Wednesday, 27 January 2016

Sejenak Melepas Rutinitas, Berdamai dengan Kondisi Tidak Ideal

Seringkali kita dihadapkan pada kondisi yang kurang ideal. Kondisi yang membuat proses tak berjalan sesuai rencana awal. Situasi yang mengharuskan kita untuk sedikit menurunkan standar pencapaian sehingga perjalanan kehidupan tetap dapat berjalan meski bisa jadi kurang sesuai dengan target semula. Salah satunya adalah saat kita sedang diberi ujian berupa sakit oleh Allah. Alhamdulillah di bulan Januari ini Allah memberikan nikmat sakit untuk Abiya dan Ummica. Abiya mengalami cedera patah tulang dan mengharuskannya untuk menjalani operasi dan rawat inap beberapa hari,  selang beberapa hari kemudian demam berdarah meruntuhkan pertahanan Ummica dan memintanya untuk menginap sementara di rumah sakit. Lalu, apa kabar si putri kecil?
Dia pun beradaptasi dengan kondisi yang tidak biasa ini. Termasuk proses toilet trainingnya. Sejak usia 16  bulan, Ummica sedang melatihkan toilet training padanya. Itu artinya, bulan Januari ini adalah bulan kelimanya dalam menjalani proses toilet training dan tahapan yang sudah dia lewati, antara lain :
1.       Dia sudah menolak untuk menggunakan clodi (cloth diapers) maupun pospak (diapers) jika di rumah. Dia merasa risih dan meminta untuk menggunakan celana biasa saja. Jika kita memaksanya untuk memakai clodi/pospak, dia akan melepaskan dan mengambil celana di lemari.
2.       Instingnya untuk memberitahu jika akan BAB, sudah dapat berjalan dengan cukup baik. Sebelum BAB, dia sudah bisa merasakan dan melaporkan keinginannya. Sehingga BAB bisa dilakukan di kamar mandi dan celanapun terselamatkan dari noda J
3.       Untuk BAK, dia seringkali masih kecolongan. Masih sering bilang saat sudah BAK. Tapi rutinitas ke kamar mandi untuk BAK setelah bangun tidur, cukup membangun kebiasaan untuk dapat segera ke kamar mandi sesaat setelah bangun tidur. Hingga sebelum kami sakit, setiap bangun tidur pagi, usai berdoa, dia kami bawa ke kamar mandi dan berhasil BAK di kamar mandi.
Lalu, kondisi tidak ideal inipun menyapanya. Selama Abiya dirawat di rumah sakit, kami harus berangkat pagi dan pulang menjelang petang untuk menemani Abiya. Maka, dimulailah petualangan dengan pospak sepanjang hari. Ini berlangsung selama 4 hari. Hari kelima, kamipun kembali ke rumah, si putri kecil kembali mengenakan celananya, menjalankan kembali proses toilet trainingnya. Hari ketujuh, kami ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi saya yang kurang fit. Hari-hari berikutnya, kondisi saya melemah dan mengharuskan saya untuk beristirahat total. Abiya yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi, memutuskan untuk memakaikan pospak pada si putri kecil. Ini berlangsung hingga saya diharuskan untuk menjalani rawat inap selama 4 hari di rumah sakit, dilanjutkan dengan masa pemulihan di rumah. Hari ini, terhitung hari ke-delapan belas sejak si putri kecil rehat sejenak dari proses toilet trainingnya, saya memutuskan untuk memulai proses itu kembali. Penerapan komunikasi produktif diuji efektivitasnya. Memakaikannya celana, mengajaknya ke kamar mandi setiap akan dan bangun tidur, sounding terus menerus padanya memintanya untuk mengatakan jika ingin BAK dan BAB.
Hampir 3 minggu memakai pospak tentu menancapkan pola baru baginya. Tak ada lagi yang basah kalau dia BAK di celana. Tak ada pula yang mengajaknya untuk bersegera ke kamar mandi setelah bangun tidur. Dan bisa jadi dia lupa dengan perasaan kurang nyaman jika BAK di celana maupun risih jika memakai pospak/clodi.
Nak, ini yang ingin Ummi sampaikan padamu. Ini memang konsekuensi dari kondisi tidak ideal yang harus kita jalankan bersama. Mungkin banyak target yang tak terlampaui, bahkan bisa jadi perlu berjalan mundur dan menapak kembali tahapan yang tadinya sudah berhasil dilalui. Yang sudah terlewati bukanlah sebuah kesia-siaan, tapi ini adalah pembelajaran hidup. Allah ingin menunjukkan, bahwa proses tak serta merta berjalan mulus sesuai rencana. Dengan ini, ada banyak pembelajaran mendewasakan yang kita terima. Keberterimaanmu akan berbuah kelapangan jiwa. Nak, membiarkan diri terpapar dengan kondisi tidak ideal, membuat kita tumbuh menjadi pribadi tangguh yang solutif.
#ODOPfor99days
#day18
#JurnalKomunikasiProduktif
#KurikulumBundaSayang
#InstitutIbuProfesional



Friday, 8 January 2016

Karena Informasi Merupakan Tanggung Jawab Penuh Seorang Komunikator

Komunikasi Produktif
Kemarin adalah waktunya berbagi tentang Tangga Ibu Profesional (TIPs) di grup WA IIP Bandung 1. Karena sejalan dengan materi komunikasi produktif yang sedang kami jalankan di bulan Januari ini, maka saya turut berbagi cerita disitu. Berikut cerita saya :
Ini terjadi beberapa waktu lalu. Saat itu, si kecil sedang makan nata de coco di mangkuk kecil. Dia asyik makan, sedangkan saya asyik bermain air di tempat cuci piring bersama piring-piring kotor. Tak seberapa lama, si kecil bilang,"Mi, ada semut, di mangkok." Dengan enteng saya jawab,"Oya, buang aja Nduk.." Maksud hati adalah buang semutnya, lalu lanjutkan makannya. Beberapa detik kemudian, ada suara menyusul,"Mi,ambil..ambil.." si kecil sudah berada di depan kamar mandi sembari memegang mangkuk. Ternyata dia membuang seluruh isi mangkuknya, dan saat melihat makanannya jatuh ke lantai kamar mandi (memang sebelumnya,jika dia ingin membuang kuah atau minuman, saya instruksikan untuk membuangnya ke lantai kamar mandi supaya tidak membuat lantai rumah menjadi basah.), diapun ingin mengambilnya. Saya sempat heran melihat dia sampai membuang makanan ke kamar mandi. Tapi setelah saya ingat-ingat, ternyata saya yang salah memberikan instruksi. Saya hanya bilang,"Buang.." Tanpa menjelaskan apanya yg dibuang? dimana? bagaimana caranya? Yayaya, Instruksi yg terlalu pendek dan kurang jelas, memang membuat anak bingung. Sedangkan saya sebagai ibu, seringkali menginginkan seisi rumah paham dengan maksud perkataan saya. Hihi, malu rasanya. Pelajaran bagi saya, yang seringkali belum produktif dalam berkomunikasi, dan sedang belajar memperbaiknya.
Daaan, ada satu cerita dari teh Marissa, yang menginspirasi sayaaa. Ini diaaa :
Berhubung saya belum menjadi ibu, saya share kisah salah seorang keluarga saya aja ya... Saya punya tante yang menerapkan komunikasi produktif dalam mendidik anak2nya. Dari kecil, kalau anak2nya marah atau kesal, mereka selalu dilatih untuk ngungkapin apa yang mereka rasain dan dipancing untuk nyari kira2 solusi apa yang bisa dilakukan bersama, daripada diem banting pintu atau teriak ngga jelas. Kalau belum bisa diajak bicara, biasanya disuruh masuk kamar dan introspeksi diri dulu, dibatesin sekian menit. Baru diajak bicara lagi.
Pernah pas main ke rumah tante, anaknya yang ketiga, irsyad, usia 2 tahun waktu itu kalo gasalah, sudah mulai terbiasa dengan 'kebiasaan' ini. Jadi waktu itu ada yg ngelarang dia ngapain gitu, sampe agak heboh karna anaknya ga mau nurut, terus tiba2 Irsyad teriak sendiri, "Irsyaaaad, masuk kamaaaar." Kadang dia beneran masuk kamar (walaupun masih banting pintu) tapi ga lama setelah itu keluar, terus curhat ke bundanya, "Bundaaa, irsyad keseeel." Barulah bundanya ajak diskusi, dibahas ada apa, kok bisa, terus gimana, dst....
Kalo hasil 'kebiasaan' itu untuk kakak2nya, mereka jadi selalu cerita kalo ada apa-apa, bahkan kejadian-kejadian di sekolah yang mungkin ga semua anak bakal cerita ke orang tuanya... Beda banget sama saya dulu waktu kecil, suka mendem, hehe. Semoga menginspirasi.

Jadi tambahan learning point buat saya nih, dengan berbagi cerita, kita akan mendapat inspirasi dan solusi J

#ODOPfor99days
#JurnalKomunikasiProduktif
#KurikulumBundaSayang
#day5

#InstitutIbuProfesional

Thursday, 7 January 2016

One Day One Post for 99 days dan Jurnal Bunda Sayang


Waktu menjemur pakaian adalah salah satu aktivitas me time bagiku. Ya, me time untuk pikiran, saat fisik terus bergerak menjalankan rutinitas. Sembari menata baju-baju di jemuran, pikiranku seringkali melanglang buana , dan kali ini pikiranku terarah ke ODOP #99days yang sedang kujalani.
“Kita sekadar tempat yang kondusif untuk teman-teman keluar ghirah alami kebutuhan menulisnya. Biarkan setiap orang set target masing-masing.” Shanty Dewi Arifin, sang ketua kelas angkatan pertama.
Hal itu diungkapkan beliau dalam grup WhatsApp untuk menyamakan persepsi kami, tim admin ODOP #99days. Saat membacanya, aku mengangguk tanda setuju. Ya, kami sama-sama belajar membiasakan diri untuk menulis setiap hari, baik member maupun tim adminnya. Namun saat aku teringat kembali bahasan ini, fokus perhatianku justru beralih ke “Biarkan setiap orang set target masing-masing”.
Ya, grup ini memang sekadar tempat untuk bersama-sama menulis. Tidak ada kriteria tulisan, persyaratan khusus lainnya. Semuanya disesuaikan ke kebutuhan masing-masing individu. Lalu, bagaimana denganku? Apa targetku dalam mengikuti ODOP #99days ini?
Pikiranku menerawang. Saat aku mendaftar untuk turut serta menjalankan tantangan ini, keinginanku hanya satu, dan sepertinya sama seperti keinginan teman-teman member lainnya. Ingin membiasakan diri untuk rutin menulis. Setiap hari aku mencoba mencari hal menarik yang kugunakan sebagai bahan tulisan. Hingga sampailah kemarin aku di hari ketiga.
Di hari keempat ini, aku merasa aku harus lebih terstruktur. Banyak hal yang dapat ditulis. Tapi, perlu strategi supaya setelah 99 hari aku menulis, aku punya suatu ilmu mendalam. Perlu menentukan target lebih detil dan sejalan dengan target hidupku yang lain. Menulis dengan tujuan besar. Aha! muncul ide! Aku jadikan saja ODOP #99days ini dokumentasi belajar menapaki kurikulum Bunda Sayang yang aku targetkan beres dalam setahun ini.
Sebenarnya ini bukan materi baru. Rekaman dan ringkasan 12 materi Bunda Sayang sudah aku tuntaskan sejak tahun lalu, begitupun jenjang selanjutnya, Bunda Cekatan. Materi lain, seperti Bunda Produktif dan Family Strategic Planning juga sudah aku dengarkan rekaman materinya. Tapi aku merasa tak memahami dan mengaplikasikannya secara utuh. Masih banyak lubang sana-sini, hingga merasa belum mengaplikasikan materi apapun.
Lulus jenjang Bunda Sayang adalah target yang kucanangkan di awal tahun 2016, dan sudah disetujui oleh suami. Lulus yang kuharapkan disini adalah meliputi aspek pemahaman materi, pengaplikasian dalam keluarga hingga pendokumentasian proses. Satu materi satu bulan. Maka, muncullah ini :
Target pribadi dalam mengikuti ODOP #99days :
1.       Sebagai sarana dokumentasi pembelajaran materi Bunda Sayang
2.       Setiap tulisan minimal terdiri dari 300 kata.
Semoga Allah mudahkan dan berikan jalan untuk mencapainya. Aamiin.
#ODOPfor99days
#day4




Wednesday, 6 January 2016

Sensory Play : Es Batu Warna, Cara Asyik Belajar Perbedaan Suhu

Postingan kali ini saya akan bercerita tentang mainan Raysa ya.
Yup, es batu warna.
Ide ini berasal dari aneka postingan yang seliweran di media sosial, bukan hasil pikiran saya sendiri. Bersyukur banget jadi ibu masa kini. anak tetap bisa punya ragam aktivitas meski kreativitas ibu sangat minim sekali. terimakasih untuk yang sudah bersedia berbagi :D

Adakah anak kecil yang tidak suka es batu? Sep ertinya nggak ya. Setiap kali mereka melihat es batu, mata mereka berbinar dan langsung menunjuk-nunjuk meminta supaya diberi.Jadi sepertiny, es batu bisa masuk dalam daftar media alternatif sarana pembelajaran bagi anak nih.
Berikut sedikit penjelasan teknisnya :

Bahan :
6 sdm tepung terigu
Air matang secukupnya
Pewarna makanan

Cara membuat :
1.    Es batu : isi wadah ice blocks  dengan air matang, tetesi dengan pewarna makanan hingga terbentuk warna yang diinginkan. Kemudian bekukan di dalam freezer.
2.    Larutan tepung :siapkan tepung terigu, larutkan ke dalam 500ml air matang (atau sesuaikan dengan kekentalan yang diinginkan).
3.    Siap dimainkan.


es batu warna dan larutan tepung


Sekarang saatnya bermain!
1.    Saat pembuatan es batu, anak dapat turut membantu meneteskan warna ke ice blocks yang sudh berisi air. Dia akan senang sekali saat melihat perubahan warna di air tersebut, dan ketagihan untuk menetesinya kembali dengan warna-warni yang ada.
2.    Saatnya membuat larutan tepung! Cukup berikan sendok pada anak, dan biarkan mereka melarutkan tepung ke air yang ada. Dia akan duduk anteng menikmatinya. Mungkin dalam imajinasinya, dia seperti sedang membuat adonan kue, seperti aksi ibu yang biasa dilihatnya di dapur.
3.    Kini, waktunya eksplorasi warna. Susun es batu warna berjajar di tengah larutan tepung. Semakin lama, es batu akan semakin mencair dan warna-warna yang bersebelahan akan saling berbaur. Awalnya, saya mau mengenalkan warna primer dan sekunder dengan cara ini. Tapi, Raysa keburu meniru memindahkan es batu ke dalam nampan. Jadi tumpang tindih aneka warna :D

4.    Ayo, pindahkan es batunya ke nampan. Nah, disini cukup melatih kesabaran dia. Beberapa kali dia kesulitan memindahkan es batu, dan meminta bantuan saya. Bisa diselipkan dengan pembiasaan membac basmalah dan memohon pertolongan Allah jika menghadapi kesulitan. Dan, meminta bantuan kepada orang lain dengan cara baik-baik, tanpa nada tinggi dan magic word “tolong”.
5.    Seberapa tahan dia memegang es batu? Ini ajang tantangan bagi anak. Melatih ketahanan diri untuk terus berusaha di kondisi yang kurang nyaman. Dan ada kegembiraan tersendiri saat dia berhasil cukup lama memegang es batu. Iyakah? Itu tuh, kelihatan saat dia senyum-senyum sendiri saat berhasil memegang es batu cukup lama.
6.    Ini di luar rencana. Setelah bersukaria dengan es batu dan larutan tepung, dan larutan tepung sudah berubah warna menjadi coklat, Raysa melihat toples berisi binatang-binatang hutannya. Jadilah dia meminta binatang-binatan itu untuk ikut berkubang dalam kutub es warnanya, hihi. Lumayan, cukup membuatnya anteng saat saya tantang dia membuat binatang-binatang tersebut berdiri tegak. Lagi-lagi kesabaran anak diuji, :p

#ODOPfor99days
#day3

Tuesday, 5 January 2016

Resume Singkat Buku Quantum Reading : Agar Anak Gila Baca


Buku ini buku pinjaman. Bukan milik saya...

Bermula dari pembelian buku yang saya lakukan ke salah satu toko buku online milik teman, buku ini sampai di tangan saya. Ya, pemiliki toko buku online tersebut juga memiliki perpustakaan online. Menariknya, kita dapat meminjam tanpa membayar, dan bebas ongkos kirim wilayah Bandung untuk 1kg pertama. Saya memutuskan untuk meminjam 2 buku yang dikirim berbarengan dengan pesanan buku saya. Dan saya selaku peminjam, hanya cukup mengeluarkan uang untuk ongkos kirim pengembalian buku saja. Mekanisme peminjaman yang menyenangkan, bukan? Ah…ada saja caraaorang untuk membantu meningkatkan minat baca masyarakat. Mereka yang berlomba-lomba dalam kebaikan.
Resume buku ini dibuat semata-mata untuk mengikat ilmu yang ada dalam buku ini. Supaya bisa mengingatkan kembali kala lupa. Apalagi status kepemilikan bukupun tak ada. Usai masa pinjam habis, buku ini tak dapat saya buka lagi secara fisik. Maka, saya tuliskan bagian-bagian mana saja yang penting versi saya.
Buku ini dibuka dengan kalimat motivasi untuk terus belajar. Mengingatkan kembali bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban hingga akhir hayat. Dan orang berilmu memiliki keutamaan dalam barisan Islam.
“Orang berilmu lebih utama daripada orang yang selalu berpuasa, bershalat dan berjihad. Apabila mati orang yang berilmu, maka terdapat suatu kekosongan selain oleh penggantinya (yang berimu juga).” (Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a.)
Manfaat membaca ini penting bagi saya, untuk mengingatkan kembali saat rasa malas datang melanda.
Dalam buku La Tahzan, Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni mengungkapkan sepuluh manfaat yang dapat kita peroleh dari membaca, yaitu :
1.       Membaca menghilangkan kecemasan dan kegundahan
2.       Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan
3.       Kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja
4.       Dengan sering membaca, oran bisa mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata
5.       Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berfikir
6.       Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman
7.       Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, kearifan orang bijaksana dan pemahaman para sarjana
8.       Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup
9.       Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia
10.   Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat, lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “diantara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat)
Nah, ini bagian paling menarik dari buku ini bagi saya. Ya, Read Aloud
Apa tujuan dari read aloud?
Apa beda read aloud dan mendongeng?
Bagaimana cara melakukan read aloud?
Apa saja trik membuat read aloud yang menyenangkan?
Ini jawab dari buku ini :
Read Aloud bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada buku, sedangkan mendongeng bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan anak pada cerita dan bahasa.
Tujuan read aloud bukan untuk mengajarkan anak-anak membaca, namun untuk membuat anak mencintai buku. Tanpa disadari oleh anak, dengan mendengarkan cerita yang kita bacakan, kosakata mereka bertambah, mereka terbiasa berbahasa dengan teratur, serta tertanam dalam pikiran mereka bahwa membaca adalah sesuatu yang sangat menyenangkan.
Panduan Read Aloud dari Jim Trelease dalam buku Read Aloud Handbook :
1.       Mulai bacakan cerita pada anak-anak sesegera mungkin
2.       Semakin dini memulai, semakin baik
3.       Bacakan buku sesering mungkin
4.       Sisihkan waktu paling tidak satu kali dalam sehari untuk membacakan cerita
5.       Untuk bayi, balita dan anak kecil, kita bisa menggunakan buku yang memuat pengulangan, rima dan banyak gambar. Perlahan, beralih pada buku yang mempunyai lebih banyak teks.
6.       Jika membacakan buku bergambar, pastikan anak-anak dapat dengan mudah melihat gambar dalam buku yang sedang dibaca
7.       Panjang dan topik bacaan bervariasi : fiksi dan nonfiksi
8.       Libatkan anak-anak secara aktif dalam kegiatan membaca
9.       Gunakan banyak ekspresi ketika membaca
10.   Sebelum membaca, selalu sebutan judul buku, pengarang dan ilustratornya
11.   Siapkan perlengkapan yang sesuai dengan buku yang akan dibaca (misalnya : buah-buahan, gambar, poster, peta dan benda-benda lain yang disebutkan dalam buku cerita)
12.   Bacakan buku yang kita sukai (dan akan disukai oleh anak-anak)
Trik agar Read Aloud menyenangkan dari Efi Junita dalam www.popsy.wordpress.com
a.       Bacakan cerita dengan penuh kasih sayang
b.      Baca perlahan, ekspresif, dan semenarik mungkin
c.       Usahakan menggunakan suara/intonasi berbeda sesuai karakter
d.      Gunakan efek drama, ada tertawa, merengek, menjerit, berbisik, cepat, lambat, stop, sedih, meraung, meringkik, dan lain-lain sesuai karakter (dalam cerita)
e.      Tambahkan body language
f.        Tunjuk kata-kata dengan jari kita
g.       Mulai dengan beberapa menit membaca, seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan anak maka waktu membaca akan bertambah
h.      Bila perkembangan anak sudah memungkinkan maka ajukan pertanyaan seputar cerita
i.         Pancing dengan beberapa pertanyaan, apa yang akan terjadi menurut kamu? Apa ini? Apa itu?
j.        Biarkan anak bertanya mengenai cerita
k.       Buat cerita sebagai cara untuk bercakap-cakap
l.         Biarkan anak menceritakan ceritanya, di usia 3 tahun seorang anak sudah bisa menghafal cerita dan biasanya senang diberi kesempatan untuk bercerita

Demikian catatan saya dari bagian-bagian menarik di buku ini. Semoga bermanfaat J
Oya, untuk yang penasaran dengan Taman Bacaan Mutiara Ilmu, bisa cek disini : https://www.facebook.com/Taman-baca-Mutiara-ilmu-1443300515960970/
Foundernya adalah teh Myrna Haryanti, pemilik toko buku diskon dengan nama Kedai Buku Bubu
#ODOPfor99days
#day2



Sunday, 3 January 2016

Perdana Nge-Bakso Boedjangan, Sembari Menyusun Resolusi Keluarga

Hari libur 1 Januari 2016 kemarin, kami sepakat keluar rumah untuk bikin resolusi keluarga. Pagi hingga siang hari kami habiskan waktu di Taman Lalu lintas. Duduk bersama pulpen dan kertas, berdiskusi seru, mengevaluasi pencapaian di tahun 2015 dan mencanangkan target pencapaian 2016 sembari menemani Raysa bermain.
Sepulang dari Taman Lalu Lintas, matahari sudah meninggi, perut juga sudah minta diisi. Sesuai kesepakatan sebelumnya, kami ingin menjajal Nge-Bakso Boedjangan sebagai menu makan siang. Datanglah kami ke salah satu gerainya yang bertempat di jalan Pahlawan.

Lokasi Bakso Boedjangan di Jalan Pahlawan

Parkiran nyaris penuh, tempat duduk apalagi. Alhamdulillah dengan sigap, pramusaji segera mencarikan dan mengabarkan pada kami bahwa masih ada tempat duduk yang bisa kami isi. Di meja, daftar menu sudah berjajar rapi menanti untuk dipilih. Sang pramusajipun kembali datang untuk bersiap mencatat pesanan kami. Perhatian kami tertuju pada menu bakso super urat. Kamipun memesan 2 porsi, untuk saya dan suami. Saat ditanya memesan menu minuman apa, saya menggeleng. Bukan apa-apa, sudah menjadi kebiasaan sejak kecil, untuk selalu membawa minuman setiap bepergian dan singgah untuk makan. Lagipula, pelepas dahaga paling tepat sebagai teman makan bakso bagi saya adalah air putih.
Sembari menunggu, saya mencari ha-hal yang menarik. Hal pertama yang menarik perhatian adalah daftar menu di hadapan saya. Menu-menu dijelaskan melalui gambar-gambar yang bersebelahan dengan nama unik, lengkap dengan deskripsi singkat dan keterangan harga di bawahnya.


Daftar Menu Bakso Boedjangan

Pandangan saya beranjak ke situasi sekitar. Teriknya mentari nampaknya tak menyurutkan langkah orang-orang untuk kesini. Rombongan satu selesai, rombongan berikutnya segera mengisi. Kipas angin yang diletakkan di titik tengah, bersanding dengan pelantun nada bersuara merdu yang terus mengalunkan lagu, sukses berkolaborasi menyejukkan suasana di tengah kegerahan.
Saya terus mengeksplorasi. Tampilan dinding dihiasi beragam gambar iklan produk jaman dahulu (era sebelum saya lahir sepertinya), beberapa ornamen dan hiasan dinding yang memberikan nuansa vintage yang cukup kental.
Salah satu hiasan dinding 


Ada kamar mandinya ga? 
Buat yang bawa anak kecil, ini kriteria cukup penting. Maklum, anak kecil seringkali mendadak ingin buang air tanpa bisa menunggu lama. Kamar mandi berada di belakang dapur minuman. Cukup luas dan bersih untuk ukuran warung makan.

Makananpun datang. Saking antusiasnya, saya lupa nge-foto, hehe. Semangkok bakso super urat, berisi bakso besar urat, 2 bakso kecil urat, mie kuning, bihun dan sayur. Baksonya lembut, enak, dilengkapi dengan kuah yang ringan, tanpa minyak yang banyak. Secara rasa, saya cocok dengan bakso ini.

Oya, harga yang tertera belum termasuk PPN 10% ya.


Kalau boleh usul ke Bakso Boedjangan, saya mau rekues lesehan. Jarang nih ditemui ada spot lesehan di warung bakso. Siapa tau bisa jadi inovasi dan ciri unik Bakso Boedjangan dibanding warung bakso lainnya. Mewujudkan warung bakso yang ramah anak. hehe.

Akhir kata, buat yang penasaran pengen nyobain juga, Bakso Boedjangan bisa dikunjungi di tempat-tempat di bawah ini ya..

#ODOPfor99days
#day1

Bros Putih Penyampai Pesan


Hadiah apakah yang paling tepat untuk diberikan pada ibu?
Memberikan hadiah untuk ibu bukanlah perkara mudah. Selain menerka barang apa yang sedang dibutuhkan oleh ibu, aku juga harus mengira-ngira apakah langkah ini akan disukai ibu atau tidak. Karena bisa jadi, meski barang tersebut memang dibutuhkan oleh ibu, tapi kurang dikehendaki olehnya dan menganggapku berlebihan. Bagi beliau, alangkah baiknya jika alokasi dana untuk membeli barang tersebut masuk ke pos tabungan dan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih mendesak dan penting. Maka, menghadiahkan sesuatu untuk beliaupun, butuh kesederhanaan.
Di penghujung tahun kemarin, aku sempat pulang mengunjungi ibu dan keluarga selama beberapa hari. Jarak ratusan kilometer yang memisahkan tempat tinggalku dan ibu, membuat agenda pulang merupakan salah satu momen yang sangat kunantikan. Sebelum pulang, aku menyempatkan diri untuk mencari sesuatu yang bisa kuberikan pada ibu. Sesuatu yang sekiranya sedang ibu butuhkan, yang sekiranya ibu akan suka mengenakannya, tanpa protes dan menganggapku berlebihan.
Setelah mencari-cari, pilihanku tertuju pada sebuah bros putih sederhana. Yang akan mempermanis jilbabnya dan membuat penampilannya semakin rapi. Kuletakkan dalam sebuah kotak kecil bernuansa pink,dengan sedikit tulisan di secarik kertas. Hmm… Nampaknya masih ada yang kurang.
Dulu, saat aku kecil hingga beranjak dewasa, bercengkrama dengan ibu merupakan salah satu momen kebersamaan yang sangat kunikmati. Waktu favoritku biasanya adalah sepulang sekolah. Waktu sore kuhabiskan untuk mengurai cerita dengannya, meluapkan kekesalan maupun kegembiraan, sembari melahap camilan buatan ibu. Kini, masa-masa itu amat kurindukan. Meski hampir setiap hari kami berkomunikasi via telefon dan saling berbagi cerita, rasanya tetap saja berbeda dengan bertatap muka. Maka, akupun menulis curahan hati untuknya. Kutuangkan nostalgia masa lalu, saat ibu menanamkan nilai dalam keseharian. Mengajarkanku makna dan hikmah di balik setiap peristiwa. Sepucuk surat cinta dari putri kecilnya yang kini telah merantau jauh.
Tanpa kusangka, ibu sangat menyukai pemberianku, dan sesuai dengan yang beliau butuhkan. Beliau mengatakan, bros putih yang biasa beliau kenakan baru saja patah beberapa hari sebelumnya. Pemberianku pas sekali dengan kebutuhannya. Beliaupun cocok dengan model yang kupilihkan. Dan saat membaca tulisanku, beliau tak henti-hentinya tersenyum, disertai airmata yang berdesakan keluar. Kehangatan menyelimuti kami berdua. Selalu ada cara bagi ibu untuk mensyukuri pemberianNya, yang kali ini melaluiku.Tak ada hadiah tahun baru untuk ibu. Yang ada adalah pembelajaran untukku. Untuk senantiasa mensyukuri dan menjaga apa yang kumiliki.

Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog yang diadakan Moxy Indonesia 


#MOXYforMOM