Sunday, 25 October 2020

Karakter : Pondasi bagi Setiap Jiwa Merdeka

Bismillahhirrohmanirrohim...

Membangun pemahaman mengenai karakter

Kata kunci penulisan jurnal pekan ini yang saya garis bawahi adalah mencari referensi sebanyak-banyaknya seputar Character to Nation. Hmm… susah? Tentu! Namun tantangan ini justru sebagai jalan pembuka untuk melatih sikap skeptis dalam diri. Ya, di era derasnya arus informasi saat ini, skeptis menjadi sebuah sifat yang perlu dibiasakan. Agar tak mudah percaya pada kebenaran sebuah informasi atau materi baru sebelum mengulik dan mencari referensi dari berbagai sumber. Maka, kata kunci tersebut justru menjadi awal petualangan kami untuk mengulik seputar karakter. Eits, tentu perlu disesuaikan dengan alokasi waktu belajar yang dimiliki agar tak berlebihan dan mengganggu keseimbangan peran lainnya.

Untuk memahami lebih dalam seputar karakter, saya memilih untuk membaca buku Pendidikan Karakter yang ditulis Sri Narwanti, S.Pd, buku Tur Karakter yang ditulis Melly Kiong, kedua buku tersebut saya pinjam versi digitalnya melalui aplikasi iPusnas. Selain itu saya membaca sebuah ­e-book mengenai Pendidikan Karakter Disiplin. Sehingga, materi yang disampaikan di kelas Bunda Produktif menjadi kata kunci dalam menemukan beragam informasi seputar karakter yang kemudian diramu untuk membuat sebuah rencana aksi dalam pengerjaan Project Passion dengan pondasi karakter yang kuat.

Dari buku Pendidikan Karakter, saya menemukan irisan, bahwasanya materi mengenai karakter yang disampaikan di kelas Bunda Produktif pekan ini, selaras dengan pernyataan Ir. Soekarno mengenai pentingnya “Nation and Character Building” bagi sebuah negara yang merdeka. Bukankah kota Hexagon ini juga merupakan kota virtual yang sedang dibangun?

Karakter berasal dari bahasa Yunani kharakter yang berakar dari diksi “kharassein” yang berarti memahat atau mengukir. Dalam bahasa Indonesia, mengacu pada KBBI, karakter adalah tabiat, sifat-sifat kejiwaan atau watak. Sejak masa sebelum Masehi peta karakter telah dibuat oleh Hipocrates. Dalam kajian psikologi, character merupakan gabungan segala sifat kejiwaan yang membedakan seseorang dengan lainnya. Karakter dapat dipandang sebagai kesatuan seluruh ciri/sifat yang menunjukkan hakikat seseorang. Ada banyak kualitas karakter yang harus dikembangkan, namun ada sembilan pilar karakter utama menurut INDONESIA HERITAGE FOUNDATION yaitu :

  1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandiria
  3. Kejujuran
  4. Hormat dan sopan santun
  5. Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama
  6. Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah
  7. Keadilan dan kepemimpinan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi, cinta damai dan persatuan

Sementara menurut Character Counts di Amerika, karakter diidentifikasikan menjadi sepuluh pilar, yaitu :

  1. Dapat dipercaya (trustworthiness)
  2. Rasa hormat dan perhatian (respect)
  3. Tanggung jawab (responsibility)
  4. Jujur (fairness)
  5. Peduli (caring)
  6. Kewarganegaraan (citizenship)
  7. Ketulusan (honesty)
  8. Berani (courage)
  9. Tekun (diligence)
  10. Integritas (integrity)

Ari Ginanjar Agustian dalam teori ESQ memaparkan bahwa setiap karakter positif merujuk pada sifat mulia Allah, yaitu al-Asma al- Husna. Beliau merangkum dalam tujuh karakter dasar, yaitu :

  1. Jujur
  2. Tanggungjawab
  3. Disiplin
  4. Visioner
  5. Adil
  6. Peduli
  7. Kerjasama

Memahami tentang karakter moral

Dalam Playbook Hexagon City dipaparkan bahwa karakter moral merupakan kumpulan kualitas perilaku moral dari para warga Hexagon City (Hexagonia) yang bisa menyatukan dan mendefinisikan secara budaya sebagai perbedaan dari warga lain. Karakter moral Hexagon City sama dengan karakter moral Ibu Profesional, yaitu :

  1. Never stopped running, the mission alive
  2. Don’t teach me, I love to learn
  3. I know, I can be better
  4. Always on time
  5. Sharing is caring

Dengan demikian, saat saya memutuskan untuk menjadi bagian dari Ibu Profesional dan Hexagon City maka saya menyepakati untuk memahami, merasakan dan menjalankan lima karakter moral tersebut.

Dari pemaparan bu Septi saat live, saya memahami bahwasanya karakter moral adalah karakter yang dimiliki oleh suatu kelompok yang menjadi ciri khas dari kelompok tersebut.

Hal ini mengingatkan saya mengenai karakter seorang muslim. Nabi Muhammad SAW memiliki empat sifat yang melekat dalam diri beliau yaitu : shiddiq, fathonah, tabligh dan amanah. Para sahabat dan sahabiyah pun memiliki keunggulan yang menjadi ciri diri masing-masing. Kita terinspirasi oleh Khadijah binti Khuwailid yang amat sukses dalam bidang perniagaan, Hafshah binti Umar yang sangat cerdas hingga menjadi tempat bertanya, Ummu Salamah yang matang dan bijaksana, dan masih banyak lagi. Ciri diri setiap muslim dibalut oleh 10 karakter muslim. Abdur Rosyid dalam tulisannya memaparkan sepuluh karakter muslim sebagai berikut :

  1. Aqidah yang lurus
  2. Ibadah yang benar
  3. Akhlak yang kokoh
  4. Fisik yang kuat
  5. Berwawasan luas
  6. Pengendalian diri
  7. Disiplin waktu
  8. Teratur dalam setiap urusan
  9. Mandiri
  10. Bermanfaat bagi orang lain

Hal ini menjadi pengingat diri untuk terus melakukan perbaikan menuju karakter muslim tersebut. InsyaAllah.

Saatnya berdiskusi kelompok

Setelah mengumpulkan referensi sebagai bahan diskusi dan berpikir maka melaju ke agenda berikutnya, berdiskusi kelompok. Diskusi pekan ini dimulai dengan masing-masing Hexagonia menetapkan satu karakter yang ingin dilatihkan dalam diri selama menjalankan Project Passion di kelas Bunda Produktif ini. Wah, pas sekali! Ada satu hal yang ingin saya latihkan agar menjadi karakter diri, yaitu disiplin.

Belakangan ini saat berdiskusi dengan suami, saya mendapatkan masukan bahwasanya saya perlu menguatkan dorongan internal dalam mencapai sebuah target. Evaluasi dari suami, acapkali target yang tercapai adalah target yang berasal dari luar diri. Sedangkan target yang berasal dari diri saya pribadi seringkali terlewat atau belum saja tercapai melebihi tenggat waktu yang ada.

Hmm... saya merenung. Sebenarnya hal tersebut amat saya sadari dan akui. Salah satu kekuatan dalam dinamika bakat diri saya adalah maximizer, dimana lingkungan eksternal sangat mempengaruhi saya. Karena itulah salah satu strategi saya dalam menyasati keterbatasan diri adalah dengan bergabung di komunitas yang membuat saya senantiasa bertumbuh dan belajar. Namun sembari itu, saya perlu terus menguatkan dorongan dari dalam diri. Karena itulah dalam kelas Bunda Produktif ini saya mantap memilih karakter DISIPLIN untuk dilatihkan pada diri saya. Bismillahhirrohmanirrohim...



Hari Sabtu jam 15.00 CEST, seperti biasa Co-House kami mengadakan diskusi via Zoom. Saya bertekad untuk hadir tepat waktu usai mengerjakan tugas domestik. Alhamdulillah Allah mudahkan. Dalam diskusi yang berdurasi selama 90 menit tersebut, kami membahas karakter apa saja yang berpotensi menjadi pendorong, penghambat dan penghenti project passion yang sedang kami mulai jalankan. Daftar karakternya adalah sebagai berikut :

Karakter yang mendorong kesuksesan project passion LiterAksi Tematik :

  1. Komitmen yang juga dipilih oleh mba Nurul dan mba Yesi
  2. Konsisten yang juga dipilih oleh mba Iis
  3. Disiplin yang juga dipilih oleh Mesa
  4. Fast Learner  yang juga dipilih oleh mba Lia dan mba Kiki
  5. Empati yang juga dipilih oleh mba Elok
  6. Toleran yang juga dipilih oleh Ummu Sofwa
  7. Responsibility yang juga dipilih oleh mba Sari
  8. Persistent yang juga dipilih oleh mba Endah dan mba Wita

Sedangkan karakter yang berpotensi memperlambat jalannya project passion  kami antara lain :

  1. Prokrastinasi
  2. Tak Acuh
  3. Angin-anginan
  4. Ragu-ragu

Selain karakter yang mendorong dan memperlambat, ada juga karakter yang berpotensi menghentikan laju perjalanan project passion, yaitu :

  1. Membanding-bandingkan
  2. Kritik tanpa solusi
  3. Tidak bertanggungjawab
  4. Meremehkan
  5. Putus asa
  6. Suka memerintah

Setelah tuntas berdiskusi mengenai karakter, kami beralih ke bahasan tujuan. Tujuan yang ingin dicapai dengan mengerjakan project passion  LiterAksi Tematik adalah :

  1. Memberikan ruang aktualisasi para Hexagonia CH 3 untuk berkarya sesuai passion  yang dimiliki
  2. Membantu orang tua untuk mengenalkan dan menumbuhkan karakter baik pada anak
  3. Menjadi rekan orangtua untuk mengenalkan bahasa asing dan meningkatkan kecintaan anak terhadap buku
  4. Menguatkan kelekatan orangtua dan anak dengan proses yang dijalankan bersama LiterAksi Tematik



Setelah usai berdiskusi kelompok, saatnya kembali memikirkan seputar karakter yang dipilih. Sebuah karakter ternyata dikembangkan melalui tiga tahapan, yaitu pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting)  dan kebiasaan (habit). Artinya, jika sudah menentukan karakter yang ingin dilatihkan dalam diri, maka berikutnya adalah membuat rencana aksi, melakukannya secara rutin hingga menjadi sebuah kebiasaan baru. Menurut Zubaedi (2011), diperlukan tiga komponen karakter baik (component  of good character) yaitu :

  1. Moral Knowing (pengetahuan tentang moral) yang meliputi kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, penentuan sudut pandang, logika moral, keberanian mengambil sikap, dan pengenalan diri.
  2. Moral Feeling (perasaan atau penguatan emosi  tentang moral( yang meliputi kesadaran akan jati diri, percaya diri, kepekaan terhadap derita orang lain, cinta kebenaran, pengendalian diri, dan kerendahan hati.
  3. Moral Action (perbuatan moral) merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil dari dua komponen karakter lainnya.

Bagaimana penjabaran karakter yang saya pilih untuk dilatihkan dalam diri?

Saya sudah memilih karakter disiplin. Menurut KBBI, disiplin merupakan tata tertib, ketaatan, kepatuhan kepada peraturan. Sedangkan menurut Husdarta (2010), disiplin adalah kontrol diri dalam mematuhi aturan baik yang dibuat diri sendiri maupun di luar diri. Maka bismillah...berikut Hexa Character saya :



Catatan penting :

Jika karakter yang dipilih bisa berasal dari karakter yang memang sudah melekat kuat maupun yang ingin dilatih, maka saya memilih opsi pertama. Arti dari twibbon ini bagi saya adalah saya sedang melatihkan karakter tersebut selama berada di Hexagon City ini selama kurang lebih enam bulan ke depan. Terlebih berkaitan dengan pengerjaan ide solusi di Passion Canvas pribadi di bidang belajar bahasa Jerman dan Project Passion bersama kelompok Co-House seputar literasi keluarga.

Bismillah, mari berlatih bersama J

Salam Ibu Profesional,

Wien, 25 Oktober 2020

Referensi Belajar :

Anonim. 2018. Pendidikan Karakter Disiplin. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/7241/5/BAB%20II.pdf. Diakses tanggal 25 Oktober 2020

Husdarta, H.J.S. 2010. Manajemen Pendidikan Jasmani. Bandung. Alfabeta

Narwanti, Sri. 2014. Pendidikan Karakter. Yogyakarta. Familia

Rosyid, Abdur. Sepuluh Karakter Muslim Sejati. http://menaraislam.com/akhlaq/10-karakter-muslim-sejati. Diakses 26 Oktober 2020

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter. Jakarta. Kencana

 

 


Saturday, 24 October 2020

Tinjauan Pembelajaran Jarak Jauh atau Daring untuk Anak dan Implementasinya di Kota Wina, Austria

Pembelajaran Jarak Jauh atau Daring selama Pandemi

Pandemi COVID-19 membawa banyak perubahan besar, termasuk sistem pedidikan di seluruh dunia. Di Indonesia, terhitung sejak bulan Mei 2020 proses belajar mengajar di semua satuan pendidikan beralih via daring atau dijalankan secara jarak jauh, hingga saat ini. Di kota Wina, selama lockdown pun pembelajaran mayoritas berjalan secara daring. Sedangkan setelahnya, saat mulai tahun ajaran baru per bulan September 2020 lalu, pembelajaran dilakukan secara tatap muka dengan pemberlakuan protokol kesehatan yang cukup ketat. Namun pihak sekolah tetap siaga dengan menyiapkan aplikasi sistem belajar dan penyampaian informasi melalui aplikasi tersebut untuk pembiasaan penggunaan sehingga semua pihak siap jika sewaktu-waktu proses pembelajaran perlu dilakukan melalui daring kembali.

Pembelajaran jarak jauh atau daring merupakan salah satu solusi kunci agar proses pembelajaran yang dilangsungkan sekolah tetap dapat berlangsung selama pandemi. Tentu tak ada pihak yang siap menghadapi pandemi ini, karenanya proses pembelajaran via daring terus berjalan dengan penyempurnaan berkelanjutan di segala lini. Sebuah lembaga survey masyarakat, Wahana Visi Indonesia mengadakan sebuah studi penilaian pada bulan Mei 2020 yang menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menyebabkan hanya sekitar 68 persen anak yang mempunyai akses terhadap jaringan. Dimana artinya sisa dari nilai tersebut yaitu sekitar 32 persen anak belum memiliki akses mumpuni terhadap jaringan. Padahal, akses terhadap jaringan merupakan fasilitas kunci pada pembelajaran jarak jauh ini. Wajar saja, Indonesia merupakan negara kepulauan besar sehingga membuat jangkauan akses internet pun belum merata. Ini merupakan PR yang genting dan perlu dcari solusinya segera.

Beruntung, banyak pihak mandiri yang menginisiasi munculnya solusi. Sebut saja salah satunya AHA project yang bisa disimak https://www.ahaproject.id/. Sebuah proyek yang sengaja menjangkau anak-anak di wilayah terpencil, menggerakkan pemuda-pemudi di wilayah tersebut untuk menjadi fasilitator belajar dan mediator penyampai bahan ajar yang dibuat oleh tim pusat yang kompeten. Menghubungkan berbagai pihak untuk mencipta sebuah solusi dari sebuah tantangan dalam sistem pendidikan yang terdampak pandemi. Di proyek ini pembelajaran yang berlangsung bersifat tatap muka namun dalam skala kecil kecil atau person to person.

Aspek yang Tercakup dalam Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran Jarak Jauh identik dengan kondisi tanpa bertatap muka dan dilakukan dalam jaringan (daring). Proses ini tentu tak lepas dari penggunaan perangkat elektronik. Terdapat beragam istilah bergantung pada tujuan, konsep dan instrumen yang digunakan. Namun secara umum, semuanya memiliki empat fitur utama, yaitu :

1.    Multimedialitas (integrasi berbagai media seperti , audio, video, gambar dan lain-lain)

2.    Multimodalitas (menangani organ sensori yang berbeda, terutama di sini pendengaran dan visual)

3.    Multikodalitas (integrasi berbagai kode informasi seperti hyperlink, animasi, dan simulasi)

4.    Interaktivitas (ketersediaan berbagai pilihan kontrol dan intervensi).

Keunggulan dan Keterbatasan Pembelajaran Jarak Jauh

Keunggulan

Disadari atau tidak, pembelajaran jarak jauh memiliki beberapa keunggulan, antara lain :

Keleluasaan waktu dan tempat

Pembelajaran jarak jauh memiliki fleksibilitas tinggi terkait waktu dan ruang. Jumlah peserta dalam satu kelas, durasi waktu yang diberikan untuk menyimak materi dan mengerjakan tugas bisa disesuaikan denga keluangan waktu pengajar dan peserta. Dengan keunggulan ini, terbuka peluang belajar lintas zona waktu. Video pelajaran bisa dibuka berulang kali oleh peserta untuk semakin memahami materi yang pengajar sampaikan.

Penghematan biaya

Dengan pembelajaran secara daring, baik pelaksana maupun peserta dapat menekan pengeluaran sehingga biaya yang diperlukan pun bisa menjadi sangat hemat. Alokasi biaya untuk biaya perjalanan ke lokasi acara, konsumsi, penyewaan tempat dapat dipindah-alokasikan untuk pembelian data internet. Meskipun jumlah peserta dalam suatu kelas itu banyak, kelas dapat dijaga agar tetap kondusif dengan memanfaatkan fitur platform yang tersedia.

Kualitas yang konsisten

Pembuatan media belajar oleh pengajar untuk sebuah tema, bisa dilakukan satu kali saja namun dapat digunakan oleh seluruh kelas. Dengan demikian, standar kualitas yang diterima setiap peserta menjadi cukup seragam dan merata.

Interaktivitas

Sama halnya dengan pengajaran melalui tatap muka, pembelajaran jarak jauh pun membutuhkan kreativitas untuk menjaga antusiasme peserta. Di sinilah kreativitas, imajinasi dan kecanggihan teknologi berpadu menyajikan sebuah pembelajaran daring yang interaktif, seperti menggunakan konten animasi sebagai sebuah games ice breaking.

Multibahasa

Seringkali kita belajar bahasa asing dengan menyenangkan justru dari hal-hal yang kita sukai. Misalnya dari film, lagu atau komik. Pembelajaran jarak jauh membuka kesempatan untuk mengikuti kelas dari berbagai Universitas ternama di dunia, dari para tokoh yang bukunya bahkan sering menginspirasi kita. Ah, artinya penguasaan bahasa asing memegang peranan kunci. Jika hal tersebut merupakan impian kita, bukankah kita akan benar-benar mengupayakannya?

Keterbatasan

Selain keunggulan, pembelajaran jarak jauh tentu memiliki keterbatasan. Apa sajakah itu

Minimnya Validasi Didaktik

Sistem pengajaran sebelum pandemi, relatif identik melalui tatap muka. Sehingga masih jarang sekali pihak yang memberikan materi pengajaran secara daring. Pembuatan video masih didominasi oleh orang yang berkecimpung di dunia teknologi dan hiburan, sehingga konten-kontennya pun ringan, menghibur dan subjektif. Belum banyak video pengajaran yang dipersiapkan dan dibuat dengan mengacu kaidah teknik pengajaran yang mendetail.

Membutuhkan keahlian khusus

Mempelajari teknologi bukanlah suatu hal yag mudah, apalagi untuk para generasi Baby Boomers (1946-1960) atau generasi X (1961-1980) yang baru terpapar denga kecanggihan teknologi komunikasi saat dewasa atau belakangan ini. Perlu waktu untuk membekali generasi Baby Boomers dan generasi X keterampilan multimedia, di samping penolakan karena kesulitan dalam beradaptasi dalam waktu singkat.

Disiplin diri

Pemakaian gawai saat pembelajaran jarak jauh perlu disertai dengan manajemen waktu dalam meggunakan gawai. Tak jarang berselancara di dunia maya menyebabkan manusia terlena, lupa waktu dan abai akan bahaya sinar radiasi untuk kesehatan diri. Maka penting untuk membuat alokasi waktu dan jadwal pemakaian gawai harian dengan menjadikan target belajar sebagai acuan, kemudian disiplin dalam menjalankannya.

Sedikit ruang untuk bertanya

Berbeda halnya dengan pembelajaran tatap muka yang memberi kesempatan lebar bagi peserta untuk bertanya, pembelajaran jarak jauh seringkali bersifat satu arah (seperti pemaparan materi berupa video), atau jika berbentuk forum diskusi, maka kesempatan bertanya biasanya terletak di akhir sesi dengan alokasi waktu yang terbatas,baik melalui video maupun tulisan di kolom komentar. Hal ini menyulitkan peserta untuk beriteraksi intensif untuk mengkonfirmasi pemahaman yang diserap atau mengajukan pertanyaan yang beruntun. Padahal bisa jadi pertanyaan itu lah yang membawa peserta pada pemahaman yang komprehensif.

Paparan radiasi dari layar

Pembelajaran jarak jauh tentu membuat seseorang lebih banyak terpapar degan layar gawai. Dan ini cukup membuat mata lelah. Saya teringat jawaban seorang teman mahasiswa S3 yang saya ajak untuk mengajar TPA online, saat itu beliau menolak dengan alasan matanya cukup lelah dan perlu beristirahat setelah mengikuti perkuliahan yang semuanya saat itu beralih via daring. Dan saya memahaminya. Ya, kita tetap perlu menjaga keseimbangan ritme hidup.

Setelah mempelajarai keunggulan dan keterbatasan dari sebuah pembelajaran jarak jauh atau daring, kita akan beralih ke pengaruh positif dan negatif dari proses pembelajaran jarak jauh. Apa saja? Yuk, kita simak bersama.

Pengaruh Positif dan Negatif dari Pembalajaran Jarak Jauh

Positif

Pemanfaatan teknologi  untuk hal yang bermanfaat  

Mari kita hitung, berapa banyak aplikasi baru yang kita install pada gawai sejak diberlakukannya pembelajaran jarak jauh? Mulai dari aplikasi platform Meeting seperti Zoom, Skype, Google Meet, aplikasi untuk meng- edit gambar maupun video seperti Canva, Photogrid, Remove Background,juga aplikasi kelas atau forum daring seperti Google Classroom, Trello, SchoolFox.

Sebelumnya kita mungkin sudah lama memiliki Smartphone namun banyak aplikasi maupun fitur-fitur yang belum optimal digunakan. Dan kini fitur-fitur canggih tersebut satu persatu kita kulik untuk menghasilkan sebuah karya yang sebelumnya belum pernah kita buat.

Kelekatan dengan orangtua yang semakin erat.

Ada di pundak siapakah tanggung jawab pendidika seorang anak? Betul, orangtua. Selama pandemi, pembelajaran dilakukan di dalam rumah, dimana melibatkan orangtua secara aktif. Maka ini momen yang tepat untuk menjalin dan menguatkan kelekatan orangtua dengan anak. Terbuka lebar kesempatan bagi orangtua untuk belajar menjadi fasilitator anak, bekerja sama dengan pihak sekolah dan guru.

Negatif

Terancamnya kesehatan mental berbagai pihak

Ada anak yang depresi karena mendapat tekanan besar oleh orangtua selama menjalani pembelajaran jarak jauh, ada orangtua yang kewalahan menghadapi perilaku anak di rumah, ada guru yang tertekan karena memiliki beban pembelajaran yang berat juga aneka protes dari orangtua.

Peluang Solusi yang dapat Diupayakan untuk Mengoptimalkan Pembelajaran Jarak Jauh

Keterlibatan orangtua dalam pembelajaran jarak jauh anak tentu akan sangat membantu pihak sekolah dan anak sebagai peserta didik.

Di sisi lain, adanya sistem yang toleran, menetapkan standar capaian yang realistis dengan kondisi yang ada, akan membuat para orangtua membersamai anak-anak di rumah dengan rileks dan optimis Guru pun tak tertekan dari berbagai sisi. Anak-anak pun bisa menjalankan pembelajaran dengan bahagia dan merasakan suasana yang guyub dan penuh kehangatan.

Manajemen waktu dalam penggunaan gawai bagi para orangtua menjadi sangat mendesak. Anak melihat langsung teladan dari para orangtua, sekalipun sebenarnya orangtua menggunakan gawai juga untuk kepentingan kerja. Jika anak sudah memiliki gawai sendiri, maka orangtua perlu memberikan arahan dan kesepakatan bersama di keluarga terkait penggunaan gawai di rumah.

Penyajian materi yang kreatif dan inovatif oleh para guru akan membuat peserta menerima esensi materi sekalipun via daring. Selain itu, durasi pengumpulan tugas yang cukup panjang juga cukup membantu peserta dan orangtua mengerjakan tugas dengan rileks namun mengena.

Implementasi Pembelajaran Jarak Jauh Sekolah di Kota Wina, Austria

Pembelajaran jarak jauh atau via daring kami rasakan dua kali dalam situasi yang berbeda.

Yang pertama adalah saat terjadi lockdown pertama karena pandemic COVID-19 selama bulan April hingga Juni 2020 lalu. Saat itu Raysa, anak sulung kami masih berada di Kindergarten atau Taman Kanak-Kanak. Karena konsep belajar di Kindergarten masih seputar bermain, keterampilan hidup, kemandirian dan pra-keterampilan calistung, maka tidak ada pembelajaran khusus yang harus dikerjakan si sulung selama belajar di rumah. Kami menjalankan pendidikan rumahan seperti biasanya, tak ada hal khusus. Justru kami membuat beberapa proyek yang tak sempat kami kerjakan saat masa sekolah seperti biasanya. Proyek yang kami kerjakan antara lain membuat dekorasi rumah dalam menyambut Ramadan, melatih kebiasaan baik dan ibadah selama Ramadan serta meminjam banyak buku dari perpustakaan.

Bagaimana koordinasi dengan pihak Kindergarten?

Kindergartenpaedagogin saat itu menelfon sepekan sekali. Beliau menanyakan kabar kami sekeluarga, kondisi kesehatan si sulung dan aktivitas yang si sulung lakukan dalam keseharian. Beliau juga mengirimkan E-Mail berisi aneka lembar kerja namun tak wajib dikerjakan dan dikumpulkan pada beliau. Sifatnya bebas. Karena anak-anak lebih tertarik dengan kegiatan keseharian yang kami kerjakan bersama dan kami tidak memiliki printer untuk mencetak lembar kerja, saya mengirimkan beberapa dokumentasi kegiatan kami di rumah sebagai balasan, seperti ini :

Gambar 1. Surel koordinasi dengan Kindergartenpaedagogin


Lalu bagaimana dengan pengalaman kedua?

Mulai September 2020 lalu, si sulung sudah masuk di Volksschule, setara dengan Sekolah Dasar. Pembelajaran di bulan September hingga 16 November 2020 berlangsung secara tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Di awal tahun ajaran, pihak sekolah memberi skema jika sewaktu-waktu terpaksa dilakukan pembelajaran jarak jauh mengingat angka kasus positif yang masih terus meningkat, bahkan saat ini sedang berada di gelombang kedua pandemi. Pihak sekolah meminta kami mengunduh aplikasi SchoolFox dan mencoba mempelajari fitur-fitur yang ada didalamnya serta membuat grup WhatsApp untuk para orangtua. Fungsi SchoolFox ini mirip dengan Google Classroom namun lebih banyak fitur koordinasinya.


Gambar 2. Tampilan Aplikasi SchoolFox
 

Benar saja, mulai 17 November 2020, diputuskan bahwasanya semua anak di jenjang sekolah mana pun dihimbau untuk melakukan pembelajaran daring, terkecuali jika kondisi mendesak seperti kedua orangtua yang terpaksa bekerja di luar rumah terkait profesinya atau anak-anak yang tidak memiliki fasilitas dan kondisi memadai untuk pembelajaran daring, boleh tetap belajar di sekolah. Dengan pertimbangan keamanan dan kesehatan, kami memutuskan untuk mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Untuk murid kelas satu Volksschule, guru memberikan tahapan per tahapan secara lengkap kepada orangtua. Kemudian di hari terakhir sekolah, anak-anak membawa pulang buku dan lembar kerja untuk satu pekan dilengkapi dengan timeline tugas per hari. Setiap pagi, guru mengirimkan video cara pengerjaan tugas untuk disimak anak-anak. Guru memberikan juga tautan video seputar alam yang menjadi salah satu fun learning untuk anak. Sebagai pelengkap, anak-anak disediakan akun di sebuat platform belajar di gawai bernama Anton. Guru sudah menandai tema mana saja yang diprioritaskan untuk dikerjakan. Bagi si sulung, mengerjakan permainan pembelajaran dilakukan usai tugas di lembar kerja dan di buku sudah tuntas ia kerjakan.

Gambar 3. Tampilan Aplikasi ANTON

 

Pembelajaran daring memang bukan hal yang mudah untuk semua pihak, terutama untuk anak. Namun yuk, optimalkan peran dalam perjalanan prosesnya, bekerjasama menyiasati keterbatasannya dan bahu-membahu menaklukkan tantangan ini, bersama-sama. Sehingga, anak-anak akan meneladani sikap solutif yang kita lakukan saat menaklukkan tantangan ini. Bismillah... 

 

Sumber referensi :

Alimah, Niken TF dkk. 2013. Bunda Sayang : 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Jakarta Barat : Halaman Moeka Publishing.

Anonim. 2016. Die Vor- und Nachteile von E-Learning. https://www.lecturio.de/magazin/vor-und-nachteile-e-learning/. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.

Antara. 2020. Pembelajaran Daring Pengaruhi Jiwa Anak, Perlu Antisipasi Cepat. https://tekno.tempo.co/read/1367449/pembelajaran-daring-pengaruhi-jiwa-anak-perlu-antisipasi-cepat/full&view=ok. Diakses tanggal 24 Oktober 2020.

Husnufardani, Itsnita dkk. 2019. Jurnal Institut Ibu Profesional : Jejak Langkah Bunda Sayang. Salatiga : KIPublishing.

Ningsih, Ni Koming Widya. 2020. Dampak Pengaruh COVID-19 terhadap Perkembangan Anak Usia Dini yang Menggunakan Sistem Pembelajaran Daring (online) di TK Duta Asih. Proposal. Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini Universitas Dhyana Pura. Bali

 

 

Sunday, 18 October 2020

Belajar Membuat Passion Canvas Diri dan Bersama Rekan Satu Co-House Merumuskan Project Passion

Bismillahhirrohmanirrohim…

Berikhtiar kembali untuk mengumpulkan jurnal sebelum pekan ini berakhir. Supaya tidak terburu-buru lagi dan menjalankan jadwal kegiatan awal pekan dengan lebih mindfulness dan efektif.

Setelah pemilihan umum berlangsung, maka pekan berikutnya kami libur menuliskan jurnal. Agenda utama adalah berkenalan dengan tetangga satu Co-House. Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih untuk kebijakan ini. Karena berkenalan secara virtual artinya menggunakan jam daring yang alokasinya sama halnya dengan menulis jurnal. Dengan meliburkan penulisan jurnal di pekan tersebut artinya, terlebih bagi saya pribadi, adalah tetap menggunakan jam daring secara proporsional sesuai jadwal dan porsi yang dimiliki, tidak perlu menambah alokasi waktu.  

Dalam pekan ini kami mendapat tantangan untuk membuat Passion Canvas individu dan merumuskan ide serta mendiskusikan bersama tetangga Co-House mengenai sebuah Project Passion yang nantinya akan dikerjakan bersama sepanjang kelas Bunda Produktif. Wah, menarik sekali! Sudah lama saya ingin belajar praktik langsung dari ahlinya, bagaimana merumuskan sebuah proyek bersama yang di dalamnya kebutuhan belajar setiap anggota tim dapat terfasilitasi sehingga kesemuanya dapat mengambil peran yang „aku banget!“. Dan di kelas Bunda Produktif ini kesempatan emas itu pun datang, masyaAllah.

Bagaimana dengan Passion Canvas yang saya buat?

Jujur, baru hari Sabtu siang saya bisa membuka dokumen-dokumen yang diberikan dan mencermatinya. Bukan karena enggan atau bahkan malas, tapi karena belum berkesempatan. Hari Jum’at yang memang saya jadwalkan sebagai jatah daring untuk belajar seputar IIP, baru cukup saya gunakan untuk koordinasi pengurus HIMA regional, menyimak live presentasi ibu Walikota Hexagon City, membaca e-book  Passion to Nation dan menyusul menyimak bahasan diskusi di WAG Co-House.  Menjadi sebuah catatan pribadi untuk saya, untuk perlu meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan durasi waktu daring  agar bisa berjalan lebih efektif dan efisien sehingga target tercapai dengan alokasi waktu yang tersedia. High impact activities.

Maka, Sabtu siang itu saya membuat oret-oretan di kertas kemudian mempresentasikannya pada suami. Dari presentasi yang saya sampaikan, suami menanyakan poin yang saya letakkan di Hard Skills dan Soft Skills serta (lagi-lagi) tentang alokasi waktu belajar. Beliau memberikan masukan, “Memungkinkan ngga, kalau ummi mengerjakan PR kursus di siang hari usai pulang kursus sebelum menjemput Raysa?” Saya menggeleng. Sepulang kursus saya bersegera untuk memasak dan menemani Ahsan makan siang. Kemudian bermain sebentar, mengajaknya tidur siang dan bersiap menjemput si sulung. Saya menunjukkan jadwal yang sudah saya buat dan tempel di dinding. Sebenarnya sudah tertulis  alokasi waktu satu jam untuk belajar bahasa Jerman setiap sore yang ternyata sulit untuk direalisasikan. Maka kami pun mendiskusikan beragam alternatif sehingga alokasi waktu untuk belajar bahasa untuk saya tetap ada dan realistis. Mulai dari alternatif memasak masakan yang simpel sehingga menghemat waktu di dapur, sepulang kursus skip belanja eceran dan dimampatkan di sesi belanja akhir pekan, hingga memundurkan jam tidur. Untuk hal ini saya masih mengotak-atik hingga kini.

Dan inilah Passion Canvas  diri saya :


Berbagi  Passion Canvas ini bertujuan untuk membuka kesempatan mendapatkan input masukan dari yang sudah berpengalaman di perjalanan serupa, kesempatan untuk saling menyemangati bagi yang sedang berada di perjalanan yang senada, kesempatan untuk berbagi cerita atau bahkan belajar bersama dengan pada teman-teman yang sedang mengawali belajar bahasa Jerman. 

Lalu bagaimana dengan Project Passion? Di kelompok Co-House, kami memiliki kesepakatan untuk berdiskusi via ZOOM setiap hari Sabtu jam 15 CEST. Bagi saya, kesepakatan ini sangat sesuai karena dengannya diskusi bisa berjalan dengan efektif efisien.  Diskusi Co-House ini dimulai dengan menelaah ide yang tertuang di Passion Canvas masing-masing. Dari kesebelasan Co-House kami, ide yang terkumpul antara lain sebagai berikut :

  • Video tutorial bahasa Inggris
  • Resensi buku melalui suara maupun tulisan
  • Rekomendasi buku bacaan
  • Read Aloud  melalui video maupun suara
  • Materi presentasi berbahasa Inggris
  • Buku antologi

Setelah tabungan ide terdata, maka kami pun mulai berdiskusi. Ide pertama adalah sebuah ide yang spesifik dan mengerucut, yaitu melakukan Read Aloud mengingat mayoritas ide pribadi pun banyak yang mengarah ke situ. Kemudian ide kedua adalah sesi berbagi dimana masing-masing anggota bisa memiliki kesempatan untuk berbagi. Hal ini sesuai dengan ide yang dicetuskan Ummu Sofwa sebagai berikut :

Kami pun menimbang antara proyek yang mengerucut spesifik atau yang luas dan umum. Masing-masing pun mengutarakan pendapatnya. Dengan menyimak pendapat teman-teman, saya mendapat insight mengenai bentuk Project Passion sehingga kemudian saya mengusulkan sebuah ide sebagai berikut :

Definisi proyek : sebuah produk berupa ­e-book dan video, yang berfokus pada satu tema yang erat kaitannya dengan pendidikan karakter anak-anak Indonesia. Kami memiliki impian, bahwa produk yang kami buat ini akan menjadi sebuah paket Starter Kit yang membantu masyarakat Indonesia dalam mendampingi ananda membangun sebuah karakter baik bersama-sama melalui literasi.

Durasi proyek : 4 bulan

Nama proyek : sedang proses diskusi. Saya mengusulkan nama = LiterAksi Tematik. Untuk gambaran besar proyeknya, baru saja saya tuntas tulis dan mengirimkan ke Co-House Leader.

Dalam diskusi via ZOOM lalu kami juga sepakati adanya presensi saat diskusi. Bukan untuk menuntut kehadiran setiap orang di setiap waktu, namun untuk menjaga semangat, saling menyemangati dan mengoptimalkan kesempatan belajar yang dimiliki. Teknisnya pun sangat ramah kondisi, dimana di setiap pekan akan ada tiga kali diskusi, dan setiap diskusi akan berlangsung sekitar dua hari, kecuali agenda via ZOOM setiap Sabtu jam 15 CEST yang sudah disepakati sedari awal. InsyaAllah aturan ini memudahkan dan saling memuliakan satu sama lain.

Sekian jurnal pembelajaran di pekan ini. Alhamdulillah atas izin Allah, jurnal bisa tuntas sebelum berganti pekan sesuai target perbaikan yang dicanangkan.

Salam Ibu Profesional,

Wien, 18.Oktober 2020

Mesa Dewi Puspita

 

 

 

 

 

Wednesday, 14 October 2020

Ein 60-Tage-Sommerprojekt : Proyek Solutif Keluarga yang Terinspirasi dari Perkuliahan Institut Ibu Profesional

Gugus Bintang Penjelajah merupakan program seru yang diinisiasi tim Selasar Institut Ibu Profesional sebagai tempat berkumpulnya para mahasiswa Institut Ibu Profesional yang mengejawantahkan hasil belajarnya di kelas IIP menjadi sebuah proyek karya baik berupa buku, jurnal ilmiah, kegiatan daring maupun luring dan juga produk. Saya bergabung di salah satu gugus bintang yang spesifik pada ranah kegiatan daring. Dari program ini, saya berjejaring dengan sesama mahasiswa yang sudah, sedang dan akan menghasilkan karya-karya hebat. Tidak menutup kemungkinan, ke depan bisa terjalin kerjasama satu sama lain dengan menggagas sebuah proyek bersama.

Proyek karya yang sudah tuntas saya kerjakan dan saya bagikan di program ini adalah proyek keluarga yang kami kerjakan saat masa liburan musim panas lalu, bertajuk “Ein 60-Tage-Sommerprojekt” yang merupakan dokumentasi kegiatan Home Education yang kami lakukan secara konsisten selama 60 hari baik secara luring maupun daring berturut-turut. Dokumentasi perjalanan lengkapnya saya tuliskan di sebuah album khusus di akun Facebook pribadi di tautan ini.  

Perjalanan bintang penjelajah membuat saya berefleksi diri. Tujuan bergabungnya saya di Institut Ibu Profesional adalah meningkatkan kapasitas dan kualitas diri dalam menjalankan peran sebagai seorang perempuan, istri, ibu dan agen perubahan dan masyarakat. Dan proyek Home Education  “Ein 60-Tage-Sommerprojekt”  ini merupakan langkah saya menjawab tantangan yang hadir saat itu.

Apakah tantangan yang saya rasakan?

Layaknya kebiasaan yang berlangsung di negara Eropa lainnya, musim panas adalah waktu untuk berlibur keluarga baik di luar kota maupun luar negeri. Mayoritas teman melakukannya dan tak jarang pertanyaan terkait pun menghampiri, “Kapan liburan? Kemana?”.  Tahun lalu saya menjawab dengan senyum tipis dan ada keinginan juga untuk bepergian keluar kota. Wajar saja banyak teman yang bepergian ke luar kota atau luar negeri. Dengan izin tinggal yang kami semua pegang, bepergian ke luar kota bahkan luar negeri selama masih dalam kawasan Uni Eropa merupakan hal yang mudah dengan biaya tiket yang cukup terjangkau jika dipesan sejak jauh hari. 

Namun kondisi studi suami memang cukup hectic sehingga tak memungkinkan bagi kami untuk bepergian keluar kota barang beberapa hari saja. Akhir pekan saja beliau seringkali bekerja. Dulu sempat ada masa di mana saya membandingkan kondisi studi suami dengan rekan mahasiswa lainnya. “Mengapa? Apa yang berbeda?” begitu pikir saya kala itu. Hingga kemudian ada suatu momen yang saya saksikan sendiri hingga meyadarkan saya untuk tidak membandingkan kondisi dengan pihak lain dan fokus bergerak solutif di lintasan sendiri. Studi lanjut suami ke sii adalah sebuah proyek keluarga. Maka bersama-sama kita sukseskan proyek ini, sesuai pembagian tugas masing-masing. Saling menjadi support system.

Di tahun ini, saya tidak mau terlarut dalam opini kebanyakan orang dan memilih untuk menciptakan kebahagiaan. Kami mencoba mengambil langkah nyata untuk switch dan memulai bergerak dengan persepsi baru. Mulailah saya membuat mindmap rencana proyek kegiatan selama musim panas yang seiring perjalanan diberi nama“Ein 60-Tage-Sommerprojekt”. Saat merencanakan proyek ini, kami jadi banyak berdiskusi sekeluarga dan menyadarkan diri bahwa ada banyak hal dan tempat di kota Wina yang belum kami eksplorasi. Berikut mindmap proyek ini :



Target yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proyek ini alhamdulillah tercapai. Saya ingin meningkatkan bonding dengan anak-anak, mengambil jeda dari kegiatan daring yang beruntun, lebih mindfulness daam berkegiatan bersama dan silaturahim luring dengan beberapa pihak yang belum bisa dijalankan saat belum masa liburan. Pasca terlaksananya proyek ini saya merasa memiliki energi positif yang lebih besar karena berhasil menjalankan proyek yang muncul dari hadirnya sebuah tantangan diri.

Dari perjalanan gugus bintang penjelajah saya menemukan bahwasanya sebuah proyek yang didasari oleh kebutuhan belajar diri akan memunculkan energi besar dan menularkan kebahagiaan ke pihak lain. Tak hanya saya, anak-anak dan suami pun merasakan kebahagiaan selama liburan musim panas ini karena menjalankan banyak ragam aktivitas, memperoleh aneka wawasan baru dan banyak mengeksplorasi berbagai tempat. Ini adalah langkah awal dari sebuah gerakan inside out. Jika proyek itu memang gerak ikhtiar kita menjawab tantangan yang sedang dijalani, maka saat menjalankannya pun lelah beriringan dengan rasa bahagia dan mata berbinar. 

Gugus bintang penjelajah membuat saya berkontemplasi. Saat berdiaspora, seringkali saya mendapat tantangan yang berbeda kondisi dengan saat saya tinggal di Indonesia. Maka ternyata, saya cukup berfokus menghadapi tantangan itu saja dengan seoptimal mungkin. Tak perlu berkecil hati dengan  menakar besaran atau luasan dampak yang dimunculkan, itu takkan pernah ada ujungnya. Selama tantangan di depan mata tersolusikan, cukuplah hal tersebut menjadi penentram hati dan pijakan untuk melangkah di proyek berikutnya. 

Untuk semesta karya yang akan dilakukan di tahun 2021, saya ingin menulis sebuah buku solo. Membagikan pengalaman hidup di bumi Eropa ini sehingga menjadi jejak perjalanan yang tak lekang oleh waktu. Adapun bekal potensi diri dan dukungan yang dibutuhkan antara lain manajemen diri yang semakin baik, juga jejaring yang luas dengan pihak editor dan penerbit.

Terima kasih tim Gugus Bintang Penjelajah, dari proses ini saya belajar banyak hal.

Wina, 14 Oktober 2020

Salam Ibu Profesional,

Mesa Dewi Puspita

 

 

Sunday, 4 October 2020

Hal yang Menarik Perhatian selama Proses Pemilihan Walikota Hexagon City

Hmm….belajar apa saja saya di kelas Bunda Produktif pekan ini?

Jika pekan lalu saya sudah membuat rancang rumah produktivitas diri, pekan ini sebenarnya saya masih mengutak-atik desain rumah tersebut dengan aplikasi planner 5d. Ya, durasi belajar pekan lalu baru cukup saya gunakan untuk memikirkan ruangan-ruangan apa saja yang benar-benar saya butuhkan untuk rumah selama berada di Hexagon City, bertemu dengan para tetangga di Co-House  dan menyepakati siapa yang menjadi Co-House leader.  Cerita detail tentang proses tersebut saya tuliskan di jurnal pekan lalu disini.

Pembelajaran pekan ini masih dalam cakupan teman Membangun Struktur Organisasi Kota (2). Jadi di hari Rabu lalu, pada jadwal live kami menyimak pemaparan dari enam calon Wali Kota terpilih. Sayangnya saya tak bisa mengikuti jadwal live tepat waktu di jam 20.00 WIB atau 15.00 CEST karena jamnya bentrok dengan jam keluar rumah untuk menjemput sekolah si sulung. Saya mencoba menyimak live tersebut di malam hari dengan terpotong-potong.

Sesi live hari Rabu baru saya alokasikan untuk disimak di hari Jum’at karena di hari Rabu dan Kamis saya memiliki keterbatasan dalam pengalokasian waktu. Kalau boleh jujur, di level kursus bahasa Jerman saat ini saya merasa memiliki tantangan yang lebih besar daripada level sebelumnya sehingga usai jam kursus di pagi hari saya perlu mengalokasikan waktu khusus di sore atau malam hari untuk menyicil mengerjakan PR yang diberikan atau belajar mandiri dengan membaca teks atau buku agar ta tetap bisa mengikuti kelas dengan pemahaman yang mencukupi. Menyikapi tantangan di bidang-bidang yang sedang saya pelajari saat ini saya memutuskan untuk mengelola jadwal belajar harian. Pembelajaran kelas Bunda Produktif dan koordinasi intensif terkait amanah sebagai leader HIMA saya alokasikan di hari Jum’at. Namun hal-hal yang bersifat urgent seperti meneruskan informasi seputar teknis perkuliahan dari pusat ke HIMA regional juga mengikuti perkuliahan sesuai jadwal kuliah yang diatur oleh tim pusat, tetap saya upayakan untuk bisa berjalan sesuai timeline tim pusat.

Di rentang waktu Rabu dan Kamis, saya melakukan koordinasi dengan teman-teman di Co-House. Seputar penataan lingkungan bersama, logo hingga pengumpulan foto diri setiap warga. Mba Sari selaku Co-House leader sangat mengayomi setiap warga. Saya sangat mengapresiasi dan terbantu dengan chat pribadi dari beliau yang mengingatkan saya untuk mengumpulkan sesuatu jika saya belum menyimak atau hadir di WAG Co-House.

Beberapa chat pribadi terkait dengan pemilihan Walikota pun masuk. Ada pertanyaan siapa calon Walikota pilihan saya dan jika sama, beliau mengajak saya untuk bergabung sebagai tim sukses. Hati saya menghangat. Ada gerak bersama yang cepat dari para ibu untuk memakmurkan Hexagon City ini. Namun saya belum memiliki kecondongan terhadap pihak mana pun. Dan saya merasa berkewajiban untuk memilih secara objektif berdasar data dan informasi yang para calon paparkan selama kampanye. Dan satu-satunya cara untuk dapat menentukan pilihan adalah dengan menyimak visi misi dan kampanye setiap calon Walikota. Maka saya pun menyatakan ketidakbersediaan saya untuk menjadi tim sukses salah satu calon sebagai langkah objektivitas diri.

Chat lain yang masuk yang masih terkait dengan pemilihan Walikota adalah, ajakan pada Hexagonia regional Efrimenia untuk menyimak kampanye para calon Walikota. Ini tentu erat kaitannya dengan peran saya sebagai ketua HIMA regional Efrimenia yang sekaligus tercatat sebagai warga Hexagon City. Sebelum memutuskan untuk menerima atau menolak, saya merasa tak memiliki kuasa untuk menentukan, karena WAG warga Hexagonia Efrimenia tak lain adalah wadah bersama yang menyangkut kepentingan bersama. Maka saya memilih untuk menanyakan kesediaan teman-teman Hexagonia regional terlebih dahulu. Dan suara yang muncul dari warga adalah mereka memilih menyimak live di grup Facebook saja. Dan saya pun menyampaikan keputusan tersebut pada pihak yang mengajak.

Saat tiba hari Jum’at, hari dimana saya menjadwalkan menyimak sesi live dengan mindfulness, saya menghadapi fakta bahwa saya sudah tertinggal jauh. Bahkan mungkin sangat jauh. Karena ternyata sudah berderet bahan kampanye dari setiap calon Walikota. Baik itu pemaparan visi misi setiap calon, testimoni warga lain seputar sepak terjang calon selama beraksi nyata di Ibu Profesional hingga jadwal kampanye live satu jam untuk setiap calon di hari Jum’at dan Sabtu. Ternyata gerak kampanye sudah berjalan sangat cepat! Pergerakan cepat ini bisa jadi sebuah analogi kecepatan perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Lalu langkah apa yang perlu saya lakukan agar tak tertinggal? Saya memilih untuk membaca visi dan misi setiap calon Walikota dan mendukung semuanya dengan mengapresiasi dalam komentar postingan para calon dan menyimak forum live ARGUMEN di hari Sabtu malam yang menghadirkan keenam calon Walikota.

Proses pemilihan Walikota ini menyadarkan saya akan kesungguhan para Hexagonia dalam menjalankan setiap peran yang diembannya. Bagaimana founding mother menyiapkan paduan berupa playbook  dengan segenap hati. Bagaimana para tim formula merancang sistem pemilihan yang runut, sistematis, adil dan beradab. Bagaimana setiap calon Walikota adalah orang-orang yang visioner, berpengalaman dalam memimpin dan berkilau dengan potensi uniknya masing-masing. Bagaimana tim sukses setiap calon Walikota mencurahkan segenap tenaga, pikiran dan kreativitas untuk menyukseskan ajang pemilihan pemimpin ini. Bagaimana setiap warga tak cukup puas jika hanya sebagai penonton saja sehingga setiap warga sibuk menelaah dan mengapresiasi setiap kampanye dari siapapun calon Walikotanya. Ada mimpi yang dititipkan setiap warga untuk setiap calon Walikota terpilih. Ada tujuan bersama yang diperjuangkan. Ada kesungguhan dalam setiap keberjalanan peran.

Fakta unik khas seorang ibu pun terlihat di sepanjang prosesnya. Seorang calon Walikota tampil menyampaikan argumen dengan menyusui putranya. Warga pun mengapresiasi sikap beliau. Bukankah apresiasi dan pengertian adalah respon yang amat berarti bagi perempuan saat berada di kondisi sulit? MasyaAllah. Seorang calon lain berpendapat ditemani putra di sampingnya. Sang anak menyaksikan langsung bagaimana sang ibu unjuk diri menampilkan versi terbaik dirinya. Kelak saat dia dewasa dan tampil di podium, mungkin bayangan momen ini akan otomatis melintas di benaknya.

Dari proses ini, saya menyaksikan teladan dengan jelas, bahwa saat setiap perempuan mengenali diri dan berproses menuju versi terbaik diri, memiliki ruang gerak dan berkolaborasi satu sama lain, maka akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa. Saat setiap perempuan memiliki kepedulian pada perempuan lain, mengakui kekuatan perempuan lain, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama maka kolaborasi akan membuahkan hasil yang lebih dahsyat dan berdampak ketimbang berkompetisi.  

Di hari Ahad, ternyata saya berhalangan menyimak analisa pemilu Hexagon City bersama pak Dodik dan cerita seru di balik layar kampanye bersama tim sukses setiap calon Waikota. Baiklah, bergerak ke jadwal berikutnya saja, menggunakan hak pilih di hari Senin. Di pagi hari saya melakukan cek WAG Ketua HIMA dan mengingatkan teman-teman Bunda Produktif regional untuk menyiapkan ID Card. 

Sore hari usai menuntaskan urusan domestik dan menjemput anak-anak, saya memilih calon Walikota. Dalam formulir, sebelum memilih kami mengisi data diri, seputar alamat e-mail, NIM dan no.ID Card. Kemudian calon pemilih bisa membaca ulang visi dan misi dari setiap calon Walikota untuk meyakinkan diri dalam menentukan pilihan. Selain pilihan enam kandidat, juga tersedia pilihan untuk tidak memilih kandidat siapapun. Ini menarik, artinya tim panitia menghargai dan memberi ruang untuk semua ragam pilihan. Kemudian, disediakan pilihan juga terkait peran yang kami ambil di pemilihan Walikota ini. Saya mengambil posisi sebagai penggembira. Berperan aktif dalam proses pemilihan dengan mengikuti setiap proses, menjalankan amanah sebagai ketua HIMA regional dan terlibat aktif dalam diskusi di Co-House 



Dan syukur Alhamdulillah, terima kasih untuk diri sendiri, yang sudah berhasil menunaikan target pribadi yaitu menuntaskan jurnal pekan ini sebelum akhir pekan berlalu. Semoga kebiasaan baik ini bisa berlanjut di pekan-pekan berikutnya dan mejadi kebiasaan baik baru yang terlatih dalam diri. Semoga Allah seantiasa tuntun dan istiqomahkan langkah ini. Aamin. 



Salam Hexagonia bahagia,

Wina, 4 Oktober 2020