Tuesday, 25 February 2020

Sesi Berbagi Hadiah, Ada Banyak Kejutan Rasa dalam Prosesnya


Setelah di pekan lalu kami saling berkenalan lintas keluarga, mendapat teman baru dari berbagai penjuru dan beragam keluarga, menambah keakraban dengan teman lama yang sudah kenal namun belum lekat, pekan ini saatnya kami saling berkirim hadiah. Masing-masing dari kami menyiapkan hadiah untuk teman-teman Bunda Cekatan, juga bersiap menerima kejutan berupa hadiah-hadiah yang bahkan tak pernah disangka-sangka sebelumnya.

Lalu, berbagi apa saya di pekan ini?

Qodarullah di pekan ini anak kedua saya sedang kurang fit sedari hari Sabtu. Kondisi ini saya maknai sebagai rupa hadiah juga dari Allah sebagai salah satu tantangan dalam berproses menuju seorang Bunda Cekatan. Maka, saya banyak-banyak memaknai kondisi dan mengaktifkan seluruh indra, untuk menangkap aneka pembelajaran yang Allah sampaikan melalui kondisi ini.
Selama beberapa hari saya memasang mode offline. Sengaja melewatkan jam online dan fokus pada pemulihan Ahsan. Selama beberapa hari, pemuda sholeh ini menolak untuk ditidurkan di tempat tidur. Dia memilih untuk tidur di pangkuan saya dan protes jika saya beranjak menjauh darinya. Pemulihannya menjadi prioritas utama saya di akhir pekan lalu. Sehingga saya pun izin untuk tidak hadir ke masjid, tidak mengikuti kelas Tahsin untuk pengajar TPA dan tidak bisa turut mengajar para santri seperti biasanya.
Di tengah-tengah proses penyembuhan anak, pikiran saya menerawang, apa hadiah yang akan saya bagikan pada teman-teman di kelas Bunda Cekatan? Terlintas ide berbagi proses manajemen waktu ibu diaspora. Karena selama hampir dua tahun belakangan ini saya merasa banyak mendapat tantangan seputar topik ini. Namun saya belum memiliki cukup waktu untuk menyiapkan bahan seputar ini. Baiklah, fokus dulu ke penyembuhan anak saja.
Selama demam melanda, asupan makanan Ahsan tidak sebanyak biasanya. Jadilah saya membuat alternatif menu makanan yang sekiranya disukainya dan mudah tertelan olehnya. Teringat dengan menu makanan Turki kesukaan anak-anak terutama di musim dingin. Ya, sup kacang lentil. Kebetulan pekan lalu saya sudah membeli bahan bakunya namun belum tereksekusi hingga pekan ini. Maka saya pun bergegas membuat sup ini dan menghidangkannya. Alhamdulillah anak-anak suka dan makan dengan lahap.
Sempat menjadikan sup ini sebagai status WhatsApp dan beberapa rekan Bunda Sayang meminta resepnya. Aha, ternyata Allah berikan solusinya. Ya, saya bisa berbagi resep sup kacang lentil sebagai hadiah untuk teman-teman Bunda Cekatan. Teman-teman Bunda Cekatan yang menerima hadiah ini secara personal adalah mba Suci Rimadheni, mba Dahniar Pratiwi Ningrum dan mba Nurul Fitriyah karena berkenan mendapatkan resepnya. Juga mba Wenda karena mba Wenda menggeluti bidang kuliner. Resep ini juga menjadi hadiah untuk teman-teman yang mengirimi saya hadiah. Terima kasih banyak atas perhatian teman-teman. Semoga Allah balas dengan kebaikan yang berlipat.

Lalu, hadiah apa saja yang saya dapatkan?

Ada banyak hadiah yang saya terima. Ada yang berkenaan dengan peta belajar saya, yaitu seputar belajar Bahasa Jerman, ada juga yang di luar itu. Namun semuanya menyenangkan dan membahagiakan. Saya tulis satu per satu ya hadiahnya,

Mba Maylani memberikan hadiah seputar tips belajar bahasa, antara lain :



Dari mba Suci Rimadheni saya mendapatkan tautan Youtube tips belajar bahasa Jerman

mba Vadila memberikan hadiah berupa rekomendasi buku referensi untuk belajar bahasa Jerman yang beliau sudah gunakan selama belajar bahasa Jerman hingga level C1. Saya juga jadi bertanya lebih jauh mengenai durasi waktu yang beliau butuhkan untuk belajar bahasa Jerman hingga level tersebut.
Sampul bukunya

Contoh isi bukunya

Dari mba Iva Rofiatun Nisa Azzahra saya mendapatkan hadiah rekomendasi aplikasi untuk membantu belajar bahasa, yaitu aplikasi Duolingo dan Mondly.

Mba Nurul memberikan hadiah sebuah artikel keren mengenai jenjang belajar bahasa yang membuat saya semakin bersemangat untuk belajar. Artikelnya bisa dibaca di sini https://www.zenius.net/blog/17012/belajar-bahasa-asing.

Mba Chitra menghadiahkan saya sumber referensi untuk belajar bahasa Jerman yang dikemas dengan amat cantik di https://drive.google.com/open?id=1rEj7oBTP1LwZhhDhb6Yk2xRBJm0SIEA9

Mba Nursis juga membagikan pengalamannya dalam belajar bahasa Jerman bersama anak-anak dengan menyenangkan di sini https://drive.google.com/open?id=1SeQBVL1kS4lbq3fszR0Kblx7xhW5MJnT

Ada hadiah juga dari sesama anggota kelaurga Bahasa, mba Laila Sari berupa tips belajar bahasa Jerman https://instagram.com/belajarbahasa.jerman?igshid=1bx3ps2bhhqxd

Ada hadiah juga dari sesama anggota kelaurga Bahasa, mba Laila Sari berupa tips belajar bahasa Jerman https://instagram.com/belajarbahasa.jerman?igshid=1bx3ps2bhhqxd

Sedangkan hadiah di luar belajar bahasa Jerman yang juga saya terima adalah sebagai berikut :

Dari mba Annisa Nur Hidayah, saya menerima hadiah mengenai berbahasa bersama anak usia dini. Sebuah tulisan yang dibuat berdasarkan pengalaman beliau dalam membersamai anak-anak berkegiatan di ranah bahasa. Keren! Bisa dilihat di sini https://docs.google.com/document/d/15KtGaDpIRwEvo9KQmXTYYXdxLDAU_QDNdAvncrMJWtQ/edit?usp=sharing








Sedangkan mba Saptriana atau yang akrab dipanggil mba Riana, memberikan hadiah kuesioner untuk mengetahui bahasa kasih. Menarik! Yang sudah kami jalankan di keluarga adalah saling memberi tahu bahasa kasih masing-masing. Nah, kuesioner ini bisa menjadi alat bantu verifikasi nih. Bisa cek di sini https://drive.google.com/file/d/1xMyV_gT2z1YBbFxHs_5mDglw-lo3-3IC/view?usp=sharing



Alhamdulillah, demikian daftar panjang sesi bertukar hadiah di pekan ini.

Merefleksikan perjalanan tahap ulat ini pada sebuah proses berkomunitas, saya semakin memaknai esensi dari sebuah prinsip berbagi dan melayani dengan bahagia. Bahwasanya bisa jadi dalam proses berkomunitas kita melakukan sebuah hal yang tidak kita sukai untuk kepentingan bersama. Namun jika kebutuhan belajar kita telah terpenuhi, tangki kebahagiaan diri dan keluarga sudah penuh terisi maka hal tersebut bisa kita jalankan dengan sukacita. Karena itulah, saat diskusi bu Septi juga mengingatkan untuk tetap memenuhi kebutuhan belajar sembari berjejaring, sembari membagikan hadiah. Agar seimbang antara proses menyerap ilmu – menggali ide dan meramu saripati – membagikan ilmu dan meluaskan kebermanfaatan. Keseimbangan itu yang perlu senantiasa dijaga.  

Kondisi yang dialami pekan ini, dengan tantangan adanya anggota keluarga yang sakit, memberikan hikmah mendalam bagi saya mengenai manajemen energi. Yang biasanya jurnal bisa dikerjakan selama sepekan secara bertahap, di pekan ini saya perlu memutar otak bagaimana agar tetap family first, pembelajaran tetap berjalan dan jurnal terselesaikan dengan baik. Maka saya coba praktikkan memilah antara think about dan act about. Selama anak tertidur dalam pangkuan, saya berupaya menggali hikmah dan mencatat poin-poin pentingnya. Di bonus waktu seperti di perjalanan menuju tempat belanja dan anak-anak di rumah bersama suami, saya mendata hadiah-hadiah yang saya terima di dokumen excel. Di hari terakhir, mencicil mengetik jurnal dengan menggendong anak di pangkuan. Proses ini menjadi sarana latihan untuk menjaga keseimbangan dalam menjalankan beragam peran, mempersiapkan diri untuk masuk ke ranah bunda produktif. InsyaAllah.


Resep Sup Kacang Lentil Merah, Hidangan Pas di Kala Flu Melanda

Postingan kali ini bermula dari kondisi Ahsan yang sedang kurang fit. Karena badan sedang kurang nyaman maka asupan makanan yang masuk pun tak sebanyak biasanya. Saya jadi nostalgia masa kecil, dimana setiap badan sedang kurang fit dan tidak masuk sekolah, ibu selalu membuatkan jeli dan bubur beras. Lalu bagaimana dengan anak-anak? Sepertinya saya perlu membuatkan makanan yang mereka sukai dan mudah untuk ditelan. Tercetuslah ide untuk membuat sup kacang lentil. Terinspirasi dari makanan favorit anak-anak di kedai makan Turki, yaitu sup kacang lentil yang biasa dimakan bersama roti. Kacang lentil ini kami peroleh dari toko Turki. Bahan baku ini mudah diperoleh di sini, tersedia beraneka jenis di setiap toko Turki dan India. Ada beberapa varian kacang yang tersedia, yaitu kacang lentil merah, kuning juga hitam. Sup kacang lentil yang biasa kami temui di kedai makanan Turki biasanya menggunakan kacang lentil merah atau kuning sebagai bahan bakunya.

Linsen Suppe / Lentil Soup / Sup Kacang Lentil

Bahan :

  • 250 gram kacang lentil
  • 1 batang wortel
  • ¼ buah labu kuning
  • 1 buah tomat
  • 1 siung bawang bombay
  • 5 siung bawang putih
  • 3 gelas air
  • ½ sendok teh jinten bubuk
  • Garam secukupnya
  • Merica secukupnya
  • Gula sedikit

 Cara membuat :

Cuci bersih kacang lentil, rendam selama kurang lebih tiga puluh menit, tiriskan.
Kupas wortel dan labu kuning, potong-potong sesuai selera.
Panaskan minyak, cincang bawang Bombay dan bawang putih, tumis hingga harum.
Masukkan wortel, labu kuning, kacang lentil dan tomat, tambahkan air dan semua bumbu lainnya.
Masak dan aduk sesekali hingga matang.
Matikan kompor, blender sup hingga halus.
Hidangkan selagi hangat dengan irisan lemon, bubuk cabai dan roti.

Sup kacang lentil sebelum dihaluskan

Setelah dicoba, Alhamdulillah rasanya mirip dengan apa yang kami beli biasanya. Bagi saya takarannya pas, bagi suami sedikit terlalu kental, bagi anak pertama kami sedikit terlalu banyak merica. Maka untuk takaran, silahkan sesuaikan dengan selera teman-teman ya. Oiya, jika tidak ada labu kunng di rumah, teman-teman bisa menggantinya dengan kentang. Selamat mencoba.





Friday, 21 February 2020

Optimalisasi Pengelolaan TPA di Kota Wina Austria

Di tantangan level 7 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional kali ini, saya memilih tema hubungan dengan Change Factor. 
Mengapa saya terdorong untuk memilih tema tersebut?
Karena di ranah itulah saya dan keluarga berkecimpung saat ini. Ya, saat ini 22 bulan sudah kami berdomisili sementara di kota Wina, Austria. Dan langkah paling konkret yang sedang saya jalankan bersama keluarga dan teman-teman sebagai sebuah upaya bersama adalah belajar menjalankan pendidikan berbasis komunitas dengan mengelola Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) Masjid As-Salam Warga Pengajian Austria (WAPENA).
Sedikit menengok ke belakang, kala kami baru tiba di kota ini. Saat itu tanggal 14 Mei 2018, kami menginjakkan kaki di kota Wina untuk pertama kalinya. Hanya dua hari menjelang puasa Ramadan. Di awal kedatangan, kami merasakan keanehan karena tak lagi mendengar alunan merdu suara adzan yang biasa kami dengar nyaring lima kali sehari. Di Indonesia, rumah orangtua saya berada di seberang masjid sehingga melangkahkan kaki sebanyak lima kali setiap harinya untuk selalu mengikuti sholat berjamaah di masjid setiap waktu sholat tiba bukanlah hal yang sulit. Keadaan yang sangat jauh berbeda. Kami juga kesulitan untuk menemukan tempat sholat di tempat umum jika sedang beraktivitas di luar rumah. Kondisi demikian sebenarnya sudah ada dalam bayangan kami sejak saat suami mengutarakan keinginannya untuk studi lanjut di luar negeri. Bayangan konsekuensi ini juga yang menjadi salah satu faktor pendorong untuk menguatkan fitrah keimanan dari dalam rumah dan menjalankan pendidikan berbasis keluarga.
Namun syukur alhamdulillah Allah menempatkan kami di sebuah kota yang cukup kondusif. Terlebih karena ada sebuah masjid Indonesia-Asia Tenggara yang hidup, masjid As-Salam namanya. Masjid yang aktif dengan kegiatan kajian di setiap akhir pekannya. Bahkan selama bulan Ramadan didatangkan seorang ustadz dari Indonesia untuk menyampaikan tausiyah secara rutin sebulan penuh. Saat Ramadan, setiap Senin dan Kamis pengurus masjid menyelenggarakan kajian yang dilanjutkan dengan buka bersama dan salat tarawih berjamaah. Momen ini menjadikan proses adaptasi kami di awal kedatangan ke kota ini berjalan lebih mulus.
Di masjid As-Salam rupanya juga ada Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) setiap hari Ahad bersamaan dengan kajian rutin yang diselenggarakan untuk warga Indonesia, Malaysia dan Asia Tenggara. Di sebuah ruangan di dalam masjid, para pengajar siap mendampingi anak-anak untuk belajar membaca Iqro' dan Al Qur'an serta setoran hafalan surat pendek. Beberapa pekan setelah kedatangan rutin kami ke masjid, pengurus TPA mengajak saya untuk bergabung menjadi pengurus TPA. Saya pun menyanggupi, karena pendidikan Islam dan anak-anak adalah dua hal yang saya sukai.
Sebelumnya, mari kita menilik definisi Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) terlebih dahulu. Menurut Budiyanto (2010) dalam Mintarti (2012), Taman Pendidikan Al Qur'an adalah unit pendidikan non formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan Al Qur'an sebagai materi utamanya dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih, rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis dari kata "taman".
Tujuan diselenggarakannya TPA adalah memberikan lingkungan yang kondusif untuk berkembangkan fitrah keimanan anak muslim di negara dimana muslim sebagai minoritas sekaligus melahirkan generasi-generasi peradaban yang bertaqwa. Hal ini berkaitan dengan tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat 56).
Di titik ini, perlahan saya memahami maksud Allah mengapa di tahun 2016 setelah dari Bandung, Allah takdirkan saya untuk berdomisili sementara di rumah orang tua di Jombang dulu sebelum ke kota ini. Agar sempat bergabung di Majlis Ta'lim Ulul Azmi Kabupaten Jombang yang berkecimpung di ranah pendampingan Taman Pendidikan Al Qur'an di Jombang. Selama kurang lebih satu tahun berkontribusi, saya sempat terlibat dalam program Berkisah untuk santri TPA, Lomba Takbir Akbar dan Pesantren Kilat selama bulan Ramadan. Skenario Allah baru saya pahami maknanya setelah dua tahun berjalan dan situasi telah bergeser di tahap berikutnya.
Di sisi lain saya menyadari adanya perbedaan kebiasaan dan kultur dalam penyelenggaraan TPA di Indonesia seperti pengalaman yang pernah saya jalankan dengan penyelenggaraan TPA di rantau. Dari segi waktu, tentu TPA di tanah rantau tidak bisa berjalan setiap hari di waktu sore namun hanya memungkinkan setiap hari Minggu saja. Kemudian bahasa yang digunakan pun multibahasa, menyesuaikan dengan kefasihan bahasa setiap santri misalnya saja bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Untuk mempelajari perbedaan ini saya tergugah untuk meminta sharing ide dari teman-teman Ibu Profesional Non Asia yang sudah menjalankan program TPA di rantau terlebih dahulu. Saya pun meminta kesediaan mba Desty untuk berbagi pengalaman beliau mengelola TPA di Leiden, Belanda.

Pembelajaran demi pembelajaran yang saya serap selama berada di Indonesia, sedikit banyak memberikan inspirasi dan ide mengenai langkah yang harus saya jalankan untuk pendidikan Islam anak-anak di rantau. Dimulai dari kebutuhan belajar dua anak kami yang perlu terpenuhi sekalipun fasilitas yang tersedia minim, muncul ide proyeksi program-program untuk TPA ke depan. Kebutuhan terasa semakin mendesak saat kemudian di akhir tahun 2018 tongkat estafet koordinator tim pengurus TPA diamanahkan ke pundak saya.
Tentu ada maksud besar Allah memperjalankan saya pada situasi tersebut dan saya mencoba untuk menggali sebanyak-banyaknya pembelajaran. Langkah yang pertama kali saya jalankan adalah membuka pendaftaran untuk pengajar TPA mengingat di saat yang bersamaan ada dua orang pengajar yang akan segera kembali ke Indonesia. Di sini saya juga mengajak para orang tua untuk berkontribusi menjadi pengajar, di ranah keahlian masing-masing atau kompetensi yang beliau miliki. Karena mendidik anak-anak dalam bingkai Islam adalah sebuah proses panjang yang perlu dikerjakan bersama-sama.
Langkah berikutnya adalah membuka pendaftaran untuk peserta baru, sekaligus melakukan pendataan ulang untuk peserta lama. Merapikan database menjadi hal yang saya pilih sebagai langkah pertama memulai tahun ajaran baru. 


Berikutnya, para pengajar mulai berdiskusi untuk menyusun program dan jadwal. Salah satu hal yang tercetus adalah diadakannya program spesial dalam menyambut Ramadan, bertajuk Ceria Sambut Ramadan untuk menularkan antusiasme dalam menyambut bulan mulia. Di sini, di bulan Ramadan anak-anak beraktivitas seperti biasa, sama seperti hari biasa lainnya. Sehingga aura Ramadan dan semangat menjalaninya memang harus diupayakan.
Selama kurang lebih satu setengah bulan kami mempersiapkan acara tersebut bersama-sama. Target capaian, konsep acara hingga briefing pemateri saya jalankan secara bertahap. Teman-teman pengajar lain sigap mengambil bagian dalam ranah teknis. Ada yang menjadi pemateri, moderator, juga bergerak mempersiapkan hadiah. Para wali santri juga mengambil bagian dengan menyiapkan konsumsi untuk seluruh partisipan. Alhamdulillah acara perdana berdurasi enam jam berlangsung lancar dan meriah.


Untuk program rutin, berlangsung setiap pekan dengan agenda belajar membaca Iqro' atau Al Qur'an, setoran hafalan dan materi tematik. Menurut Mintarti (2012), pada dasarnya TPA terbagi menjadi beberapa kelas sesuai tingkat umur, yaitu :

  1. anak usia lima sampai tujuh tahun
  2. anak usia tujuh sampai sembilan tahun
  3. anak usia sepuluh sampai dua belas tahun
Sedangkan dalam praktiknya di TPA masjid As-Salam, santri juga terklasifikasikan dalam tiga golongan usia yang kurang lebih serupa, yaitu :
  1. usia empat s.d. enam tahun
  2. usia tujuh s.d sepuluh tahun
  3. usia sebelas tahun s.d. empat belas tahun
Berikut beberapa dokumentasinya.


Selanjutnya, tim pengajar mencoba menerapkan satu nilai penting sebagai muslim, tepat waktu. Untuk poin ini, ada satu pengajar yang mengawalinya sejak lama. Kemudian kami upayakan bersama dan terasa perubahan signifikan selama satu tahun proses belajar mengajar, alhamdulillah. Karena antrean setoran santri juga berdasarkan urutan kedatangan, para santri pun mulai terbiasa untuk mengupayakan hadir tepat waktu dengan mengajak orangtua untuk datang ke masjid lebih awal.
Program berikutnya yang sedang berjalan saat ini adalah program upgrading untuk pengajar. Setelah para pengajar berdiskusi, kami menyepakati program tersebut berupa sesi belajar tahsin bersama ustadz Wisnu Arfian yang memiliki kompetensi daam mengajarkan ilmu tersebut. Sesi ini berlangsung setiap hari Minggu siang sebelum sesi TPA dan kajian dimulai, sehingga kami datang lebih awal dari biasanya. Saat ini memasuki sudah memasuki pekan kesembilan.

Mari bergerak dari kebutuhan diri, bergerak dari yang memungkinkan untuk dilakukan, bergerak dari lingkup terdekat dan bergerak untuk menggerakkan. Karena energi dan kebahagiaan itu menular. :)

Wina, Februari 2020


Sumber Referensi :
Dokumentasi Kegiatan TPA Masjid As-Salam WAPENA via Facebook Mesa Dewi. Dapat diakses di https://www.facebook.com/mesa.dp/media_set?set=a.10157487470459650&type=3
Mintarti, Sri. 2012. Pengelolaan Taman Pendidikan Al Qur'an (Studi Situs SDN Panjang 02 Ambarawa). http://eprints.ums.ac.id/22190/14/NASKAH_PUBLIKASI_SRI_MINTARTI.pdf
Pendaftaran Santri dan Pengajar TPA Masjid As-Salam WAPENA. Dapat diakses di http://www.wapena.org/2019/09/pendaftaran-santri-dan-pengajar-tpa/





Tuesday, 18 February 2020

Temuan dan Pembelajaran yang Saya Dapatkan selama Sesi Berkemah Kelas Bunda Cekatan



Setelah kenyang memakan Apel di Kebun Apel, berbagi dan mendapatkan daun renyah yang disukai di pohon masing-masing, perjalanan si Ulat sampai di Hutan Pinus. Di Hutan Pinus ini si Ulat akan  berkemah, menyalakan api unggun, memasang tenda dan saling berkunjung ke teman-teman peserta Camping. Sembari itu, si Ulat tetap bergerak mencari makanan utamanya, baik menikmati dedaunan yang sudah tersedia di pohonnya ataupun mencari daun yang dibutuhkannya sendiri sebagai makanan spesifik yang memenuhi kebutuhannya. Kurang lebih inilah analogi yang saya tangkap dari dongeng yang disampaikan bu Septi di sesi diskusi. Menyimak cerita dan terlibat aktif dalam sebuah gamifikasi memang selalu menyenangkan. Analogi yang digunakan membuat tahapan belajar tervisualisasikan jelas sehingga semakin mudah dipahami dan menantang untuk segera dikerjakan.

Bagaimana saya menjalankan prosesnya?

Saat sesi live diskusi, saya tidak bisa menyimaknya. Jam diskusi bersamaan dengan jam pulang sekolah si sulung dan berlanjut dengan agenda mendatangi rumah teman untuk bermain bersama. Saya baru bisa menyimak keesokan harinya. Di hari Jum’at saya mulai dengan mendengarkan siaran ulang diskusi untuk dapat memahami apa saja yang harus saya lakukan untuk memenuhi penulisan jurnal pekan ini. Bersamaan dengan ini mulai berdatangan sapaan hangat dari teman-teman. Bagi saya, memahami sebuah tugas secara utuh adalah hal penting sebelum memulai langkah teknis yang sekaligus membuat saya bisa mengkaitkannya dengan pembelajaran sebelumnya untuk menemukan konsep secara keseluruhan. Setelah menyimak diskusi, saya membuat alur langkah yang harus saya lakukan. Kurang lebih demikian :
  • Membuat daftar nama teman yang perlu diwawancarai selama camping ground
  • Menyusun daftar pertanyaan yang diajukan ke teman
  • Mengumpulkan data
  • Mengolah hasil wawancara dalam bentuk diagram
  • Menulis jurnal

Yang pertama tercantum dalam daftar nama teman yang perlu diwawancarai adalah teman-teman mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Efrimenia (Non Asia). “Apakah saya belum mengenal mereka?” Tentu sudah, namun ada pertanyaan lanjutan, yaitu “Seberapa dekat saya mengenal mereka?” Mereka adalah sosok-sosok yang berada di lingkaran pertama atau terdekat saya saat ini di komunitas ini. Saya merasa ini merupakan kesempatan untuk mengenal teman-teman terdekat dengan lebih dekat, menyapa teman-teman secara personal dan menguatkan ikatan emosional sekalipun kami belum pernah bertatap muka karena berada di wilayah yang berbeda negara bahkan benua. Setelah itu, saya menghubungi teman-teman secara acak, juga membalas perkenalan dan sapaan teman-teman pada saya.
Layaknya proses Masa Orientasi Sekolah, kami saling bertukar dan mengumpulkan data antar mahasiswa. Bergerak kesana-kemari untuk berkenalan dan saling menyapa. Secara garis besar, saya mulai menyapa teman-teman terutama mahasiswi Bunda Cekatan HIMA IIP Efrimenia di hari Jum’at siang usai menyimak sesi diskusi sekaligus menyiapkan template pertanyaan untuk kenalan-kenalan dan template perkenalan diri yang tepat tujuan (mencakup kelas favorit dan alasannya serta kebahagiaan berada di kelas tersebut). Di hari Jum’at sebelum Shubuh, saya mengalokasikan waktu untuk menjawab sapaan, membalas perkenalan dan mencatat setiap data yang masuk. Sengaja tak saya gunakan google form karena saya menyukai interaksi intensif, memfasilitasi bakat relator saya yang termasuk kekuatan dominan. Proses pengumpulan data berlanjut kembali di hari Senin dan Selasa. Satu hal yang saya lakukan selama proses ini adalah membuka chat obrolan dari gawai sembari menghadap ke laptop untuk sekaligus melakukan pengumpulan data.  
Berikut data hasil survey saya di Camping Ground pada 47 teman di kelas Bunda Cekatan :


Data Hasil Survey 47 Peserta Kelas Bunda Cekatan


Data lengkap hasil survey dapat disimak di file berikut.
Dan berikut diagram hasil survey kelas favoritnya :
Diagram Hasil Survey Kelas Favorit 47 Peserta Kelas Bunda Cekatan

Apa saja yang saya temukan?

Kejujuran dan keterbukaan teman-teman dalam berinteraksi.

Saya menyukai proses menjalin relasi ini karena saya memiliki kesempatan untuk mendengar lebih banyak. Pada kenyataannya, tidak semua teman yang saya jumpai mengalami rasa bahagia. Ada yang merasa kurang bahagia karena merasa riweuh dan tidak punya cukup waktu untuk mengerjakan tantangan kali ini. Saya berempati dan amat memahami kondisi ini. Memang perlu alokasi waktu khusus untuk membangun jejaring pertemanan pada tantangan kali ini. Dan ada yang tidak bisa mengalokasi waktunya karena keterbatasan kondisi. Selama perjalanan, saya menemui beberapa teman yang menghadapi ujian. Ada teman yang di pekan ini diuji dengan meninggalnya orangtua sehingga dalam kondisi berduka, ada yang menjalankan multi peran sebagai student mom di negara asing dan alokasi waktu untuk kelas Bunda Cekatan sangat sempit, ada juga  yang diuji dengan sakitnya anggota keluarga. Dari kondisi yang saya temui ini saya mencoba membantu beberapa diantaranya dengan memberikan ringkasan sesi diskusi sehingga mereka paham tugas dalam waktu singkat.

Mendapat banyak kejutan! Hal baru yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Lingkaran pertemanan menjadi meluas. Di sesi ini saya banyak mengenal orang-orang baru dan terinspirasi dari mereka. Ada seorang teman yang berusia menjelang 50 tahun dan amat bersemangat menjalani setiap tantangan di kelas Bunda Cekatan ini. Dari beliau saya belajar mengenai kegigihan. Dari sesi ini saya juga bertemu kenalan yang kemudian bercerita kalau beliau dulu memiliki minat tinggi pada bahasa namun tidak didukung orangtua namun kini beliau sedang menggeluti hal yang dibutuhkannya dengan bahagia. Bertemu dengan teman yang menjalani profesi yang sama dengan yang saya geluti saat ini, pengelola Taman Pendidikan Al Qur’an sehingga bisa sekaligus belanja ide program ke depan. Bahkan bertemu dengan kenalan baru yang ternyata adalah saudara dari teman belajar di negara ini.
Sensasi proses ini mengingatkan saya pada situasi yang saya rasakan saat mengikuti workshop atau camp saat di Indonesia. Bertemu dengan orang-orang baru, yang bisa jadi berbeda selera dengan kita tapi ada hal menarik yang bisa menjadi inspirasi dan  transfer energi positif satu sama lain. Proses ini mengingatkan saya akan pentingnya menjalin dan menjaga tali silaturahim antar manusia.

Pembelajaran apa saja yang saya dapatkan?

Manajemen waktu dalam berjejaring

Di sesi diskusi, bu Septi sempat mengingatkan akan pentingnya manajemen waktu di camping kali ini. Saya jadi teringat kebiasaan bu Septi dan pak Dodik setiap kali saya mengikuti acara yang mengundang beliau berdua sebagai narasumber. Selepas acara bu Septi tentu saja diserbu peserta dan panitia untuk berkonsultasi. Bu Septi selalu menyambut dengan mata berbinar. Namun kemudian, suara pak Dodik mengingatkan, “Sepuluh menit lagi ya Bunda”. Atau saat mengobrol bu Septi menyampaikan pada peserta, “Saya ada waktu hanya sampai lima belas menit ke depan ya. Setelahnya, saya harus masuk ke kamar untuk beristirahat. Sudah diwanti-wanti pak Dodik.” Pembelajaran yang saya dapatkan adalah, setiap kegiatan ada porsi waktunya masing-masing, pun kegiatan yang disukai sekalipun.   Keseimbangan dalam menjalankan peran perlu senantiasa dijaga agar tidak timpang dan tidak ada pihak yang dirugikan. Setelah setiap kegiatan ada kandang waktunya, perlu konsisten menerapkan cut off time.

Mengenal gaya dan modalitas belajar diri sebelum berjalan jauh

Selain berjejaring, saya perlu terus bergerak untuk mencari makanan utama. Jangan sampai keasyikan mengobrol membuat saya terlena dan melupakan timeline pencapaian peta belajar. Nah, bagaimana jika ternyata cara belajar secara online melalui WAG melalui pola menyimak chat adalah bukan gaya belajar yang sesuai dengan diri? Ini merupakan tantangan, sebuah ajang latihan untuk meningkatkan keterampilan beradaptasi. Namun, perlu juga alokasikan waktu untuk belajar sesuai dengan gaya dan modalitas belajar yang saya banget. Misalnya, saya lebih suka belajar melalui buku daripada chat, lebih suka belajar teori sedikit lalu praktik baru kemudian tambah teori baru. Nah, waktu untuk membaca buku dan praktik perlu teralokasikan dengan cukup juga sehingga kebutuhan belajar merdeka dapat terpenuhi dan bahagia dalam menjalankannya.

Komunikasi produktif dalam berkomunitas

Dalam proses ini, diperlukan menjaga pola komunikasi agar bisa berjalan KISS (Keep Information Short and Simple). Bagaimana dengan waktu yang terbatas, kita saling bertukar informasi yang saling dibutuhkan, dan saling meringankan tantangan yang dimiliki. Kunci yang saya rasakan adalah, fokus ke tujuan (poin informasi apa saja yang ingin diperoleh dan disampaikan), mengajukan pertanyaan dan menyiapkan jawaban yang jelas dan menghindari pembahasan yang melebar. Dari sini saya merasa keterampilan bertanya pun ikut terasah.

Membangun empati saat tangki kebahagiaan pribadi terisi

Dalam diskusi bu Septi sampaikan bahwa sembari memakan makanan utama, belajar sesuai peta belajar yang sudah dibuat, kita perlu tengok kiri-kanan untuk berkenalan dan menyapa teman-teman kita. Mengamati sekeliling, barangkali ada tetangga kita yang masih kelaparan dan membutuhkan bantuan kita. Siapa tahu ada teman yang belum bahagia dan kita bisa menularkan kebahagiaan kita padanya. Hanya yang memilikilah yang sanggup berbagi. Maka kita perlu belajar dengan cukup terlebih dahulu agar kita bisa berbagi ilmu dan pengalaman yang sudah kita miliki. Maka kita perlu bahagia terlebih dahulu agar bisa menularkan kebahagiaan itu pada yang lainnya. Bukankah dengan berbagi, hal yang kita miliki tidak akan berkurang dan kebahagiaan yang kita rasakan juga tidak akan hilang? Ya, justru akan berlipat karena. Inilah prinsip dasar dalam berkomunitas. Memiliki semangat untuk senantiasa berbagi dan melayani. Give and given. Setelah sebelumnya tangki kebutuhan ilmu dan kebahagiaannya terisi sehingga bisa menjadi pondasi yang kuat untuk diri.

Demikian proses yang saya jalankan, temuan dan pembelaran yang saya dapatkan selama berada di Camping Ground kelas Bunda Cekatan ini. Semoga Allah mampukan untuk mengkaitkan pembelajaran dari setiap tahapan yang terlampaui. Aamiin. 




Tuesday, 11 February 2020

Portofolio Belajar Diri di Kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional


Kembali menuliskan jurnal Bunda Cekatan. Kali ini saya akan membagikan cerita mengenai perjalanan belajar bahasa Jerman yang menjadi makanan utama saya di peta belajar dan perjalanan menyimak beberapa ilmu yang saya jadikan camilan belajar di pekan ini. Mengapa keduanya saya tuliskan? Mengapa tidak makanan besar saja? Karena di pekan ini saya sedang menyusun portofolio belajar diri, Menelusuri seberapa fokus saya berproses belajar bahasa Jerman sekalipun kursus sedang libur, menjalani target-target yang sudah dicanangkan sejak awal masa libur dan memastikan bahwa camilan yang dimakan menjadi pendukung proses belajar. Dengan demikian, waktu yang dihabiskan untuk belajar pun cukup dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Sehingga bisa tepat sasaran, meraih ridho suami dan anak-anak dan berujung pada ridho Allah. Aamiin…
Pekan ini ada banyak sekali ilmu di kelas Bunda Cekatan. Para peserta yang dianalogikan sebagai ulat, setelah berkumpul di keluarga dengan bidang minat yang sama, diperbolehkan untuk pindah keluarga. Peta belajar setiap peserta tentu berbeda dan kebanyakan cakupannya luas, sehingga sangat mungkin jika dalam peta belajarnya memuat bidang minat lebih dari satu. Itulah mengapa ada kesempatan untuk berpindah keluarga untuk mencari makanan besar yang berada di keluarga lain untuk memenuhi kebutuhan belajar sesuai peta belajar yang sudah disusun. Jadwal tayangan Go Live pun mengular terlebih di pekan pertama, karena awalnya jadwal Go Live hanya tiga hari untuk empat puluh keluarga. Namun setelah berjalan jadwal Go Live diperpanjang hingga satu bulan.

Lalu, apa yang saya lakukan?

Saya tidak berpindah keluarga, tetap berada di keluarga bahasa. Alasan utamanya, adalah karena saya membuat peta belajar yang cukup spesifik, yaitu sebuah proyek dengan nama Mama lernt Deutsch. Peta belajar ini cakupannya sangat sempit, yaitu seputar upaya saya untuk belajar bahasa Jerman dengan optimal. Dan keberadaan saya di keluarga Bahasa sudahlah tepat.
Alasan kedua, saya sangat menyadari bahwa saya tipikal orang yang sulit fokus. Ya, saya mudah terdistraksi. Di sisi lain, kekuatan discipline dan maximizer saya berada di tujuh kekuatan teratas. Keluarga bahasa sudah menjadi lingkungan yang kondusif untuk menjalankan peta belajar saya sekaligus tempat yang nyaman untuk berbagi seputar perkembangan belajar bahasa dari waktu ke waktu.
Alasan ketiga, ilmu di luar bahasa Jerman, saya masukkan sebagai camilan. Saya membutuhkan camilan yang sehat, yaitu camilan yang mendukung proses saya belajar bahasa Jerman. Jadi, selain makan makanan utama, saya juga makan beberapa camilan.

Apa yang saya pelajari terkait makanan utama saya, yaitu bahasa Jerman di pekan keempat ini?


Belajar grammatik yaitu mengenai plusquamperfekt.
Untuk memahami dengan mendalam, saya berdiskusi dengan teman saat berkunjung ke rumahnya juga membaca penjelasan di beberapa buku, berlatih soal hingga menulis ulang pola yang mudah saya pahami.

Melatih kemampuan berbicara : berkonsultasi perihal tempat tinggal ke MA35 dan OeH
Menguasai bahasa pengantar tempat tinggal adalah kunci terbukanya kesempatan belajar dan pemahaman mendalam mengenai banyak hal. Ada banyak aturan yang belum saya mengerti di kota Wina ini, salah satunya mengenai tempat tinggal. Karenanya, saya memberanikan diri untuk berkonsultasi ke pihak berwenang, yang darinya bisa saya dapatkan informasi faktual untuk menentukan langkah ke depan.

Melatih kemampuan berbicara : menjalani cek kesehatan (Vorsorgeuntersuchung)
Setiap orang dikenakan asuransi kesehatan yang terbilang cukup mahal. Timbal baliknya, ada fasilitas cek kesehatan gratis per tahunnya. Informasi perihal ini saya dapatkan dari dokter yang memberikan penyuluhan di tempat kursus bahasa. Sejak saat itu, saya bertekad untuk mencoba melakukan cek kesehatan kelak saat sudah cukup memahami bahasa Jerman. Awal tahun 2020 ini saya memberanikan diri untuk melakukannya. Dimulai dari mendaftar ke dokter umum (Hausarzt), mengisi form pemeriksaan, pengambilan sampel darah dan urine hingga berkonsultasi hasilnya dengan dokter. Alhamdulillah berjalan lancar dan menyenangkan.

Melatih kemampuan berbicara : menemani anak untuk cek kesehatan
Jika kursus bahasa sudah kembali berjalan, saya seringkali kesulitan untuk membuat jadwal ke dokter karena jadwal kursus yang cukup padat. Sehingga selama libur kursus saya agendakan juga untuk memeriksa kesehatan anak-anak. Setelah berkonsultasi dengan dokter anak, beliau memberi masukan untuk melakukan rontgen tulang dan tes endokrin. Tentu saya menyambutnya dengan antusias. Pekan ini saya mengantar anak-anak untuk rontgen dan membuat jadwal untuk tes endokrin.

Membaca buku Schritte Plus tapi belum membuat resume materinya di buku catatan
Buku ini menjadi buku favorit saya untuk belajar grammatik saat ini karena saya merasa penyampaian materi di buku ini mudah dipahami. Saya membaca beberapa materi dan menandai poin penting di dalamnya. Hal-hal yang saya rasa penting, ingin saya catat di buku.

Mencari amunisi buku di perpustakaan lagi
Perpustakaan adalah tempat ternyaman bagi saya dan anak-anak. Sepekan ini kami berkunjung sebanyak tiga kali ke perpustakaan dan saya membawa tiga buku ini untuk melengkapi referensi belajar.

Apa yang menjadi camilan saya di pekan keempat ini? Yang saya dengarkan sembari beraktivitas domestik hingga meningkatkan indeks kebahagiaan?


Mengenal High Sensitive Person  (HSP) di Youtube Channel Satu Persen. 
Saya menyadari bahwa saya orang yang cukup sensitif. Dan dari video tersebut saya mendapatkan pembelajaran bahwa orang yang terlalu sensitif perlu menjaga fokusnya kuat-kuat hingga kepeduliannya tersalurkan pada hal-hal yang penting saja.

Memahami Diri dan Sekitar melalui Talents Mapping, Go Live keluarga TM oleh mba Ningrum 
Berbekal training TM Basics dan TM Dynamics yang sempat saya ikuti di Indonesia, belakangan saya sangat merasakan manfaat memahami diri sendiri dan orang lain, termasuk dalam membangun hometeam, berkomunitas hingga menemukan cara yang “saya banget” dalam belajar.
Ilmu Komunikasi dari Pemaparan Go Live Keluarga K3B yang Diwakili Mba Yani
Komunikasi harus efektif, efisien dan produktif. Bagaimana menyampaikan pesan dengan clear and clarify, tidak menimbulkan bias. Bagaimana pesan bisa diterima dengan baik sekalipun via daring.
Manajemen Waktu, Pemaparan Go Live Keluarga Uluwatu yang Dituturkan Mba Laily
Teknik-teknik yang dipaparkan beberapa sudah saya terapkan dan pahami polanya. Seperti misalnya, teknik Pomodoro bagi saya cocok untuk menjaga fokus saat beraktivitas domestik namun tidak untuk kegiatan belajar. Pembuatan life plan dari yearly-monthly-weekly-daily juga sangat bermanfaat untuk saya yang kekuatan discipline-nya cukup dominan. Yang sangat mengena, adalah mengenai kebiasaan menunda dan cara memutusnya. Ini sangat penting untuk saya, karena seringkali saya menunda mengerjakan suatu hal dengan alasan mengajak orang lain terlebih dahulu atau mengerjakan hal yang ringan dahulu atau mengumpulkan ide hingga pengerjaannya dapat optimal.

Lalu, apa yang dibahas di keluarga Bahasa di pekan keempat ini?


Keluarga Bahasa merupakan keluarga kecil yang hangat. Saya sangat nyaman berada di dalamnya. Pekan ini para anggota keluarga berbagi makanannya juga perkembangan belajar bahasanya. Mba Novi berbagi ringkasan buku Nahwu I’rab. Membagikan catatan mengenai jabatan pokok, jabatan pelengkap al mabniyyat, mabni, juga al majrurat : ism. Mba Atin berbagi tautan channel Youtube belajar bahasa Jerman yang sering dijadikannya sebagai rujukan, yaitu : https://www.youtube.com/playlist?list=PLF9mJC4RrjIhS4MMm0x72-qWEn1LRvPuW. Kemudian mba Ita Roihanah juga membagikan aplikasi sumber belajar bahasa Inggris yang baru saja dikumpulkannya.


Demikian portofolio belajar saya juga portofolio belajar keluarga bahasa pekan ini. Satu quote yang bu Septi bagikan saat diskusi di hari Kamis lalu sangat mengena, You are the best decision maker, and I trust you! Ya, jangan takut untuk membuat keputusan. Termasuk untuk memutuskan ilmu dan informasi mana saja yang akan disimak dan diserap. Karena hal tersebut juga berkaitan dengan waktu yang akan dialokasikan. Ya, waktu, sebuah hal yang sangat berharga namun seringkali terbuang sia-sia. :(






Monday, 3 February 2020

Bertemu dan Makan bersama Keluarga lalu Berbagi Perbekalan di Hutan Pengetahuan


Di pekan ini, kami bertemu keluarga! Ya, para peserta yang dianalogikan sebagai ulat-ulat, bertemu dengan ulat lain yang memiliki makanan yang sama atau serupa di sebuah wadah yang dianalogikan sebagai pohon Apel.  Setelah didata, ternyata ada empat puluh keluarga! Artinya setelah diklasifikasikan, 1.700++ ulat ini menyebar di empat puluh pohon Apel. Satu peserta cukup memilih satu keluarga saja untuk menjaga fokus dan dapat berproses dengan optimal. Ada kondisi di mana peserta memiliki peta belajar dengan topik yang beragam. Nah, untuk kondisi tersebut maka perlu dibuat skala prioritas, topik mana yang paling mendesak dan penting untuk ditindaklanjuti dalam proses pencarian makanan ini.

Menentukan Fokus

Sejak awal pembuatan peta belajar, mengingat durasi belajar kelas Bunda Cekatan adalah enam bulan saja, maka saya memilih memfokuskan peta belajar pada project Mama lernt Deutsch. Jadi project inilah yang akan menjadi sampel selama kelas Bunda Cekatan. Apakah kebutuhan belajar saya hanya belajar bahasa Jerman? Tentu tidak, saya pun perlu belajar bidang lain, pun bidang-bidang yang banyak digemari peserta, seperti manajemen waktu dan manajemen emosi. Namun saatnya bukan sekarang, atau sekarang cukup menjadi camilan seiring praktik saja. Karena selama minimal setengah tahun ini setidaknya saya perlu mengalokasikan waktu sekitar empat sampai lima jam per hari untuk belajar bidang ini. Dan lembaga kursus memiliki standar yang cukup tinggi, persaingan yang cukup ketat dan pekerjaan rumah yang cukup banyak. Hal ini yang saya rasakan selama dua level yang sudah dijalankan di tahun lalu. Karena keterampilan berbahasa Jerman masuk kategori kebutuhan belajar yang penting dan mendesak saat ini, maka saya ingin fokus,mengkolaborasikan antara kuantitas dan kualitas untuk berikhtiar optimal. Di luar waktu tersebut tentu saya tetap menjalankan peran sebagai istri, ibu dan anggota masyarakat. Seperti memberikan pelayanan untuk suami, memfasilitasi Home Education anak, mengkoordinir pengelolaan TPA, mengikuti kelas tahsin, menjalankan tugas leader HIMA IP Non Asia dan menulis.

Proses Berkeluarga

Perjalanan pekan ketiga ini dimulai dengan menggali spesifikasi kebutuhan belajar teman-teman HIMA regional Non Asia. Setelah terklasifikasikan, data dikirimkan ke tim Bunda Cekatan. Setelah itu, data dari seluruh regional diolah oleh tim BUnda Cekatan hingga kemudian menghasilkan pengumuman berupa empat puluh keluarga beserta kepala keluarganya. Kepala keluarganya inilah yang bertugas membuatkan grup sebagai rumah berkumpulnya keluarga tersebut. Saya bersyukur karena kepala keluarga Bahasa bergerak cepat membuatkan grup kemudian mulai membuka diskusi perdana di hari Sabtu 19.00 WIB. Di diskusi perdana itu, kami melakukan perkenalan dimulai dari nama, domisili, bahasa yang ingin dikuasai dan tujuan yang ingin dicapai.
Inilah anggota keluarga Bahasa
Anggota keluarga Bahasa

Keluarga bahasa merupakan sebuah keluarga kecil, dengan anggota keluarga yang hanya sepuluh orang. Hal ini memudahkan kami untuk berkoordinasi dan menggali ide. Dalam diskusi pertama, kami menggali ide sumber referensi belajar (yang terbagi dalam tiga kelompok bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa Jerman) dan tips belajar bahasa asing. Setelahnya, kami beralih topik mengenai tema Go Live! Tercetus tiga usulan tema, yaitu : 
  • Bagaimana belajar TOEFL dan IELTS untuk kebutuhan sekolah atau promosi kerja
  • Bagaimana belajar bahasa Jerman yang mudah dan bisa diaplikasikan
  • Bagaimana belajar bahasa dengan mudah dan menyenangkan

Setelah proses diskusi, akhirnya diputuskan bahwa tema Go Live! yang akan dibawakan adalah “Tips Belajar Bahasan dengan Mudah dan Menyenangkan”.  Mba Ika selaku kepala keluarga menawarkan siapa anggota keluarga yang percaya diri untuk Go Live! Saya menyanggupi untuk mempersiapkan jika yang dibagikan adalah pengalaman belajar bahasa asing. Dan anggota lain pun menyetujuinya. Maka, amanah saya saat ini, mempersiapkan untuk menjadi perwakilan keluarga dengan optimal.

Persiapan Go Live!

Diskusi kedua dilaksanakan keesokan harinya, hari Minggu jam 14.00 WIB. Mba Ika selaku kepala keluarga membagi tugas dengan apik. Mba Rita ditunjuk sebagai Koordinator Go Live! beliau mempersiapkan kisi-kisi bahasan selama penampilan sekitar tiga puluh menit tersebut, kemudian mba Ika melengkapinya dengan menambahkan estimasi waktu per bagian. Setelah disepakati alur bahasannya, dilengkapi dan diklasifikasikan data sumber referensi dan tips belajar bahasa oleh mba Sari, Kepala Keluarga pun mendaftar sesi Go Live! Dan saya agak curiga, jangan-jangan penampilan keluarga kami menjadi penampilan perdana, mengingat jam di jadwal yang terisi kesemuanya masih setelah jam yang kami ajukan. Dan benar saja, keluarga kami menjadi keluarga perdana yang berbagi.
e-flyer yang disiapkan tim Bunda Cekatan untuk seluruh peserta

Jadwal yang kami ajukan adalah Senin, 14.00 WIB atau jam 08.00 CET, ini sesuai dengan jadwal yang saya ajukan ke mba Ika selaku kepala keluarga. Karena di awal, jadwal Go Live! hanya sampai Rabu, 5 Februari 2020 saja. Koordinasi berjalan sangat baik, mba Sari mengklasifikasikan tips hasil gali ide sehingga lebih mudah terbaca. Mba Rita merapikan kembali alur bahasan yang perlu saya sampaikan saat sesi berbagi nanti. Anggota keluarga lain menawarkan bantuan dengan sigap. Saya sangat merasakan kesigapan, kehangatan  semangat berbagi dan melayani  yang tinggi antara satu sama lain. Senin selepas Shubuh, saya membuat mindmap alur bahasan untuk Go Live! sembari menunggu konfirmasi dari mba Ika Pratidina selaku Co-Fasil.

Mindmap untuk bekal Go Live! hasil dari diskusi keluarga Bahasa

Go Live! Keluarga Bahasa
Tiga puluh menit sebelum jam Go Live! saya berkoordinasi dengan mba Ika untuk persiapan teknis. InsyaAllah cukup saya pahami. Tepat jam 08.00 WIB saya memulai live di grup Bunda Cekatan. Lima menit berjalan, belum ada respon sama sekali. Saya mulai merasa janggal, siaran saya putuskan untuk dimatikan sementara. Terlebih keluarga Bahasa juga menyampaikan belum menyaksikan tayangan live saya di grup. Saya ulangi sekali lagi, hal yang sama terulang. Ada apakah ini? Apa yang perlu saya lakukan? Ibu kepala keluarga mengontak saya, kemudian kami diskusi via telefon WhatsApp, di saat bersamaan, mba Ika mengabarkan bahwa baru saja menjadikan saya sebagai admin grup. Aha! Solusi ditemukan. Ternyata tayangan saya tadi tidak bisa dilihat peserta lain karena saya live sebagai anggota, belum sebagai admin grup. Di sekitar menit kedua belas lepas dari jam delapan, saya bisa live mewakili keluarga Bahasa.
Sesi Go Live! yang disimak juga oleh Bu Septi

Alhamdulillah presentasi dan berbagi pengalaman tadi berjalan lancar. Semoga Allah limpahkan berkah dan manfaat bagi yang mempersiapkan, menyampaikan dan mendengarkan di sesi tadi. Seusai sesi Go Live! kami mengapresiasi kerja bersama yang sekeluarga jalankan. Juga ada beberapa anggota keluarga yang baru masuk. Kami pun melanjutkan diskusi seputar proses belajar bahasa yang sedang kami jalani masing-masing.