Saturday, 27 January 2018

Jurnal Fasilitator Level 11

Pembelajaran di level 11 ini cukup menantang baik dari segi materi maupun cara penyampaian. 
Jika di materi sebelumnya materi disajikan oleh tim fasilitator nasional, di materi kali ini hal tersebut tidak berlaku. Yang diberikan hanya berupa outline yang harus dikerjakan peserta secara berkelompok. 

Sebagai fasilitator, hal ini sungguh menantang. Karena kami harus mengerjakan presentasi di grup fasilitator juga memfasilitasi kelas untuk menjalankan metode belajar yang baru ini. Tantangan yang paling dirasa adalah terkait manajemen waktu. Perlu strategi jitu supaya dapat mengerjakan tugas kelompok, mendampingi kelas juga mengerjakan administrasi kelas secara bersamaan pada jam online yang terbatas. 

Prioritas utama saya tetaplah anak-anak. Anak-anak yang masih berusia bayi dan balita masih membutuhkan keberadaan saya dalam porsi waktu yang cukup besar. Terlebih domisili kami sedang berjauhan dengan bapak kepala keluarga. Maka, tantangan di level ini juga memaksa saya untuk lebih disiplin dalam menjalankan manajemen waktu yang sudah saya tetapkan. 

Aliran Rasa Materi Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah materi level 11 ini berjalan dengan baik. Dengan menggunakan metode belajar yang baru ini, beberapa poin pembelajaran dapat saya petik, diantaranya adalah :

Sebuah hal yang terlihat sulit secara konsep, terasa lebih mudah jika dijalankan.

Fitrah belajar akan tumbuh subur pada kondisi pembelajaran yang memfasilitasi, tidak menggegas

Penting untuk membuat sebuah kerangka konsep dalam mempelajari sesuatu. Jika tidak, kita akan kehilangan fokus dan mudah terdistraksi hal lain.

Saturday, 20 January 2018

Mengasah Kecerdasan Diri melalui Proyek Keluarga

Manusia adalah mahkluk yang diciptakan unik, tidak ada manusia di dunia yang sama persis dalam hal apapun, selalu ada perbedaan dalam diri manusia yang membuatnya unik dan berbeda dari orang lain. Namun hanya sedikit orang yang mengetahui keunikan dari dirinya karena kemampuan untuk memahami diri yang kurang, sehingga kadang keunikan atau potensi dari dirinya yang bisa membuatnya berhasil dalam kehidupan tidak bisa tergali secara baik. Untuk mengetahui potensi apa yang ada pada diri memang bukan suatu perkara yang gampang. Tapi merupakan suatu hal yang harus di gali sendiri oleh individu secara terus-menerus dan coba di pahami apakah memang benar itu benar-benar potensi yang dimiliki. Dengan mengetahui potensi diri apa yang di miliki, individu menjadi mengerti apa yang harus di lakukan di masa depan untuk mewujudkan cita-cita sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Individu tersebut juga menjadi lebih percaya diri dalam melakukan segala hal apabila mengetahui potensi dari dirinya. Utamanya, individu dapat mengambil keputusan secara tepat terkait dengan kariernya. Berikut ini akan dijelaskan tentang pengertian kecerdasan dalam diri, faktor yang mempengaruhinya, dan karakteristiknya

Pengertian Kecerdasan Diri
Intelligence Quotient (IQ) / kecerdasan intelektual
Kemampuan individu untuk berpikir secara abstrak, mengolah dan berusaha untuk menguasai lingkungannya secara maksimal dan secara terarah. Contohnya seberapa individu dapat berpikir secara kreatif dalam menyelesaikan suatu masalah yang sedang dihadapinya.

Emotional Intelligence (EI) / kecerdasan emosional
Kemampuan untuk mengenali perasaan sendiri, perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengelola emosi dengan baik, dan berhubungan dengan orang lain.

Adversity Intelligence (AI) / kecerdasan menghadapi kesulitan
Kemampuan seseorang untuk dapat bertahan menghadapi kesulitan-kesulitan dan mampu mengatasi tantangan hidup.
Faktor yang mempengaruhi
Setiap kecerdasan tentu ada faktor yang mempengaruhinya, berikut akan disebutkan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Intelligence Question (IQ)
Keturunan
Faktor keturunan dari ayah-ibu atau kakek-nenek mempengaruhi seberapa kecerdasan terhadap seseorang.

Latar belakang sosial ekonomi
Pendapatan keluarga, pekerjaan orang tua dan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya, juga mempengaruhi seberapa tinggi kecerdasan seseorang

Lingkungan hidup
Lingkungan yang kurang baik akan menghasilkan kemampuan intelektual yang kurang baik pula. Lingkungan yang dinilai paling buruk bagi perkembangan intelegensi adalah panti-panti asuhan serta institusi lainnya, terutama bila individu ditempatkan disana sejak awal kehidupannya.

Kondisi fisik
Keadaan gizi yang kurang baik, kesehatan yang buruk, perkembangan fisik yang lambat, menyebabkan tingkat kecerdasan yang rendah.

Iklim emosi
Iklim emosi dimana individu dibesarkan mempengaruhi perkembangan mental individu yang bersangkutan. Misalnya individu yang hidup di keluarga yang kurang harmonis, maka akan mempengaruhi tingkat kecerdasannya

Pengaruh faktor kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya.

Emotional Intelligence (EI)
Lingkungan
Lingkungan dimana individu tinggal akan mempengaruhi kecerdasan emosional seseorang. Misalnya individu yang tinggal di perkotaan akan berbeda dengan individu yang tinggal di pedesaan.

Keluarga
Orang tua adalah seseorang yang pertama kali harus mengajarkan kecerdasan

emosi kepada anaknya dengan memberikan teladan dan contoh-contoh yang baik agar anak memiliki kecerdasan emosional yang tinggi.

Adversity Intelligence (AI)
Daya saing
Misalnya di kelas seorang siswa ada yang terlalu pintar dan tidak ada yang mampu menyaingi siswa tersebut. Maka daya saing siswa yang pintar itu ketika keluar dari kelas tersebut akan rendah. Sebaliknya, jika di kelas kemampuan siswa rata-rata sama, maka kemampuan untuk menghadapi kesulitan akan semakin tinggi.

Produktivitas
Seorang siswa yang diberikan penghargaan atas usaha yang dilakukan akan semakin tinggi AI-nya, sedangkan apabila siswa itu dibiarkan ketika berhasil melakukan sesuatu, maka akan semakin rendah AI-nya

Motivasi
Individu yang memiliki motivasi kuat, akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyelesaikan masalah. Sedangkan individu yang memiliki motivasi rendah, akan mudah menyerah dan putus asa.

Mengambil resiko
Individu yang memiliki AI tinggi, akan lebih berani mengambil resiko dibandingkan dengan individu yang memiliki AI rendah.

Perbaikan
Individu dengan AI tinggi akan selalu melakukan perbaikan terhadap hal-hal yang dapat menghambat dia menyelesaikan masalahnya, agar tidak merembet menuju hal yang lain yang dapat memperbesar masalahnya.
CIRI-CIRI FAMILY PROJECT

a. Fokus pada proses, bukan pada hasil
b. Sederhana
c. Menyenangkan
d. Mudah – Menantang
e. Ditentukan durasinya



KOMPONEN FAMILY PROJECT

a. Sasaran

SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reasonable, Timebound
Maksimum 3 sasaran.

b. Sarana
Alat dan Bahan yang diperlukan
Dana yang diperlukan ( apabila ada)

c. Sumber Daya Manusia
Penanggungjawab
Pelaksanan

d. Waktu
Jadwal Pelaksanaan
Durasi

e. Nama Projek
Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.

DAFTAR RUJUKAN
Goleman, Daniel. 1997. Emotional Intelligence. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
https://padepokanmargosari.com/2017/04/02/catatan-perak-2017-1-family-project/
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. Jakarta: PT Grasindo
Sukmadinata, N.S. 2009. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Menggali dan Memetakan Kekuatan, Menemukan Bintang Diri


Masih banyak orang yang bingung akan jati diri atau kepribadiannya. Selain mereka bingung akan jati diri maka manusia harus dihadapi yaitu minat dan juga bakat yang kita miliki. Pasalnya, bakat bisa mendukung segala hal yang bisa anda lakukan ataupun anda kerjakan.
Bakat adalah keahlian atau kelebihan yang dimiliki oleh seseorang yang berasal dari keturunan ataupun berasal dari lahir. Bakat sendiri dipercaya sebagai hal yang paling disenangi oleh manusia karena bisa membantu manusia. Meskipun, jika tidak di asah atau dipergunakan dengan baik maka akan kesulitan untuk memanfaatkannya. Berikut ini cara mengetahui bakat diri sendiri :

1). Temukan Hal yang Disuka

Menemukan hal yang disukai saja cukup sulit. Seringkali kita menyukai beberapa hal secara sekaligus dan juga dilakukan dalam waktu bersamaan. Sulit mengetahui apa yang disukai dan juga yang diprioritaskan untuk kita. Sehingga coba temukan hal yang paling anda sukai dan ingin anda lakukan setiap saat. Dengan begitu anda mungkin bisa mengenal bakat yang dimiliki lebih cepat.


2). Cari Hal yang Bisa Dikerjakan

Hal yang bisa anda kerjakan merupakan hint atau clue atau tanda dari bakat yang mungkin anda miliki. Sebagai contoh anda sangat pandai membetulkan ponsel yang mengalami kerusakan. Nah dengan pekerjaan ini anda bisa mengetahui bakat anda yang mungkin berkaitan dengan teknis. Hal yang bisa dikerjakan juga seringkali menjadi hal yang sesuai dengan bakat tanpa disadari oleh masing-masing individu.

3). Tanyakan Nilai pada Orang Lain

Berapa nilai yang anda miliki atau bisa anda hasilkan ? jika dilihat dari psikologi agak berbeda, dimana anda membutuhkan cermin hidup alias pandangan orang lain. Tanyakan para orang lain berapa jauh usaha yang sudah anda lakukan, apakah menurut mereka anda maksimal dalam mengerjakan segala sesuatu, apakah sudah sesuai ataupun sudah bagus hasilnya atau belum. Dengan begitu anda juga tidak menghabiskan waktu dengan sia-sia saja.
4). Apa hal yang Sering Dibicarakan

Menurut psikologi jika anda mengatakan berulang-ulang maka hal tersebut merupakan hal yang disukai. Apa yang sering anda bicarakan merupakan ciri dari hal yang anda bisa atau anda sukai. Sudah jelas bukan anda tidak mungkin membicarakan hal yang tidak bisa anda lakukan secara terus menerus ataupun dalam frekuensi yang sangat sering.

5). Amati Hobi

Mengamati hobi anda mungkin bisa membantu untuk menemukan apa sebenarnya bakat anda. Selain menemukan bakat dengan hobi, manusia menggunakan hobi untuk mengisi waktu luang serta mengasah hal yang ternyata mereka bisa lakukan dibandingkan orang lain. Sebagai contoh anda memiliki hobi fotografi yang nyatanya hal tersebut merupakan bakat terpendam anda sebagai seorang ahli foto.

6). Cari Pengalaman

Mencari pengalaman bisa menjadi hal yang membantu anda dalam menemukan bakat yang dimiliki. Terkadang kita tidak pernah tahu apakah hal yang kita lakukan merupakan salah satu dari bakat kita atau bukan. Kegiatan sangatlah luas, hal yang kita senangi mungkin sesuatu yang belum pernah kita coba lakukan atau pikirkan. Alasan inilah yang menyebabkan anda bisa mencari pengalaman sebanyak-banyaknya untuk tahu seperti apa sih pengalaman baru dan hal baru serta apakah mereka termasuk kedalam bakat anda yang ternyata terpendam.

7). Ikuti Tes Bakat

Cara ini mungkin cara paling mudah dan juga cepat yang dilakukan oleh anak pada masa sekarang ini. Sejak kecil mereka sudah mengikuti tes minat dan juga bakat untuk membantu mengarahkan mereka ke jalan yang sesuai dengan bakat serta minat mereka. Dengan mengikuti tes akan membantu anda memperjelas apa sih sebenarnya bakat utama anda tanpa perlu susah payah. Presentase keberhasilan tes ini berbeda-beda. Ada yang berhasil namun ada juga yang harus menerima kegagalan dan tidak sesuai.
8). Cari Poin Plus Diri Anda

Percaya diri itu penting dan juga perlu. Sebab mereka yang memiliki kepercayaan diri akan mudah dan pintar dalam menilai diri mereka sendiri. Tak hanya pintar, mereka bisa mengetahui apa saja yang mereka bisa kerjakan dan apa kelebihan yang bisa ditemukan. Nilai plus apa yang anda miliki dan tidak orang lain miliki. Dengan mengetahui kelebihan ini anda sangat dekat dengan mengenal bakat dalam diri sendiri.

9). Latih Hal yang Disukai

Bakat tidak akan pernah menjadi sebuah bakat jika hanya didiamkan saja. Maksudnya adalah ketika anda sadar akan bakat yang sudah anda miliki namun pada akhirnya anda hanya diam saja dan tidak mencoba memanfaatkannya atau melatihnya menjadi lebih baik lagi. Rasanya agak tidak mungkin untuk bisa menemukan bakat dalam diri anda dan mengelolanya menjadi suatu hal yang membawa diri anda pada sebuah prestasi. Hal ini seringkali dilakukan masyarakat Indonesia. Cobalah latih hal apa yang menurut anda menjadi poin lebih dan juga hal yang dianggap disukai.

10). Ketahui Hal yang Dibenci

Ketahui apa saja hal yang anda benci atau tidak disukai. Banyak orang yang membenti suatu hal karena mereka tidak bisa melakukanya dan faktanya ketika anda tidak bisa melakukan suatu hal, maka hal tersebut bukanlah bakat yang anda miliki. Jika dinamakan bakat maka hal tersebut bersifat unggul dan lebih dominan bisa dilakukan oleh anda, bukan hal yang tanggung ataupun setengah-setengah.

11). Dengarkan Kritik

Mendengarkan kritik merupakan hal yang bisa anda lakukan hal pertama. Dimana mendengarkan kritik bisa membantu anda dalam menemukan bakat yang dimiliki. Sebagai contoh anda senang melukis serta memasak, namun kritikan orang lain menyebutkan bahwa anda sangat pandai merajut.
Tentu saja hal ini membantu memisahkan hal yang anda inginkan dan hal yang anda bisa. Banyak yang bilang gajah dipelupuk mata tidak tampak, semut diseberang lautan. Dengan peribahasa ini menjelaskan bahwa cukup sulit menilai diri sendiri bahkan kepribadian diri kita sejak lahir.
12). Bandingkan Dengan Orang Lain

Dibandingkan dengan orang lain memang tidaklah enak namun bagaimana dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Anda bisa menggunakan hal ini untuk motivasi, dimana membandingkan bisa membantu anda mencari sisi negatif maupun sisi positif yang ada dalam diri anda.

13). Lihat Kemampuan Orang Lain

Tak jarang beberapa orang sirik dan iri dengan orang lain dan akhirnya menghasilkan sesuatu yang membuat dirinya sadar bahwa hal tersebut adalah bakat. Melihat kemampuan orang lain seringkali membuat kita terinspirasi atau merasa terkagum-kagum. Selanjutnya anda berusaha mengikuti dan sadar bahwa hal tersebut juga adalah dunia anda alias bakat yang dimiliki secara terpendam. Maka tak ada salahnya bukan melihat kemampuan yang dimiliki orang lain.

14). Sering Lakukan Hal Baru

Melakukan hal baru sama halnya dengan mencari pengalaman baru. Sering melakukan hal yang baru membantu anda mengenal kegiatan dan hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah terduga dan juga tidak pernah anda lihat. Misalnya anda tidak suka berenang, namun anda mencoba melakukannya dan mengejutkannya anda pandai berenang dengan beberapa kali latihan. Berarti anda memiliki kemungkinan bakat perenang, meskipun and amasih harus melihat presentase bakat yang dimiliki oleh diri anda.
15). Jangan Pernah Menyerah

Terakhir adalah jangan pernah menyerah, hal wajar jika menemukan minat dan bakat dengan waktu yang bertahun-tahun lamanya. Bahkan tak jarang ketika mereka sudah menjadi bapak ataupun ibu dan juga menjadi orang yang berpengalaman. Jangan pernah menyerah untuk mengetahui apa saja kelebihan serta kelemahan yang sudah anda miliki dan juga bakat apa yang terpendam pada diri anda.

Friday, 19 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Paparan Pornografi pada Anak

[13/01 14:35] Chika Dzikra: 🙋🏻 Jika anak sudah terpapar konten pornografi, katanya otak bagian frontal cortex akan rusak. Sehingga di usia dewasanya ia tdk bisa mengendalikan diri, mengenal baik jelek-benar salah.
Apakah teman2 tahu cara penanggulangan awalnya, selain terapi ke psikolog?
[13/01 14:52] Henifa Andriana - IIP: Setau saya, bagian otak yang bisa menimbang baik dan buruk pada anak memang belum berkembang dengan optimal.
Anak secara fitrah memiliki naluri mencintai. Sifat dasar dari naluri tersebut adalah ada saat ada rangsangan.
Hal pertama yang bisa dilakukan adalah menjauhkan dari segala hal yang merangsang timbulnya hasrat naluri tersebut dan mengalihkan pada kegiatan dan lingkungan yang positif.
[13/01 14:54] Fathiyah - IIP Jepara: Menambahi...
Dianalisa dulu mengapa bisa demikian sebelum melakukan terapi. Bisa jadi ada yang kurang tepat pada pola asuh.
Perlu _heart to heart session_antara orang tua dan anak untuk memutuskan langkah berikutnya yang akan diambil. Jik dibutuhkan..harus kembali ke proses membangkitkan fitrah seksualitas.

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Urgensi Membangkitkan Fitrah Seksualitas

[12/01 15:00] Siti Mashunah: 💝Definisi
Fitrah Seksualitas adalah tentang bagaimana seorang berpikir, merasa dan bersikap  sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau perempuan sejati.

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan (Ali Imran [3]:36)

💝Urgensi Membangkitkan Fitrah Seksualitas
- Anak memahami identitas seksualitasnya.
- Anak memahami peran seksualitas dirinya sehingga bisa menempatkan diri sesuai peran seksualitasnya.
-terhindar dari penyimpangan dan kejahatan seksual.
[12/01 15:01] Siti Mashunah: 💝 Tantangan yang kita hadapi saat ini tentang gender

1⃣LGBT, free sex dan penyimpangan seksual lainnya.
2⃣Lemahnya peran keayahbundaan dalam keluarga
[12/01 15:01] Siti Mashunah: 💝Bagaimana cara merawat fitrah seksualitas?
- Fitrah Seksualitas dirawat dengan kehadiran, kedekatan dan kelekatan ayah dan ibu secara utuh dan seimbang sejak anak lahir sampai akil baligh.
- Fitrah Seksualitas tidak tumbuh berdiri sendiri harus diiringi fitrah keimanan, fitrah individualitas dan fitrah sosialitas sehingga tidak mudah ditularkan penyimpangan seksual oleh lingkungan
[12/01 15:02] Siti Mashunah: ➡Tahapan dan tips Membangkitkan Fitrah Seksualitas sesuai Usia :

💝 0-2 tahun : Dekat dengan ibunya.

💐Tips & aktivitas :

1⃣Aktifitas menyusui langsung penuh kasih, tanpa gadget.

2⃣Toilet Training : Diajari cara membersihkan diri (thaharah) sesuai jenis kelaminnya.

3⃣Memakaikan baju sesuai jenis kelaminnya sambil diajak bercerita,
"Anak mama, cantik shalihah, ganteng dan shalih"
[12/01 15:02] Siti Mashunah: 💝 3-6 tahun : Didekatkan dengan kedua orang tuanya, kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok laki-laki dan perempuan.

💐Tips dan Aktivifitas :

1⃣ Sering beraktifitas  bersama dengan ayah dan ibu untuk membangun fondasi kelekatan dan komunikasi di tahapan berikutnya.
2⃣ Memperkuat identitas gender sesuai jenis kelamin. Dengan memberikan identitas dan simbol-simbol (nama, pakaian, perlengkapan, permainan) yang sesuai dengan jenis kelamin
3⃣Mengajarkan masalah aurat. Yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan dan disentuh.
4⃣Mengajarkan batasan dan adab-adab interaksi dengan orang lain (adab minta izin masuk kamar orang tua, dilatih tidur terpisah, adab memandang, adab berpakaian sesuai jenis kelamin, adab interaksi dengan non mahram secara sederhana)
5⃣Menjaga fitrahnya dari hal-hal yang merusak seperti pornografi dan pornoaksi
6⃣Mengajarkan bahwa tidak boleh bicara pada orang asing tanpa didampingi, siapa yang boleh menyentuh dan tidak, sentuhan sopan dan tidak boleh serta kepada siapa bicara jika ada yang berbuat tidak baik pada dirinya.
7⃣Cara yang sesuai untuk mengajarkan hal-hal di atas antara lain:
Bercerita
Bernyanyi
Bermain/role play/simulasi
[12/01 15:03] Siti Mashunah: 💝7-10 tahun : anak didekatkan dengan orang   yang sama gendernya.
Jika anak laki-laki ajak beraktivitas yang menonjolkan sisi maskulin bersama ayah.
Jika perempuan ajak dalam aktivitas yang menonjolkan sisi feminim bersama ibu.

💐Tips dan Aktivitas :

1⃣Mendekatkan dengan orang tua yang ber-gender sama.
2⃣Menuntun anak memahami peran sosialnya.
3⃣Ayah membangkitkan dan mengajak anak laki-laki menghayati peran kelelakian dan keayahan
4⃣Ibu membangkitkan dan mengajak anak perempuan menghayati peran  keperempuanan dan keibuan.
5⃣Contoh Aktivitas :

Ayah mengajak anak laki-laki shalat berjamaah di mesjid, bermain bongkar pasang mesin dan mencuci mobil, ngobrol tentang persiapan mimpi basah, tata cara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma

Ibu mengajak anak belajar memasak, menjahit menyulam, mulai ngobrol tentang persiapan pubertas, haid dan konsekuensi memiliki rahim dan telur yang siap dibuahi
[12/01 15:03] Siti Mashunah: 💝Usia 10-14 : mendekatkan anak dengan orang tua lintas gender.
Anak laki-laki didekatkan dengan ayah dan anak perempuan didekatkan dengan ibu, agar mengenali, menyukai dan memahami bagaimana lawan jenis seharusnya diperhatikan, dipahami dan diperlakukan.

💐Tips dan Aktivitas :

1⃣Mendekatkan anak dengan orang tua lintas gender, agar mereka mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis, memahami bagaimana lawan jenis diperhatikan, dipahami dan diperlakukan.
2⃣Bicara jujur dan benar jika anak bertanya hal-hal terkait seksualitas.
3⃣Ajak anak belajar dan memahami perubahan tubuh saat pubertas, selain dari sisi biologis juga sisi keterampilan yang berkaitan moral dan hukum agama,kebersihan, kesehatan dan perubahan emosi.
4⃣Ajak anak memahami reproduksi, proses kehamilan, persalinan dan penyakit seksual.
5⃣Pastikan anak memiliki kesadaran gender dan orientasi seks yang jelas, tidak hanya jenis kelamin juga perilaku dan tampilan yang sesuai dengan jenis kelamin, penerimaan lingkungan dan value yang dianut.
6⃣Contoh aktivitas :

Ngobrol dan curhat.
Membaca buku terkait seksualitas remaja.
Studi kasus dan menanyakan pendapat anak.
Dad n girl day out.
Mom and boy day out.
[12/01 15:03] Siti Mashunah: 💝15 tahun : Baligh dan bukan anak-anak lagi,  individu yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, tugas orang tua selesai.
[12/01 15:03] Siti Mashunah: 💝Referensi :

Santosa, Harry. _Fitrah Based Education_Version 3.0. Yayasan Cahaya Mutiara Timur, Maret 31, 2017

Ibu Profesional, Institut. Bunda Sayang, 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak, Gazza Media, Desember, 2013

Siaran Radio Pencegahan LGBT dengan pola asuh keluarga, bersama Dr. Aditya Muliakusumah SpOG.MBA dan Dandi Birdy S.Psi, 106.7 Mara FM.

Yeti Widiati, Yang Perlu diketahui Anak Usia 10-13 tahun (Konteks Pendidikan Seksualitas)
http://yws-paradigma.blogspot.co.id/2016/06/yang-perlu-diketahui-anak-usia-10-13.html?m=0

Perwitasari, Psi, Pendidikan Seksualitas Untuk Anak Usia Dini, Fanspage Yayasan kita dan Buah Hati
https://m.facebook.com/yayasankitadanbuahhati/posts/1905750059452170

Diskusi Perkuliahan Bunda Sayang Fasilitator Batch#1, 2018
[12/01 20:27] Rizqie Jurnaliska - IIP Banten: https://youtu.be/vgbUcmyad-4

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Aku dan Diriku Berharga

Review Materi
"Aku dan Tubuhku Berharga"
 Tahun 2017 KPAI mencatat setidaknya ada 116 kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak
mengapa hal ini terus terjadi?
-Anak tidak memiliki memampuan membela diri atas kejahatan seksual yang dilancarkan atas dirinya
-Terbatasnya pengetahuan seksualitas anak
-Orangtua yang belum faham pentingnya pendidikan seks sejak usia dini
 Bahaya di sekeliling anak-anak kita
-Pedofilia
Pedofilia merupakan kelainan psikoseksual, di mana orang-orang dewasa atau remaja memiliki preferensi seksual terhadap anak-anak pra remaja. Pedofilia ini digolongkan dalam parafilia yaitu sekelompok aktifitas seksual yang abnormal. Para Psikolog/psikiater memasukkan pedofilia ini dalam katagori gangguan mental. 
-Kesamaan karakter para pedofil
Meskipun tidak ada stereotip pedofil yang khas, para pedofil memiliki beberapa karakteristik umum, yang meliputi:
1. Memiliki fantasi keinginan atau perilaku seksual terhadap anak-anak. 
2. Lebih ditemani oleh anak-anak, merasa lebih nyaman berada di sekitar anak-anak
3. Biasanya pedofil adalah orang yang populer dan sangat disukai di kalangan anak-anak dan orang dewasa di lingkungannya.
4. Biasanya, namun tidak selalu, pedofil adalah pria, maskulin dan berusia 30-an.
-Penyebab seseorang menjadi Pedofilia
1. Kelainan strukutur otak
2. Perbedaan neurologis
3. Faktor lingkungan
4. Masalah tumbuh kembang
-Tips mencegah kejahatan seksual pada anak (disadur dari buku Aku Anak yang Berani, bisa melindungi diri sendiri):
1. Kenalkan ttg organ genital dan reproduksi pada anak sehingga anak bisa membedakan laki-laki dan perempuan.
2. Ajarkan anak ttg toilet training yang tepat sejak usia 2 tahun (cara beristinja, tempat utk bab dan bak, ajarkan utk menggunakan toilet laki-laki dan perempuan scr terpisah terutama di tempat umum)
3. Mengenalkan batasan aurat kepada anak. 
4. Komunikasi terbuka dengan anak-anak sehingga mereka percaya bahwa orang tua adalah sosok yg tepat utk curhat dan mencari solusi
5. Jelaskan sentuhan pantas dan tidak pantas
6. Jauhkan ananda dari televisi dan gadget. Konten tdk pantas masih sering muncul di televisi dan gadget. Dampingi saat anak menggunakannya
7. Ajari anak utk mencari pertolongan jika ada bahaya (orang tua, guru, atau polisi). Berikan informasi ttg nomor layanan darurat.
-Yuk mengajarkan anak-anak kita untuk mengenal sentuhan
Teman-teman di Semai sudah mempopulerkan lagu-lagu edukasi untuk mempermudah sosialisasi agar kita dan anak-anak memahami sentuhan yang boleh dan yang harus diwaspadai.
https://youtu.be/878HzqGwWp8
Video edukasi tentang sentuhan bisa dilihat disini
https://youtu.be/B6_zF490u2U
-Bijak mengunggah foto anak di media sosial
Memang bukan salah si pengunggah bila pedofil menjadi berkembang pesat di media sosial. Namun itu bisa jadi peringatan bagi orang tua agar  memilah dahulu, foto-foto anak macam apa yang tak perlu diunggah ke media sosial. Atau dengan settingan bisa mengatur siapa saja yang bisa melihat foto anak-anak kita.
1. Sebaiknya tidak mengunggah foto anak tanpa busana
2. Sebaiknya tidak mengunggah foto anak dengan busana seksi. Mungkin terlihat lucu dan menggemaskan namun, bisa jadi dibelahan bumi lainnya ada orang dengan menginap kelainan mental berfantasi dengan foto anak-anak kita.
3. Foto anak orang lain, sebaiknya mohon izin dari orangtuanya. 
Karena itu termasuk ranah privasi, di beberapa negara maju malah orangtua lain dilarang dan dicurigai jika membidikkan kamera di arena permainan atau wahana bermain anak.
4. Tidak mengunggah foto-foto  yang menampilkan detil identitas anak-anak kita.
Seperti nama lengkap, sekolah, dll. 
Sumber/Referensi :
Watiek Ideo, Aku anak berani, bisa melindungi diri sendiri, Gramedia Pustaka Utama, 2014
http://www.kpai.go.id/berita/tahun-2017-kpai-temukan-116-kasus-kekerasan-seksual-terhadap-anak/
https://psikologihore.com/pedofilia-definisi-ciri-ciri-dan-penanganan/
https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/6-foto-anak-yang-sebaiknya-tak-dibagikan-di-medsos
Media Edukasi:
1. Steller
https://steller.co/s/7mwjcdb9cuA
2. Gdoc Permainan "Aku dan Tubuhku Berharga"
http://bit.ly/2m7wfOT
3. Video grid presentasi
https://drive.google.com/file/d/1u8oGfaI3HzsQQ-PzZFKWf7nvuHlfumJK/view?usp=drivesdk
by ZyFauziah 

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Aurat, Adab dan Kebersihan Organ Reproduksi

Menumbuhkan Fitrah Seksualitas pada Anak

Salam, kami dari kelompok 7 akan memfokuskan materi pada adab, aurat dan kebersihan organ intim.
Pendidikan fitrah seksualitas dalam Islam
berikut pokok-pokok pendidikan seks (sex education) secara praktis yang bisa diterapkan pada anak sejak dini yang saya kutip dari tulisan Zulia Ilmawati, Psikolog Pemerhati Masalah Anak dan Remaja dalam tulisannya Pendidikan Seks Untuk Anak-anak, ada sedikit tambahan dari saya:
1. Mengajarkan toilet training kepada anak adalah awal pengenalan sex…sambil dicebokin, anak dikenalkan dengan organ paling berharga yg tdk boleh disentuh orang lain kecuali ayah bunda atau org yg biasa memandikan atau menceboki…dan disentuh ini krn darurat…ade blm bisa membersihkan sendiri.
2. Menanamkan rasa malu pada anak
Rasa malu harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, berganti pakaian, dan sebagainya. Dan membiasakan anak untuk selalu menutup auratnya. Tidak diperkenankan mandi bersama anak juga
3. Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.
Berikan pakaian dan mainan yang sesuai dengan jenis kelamin anak, sehingga mereka6 terbiasa untuk berprilaku sesuai dengan fitrahnya.
4. Mereka juga harus diperlakukan sesuai dengan jenis kelaminnya. Ibnu Abbas ra. berkata:
Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (HR al-Bukhari).
Hati2 kaum LGBT mulai melancarkan aksinya dengan menjual mainan dan pakaian yg bias sex.
5.Pengajaran sex via sholat
Usia 7 tahun secara normal anak mulai bisa membedakan siapa yg laki2 dan siapa yg perempuan. Dan usia 7 th ini anak diperintahkan utk sholat. Sangat jelas dlm sholat ada shof khusus laki2 ada shof khusus perempuan. Cara menutup auratnya jg berbeda..laki2 dari pusar ke lutut..perempuan seluruh tubuh kecuali muka n telapak tangan. Industri pornografi mulai mengicar anak usia 7 th lho..waspadalah..

6. Memisahkan tempat tidur mereka
Usia antara 7-10 tahun merupakan usia saat anak mengalami perkembangan yang pesat. Anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tetapi juga mengenai sesuatu yang ada di luar dirinya.
Pemisahan tempat tidur merupakan upaya untuk menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Dengan pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin. Hati2…banyak kasus incest berawal dr sini…
7. Mengenalkan waktu berkunjung ke kamar orang tua (meminta izin dalam 3 waktu)
Tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan anak-anak untuk memasuki ruangan (kamar) orang dewasa kecuali meminta izin terlebih dulu adalah: sebelum shalat subuh, tengah hari, dan setelah shalat isya. Dengan pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak maka ia akan menjadi anak yang memiliki rasa sopan-santun dan etika yang luhur.
8. Mendidik menjaga kebersihan alat kelamin.
Mengajari anak untuk menjaga kebersihan alat kelamin selain agar bersih dan sehat sekaligus juga mengajari anak tentang najis. Anak juga harus dibiasakan untuk buang air pada tempatnya (toilet training).
Dengan cara ini akan terbentuk pada diri anak sikap hati-hati, mandiri, mencintai kebersihan, mampu menguasai diri, disiplin, dan sikap moral yang memperhatikan tentang etika sopan santun dalam melakukan hajat.
9. Mengenalkan mahram-nya
Tidak semua perempuan berhak dinikahi oleh seorang laki-laki. Siapa saja perempuan yang diharamkan dan yang dihalalkan telah ditentukan oleh syariat Islam. Ketentuan ini harus diberikan pada anak agar ditaati.
Dengan memahami kedudukan perempuan yang menjadi mahram, diupayakan agar anak mampu menjaga pergaulan sehari-harinya dengan selain wanita yang bukan mahram-nya. Inilah salah satu bagian terpenting dikenalkannya kedudukan orang-orang yang haram dinikahi dalam pendidikan seks anak.
10. Mendidik anak agar selalu menjaga pandangan mata
Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika fitrah tersebut dibiarkan bebas lepas tanpa kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu, jauhkan anak-anak dari gambar, film, atau bacaan yang mengandung unsur pornografi dan pornoaksi.

11.Mendidik anak agar tidak melakukan ikhtilât
Ikhtilât adalah bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan bukan mahram tanpa adanya keperluan yang diboleh-kan oleh syariat Islam. Perbuatan semacam ini pada masa sekarang sudah dinggap biasa. Karena itu, jangan biasakan anak diajak ke tempat-tempat yang di dalamnya terjadi percampuran laki-laki dan perempuan secara bebas.
12. Mendidik anak agar tidak melakukan khalwat
Dinamakan khalwat jika seorang laki-laki dan wanita bukan mahram-nya berada di suatu tempat, hanya berdua saja. Biasanya mereka memilih tempat yang tersembunyi, yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Anak-anak sejak kecil harus diajari untuk menghindari perbuatan semacam ini. Jika dengan yang berlainan jenis, harus diingatkan untuk tidak ber-khalwat.
13.Mendidik etika berhias
Berhias berarti usaha untuk memperindah atau mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan yang dilakukan secara berlebihan, sehingga menimbulkan godaan bagi lawan jenisnya. Tujuan pendidikan seks dalam kaitannya dengan etika berhias adalah agar berhias tidak untuk perbuatan maksiat.
14.Ihtilâm dan haid
Ihtilâm adalah tanda anak laki-laki sudah mulai memasuki usia balig. Adapun haid dialami oleh anak perempuan. Mengenalkan anak tentang ihtilâm dan haid tidak hanya sekadar untuk bisa memahami anak dari pendekatan fisiologis dan psikologis semata.
Jika terjadi ihtilâm dan haid, Islam telah mengatur beberapa ketentuan yang berkaitan dengan masalah tersebut, antara lain kewajiban untuk melakukan mandi.
Yang paling penting, harus ditekankan bahwa kini mereka telah menjadi Muslim dan Muslimah dewasa yang wajib terikat pada semua ketentuan syariah. Artinya, mereka harus diarahkan menjadi manusia yang bertanggung jawab atas hidupnya sebagai hamba Allah yang taat.

 usia pra latih 0-7 tahun umumnya masih sering kali harus diingatkan untuk menutup auratnya, menumbuhkan rasa malu. Sikap malu ini sebagai salah satu dasar pemahaman fitrah seksualitas anak. Berawal dari pemahaman anak mengenai aurat.

Aurat adalah suatu angggota badan yang tidak boleh di tampakkan dan di perlihatkan oleh lelaki atau perempuan kepada orang lain.
Menutup aurat hukumnya wajib sebagaimana kesepakatan para ulama berdasarkan firman Allâh Azza wa Jalla:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah kepada orang laki–laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allâh maha mengatahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera–putera mereka, atau putera–putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allâh, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [an-Nûr/24:31]
Janganlah seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya), dan janganlah pula seorang wanita melihat aurat wanita (lainnya). Seorang pria tidak boleh bersama pria lain dalam satu kain, dan tidak boleh pula seorang wanita bersama wanita lainnya dalam satu kain.” [HR. Muslim, no. 338]
BATASAN-BATASAN AURAT.
1. Pertama. Aurat Sesama Lelaki
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang batasan aurat sesama lelaki, baik dengan kerabat atau orang lain. Pendapat yang paling kuat dalam hal ini adalah pendapat jumhur Ulama yang mengatakan bahwa aurat sesama lelaki adalah antara pusar sampai lutut. Artinya pusar dan lutut sendiri bukanlah aurat sedangkan paha dan yang lainnya adalah aurat.
2. Kedua. Aurat Lelaki Dengan Wanita
Jumhur Ulama sepakat bahwasanya batasan aurat lelaki dengan wanita mahramnya ataupun yang bukan mahramnya sama dengan batasan aurat sesama lelaki. Tetapi mereka berselisih tentang masalah hukum wanita memandang lelaki. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini ada dua pendapat.
Pendapat pertama, Ulama Syafiiyah berpendapat bahwasanya tidak boleh seorang wanita melihat aurat lelaki dan bagian lainnya tanpa ada sebab.
3. Ketiga. Aurat Lelaki Dihadapan Istri
Suami adalah mahram wanita yang terjadi akibat pernikahan, dan tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para Ulama bahwasanya seorang suami atau istri boleh melihat seluruh anggota tubuh pasangannya.
4. Keempat. Aurat Wanita Dihadapan Para Lelaki Yang Bukan Mahramnya
Diantara sebab mulianya seorang wanita adalah dengan menjaga auratnya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya. Oleh kerena itu agama Islam memberikan rambu-rambu batasan aurat wanita yang harus di tutup dan tidak boleh ditampakkan. Para Ulama sepakat bahwa seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat yang harus di tutup, kecuali wajah dan telapak tangan.
5. Kelima. Aurat Wanita Di depan Mahramnya
Mahram adalah seseorang yang haram di nikahi kerena adanya hubungan nasab, kekerabatan dan persusuan. Pendapat yang paling kuat tentang aurat wanita di depan mahramnya yaitu seorang mahram di perbolehkan melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak ketika dia berada di rumahnya seperti kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis atau dengan kata lain boleh melihat anggota tubuh yang terkena air wudhu.
6. Keenam. Aurat Wanita Di Depan Wanita Lainnya
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan para Ulama tentang aurat wanita yang wajib di tutup ketika berada di depan wanita lain. Ada dua pendapat yang masyhûr dalam masalah ini :

• Sebagian ahli ilmu berpendapat bahwa aurat wanita di depan wanita lainnya seperti aurat lelaki dengan lelaki yaitu dari bawah pusar sampai lutut, dengan syarat aman dari fitnah dan tidak menimbulkan syahwat bagi orang yang memandangnya.
• Batasan aurat wanita dengan wanita lain, adalah sama dengan batasan sama mahramnya, yaitu boleh memperlihatkan bagian tubuh yang menjadi tempat perhiasan, seperti rambut, leher, dada bagian atas, lengan tangan, kaki dan betis.

ADAB
Mengajarkan anak-anak, laki-laki maupun perempuan, tentang adab-adab Islam yang berkaitan dengan menutup aurat, pandangan, dan meminta izin (masuk ke ruangan orang tua), hendaknya dimulai sejak kecil, atau ketika usia tamyiz atau pada fase sebelum baligh.
Firman Allah Ta'ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلاةِ الْعِشَاءِ ثَلاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ) (سورة النور: 58)
"Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) Yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu. tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nur: 58)
Adapun jika sang anak mencapai usia baligh, maka izin hendaknya dilakukan pada setiap waktu, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنْكُمُ الْحُلُمَ فَلْيَسْتَأْذِنُوا كَمَا اسْتَأْذَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ  (سورة النور: 59)
"Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nur: 59)



Ada dua perkara sangat penting yang hendaknya sudah diajarkan pada anak-anak pada usia yang sangat dini, sekitar usia 3 tahun. Keduanya memilik kaitan erat dengan pemahaman seksual. Keduanya adalah;
1-     Pentingnya memisahkan anak kecil laki-laki dan perempuan. Mencampurkan mereka pada usia dini akan menimbulkan kerusakan dan cacat pada cara pandang, sifat dan perbuatan pada kedua jenis tersebut. Karena itu, penting agar dipahami oleh anak laki-laki agar dia tidak memakai pakaian saudara perempuannya, atau tidak boleh mengenak anting-anting di telinganya, atau tidak boleh memakai gelang, karena semua itu berlaku untuk wanita, bukan untuk laki-laki. Demikian pula halnya dikatakan terhadap anak wanita terkait dengan perbuatan dan sifat-sifat saudara laki-lakinya.
2-     Hendaknya anak-anak diajarkan keistimewaan aurat, bahwa dia tidak layak terbuka di depan siapapun. Mengajarkan dan mendidik hal ini akan menumbuhkan sifat menjaga diri, malu dan mencegah orang-orang amoral melakukan tindakan bejat kepadanya.

Tidak dibolehkan menyingkap aurat di hadapan anak-anak yang sudah mumayyiz (sudah dapat membedakan). Al-Allamah Ibnu Asyur rahimahullah berkata dalam tafsirnya 'At-Tahrir wat Tanwir' "Ini merupakan waktu-waktu anggota keluarga menanggalkan pakaian mereka (yaitu berpakaian seadanya), maka buruk sekali jika anak-anak melihat aurat mereka. Pemandangan tersebut akan terus terekam di benak sang anak, karena hal itu bukan perkara biasa yang dia lihat. Disamping hendaknya sang anak dididik untuk menutup aurat agar menjadi akhlak dan kebiasaan mereka apabila sudah besar."
Terhadap anak kecil yang belum dapat membedakan, tidak mengapa seseorang tidak menutup auratnya darinya. Ibnu Qudamah berkata dalam kitab Al-Mughni, 7/76, "Adapun terhadap anak yang masih kecil dan belum mumayyiz, tidak diwajibkan menutup aurat darinya."
Al-Allamah Zakaria Al-Anshari berkata dalam kitab 'Syarhul Bahjah', 4/98, "Seorang anak yang belum mampu menceritakan apa yang dia lihat, dibolehkan membuka aurat di hadapannya."
Ini merupakan pembatasan yang tepat, dibolehkan membuka aurat di depan anak kecil yang belum mampu menceritakan apa yang dia lihat, seperti anak berusia setahun atau setahun setengah dan tidak boleh membuka aurat di depan anak yang sudah dapat menceritakan apa yang dia lihat, seperti anak usia 3 tahun. Perlu diperhatikan bahwa anak-anak satu sama lain berbeda-beda, sebagian anak ada yang mendahului anak sebayanya dalam berpikir dan berbicara, sebagiannya lagi lebih lambat dari yang lainnya.


Sumber
Ustadz Haikal Basyarahil, Lc Almanhaj.or.id
Islamqa.info
Kulwap HSMN dengan narasumber ibu Silmi Mustaghfiro Syahma Yani

Media Edukasi :
bit.ly/LaguAkuMenjagaDiriku

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Pengaruh Pola Asuh pada Fitrah Seksualitas Anak

Materi yang diusung kelompok ini mengambil tema yang menarik. Kelompok yang beranggotakan Ai Santiani, Eva Novita, Maria Ulfah dan Novi Fitriani ini menyajikan materi dengan menyampaian beberapa studi kasus. Berikut paparannya : 

Kasus Pola asuh 1:

Rika adalah anak tunggal yang dibesarkan dalam keluarga yang sangat berkecukupan. Ayahnya direktur di perusahaan tekstile, sementara ibunya mengelola bisnis online dari rumahnya.

Rika adalah anak yang sangat dinantikan kehadirannya oleh orang tuanya setelah bertahun tahun menikah. Saking bahagianya, Rika dibesarkan dalam kondisi segala kebutuhannya terpenuhi. Mainan yang bervariasi, makanan yang tak pernah kekurangan serta kasih sayang yang berlebih dari kedua  orang tuanya.

Rika tumbuh menjadi anak yang manja. Nyaris tidak ada peraturan di rumahnya. Menjelang remaja, Rika bergaul dengan siapapun yang dia mau, termasuk dengan lelaki yang disukainya.

Menurut bunda bunda, bagaimana fitrah seksual Rika jika dikaitkan dengan pola asuh yang didapatnya selama ini?

Kasus 2:
Hary adalah seorang siswa kelas 2 SD di sebuah sekolah favorit di kotanya. Hani, makanya juga bersekolah di sekolah yang sama, kelas 5 SD. Orangtua mereka bersedia mengeluarkan biaya sekolah yang sangat besar demi anak anak mereka agar bisa diterima dan bersekolah disana. Dengan bangganya mereka akan memberitahukan kbahwa anak anak mereka bersekolah disana saat ada yang menanyakannya.

Setelah pulang sekolah, hampir setiap hari, Hary dan Hani harus mengikuti berbagai kursus lainnya yang ditentukan orangtua mereka. Mereka hanya mengikuti kegiatan yang ditentukan oleh orangtua nya...

Hingga saat bertemu temannya di sekolah dan saling bercerita, mereka tau bahwa ternyata temannya ada yang diberi kebebasan oleh orang tuanya....

Menurut bunda bunda ,bagaimana dampak pola asuh yang dialami Hani dan Hary?

Kasus 3:

Devi adalah anak pertama dari 3 bersaudara dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya adalah seorang guru SD yang berdedikasi.
 Ibunya berjualan nasi uduk di rumahnya. 

Devi adalah siswa SMA di sebuah sekolah negeri favorit di kotanya. Adiknya, Hasan, adalah siswa SMP di dekat rumahnya. Sementara adiknya yang paling kecil masih sekolah di SDIT yang tak jauh dari rumahnya.

Ayahnya adalah seorang ayah yang menyenangkan bagi anak anaknya. Setiap malam, saat makan, ayahnya sering mengajak diskusi berbagai hal, termasuk Masalah yang sedang dialami anak anaknya. Mereka mendiskusikan masalah bersama dan menyusun solusi bersama untuk setiap masalah yang dihadapi orang tuanya. 

Suatu hari, Hasan didapati membawa teman perempuan ke rumahnya dan memperkenalkan pada anggota keluarganya bahwa teman perempuannya sebagai pacar barunya.

Bagaimana reaksi keluarga Hasan? Diskusi yuks

Utk melengkapi presentasi kami hari ini 
Berikut keterangan tentang pola asuh orang tua (di attachment files) .

Kesimpulan :

Pola Asuh orang tua ternyata berpengaruh terhadap fitrah seksualitas anak. Maka orang tua mesti menyadarkan diri & mengaktifkan kembali fitrah keayahbundaannya agar mampu membangkitkan fitrah seksualitas anak dgn paripurna serta membangun konsep diri anak yg positif sehingga anak tumbuh sehat jiwa, mental, spiritual, emosi dan seksualnya

Media Edukasi

https://steller.co/s/7mvApLGnVeu

Monday, 8 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Dari Hadir Menjadi Mitra

Sebuah catatan di diskusi hari ini...
Ini terasa banget mba...
Saat saya benar - benar hadir sebagai istri & ibu, saya memperhatikan , saya mendengarkan dengan sepenuh hati , setulus jiwa semua kebutuhan suami & anak-anak, saya belajar untuk selalu meningkat , terus semangat untuk melakukan dengan bahagia ....saya akan paham betapa mulianya peran saya , sehingga saya bisa melaksanakan semua peran dengan penuh cinta sehingga akan menghasilkan banyak cinta dalam keluarga...

Usia 0-7 tahun kami berusaha memenuhi jiwa anak-anak dengan Cinta, kehangatan dalam keluarga

7-14 Masa contoh , 7-10 mencontoh sesuai gender , 11-14 mencontoh lintas gender.
Jika masa ini  kita bisa menjadi teladan/ contoh anak-anak maka kita akan menjadi idola mereka .

>15 Masa Mitra, masa ini anak-anak sudah ingin punya eksistensi sendiri. Jika masa sebelumnya anak-anak mengidolakan kita tentu masa ini anak-anak tidak akan ragu menjadi mitra kita .

Anak saya yg paling besar 13 th November kemarin mba , dulu saat masih sekolah kelas 3 pernah gurunya menyampaikan ke saya , ingin sekali bertemu saya karena beliau penasaran karena Caca begitu mengidolakan Uminya ..#eeaa
Alhamdulillah insyaAllah sampai  sekarang kami bisa mengobrolkan apapun berdua, semoga begitu juga nnt dengan adik2nya, aamiin...

Formula ini sebenarnya nasehat untuk selalu mengingatkan saya juga 😇😇

Semoga nggak bulet ya mba..🙏🏻🙏🏻🙈🙈

Sunday, 7 January 2018

Saturday, 6 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Bicara Seksualitas, Tabu atau Perlu

Fitrah seksualitas sesuai usia

💥 0-2 tahun ➡ Konsepsi fitrah keimanan dan seksualitas 0-2 tahun

• punya rasa ingin tahun tentang tubuh
• belum kenal rasa malu
• dekat dengan ibu (menyusu)
• anak aman dan nyaman dengan orang tua

💥 3-6 tahun ➡ Penguatan konsepsi gender 3-6 tahun

• membentuk identitas gender
• anak dekat dengan ayah ibu
• mengenal perilaku santun, anatomi tubuh dan fungsinya
• anak tahu dan bangga dengan identitas gendernya

💥 7-10 tahun ➡ Penyadaran potensi gender 7-10 tahun

• bertindak sesuai gender
• anak perempuan dekat dengan ibu
• anak laki-laki dekat dengan ayah
• memasuki fase sosiosentri, mulai punya tanggung jawab moral dan perintah sholat
• anak laki-laki kagum dan ingin seperti ayah
• anak perempuan kagum dan  ingin seperti ibu

💥 11-14 tahun ➡ Pengujian eksistensi

• lebih banyak memperhatikan tubuhnya
• mulai tertarik lawan jenis
• mencari identitas diri
• anak perempuan dekat dengan ayah
• anak laki-laki dekat dengan ibu
• persiapan dan keinginan bertanggung jawab menjadi ayah dan ibu

💥 15 tahun ke atas ➡ Penyempurnaan fitrah

• pengungkapan kebebasan diri
• selektif dalam berteman
• mempunyai citra jasmani
• anak secara syariah telah mukallaf
• memasuki masa Aqil Baligh
• anak adalah mitra orang tua
• penyempurnaan fitrah seksualitas menjadi peran keayah-ibuan

Friday, 5 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Fitrah Seksualitas dan Perkembangan Psikoseksual pada Anak

Hari ini, kelompok kedua mempresentasikan materi mengenai fitrah seksualitas dikaitkan dengan perkembangan psikoseksual. Ini bahasan yang menarik, karena di materi ini dipahamkan mengenai perkembangan psikologi anak yang dikaitkan dengan fitrah seksualitasnya. Seringkali saat orangtua memergoki anaknya melakukan hal yang aneh, orangtua langsung marah dan melarang keras. Alhasil, anak justru takut dan melakukannya kembali namun secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtua. Terus berjalan dan menjadi kebiasaan sehingga lambat laun justru mengarah ke penyimpangan. Padahal jika saat awal diketahui, orangtua dapat merespon dengan positif, maka orangtua akan menjadi tempat cerita anak dan transfer pemahaman akan berjalan karena komunikasi yang baik. Anak terhindar dari penyimpangan. Maka, perkembangan psikoseksual ini penting untuk dipahami orangtua, sehingga dapat menyikapi perilaku anak dengan lebih bijak.
Tahapan perkembangan psikoseksual merupakan salah satu pandangan dari tokoh yang dikenal dalam dunia psikologi, yaitu Sigmun Freud. Freud mengungkapkan bahwa manusia, pada dasarnya sudah memiliki dorongan-dorongan, yang dikenal dengan istilah libido sejak kecil. Dorongan atau libido ini berkaitan dengan energi-energi psikis yang sifatnya seksual. Dorongan-dorongan seperti ini sudah akan muncul pada manusia, bahkan sejak bayi, dan tersebar di dalam bagian-bagian tubuh, yang berada pada rentang usia tertentu. Ada beberapa tahapan perkembangan psikoseksual manusia, yaitu :
Fase Oral (0 – 1 Tahun)
Pada tahap ini, dorongan utama dari bayi adalah kepuasan pada bagian oral, yaitu daerah sekitar mulut. Jadi, wajar saja bayi pada usia 0 – 1 tahun sering kali mengemut jarinya, dan juga menyusu dari ibunya. Hal ini karena memang secara alamiah, si bayi sedang memiliki dorongan atau libido yang berpusat pada bagian mulut, sehingga libido tersebut harus dipuaskan. Banyak ahli mengatakan, mereka yang pada usia 0 – 1 tahun, tahapan oralnya tidak terpenuhi dengan baik, bisa saja mengalami regresi, misalnya saja pada usia dewasa, masih suka menggigit bolpen, merokok, dan melakukan kegiatan atau perilaku yang berhubungan dengan bagian mulut secara berlebihan, sebagai kompensasi atas tidak terpenuhinya keinginan pada tahapan oral di masa kecilnya.
Fase Anal (1 – 3 tahun)
Pada fase ini, letak pemuasan dari libido atau dorongan seseorang berada pada bagian anal atau dubur. Fase ini merupakan salah satu fase yang tepat untuk melakukan toilet training, yaitu pelatihan menggunakan toilet pada anak.
Fase Falik (3 – 5 tahun)
Tahap-tahap perkembangan psikoseksual manusia berikutnya terjadi pada usia 3 – 5 tahun. Pada fase ini, pemuasan libido atau dorongan seseorang berada pada alat kelamin. Anak-anak sudah mulai paham dan menyadari perbedaan secara anatomis antara laki-laki dan perempuan, dan menyadari fungsinya sebagai makhluk sosial yang memiliki perbedaan jenis kelamin.
Pada fase ini, biasanya sering muncul Oedipus Complex dan Electra Complex. Oedipus Complex merupakan rasa “suka” antara anak laki-laki dengan ibunya, sedangkan Electra Complex merupakan rasa “suka” antara anak perempuan dengan ayahnya.
Fase Laten (5 – 12 tahun)
Tahap-tahap perkembangan psikoseksual berikutnya adalah fase laten. Fase ini merupakan fase tenang, dimana anak – anak akan lebih sibuk dengan kegiatannya tanpa “diganggu” oleh munculnya libido dan dorongan-dorongan seksual. Pada fase ini, anak-anak cenderung bermain dan berteman, terutama dengan anak-anak lain ataupun orang dewasa yang memiliki jenis kelamin sama.
Fase Genital (12 tahun ke atas)

Tahap-tahap perkembangan psikoseksual manusia yang terakhir adalah fase genital. Pada fase ini, organ – organ reproduksi sudah mulai matang, dan pusat keinginan, libido, dan juga dorongan seksual berada pada alat kelamin. Pada fase ini, mulai muncul jalinan relasi heteroseksual.
Jika orangtua sudah mengetahui tahapan perkembangan psikoseksual anak, langkah berikutnya adalah mendampingi anak menjalani tahapan perkembangan psikoseksualnya. Setiap tahapan psikoseksual merupakan Fitrah Manusia, apabila setiap tahapan dapat dilalui dengan baik sesuai fitrahnya, maka ia akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir dan bertindak sesuai fitrahnya. Sebaliknya, jika anak tidak melewati fase perkembangan sesuai fitrahnya, maka akan muncul perilaku menyimpang yang tidak sesuai fitrahnya. Saat ini, beragam perilaku menyimpang seolah menjadi virus yang telah tersebar di masyarakat. Bukan hanya menjangkiti orang dewasa, namun juga pada anak-anak.
Berikut ini beberapa perilaku menyimpang yang harus diwaspadai:
Masturbasi Infantil (Masturbasi pada Anak)
Masturbasi infantil (childhood masturbation) adalah autostimulasi alat genital pada anak prapubertas. Masturbasi merupakan keadaan normal yang ditemukan pada 90-94% laki-laki dan 50-60% wanita pada masa kanak-kanak. Meskipun merupakan suatu keadaan normal, kondisi ini seringkali luput dari perhatian orangtua atau keluarga terutama bila tidak ditemukan manipulasi alat genital secara langsung. Masturbasi infantil (MI) merupakan suatu bentuk pemenuhan kepuasan (gratification) pada masa kanak-kanak. Aktivitas masturbasi pada bayi dan anak tidak selalu dapat dikenali karena seringkali dilakukan tanpa stimulasi alat genital secara manual.
Dengan demikian, adalah keliru jika orang tua menunjukkan reaksi yang kasar dan negatif menanggapi perilaku normal ini. Tapi sungguh dapat dipahami jika kebanyakan orang tua merasa sangat kaget, shock dan bingung ketika mendapati anaknya melakukan aktivitas seks semacam masturbasi. Dan orang tua hendaknya waspada, karena kemungkinan anak yang mempunyai kecenderungan masturbasi dengan intensitas yang tinggi kemungkinan telah mengalami atau menjadi korban pelecehan seksual. Normal atau tidaknya masturbasi yang dilakukan dapat dilihat dari sejauhmana aktivitas tersebut menyita perhatian anak. Jika hanya sekedar memuaskan keingintahuannya maka ini bisa dikatakan normal. Dan sebagai orang tua kita meresponnya dengan memberikan pengertian dan memfasilitasi penyaluran energi dan rasa ingin tahunya melalui kegiatan lain. Tapi jika ia menghabiskan energi dan perhatiannya hanya untuk masturbasi dan enggan melakukan aktivitas lain, maka ini harus diwaspadai.
Disinformasi Gender
Biasanya, anak yang tidak mendapat stimulus dan lingkungan yang positif mengenai fungsi gender, akan mengalami disinformasi gender. Bila berlanjut, ini bisa menjadi akar dari LGBT. Maka dari itu, anak perlu diberi stimulus pemahaman fungsi gender sejak usia dini sesuai tahapan psikoseksual.
Kecanduan Pornografi dan Sexting

Penggunaan gadget yang meluas, menjadi pintu dari paparan pornografi pada anak usia dini. Anak usia dini seharusnya tidak banyak menggunakan gadget dalam kegiatan sehari-hari, apalagi tanpa pendampingan orang tua. Kerusakan otak yang pertama kali terjadi adalah kerusakan di bagian Pre Frontal Cortex, otak yang berada di bagian depan (tepat di dahi) yang merupakan pusat dari kegiatan pengambilan keputusan.
Kekerasan Seksual
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan ratusan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang diduga dilakukan orang terdekat sebagai pelaku.
Komisioner KPAI Jasra Putra mengungkapkan, data menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015. Sementara pada 2016, KPAI mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Kemudian di 2017, tercatat sebanyak 116 kasus. Dalam data juga dinyatakan bahwa pelakunya adalah orang terdekat anak seperti ayah tiri dan kandung, keluarga terdekat, dan temannya.
Setelah melihat fenomena di masyarakat, solusi yang ditawarkan kelompok ini adalah dengan mengajak para orangtua menjaga fitrah seksualitas pada anak di setiap tahap tumbuh kembangnya. Antara lain :

☘ Masa Kehamilan
🔹Menjaga asupan makanan dan nutrisi yang seimbang. Menghindari makanan yang mengandung hormon sintetis.
🔹Menjaga Keseimbangan Emosi selama masa kehamilan
🔹Mengajak janin berkomunikasi

☘ 0-1 tahun
🔹Pemberian ASI eksklusif, dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun
Pemberian MPASI dengan tekstur yang sesuai dengan usia tumbuh kembang anak

☘ 1-3 tahun
🔹Mengupayakan Sistem Pencernaan yang sehat.
🔹Toilet Training yang menyenangkan
🔹Adab Buang Air Besar dan Kecil
🔹Mengenal Nama-nama anggota tubuh, termasuk organ genital dengan nama ilmiah.
🔹Mengajak anak agar mensyukuri anggota tubuh yang dimilikinya
🔹Tidak memaksa anak untuk bersalaman/cium/peluk dengan orang lain, termasuk anggota keluarga.

☘ 3-5 tahun
🔹Mengetahui adab berpakaian (Malu jika auratnya tampak)
🔹Belajar mengenal fungsi tubuh secara ilmiah, misalnya: Proses kehamilan dan melahirkan.
🔹Mengenal perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan.
🔹Mengetahui adab bertemu dengan orang lain.
🔹Mengenal sentuhan yang boleh dan tidak boleh.
🔹Mendukung anak supaya berani bertanya, mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.
🔹Mengenalkan peran gender

☘ 5-12 tahun
🔹Kamar Tidur sudah terpisah dari orang tua dan saudara lawan jenis. Jika harus sekamar (perempuan dengan perempuan/ laki-laki dengan laki-laki, maka harus terpisah selimut/tempat tidurnya).
🔹Melakukan beragam aktivitas positif bersama orang tuanya.
🔹Anak Perempuan didekatkan dengan Ayah dan mendapat pemenuhan kebutuhan sentuhan fisik dari Ayahnya (Dipeluk, dicium, diusap). Dan Anak laki-laki dengan Ibunya.
🔹Mengenal ciri-ciri pubertas dan cara menghadapinya

☘ >12 tahun
🔹Melakukan banyak dialog mengenai fitrah peran laki-laki dan perempuan di dunia.
🔹Melakukan aktivitas sesuai peran gender

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Thursday, 4 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Memasuki materi 11 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami belajar mengenai pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas anak. Materi ini kami sambut dengan cara belajar yang berbeda dari biasanya. Kali ini di kelas fasilitator, kami sebagai peserta diminta untuk learning by teaching dengan cara melakukan diskusi kelompok dan presentasi serta membuat media edukasi.

Unik? Ya

Susah? Ya

Ribet? Ya

Menyerah? Tidak

Sejenak kita menilik ke belakang, saat masih muda, hahaha… Kalau kita ditanya, masa-masa apa yang paling mengesankan saat kuliah? Mayoritas jawabannya bisa jadi adalah saat begadang mengerjakan laporan praktikum, atau saat tidak sempat mandi karena menyelesaikan tugas yang belum juga selesai di detik-detik terakhir batas pengumpulan. Masa-masa yang pada masanya dirasa sulit, justru menjadi pengalaman berkesan saat berhasil terlewati. Ya, situasi genting seringkali membawa kita melampaui ambang batas kemampuan diri. Menegangkan, memicu adrenalin, tapi memunculkan kegembiraan setelahnya. Yap, itulah tantangan.

Cara belajar di materi 11 ini jelas menjadi sebuah tantangan bagi kami. Dan hari ini, kelompok pertama di kelas fasilitator Bunda Sayang batch #1 telah menjawab tantangan tersebut dengan amat jitu. Kelompok yang beranggotakan 4 orang ibu yang berdomisili di tempat yang berbeda yaitu, Luthfia di Bandung; Diah Soehadi di Jakarta; Anna Andriani di Jepang; Firsta di Bogor, berhasil berkolaborasi menyajikan sebuah materi yang apik dan menyeluruh. Pas sekali untuk mengawali presentasi-presentasi ke depan.



Mengambil judul Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas pada Anak, kelompok ini menyajikan materi layaknya presentasi di dunia nyata. Masing-masing orang menempati posisi kerjanya masing-masing. Moderator, presenter materi, penjawab pertanyaan hingga pembuat media edukasi telah ada penanggungjawabnya masing-masing. Tak perlu menunggu lama, moderator segera mengambil alih kelas dan membuka ruang diskusi dengan cekatan. Usai pembukaan, presenter segera menampilkan bahan diskusi yang tersaji dengan visualisasi yang menarik, konten materi selalu dilengkapi dengan gambar juga infografis untuk memudahkan pemahaman.

Poin materi yang dikupas antara lain :
1. Definisi  dan peran gender
2. Pembagian peran gender
3. Penyimpangan dan fenomena yang terjadi di masyarakat
4. Solusi yang ditawarkan : membangkitkan fitrah seksualitas
5. Media edukasi sebagai kontribusi nyata

Secara umum, saat kita berbicara mengenai gender, tergambar jelas perbedaan fisik laki-laki dan perempuan juga peran yang mengikutinya. Seiring berkembangnya budaya masyarakat, peran gender seringkali dikaitkan dengan kekuatan laki-laki dan kekurangberdayaannya perempuan. Kekeliruan yang berkelanjutan membentuk sebuah pola pikir yang diwariskan turun temurun sehingga penyimpangan terjadi di banyak lini. Sebagai contoh, kasus kekerasan para perempuan seringkali terjadi karena anggapan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tak berdaya. Kejadian ini membuat perempuan merasa perlu menunjukkan eksistensinya dengan menyaingi laki-laki untuk membuktikan bahwa perempuan adalah pihak yang juga dapat berdaya. Perempuan mengesampingkan peran gendernya, fitrah seksualitasnya sehingga sisi maskulinitas lebih mendominasi. Alhasil, perempuan sibuk berkarya di publik, namun keluarga dan anak-anaknya haus belaian dan rindu kelembutan seorang ibu. Terjadi ketimpangan dalam keluarganya.

Pun dalam keluarga, seorang pria yang kurang memahami peran gendernya sebagai seorang kepala keluarga, akan sibuk dengan aktivitas mencari nafkah tanpa mau turun tangan dalam urusan rumah tangga. Sang pria menganggap bahwa urusan anak-anak dan rumah tangga adalah sepenuhnya urusan istri. Padahal peran ayah dalam pengasuhan anak sangat berperan dalam membentuk sisi maskulin, jiwa kepemimpinan, pola pikir yang logis dan sistematis dan masih banyak lainnya.


Setelah akar masalahnya teridentifikasi, langkah berikutnya adalah bergerak membuat sebuah solusi. Kelompok ini merumuskan bahwa solusi dan permasalahan yang ada dalam masyarakat adalah diawali dari keluarga sebagai sebuah unit terkecil. Orangtua kembali pada peran idealnya yaitu sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak-anak. Maka, membangkitkan fitrah anak seperti fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar pun juga fitrah seksualitas adalah sebuah tanggungjawab yang perlu ditunaikan oleh para orangtua.

Hal ini tentu bukan hal yang mudah. Membutuhkan sebuah komitmen tinggi dan kerjasama yang kontinyu. Pesan moral paling mengena yang saya tangkap dalam diskusi kelompok 1 adalah saat ada studi kasus, bagaimana jika seorang anak berada dalam sebuah keluarga yang tidak utuh? Bukankah kondisi tersebut bukan pilihan anak?

Peribahasa Afrika yang berbunyi It takes a village to raise a child yang kurang lebih artinya, perlu orang sekampung untuk mendidik anak, tentu sudah tidak asing di telinga.
Mendidik anak kita saja untuk menjadi baik tentu tidak cukup, karena anak kita akan berinteraksi dengan anak tetangga, anak kita juga akan bersosialisasi dengan teman-teman bermainnya. Maka, kita perlu mendidik anak-anak lain untuk baik juga supaya anak kita dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kondusif. Keluarga kita perlu bersinergi dengan keluarga lainnya untuk mewujudkan visi bersama.

Anak yang berada dalam sebuah keluarga yang tidak utuh, pun memiliki hak yang sama. Oleh karena itu, jika ayah atau ibu kandungnya tidak ada, maka perlu ada sosok pengganti yang akan menghadirkan peran ayah atau ibu untuk diri anak tersebut. Bisa dari keluarga terdekat atau bahkan perangkat di lingkungan setempat. Tersemainya fitrah seksualitas anak dengan benar,  menjadi tanggungjawab bersama.

Untuk memudahkan pemahaman, kelompok ini membuat video berdurasi 2 menit 46 detik sebagai media edukasi agar para orangtua semakin memahami fitrah seksualitas dengan benar sehingga dapat membersamai anak-anak semakin baik lagi. Video ini bisa disimak di http://bit.ly/MediaEdukasi1Fasilnas

Harapan ke depan, video ini akan disaksikan oleh semakin banyak orang dan keluarga sehingga semakin banyak pihak yang terpahamkan bagaimana fitrah seksualitas dan betapa pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas anak.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak