Monday, 27 February 2017

Ada Banyak Orang yang Bisa Menyuapiku, Mi


Hari kedua ini Mica coba awali dengan sounding saat dia jelang bangun tidur pagi. Mica sampaikan padanya kalau kakak bisa makan sendiri, menyiapkan piringnya sendiri dan menghabiskan makanannya tanpa sisa. Bismillah…semoga hari ini dimudahkan. Saat sarapan, agak kaget juga saat tadi akan makan tiba-tiba kakak sampaikan kalau kakak mau mengambil nasi sendiri dari magic com. Kebiasaan yang akhir-akhir ini menghilang  karena adanya pelayanan.

Karena permintaan kakak, maka Mica turunkan magic comnya ke lantai. Kakak ambil piring di rak piring kakak, kemudian mengambil beberapa centong nasi ke piringnya. Kami pun duduk bersila di hadapan meja makan, siap untuk makan bersama

Mica : Kakak, anak yang shalihah dan mandiri, Ummi yakin kakak bisa makan sendiri. Kita sekarang makan bareng-bareng yuk…
Kakak : Tapi kakak maunya disuapi…
Mica : Kenapa? Ini lihat, ummi makan, kakak juga makan. Sama-sama menyuapkan nasi ke mulut. Yuuuuuk…
Kakak : Ngga mau, kakak maunya disuapi
Mica : Kakak, kalau kakak terbiasa disuapi terus, kalau ummi sakit, kakak ngga bisa makan dong?
Kakak : Kalau ummi sakit, kakak disuapi yangti aja…
Mica : Lhooo….kalau yangti lagi pergi jenguk mbah uyut, gimana? Kan jauh dan lama kak?
Kakak : Ya udah, kakak disuapi yangkung aja
Mica : Yangkung kan kerjanya bukan di rumah. Berangkat pagi pulangnya sore
Kakak : Ngga apa-apa, kakak makannya nunggu yangkung pulang aja. Sama om Wildan kan juga bisa.
Mica : ……………………………………………..(terdiam sejenak)

Ya, dia tidak merasa khawatir, karena ada banyak orang yang siap menyiapinya. Satu tidak bisa, masih ada beberapa orang yang lain. Maka, ini pertanda Mica perlu cari strategi lain.

Mica : Iya sih kak, selalu ada yang bisa menyuapi kakak di rumah Yangti ini karena orangnya banyak. Tapi lebih enak kan kak kalau makan bersama. Semuanya makan di meja makan ini… Seru kak. Nanti bisa dilihat, siapa yang duluan menghabiskan makanannya.

Lalu Mica ambil lauk dan sayur lalu menawarkan hal yang sama ke kakak. Mengajak kakak untuk memilih mana yang disukai. Kemudian meminta kakak melafalkan doa sebelum makan. Daaaan, mulailah Mica makan. Perlahan, kakak mulai menyentuh piring nasinya. Sembari berceloteh kecil, “Ini apa, Mi? Koq tahunya pedas ya Mi?Tapi Ummi ngga kepedesan?Kakak juga mau Mi, kalau kepedesan kakak minum ya.”

Geli melihatnya makan. Tahu terus saja digigitnya dengan mimik menahan pedas. Setelah beberapa suap, kakak bilang kakak kenyang. Nasi masih belum habis, lauk juga masih ada, tapi kakak bilang sudah kenyang. Mica menahan diri untuk melajutkan proses makan kakak dengan menyuapinya. Meski seandainya Mica menyuapi, kemungkinan besar kakak masih mau makan kembali. Tapi Mica berusaha konsisten memandu kemandirian makan kakak. Di awal Mica sampaikan tidak akan menyuapinya, maka Mica bulatkan tekad untuk tidak melakukannya selama proses. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan ini.

#griyariset
#hari2
#tantangan10hari
#kemandiriananak
#bundasayang
#institutibuprofesional


Karena Karbohidrat Tak Harus Nasi



Nak, Ummi tidak ingin kau makan dengan terpaksa. Maka, saat sarapan tadi kau menolak untuk menyantap nasi yang sudah terhidang, ummipun membiarkan. Hingga hari semakin siang dan kau pun tak kunjung menyentuh nasi di piring. Ummi menanti dengan mawas hati.

Hingga kemudian ada penjual roti yang suara belnya sudah akrab di telingamu sejak kita masih tinggal di Bandung. Dan kau pun meminta untuk membelinya. Setelah roti berada dalam genggamanmu, kau menyantap dengan lahap. Dua potong besar kau habiskan. Ummi pun sedikit tersenyum lega.

Di lain waktu, kakak juga lebih melirik kolak pisang dibanding piring makan yang terhidang di meja. Mica pun membolehkan. Kakak bebas menentukan mana yang dikonsumsi terlebih dahulu.
Asupan karbohidrat memang telah terpenuhi di porsi itu, tapi belum merupakan gizi seimbang. Tapi kakak sudah menolak jika ditawari menu makanan yang lain. Bagi kakak, tak mudah mengidentifikasi rasa lapar. Kakak baru mengatakannya jika sudah merasa sangat lapar. Sebelum itu, kakak belum bisa merasakannya dan terlarut dengan aktivitas bermainnya. Ini masih menjadi tantangan yang harus Mica pecahkan.

#hari3


Sunday, 26 February 2017

Yuk Nak, Kita Biasakan Lagi


Makan sendiri bukanlah kebiasaan baru untuk kakak.  Saat dulu tinggal masih hanya bertiga saja di Bandung, kakak sudah terbiasa untuk makan sendiri. Memang, belum sepenuhnya. Namun dia bisa melalui sesi makan dengan memasukkan beberapa suap makanan secara mandiri. Dan biasanya dia akan berhenti menyuap sendiri, saat melihat piring Mica dan Biya sudah kosong. Mungkin dia merasa sesi makannya pun sudah usai. hihihi

Berpindah tempat tinggal ke rumah Yangti Yangkung, membuat kebiasaan menjadi sedikit goyang. Dualisme pola pengasuhan, kehadiran adik, tempat tinggal dan lingkungan yang baru membuat kakak perlu menyesuaikan diri. Dan dalam hal makan, dia pun memilih yang membuatnya nyaman.

Mica : Kakak, makan yuk…
Kakak : Iya nanti, kakak belum lapar Mi
Yangti : Nanti sebentar lagi ya. Makan sama Yangti, Yangti suapi kakak.
Kakak : Iyaaaaa…
Contohnya seperti itu.

Tidak ada siapa yang salah siapa yang benar, karena Mica yakin, dalam pandangan Yangti Yangkungpun, itu merupakan cara terbaik sebagai wujud kasih sayang pada cucunya. Beliau berdua khawatir asupan nutrisi tidak terpenuhi sehingga memilih untuk menyuapi, bermain pesawat-pesawatan, hingga tawaran mendapat hadiah jika makanan habis. Fokusnya adalah yang penting makanan berhasil masuk. Maka, langkah yang Mica upayakan adalah menyamakan FoR (Frame of Reference) dan FoE(Frame of Experience)dengan Yangti dan Yangkung supaya kami makin kompak dan berjalan beriringan dalam membersamai tumbuh kembang kakak adik.

Terkait sesi makan kakak, Mica bertekad untuk memperbaikinya. Memandu kakak untuk siap makan sendiri (lagi). Maka, Mica membuat rumusan sederhana sebagai berikut :

Sasaran pencapaian :
Kakak berhasil makan sendiri dengan bahagia

Strategi :
  • Melibatkannya dalam proses memasak dan mempersiapkan makanan serta mencuci piring kotor
  •  Menjadwalkan jam makan yang teratur setiap harinya
  •  Memposisikan diri sebagai teman makan yang menyenangkan

Hari pertama sudah kami lalui hari ini. Kakak berhasil menghabiskan makanan yang telah disiapkan tanpa sisa. Makan dengan tangan, karena nasinya Mica bentuk bola-bola dan dibalut dengan abon. Belum berhasil makan bersama karena saat jadwal makan tiba dan Mica ajak makan, kakak belum mau menyentuh makanannya. Mica makan sendiri deh. Baru saat bermain, mungkin kakak merasa lapar. Jadi sempat bilang lapar dan tidak menolak saat Mica menyodorkan piring makanannya.

Sebenarnya momen itulah yang Mica tunggu-tunggu. Kakak mengatakan kalau kakak lapar. Karena dengan begitu, itu artinya kakak bisa merasakan alarm di badan kakak. Bahwa kakak sedang lapar dan kakak butuh makan. Tapi yang menjadi PR Mica adalah, bagaimana supaya bioritme kakak berjalan lancar. Merasa lapar pada 3 jam makan ideal. Karena sekarang alarmnya masih baru berbunyi 1 hari sekali saja. Baru berbunyi saat kelaparan hebat sudah melanda. Kalau masih agak-agak lapar saja, kakak berujar masih kenyang dan belum bersedia makan.

Maka, di tantangan 10 hari melatih kemandirian anak ini, Mica akan menjadikan proses belajar makan sendiri dengan bahagia sebagai project pertama. Semoga Allah mudahkan kita ya kak.

Kakak, atas izin Allah, Mica yakin kita bisa membiasakan makan sendiri (lagi) dengan bahagia.

#griyariset
#hari1
#tantangan10hari
#kemandiriananak
#bundasayang
#institutibuprofesional

Wednesday, 15 February 2017

Ummi, Bersabarlah dalam Membersamainya


Ada pelajaran dalam setiap peristiwa, pun kemarin saat membersamai ananda. 
Hari kemarin, kakak memilih untuk bersepeda di luar rumah. Sembari menggendong adik, saya menemani kakak bersepeda. Menyemangati kala kesulitan mengayuh pedal, membantunya melewati jalan yang tidak rata atau memberikan apresiasi saat kakak berhasil menyeberang. Adik tenang dalam buaian. Lambat laun, stok energi saya menipis. Tak sebanding dengan semangat kakak untuk bergerak kesana kemari. Mulailah saya melayangkan negosiasi.

Ummi : Kak, Ummi masuk sebentar ya. Mau taruh adik di kamar.
Kakak : Lho, jangan. Adik temani kakak main sepeda. Sambil digendong Ummi.
Ummi : Tapi sebentar aja ya. Ini panasnya menyengat kak.
Kakak : Lho, kakak maunya main sepeda yang lama
Ummi : Hmm..begini saja ya. Ummi pasang alarm 10 menit, nanti kalau alarmnya berbunyi, kita masuk rumah. Sepakat?
Kakak : Nah, iya. Sepakat Mi.

Bahu sudah pegal-pegal, ingin memintanya main di dalam rumah, ingin meletakkan adik di kasur, ingin segera menuntaskan aktivitas bersepeda ini. Tapi kakak masih sangat antusias. Tiba-tiba, air menitik dari langit.

Ummi : Kak, ada air menetes. Hujan ya. Kakak mau hujan-hujanan atau masuk rumah?
Kakak : Iya, ada air menetes ya Mi. Mau masuk aja, Mi
Ummi : Oke, sekarang sepedanya dikayuh sampai masuk teras rumah ya.

Berkali-kali dia berusaha mengayuh, agak terburu-buru karena air yang menitik semakin banyak. dan akhirnya kami pun berhasil masuk ke teras rumah untuk berteduh. Lalu alarm pun berbunyi. Ya, setelah kami mengakhiri acara bermain sepeda.

MasyaAllah… saya terkesima, masih kaget karena tiba-tiba ada rintik hujan yang menghampiri kami. Dengan kuasa Allah, kesulitan saya teratasi tanpa mengorbankan perasaan kakak. Lalu tersenyum geli mengingat ketidaksabaran saya beberapa menit lalu.

#griyariset
#hari11
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip






Friday, 10 February 2017

Mari Kita Buktikan Intuisimu, Nak



Di rumah yangti, kakak terbiasa mengikuti pengajian majlis ta’lim yang tempatnya tepat di depan rumah. Untuk menuju kesana kami cukup menyeberang saja. Dan untuk melihat pengajian berjalan sesuai jadwal atau libur, cukup melihat tanda pintu samping terbuka atau tidak. 

Sore tadi, tidak ada jadwal pengajian disana, tapi ada rapat bulanan untuk pengurus majlis ta’lim. Sepulang sholat jamaah Ashar, kakak melihat ada beberapa motor berjejer parkir di depan rumah depan. Usai melipat mukena, Mica mengajaknya mandi.

Mica : Kak, mandi yuk…mumpung adik masih tidur.
Kakak : Ayo Mi, kakak mau mandi, terus mengaji di rumah depan
Mica : Ada pengajian gitu di rumah depan?
Kakak : Ada, kakak sudah lihat.
Mica : Biasanya kalau ada pengajian, yangti kan selalu ikut. Nah, kita tanya yangti ya, benar atau ngga.
Kakak : (ke yangti) Yangti, di rumah depan ada pengajian ya?
Yangti : Oh, ngga. Di rumah depan itu sedang ada rapat ibu-ibu. Nih buktinya yangti ngga ikut. Kalau pengajian kan yangti ikut.
Kakak : Ada yangti, ada ummi… Pintunya dibuka koq Mi. Tuh, ayo lihat. Benar kan?
Mica : Oh, iya, pintunya terbuka. Di aula itu bisa ada bermacam-macam acara kak. Bisa pengajian, bisa rapat, bisa ada pertemuan. Nanti kita tanya ya, ada pengajian atau ngga.
Kakak : iya Mi, tapi beneran ada.

(Lalu bergegas mandi. Seusai mandi, kakak memakai baju dengan rapi, membawa tas yang sudah diisi susu UHT, serta membawa boneka dalam gendongan)

Mica : Kakak, sudah siap?
Kakak : Sudah, ayo berangkat Mi.

Ummi menggaruk kepala yang tidak gatal. Emm…sebenarnya di rumah depan tidak ada pengajian. Tapiii…ummi tidak ingin mengabaikan rasa penasaranmu, Nak. Biarlah ummi pikir bagaimana caranya supaya engkau paham tanpa masuk ke ruang tempat rapat.

Kami pun berangkat. Ummi, kakak dan adik, lengkap dengan bawaan masing-masing. Ummi menggendong adik dan membawa tas selempang. Kakak menggendong boneka dengan gendongan dan tas ransel di punggung.
Begitu memasuki pagar rumah depan, alhamdulillah beberapa ibu sedang turun tangga dan menghampiri kami.

Ibu-ibu : Kakak, mau kemana?
Mica : Iya, mau kesini. Kakak lihat pintu samping terbuka, tandanya ada pengajian di aula. Nah, sekarang tanya ke ibu, di atas ada pengajian bu?
Ibu -ibu : Ooo…kakak mau ikut pengajian? Iya, ngga ada. Di atas itu ada rapat ibu-ibu. Ini tadi ibu dapat kue. Kuenya buat kakak ya.
Kakak : (terdiam kemudian memastikan) Jadi ngga ada pengajian ya Mi?
Mica : Iya, ngga ada, Shalihah. Besok kalau ada, kita ikut ya insyaAllah.
Kakak : iya Mi (sembari mengangguk mantap)

Hal menarik yang didapatkan dalam komunikasi hari ini adalah saya merasa malu melihat semangat belajar anak-anak yang begitu besar. Tak ada rasa malas, justru antusias dan bersemangat untuk mengikuti forum belajar, sekalipun itu pengajian ibu-ibu. Ya, pengajian ibu-ibu itu kan hening dan serius menyimak ya. Bukan acara bermain khas anak-anak. Tapi ternyata mereka suka dan bersemangat mengikuti.

Perubahan yang dibuat hari ini dalam berkomunikasi adalah tidak cepat menghilangkan rasa penasaran anak. Bisa saja saat anak mengira ada pengajian, saya segera memberi jawaban bahwa tidak ada. Tidak perlu repot menjelaskan, tidak perlu bersiap diri memakai pakaian lengkap untuk keluar rumah, tidak perlu mempersiapkan tas dan menggendong adik. 

Tapi saya sadar, jika saya melakukannya, maka saya akan memangkas intellectual curiositynya, tidak mengindahkan intuisi anak dan menghilangkan kepercayaan dirinya. Maka, dengan saya sedikit bersabar untuk memfasilitasinya, kakak bisa belajar :
  • Cara membuktikan intuisi diri. Harapannya, dengan ini dia akan bisa menilai sesuatu dengan objektif, mengedepankan logika dan nalar. Tidak mengikuti intuisi pribadi yang tanpa disertai pembuktian.
  • Menerima pendapat orang lain. Dalam kejadian tadi, terbukti bahwa pendapat orang lain adalah benar. Harapannya, dengan kejadian tadi kakak dapat mengolah pikiran dan memahami pentingnya mendengarkan pendapat orang lain untuk memperkaya pandangan. Terkait siapa yang lebih tepat, itu bisa dibuktikan bersama-sama.

#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Thursday, 9 February 2017

Cancel Cancel Go Away

Hijrah ke lingkungan yang berbeda tentu membuat diri menyesuaikan diri. Terbiasa berada di lingkungan kondusif untuk belajar dan berdiskusi, membuat Ummica merasa kehilangan saat di lingkungan baru belum ada forum belajar serupa.

Saat bertemu dengan orang-orang yang menanyakan aktivitas, saat Ummi menjawab, “mendidik anak dan menulis.”, tanggapannya adalah “oh, berarti di rumah saja ya.”. Mica pun meringis.

Sempat terbawa arus perasaan menjadi sedih dan merasa powerless. Tapi alarm diri berbunyi, Mica merasa itu tidak tepat. Anggap saja Mica sedang bertemu Mr. Loose Loose. Yang harus dihadapi dengan jurus cancel-cancel go away.  Kalimat-kalimat negatif yang diterima, diubah menjadi energi untuk bersiap melompat lebih tinggi. Karena pikiran mempengaruhi segalanya. Mica pun menguatkan tekad untuk semakin bersungguh-sungguh menjalankan Pendidikan Keluarga (Home Education) untuk kakak dan adik.

Maka, Mica putuskan untuk fokus dan terus bergerak. Beberapa bulan lalu Mica mencoba menginisiasi komunitas ibu pembelajar, mengajak teman-teman sekolah dan tetangga, dan alhamdulillah pertemuan diskusi bisa berjalan tiap bulan. Mengikuti lomba dongeng berkolaborasi dengan kakak untuk memfasilitasi potensi ambassador-nya, dan mengisi kegiatan anak  suatu yayasan.

Hingga siang tadi, saat mengobrol dengan seorang ibu muda dalam suatu kegiatan, beliau bertanya, “Mica dulu sebelum disini aktivitasnya mengajar ya?”. Saya menjawab mantap, “Iya, mengajar kakak, dan menulis.”

Entah mengapa, saat itu Mica merasa ada angin sepoi-sepoi yang menyejukkan hati. Mica artikan pertanyaan itu sebagai bentuk apresiasi lingkungan. Dan semakin meyakinkan diri, membersamai pendidikan keluarga dengan penuh kesungguhan dan totalitas, akan mengantarkan rezeki yang tak disangka dariNya

#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Perhatian dan Pengertian

Sejak family forum tanggal 1 Februari 2017 lalu, Abiya selalu berusaha menghubungi Ummica kala istirahat siang maupun ba’da Isya’. Tidak setiap saat jadwal kami berpadu. Kadang saat tengah hari, Mica masih membersamai anak-anak, atau saat malam hari, Biya masih lembur kerja.

Biya : Assalamu’alaykum wr wb
Mica : Wa’alaykumsalam wr wb
Biya : Ummi lagi apa? Bisa diskusi?
Mica : Harus sekarang? Kalau ditunda dulu bisa? Jam 2 gitu, Bi. Sekarang masih menemani kakak makan.
Biya : Oke, bisa. Ngga masalah.

Kami berusaha menerapkan kaidah Clear and Clarify. Biya menanyakan dulu keluangan waktu Mica, dan Mica menanyakan dulu apakah diskusi tersebut bisa ditunda atau tidak.
Bagaimana komunikasi kami sebelumnya?

Saya sulit mengeluarkan isi hati dan keinginan. Contohnya begini,

Biya : Assalamu’alaykum wr wb
Mica : Wa’alaykumsalam wr wb
Biya : Ummi lagi apa?
Mica : Tidur (jawaban yang muncul karena merasa disindir oleh Biya, sembari nggrundel mbatin, “Masa’ Abi ngga paham, ya pasti di rumah lagi ngurus anak-anak, lagi beresin rumah”)

Hahaha...belakangan saya menertawakan diri saya sendiri. Betapa kesensitifan perasaan saya itu membuat komunikasi keluarga menjadi kurang produktif. Kami pun merasa ada ketidakberesan terkait hal ini. Kami adalah dua orang yang sama-sama dewasa, yang mana idealnya mengedepankan nalar dan logika saat berbicara, bukan perasaan. Maka, saya putuskan untuk mengubah diri, mengutarakan isi hati dan pikiran, agar Biya dapat memahami dan merespon dengan tepat.

#hari8
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


Ummi, Turunkan Egomu

Suatu tantangan tersendiri bagi Mica, kala pekerjaan domestik sedang menumpuk, dan kakak meminta perhatian khusus. Seperti siang ini, saat Mica sedang mencuci perkakas dapur usai memasak, kakak yang sedang ada di meja makan, meminta untuk diambilkan piring. Sebenarnya kakak bisa dan biasa mengambilnya sendiri, tapi kali ini memilih untuk diambilkan.

Kakak : Ummi, mau kedelai edamame (sudah ada di atas meja)
Mica :  Boleh, kakak ambil piring untuk tempat kulitnya ya
Kakak : Ngga mau, ummi aja yang mengambil
Mica : Kakak, kakak bisa. Ayo, ambil sendiri
Kakak : Ngga, ummi ajaaaaaaa (mulai menggunakan nada tinggi)
Mica : Kakak, kakak sudah bisa jalan, bisa berjalan kan? Ayo, ambil sendiri (kekeuh tidak mau mengambilkan dan hati mulai terasa kesal memanas)
Kakak : Ngga mauuuuu, mau diambilkan ummi aja (nada tinggi maksimal :D)
Mica : (menahan gemas sambil mencuci panci, rasa-rasanya ingin menggigit panci. Tetap tidak mengambilkan tapi mendatangi kakak, dan melihat beberapa barang milik kakak tidak berada di tempatnya) Kakak, ini jilbab kakak koq disini? Segala sesuatu ada tempatnya. Kalau tidak berada di tempatnya berarti ditaruh di tempat sampah, kan?
Kakak : Jangaaaan…. (berderai air mata)
Mica : (mencoba mengalah, mengambilkan piring) Ini piring kakak. Maaf ya kak. Ummi percaya kakak anak mandiri (pasang senyum semanis kurma lalu memeluknya)

Tangis kakak mereda. Ummi pun kembali ke dapur. Tak lama, kakak terlihat beranjak dari kursinya, mengembalikan barang-barang miliknya ke tempatnya. Lalu datang ke tempat sampah dapur, membuang kulit edamame dan meletakkan piring ke tempat cuci piring.

Meleleh hati ummi. Betapa penting bagi Mica sedikit menurunkan ego untuk melihat perilaku kooperatifmu, Kak. Terimakasih kakak.

#hari7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Siap Menerima Resiko?

Usai sholat Isya’, kakak terlihat sudah mengantuk.
Ummi : Kakak sudah mengantuk?
Kakak : Iyaaaa….ngantuk Mi, mau tidur
Ummi : Boleh…Yuk., gosok gigi dulu
Kakak : Ngga mau, kakak mau tidur…
Ummi : Boleh… Kak, kakak ingat cerita yang di buku kakak? Yang Maura makan coklat itu. Habis makan, gula-gula makanan itu menempel di gigi dan merusak gigi. Kakak siap menerima resiko? Siap giginya bolong?
Kakak : Ngga Miiiii… kakak mau gosok gigi sekarang
Ummi : Boleh, yuk. Mau digosokin Ummi atau sendiri?
Kakak : Sendiri aja.
Ummi : Oke, Ummi gosok gigi juga ya. Kita sama-sama. Ummi juga ngga mau giginya bolong
(Lalu kakak dan ummi beranjak ke kamar mandi dan menggosok gigi)
Kakak : Sudah Mi
Ummi : Oke. Kakak, Ummi boleh periksa kebersihannya?
Kakak : Buat apa?
Ummi : Siapa tahu ada yang belum kena gosok, kakak belum menjangkau.
Kakak : Iya, boleh.
(Gosok gigi pun selesai, kami menuju kamar tidur)
Ummi : Udah bersih dan segar ya kak. Kita sama.
Kakak  : Iya Mi. Kalau giginya ngga bolong, waktu periksa ke dokter gigi ngga ditambal ya Mi giginya? Malah dikasih hadiah?
Ummi : Iya, insyaAllah :D (sepertinya perlu menyiapkan hadiah kalau akan ke dokter gigi, hihi)

Family forum kali ini menjelang tidur. Dari kakak, Ummi belajar untuk menaklukkan rasa malas. Ternyata fitrah belajar anak begitu hebat. Meski mengantuk sekalipun, saat disampaikan pembelajaran yang masuk dalam logika mereka, mereka akan bergerak.

Dalam komunikasi kali ini, Ummi berupaya untuk mengenalkan resiko, alih-alih menggunakan kalimat perintah lebih baik mengajaknya untuk berpikir logika, sebab akibat dan menganalisa. Meminta izin saat akan memberikan perlakuan pada anak, untuk menghargai diri anak sebagai pribadi utuh. Mengajarkan dengan contoh, bukan hanya memerintah.

#hari6
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

  

Dialog Hati

Adik, kali ini Mica ingin berterimakasih padamu. Atas pengertian yang kau wujudkan dalam sikapmu. Mica jadi teringat saat berdiskusi dengan om. Om bertanya sebab dari kecemburuan kakak padamu. Diskusi pun mengalir. Kala itu Mica sampaikan bahwa kakak sebagai anak pertama memiliki “standar perhatian orangtua” yang tinggi. Karena orangtua selalu membersamai segala aktivitasnya. Sedangkan adik sebagai anak kedua, “standar perhatian orangtua” lebih rendah, karena sedari lahir, perhatian orangtua sudah terbagi, untuknya dan untuk sang kakak.

Maka saat Mica harus membersamai kakak yang sedang beradaptasi menyambut adik, Mica meminta pengertian padamu untuk bermain mandiri setelah disusui dan tidur dengan nyenyak setelah kenyang. Dan adik benar-benar melakukannya. Pun pagi tadi, saat hanya ada Mica, kakak dan adik di rumah, serta n akan ada diskusi parenting di rumah. Mica mengkondisikan alur acara agar seandainya nanti adik butuh digendong dan kakak butuh perhatian, acara tetap dapat berjalan dengan baik. Adik pun Mica kondisikan dalam keadaan kenyang sebelum terlelap tidur. Alhamdulillah, sepanjang diskusi berlangsung adik anteng di atas kasur kamar. Kakak bermain bebas bersama teman-teman. Sehingga diskusi bisa Mica ikuti dengan penuh.

Hari ini Mica belajar berkomunikasi produktif dengan bayi melalui adik. Meski belum berbicara, adik bisa berkomunikasi dan menangkap harapan Mica.

#hari5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip



Tuesday, 7 February 2017

Membuat Checklist Kontrol Kalimat

Hari ini di kelas Bunda Sayang ada semacam camilan pagi, tentang 12 Gaya Populer Penghambat Komunikasi. Saat membaca contoh-contohnya, Jlebb… rasa-rasanya masih banyak yang  sering saya lontarkan pada kakak. Baiklah, ketimbang hanya merasa-rasa saja, lebih baik membuat checklist kontrol kalimat untuk 10 hari ke depan J



Dan setelah ada checklist ini apa lantas saya berubah menjadi ibu peri yang tak pernah melontarkan kalimat negatif? Tentu tidak, hehe. Bahkan hari ini saya malah menjadi menyadari bahwa betapa kalimat negatif itu masih terlontar refleks saat melihat perilaku anak. Misalnya,
Sepulang dari masjid, kebiasaan kakak adalah melipat mukena dan sajadah, kemudian meletakkan di rak. Setiap barang ada tempatnya, itu sudah menjadi aturan di keluarga kami.Saat siang tadi saya melihat mukena tercecer di lantai, saya bilang, “Kakak, ini kenapa mukena ada disini? Kalau besok masih ditaruh sembarangan, Ummi buang ke tempat sampah ya…”
Apa yang selanjutnya terjadi?
Kakak segera berlari menghampiri, berucap, “Ngga Miiii…” sembari melipat mukena dan membawanya ke rak.
Tidak ada intonasi tinggi saat saya menyampaikannya. Intonasi rendah dan ekspresi datar. Tapi hari ini alarm diri saya mengingatkan kalau kalimat saya tersebut bernada ancaman. Yang mana bisa diganti dengan kalimat ajakan, “Kakak, kenapa mukenanya disini? Segala sesuatu ada tempatnya dan tempat mukena kakak adalah di….” Saya membiarkan dia menjawab dan melakukannya.

Ya, checklist ini akan menjadi kontrol saya untuk mengidentifikasi kalimat-kalimat yang kurang produktif dan mencari alternatif kalimat penggantinya.

#hari4
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Monday, 6 February 2017

Productive Family Stories di Kala Berjauhan


Sejak berumahtangga, kami nyaris tidak pernah berjauhan kecuali saat awal menikah dan persalinan anak-anak. Dan sekarang adalah momen berjauhan ketiga dalam pernikahan kami. Kami yang terbiasa berdiskusi langsung, membicarakan apa saja dengan bertatap muka, berlatih untuk tetap berkomunikasi produktif meski berjauhan.

Jika saat bersama, gadget menjadi penghalang komunikasi kami, saat berjauhan justru gadget menjadi sahabat kami. Berjauhan, terlalu larut dengan aktivitas masing-masing, seringkali membuat kami lupa untuk saling memberi sapaan pagi atau menanyakan kabar seharian. Dan ini seringkali membuat komunikasi menjadi tidak produktif. Emosi meninggi dan nalar menciut. Terutama bagi perempuan ya, hihi

Dan, hari ini kami membahas hal ini. Saling menurunkan ego masing-masing, tidak sama-sama merasa paling benar dan fokus pada solusi, perubahan apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keproduktifan kami dalam berkomunikasi. Maka kami sepakati :
  •  Menggagas famiy forum bertajuk Productive Family Stories setiap hari pukul 19.00 WIB. Psstt…nama ini dicetuskan oleh pak Kepala Sekolah :D
  • Membuat WhatsApp Group hometeam dengan memasang logo Griya Riset
  • Saling menyapa dan berkirim kabar saat jam istirahat, yaitu pukul 12.30, saaat Abiya beristirahat dan selepas kami pulang dari masjid usai jamaah sholat Dhuhur

Alhamdulillah, hari ini Ummi mengupayakan untuk mengedepankan nalar dan merendahkan ego pribadi. Tidak menuntut tapi menyampaikan uneg-uneg dengan intonasi rendah. Alhamdulillah upaya itu pun berbuah hasil diskusi yang baik. Di akhir, Ummi meminta nasehat dari Abiya untuk lebih memperluas sabar. Dan Abiya mengirimkan surat Hud ayat 10-11 yang mengena banget di hati.




#hari3
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip