Sunday, 21 February 2016

2 Pelajaran yang Allah Sampaikan melalui Sikap Anak

“Ayo Mi, masukkan mainannya ke tas. Bukunya Ummi juga.”
“Ayo dibawa tasnya, HPnya juga, semua dibawa Mi.”
“Ayo pulang Mi, dede Ica mau pakai sepatu.”
Itulah beberapa permintaan yang terdengar jika ia merasa tidak nyaman di tempat indoor yang baru dimasukinya. Apalagi jika tidak ada anak kecil yang bisa diajak bermain bersama. Ia merengek sembari menarik-narik jilbab, memintaku mengabulkan keinginannya. Tas, gendongan, jilbabnya dan seluruh barang bawaan kami, ia ambil hanya dengan kedua tangannya. Kuatkah? Tentu tidak. Ia menyeret barang-barang itu sembari berjalan sempoyongan. Menyerahkan gendongan dan tas padaku, memintaku segera memasang gendongan dan segera menggendongnya. Menggendong si anak kecil yang sibuk membawa barang-barang miliknya. Buku dan jilbab dipegang dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk menjumput mainan. Jika kutawarkan padanya untuk memasukkan barang-barang tersebut ke dalam tas, ia pasti akan langsung menolak. Daripada memaksa, kubiarkan saja ia membawa sampai capek dan bosan.
Awalnya diriku sempat geli dan kesal melihat tingkahnya.

Mengapa ia menyusahkan diri sendiri dengan membawa semua barang-barangnya?”
“Mengapa ia bersikukuh membawa semua barang miliknya, meski tangan tak lagi sanggup menampungnya?”
“Mengapa ia menolak untuk meninggalkan salah satu diantaranya? Toh barang tersebut masih dalam jarak pandangnya.”

Beberapa pertanyaan bermunculan di pikiranku. Hal apa yang sekiranya melatarbelakangi sikap Raysa?
Pertanyaan itu baru terjawab beberapa waktu kemudian. Jawaban yang tiba-tiba kudapatkan saat aku sedang menjalankan pekerjaan domestik. Jawaban yang membuatku senyum-senyum sendiri saat menyadarinya. Ya, Raysa bersikap demikian karena,

AKU 

Bagaimana bisa?



Ternyata ia sudah bisa menangkap dan mengadaptasi pola sikap yang kumiliki. Ya, diri ini memang mudah hilang fokus. Keuletanku untuk menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, tak sebesar semangatku saat menerima tantangan. Berkeinginan mengambil semua kesempatan, padahal diri tak sanggup lagi menambah beban. Bukankah ini sama dengan sikap yang ditunjukkan oleh Raysa terhadap barang-barangnya?

Melalui anak, Allah memberikan peringatan untuk lebih fokus terhadap target yang sudah dicanangkan sebelumnya. Tidak tengok kanan-kiri dulu ataupun menambah target baru. Menguatkan diri untuk berkata, "Ini memang menarik, tapi kami belum tertarik."
Menjalankan sesuatu hingga tuntas dan dapat menjadikannya sebagai sebuah kebiasaan baik. Bukankah kebiasaanlah yang akan membentuk karakter diri?


Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.HR. Muslim.


Melalui sikap anak, tersadar pembelajaran, bahwa Allah memerintahkan untuk fokus dan istiqomah dalam kebenaran.

Surat Hud (11) Ayat 112


#ODOPfor99days
#day36

Tuesday, 2 February 2016

Ulasan Praktikum Materi Komunikasi Produktif di Januari 2016

Hari terakhir menulis di bulan Januari 2016! Ini artinya, waktu belajar materi komunikasi produktif nyaris berakhir. Siap-siap beranjak ke materi selanjutnya.
Sebelum ganti materi, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas ilmu komunikasi produktif yang sudah saya dapatkan dan saya usahakan untuk mengaplikasikannya sedikit demi sedikit, maka saya mencoba membuat ringkasan proses belajar komunikasi produktif yang keluarga kami jalankan. Berikut beberapa poin yang kami jalankan dalam rangka menerapkan komunikasi produktif dalam keluarga :
a.    Kepercayaan diri
Sebelum dapat menerapkan komunikasi produktif saat berinteraksi dengan orang lain, produktiflah dahulu dalam berkomunikasi dengan diri sendiri. Kata-kata ini yang dalam pikiran saya di awal proses belajar lalu. Awalnya, saya tipikal orang yang perlu dukungan eksternal untuk menguatkan keyakinan diri. Padahal, FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST. Ya, perlahan saya belajar untuk memupuk kepercayaan diri, yakin bahwa Allah akan menuntun dan menunjukkan jalan untuk hambaNya.

b.   Keterbukaan diri pada pasangan
Masih tentang komunikasi produktif pada diri sendiri. Seperti wanita kebanyakan, saya seringkali menahan diri untuk mengungkapkan maksud hati pada suami. Maju-mundur-maju-mundur, akhirnya sepatah katapun tak ada yang keluar, meski sebenarnya banyak yang ingin disampaikan. Dengan belajar materi ini, saya seperti mendapat tantangan untuk mematahkan kebiasaan ini. Terlebih, ada satu kejadian yang Allah takdirkan sebagai pembelajaran bagi saya untuk membiasakan sikap terbuka ini.
c.    Eksplorasi kekuatan, tak risaukan kelemahan
Mengeksplorasi kekuatan saya dan pasangan, kami gunakan untuk membagi tugas harian di rumah. Ranah pekerjaan kami bagi sesuai dengan kekuatan/kesukaan masing-masing, sisanya kami solusikan bersama. Semisal pagi hari, saya bertugas di dapur sedangkan suami dan anak bekerja sama membereskan rumah. Menyetrika, hal yang berat untuk saya lakukan, kami selesaikan dengan menghilangkannya, cuci-jemur-lipat. :D
d.   Meyakinkan anak bahwa dia BISA
Anak (A)              : Miiii….susaaaaah!
Saya (S)                                : Bisa. Ayo dicoba dulu. (Jalan mendekat pada anak)
A                             : Susah, Miiiiii…
S                              : Bisa, ayo baca basmalah dulu bareng-bareng.
A & S                     : Bismillahhirrohmanirrohim… (lalu mengusahakan bersama)
S                              : Alhamdulillah, bisa kan?!
Beberapa hari kemudian,
A                             : Mi…susaaaah! Bismillahhirrohmanirrohim… Susah, Mi…
S                              : Bilang baik-baik..
A                             : Miiiii…to-long bu-ka-in to-ples-nya…

#ODOPfor99days
#day20
#JurnalKomunikasiProduktif
#KurikulumBundaSayang
#InstitutIbuProfesional