Tuesday, 28 April 2020

Belajar Menakar Kemampuan dan Melatih Konsistensi Diri


Tahap Kepompong ini adalah tahap belajar mengendalikan diri. Terbebas dari hiruk piruk informasi lalu lalang. Terlepas dari riuh ramai suara di sekitar. Menepi dan menyendiri. Menentukan satu keterampilan yang konsisten igin dilatih menjadi sebuah tantangan yang dijalankan selama tiga puluh hari berturut-turut bukanlah perkara mudah. Goals utama dari proses ini tentu melatih konsistensi diri untuk menjalankan suatu hal yang kita butuhkan untuk berproses menjadi cekatan di bidang tertentu. Oke, saya longok lagi peta belajar. Sengaja di peta belajar saya khusus menuliskan Mama lernt Deutsch sebagai proyek prioritas karena keterampilan ini merupakan suatu hal yang memang saya perlukan saat ini dan berpengaruh pada hal lainnya.
Di tahap telur, ada rasa aneh dimana saya justru mengambil bidang bahasa, bukan termasuk bidang yang famous di kalangan peserta Bunda Cekatan kala itu. Namun karena ini merupakan kebutuhan belajar prioritas saat ini, maka saya maju terus. Terlebih kala pak Dodik menyampaikan bahwa fokus pada durasi belajar selam enam bulan kelas Bunda Cekatan. Aha, poin yang saya tangkap, semakin spesifik semakin bagus. Karena akan semakin mudah mengasah keterampilannya.
Di tahap ulat, bidang bahasa terbukti merupakan bidang dengan sedikit peminat. Namun di tahap ini saya mendapat kesempatan untuk bersungguh-sungguh mengumpulkan bahan belajar baik yang didapatkan dari peserta lainnya maupun mencari mandiri di perpustakaan. Saya pun bersiap untuk masuk ke kelas kursus intensif B1 di awal Maret lalu. Namun ternyata baru dua pekan masuk, kami harus belajar mandiri di rumah karena wabah COVID-19. Wah, tantangan baru ini menjelang tahap kepompong. Karena ternyata saya tidak bisa menjalani kursus intensif seperti dua semester sebelumnya. Yang dalam empat hari dalam sepekan saya pergi ke tempat kursus untuk belajar offline selama sekitar tiga jam dan menitipkan Ahsan di Kinderbetreuung.
Kursus intensif sempat jeda tanpa kabar selama beberapa hari. Sampai kemudian guru kami membuatkan WhatsApp Group untuk media penyampaian tugas dan diskusi singkat. Format belajar menjadi mengerjakan soal kemudian dikoreksi oleh guru. Masuk tahap kepompong bersamaan dengan berpindahnya kursus dari offline ke online seolah memberi tantangan pada saya untuk ojo kalah karo wegah. Jadi, tantangan tiga puluh hari apa yang akan saya jalankan dengan situasi di luar dugaan seperti ini?
Tadinya, saya terpikir untuk menjadikan sesi belajar bahasa Jerman secara mandiri di rumah sebagai sebuah aksi tantangan tiga puluh hari. Tapi saya mengurungkan niat tersebut. Terlalu egois dan kurang realistis rasanya untuk kondisi pandemi seperti ini. Suami full bekerja di rumah dan seringkali butuh fokus sehingga perlu mengurung diri di kamar. Anak-anak tentu membutuhkan perhatian khusus di kondisi tidak ideal ini. Saya memikirkan benang merah antara : belajar bahasa Jerman - menjalankan Home Education  - memanfaatkan buku perpustakaan yang sudah kami pinjam dalam jumlah banyak sebelum terjadi pandemi.  Saya merasa belum tuntas membacakan setiap buku karena setiap kali membacakan seringkali terdistraksi dengan kantuk sehingga mencukupkan diri membacakan hingga ke halaman pertengahan saja. Jarang tuntas hingga akhir. Maka bismillah, tantangan yang tercetus adalah
Membacakan buku anak berbahasa Jerman satu buku satu hari selama tiga puluh hari berturut-turut.
Dengan membacakan buku anak, saya bisa belajar kosakata dan susunan kalimat baru setiap harinya. Anak-anak pun terfasilitasi kebutuhan belajarnya dengan dibacakan buku secara rutin. Bahkan mereka menjadi support system yang terus menanyakan kapan sesi membacakan buku itu tiba. Kondisi ini mengingatkan saya pada perkataan pak Dodik di sesi Nge-ZOOM bareng tadi, bahwa yang terpenting dari kita adalah terus bergerak. Nanti saat bergerak, akan datang kejutan dukungan positif dari lingkungan terdekat, dari anak-anak maupun suami, tanpa kita menuntut mereka. MasyaAllah.
Karena fokus utama saya adalah berjalannya Home Education maka indikator keberhasilan yang saya canangkan bukan seputar capaian bahasa Jermannya, namun tingkat fasilitasi saya. Maka muncullah tingkatan badge sebagai berikut :
Need improvement : Jika saya tak sempat membacakan buku atau tak sampai tuntas satu buku.
Satisfactory : Jika saya membacakan buku sampai tuntas namun sembari mengerjakan hal lain.
Very Good : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain.
Excellent : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain dan memfasilitasi rasa penasaran anak dengan sabar.
Di pekan pertama, saya merasa tingkatan ini kurang tepat jika peta belajar saya adalah belajar bahasa Jerman. Saya sempat ingin menggantinya namun setelah berpikir ulang, saya mengurungkan niat tersebut. Setidaknya saya perlu menjalankannya selama tiga puluh hari sehingga saya bisa benar-benar merasakannya.  Tidak hanya sekadar terkena godaan sementara. Dan ternyata benar, sekarang saya merasakan indikator yang saya canangkan di awal sudah cukup sesuai karena dengan tercapainya semakin banyak indikator capaian, secara tidak langsung berpengaruh  positif pada mood anak-anak sehingga kami bisa bekerja sama dan saling mendukung dalam setiap kegiatan, termasuk penulisan jurnal tantangan tiga puluh hari bagi saya.
Untuk menambah bobot kualitas belajar bahasa Jerman dalam pengerjaan tantangan tiga puluh hari, maka saya membuat resume singkat dari setiap buku yang telah saya bacakan. Karena saya menulis tantangan di blog, maka saya rasa aneh jika tulisannya sangat singkat. Nah, resume buku tersebut sekaligus membantu saya untuk menyajikan jurnal yang cukup panjang setiap harinya. Langkah membuat resume ini juga menjadi tolok ukur pemahaman saya atas buku anak yang saya baca. Berapa kosakata baru yang saya serap? Berapa susunan kalimat yang baru saya temui? Tak jarang, materi yang sedang disampaikan di kursus bahasa secara online atau materi grammar yang sedang dibahas, saya temukan contoh kalimatnya di buku anak yang sedang saya bacakan. Ini improvisasi teknis di luar skenario awal namun sangat membantu untuk tetap on track pada peta belajar dengan tetap memfasilitasi salah satu customer utama yaitu anak-anak.

Buku Anak yang Menemani Proses menuju Cekatan
Tantangan tiga puluh hari yang dijalankan bersamaan dengan tantangan puasa, membuat proses belajar menjadi saling menguatkan. Tantangan puasa yang saya jalankan di dua pekan pertama adalah manajemen emosi. Mengapa? Karena ketidakidealan situasi yang terjadi secara tiba-tiba cukup menggoyah kestabilan emosi. Tak ingin berlarut dan berujung konflik maka saya menjadikannya sebagai tantangan puasa. Hasil dari tahap ini, suami memberikan testimoni positif dan apresiasi atas proses ini. Jurnal puasa manajemen emosi bisa disimak di sini dan di sini 
Puasa dilanjutkan di pekan ketiga dan keempat denga topik berbeda, yaitu gadget hours management. Selama pandemi, mendadak banyak hadir kelas online gratis. Makin susah untuk praktik  “menarik tapi tidak tertarik”. Saya sempat terjebak ikut di beberapa kelas online yang sifatnya serondolan atau di luar rencana. Namun kemudian pada akhirnya hanya satu yang saya putuskan sebagai prioritas utama dan saya ikuti dengan penuh kesungguhan hingga akhir. Sedangkan kelas lainnya saya belajar ikhlas untuk melepaskannya. Dalam tantangan ini saya juga menjalankan gadget hours berkesadaran dan mengidentifikasi tantangan yang muncul terkait peran yang diemban dan dijalankan via online. Kemudian merumuskan strategi lanjutannya. Tulisan mengenai tantangan puasa gadget hours management bisa disimak di sini dan di sini
Frame Apresiasi Tantangan Puasa
Karena konsisten itu berat, maka tantangan tiga puluh hari yang saya kerjakan pun cukup sederhana, bisa dikerjakan dalam durasi dua hingga tiga jam per harinya sepaket dengan pengerjaan jurnalnya. Alokasi waktunya cukup (tidak kurang dan tidak berlebihan), prosesnya membahagiakan diri dan anak-anak dan signifikan untuk menjawab tantangan yang sedang dihadapi (butuh belajar bahasa Jerman,perlu memfasilitasi anak-anak dan menghilangkan kebiasaan tak tuntas membacakan buku). Ini poin-poin yang cukup signifikan bagi saya, sebagai tolok ukur sederhana bahwa saya bisa menakar kemampuan pribadi.
Frame Apresiasi Setoran 30 Hari Berturut-turut
Di tahap ini, dengan izin Allah saya berhasil menuntaskan tantangan tiga puluh hari selama berturut-turut dan menyelesaikan empat jurnal puasa. Karena berhasil konsisten tanpa rapel, ada kejutan apresiasi berupa nge-ZOOM bareng pak Dodik dan bu Septi. Saat „lebaran“ tahap kepompong pun ibu dan bapak mengapresiasi setiap peserta dengan pencapaiannya masing-masing. Sangat terasa jargon „apresiasi,bukan evaluasi“ dan „fokus pada hal baik, bukan kekurangan“. Sudah disiapkan badge cantik untuk setiap peserta yang lulus dan lanjut ke tahap kupu-kupu.
Sesi Kejutan ZOOM bersama pak Dodik dan bu Septi

Jika dalam Adversity Quotion (AQ) ada tiga tipe kepribadian, maka saya belajar dan berupaya untuk menjadi seorang Climbers. Maka seusai tahap Kepompong, bulan Ramadan dan bulan Syawal menjadi momen untuk menempa diri selanjutnya. Proyek Mama lernt Deutsch masih terus berjalan dan akan menjadi master untuk proyek-proyek diri berikutnya. Sekian aliran rasa tahap kepompong kali ini.Yuk, optimalkan momen ini sebaik-baiknya menuju pribadi bertaqwa. Aamiin.








Saturday, 25 April 2020

Strategi Lanjutan dalam Menggunakan Gawai untuk Menjaga Keseimbangan Peran


Setelah di pekan ketiga lalu saya menjalankan tantangan puasa belajar sadar dalam menggunakan gawai, saya jadi tahu dan bisa membuat kategori pemakaian gawai saya selama ini. Ini penting bagi saya yang peka perasaan. Biar ngga sering kejebak dengan persepsi, „Rasanya baru sebentar deh buka Facebook-nya“, “koq kayaknya dari tadi aku scrolling doang belum jadi-jadi posting  atau cari informasi“
Nah, di pekan keempat ini, saya merasakan beberapa tantangan setelah menerapkan strategi berkomunikasi yang efektif dan efisien. Dari sana saya merumuskan beberapa strategi lanjutan, antara lain :

Memasukkan kegiatan online di target capaian harian. 
Kegiatan online seringkali dirasa bisa dikerjakan sambil lalu. Terutama jika kegiatannya berupa koordinasi. Tanggungjawab atas peran terkadang memang menuntut untuk membersamai. Dan hal tersebut memang membutuhkan alokasi waktu tersendiri. Maka masukkan jadwal koordinasi dan fasilitasi ke gelondongan waktu harian. Menyisipkannya sebagai kegiatan sambilan justru akan mengganggu kegiatan utama dan berujung dengan ketidakoptimalan hasil bagi kedua kegiatan tersebut (yang utama dan yang sambilan).

Mengukur kapasitas dan cukupkan diri.
Jika gadget hours tidak cukup mengcover pekerjaan online, artinya perlu ada yang dikurangi. Contohnya kemarin saya mengikuti empat kelas online dadakan. Di awal, saya merasa semuanya memanglah hal yang saya butuhkan. Namun saya memiliki waktu yang terbatas. Kesemuanya memiliki sesi-sesi lanjutan. Saya belajar dengan sangat baik di kelas Selfcare. Banyak insight  yang saya dapatkan selama prosesnya, saya pun mengerjakan keseluruhan worksheet dengan tuntas, memperbaiki sesuai dengan tanggapan lalu mengirimkannya kembali, serta berbalas pesan dengan mba Farda selaku narasumber. Namun saya harus ikhlas melepas kelas manajemen waktu, problem solving dan program i-kuttab yang sudah keburu expired sebelum saya optimal mencerna materinya dan menuntaskan setiap tahapannya. Dari sini lagi-lagi saya belajar skala prioritas.

A great leader creates more leaders.
Seorang leader yang sukses adalah seorang leader yang mampu mencetak leaders berikutnya. Bukan mencetak banyak followers. Ini sedang saya bangun. Saya sedang berada di titik mempraktikkan apa yang sudah saya pelajari dan mengajak orang lain untuk berproses bersama-sama dengan saya. Saya mencoba fokus pada proses dengan bergerak dan menggerakkan. Memang, dengan gadget hours yang terbatas, seringkali kita tidak bisa langsung merespon. Namun kalau memang kecepatannya baru bisa demikian, menurut saya tak apa. Dan jika kedekatan emosionalnya sudah terbangun, maka komunikasinya semakin mudah, semacam ada telepati, haha. Di sisi lain, pemahaman setiap orang akan peran yang dijalankan pun merupakan suatu poin penting yang perlu dibangun di awal, karena akan menjadi pondasi seseorang untuk bergerak. Dengan pemahaman yang jelas, seseorang mengetahui kapasitas perannya. Dengan pemahaman konsep yang matang, seseorang akan sadar akan tanggungjawabnya. Bergerak optimal dengan porsi yang ideal. Karena kami juga sedang berproses bersama menjalankan beragam peran (sebagai hamba Allah, istri, ibu, perempuan produktif dan agen perubahan) dan berupaya menjaga keseimbangannya. Gadget hours juga berperan menjaga kewarasan ibu, menghindarkan diri dari sikap berlebihan dalam menggunakan gawai. Saya belajar bergerak sesuai porsi dan kendali.

Demikian catatan puasa pekan keempat ini. Semoga senantiasa Allah jaga setiap langkah prosesnya.


Wednesday, 22 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 30 : Membacakan Buku Anak berjudul "Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule"

MasyaAllah, Allah sampaikan di titik akhir tantangan tiga puluh hari ini. Ya, hari ini adalah hari terakhir menjalankan tantangan tersebut. Semoga Allah mampukan pula untuk menjaganya sebagai sebuah kebiasaan baru. Aamiin. Karena hari ini adalah hari terakhir, maka saya memilih buku spesial untuk dibacakan dan terpilihlah buku “Der kleine Drache Kokosnuss kommt in die Schule”. Apa sisi spesial buku ini dibanding buku-buku yang sebelumnya dibacakan? Yaitu karena buku ini lebih tebal dari biasanya. Terdiri dari 69 halaman yang didominasi oleh tulisan. Untuk membacakan buku ini, butuh effort lebih dari dalam diri saya, untuk melawan keengganan dan pikiran semacam, „koq tebal ya? Lama dong selesainya nanti...“. Nah, ini juga sekaligus mengecek sudah ada peningkatan apa saja dalam diri setelah penempaan tiga puluh hari ini. Kan seharusnya jika prosesnya berjalan benar, maka setelah berjibaku membangun kebiasaan di durasi waktu tersebut, ada kompetensi yang meningkat juga kebahagiaan yang menguatkan diri. 
Maka, kami baca buku ini bersama. Karena buku ini tebal, maka ceritanya pun cukup kompleks. Satu tema mengenai kedatangan ke sekolah, terbagi ke dalam delapan cerita. Dan kesemuanya menarik, karena memuat konflik yang beragam. 
Cerita pertama memaparkan pertemuan Kokosnuss dengan Fressdrache saat Kokosnuss berangkat ke sekolah Naga (Drachen Schule) untuk menghadiri penyambutannya sebagai murid baru. Berlanjut cerita kedua, yang mana Kokosnuss menjalani hari pertamanya di kelas, berkenalan dengan teman-teman yang beraneka ragam, termasuk dengan nama masing-masing yang terdengar asing di telinganya. Dia juga mulai belajar berhitung sederhana
Di cerita ketiga, mulai ada konflik. Saat di hutan, Kokosnuss bertemu dengan monyet dan Fressdrache yang sedang beradu argumen. Berapa dua dan empat? Menurut monyet jawabannya adalah enam sedangkan menurut Fressdrache jawabannya adalah delapan. Kokosnuss menengahi. Dia menjawab, jika dua ditambah empat adalah enam, sedangkan dua dikali empat adalah delapan. Usai kejadian itu, Kokosnuss mengajak Fressdrache untuk bersekolah, namun Fressdrache menolak karena orangtuanya tak mengizinkannya bersekolah. Cerita keempat berisi tentang Kokosnuss yang berkunjung ke rumah Fressdrache. Dia ingin membantu Fressdrache untuk meyakinkan kedua orangtuanya agar membolehkan Fressdrache sekolah. Sayangnya upaya mereka belum berhasil. Bagi orangtua Fressdrache terutama sang ayah, sekolah bukanlah hal penting. Namun mereka bersepakat untuk mencobanya di lain waktu. 
Di cerita keempat, Fressdrache mencoba untuk masuk sekolah. Dia belajar membaca, berhitung, juga berenang! Cerita kelima menceritakan kesedihan Fressdrache karena tidak bisa mengikuti kegiatan piknik sekolah yang akan berlangsung dua hari dua malam. Dika tidak pulang ke rumah, orangtua bisa marah. Di cerita keenam, Fressdrache menyaksikan rombongan kelasnya yang akan berangkat piknik ke Pulau Kura-Kura. Kemudian tiba-tiba ada barang berharga yang jatuh ke bawah laut, dan Fressdrache menyelam mengambilnya. Kedua orangtuanya ternyata berada di sana juga, dan menyaksikan kejadian itu, mereka berdua terkaget mengetahui anaknya bisa berenang.
Cerita keenam menceritakan keharuan orangtua Fressdrache karena menyaksikan anaknya terampil berenang, mematahkan pendapat pada umumnya bahwa jika terjun ke air mereka akan tenggelam. Akhirnya mereka pun mengizinkan Fressdrache untuk sekolah dan turut berpiknik di Pulau Kura-kura. Konflik pun usai dan di cerita kedelapan, sampailah rombongan di tempat tujuan, menyapa kura-kura yang mengantuk dan mendirikan tenda lalu makan bersama. Kemudian beristirahat karena hari sudah larut. 

Konflik yang dipaparkan di buku ini terlihat sederhana, namun dekat dengan keseharian anak-anak. Ada juga celetukan khas anak-anak seperti misalnya saat Kokosnuss dibangunkan orangtuanya di pagi hari dengan kalimat, 
„Ayo bangun, ini hari besar untukmu?“
sembari mengucek mata Kokosnuss menjawab,
„Apa itu hari besar? Apakah juga ada hari kecil?“
Polos banget khas bocah! Hihihi.

Dari buku ini saya belajar membuat kalimat langsung dalam tulisan. Yang mana itu jarang saya temui di buku-buku sebelumnya. Banyak kalimat spontan dengan letak yang tak biasanya. Dan ini hal baru juga untuk saya terkait alternatif penyusunan kalimat. Alhamdulillah, tantangan tiga puluh hari tertunaikan selama 30 hari berturut-turut. Baik menjalankan prosesnya maupun menuliskan setorannya. Menjaga komitmen dan konsistensi sungguh tak mudah, namun Allah memudahkan saya untuk bisa memenuhinya dalam tantangan ini. Semua atas kemudahan Allah. Semoga penempaan ini melatih mental saya untuk menjadi pribadi yang semakin baik dan meningkat kualitas takwanya dari hari ke hari. Marhaban ya Ramadan.  

Tuesday, 21 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 29 : Membacakan Buku Anak berjudul “Papperlapapp zum Thema Farben”


Wah, kurang dua hari lagiiii! MasyaAllah... semoga semangat dan konsistensi untuk rutin membacakan buku anak-anak bisa terus teraplikasikan. Buku yang kami baca hari ini masih dari Papperlapapp dengan tema spesifik seputar warna. Ada dua cerita di dalamnya. Cerita pertama berjudul „Frau Grau und Herr Kunterbunt“ yang bercerita tentang kehidupan dua orang, yaitu Tuan Kunterbunt (warna-warni) dan Nyonya Abu-Abu. Herr Kunterbunt tinggal di sebuh rumah yang penuh warna. Isi rumahnya pun penuh warna dan pembawaannya ceria. Herr Kunterbunt memiliki tetangga yang bernama Frau Grau. Seperti namanya, Frau Grau memakai pakaian abu-abu. Rumahnya pun abu-abu. Tanpa pernah bertemu langsung, Herr Kunterbunt menganggap bahwa Frau Grau adalah seorang yang aneh, karena semua yang ia miliki berwarna abu-abu. Beragam asumsi berkelebat. Apakah ia tak mengenal warna lain? Bukanlah banyak warna cerah yang bisa dipilih? Apakah dia sedih atau kesepian? Hingga kemudian sebuah surat beramplop abu-abu datang ke Herr Kunterbunt, dari Frau Grau. Aha, sebuah surat undangan. Herr Kunterbunt menyiapkan hadiah untuk dibawa memenuhi undangan. Dia merasa kuas dan cat aneka warna adalah hadiah yang tepat. Menjelang sampai ke rumah Frau Grau, Frau Grau menyambut dengan ramah dari kejauhan. Dan betapa kagetnya Herr Kunterbunt, bahwa ternyata isi rumah Frau Grau amat kaya warna. Ternyata alasan Frau Grau memilih cat rumah luar berwarna abu-abu adalah karena ia sudah dikenal sebagai Nyonya Abu-Abu sejak lama dan ia ingin orang lain mudah menemukan kediamannya karena berciri khas. Pembelajaran dari cerita ini adalah jangan mudah berasumsi, apalagi dengan melihat tampilan luarnya atau secara kasat mata saja.

Sedangkan cerita yang kedua berjudul “Welche Farbe hat der Himmel?“ menceritakan tentang warna langit yang berbeda-beda menurut persepsi masing-masing hewan. Menurut Coati langit  berwarna biru, menurut Capybara langitnya berwarna emas, oranye, pink dan merah. Sedangkan menurut Kelelawar langit itu berwarna biru hitam. Namun langit hari itu tak menampakkan warna sesuai persepsi mereka. Mereka pun mencari langit dengan warna sesuai dengan persepsi mereka. Ada yang menemukannya saat pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari dan juga saat menjungkirbalikkan badannya dari atas ke bawah. Cerita ini sangat kocak. Kami tertawa bersama.
Alhamdulillah sesi ini berjalan lancar. Tinggal satu hari lagi menuju hari kemenangan. Akankah saya menang menaklukkan tantangan ini? Saatnya berkontemplasi.





Monday, 20 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 28 : Membacakan Buku Anak berjudul “Papperlapapp zum Thema Musik”

Hari ini kami melanjutkan membaca buku Papperlapapp. Kali ini tentang tema Musik. Seperti buku sebelumnya, di buku ini ada dua berita yang disajikan. Cerita yang pertama berjudul„Das Mitternachtskonzert“. Membaca judul ini sebenarnya saya langsung membayangkan jalan cerita berupa bunyi hewan-hewan kecil yang bersahut-sahutan di malam hari. Itu mah kondisi di Indonesia banget ya, ada bunyi jangkrik, disusul bunyi tonggeret atau garengpung. Di sini tentu berbeda. Das Mitternachtskonzert yang diceritakan di sini bermula dari dua kakak beradik yang mencoba untuk tidur malam di pekarangan rumah menggunakan tenda. Saat hari sudah larut, mereka membuka perbekalan dan dari wadah makanan itu dihasilkan bunyi-bunyian. Nah, itulah konser tengah malam mereka. Mona dan Kira membunyikan apa yang ada di tangan mereka secara bergantian. Mereka lupa bahwa hari sudah malam, hingga kemudian ayah mereka keluar dari rumah dan mengingatkan mereka untuk melanjutkan permainan di esok hari. Ayah khawatir orang-orang yang sedang tertidur terusik oleh bunyi-bunyian yang dibuat Kira dan Mona. Nasihat Ayah pun dipahami oleh Kira dan Mona. Mereka meletakkan barang-barang yang ada di tangan, kemudian bergegas tidur di dalam tenda berdua. Mona tidak bisa langsung tidur, ia membuka mata beberapa kali karena mendengar bunyi-bunyi yang tak biasa ia dengar. Namun ia abaikan karena hal tersebut bukanlah suatu yang menakutkan. 


Cerita kedua berjudul „Ein Kuss fuer die Kaiserin“, menceritakan tentang masa kecil seorang pemusik terkenal dari Austria, Wolfgang Amadeus Mozart. Suatu hari ia dan keluarganya diundang ke istana Schoenbrunn karena Mozart dan kakaknya, Nannerl piawai bermain piano dan violin. Mereka bermain musik di depan Maria Theresa dan keluarga.

Selain dua cerita diatas, ada juga ide membuat gitar sendiri yang bisa dicoba di rumah, juga ada beberapa lembar aktivitas yang bisa dikerjakan anak-anak. 

Ada beberapa kalimat yang menarik perhatian, karena susunan kalimatnya merupakan hal baru bagi saya, antara lain :
Das Zelt steht zwar nur in ihrem Garten, aber ein Abenteuer ist es trotzdem.
Zur Sicherheit haben wir deshalb auf der Reise noch schnell ein paar seiner Stuecke auswendig gelernt. 
Penggunaan kata penghubung "da" 
Da will sogar ihre grosse Schwester Kira mitmachen.
Juga penggunaan kata „lassen“ 
Ich lasse die Terrasentuer offen.
Membaca buku anak secara perlahan, menemukan kata-kata asing yang belum saya pahami, menjadi sebuah keasyikan tersendiri dalam pengerjaan tantangan 30 hari ini. Dan semoga kebiasaan ini bisa terus berlanjut sekalipun periode tantangan sudah selesai, karena aktivitas ini bisa menjadi salah satu cara belajar bahasa Jerman dengan menyenangkan dan melibatkan anak-anak. Juga semoga pemahaman yang Allah berikan dari proses ini, menjadi sebuah jalan kebermanfaatan yang terjaga niatnya. Aamiin. 

Sunday, 19 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 27 : Membacakan Buku Anak berjudul “Papperlapapp zum Thema Familie”


Setelah buku-buku yang kami pinjam dari perpustakaan nyaris habis kami baca, kami beranjak ke buku Papperlapapp. Buku Papperlapapp ini ada merupakan sebuah buku seri yang mana memuat satu tema spesifik dalam setiap serinya. Setiap tahun terbit empat seri buku. Untuk mengetahui seri apa saja yang sudah ada, bisa dicek di websitenya. https://www.papperlapapp.co.at/hefte/
Buku berseri ini tersedia di perpustakaan. Saya pernah meminjam dua seri diantaranya dari perpustakaan anak di distrik lima belas. Buku ini juga dibagikan gratis di Kindergarten si sulung (entah di semua Kindergarten baik negeri maupun swasta atau tidak) untuk anak-anak yang sudah berada di tahun terakhir di Kindergarten. Selama tahun ajaran ini, sulung mendapatkan tiga buku dengan seri berbeda.

Seri yang kami pilih untuk dibaca bersama hari ini adalah tentang keluarga. Ceritanya lucu euy, melibatkan aspek emosi, ada konfliknya juga. Hihihi. Jadi tokoh utamanya memang anak seusia pembaca, sekitar 5-6 tahun. Apa yang biasanya kita rasakan saat pertemuan keluarga? Buku ini menceritakan tentang Klara, seorang anak kecil yang mengikuti pertemuan keluarga dalam rangka ulangtahun sang kakek dan bertemu dengan keluarga besar dari sang ibu. Klara bertemu dengan tante, om dan para sepupu dan dia mendapatkan tiga pertanyaan serupa dari orang yang berbeda. Bukankah kita pun sering mengalaminya dalam pertemuan keluarga? :D
Kemudian Klara dikejutkan oleh Nina, sepupu yang dekat dengannya, Nina menutup mata Klara dari belakang dan meminta Klara menebak siapa gerangan yang melakukannya. Mereka pun bermain bersama. Tak lama, tante Marlen membawa balon, pulpen dan kartu dan mengajak anak-anak menuliskan harapan untuk sang kakek di kartu-kartu dan mengikatkannya ke balon. Lalu mereka menerbangkan balon bersama-sama. semua keluarga berkumpul dan menerbangkan banyak balon berwarna merah bersama-sama.
Setelah acara selesai, Klara pulang bersama sang ibu. Di kereta, sang ibu memberitahunya bahwa teman ibu membutuhkan bantuan berupa menitipkan anaknya selama beberapa hari di rumah mereka karena dia harus menjalani operasi. Klara awalnya menolak, karena merasa tidak cocok dengan anak tersebut. Namun sang ibu bercerita bahwa temannya tersebut tidak memiliki keluarga lagi. Dan sang ibu, menjelaskan pada Klara bahwa seorang teman juga bisa menjadi keluarga. Yang bisa dekat dan saling menolong saat dibutuhkan.
Cerita kedua seputar seorang anak laki-laki bernama Niko yang kesal pada ibu dan kakak perempuannya. Sangking kesalnya, dia berencana untuk pergi ke Amerika, menyusul ayahnya di sana. Siapa yang di masa kecilnya juga pernah marah pada keluarga lalu berpikir untuk pergi dari rumah? Hahahaha, saya pernah bilang hal tersebut saat kecil dan saya masih mengingatnya. Mungkin orang tua saya kala itu menahan tawa ya. Uniknya, sang ibu membiarkan anaknya melakukan rencana tersebut. Setelah mengajukan banyak pertanyaan pada  Niko, sang ibu menyiapkan dua koper besar dan mengisinya dengan barang-barang perlengkapan yang dibutuhkan Niko. Niko sempat merasa sedih karena akan pergi dari rumah. Saat dilihatnya sang kakak justru tersenyum dan biasa saja, dia kesal. Ah, bukankah kita di masa kecil juga seperti itu? Merajuk untuk mendapat perhatian dan saat dicuekin, merasa kesal. Ini nyambung banget dengan konflik dalam keseharian. Setelah barang-barang siap, sang kakak berkata,”Silakan pergi ke Amerika.” Sembari memperlihatkan sesuatu. Ternyata sang kakak membuat tenda, lalu menuliskan „Amerika“ di atas pintu tenda. Setiap marah dan ingin menjauh dari kaka dan ibunya, Niko bisa masuk ke sana dan berdiam diri di sana. Mereka pun tertawa riang bersama.

Buku ini menyenangkan. Setelah dua cerita dibacakan, juga ada beberapa aktivitas yang bisa dikerjakan bersama, seperti membuat prakarya dan menggambar. Badge Excellent insyaAllah terpenuhi untuk didapatkan hari ini, karena buku ini terbaca tanpa distraksi, hingga tuntas dan cukup memfasilitasi rasa ingin tahu anak, terutama si sulung. Tantangan 30 hari ini banyak memberikan manfaat bagi saya secara pribadi. Karena selain menambah banyak kosakata baru dan lebih teliti lagi dalam memahami sebuah kalimat, saya juga menjadi terpapar oleh beragam jenis buku anak. Syukur alhamdulillah ada cukup banyak buku perpustakaan yang kami pinjam sebelum perpustakaan tutup sementara sehingga kami memiliki cukup amunisi untuk menjalankan tantangan ini. Semangat menjelang tiga hari terakhir! Semoga Allah tuntun senantiasa. 


Saturday, 18 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 26 : Membacakan Buku Anak berjudul “Was ist Fernkaelte?”



Buku ini yang sebenarnya ingin dibaca bersama kemarin, lalu terselip di suatu tempat, dan baru ditemukan kembali hari ini. Ya, masih buku dari Wien Energie. Kali ini membahas mengenai Fernkaelte, sebuah sistem pendingin untuk ruangan massal. Yang menarik, siklus pergerakan air di sini juga melibatkan tempat pengelolaan sampah Spittelau. Sepertinya saya perlu membacanya ulang dengan lebih mendetail untuk lebih memahami sistem ini. Hmm....bahasan baru ini belum saya pahami sepenuhnya, banyak kosa kata yang asing juga. Namun kami coba tuntaskan membacanya.
Sebagai alat bantu kami untuk memahami prinsip Fernkaelte, saya mencari videonya di Youtube, dan menyimak bersama. Videonya bisa diakses di sini ya. 


Karena buku ini cukup singkat, kami menyelesaikannya dengan cepat, beranjut dengan menyimak video penjelasan bersama-sama. Sesi membacakan buku ini sudah masuk hari ke-26 dan hari ini saya menceritakan suatu temuan menarik yang saya rasakan dari pembiasaan hal baru ini pada suami. Jadi sudah dua hari ini anak-anak mau tidur dengan kondisi lampu kamar gelap sepenuhnya. Sebelum-sebelumnya, mereka sangat menolak, apalagi Ahsan. Dia menolak tidur dengan kondisi lampu mati. Namun kemudian di salah satu buku yang kami bacakan di sesi ini, sebuah buku berjudul Stadt (yang kami baca di hari ke-25), salah satu halaman bukunya membahas mengenai situasi malam kota Wina. Dalam deskripsinya, digambarkan bahwa banyak kamar-kamar yang gelap, lampu hampir semua dimatikan pertanda seisi rumah sedang beristirahat. Saat itu, saya melanjutkan bahasan ke manfaat tidur dengan kondisi gelap untuk kesehatan mata. Di malam harinya, alhamdulillah kami bersepakat untuk tidur dengan kondisi gelap sepenuhnya. Ahsan tak menolak lagi. Banyak hal baik yang bisa dibiasakan dengan bantuan buku ya. Saya semakin bahagia membacakan buku anak bersama. Alhamdulillah.





Belajar Sadar dalam Menggunakan Gawai : Seberapa Banyak Gadget Hours Saya?


Setelah 17 hari menjalankan tantangan puasa berupa pengelolaan emosi, di pekan ketiga saya beranjak ke lain hal, yaitu gadget hours.
Setiap orang memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Namun ada orang yang bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk melakukan banyak hal produktif, namun ada juga yang tidak. Urusan manajemen waktu di era saat ini, erat kaitannya dengan manajemen gawai, spesifik pada penggunaan gadget hours. Dalam sebuah video mengenai manajemen waktu seorang muslimah, mba Dewi Nur Aisyah, mengungkapkan bahwa kunci keberhasilan beliau dalam mengelola waktu dan seimbang dalam menjalankan beragam amanah adalah fokus, tidak terjebak dalam media sosial dan mengerjakan suatu hal lebih cepat dari rata-rata kebanyakan orang. Video lengkapnya bisa disimak di sini.

Saya merasa perlu menggunakan jam online saya secara sadar. Kondisi dimana sekeluarga berada di rumah selama 24 jam bersama, tentu berbeda dengan kondisi biasanya. Dan salah satu adaptasi yang harus saya lakukan adalah mengurangi aktivitas di ranah online. Selain itu, setelah saya amati dan rasakan, selama masa pandemi ini muncul banyak sekali godaan. Dibukanya beragam kelas online gratis maupun untuk donasi, digratiskannya aneka kelas belajar menarik yang biasanya berbayar juga ajakan untuk mengisi kuliah WhatsApp atau Telegram. Nah, ajakan berbagi ini saya iya-kan untuk bidang yang memang saya tekuni dan sudah saya praktikkan dalam keseharian. Mengingat ini juga momentum yang tepat untuk saling merangkul dan menguatkan. Saatnya untuk turut bergerak dan berkontribusi sekalipun sedang berada di luar Indonesia. Sedangkan untuk kelas online, karena kemudahan mengakses, di awal pandemi saya sempat ikut beberapa kelas namun justru akhirnya kewalahan dan terpaksa tidak menyimak forum saat jam kuliah. Hiks. Saya tak menerapkan adab menuntut ilmu dengan benar. Astaghfirullah hal’adzim. Maka saat ini saya sedang belajar dari kesalahan. Hanya bergabung di kelas belajar yang sedang saya butuhkan saja dan terbatas hanya satu kelas belajar untuk setiap aspek peran diri.
Maka di pekan ketiga tantangan puasa ini, saya mencoba untuk berlatih menggunakan HP secara sadar. Saya mengunduh aplikasi YourHour, timer penggunaan HP sehingga terekam berapa jam per hari saya menggunakan HP. Dalam pandangan saya, gadget hours adalah sebuah hal personal. Setiap orang tentu memiliki standar masing-masing, sesuai dengan kebutuhan penggunaannya. Berikut hasil dokumentasi saya selama menjalankan tantangan puasa gadget hours :

Selama berlatih sadar dalam menggunakan HP, saya mengidentifikasi kebutuhan saya. Ngapain aja sih saya dengan HP? Jika digolongkan, ada tiga kategori utama, yaitu :
Menggunakan HP untuk memudahkan urusan domestik dan produktivitas
Seperti penggunaan aplikasi Cookpad untuk melihat resep masakan, Leo kamus bahasa Jerman untuk medukung belajar bahasa Jerman, Cardio untuk berolahraga ringan di rumah, ColorNote untuk mencatat hal atau temuan penting, DW Deutsch lernen untuk belajar bahasa Jerman, Boosted untuk timer aktivitas yang ingin dijadikan kebiasaan baru dan YourHour untuk melacak jumlah waktu penggunaan HP
Menggunakan HP untuk berinteraksi dan bersosialisasi
Interaksi yang biasa saya lakukan tentu menggunakan beberapa media sosial, yaitu WhatsApp, Facebook, Instagram, E-Mail . Adapun jenis interaksi yang masuk ke ranah penting adalah silaturahim dengan keluarga dan kerabat apalagi kami menyengaja melakukan Video Call setiap hari dengan keluarga, mengunggah status dan mengomentari status teman pada durasi waktu tertentu dan koordinasi antar pengurus komunitas dan komunikasi personal.  
Mengikuti kelas belajar
Kelas belajar yang saya ikuti sekarang, berbatas seputar apa yang menjadi kebutuhan belajar prioritas terlebih dahulu. Sempat terjebak dengan kemacetan, alhamdulillah diingatkan untuk dapat kembali sadar. Saat ini mengikuti yang menjadi kebutuhan prioritas diri saja terlebih dahulu, yaitu seputar Islam, kuliah Bunda Cekatan, kursus bahasa Jerman dan Pendidikan Keluarga. Cukup itu dulu. Sama seperti masa kuliah dahulu, ada jumlah SKS yang terbatas juga kan? Jika sudah tuntas, bisa dilanjut mengambil mata kuliah berikutnya. Sedangkan untuk tugas yang menyertai setiap kelas belajar, saya mengerjakannya via laptop karena lebih leluasa dan meminimalkan distraksi.

Sejak memakai aplikasi YourHour, muncul pengingat waktu di setiap aplikasi, sehingga saya bisa tahu, sudah berapa lama saya stay di aplikasi tersebut. Ini membantu saya untuk segera tersadar jika saya sedang terlena pada suatu hal, misal scrolling timeline di Facebook atau menyimak video di Youtube yang tujuan awalnya justru untuk mencari inspirasi. Menonton drama korea atau membaca kisah berseri versi digital tidak menjadi sesuatu yang mengganggu waktu saya karena saya tidak pernah melakukannya.

Tantangan terbesar yang terasa adalah bagaimana berkomunikasi dan berkomunitas dengan efektif. Salah satu tantangan berkomunitas dengan kondisi full online dengan zona waktu antar anggota yang berbeda-beda adalah, sering terjadinya kesalahpahaman. Dan sebuah salah paham itu bisa diminimalkan dengan rajin berkomunikasi. Nah, secara sadar saya paham bahwa perlu ada alokasi waktu lebih untuk hal ini, juga untuk saling meningkatkan bonding satu sama lain. Nah, selama sepekan ini saya berupaya untuk berkomunitas dengan efektif. Melakukan strategi berkomunitas yang efektif dan efisien. Hal-hal yang saya upayakan antara lain :

  1. Menyampaikan ide dengan utuh dan runut.
  2. Totalitas dalam menjalankan koordinasi. Menghindari membahas sesuatu sepotong-sepotong.
  3. Fokus pada ranah yang menjadi tanggungjawab diri sepenuhnya.
  4. Bangun kedekatan personal.
  5. Belajar banyak mendengarkan aktif dan mengapresiasi.

Upaya lainnya adalah, memperbanyak proyek keluarga. Belakangan ini, saya juga berupaya untuk menaikkan level pelayanan pada suami dan membersamai anak-anak melalui aktivitas memasak. Jenis masakannya tetap seperti biasanya, namun saya mencoba menata dan menyajikannya dengan cara yang tak biasanya. Apalagi suami berjibaku dengan banyak deadline belakangan ini.





Saya juga mencoba eksperimen membuat tempe, suatu hal yang sudah direncanakan sejak dulu namun selalu tertunda. Ini hasil percobaan kedua dan belum berhasil, wkwk

Membuat kue bersama anak-anak juga menjadi kebiasaan baru selama pandemi COVID-19 ini.



Selain itu, mengerjakan sesuatu hal yang sudah lama tertunda. Ada banyak to do list yang sudah lama menjadi target namun belum tertunaikan. Kini saatnya menjalankannya satu per satu. Salah satunya adalah membereskan dokumen-dokumen penting dan mengklasifikasikannya. Sekalipun ini hal mengasyikkan untuk seorang yang bakat discipline-nya berada di posisi atas seperti saya, toh pekerjaan ini tertunda sejak lama. Dan alhamdulillah, kemudahan dari Allah, target ini terlaksana juga. Lega rasanya. Semoga target-target tertunda lainnya segera bisa tertunaikan juga. Aaamiin.
Melakukan hal baru dan mendokumentasikannya menjadi sebuah cara untuk mengalihkan perhatian untuk mengurangi interaksi dengan HP. Salah satu strategi mengalihkan perhatian dari suatu hal yang mengasyikkan, adalah dengan melakukan hal yang mengasyikkan juga, bukan? Hihihi. 
Tanggung jawab dalam kelas belajar, peran amanah yang diemban dalam sebuah komunitas tentu tetap diemban. Namun porsinya juga tetap harus dibatasi. Agar keseimbangan dengan peran lainnya tetap terjaga. Saya perlu menakar diri sebelum memutuskan terlibat dalam sebuah diskusi atau memilih diam. Tak semua kontribusi berdampak positif. Semua ada takarannya. Saya sedang berlatih untuk bergerak sesuai porsi. Dan berupaya meraih berkah Allah.
Dan sebagai penjaga fokus, saya membuat pengingat diri mengenai lima peran yang harus dijalankan beriringan disertai urutan prioritasnya.
Jika pembaca juga sedang mengalami tantangan yang sama dengan saya, jangan segan untuk saling mengingatkan ya. 



Friday, 17 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 25 : Membacakan Buku Anak berjudul “Stadt mit anderen Augen”

Sebenarnya bukan buku ini yang rencananya ingin kami baca bersama. Tapi justru saat akan dibaca, si buku yang sudah disiapkan entah kemana. Sepertinya saya lupa meletakkannya dimana. Dicari-cari belum ditemukan. Jadilah saya mencari buku lain saja.

Buku berjudul „Stadt mit anderen Augen“ ini berisi sekitar 25 halaman. Menariknya, kota yang dibahas di buku ini adalah kota Wina, sehingga lekat dengan keseharian anak-anak. Setiap lembar menjelaskan satu situasi, sehingga ada dua belas situasi yang dipaparkan di buku tersebut, yaitu :
die Stadt
Dari atas menara gereja, pemandangan menyeluruh kota bisa terlihat.Terlihat seluruh bangunan yang mengisi kota. Mulai dari bangunan tua yang biasa terletak di dekat gereja.
auf dem Markt
Pasar selalu ramai pengunjung. Sekalipun saat ini sudah bisa berbelanja melalui telefon atau online melalui internet, namun keasyikan berbelanja di pasar tetap berbeda rasa. Ada kebutuhan berinteraksi langsung yang terpenuhi rasanya saat berbelanja bersama keluarga atau teman sembari mengobrol. Ini tentu berkaitan erat dengan fitrah manusia sebagai seorang makhluk sosial.
Di pasar tentu dijumpai banyak barang dagangan. Yang mendominasi tentu bahan pangan, terutama sayur, buah, daging dan ikan. Sayur, buah dan daging-dagingan yang diperjualbelikan mayoritas merupakan produk lokal Austria, namun juga ada beberapa yang berasal dari negara lain, seperti Zucchini yang datang dari Italia, atau Nanas dan Pisang yang berasal dari Amerika Selatan.  Jika saat berbelanja merasa lapar, kita juga bisa membeli makanan seperti pizza atau kebab yang kedainya banyak dijumpai di pasar.
in der Fussgaengerzone
Di zona pejalan kaki, dapat ditemui pertokoan yang berjejer. Ada toko pakaian, toko buku, toko mainan, juga supermarkt. Jika kita tak ingin berbelanja apapun, kita juga bisa duduk santai sembari menikmati eskrim dan beristirahat.
der Strassenverkehr
Jalan raya selalu padat kendaraan. Ada pejalan kaki, pesepeda, juga ada mobil, bus, juga tram yang berlalu lalang. Sebelum naik kedaraan umum, calon penumpang tentu perlu memiliki tiket yang bisa dibeli di mesin otomatis yang tersedia di halte, stasiun maupun di dalam tram.
am Bahnhof
Apa yang kita jumpai di stasiun? Ada pertokoan, kafe, penjual tiket kereta, juga penumpang kereta yang berlalu lalang dengan menarik koper atau tas besar. Anak-anak sembari mengingat stasiun Westbahnhof yang sering mereka datangi, lalu membandingkan perbedaan kondisi stasiun yang besar (utama) dan yang kecil.
im Park
Ini menjadi tempat favorit sekaligus tempat yang mereka rindukan. Taman berisi tempat bermain anak dimana mereka biasanya bermain setiap hari, kemudian jika cuaca cerah ada yang bermain layangan, juga ada beberapa orang yang menggelar tikar untuk piknik. Di taman, dapat kita jumpai juga aneka bunga yang sedang bermekaran dan pohon-pohon yang meneduhkan.
das Rathaus
Di balai kota, masyarakat tentu tak bisa sembarangan masuk. Disana ada banyak aturan dan kebijakan yang dirumuskan, ada banyak kesibukan yang dijalankan, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, yang semuanya berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat.
Hochhaeuser
Semakin padatnya sebuah kota beriringan dengan semakin meningkatnya kebutuhan tempat tinggal. Dengan jumlah lahan yang sedikit, agar kebutuhan tempat tinggal masyarakat terpenuhi dibangunlah tempat tinggal-tempat tinggal yang tinggi. Hochhaeuser pertama kali didirikan di Chicago, sebuah kota besar di Amerika. Di bangunan ini tentu tersedia lift, untuk membantu orang yang tinggal di dalamnya terutama yang berada di lantai atas.
die Muellabfuhr
Di pinggir taman atau jalan, biasa kita temui tempat sampah dengan beragam warna. Setiap hari kita jumpai kendaraan berwarna oranye, lengkap dengan petugas yang kerap tersenyum ramah. Mereka lah yang berjasa membawa sampah dari rumah-rumah maupun tempat sampah umum ke tempat pengelolaan sampah.
die Kanalisation
Adalah sebuah saluran bawah tanah yang memiliki peranan penting untuk perputaran air bersih di kota ini.
auf der Baustelle
Di sebuah kota, pembangunan kerap berkelanjutan. Baik untuk tempat perbelanjaan, tempat tinggal maupun kebutuhan pembangunan lainnya.
Nachts in der Stadt
Di malam hari, suasana kota sangat sepi. Lampu rumah-rumah sudah dimatikan, tempat bermain dan fasilitas umum kosong, toko-toko dan sekolah pun tutup. Kendaraan yang berlalu lalang hanya sedikit, kendaraan umum tetap ada namun dengan frekuensi yang lebih lama antara satu dan berikutnya. Malam adalah waktu beristirahat. Namun ada juga beberapa hewan yang justru muncul di waktu ini.

Alhamdulillah, buku yang menarik ini bisa tuntas terbaca. Benar adanya bahwa „jangan menilai suatu buku dari sampulnya saja“. Sekilas awalnya saya mengira buku ini terlalu padat tulisan dan berat untuk dibaca. Namun setelah mencobanya hari ini, pandangan pertama saya ternyata salah.
Badge Excellent lagi untuk usaha bersama hari ini ya. Sebenarnya ya, setelah saya merasakan perjalanan proses ini, sesi ini bisa menjadi ajang latihan bagi saya untuk meningkatkan kesabaran. Di setiap lembar, si sulung ingin membuka lembaran paling awal lagi dan mengkaitkannya dengan lembar yang sedang dibacakan. Kalau mau saya sadari, justru ini menandakan pemahaman anak yang terbangun dengan cukup baik. Alih-alih menghela nafas dengan membuka halaman bolak-balik depan-belakang secara berulang, perhatian saya perlu saya fokuskan pada proses berpikir yang sedang berjalan pada anak-anak. Semoga Allah mampukan untuk menajamkan rasa, memahami makna yang tersirat dari setiap proses belajar. Aamiin.











Thursday, 16 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 24 : Membacakan Buku Anak berjudul “Ida und das leise Auto“


Hari ini sebenarnya alokasi waktu untuk membacakan buku terambil oleh kesibukan pribadi saya. Hiks. Maaf ya anak-anak. Jadi tadi pagi dari jam 4 sampai dengan jam 7 pagi saya mengikuti pelatihan Digital Entrepreneurship yang diselenggarakan oleh Keminfo bekerjasama dengan Google. Kelasnya seru dan menyenangkan. Dan alhamdulillah bisa saya ikuti dengan seksama karena masih di awal hari dimana anak-anak masih terlelap tidur. Namun setelah mengikuti kelas, saya mengantuk, dan saya pun sempat tidur sejenak seusai kelas untuk menghimpun energi kembali. Dan alhamdulillah Allah kabulkan.

Nah, saat mengerjakan tugas domestik, saya teringat tempe yang saya buat beberapa hari lalu. Setelah saya cek, sepertinya sudah ada yang bisa diolah. Karena jamur yang muncul sedikit, jadilah saya berkonsultasi pada dua teman yang sudah terbiasa membuat tempe. Yeay,dapat beberapa pencerahan untuk percobaan ke depan. Saat tengah hari, grup kursus bahasa kembali aktif. Guru kursus memberikan PR baru, padahal PR yang kemarin baru akan saya kerjakan hari ini. Jadilah saya mengerjakan PR bahasa Jerman di siang jelang sore hari. Yang pada akhirnya, sesi membacakan buku baru bisa dilakukan di sore hari. Buku yang dipilih kembali buku bertema Energi yang kami dapatkan dari Wien Energie. Kali ini berjudul „Ida und das leise Auto“. Menceritakan tentang mobil yang menggunakan listrik sebagai sumber energinya, yang merupakan salah satu bentuk teknologi ramah lingkungan.

Sebenarnya usai membacakan buku saya nyaris menyematkan badge Satisfactory untuk hari ini, karena proses sempat terjeda membuat WAG kelas Matrikulasi untuk memastikan teman-teman peserta kelas Matrikulasi sudah menyetorkan misi kedua yang berbatas waktu hari ini. Tapiiiii.... saat menempelkan badge ke Kalender, koq ngga rela yaaaa… Sayang rasanya. Lalu berpikir kembali, jika saya memang bersungguh-sungguh menjadikan proyek ini menuju cekatan berbahasa Jerman, mengapa tidak saya ulang prosesnya saja? Toh masih ada waktu. Toh anak-anak akan menyambut dengan senang. Toh dengan mengulang, saya akan lebih memahami isi buku. 
Saya pun tersentil setelah teringat sebuah hadits mengenai sebuah amalan yang sedikit namun rutin. Betapa sebuah konsistensi adalah hal yang perlu dilatihkan. Maka jadilah saya mengulang sesi ini. Dengan sesi mengulang ini, saya menjadi sempat menanyakan pemahaman si sulung mengenai cerita yang saya bacakan, juga memahami jalan cerita yang di awal belum saya pahami sepenuhnya. Lebih mindfulness rasanya. Sudah kurang enam hari lagi. Jangan kasih kendor, apalagi untuk kerikil-kerikil tantangan yang justru sudah bisa dilampaui di awal perjalanan proyek tahap kepompong kemarin. Semoga Allah berikan keberkahan di dalam proses ini. Aamiin. 


Wednesday, 15 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 23 : Membacakan Buku Anak berjudul “Wasser marsch!”


Hari ini kami melanjutkan membaca buku serial Energi yang kami dapatkan dari Wien Energi. Kali ini seputar air. Bagaimana air bis amenjadi pembangkit energi? Di buku ini kami menemukan jawabannya. Dimulai dari air yang mengalir bertemu dengan turbin, yang kemudian menggerakkan generator. Air juga merupakan salah satu energi terbarukan seperti halnya angin dan matahari. Ketersediaan air juga merupakan suatu hal yang perlu kita jaga keberlangsungannya. Sehingga melakukan penghematan dalam penggunaan air juga merupakan hal yang harus kita jalankan. Hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan di rumah misalnya mandi dengan air mengalir, bukan dengan berendam, menyiram tanaman dengan air tampungan hujan, juga memakai penyaring kran air untuk meredam laju aliran air sehingga air yang mengalir dari kran lebih sedikit namun tetap mencukupi kebutuhan kita.

Ada banyak kosakata baru yang masih asing di telinga, mungkin karena pembahasan buku ini spesifik bertema energi. Namun menjadi penyokong semangat tersendiri untuk belajar lebih giat agar paham.  Hari ini hari ke-23. Menyenangkan rasanya membacakan buku anak sembari belajar bahasa Jerman. Bisa menjalankan satu kegiatan dengan memenuhi kebutuhan dua peran sekaligus (sebagai ibu : membersamai anak dengan membacakan buku dan sebagai pembelajar : memenuhi kebutuhan belajar diri) dalam sekali waktu merupakan karunia tersendiri dari Allah yang harus disyukuri.

Selamat datang kebiasaan baru! Bantu aku agar lebih cekatan ya berbahasa Jerman ya! Mau kan? J



Tuesday, 14 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 22 : Membacakan Buku Anak berjudul “Valentina und die Regenwuermer”


Buku yang kami baca hari ini adalah sebuah buku kecil yang menceritakan tentang seorang anak dan cacing tanah. Tentang seorang anak perempuan bernama Valentina yang sedang mengerjakan sebuah proyek sekolah selama liburan musim panas berupa bertanam. Dia mengajak Moritz, sepupunya untuk membantunya. Mereka menggemburkan tanah untuk persiapan menanam aneka sayuran. Bibit sayuran yan mereka tanam, mereka rawat dan tumbuh suburkan tidak dengan bahan kimia namun dengan kompos dan pupuk kandang. Setelah beberapa waktu, saat mereka ingin mengambil tanah untuk diletakkan di beberapa pot, mereka sangat bahagia karena menemukan cacing tanah yang bermunculan dari tanah-tanah yang mereka ambil. Tanah yang subur!

Di sesi kali ini, badge excellent kembali tersematkan karena memenuhi keempat persyaratan. Perlahan, saya mencoba untuk lebih teliti menelaah setiap kalimat yang dibaca. Dan kali ini saya menemukan beberapa kalimat yang berkaitan dengan pola kalimat yang saat ini sedang saya pelajari. Yaitu berkaitan dengan Grammatik seperti penggunaan kata penghubung denn, um – zu, juga darin, davon dan dafuer.
Mortiz holt Valentina ab, denn er verbringt die Ferien bei ihr.
Valentina legt als Schulprojekt ein Beet an und will nach den Ferien die Regenwuermer darin zaehlen.
Bei uns bekommen die Boeden nur pflanzlichen Kompost und tierischen Mist – das gefaellt dem Boden, den vielen Tieren darin und natuerlich dem Gemuese und Salat.
Sie sorgen dafuer, dass es dem Boden gut geht.
Moritz nimmt gleich einige Schaufeln davon mit, um zu Hause auf dem Balkon etwas anzupflanzen.

Alokasi waktu untuk belajar bahasa Jerman hari ini sebenarnya cukup banyak. Karena di hari ini saya menyengaja mengalokasikan waktu lebih banyak dari biasanya, dalam rangka mengerjakan PR kursus yang sudah diberikan sejak pekan lalu. Ada mengerjakan soal Grammatik, Hoeruebungen, Sprechen zum Thema Umwelt. Ditambah dengan tugas-tugas yang saya kerjakan pekan lalu, direspon siang ini juga oleh guru kursus. Terjadilah beberapa diskusi singkat karena ada beberapa hal yang memang belum saya pahami. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa akan menjalani kursus intensif via daring. Meski awalnya merasa kurang nyaman dan kurang optimal, namun karena memang kondisi mengharuskan demikian, maka perlahan berupaya untuk adaptif dengan perubahan. Mencari celah dan menemukan strategi belajar untuk memperoleh hasil optimal sekalipun dalam kondisi yang dirasa kurang ideal. Toh saya tidak sendiri, banyak yang mengalami hal serupa juga. Yuk, taklukkan tantangan bersama. Allah akan mampukan, insyaAllah. Alhamdulillah, semangat optimal hingga akhir! Bersiap menyambut kebiasaan baik baru! Bismillah. 

Monday, 13 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 21 : Membacakan Buku Anak berjudul “ Alles ueber Prinzessinnen” dan “Rosa die rasende Reporterin”


Sudah hari keberapa sekarang? Hari ke-21 ya? MasyaAllah, sudah dua puluh hari menjalankan tantangan ini. Bagaimana rasanya, Mesa? otot-otot tangan untuk mengetik laporan dan resume singkat buku sudah melemas? Sudah terbiasa untuk membacakan buku anak satu hari satu buku? Sudah siap menjadikan ini sebagai kebiasaan baik baru? Bismillah, semoga Allah mudahkan.
Hari ini saya membacakan dua buku anak. Pertama, sebagai pengganti jam kebersamaan di pagi hari karena tadi pagi saya ada amanah berbagi untuk mengisi kuliah Telegram dan mereka kooperatif bermain mandiri berdua. Kedua, target akhir proyek tantangan ini adalah membacakan tiga puluh buku anak selama tiga puluh hari. Karena sempat ada buku cukup tebal yang dibaca dalam tempo dua hari, maka ada hutang satu buku, dan hari ini saya ingin membayarnya.

Buku pertama yang saya bacakan berjudul “Alles ueber Prinzessinnen”. Tentu ini buku pilihan si sulung. Di buku ini kami berkenalan dengan kehidupan putri di zaman dahulu. Bagaimana putri dan pangeran kerajaan menjalani hari-hari mereka seperti belajar dan bermain, juga bagaimana seorang putri mengenakan gaun yang sangat ribet. Juga tentang cerita mereka menjalankan tradisi seperti pesta dansa dan mengikuti aneka aturan kerajaan.  Di sesi ini, banyak diskusi menarik yang muncul seperti kerajaan, pemimpin dan pemerintahan. Kami juga membuka kembali memori saat dulu sempat berkunjung ke Museum Albertina. Si sulung juga bertanya mengenai kerajaan yang ada di Indonesia. Kami pun berselancar internet, melihat bagaimana seorang putri kerajaan Indonesia di masa lalu dengan pakaian adatnya.

Buku kedua yang kami baca adalah tentang Rosa, seorang anak perempuan yang mana diajak sang ayah untuk menjalankan profesinya sebagai reporter. Dia dan Emil, boneka gajah hijaunya mengikuti perjalanan sang ayah sejak pagi hari untuk mewawancarai seorang narasumber, berlanjut ikut ke kantor sang ayah untuk mengetik berita hingga kemudian mencetak koran yang siap ditayangkan untuk esok hari.
Di buku pertama saya menemukan banyak kata kerja bentuk Praeteritum sesuai dengan materi yang sedang saya pelajari di kursus, seperti ini :
Wenn Prinzessinnen an einen auslaendischen Hof verheiratet wurden, fand die Hochzeit dort statt.
Juga um -zu seperti berikut ini :
Nach der Trauung fuhr das Brautpaar in der Kutsche durch die Stadt, um sich dem Volk zu zeigen.


Alhamdulillah atas izin Allah proses hari ini berjalan lancar. Badge Excellent tersematkan untuk proses belajar hari ini. Semangat berproses di sepuluh hari terakhir! Proses membentuk kebiasaan baru memang tak mudah, namun ini pun merupakan proses menempa diri untuk konsisten, sebagai salah satu persiapan menyambut datangnya Ramadan. :D



Sunday, 12 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 20 : Membacakan Buku Anak berjudul “Auf der Baustelle”


Buku yang kami baca bersama hari ini adalah buku yang menceritakan mengenai konstruksi atau proses pembuatan bangunan. Halaman pertama berisi gambaran besar proses pembuatan bangunan. Kendaraan, alat berat dan material apa saja yang dibutuhkan juga aktivitas apa saja yang dilakukan pekerja. Dilanjutkan dengan berapa lama sebuah bangunan itu didirikan, ternyata kurang lebih sekitar satu tahun! Artinya, pembangunan berjalan dengan melewati empat musim yang berbeda. Dijelaskan juga ada tipe bangunan yang bernama „Fertighaus“ dimana beberapa bagian sudah jadi sehingga tinggal memasang antar bagian saja. Pendirian bangunan ini tentu lebih cepat, bahkan bisa hanya dalam waktu satu pekan. Namun tentu berimbas pada kekokohannya.
Dilanjutkan dengan cerita apa saja yang dikerjakan oleh pekerja beserta alat-alat yang digunakan. Juga ternyata selain membangun, kita bisa juga melakukan renovasi bangunan. Bangunan lama diperbaiki total sehingga semua yang ada di dalam bangunan dalam kondisi baru sekalipun berasal dari sebuah bangunan lama. Selain bangunan, Baustelle juga mengerjakan pembuatan jalan, baik itu jalan beraspal untuk mobil maupun jalan terowongan dan jembatan. Ternyata sangat banyak ragam pekerjaan yang dilakukan.

Di buku ini kami menemukan banyak kosakata baru, karena ranah pekerjaan ini merupakan bahasan yang kurang familiar sebelumnya. Grammar yang sempat saya temukan berkaitan dengan yang sedang saya pelajari antara lain :

Infinitiv mit zu
Daneben sind Zimmerleute dabei, den Dachstuhl aufzustellen.
Manchmal lohnt es sich nicht, ein Haus zu renovieren.
Bagaimana perjalanan belajar bahasa Jerman saya saat ini?

Sebenarnya saya sedang mengejar ketertinggalan. Kursus intensif yang saya ikuti saat ini berlangsung via online dan setiap Selasa dan Jum’at ada pemberian materi baru. Karena satu dan lain hal, tugas pekan ini belum sempat saya kerjakan dan baru saya kerjakan di hari ini. Ada sebuah bahasan di grup WhatsApp yang saya merasa skip dan saya menanyakan hal tersebut. Ternyata hari Kamis pengajar memberikan akses pada suatu media yang diberikannya via pesan pribadi. Saya belum mendapatkannya dan mungkin penyebabnya karena di hari Kamis itu saya belum mengumpulkan tugas.
Pembelajaran yang saya dapatkan , ada ketidakseimbangan peran yang terjadi pada saya di pekan ini. Saya kurang optimal mengerjakan tugas kursus. InsyaAlah sedang saya upayakan untuk memperbaiki. Tugas-tugas sedang saya kerjakan satu demi satu sejak hari Jum’at lalu dan pengajar pun sudah membalas via pesan pribadi bahwa beliau akan menghubungi saya di Senin atau Selasa esok.

Badge Excellent tersematkan untuk proses hari ini karena memenuhi kriteria empat capaian. Menjelang sepuluh hari terakhir pengerjaan tantangan, sudahkah saya mulai terbiasa menjalankannya? Semoga Allah mudahkan praktik baik ini untuk menjadi sebuah kebiasaan baru yang terus berlangsung setiap hari. Aamiin.


Saturday, 11 April 2020

Tantangan 30 Hari Day 19 : Membaca Buku Anak berjudul “Die Muellabfuhr”


Hari ini saya membaca buku anak tanpa anak-anak. Siang hari ini saya tidur siang di saat suami dan anak-anak beberes rumah, saat saya bangun rumah sudah dalam keadaan rapi dan anak-anak bersiap menonton film sebagai bentuk apresiasi suami pada mereka. Karenanya, mereka memilih menonton film saat saya mengajak membacakan buku. Tak apa, momennya memang sedang tidak pas. Jadilah saya membaca buku sendirian hari ini.
Buku anak yang saya ambil berjudul “Die Muellabfuhr”. Selain untuk memahami bahasa Jerman, juga untuk menambah referensi bahan tulisan yang sedang saya kerjakan mengenai pengelolaan sampah di kota Wina.
Apa isi buku ini?  
Buku ini ditujukan untuk anak usia 2 s.d. 4 tahun. Jika dibandingkan dengan buku-buku anak yang sebelum-sebelumnya, yang ditujukan untuk anak usia 4 s.d. 7 tahun, memang bahasa yang digunakan lebih sederhana dan lebih mudah dimengerti.

Buku ini menceritakan bagaimana seorang Muellarbeiter (petugas pengangkut sampah) menjalani hari mereka. Datang pagi hari dan mengenakan seragam yang menjadi ciri khas mereka, kemudian beraksi mengelilingi kota untuk mengosongkan tempat sampah-tempat sampah penduduk. Dijelaskan pula aneka rupa kendaraan penjaga kebersihan kota. Juga kemana sampah-sampah dari rumah-rumah penduduk itu bermuara. Sekalipun setiap sampah bisa dikelola, baik didaur ulang maupun dikonversi menjadi energi, namun proses pengelolaannya tentu membutuhkan energi yang tak sedikit. Sehingga akan sangat baik jika setiap manusia bisa mengurangi sampah dari rumah masing-masing.

Grammatik yang teramati di bacaan kali ini adalah bentuk Passiv seperti :
Wenn die Tonnen voll sind, muessen sie geleert werden.
Penggunaan dafuer sebagai berikut :
Die festen Handschuhe sorgen dafuer, dass die Muellmaenner sich nicht verletzen.
Juga infinitiv mit –zu :
Deshalb ist es wichtig die unterschiedlichen Abfaelle zu trennen und sie wieder zu verwenden.


Di hari ke-19 ini saya merasakan kebiasaan baik yang diupayakan akan membangun kesadaran belajar diri dan mengingat strong why kita menjalankan proyek ini.Tak dipungkiri di awal muncul rasa malas, namun lambat laun rasa malas itu pun semakin berkurang. Suatu hal yang terlihat sederhana, ternyata menjadi tak lagi terasa sederhana jika kita ingin menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan baru. Banyak alasan untuk menghindar dan melewatkannya, sesederhana apapun hal tersebut. Misalnya, saat ada deadline tugas lain, saya merasa tak ada celah waktu untuk mengerjakan tantangan 30 hari. Maka saatnya berkontemplasi : Bukankah proyek tantangan ini sengaja berupa membacakan buku yang mana termasuk dalam proses home education  yang lebih mendesak daripada pengerjaan tugas produktivitas? Bukan sekadar tantangan.Maka, kesalahan ada pada manajemen diri dan waktu yang kurang optimal. Solusinya bukan skip tugas tapi perbaikan manajemen diri. Maka jika sudah Allah sampaikan di titik ini, terus melaju lillahi ta’ala. Sekaligus sebagai momen menempa diri menyambut Ramadan. InsyaAllah.