Tuesday, 31 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 8 : Membacakan Buku Anak berjudul "Mein erstes Mix-Max-Ratebuch"


Hari ini saya baru bisa membacakan buku di sore hari. Di pagi dan siang hari, saya mengerjakan tugas domestik dan mengerjakan tugas kursus bahasa. Buku yang dibacakan kali ini adalah buku pilihan Ahsan. Buku berjudul „Mein erstes Mix-Max-Ratebuch“. Jadi setiap lembar buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian atas berisi gambar beberapa profesi, bagian bawah berisi gambar beraneka kendaraan. Nah, di setiap lembarnya anak-anak diminta untuk mencocokkan antara gambar atas dan bawah. Mana kendaraan yang tepat untuk dinaiki setiap pengendara.

Buku ini sederhana sekali, cocok untuk Ahsan tapi terlalu mudah untuk Raysa. Durasi membacakan buku ini sangat singkat. Tak banyak pertanyaan muncul dari anak-anak, mungkin karena isi bukunya juga mudah ditangkap oleh pikiran anak-anak ya. Karena di sesi ini kami menjalaninya dengan cukup singkat, namun juga hingga tuntas, tanpa distraksi dan anak-anak tidak banyak bertanya, maka saya menyematkan badge Very Good. Alhamdulillah. Semoga dengan momen ini, kami bisa semakin mensyukuri waktu yang diberikan Allah dengan kebersamaan sepenuhnya. 

Monday, 30 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 7 : Membacakan Buku berjudul “Hase, Fuchs und Reh fahren LKW!”


Hari ini alhamdulillah berhasil menjalankan sesi membacakan buku di pagi hari lagi. Tapi kesempatan untuk mengetik laporannya baru bisa mepet deadline lagi euy. Hihihi.
Buku yang dibacakan hari ini adalah buku pilihan Ahsan. Sebuah buku boardbook minim teks dan full gambar. Buku ini ingin menyampaikan tentang ragam jenis kendaraan dan aneka binatang. Cocok untuk anak usia 0-3 tahun. Bagi Ahsan, ini menambah kosakata bahasa Jerman yang dikenalinya.
Badge Excellent tersematkan hari ini karena berhasil memenuhi setiap indikator. Karena saat dibacakan buku ini Raysa masih tidur, Ahsan jadi bebas bereksplorasi dan bertanya segala hal. Pembelajaran yang saya dapatkan hari ini, pemakaian buku yang tepat berdasar usia dan ketertarikan tiap anak anak membuat sesi membacakan buku semakin optimal.




Sunday, 29 March 2020

Berlatih Mengelola Emosi dengan Menyadari dan Menganalisanya


Di tahap kepompong ini, selain melatih konsistensi untuk cekatan dalam bidang yang ditekuni dengan menjalankan tantangan 30 hari, peserta juga ditantang untuk berpuasa. Ya, berpuasa dari faktor-faktor pengganggu yang kerap muncul dalam keseharian  diri sehingga menghambat proses belajar kita menuju cekatan.
Di pekan pertama ini, puasa yang ingin saya latihkan pada diri adalah mengelola emosi. Saya menyadari bahwa dahulu saya adalah seorang yang amat sensitif, juga senantiasa mengedepankan asumsi dan prasangka. Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, hal tersebut sudah sangat jauh berkurang. Namun tantangan terkait emosi yang seringkali saya alami adalah mudah terbawa suasana lingkungan (Dan ini juga sudah terkonfirmasi di hasil asesmen Talents Mapping). Selama sepekan ini saya ingin melatih diri untuk banyak bersikap asertif. Selama menjalankan puasa, ada tantangan berupa kondisi badan yang kurang fit. Sekalipun demikian, ada beberapa agenda yang tetap harus dijalankan seperti biasa. Kondisi tidak ideal ini ternyata membuat saya berharap pada lingkungan sekitar untuk memberikan bantuan dan dukungan. Selain itu, saya menemukan ketidak seimbangan karena membuat to do list harian yang begitu banyak dan lupa menyesuaikan bahwa saya menjalankan hari dengan kondisi kurang prima. Sehingga saat target banyak yang tak terpenuhi, emosi menjadi labil dan ingin marah pada orang lain, terutama anak-anak.
Perlahan saya menyadari bahwa Allah sedang mengingatkan saya dengan kondisi tersebut. Ada hal yang memang harus ditunda sejenak dan fokus pada kesembuhan diri. Tidak memaksakan kehendak pada orang lain dan tetap menunaikan hak orang lain sekemampuan diri.
Berikut perolehan badge yang saya akumulasikan dari hari pertama hingga hari kesepuluh :
Di hari pertama hingga ketiga, emosi saya labil dalam durasi yang pendek. Semisal di awal hari saat mendapati rumah berantakan, atau di sore hari saat anak mengeluarkan semua mainan. Puncak kegagalan ada di hari keempat dan kelima, saat itu kondisi badan saya lemah. Ingin rasanya seharian beristirahat di kasur namun tak memungkinkan. Hingga akhirnya di hari Rabu saya memutuskan untuk menghubungi Hausarzt dan saya diminta untuk datang langsung untuk diperiksa. Di hari Rabu saya periksa dan mendapatkan obat penghilang nyeri dan antibiotik. Badan yang perlahan membaik diikuti dengan mood yang juga membaik. Pelan-pelan saya kembali bisa berpikir jernih dan menjalankan komunikasi produktif. Hingga tren kestabilan emosi di hari keenam hingga hari kesepuluh pun terus meningkat. Alhamdulillah.



Tantangan 30 Hari Day 6 : Membaca Buku Anak berjudul “Stark wie der Wind”


Hari ini saya tidak membacakan buku untuk anak-anak. Namun saya membaca buku anak untuk diri saya sendiri. Setengah hari tadi saya memiliki agenda berurutan di depan laptop. Begitu urusan berbagi via daring usai, saya langsung mengajak anak-anak membuat bolu kukus bersama-sama. Rencananya, saya akan membacakan buku setelahnya. Namun ternyata anak-anak keburu punya aktivitas lain. Ahsan terlelap menemani abinya yang sedang beristirahat. Ya, mereka kompak tidur siang. Sedangkan Raysa meminta untuk video call dengan yangti di Jombang sembari makan kue. Hihihi.
Buku berjudul "Stark wie der Wind" ini kami dapatkan gratis saat mengikuti acara festival Wien Energie. Di buku ini dijelaskan bagaimana energi angin dikonversi menjadi pembangkit listrik yang bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sesi ini berjalan cukup singkat. Lha wong baca sendiri, ngga ada sesi satu kalimat terjeda dengan pertanyaan beruntun. Atau disela dengan rasa penasaran akan gambar-gambar di dalam buku. Saya pun melanjutkannya dengan mengaitkan isi buku ini dengan ayat Al Qur’an mengenai angin. Yaitu di Q.S. Ar-Ruum ayat 46 :
„Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya dan supaya kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari karunia-Nya; mudah-mudahan kamu bersyukur.“

Karena buku tuntas terbaca, tanpa distraksi namun tidak memfasilitasi rasa ingin tahu anak-anak, maka saya sematkan badge Very Good untuk upaya hari ini. 

Saturday, 28 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 5 : Membacakan Buku Anak berjudul "Ich komme in die Schule"


Hari ini kami memulai sesi membacakan buku lebih awal, yaitu di pagi hari. Tujuannya adalah agar mengumpulkannya tak mepet ke jam deadline, yaitu 23.59 WIB atau jam 17.59 CET.
Alhamdulillah sesi membacakan buku terlaksana di pagi hari. Namun ternyata menuliskan laporannya belum bisa pagi juga, karena ada agenda kelas belajar rutin yang harus diikuti, berlanjut pergi ke toko Turki untuk membeli bahan pangan. Masih mepet lagi deh laporannya. Ndak papa. Semoga besok bisa lebih awal. Hihihi.

Buku yang terpilih hari ini berjudul “Ich komme in die Schule”. Buku ini tentu merupakan buku pilihan Raysa. Buku yang menceritakan bagaimana seorang anak menjalani hari-hari pertamanya sebagai seorang anah sekolah (Volkschule Kind). Dimulai dari persiapan perlengkapan. Lazimnya di sini, seorang anak yang akan masuk sekolah memang menyiapkan tas sekolah lengkap dengan isinya yang antara lain : buku tulis, alat tulis, perlengkapan mewarnai, tempat makan, tempat minum, alat tulis, wadah makan, botol minum dan tas serut untuk perlengkapan olahraga.

Di hari pertama, akan ada acara penyambutan murid baru beserta orangtuanya. Kemudian di kelas, guru berkenalan dengan cara memberikan nametag para murid untuk diletakkan di meja masing-masing untuk memudahkan perkenalan awal. Ada juga Schultuete, sesi istirahat makan camilan, apa saja yang dipelajari di kelas, ruangan apa saja yang ada di sekolah, kegiatan apa saja yang bisa diikuti anak-anak di sekolah juga situasi sekolah di seratus tahun yang lalu, dan kisah tentang beberapa kebiasaan yang berlaku di negara lain. Saya pun bercerita mengenai sekolah yang saya jalani semasa kecil di Indonesia. Ada sistem piket, ada PR, memakai seragam dan sebagainya.
Secara garis besar, bahasa yang digunakan di buku ini cukup sederhana sehingga bisa dimengerti oleh orang yang sedang belajar seperti saya. Dan tema buku ini, saya sesuai dengan si sulung, yang sebentar lagi akan masuk Volksschule.

Badge excellent saya sematkan untuk hari ini. Karena proses berjalan optimal, tanpa distraksi dan cukup memfasilitasi kebutuhan belajar Raysa akan isi buku ini. Dan di momen ini, kami bisa berdua saja karena adik masih belum bangun. :D






Friday, 27 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 4 : Membacakan Buku Anak berjudul "Unterwegs mit der Eisenbahn"

Hari ini sebenarnya sesi membacakan buku saya jadwalkan jelang tengah hari, setelah berbelanja. Tapi ternyata ada serondolan aktivitas yang saya utamakan. Apakah itu? Onlinedeutschkurs dadakan! Huehehe.
Jadi ceritanya tadi pagi saya mengerjakan PR kursus bahasa Jerman yang guru berikan beberapa hari lalu. Setelah usai, tugas tersebut PR saya kirimkan melalui e-mail sekaligus menanyakan beberapa hal yang masih beum saya pahami. Saat saya bersiap berbelanja, beliau menyapa di grup dan mengajak berdiskusi seputar tema yang menjadi PR. Dan saya pun memilih untuk mengikuti diskusi tersebut karena menarik dan saya butuh paham materi tersebut. Ditambah dengan gaya belajar saya yang akan lebih optimal memahami materi jika hadir langsung saat guru menjelaskan.
OK, aktivitas mendesak ini menggeser waktu belanja dan membacakan buku. Saya baru belanja di siang hari dan membacakan buku di sore hari usai bergerak bersama anak-anak. Kali ini saya membacakan buku pilihan Ahsan yang berjudul „ Unterwegs mit der Eisenbahn“. Buku ini menceritakan seputar kereta. Cerita dimulai dengan memaparkan apa saja yang terdapat di stasiun. Berlanjut dengan ruang pengawasan kereta dan arti simbol-simbol yang tertera di stasiun. Dilanjutkan dengan jenis-jenis kereta di dunia, jenis-jenis profesi yang berkaitan dengan kereta hingga perawatan kereta.


Bagi seorang anak laki-laki, buku ini sangat seru ya. Jadi ingat masa kecil adik bungsu yang sangat antusias mengamati setiap kereta di stasiun Jombang. Dan ternyata menular pada keponakannya kini. Sesi membacakan buku ini berlangsung sekitar 40 menit. Saya beri badge satisfactory karena saya sempat mengecek jam di HP dan tanpa sadar berlanjut mengecek chat WhatsApp. Padahal target saya selama menjalankan aktivitas ini tidak disambi aktivitas lain.
Di sisi lain, ada bonus aktivitas yang kami lakukan. Yaitu selain memfasilitasi rasa ingin tahu anak-anak juga kami melanjutkan dengan melafalkan doa naik kendaraan bersama-sama. Saya tuliskan doa tersebut di kartu sebagai bahan bacaan dari isi buku tersebut. Ya, di sini mencari buku anak yang islami memang sulit. Namun ada banyak cara lain yang bisa ditempuh sebagai alternatif solusi.



Thursday, 26 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 3 : Membacakan Buku Anak berjudul "Lieselotte ist krank"

Hari ini kami menonton film dulu sebelum membaca buku. Usai menonton film, makan apel dan yogurt sembari menyimak cerita si sulung mengenai jalan cerita film yang baru saja kami simak. Baru deh membaca buku bersama. 

Buku yang saya bacakan untuk anak-anak kali ini berjudul "Lieselotte ist krank". Buku ini bercerita tentang seekor sapi yang berprofesi sebagai pengantar surat. Di musim gugur yang cuacanya seringkali buruk, Lieselotte seringkali menjalankan tugas dengan menerjang hujan dan angin kencang Suatu hari di saat dia bekerja, cuaca terasa kurang bersahabat dan lebih dingin dari biasanya. Keesokan harinya Lieselotte sakit. Peternak merawatnya dan memberikannya obat alami. Seorang dokter hewan juga sempat datang untuk memeriksanya dan memberikannya obat batuk. Perlahan, Lieselotte pun berangsur sembuh. Saat Lieselotte sudah kembali sehat, dia siap menjalankan tugasnya kembali, namun cuaca di luar sedang dingin, hujan berangin dan gelap. Dia pun bertahan untuk berdiam di rumah.
Hari berikutnya, Lieselotte menunggu sang peternak, namun sang peternak tak kunjung datang. Dan ternyata sang peternak sakit. Dari kondisi tersebut, Lieselotte mendapatkan sebuah profesi baru yang dia jalankan dengan bahagia, sapi perawat!

Saat membacakan cerita ini saya merasa penulis sedang mengantarkan pesan pada anak-anak mengenai kondisi sakit melalui tokoh sapi Lieselotte ini. Anak-anak tertawa saat melihat Lieselotte diberi air panas untuk dihirup, diminta berkumur, hingga dikompres. Mirip seperti yang dialami anak-anak saat sakit. Pun saat Lieselotte diperiksa dokter hewan. Diukur suhu badannya, diperiksa dengan stetoskop dan otoskop, juga diberi obat batuk. Raysa refleks mengambil obat batuk milik adiknya untuk disandingkan di sebelah buku ini.
Badge "Excellent" saya sematkan karena indikator utama terpenuhi, yaitu membacakan buku tanpa distraksi hingga tuntas dan memfasilitasi rasa ingin tahu anak dengan sabar. Cerita ini menggunakan bentuk Praeteritum, sesuah dengan yang sedang saya pelajari saat ini, sehingga saya belajar banyak dari sesi membacakan buku ini.


Wednesday, 25 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 2 : Membacakan Buku Anak berjudul Alles ueber Laster, Bagger und Traktoren


Buku berjudul Alles ueber Laster, Bagger und Traktoren adalah buku pilihan Ahsan sejak kemarin. Karena kemarin saya membacakan buku pilihan Raysa untuk mereka berdua, hari ini giliran buku pilihan Ahsan yang saya bacakan untuk mereka berdua. Sesuai dengan judulnya, buku ini menceritakan semua hal terkait alat transportasi truk, ekskavator dan traktor.

Cerita di dalam buku ini dimulai dengan penjelasan mengapa manusia membutuhkan kendaraan dan apa yang dimaksud dengan kendaraan komersial. Berlanjut seputar jenis-jenis truk dan gambaran bagian-bagian truk, penjelasan bagaimana kendaraan bisa berjalan, mengapa lengan ekskavator terangkat, bagaimana cara kerja traktor dan apa saja yang bisa dilakukan oleh kendaraan pemadam kebakaran. Tidak semua kata saya pahami, banyak malah. Tapi banyaknya gambar yang melengkapi, memudahkan saya untuk memahami gambaran besar maksud penjelasannya.
Kali ini Raysa nampak tidak begitu antusias, karena buku ini jelas bukan kategori buku yang disukainya. Fokus anak-anak menyimak penuh di lembar-lembar awal. Berikutnya, Raysa memilih beraktivitas menggambar dan Ahsan tetap menyimak sembari berjalan-jalan atau membolak-balik buku mengamati gambar demi gambar. Namun saya tetap membacakan buku hingga tuntas, karena tujuan akhirnya adalah #mamalerntdeutsch. Tantangan yang muncul jangan jadi alasan buat membelokkan tujuan ya. Semoga fokus terjaga hingga akhir. Aamiin.

Sesi hari ini juga berlangsung lebih lama dari kemarin, yaitu sekitar 50 menit. Saya mengapresiasi diri dengan memberikan badge Very Good karena saya membacakan hingga tuntas namun anak-anak tidak menyimak secara penuh.

Pembelajaran sesi hari ini :
Ternyata ada tantangan baru di luar kendali diri, bisa jadi bahan pengembangan ke depan. Selain itu, saya banyak belajar hal baru seputar jenis dan cara kerja truk, ekskavator dan traktor! Hihi



Tuesday, 24 March 2020

Tantangan 30 Hari Day 1 : Membacakan Buku Anak berjudul Beim Kinderarzt

Hari ini perdana tantangan 30 hari menuju cekatan di tahap kepompong kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional dimulai. Peserta ditantang untuk melakukan satu kegiatan berulang yang membantunya untuk cekatan dalam satu topik spesifik dengan peta belajar yang telah dibuat sebelumnya di tahap telur. Sesuai dengan peta belajar, tentu saya ingin cekatan belajar berbahasa Jerman. Kemudian saya melihat kondisi saat ini. Ada kearifan lokal apa yang bisa dikaitkan dengan tujuan belajar tersebut. Ada anak-anak yang selalu butuh dibersamai juga ada banyak buku perpustakaan yang sempat dipinjam sebelum perpustakaan ditutup. Hal ini juga berkaitan dengan dunia yang saya sukai dan sedang tekuni : literasi dan pendidikan keluarga.
Maka, kegiatan yang akan saya lakukan selama 30 hari berturut-turut ke depan adalah : membacakan satu buku anak berbahasa Jerman setiap hari. 
Dengan klasifikasi :
Need improvement : Jika saya tak sempat membacakan buku atau tak sampai tuntas satu buku.
Satisfactory : Jika saya membacakan buku sampai tuntas namun sembari mengerjakan hal lain.
Very Good : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain.
Excellent : Jika saya membacakan buku sampai tuntas tanpa disambi mengerjakan hal lain dan memfasilitasi rasa penasaran anak dengan sabar.
Saya membacakan buku pilihan Raysa. Sebuah buku anak berjudul Beim Kinderarzt. Buku ini bercerita seputar profesi dokter anak. Diawali dengan jenis-jenis pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter anak pada anak-anak, seperti melakukan pemeriksaan dengan otoskop, stetoskop dan ultrasonografi, atau mengambil sampel darah maupun pengecekan kondisi kesehatan anak. Diceritakan juga mengenai pemeriksaan mata dan gigi juga penyebaran bakteri dan virus. Di akhir, ada tutorial pembuatan DIY Stetoskop sederhana. Alhamdulillah hari ini sesi membacakan buku tersebut berjalan sekitar 30 menit.

Sesi ini menjadi ajang melatih diri membaca teks berbahasa Jerman secara kontinyu. Bahasa pengantar untuk buku anak pun cukup sederhana, sehingga menjadi awalan yang membuat saya bahagia menjalaninya. Pun dengan kondisi karantina saat ini dimana aktivitas sekeluarga sepenuhnya di rumah, perlu strategi menjaga keseimbangan dalam menjalankan beragam peran agar tidak terjadi ketimpangan yang berujung protes para customer utama. Bismillah, semoga Allah tuntun senantiasa.







Saturday, 21 March 2020

Membangun Rumah dari Lego Duplo, Praktik Stimulasi Matematika Logis Anak melalui Permainan


Selayang Pandang mengenai Kecerdasan Logis Matematis

Menurut Howard Gardner, kecerdasan adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan dan bukan tergantung pada nilai IQ,  gelar perguruan tinggi atau reputasi bergensi. Gardner memperkenalkan ke delapan jenis kecerdasan yang biasa dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk (Multiple Intelligent) yaitu kecerdasan linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinetik-jasmani, kecerdasan antar-personal, kecerdasan intra-personal dan kecerdasan natural. Dari kedelapan kecerdasan ini, kecerdasan logis-matematis banyak dijadikan patokan untuk menilai kecerdasan siswa di sekolah. Kecerdasan ini dirasa paling mudah distandarisasi dan diukur. Bentuk kecerdasan ini biasanya dirujuk sebagai kecerdasan analitik dan saintifik. Gardner menyebutkan bahwa logika identik dengan pernyataan-pernyataan sedangkan matematika identik dengan abstrak, entitas non-linguistik.
Dalam bukunya “Berpikir seperti Filosof”, Hendra menyebutkan bahwa berpikir logis memiliki prinsip identitas, prinsip kontradiksi, prinsip kemungkinan ketiga dan prinsip cukup alasan. Prinsip-prinsip ini dicoba digali melalui sebuah ilmu yang disebut logika. Pada tahapan tumbuh kembang anak, kecerdasan logis-matematis identik dengan aspek kognitif. Aspek kognitif memiliki enam taraf yaitu meliputi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Dengan demikian, segi kognitif berhubungan erat dengan penalaran. Penalaran merupakan salah satu unsur berpikir logis, berpikir logis adalah suatu bentuk kegiatan akal yang tersusun secara sistematis untuk menyelidiki, merumuskan, dan menerangkan asas-asas yang harus ditaati agar orang dapat membuat suatu kesimpulan yang tepat, lurus, dan teratur. Ada dua jenis cara berpikir logis, yaitu berpikir induktif dan deduktif. Berpikir induktif dimulai dari hal-hal khusus kemudian ditarik kesimpulan secara umum. Dari hal-hal khusus diperoleh pengetahuan awal seorang anak yang kemudian dari pengetahuan awal yang telah didapatkan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum sehingga menghasilkan pengetahuan yang baru.

Identifikasi Kebutuhan sebelum Merancang Permainan
Jurnal kali ini berbeda dari biasanya. Jika di level sebelumnya saya belajar mengenai suatu tema dengan mengulik berbagai referensi terkait kemudian meracik intisari ala saya dan menguatkannya dengan menuangkan pengalaman yang saya alami, kali ini saya ditantang untuk merancang sebuah permainan. Ya, sebuah permainan yang berkaitan dengan stimulasi matematika logis.
Maka saya mulai menggali ide dengan bertanya pada diri sendiri sebagai berikut,
Permainan apa yang ingin saya rancang?
Tantangan yang saya dapatkan adalah merancang permainan dengan media permainan yang sudah tersedia. Menilik kebutuhan diri, anak-anak saya berusia tiga tahun dan lima setengah tahun. Saya ingin merancang permainan yang bisa dijalankan oleh dua anak saya bersama-sama.
Media permainan apa yang akan saya gunakan?
Saya akan menggunakan Lego Duplo karena merupakan mainan favorit anak-anak saat ini. Selain itu permainan tersebut banyak secara jumlah sehingga mencukupi untuk dua orang anak (minimal potensi terjadinya perebutan).
Merujuk pada buku Panduang Tumbuh Kembang dan Stimulasi Anak usia 0-5 tahun dari Rumah Dandelion, berikut aspek kognitif untuk anak usia 3-4 tahun :
Masih agak sulit membedakan fantasi dan realita
Semakin kreatif berpura-pura
Memahami perbedaan dua hal dari jenis yang sama
Mengikuti perintah tiga langkah
Mulai mengikuti dan mengingat alur cerita
Menyusun puzzle  9 keping atau lebih
Mengenali bagian yang hilang dari suatu pola/gambar
Menyebut setidaknya satu warna dengan benar dan konsisten
Memahami konsep hitung hingga tiga, mulai mengenal angka
Semakin memahami berbagai kegiatan dan fungsi benda
Daya ingat meningkat, mampu menyebut tiga gambar yang diperlihatkan sebelumnya

Sedangkan aspek kognitif untuk anak usia 4-5 tahun :
Memahami beda fantasi dan kenyataan
Mulai mengenali pola
Mengkreasikan sesuatu sesuai ide sendiri
Mengurutkan benda hingga lima seri ukuran
Menyusun tiga gambar sesuai urutan kejadian
Menyebut setidaknya empat warna dan bentuk
Mengenal lambang huruf dan angka
Menghitung benda hingga sepuluh
Semakin paham sebab akibat
Main ular tangga dan permainan sejenisnya
Cara pikir masih polos, belum berlogika seperti orang dewasa
Semakin paham konsep waktu
Tidak mudah terdistraksi dan dapat memusatkan perhatian pada kegiatan tertentu hingga selesai

Saatnya Bermain!
Setelah menelaah aspek kognitif untuk kedua anak dan mengaitkan dengan permainan lego duplo, tercetus ide untuk mengajak anak-anak bermain peran, berimajinasi, bekerja sama sekaligus menstimulai matematika logis mereka.
Maka, permainannya adalah : membangun rumah dari lego duplo
Dengan skenario sebagai berikut :
Anak akan bermain peran sebagai penjual dan pembeli di sebuah toko bangunan. Satu anak berperan sebagai pemilik toko bangunan yang menata lego-lego sesuai klasifikasinya. Sedangkan anak satunya berperan seseorang yang akan membangun sebuah rumah, dia berimajinasi mengenai rumah yang akan dibangunnya dan akan membeli lego kebutuhan yang sudah dia estimasikan. Pembeli akan mengambil lego sesuai kebutuhannya, kemudian penjual menghitung biaya keseluruhan yang harus pembeili bayarkan.
Lokasi kedua, adalah di calon rumah yang akan dibangun. Dua anak ini akan bekerja sama untuk membangun sebuah rumah yang mereka imajinasikan. Mereka akan berbagi tugas selama membangun rumah dan jika ada bahan yang kurang, satu orang akan kembali ke toko bangunan dan membeli bahan yang diperlukan.
Berikut tahap permainannya :

Tahap 1 :
Seluruh lego yang dimiliki ditumpahkan seluruh isinya. Kemudian diklasifikasikan berdasarkan warna dan bentuk. Setelah terpilah, maka ditata rapi seperti menata barang yang akan dijual. Seorang berperan sebagai pemilik toko bangunan, seorang lagi sebagai pembeli yang mencari bahan bangunan untuk membangun rumah impian.

Tahap 2 :
Pembeli datang dan memilih bahan bangunan yang dibutuhkannya. Penjual menghitung biayanya dan pembeli akan membayarnya. Seusai pembeli pergi, karena pemiliki toko bangunan juga ingin bermain lego, maka dia juga mengambil semua bahan bangunan yang tersisa dan membangun rumah bersama-sama. :D


Tahap 3 :
Kedua anak membangun rumah bersama-sama. Anteng? Tentu tidak, ada sesi berebut, sang adik merusak rumah sang kakak yang sudah hampir jadi. Kemudian dilerai dengan Pembagian tugas. Adik bertugas membuat garasi untuk kendaraan-kendaraan yang ada.

Tahap 4 : Rumah lego duplohasil karya anak-anak. Untuk rumah, ide dan eksekusi dipegang sepenuhnya oleh kakak. Ummi membantu membuat celah untuk jendela saja. Sedangkan garasi dibuat kerjasama antara fasilitator dan sang adik.

Pembelajaran :
Permainan yang sudah sering dimainkan ternyata bisa terasa sangat berbeda dengan menambahkan kreativitas dan skenario di dalamnya. Di sini peran sentral fasilitator. Di permainan ini ada seni bermain peran, komunikasi, mengklasifikasikan sesuai bentuk dan ukuran, bekerja sama, mewujudkan imajinasi, toleransi juga saling mengapresiasi.
Rekomendasi usia anak : di usia 3 s.d. 7 tahun.

Sumber Pustaka :
Sipayung, Hendra Halomoan. 2009. Berpikir Seperti Filosof. Jogjakarta: ARRUZZ MEDIA.
Tim Rumah Dandelion. Panduan Tumbuh Kembang dan Stimulasi Anak Usia 0-5 Tahun. 2017

 


Tuesday, 17 March 2020

Aliran Rasa dan Selebrasi Kelas Bunda Cekatan Tahap Ulat



Dua bulan sudah saya menjalankan proses belajar di tahap Ulat. Sebelum mengalirkan rasa, saya kembali membaca jurnal demi jurnal yang saya tulis di setiap pekannya.

Poin-poin pembelajaran yang saya serap selama tahap Ulat ini antara lain :

Buatlah peta belajar dengan penuh kesungguhan. Jika tidak, maka kau akan goyah dan hanya mengikuti langkah kebanyakan orang.
Proses mengidentifikasi kebutuhan belajar diri tidaklah mudah. Apalagi jika tantangan yang sedang kita hadapi spesifik dan tidak seperti kebanyakan orang. Di awal pembuatan peta belajar, saat saya menetapkan proyek Mama lernt Deutsch sebagai poin utama, saya sudah menyadari bahwa jalan saya akan berbeda. Namun karena saya menyadari dan yakin bahwa itu adalah kebutuhan genting saya saat ini maka, pasang kacamata kuda dan terus bergerak.

Menjelajah di hutan pengetahuan berbekal peta belajar. Amati keadaan dan pasang strategi untuk memenuhi kebutuhan diri.
Tujuan menjelajah hutan pengetahuan adalah untuk mencari makanan utama, menemukan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan diri kita. Maka, jika sedari awal kita menyadari bahwa kebutuhan belajar diri kita sangat spesifik dan langka, maka sewajarnya alokasi waktu kita didominasi untuk berbelanja dan memasak masakan kita sendiri agar kita tidak kelaparan. Setelah kenyang dan kebutuhan tercukupi, barulah menjelajah hutan pengetahuan untuk menemukan camilan-camilan pendukung. Nah, di fase ini, godaan untuk menyaksikan Go Live keluarga lain, ajakan untuk masuk ke keluarga lain sungguh sangat besar. Belum lagi amanah yang saya emban sebagai ketua HIMA regional, membuat saya berinteraksi tidak hanya di WAG HIMA regional dan WAG Keluarga tapi juga WAG Ketua HIMA yang mana informasi dari seluruh regional berseliweran dan perlu saya olah mana yang berkaitan dengan peran ketua HIMA, mana yang perlu diteruskan ke HIMA regional dan mana yang tak perlu saya tindak lanjuti. Tak hanya action di WhatsApp, tapi juga di pikiran agar tak berujung monkey mind.

Berbagi pengalaman belajar. Menyusun rekam jejak belajar, mendiskusikan bersama dan membagikannya mewakili keluarga.
Bertemu teman seperjalanan yang memiliki kebutuhan belajar di bidang yang sama, menguatkan langkah untuk terus bergerak. Setiap keluarga berkesempatan berbagi pengalaman. Dengan kearifan lokal berupa keluarga kecil dengan jumlah anggota keluarga yang sedikit, keluarga bahasa berdiskusi secara sistematis dan segala keputusan diambil secara musyawarah mufakat. Menjadi perwakilan keluarga menjadi sebuah amanah tersendiri bahwa saya perlu menyampaikan bukan hanya pengalaman belajar diri sendiri namun juga pengalaman anggota keluarga lain. Karenanya saya membuat sebuah mindmap untuk memudahkan presentasi Go Live.

Melatih empati dengan mendengarkan sepenuh hati dan berupaya meluaskan sudut pandang.
Menjadi ketua HIMA regional dengan member yang berasal dari berbagai negara dengan bermacam kondisi secara tidak langsung merupakan fasilitas yang Allah berikan untuk melembutkan hati saya. Saat orang lain bercerita bahwa ada mahasiswi yang deadliner, di waktu yang sama saya mendapatkan cerita bahwa ada member regional saya yang mengalami kondisi sulit, yaitu sedang menjalani masa orientasi di kampus sebagai mahasiswa S3 – suami sedang pulang ke Indonesia selama sebulan – anak keempatnya harus opname di rumah sakit, secara bersamaan. Laa hawla walaa quwwata illa billah.  Sungguh saya merasa malu jika tak mengoptimalkan potensi diri dan kesempatan yang Allah berikan.
Sebagai ketua HIMA regional, seringkali saya membaca jurnal setiap member regional. Tidak selalu memang, tapi sering. Saya merasa bertanggungjawab untuk mengetahui kondisi terkini para member untuk dapat memberikan feedback dan perhatian yang tepat secara personal. Semisal ada seorang mahasiswi yang belum mengerjakan tugas, jika saya tak mengetahui kondisi beliau maka saya tinggal mengingatkan saja secara tegas. Namun jika saya mengetahui kondisi beliau yang siapa tahu sedang sulit, misalnya sedang menjelang ujian disertasi, atau suami sedang sakit, atau anaknya sedang memerlukan terapi intensif, maka saya bisa berperan sebagai pendengar yang baik untuk meringankan beban yang sedang dirasakannya. Bahkan di pekan kali ini, saya mendengar aliran rasa member yang berupa audio. Sedikit saya tahu kondisi beliau, sungguh bukan hal yang mudah menjalankan multi peran yang sedang diembannya. Keluarga dan kelas Bunda Cekatan menjadi support system beliau untuk senantiasa menjadi ibu terbaik bagi keluarganya. Ah, sungguh mengharukan. Dan saya yakin, dengan bergandengan tangan, kita akan saling menguatkan sekalipun menghadapi tantangan yang berbeda rupa. Ibu, kau bisa menaklukkan tantangan dengan bahagia!

Belajar memposisikan diri. Siap memimpin dan dipimpin. Juga siap mendengarkan dan taat pada nasihat pemimpin.
Mengemban peran amanah terutama di posisi puncak, seringkali mengharuskan kita menjadi pusat perhatian juga pemegang kendali dan keputusan. Secara pribadi, saya merasa perlu menyeimbangkan keterampilan memimpin dan dipimpin dengan seimbang. Selama belajar di kelas Bunda Cekatan ini saya banyak berdiskusi dengan suami dan anak-anak. Tak jarang suami mengingatkan jika saya melanggar gadget hours, seringkali anak-anak jadi alarm alam saat mata saya tertuju pada gawai terus menerus baik itu untuk menulis jurnal, memoderatori diskusi, menyimak update informasi dari pusat atau kebutuhan lainnya. Peringatan itu tanda sayang, menerima nasihat adalah indikator kesediaan untuk dipimpin. Dan kesediaan untuk dipimpin akan melahirkan kepemimpinan yang bijak dan sarat empati.
Terimakasih Institut Ibu Profesional. Kini saya siap menjalankan tahap kepompong. Teruntuk para mahasiswi Bunda Cekatan, terima kasih telah bersedia menjadi teman seperjalanan. Mari tepuk pundak bersama dan merayakan keberhasilan kita sampai di tahap ini. Ibu, engkau hebat!

Wina, 17 Maret 2020
                                                           





Tuesday, 10 March 2020

Bertemu Buddy dan Belajar Mengasah Empati melalui Buddy System



Petualangan kali ini diawali dengan proses pencarian buddy. Penasaran dengan makna buddy, saya sempat mengulik singkat definisi buddy dengan berselancar di internet. Seorang buddy kurang lebih adalah seorang teman seperjalanan. Pencarian saya juga sampai pada sebuah website yang memaparkan mengenai Buddy System. Berikut alamat websitenya http://www.esnuniwien.com/buddy-system.

Sumber : http://www.esnuniwien.com/buddy-system
Setiap orang membutuhkan buddy! Menarik bukan? Jika di website tersebut dipaparkan bahwa ada dua peran yang ditawarkan oleh Erasmus, yaitu sebagai seorang buddy dan ada peran sebagai seorang yang membutuhkan buddy, maka di tantangan tahap Ulat pekan kedelapan ini kami mendapatkan kesempatan untuk menjalankan kedua peran tersebut. Bagaimana rasanya menjadi seorang buddy dan menjadi seorang yang membutuhkan buddy dalam satu waktu? Hmm…

Proses pencarian buddy

Sebagai seorang dengan bakat relator dan emphaty yang dominan , saya menyukai hubungan pertemanan yang dekat, intensif dan melibatkan emosi. Saat mencari buddy, pikiran saya tertuju pada beberapa orang, yaitu orang-orang yang sudah saya kenal dengan cukup dekat dan sebaliknya.
Saya berjodoh dengan Ita Roihanah. Setelah ini, saya memilih menggunakan panggilan “dia” ketimbang “beliau” karena keakraban yang sudah terjalin lama diantara kami.
Apakah dia teman dekat saya? Ya.
Apakah dia cukup mengenal saya? Ya.
Apakah saya cukup mengenalnya? Ya.
Kami berteman akrab di masa sekolah. Ita adalah teman sebangku saya semasa SMA. Kami juga kuliah di kampus yang sama sekalipun saat itu jarang bertemu. Pertemuan offline terakhir kami adalah saat saya masih berdomisili di Bandung, saat kami sedang sama-sama mengandung. Saya merasa, kami cukup mengenal karakter diri satu sama lain, sekalipun tentu banyak perubahan signifikan masing-masing dari kami. Ita dengan beragam aktivitas, peran dan karyanya, banyak menginspirasi dan memotivasi diri saya untuk terus bergerak dan menebar kebermanfaatan.

Saling mengalirkan rasa seputar perkuliahan Bunda Cekatan

Karena keterbatasan alokasi waktu yang dimiliki masing-masing, kami berdua baru mulai saling mengalirkan rasa di hari Sabtu lalu. Tantangan perbedaan zona waktu dan jam online yang signifikan membuat kami mencoba menjalankan sesi saling mengalirkan rasa ini dengan optimal. Dimulai dari saya yang mengalirkan rasa di hari Sabtu dengan cakupan : hal-hal yang saya rasakan sepanjang proses belajar di kelas Bunda Cekatan, membagikan ulang peta belajar diri beserta targetnya, juga tautan dua belas jurnal yang saya tulis sepanjang kelas Bunda Cekatan untuk memudahkan buddy mengenal diri saya secara utuh.
Di hari Minggu, sesi balasan pun dimulai. Ita mengirimkan Voice Note berisikan overview kelas Bunda Cekatan juga beberapa video seputar aksi yang dia jalankan selama kelas Bunda Cekatan. Berikut rangkuman yang saya susun dari aliran rasa Ita mengenai overview Bunda Cekatan :
Ita mengidentifikasi diri sebagai seorang yang membutuhkan wadah untuk bertumbuh. Untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik, dia perlu terjun ke dalam sebuah forum belajar. Dan baginya, kelas Bunda Cekatan adalah jawaban dari kebutuhan tersebut. Kelas Bunda Cekatan menempa dirinya untuk belajar secara terstruktur. Dan sebagai orang yang merasa tidak terlalu terstruktur (sekalipun saya merasa dia tuh sistematis banget!), dia seperti diajak belajar di luar zona nyaman. Dalam pengerjaan jurnal, dia menitikberatkan konten. Target awal yang dicanangkan sejak awal mengikuti kelas Bunda Cekatan adalah benar-benar bisa mengidentifikasi diri dengan melibatkan suami dalam keseluruhan prosesnya.
Berikut peta belajar yang disusun di tahap Telur lalu
Peta Belajar Ita Roihanah
Dalam peta belajarnya, Ita meletakkan tiga prioritas utama dalam proses belajar, yaitu :
  • Reading skills, kaitannya dalam proses menyerap ilmu
  • Writing skills, kaitannya dalam proses refleksi
  • Teaching skills, kaitannya dalam menjalankan peran sebagai dosen dan public speaker


Sedangkan untuk menunjang ketiganya, disertakannya dua poin pendukung yaitu :
  • Time management, kaitannya dengan menjaga keseimbangan peran dalam menjalankan aneka peran diri
  • English, kaitannya dengan kebutuhannya menguasai IELTS

Oh ya, kami juga bertemu di keluarga Bahasa. Dia ingin mengembangkan keterampilannya berbahasa terutama untuk IELTS sebagai bekal untuk melanjutkan studi lanjut doktoralnya. Untuk target dalam bahasa Inggris ini, dia berencana untuk mendaftarkan diri ke sebuah forum belajar online.
Terkait dengan rencananya tersebut, saya mendukung karena merasakan hal serupa. Sebuah lingkungan belajar intensif dan rutin sangat mendukung perkembangan keterampilan berbahasa seseorang. Mengikuti kursus bahasa yang intensif dengan standar kelulusan tinggi dan difasilitasi oleh seorang guru yang kompeten sangat membantu saya mengembangkan keterampilan bahasa Jerman selama setahun belakangan ini. Serta memunculkan rasa percaya diri untuk hadir di forum-forum speaking yang sebelumnya saya lirik pun tidak karena minder.
Salah satu poin overview yang juga menjadi benang merah kami berdua adalah kami sama-sama mengamati proses belajar di kelas Bunda Cekatan ini sebagai sebuah proyek percontohan. Kalau Ita mengamati setiap tahapan prosesnya secara detail hingga mencatat runut setiap materi yang tersampaikan hingga mendapatkan big picture pola belajar dari bu Septi. Sedangkan saya yang memutuskan membuat peta belajar yang sangat spesifik, menjadikan proyek yang dijalankan selama kelas Bunda Cekatan sebagai role model proyek-proyek ke depan, sehingga berusaha menjalankan setiap tahapan seoptimal mungkin.                     
Ita juga memiliki sebuah proyek yang dikerjakan bersama teman, berjudul Bride Talk yang mana berfokus pada lima hal, yaitu :
  • Spiritual
  • Intelectual
  • Health
  • Financial
  • Social
Dan ternyata apa yang dijalankan di  proyek Bride Talk selaras dengan apa yang dikerjakan di Bunda Cekatan. Sehingga Bunda Cekatan dirasakan sebagai ajang untuk menata diri secara keseluruhan.

Setelah mendengarkan aliran rasanya, bekal apa yang saya berikan padanya untuk mendampinginya di tahap Kepompong?

Saya menuliskan sebuat surat untuknya.










Monday, 2 March 2020

Refleksi Belajar di Kelas Bunda Cekatan, Sesi Terfavorit dalam Proses menuju Merdeka Belajar


Sesi refleksi di pekan ini menjadi sesi terfavorit selama perjalanan belajar di kelas Bunda Cekatan. Ya, berefleksi dan berkontemplasi merupakan sebuah bagian penting dalam sebuah rangkaian pembelajaran untuk sejenak memberikan jeda pada diri, mengambil nafas setelah terengah-engah mendaki dan mendapatkan banyak input. Kebutuhan untuk berefleksi ini juga didorong oleh bakat context dan discipline yang merupakan kekuatan cukup dominan pada diri.
Sejak awal saya sudah menyadari bahwa proses yang saya jalani akan berbeda dari para mahasiswa Bunda Cekatan kebanyakan. 

Mengapa?

Dimulai dari pembuatan peta belajar yang sangat spesifik. Di saat para mahasiswa Bunda Cekatan membuat peta belajar untuk beberapa tahun bahkan peta belajar selama hidup, saya memutuskan untuk membuat peta belajar berdurasi enam bulan saja, sepanjang kelas Bunda Cekatan berjalan.
Mengapa?
Karena saya menyadari bahwa saya mudah terdistraksi, bakat focus saya cukup lemah sehingga agar tetap on track saya perlu membuat track yang minimalis. Mengutamakan satu prioritas yang paling genting dan penting di atas prioritas lain. Maka saya memilih untuk fokus di pengerjaan proyek Mama lernt Deutsch hingga bulan Juni 2020 baru setelahnya beranjak ke prioritas berikutnya. Ini strategi spesial saya untuk diri saya sendiri, tentu sangat bisa berbeda untuk orang lain.
Kedua, bidang keahlian yang saya tekuni selama proses ini adalah bahasa Jerman. Keluarga bahasa merupakan keluarga kecil, saat awal masuk ke keluarga tersebut, anggota keluarga berjumlah delapan orang saja yang kemudian saat ini berkembang menjadi 23 anggota keluarga. Dari anggota keluarga tersebut, jika dispesifikkan lagi, hanya ada tiga orang yang menekuni bahasa Jerman sebagai makanan utamanya.
Saya sudah memprediksi konsekuensi mengambil prioritas utama berupa hal yang berbeda. Bahkan di awal saya sudah mempersiapkan diri bahwa kelak tidak ada yang serupa dengan saya. Lalu saya pun melakukan pengecekan ulang pada diri. Apakah bidang ini benar-benar yang saya paling butuhkan saat ini? Apakah saya tidak memiliki tantangan dalam manajemen waktu atau manajemen emosi yang menjadi keluarga paling favorit? Oh, tentu saya juga masih terus berproses dalam manajemen emosi dan manajemen waktu juga bidang lainnya. Lantas, mengapa tak menjadikannya sebagai prioritas utama? Karena jika ditarik ke pangkal, urgensi utama ada di penguasaan bahasa sehari-hari. Seorang ekstrovert tentu menyukai berjejaring sebagai aktivitas me time-nya, namun jika canggung menyapa orang lain dan memilih diam karena tak menguasai bahasa Jerman, yang muncul justru rasa minder. Setelah menilik kebutuhan spesifik diri, memang bahasa Jerman-lah yang paling penting dan genting saat ini, karena bahasa adalah pijakan untuk berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lingkungan nyata terdekat sekaligus pembuka kesempatan-kesempatan belajar berikutnya. Termasuk belajar manajemen waktu pada warga setempat yang sudah terbiasa untuk tepat waktu dalam segala kondisi.
Maka saat masuk ke kebun Apel maupun hutan pengetahuan, saya tak berharap mendapatkan makanan utama yang saya butuhkan. Karena jenis makanan utama saya yang berbeda. Bertemu dengan keluarga Bahasa, sesame anggota keluarga yang sedang bersemangat menuntut ilmu menggeluti bahasa asing sudah membuat saya bahagia, mendapatkan teman bertumbuh bersama. Bertemu dengan teman-teman dari keluarga lain, menyimak perjalanan belajar sekaligus proses setiap dari mereka dalam menghadapi tantangan belajar sudah cukup memberikan transfer energi positif bagi saya. Ditambah dengan aneka hadiah yang saya dapatkan dari teman-teman, saya jadi bertemu dengan teman yang sudah tuntas belajar bahasa Jerman hingga level C1 dan merekomendasikan buku referensi favorit yang dia gunakan, saya mendapatkan sumber-sumber referensi dari sesame teman Bunda Cekatan dari keluarga lain yang dulu pernah belajar bahasa Jerman juga, banyak tips dan strategi belajar bahasa asing yang teman-teman hadiahkan hingga informasi menarik yang sangat bermanfaat. Sungguh itu semua lebih dari cukup. Benar adanya, bergerak dan menggerakkan. Bahagia dan membahagiakan.

Melacak Jejak Belajar Diri di Tahap Ulat

Makanan Utama : Belajar Bahasa Jerman

Selama bulan Februari ini belajar bahasa Jerman saya didominasi oleh praktik berbicara. Kursus intensif baru berjalan hari ini, Selasa 3 Maret 2020. Selama Januari saya sempat  mengikuti beberapa kelas Speaking namun di bulan Februari kondisi kurang memungkinkan karena peralihan cuaca dan kondisi anak-anak yang kurang fit. Sebagai gantinya, bulan Februari saya banyak diberi kesempatan oleh Allah praktik berbicara dengan tema spesifik. Saya berdiskusi panjang dengan biro konsultasi (Frauenberatung) dan pemilik rumah (Vermieterin). Portofolio belajar juga sempat terdokumentasikan di jurnal keempat tahap Ulat yang bisa dibaca disini.
Oh iya, ada satu hal yang saya lakukan. Ada teman Indonesia yang sedang mencari tempat kursus bahasa. Beliau sudha mencari dengan cara menghubungi via E-Mail, tapi belum kunjung mendapatkan balasan. Teringat pesan guru kursus, bahwa menghubungi via telefon akan lebih cepat tersambung daripada via E-Mail. Suatu pagi, saya urungkan niat untuk mengikuti Konversationsstunde karena Ahsan sedang agak demam. Saat duduk sambil memangku Ahsan, saya merasa bosan dan ingin mengobrol. Namun dengan siapa? Kemudian saya teringat daftar tempat kursus yang teman saya berikan ke saya. Tercetus ide untuk menghubungi tempat kursus tersebut satu-persatu untuk menanyakan kuota kursus bahasa level A1 untuk teman saya. Voila, aksi tersebut menghadirkan energi tersendiri bagi saya, memfasilitasi bakat relator yang cukup dominan dalam diri ini. Hasilnya, dari sekitar enam tempat kursus yang saya hubungi, ada satu tempat kursus yang membuka kesempatan untuk kursus bulan Mei-Juni 2020 esok. Sedangkan tempat kursus yang lain sudah memulai kegiatan belajarnya sejak bulan Februari lalu namun beberapa diantaranya bersedia mencatat nama untuk dimasukkan ke daftar tunggu.

Apa kabar dengan camilan?

Untuk camilan, saya menjajal diet. Saya mengatur pola pikir, “Saya tidak bisa membatasi aneka informasi yang masuk ke gawai saya. Namun kontrol akan informasi mana saja yang masuk dalam pikiran saya, ada di kendali saya.” Maka semua informasi saya terima dengan baik kemudian saya pilah dan klasifikasikan. Mana yang tindaklanjutnya berupa terima, mana yang tunda dan mana yang lewati.
Hal ini juga terkait dengan alokasi waktu yang terbatas setiap harinya. Perkuliahan kelas Bunda Cekatan saya akses optimal di hari Senin di setiap pekannya. Tantangan yang cukup berat terutama di dua pekan belakangan ini membuat saya menikmati camilan berupa ilmu menyajikan data dalam bentuk diagram, ilmu komunikasi produktif dengan teman-teman yang baru dikenal serta manajemen waktu untuk produktif tuntas mengerjakan tuntas di sempitnya gadget hours yang tersedia. Benar-benar praktik high quality activity nih!

Refleksi perjalanan belajar selama berada di tahap Ulat

Saya lebih banyak mendapatkan makanan utama ketimbang camilan, karena menjalani tantangan yang ada selama bulan Februari ini yang membuat saya perlu menjalin relasi dengan banyak pihak untuk mendapat informasi yang akurat mengenai sebuah tema tertentu. Saya memilih untuk agak berada di pinggiran hutan belantara untuk mencegah banjir informasi. Saya memilih untuk mengalokasikan waktu berimbang antara berjalan-jalan di hutan belantara, menyapa dan berempati pada teman-teman Bunda Cekatan yang lain juga berbelanja serta meracik makanan utama sendiri agar nutrisi pribadi tercukupi.
Proses belajar di tahap Ulat ini membuat saya menelusuri rangkaian proses belajar saya selama ini. Kelas belajar apa saja yang sedang saya ikuti, amanah apa saja yang sedang saya emban. Bagaimana respon suami dan anak-anak. Adakah protes dari mereka, adakah hak pihak lain jadi tidak tertunaikan karena perhatian yang teralihkan? Adakah saya salah meletakkan prioritas? Salah pernah, berlarut-larut jangan. Sesi refleksi menjadi ajang untuk memperbaiki diri. Ditambah bonus, di pekan ini HIMA IIP Salatiga mengundang untuk belajar bersama seputar Manajemen Gawai. Sesi menyiapkan materi manajemen gawai pun menjadi ajang merunut praktik menggunakan gawai belakangan ini dan banyak berkorelasi dengan proses refleksi ini. Jika setiap peran dijalankan berimbang maka muncul kebahagiaan dalam diri dan siap berbagi untuk meluaskan kebermanfaatan.
Apresiasi panitia setelah sesi belajar bersama. Terima kasih :)

Dari proses belajar di hutan pengetahuan, saya mengidentifikasi bahwa strategi belajar yang saya banget adalah belajar dari buku, mendengar penjelasan guru dan bisa bertanya secara langsung serta praktik. Maka ketiga strategi tersebut saya perbanyak porsinya ketimbang metode lainnya. Yang perlu kutingkatkan adalah mengapresiasi setiap langkah kecil yang sudah tercapai, mengelola baper  dengan menggeser sudut pandang, dan berani tampil beda.
Terima kasih Institut Ibu Profesional, sudah membimbing proses hingga sampai di titik ini.

Salam Ibu Profesional,
Wina, 3 Maret 2020