Wednesday, 28 September 2016

Mengunci Ilmu dengan Amal, Final Nice Homework Program Matrikulasi Ibu Profesional

Alhamdulillah Allah berikan kelancaran untuk menapaki program matrikulasi Ibu Profesional hingga garis akhir ini. 
Apa artinya saya sudah menjadi ibu profesional? 
Sama sekali belum, malah masih jauh dari kriteria.
Apa artinya saya sudah menjalankan tantangan yang diberikan di setiap minggunya?
Mengerjakan setoran Nice Homework memang sudah, namun proses menjalankannya masih saya lalui dengan tertatih. 
Apa yang membuat ini begitu susah?
Sebenarnya, jika sekadar menuliskan jawaban mungkin tidak terlalu sulit. Toh, sejak duduk di bangku sekolah hingga kuliahpun, saya sudah terbiasa mengerjakannya. Guru memberikan soal, saya menjawab. Guru memberikan tugas, saya mengerjakannya. Namun jika saya diberi ilmu kemudian syarat kelulusannya adalah dipraktikkan dalam keseharian hingga menjadi karakter, bagi saya itu merupakan sebuah pembelajaran seumur hidup. 
Saya tidak mau menyerah, karena saya ingin bersungguh-sungguh menjalankan peran yang telah diberikan olehNya. Saya memilih untuk terus berproses, sedangkan hasil sepenuhnya adalah kuasaNya. 


NHW#9 dan NHW #10
 MENGUNCI ILMU dengan AMAL


Bunda setelah mengikuti materi 1-10, ke depannya para peserta matrikulasi batch #1 yang LULUS-lah yang akan memandu program matrikulasi di wilayahnya masing2. Untuk itu  ada beberapa hal yang bisa bunda amati sebagai berikut :

a. Apakah bunda  bisa melihat sebuah benang merah dari program matrikulasi kita dari materi #1-materi #10?

Benang merah dari program matrikulasi ini adalah pembelajaran berjenjang bagi seorang perempuan untuk menjadi ibu profesional. Seorang yang bertekad menjadi ibu profesional, memulai proses dengan menuntaskan urusan diri sendiri, membangun sebuah tim yang kuat bersama keluarga, dilanjutkan dengan menebar kebermanfaatan dalam masyarakat sesuai misi hidup yang digariskan olehNya. Proses belajar ini pun menggunakan alur lingkaran Plan – Do – Check – Action, sehingga berjalan berkesinambungan dan terus dikuatkan dengan implementasi nyata dalam keseharian. 

Pengerjaan Nice Homework pun menurut saya tidak ada benar atau salah. Yang menjadi parameter adalah apakah jawaban yang saya tuangkan sudah sesuai dengan kebutuhan dan perjalanan belajar saya? Sehingga Nice Homework dapat berjalan efektif jika dituangkan apa adanya diri saya dan teraplikasikan secara konsisten.

b. Mohon dilihat kembali materi 1-materi 8, kemudian buat mindmapnya.

Mindmap Materi Program Matrikulasi yang saya bagi menjadi 4 aspek



c. Sebutkan hal-hal apa saja yang perlu bunda siapkan apabila ingin memandu program matrikulasi di setiap wilayah masing-masing.

  • Komitmen diri untuk istiqomah menjalankan ilmu yang sudah didapatkan sehingga apa yang disampaikan saat memandu memiliki ‘ruh’, karena sudah dijalankan sepenuhnya.
  • Manajemen diri, waktu, pikiran dan emosi.
  • Izin dari suami dan anak-anak selaku klien utama yang tentunya akan merasakan pengaruhnya seperti dari segi waktu dan perhatian.
  • Keterampilan berbagi, mendengarkan, dan melayani orang lain serta mengarahkan dengan tepat setiap peserta program matrikulasi. 


Demikian hasil pengerjaan tugas dari saya. Sangat jauh dari sempurna, tapi senantiasa berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik, dari hari ke hari.


#matrikulasiibuprofesional
#griyariset
#ODOPfor99days


Monday, 26 September 2016

Kelompok Bermain Griya Riset, Nice Homework 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

NHW#8

BUNDA sebagai AGEN PERUBAHAN
Bunda, kalau sudah menemukan passion (ketertarikan minat ) ada di ranah mana, mulailah lihat isu sosial di sekitar anda, maka belajar untuk membuat solusi terbaik di keluarga dan masyarakat. Rumus yang kita pakai :

PASSION + EMPHATY = SOCIAL VENTURE

Social venture adalah suatu usaha yang didirikan oleh seorang social enterpreneur baik secara individu maupun organisasi yang bertujuan untuk memberikan solusi sistemik untuk mencapai tujuan sosial yang berkelanjutan. Sehingga Bunda bisa membuat perubahan di masyarakat diawali dari rasa empati, membuat sebuah usaha yang berkelanjutan diawali dengan menemukan passion dan menjadi orang yang merdeka menentukan nasib hidupnya sendiri. Hal ini akan membuat kita bisa menyelesaikan permasalahan sosial di sekitar kita dengan kemampuan enterpreneur yang kita miliki. Sehingga untuk melakukan perubahan tidak perlu menunggu dana dari luar, tapi cukup tekad kuat dari dalam. 
Bagaimana caranya? 
Isilah bagan-bagan di bawah ini :

Contoh bagan Social Venture :



Pertanyaan terkait Nice Homework 8 :

Pertanyaan 1. Putri Yudha Kusuma – IIP Bandung
Bu Septi apakah sosial venture itu wajib? Bagaimana dengan orang yang cenderung internal? Apakah orang-orang yang cenderung intern ini harus bermitra dengan seorang aktivator ataukah memang pada dasarnya ada beberapa orang yang lebih tenteram intern dalam keluarganya saja tanpa berbuat untuk lingkungannya?

Jawaban :
Teh Uput, social venture hanya salah satu bentuk pola kebermanfaatan bagi alam semesta. Jadi bukan social venture-nya yg wajib, melainkan kebermanfaatannya bagi alam semesta. Bagi kita yang lebih senang dengan lingkungan keluarga, lingkungan internal diri sendiri, pasti banyak cara untuk melakukan kebermanfaatan ala keluarga kita. Silahkan teh Uput ceritakan pola teh Uput.

Pertanyaan 2. Nisa Nur’arifah – IIP Bandung
Ibu, bila kita telah membuat peta hidup kita, dimtengah perjalanan lalu Allah mengirimkan amanah sebagai agen perubahan di ranah yang lebih besar dan kita merasa on track, biasanya ada guncangan untuk menuju keseimbangan baru.  Apa tandanya bila kita siap? Bagaimana tips melewati guncangan menuju keseimbangan baru? Hatur nuhun   

Jawaban :
Ncha dijawab per poin ya,
Tandanya kita siap adalah "tenang" dan hati kecil kita bilang "yakin"
Tips melewati guncangan, pakai rumusnya pilot kalau melewati awan tebal, pasti kan berguncang, maka rumus yang harus dipakai adalah :

FULL ENERGY + FULL CONCENTRATION + HIGH SPEED

Saat di tengah pusaran pasti guncangan akan lebih dahsyat, terus melaju, maka pasti sebentar lagi muncul keseimbangan baru. 
Apabila beban yang kau rasakan sudah sangat berat, dan membuatmu hampir putus asa, maka BERSABARLAH, karena RAHMAT ALLAH sudah sangat dekat.

Lalu, social venture seperti apa yang saya mulai coba jalankan?



Demikian hasil perenungan saya terkait NHW 8. Terbesit harapan, semoga langkah kecil ini dapat konsisten, semakin bertumbuh dan menyemai kebahagiaan di hati setiap generasi pembelajar yang terlibat di dalamnya.


#ODOPfor99days
#day117
#griyariset
#socialventure
#matrikulasi
#ibuprofesional

Ibu sebagai Agen Perubahan, Materi 8 Program Matrikulasi Ibu Profesional

Disampaikan pada hari Senin tanggal 1 Agustus 2016

MATRIKULASI IBU PROFESIONAL BATCH #1 SESI #8

IBU SEBAGAI AGEN PERUBAHAN

Perempuan khususnya seorang ibu adalah instrumen utama yang sangat berperan sebagai agen perubahan. Dari sisi individu untuk menjadi agen perubahan adalah hak semua orang tidak berbatas gender. Karena semua memiliki potensi dasar yang sama berupa akal, naluri dan kebutuhan fisik. Sedangkan dalam konteks masyarakat, keberadaan ibu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan keluarga, dimana keduanya memiliki porsi prioritas yang sama. Keberadaan Ibu di masayarakat akan meningkatkan kualitas pendidikan keluarga di rumah, demikian juga pendidikan keluarga di rumah akan memberikan imbas positif pada peningkatan kualitas masyarakat.

Maka berkali-kali di Ibu Profesional kita selalu mengatakan betapa pentingnya mendidik seorang perempuan itu. Karena “mendidik 1 perempuan sama dengan mendidik 1 generasi”, Maka apabila ada 1 ibu membuat perubahan maka akan terbentuk perubahan 1 generasi. Luar biasa kan pengaruhnya.

Darimanakah mulainya?
Kembali lagi, kita harus memulai perubahan di ranah “MISI SPESIFIK HIDUP KITA”, Sehingga menemukan hal yang satu ini menjadi modal utama yang sangat penting. Kita harus paham “JALAN HIDUP” kita ada dimana. Setelah itu baru menggunakan berbagai “CARA MENUJU SUKSES”.

Setelah menemukan jalan hidup, segera lihat lingkaran 1 anda, yaitu keluarga. Perubahan-perubahan apa saja yang bisa kita lakukan untuk membuat keluarga kita menjadi CHANGEMAKER FAMILY”. Mulailah dengan perubahan-perubahan kecil yang selalu konsisten dijalankan. Hal ini untuk melatih keistiqomahan kita terhadap sebuah perubahan. Maka di keluarga kami tagline ini menjadi sangat penting.

GOOD is not enough anymore, WE must be DIFFERENT

Maka gunakan pola Kaizen ( Kai = perubahan , Zen = baik) Kaizen adalah suatu filosofi dari Jepang yang memfokuskan diri pada pengembangan dan penyempurnaan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Setelah terjadi perubahan-perubahan di keluarga kita, mulailah masuk lingkaran 2 yaitu masyarakat/komunitas sekitar kita. Lihatlah sekeliling kita, pasti ada misi spesifik Allah menempatkan kita di RT ini, di kecamatan ini, di kota ini atau di negara ini. Lihatlah kemampuan anda, mampu di level mana. Maka jalankan perubahan-perubahan tersebut, dari hal  kecil yang kita bisa.

START FROM THE EMPHATY

Inilah kuncinya. Mulailah perubahan di masyarakat dengan membesarkan skala perubahan yang sudah kita lakukan di keluarga. Sehingga aktivitas kita di masyarakat tidak akan bertabrakan dengan kepentingan keluarga. Bahkan akan saling mendukung dan melengkapi.

Setelah EMPHATY maka tambahkan PASSION, hal ini akan membuat kita menemukan banyak sekali SOLUSI di masyarakat.

KELUARGA tetap no 1, ketika bunda aktif di masyarakat dan suami protes, maka itu peringatan lampu kuning untuk aktivitas kita, berarti ada yang tidak seimbang. Apabila anak yang sudah protes, maka itu warning keras, LAMPU MERAH. Artinya anda harus menata ulang tujuan utama kita aktif di masyarakat.

Inilah indikator bunda salihah, yaitu bunda yang keberadaannya bermanfaat bagi dirinya, keluarganya dan lingkungan sekitarnya. Sehingga sebagai makhluk ciptaan Allah, kita bisa berkontribusi kebermanfaatan peran kita di dunia ini dengan “rasa TENTERAM”.

Salam,
 /Septi Peni/

Pertanyaan 1. Novita – IIP Tangerang Selatan 
Makasih bunda Septi materinya. Saat aktif di masyarakat seperti di komunitas ini, suami kadang support kadang juga protes. Bagaimana menyeimbangkan peran dan waktu kita antara keluarga dan kiprah kita di masyarakat. Terutama saat bentrok waktu antara acara komunitas dengan acara keluarga dengan suami.

Jawaban :
Bunda Novita, ini pentingnya materi-materi di Bunda Cekatan, salah satunya adalah "Manajemen Waktu". Maka penting buat bunda memberikan terlebih dahulu agenda aktivitas kita di komunitas kita selama 1 minggu ke depan, 1 bulan kedepan dan obrolin ke suami, minta ridhonya. Kunci saya cuma satu, apabila pak Dodik ridho (dalam bentuk ACC), maka saya komit menjalankan. Apabila tidak ridho maka semenarik apapun, tidak akan saya jalankan. Saya berikan hal ini ke komunitas. Setelah disepakati suami, kemudian minta keikhlasan anak-anak, bunda akan sibuk di tanggal-tanggal ini, anak-anak bagaimana, memilih bersama bunda atau ingin aktivitas lain?.Ketika sudah disepakati jauh-jauh hari sebelumnya, dan mendadak ada acara keluarga yang non takziah, maka minta izin ke suami untuk menyelesaikan komitmen komunitas, baru menyusul ke acara keluarga. Karena kitapun akan melatih anak-anak soal komitmen ini. Begitu juga sebaliknya apabila acara mendadaknya adalah suami sakit/anak saki sehingga membuat ridho suami berkurang, maka kita harus mencari back up orang lain untuk komunitas. Skala prioritas menjadi sangat penting.

Pertanyaan 2. Farda – IIP Surabaya
Bagaimana kita mengelola resiko yang mungkin terjadi saat kita mencoba menjejak keluar rumah. Misal, hantaman lingkungan, dipandang sebelah mata, tuduhan-tuduhan miring bahkan ada yang saklek kita dianggap sebagai apa ya istilahnya kalau seperti kasusnya ustadzah Oki itu, disebut ustadzah-ustadzahan. Padahal maksud kita hanya ingin sekedar berbagi yang sudah dijalani, tidak lebih dari itu. Bukannya jika tahu satu ayat, maka sampaikanlah, apa memang kita harus benar-benar expert baru bisa tenang menjejak keluar? Terimakasih.

Jawaban :
Mbak Farda, selama ALLAH dan RASULnya TIDAK MURKA, maka lanjutkan. Karena orang yang menjalankan MISI HIDUP itu pasti akan datang ujian. dan keyakinan kita akan MISI SPESIFIK HIDUP, tidak membuat kita cepat putus asa. THERE is NO PROBLEM, CHALLENGE!

Pertanyaan 3. Lendy – IIP Bandung
Bunda Septi, saya terkadang menjadikan anak nomer kesekian (kalau ada yang dititipkan) dan saya bertholabul ilmi. Kalau begitu, bolehkah?

Jawaban :
Teh  Lendy, seorang ibu yang menuntut ilmu itu didasari oleh suatu niat baik yaitu proses "MEMANTASKAN DIRI" agar kita semakin layak di mata Allah, untuk mendapatkan anak-anak HEBAT. Maka ketika berproses thalabul 'ilmi, tetapi menempatkan anak ke nomor kesekian, maka lama-kelamaan akan muncul ketidakseimbangan hidup. Maka sesuatu yang tidak seimbang pasti akan mendatangkan guncangan untuk membuat sebuah keseimbangan baru. Hal inilah yang membuat kita kadang merasa tidak "TENTERAM" dalam menjalani aktivitas. Kalau berdasarkan pengalaman saya, selalu memakai rumus yang diucapkan pak Dodik :
"BERSUNGGUH-SUNGGUHLAH KAMU DI DALAM, MAKA KAMU AKAN KELUAR DENGAN KESUNGGUHAN ITU"
Ketika ada kesempatan thalabul 'ilmi, contoh lolos seleksi konferensi di luar negeri, pak Dodik selalu tanya, apa manfaatnya untuk anakmu? Baru ditanyakan apa manfaat untuk peran hidupmu di masyarakat? Apabila pertanyaan pertama tidak bisa dijawab, artinya exit permitt tidak keluar. Dan saya harus ikhlas menerima.

Pertanyaan 4. Niken – IIP Salatiga
Kenapa ibu menekankan kata tenteram, Bu? Adakah berkontribusi kebermanfaatan seseorang tapi ia tidak tenteram? Dlm konteks kasus positif maksud saya.

Jawaban :
Ada mbak Niken, ketika dasar mulainya kebermanfaatan ini bukan didasari sebuah niat kuat untuk memperbaiki keluarga kita. Contoh saya merasa sudah bermanfaat untuk banyak orang dengan membuka kelas untuk ibu-ibu. Namun selama menjalankan kebermanfaatan ini , anak-anak saya merasa terlantar, karena ibunya asyik sendiri dengan "kelas  yang rasanya sebagai program kebermanfaatan".  Lama-lama hati kecil kita pasti akan terusik, karena melihat kondisi anak-anak kita. Hal ini membuat kita TIDAK TENTERAM. Karena sebuah ketidakseimbangan.
Saya tambahkan sedikit, biasanya program kebermanfaatan yang membuat kita TIDAK TENTERAM itu bermula dari sebuah PELARIAN. Lari dari kenyataan hebohnya menjadi ibu, lari dari kenyataan kondisi penindasan di dalam rumah sendiri, lari dari kenyataan "tidak sukanya kita terhadap anak-anak. Lari dari kenyataan "Status seorang ibu rumah tangga” dll

Pertanyaan 5. Wening - IIP Bandung.
Ibu, anak-anak selalu ikut saya dalam berrbagai kesempatan. Mendengarkan saya membicarakan cashflow, sidak karyawan, berkeliling Bandung dengan berbagai dinamika kemacetannya. Yang membuat saya galau, tak jarang anak-anak terlihat bosan. Walaupun saya siapkan beribu amunisi penghilang bosan. Baiknya bagaimanakah Ibu?

Jawaban :
Teh, rentang konsentrasi anak adalah 1 menit x umurnya, maka teteh harus paham berapa lama anak kita libatkan dalam aktivitas kita? Maka berapa amunisi baru yang perlu disiapkan. Setelah tahap pertama  terpenuhi, keterlibatan anak-anak dalam proses aktivitas kita, akan  membuat rentang konsentrasinya naik. Misal membuat dokumentasi acara, mengambil peran sebagai asisten sorot kita dll sesuaikan dengan peran kita. Kalau selama berkeliling Bandung, maka anda harus menjadi tour guide anak yang menarik. Bermain peranlah, jangan terlalu kaku. "Selamat pagi Bapak dan Ibu, kita sekarang sampai di Taman Lansia, disini kita akan bisa melihat bla....bla...bla, Wow dan sekarang kita melewati bla...bla... Kalau sudah sampai maka ucapkan terimakasih sudah mengikuti program perjalanan kami dengan baik, sampai jumpa di acara berikutnya dll. Ini materi Bunda Sayang. Maka mengapa bunda shalehah itu harus melewati tahapan bunda sayang, bunda cekatan dan bunda produktif terlebih dahulu. BIAR TENTERAM.

Pertanyaan 6. Siti Anisa Maryam – IIP Bandung
Bu, bagaimana jika kontribusi kita di luar rumah diridhoi suami tapi kurang disukai orang tua?

Jawaban :
teh Anis, ajak ngobrol orangtua, atas dasar alasan apa tidak menyukai kontribusi kita di luar rumah. dan ajak ngobrol suami, atas dasar apa menyukai kontribusi kita di luar rumah. Kemudian cross check mana diantara dua alasan tersebut yang lebih dekat ke ridho ALLAH dan RASULNYA? maka ambil yang lebih mendekati ridhoNya.

Pertanyaan 7. Fauziah Zy - IIP Depok
Mohon maaf bu. Sy mau tanya yang masih berkaitan dengan materi sebelumnya. Ibu pernah katakan bahwa kalau kita menjalani aktivitas dengan passion yang kita senangi tidak mudah sakit. Tp koq saya sering sakit jika kelelahan beraktifitas ya bu.. padahal saya bahagia menjalankannya.. hehe..

Jawaban :
Mbak Zy, sakit itu sebenarnya adalah sebuah gejala adanya "ketidakseimbangan" penggunaan fungsi organ tubuh kita. Maka perlu keseimbangan ya mbak Zy.

Pertanyaan 8. Farda – IIP Surabaya
Bu, pernah tidak mengalami reset ulang kegiatan? Maksud saya misal ketika kita mencoba menjejak keluar, ada alarm tidak tenteram dari diri atau alarm dr suami dan anak. Lalu kita harus burning lagi dari awal untuk bisa mencoba kegiatan keluar lagi?

Jawaban :
Sering mbak, hal itu bisa kita ketahui dari seringnya kita ngobrol dengan keluarga baik "master mind" maupun "false celebration". Sehingga apabila ada yang kurang berkenan dengan aktivitas kita di luar cepat kita ketahui, tidak terpendam dan akhirnya menjadi "bom waktu" yang tinggal kita tunggu meledaknya.

Pertanyaan 9. Noni – IIP Tangerang
Bu Septi, apa prinsip-prinsip utama pola Kaizen?

Jawaban :
Ini prinsipnya mbak . Kaizen merupakan aktivitas harian yang pada prinsipnya memiliki dasar sebagai berikut:
1. Berorientasi pada proses dan hasil.
2. Berpikir secara sistematis pada seluruh proses.
3. Tidak menyalahkan, tetapi terus belajar dari kesalahan yang terjadi di lapangan.
 [Materi ini ada di Bunda Cekatan secara lengkapnya, saya ambil beberapa poin penting]
Beberapa point penting dalam proses penerapan KAIZEN yaitu :
Konsep 3M (Muda, Mura, dan Muri) dalam istilah Jepang. Konsep ini dibentuk untuk mengurangi kelelahan, meningkatkan mutu, mempersingkat waktu dan mengurangi atau efisiensi biaya. Muda diartikan sebagai mengurangi pemborosan, Mura diartikan sebagai mengurangi perbedaan dan Muri diartikan sebagai mengurangi ketegangan.
Gerakan 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke) atau 5R. Seiri artinya membereskan tempat kerja. Seiton berarti menyimpan dengan teratur. Seiso berarti memelihara tempat kerja supaya tetap bersih. Seiketsu berarti kebersihan pribadi. Shitsuke berarti disiplin, dengan selalu mentaati prosedur ditempat kerja. Di Indonesia 5S diterjemahkan menjadi 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin
Konsep PDCA dalam KAIZEN. Setiap aktivitas usaha yang kita lakukan perlu dilakukan dengan prosedur yang benar guna mencapai tujuan yang kita harapkan. Maka PDCA (Plan, Do, Check dan Action) harus dilakukan terus menerus.
Konsep 5W + 1H. Salah satu alat pola pikir untuk menjalankan roda PDCA dalam kegiatan KAIZEN adalah dengan teknik bertanya dengan pertanyaan dasar 5W + 1H (What, Who, Why, Where, When dan How).

Pertanyaan 10. Mesa – IIP Bandung
Ibu, saat ini saya sedang menguatkan diri untuk menjalankan misi hidup spesifik sebagai planner di bidang pendidikan anak usia dini, yang mana jam bermain dengan anak (usia 2 tahun), saya jadikan jam terbang.Terkait dengan peran di lingkaran kedua, apakah aktivitas bermain bersama anak-anak tetangga sekitar dengan rentang usia 3-11 tahun, bisa saya jadikan awalan? Karena saya melihat kesempatan untuk melakukan perubahan dari situ terkait pola pendidikan anak. Kemudian, mengingat latar pendidikan saya bukan dari pendidikan, dan sependek ini saya belajar parenting dari forum-forum belajar dan komunitas, jika ingin menjadi spesialis di bidang tersebut, suatu saat perlukah mengambil pendidikan formal atau sejenisnya untuk menguatkan pondasi? Terimakasih bu.

Jawaban :
Teh Mesa dan bunda semuanya yang senada pertanyaannya, inilah pentingnya program 7 to 7 di Ibu Profesional. Dimana aktivitas bermain kita bersama anak akan menjadi bagian dari jam terbang ranah produktivitas kita di bidang tersebut. Setelah itu merambah ke lingkungan terdekat, dengan tidak meninggalkan anak-anak kita sebagai fokus utamanya. Terus jalankan, selama Teteh dan bunda semuanya sedang menjalankan misi hidup, biasanya selalu ada jalan, meski memang tidak semuanya mudah. Kalau mau mengambil pendidikan formal silahkan, nggak juga nggak papa. Dulu saya pernah ada godaan untuk mengambil jalur formal dalam rangka menguatkan pengalaman praktisi saya di dunia pendidikan. Tetapi setelah saya pikir-pikir, untuk apa? Karena ternyata saya nyaman dengan dunia praktisi bukan akademisi. Sehingga Allah selalu mempertemukan orang-orang akademisi ketika saya seminar menyampaikan sesuatu. Apa yang sudah saya kerjakan selama ini di dunia pendidikan disebut sebagai teori bla....bla.... Bagaimana cara saya menguatkan kapasitas diri? dengan silaturahim ke ahli, ikut kuliah-kuliah online sesuai dengan bidang yang kita perlukan, praktik, praktik dan praktik, cari ilmu lagi, cari ilmu lagi....:)

Tambahan :
Makanya perlu tanya ke diri sendiri lebih detil ya mbak, saya waktu itu sudah nggak ada keinginan untuk menjadi dosen, professor dll. Saya hanya ingin menjadi Ibu rumah tangga yang manfaat. Dan kuliah saya di jalur formal tidak akan mempengaruhi "pendapatan finansial" yang biasanya diributkan banyak orang karena dilihat strata pendidikannya. Titel? sudah saya simpen jauh-jauh, sekarang hanya menginginkan cumlaude dg titel almarhumah, jadi mau apa lagi? Tapi kalau kondisi sebaliknya? bunda harus kejar dengan keseimabangan, biar TENTERAM.

Pemantapan praktik materi ini berlanjut dengan pemberian Nice Homework 8 yang terdapat pada postingan berikutnya. 

Sunday, 18 September 2016

Saat Kami Sekeluarga Belajar Family Branding di Acara Mini PERAK


Di bulan Mei lalu, Rumah Belajar Fun House Institut Ibu Profesional Bandung yang diinisiasi oleh keluarga Firdaus Ark melakukan launching perdana. Acara launching ini diisi dengan Mini PERAK yang dihadiri oleh belasan keluarga. Siapapun bisa menjadi peserta dengan satu syarat, hadir dengan formasi lengkap ayah, ibu dan anak-anak. Untuk itu acara sengaja diadakan di hari Minggu, supaya para bapak dan ibu yang bekerja di ranah publik bisa mengikuti tanpa harus mengambil cuti. Sebelum bertemu di hari H, panitia membuat sebuah grup WhatsApp sebagai media koordinasi peserta dan persiapan acara. Ya, acara Mini PERAK bukanlah sebuah seminar parenting satu arah dimana peserta cukup duduk manis mendengarkan. Kami para peserta, diberi kesempatan untuk mempersiapkan diri dan keluarga unjuk kebolehan di Pentas Ceria, menampilkan project keluarga dalam Family Expo, perkenalan kelurga dan sharing Ramadan Project. Untuk mengikuti acara inipun, kami tidak dikenakan biaya. Yup, 100% gratis! Untuk memfasilitasi makan siang dan sebagainya, kami membagi tugas dalam membawa perbekalan. Keluarga A membawa ini, keluarga B membawa itu dan seterusnya.  Secara singkat, semangat kekeluargaan pun terjalin akrab. Padahal banyak dintara kami yang belum pernah bertatap muka secara langsung.

Gimana persiapannya? Secara pribadi, persiapan untuk acara ini saya rasakan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Ibaratnya, ini menjadi ajang evaluasi bagi kami, sejauh mana keluarga kecil kami mengayunkan langkah bersama hingga saat ini. Pun saat menyiapkan bahan-bahan family expo, mengumpulkan foto dan menatanya, sempat membuat saya takjub, ternyata meski sederhana, cukup banyak project yang sudah dilakukan dalam keseharian. Saat suami mempersiapkan diri untuk perkenalan keluarga pun, kami berdiskusi cukup serius mengulas kembali nama hometeam, visi misi keluarga, values, golden rules dan sebagainya. Pembagian tugas pun sudah dilakukan, MeGi akan membaca doa-doa harian di Pentas Ceria, saya menyiapkan materi untuk Family Expo, sedangkan suami yang akan mempresentasikannya sekaligus perkenalan keluarga. Karena saya dan suami sama-sama suka membuat perencanaan, maka bagi kami ini tantangan yang menyenangkan!

Aneka Pentas Ceria : menampilkan Suara Anak, Project Anak dan Pentas Seni Keluarga

Hari yang dinantikan pun tiba. Karena jarak tempuh ke lokasi jauh dan cukup riskan jika mengendarai motor, kami sekeluarga berangkat bersama keluarga Rumah 3 Bintang. Setelah memakan waktu kurang lebih 1 jam, sampailah kami di lokasi acara. Acara dimulai dengan perkenalan singkat masing-masing keluarga, dilanjutkan dengan Pentas Ceria. Masing-masing anak dan keluarga unjuk kebolehan, kemudian mendapatkan poster-poster edukatif sebagai bentuk apresiasi.  Anak-anak kelompok balita menampilkan hafalan doa-doa harian dan surat-surat pendek, bermain peran serta mendongeng. Para kakak yang sudah usia sekolah menampilkan kemampuannya dalam bidang desain, memainkan biola, membuat wayang-wayang dan menerangkan tokoh-tokohnya. Tak ketinggalan remaja yang mahir di bidang fotografi, menampilkan kebolehan dengan menjadi juru kamera di sepanjang acara. Keluarga Home Sweet Home pun berhasil membius perhatian dan mengundang gelak tawa seluruh peserta saat menampilkan drama keluarga. Keluarga yang terdiri dari Ayah Indra, Ibu Wiwik, bang Farid 4 tahun, Fathin 2 tahun dan Fatih 5 bulan ini berhasil memainkan peran masing-masing dengan sangat baik, berimprovisasi dengan manis dan menghadirkan realitas Home Sweet Home yang kocak.

Beberapa keluarga sharing mengenai Family Project dan Ramadan Project-nya

Usai Pentas Ceria, acara dilanjutkan dengan istirahat sholat Dhuhur dan makan siang bersama. Para bapak dan anak laki-laki bergegas menuju masjid terdekat, para Ibu dan anak-anak perempuan pun bergantian sholat di kamar-kamar sembari mempersiapkan makan siang. Usai sholat, sajian makan siang beralaskan daun pisang yang membentang panjang pun kami nikmati bersama. Tak berselang lama, acara siap dilanjutkan kembali. Sesi berikutnya adalah presentasi family project masing-masing keluarga. Dengan waktu yang tersedia, ada 4 keluarga yang memaparkan family project dan Ramadan project yang telah dilakukan dan dirumuskan. Para peserta pun bisa saling belanja ide di sesi ini, apalagi dilengkapi tanya jawab yang langsung dijelaskan secara rinci oleh penyaji. Catatan mengenai Family Expo ini dirangkum manis oleh mba Lendy disini.

Materi Family Branding oleh Firdaus Ark Hometeam,
dilengkapi dengan penerapan di Rumah 3Bintang Hometeam
Tanpa terasa, waktu terus bergulir. Setelah beberapa keluarga memaparkan project  dan saling belanja ide, acara dilanjutkan ke materi pokok. Ya, Family Branding. Inilah yang membuat para peserta penasaran dan tergerak untuk mengikuti rangkaian acara ini sekeluarga. Materi ini merupakan oleh-oleh dari acara PERAK di Salatiga yang diikuti oleh keluarga Firdaus Ark beberapa waktu sebelumnya. Supaya makin banyak keluarga yang mendapatkan kebermanfaatannya, maka materi ini diadaptasi dan disampaikan kembali di acara Mini PERAK kali ini.

Untuk melakukan Family Branding, terdapat empat tahapan yang harus dilalui, antara lain :

DISCOVER (Menggali)

Komunikasi produktif memegang peranan penting disini. Sebelum memulai rangkaian prosesnya, langkah paling awal yang harus kita lakukan adalah membenahi pola komunikasi menjadi sebuah komunikasi produktif, terutama pada diri sendiri, pasangan dan anak. Dimulai dengan membuka obrolan santai, bersikap terbuka pada keluarga, menjadwalkan family forum di waktu yang telah disepakati bersama. Tidak menjadikannya sebagai beban, tapi justru sebuah upaya membangun tim tangguh bernama keluarga.
“Who is your customer?”
Pada tahap ini, kita perlu menentukan siapakah pelanggan utama kita. Seperti halnya dalam perdagangan, suara pelangganlah yang masukannya kerap kali didengar dan membuat kita merasa perlu untuk meninjau ulang langkah kita. Lalu, siapakah pihak yang akan kita libatkan sebagai pelanggan utama? Tentukan pihak yang memegang peranan penting dalam keberlangsungan keluarga ya. Masing-masing keluarga dipersilahkan menentukan sesuai versi masing-masing. Bagi keluarga kami, yang menjadi pelanggan utama adalah Allah SWT.
“Apa yang menjadi kekuatan kita?”
Penting bagi kita untuk mengetahui kekuatan setiap anggota keluarga dan memetakannya hingga menjadi kekuatan keluarga. Kita juga bisa mencari kesamaan masing-masing anggota keluarga. Jika anak masih kecil dan belum bisa dilibatkan dalam diskusi, libatkan dia dalam hal teknis seperti mengambil kertas maupun menghapus papan, juga sebagai pendengar. Sehingga sejak dini, anak akan memahami kalau dia pun merupakan bagian dalam sebuah tim tersebut. Untuk memetakan kekuatan, kami menggunakan tools berupa Talents Mapping dari temubakatdotcom. Sayapun perlahan mempelajari cara menginterpretasikan hasil asesmen Talents Mapping sebagai bentuk investasi untuk semakin mengenali potensi diri, keluarga dan membantu orang lain menemukan potensinya. Barangkali ada yang mau dibacakan hasil asesmen Talents Mapping-nya

Setelah saya melakukan asesmen Talents Mapping dan suami mencoba tes ST30 di temubakatdotcom, kami pun mengetahui kekuatan kami berdua dan duduk bersama untuk mendiskusikannya. Ternyata bakat futuristic yang saya miliki senada dengan peran visioner yang dominan dalam diri suami, tak heran kalau kami senang sekali membahas sebuah perencanaan ke depan.  Sedangkan bakat maximizer dan relator yang saya miliki pun saling melengkapi dengan peran mediator dan analyst yang dimiliki suami. Dan masih banyak perpaduan lainnya. Dengan mengetahui potensi kekuatan masing-masing, membantu kami untuk saling memahami dan melengkapi serta membagi peran dengan lebih tepat.

DEFINE (Menentukan)

Setelah melakukan penggalian kekuatan keluarga, langkah berikutnya adalah menentukan. Dalam tahap ini, erat kaitannya dengan citra dan pesan.
“Kita ingin dikenal sebagai keluarga yang bagaimana, ya?”
Ini citra.
Sedangkan bentuk pesan adalah :
“Jadilah keluarga yang …”
Baik citra maupun pesan inilah yang nantinya akan menghasilkan indikator atau milestones. Dicontohkan sebagai berikut : 
Citra keluarga bu Septi adalah inovatif. Maka indikator yang dicanangkan dalam keluarga adalah setiap tahun memiliki satu karya inovasi.

Lalu, apa ya citra keluarga kita? Yuk, dirumuskan.

DESIGN (Merancang)

Setelah citra dan pesan keluarga ditentukan, indikator pencapaian juga sudah dicanangkan, selanjutnya adalah menuangkannya dalam bentuk rancangan yang rinci. Dengan melengkapi poin-poin sebagai berikut :
Nama
Tagline
Cerita Latar
Logo
Busana
Dan lain sebagainya. 
Yang kami rasakan,  tujuan membuat rancangan di atas tak lain dan tak bukan adalah untuk menambah semangat dalam membangun sebuah hometeam. Atribut-atribut diatas juga akan membuat kita gampang teringatkan dan bangga atas hometeam  yang sedang kita bangun bersama.

DEPLOY (Menyebarkan)

Rancangan sudah dibuat, maka sekarang saatnya beraksi! Aktivasi bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas. Yaitu dengan menjalankannya bersama, dan membagikan perjalanannya dalam bentuk tulisan maupun berbagi pengalaman dalam sebuah forum maupun komunitas.

Mengenai BRAND PERCEPTION
Darimanakah munculnya?
Ada dua pihak yang bisa memunculkannya. Pertama dari customer (pelanggan utama) kita, kedua, dari orang lain di sekeliling.
Family branding memang masih terdengar asing di telinga. Namun, bukankah kita sudah akrab dengan Product Branding?
Misal, En*rgen Sereal, minum makanan bergizi.
Siapa yang tidak hafal rangkaian kata tersebut? Nama produk berikut dengan jargonnya sudah sangat akrab di telinga. Ya, produsen En*rgen berhasil membuat masyarakat mengingat produknya saat berpikir mengenai minuman sereal dengan mengiklankan jargon tersebut. Siapa yang membuat product branding? Biasanya tim marketing dari perusahaan. Dan branding tersebut dibuat sesuai dengan spesifikasi produk, yang keseluruhannya dirumuskan oleh tim dalam perusahaan. Proses ini dinamakan OUTSIDE IN.

Bagaimana dengan family branding? Karena keluarga terdiri dari manusia, yang mana masing-masing memiliki peran hidup yang spesifik, maka proses yang terjadi adalah INSIDE OUT. Dimana proses yang dilakukan adalah bukan menjejali dengan berbagai karakter yang kita anggap baik, namun mengkolaborasikan potensi masing-masing anggota untuk mewujudkan sebuah tim tangguh dengan brand yang memang  “kita banget!”

Jika kita sudah memiliki sebuah brand keluarga, nama hometeam, maka menggunakannya sebagai sebuah identitas keluarga akan menjadikannya sebagai sebuah proses transfer energi. Yang akan membuat anggota keluarga semakin bersemangat untuk mengaktifkannya, dan membuat orang lain belajar dan bahkan juga melakukan family branding untuk keluarganya.  Proses ini mungkin akan berjalan panjang dan memakan waktu yang lama. Bahkan mungkin bongkar pasang. Namun mari kita nikmati bersama prosesnya. Bertumbuh bersama keluarga. Jika tidak, hasil sukses sekalipun tidak akan bermakna.

Nah, jika dirumuskan berupa poin-poin, maka tujuan family branding antara lain : 
  1. Mampu menyampaikan citra/pesan dengan jelas 
  2. Memastikan kredibilitas keluarga Anda
  3. Mampu menghubungkan seluruh anggota secara emosional
  4. Mampu menggerakkan/memotivasi seluruh anggota keluarga
  5. Memastikan terciptanya kesetiaan dan kekompakan seluruh anggota keluarga

Alhamdulillah, demikian sharing pengalaman keluarga kami dalam mengikuti acara MINI PERAK yang diselenggarakan RB Fun House dan sedikit catatan mengenai materi Family Brading yang disampaikan oleh keluarga Firdaus Ark. Jika ada yang kurang lengkap silahkan tambahkan, jika ada yang kurang tepat silahkan koreksi, melalui kolom komentar di bawah. Terimakasih.

#familybranding
#griyariset
#ODOPfor99days
#day115

Friday, 16 September 2016

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi


Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri.
Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT (Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan orangtua serta sebagai bentuk komitmen dalam merintis pembentukan CbE (Community based Education) HebAT Bandung.
Untuk memfasilitasi animo peserta yang ternyata cukup banyak, acara yang semula diagendakan bertempat di Kiki Barkiah Learning Center - daerah Trunojoyo,  berpindah menjadi di Salman ITB, Gedung Sayap Selatan lantai 2 ruang D. Saat baru akan masuk ruangan, kami langsung disambut oleh sang narasumber, hehe. Bukan, lebih tepatnya beliau memang masih duduk di dekat pintu masuk. Beberapa detik kemudian, beliau beranjak dan acarapun segera dibuka. Alhamdulillah, kami belum tertinggal materi.


Apa yang dimaksud dengan VISI?

VISI itu apa?                                                           
Materi dibuka dengan pertanyaan singkat diatas. Beragam versi jawaban pun muncul. Lalu beliaupun mengajak kami untuk menyamakan persepsi mengenai definisi visi. Penyamaan persepsi sebagai langkah awal ini penting, karena beliau banyak menemukan berbagai persepsi dan cara masing-masing orang menentukan visi misi dalam kehidupan. Ada yang menjalankan misi dulu, baru merumuskan visi, maupun cara lainnya. Bagi Ustadz Aad, lebih tepat jika mencanangkan visi terlebih dahulu baru menentukan misi.
Visi merupakan cara pandang, perspektif yang khas dan unik tentang jati diri, fungsi, peran dan nilai sebuah entitas atau kesatuan. Secara sederhana, visi berkaitan dengan penglihatan. Unsur purpose (tujuan) dan value (nilai) terlibat di dalamnya.
Bagaimana menentukan visi keluarga?
Langkah yang paling awal adalah dengan berkomunikasi. Terutama antara suami istri. Dengan berkomunikasi itulah, kita bisa merumuskan bersama, visi apa yang akan keluarga emban bersama. Dalam merumuskannya, setidaknya ada empat aspek yang dapat dijadikan bahan pertimbangan, yaitu :
  1. Analisis historis. Semisal, bagaimana latar belakang pengasuhan yang dialami suami maupun istri. Jika pola pengasuhannya baik, bisa diadaptasi. Sedangkan yang kurang tepat bisa diperbaiki.
  2. Given factors (faktor terberi). Yang melekat pada diri. Semisal suku yang mempengaruhi watak dan laku.
  3. Realitas atau kondisi saat ini. Bagaimana kondisi keluarga saat ini, apa kelebihan dan kekurangannya, adakah benang merah yang dapat diambil untuk mendapatkan visi bersama.
  4. Impian. Mau dibawa kemana bahtera keluarga ini. Apa tujuan besar yang ingin dicapai bersama. Impian masing-masing anggota keluarga dikolaborasikan menjadi impian bersama. Apakah yang diinginkan oleh keluarga. Oleh masyarakat luas ingin dikenal sebagai keluarga yang bagaimana.

Lebih lanjut, beliau memberikan beberapa contoh supaya pemahaman mengenai visi ini jelas hingga ranah teknis.
Beliau mengambil contoh, visi Islam tentang manusia adalah manusia sebagai khalifah fil Ardh. Yang mana mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin. Beberapa contoh visi yang pernah beliau gagas untuk sekolah ataupun institusi, misalnya Rumah Asuh Karakter Bangsa, Kantor Pembelajaran di Taman Kehidupan dan sebagainya. Bahkan beliaupun memberikan contoh yang sangat sederhana namun cukup mengena dengan memberikan ilustrasi jika visinya adalah monyet, maka misi yang diemban adalah memanjat.
Di ranah keluarga, Ustadz Aad memberikan contoh visi keluarga beliau adalah keluarga solutif. Visi ini tercetus setelah beliau mengumpulkan saudara-saudara beliau dan berpikir bersama, visi apa yang sekiranya “keluarga saya banget”. Berangkat dari masa lalu dengan kondisi yang cukup sulitlah, tercetus ide menjalankan visi sebagai keluarga yang  solutif, keluarga yang mengambil peran sentral dalam penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan MISI?

Setelah visi tercetus, langkah selanjutnya adalah merumuskan misi keluarga. Misi adalah sebuah tujuan, target dan sasaran yang ingin dituju dan dihasilkan sesuai dengan visi dari entitas tersebut. Dalam sebuah misi ada unsur tahapan dan capaian. Alangkah baiknya jika misi berupa poin-poin yang menjabarkan tahapan sekaligus tujuan yang ingin dicapai.
Untuk lebih memberikan gambaran yang konkrit, lagi-lagi beliau memberikan contoh misi yang sudah tercetus dan dijalankan. Kali ini beliau mengutip misi pembinaan kader masjid Salman ITB.
Misi Pembinaan Kader Masjid Salman ITB :
  1.  Student Step
  2. Human Step
  3.  Activist Step
  4. Intellectual Step
  5. Ulil Albab Step

Wuih, MasyaAllah, keren ya. Lima poin diatas menggambarkan misi yang bertahap sekaligus bertujuan, namun dengan kalimat yang singkat.
Ustadz Aad menjelaskan urgensi visi misi keluarga

Visi Misi Keluarga, Haruskah?

Kita tentu tidak asing membaca visi misi sebuah perusahaan atau lembaga. Tapi, bagaimana dengan visi misi keluarga? Yap, pasti masih asing di telinga ya. Beragam pertanyaanpun muncul, salah satunya, “Untuk apa membuat visi misi keluarga?”
Jika kita membangun rumah tangga dengan tujuan yang jelas, membina keluarga dengan memasang titik pencapaian tinggi hingga akhirat, meyakini bahwa keluarga adalah struktur kepemimpinan terkecil, maka visi misi merupakan fondasi sebelum bergerak bersama. Beberapa poin mengenai keluarga di bawah ini menguatkan urgensi perumusan visi misi keluarga :
  1. Keluarga adalah entitas
  2. Keluarga adalah pondasi sosial dan penting
  3. Keluarga adalah tiang negara
  4. Setiap keluarga itu unik
  5. Keluarga memiliki mimpi
  6. Keluarga harus membangun masa depan
  7. Keluarga menjalankan fungsi pendidikan

Pada poin ini Ustadz Aad banyak menceritakan mengenai respon keluarga saat beliau ingin fokus berkarya di dunia pendidikan keluarga. Tak sedikit yang meremehkan, tapi beliau berpedoman bahwa dari keluargalah modal awal membangun dunia. Beliau pun berbagi cerita bahwa beliau dan keluarga sedang menjalankan program dengan istilah “menghancurkan berhala efektivitas, waktu dan skala”.
Maka, penting untuk segera melakukan identifikasi makna bahagia versi suami dan istri serta merumuskan definisi bahagia versi keluarga.

Bagaimana Visi Misi Keluarga Nabi Ibrahim?

Jika ditelaah, visi keluarga Nabi Ibrahim AS adalah keluarga tauhid pemakmur bumi.
Dengan karakteristik sebagai berikut :
Hanif atau lurus
Seberat apapun perintah yang diterima, diupayakan seoptimal mungkin untuk dilaksanakan demi berpegang pada diin Allah.
Seperti tertulis di surat Ar Ruum (30) ayat 30-31 :
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Pioneer
Menjadi pioneer sosok ayah yang tega meninggalkan anak istrinya di padang tandus. Pioneer sosok ayah yang tega (akan) menyembelih anaknya. Semata-mata untuk menegakkan perintah Allah.
Berdaya juang
Ditunjukkan oleh Siti Hajar yang bolak balik melakukan sa’i dari Shofa ke Marwah dengan medan yang fluktuatif.
Berkorban
Nabi Ibrahim dan keluarganya berupaya untuk menyingkirkan kepentingan pribadi demi ketaatan pada Allah.
Optimis 
Bentuk nyata sebuah kesabaran seorang hamba. Siti Hajar yang sudah berjalan ke bukit Shofa maupun Marwah, tetap melakukannya sebagai tujuh kali karena yakin akan pertolongan Allah jika dia bersabar dan terus berusaha.

Dari visi diatas, diturunkan menjadi misi sebagai berikut : 
  1. Membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia
  2. Mensucikan manusia
  3. Mengajarkan manusia kepada Al Qur’an dan Hikmah
Menentukan visi misi keluarga, tentu bukanlah semudah menyeduh teh celup. Merupakan sebuah proses panjang, yang bisa jadi memakan waktu yang lama dan tidak langsung sekali jadi. Senantiasa mendekatkan diri pada Allah agar selalu dikoreksi olehNya, menghubungkan rumusan visi misi keluarga dengan tujuan penciptaan manusia. Hanya intuisi dari internal anggota keluarga saja yang bisa merasakan apakah visi misi keluarga benar-benar “keluarga saya banget” atau tidak. Jika keyakinan semakin kuat, maka langkah pun semakin mantap dan kebermanfaatannya pun dapat dirasakan oleh pihak lain.
Mendapat ilmu mengenai visi misi keluarga ini, membuat saya teringat materi family branding yang dipaparkan saat mengikuti forum Mini Perak bulan Mei lalu. Detil bahasannya bisa disimak disini. Saya pun menanyakan hal ini pada Ustadz Aad di sesi tanya jawab. Beliau mengiyakan. Memang sangat berkaitan, dan family branding ini merupakan sebuah bentuk kompleks yang sudah mencakup visi misi keluarga di dalamnya.


Yuk, rumuskan visi misi keluarga kita.

Jika ada yang bertanya, bagaimana untuk tetap fokus mengikuti seminar ini dengan membawa MeGi yang berusia 2.5 tahun dan tanpa ditemani oleh suami? Mungkin foto diatas dapat sedikit memberi jawaban. Saat mengikuti seminar ini, sebelumnya saya melakukan sounding bahwa kita akan belajar bersama di Salman. Saya sampaikan padanya bahwa saya akan mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh pembicara nanti, sedangkan dia bisa bermain dan beraktivitas sesuai yang dia rencanakan. Di rumah, dia berencana mau bermain playdough, menggambar dan makan camilan. Maka perbekalan pun disiapkan dan dimasukkan ke tas miliknya. Maka, sesampainya di ruang seminar, amunisi dikeluarkan satu persatu. Dia mengambil playdough yang disimpannya di tempat makan, dan membuat bulatan-bulatan kecil aneka warna yang dia sebut donat. Dia pun menggambar di buku dengan pensil warna yang dibawanya, makan camilan pilihannya sendiri, membongkar tas perbekalannya dan memasukkan barang-barangnya kembali satu demi satu. Dia pun sempat mengelap lantai yang basah karena air minum yang dia tumpahkan. 
Memang dia tidak anteng sepanjang 2 jam penyampaian materi, dia sempat bosan dan beberapa kali minta ke kamar mandi. Dia pun sempat mengikuti ibu-ibu yang keluar ruangan untuk menenangkan bayi dalam gendongan. Namun sudah cukup melegakan hati dan membuat saya dapat mengikuti acara dengan cukup optimal. Bagaimana jika dia di kids corner? Kemungkinan besar tidak mau. Karena letaknya cukup jauh dengan ruang seminar dan belum ada teman yang sebelumnya sudah dikenalnya.  Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Pun terimakasih pada panitia yang telah membolehkan anak-anak masuk ke dalam ruangan seminar. 

#ODOPfor99days
#day114
#griyariset
#visimisikeluarga








Belajar Menulis Cerita Anak : Aku dan Keluargaku

Halo teman-teman, namaku Chika. Aku ingin mengajak kalian berkenalan dengan keluargaku. 
Yuk, aku perkenalkan satu persatu ya.
Hai, sebelum kuajak berkenalan dengan keluargaku, kita harus saling kenal dulu ya. Namaku Chika, umurku 3 tahun. Aku suka dibacakan cerita dan bermain air. Aku anak pertama, dan belum punya saudara. Eh, tapi kata ibuku, sebentar lagi aku akan punya teman bermain yang bisa kupanggil adik. Sekarang dia masih tumbuh di perut ibu. Aku rutin mengingatkan dan menyiapkan multivitamin untuk ibu loh! Geli rasanya melihat perut ibu bergoyang-goyang karena gerakan adik. Hmm…sepertinya di dalam perut ibu terasa hangat, tapi apa tidak sempit ya? Kata Ibu, aku kan dulu juga disana sebelum lahir ke dunia. Tapi, aku sudah lupa bagaimana rasanya, hihi… Nah, sekarang giliranmu berkenalan ya. Siapa namamu?
Karena aku tadi seringkali menyebut kata ibu, aku kenalkan dulu pada ibu ya. Nama ibuku Desi. Ibu sering bercerita kalau beliau yang melahirkan aku, makanya aku memanggilnya ibu. Tapi ternyata ada banyak panggilan nama serupa ibu. Ada ummi, mama, mami, bunda dan lainnya. Semuanya memiliki arti yang sama dengan panggilan ibu. Dulu aku sempat heran, mengapa Tasya memanggil ibunya dengan panggilan Bunda dan Luna memanggil ibunya dengan panggilan Ummi. Ternyata sama saja toh, hehe. Oya, setahu aku, baru aku yang dilahirkan oleh ibu. Tapi, pak tukang sayur, petugas bank, atau teman-teman ibu juga memanggil dengan panggilan Bu atau Ibu, ya? Bukankah anak ibu hanya aku? Huhu… Dengan wajah sedih, aku menanyakan ini pada ibu. Ternyata oh  ternyata, panggilan ibu itu juga diperuntukkan bagi wanita dewasa sebagai bentuk penghormatan. Jadi biasa digunakan dalam interaksi sehari-hari. Wajahku pun kembali sumringah sembari garuk-garuk kepala menutupi malu. Aku sempat berpikir kalau ibu berbohong padaku. Sekarang, siapa nama ibumu?
Selanjutnya, aku akan kenalkan pada kalian sosok pria berkacamata dan berjenggot di sebelahku. Ya, beliau ayahku. Ayahku bernama Andri. Kami mirip tidak? Banyak orang yang bilang bahwa kami punya banyak kemiripan. Tapi, akupun tak paham apa yang mirip dari kami. Lihatlah, bukankah aku tidak memiliki jenggot? Tidak berkumis? Berkacamata juga tidak. Apanya yang mirip? Hmmm.. Eh, tapi aku merasa bangga mirip dengan ayah. Bagaimana tidak, beliau jago menggambar dan bercerita. Sepulang beliau kerja, kami selalu bermain bersama hingga kantuk menyerang.  Beliau ayah yang menyenangkan. Jika mirip dengan beliau, itu artinya aku adalah anak yang menyenangkan, bukan? Kalau nama ayahmu, siapa?
Ibu sering menyebut kami sebagai keluarga inti. Yaitu, keluarga yang paling dekat denganku, atau lebih mudahnya yang tinggal satu rumah denganku. Yang sehari-hari selalu kutemui. Semoga kapan-kapan kita bisa saling berkenalan dengan keluarga besar masing-masing ya. Ada kakek, nenek, om dan tante yang selalu kurindukan. Mereka baru bisa kutemui kalau kami pulang ke Jawa Timur, hehe…
#griyariset
#ODOPfor99days

#day113

Thursday, 15 September 2016

Catatan Pengingat dari buku Khadijah, The True Love Story of Muhammad

Rasulullah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya di surga sebuah rumah dari permata; tak ada hiruk pikuk dan rasa lelah disana.”
Jika kita mencari sosok muslimah teladan, seorang ibu tangguh nan inspiratif, maka pada nama beliaulah pencarian kita berujung. Wanita yang karena sepak terjangnya dalam perjuangan, membuat Allah berkenan mengirimkan salam melalui Jibril.
Terlalu berat rasanya jika saya menuliskan rangkuman atas buku ini, karena banyak pelajaran berharga yang sayang untuk sekadar terangkum. Kalimat-kalimat yang akan lebih mengena jika dibaca secara utuh dan menyeluruh. Maka, pada tulisan ini, izinkan saya untuk menandai kalimat-kalimat penting yang saya resapi dari buku ini, hingga ke depan, catatan ini menjadi pengingat dan penggugah di kala hati sedang sempit dan dilanda resah.
Seorang wanita yang dikenal dengan kecerdikan dan ketajaman pikiran. (halaman 13)

Saat Nafisah meyakinkan bahwa Khadijahlah yang patut dijadikan istri, 
“Wanita yang cantik, kaya, bagus nasabnya, pandai menjaga kehormatan, dan luhur akhlaknya. Masyarakatpun menjulukinya wanita yang suci.” (halaman 16)
Muhammad selalu bermusyawarah dengan Khadijah dalam urusan-urusan yang mereka tangani bersama. Semua urusan perdagangang diserahkan pada suaminya, Muhammad. Perhatian Khadijah sepenuhnya dipusatkan pada bagaimana melayani dan mencintai suaminya serta menangani urusan-urusan rumah tangga. (halaman 23)

Saat Muhammad memutuskan untuk uzlah di gua Hira’ :

Khadijah sebenarnya menginginkan agar suaminya, Muhammad, selalu berada di sisinya. Ia merasa bahwa setelah sebelumnya bertahun-tahun hidup sendiri, Muhammadlah yang dapat menjadikannya bahagia. Tetapi Khadijah juga adalah wanita yang matang dan berpikiran panjang. Ia tidak larut dalam perasaannya sendiri. Ia merasakan hadirnya sebuah kekuatan spiritual yang membuat Muhammad mampu melampaui fenomena-fenomena lahiriah. Khadijah memutuskan untuk segera menyiapkan perbekalan yang dibutuhkan suaminya selama melakukan uzlah di gua Hira’.(halaman 27-28)

Pernyataan Khadijah saat menenangkan Muhammad yang baru saja menerima wahyu :
“Bergembiralah. Demi Allah, Dia tidak akan pernah merendahkanmu. Engkau orang yang rajin menjalin silaturrahmi. Engkau orang yang jujur dan selalu menunaikan amanah. Kau tanggung keluarga-keluarga yang kekurangan. Kau jamu para tamu dan kau bantu orang-orang ang tertimpa musibah.” (halaman 67-68)
Begitulah, Khadijah menjadi orang pertama yang beriman kepada Muhammad Rasulullah. Semenjak itu, Khadijah selalu berada di sampingnya, mendampinginya dalam setiap suka dan duka serta menanggung segenap kesulitan bersamanya. Muhammad selalu berunding dan menceritakan segala urusannya kepada Khadijah. Lebih dari sekadar istri yang setia, Khadijah juga menjadi penasihat pertama bagi Rasulullah SAW. (halaman 69)

Beberapa bulan berlalu semenjak Muhammad diangkat menjadi rasul, Khadijah turut menyaksikan peristiwa turunnya wahyu dan masuk Islamnya beberapa orang muslim pertama. Pengalaman itu menjadikan cahaya keimanan memenuhi hatinya. Ia merasa bahwa di balik kehidupan Rasulullah SAW, di balik kesulitan-kesulitan yang beliau hadapi, tersisa sebuah tugas suci baginya; mendorong suaminya, mendampinginya, dan meringankan beban-beban tugas yang ditanggungnya. Khadijah meyakini bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan sebentuk ibadah yang dapat mendekatkannya kepada Allah. Tugas suci itu dianggapnya sebagai sebuah kehormatan dari Allah yang membedakannya dari wanita-wanita Quraisy lainnya (halaman 90-91)

Khadijah memiliki pertimbangan yang matang, pemikiran yang seimbang, keimanan yang kukuh, serta keikhlasan yang total. Allah menganugerahkan kepadanya kemampuan untuk bersabar menanggung setiap kesulitan dan cobaan dalam memperjuangkan kebenaran serta mendampingi suaminya tercinta. Khadijah adalah istri dan penasihat terbaik yang pernah dimiliki oleh Rasulullah. (halaman 92-93)

Demikian, sedikit catatan yang sempat saya tandai dari buku ini sebagai pengingat untuk diri sendiri dalam menjalankan peran terutama sebagai hamba Allah, seorang istri dan ibu. Catatan ini masih diambil dari 4 bab awal dari total 13 bab yang dipaparkan buku ini. Catatan pengingat dari bab berikutnya insyaAllah menyusul secara bertahap.

#griyariset
#ODOPfor99days
#day112



Friday, 9 September 2016

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh


CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH


Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur.
“Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat.
Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan.
Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh.
Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-anak sudah mengenali anggota tubuh mereka masing-masing.  (Lalu kira-kira, dengan apa ya, ibu guru mengenalkan anggota badan pada anak-anak?)
“Siapa mau bermain tebak-tebakan? Ayo…acungkan jari tinggi-tinggi” Ibu guru memberikan tantangan.
“Saya buuuu…Saya…Saya mau buuuu…” Suasana kelas ramai kembali, suara anak-anak riuh rendah bersahutan.  
“Baiklah, semua mau ya, kalau begitu dengarkan cerita ibu baik-baik ya. Dan jawablah tebak-tebakan yang ibu ajukan di akhir cerita. Siaaaaap?” Tantang ibu guru.
Sang ibu guru pun mulai beraksi. Beliau berperan sebagai sesuatu! (Tirukan peran ibu guru, dan ajak anak untuk ikut menebak) 
Hmm…sedapnyaaaa…  Aku mencium bau masakan lezat yang berasal dari arah dapur. Ibu memang sedang menyiapkan santap siang. Tapi tiba-tiba, bau busuk disertai bunyi, menggangguku! Ada yang buang angin rupanya. Siapa gerangan? Oh tidak, ternyata diriku sendiri! Hahaha. Hmm….ada bau apalagi ya di sekitar sini? Oh, bau kaos kaki di kolong meja nih…dari kaki siapakah bau ini berasal? Hoho… Tugasku memang membau. Adakah yang bisa menebak, siapakah aku? HIDUNG
Kami adalah alat gerak. Kami biasa disebut sepasang. Kanan dan kiri. Kami memiliki fungsi masing-masing. Sebelah kanan untuk melakukan hal-hal yang baik, seperti memberikan sesuatu pada orang lain, makan, minum, mengambil sesuatu, menulis. Hampir semuanya dilakukan oleh sebelah kanan. Kecuali satu hal. Kalian tahu apa? Ini tugas khusus untuk sebelah kiri. Yaitu membasuh badan setelah buang air. Tapi kami tidak saling iri. Kami kan punya tugas masing-masing. Kalau mendorong atau mengangkat sesuatu yang berat, kami juga bekerjasama loh. Siapakah kami? TANGAN
Anak-anak yang sholeh, aku yang membantumu untuk melihat. Tapi harus di tempat yang ada cahaya. Kalau di tempat gelap, aku tidak dapat berfungsi. Bentukku secara utuh itu bulat loh. Rawat kesehatanku ya, dengan mengonsumsi sumber vitamin A, tidak berinteraksi dengan layar terlalu lama dan membaca sambil tiduran. Kalau kerjaku sudah tidak optimal, aku harus ditemani si kacamata supaya penglihatan kalian jelas. Kalian sudah tahu kan siapa aku? MATA
Sssst…ada dua anak yang sedang berbisik-bisik. Aku bisa mendengar obrolan mereka. Eh, sebentar… rasa-rasanya ada suara adik bayi yang menangis dari ruang sebelah. Apa kalian juga mendengarnya? Aku membantu kalian untuk mendengar. Tapi, aku hanya ingin mendengar yang baik-baik saja. Aku enggan mendengarkan kata-kata kotor, tidak sopan, ataupun membicarakan keburukan orang lain. kalian juga, bukan? Bagaimana, kalian sudah mengenalku? TELINGA 
Kami bagian tubuh yang berada di bawah. Kalian biasa memakaikan sepatu maupun sandal pada kami saat bepergian. Kami bisa berjalan maupun berlari, membawamu pergi kemana saja. Kami sepasang, kanan dan kiri. Hanya saja, kami selalu beriringan, tidak bertugas sendiri-sendiri. Meski kami menopang tubuh, tapi kami tidak merasa berat. Karena kami tahu, itu sudah menjadi tugas kami. Dan Allah sudah melengkapi kami dengan kekuatan untuk melakukan  tugas  tersebut. Ayo tebak siapa kami? KAKI
Hai, aku barisan yang berada di dalam. Baru akan terlihat jika kalian tersenyum atau membuka mulut. Barisanku membuat makanan yang kalian makan menjadi halus sebelum tertelan. Supaya aku terus berfungsi dengan baik, kalian harus rajin menyikatku ya. Bayangkan jika aku rusak, kalian akan kesakitan, merasa ngilu dan menambal atau mencabutku. Makananpun tak enak dirasa. Kalian bisa menebakku? GIGI
Alhamdulillah, sudah 6 tebakan terjawab dengan baik ya anak-anak. Sudah mendekati waktu istirahat, saatnya kita mengambil air wudhu, lalu melakukan sholat Dhuha dan menikmati camilan bersama. Mari kita tutup dengan doa kafaratul majlis. Siapa yang mau memimpin doa?

#ODOP99days
#day111
#griyariset


Friday, 2 September 2016

Belajar Membuat Lagu Geometri


Bismillahirrohmanirrohim…
Menjawab tantangan di grup Creative Team #1, saya beranikan diri untuk membuat lagu anak bertema geometri.  Ya, di minggu ini, tema belajar kami adalah mengenai geometri. Dan saya mendapat tantangan untuk menuliskan lagu. Diberi jangka waktu seminggu ini membuatnya. Buntu..buntu..
Mendekati deadline, barulah ada ide yang melintas di kepala. Ini beneran lagu sederhana karya pemula, yang semata-mata berharap lagu tersebut bisa memudahkan anak memahami bentuk-bentuk geometri. Cukup saya tuliskan liriknya saja ya. Semoga bermanfaat.

#ODOPfor99days
#day110