Saturday, 18 November 2017

Friday, 10 November 2017

Thursday, 9 November 2017

Wednesday, 8 November 2017

Sunday, 5 November 2017

Saturday, 4 November 2017

Merasa Bukan Emak yang Kreatif? Sama. Ini Pengalaman Seru Saya Belajar Kreativitas di Institut Ibu Profesional










Membaca kata diatas sebenarnya saya sudah ciut nyali duluan. Kalau boleh jujur, saya merasa jauh dari kata kreatif.

Mengapa?

Karena saya tidak bisa menggambar, tidak menyukai hal-hal yang berbau seni dan kerajinan tangan, berkeringat dingin kalau diminta untuk menyampaikan ide yang out of the box, serta merasa imajinasi saya tidak cukup untuk bisa berinovasi dan berimprovisasi.

Itulah definisi kreatif bagi saya. Dulu.

Hingga kemudian di tahun 2016 lalu  Allah pertemukan saya dengan teh Sri, founder Hayat School di Rumah Belajar Institut Ibu Profesional Bandung wilayah Cikutra. Saat itu beliau menjadi narasumber diskusi parenting kami bertema Kreativitas Anak. Beliau adalah founder flexischool dan Majelis Kreativitas Hayat School, dan pemikiran beliau banyak didominasi oleh otak kiri. Sebuah konsep yang beliau tularkan dan mengubah paradigma saya saat itu adalah, kreativitas adalah milik semua orang, tak terbatas hanya pada orang-orang berotak kanan dan berjiwa seni tinggi.

Pemaparan beliau senada dengan penjelasan James Clear dalam ebook­-nya yang berjudul Mastering Creativity . Ebook tersebut James Clear susun sebagai sebuah portofolio dirinya untuk membagikan perjalanan belajarnya dan menyampaikan sebuah fakta mengenai kreativitas :

You have brilliance inside of you, but only if you can find the guts and grit to pull it out of yourself
Kata-kata diatas kurang lebih memiliki arti :
Anda memiliki kecemerlangan dalam diri, namun hanya dengan keberanian dan kegigihan Anda bisa mengeluarkannya dari dalam diri Anda.

Oke, pemaparan teh Sri dan om James membuka paradigma baru bagi saya,
Alhamdulillah, ternyata saya masih bisa berproses menjadi orang kreatif meski saya tidak bisa menggambar, pun tidak menyukai seni. Yang perlu saya lakukan adalah mengubah mindset diri.

Bagaimana saya menyusun mindset dan memaknai ulang sebuah kreativitas?
Dimulai dari mendefinisikan kreativitas sesuai versi saya.

Bagi saya saat ini,

Kreativitas adalah sebuah kemampuan seseorang untuk mengeluarkan banyak ide dan gagasan, yang mana ide dan gagasan tersebut dapat diaplikasikan sebagai sebuah alternatif solusi dari tantangan yang muncul dalam kehidupan nyata.

Setelah mendefinisikan kreativitas versi saya, saya mengikuti diskusi mengenai kreativitas di ruang kelas fasilitator bunda sayang Institut Ibu Profesional dan diberi tantangan berupa gambar berikut :


Gambar apa yang tampak?

Seorang teman langsung menjawab LIFT, begitupun jawaban suami saya saat saya kirimkan gambar ini ke beliau? Bagaimana dengan saya?

Saya hanya melihat keping puzzle hitam yang tak bisa disatukan karena bentuknya yang amat beragam. Tulisan LIFT baru bisa terbaca oleh saya saat saya mengikuti instruksi untuk sedikit menjauhkan gambar tersebut dari pandangan.


Di waktu yang tak berselang lama, suami mengirimkan hasil jepretannya pasca jalan-jalan di kota Vienna. Beliau mengabadikan gambar Rathaus, City Hall yang dibidik dari depan pagar berlubang. Di gambar pertama, yang terlihat hanyalah bulatan-bulatan lubang pagar. Namun saat beliau mengubah fokus pandangan, membidik dengan sudut pandang lain, keindahan Rathaus tertangkap oleh kamera. Dengan gambar ini, beliau menekankan pentingnya pemikiran yang kayak persepsi, pentingnya keluasan sudut pandang . Ini menjadi diskusi menarik di family forum kami via WhastApp. Bahwa persepsi, sudut pandang diri akan sebuah hal atau kejadian amat sangat mempengaruhi tindakan seseorang. Maka, memperkaya sudut pandang, melihat sebuah tantangan dari fokus yang berbeda, adalah penting untuk kita lakukan sebelum mengambil sebuah keputusan.

Bagaimana kaitannya dengan memfasilitasi kreativitas anak?

Sebagai orangtua, kita perlu mengubah fokus, menggeser sudut pandang kita hingga memiliki berbagai sudut pandang kreatif dalam melihat aksi anak-anak. Tantangan yang tidak bisa dipungkiri adalah orangtua acapkali berasumsi mengenai tindakan yang dilakukan anak-anak. Saya perlu memperbanyak membuat pertanyaan dengan nada lemah lembut dan tanpa sikap interogasi agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara utuh (CLEAR)  untuk kemudian bisa saya klarifikasi (CLARIFY) maksudnya. Contoh praktiknya kemarin, saat saya menemukan silika gel dan spons yang dimasukkan Raysa ke akuarium milik ayah mertua. Saat saya mencoba menggeser sudut pandang, saya menemukan pemahaman bahwa Raysa sedang mempelajari konsep mengapung dan tenggelam dalam percobaan tersebut. Cerita lengkapnya saya sampaikan disini.

Untuk membiasakan ini, saya perlu berlatih terus menerus. Supaya pemikiran anak-anak terfasilitasi dengan baik, tidak terbatas pada kotak pemikiran dan pengalaman orangtuanya saja.


Apakah langkah diatas sudah cukup?

Untuk membersamai kreativitas anak, ternyata langkah diatas hanya permulaan saja. Dalam materi kreativitas kelas Bunda Sayang, dipaparkan bahwa terdapat tiga hal yang perlu dilakukan untuk menjalankan sebuah proses kreativitas.


Proses tersebut antara lain :
Evolusi
Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
Sintesis
Dua atau lebih ide yang ada digabungkan menjadi satu ide baru
Revolusi
Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Kalau saya telaah ulang, langkah yang sudah saya lakukan sependek ini baru sebatas awalan saja. Belum masuk pada fase menggabungkan ide menjadi sebuah ide baru maupun menyengaja membuat perubahan dengan pola yang belum pernah ada. Bisa jadi, materi ini adalah jalan pembuka untuk memulai dan membiasakannya. Maka, bismillah, kami mulai sekarang. 

Siap menjadi orangtua kreatif? Yuk kita mulai sekarang, bersama-sama!


Sumber Referensi :
Clear, James. Ebook Mastering Creativity. Diunduh dari https://jamesclear.com/ pada tanggal 5 November 2017
Diskusi fasilitator kelas Bunda Sayang bersama Septi Peni Wulandani pada tanggal 29 Oktober 2017
Hasil diskusi tentang pola kreativitas di dalam keluarga oleh Griya Riset, 2017
Hasil membersamai dan proses belajar bersama ananda di keluarga Griya Riset, 2017

#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative


Hanya Mengamati dan Mendengar Saja. Memberi Ruang pada Anak-anak untuk Menyampaikan Gagasannya.






Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan terburu-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara utuh (CLEAR) dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY)). Slide materi Kreativitas kelas Bunda Sayang IIP

Hari ini saya mengamati kejadian yang terjadi pada saya dan anak-anak. Membuka telinga lebih tajam lagi, membuka mata lebih teliti lagi. Untuk dapat membaca kondisi, membaca maksud anak-anak dalam sebuah kejadian.

Beberapa hari ini kami sedang tinggal di rumah mertua. Kebetulan ayah mertua sedang memiliki project membersihkan dan mengecat kandang burung yang dirawatnya. Sejak menjelang siang, Raysa asyik mengamati apa yang dilakukan oleh ayah mertua. Setelah beberapa jam bersama yangkungnya, dia mendatangi saya dengan semangat

R : Ummi, kakak habis nemenin yangkung ngecat kandang sama mandiin burung
S : Ooooh….seru bangeeeet…. Kakak belajar apa aja dari situ?
R : Belajar banyaaak… burungnya mandi jadi bersih. Kandangnya dicat juga
S : Gimana caranya mandiin burung? Pakai selang? Pakai sabun?
R : Ngga…pakai botol kecil, cus…cus…cus…gitu mi
S : Oh…kayak botol semprotan yang dipakai om waktu nyetrika ya?
R : Iya, kayak gitu…
S : Terus burungnya gimana ekspresinya? Ngibas-ngibas sayapnya? Gelng-gelengin kepala juga? (sembari mempraktikkan)
R : Iya mi, kayak gitu…

Dari dialog ini Raysa belajar menyampaikan pengalaman yang baru saja dia dapatkan dan dibagi pada saya. Kami senang menggunakan kata belajar dalam setiap proses, karena belajar memang bisa dari mana saja dan dengan siapa saja, bukan sebuah proses di meja kursi saja.

Hari beranjak senja, di akuarium ayah mertua kami dapati ada sebungkus kecil silika gel dan sekotak kecil spons. Silika gel itu kami ketahui berasal dari makanan yang kemarin kami beli, sponsnya berasal dari tempelan dinding yang terlepas. Ada dua anak kecil di rumah, Raysa dan Faul. Saat mereka sedang bermain balok susun, ayah menanyakan, siapa yang kira-kira melakukannya. Faul lantang menjawab, bukan dia. Saya mengamati gerak-gerik Raysa. Ada salah tingkah yang disembunyikan, mulut yang terkatup rapat dan perhatian yang seolah-solah difokuskan pada permainan yang dia pegang. Saya menahan tawa.

Bertanya saat itu juga pada Raysa bukanlah hal tepat. Bisa jadi saya justru menginterogasinya. Memaksa dia menjawab pertanyaan sehingga membuat dia tidak nyaman. Bertanya di depan orang banyak bukanlah solusi. Untuk apa? Toh saya sudah mendapat jawabannya juga dari gerak-geriknya. Maka saya menunda keinginan saya ini. Masih saya simpan hingga saat ini.

Pikiran saya bertanya-tanya, apa alasan dia melakukan hal tersebut? Hmm… mungkin dia sedang memfasilitasi rasa ingin tahunya. Dia dapati saat memasukkan silika gel ke dalam air, silika gelnya tenggelam. Saat memasukkan spons ke dalam air, sponsnya mengapung. Dimana letak perbedaannya? Mengapa bisa demikian? Bagaimana jika benda lain dimasukkan, apakah akan tenggelam seperti sebungkus silika gel itu atau mengapung seperti spons?

Ah, saya perlu mengklarifikasi hal ini padanya. Bukan untuk memarahi, namun mengajaknya melanjutkan proses belajar hal menarik ini sekaligus meminta maaf pada ayah mertua. Hihi  

#Tantangan 10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative


Friday, 3 November 2017

Mengepel Lantai Dadakan

Usai jeda liburan cawu, kami kembali belajar di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Materi yang kami pelajari adalah mengenai kreativitas. Namanya juga belajar kreativitas, penyajian materi yang kami dapatkan pun lain dari biasanya. Usai materi kami dapat, kami diberi tantangan 10 hari sebagai durasi awalan untuk mengamalkan materi kreativitas dalam aktivitas keluarga sehari-hari. Dan tantangan kali ini, membuat kami untuk berpikir kreatif. hihihi

Apa tantangan di level #9 ini?

Kami diminta untuk membuat solusi kreatif dari tantangan sehari-hari
Yang bagaimana?
  • Yang berbeda dari biasanya
  • Pilih yang lebih menarik
  • Temukan yang lebih meningkatkan bonding dalam keluarga
  • Cari yang lebih efektif dan efisien

Dan hari ini, kami mulai mengerjakan tantangan hari pertama. Agenda hari ini adalah memperbarui SKCK di POLDA Surabaya. Diantar ibu dan bapak mertua, kami bisa berangkat sesuai rencana, pukul 05.30. Di kendaraan, anak-anak menikmati perjalanan dengan terlelap, menyiapkan energi untuk belajar di POLDA nanti. Jam menunjukkan angka 07.50 saat kami tiba disana. Petugas-petugas POLDA mayoritas berseragam olahraga, usai menunaikan agenda rutin di Jum’at pagi.

Ibu menggendong Ahsan dan memilih untuk menunggu di area masjid, begitupun dengan Raysa. Saya bergegas masuk ke ruangan pelayanan SKCK, mengambil nomor antrian dan menuju loket pelayanan SKCK. Ini adalah kali ketiga kami ke tempat ini, jadi sudah cukup terbayang proses yang terjadi nanti. Saat di loket pelayanan, saya menyerahkan dokumen yang diminta, dilanjutkan dengan mengisi form isian yang sudah disediakan. Karena SKCK yang diperbarui adalah milik saya dan suami, maka kolom-kolom yang perlu saya isi pun dua kali lebih banyak. Di sela-sela pengisian, ayah masuk ke ruangan bersama Raysa. Ternyata Raysa meminta untuk menemani saya di ruangan pelayanan sedangkan ayah bersama ibu dan Ahsan menunggu kami di kantin.

Saya keluarkan camilan dan minuman dari tas dan meletakkannya di dekat Raysa, kemudian dia meminta saya untuk membukakan botol minum karena dia belum kuat membukanya. Setelah itu, saya kembali tenggelam dengan form isian. Seusai mengisi form, saya langsung menuju loket pelayanan yang mana di saat itu juga petugas langsung memberikan SKCK saya dan suami. Alhamdulillah, proses berlangsung cepat. Saya bergegas menuju kursi tempat Raysa menunggu. Eits…ada apa ini, basah di beberapa tempat dan botol minum yang awalnya penuh, tersisa sedikit saja? Hooo…ternyata minumannya tumpah ke lantai.

Raysa menatap saya lekat-lekat. Sambil mengambil nafas panjang, saya berkata, “Yuk, kita bereskan bersama.” Melihat respon saya, dia tersenyum bersemangat. Qodarullah, tisu yang ada di tas adalah tisu basah. Baiklah, kita bersihkan dengan tisu basah tersebut. Saya mengepel dari belajang kursi, Raysa mengepel dari depan kursi. Saat Raysa mengepel, ternyata seorang pria yang duduk di barisan kursi depan mengamati Raysa dan berbisik pada wanita di sebelahnya. Saya mencoba bertanya pada mereka, apakah ada yang membawa tisu dan bolehkah kami memintanya? Alhamdulillah, wanita tersebut membawa dan mempersilahkan kami menggunakan tisunya.

Sembari mengepel, saya berbicara pada Raysa, “Kalau menumpahkan sesuatu, haruuuuus….” Raysa menjawab dengan antusias, “Bertanggung jawaaaaab!” Tak lama, lantai bersih kembali. Kami bergegas berkemas, Raysa mengembalikan tisu dan tak lupa kami mengucapkan terimakasih.

Fasilitas umum adalah fasilitas yang bisa kami gunakan dengan gratis, pun kami bertanggungjawab juga untuk menjaganya. Hari ini Raysa belajar menjaga fasilitas umum, juga semakin memahami bahwa melakukan kesalahan adalah hal wajar, poin pentingnya adalah kita belajar dari kesalahan tersebut dan bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan itu.

Kreativitas hari ini mungkin belum menciptakan sebuah hal baru. Namun menaklukkan tantangan yang menghadang dengan kepala dingin dan fokus pada solusi, juga merupakan sebuah kreativitas dalam menghadapi permasalahan yang datang.
#Tantangan 10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP

#ThinkCreative