Sunday, 31 January 2021

Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora, Ambil Posisi Apa?

 


Setelah pekan sebelumnya Bu Septi hadir menuntun kami seputar tema mengambil peran di tengah tantangan diaspora, saya kembali menilik peta belajar diri. Untuk catatan belajar di acara tersebut sudah saya tulis di sini. Saya, yang saat ini berada di tahun ketujuh belajar di Ibu Profesional, sedang bergerak dan berkontribusi melalui peran apa saat ini.

Memori perjalanan saya putar ulang. Pertemuan pertama di Januari 2014 dengan bu Septi Peni Wulandani, menghadirkan azzam dalam diri saya bahwasanya saya ingin belajar menjadi seorang Ibu Profesional. Seorang ibu yang senantiasa meningkatkan kualitas diri baik sebagai hamba Allah, perempuan, istri, dan ibu. Azzam itu memantapkan hati saya untuk bergabung di komunitas Ibu Profesional dan belajar bertumbuh di dalamnya dengan mengambi beragam peran hingga saat ini.

Sedikit flaschback,

Tahun 2014-2015 saya mengenal Ibu Profesional dalam sebuah Kuliah Umum. Mendaftarkan diri di Ibu Profesional Bandung dan mengambil peran sebagai tim admin WAG.

Tahun 2015-2017 saya mengasah kemampuan kesekretariatan dengan menjadi sekretaris IP Bandung.

Tahun 2016-2018 saya berada di Jombang dimana regional terdekat adalah regional Jatim Selatan. Menginisiasi pembentukan IP Jombang bersama teman-teman. IP Jombang launching di bulan Maret/April 2018, sesaat sebelum keberangkatan saya ke Wina, Austria.

Tahun 2018-2020 saya bergerak di IP Efrimenia, regional yang mencakup empat benua (Eropa, Afrika, Amerika dan Oseania). Saat itu saya ingin mengasah kompetensi dalam memahami dan memetakan potensi member berbekal training Talents Mapping Basics dan Dynamics yang sudah saya ikuti. Maka selama dua tahun, saya berkesempatan mengulik seputar bidang tersebut lebih dalam lagi.

Tahun 2020 hingga sekarang saya mengambil peran sebagai ketua HIMA. Saya belajar memimpin sebuah komponen untuk bisa bersama-sama mengikuti perkuliahan dengan lancar. Setiap peran menghadirkan tantangan yang berbeda-beda. Berkaca dari apa yang disampaikan bu Septi, bahwasanya setiap tantangan merupakan kesempatan untuk banyak belajar dan bertumbuh, dan saya merasakan hal tersebut dalam perjalanan tujuh tahun ini.

Dalam sesi bersama Uni Nesri, RCIP Efrimenia memiliki tujuan agar teman-teman member yang sedang tergerak untuk berkontribusi, tercerahkan dan semakin yakin akan pilihan peran yang akan diambil. Bidang atau posisi yang tepat dalam mengambil peran bagi saya pribadi adalah hal penting, karena itu merupakan salah satu strong why yang membuat kita bertahan saat menghadapi tantangan ke depan. Maka penting untuk mengetahui hal apa yang kita sukai dan ingin kita asah dalam perjalanan di kepengurusan agar terpenuhi juga anak tangga pembelajaran diri kita. Ke depan, kita bisa menggunakannya untuk pijakan langkah lebih tinggi lagi.

Uni Nesri juga memberikan pertanyaan umpan pada jamboard, yang pertama,

Saya bisa apa saja?

Saya menyukai pemikiran yang runut dan sistematis, dan sedang mengulik hal tersebut.

Ingin jadi apa?

Terkait dengan kesukaan atas pemikiran yang runut dan sistematis, saya ingin membentuk sebuah sistem belajar yang memudahkan para ibu diaspora untuk mengikuti perkuliahan di Institut Ibu Profesional dan bisa beradaptasi dengan ketentuan atau aturan main dari tim pusat.

Bagaimana caranya?

Dengan mengambil peran sebagai leader HIMA saya seperti mendapatkan playground untuk bergerak dan menggerakkan dengan teratur dan terancana. Karakter diri yang ingin saya latihkan di tahun 2021 untuk diri saya pribadi adalah disiplin. Bisa saya praktikkan dalam menjalankan jurnal kelas Bunda Produktif yang saat ini sedang saya jalankan, juga mengajak teman-teman HIMA untuk tepat waktu dalam mengerjakan tugas. Sistem di HIMA berupa pengadaan ketua kelas dan PJ per zona juga memudahkan mahasiswa untuk berkontribusi sesuai porsi dan saling memudahkan dalam hal rekapan setoran dalam setiap kelas belajar yang sedang berjalan.

Saya juga sempat bertanya seputar langkah apa yang bisa dijalankan pengurus untuk bisa menginspirasi member untuk turut serta mengambil peran dalam kepengurusan. Jawaban dari uni Nesri adalah pengurus perlu memancarkan energi bahagia lebih besar lagi sehingga member yang melihat bisa turut tergerak untuk berkontribusi. Hmm...sepertinya saya perlu mengoptimalkan materi-materi di kelas Institut Ibu Profesional maupun training kepengurusan untuk digunakan berkegiatan bersama pengurus lain dan member. Karena dari situ saya banyak belajar berorganisasi dengan efektif dan efisien. 

Demikian hikmah yang saya dapatkan dari sesi belajar bersama uni Nesri Baidani dengan tajuk „Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora“. Ibu Profesional merupakan komunitas belajar yang saya merasa cocok belajar dan bertumbuh di dalamnya. Karena sejatinya, berbagi dan berkontribusi dalam komunitas merupakan bagian dari sebuah proses belajar. Mari senantiasa meluruskan niat dan semoga Allah tuntun senantiasa. Aamiin.

 

 

 

Saturday, 30 January 2021

Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora, Bagaimana Caranya?


 


Pada hari Senin, 18 Januari 2021 lalu, Ibu Profesional regional Efrimenia kedatangan tamu istimewa, tak lain adalah founder Ibu Profesional, bu Septi Peni Wulandani. Beliau hadir memenuhi undangan sebagai narasumber dalam acara Bincang Akrab Penghuni Efrimenia (Bakpia) dengan tajuk Mengambil Peran di Tengah Tantangan Diaspora. Acara ini diselenggarakan via Zoom dan dihadiri oleh member IP Efrimenia dari seluruh komponen.

Bu Septi tidak memberikan materi khusus, beliau justru mendengarkan curhatan kami dan mengajak kami untuk menggali potensi diri dan menyusun langkah strategis ke depan baik dalam menjalankan peran diri secara umum maupun berkarya di kepengurusan IP Efrimenia.

Dimulai dari pertanyaan,

Apa tantangan yang kita hadapi?

Sebagai ibu diaspora, tantangan yang kami hadapi memang beragam. Namun kami diajak mengklasifikasikannya ke dalam dua sisi. Yaitu sisi internal diri dan sisi eksternal diri. Sisi internal mencakup rasa minder, manajemen energi dan prioritas,  sibuk dengan tugas domestik sehingga ingin berkontribusi tapi belum memungkinkan secara tenaga, sinyal internet yang on-off.

Sedangkan tantangan eksternal antara lain tugas mendadak dari pusat dengan deadline yang mepet, perbedaan zona waktu, cakupan wilayah yang luas (Efrimenia terdiri dari empat benua) hingga tinggal nomaden sehingga sering berpindah-pindah negara dalam waktu yang relatif singkat.

Mengapa perlu diklasifikasikan ke dua sisi?

Karena energi kita bisa unlimited. Ada energi-energi terbarukan yang muncul dalam diri kita jika kita memiliki support system yang bagus. Maka kita perlu peka pada kondisi, mana yang merupakan energy taker, mana yang merupakan energy giver. Yang bahaya adalah jika karakter energy taker adalah dalam diri kita sendiri. Selanjutnya perlu adanya skala prioritas. Maka nanti akan muncul prioritas diri dan prioritas tim.

Kemudian kita perlu memiliki mindset bahwasanya tantangan adalah kesempatan kita untuk menjadi problem solver. Karena jika kita berhasil menyelesaikan tantangan tersebut, maka selain tantangan diri sendiri terselesaikan, kita juga berkesempatan untuk membantu ibu-ibu lain dalam menyelesaikan tantangan serupa. Maka, memiliki mindset yang tepat amatlah penting.

Selanjutnya mengenai mengambil peran. Yang perlu digarisbawahi sebelum terjun ke dalam kepengurusan adalah, mengambil peran merupakan proses berbagi, bukan menuntut. Jika menunggu, maka kita tidak akan mendapatkan sesuatu. Maka penting bagi kita untuk memahami diri terlebih dahulu,

Apa yang kita kuasai?

Secara pribadi, saya tertarik belajar berkomunitas. Selain itu saya juga memiliki kekuatan relator dan input sehingga senang menjalin interaksi yang akrab dengan orang lain serta belajar aneka hal baru. Dalam hal keterampilan diri, saya menyukai bidang Home Education, literasi dan Talents Mapping.  

Setelah paham apa yang kita kuasai, langkah selanjutnya adalah,

Apa peran yang mau saya ambil?

Peran yang diambil tentu berkaitan dengan hal yang dikuasai dan disukai, sehingga hal-hal baik yang kita miliki, bisa bermanfaat bagi diri, keluarga maupun komunitas tempat kita belajar, Ibu Profesional.


Kemudian ibu memaparkan perjalanan Ibu Profesional dari awal berdiri, yaitu tahun 2011 hingga saat ini. Dimulai dari kebutuhan diri sendiri, terus berkembang dan kini meluaskan dampak sehingga di tahun 2021-2025 ini tagline-nya adalah Ibu Profesional untuk Indonesia. Maka, jika saat ini kita menjadi member Ibu Profesional, kita perlu menentukan, ingin mengambil peran apa diri ini dalam target lima tahun ke depan tersebut? Dengan melakukan sinkronisasi kebutuhan diri dan keluarga.

Bu Septi juga mengajak kita untuk bergerak bersama menjadi bagian dari solusi permasalahan global. Bu Septi juga sempat memberikan tips dalam menghadapi rasa jenuh, yaitu dengan melakukan hal-hal di luar kebiasaan untuk kembali mendapatkan energi dan siap melaju lagi.

Mari bergerak dari dalam rumah, dengan menjalankan peran kita, untuk dunia.  Senang sekali rasanya mendapat suntikan semangat dari bu Septi kali ini. Alhamdulillah. Salam Ibu Profesional Diaspora!

Wina, 30 Januari 2021

Friday, 29 January 2021

Catatan Belajar dari Acara Bedenkzeit : Rasa Syukur dan Pengaruhnya dalam Kehidupan




Masih dalam rangka merapikan catatan dari kelas belajar yang sudah diikuti. Setelah kemarin menulis resume mengenai menjaga kesehatan mental, kali ini adalah tentang rasa syukur dan pengaruhnya dalam kehidupan. Secara lengkapnya, acara Bedenkzeit kali ini mengangkat topik „Herzenssache Dankbarkeit und ihre Auswirkungen auf mein Leben“. Menulis resume acara ini sekaligus menjadi pengingat diri untuk menambah rasa syukur setiap saat.

Sebelumnya, mau curhat dulu, perasaan setelah selama sepekan ini berlatih menulis tema tertentu (yang saya tentukan sendiri). Berlatih konsisten itu memang berat ya. Menghasilkan satu tulisan per hari itu ternyata tidak mudah, sekalipun sebelumnya saya sudah membuat jadwal tematik mengenai topik yang ditulis setiap harinya. Membuat resume acara di hari dimana acaranya sudah beberapa pekan berlalu ternyata juga cukup sulit, tidak selancar dan sesemangat jika menulis sesegera mungkin beberapa saat setelah acara tersebut selesai diikuti. Jadi, mari nikmati rasa ketidaknyamanan, keengganan, maupun lupa. Perjalanan ini sebagai bagian ikhtiar untuk mengikat ilmu dengan tulisan, sebelum yang terlupa menjadi semakin samar lalu luput dari ingatan. 

Menyimak materi yang dipaparkan dalam bahasa Jerman memang menantang. Dan saya memilih mengambil tantangan ini karena topiknya amat menarik bagi saya. Tentu saja, topik serupa banyak ditawarkan oleh beragam kelas berbahasa Indonesia. Bahkan selama pandemi ini, beragam kelas daring pun bisa diakses dengan mudah. Namun saya memilih untuk mengikuti workshop berbahasa Jerman ini karena secara bertahap saya sedang belajar untuk mindfulness. Salah satunya dengan mendukung proses belajar bahasa Jerman yang sedang saya jalani dengan mengikuti workshop yang kira-kira saya sudah cukup familier dengan topik yang diangkat. Selain juga topik tersebut sangat mendukung saya dalam menjalankan peran dalam keseharian. 

Narasumber sesi kali ini merupakan salah satu narasumber favorit saya. Namanya sudah cukup akrab di telinga. Metode penyampaiannya saya suka dan cocok dengan gaya belajar saya. Sesosok muslimah muda yang energik, terampil menyampaikan ilmu yang digeluti dikaitkan dengan ayat Al Qur'an dan Hadis.

Apakah rasa syukur itu?

Narasumber menyampaikan bahwasanya rasa syukur berkaitan dengan hati. Hati secara spiritual, bukan hati secara fisik. Dimana hati merupakan pusat kehidupan. Disebutkan bahwa sebanyak 40.000 neuron terhubung dengan otak. Bahkan kebiasaan bersalaman, sebuah interaksi fisik yang identik dengan berjabat tangan pun koneksinya terhubung sampai ke hati.

Ada tiga jenis kondisi hati, yaitu hati yang hidup (sehat), hati yang sakit dan hati yang mati. Quran dan hadits.

Bagaimana cara bersyukur?

Bersyukur merupakan proses latihan bagi hati. Kita tentu amat familiar dengan jurnal syukur. Sebuah metode menulis syukur setiap hari melalui journaling. Karena ternyata perasaan syukur juga bagaikan otot, yang akan semakin kuat jika dilatih setiap hari. Disebutkan dalam ayat Al Qur´an bahwasanya  jika kalian bersyukur, maka akan Kami tambahkan nikmat kepadamu.

Pada siapa kita bersyukur? Sampaikan penyebab kita bersyukur. Dalam sebuah hadis disampai bahwa, "Orang yang tidak berterimakasih kepada manusia seperti orang yang tidak bersyukur kepada Allah, sedangkan orang yang berterimakasih kepada manusia seperti orang yang bersyukur kepada Allah." Sebuah temuan neurobiologis menyampaikan bahwasanya wilayah yang sama di otak menjadi aktif saat kita bersyukur dan saat kita membantu orang lain.

Selain hal diatas, ada banyak manfaat dari bersyukur, antara lain terjadi rilis hormon dopamin, peningkatan empati, munculnya kedamaian dan ketenangan hati (sakinah). Sama halnya seperti otot, rasa syukur merupakan sesuatu yang perlu dilatih. Dalam surat An Nahl ayat 78 disampaikan bahwa, "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur."

Dalam workshop kami juga diminta untuk praktik. Teknisnya, peserta diminta menulis rasa syukurnya. Kemudian berlanjut dengan mendata berterima kasih kepada siapa dan bersyukur karena apa. Dilanjutkan dengan bagaimana cara menunjukkan rasa syukur tersebut. Latihan ini idealnya dilakukan setiap hari agar menjadi kebiasaan baik bagi diri.

Wina, 29 Januari 2021

 

 

Thursday, 28 January 2021

Catatan Belajar dari Acara Bedenkzeit : Psychisch stark bleiben in Zeiten von Corona


Beberapa waktu belakangan, saya mengikuti sebuah online workshop Bedenkzeit yang bertajuk “Psychisch stark bleiben in Zeiten von Corona” yang artinya dalam bahasa Indonesia kurang lebih "Menjaga Kesehatan Mental selama Pandemi Corona". Acara Bedenkzeit ini rutin setiap pekan diselenggarakan via Zoom oleh Junge Musliminnen Österreich (JMÖ). Sebenarnya ikut workshop ini bermodal nekat, karena kemampuan bahasa Jerman juga masih pas-pasan.

Tapi saya memutuskan untuk mencoba mengikuti workshop ini dengan pertimbangan, tema yang disampaikan adalah seputar pengembangan diri, bahasan kesehatan mental juga kerap menjadi bahan belajar di kelas belajar berbahasa Indonesia yang saya ikuti. Jadi harapannya, pemahaman dasar yang saya miliki bisa menjadi konektor dalam memahami isi workshop ini. Pun di kelas bahasa Jerman semester lalu, banyak juga dibahas mengenai tema pengembangan diri perempuan. Semoga belum keburu menguap dan terlupa, hihi. Belajar bahasa dengan mengikuti diskusi  bertopik yang menarik perhatian juga adalah sebuah cara belajar yang versi „saya banget“. Biar ada rasa penasaran buat ngulik lebih lanjut meskipun susah dan ngga mudheng-mudheng amat. Hehehe.

Dari judulnya, sudah kebayang ya gambaran besarnya secara umum, yaitu mengenai kesehatan mental di situasi pandemi. Situasi pandemi tentu bukan hal yang mudah bagi semua pihak. Di Austria sendiri, saat ini hingga beberapa waktu ke depan masih berlaku lockdown atau pembatasan. Kondisi ini tentu mempengaruhi kesehatan mental bagi banyak orang. Bahkan kasus kekerasan dalam rumah tangga pun mengalami peningkatan. Teringat di kelas bahasa semester lalu, beberapa kali pengajar sempat menginformasikan nomor kontak psikolog atau konsultan yang bisa dihubungi sewaktu-waktu di masa pandemi ini. Nah, dalam diskusi kali ini dibahas seputar bagaimana agar kita bisa melewati hari dari waktu ke waktu dengan baik meskipun di situasi yang sulit dan penuh keterbatasan.

Narasumber menyampaikan bahwa dalam menghadapi sebuah situasi berat seperti pandemi ini, ada dua pilihan aksi, yaitu kita mau menghindari (vermeiden) atau mendekat (annaehern). Menghindari itu seperti ngedumel mengenai ketidaknyamanan yang dirasakan sedangkan mendekat adalah dengan menerima kondisi lalu menjalankannya sekalipun tidak mudah. Lalu dalam prosesnya juga ada empat tahapan yang dilalui, yaitu :

  1. Mempersepsikan (wahrnehmen)
  2. Mengevaluasi (bewerten)
  3. Merasakan (fuehlen)
  4. Bertindak (handeln)

Dibahas juga mengenai faktor-faktor pelindung, hal-hal yang bisa melindungi diri, antara lain ikatan yang aman,  penanggung jawab yang bisa dipercaya, keterampilan sosial dan efikasi diri yaitu kepercayaan akan kemampuan diri sendiri.

Nah, bahasan berikutnya masuk ke resiliensi. Kata ini sepertinya memang sedang hangat dibicarakan ya. Mulai dari teman di kelas belajar yang sedang melatihkan resiliensi sebagai sebuah karakter diri, sampai suami yang juga menyebut resiliensi dalam diskusi kami belakangan ini terkait pekerjaan beliau. Menurut Garmezy (1991), resiliensi merupakan keberhasilan seseorang dalam beradaptasi dengan kondisi yang tidak menyenangkan atau buruk. Ada enam pilar resiliensi yang mendorong resiliensi yang kuat dari dalam diri seseorang. Keenam hal itu adalah berpikir optimis, menerima situasi, bergerak mencari solusi, tidak bermental korban, mengambil tanggungjawab, mengembangkan kontak dan koneksi, dan merencanakan masa depan.

Setelah membahas mengenai resiliensi, peserta diajak untuk membuat grafik yang disebut Lebenslinien yang menghubungkan ordinat usia dengan penilaian atas diri. Ada empat aspek yang dinilai, yaitu fisik, mental, sosial dan emosi. Dimana bernilai negatif jika emosi yang dirasakan adalah emosi negatif, titik 0 sebagai perasaan netral dan bernilai positif jika merasakan emosi positif. Saya belum mengerjakan ini karena cukup panjang, dari masa kecil hingga usia saat ini. Perlu mengingat-ingat kejadian setiap tahun dan pergantian rasa yang hadir di waktu-waktu tersebut sepertinya. Saya jadi teringat lembar kerja Selfcare yang saya ikuti tahun lalu dengan difasilitasi mba Farda. Serupa dengan itu.

Kemudian, dipaparkan metode RAIN (Recognize, Allow, Investigate, Nurture). Dimana saat mengalami situasi sulit seperti pandemi ini, kita perlu mengidentifikasi dulu apa yang sedang terjadi, kemudian mengizinkannya terjadi dan menyadari bahwasanya hal tersebut merupakan bagian dari proses hidup kita, lalu melakukan investigasi dengan penuh atensi  dan menjalankannya dengan penuh kasih sayang. Tentu saja juga dengan senantiasa bertawakkal pada Allah. 

Pas menulis ini, saya juga masih mencoba mengingat-ingat materi yang disampaikan sembari mengaitkan kata-kata yang sempat tercatat. Bahkan sempat merasa tak mampu menuliskan resume-nya karena enggan merapikan pikiran yang berloncatan di kepala. Tapi alhamdulilah Allah mudahkan untuk mewujud menjadi sebuah tulisan. Tak apa tak lengkap, tak apa tak sempurna. Terima kasih sudah mengupayakan untuk berproses dengan optimal dan memilih tak menyerah. Alhamdulillah. Semoga senantiasa dalam rida Allah. Aamiin...

Wina, 28 Januari 2021

Sumber referensi :

Wulandari, A.P.J. Mengenal Resiliensi dalam Ilmu Psikologi. https://psychology.binus.ac.id/2020/03/31/mengenal-resiliensi-dalam-ilmu-psikologi/. Diakses 28 Januari 2021

 

 

 

 

 

 

 


Wednesday, 27 January 2021

Bagaimana Alur Proses Tes Massal COVID-19 di Kota Wina, Austria?



Kondisi hari ini, hari di saat tulisan ini dibuat, kami sedang menjalankan lockdown entah yang keberapa, mungkin ketiga. Di masa ini, saya sebagai warga berkesempatan untuk mengikuti tes massal COVID-19 di tempat yang sedang kami tinggali untuk sementara waktu ini, Wina – Austria. Tes massal di bulan Januari ini adalah kali kedua pemerintah membuka kesempatan untuk tes COVID-19 secara gratis dan mengajak warga berbondong-bondong menggunakan fasilitas tersebut. Langkah ini merupakan salah satu upaya untuk mendeteksi  warga yang terpapar COVID-19 untuk kemudian dapat dilakukan tindak lanjuti lebih secara dini.

Periode pertama berlangsung di bulan Desember 2020. Kala itu saya mendaftarkan diri sendiri saja. Suami ada deadline pekerjaan mendesak yang membuat beliau belum bisa mengikuti tes tersebut. Sedangkan saya, hal yang mendorong saya untuk mendaftarkan diri di tes massal COVID-19 adalah rencana saya untuk mengikuti ujian bahasa Jerman di pertengahan bulan Desember. Saya akan bertemu dengan teman-teman dalam satu ruangan dengan mematuhi protokol kesehatan yang berlaku. Dan sebelum hal itu terjadi, penting bagi saya untuk memastikan kondisi kesehatan saya, bahwa saya memang negatif COVID-19.

Apa saja yang harus disiapkan?

Sedangkan di bulan Januari ini, di periode kedua, saya mendaftarkan diri sendiri, suami dan anak sulung kami. Batas minimal usia untuk mengikuti tes COVID-19 ini adalah 6 tahun, sehingga anak kedua kami belum bisa ikut didaftarkan. Kami memilih jadwal di tengah pekan, dengan harapan datang ke lokasi tes dengan situasi yang lengang. Saya mendaftarkan diri dan si sulung melalui e-mail pribadi saya, sedangkan mendaftarkan diri suami dengan e-mail pribadi beliau. Pendaftaran dilakukan secara daring melalui laman https://wien.oesterreich-testet.at/#/registration/start.

Kami sebagai pendaftar mengisi data pribadi di formulir yang tertera di laman tersebut. Setelah selesai, kami mendapatkan konfirmasi melalui e-mail yang perlu dibuka untuk melanjutkan pendaftaran dengan pemilihan jadwal tes. Dalam formulir yang dikirim via e-mail tersebut, tertera pilihan di lokasi mana dan pada hari apa juga tanggal berapa kami ingin melakukan tes. Setelah pengisian selesai, maka ada konfirmasi lagi yang dikirim via e-mail.

Karena di periode kedua ini si sulung juga mengikuti tes, dan ini merupakan pengalaman pertama baginya, maka kami pun mulai melakukan briefing intensif. Bagaimana proses menjalani tes menurut pengalaman saya di periode pertama, apa yang dirasakan, apa manfaatnya mengikuti tes dan meredam kekhawatiran yang terpancar dari sorot mata si sulung. Meyakinkannya bahwa proses akan berjalan baik-baik saja.

Beberapa hari setelahnya, seorang teman mengabarkan bahwa ia bersama anaknya (yang notabene merupakan teman si sulung) mendaftarkan diri untuk mengikuti tes di jadwal yang sama dengan kami. Kabar ini menjadi kabar gembira untuk si sulung dan cukup menentramkan hatinya. Meskipun tetap saja, menjelang hari H, ia kerap bertanya, „Ummi, alatnya diusap di hidung sepuluh detik? Sepuluh detik kan lama (sembari menghitung angka satu hingga sepuluh)?“

Bagaimana proses di hari H?

Dalam e-mail konfirmasi, disebutkan bahwa kami perlu membawa beberapa dokumen saat hari H, yaitu tanda pengenal yang disertai foto (Lichtbildausweis), kartu asuransi (e-Card) dan tanda bukti registrasi (Registrierung erhaltenen QR-Code) baik versi cetak maupun softfile di gawai. Di depan gedung lokasi tes, sudah diatur pagar pembatas yang menuntun pendaftar untuk masuk perlahan. Mendekati pintu masuk, dibagikan juga masker FFP-2 untuk semua peserta yang harus digunakan selama berada di lokasi tes. Sebelum dipersilakan masuk ke dalam gedung, kami dibagikan kertas berisi aturan yang harus dipatuhi selama berada di lokasi tes.

Pintu masuk menuju lokasi tes massal


Aturan tersebut antara lain : menyiapkan kartu pengenal diri (Lichtbildausweis und e-card), menyiapkan tand abukti registrasi (online Anmeldung), menggunakan masker FFP-2, menjaga jarak minimal satu meter, tidak mendokumentasikan proses atau apapun di lokasi baik berupa foto maupun video juga mengikuti instruksi dari petugas pengarah (yang memakai rompi khusus yang khas). Lokasi tes juga dilengkapi dengan garis kuning sehingga memudahkan pendaftar untuk mengikuti alur yang diarahkan petugas. Kami juga perlu mengisi formulir seputar data diri terlebih dahulu di tempat yang sudah disediakan (formulir ini juga bisa diunduh dari internet sehingga bisa diisi di rumah dan saat di lokasi tinggal mengumpulkannya saja).  

Aturan selama di lokasi tes massal


Kami bertemu di pintu gerbang dengan teman kami yang memiliki jadwal serupa. Namun karena beliau sudah mengisi formulir dari rumah, beliau pun menuju tempat antrian lebih dahulu sedangkan kami masih mengisi formulir. Setelah pengisian formulir selesai, petugas mengarahkan kami ke antrian. Situasi saat tes periode kedua tidak seramai periode pertama, proses antri pun tak berlangsung lama. Karena rombongan kami ada anak kecilnya, petugas mengarahkan kami ke bagian tertentu. Saat giliran kami tiba, kami diminta untuk menunjukkan formulir yang sudah kami isi dan dokumen yang menunjukkan identitas diri. Kemudian bersiap untuk melakukan tes.

Si sulung rupanya masih khawatir membayangkan kesakitan yang akan dirasakannya saat tes. Suami mendapat giliran pertama dari kami, saat si sulung melihat abinya tes, ia merasa takut. Maka saat giliran kedua adalah gilirannya, ia menangis. Alhamdulillah, ibu dokter yang menangani sangat sabar dan ramah. Ia menyapa si sulung, menanyakan nama dan usianya, bahkan menanyakan nama dan usia anak kedua kami pada si sulung untuk meredam rasa takutnya. Kemudian perlahan beliau menjelaskan pada si sulung, apa yang akan beliau lakukan. Metode yang dilakukan untuk si sulung hanya mengoles bagian belakang lidah, bukan dari hidung seperti yang ada dibayangannya juga yang dilihatnya dari proses tes abinya. Tangis si sulung berganti menjadi senyuman. Ia berkata bahwa prosesnya cepat dan sama sekali tidak sakit, tidak seperti bayangannya. Alhamdulillah.

Setelah kami bertiga sudah menjalankan tes, kami menunggu hasil tes dengan duduk di lokasi tunggu. Si sulung bertemu dengan temannya. Di kursi masing-masing mereka sempat mewarnai bersama selama beberapa menit, sembari menunggu hasil tes diberikan. Oh iya, tes yang kami jalankan adalah jenis Rapid Antigen Test (Antigen-Schnelltest). Selang lima belas menit, hasilnya keluar, tertulis di kertas formulir yang sudah kami isi di awal. Hasil secara softfile pun kami dapatkan menyusul, beberapa saat setelah tes melalui e-mail yang kami gunakan saat pendaftaran.

Alhamdulillah hasilnya negatif. Namun hasil negatif hanyalah keterangan diri kami hingga sesaat sebelum kami menjalankan tes. Bukan jaminan tidak terpapar setelahnya. Maka protokol kesehatan harus senantiasa dijaga untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Berikutnya, kami menunggu pengumuman terkait vaksin COVID-19. Tes antigen ini juga masih bisa diakses oleh warga kota Wina saat ini, meskipun sudah tidak dalam periode tes massal. Informasi terkait hal tersebut dan pendaftarannya bisa diakses di laman https://coronavirus.wien.gv.at/site/testangebote/#schnelltestohnesymptome Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita senantiasa berada dalam lindungan-Nya. Aamiin.

Wina, 27 Januari 2021


Tuesday, 26 January 2021

Catatan Belajar selama Mengikuti Pelatihan Pengajaran Mutqin yang Diselenggarakan Rumah Tajwid

Bismillahirrohmanirrohim…

dokumentasi dari tim panitia


Alhamdulillah dua pekan belakangan, Allah berikan kesempatan untuk mengikuti Pelatihan Pengajaran Mutqin untuk Pengajar Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Acara ini menjawab kebutuhan diri selama ini terkait amanah sebagai pengelola TPA Masjid As-Salam Warga Pengajian Austria (WAPENA) dua tahun belakangan ini. Acara ini diinisiasi oleh Yayasan Rumah Tajwid Indonesia cabang Luar Negeri.

Pada mulanya, panitia mengirimkan surat undangan ke ketua pengurus masjid Indonesia di berbagai wilayah kemudian informasi tersebut diteruskan ke tim TPA untuk ditindaklanjuti dengan pendataan dan pendaftaran. TPA Masjid As-Salam WAPENA mengirimkan dua orang pengurus untuk mengikuti sesi pelatihan ini. Biaya yang dikenakan untuk mengikuti pelatihan ini terbagi menjadi biaya per TPA dan biaya per peserta. Pelatihan diselenggarakan sebanyak empat sesi (yang kemudian saat hari H diperpanjang menjadi lima sesi) dengan durasi per sesi selama dua jam.

Saat undangan untuk mengikuti pelatihan ini sampai pada saya, saya tertegun. Ini merupakan kesempatan belajar yang sangat bagus. Tantangan menjadi pengajar TPA di luar negeri adalah seringkali para pengajar tidak disiapkan untuk mengajar. Bukankah mengajar itu memang perlu ilmu? Namun jika bukan kita yang menyatakan kesediaan untuk mengajar anak-anak di TPA, siapa lagi? Maka saat tawaran tersebut disambut dengan kesediaan, maka dengan mengucap basmalah, perjalanan belajar pun dimulai. Bukankah sebuah aksi solusi dimulai dengan empati? Sembari basmalah dan berharap pada Allah, agar senantiasa Allah tunjukkan jalan untuk mengiringi perjalanan dengan ilmu sebagai pasokan perbekalan. Dengan harapan, proses bisa berjalan penuh berkah dan senantiasa dalam rida Allah.

Setelah mantap mendaftarkan diri dan mengajak tim untuk turut serta, saya menyusun strategi bagaimana agar bisa mengikuti pembelajaran dengan kondusif. Saya perlu mengosongkan jadwal di kelima sesi tersebut, menggeser beberapa jadwal pertemuan. Menunaikan tugas domestik lebih awal, menyiapkan makanan untuk keluarga lebih pagi dan berbagi jadwal membersamai anak dengan suami serta melakukan briefing pada anak-anak. Saya juga menjelaskan urgensi saya belajar hal tersebut dan mengikuti pelatihan ini. Betapa besar manfaatnya bagik bagi diri saya pribadi, keluarga maupun pembelajaran TPA ke depan, InsyaAllah. Izin dari suami dan anak-anak memantapkan saya untuk melangkah mendaftarkan diri.

Pelatihan terbagi menjadi lima sesi, yaitu sesi pertama pada hari Sabtu, 16 Januari 2021 jam 10.00-12.00 CET, sesi kedua pada hari Sabtu, 16 Januari 2021 jam 14.00-16.00 CET, sesi ketiga pada hari Ahad, 17 Januari 2021 jam 10.00-12.00 CET, sesi keempat pada hari Ahad, 17 Januari 2021 jam 14.00-16.00 CET, dan sesi tambahan yaitu sesi kelima pada hari Sabtu, 23 Januari 2021 jam 10.00-12.00 CET. Ya, biasanya pelatihan pengajaran Mutqin ini hanya berjalan empat sesi saja. Namun karena peserta sangat antusias sehingga sesi tanya jawab pun selalu berlangsung interaktif, maka materi belum tuntas tersampaikan di sesi keempat sehingga ada penambahan sesi di hari Sabtu pekan berikutnya. Alhamdulillah... senang rasanya, kesempatan belajar jadi lebih panjang.

Buku Mutqin sendiri merupakan buku pegangan yang biasa digunakan di proses pembelajaran program tahsin online Rumah Tajwid. Bagi peserta yang sekaligus merupakan peserta kelas tahsin online, buku ini sudah tidak asing. Dan pemaparan dari Ustadz Hartanto menjadi sebuah kesempatan untuk mendalami setiap bab secara detail dan menyeluruh. Wajar kan kalau bisa jadi kita sudah lupa materi-materi yang sudha pernah tersampaikan pada kita sebelumnya. Nah, pelatihan ini jadi sesi pengulangan dan pendalaman.

Di awal, Ustadz Hartanto mewanti-wanti untuk senantiasa meluruskan niat, lillahi ta’ala. Belajar dan mengajarkan Al Qur’an merupakan kegiatan yang perlu senantiasa dijaga kelurusan niatnya, hanya untuk Allah. Bukan untuk kebanggaan diri atau bahkan penilaian orang lain. Ustadz juga merekomendasikan adanya kolaborasi antara pengajar dan orang tua. Dimana akan sangat baik jika orang tua dan pengajar belajar membaca Al Qur’an dengan metode yang sama, sehingga tidak membingungkan anak-anak karena diajar dengan versi yang berbeda antara orang tua dan pengajar di TPA.

Selain membahas materi di buku Mutqin, banyak hal seputar teknis pengajaran yang juga disampaikan Ustadz dan menjadi bahan diskusi bersama. Ustadz menyampaikan bahwasanya pengajar sangat berpengaruh pada proses belajar anak, pengajar diibaratkan sebagai cetakan. Karenanya, perlu berhati-hati dan senantiasa mengajar dengan ilmu. Yang juga tak kalah penting, jaga semangat belajar anak. Apresiasi sekecil apapun pencapaian dan lakukan perbaikan sembari terus melanjutkan perkembangan dalam belajar membaca. Jangan sampai membuat anak berputus asa.

Saya juga sempat mengajukan pertanyaan seputar tantangan penyelenggaraan TPA online. Ustadz memberikan masukan bahwa idealnya kelas online maksimal adalah sejumlah sembilan orang kemudian dalam satu kelas dikelompokkan anak-anak dengan level kemampuan bacaan yang rata-rata setara. Untuk menjaga fokus, bisa digunakan metode sambung ayat sehingga anak-anak bisa menyimak bacaan teman sembari bersiap mendapatkan gilirannya.

Dan kejutannya, saya bertemu teman komunitas di ruang belajar ini. Beliau dan teman-teman yang berdomisili di Inggris sedang menginisiasi TPA  dan berencana mengadakan TPA online untuk anak-anak di sana. Kami pun bertukar pikiran dan saya pun menceritakan teknis yang sedang dijalankan TPA Masjid As-Salam WAPENA. Memang prosesnya tidak mulus, selalu ada tantangan yang mengiringi. Pandemi COVID-19 ini memang hal sulit bagi semua pihak. Namun Allah pun mendatangkan bantuan dari arah yang tak disangka-sangka. Bertemu dengan teman sevisi, juga bentuk nyata pertolongan Allah untuk menjaga semangat lillah dalam bergerak. MasyaAllah...

Secara umum, saya sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini. Ustadz Hartanto menjelaskan materi bab demi bab dari buku Mutqin dengan sangat jelas, detail dan disertai contoh baik secara lisan maupun tulisan. Pemakaian alat bantu dalam menjelaskan ini sangat membantu saya dalam memahami penyampaian materi. Sesi belajar dengan total durasi sepuluh jam dan dibagi per dua jam setiap sesi pun cukup sesuai bagi saya. Jeda istirahat bisa digunakan untuk sholat, makan dan memenuhi kebutuhan keluarga. Terima kasih Rumah Tajwid Indonesia.

Wina, 26 Januari 2021

 

 

 

 

 

 

 

Sunday, 24 January 2021

Zona Growth Kedua, Menerapkan Growth Mindset dalam Berkarya dan Berjejaring


Pekan ini tidak ada sesi materi dari Founding Mother. Sebagai gantinya, ada banyak informasi terbaru dari City Leader seputar sirkulasi keuangan. Juga ada banyak kabar terbaru mengenai alur pemasaran produk Project Passion. Yeay, semakin seru, semakin bersemangat!

Team Growth Pekan Pertama


Ini merupakan langkah yang dilakukan Cluster Meraki di pekan pertama kemarin. Alhamdulillah saya berkesempatan menghadiri pertemuan perdana Cluster. Senang rasanya bisa bertemu dengan rekan-rekan belajar dan bermain di dalam satu Cluster Meraki. Di tahap ini, saya memilih untuk bergerak sebagai tim Suporter. 

Team Growth Pekan Kedua


Apa yang saya lakukan terkait project passion kami?

Saya masih mengerjakan editing review buku anak. Saya senang, dengan melakukan proses editing, saya jadi banyak mengetahui ragam buku anak berbahasa Indonesia yang selama ini jarang saya ketahui karena domisili kami yang di luar Indonesia. Selain itu, saya juga membuat review buku anak yang saya buat video Read Aloud­­-nya.

Banyaknya informasi dari kota tentu juga menjadi salah satu faktor distraksi kami dalam berkomunikasi di WAG. Banyaknya informasi yang disampaikan membuat satu bahasan seringkali terputus, tergeser oleh informasi lainnya. Kemudian saat diskusi dibuka kembali, seringkali harus menjelaskan dari awal atau menyertakan kembali tautan bahan diskusi yang sedang diperbincangkan. Tantangan ini bagi diri saya pribadi, mengajarkan untuk membuat alat bantu untuk menjaga fokus, seperti coret-coretan di buku catatan kelas Bunda Produktif. Juga belajar tak sungkan untuk mengajukan pertanyaan sehingga kandang waktu yang saya alokasikan untuk mengerjakan tugas kelas ini bisa berjalan dengan efektif efisien.

Di pekan ini, tim Co-House kami fokus membahas mengenai aktivitas penunjang dalam Read Aloud juga finishing produk Starter Kit LiterAksi Tematik.

Apa yang saya lakukan terkait kontribusi di Cluster?

Saya masih menyesuaikan dengan kondisi. Berupaya mengoptimalkan peran di alokasi waktu daring yang ada. Saat membuka WAG, ada info acara yang diadakan oleh CH tetangga sesama Cluster namun di jam yang sudah terlewat. Maka acara tersebut saya catat dan masukkan di jadwal daring saya berikutnya untuk dapat saya simak. Maka saya pun menyimaknya di Senin dini hari tadi. Alhamdulillah.

Berikut hal-hal yang sudah dilakukan sebagai Team Growth oleh Cluster Meraki :


Saya juga mendaftarkan diri di kelas Fotografi yang diadakan tetangga sesama Cluster. Alhamdulillah sesi workshop bisa saya ikuti namun saya belum bisa mengikuti aksi tantangan yang diberikan. Acaranya sangat bagus, bermanfaat dan profesional. Dan berikut katalog project passion dalam Cluster Meraki https://online.fliphtml5.com/liqwh/cdxs/.

Kontribusi dalam mendukung Cluster


Apa yang saya lakukan terkait kontribusi di Hexagon City?

Menyimak rekaman tayangan City Leader di hari Senin dini hari. Setiap jadwal membuka Facebook, saya juga agendakan untuk membuka Hexagon City, Hexalink  dan Hexamarket untuk mendukung program-program yang akan dilaksanakan oleh teman-teman. Ragam kegiatan yang dipersembahkan oleh Hexagon City benar-benar menjadi alternatif solusi bagi tantangan yang dialami oleh masyarakat. Semua dikemas dengan apik dan optimal.

Kontribusi sebagai warga Hexagon City

Target personal growth  yang saya tetapkan di pekan lalu, yaitu mengurangi jam daring, sudah saya coba jalankan sejak pekan lalu. Alhamdulillah sulit, hehe. Apalagi di tengah perjalanan kelas Bunda Produktif yang sedang menuju puncak-puncak kesibukan ya. Tapi anak-anak memberikan lampu kuning, di mana porsi bermain dengan anak-anak berkurang dan tergantikan oleh duduk lama di depan gawai. 

Dari sini saya belajar bahwasanya sebuah kontribusi memang membutuhkan alokasi waktu. Teringat pesan Bu Septi ddalam salah satu live, bahwa kunci awal adalah mengukur kapasitas diri. Maka saya kembali menakar kapasitas diri saya, bagaimana agar durasi jam daring yang lebih sedikit dari sebelumnya, bisa saya optimalkan untuk mengerjakan tugas-tugas daring. Maka saya mencoba membuat to-do-list sebagai bekal saya saat online yang kemudian saya jadikan prioritas saat jam daring dan mulai tercentang satu persatu dalam satu pekan belakangan. 

Membuat to-do-list untuk mengurangi distraksi

 
Alhamdulillah, pekan ini Allah mudahkan terlewati dengan cukup baik. Berlatih mengoptimalkan jam daring yang sedang diupayakan untuk dikurangi secara kuantitas. Semoga Allah iringi setiap langkah dengan ridaNya. Aamiin.

Salam Ibu Profesional,

Wina, 25 Januari 2021


Aliran Rasa dan Selebrasi Kelas Bunda Sayang Leader Institut Ibu Profesional

Alhamdulillah di akhir tahun 2020 kemarin, seiring dengan penutupan tahun 2020, tuntas pula kelas Bunda Sayang Leader Institut Ibu Profesional. Banyak yang bertanya-tanya, apa sih kelas Bunda Sayang Leader IIP ini. Anda termasuk di dalamnya kah?



Apa itu kelas Bunda Sayang Leader IIP?

Kelas Bunda Sayang Leader yang saya ikuti ini merupakan batch keempat. Artinya ada tiga batch yang sudah berjalan sebelumnya. Nah, bagaimana teknis pelaksanaan batch 1 hingga 3 tentu saya tidak tahu, saya akan fokus mengupas kelas Bunda Sayang Leader IIP yang saya ikuti saja ya.

Kelas Bunda Sayang Leader batch 4 ini merupakan kesempatan yang ibu oleh Tim Nasional Insitut Ibu Profesional untuk para leader regional. Jadi, kesempatan belajar di kelas ini bukan untuk para member, melainkan terbatas untuk pengurus regional saja. Tak heran jika salah satu syarat pendaftarannya adalah melampirkan surat keterangan kepengurusan (atau surat rekomendasi ya?) dari ketua regional.

Nah, kondisi saat itu, saya baru saja pindah regional dari regional Jombang ke regional Non Asia. Ternyata regional Non Asia ini masih sedang tahap pembangunan. Sehingga selang sebentar dari masuknya saya di regional ini, saat ada open recruitment pengurus, saya mengambil peran sebagai manajer Training and Consulting. Karenanya, saya berkesempatan untuk mengikuti kelas Bunda Sayang Leader batch #4. Sisi senangnya bergabung di kepengurusan Ibu Profesional yang saya rasakan salah satunya adalah ini, terbuka banyak kesempatan belajar yang tak terduga.

Maka usai mengurus surat keterangan dari leader regional, mendaftarlah saya di kelas Bunda Sayang Leader. Sebenarnya sebelumnya saya sudah mengikuti kelas Bunda Sayang batch #1, juga sudah menjalankan peran sebagai fasilitator Bunda Sayang batch #2. Namun karena kelas tersebut sudah tuntas dan saya merasa keberadaan kelas belajar merupakan salah satu support system diri, maka saya mantap menantang diri untuk mengikuti kelas Bunda Sayang Leader ini.

Bagaimana proses belajar di kelas Bunda Sayang Leader?

Di Ibu Profesional, kami senantiasa diajarkan bahwasanya, “Semua Guru, Semua Murid”. Kita belajar bersama-sama. Kelas Bunda Sayang Leader ini difasilitatori oleh the Chika, yang saat kelas ini dimulai, merupakan koordinator kelas Bunda Sayang, namun saat kelas ini berakhir, beliau merupakan Rektor Institut Ibu Profesional. MasyaAllah…

Kelas ini dibuka dengan empat materi awal, yaitu Manajemen Waktu, Adab Menuntut Ilmu, Self Healing dan Aktualisasi Diri. Keempat materi ini merupakan materi pendahuluan, belum termasuk dua belas materi inti kelas Bunda Sayang.

Dari awal kelas ini berjalan, beliau mewanti-wanti bahwasanya kelas leader tentu berbeda dengan kelas Bunda Sayang biasanya. Hmm…apa yang berbeda? Tidak ada tantangan 10 hari yang wajib kami setorkan setiap harinya. Lalu, tugasnya apa? Kami diminta untuk membuat jurnal terkait proses belajar yang kami jalankan bersama anak-anak di setiap level atau zona. Wah, tantangan menarik!

Tujuan diadakannya kelas Bunda Sayang Leader ini adalah menghasilkan tulisan-tulisan berkualitas seputar materi Bunda Sayang yang saat itu masih berjumlah dua belas (kini dipadatkan menjadi delapan zona materi saja). Maka, jangan kaget jika sekalipun tugasnya hanya berupa satu jurnal, namun jurnalnya memiliki kriteria yang cukup berat. Yaitu memuat tema tertentu yang ditentukan oleh fasilitator, terdiri dari minimal 1000 kata, menggunakan minimal tiga referensi dari buku dan situs, harus tepat waktu dan ada syarat tambahan spesifik untuk setiap zonanya.

Mengapa durasi belajarnya sangat lama?

Ya, kelas ini memang dimulai sekitar bulan Agustus 2018 dan berakhir di Desember 2020. Syukur alhamdulillah durasi kelas ini lama, karena memang membuat jurnal dan membacanya satu persatu untuk menentukan pilihan jurnal mana yang terbaik merupakan hal yang cukup pelik dan tak bisa dikerjakan asal-asalan. Durasi yang lama ini pun memudahkan para peserta yang notabene merupakan pengurus regional, untuk tetap bisa mengerjakan jurnal di tengah kesibukan mengerjakan amanah lainnya di kepengurusan maupun di kelas belajar Ibu Profesional lainnya. Ya, selama 2.5 tahun perjalanan kelas Bunda Sayang Leader, terjadi banyak perubahan sistem di Ibu Profesional yang semakin membesar.

Menulis jurnal belajar adalah sebuah hal yang saya sukai. Durasi yang panjang memberikan saya cukup waktu untuk menyerap informasi, menelaah dan memilah mana yang diterapkan dalam proses belajar keluarga kemudian mengambil insight perjalanan untuk dituliskan. Saya bisa merasakan proses belajar yang utuh selama menjalankan kelas ini. Sehingga durasi yang panjang bukanlah menjadi sebuah masalah yang mengantarkan pada kebosanan, namun justru kesempatan yang saya syukuri kehadirannya sehingga proses bisa berjalan optimal.

Pembelajaran apa saja yang saya dapatkan selama mengikuti kelas ini?

Teh Chika selaku fasilitator sangat lihai menghadirkan tantangan dalam setiap level. Jika di kelas Bunda Sayang member saya sudah belajar komitmen dan konsisten mempraktikkan sebuah materi, di kelas Bunda Saya Leader ini saya belajar bagaiman menarik benang merah antara sebuah teori dalam setiap materi dengan praktik baik yang sudah atau bisa diupayakan untuk dijalankan dalam keseharian. Bagaimana agar ilmu yang sudah kita dapatkan dapat berbuah amal. Wah, tantangan banget ini. Namun memang amat terasa bahwa tantangan demi tantangan tersebut melatih kita untuk menjadi seorang problem solver. Tulisan saya pun sempat terpilih menjadi Jurnal Owl di zona 5 terkait materi Menstimulasi Anak Suka Membaca, zona 7 terkait materi Semua Anak adalah Bintang dan di zona 9 terkait Solusi Kreatif untuk Tantangan Sehari-hari para Ibu.

Mana tanda apresiasinya lucu banget kayak gini. Siapa yang ngga bahagia menerimanya, kan? 


Penulisan jurnal sebagai tugas juga mengajak saya untuk kerap berpikir ilmiah dan memaksa diri untuk membiasakan banyak bacaan untuk dijadikan sumber referensi dalam menulis. Tak cukup sampai di situ, berbagai sumber referensi itu dirangkai menjadi sebuah alur cerita yang dikoneksikan dengan praktik dalam keseharian. Menarik rasanya menemukan keilmiahan dari hal-hal yang awalnya tampak sederhana dalam kacamata pribadi.

Selain itu, kami juga belajar untuk saling membaca, memberi masukan dan apresiasi antar peserta kelas dengan saling membaca jurnal yang sudah dituliskan. Kebiasaan ini memperkaya sudut pandang saya dalam menyikapi sebuah topik, juga membuka wawasan diri terhadap keluasan sebuah ilmu. Satu ilmu itu sudah sangat luas cakupannya, dan terasa semakin luas lagi saat saya membaca jurnal milik teman-teman yang lain. Seru banget ternyata ya saat sebuah ilmu parenting yang dijalankan oleh para ibu dijalankan dengan penuh kesungguhan, termasukd dengan melakukan pendalaman ilmu seperti ini. MasyaAllah tabarakallah. Karena kebiasaan ini, apresiasi pun sempat saya dapatkan, sebagai Owl Reader. Lucu ya sebutannya. Unik-unik.

Owl Reader pun dapat tanda apresiasi. Jadi makin bahagia kan baca jurnalnya?


Secara pribadi, saya mengucapkan banyak terima kasih pada the Chika, selaku fasilitator yang sudah kreatif menghadirkan tantangan-tantangan seru di setiap zona. Memfasilitasi dengan sabar dan telaten selama 2.5 tahun. Semoga menjadi amal jariyah ya teh.

Terima kasih sudah memfasilitasi, teteh Rektor kesayangan...


Bahagia belajar di Institut Ibu Profesional. Selalu seru dan mengasah keterampilan belajar. Saat ini, mari terus melaju di kelas Bunda Produktif batch 1. Terus semangat belajar memantaskan diri dan meningkatkan kualitas diri dalam menjalankan peran sebagai perempuan, istri, ibu dan agen perubahan di masyarakat. Semoga Allah senantiasa ridai langkah ini. Aamiin.

Sebagai pengingat dan penyemangat diri, untuk mengikat ilmu dengan amal


Wina, 24 Januari 2021

Tuesday, 19 January 2021

Zona Growth Pertama, Belajar Seputar Growth Mindset dengan Membuat Personal Growth untuk Diri dan Komunitas

Bismillahirrohmanirrohim…

Pekan ini kami memasuki zona G, yaitu zona Growth yang mengajak kami mengulik seputar Growth Mindset. Apakah yang dimaksud dengan Growth Mindset? Mindset sendiri adalah sebuah pola atau cara berpikir seseorang. Mindset sendiri seringkali terbagi menjadi dua, growth mindset dan fixed mindset. Bagaimana ciri-ciri keduanya? Dijabarkan dalam sebuah gambar di situs https://barrierefrei-im-kopf.de/mindset/ yang kurang lebih saya terjemahkan sebagai berikut :

Growth Mindset

Saya bisa belajar apapun yang saya mau

Suatu hal yang terlihat sulit, bisa jadi tidak benar-benar sulit. Hanya mungkin saja bidang tersebut tak menarik perhatian saya. Setiap proses belajar perlu dilandasi alasan kuat untuk menjalankannya. Adanya strong why akan membuat seseorang untuk bertahan untuk tekun mempelajari sebuah hal.

Jika saya frustasi, saya mengambil jeda

Frustasi adalah sebuah hal lumrah yang terjadi pada manusia, terutama jika sedang berada dalam tekanan atau buntu tak memiliki ide solusi untuk memecahkan sebuah masalah. Saat frustasi biasanya pikiran dan badan kita berada dalam kondisi tegang. Maka penting untuk mengambil jeda sejenak, melakukan relaksasi, menepi dari hiruk pikuk kesibukan. Jika kondisi frustasi dipaksakan, maka manusia bisa jadi justru menyerah alih-alih terus melaju.

Saya ingin menantang diri saya sendiri

Tantangan seringkali mengajak diri untuk keluar dari zona nyaman. Orang yang memiliki Growth Mindset kerap mencari tantangan untuk ditaklukkan hingga mencapai zona nyaman yang baru, demikian seterusnya. Sehingga ia tak mudah berpuas diri dan memiliki mental Climber.

Jika saya gagal saya belajar

Seorang dengan Growth Mindset adalah ia yang tak pernah takut gagal karena baginya kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Selalu ada pembelajaran yang dipetik dari kegagalan yang dialami yang kemudian menjadi bekal untuk proses berikutnya, minimal untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa.

Saya suka berjuang untuk sukses

Ia percaya kesuksesan adalah milik semua orang yang mau berusaha. Karenanya ia terus berjuang dengan bahagia. Ia menikmati setiap tahap perjalanan yang dilalui menuju kesuksesan yang menjadi tujuannya.

Jika Anda berhasil, saya terinspirasi

Orang dengan Growth Mindset tidak silau dengan kesuksesan orang lain. Ini mental yang perlu dilatih. Karena lazimnya manusia mudah terinspirasi kemudian terintimidasi. Setiap melihat kesuksesan orang lain, seorang dengan Growth Mindset akan mengambil inspirasi kemudian menjadikannya sebagai energi tambahan untuk melaju di lintasan miliknya sendiri.  

Komitmen dan sikap saya menentukan segalanya

Pembelajaran di Ibu Profesional senantiasa mengajarkan bahwasanya komitmen dan konsisten merupakan kunci. Begitu pun pemikiran yang dimiliki seorang dengan Growth Mindset. Bagaimana memegang teguh sebuah komitmen dan konsisten menjalankannya, juga sikap atau respon kita dalam menyikapi sesuatu, menentukan kesuksesan langkah ke depan.

Kurang lebih demikian insight yang saya petik terkait pola pikir Growth Mindset. Sedangkan untuk orang dengan Fixed Mindset berkebalikan dengan sifat diatas yang dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

 Fixed Mindset 

  • Saya hanya bisa melakukan hal tertentu saja, yang memang sudah saya kuasai.
  • Saat frustasi, saya menyerah
  • Saya tidak menyukai tantangan
  • Jika saya gagal, berarti saya tidak baik
  • Sesuatu yang perlu effort menandakan saya tidak berbakal mengerjakannya
  • Jika Anda berhasil, saya merasa tersaingi
  • Bakat menentukan segalanya

Dan, kali ini saya mencoba praktik growth mindset dengan mengulik seputar Growth Mindset dari aneka referensi berbahasa Jerman. Meskipun membutuhkan effort dan alokasi waktu yang lebih banyak, saya bahagia menjalankannya.

Pemaparan materi dari bu Septi dan pengayaan di sesi Walikota Menyapa sebenarnya banyak membuat saya merenung. Saya berusaha menyelaraskan antara growth mindset dengan mengukur kapasitas diri saat ini. Saya ingin bertumbuh dengan kecepatan yang saya sanggupi saat ini. Mensyukuri setiap karunia yang Allah berikan. Menjalankan aktivitas dengan mindful yang membuat saya merasa perlu melambatkan gerak diri. Terlebih kondisi lockdown merupakan kesempatan saya untuk meningkatkan kelekatan dengan anak-anak yang sedang menjalankan distance learning. Ya, growth mindset di setiap lini peran, tidak hanya dalam kelas Bunda Produktif.

Dua pekan lalu, saya memetakan kembali waktu yang saya miliki dengan beberapa peran yang melekat pada diri dan amanah yang sedang diemban. Ada satu amanah peran offline yang sempat saya pilih untuk tidak terpegang karena keterbatasan diri selama beberapa bulan lalu dan pekan lalu saya reaktivasi kegiatan di amanah tersebut. Memang perlu fokus lebih dalam menjalankannya, terutama jika dalam sebuah tim SDMnya memang masih terbatas. Sembari itu, amanah seputar Project Passion tentu tetap dijalankan sesuai pembagian tugas dan dikumpulkan sesuai batas waktu. Saya mengingatkan diri sendiri, agar tidak terburu dan terlalu memaksakan diri karena saya tidak sedang berlomba dengan orang lain.

Saya juga berdiskusi dengan suami seputar sebuah dedikasi. Bahwasanya seseorang yang berkembang optimal di sebuah wadah, memang memiliki atensi besar dan menjadikan hal tersebut menjadi sebuah prioritas dalam dirinya. Kita bebas merdeka menentukan porsi aksi kita dan bertanggungjawab atas peran yang diemban. Di titik ini, saya masih belajar untuk menjaga keseimbangan dalam menjalankan setiap peran. Laa hawla walaa quwwata illa billah...

Dalam jurnal kali ini kami diminta untuk membuat Personal Growth.



Berikut penjabarannya :

My Growth

Growth Mindset  yang akan saya lakukan untuk diri saya

Disiplin dengan jadwal kerja yang sudah ditetapkan di buku agenda

Saya ingin mendorong diri saya dengan cara

Melakukan tindakan korektif jika ada kritik dari keluarga

Mengurangi jam daring harian

Saya akan melakukan selebrasi untuk diri saya, jika

Berhasil konsisten online hanya 4 jam per hari (untuk belajar, koordinasi dan menulis)

Pekan lalu saya agak sedih, karena qodarullah saya belum lulus ujian tulis OeSD B2. Baru lulus di bagian lisan saja. Ahamdulillah ‘ala kulli haal. Lulus ujian level B2 adalah salah satu target pribadi yang ingin saya capai selama mengikuti kelas Bunda Produktif. Tentunya saya canangkan jauh sebelum mendapatkan banyak kejutan skema belajar di dalamnya, hehe. Setelah mengevaluasi diri, salah satu hal yang harus saya perbaiki adalah mengurangi durasi jam daring dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam berkoordinasi.  Alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk mendapatkan kelas belajar B2 lagi di lembaga lain secara gratis dan Februari besok insyaAllah kelasnya dimulai. Semoga bisa memanfaatkan kesempatan dengan lebih optimal.

My Co-Housing

Growth Mindset  yang akan saya lakukan untuk Co-Housing

Disiplin mengerjakan amanah dan peran yang sudah diambil. Saya yakin semangat dan energi itu menular, terlebih pada orang yang memiliki visi serupa. Saya mungkin tidak bisa membantu orang lain dalam mengerjakan tugas secara teknis, namun seringkali semangat dan energi positif yang kita keluarkan, tersampaikan dan menular pada orang lain.

Saya ingin mendorong Co-Housing saya dengan cara

Tepat waktu dan optimal dalam bekerja juga mendukung teman-teman untuk menuntaskan tugasnya. Bekerja secara teamwork mengajarkan bahwasanya karakter kerja setiap anggota amat mempengaruhi kualitas hasil akhir. Kami sedang berada di milestone 3, dimana saya mengambil peran sebagai tim editor dan membuat video Read Aloud. Pembuatan video Read Aloud hampir tak terkejar karena tantangan teknis. Waktu untuk mengulik pun terbatas karena sedang ada amanah lain yang harus dikerjakan. Namun kemudian alhamdulillah ada tambahan waktu sehingga saya masih bisa menyetorkan di waktu tambahan. Sebagai tim editor, saya bergerak dengan mengedit dua naskah artikel dan dua naskah review buku. Proses pembuatan video membuat saya mengulik aplikasi baru yaitu Screen Recorder, anak-anak pun menyambut dengan suka cita saat saya membacakan nyaring banyak buku sembari memilih buku yang tepat terkait dengan tema emosi di situs Lets‘ Read. Menjalankan proses editing pun ranah yang saya bisa dan suka sehingga saya lakukan dengan berbinar. Mengambil insight dari setiap tulisan sembari memperbaiki agar maksud tulisan semakin sampai di hati pembaca.

Saya akan melakukan selebrasi untuk Co-Housing, jika

Kami sukses menuntaskan project passion Literaksi Tematik

My Cluster

Growth Mindset  yang akan saya lakukan untuk Cluster

Mengambil inspirasi dari kesuksesan CH lain dalam Cluster dan apresiatif

Saya ingin mendorong Cluster saya dengan cara

Berkontribusi aksi di satu project passion CH lain dalam satu Cluster  

Saya akan melakukan selebrasi untuk Cluster, jika

Dua kriteria kesuksesan Cluster berhasil tercapai

Jika di ranah kehidupan nyata, saat saya bergerak di ranah produktif, Cluster ibarat komunitas ibu produktif yang saya ikuti, dimana di dalamnya terdapat kesempatan untuk berkolaborasi dan saling mendukung satu sama lain.

My Hexagon City

Growth Mindset  yang akan saya lakukan untuk Hexagon City

Mengulik setiap umpan materi dan adaptif pada setiap kejutan yang hadir.

Saya ingin mendorong Hexagon City dengan cara

Mengikuti satu pelatihan yang sesuai kebutuhan diri

Saya akan melakukan selebrasi untuk Hexagon City, jika

Saya berhasil mengejawantahkan pembelajaran di Hexagon City dalam praktik keseharian diri

Sedangkan Hexagon City ibarat kehidupan masyarakat jika dalam dunia nyata. Banyak hiruk pikuk dan kebisingan, juga kesempatan dan peluang belajar. Sangat realistis!

My Ibu Profesional

Growth Mindset  yang akan saya lakukan untuk Ibu Profesional

Bergerak dan menggerakkan

Saya ingin mendorong Ibu Profesional dengan cara

Menjalankan peran sebagai KaHIMA IIP Efrimenia dengan penuh kesungguhan

Saya akan melakukan selebrasi untuk Ibu Profesional, jika

Saya semakin bertumbuh dalam menjalankan peran sebagai hamba Allah, perempuan, istri, ibu dan agen perubahan dari waktu ke waktu bersama Ibu Profesional

Senin, 18 Januari 2021 alhamdulillah ada sesi Bincang Santai Penghuni Efrimenia (BAKPIA) bersama bu Septi. Ada banyak insight yang saya dapatkan terkait langkah bertumbuh sebagai ibu profesional di rantau. Karenanya, saya ingin terus bertumbuh dengan setiap kondisi unik yang menyertai. Terus mencari benang merah antara kebutuhan belajar diri dan playground di Ibu Profesional.

Fixed Mindset menuju Growth Mindset adalah sebuah proses belajar yang panjang. Bukan hal saklek yang berujung penggolongan si A memiliki Fixed Mindset sedangkan si B memiliki Growth Mindset. Setiap dari kita memiliki hak dan kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan memiliki Growth Mindset. Wallahu a’lam. Semoga Allah tuntun senantiasa.

Dan berikut screenshoot katalog project passion Literaksi Tematik yang dibuat oleh leader CH kami :




Sumber referensi belajar :

Anonymous. Der Ansatz des Fixed und Growth Mindset nach Carol Dweck. https://barrierefrei-im-kopf.de/mindset/. Diakses tanggal 19 Januari 2021

Anonymous. Growth Mindset vs. Fixed Mindset - Zwei Unterschiedliche Denkweisen. https://www.youtube.com/watch?v=I79fZFvz9JA dari channel Sprouts Schulen. Diakses tanggal 19 Januari 2021

Anonymous. Developing A Growth Mindset. https://www.youtube.com/watch?v=rUJkbWNnNy4 dari channel ClickView. Diakses tanggal 19 Januari 2021

 


Saturday, 9 January 2021

Zona Agile, Berlatih untuk Bergerak dengan Penuh Ketangkasan



Alhamdulillah, kembali menjalani hari-hari produktif sebagai Hexagonia setelah menjalankan liburan selama sembilan hari sejak 24 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021. Di materi live tanggal 23 Desember lalu, ibu Septi selaku founding mother memberikan pemaparan materi mengenai zona Agility yang sekaligus menjadi perbekalan bagi Hexagonia dalam menjalani liburan.

Agility adalah kemampuan atau kapabilitas dalam mengambil keputusan bergerak dan mengeksekusi tindakan dengan cepat. Disini akan dilihat seberapa tangkas Anda merespon sebuah perubahan.

Pola pikir agile adalah hormat kepada semua orang tanpa membedakannya, dapat memberikan penilaian tinggi kepada customer, melakukan kolaborasi dengan yang lain, dan menjadikan setiap momen adalah tempat untuk belajar.

Wah, seru sekali zona kali ini, belajar bagaimana untuk bergerak lincah terhadap sebuah perubahan. Baik itu dalam mengambil keputusan maupun melakukan sebuah tindakan. Tentunya dengan sebuah pertimbangan yang matang dan tidak gegabah atau tanpa pikir panjang ya. Bagaimana melatih diri untuk bertindak responsif, bukan hanya reaktif.

Agility adalah sebuah wawasan baru bagi diri saya pribadi. Setelah mendapatkan materi dari kelas, saya mencoba mencari tahu mengenai Agility. Salah satunya dari situs Leadershipall yang menyampaikan bahwa Agility memiliki lima bagian yaitu mental agility, people agility, change agility, results agility dan self awareness.

Mental Agility cenderung gesit dalam mempelajari aneka hal baru dari berbagi sumber. Sedangkan people agility adalah mereka menghargai keragaman pemikiran dan terbuka terhadap beragam perspektif. Change agility adalah mereka yang seringkali mencari situasi baru dan menjadi yang pertama kali melakukan sesuatu. Sedangkan results agility adalah  mereka yang konsisten memberikan hasil terbaik meski di situasi baru dan menantang. Self Awareness adalah faktor terakhir yang menjadi kunci utama, penting untuk memahami kekuatan dan keterbatasan diri sehingga bisa semakin baik dari waktu ke waktu. 

Nah, setelah pemaparan materi Agility di tanggal 23 Desember 2020 lalu, ibu Co-House leader mengambil langkah cepat untuk memberikan formulir yang perlu diisi oleh para para anggota, seputar mastermind pribadi. Saya sangat mengapresiasi langkah Agile beliau sehingga kita bisa libur dengan High Energy Ending dan fokus di kegiatan masing-masing selama liburan.

Apa yang saya lakukan selama liburan?

Saya memilih untuk berlibur dari kota, sesuai dengan kesepakatan Co-House. Tentu kelas Bunda Produktif dan Hexagon City adalah hal yang penting bagi saya, namun kami bersepakat untuk tidak mengerjakan project passion selama liburan. Dalam Co-House pun kami sudah menyepakati untuk menggeser timeline dan mempercepat pengerjaan milestone sehingga bisa libur dengan optimal di tanggal libur. Di masa libur ini masing-masing dari kami menjalankan proyek pribadi masing-masing. Mengerjakan amanah di luar Hexagon City.

Untuk saya secara pribadi, masa libur ini bersamaan dengan momen libur pergantian tahun di kota Wina, sehingga kondisinya, saya libur kursus, anak-anak libur sekolah, ditambah musim dingin juga sedang lockdown ketiga. Maka saya pribadi menggunakan masa libur untuk menguatkan bonding dengan anak-anak, membersihkan dan membereskan rumah bersama-sama, mengerjakan amanah dan proyek lain yang sempat tertunda dan menjalankan Family Strategic Planning sekeluarga. Bismillah...

Gambar 1. Mastermind individu

Pertama-tama kami mengerjakan jurnal pribadi. Diingatkan kembali karakter yang ingin saya latihkan pada diri selama kelas Bunda Produktif, yaitu disiplin. Disiplin dalam mengerjakan tugas sebagai Hexagonia, dalam mengikuti kegiatan yang diagendakan di Co-House maupun Cluster, juga disiplin untuk tetap menjalankan project pribadi yang terkait bidang yang dipilih di kelas Bunda Produktif ini. Perbaikan yang perlu saya lakukan ke depannya adalah sejalan dengan zona agility, dimana begitu saya menyimak WAG atau FBG, saya perlu segera memberi tanggapan dan kontribusi, tidak terjebak dalam scrolling tanpa aksi.

Apa yang dirasakan sampai di zona ini?

Bersyukur, bisa melangkah hingga di titik ini. Bukan seorang diri, namun juga bersama-sama satu ­Co-House dan sekarang juga memulai perjalanan bersama satu Cluster.

Usai mengerjakan mastermind pribadi, kami pun beranjak berkumpul dan melakukan mastermind di Co-House dan menghasilkan catatan sebagai berikut :

Gambar 2. Mastermind bersama tetangga Co-House

Mastermind ini kami jalankan bersamaan dengan dimulainya aktivitas milestone 3 sehingga beriringan dengan dijalankannya pelatihan praktik Read Aloud dan pembuatan video. Alhamdulillah dengan inisiasi dari leader, proses Mastermind pun berjalan lancar. 

Apa aktivitas produktif setiap pekan selama di Hexagon City?

Yang amat terasa, saya menjadi banyak mengenal dan mendalami seputar Read Aloud. Aktivitas produktif setiap pekan selama di Hexagon City antara lain :

  • Memulai perjalanan terkait project passion dengan mencari buku anak berbahasa Jerman terkait emosi
  • Membacakan satu persatu ke anak
  • Menuliskan insight yang saya dapatkan saat mengikuti sesi Geschichtenzeit  di perpustakaan kota
  • Menerjemahkan kata-kata terkait emosi ke bahasa Jerman, mengikuti Training of Trainers Read Aloud
  • Menyimak aneka video Read Aloud dalam bahasa Indonesia, Inggris maupun Jerman untuk mengetahui gaya pembawaan masing-masing
  • Membuat video Read Aloud dengan membacakan buku dari Let’s Read  

Apa hal baru yang kamu dapatkan hari ini?

Setiap hari selalu ada hal baru yang didapatkan. Karena hari ini masih pagi, maka saya menjawab dengan situasi hari kemarin ya. Hal baru yang saya dapatkan kemarin yang terkait dengan pengerjaan project passion  adalah cara membuat e-book dengan aplikasi Canva dari pelatihan yang disampaikan oleh mba Sari di  WAG Co-House.

Cluster leader pun bergerak cepat, mengundang para anggota di pertemuan perdana Cluster. Di hari Jum'at jam 07.15 CET saya mengikuti pertemuan tersebut. Dalam pertemuan Cluster ini leader memaparkan resume kondisi terkini dari setiap Co-House dan mengajak anggota merumuskan bersama kriteria sukses Cluster sehingga dihasilkanlah keputusan seperti di bawah ini :

Gambar 3. Hasil diskusi Cluster


Selain itu, dipaparkan juga kebutuhan tim sukses untuk kinerja bersama satu Cluster. Leader menjelaskan peran dari masing-masing tim dan mengajak anggota untuk turut berkontribusi sehingga kemudian terbentuknya tim sebagai berikut :

Gambar 4. Kontribusi anggota untuk Cluster


Hal baik apa yang kamu lakukan ke tetangga-tetanggamu di Cluster?

Dengan hadir tepat waktu di sesi ZOOM Cluster dan berpartisipasi dalam acara kolaborasi cluster dengan mencari buku anak seputar sikap optimis dan membacakan nyaring buku tersebut. Dan siap menjadi tim suporter kegiatan Cluster Meraki. 

Apa hal yang paling menantang selama mengerjakan project passion?

Ada tantangan di setiap milestone. Namun kerjasama yang baik dan kekompakan tim membuat tantangan Alhamdulillah bisa terlampaui dengan baik.

Apa favoritmu di Hexagon City?

Setiap inovasi yang hadir selalu membuat diri berdecak kagum dan berpikir, aksi produktif apa yang bisa saya hasilkan setelah mendapat inspirasi seperti ini?

What really matters? Apa sih yang penting buat Anda?

Proses pertumbuhan diri menuju seorang perempuan yang produktif dari dalam rumah.

Apakah Hexagon City penting buat Anda? Apakah project passion penting buat Anda? Apakah peran Anda penting buat Anda?

Ya.

What did I do last week?Apa yang sudah Anda kerjakan selama satu pekan ini? Satu bulan ini apa yang sudah Anda kerjakan?

Dalam satu pekan ini yang saya kerjakan adalah membuat tiga video Read Aloud. Dalam satu bulan ini yang saya kerjakan adalah menerjemahkan kosakata terkait emosi dalam bahasa Jerman, mendalami teknik Read Aloud dengan mengikuti ToT yang berjalan tiga pekan dan mengerjakan rangkaian tugasnya, juga mengisi pelatihan di Co-House seputar praktik Read Aloud.

What could I do this week?Apa yang akan Anda kerjakan?

Melakukan proses editing e-book project passion

Apa yang bisa kita kerjakan pekan ini?

Mendiskusikan isi jurnal zona Agility

What is important or urgent? Mana yang penting? Mana yang urgent?

Yang penting adalah menjalankan aktivitas yang sudah dipilih di setiap milestone pengerjaan project passion dan menuliskan setiap jurnal dengan penuh kesungguhan.

Yang mendesak adalah kejutan-kejutan yang hadir dan harus dikerjakan karena menyangkut kepentingan banyak orang. Seperti pembuatan video Read Aloud untuk Cluster. Dari sini saya belajar, bahwa kejutan senantiasa menghampiri setiap langkah kehidupan kita. Dan cara kita menentukan respon tersebut melatih ketangkasan atau agility diri kita.

Who can help? Siapa yang bisa membantu Anda?

Allah. Sebelum mengharapkan bantuan dari orang lain, saya harus yakin dengan kemampuan yang Allah berikan pada diri saya. Allah selalu bersama dan menuntun saya.

Jika kita sudah memetakan Hexagonia pada cluster, maka kita bisa melihat siapa yang bisa membantu ketika masing-masing punya tantangan.

What can I expect to get done? Apa yang bisa saya harapkan untuk bisa dikerjakan?

Project passion yang sudah disepakati sebagai karya bersama.

Who you are? Siapa Anda dan apa yang Anda kerjakan? 

Saya Mesa Dewi Puspita, yang saya kerjakan adalam beragam aktivitas yang sudah saya tuliskan diatas. 

Sungguh sebuah proses yang tak mudah untuk dilalui. Ada lika-liku tantangan yang terus menghampiri, ada keseimbangan diri yang perlu senantiasa dijaga. Semoga Allah mampukan, semoga Allah tuntun dan semoga Allah berikan keberkahan dalam setiap fasenya. Aamiin ya Rabbal’alamiin.

Wina, 9 Januari 2021

Mesa Dewi Puspita


Sumber referensi belajar :

https://www.leadershipall.com/learning-agility-5-factors/