Thursday, 28 September 2017

Tak Semuanya Langsung Dihabiskan

Camilan berupa kue kering adalah salah satu hal yang disukai anak-anak. Jika ada dalam jumlah yang banyak, kakak akan tergoda untuk mengambil lagi dan  lagi. Sedangkan ummi membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk stok di rumah selama beberapa hari. Dan lagi, camilan jika tidak dibatasi tentu membuat perut menjadi kenyang. Hal ini dapat mengganggu selera dan pola makan utama anak.

Memori masa kecil ummi menyeruak. Pertama kali ummi mencicipi rasa jajanan sekolah, adalah di bangku SMP. Ketika TK dan SD, bekal selalu disiapkan dari rumah. Perbekalan itu pun dibeli dengan sistem stok. Pernah ada rasa kurang, namun ibu mengajarkan untuk bersabar. Tahan keinginan dan menanti jatah esok hari. Semua ada porsinya.


 Pagi tadi kakak menemani ummi berbelanja kebutuhan makanan. Salah satu yang perlu kami beli adalah camilan kakak. Camilan yang dibeli ada beberapa macam. Namun ummi sengaja membeli camilan dengan kemasan kecil-kecil, bukan kemasan besar. Sehari satu kemasan. Lainnya disimpan untuk hari lain atau dibagi dengan teman bermain. Ummi ingin menularkan pada kakak, kebiasaan dan nilai yang dulu ibu ajarkan. Ada rasa kurang nyaman, sedih bahkan ingin menangis. Namun berlebihan dan memperturutkan hawa nafsu adalah hal yang tidak tepat. Mari kita latih diri untuk menaklukkannya. Karena semua ada porsinya J

Wednesday, 27 September 2017

Jangan Beli Lagi, Pinjam Saja Dulu

Ini adalah buah kontemplasi ummi hari ini. Tantangan cerdas finansial untuk diri sendiri. Ada banyak buku bertebaran dan seolah melambai-lambai menawarkan diri untuk dibeli. Baiklah, mari merenung sejenak untuk menentukan sikap.

Ummi, masih ada beberapa buku baru yang belum ummi baca. Bagaimana kalau ummi habiskan dulu buku yang ada, baru kemudian membeli boleh membeli buku baru?

Ummi, apakah ummi sudah mengamalkan ilmu yang ummi dapatkan? Bagaimana jika fokus ummi ke hal tersebut dulu?

Ummi, apakah ummi benar-benar butuh buku tersebut? Apa urgensi buku itu untuk dibeli saat ini?

Usaha ummi menjawab tiga pertanyaan diatas, alhamdulillah bisa membuat diri mengurungkan niat untuk membeli buku baru. Terlebih saat ummi menanyakan isi sebuah buku pada teman yang sudah memilikinya, dia menjawab “Pinjam aku saja dulu, nanti baru dipertimbangkan perlu punya atau tidak.”

Sebenarnya meminjam buku ini adalah langkah yang sudah kami lakukan namun baru untuk buku anak-anak. Kami meminjam buku anak dari sebuah taman baca. Untuk buku-buku kebutuhan ummi, masih jarang taman baca yang menyediakan.

Dan untuk membeli buku, selain alokasi dana bulanan, kecepatan baca juga menjadi bahan pertimbangan. Jumlah buku yang dibeli mengacu pada jumlah buku yang berhasil dituntaskan dalam bulan sebelumnya.

Ah, tawaran teman menjadi solusi konkrit bagi ummi saat ini. Ummi pun menyambutnya gembira.




Tuesday, 26 September 2017

Monday, 25 September 2017

Sunday, 24 September 2017

Saturday, 23 September 2017

Friday, 22 September 2017

Sabar Sejenak, Ada Makanan di Rumah

Hari ini hari Jum’at. Seperti biasa, yangkung menitipkan pada ummi laporan keuangan masjid yang nantinya perlu disampaikan saat sholat Jum’at. Ummi perlu menyerahkannya pada petugas takmir masjid. Di rumah hanya ada ummi, kakak dan adik. Maka usai aktivitas pagi, ummi mengajak kakak dan adik ke rumah pak Hardi untuk menyerahkan titipan yangkung.

Rumah pak Hardi tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa blok dari tempat tinggal kami. Sepulang dari rumah pak Hardi, matahari sudah mulai terik. Kami melewati beberapa warung yang menjual makanan. Tiba-tiba,
Kakak : Ummiiii..kakak lapar Mi…
Ummi : Kakak lapar? Kan kakak baru saja makan kue tadi di rumah.
Kakak : Iya, tapi kakak lapar lagi sekarang, Mi…

Hmm…kakak paham, bahwa kita keluar rumah adalah untuk pergi ke rumah pak Hardi. Tidak ada tujuan berikutnya termasuk mampir ke warung dan membeli makanan. Maka, kalau kakak langsung meminta untuk beli kue, dia paham kalau hal tersebut akan ummi jawab dengan, “Tadi rencananya kita pergi ini mau kemana?  Ngga sesuai dengan rencana, kan?”  Dan kalau dia meminta dengan memaksa, dia paham ummi tidak akan bergeming. Apa ini yang disebut strategi anak? :D

Ummi : Oh gitu ya. Yuk, segera pulang, di rumah ada bubur kacang ijo yang siap disantap.
Kakak : Tapi kakak ngga kuat menahan lapar, Mi…
Ah, kakak….di saat yang sama ummi juga ngga kuat menahan ketawa. Hihi

Sebenarnya ummi tidak membawa uang saat itu, Tapi jika alasan itu ummi keluarkan, kakak akan langsung terdiam karena itu adalah sebuah alasan yang tidak bisa diutak-utik lagi. Namun ummi menahan diri untuk tidak beralasan demikian. Ummi mengamati sejauh apa kakak akan menahan keinginannya itu.
Ummi : Ya udah, kalau begitu, kita capet-cepat pulang ke rumah. Kita lomba lari yuk, siapa dulu yang sampai rumah dan makan bubur kacang ijo. Mau?
Kakak :  Mauuuu….
Dan kami pun berlari kecil menyusuri masjid kompleks untuk segera sampai di rumah.

Membeli makanan di warung adalah sebuah keinginan. Sedangkan kebutuhan kita adalah makan untuk menghilangkan rasa lapar. Mendidik diri untuk cerdas finansial adalah bermula dari kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan.



Thursday, 21 September 2017

Bentuk dan Nominal Uang Rupiah

“Kak, beli tempe kak…”

Terdengar panggilan yangti pada Raysa, meminta tolong untuk dipanggilkan penjual tempe yang sedang lewat di depan rumah.

“Tolong kakak yang beli ya, 1 saja...uangnya ambil di tempat receh” Lanjut yangti dari dapur.  
Kakak berlari menuju teras rumah, memanggil penjual tempe.  Setelah penjual tempe berhenti, kakak mencari uang di tempat receh. Namun dia bingung, uang mana yang harus diserahkan dan berapa jumlahnya. Kakak memanggil ummi, mencari bala bantuan, hehe.


AHA! Sepertinya ummi perlu mengajak kakak mengenal aneka bentuk dan nominal uang rupiah. Bukan lewat angka-angka yang tertera, namun dari gambar yang ada di uang tersebut.  

Wednesday, 20 September 2017

Tuesday, 19 September 2017

Monday, 18 September 2017

Sunday, 17 September 2017

Saturday, 16 September 2017

Rezeki Berwujud Harta



Di hari ini ummi dan kakak belajar mengenai rezeki yang berwujud harta. Harta tak melulu soal uang. Barang yang kita manfaatkan, kita kenakan dan kita miliki pun adalah harta. Yang kelak tak luput dari pertanggungjawaban kita pada Allah.

Hari itu ummi dan kakak mensortir pakaian adik. Pakaian bayi baru lahir, sarung tangan dan kaki, popok, kain lebar untuk bedong sudah tak digunakan adik di usianya kini. Kami menyimpannya dalam satu kardus dan melabelinya untuk memudahkan pencarian. Kakak bernostalgia dengan pakaian-pakaiannya. Dia menemukan sebuah sepatu kecil, kesayangannya dulu. Kakak ambil dan kakak pakai, tiba-tiba dia berucap, “Ummi…sepatunya masih cukup sama kakak. Kakak pakai ya mi.”

Nak, ummi paham kakak mengucapkannya dengan menahan sakit. Karena sepatu itu memang sudah kekecilan di kaki kakak. Jika pun kaki kakak masih masuk ke sepatu tersebut, tentu ada bagian kaki yang tertekan dan dipaksa bertahan. Tapi karena cinta dan berat berpisah, kakak bertahan.


Bagi ummi, ini adalah AHA moment untuk menjelaskan mengenai harta. Suatu barang yang sudah tidak bisa kita kenakan, bisa jadi saatnya beralih kepemilikan. Dengan melihat orang lain memakainya dengan gembira, bukankah ada rasa senang yang muncul dari hati? Barang yang sudah jarang kita manfaatkan dalam keseharian, saat berpindah ke tangan orang lain ternyata menjadi sangat berharga. Bukankah artinya kebermanfaatannya semakin meluas?

Friday, 15 September 2017

Rezeki itu Apa?



Menjelaskan arti rezeki pada seorang anak berusia 3 tahun adalah project ummi di tantangan hari kedua ini.

Saat kakak mendapatkan sesuatu, baik itu beli atau pemberian orang lain, maka kami menyampaikan padanya, “Itu rezeki dari Allah, untuk kakak...” yang kemudian kami lanjutkan dengan menyampaikan pencapaian konkrit yang berhasil dia lakukan, “….karena kakak bersedia menemani adik bermain saat ummi sedang menjemur pakaian” dan lainnya.

Titik tekan penyampaian kami adalah Allah Maha Pemberi Rezeki. Dia akan memberikan rezeki pada hambaNya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah sangat cinta pada hambaNya, maka kita cinta ngga sama Allah? Kalau cinta, kita wujudkan dengan taat pada perintahNya dan tidak melanggar laranganNya.

Apapun yang diberikan oleh orang lain, atau oleh kami, kami sampaikan padanya bahwa itu adalah rezeki dari Allah, melalui ummi, abi, yangti, yangkung, om, bapak pemilik toko dan seterusnya. Allah yang menggerakkan hati orang-orang tersebut untuk memberikan sesuatu tersebut pada kakak. Allah Maha Baik ya kak?

Beberapa waktu yang lalu, saat ummi berkomunikasi dengan abi dan menceritakan perkembangan kakak dan adik termasuk mendapati kakak tidur dengan menggenggam tangan adik, abi menyampaikan bahwa rezeki besar yang Allah titipkan saat ini ke abi dan ummi adalah mereka, anak-anak yang sholeh dan sholihah. Bentuk syukur kami adalah dengan mendidik mereka sesuai kehendak PenciptaNya.

Ummi pun berdialog tentang ini dengan kakak. Tentang rezeki adalah titipan Allah, tentang pengingat abi pada ummi bahwa anak-anak yang sholih sholihah adalah rezeki besar untuk kami. Kakak tersenyum. Melukiskan perasaan senang sekaligus rindu dengan abi. Ah, iya, berjauhan dengan abi untuk sementara waktu juga merupakan rezeki yang Allah gariskan pada kami saat ini. Melalui rezeki kondisi ini, kami berupaya berkomunikasi dengan lebih produktif. Sinyal internet yang tak selalu bagus membawa kami untuk mencari alternatif untuk melepas rindu. Abi dan kakak berkirim voice notes via WhatsApp dan Telegram.

Nak, tugas kita tak cukup hanya menerima rezeki, tapi bagaimana agar rezeki tersebut menggiring kita untuk semakin dekat dan taat padaNya, sebagai bentuk syukur kita atas rezeki titipanNya.





Thursday, 14 September 2017

Bukan Beli Lagi, Tapi Ayo Kita Coba Perbaiki


Tantangan hari pertama ini, ummi dan kakak belajar mengenai memperbaiki barang sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan.

“Lhooo…mainannya lepas, mi… Gimana dong? Nanti beli lagi ya mi?”
“Ummiii….buku kakak disobek adik… Nanti beli lagi ya mi?”

Belakangan ini ucapan tersebut terdengar akrab di telinga. Jika ada barang yang rusak, tidak utuh seperti semula, kakak minta untuk dibelikan kembali. Wajar, bahkan ummi pun saat mengetahui ada barang milik ummi yang tidak utuh, ingin barang tersebut utuh seperti semula.

Kali ini yang rusak adalah buku. Saat kakak sedang membaca buku, adik datang dan memegang buku dengan kuat. Kakak mempertahankan buku yang sedang dipegangnya sedangkan adik bersikukuh memegang salah satu halamannya.

“Brrrttttt….” Satu halaman tersobek. Lalu terdengar ekspresi kecewa dari kakak.
“Yaaaaaaah..bukunya sobek miiiiiii…beli lagi ya mi?”

Waaaah…AHA moment ini. Ummi mengajak kakak berdialog untuk meluruskan pemahaman kakak. Bahwa tidak semua barang yang rusak, bisa segera kita beli penggantinya. Barang yang rusak bisa kita lihat dahulu, memungkinkan untuk diperbaiki atau tidak? Jika ya, mengapa tidak kita coba perbaiki? Bagaimana kalau kita selotip saja buku ini? Yuuuuk…

Ajakan ummi disambut dengan antusias. Kakak mencari selotip dan gunting. Kami perbaiki buku 
tersebut bersama-sama. Dengan perlahan dan hati-hati, supaya bekas sobekan samar terlihat. Sembari memperbaiki buku, kami pun berdiskusi. Kebetulan yang sobek adalah buku yang kami pinjam dari sebuah taman baca. Karena milik orang lain, ummi perlu menanyakan dulu bagaimana prosedur pertanggungjawabannya. Apakah perlu kami ganti dengan buku baru, atau cukup dengan kami perbaiki?

Pengelola taman baca menjawab, cukup dengan memperbaiki saja. Karena pengunjung dan peminjam buku taman baca mayoritas anak-anak, maka buku koleksi taman baca sering sobek dan cukup diperbaiki saja. Ummi pun menyampaikan hal ini ke kakak. Kakak dengan sigap menyiapkan selotip yang akan ditempel. Konfirmasi ke pihak taman baca ini penting, karena terkait dengan ridho orang lain atas kita. Apakah pihak yang bersangkutan memaafkan dan ridho atas kesalahan kita? Sebagai orang yang bersalah, kita harus meminta maaf dan bersedia untuk bertanggungjawab. Sikap ksatria ini penting untuk diteladankan pada anak. Karena rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Dari kejadian ini, ummi dan kakak belajar banyak hal. Dengan memperbaiki barang yang rusak, kita bisa belajar apa saja ya?
  • Berhemat
  • Bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan (jika rusaknya barang disebabkan oleh diri kita)         
  • Bersyukur atas rezeki dari Allah, dengan cara menjaga barang tersebut supaya tetap berfungsi meski kondisinya sudah tidak sempurna
Rezeki Allah itu luas Nak… bersikap ksatria dan berinteraksi dengan orang-orang yang pemaaf juga merupakan rezeki dari Allah, yang tak berbentuk materi. 

Friday, 8 September 2017

Mengambil Jeda Sejenak, Meluruskan Niat dan Menguatkan Tekad

Aliran Rasa Materi #7 Semua Anak adalah Bintang
Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

Semua anak adalah bintang. Allah telah menciptakan manusia dengan peran peradabannya masing-masing. Spesifik, tidak ada yang sama. Untuk mempertemukan mereka dengan peran peradabannya tersebut, dibutuhkan fasilitator yang siap membersamai proses panjang itu. Amanah besar itu ada di pundak kita, para orangtua. Berbekal kepercayaan pada Allah, kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, orangtua dapat menjelma menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anaknya.

Seorang fasilitator bukanlah yang tahu segala rupa dan bisa menjalankan semua peran. Fasilitator akan bekerjasama dengan para ahli, bersinergi dengan para guru untuk mengasah potensi anak, menguatkan kecerdasannya hingga bertemu dengan peran peradabannya. Terkait hal tersebut, penting bagi orangtua untuk memiliki discovering ability dan child sense.

Discovering ability  merupakan kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak. Memang tidak mudah, namun sejatinya orangtua sudah dibekali fitrah keayahbundaan oleh Allah. Maka untuk menunjang fitrah dan meningkatkan kemampuan tersebut, orangtua perlu membekali diri dengan pengetahuan, juga menyediakan waktu untuk membersamai terlebih pada masa tujuh tahun pertama anak.

Selama masa menjalani tantangan 10 hari, ummi fokuskan perhatian ummi terhadap respon yang diberikan kakak dan adik saat mempelajari sesuatu. Saat kami menjalankan sebuah family project, apakah kakak bahagia menjalankannya? Apakah adik terlihat bosan? Atau apakah mereka terlihat merindukan Abi yang sedang belaajr nun jauh disana?

Ummi juga mencoba kaitkan dengan empat ranah dalam discovering ability. Semisal saat kami membuka pojok baca di bazar murah, ummi amati respon kakak pada ranah interpersonal. Ternyata kakak berbahagia bukunya dibaca bersama oleh anak-anak yang mengunjungi stand kami. Atau saat mengikuti acara gema takbir dan sholawat, kami berdialog memasuki ranah spiritual, untuk apa bersholawat, mengapa bertakbir, dan seterusnya.

Proses belajar kami jalankan dengan bahagia, tapi ternyata ummi tak cukup waktu untuk menuliskannya dalam sebuah setoran tantangan. Hingga masa tantangan pun terlewatkan tanpa bisa ummi setorkan hasil pembelajaran kami. Ada rasa kecewa menyelimuti, namun tak lama. Tujuan utama mengikuti kelas bunda sayang adalah agar kami semakin bahagia belajar bersama. Jika memang tak semua tahapan bisa kami lalui, setidaknya tujuan utama kami tercapai. Dengan aktivitas membersamai kakak yang masih balita dan adik yang masih bayi, juga kondisi saat ini tinggal di rumah yangti yangkung dan berjauhan dengan abi, memang mungkin belum memungkinkan bagi ummi untuk menjalankan keseluruhan proses. Jika ummi paksakan, ada yang tak imbang dan berat sebelah. Hal tersebut tentu tak baik.


Maka, berdamai dengan ketidaksempurnaan. Jalankan proses yang ada dengan sebaik mungkin, hadir penuh sadar utuh. Ummi sedang menata ulang kapasitas diri. Mencoba mengejar ketertinggalan dengan mencicil tulisan yang belum disetorkan. Tak apa sudah melebihi batas waktu pengumpulan. Tekad ummi saat ini adalah menyelesaikan apa yang sudah ummi mulai, dan mengikat makna dalam setiap proses pembelajaran kami. Bismillah, 15 tulisan sedang ummi tuntaskan. Mohon doa dari pembaca J