Tuesday, 21 July 2020

Ich weiss, wer ich bin und was ich kann : Aliran Rasa Kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional


Bismillahhirrohmanirrohim...
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah yang telah menakdirkan saya untuk sampai di tahap ini, akhir kelas Bunda Cekatan dengan kondisi optimal sekemampuan saya.
Bagi diri saya secara pribadi, sebuah kelulusan adalah akhir dari sebuah proses belajar pada suatu fase dan pijakan untuk mengawali langkah di fase berikutnya. Mencakup keseluruhan aspek, baik dari semangatnya, performanya bahkan hingga konsistensi dalam menjalankannya. Maka, pertanyaan untuk diri ini, pijakan seperti apa yang saya butuhkan untuk melangkah di fase berikutnya? Jawaban dari pertanyaan tersebutlah yang mendasari gerak langkah di fase ini.
Selebrasi : mengucap syukur dan terima kasih, menceritakan proses diri dan menerima umpan balik

Sekalipun terlihat sederhana, jalankan prosesmu dengan penuh kesungguhan. Prinsip inilah yang saya jalankan selama belajar di kelas Bunda Cekatan ini. Saya bertekad untuk mengerjakan setiap tantangan dengan sungguh-sungguh dan menuliskan jurnal dengan lengkap. Mengapa? Karena bagi saya, menjalankan setiap tantangan dengan sungguh-sungguh dan konsisten serta menuliskan jurnal secara lengkap adalah sebuah ikhtiar untuk meraih keberkahan sebuah ilmu dari Allah. Fokus saya cukup pada hal-hal di dalam kontrol internal diri. Perihal Allah akan memberikan karunia berupa pemahaman yang utuh dan runut, perubahan kebiasaan ke arah yang lebih baik, kebermanfaatan yang dirasakan keluarga dan lingkungan sekitar, kesemuanya adalah kuasa Allah. Perjalanan belajar di kelas Bunda Cekatan merupakan sebuah proses perjalanan belajar secara merdeka yang polanya akan bisa diduplikasi untuk perjalanan belajar mandiri ke depan. Maka proses belajar di kelas Bunda Cekatan ibarat proses mempersiapkan master pola untuk jangka panjang. Perlu kesungguhan, kehati-hatian dan keistiqomahan. Karena ini adalah aliran rasa sepanjang kelas Bunda Cekatan, maka saya mencoba flashback perjalanan diri dari awal hingga akhir.

Dimulai dari tahap Telur

Peta Belajar Spesifik selama Kelas Bunda Cekatan
Di tahap Telur ini, saya belajar mengidentifikasi aktivitas yang saya suka dan bisa. Dilanjutkan dengan keterampilan yang ingin dikuasai dan ilmu yang dibutuhkan terkait keterampilan tersebut. Karena bahasannya masih menyeluruh, wajar jika cakupannya luas. Bahasan mulai mengerucut saat di pekan keempat tahap Telur, tugas yang diberikan adalah membuat mindmap atau peta belajar. Saya membuat dua versi peta belajar. Pertama, peta belajar yang kompleks. Kedua, peta belajar yang akan menjadi prioritas belajar selama kelas Bunda Cekatan berlangsung sekitar enam bulan. Peta belajar kedua-lah yang saya jadikan panduan hingga akhir perjalanan. Spesifik, jelas, terukur, dan realistis.



Masuk ke tahap Ulat


Berbagi Tips Belajar Bahasa dengan Mudah dan Menyenangkan
Apa kegiatan seekor Ulat? Yap, makan! Di tahap ini kami mendapat banyak kesempatan untuk makan dan berbagi makanan. Dimulai dari mengidentifikasi rasa lapar di ranah apa, berlanjut berkumpul dengan keluarga yang memiliki kebutuhan belajar di bidang serupa untuk berdiskusi, menjadi perwakilan keluarga bahasa untuk berbagi Tips Belajar Bahasa yang Mudah dan Menyenangkan, hingga bertemu buddy untuk saling menguatkan satu sama lain. Di keluarga Bahasa saya bertemu dengan sesama pembelajar bahasa, namun dengan kebutuhan ragam bahasa yang berbeda. Sekalipun demikian, kami tetap belajar bersama. Proses ini mengajarkan saya untuk siap berbagi dan mendengarkan. Ada waktunya kita berbagi ilmu yang kita miliki, ada kalanya kita menyiapkan telinga untuk menjadi pendengar yang aktif, sekalipun bisa jadi yang disampaikan bukan hal yang ingin kita ketahui saat ini. Belajar toleransi dan empati. Hal ini pun sering kita temui dalam keseharian, bukan?

Selanjutnya ke tahap Kepompong

Aneka buku anak yang menemani saya menjalankan tantangan 30 hari

Setelah kenyang makan beraneka sumber ilmu di tahap Ulat, di tahap ini saya berproses untuk melatih konsistensi dengan mengerjakan tantangan 30 hari dan puasa pekanan. Kegiatan yang saya jalankan untuk tantangan 30 hari adalah membacakan buku anak berbahasa Jerman satu buku satu hari, mengkombinasikan pemenuhan kebutuhan peran Home Educator dan target belajar bahasa Jerman. Sedangkan untuk puasa, saya mengambil puasa manajemen emosi dan manajemen gawai. Dua hal yang jika berhasil dilatihkan dalam diri akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses belajar bahasa Jerman yang sedang ditargetkan untuk dicapai.

Sekarang, tahap terakhir, Kupu-Kupu!

Proyek Bunda Cekatan : Mama lernt Deutsch

Di tahap ini saya belajar hal baru, yaitu Facebook Mentorship Program. Kejutan dan tantangan! Karena metode ini merupakan hal baru bagi saya, maka di awal tahap Kupu-Kupu saya merasa waktu yang disediakan terlampau singkat untuk memenuhi target belajar pekan pertama yang ditugaskan. Saya sempat memberi masukan ke depan pada tim Institut untuk memperpanjang durasi proses di pekan pertama tahap Kupu-Kupu ini. Di pekan kedua, saya berinteraksi dengan mentor. Namun justru di bidang yang tidak sesuai peta belajar karena saya tidak menemukan mentor belajar bahasa Jerman. Diskusi dengan mentor berjalan seru, saya pun menikmati belajar hal baru, yaitu Beauty from Heart. Hingga di pekan ketiga saya menemukan mentor bahasa Jerman dan membuat saya mengambil langkah ekstrim berupa berganti mentor. Namun alhamdulillah proses pergantian mentor ini bisa berjalan lancar dan terkomunikasikan dengan baik pada setiap pihak yang terkait. Syukur alhamdulillah. Saya pun kembali ontrack menjalankan proyek Mama lernt Deutsch di program Mentorship ini. 

Sedangkan sebagai mentor saya mengajukan diri sebagai mentor bidang Adaptif ala Ibu Rantau. Sebuah bidang yang amat spesifik namun memang sedang saya geluti dan sungguhi selama tiga tahun belakangan ini. 

Mengapa menjalankan proyek Mama lernt Deutsch selama kelas Bunda Cekatan?

Proyek Mama lernt Deutsch bukanlah sebuah proses belajar bahasa Jerman pada umumnya. Namun sebuah proses belajar bahasa Jerman oleh seorang ibu yang melibatkan suami dan anak-anak yang kesemuanya berbahagia menjalankan proses tersebut bersama-sama. Saling memberikan dukungan, tanpa mengorbankan kepentingan pihak lain. Tolok ukur keberhasilannya bukan hanya lulus Pruefung B1 OeIF, namun juga keberkahan dan kebermanfaatan ilmu yang dirasakan oleh diri dan keluarga. Karena penguasaan bahasa merupakan pintu pembuka akses ilmu-ilmu berikutnya, peluang bergabung di forum-forum belajar dan membangun jejaring lebih luas lagi. Perjalanan proses belajar di kelas Bunda Cekatan memang tak mudah, apalagi saya mengambil peran juga sebagai Ketua HIMA. Namun syukur alhamdulillah setiap tantangan terlewati dengan menyenangkan. Mengapa? Karena terasa sebagai anak tangga yang semakin mendekatkan diri pada sebuah impian.
Jalan menuntut ilmu memang bukanlah jalan yang mulus tanpa hambatan, bukan pula jalan dataran bahkan turunan yang bisa dilalui dengan santai. Jalan menuntut ilmu adalah jalan mendaki lagi sukar, yang dalam perjalanannya sering kita temui onak duri, bebatuan penghalang langkah, bahkan tanjakan terjal. Namun itulah jalannya para climbers. Yang memilih tak menyerah sekalipun sulit senantiasa terasa. Yang memilih bertahan dan terus melaju meski langkah terengah-engah. Dan itulah yang membuat kita sampai hingga di tahap akhir Kupu-Kupu dan kelas Bunda Cekatan.

Hal baik apa yang sudah berjalan dan menjadi semakin baik selama berproses di kelas Bunda Cekatan?

Bagi diri saya pribadi tentu masih banyak hal yang perlu diperbaiki, masih banyak kebiasaan buruk yang harus direduksi. Namun kali ini saya ingin mencatat hal yang sudah baik dan menjadi semakin baik selama mengikuti kelas Bunda Cekatan. Hal-hal tersebut antara lain :
  1. Belajar untuk lebih runut dan sistematis
  2. Mengadakan selebrasi dengan keluarga. Menyampaikan progress belajar diri di hadapan suami dan anak-anak
  3. Berani mendengarkan feedback dari suami, guru dan teman, termasuk kritik yang membangun
  4. Berlatih menjadi leader yang walk the talk
  5. Praktik meningkatkan keterampilan manajemen waktu dan manajemen emosi

Video Selebrasi Regional, Bukti Kekompakan Sebuah Tim

Mengakhiri proses belajar di kelas Kupu-Kupu, kami membuat sebuah tugas kelompok berupa video selebrasi regional. Kekompakan dan koordinasi kami diuji di sini. Sebagai leader HIMA saya bertekad menjadikan tugas kelompok ini sebagai ruang aktualisasi bakat dan potensi para member hingga tugas akhir ini bisa menjadi tugas bahagia dan membahagiakan dan menguatkan high energy ending. Saya cukup mengawali sesi diskusi dengan pertanyaan dan ide awalan. Tak lama, diskusipun mengalir lancar. Setiap mahasiswi, di jam daring sesuai zona waktu masing-masing memberikan idenya. Ini yang mahal, keberanian untuk mengutarakan ide dan kesediaan untuk terlibat juga saling mendengarkan dengan aktif. Mba Suci sebagai pencetus konsep keren didaulat menjadi pimpinan proyek. Mba Selly yang jago edit video, menawarkan diri untuk mengemas video menjadi sebuah alur cantik. Alhasil jadilah video selebrasi regional yang kental nuansa belajarnya, terlihat keterlibatan setiap anggota keluarganya dan tampak ciri khas regionalnya, yaitu adanya interaksi dengan warga lintas negara.  Video selebrasi bisa disimak melalui tautan berikut :

Saya Mesa Dewi Puspita, saya bersyukur dan bahagia Allah takdirkan untuk bisa menjalankan setiap langkah di kelas Bunda Cekatan. Siap melanjutkan praktik dalam kehidupan dan terus meningkatkan kualitas diri sebagai seorang hamba, perempuan, istri dan ibu.

Salam Ibu Profesional,
Wina, 22 Juli 2020


Lampiran :
Tautan keseluruhan jurnal yang dituliskan sepanjang kelas Bunda Cekatan. 

Tahap Telur

Tahap Ulat

Tahap Kepompong
Aliran Rasa

Tahap Kupu-Kupu
Pekan kedelapan tugas jurnal tidak ada, diganti berupa membuat video selebrasi regional

Tuesday, 7 July 2020

Merayakan Kemajuan dengan Menuliskan Apresiasi untuk Pasangan dan Melukiskan Perasaan Diri


Bismillahhirrohmanirrohim…
Salah satu ciri khas pembelajaran di Ibu Profesional yang saya sukai adalah, adanya kebiasaan untuk saling mengapresiasi dan berkolaborasi satu sama lain. Ini penting, karena sering saya rasakan, perbedaan pendapat antar ibu satu dengan yang lainnya berujung pada kompetisi dan perpecahan.
Saling mengapresiasi itu tidak mudah, karena untuk bisa mengapresiasi orang lain, kita perlu untuk mampu mengapresiasi diri sendiri. Berkolaborasi pun bukan perkara sepele, jauh lebih mudah dan cepat jika bergerak sendiri. Lalu mengapa saling mengapresiasi dan berkolaborasi antar sesama ibu dan perempuan itu penting? Karena sebuah apresiasi identik dengan penerimaan dan penerimaan itu penting bagi seorang perempuan, keberadaan teman yang percaya terhadapnya pun akan menguatkan pijakan diri.  Dan dengan berkolaborasi, sebuah pergerakan akan bisa memiliki dampak yang meluas.
Setelah enam pekan saya menjalankan program Mentorship dengan menjadi mentor dan mentee dalam waktu bersamaan, saya jadi merasakan bagaimana rasanya berada di posisi pasangan saya. Saat saya menyapa mentor, saya bisa merasakan bagaimana perasaan mentor saya menerima sapaan saya. Saat mentee saya menyampaikan banyak pertanyaan beruntun, hingga Video Call pun berdurasi sampai satu jam, saya bisa merasakan antusiasme beliau dalam belajar dan mengulik suatu hal yang sedang ditekuni karena saya merasakan juga bagaimana sensasi berada di posisi mentee. Berikut kemajuan yang saya rasakan dari mentor dan mentee saya.


Untuk masing-masing pasangan saya, saya menyiapkan satu surat. Berikut surat untuk mentee saya, kami belajar bersama seputar Manajemen Waktu ala Ibu Rantau yang merupakan spesifikasi dari program Adaptif ala Ibu Rantau :

Dan berikut adalah surat untuk mentor saya, yang bersama beliau saya mengasah keterampilan berbahasa Jerman :

Surat diatas bisa jadi banyak salahnya. Karena justru di program ini saya belajar dari ketidaksempurnaan. Ada salah tak apa, namun dari kesalahan itu saya belajar memperbaikinya. Saya sangat terbuka jika pembaca sekaliyan berkenan menyampaikan dimana saja letak kesalahan saya sehingga bisa saya perbaiki dan pelajari kembali.
Di pekan pertama dan kedua Mentorship, saya belum mengambil keterampilan bahasa Jerman, saya memilih bidang Beauty Care bersama seorang mentor yang dari beliau saya belajar banyak hal dalam waktu singkat. Karenanya, saya pun membuat surat untuk beliau.

Setelah membuat selebrasi kemajuan dengan menuliskan surat untuk mentor dan mentee, saya mewarnai kupu-kupu yang menggambarkan suasana hati saya selama menjalankan program Mentorship ini. Jujur, di awal saya bingung bagaimana mewarnai kupu-kupu ini. Saya merasa belum menemukan dasar pemilihan warna dan cara mewarnainya. Namun kemudian saya menganalogikan bahwa setiap garis di sayap dan badan menunjukkan tahapan perkembangan dalam proses belajar yang saya jalankan selama program ini.

Proses mewarnai kupu-kupu ini membuat saya terdiam sesaat. Melukiskan suasana hati? Suasana hati yang saya rasakan selama program Mentorship ini tentu naik turun. Ada kalanya bingung, ada kalanya antusias, ada kalanya kecewa, ada kalanya bahagia bahkan hectic. Namun rasa itu tak melebur jadi satu, melainkan silih berganti. Maka saya memilih untuk member warna di setiap haris sayap dan badan.
Sayap saya analogikan sebagai fase menjalani proses sebagai mentee. Bagaimana saya bertumbuh dengan berproses mengasah keterampilan bahasa Jerman, yang sejatinya melibatkan semua aspek kehidupan. Bagaimana maksudnya? Poin intinya memang belajar bahasa Jerman, namun untuk bisa memiliki waktu yang cukup untuk belajar dan mengerjakan tugas, saya dilatih untuk menjalankan manajemen waktu. Agar prioritas utama saya ini dipahami oleh para anggota keluarga lain sehingga mereka justru bisa menjadi support system utama di proses ini, saya mendapat kesempatan untuk mempraktikkan komunikasi produktif. Agar apa yang sedang dipelajari ini tak hanya menjadi kesibukan dunia namun juga meraih keberkahanNya, setiap kesulitan materi yang saya rasakan, menjadi momen untuk mengadu dan memohon pada Allah.
Sayap kupu-kupu saya warnai berurutan dari bawah ke atas, saya analogikan sebagai perjalanan yang saya mulai dari pekan pertama hingga nanti pekan kedelapan dan aliran rasa. Di awal program saya merasa bingung bagaimana cara memulainya, saking antusias di awal hingga saya sempat berbelok arah tujuan dengan mengambil bidang keterampilan yang menarik hati padahal tak ada di peta belajar saya. Pekan ketiga pun temaran karena diliputi keresahan. Berlanjut di pekan keempat saya merasa hectic namun antusias karena saya sudah mantap menentukan pilihan untuk berpindah bidang. Artinya saya kembali fokus di prioritas utama yang sudah saya tetapkan sejak tahap telur namun konsekuensi logisnya adalah saya harus bergerak cepat mengejar ketertinggalan. Sejak kembali ke bidang yang sedang digeluti, saya merasa jauh lebih nyaman. Antara kelas Bunda Cekatan dan kursus intensif yang saya lakukan bisa berjalan seiring sejalan. Ya, mungkin kapasitas saya masih harus fokus di satu bidang dulu, belum sanggup bercabang. Namun satu yang spesifik ini saya tekadkan sungguhi sepenuhnya.
Sedangkan untuk badan kupu-kupu, saya warnai seiring dengan proses belajar saya menjadi mentor di program ini. Di awal, dimulai dari bagian bawah, saya masih meraba-raba, bidang apa yang akan saya tawarkan? Kemudian seteah mendapatkan mentee, muncul pertanyaan pada diri, sistem mentorship seperti apa yang akan kami jalankan? Sembari jalan, saya bersyukur hanya memiliki mentor dalam jumlah sedikit. Awalnya dua, namun yang berlanjut hanya satu orang hingga saat ini. Sedangkan yang satunya tidak ada kabar sejak pekan ketiga mentorship. Mungkin sedang ada urusan lain yang mendesak dan diprioritaskan untuk saat ini. Mentee satu yang aktif ini memiliki rasa ingin tahu dan semangat belajar yang tinggi. Jika memungkinkan, beliau selalu ingin diskusi dan konsultasi via Video Call. Karena bidang manajemen waktu juga merupakan bidang yang menjadi concern saya, maka saya merasa mendapatkan teman bertumbuh dan berbagi insight. Akhirnya saya merasa skenario Allah begitu baik. Satu mentee saja namun dengan karakteristik demikian, sesuai dengan kapasitas diri saya sehingga kesempatan mentorship ini pun bisa saya jalankan bersama beliau dengan optimal dan interaktif. Alhamdulillah.  
Bersyukur rasanya Allah sampaikan pada pekan ketujuh di program Mentorship pekan ini. Ada kalanya saya takut melangkah karena harus menjajal hal baru, ada kalanya saya galau karena merasa salah langkah dan harus menentukan sikap untuk langkah berikutnya, ada kalanya konsekuensi yang ditanggung atas sebuah pilihan itu terasa berat dijalankan, ada kalanya juga saya sedih karena merasa kurang optimal dalam berproses. Namun secara keseluruhan, saya merasa bahagia, antusias dan berbinar menjalankan rangkaian proses belajar di program Mentorship ini. Terima kasih pada semua pihak yang sudah menjadi supportsystem, yang memberikan dukungannya, yang memberikan testimoninya, bahkan memberikan kritik dan saran yang membangun. Setiap langkah dalam proses ini tak lain dan tak bukan adalah salah satu cara untuk menggapai ridaNya.

Wina, 7 Juli 2020.