Friday, 25 March 2016

Main Lempar Gelang Warna, Yuk!




Main apa ya hari ini?
Pagi tadi Megi penasaran dengan gerak-gerik Umminya yang menjinjit-jinjitkan kaki berusaha mengambil sebuah wadah yang terletak di rak atas dapur.

“Ummi ambil apa? Megi mauuu…”

Tanpa menunggu jawaban, dia segera mendekat dan mengekor langkah saya. Kami berdua duduk, dan saya berusaha membuka kaleng bergambar biskuit yang sudah beralih fungsi menjadi wadah penyimpanan perkakas dapur. Saya ingin mengambil stik eksrim dari dalamnya. Dia duduk manis mengamati perilaku saya. Sesaat kemudian, sembari mengambil setumpuk piring kertas dia berkata, “Mi, mau ini yaaaah…” Tak lupa dibubuhi senyum manis khas anak-anak yang inign permintaannya dikabulkan.

Dari sini, terbersit ide. Kalau begitu, hari ini kita main dengan ini saja yuk!
Kebetulan beberapa hari yang lalu Ummi membaca permainan lempar gelang. Karena bahannya simpel dan sudah ada di tangan, mari kita eksekusi.
Bahan dan alat :
  • Piring kertas
  • Krayon
  • Gunting
  • Balok susun

Cara Membuat :
  1. Piring kertas dilubangi bagian tengahnya, sisakan pinggiran yang bergelombang supaya menjadi gelang kertas.
  2. Warnai gelang kertas dengan krayon, pilih aneka warna kesukaan
  3. Susunlah balok susun dengan cukup tinggi supaya dapat digunakan sebagai menara tempat sasaran lempar gelang.

Cara Bermain :
  1. Letakkan menara balok susun agak jauh dari tempat duduk kita
  2. Pegang semua gelang kertas, lempar satu persatu ke arah menara balok susun
  3. Hitung berapa gelang yang berhasil masuk ke menara dan yang gagal.


Untuk Megi yang baru berusia 2 tahun, melempar gelang kertas hingga masuk ke menara balok susun merupakan hal yang tidak mudah. bahkan sepertinya masih terlalu sulit. Karena supaya tepat sasaran, butuh strategi lempar yang pas. Jadi, dipecahlah cara bermainnya. Pertama, dia lempar gelang-gelang kertas tersebut ke arah menara tapi tidak untuk dimasukkan ke menara, hanya menyenggol atau bahkan tidak menyenggol menara sama sekali. Hanya berlatih melempar, sesuka hati. Aktivitas melempar gelang kertas ini melatih motorik halus, merasakan pengaruh angin pada daya lempar dan mengenalkan aneka warna. Yang kedua, menara didekatkan di hadapannya, kemudian gelang-gelang kertas dimasukkan satu demi satu ke dalam menara balok susun. Setelah itu, gelang dikeluarkan kembali, satu demi satu dan diletakkan ke tempat semula. Sesi ini melatih koordinasi tangan dan mata, daya konsentrasi dan rasa tanggung jawab.

#ODOPfor99days
#day60
#idemainanak
#24bulan




Thursday, 24 March 2016

Praktikum Kulwap, Seru Belajar Matematika dengan Cerita


Kuliah lewat WhatsApp yang digagas Science Factory kali ini, sangat menyenangkan. Meski saya baru menyimak dengan cara susulan saat dini hari setelahnya, tapi setiap materi yang disampaikan berhasil saya simak dengan antusias. M-E-N-A-R-I-K!
Mengapa saya katakan menarik? Ini jawaban subyektif dari pandangan saya ya, hehe.

Mengangkat topik yang kekinian di kalangan orangtua dan guru.

Ya, matematika seringkali menjadi momok bagi sebagian orangtua, bukan anak. Saat anak tidak memahami materi maupun mendapat nilai matematika yang jelek di sekolah, tentu orangtua menjadi kalang kabut. Si anak mungkin sedih, tapi sebentar saja. Bahkan, sepulang sekolah bisa saja dia langsung pamit bermain dengan teman-teman kompleks, tanpa terbebani sedikitpun.
Masih ingatkah kita, 3 hal yang tidak akan ditolak oleh anak?
Betuuuul! Bermain-cerita-hadiah.
Maka, dalam kulwapp ini kita akan belajar bagaimana mengajarkan matematika melalui 3 kata kunci tersebut.

Pemateri yang menyenangkan. Web designer-penggemar matematika-penulis-homeschooler.

Beliau akrab dipanggil mba Sari. Talenta yang beliau miliki, sukses beliau padu-padankan, menjelma menjadi sosok produktif dengan berbagai profesi. Tengok saja blog cerivitas.com yang beliau kelola. Dijamin betah dan ketagihan bertamu kesitu.

Materi yang lengkap dan detil. Disajikan dengan santai dan interaktif.

Materinya mengenai cerita, disajikan oleh seorang penulis cerita anak. Jadilah ruang diskusi penuh dengan tanya-jawab interaktif yang hangat. Contoh cerita yang ditampilkan sudah dilengkapi ilustrasi menarik. Belum lagi beragam mind map yang semakin memudahkan peserta kulwap untuk mencerna materi. Alhamdulillah, informatif banget isinya. Ga rugi download sampai kuota sekarat, hehe.

Singkat cerita, materi yang disajikan dalam durasi 2 jam dan disertai sesi tanya jawab, saya lahap habis dalam sekali buka grup. Dan di akhir sesi, ternyata mba Sari memberikan tantangan kepada peserta, untuk membuat cerita mengenai pembelajaran matematika. Katanya, supaya ada oleh-oleh buat anak-anak selepas mengikuti kulwap ini.

Tak mau ketinggalan, dan supaya materi semakin menancap dalam pikiran, saya pun mencoba membuat cerita ala-ala berikut ini :

Kepala Ikan dan Jadwal Harian

Megi adalah seorang anak kecil yang penyayang. Di rumah, ia memelihara 3 ekor kucing yang lucu. Kucing-kucing ini diurusnya dengan baik. Megi senang, ibu dan ayah memperbolehkannya memelihara kucing. Kata ayah,dengan memelihara kucing, Megi akan terlatih untuk bertanggungjawab. Kucing-kucing Megi suka sekali makan kepala ikan. Untuk memenuhinya, makanan Megi tak boleh jauh-jauh dari ikan. Ya, aturan dari ibu, ibu mau membelikan ikan untuk kucing, asalkan Megi bersedia mengonsumsi dagingnya. “Ikan penting untuk nutrisi pertumbuhanmu, makanlah ikan dengan rutin, Nak” pesan ibu terekam jelas dalam memori Megi. “Tantangan ibu, Megi terima dengan senang hati, Bu.” Jawab Megi. Toh ibu pandai memasak. Tentunya beliau akan menyajikan olahan ikan yang beragam dan variatif. Lagupula ini juga demi kesehatannya. Setiap menu yang ibu sajikan, Megi memakannya dengan lahap dan menyisakan kepala untuk kucing-kucing kesayangannya. Tak lupa ia bersyukur kepada Allah atas rezeki tersebut.
Olalala, masalah muncul! Saat Megi makan, kucing-kucingnya berkumpul mengitari kakinya, memperebutkan si kepala ikan!
“Hmm…berarti aku harus membagi gilirannya dengan rata.” Megi menjentikkan jari. Usai
makan, ia mengambil spidol dan corat-coret di papan tulis putihnya. Ia ingin membuat jadwal pembagian jatah kepala ikan untuk kucing-kucingnya. Yang tidak kebagian, bisa makan makanan lain Megi sediakan untuk mereka.
“Kucingku ada 3.”
“Aku makan ikan 2 hari sekali. Hari ini makan, besok tidak, besok lusa makan ikan lagi.”
“Kalau begitu, berapa hari yang kubutuhkan sampai semua kucing mendapat jatah makan kepala ikan ya?”
“Jika diawali di hari Rabu, di hari apa semua kucing sudah mendapatkah jatah?”
Megi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung menjawab rupanya. Hayo, bisakah adik-adik membantu Megi memecahkan kesulitannya?

Supaya ilmunya lebih manfaat, daripada berdiam di dalam folder laptop, lebih baik resume kulwapnya saya bagikan ya. Tentunya sudah dengan persetujuan dari pihak penyelenggara. Teman-teman bisa mengunduh disini.


#ODOPfor99days
#day59
#KulWapScienceFactory






Monday, 14 March 2016

Brokoli dan Prasangka Hamba


Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai sebuah refleksi diri yang berawal dari keseharian, membeli brokoli. Jenis sayuran satu ini memang cukup sering hadir dalam menu harian kami. Selain karena merupakan salah satu sayuran favorit putri kami, teksturnya yang khas membuat saya dan suami juga menyukainya. Dalam keseharian, saya biasa membeli brokoli di warung dekat rumah, atau tukang sayur keliling yang lewat setiap pagi.
Dulu, awalnya, saya membeli brokoli dari tempat manapun, baik dari tempat A, B maupun C. Terlebih jika membeli di tempat B atau C, mata saya berbinar-binar karena harga yang amat terjangkau, hampir setengah harga dari tempat A!. Tak mau kecewa, sebelum membeli saya sengaja ekstra dalam memilih, memastikan brokoli pilihan saya bermutu baik dengan harga ekonomis. Secara kasat mata, pilihan saya sudah cukup bagus. Sesampainya di rumah, saat brokoli saya bersihkan dan potong-potong, ternyata ada saja bagian yang harus dihilangkan dalam jumlah banyak, entah ternyata terdapat bagian yang busuk di dalam ulat yang menerobos celah rongga disana-sini, atau kuntum berwarna putih kekuningan yang tersembul di balik deretan hijau segar yang nampak dari luar. Semuanya baru terlihat saat kuntum brokoli dipisah-pisah.  Tak kapok, saya mengulangnya kembali, membeli di tempat B dan C, kali ini dengan mata yang semakin awas dalam memilih. Lagi-lagi, perbedaan harga menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan. *Emak-emak banget!
Dan, hal yang sama kembali terulang. Dari situ saya mulai geregetan, hehe… Saya pun membulatkan tekad :
Membeli brokoli hanya di tempat A, tidak di tempat B, tidak juga di tempat C
Saya kapok, selalu kecewa setiap membeli brokoli di tempat B maupun C. Memang secara nominal, harga yang ditawarkan di tempat B dan C memang lebih murah, bahkan untuk semua bahan pangan yang didagangkan. Waktupun bergulir, jika membutuhkan brokoli, saya selalu ke tempat A. Kualitas pas, tak mengecewakan. Sampai di suatu hari, di pembelian yang etah keberapa kali, saat saya sangat bersemangat membersihkannya, ternyata brokoli yang saya beli di tempat A, tidak sebagus biasanya. Hiks.
Awalnya merengut, sempat kecewa. Namun saya segera tersadar. Sepertinya Allah sedang memberikan pelajaran kepada saya. Bahwa seyakin-yakinnya keyakinan saya terhadap suatu hal, tetap Allah-lah tempat bersandar sepenuhnya.


Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (Surat Al Mumtahanah ayat 4)

Siang itu, dari sekuntum brokoli dalam genggaman tangan saya belajar.

#ODOPfor99days
#day51







Tuesday, 1 March 2016

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut



Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum?
Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti.
Dikutip dari Wikipedia, bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras. Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya :


Nah, beberapa minggu yang lalu, Cooking Class Sabumi Bandung membagi resep bubur sumsum. Karena alat dan bahannya simpel, hampir semua tersedia, langsung eksekusi deh! 
Ini dia alat, bahan dan resepnya. 


Dan ini, hasilnya. 


Untuk anak salihah, sengaja saya tambahkan bubur mutiara kesukaannya. 


Penasaran? Yuk, coba!

#ODOPfor99days
#day50