Sunday, 27 August 2017

Gambar Kontras dan Jadwal Harian Bergambar


Manajemen waktu dalam memfasilitasi kebutuhan belajar kakak adik menjadi bahan pikiran yang menggelitik bagi ummi saat ini.

Dari segi rencana, ummi menyiapkan slot waktu bermain bagi kakak adalah jam 09.00-12.00 WIB, saat adik terlelap tidur pagi. Dengan catatan kakak sudah mandi, makan dan membantu membereskan rumah. Kami menamakannya sebagai jam riset. Karena di jam itulah, kakak melakukan riset kecil-kecilan. Memilih apa yang ingin dibuat, buku apa yang ingin dibacakan atau hal apa yang ingin dibacakan ke ummi. Setiap pilihan tak lepas dari konsekuensi, bukan? Kadang kakak bosan menggunting di tengah-tengah perjalanan gunting-tempel, mengambil mainan puzzle saat balok susun masih berserakan, dan sebagainya. Ah nak, jangankan dirimu yang masih anak-anak. Ummi pun masih mengalaminya. Namun, mari kita belajar bertanggungjawab, memahami konsekuensi atas pilihan kita dan menjalankannya dengan bahagia. Bukankah bertanggungjawab itu sebuah karakter seorang muslim? Bukankah kita calon muslim tangguh, nak? :)

Jadwal ini akan berjalan sangat baik jika semua berjalan sebagaimana mestinya. Menjelang jam riset adik sudah mulai mengantuk, kakak makan dengan mandiri dan ummi juga sudah siap amunisi. Semua dalam kondisi siap. Maka kami menyambut jam 09.00 tepat dengan sukacita. Yes, adik sudah tidur! Namun tentu ini tidak dapat berjalan setiap hari. Ada kalanya adik bangun kesiangan sehingga di jam riset matanya masih membuka lebar dan mengajak main, hihi… Ada kalanya jadwal pagi tidak kami tepati sehingga di jam 09.00 kami tidak dalam kondisi siap dan beberapa kondisi tak ideal lainnya. Untuk itu, kami perlu menyiapkan plan A, B, C dan D beserta amunisinya sehingga jam jadwal jam riset harian tetap dapat berjalan dan semua pihak menjalaninya dengan bahagia.

Hari ini kami melanjutkan project membuat jadwal harian kakak. Ummi sebagai pimpinan project dan dokumentator, kakak eksekutor, adik pemberi apresiasi pada kakak dan Abi mempersiapkan bahan sekaligus penerima laporan.

Bahan-bahannya berupa aktivitas-aktivitas yang abi dapatkan di internet beberapa bulan lalu. Project ini memang sudah direncanakan sejak lama tapi menunggu momen yang pas. Waktu itu ummi membuat daftar aktivitas apa saja yang perlu dicari gambarnya. Kemudian abi yang mencarinya di internet dan mencetaknya. Lalu masih ummi simpan di lemari, sampai mengundang perhatian kakak. “ Waaaah…ada banyak gambar mi. Bagus-bagus. Buat kakak?” saat itu ummi jawab, “Iya, buat kakak. Tapi nanti ya, waktu kakak buat jadwal.”

Menunggu momen yang pas?

Iya, ummi menunggu momen itu. Momen dimana kakak paham urut-urutan aktivitas yang perlu dia lakukan sebelum melakukan sebuah hal. Dalam deal board yang diadaptasi dari firdaus ark sebenarnya sudah ada peraturan, kalau kakak ingin main bersama teman atau bersepeda, kakak wajib mandi dan makan dulu. Tapi seiring waktu, dia tidak setiap saat antusias bermain bersama teman atau bersepeda. Sehingga makan dan mandi diawali dengan penyampaian berbagai alasan.

Kemudian, beberapa waktu lalu, saat ummi memperbaiki manajemen waktu ummi, ummi mengalokasikan jam riset untuk kakak dan ummi sampaikan padanya. Di jam riset, ummi adalah fasilitator penuh kakak, kita sama-sama mengondisikan agar di jam riset kami berdua siap, adik juga tidur. Mendengar penjelasan ummi, kakak tertarik. Dari situ dia mengenal jadwal, apa saja yang perlu dia penuhi sehingga di jam riset diri dan lingkungan sudah kondusif. Inilah AHA moment, inilah momen yang pas itu. :)

Maka, beberapa waktu lalu ummi membuka gambar-gambar aktivitas itu. Memperlihatkannya pada kakak dan mendiskusikannya satu persatu. Membiarkan tangan kakak mengambil gambar yang sesuai dimasukkan dalam jadwalnya. Setelah beberapa gambar terkumpul, kakak mulai mengguntingnya. Tentu proses ini tak berjalan mulus. Ada saatnya kakak kesal karena menggunting di luar garis, ada saatnya dia protes capek, ada saatnya dia hampir menyerah dan meminta ummi saja yang menggunting untuknya, hihi. Ini pun AHA moment  untuk memberikan pengertian pada kakak. Bahwa wajar hasil gunting kakak belum sesempurna ummi, karena kakak masih berlatih otot-otot tangan, pelajar an ini kakak dapatkan dari buku cerita. Saat capek,  berhenti dan simpan dulu, kemudian keluarkan kembali setelah beberapa hari. Maka dia akan kembali antusias. Sama-sama belajar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah, dan tugas kita hanyalah berikhtiar optimal. Ya, optimal. Melakukan dan mengerahkan kemampuan terbaik yang kita miliki.

Seperti disebutkan dalam surat Al An’aam 135
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.

Pagi ini kami kembali menggunting. Dan kakak tetap ceria dengan percaya diri dengan hasil guntingnya. “Ummi, kakinya tergunting. Tapi ngga apa-apa yang mi, kakak kan masih latihan otot-otot tangan ya. Nanti lama-lama rapi ya, mi?” demikian celotehnya. Kami menggunting bersama untuk membuat jadwal aktivitas bergambar kakak. Tak lama kemudian, adik terbangun. Saatnya berkemas benda-benda tajam. Sesi menggunting kami akhiri dan beralih ke sesi menempel. Kami menyatukan gambar-gamabr di kertas HVS yang kami tempel memanjang. Taraaaa…..jadilah jadwal kakak. Siap tempel di dinding.

Untuk adik, sudah ummi siapkan cetakan gambar dengan perpaduan warna hitam, putih dan merah. Istilahnya, high contrast picture for baby. Sudah ditempel di dinding dan siap digapai adik, hihi. Karya kakak dan gambar adik sudah tertempel di dinding. Kakak bangga dengan jadwal harian hasil karyanya. Dengan antusias, dia ceritakan jadwal hariannya ke adik. Adik tertawa-tawa mendengar dongeng kakak. Dia juga terlatih motorik kasarnya dengan berdiri dan berjalan perlahan menyusuri dinding.

Tinggal membuat laporan dan dikirimkan ke pak kepala sekolah griya riset :D
#motorikkasar
#achiever

#kecerdasanlinguistik

Friday, 25 August 2017

Belajar Bersama Saat Rapat Ulul Azmi

Bukan sekali ini mereka mengikuti forum orang dewasa. Bukan sekali ini mereka dilibatkan dalam forum belajar ummi. Dan dari aktivitas berulang itu, selalu saja ada temuan baru dan menarik yang ummi catat, tentang mereka.

Hari ini kakak dan adik mengikuti rapat persiapan acara Gema Takbir dan Sholawat Bersama se-Kabupaten Jombang yang diadakan majlis ta’lim Ulul Azmi. Sebelum berangkat, kami menyiapkan amunisi supaya mereka tetap bisa membersamai ummi dengan nyaman dan tetap dapat bermain seperti biasanya. Harapan ummi, meski mereka membersamai ummi di forum rapat yang notabene formal dan mayoritas terdiri dari orang dewasa, mereka tak kehilangan kenyamanan belajar.

Kebetulan mereka baru saja selesai makan siang sehingga mereka berangkat dalam keadaan kenyang. Maka amunisi yang kami siapkan adalah minuman, buku, puzzle, boneka dan mainan. Semua amunisi tersebut ummi masukkan ke dalam tas ransel kakak dan kakak yang bertanggungjawab terhadap isinya, ummi hanya membawakan dari rumah ke sekretariat lokasi rapat. Disana kakak bertemu dengan mba Nafla, teman di masjid sekaligus di TPQ. Waaaah….wajah sumringah kakak langsung terlihat J

Kakak ceria, ummi bahagia. Bersama mba Nafla, kakak menjadi pembelajar mandiri. Mereka bermain pretend play sebagai ibu-ibu yang menggendong anaknya. Sempat terdengar aba-aba dari kakak saat pembagian peran. Kakak meminta mba Nafla berperan sebagai ibu A, kakak berperan sebagai ibu B dan mereka berjalan bersama-sama. Potensi bakat arranger dan command kakak terlihat di proses ini. Bagaimana kakak membagi peran dan memberikan instruksi supaya teman bermainnya bergerak sesuai arahannya.

Tak lama, mba Nafla memakan sebuah permen dan kakak mendapat bagian. Kakak mendekat ke ummi dan meminta izin, sekaligus review, sehari makan berapa permen ya? Hehe. Kali ini, kakak yang egosentrisnya masih dominan mendapat role model untuk suka berbagi dan menikmati rezeki bersama dengan teman-teman. Mb Nafla cenderung diam, tak banyak berbicara dan suka berbagi. Kakak senang bermain dengan mba Nafla.

Setelah itu, aktivitas belajar mereka beranjak ke membaca buku. Perlahan ummi dengarkan pembicaraan mereka. Ternyata kakak becerita mengenai dirinya, juga tentang isi buku yang sedang mereka pegang. Kakak bercerita, mba Nafla mendengar. Artikulasi dan penyampaian kalimat sudah lugas dan jelas, potensi bakat communicationnya terlihat.. Kosakata kakak cukup banyak dan dia dapat menceritakan ulang poin-poin penting di alur cerita tersebut. Melatih kecerdasan linguistiknya supaya terasah dengan baik. Kakakpun perlu belajar menjadi pendengar yang baik, karena mendengar dan didengar adalah kompetensi yang penting dimiliki oleh semua orang.

Pretend play berikutnya, mereka berpura-pura menjadi penumpang kereta. Kakak rupanya rindu berkereta. Mereka praktik dari ambil tiket, cek isi tas dan bagasi, hingga suara pemberitahuan di stasiun kereta api. Dari kegiatan ini, ummi ingin mengetahui, seberapa hafalnya kakak dengan orang-orang yang kakak jumpai, terlihat bakat context kakak.

Bagaimana dengan adik?

Dia, seorang yang menentramkan hati. Yang mencoba memberikan solusi kala tantangan melanda cukup dengan senyumannya. Di acara tadi, dia merangkak kesana-kemari mengikuti sang kakak. Motorik kasar dan motorik halusnya bisa tumbuh dengan signifikan.

#motorikkasar
#motorikhalus
#context
#communication
#linguistik
#command

#arranger

Monday, 21 August 2017

Kami dan Para Calon Jamaah Haji


لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak (Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu)."
Sejatinya, belajar adalah sebuah hal yang menyenangkan. Melakukan pengamatan, terjadi serangkaian proses berpikir, memantik keingintahuan mendalam dan membuat pemahaman semakin menguat. Maka, menciptakan suasana yang menyenangkan dalam pembelajaran adalah hal mendasar yang perlu diprioritaskan.
Tema belajar bulan ini adalah ibadah haji.  Mengingat saat ramadhan lalu kakak membeli buku busa berisi penjelasan rangkaian ibadah haji. Buku ini kami baca sembari bersenandung bersama sebuah lagu anak-anak yang cukup populer tentang ibadah haji. Ummi kurang paham persis judulnya apa dan pengarangnya siapa. Tapi lagu ini sangat membantu dalam pembelajaran, terutama untuk anak-anak yang cenderung audio.
Saya pergi ke Mekkah, berkeliling-keliling Ka’bah  
Sambil baca talbiyah dan wukuf di Arafah
Lalu melempar jumrah, ula wusta aqobah
Sa’i, sa’i dari Shofa ke Marwah
Allah Maha Penyayang
Sayangnya tak terbilang
Allah Maha Pengasih
Tak pernah pilih kasih
Allah yang Maha Tahu tanpa diberitahu
Allah, Allah, Laa ilaha ilallah

Saat belajar tema ini, kami juga sembari mencoba memakaikan baju ihram laki-laki dan berlari-lari kecil dari ujung ke ujung, simulasi bukit Shofa dan Marwa. Foto-foto umroh keluarga pun diperlihatkan ke kakak.

Kami juga sempat menghadiri undangan pengajian tetangga yang akan berangkat haji. Alhamdulillah ummi, kakak dan adik mendapat tempat lesehan di dalam rumah, sehingga lebih kondusif dan membuat anak-anak lebih leluasa bergerak. Saat bersholawat bersama, kakak mendendangkan dengan lantang. Menyemai fitrah keimanan, menumbuhkan kecintaan pada Rasulullah. Ceramahpun kami dengarkan bersama hingga tanpa terasa dua jam terlewati dengan menyenangkan.

Banyak tetangga dekat yang akan berangkat haji, beberapa diantaranya adalah teman baik ibu. Mengharap berkah dan doa dari calon tamu Allah, kami bertandang bersama yangti. Kakak dan adik belajar adab bertamu, meminta izin saat akan mengambil sesuatu dan tidak mengambil jamuan sebelum dipersilahkan. Kakak juga sempat kebelet pipis, kami pun meminta izin ke kamar mandi. Kakak dan ummi praktik kembali mengenai thaharah (bersuci) dan menutup aurat.

Kemarin malam, calon jamaah haji dilepas oleh warga perumahan yang dikoordinasi oleh takmir masjid. Acara berlangsung ba’da Maghrib. Usai jamaah Maghrib, kakak bersiap ganti baju putih dan berangkat kembali ke masjid bersama yangti. Ummi dan adik masih sholat Maghrib dan bersiap diri, menyusul berangkat. Ummi tiba saat acara inti akan berlangsung. Adik yang berada dalam gendongan, berbinar melihat kilau cahaya lampu dan suara kalimat talbiyah.







Friday, 18 August 2017

Rumah Baca dan Jiwa Sosiopreneur

Di hari kemerdekaan ini kakak dan adik menemani ummi mengunjungi Rumah Baca Gang Masjid (RBGM). Rumah baca ini terletak di gang yang bersebelahan dengan Masjid Agung Jombang. Mengendarai motor bersama teman ummi, kami melewati alun-alun Jombang. Disana sedang diadakan upacara detik-detik proklamasi. Suara lantang nan menggetarkan hati menarik perhatian kakak. Pinggiran jalan penuh sesak dengan kendaraan peserta upacara yang terparkir. Beruntung, ada sedikit celah yang cukup disisipi motor yang akan kami parkir.

Hari menjelang terik, kami bertiga berjalan kaki menuju RBGM sedangkan adik terlelap tidur di dekapan ummi. Suasana tampak sepi, hanya ada beberapa remaja yang sedang mengerjakan sesuatu dan mempersilahkan kami masuk ke dalam. Ummi mengamati sekeliling. Rumah baca ini baru saja melakukan inventarisasi. Buku-buk berjejer rapi dan masing-masing jenisnya ditandai dengan pembeda warna. Tak lama, suara khas mba Yusnita, sang pengelola rumah baca pun menyapa kami. Meski baru beberapa kali bertemu, ummi melihat beliau amat ramah pada setiap orang. Mempersilahkan kami masuk, membuka topik obrolan dan mengeluarkan mainan yang menarik perhatian kakak dan adik, hihi…

Kami selalu terpana dengan kisah orang-orang yang berjiwa sosial. Betapa tidak, RBGM ini berdiri karena tergeraknya hati pasangan suami istri Luqman Hakim dan Yusnita saat melihat banyaknya anak dari pedagang kaki lima di alun-alun yang seringkali menjadi pembuat keonaran masjid.Mereka buka rumah baca dengan menyulap ruang tamu menjadi sarana umum. Buku semakin banyak, tempat yang dibutuhkan pun semakin luas. Lambat laun, mereka memutuskan untuk tinggal bersama orangtua sedangkan rumah yang mereka tinggali full menjadi rumah baca. Jangan dikira orang-orang langsung tertarik. Tak jarang terdengar prasangka negatif maupun cibiran meremehkan. Tapi, saat proses yang dijalani adalah sebuah panggilan hati, maka tak ada sakit yang dirasa dari hati. Tetap berjalan meski sedikit, tetap berjalan meski dipandang nyleneh. Karena proses tak akan mengkhianati hasil J

Alunan penuturan mba Yusnita mengalir tersimak oleh kakak. Biarlah cerita itu terekam dalam memorinya, hingga fitrah sosialnya tersemai mengalir lihai. Bahwa semakin cepat kita selesai dengan diri sendiri, akan semakin cepat kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Sesampainya di rumah, iseng ummi bertanya, “Kakak mau bikin rumah baca seperti di RBGM?” yang lalu kakak jawab, “Mau Mi…nanti om ajak teman-teman kesini ya, belajar bareng J

Ummi dan teman-teman berkoordinasi untuk acara workshop mendongeng. Kami meminta mba Yusnita sebagai host dan mas Luqman sebagai narasumber. Kakak duduk manis bermain balok susun. Dari situ, terlihat potensi bakat focus kakak yang cukup tinggi. Kakak bermain balok susun dan merangkainya menjadi kereta. Dan ternyata dia membuat dua buah kereta. Katanya satu untuk kakak, satu untuk adik. Potensi emphaty-nya ternyata cukup tinggi.

Sembari ummi berdiskusi, adik asyik menjelajah rak-rak buku. Ditelusurinya aneka buku dan dikeluarkannya satu demi satu. Motorik kasar dan motorik halusnya terasah sekaligus. Koordinasi mata dan tangan pun terlihat cukup baik.

#fitrah sosial
#fokus
#emphaty
#motorikkasar
#motorikhalus


Memberi Kesempatan Belajar, Memantik Inisiatif Diri




Wednesday, 16 August 2017

Sebuah Dialog Keimanan


Pertanyaan-pertanyaan seputar Sang Pecipta menghiasi pembelajaran kami beberapa hari terakhir.  Membuat ummi semakin tersadar bahwa memang benar, sejatinya fitrah belajar dan bernalar sudah terinstall dalam diri anak-anak. Tugas orangtua hanya jangan sampai mencederainya. Hingga yang tersemai itu tumbuh semakin menguat, untuk kemudian kokoh dan mengokohkan. Namun, bukankah tak mencederai artinya memfasilitasi dengan baik? Sehingga tak ada pilihan lain selain memantaskan diri? Ah, ummi tertohok dan tertunduk malu.

Usaha apa aja yang sudah ummi lakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban amanah besarNya ini? Betapa semakin bertambah usia anak-anak tak disertai dengan bertambahnya ilmu ummi secara signifikan. Banyak perkara kecil bin printhilan yang menjadi alasan klasik tak berujung. Haaaa….ayo lelah, berubahlah menjadi lillah :D

Mi, Allah itu tidur ngga?
Pertanyaan ini muncul sewaktu kami sedang membaca buku bersama-sama. Ummi lupa awal mulanya, tapi ummi jadi penasaran apa yang kakak bayangkan mengenai Allah. Tugas ummi adalah bagaimana mentransfer pemahaman mengenai iman ke pikiran konkrit khas anak-anak. Pertanyaan kakak membuat ummi membuka asmaul husna. Allah bersifat Al Hayyu Al Qayyum, yang artinya memiliki sifat hidup yang sempurna dan tidak bergantung pada makhlukNya. Mengantuk dan tidur adalah sifat kekurangan, yang mustahil dimiliki oleh Allah. Jika Allah itu mengantuk dan tidur, siapakah yang menjaga, memberi rezeki dan mengatur bumi beserta isiNya? Dan Allah memiliki sifat sempurna secara mutlak. Sehingga tentu Allah tidak mengantuk dan tidak tidur.

Hal ini dipertegas oleh Ayat Kursi, dalam Surat Al Baqarah ayat 255,
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Mi, Allah itu gimana? Kita bisa melihat Allah?
Pertanyaan kedua ini pun membuat ummi garuk-garuk kepala. Kita tidak dapat melihat Allah dan tak kuasa membayangkanNya. Dan atas petunjuk Allah yang menggerakkan tangan dan mata ummi, Allah pertemukan ummi dengan jawaban di kitab tafsir.
Surat Al An’am ayat 103
Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Dalam tafsir surat Al An’am ayat 103 dipaparkan bahwa Allah merupakan Zat yang Maha Agung yang mana tidak dapat dijangkau oleh indera manusia, karena indera manusia itu memang diciptakan dalam susunan yang tidak siap untuk melihat zatNya. Manusia diciptakan dari sebuah materi, inderanyanya hanya menangkap materi-materi belaka dengan perantara materi pula, sedangkan Allah bukanlah materi. Maka Allah tidak dapat dijangkau oleh indera manusia. Matahari terik yang tak kuasa kita lihat silaunya saja adalah ciptaan Allah. Melihat Sang Penciptanya tentu kita tak kuasa.

Namun ternyata, pada hari Kiamat, orang-orang beriman akan dapat melihat Allah.
Nabi Muhammad bersabda,
Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhanmu di hari Kiamat seperti kamu melihat bulan di malam bulan purnama, dan seperti kamu melihat matahari di kala langit tak berawan. (HR Bukhari)

Sedangkan bagi orang kafir, kemungkinan melihat Allah tertutup bagi mereka.
Allah berfirman,
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya. (Al Mutaffifin ayat 15)

Mi, Allah itu dimana?
Singgasana Allah itu di Arsy. Namun Allah memiliki sifat Maha Mengetahui, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Allah dapat melihat segala sesuatu yang dapat dilihat, dan bashirah (penglihatan)Nya dapat menembus seluruh yang ada, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagiNya, baik bentuk maupun hakikatNya. Di surat Al An’am ayat 103 diatas juga dipaparkan bahwa Allah Maha Halus, tidak mungkin dijangkau indera manusia dan betapa halusnya segala sesuatu, tetap akan diketahui oleh Allah, tidak ada yang tersembuny dari pengetahuanNya. Sehingga Allah selalu mengawasi dan mengetahui apa yang kita lakukan.

Nak, singgasana Allah itu di Arsy, namun pengawasan Allah sangat dekat dengan kita. Ada di depan kita, ada di belakang kita, di kanan kita, di kiri kita, di atas kita, di bawah kita, semuanya Allah ketahui. Allah selalu bersama kita, dimanapun kita berada. (Al Hadiid ayat 4)

Nak, ummi sadar ummi jauh dari mumpuni untuk dialog keimanan ini. Namun memfasilitasi rasa penasaranmu, menanamkan aqidah yang kuat dan tauhid yang lurus adalah tanggungjawab kami, orangtuamu. Maka, semoga Allah memberikanmu pemahaman yang benar.

#fitrahbelajar
#fitrahbernalar
#fitrahkeimanan



Sunday, 13 August 2017

Mini Lomba Agustusan


Pagi tadi, kakak mengikuti lomba tujuhbelasan yang diadakan tetangga depan rumah. Kakak berangkat terlebih dahulu, bermain-main, baru kemudian ummi dan adik datang menyusul. Lomba pertama yang diikuti kakak adalah lomba makan kerupuk. Kerupuk diikat menyesuaikan tinggi badan peserta. Peserta lainnya berusia 4 tahun dan 9 tahun, sehingga dalam sekejap kerupuk yang diikat dapat terlahap. Bagaimana dengan kakak? Kerupuk yang tersisa masih banyak, tapi kakak tetap bersikap tenang dan menikmati prosesnya. Tak ada tanda-tanda kakak mengeluh lelah dan meminta menyerah, atau berupaya memegang kerupuk yang diikat tersebut supaya tidak bergerak kesana kemari mengikuti arah angin. Kakak tidak terpengaruh dengan kondisi sekitar, fokus menyelesaikan tantangan yang sedang dihadapinya. Dari proses ini ummi mencatat adanya potensi bakat focus dan responsibility dalam diri kakak.

Acara berlanjut ke lomba menaruh bendera ke botol. Pesertanya hanya dua orang. Di lomba ini, kakak berhasil menuntaskan dengan baik. Menyimak dan mengerjakan instruksi dari awal hingga akhir dan mengkoordinasikannya hingga dapat berjalan runtut. Potensi bakat discipline nampak pada dirinya. Lomba berikutnya adalah membawa kelereng. Kakak menggigit dengan cukup kuat. Sempat beberapa kali kelereng yang dibawanya jatuh, tak membuatnya menyerah dan tak melanjutkan perlombaan. Di lomba ini, kakak tertinggal jauh di belakang teman-temannya. Namun kakak berhasil menyelesaikannya hingga akhir dengan penuh semangat.

Lomba selanjutnya adalah memasukkan paku ke dalam botol. Kali ini paku tidak dililit ke badan dan dimasukkan dengan cara jongkok. Paku ditali dan dililit mengelilingi kepala sehingga peserta memasukkan pakunya dengan cara merunduk. Kakak melatih konsentrasi, kesabaran dan daya tahan dalam permainan ini. Setiap permainan yang kakak jalankan, ummi juga melakukannya. Sehingga ummi dapat merasakan tantangan yang serupa dengan apa yang kakak alami.

Sore tadi, kami juga melihat lomba tujuhbelasan yang diadakan oleh karang taruna. Awalnya kakak ingin berartisipasi dengan menjadi peserta lomba, tapi ternyata peserta lomba relatif bukan anak usia dini, dan perlombaannyapun untuk anak usia sekolah. Sehingga kakak pun cukup menjadi penonton sembari bermain bersama teman-temannya. Awalnya kakak hanya bermain dengan mas Fahri. Mereka menemukan putri malu juga berkejaran kesana kemari. Sesekali memanggil ummi untuk menanyakan hal-hal menarik yang mereka temui. Beberapa saat kemudian, ada beberapa anak yang datang mendekati kakak. Ajak-anak tersebut teman main kakak yang biasa bertemu di masjid. Kakak, ummi terkaget-kaget saat tiba-tiba anak-anak kecil bergantian mendekat dan menghampiri kakak. Mungkin ada potensi bakat includer dan emphaty dalam diri kakak, yang membuat teman-temannya nyaman berada di dekatnya dan mencari keberadaannya.

Adikpun turut merasakan keasyikan mengikuti perlombaan dari dalam gendongan ummi. Saat ummi lomba makan kerupuk, ummi juga sembari menggendong adik. Warna-warni yang kontras, riuh rendah suara kegembiraan turut dirasakan oleh adik. Berulang kali dia tertawa dan menghentakkan kaki menunjukkan ekspresi gembira.

#focus
#discipline
#emphaty
#includer
#responsibility


Thursday, 10 August 2017

Berkunjung ke Bazar Buku Jombang


Kemarin malam akhirnya kami berkesempatan juga mengunjungi bazar buku Jombang. Dua kegiatan yang amat kami nantikan sejak pindah domisili ke Jombang adalah bazar buku dan diskusi parenting. Bukannya apa-apa, dua kegiatan ini dulu menjadi rutinitas kami. Bazar buku di Bandung nyaris tak pernah kami lewatkan. Sedangkan diskusi parenting hampir selalu kami ikuti tiap bulan. Susah move on dari acara-acara kece di Bandung, hihi. Nah, karena kami tidak berlangganan koran dan jarang keluar rumah selain weekend, maka informasi pengadaan bazar buku ini pun nyaris terlewat.

Satu jam sebelum jam tutup kami sampai di lokasi acara. Kakak tampak antusias berjalan dari parkiran ke arah pintu masuk. Sembari berjalan riang, kakak berceloteh akan memilih buku cerita. Lalu tiba-tiba, “Miiii….sandal kakak putus…” Sorot matanya menunjukkan kekecewaan. Maklum, itu adalah sandal favorit kakak. Khawatir antusiasme kakak pada bazar buku menjadi padam karena sandalnya putus, ummi bersegera mencairkan suasana. Kejadian ini sekaligus menjadi aha moment untuk menyemai fitrah keimanannya.

Ummi : “Waaaah… iya ya, sandal kakak putus ya. Itu berarti umurnya sandal kakak sampai segitu…”
Kakak : “Tapi kakak suka sandal ini, Mi. Kakak ngga punya sandal lagi dong?”
Ummi : “Kan masih ada sandal yang ungu kak… Nanti kalau ada rezeki terus pas lewat toko sandal, kita beli sandal yang baru.”
Kakak : Kalau gitu kakak pakai sandalnya satu aja ya, Mi?
Ummi : Boleeeeh, ngga pakai sandal juga boleh. Kita mau jalan-jalan lihat apaaaa?
Kakak : Bukuuuuuu... Kakak ngga pakai sandal aja ya mi. Ngga apa-apa?
Ummi : Ngga apa-apa. Enak malah, jadi lebih gampang jalannya. Yuuuuuuk….
Kakak : Ayooooo Miiii…

Senyum lebar dan suara riangnya datang kembali. Ummi tersenyum lega. Kami pun beranjak masuk ke tempat bazar buku. Kondisi lengang dan sepi kami jumpai disana. Kondisi ini menguntungkan kami, karena kami jadi bisa memilih dengan leluasa dan tenang. Kami berpencar mencari buku kesukaan masing-masing. Bagi ummi, ini sekaligus me time nih J. Melihat-lihat judul buku, mencari hal-hal yang menarik adalah sebuah keasyikan tersendiri. Sekaligus membuka mata dan meluaskan pikiran, betapa luas kesempatan untuk menjadi penulis #eh, aamiin..  Suara kakak terdengar nyaring memanggil ummi. Rupanya kakak menanyakan buku mana yang bagus untuk kakak. Ummi menghampiri kakak, dan meminta kakak memilih. Ternyata pilihan kakak adalah buku siap masuk TK. Nah loh...

Kakak : Mi, buku ini bagus. Kakak mau ya.
Ummi : Iya kak, bagus. Tapi itu buat mas mba yang sudah sekolah.
Kakak : Lho, kakak sudah sekolah kan Mi, sekolah di rumah, gurunya ummi. Ya kan?
Ummi : Iya kak. Cuma maksud ummi, itu buat mas sama mba yang sudah besar, yang sudah bisa membaca dan mengeja huruf. Kita cari buku cerita buat kakak, kayaknya banyak yang bagus-bagus. Gimana?
Kakak pun mengangguk dan mengikuti langkah ummi menuju meja yang lain. Kami memilih buku berjudul “Aku Sayang Kakak dan Adik”, “Aku Sayang Nenek dan Kakek” serta buku aktivitas. Kebetulan ummi mengambil contoh buku cerita yang tanpa segel, kakak membukanya dan duduk manis bersama om. Mengamati gambar demi gambar, mengasah fitrah belajar dan kecerdasan linguistiknya.

Di salah satu sisi bazar buku, ada sebuah panggung berbahan kayu. Kakak penasaran dan menaikinya. Tapi di tengah panggung, kakak khawatir jatuh dan merasa tidak aman. Proses ini melatih kepercayaan diri, kehati-hatian dan motorik kasar kakak. Ummi dan om menyemangati dan menyakinkan hingga kakak berhasil sampai di tepi panggung dengan selamat.

Buku-buku pilihan dan puzzle untuk kakak sudah kami kumpulkan jadi satu. Lima belas menit menjelang jam tutup, kami memilah dan menyeleksi buku yang akan kami beli. Untuk kategori non buku, ada tiga benda. Dua buah puzzle dan satu flashcard. Ummi berpikir ulang, sepertinya flashcard ini bisa dibuat sendiri dengan mencari printable  dan menempelkannya di kardus. Begitupun dengan puzzle. Daripada mengeliminasi sepihak, mari didiskusikan nih dengan kakak. Flashcard dan satu puzzle lolos. Tinggal satu puzzle lagi, berbahan kayu bergambar tata cara wudhu. Bagaimana reaksi kakak?

“Yang ini dibeli aja mi. Ngga usah dibikin. Yang lainnya bisa bikin.”
Hahaha..baiklah. Rupanya kakak sudah bisa mempertimbangkan dengan baik dan bersikukuh dengan keputusannya. Tampak potensi bakat deliberative bersinergi dengan command.  Jadilah satu puzzle tersebut dibeli bersama buku-buku.

Lalu, bagaimana dengan adik? Adik cukup mengamati dari gendongan ummi. Adik yang ummi kira sudah mengantuk sejak sebelum berangkat, ternyata menikmati suasana bazar buku dengan anteng selama ummi melihat dan memilih buku. Belum ada boardbook atau buku bantal yang bisa ummi beli untuk adik, hehe…

Bagi ummi, tak apa suasana bazar buku sepi. Tak apa buku yang tersedia bukanlah buku yang banyak diminati masyarakat. Karena bukan itu tujuan utama ummi. Mengajak mereka untuk akrab dengan dunia literasi sejak dini, menumbuhkan kecintaan dan kebutuhan untuk mencari sumber ilmu, mengapresiasi sebuah karya dan kerja keras penyelenggara adalah poin utama ummi mengajak anak-anak dan keluarga ke bazar buku ini.

#fitrahkeimanan
#fitrahbelajar
#kecerdasanlinguistik
#motorikkasar
#deliberative
#command

Monday, 7 August 2017

Menyemai Kecintaan dengan Pembiasaan



"Ummi...nanti kalau kakak sudah besar, kakak yang nyuci baju ya. Bajunya kakak, adik, abi sama ummi. Boleh mi?"

"Kyaaaa..tentu saja boleh Nak, sangat boleh sekali. Ummi senang sekali kalau begitu." jawab ummi sembari tersenyum lebar.

Percakapan ini terjadi setelah kami mencuci bersama, yang mana kakak masih mengenakan pakaian basah. Permintaan kakak diatas cukup sebagai bekal ummi untuk berasumsi bahwa bagi kakak, mencuci adalah hal yang menyenangkan. Bagi ummi dan abi, hasil dari proses ini bukanlah pakaian yang tercuci bersih atau proses yang berjalan sempurna. Karena jika hal-hal tersebut menjadi indikator, tentu proses pagi ini masih jauh dari keberhasilan. Karena yang jelas terlihat adalah justru air yang terpercik kemana-mana, baju yang basah dan butuh diganti, juga cucian yang terserak kemana-mana.

Ummi, di hadapanmu ada seorang pembelajar mandiri berusia 3 tahun 3 bulan. Apa kau mengharap cucian yang terbilas sempurna, padahal otot-otot tangan mungilnya bahkan sedang berlatih? Apa kau mengharap dia membantu dan mempersingkat durasi mencucimu, padahal dia ingin memeras baju berulang kali dan itu membuatmu menunggu? Ummi, kau sedang membersamai seorang pembelajar atau seorang robot?


Ummi, jika kau memang sedang membersamai pembelajar, lihatlah binar matanya saat bermain air dan memeras baju sekuat tenaga. Tak ada rasa enggan, malas dan menganggap pekerjaan tersebut adalah sebuah beban. Dia lakukan dengan penuh sukacita. Bukankah pola pikir seperti ini yang akan membawanya menjadi seorang pembelajar tangguh? :)

Dari penawarannya setelah mencuci bersamamu, tak terlihatkah potensi bakat emphaty dan arranger kakak? Jika ummi jeli, dalam sebuah peristiwa, terdapat banyak potensi yang dia perlihatkan.

Sudah beberapa hari ini kami memiliki jam riset. Jam dimana kakak dan ummi duduk bersama-sama belajar sebuah hal. Kakak sering menyebutnya sekolah. Dan kakak sangat bergembira saat diberitahu bahwa l kakak sudah sekolah.

Hari ini ummi ada rapat pengurus majlis ta'lim, maka sejak awal hari ummi sounding ke kakak dan adik perihal ini. Bahwa yang rapat nanti bukan hanya ummi, tapi juga kakak dan adik. Yang terlibat dalam kepengurusan bukan hanya ummi, tapi juga kakak dan adik, sepaket. Kakak menaiki tangga menuju tempat rapat dengan bersemangat. Di tempat rapat, ada beberapa anak kecil yang turut serta. Kakak cepat beradaptasi, tak lama sudah berlarian kejar-kejaran dengan anak lain yang sebaya. Tak lama, mereka lelah dan beristirahat. Satu per satu memegang HP dan asyik terlarut dengan mainan di HP. Kakak yang sedang menjalani proses puasa screen time, membuka buku yang dibawa, dan membaca dengan anteng. Tak sedikitpun merajuk minta membuka HP. Potensi bakat discipline dan responsibilitynya pun nampak.

Keesokan harinya, ummi mengajak adik dan kakak ikut dzikir ma'tsurot. Tidak mudah memang, tapi kami mencoba. Kakak sudah kondusif karena sudah terbiasa. Adik pun sedang dibiasakan. Agar terbiasa mendengar dzikir, agar terbiasa menautkan hati dan pikiran pada Allah dan agar terbiasa mengkondisikan diri di majlis ilmu.

Serupa dengan membiasakan adik makan di kursi makan. Bukan hal yang mudah, tapi jangan menyerah. Kursi makan memang membuat adik terkekang, tapi kita bisa membuat suasana yang lebih menyenangkan. Misalnya, dengan mengajak dia makan sendiri (baby led weaning). Memang akan lebih kotor, lebih banyak pekerjaan setelahnya. Tapi proses makan dirasa menyenangkan oleh adik. Tidak menimbulkan efek traumatis. Mungkin jika menyerah, kemudian mengajak adik makan dengan menggendongnya akan mempersingkat durasi makan dan tidak menimbulkan kotor, tapi apakah fitrah belajar anak terakomodir dengan baik? :)

Ajarkan cinta pada anak-anak. Karena yang cinta pasti akan taat. Taat dengan penuh kesadaran.

#fitrahbelajar
#responsibility
#arranger
#emphaty






Friday, 4 August 2017

Belajar Bersama di Jam Riset


Hingga hari ini, ummi masih beradaptasi dan mencari pola paling tepat untuk membersamai kakak dan adik. Membersamai pembelajaran keduanya, tanpa ada salah satu pihak yang merasa menjadi korban cuek. Kakak yang kesehariannya telah terbiasa bermain bersama ummi dalam sebuah aktivitas mini project, sempat protes karena ummi sering berhalangan saat diajak bermain bersama. Ummi berhalangan dengan alasan klise, menyusui adik.

Ummi pun masih mencari pola bagaimana supaya dalam sehari ummi dan kakak masih bisa beraktivitas bersama dalam sebuah mini project dan adik terkondisikan dengan baik. Setelah berulang kali bongkar pasang jadwal, beberapa hari lalu kami menemukan jadwal yang cukup menyenangkan untuk semua pihak. Yaitu jam belajar ummi dan kakak secara intensif yang kami sebut sebagai jam riset, kami lakukan pada jam 09.00 hingga adzan Dhuhur. Beberapa hal perlu kami kondisikan supaya jam riset dapat berjalan dengan optimal, antara lain :
  1. Adik terkondisikan tidur saat jam riset. Artinya, sebelum jam 09.00 adik sudah selesai mandi dan makan. Juga bagaimana supaya sekitar jam 08.30 adik sudah mulai mengantuk. Maka jika ditarik ke belakang, adik idealnya sudah bangun maksimal pada jam 05.30. Dan alhamdulillah beberapa hari terakhir berjalan demikian.
  2. Ummi dan kakak sudah siap belajar di jam 09.00 tersebut. Artinya, kami berdua sudah makan, mandi dan sholat Dhuha. Sarapan cukup menu praktis saja, yang tidak membuang waktu banyak di dapur. Atau, karena kami sekarang tinggal di rumah yangti, maka biasanya menu makan pun ikut yangti. Ummi baru memasak untuk kakak jika kakak meminta. Untuk menu makan adik, biasanya ummi siapkan di siang hari usai Dhuhur.
  3. Penggunaan gawai. Di jam riset ini, gawai hanya ummi gunakan untuk mendokumentasikan mini project kami. Jam online ummi digeser ke jam siang, supaya ummi bisa fokus hadir penuh sadar utuh membersamai proses belajar kakak. Di jam riset ini, bukan cuma kakak yang belajar, ummi juga belajar dan melakukan observasi terstruktur yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Jam riset ini berhasil kami lakukan beberapa hari ke belakang. Dan setelah ummi amati, ini memberikan pengaruh positif pada kakak, berupa mood yang baik. Beberapa hari belakangan, jika kakak lupa membereskan mainan atau menaruh barang belum di tempatnya, lalu ummi ingatkan, kakak merespon dengan sangat baik dan lembut. Jika biasanya dia merespon dengan menolak atau meminta dilakukan bersama ummi, kali ini dia menjawab, “iya mi…” dan bergegas membereskan. Setelah beres, dia akan memanggil ummi atau menemui ummi untuk melaporkan hasil kerjanya. Daaaaaan….sangat rapi untuk anak seusianya. Dari proses ini, ummi mencatat potensi bakat responsibility di diri kakak.

Di saat jam riset, meski tidak melakukan mini project, kakak juga belajar banyak hal. Pernah suatu hari, kakak sedang bermain mandiri, kebetulan adik terbangun di sela jam riset kami sehingga ummi harus menyusui adik. Ummi berikan bahan-bahan pada kakak untuk membuat beras warna dan minta izin menyusui adik. Kakak pun anteng bermain beras warna. Belajar menuang, menakar tetesan pewarna yang pas, mencampurkannya hingga merata, juga menambahkan beras putih saat warna masih terlalu pekat. Lalu kakak meninggalkan beras warna itu selama beberapa saat. Hingga tiba-tiba terdengar teriakan, “Ummiiiiii…beras warna kakak dirubung semuuuuut…” kakak menemui ummi dengan wajah kebingungan. Aha! Ini momen untuk mengajak kakak menganalisa dan memecahkan masalah. Ummi meminta kakak menceritakan kronologis kejadian. Dengan kakak bercerita, ummi bisa memahami kronologis kejadian, melihat pola kakak bercerita apakah cukup runtut atau tidak. Keruntutan penyampaian kakak ini menganalogikan seberapa runtut pula proses berpikir kakak. Dari apa yang kakak sampaikan, ummi melihat ada potensi bakat discipline.

Ternyata semut datang saat kakak meninggalkan beras warna tersebut beberapa saat. Oke, ummi pun mengajak kakak menggali ide, kira-kira bagaimana cara mengusir semut itu ya? Bagaimana kalau coba kita jemur di teras depan rumah? Siapa tahu hangatnya sinar matahari membuat semut beranjak dari beras? Wajah kakak yang sudah menahan tangis berubah menjadi ceria, dia bergegas menjemur beras warna di teras. Lalu terdengar laporan, “Ummi, beras warnanya kakak jemur di teras ujung, biar terkena sinar matahari semuanya…” Sepuluh menit berikutnya kembali terdengar, “Ummiiiiiii…..semutnya tinggal sedikit…tinggal di pinggir-pinggirnya aja…” Dan sepuluh menit berikutnya kakak kembali masuk ke rumah dengan keberhasilan menyelesaikan misi mengusir semut. Dari proses ini kakak belajar menjadi problem solver. Mengubah masalah jadi tantangan.

Tak setiap jam riset adik terlelap tidur. Pernah adik belum tidur saat jam 09.00 datang menjelang. Kakak sudah tidak sabar ber-mini project, tapi karena adik belum tidur, kakak belajar bersabar dan memilih membaca buku untuk mengusir ketidaksabaran, hehe… Pernah juga di sela-sela kami belajar, adik menangis terbangun dan enggan tidur kembali. Maka, jadilah jam riset kami lakukan bersama adik dengan tema dan media belajar yang sama, namun objek yang berbeda. Seperti kemarin. Kakak asyik mencetak beras warna dengan puzzle huruf. Saat adik bangun, kakak beralih membaca buku dengan ummi, sedangkan adik bermain puzzle huruf yang usai dimainkan kakak. Sesekali kakak mengajarkan adik cara memainkannya. Terlihat potensi bakat harmony dan emphaty dari kakak ke adik.

Sedangkan adik, di setiap permainan yang disediakan , adik senang menciptakan bunyi-bunyian. Entah dengan memukulkan benda ke lantai atau menepukkan tangan ke meja. Jika menemukan benda berbentuk silinder, adik suka mengambil dan menggulingkkannya ke lantai, mengamati pergerakannya. Menstimulasi perkembangan aspek kognitifnya. Tempat favorit adik adalah tempat dimana dia bisa berpegangan karena adik sedang suka belajar berdiri sendiri. Benda-benda kecilpun tak luput dari perhatiannya. Dia amati kemudian jumput menggunakan jemari kecilnya. Tak jarang dia masukkan ke mulut. Proses ini menunjukkan gerakan tubuh yang terkoordinasi.

Adik mengetahui siapa namanya dan akan menoleh jika dipanggil namanya. Namun, ada respon berbeda yang dia tunjukkan saat dipanggil oleh kakak. Saat ummi dan yangti memanggil nama adik, dia cukup menoleh lalu tersenyum. Sedangkan jika dipanggil oleh kakak, dia membalas dengan teriakan, “Haaaa…” dan bergerak menghampiri kakak. Baginya mungkin panggilan kakak adalah ajakan main untuknya. Tak jarang ummi menemukan mereka berdua sedang tertawa bersama. Kakak melucu, dan adik tertawa terbahak-bahak. Naluri saudara kandung mengiringi komunikasi mereka. Terlihat perkembangan aspek sosial emosional dalam proses tersebut. Sebuah peristiwa manis yang mengukir senyum ummi hari itu.

#analyze
#problemsolving
#emphaty
#harmony
#discipline
#responsibility
#kognitif
#sosialemosional
#koordinasi

Tuesday, 1 August 2017

Mengenalkan Adab Makan pada Adik


Saat adik menjelang usia enam bulan, barang yang paling ummi prioritaskan untuk dibeli adalah booster seat atau kursi makan. Karena kursi makan yang berukuran tinggi harganya terlalu mahal, ditambah kebiasaan keluarga kami adalah makan lesehan, maka booster seat menjadi pilihan tepat untuk adik saat ini. Ini berkaca dari pengalaman kami dalam membersamai si sulung. Kami yang tidak membiasakan kakak untuk duduk di kursi makan saat jam makan, ternyata mengalami tantangan pembiasaan ini hingga saat ini. Belajar dari pengalaman, membeli kursi makan sejak awal pengenalan MPASI dan saat adik sudah bisa duduk adalah hal yang menjadi prioritas.

Terlebih, makan dengan posisi duduk adalah termasuk dalam adab makan umat muslim. Dari Anas ra dari Nabi Muhammad SAW, “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri.” Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa hal itu lebih buruk.” (HR Muslim). Tak apa jika adik tak tahan duduk hingga makan habis, tak apa jika dia bosan terkungkung di kursi. Namun dengan membiasakan, akan terbentuk sebuah pola pemahaman bahwa setiap makan kondisinya adalah duduk. Pola pemahaman ini yang akan tertanam di alam bawah sadar hingga menjadi sebuah kesadaran bersikap.

Pada bayi, otak kanannya sedang mengalami perkembangan pesat. Maka gerakan-gerakan refleks yang banyak dilakukan bayi adalah dengan tangan kirinya. Seperti menjumput benda atau menunjuk sesuatu. Untuk makan, tangan yang digunakan haruslah tangan kanan. Maka, sesi makan adik juga menjadi sesi pembelajaran adab satu ini. “Apabila seseorang dari kalian makan maka hendaknya ia makan dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum hendaknya ia minum dengan tangan kanannya, karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, dan ia minum dengan tangan kirinya.” (HR Muslim no.3764). Untuk menstimulasi hal ini, ummi menyiapkan makanan di dekat tangan kanan adik. Sehingga secara otomatis, dia akan menggerakkan tangan yang terdekat untuk mengambilnya. “Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu. “(HR Bukhari no.4957 dan Muslim no.3767)

Apakah adik tahan lama berdiam di kursi saat makan?
Tentu tidak. Di menit-menit awal biasanya dia asyik mengeksplorasi makanannya. Setelah eksplorasi dia rasa cukup, adik mulai ingin lepas dari kursi. Biasanya ummi akan memberikan gambar atau suara yang menarik perhatian adik. Jika dia sudah bosan akan hal itu dan makanan belum selesai, maka meja dilepas dan adik pun berdiri dan merangkak ke arah yang dia inginkan. Perlahan, semoga semakin terbiasa.

#adabmakan
#motorikhalus
#motorikkasar
#sensori





Menghitung Kuantitas dengan Balok Susun


Yeay! Ummi dan kakak masih melanjutkan mengerjakan tantangan 10 hari di kelas bunda sayang materi #6. Ummi dan abi menyadari bahwa banyak orang dewasa yang menganggap matematika sebagai momok. Kami beruntung karena kami menyukai matematika, meskipun juga tidak tergolong mahir. Namun kami merasakan sekali bahwa berpikir secara logis, runut dan sistematis sangat memudahkan kami dalam beraktivitas, menyamakan frekuensi dan berkomunikasi produktif. Maka saat mendapat tantangan mengenai matematika ini, yang menjadi titik tekan kami adalah bagaimana memfasilitasi anak supaya menyukai matematika.

Dunia anak adalah dunia bermain, namun mereka tak pernah bermain-main (sekedarnya) dalam bermain. Maka, dalam menjalankan tantangan ini kami memperbanyak stimulasi matematika logis dalam bentuk permainan. Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB, ini adalah jam riset di pendidikan rumah keluarga kami. Sebelumnya, kami mengondisikan supaya ummi dan kakak sudah siap belajar, adik juga sudah tidur pagi. Sehingga kami berdua bisa fokus bermain dan belajar bersama, berdua saja.

Hari ini kami belajar mengenai kuantitas. Kakak sudah bisa menghitung bilangan 1 sampai 10, namun belum mengenai simbolnya. Maka kami membuat flashcard angka dari kardus. Kardus bekas kami potong kecil-kecil. Disini kakak belajar menggunakan penggaris dan menarik sebuah garis lurus. Ummi tuliskan angka di potongan kardus tersebut. Kemudian di sampingnya, ummi bubuhkan titik-titik sebanyak angka yang tertulis.

Kartu bertuliskan angka dan titik-titik perlahan kakak cermati. Kami hitung satu persatu jumlah titiknya. Lalu ummi kenalkan angka yang tertera di sebelah titik-titik. Kakak mengenal angka satu, tujuh dan empat sebagai sekelompok garis lurus. Angka 2  dan 5 seringkali terbalik karena serupa. Begitupun angka 9 dan 6, juga 3 dan 8.  Aha! Ummi sepertinya perlu membuat analogi benda yang menyerupai bentuk masing-masing angka untuk memudahkan kakak. Kakak cukup fokus dalam mengamati. Jika suatu menarik bagi kakak, maka kakak bisa abai pada kondisi sekelilingnya hingga menemukan apa yang kakak cari.

Tiba-tiba terdengar suara adik. Adik sudah bangun rupanya. Ini adalah sebuah tantangan bagi ummi untuk memberikan contoh pada kakak, bagaimana mengubah kondisi yang awalnya dirasa sebagai masalah berubah menjadi tantangan. Membangkitkan mental kakak supaya berperan sebagai pemberi solusi. Ummi menggendong adik dan melihat balok susun.

Aha!
Bagaimana kalau adik diajak untuk bermain balok susun?
Bagaimana jika kakak dan adik bermain bersama dengan tema berbeda?
Mengapa tidak menjadikan balok susun sebagai media belajar menghitung kuantitas?

Balok susun pun dibawa ke tempat kami belajar. Kebetulan pagi ini kami belajar di teras rumah yangti. Dan adik juga sedang senang bereksplorasi di luar rumah. Balok susun dibuka, adik mengambilnya secara acak. Sedangkan ummi mengambil balok-balok yang berbentuk persegi. Ummi susun kartu angka tersebut memanjang dari atas ke bawah. Di sampingnya ummi susun balok-balok persegi sejumlah angka yang tertulis. Ummi ajak kakak menghitung jumlah titik di kartu dan menyamakannya dengan jumlah balok persegi yang sedang disusun. Menghitung kuantitas pun terasa riang.

Tak terasa pujian terdengar dari masjid. Sebagai tanda adzan Dhuhur akan segera berkumandang. Kami membereskan mainan dan bersiap mengambil wudhu. Siap belajar matematika lagi di esok hari.

#portofolioRaysa3y3m
#focus
#discipline
#harmony

problemsolver