam menggunakan jam daring dan memanfaatkan waktu dini hari. Berproses menuju seorang bunda produktif sejatinya bukan menjalankan sebuah peran baru, namun bergerak menuju keseimbangan baru seiring bertambahnya peran kehidupan. Maka saya perlu senantiasa meluruskan niat, agar bergerak lillah, dan Allah jaga langkah ini senantiasa. Aamiin...

Wina, 21 Desember 2020

Mesa Dewi Puspita

 

 

 









Tuesday, 8 December 2020

Zona Extra Miles Pertama, Produktif dengan Menjalankan Extra Miles

Saat awal menyimak materi X-tra Miles ini, saya masih belum menangkap pemahaman detail yang jelas, terkait alur pengerjaan diagram Impact Effort Matrix. Mungkin saya yang terlalu memusingkannya. Mengapa tak memilih untuk berpikir simpel, menangkap garis besarnya, lalu mengerjakan tugasnya. Tuntaslah sudah! Tidak, saya tidak bisa demikian. Bukan gaya belajar yang gue banget. Saya perlu merunut agar paham, sekalipun konsekuensinya adalah perlu waktu pengerjaan yang lebih panjang.

Usai menyimak rekaman materi, saya membuat jurnal pribadi terlebih dahulu. Membuat project list kemudian mengklasifikasikannya ke dalam empat kuadran tersebut. Fokus saya saat mengklasifikasikannya terpaku pada effort dan impact dari setiap kegiatan. Mana yang high effort, low effort, mana yang high impact, low impact. Kemudian memikirkan, mau dipindah ke kuadran mana setiap kegiatan tersebut dan X-tra Miles apa yang mau dilakukan untuk memindahkannya.

Maka berikut jurnal pribadi awal yang saya buat :

Gambar 1. Jurnal Pribadi mengenai Impact Effort Matrix

Hingga tiba jadwal diskusi via ZOOM,  kami berkumpul berdiskusi mengenai jurnal. Senang rasanya ada diskusi rutin, ada ruang untuk berbagi buah pikiran dan menelaah bersama. Dari diskusi tersebut saya merasa ada yang perlu diperbaiki dari jurnal pribadi saya, yaitu lebih didetailkan rencana aksinya dan diberi keterangan letak kuadran dari setiap kegiatan usai dilengkapi dengan X-tra Miles. Baiklah, saya mencoba memperbaikinya dan menyetorkannya kembali di hari berikutnya.

Apakah tuntas, berhenti sampai di situ? Ternyata tidak. Momen menuliskan jurnal adalah momen dimana saya merunut pemahaman atas pembelajaran yang sedang berjalan. Saat menulis, saya kembali dibuat bingung dengan definisi kuadran Major Projects dan Quick Wins. Ya, definisi kuadran Quick Wins bukan sekadar kuadran yang diisi oleh kegiatan yang saya rasa low effort, high impact saja. Namun juga merupakan kuadran ideal dimana sebisa mungkin, kegiatan-kegiatan banyak terletak di sana. Mengerjakan sebuah kegiatan dengan optimal, tanpa usaha ekstra yang berpotensi mengundang kelelahan, namun menghadirkan dampak signifikan. Siapa yang tidak mau? Bukankah hal tersebut erat kaitannya dengan makna sebuah produktivitas?

Maka saya mencoba berselancar, mencari referensi untuk menguatkan struktur berpikir yang sedang saya bangun terkait materi kali ini.

Pertama, saya mencermati makna sebuah produktivitas. Pencarian ini membawa saya membaca buku Productive Muslim yang ditulis oleh Mohammed Faris. Produktivitas erat kaitannya sebagai output dari sebuah ­input. Jika saya memiliki waktu dua jam dan menggunakannya untuk menulis jurnal (menghasilkan karya) maka saya produktif. Namun ada rumus produktif yang saya dapatkan dari buku tersebut, yaitu :

Produktivitas = Fokus x Energi x Waktu (untuk tujuan yang bermanfaat)

Menjadi produktif bukan menjadi sibuk, bukan pula sebuah kejadian melainkan sebuah proses, produktif tidak membosankan dan yang perlu diingat adalah, kita tidak bisa selalu menjadi orang produktif, perlu ada jeda diantara produktivitas satu dengan lainnya. Logis sih ini, perlu ada manajemen energi, manajemen fokus dan manajemen waktu yang saling bersinergi. Makjlebb bangeeet!

Referensi berikutnya yang saya cari adalah seputar Impact Effort Matrix. Dalam laman situs web expertprogrammanagement.com ditemukan matriks setipe dengan nama The Action Priority Matrix. Matriks tersebut sebagai alat bantu memanfaatkan waktu untuk memilih tugas dan peluang yang akan dikejar berdasar prioritas. Dijelaskan pula bahwa kuadran Quick Wins merupakan tempat hal-hal dengan prioritas tinggi. Sebisa mungkin tidak ada lagi kegiatan di Thankless Tasks, minim kegiatan di Fill Ins dan Major Projects.

Untuk memindahkan kegiatan-kegiatan ke kuadran lainnya dengan proporsi lebih tepat sehingga hasilnya berlipat pula, maka perlu ada ide X-tra Miles yang harus djalankan. Ide yang paling mendasar adalah memperbaiki manajemen waktu, energi dan fokus. Terkait hal tersebut, strategi yang akan diterapkan adalah :

  1. Mengalokasikan waktu 15 menit per dini hari untuk mengikuti diskusi WAG Co-House. Menandai chat penting dan melakukan clear chat secara berkala.
  2. Mengalokasikan waktu lima jam dalam satu pekan untuk mengerjakan artikel berkualitas.
  3. Membuat kandang waktu yang lebih ketat dan saklek untuk membuka FBG. Dengan jadwal : menyimak live materi dan pengayaan di dini hari Kamis dan Jum’at (@satu hingga dua jam), mengikuti perkembangan Hexagon City di Sabtu dini hari (15 menit)
  4. Memakai aplikasi YourHour untuk mengidentifikasi seberapa lama penggunaan gawai saya per hari, juga memunculkan pengingat saat saya sudah melewati batas jam daring yang saya tetapkan di awal.
  5. Membagi proses pengerjaan jurnal dalam beberapa bagian yang dikerjakan bertahap. Antara lain berdiskusi dengan tetangga Co-House, membaca buku dan web sebagai acuan referensi, menyimak materi dengan seksama, berdiskusi dengan orang terdekat, menyusun kerangka hingga menuliskan jurnal utuh. Alokasikan waktu untuk setiap bagian.

Selain strategi diatas, ada juga X-tra Miles lain yang dilakukan. Antara lain :

  1. Mengikuti Training of Trainer Read Aloud selama bulan Desember
  2. Menemukan dan membaca buku referensi yang sesuai dengan materi setiap zona
  3. Menyimak aktif pelatihan internal Co-House  dengan seksama

Setelah melakukan X-tra Miles maka kegiatan-kegiatan bermuara ke mana? Saya mengupayakan untuk dominan di kuadran Quick Wins. Melatih otot-otot menuju keseimbangan baru tentu berat ya. Karenanya X-tra Miles dilakukan. Melipatkan hasil dengan durasi pengerjaan yang tetap sama. Perlu meningkatkan fokus, menggunakan waktu dengan lebih efisien dan menjaga ketersediaan energi.

Maka saatnya masing-masing Hexagonia menentukan aksi X-tra Miles-nya maka saatnya mengumpulkannya sehingga menjadi action items tim Co-House. Berikut hasilnya :

Gambar 2. Impact Effort Matrix tim Co-House

Mengikuti sebuah kelas belajar, sejatinya bukan hanya untuk menerima ilmu namun juga untuk berubah ke arah yang lebih baik. Bergabung di kelas belajar Institut Ibu Profesional selalu saya rasakan berbeda. Bukan sebagai sebuah proses disuapi, namun diberi kail yang membuat saya bisa meluaskan pandangan, terbuka terhadap sumber pembelajaran yang lebih luas lagi. Mengajak untuk berkelana di hutan ilmu pengetahuan.

Beragam fasilitas di Hexagon City merupakan tanda produktivitas sebuah kota sekaligus merupakan godaan, selama tidak sesuai dengan kebutuhan belajar diri. Founding mothers pun mengingatkan mengenai hal ini. Maka kuatkan tekad untuk cukup tertarik dengan hal-hal yang sudah menjadi fokus kebutuhan belajar selama berada di kelas Bunda Produktif. Dalami dan tekuni hal tersebut hingga menjadi sebuah karya produktif. Bismillah, semoga Allah tuntun selalu.

Wina, 9 Desember 2020

Sumber Referensi :

Faris, Mohammed. 2015. Muslim Produktif : Ketika Keimanan Menyatu dengan Produktivitas. Jakarta : Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Anonim. 2018. The Action Priority Matrix. https://expertprogrammanagement.com/2018/12/the-action-priority-matrix/. Diakses tanggal 9 Desember 2020.

 

 

 


Sunday, 29 November 2020

Zona 4E Kedua, Perjalanan Refleksi Diri dan Dokumentasi Kontribusi sebagai Warga Kota

Saya bersyukur di pekan ini kami diberi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan selama di kelas Bunda Produktif ini. Secara pribadi saya merasa sesi ini penting, karena bisa kembali melihat tahapan demi tahapan yang sudah dijalani. Mulai dari zona Passion, Character, Habit, dan 4E. Apakah passion sudah bertemu ruang aktualisasinya? Apakah karakter disiplin yang saya ambil sudah terlatih? Apakah habit yang dicanangkan sudah konsisten dijalankan? Apakah aktivitas 4E yang sudah dibuat skala prioritasnya sudah berjalan sesuai prioritas?

Mari kita telusuri satu persatu ya. 

Passionate People

Sudah seberapa fokuskah saya mengasah keterampilan di bidang literasi dan bahasa, yang menjadi fokus saya di kelas Bunda Produktif ini?

Untuk bahasa Jerman, saat ini saya masih aktif mengikuti kursus bahasa Jerman level B2.2 dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian bulan Desember depan. Jujur, level ini terasa jauh lebih berat. Penyebab pertama, karena level B2 ini bukan lagi level dasar namun level menengah menuju fasih. Sehingga banyak kosakata baru, pola grammatik baru yang harus dipelajari.  Wajar tapi konsekuensinya adalah saya perlu fokus dan rajin belajar. Penyebab kedua, level ini sebenarnya level loncat. Karena idealnya saya masuk ke kelas B2.1 atau B2.

Sedangkan untuk literasi dan bahasa secara umum, mengikuti kelas Bunda Produktif, memberikan saya ruang untuk terus mengasah passion dengan cara yang lebih menyenangkan baik bagi diri maupun keluarga. Jika saat kursus saya perlu mengalokasikan waktu me time berupa mengikuti pelajaran di kelas maupun mengerjakan tugas yang diberikan layaknya kursus pada umumnya, maka di luar jam kursus saya bisa menjalankan passion dengan melakukan hal yang menyenangkan dengan menjalankan tahapan demi tahapan kelas Bunda Produktif. Bersama tim di Co-House saya juga bisa berkesempatan untuk mendalami literasi melalui belajar hal-hal yang saya minati dan sukai seperti membuat review buku, menulis artikel hingga praktik Read Aloud.

Character Cultivator

Karakter baik itu harus dibangun dan diupayakan. Karakter yang saya pilih untuk saya asah dan perkuat selama di kelas Bunda Produktif adalah karakter disiplin. Jika merujuk pada hasil Talents Mapping, sebenarnya discipline merupakan salah satu dari tujuh bakat terkuat saya dan saya pun merasakan hal tersebut. Namun saya masih ingin mengasahnya hingga kontrol diri berjalan otomatis untuk menjalankan ketetapan yang sudah dibuat diri maupun luar diri.

Sepanjang perjalanan bunda produktif ini, saya masih melatih diri untuk disiplin menjalan peran dengan cara :

  • Membuat prioritas. Kegiatan di kelas Bunda Produktif amat banyak, sedangkan alokasi waktu yang dimiliki terbatas. Maka meskipun semuanya penting, saya perlu mengklasifikasikan berdasarkan prioritas. Saya masih terbata untuk menjaga keseimbangan, seringkali masih belum seimbang antara peran di dalam dan di luar Hexagon City. Maka ini adalah strategi untuk menjaga keseimbangan.
  • Membuat kandang waktu untuk setiap aksi. Kapan waktu mengerjakan habit, kapan hadir ke WAG untuk berdiskusi, kapan hadir di FBG untuk menyimak live dan berkontribusi sebagai warga, kapan mencari dan membaca referensi untuk bahan belajar, dan kapan menulis jurnal.
  • Mengupayakan untuk hadir di diskusi WAG di Zoom maupun di WAG dengan fokus sehingga bisa berkontribusi aktif. Jika terpaksa berhalangan hadir, meminta izin ke leader sebelumnya atau segera setelah bisa menggunakan gawai kembali.
  • Ke depan, saya menerima tantangan leader untuk mengingatkan tim terkait batas waktu pengumpulan beragam tugas ke depan. Dengan demikian saya melatih diri untuk lebih disiplin dan mengajak teman-teman untuk turut menjalankan hal serupa.

Habit Powered

Kebiasaan yang saya latih terkait project passion di milestone ini adalah membacakan dan membuat review buku anak terkait emosi dalam bahasa Jerman. Alhamdulillah standar minimal dari tim yaitu lima review buku berhasil saya setorkan dengan tepat waktu, meski sebenarnya target pribadi saya adalah delapan buku. Namun mencukupkan mencapai standar minimal tim adalah strategi untuk berdamai dengan kondisi yang saat itu penuh tantangan. Alhamdulillah.

Terkait kebiasaan membacakan buku berbahasa Jerman, hingga saat ini alhamdulillah masih terus berjalan, karena memang membacakan buku merupakan jadwal rutin harian bersama anak-anak. Pekan ini kami baru saja tuntas melaksanakan milestone 1 dan bersiap melangkah ke milestone 2 dengan kebiasaan yang berbeda juga.

Shining 4E

Zona 4 E ini menguatkan langkah dalam mengklasifikasikan aktivitas sesuai prioritas. Perlu menjaga fokus untuk mencapai target, baik itu target pribadi yang tercanangkan sejak awal mengikuti kelas Bunda Produktif, target bersama berupa project passion pun kontribusi sebagai warga Hexagon City. Salah satu hasil kontemplasi perjalanan diri, seringkali saya gagal untuk menggapai sebuah tujuan karena saya kehilangan fokus, mudah terdistraksi sehingga berbelok arah melakukan hal lain yang bukan merupakan tujuan yang diprioritaskan sejak awal. Kali ini saya ingin melatih diri untuk lebih fokus, tidak mudah terdistraksi pada hal-hal di luar prioritas.

Apa bentuk kontribusi sebagai warga Hexagon City?

Gambar 1. Bukti kontribusi sebagai warga kota

Perkembangan Hexagon City teramat pesat. Sangat terasa langkah kota virtual ini sebagai sebuah kota yang produktif, dinamis dan canggih. Setiap jadwal membuka FBG, saya dibuat terkagum-kagum dengan inovasi yang terus bermunculan. Belum tuntas menyimak parade project passion, hadir Hexa-Link dan Hexa-Market yang memfasilitasi warga bertransaksi produk maupun jasa. Hexa-News pun rutin muncul setiap pekannya. Keaktifan kota menunjukkan pembangunan yang terus berjalan, sekaligus bukti bahwa setiap potensi dan passion terwadahi dengan optimal.

Setiap warga bisa jadi memiliki definisi bentuk keaktifan kontribusi sebagai warga yang beragam. Nah, di pekan ini tim City Leader dan tim formula memberikan panduan standar minimal yang baku sehingga memudahkan warga untuk menjaga fokus dan memenuhi standar kontribusi. Yaitu dengan bergabung di Hexa-Link, Hexa-Market, follow akun Instagram, Fanpage Facebook juga Youtube Hexagon City serta memberi komentar di postingan parade Project Passion.

Tawaran yang banyak, kesempatan yang beragam, yang kesemuanya terlihat menarik, sedangkan alokasi waktu terbatas sehingga saya perlu menjaga fokus dan bergerak sesuai prioritas. Maka saya memohon perlindungan Allah, agar dijaga dan dituntun untuk bisa senantiasa meluruskan niat dan menjaga keikhlasan dalam setiap langkah. Semoga menggapai rida Allah. Aamiin. 

Monday, 23 November 2020

Zona 4E Pertama, Dua Kunci Ibu Berkarya, Fokus pada Prioritas dan Membangun Kebiasaan Baru

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Setiap usai mendapat materi di kelas belajar Ibu Profesional, selalu saya upayakan untuk menarik korelasinya tidak hanya untuk pengerjaan tugas jurnal, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk saat memasuki tahap Enjoy, Easy, Excellent, Earn (4E) di kelas Bunda Produktif kali ini. Zona 4E dibuka dengan pemaparan materi dari bu Septi Peni Wulandani seputar melatih kebiasaan baik.

Gambar 1. Cara Kita Bekerja


Sebuah kebiasaan kecil memiliki dampak yang besar. Analogi yang diberikan mengambil referensi dari buku Atomic Habit oleh James Clear. Karena saya belum membaca bukunya, berbekal apa yang bu Septi sampaikan di materi live, sampailah saya pada website milik James Clear dan membaca beberapa artikel seputar kebiasaan yang ditulis beliau. Menarik!

Alih-alih memulai sebuah kebiasaan baru dengan sebuah gebrakan besar, kita mulai saja melakukan sebuah hal sederhana, yang ringan dan realistis untuk mulai kita lakukan. Karena ternyata motivasi yang kita miliki juga pasang surut. Sehingga, memulai perubahan dengan sebuah kebiasaan yang ringan akan lebih mudah diasah konsistensinya. Ah, saya jadi teringat ketidakkonsistenan saya dalam mengisi aplikasi Habit Tracker yang sudah saya pasang di aplikasi Gewohnlichkeit. Tak apa, ini pengingat untuk memperbaiki dan merutinkannya kembali.

Gambar 2. Memulai Kebiasaan dengan Hal Sederhana 
Sumber gambar : https://jamesclear.com/habit-guide

Selain memulai kebiasaan dari melakukan hal sederhana, poin kedua yang James Clear sampaikan adalah tingkatkan kebiasaan dengan hal yang sangat kecil. Setelah diingatkan untuk jangan memulai kebiasaan dengan melakukan sebuah gebrakan besar, selanjutnya adalah jangan muluk-muluk dalam melakukan perbaikan. Supaya tidak keburu merasa berat, enggan, atau berputus asa. (eh, itu aku aja mungkin ya? hehe)

Gambar 3. Perbaikan Kecil Berdampak Besar 
Sumber gambar : https://jamesclear.com/habit-guide

Sebenarnya poin yang disampaikan ini sudah tak asing di telinga. Sebagai umat muslim tentu tak asing dengan pengingat sebagai berikut "Barang siapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barang siapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang celaka." atau „Barang siapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang –orang yang terlaknat.“ Ya, bukankah seorang muslim yang tangguh adalah mereka yang terus melakukan perbaikan berkelanjutan setiap harinya? Karena mereka tak mau merugi atau bahkan celaka.

Bahasan Atomic Habit  hasil penelusuran saya di website James Clear saya cukupkan di dua poin itu dulu, Selain karena cakupan materi di zona 4E ini adalah seputar hal tersebut, saya juga masih perlahan mencerna artikel demi artikel terkait kebiasaan di situ. Sepertinya buku Atomic Habit ini perlu masuk wishlist nih! Nah, lalu bagaimana dengan Identity based Habits atau Outcome based Habits? Bu Septi menyampaikan perbedaan keduanya adalah, jika Identity based Habits maka dimulai dengan mencanangkan identitas diri. Kemudian memetakan kebiasaan untuk mencapai identitas tersebut. Tolok ukurnya adalah perubahan diri dari waktu ke waktu. Sedangkan Outcome based Habits basisnya adalah hasil. Mencanangkan target kemudian memetakan kebiasaan untuk mencapai target tersebut. Tolok ukurnya adalah hasil atau karya. Sehingga kuncinya adalah improvisasi yang berkelanjutan sehingga tak berhenti.

Saya merasa tak ada yang lebih baik diantara keduanya. Akan optimal jika keduanya dipilih berdasar karakteristik diri seseorang. Pun adalah sebuah hal yang saya rasa memungkinkan, jika ada yang ingin mengkombinasikan keduanya. Misalnya, identity atau identitas saya pasang menjadi tujuan akhir dalam perjalanan mengasah jam terbang atas passion ini. Sedangkan outcome atau hasil menjadi target berjangka yang saya pasang selama proses tersebut. Saya mencoba membuat contoh dari praktik kebutuhan diri saat ini :

Identitas yang sedang diupayakan : seorang yang fasih bahasa Jerman

Kebiasaan yang dilatihkan : belajar bahasa Jerman dua jam setiap hari dalam bentuk : mengikuti kursus intensif; bergabung dalam forum belajar bertema Islam, perempuan atau keluarga dalam bahasa Jerman; membaca buku berbahasa Jerman; menonton film berbahasa Jerman dan sebagainya.

Hasil yang ingin dicapai saat ini : lulus OeSD B2 Pruefung

Nah, capaian yang dicanangkan tersebut terus diperbarui sehingga menjadi anak tangga untuk mencapai tujuan akhir yaitu identitas diri. Seiring proses, kebiasaan yang dilatihkan pun bisa jadi berubah bentuknya menyesuaikan capaian outcome. Wallhu a’lam. Saya pun masih perlu mengulik lebih dalam terkait pemahaman mengenai poin tersebut.

Bagi saya secara pribadi, setiap materi yang disampaikan sebagai pembuka zona baru ibarat pijakan yang perlu saya miliki sebelum membuat rencana aksi dan melangkah. Maka setelah usai menyimak materi dari bu Septi, penting bagi saya untuk mencari referensi terkait mengenai bahasan tersebut sehingga saya bisa memiliki pemahaman yang utuh dan menyeluruh sebelum berpindah ke ranah diskusi kelompok, praktik dan menuliskan jurnal. Jika tidak, maka saya merasa bingung saat mengaitkan satu dan lainnya.

Bagaimana dengan pengerjaan project passion terkait aktivitas 4E? 

Kami memulai langkah dengan mendata aktivitas pribadi terlebih dahulu, mengidentifikasi mana saja aktivitas yang 1E, 2E, 3E hingga 4E. Kemudian memilih beberapa aktivitas yang menjadi prioritas dalam pengerjaan project passion (hal yang erat kaitannya dengan kerja tim) untuk menjadi bekal dalam diskusi tim.

Maka sebelum masuk di diskusi kelompok, saya mendata aktivitas yang saya kerjakan di Hexagon City secara keseluruhan, baik yang sudah dikerjakan, sedang berjalan maupun estimasi pekerjan ke depan :

  1. Menulis jurnal belajar (3E)
  2. Menjadi anggota aktif Co-House (2E)
  3. Merumuskan project passion (3E)
  4. Membaca nyaring buku anak berbahasa Jerman (2E)
  5. Membuat ulasan buku anak berbahasa Jerman (2E)
  6. Mendata kosakata bahasa Jerman-Indonesia terkait emosi (3E) √√√
  7. Menulis artikel pratik Read Aloud di kota Wina, Austria (3E) √√
  8. Membuat video Read Aloud (1E) √√
  9. Menjadi tim editor e-book project passion (3E) √√√√

Setelah mendata aktivitas, mengidentifikasi 4E-nya dan menentukan prioritasnya, maka ada enam aktivitas prioritas saya untuk tim :

  1. Membaca nyaring buku anak berbahasa Jerman
  2. Membuat ulasan buku anak berbahasa Jerman
  3. Mendata kosakata bahasa Jerman-Indonesia terkait emosi
  4. Menulis artikel praktik Read Aloud di kota Wina, Austria
  5. Membuat video Read Aloud
  6. Menjadi tim editor e-book project passion

Gambar 4. Roadmap Personal 4E

Setelah merumuskan aktivitas prioritas pribadi, maka kami menjadikan ini sebagai bekal diskusi di Co-House. Berpadu dengan daftar kebiasaan yang sudah dijabarkan dari milestone 1 hingga milestone 4, kami diskusi menentukan rumusan aktivitas 4e tim. Berikut hasil diskusi kelompok kami :

Gambar 5. Roadmap Project Passion 4E to Nation

Maka, inilah saya dengan aktivitas prioritas yang sudah saya pilih untuk saya jalankan dengan bahagia selama berada di Hexagon City :

Gambar 6. Aktivitas 4E Prioritas Pribadi selama di Hexagon City

Lalu, bagaimana perkembangan situasi terkini di Hexagon City?

Layaknya sebuah kota riil, kota virtual Hexagon City yang menaungi kami para Hexagonia yang saat ini berjumlah sekitar 900 orang terus menjalankan pembangunan infrastruktur dan sarana. Pekan ini banyak sekali kejutan yang disampaikan oleh City Leader terkait fasilitas-fasilitas yang akan hadir untuk menyuplai kebutuhan Hexagonia dan mendukung pengerjaan project passion sekitar 90 Co-House. Hexa-News hadir dua kali setiap pekan untuk menyampaikan berita aktual seputar aktivitas di Hexagon City. Mulai pekan lalu, parade project passion-pun berlangsung semarak. Kemudian, aka nada Hexa-Market untuk memfasilitasi transaksi produk-produk hasil project passion para warga. Juga Hexa-Link untuk menaungi karya project passion warga yang berupa jasa. Teknis detailnya pun masih menjadi kejutan yang dinanti kelanjutannya oleh setiap Hexagonia.

Nah, setelah berproses, insight apa yang saya temui di zona 4E ini?

Belajar untuk menjaga fokus dan keseimbangan.

Sedari awal, sudah diingatkan oleh bu Septi, bahwa kelas Bunda Produktif ini jelas lebih berat dari kelas belajar sebelumnya. Perjalanan semakin menanjak, namun kita bisa terus menjalankannya dengan bahagia jika paham strateginya. Saya bersyukur di zona 4E ini kami diajak belajar menentukan dan menjalankan prioritas. Saya kembali mencari benang merah antara pengerjaan tugas kelas Bunda Produktif dengan peran yang sedang dijalani di dunia nyata. Menarik keterkaitan antara habit yang dilatihkan dengan proyek belajar bahasa Jerman, menghubungkan habit Read Aloud dengan upaya membangun keluarga sadar literasi, menemukan korelasi antara mengerjakan project passion bersama dengan tantangan yang sering dihadapi saat berkomunitas dan bermasyarakat.

Kembali menata kandang waktu dan prioritas dalam menjalankan peran diri.

Lagi-lagi saya bersyukur memiliki rekan-rekan Co-House sebagai sebuah support system. Kami belajar mengutarakan dengan jujur dan terbuka dalam meet up via Zoom yang berlangsung hari Sabtu dua pekan lalu. Kami sama-sama merasa kewalahan, terengah-engah dengan pola yang ada. Maka kami sepakat untuk menjalankan pola baru, yaitu dengan menuntaskan tugas jurnal sesegera mungkin setelah tugas diberikan tim formula. Setelah itu baru melanjutkan diskusi seputar perjalanan project passion. Kami pun belajar komunikasi produktif di WAG, yaitu dengan memendekkan jangka waktu diskusi sehingga bahasan WAG tidak stagnan dan berlarut-larut. Bagi yang ketinggalan, dipersilakan menyetor jawaban ke ketua atau sekretaris. Secara pribadi, saya merasa pola ini lebih efektif, efisien dan adil bagi semua pihak.

Alhamdulillah jurnal zona 4E tertunaikan sudah, semoga menjadi anak tangga kebaikan, menuju rida Allah. Aamiin.

Wien, 24 November 2020

Sumber bacaan :

https://jamesclear.com/habit-guide

https://jamesclear.com/identity-based-habits

 

 

 

 

 

 

 

Monday, 16 November 2020

Muffin Coklat Sederhana : Camilan Praktis Kesukaan Anak-Anak

 




Muffin adalah salah satu camilan favorit di rumah. Selain bikinnya simpel, bisa melibatkan anak-anak dari awal hingga akhir proses, rasanya pun enak. Biasanya bikin muffin vanilla. Dulu pernah sekali bikin muffin coklat, tapi kurang oke rasanya. Muffin juga jadi salah satu pilihan camilan yang dibeli di toko, anak-anak suka produk muffin Billa. Tapi tetap lebih enak, sehat dan hemat kalau bikin sendiri ya. Nah, kali ini kami mencoba membuat lagi muffin coklat untuk bekal bermain di luar rumah. Mengadaptasi resep muffin coklat dari akun Cookpad @Sumayyah_Mudzakkir.

Bahan kering :

  • 200 gr tepung terigu/weizenmehl glatt
  • 1 sdt baking powder/backpulver
  • 3 sdm coklat bubuk (saya pakai Nesquik Kakao)

Bahan basah :

  • 150 ml susu cair
  • 100 gr gula pasir
  • 5 sdm minyak goreng
  • 1 butir telur

Cara membuat :

  1. Panaskan oven suhu 200 derajat celcius
  2. Masukkan bahan kering ke dalam satu wadah, aduk merata dan buat lubang di bagian tengah.
  3. Masukkan bahan basah yang sudah diaduk merata, ke bahan kering. Aduk sebentar menggunakan garpu atau whisk. Jangan terlalu lama agar tidak overmix. Jika masih terlihat ada grenjelan tepung, tak masalah.
  4. Tuang adonan dalam cup. Cukup sepertiga dari cup karena adonan nanti akan mengembang.
  5. Panggang selama 25-30 menit sembari perhatikan secara berkala supaya matang merata.
  6. Selamat mencoba.

 

Monday, 9 November 2020

Zona Habit, Strategi Melatih Kebiasaan Baik dalam Sebuah Project Passion

Bismillahhirrohmanirrohim…

Menulis kembali jurnal Bunda Produktif setelah pekan lalu tak menuliskan perjalanan dalam bentuk jurnal. Sejak pekan lalu, kami berjibaku di Zona Kebiasaan atau Habit Zone. Habit atau kebiasaan tentu identik dengan kegiatan berulang. Namun dalam dua pekan ini kami tak sekadar melakukan kegiatan berulang, namun juga merumuskan milestone selama roadmap Project Passion. Sebelum membahas mengenai hasil diskusi kelompok, mari kita ulas mengenai makna kebiasaan atau habit.

Kebiasaan dan Cara Melatihnya

Habit to Nation

Begitu tagline di Zona Kebiasaan kali ini. Sebelum memutuskan kebiasaan apa di milestone  1 yang akan saya latihkan dalam diri, saya tergerak untuk mengulik makna kebiasaan. Proses mengulik makna ini bagi saya merupakan hal penting, karena menjadi pondasi langkah sebelum bergerak. Menguatkan strong why diri, alasan saya melakukan suatu hal. Nah, mari sejenak kita mengulas mengenai kebiasaan.

Agus Sukaca dalam buku The 9 Golden Habits for Brighter Muslim memaparkan bahwa kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang tanpa dipikir-pikir lagi. Pusat kendali kebiasaan berada dalam memori tersirat. Suatu perbuatan yang dilakukan berulang baik perbuatan baik atau buruk, lambat laun akan menjadi kebiasaan. Semakin sering diulang, semakin cepat prosesnya. Ada ahli yang mengatakan bahwa perlu pengulangan sekurang-kurangnya sembilan puluh hari berturut-turut tanpa jeda. Tingginya intensitas dan frekuensi pengulangan akan mengakibatkan perubahan kimiawi dan anatomis pada bagian otak tertentu. Kebiasaan baik lebih sulit dibangun ketimbang kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk biasanya diiringi kenyamanan saat melakukannya, tetapi tidak nyaman hasil akhirnya.

Dalam buku Terapi Berpikir Positif, Dr. Ibrahim Elfiky menyatakan bahwa kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan, yaitu

Berpikir

Seseorang memikirkan sesuatu, memberi perhatian dan fokus pada hal tersebut. Sesuatu itu bisa ada dalam pikiran karena dianggap penting. Misal, saat ada tantangan pelaksanaan kebiasaan (habit) yang berkaitan dengan project passion Co-House kelas Bunda Produktif saya berpikir untuk mencari buku anak terkait topik emosi.

Perekaman

Saat berpikir, otak merekam. Otak membuka file sejenis dan menghubungkan dengan pikiran-pikiran lain yang sejenis atau memiliki keterkaitan. Misal, saat muncul ide aksi tantangan habit, memori mengenai tantangan 30 hari yang saya jalankan di kelas Bunda Cekatan lalu pun muncul. Saat itu karena peta belajar saya adalah belajar bahasa Jerman, saya memilih untuk membacakan buku anak berbahasa Jerman selama 30 hari berturut-turut dan membuat ulasannya. Saat ini bidang yang saya ambil di kelas Bunda Produktif pun masih sama, bahasa Jerman. Maka rencana aksi tantangan habit saya adalah mencari buku anak berbahasa Jerman terkait topik emosi, kemudian melakukan Read Aloud dan membuat ulasannya. Di titik ini saya bersyukur karena merasa menemukan benang merah antara perjalanan kelas Bunda Produktif, bidang yang sedang saya tekuni, dan proses pendidikan keluarga.

Pelaksanaan

Anda melakukan seperti apa yang Anda pikirkan. Misal, setelah membuat rencana aksi, saya pun melakukannya.

Penyimpanan

Pengalaman Anda melakukan hal tersebut, direkam oleh otak dan disimpan dalam file. Otak membuat asosiasi antara cue dan aksi. Misal, saya melakukan Read Aloud antara jam 17.00-20.00 CET. Jam 17.00 adalah waktu seusai salat Maghrib. Maka usai salat Maghrib, saya teringat bahwa saya perlu melakukan Read Aloud.

Pengulangan

Pengulangan membuat pikiran semakin kuat. Pengulangan berkali-kali akan menggeser penyimpanan file ke memori bawah sadar. Dalam tahapan ini, disadari atau tidak, seseorang mengulang kembali perilaku yang tersimpan kuat di akal bawah sadarnya. Ia dapat merasakan bahwa dirinya telah mengulangi perilaku itu atau terjadi begitu saja di luar kemauannya. Setiap kali memori yang tersimpan di akal bawah sadar itu diulang, ia semakin kuat dan mendalam.

Tantangan habit yang sedang saya jalankan pun masih berproses di tahap ini. Saya merasa bahwa pengulangan adalah kunci terbentuknya sebuah kebiasaan baru. Pemaparan ini mengantarkan saya pada AHA moment pentingnya cue atau isyarat untuk sebuah kebiasaan baru yang sedang dilatihkan.

Kebiasaan

Apabila setiap tahapan diatas dilalui disertai keyakinan kuat, maka akan menjadi kebiasaan yang mengakar, sehingga tak mudah goyah. Pada awalnya, kita yang membangun kebiasaan, tetapi kemudian kebiasaanlah yang akan membentuk kita.

Rasulullah SAW. bersabda :

„Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan terus-menerus (menjadi kebiasaan) meskipun sedikit.“ HR Ibnu Majah.

Hasil Diskusi Kelompok Co-House

Berdiskusi adalah sebuah kebiasaan yang yang identik dengan kerjasama dalam sebuah tim. Jika kami ingin berjalan cepat, maka kami bisa berjalan sendirian. Namun bukan itu esensi yang saya tangkap dari kelas Bunda Produktif ini. Seperti yang bu Septi pernah sampaikan dalam salah satu sesi live di Facebook Group, kelas Bunda Produktif adalah ruang belajar untuk membangun dan menjalankan sebuah komunitas. Maka kerja tim tentu diutamakan di sini. Maka sedari awal setiap anggota perlu mempersiapkan mental untuk senantiasa bekerja sama, berkontribusi aktif, siap dipimpin dan memimpin. Dengan fakta kebutuhan ritme diskusi daring yang ternyata perlu cukup intensif, saya belajar mengelola waktu dan jadwal diri terkait dengan kontribusi saya di kelas ini. Kapan saya mengerjakan kebiasaan, kapan saya mengulik mengenai esensi zona ini melalui membaca buku dan referensi lain, kapan saya mencari ide terkait project passion ini, dan kapan saya berdiskusi bersama teman-teman di WhatsApp Group. Jadwal ini kemudian disinkronisasi dengan jadwal terkait peran lainnya, baik daring maupun luring. Saya juga belajar untuk switch fokus sesuai kandang waktu aktivitas yang sudah saya tetapkan.

Berikut road map perjalanan kami :

 


Berikut hasil diskusi milestone dan habit beserta dengan penanggung jawab tiap milestone dan pimpinan proyek yang sudah disepakati bersama :

Milestone 1

Milestone 2


Milestone 3

Milestone 4
Pimpinan proyek Literaksi Tematik ini adalah mba Sari Juwita atau yang biasa akrab kami panggil mba Wita. Sebagai seorang guru TK, beliau terlibat langsung dengan pendidikan anak usia dini bukan hanya di rumah namun juga di instansi tempat beliau bekerja. Yang mana erat kaitannya dengan kategori sasaran proyek yang sedang kami kerjakan. Sehingga kami bersepakat beliau merupakan orang yang berkompeten memimpin proyek ini. Tentunya didukung sepenuhnya oleh kontribusi aktif setiap anggota.

Kebiasaan yang dikerjakan setiap anggota saat ini terkait dengan milestone 1 yang sedang berjalan. Setelah mulai menjalankan milestone 1 dan berdiskusi bersama, kami mengubah durasi perjalanan milestone 1. Sehingga batas waktu pengerjaan tiap milestone  menjadi sebagai berikut :

Milestone 1 : 27 November 2020 (durasi 25 hari)

Milestone 2 : 25 Desember 2020 (30 hari)

Milestone 3 : 14 Januari 2021 (20 hari)

Milestone 4 : 3 Februari 2021 (20 hari)

Masa akhir kelas Bunda Produktif : bulan Maret 2021

Selanjutnya habit yang dilakukan oleh masing-masing anggota. Saya bahagia karena dengan berdiskusi, kami bisa mengasah empati, merasakan kesulitan yang dirasakan anggota lain dan merumuskan solusi bersama. Ada waktu dimana ada yang kesulitan menemukan buku fisik, maka yang lain membantu mencarikan buku digitalnya di aplikasi perpustakaan digital. Ada juga yang membantu mencarikan buku-buku terkait di aplikasi perpustakaan, kemudian membagikan judul-judul buku tersebut untuk dipakai anggota lainnya sebagai bahan melatih kebiasaan. Saat bekerja dalam sebuah tim, kita tak hanya berpikir mengenai progress pribadi saja, namun juga progress bersama. Dan aksi kita, tak hanya menjadi solusi tantangan orang lain, namun juga menjadi booster proyek bersama ini. Berikut habit setiap anggota yang mengarah pada satu tujuan bersama :

 


Agar tak hilang arah, maka kami menuliskan kembali goals project passion yang sedang kami jalankan ini :

 

Kebiasaan yang saya ambil merupakan benang merah antara kebutuhan belajar diri, kebutuhan pengerjaan project passion dan kontribusi dalam tim. Maka berikut kebiasaan yang sedang saya kerjakan dan latihkan dalam diri :

Setelah berjalan selama sekitar satu pekan, ternyata tak mulus seperti yang saya rencanakan di awal. Dalam Self Evaluation, saya mengidentifikasi keterbatasan diri dan sistem serta berupaya menemukan tindakan koreksi untuk pengerjaan kebiasaan yang lebih optimal ke depannya. Berikut Self Evaluation saya :



Bismillah... memang tak mudah, namun semoga Allah mampukan. Keep on track. Semoga tahap demi tahap belajar di Kelas Bunda Produktif ini menjadi bekal dalam membangun komunitas, langkah untuk semakin berkarya di bidang Literasi dan Bahasa, menguatkan proses belajar bahasa Jerman yang sedang saya jalani saat ini dan senantiasa beriringan dengan perjalanan membangun keluarga Cerdas Literasi di rumah dan lingkungan sekitar. Ujung dari semuanya, semoga setiap upaya yang dijalankan mengantarkan pada rida dan rahmat Allah. Aaamiin.            

 

Wien, 10. November 2020

Mesa Dewi Puspita

Sumber Referensi :

Sukaca, Agus. 2014. The 9 Golden Habits for Brighter Muslim. Yogyakarta. Bunyan.

Elfiky, Ibrahim. 2009. Terapi Berpikir Positif. Jakarta. PT. Serambi Ilmu Semesta.