Monday, 27 June 2016

Resume Acara : Spiritual Financial Planning oleh Isti Khairani

Resume Acara


SPIRITUAL FINANCIAL PLANNING

Flyer acara

Hari Kamis, 23 Juni 2016 lalu, alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk mengikuti acara Spiritual Financial Planning yang diselenggarakan oleh Bumi Inspirasi Learning Center dan Galenia Mom & Child Center.  Materi yang dikupas antara lain sebagai berikut :
1. Makna Harta
2. Tahapan Financial Planning
3. Financial Check Up
4Praktik Menyusun Neraca Keuangan Keluarga
5. Tips Menghitung Zakat
6. Tips Mengelola Dana THR

Materi Spiritual Financial Planning dibawakan oleh seorang Financial Trainer for Women and Kids yang sudah seperti saudara sendiri, teh Isti Khairani, ST, CFP, QWP, QFE. Beliau memulai sesi materi dengan mengajak peserta menelaah bersama mengenai makna bersyukur. Di layar ditayangkan sebuah video singkat yang menggambarkan kondisi dari seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, namun tetap menjalankan kewajiban dan ibadah dengan semangat yang luar biasa tanpa mengeluh. Ya, kesehatan dan kesempurnaan anggota tubuh seringkali menjadi kenikmatan yang luput kita syukuri.
Bagaimana memaknai rasa syukur?
Manusia memang pandai meminta, namun jarang bersyukur. Bukankah setiap tarikan nafas memberi kita kehidupan? Kita bisa menelaah makna hidup untuk menjadi manusia yang penuh syukur. Hidup yang indah dan penuh makna adalah saat kita bermanfaat bagi kehidupan orang lain dan juga bagi kehidupan luas. Makna bahagia bukan hanya sukses secara finansial, namun juga kehidupan yang seimbang untuk menuju dunia bahagia akhirat surga.
Dunia bahagia, akhirat surga. Adakah yang tak menginginkannya?
Teh Isti pun berbagi kisah perjalanannya. Beliau mengawali karier sebagai Officer Development Program (ODP) di sebuah bank ternama. Waktu berjalan, ada kegelisahan menyelinap di hati. Beliau pun pergi beribadah haji, saat itulah beliau membulatkan tekad untuk berhijrah. Meninggalkan karier sebagai pegawai bank dan mengejar passion  mengajar serta menjadi financial trainer. Inilah cikal bakal Bumi Inspirasi Learning Center dan Bank Sampah Bumi Inspirasi.

RENUNGAN MAKNA HIDUP

QS An Nisa ayat 100


Hadist :
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu bermanfaat dan doa anak sholeh. (HR. Muslim no.1631)

APA MIMPI ANDA? DUNIA BAHAGIA AKHIRAT SURGA?
Dunia bahagia masih erat kaitannya dengan kepemilikan harta.
Padahal, harta itu milik siapa?
Harta adalah titipan Allah yang merupakan sebuah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Maka, amatlah penting untuk menjaga kehalalan harta, mensucikannya dan membuat perencanaan keuangan untuk pengelolaannya.
Setiap orang, pasti membutuhkan perencanaan keuangan seumur hidup. Sebut saja diantaranya, dana pendidikan anak, dan haji, pensiun, dana darurat, beli rumah, membangun masjid dan masih banyak kepentingan lainnya.
QS Al Furqan ayat 67

Robert T.Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad) : “Berapa yang anda simpan itu lebih penting daripada berapa banyak yang anda peroleh.”

SPIRITUAL FINANCIAL PLANNING
Sacrifice (Kurban)
Pilgrimage (Haji)
Alms (Zakat)
Charity (Infaq/Shodaqoh)
Endowment (Wakaf)

Langkah-Langkah Perencanaan Keuangan Keluarga 

  1.  Menetapkan tujuan keuangan
  2. Mengumpulkan relevan data
  3. Analisis data
  4. Menghitung dan merencanakan
  5. Implementasi rencana
  6. Memonitor rencana

Membuat perencanaan keuangan diawali dengan membangun impian. Secara live, teh Isti meminta masing-masing peserta untuk menuliskan impiannya setidaknya untuk empat peran kehidupan. Yaitu, untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan ibadah. Impian dituliskan di lembaran kerta post it yang sudah dibagikan bersamaan dengan handout materi. Setelah peserta selesai menuliskan, lembar impian tersebut dilekatkan di pohon-pohon impian dalam sebuah kertas manila berukuran besar yang terletak di beberapa titik sekeliling ruangan. Beberapa peserta pun diminta untuk mempresentasikannya secara singkat. Tak hanya individu, sepasang pasutri beserta kedua putri kecilnya pun tampil, turut meramaikan sesi presentasi ini.
Setelah apresiasi dan pemberian doordprize untuk presentator, teh Isti menguatkan dengan slogan DNA.
Ya, DNA : DREAM n ACTION

Langkah Membangun Impian

Setelah impian sudah tertulis, langkah berikutnya adalah membuat tujuan keuangan. 
Berikut cara membuat tujuan keuangan yang dicontohkan beliau saat itu :



Impian yang sudah kita tuliskan, bisa kita masukkan ke dalam daftar tujuan keuangan. Kemudian, kita masukkan nilai biaya saat ini dan jangka waktu pencapaiannya, terhitung dari saat ini. Kemudian, untuk menghitung biaya di masa depan, teh Isti menyarankan untuk menggunakan formula Future Value (FV) yang tersedia di Microsoft Excel, maupun dengan kalkulator finansial. Untuk nilai yang lebih presisi, juga dapat ditaksir spesifik berdasar masing-masing aspek tujuan keuangannya. Penyusunan tujuan keuangan ini pun menjadi tugas rumah masing-masing peserta untuk didiskusikan dan dibicarakan bersama pasangan.

EVALUASI CASH FLOW  ( dalam 4 kelompok)

Cashflow Keuangan Muslim

Dalam penetapan anggaran, setidaknya terdapat 4 hak yang harus tertunaikan. Hak yang paling utama adalah hak Allah, ini mencakup zakat, infaq dan shodaqoh. Kemudian hak orang lain, seperti pemberian kepada orangtua. Selanjutnya hak masa depan, seperti tabungan pendidikan anak, cicilan rumah/kendaraan. Dan terakhir baru hak masa kini yang mencakup pemenuhan kebutuhan harian.
Peserta juga diajak untuk mengisi neraca keuangan yang formnya sudah dibagikan dengan format kurang lebih sebagai berikut :

Neraca Keuangan Keluarga
Lebaran sudah semakin dekat, tentunya erat kaitannya dengan datangnya amplop Tunjangan Hari Raya,ya? Tapi, tidak sedikit orang yang mengeluhkan, dana THR langsung lenyap begitu saja bersamaan dengan datangnya momen lebaran. Padahal, dana THR merupakan salah satu kesempatan untuk menabung juga. Nah, supaya dana THR tidak lenyap tanpa kita sadari, the Isti juga membagikan tips mengelola dana THR sebagai berikut :
  • Pisahkan pos THR dan gaji
  • SUSUN prioritas pos pengeluaran
  • Prioritaskan zakat dan hutang
  • Alokasi orangtua dan pegawai
  • Buat DAFTAR BELANJA dan catat
  • Smart shopping
  • Batasi buka bersama di luar
  • Tidak berhutang konsumtif
  • Always BBM


Mari kurangi mengeluh, buat perencanaan yang matang, bedakan keinginan dan kebutuhan dan konsisten dalam penerapannya. Kita mungkin tidak bisa mengubah semuanya, tapi setidaknya mulailah perubahan dari diri kita sendiri.
Pesan teh Isti, fokuslah pada internal rumah tangga. Gunakan strategi di skala yang kita mampu melakukannya.
Kita tidak bisa mengatur harga bahan makanan, tapi kita bisa mengatur menu di meja makan
Kita tidak bisa mengatur harga listrik dan BBM, tapi kita bisa mengatur pemakaiannya
Kita tidak bisa mengatur biaya pendidikan anak, tapi kita bisa menyiapkan dananya sedini mungkin
Kita tidak bisa mengatur terjadi atau tidak terjadinya bencana, tapi kita bisa menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi sulit.

Melihat lebih jernih, membedakan antara KEINGINAN dan KEBUTUHAN. Adalah hal yang patut dipertanyakan, jika Allah sudah memberi rezeki yang sesuai, namun kita masih selalu merasa kekurangan. Padahal ternyata karena kita belum mencoba untuk MENGELOLANYA dengan baik.
Jadi, bagaimana cara menggapai impian kita? Terutama kaitannya dengan tujuan keuangan?
  • Miliki impian besar dan tujuan keuangan
  • Selaraskan impian tersebut dengan pasangan dan orangtua
  • Kapan? Perjelas waktunya
  • Positifkan kata-kata dan yakin
  • Pantaskan diri di hadapan Allah
  • Doa, ibadah dilipatgandakan dan perbaiki diri
  • Action! Buat tujuan keuangan yang SMART
  • Diskusikan bersama pasangan hidup
  • Financial Check Up
  • Konsisten catat cashflow
  • Evaluasi cashflow ke dalam 4 kelompok
  • Implementasikan sekarang

Padat, lengkap dan aplikatif. Itulah kesan yang saya tangkap dari materi Spiritual Financial Planning yang diberikan oleh the Isti. Sesi materi berikutnya sebenarnya ada penjelasan mengenai zakat oleh DPU Daarut Tauhid, namun karena saya tidak mencatat maka tidak saya masukkan resume ini ya, khawatir lupa lalu salah J. InsyaAllah resume dari peserta lain akan melengkapi.
Selain itu, acara ini bertabur hadiah untuk peserta. Tanpa dipungut biaya, handout materi yang dibagikan cuma-cuma,  belum lagi aneka doorprize baik berupa barang maupun voucher yang diterima peserta sukses membuat peserta keluar ruangan dengan senyum lebar nan sumringah. Salut dan terimakasih banyak pada pihak penyelenggara, pemateri maupun para sponsor. Alhamdulillah, keren!

#spiritualfinancialplanning
#bumiinspirasi
#griyariset
#ODOPfor99days
#day21

Sunday, 26 June 2016

Mini Project : Berkreasi dengan Volcano Egg

[Mini Project]
26 Juni 2016

Volcano Egg
Volcano Egg bikinan kami

Bahan :
  • Beberapa butir cangkang telur yang sudah dicuci bersih bagian dalamnya
  • Sabun cuci piring
  • Pewarna makanan
  • Soda kue
  • Cuka

Cara :
  1. Letakkan dan tata cangkang telur di dalam sensory bin atau wadah telur. Kami menata cangkang di dalam sensory bin yang berisi beras warna.
  2. Masukkan beberapa tetes sabun cuci piring, beberapa tetes pewarna dan 1 sendok teh soda kue ke masing-masing cangkang telur.
  3. Tambahkan cuka secukupnya hingga terbentuk buih berwarna-warni
  4. Buih akan mengalir keluar dari cangkang telur menyerupai volcano

Dalam percobaan ini, MeGi yang berusia 26 tahun banyak berperan sebagai pengamat saja. Awalnya dia yang menetesi cuka ke dalam cangkang, tapi karena bau yang cukup menyengat, dia pun urung melanjutkan.
Pembelajaran terkait percobaan ini untuk anak berusia 26 bulan antara lain :
  1. Keterampilan menyendok dan meneteskan larutan. Dalam preparasi diatas, MeGi bertugas meneteskan pewarna makanan, dan memasukkan soda kue ke dalam cangkang.
  2. Menguatkan pengenalan warna. Saat buih belum muncul ke permukaan, MeGi melontarkan tebakan, “Hayo, warna apa Mi yang keluar?”, kami pun menebak warna versi kami masing-masing tentunya. Dan nyaris tidak ada yang tepat, tapi bergembira bersama.
  3. Membedakan bentuk buih dan balon, saat melihat buih mulai keluar dari cangkang, MeGi memekik, “Banyak balon Mi yang keluar Mi, berwarna!”. Ini menjadi momen untuk membandingkan dan mengenalkan perbedaan bentuk buih dan balon.
  4. Mengenalkan bau yang menyengat. Bau cuka memang cukup menyengat, ya? Hehe. Saat cuka mulai menetes dan baunya mulai menyergap hidung, Mei menutup hidung dan protes, “Bau Mi, bau ga enak.”. Nah, anak bisa mengidentifikasi bau enak-tidak enak, menyengat-tidak menyengat dari sini. Bau yang menyengat akan menimbulkan ketidaknyamanan sehingga membuatnya protes. Di usia lebih besar, momen ini bisa dijadikan ajang melatih cara menahan nafas.
  5. Memanfaatkan sampah. Untuk membuat percobaan ini, kami mengumpulkan cangkang telur selama beberapa hari. Saat membuka cangkang dengan lubang kecil, kemudian mencucinya hingga bersih dan menyimpannya dalam sebuah wadah, MeGi sempat menanyakan alasan tidak langsung membuang cangkang tersebut. Sayapun bercerita bahwa cangkang yang terkumpul dapat digunakan kembali untuk media percobaan, sama halnya seperti saat kami mengumpulkan botol bekas, kardus, tutup botol, maupun bahan-bahan prakarya lainnya.

#griyariset
#miniproject
#ODOPfor99days

#day19

Tugas 6 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Memahami Kekuatan Diri

MESA DEWI PUSPITA_IIP BANDUNG
NICE HOMEWORK #6

[BUNDA PRODUKTIF] IKHTIAR MENJEMPUT REZEKI

1. Mengisi ST30 dan Membaca Hasilnya serta Mencocokkan dengan Pengalaman yang Sudah Tertulis di NHW #1-NHW #5
Memahami potensi  dengan tools Talents Mapping merupakan hal yang memiliki urgensi cukup tinggi bagi peningkatan kualitas diri saya saat ini. Sebagai langkah efisiensi waktu, diperlukan alat bantu untuk mengetahui potensi dan mengarahkan saya pada aktivitas produktif yang memang “Mesa banget”. Sempat mengisi ST30 dengan hasil yang seringkali hampir sama membuat saya penasaran ingin mencoba melakukan asesmen Talents Mapping sekaligus mempelajari teknik pembacaannya. Selang beberapa waktu, Allah berikan kesempatan. Abah Rama dan tim Talents Mapping mengadakan training Talents Mapping di Bandung. Saya mengutarakan niat untuk mengikutinya kepada suami. Alhamdulillah beliau menyetujui. Kami sepakat menjadikan harga training yang cukup mahal itu sebagai sebuah investasi untuk bekal mengetahui potensi masing-masing keluarga. Itu artinya, ke depan, saya yang bertugas praktik membacakan hasil ST30 suami dan anak-anak. InsyaAllah, hehe.
Berikut hasil asesmen Talents Mapping saya :



Hasil Asesmen Talents Mapping
Bismillahhirrahmanirrahim…
Saya Mesa Dewi, ibu rumah tangga yang berusia 26 tahun. Saya bercita-cita menjadi home educator  dan fasilitator keluarga yang handal. Tujuh urutan bakat tertinggi  saya secara berurutan adalah : INPUT – SIGNIFICANCE – MAXIMIZER – FUTURISTIC – RELATOR – COMPETITION – CONTEXT. Bakat INPUT membuat saya ingin mengetahui banyak hal secara mendalam. Mudah penasaran dan suka mengulik berbagai hal baru yang saya rasa menarik. Hobi mengoleksi informasi ini memudahkan saya melakukan pencarian data, saat data tersebut dibutuhkan atau ingin dibaca kembali baik untuk diri saya sendiri maupun untuk orang lain. Di sisi lain, rasa keingintahuan akan banyak hal terkadang membuat pikiran menjadi overload dan jenuh. Sehingga saya perlu menguatkan diri untuk memegang komitmen, “Hal itu menarik, tapi saya tidak tertarik. Ketertarikan saya fokus pada pendidikan keluarga.” Untuk mengoptimalkan bakat ini, saya perlu berkolaborasi dengan orang-orang berbakat FOCUS dan DISCIPLINE supaya dapat menghasilkan pemahaman yang spesifik dan mendalam. Perpaduan bakat MAXIMIZER dan RELATOR membuat saya senang menjalin relasi, berkomunitas dengan teman-teman sevisi dan dapat menyokong orang lain untuk mencapai tujuan. Saya perlu bermitra dengan orang RESTORATIVE dalam menangani masalah, karena kemampuan saya dalam hal ini terbatas. Di keluarga, bakat MEDIATOR dan ANALYST suami sangat membantu dalam hal ini. Dengan bakat COMPETITION, berkumpul dengan teman sevisi juga membuat saya memiliki tambahan energi dari lingkungan yang kondusif untuk senantiasa memajukan kualitas diri. Bukan lagi membandingkan diri dengan orang lain, tapi membandingkan kemajuan diri dan keluarga dari waktu ke waktu. Slogan good is not enough anymore we have to be different sangat mengena pada saya, karena bakat SIGNIFICANCE yang cukup mendominasi. Berkolaborasi dengan bakat FUTURISTIC dan CONTEXT seringkali membuat perencanaan saya berkaca pada masa lalu, unik dan detil.  Untuk mengasah bakat FUTURISTIC ini, saya membutuhkan partner sesama FUTURISTIC untuk berdiskusi kreatif. Alhamdulillah suami juga memiliki bakat VISIONER, sehingga sering tercetus ide unik terkait keluarga saat Home Team Discussion  berlangsung. Karena visi yang sama inilah, lahir GRIYA RISET sebagai nama hometeam keluarga kami. Namun, kami perlu mendekatkan diri pada keluarga-keluarga maupun teman-teman yang memiliki bakat ACTIVATOR, agar tidak terlena di ranah konsep dan ide-ide tersebut dapat tertuang menjadi aksi. Mari berkolaborasi :)
Terkait dengan tugas program Matrikulasi Ibu Profesional yang terangkum dalam NHW #1 sampai dengan NHW #5, alhamdulillah pengerjaannya sudah cukup sesuai dengan hasil pembacaan asesmen talents mapping. Checklist indikator Perempuan Profesional masih saya isi setiap harinya dan meminta penilaian setiap awal bulan dari 2 customer utama saya, suami dan anak. Saat ini pengerjaannya memasuki bulan kedua dan sebentar lagi menginjak bulan ketiga. Di NHW #2 saya menuliskan peran sebagai PLANNER/ARRANGER dalam bidang pendidikan anak dengan fokus pembelajaran di usia ini adalah kurikulum TUNTAS DIRI. InsyaAllah masih on track di rencana tersebut, dan di tahun ini berupaya mencapai tuntas diri (manajemen diri, waktu, pikiran, dan komunikasi produktif di keluarga) dengan bentuk upaya antara lain : memasukkan target penerapan komunikasi produktif (power of question) pada checklist indikator perempuan profesional versi kami, membuat jadwal harian dan mematuhi cut off time, mengikuti program Matrikulasi Ibu Profesional dan kuliah online Self Driving yang diampu Rumah Perubahan via IndonesiaX dan sebagainya.

2. Memasukkan Aktivitas Produktif pada Kuadran Kepentingan.


Sekian pengerjana tugas dari saya. masukan dan saran sangat dinantikan demi perbaikan kapasitas diri.

#institutibuprofesional
#programmatrikulasi
#ODOPfor99days
#day17
#griyariset
#memahamidirisendiri





Friday, 17 June 2016

Mini Project : Persiapan Ramadan Berbagi Ceria

Mini Project
17 Juni 2016

Persiapan Ramadan Berbagi Ceria

Buku mengenai Panti Asuhan dan Celengan Koin Cinta MeGi

Sejak pengumuman akan diadakan acara Ramadan Berbagi Ceria oleh RB Playdate IIP Bandung, hati udah tergerak buat langsung daftar. Tapi agenda weekend belum pasti. Jadi belum bisa memastikan diri bisa atau tidaknya.  Urunglah mendaftar. Waktupun berlalu, harap-harap cemas antara masih bisa daftar atau tidak. Pasalnya, acara yang diadakan oleh RB Playdate hampir selalu over kuota. Ya sudah, pasrah saja. Beberapa hari menjelang hari H, jadwal weekend sudah terlihat, tanpa sengaja sempat chat via WhatsApp dengan sang ibu ketua panitia, membahas tumbang anak. Sekaliyan saja mendaftar acara RBC. Dalam hati, bismillah, kalau sudah penuh berarti memang belum jodoh. Alhamdulillah ternyata masih ada slot kursi dalam hitungan jari. Jadi insyaAllah si Mentari Pagi bisa ikutan acara Ramadan Berbagi Ceria di Panti Asuhan Bayi Sehat.
Nah, ada beberapa hari untuk sounding ke dia perihal Panti Asuhan, berbagi dengan sesama dan seputar kegiatan di acara nanti. Hari ini, kami membahas mengenai Panti Asuhan. Saat mendengar kata tersebut, ternyata dia teringat sebuah buku cerita anak miliknya, karangan mba Pipiet Senja yang berjudul Rinduku untuk Ayah. Buku tersebut menceritakan seorang anak bernama Izal yang rindu pada ayahnya yang bekerja nun jauh di negeri Taiwan. Untuk mengobati rasa rindu sang anak, atas inisiatif kakek-nenek, ibunya membawa Izal ke sebuah Panti Asuhan. Saat bermain bersama anak-anak Panti itulah, Izal tersadarkan bahwa dia jauh lebih beruntung dibanding anak-anak tersebut. Sepulang dari Panti, Izal menjadi lebih bersyukur, semakin giat belajar dan rutin bermain ke Panti. Saat dibacakan buku ini, si Mentari Pagi mengenal makna meninggal dunia. Dia mulai paham bahwa anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan, sudah tidak memiliki orangtua.
Karena panitia juga memberikan woro-woro bahwa nanti saat acara bisa langsung memberikan koin sejuta cinta, MeGi pun mengambil celengannya dan mempersiapkannya untuk dibawa saat acara. Celengannya sudah dibuat sejak lama, dari kaleng bekas susu Mbah Uti, ditempel gambar pesawat hasil karya Abiya yang menjadi favorit MeGi dan dihias kertas kokoru di ujung-ujungnya.
Semoga persiapan sederhana ini menguatkan pemahamannya untuk senang berbagi dengan sesama. Terimakasih bubu Wiwik Wulansari, teh Ismi Fauziah, teh Wening dan teh Miranti yang sudah menginisiasi acara ini.

Semoga acara hari ini berjalan lancar dan dalam ridho Allah, aamiin…
#ramadanberbagiceria
#playdateiipbandung
#ODOPfor99days
#day15
#griyariset



Materi 5 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Learn How to Learn

Males baca resume? Intip Mind Mapnya aja :)

MATERI 5 PROGRAM MATRIKULASI BATCH #1

Alhamdulillah di hari Senin kemarin, bergeser ke pukul 13.00-14.00 WIB kami dapat kembali belajar bersama di program matrikulasi Ibu Profesional. Untuk mematangkan pemahaman dan memudahkan ingatan setiap kali membuka catatan, saya membuat mind map ringkasan materi. Sangat sederhana sekali, memang, Tapi sangat berguna bagi saya pribadi. Lebih lengkapnya mengenai materi ini, langsung simak materi lengkapnya saja ya. 

BELAJAR BAGAIMANA CARANYA BELAJAR

(Learn How to Learn)

Bunda, sebagaimana yang sudah kita pelajari sebelumnya, bahwa fitrah yang dimiliki anak sejak lahir adalah fitrah belajar. Tetapi mengapa sekarang ada  anak yang senang belajar dan ada yang tidak suka.
Suatu pekerjaan yang berat jika dilakukan dengan senang hati maka pekerjaan yang berat itu akan terasa ringan, dan sebaliknya pekerjaan yang ringan atau mudah jika dilakukan dengan terpaksa maka akan terasa berat atau sulit.
Jadi suka atau tidaknya pada suatu pekerjaan itu bukan bergantung pada berat atau ringannya suatu pekerjaan. Lebih kepada rasa. Maka membuat kita bisa terhadap sesuatu itu mudah, menjadikannya suka itu baru tantangan.
Bagaimana halnya dengan belajar ? berat atau ringan ?
Bisa berat bisa juga ringan bergantung bagaimana kita bisa mengemasnya dengan cara yang sangat menyenangkan atau tidak.
Melihat perkembangan dunia yang semakin canggih dapat kita rasakan bahwa dunia sudah berubah dan dunia masih terus berubah. Perubahan ini semakin hari semakin cepat sekali. Maka anak kita sudah tentu akan hidup di jaman yang berbeda dengan jaman kita.Apa yang perlu kita persiapkan untuk anak kita ?
Anak kita perlu belajar akan tiga hal:
1. Belajar hal berbeda           
2. Cara belajar yang berbeda
3. Semangat belajar yang berbeda

1. Belajar Hal Berbeda

Apa saja yang perlu di pelajari ? Yaitu dengan belajar apa saja yang bisa:
a.Menguatkan imannya, ini adalah dasar yang amat penting bagi anak-anak kita untuk meraih masa depannya
b.Menumbuhkan karakter yang baik, seperti, kejujuran
c.Menemukan passionnya (panggilan hatinya)

2. Cara Belajar Berbeda

Jika dulu  kita dilatih untuk terampil menjawab, maka latihlah anak kita untuk terampil bertanya. Keterampilan bertanya ini akan dapat membangun kreativitas anak dan pemahaman terhadap diri dan dunianya. Kita dapat menggunakan jari tangan kita sebagai salah satu cara untuk melatih keterampilan anak2 kita untuk bertanya.
Misalnya :
Ibu jari : How
Jari telunjuk : Where
Jari tengah : What
Jari manis : When
Jari kelingking : Who
Kedua telapak tangan di buka : Why
Tangan kanan kemudian diikuti tangan kiri di buka : Which One
Jika dulu kita hanya menghafal materi, maka sekarang ajak anak kita untuk mengembangkan struktur berpikir. Anak tidak hanya sekedar menghafal akan tetapi perlu juga dilatih untuk mengembangkan struktur berpikirnya. Jika dulu kita hanya pasif mendengarkan, maka latih anak kita dg aktif mencari. Untuk mendapatkan informasi tidak sulit hanya butuh kemauan saja. Jika dulu kita hanya menelan informasi dari guru bulat-bulat, maka ajarkan anak untuk berpikir skeptik.
Apa itu berpikir skeptik ?
Berpikir skeptik yaitu tidak sekedar menelan informasi yang didapat bulat-bulat. Akan tetapi senantiasa mengkroscek kembali kebenarannya dengan melihat sumber-sumber yang lebih valid.

3.Semangat Belajar yang Berbeda

Semangat belajar  yang perlu ditumbuhkan pada anak kita adalah :
a.Tidak hanya sekedar mengejar nilai rapor akan tetapi memahami subjek atau topik belajarnya
b.Tidak sekedar meraih ijazah/gelar tapi kita ingin meraih sebuah tujuan atau cita-cita.
Ketika kita mempunyai sebuah tujuan yang jelas maka pada saat berada di tempat pendidikan kita sudah siap dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan. Maka pada akhirnya kita tidak sekedar sekolah tapi kita berangkat untuk belajar (menuntut ilmu). Yang harus dipahami, menuntut ilmu bukan hanya saat sekolah, tetapi dapat dilakukan sepanjang hayat kita.

Bagaimanakah dengan strategi belajarnya?

• Dengan menggunakan strategi Meninggikan Gunung bukan Meratakan Lembah.
Maksudnya adalah dengan menggali kesukaan, hobi, passion, kelebihan, dan kecintaan anak-anak kita terhadap hal-hal yg mereka minati dan kita sebagai orangtuanya memberikan support semaksimal mungkin. Misalnya jika anak suka bola maka mendorongnya dengan memasukkannya pada klub bola, maka dengan sendirinya anak akan melakukan proses belajar dengan gembira.
Sebaliknya jangan meratakan lembah,yaitu dengan menutupi kekurangannya, misalnya apabila anak kita tidak pandai matematika justru kita berusaha menjadikannya untuk menjadi pandai matematika dengan menambah porsi belajar matematikanya lebih sering (memberi les misalnya). Ini akan menjadikan anak menjadi semakin stres.
Jadi ketika yang kita dorong pada anak-anak kita adalah keunggulan atau kelebihannya maka anak-anak kita akan melakukan proses belajar dengan gembira. Orangtua tidak perlu lagi mengajar atau menyuruh-nyuruh anak untuk belajar akan tetapi anak akan belajar dan mengejar sendiri terhadap informasi yang ingin dia ketahui dan dapatkan. Inilah yang membuat anak belajar atas kemauan sendiri, hingga ia melakukannya dengan senang hati.

Bagaimanakah membuat anak menjadi anak yang suka belajar ?

Caranya adalah :
a. Mengetahui apa yang anak-anak mau atau minati
b. Mengetahui tujuannya, cita-citanya
c. Mengetahui passionnya
Jika sudah mengerjakan itu semua maka anak kita akan meninggikan gunungnya dan akan melakukannya dengan senang hati.
Good is not enough anymore we have to be different
Baik itu tidak cukup (karena orang baik itu banyak) tetapi kita juga harus punya nilai lebih (yang membedakan kita dengan orang lain).
Peran kita sebagai orang tua  adalah:
• sebagai pemandu : usia 0-8 tahun
• sebagai teman bermain anak-anak kita : usia 9-16 tahun.
Kalau tidak maka anak-anak akan menjauhi kita dan anak akan lebih dekat/percaya dengan temannya.
• sebagai sahabat yang siap mendengarkan anak-anak kita : usia 17 tahun keatas

Cara mengetahui passion anak adalah :
  • Observasi (pengamatan)
  • Engage (terlibat)
  • Watch and listen (lihat dan  dengarkan suara anak)

a.Perbanyak ragam kegiatan anak, olahraga, seni dan lain-lain
b.Belajar untuk telaten mengamati, dengan melihat dan mencermati terhadap hal2 yang disukai anak kita dan apakah konsisten dari waktu ke waktu. Diajak diskusi tentang kesenangan anak, kalau memang suka maka kita dorong.
Cara mengolah kemampuan berpikir anak adalah dengan :
-Melatih anak untuk belajar bertanya,
Caranya:
- Dengan menyusun pertanyaan sebanyak-banyaknya mengenai suatu obyek.
- Belajar menuliskan hasil pengamatannya
- Belajar untuk mencari alternatif solusi atas masalahnya
- Presentasi yaitu mengungkapkan akan apa yang telah didapatkan atau dipelajari.
- Sedangkan kemampuan berpikir pada balita bisa ditumbuhkan dengan aktif bertanya pada si anak.
Selamat praktek,

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni/


SESI TANYA JAWAB

1. Ina_Balikpapan
Bu Septi, saat melepas ananda berjuang di negeri orang apa ada hal yang dikhawatirkan dan bagaimana mengatasi hal tersebut?
Jawab : Ini proses belajar mbak. Ketika anak-anak memilih untuk kuliah di luar negeri maka kami memperkuat materi pokok sebelumnya tentang iman, akhlak, adab dan bicara. Kemudian melatih kemandirian, melatih kuota gagal anak-anak, menstimulus kecerdasan finansial. Hal ini yang kami utamakan. Jadi intinya adalah memperkuat "ketrampilan hidup" anak-anak. Setelah itu tinggal nguatin doa.

2. Uput_Bandung
Bu Septi, kalo menghadapi anak yg diesel gimana ya?panasnya luamaaaaaa......
Jawab : Mulailah observasi, apa yang paling membuat dia bersemangat, kemudian libatkan diri kita dalam proses belajar bersama mereka,  jangan hanya menyuruh, tetapi memulai sebagai teman bermain. Selanjutnya dengarkan suara anak, jangan terlalu banyak kasih perintah.

3. Dewi May_Bandung  
Bunda Septi, menstimulus kecerdasan finansial anak sejak usia berapa tahun? Atau menjelang berangkat ke luar negeri?
Jawab : Ada tahapannya teh, sejak anak-anak sudah mengenal angka (sekitar usia 7-9 tahun) maka dikenalkan pada nilai mata uang, kemudian sekitar usia 9-12 tahun, dilatih dengan mengelola uang saku secara produktif, anak-anak sudah mengajukan mini budget. Usia 12 tahun keatas mereka belajar mengelola uang secara produktif, uang saku sudah menjadi modal usaha anak-anak. Sampai akhirnya mereka siap mengelola uang dari hasil jerih payahnya sendiri di usia 14 tahun.

4. Laila Muhamad dib_Aceh
Bagaimana cara kita mengetahui passion si anak, jika sudah menelusuri dengan pengamatan, terlibat dan seterusnya? Kita selaku orangtua merasa telah  menemukan yang "anakku banget", tapi masih ragu-ragu. Ini dibiarkan mengalir dulu atau langsung diarahkan? Takutnya ini hanya kesimpulan sementara. Mengingat usia anak 6.6 tahun. Masih berubah-ubah kan ya kesenangannya?
Jawab : mbak laila, anak usia 2-7 th normalnya adalah selalu berubah-ubah keinginannya. Maka tugas kita adalah menemani perubahan itu dan bersungguh-sungguh menanggapinya, jangan disepelekan meski itu keinginan anak-anak yang kadang (masih dianggap kecil) sehingga tidak diperhatikan. FOKUS pada PROSES bukan pada hasil. Ketika kita menemani dengan sungguh sebuah proses menemukan passion, maka anak-anak akan paham, bagaimana cara merealisasikan sebuah keinginan menjadi realitas. Bidangnya boleh berganti-ganti. Nanti amati, apakah anak-anak konsisten dengan peran hidupnya atau bidang yang ditekuninya. Kedua hal ini akan berbeda perlakuan.

5. Evi_Lampung
Seperti saat ini , anak saya ( 4,5 tahun) bergairah sekali ketika bertanya dan bercerita tentang tata surya.
Bagaimana ya bu tips nya, ketika kita ingin memperkenalkan yg lain sedangkan dia masih antusias dengan tema yang ini.
Jawab : Mbak Evi, kurikulum personal itu mengikuti anak, bukan anak yang diminta mengikuti kurikulum. jadi ijinkanlah anak-anak mempelajari satu hal dengan mendalam, jangan khawatir ketinggalan materi yang lain, toh kita sudah tidak akan membandingkan pencapaian anak kita dengan anak orang lain kan?. Yakinlah bahwa sejatinya anak akan hidup dengan satu keahlian yang dikuasai secara mendalam.

6. Diah Soehadi _Depok
Anak umur 9 tahun, dari kecil suka hal-hal logic math, saat ini suka bikin program komputer khususnya game, waktu luangnya habis untuk main yoyo dan bikin game. Apakah masih harus ditambah wawasan atau sudah mulai bisa masuk ke gagasan?
Jawab : Mulailah masuk gagasan mbak, dengan memandu anak-anak membuat papan mimpinya (vision board). Setelah itu buatlah kegiatan brainstorming bersama anak. Dengan panduan pertanyaan :
a. Mengapa
b. Bagaimana Jika
c. Mengapa tidak
Nanti akan muncul berbagai gagasan anak-anak bisa dari yoyo nya atau dari gamenya. Kita harus pintar-pintar memaknai dimana waktu yang paling banyak dihabiskan oleh anak-anak sebagai waktu yang paling dinamis dan produktif belajar.

7. Diah _Depok  
Lanjut nanya ya Bu. Pernah saya tanyakan , mimpi-mimpinya apa saja? Sekarang aku pengen bikin game yang ada trik yoyonya, tapi kalau besar aku mau jadi walikota.
Jawab : Tanggapi serius, mulai dengan "game yang ada trik yoyonya", jangan pernah tanyakan apapun. Yang ada di depan kita saat ini, hadapi. Toh kita juga tidak bisa memastikan kelak dia jadi gamers atau walikota kan? maka perkuat prosesnya. Dulu ketika Ara usia 9 tahun bilang ingin jadi peternak, saya tanggapi dengan serius sampai muncul Moo's Project. Tapi apakah hari ini dia jadi peternak, ternyata tidak, peternakan itu ternyata hanya lantaran Ara memperkuat peran hidupnya sebagai integrator. Saat ini di usianya yang ke 18 tahun, Ara sangat mahir sebagai integrator, dalam berbagai bidang.

8. Noni _Tangerang  
bu Septi... untuk mendidik anak kita menjadi generasi khalifatul fil ardh yang berkualitas,berarti kan anak harus  mendapatkan guru pendidik utama yang berkualitas pula. Yang artinya orangtuanyalah yang haruslah lebih dahulu berkualitas. Apa yang menjadi kategori bahwa orangtua cukup berkualitas ilmunya dalam mendidik anak-anaknya. Dan seandainya orangtua belum berkualitas maka prosesnya learning by doing. Dalam proses learning by doing ini mana dulu yang harus diutamakan. Mohon masukannya bu Septi.
Jawab : Mbak Noni, anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah mengcopy. Maka berperilaku baik terlebih dahulu untuk bisa dicontoh anak-anak, itu modal awal kita menjadi orangtua yang berkualitas. Kemudian mau menemani anak berproses mencari ilmu, tidak harus serba bisa, tetapi selalu punya kemauan kuat untuk menemani, selayaknya petani menemani tumbuhnya tanaman dengan cara alami tidak digegas. Ingat dalam mendidik anak kita tidak mengajar melainkan “tumbuh bersama”. Sehingga indikator orangtua berkualitas adalah diantara keduanya, anak dan ortu, bersemangat belajar bersama-sama. Pengalaman saya mendampingi anak-anak secara optimal itu ternyata hanya di 12 tahun pertamanya saja. Setelah itu anak-anak akan menemukan orangtua "ideologis" nya yang akan menjadi mentor mereka. Yang paling sedih adalah kalau kita hanya berfungsi menjadi orangtua "biologis' saja, tidak sekaligus menjadi orangtua "ideologis"nya disaat mereka masih dibawah 12 tahun. Anak-anak akan berbeda value hidup dengan kita, sehingga proses berikutnya mereka akan mencari orangtua "ideologis" yang sevalue dengan dirinya, yang belum tentu sevalue dengan kita. Ini menyedihkan.

9. Evi_Lampung
Jadi kurikulum personal itu dibuat berdasarkan keinginan anak. Caranya bagaimana, Bu? Apa kita tidak boleh ada target untuk iman, adab dan lain-lain?
Jawab : Selama ini anak-anak dipaksa mengikuti kurikulum yang sudah baku, padahal kurikulum itu harusnya mengikuti karakter unik anak kita. Apa tidak boleh bikin target? Boleh, target itu sesuaikan dengan value keluarga dan diskusikan dengan anak. Kalau saya dulu memberikan keleluasaan anak-anak untuk menentukan targetnya sendiri. Dan kita apresiasi ketika target tersebut tercapai, dengan family forum yang bernama mastermind. Kalau tidak tercapai, maka sebulan sekali kami buat family forum yang bernama "False Celebration", sehingga anak-anak akan belajar dari kesalahan mereka.

10. Ai_Bandung.
Usia 0-7 tahun, tugas kita sebagai pemandu, untuk pemandu kemandirian, OK. Tapi saat bermain, kami (saya dan suami) lebih sering jadi teman bermain. Bagaimana, apakah sudah tepat bu?
Jawab : Teh Ai, pemandu itu bahasa kerennya adalah fasilitator, maka tugas fasilitator adalah menemani proses tumbuh kembang anak, tanpa menjudge apapun, kemudian memberikan makna dalam proses tersebut. Maka baik dalam proses memfasilitasi kemandirian maupun memfasilitasi bermain, semua dalam posisi "menemani" tidak ada yang "menggurui"

11. Fahrina_Singapura
Bu Septi.. Apa yang sebaiknya dilakukan bila anak sudah 15 tahun dan belum yakin passionnya apa. Bgmn caranya agar cepat tahu passionnya?
Jawab : Beragamkan aktivitasnya mbak, jangan seragam. Maksud saya seragam, anak-anak hanya berada di lingkungan yang sama terus menerus dengan aktivitas yang sejenis. Misal pagi-sore mereka sudah sekolah full day, kemudian hari libur masih diminta memperkuat bidang pelajarannya. Hal ini membuat anak-anak kehilangan waktunya untuk mengeksplorasi dirinya. Sehingga proses menemukan dirinya akan jadi lambat. Anak-anak akan jadi orang yang ikut mimpi orang lain, atau ikut arus saja, tanpa tahu potensi kekuatan dirinya apa.

Selesai.

#ODOPfor99days
#day14
#institutibuprofesional

#griyariset

Tuesday, 14 June 2016

Mengurus Pembuatan Paspor di Kantor Imigrasi Bandung

Yuk, bikin paspor. Siapa tahu jadi bonus travelling :)

Beberapa minggu lalu kami berkesempatan mengurus pembuatan paspor jalur online. Tepatnya di awal bulan Juni kemarin. Apa yang kami alami, kami upayakan rangkum dalam catatan singkat ini.
Dokumen apa saja yang perlu dibawa?
Setelah berkunjung ke webnya, dan mempelajarinya, kami membawa dokumen berikut dan memberikan copyannya sebagai lampiran persyaratan :
  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) diri (untuk anak-anak, KTP ayah ibu dan copy keduanya menyatu dalam 1 halaman)
  2. Kartu Keluarga (KK)
  3.   Akte Kelahiran/Surat Nikah/Ijazah (membawa semuanya)
  4.  Paspor/SPLP lama
  5. Bukti pembayaran

Mau hemat waktu, hemat uang, hemat tenaga? hehe. Yuk bawa peralatan penunjang. Disana memang ada toko stationary dan tempat fotocopy, tapi karena yang membutuhkannya banyak orang, maka antriannya pun cukup panjang. Lumayan kan waktunya bisa untuk mengisi berkas dan mengantri. Lebih baik kalau peralatan penunjang berikut bisa dibawa dari rumah :
  1. Pulpen hitam untuk mengisi form
  2. Materai sesuai kebutuhan (antara lain untuk berkas tiap pemohon,untuk surat keterangan orangtua kalau membuat paspor anak, dan untuk mengambil paspor lama)
  3. Lem (untuk menempel materai)

Alur mengurus pembuatan paspor jalur online (sudah mengisi form secara online dan melakukan pembayaran di bank) kurang lebih sebagai berikut :

Datang ke Kantor Imigrasi

Kali ini kami bertiga (saya, suami dan anak) datang untuk mengurus pembuatan paspor saya dan anak. Suami sudah mengurus beberapa bulan lalu. Atas rekomendasi suami, kami niatkan untuk berangkat pagi-pagi sekali. Waktu itu kami datang sekitar jam 06.30, langsung masuk dan memaparkan keperluan ke petugas. Kemudian mendapat nomor antrian dan diarahkan untuk mengisi berkas. Bagi pemohon yang kekurangan peralatan maupun copy lampiran persyaratan untuk mengisi form, bisa ke toko stationary di bagian belakang kantor Imigrasi (dekat parkiran motor)

Pengisian Berkas

Berkas berupa map yang berisi 2 lembar form, lembar pertama adalah surat pernyataan yang nanti perlu dilengkapi dengan materai sedangkan lembar kedua berisi kolom-kolom identitas.
Untuk pembuatan paspor anak, ditambah 1 lembar isian berupa surat keterangan orangtua yang nantinya perlu dilengkapi dengan materai juga.

Pengecekan Berkas

Jam buka pelayanan kantor Imigrasi adalah jam 07.30. Maka begitu jam dinding menunjukkan pukul 07.30 tepat, pemanggilan nomor antrian sudah mulai dilakukan. Bahkan sebelum jam tersebut, sudah ada pengumuman alur antrian oleh petugas. Pelayanan mendahulukan pemohon yang lansia dan balita. Jadi alhamdulillah si Mentari Pagi bisa didahulukan. Kami antri bertiga saat pengecekan berkas, alhamdulillah berkas lengkap. Kemudian dia mendapat nomor antrian untuk foto dan beralih ke jalur  loket antrian. Suami membersamainya sedangkan saya antri kembali di jalur online untuk pemeriksaan berkas saya. Saat itu saya mendapat nomor antrian 8, sehingga alhamdulillah tidak terpaut terlalu jauh. Saat di meja pengecekan, petugas terheran-heran karena saya tidak sekaliyan saja tadi mengurusnya, bersamaan dengan pengecekan berkas anak. “Oh, boleh ya pak? Karena tadi khusus balita, saya beranggapan kalau terpisah. Karena saya bukan balita dan harus sesuai dengan nomor antrian yang saya dapatkan.” Jawab saya. Tapi petugas pun memiliki alasan logis. Karena jika bersamaan, pengecekannya juga akan lebih cepat, sekali jalan dan tidak dua kali kerja. Baiklah, jadi pembelajaran.

Sesi Foto dan Wawancara

Di sesi foto ini, saya dan Megi memiliki nomor antrian yang terpaut cukup jauh. Megi di loket 1 sedangkan saya dipanggil ke loket 7. Tidak memakan waktu lama di proses ini, cukup cek identitas, foto dan menjawab beberapa pertanyaan seputar rencana perjalanan. Untuk anak kecil, khusus menggunakan loket 1. Petugas di loket itu cukup komunikatif dan ramah anak. Bagi balita seumuran Megi, cukup berdiri saja di kursi di hadapan petugas. Kemudian nanti petugas akan mengarahkan posisi dibantu dengan orangtua. Lucu, anak-anak kecil tiba-tiba menunjukkan mimik tegang saat sesi foto ini. Hihi
Setelah itu, pemohon akan diberikan kertas tanda bukti pengambilan paspor. Paspor bisa diambil 3 hari setelah rangkaian proses diatas.

Pengambilan Paspor

Saat pengambilan paspor, kami berangkat agak siang. Jam 07.00 baru sampai di kantor Imigrasi. Langsung menuju petugas yang berwenang (akan ditunjukkan tempatnya oleh petugas), dengan menunjukkan surat tanda pengambilan. Setelah surat dikumpulkan, kita tinggal menunggu panggilan. Saat dipanggil, petugas akan memberikan nomor antrian pengambilan paspor di loket seberangnya. Pemohon dipersilahkan menunggu panggilan sesuai nomor antrian. Pemanggilan dimulai dari jam 07.30. saat dipanggil, cukup membawa pulpen saja untuk membubuhkan tanda tangan. Oya, bagi yang sebelumnya sudah memiliki paspor, paspor yang sudah tidak berlaku bisa diminta ke petugas, cukup dengan mengisi form yang dilengkapi dengan materai. Pasporpun bisa dibawa pulang dan siap digunakan.

Alamat Kanim Kelas I Bandung : Jalan Suropati no.82 Bandung 40122

Semoga bermanfaat, :)

#griyariset
#menguruspaspor
#ODOPfor99days

#day13

Saturday, 11 June 2016

Friday, 10 June 2016

Saat Aku Menjadi Kita...

Setelah kita bersama, tak ada lagi harapanku, pun harapanmu. Keduanya melebur menjadi harapan kita. Pun dengan mimpi, keinginan, cita dan kepentingan. Bukankah kita bersama karena yakin memiliki arah tuju yang sama? Pun membangun hal besar yang kita impikan bersama. Jika benar demikian, bukankah menyingkirkan ego diri memang sudah sepatutnya kuupayakan penuh sungguh? Hal yang sudah lebih dulu kau contohkan padaku, dalam banyak hal. Demi mengharap ridaNya :)

#griyariset
#renunganmicha
#ODOPfor99days
#day11

Tuesday, 7 June 2016

Mini Project : Mengenal Resiko dan Tanggung Jawab

1 Juni 2016
[Mini Project] Sesi 2

Mengenal Resiko dan Tanggung Jawab


Ambil - Mainkan - Kembalikan

Setelah pagi tadi berkunjung ke kantor Imigrasi Bandung, kegiatan sore hari adalah di luar rencana dan sempat membuat Ummi terkaget-kaget. Siang itu Ummi sedang asyik di dapur, sedangkan MeGi berekplorasi di ruang tamu setelah sesi membaca bersama. Ruang tamu dan dapur nyaris tak ada jarak, sehingga saya bisa mengamatinya dengan mudah sembari beraktivitas. MeGi datang menghampiri Ummi di dapur, mengambil kursi kecil yang biasa Ummi gunakan untuk mengambil barang di lemari gantung.

“Pinjam ya Mi, buat naik.” Ujarnya meminta izin dan Ummi balas dengan kalimat singkat, “Iya Nak, hati-hati ya”

Sesaat kemudian, dia sudah asyik berusaha naik kursi untuk mengambil barang di rak buku bagian atas, di ruang tamu. Ummi tak menaruh curiga sedikitpun. Berapa saat kemudian, Ummipu menghampiri MeGi. Olala, lumayan kaget juga, ternyata dia tadi mengambil push pin yang Ummi sembunyikan di rak buku bagian atas. Jadi, dia anteng karena sedang bermain menancapkan push pin  ke atas busa spons bekas alas setrika yang memang sering kami gunakan sebagai media bermain.

Tahan nafas sejenak, perlahan hembuskan. 
Bertanya dengan suara lembut tapi khawatir,“Waah…lagi asyik main ini ternyata. Kereeeen… Kira-kira tadi ada yang jatuh ke lantai nggak ya?”
“Ngga koq Mi” dijawabnya dengan mantap dan menenangkan. Seolah menangkap kekhawatiran pada nada bicara Umminya.
Hmm…mencoba memberi kepercayaan padanya dan menjelaskan resikonya, “Oke, hati-hati ya mainnya. Kalau ada yang jatuh ke lantai (tercecer) langsung dimasukkan ke tempatnya ya. Kalau kena kaki, bahaya, bisa berdarah.”
“Berdarah? Kayak kami dek MeGi dulu?” tanyanya sembari mengingat saat kakinya terluka terkena pecahan kaca.
“Iya, berdarah. Kayak waktu itu. Tapi ini kan jarum, lukanya bisa sampai dalam, lebih sakit. Nih, sakit kan?” Sembari menggoreskan jarum push pin ke kakinya dia dengan perlahan.
“Oo..sudah pernah koq Mi”

Heu, dia mengira terluka atau berdarah itu kejadian sekali mungkin ya. Geli juga mendengar jawabannya, entah diawab santai karena merasa luka di kaki waktu itu cukup tidak sakit atau merasa kalau sudah pernah terluka ya tidak akan terluka lagi. Hahaha
Akhirnya saya ikut bermain dengannya. Menancap push pin di busa hingga tertempel semua. Nampaknya dia puas. Selanjutnya saya kembali ke dapur.  Beberapa menit kemudian, dia memanggil ia kembali. Kali ini dengan membawa sesuatu, dia berusaha mendekati saya. Belum sampai di dapur, terdengar bunyi barang-barang kecil yang jatuh. Rupanya barang yang dia bawa, berceceran di lantai, dan barang itu adalah PUSH PIN! Yeah…kaget rasanya, tapi mencoba menahan diri. Kami pungut bersama. Dari situ saya tahu, rupanya dia ingin menunjukkan pada Umminya, bahwa push pin yang tadi dia gunakan untuk bermain, sudah dia rapikan dan kembalikan ke tempatnya. Bersih, rapi, satupun tak ada yang tertinggal di lantai. Saya pun menyadari untuk perlu segera switch, dia bukan tidak hati-hati, tapi sudah bertanggungjawab membereskan mainan dan bersemangat menunjukkannya segera ke Umminya. Karena saking semangatnya itulah, sehingga sampai bisa berceceran di lantai saat dia membawanya pada Ummi. Ummi mengapresiasimu, Nak. Terimakasih telah belajar dengan baik J

#ODOPfor99days
#day10
#griyariset

#miniproject

Mini Project : Berkunjung ke Kantor Imigrasi Bandung


1 Juni 2016
[Mini Project]

Hari ini, ada 2 mini project yang dilakukan oleh Mentari Pagi. Sejak malam sebelumnya, kami sudah sounding supaya keesokan harinya dia bangun pagi karena kami akan berangkat awal menuju kantor imigrasi untuk membuat paspor. Pagi itu, pukul 5.30, saya dan suami sudah mulai bersiap. Mentari Pagi belum menunjukkan tanda-tanda bangun tidur. Sembari bersiap, kami panggil-panggil dia, masih juga belum ada jawaban. Jam dinding sudha menunjukkan pukul 06.00, kami berdua memutuskan untuk membangunkannya sekali lagi, jika masih juga terlelap, maka kami langsung menggendongnya dan membawakannya baju ganti untuk ganti saat antri disana nanti. Kami menggoyang badannya perlahan, belum ada tanggapan. Bismillah, kami menggendongnya. Nah, saat itu juga, dia mulai membuka mata. Selesai membacakan doa bangun tidur, kami ingatkan padanya bahwa hari sudah pagi, kita mau berangkat untuk mengurus paspor. Mendengar kalimat tersebut, alhamdulillah dia merespon dengan baik.

“ Udah pagi ya Mi? Mau berangkat, bikin paspor?”
“Iya, kita harus berangkat pagi-pagi, supaya antrinya ndak terlalu panjang. Yuk, berangkat.”

Setelah berbincang sejenak, kami bertiga berangkat.
Sesampainya di kantor imigrasi, kami diarahkan untuk segera mengisi berkas. Kami mencari tempat duduk yang nyaman, dan sayapun mulai mengisi berkas. Si Mentari Pagi masih mengamati ruangan dan keadaan. Jam menunjukkan pukul 06.30, belum terlalu banyak orang yang datang. Di sela pengisian berkas, saya menawarkan air minum dan roti padanya. Bangun tidur, pastilah dia lapar. Benar saja, air minum direguknya beberapa kali. Rotipun dia buka dan 1 potong besar nyaris dia habiskan sendiri. Bersamaan dengan saya selesai mengisi berkas, dia menunjukkan muka belepotan selai coklat. Berkas saya berikan pada suami, dan kemudian bergegas ke kamar mandi membersamai Mentari Pagi. Kami keluar melalu pintu depan, ternyata kamar mandinya ada di belakang, di dekat parkir motor. Terdiri dari 2 kamar mandi dengan WC jongkok. Sebenarnya ada wastafel di sebelahnya, tapi karena cukup tinggi dan si MeGi kesulitan menjangkaunya, kami mencuci tangan di kamar mandi. Alhamdulillah, dengan demikian dia bisa menyalakan kran dan membersihkan mulutnya sendiri. Selanjutnya, kamipun kembali ke ruang antrian.
Antrian dibuka tepat pukul 07.30, untuk pemohon lansia dan balita, didahulukan pelayanannya, termasuk untuk MeGi. Pengecekan berlangsung cepat, berlanjut dengan mendapatkan nomor antrian untuk foto diri. Sebelum foto, kami menunjukkan anak-anak yang sedang difoto oleh petugas imigrasi. Dia mengangguk-angguk mengerti. Anak kecil foto dengan posisi berdiri. Sekilas mengamati, alhamdulillah petugas yang melayani sesi foto anak, cukup interaktif dengan anak. Selama proses, beberapa kali bapak tersebut  menebar senyum, mengajak MeGi berceloteh dan tidak terburu-buru. Saya tak bisa mendampinginya hingga selesai karena antri di loket yang lain dan cukup berjauhan. Tapi alhamdulilah dia tenang dengan dampingan Abinya. Saat saya kembali, dia juga sudah difoto. Lucu hasilnya, mimik wajahnya serius gimana gitu :D

Sepulang dari kantor imigrasi, saya bertanya padanya.
U : Tadi darimana?
M : Kantor imigrasi.
U : Buat apa kesana?
M : Bikin paspor.
U : Terus, disana Mbak ngapain aja?
M : Duduk, terus difoto, cekriiiik..gitu, Mi
U : Ooo..gitu. Memang paspornya buat apa sih Mba?
M : Buat dibaca-baca Mi
U : Haaaa…oke. Baiklah :D

Alhamdulillah mengurus paspor jalur online di kantor Imigrasi Bandung cukup ramah bagi anak. Pelayanannya cepat dan singkat (*asal berangkat pagi) membuat anak tidak sempat rewel. Kalau dihitung, hanya 1.5 jam waktu yang kami perlukan untuk mengurusnya. Jam 06.30 sampai kantor, jam 08.00 urusan selesai. Mengenai detil pengurusan paspornya, saya tulis di tulisan lain ya, InsyaAllah.
#ODOPfor99days
#day9
#griyariset

#miniproject

Materi 4 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Ibu, Manajer Keluarga Handal

Senin kemarin, kami kembali bertemu di ruang WhatsApp untuk masuk ke tahap belajar selanjutnya, materi keempat. Berhubung ramadan, jam belajar yang awalnya setiap 20.00-21.00, menyesuaikan menjadi jam 09.00-10.00. Dengan dipandu host mba Andit dari IIP Malang Raya, diskusi berlangsung efektif dan efisien. Materi yang padat ilmu di lanjutan dengan tanya jawab sebanyak 7 pertanyaan yang memotivasi. Menguatkan tekad, mengayun langkah, untuk bersama menjadi ibu profesional. Berikut resume materinya,

PROGRAM MATRIKULASI IBU PROFESIONAL BATCH #1
MATERI KE #4

IBU, MANAJER KELUARGA HANDAL

Mind Map materi buatan pribadi

MOTIVASI BEKERJA IBU 

Ibu rumah tangga adalah sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik. Sedangkan ibu bekerja adalah sebutan untuk ibu yang bekerja di ranah publik. Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib profesional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus SELESAI dengan manajemen rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu rumah tangga, akan lebih profesional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang ibu bekerja, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.
Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?
a. Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
b. Apakah didasari sebuah KOMPETISI, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
c. Apakah karena PANGGILAN HATI, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.
a. Kalau anda masih ASAL KERJA maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
b. kalau anda didasari KOMPETISI, maka yang terjadi anda stres, tidak suka melihat keluarga lain sukses
c. Kalau anda bekerja karena PANGGILAN HATI, maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Masih ingat satu quote di Ibu Profesional kan,

“The only reality is YOUR PERCEPTION”

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manajer keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
 “SAYA MANAJER KELUARGA”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manajer.
a. Hargai diri anda sebagai manager keluarga, pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.Kalau saya memakai istilah 7to7, dari jam 7 pagi - 7 malam, menggantung daster, memakai pakaian yang rapi, layak, nyaman.

 b.Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi

c.Buatlah skala prioritas

d.Bangun komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

MENANGANI KOMPLEKSITAS TANTANGAN


Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktikkan yaitu :

A. PUT FIRST THINGS FIRST 
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami.
- Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini
- Aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita

B.ONE BITE AT A TIME 
Apakah itu one bite at a time?
 - Lakukan setahap demi setahap
 - Lakukan sekarang
 - Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan

C. DELEGATING 
Delegasikan tugas, yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita. Ingat anda adalah manajer, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.
Latih - percayakan - kerjakan - ditingkatkan - latih lagi - percayakan lagi - ditingkatkan lagi begitu seterusnya. 
Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

PERKEMBANGAN PERAN

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu? Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumahtanggaan. Tetapi mengapa tidak? Karena selama ini kita masih “SEKEDAR MENJADI IBU”. Ada beberapa hal yang saya lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas saya agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain :

a. Dulu saya adalah kasir keluarga, setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang. Maka saya tingkatkan ilmu saya di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manajer keuangan keluarga.

b. Dulu saya adalah seorang koki keluarga, tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat saya jenuh di dapur. Akhirnya saya cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

c. Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, saya adalah tukang antar jemput anak sekolah. Hal ini membuat saya tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah. Akhirnya saya cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi “manajer pendidikan anak”. Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

d. Cari peran apalagi, tingkatkan lagi… dan seterusnya.



TANYA JAWAB

1. Andita_Malang
"Because women are ummun wa robbatul bait" karena perempuan adalah ibu & manajer rumah tangga. Dari dulu sy sudah suka dengan caption itu, Bu. Yang ingin saya tanyakan di point B. One Bite at a Time :lakukan setahap demi setahap. Misalnya dalam mendapatkan ilmu dan mempraktikkannya. Bagaimana caranya agar kita tidak menjejali diri dengan berbagai ilmu dan blm 'selesai' dalam praktik dan mnjadikannya habits Bu?huhuhu..kadang poin X baru separuh jalan uda kepincut pingin njalani poin Y dan seterusnya.

Jawab : Mbak Andita, situasi yang mbak Andita katakan tadi, pasti akan terjadi kalau sang ibu belum tahu peran hidupnya apa dan bidang yang akan ditekuninya apa. Sehingga masuk kategori galau, semua ingin dipelajari, tetapi belum tentu semua bisa dijalani. Sehingga hal ini akan membuat kita makin galau. Kalau teman-teman menjalankan dengan sungguh-sungguh tahapan matrikulasi ini, pasti akan lebih mudah menemukan "prioritas hidup". Ilmu -ilmu mana yang memang sifatnya WAJIB kita amalkan, dan ilmu-ilmu mana yang sifatnya hanya menjadi referensi untuk menguatkan ilmu utama.  Prinsip selanjutnya adalah "tumbuh bersama" anak. Jangan sampai gara-gara merasa masih kurang dan belum selesai dengan diri kita, justru mengabaikan pendidikan anak. Belajar bersama, tumbuh bersama. Pastikan di keluarga kitalah, anak-anak dan diri kita bisa tumbuh dengan optimal, karena semua bisa menjadi guru, dan semua bisa menjadi murid.

2. Yessy_Sumatera Utara
Assalamualaikum wr. wb
Bu, bagaimana caranya agar saat kita berusaha menswitch pikiran dengan hal yang positif dapat bertahan lama?
Tantangan saya adalah saya dan suami masih belum mampu menemukan cara komunikasi yang tepat dengan orangtua dalam hal mendidik anak kami. Hal ini membuat saya lebih banyak memilih mengajak anak beraktivitas di luar rumah. Karena sering keluar rumah, saya menjadi kelelahan menyiapkan urusan domestik sebelumnya.

Jawab : Wa'alaykumsalam wr.wb mbak Yessy. Sekali lagi the only reality is your perception. Maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif tentang orang-orang di sekitar kita. Jangan perhatikan sisi buruknya, selalu panggil sisi baik orang-orang di lingkaran pertama kita, meski saya akui itu berat. Kalau LOLOS berarti naik kelasnya tinggi, hehehe.
Kemudian ketika kita belum selesai berkomunikasi dengan orang-orang di lingkaran pertama seperti orangtua kita, maka kuncinya TIDAK BOLEH PUTUS ASA. Berikan stimulus porsi kecil tapi sering. Nah selama proses tersebut, mengajak anak beraktivitas keluar rumah adalah cara yang tepat. Saya dulu juga mengerjakan hal tersebut :). Kemudian aktivitas luar rumah bersama anak ini saya maknai sebagai jam kerja saya yang utama yaitu mendidik anak. Maka urusan domestik lainnya, harus bisa selesai sebelum jam kerja tersebut. Kalau tetap tidak memungkinkan menyelesaikannya maka DELEGASIKAN ke orang lain untuk urusan non pendidikan anak.

3. Nia nio nidia_Depok
Karena misi masa depan, saat ini saya masih harus bekerja di ranah publik, sehingga masih mendelegasikan pendidikan anak ke eyang putrinya, mama saya, untuk senin-jum'at 06.00-19.00.
1. Apa dan bagaimana strategi paling jitu agar mama saya sepemahaman dengan kurikulum mendidik yang telah kami buat?
2. Mama saya sejak awal menikah menjadi ibu rumah tangga, namun yang saya rasakan juga bukan termasuk yang profesional. Karena banyak hal yang menurut saya kurang, ilmu mama baik agama maupun keuangan dan kecekatan kurang. Sejak sebelum menikah saya punya niat, saya gak mau seperti mama saya, saya ingin jadi lebih baik. Begitu ikut matrikulasi saya seoptimal mungkin shift mode di rumah jadi ibu. Kadang karena mama saya dulu tidak begitu dia memandang apa yang saya lakukan berlebihan. Dia tidak suka melihat anaknya repot dan membandingkan dengan suami saya yang tidak melakukan pekerjaan domestik sehingga menyalahkan suami saya. Padahal saya sampaikan saya bahagia melakukan ini dan saya ingin meraih pahala dari Allah. Sampai ketika saya sampaikan saya punya cita-cita resign 5 tahun lagi untuk full di rumah dan home education anak saya pun, mama saya nampak tidak sependapat. Yang hanya saya takut mama saya tidak rida dan niat saya terhambat. Bagaimana ini ya, menjembataninya, Bu?

Jawab : Mbak Nia, kalau kondisi saat ini menurut mbak dan suami adalah kondisi pilihan yang terbaik untuk anak-anak, maka terima dengan sepenuh hati. Kuncinya hanya satu, kita harus siap menanggung resiko yang terjadi, dan jangan pernah menyalahkan mama, apapun kondisinya.
Maka kalau tipe mama adalah seseorang yang mau belajar, bantu mama dengan ilmu. Apa yang mbak nia baca, mama juga ikut baca. Ajak ngobrol mama setiap saat seputar ilmu pendidikan terkini. Berikan hal-hal praktis yang membuat mama bisa menerapkannya dalam mendampingi anak-anak kita selama kita bekerja. 
Kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka cari asisten rumah tangga yang bisa anda didik dengan baik, kemudian minta mama berperan sebagai supervisornya. Sebagai manajer keluarga, anda harus latih ilmu-ilmu apa saja yang harus dikuasai oleh seorang pelaksana pendidikan dan seorang supervisor.
Andaikata tetap tidak bisa lagi, maka memang diri kita orang yang paling tepat. Segera ambil peran tersebut sebelum terlambat. Kalau ibu tidak meridai karena urusan duniawi, maka yakinkan bahwa ini akan baik untuk urusan akhirat. Karena orang yang memikirkan akhirat, maka dunia akan ikut. Setelah itu buktikan bahwa kita bisa. Pengalaman saya, mulai dari ibu tidak rida, sampai sekarang sangat mendukung aktivitas saya sebagai ibu  manajer kelaurga . Dan itu saya perlu proses 4 tahun untuk menyakinkan beliau.

4. Novita_Tangerang Selatan                        
Bagaimana cara menyeimbangkan tantangan kerja dan urusan domestik yang seringkali berkejaran satu sama lain dan bagaimana cara mendelegasikan pemahaman kita pada ART terkait cara mendidik anak?

Jawab : Mbak Novita, kuncinya pada KESUNGGUHAN dan MANAJEMEN WAKTU. Kalau kalimat yang selalu pak Dodik sampaikan ke saya sejak dulu ketika galau antara pekerjaan domestik dengan pekerjaan publik adalah seperti ini :
"Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu".
Dalam saya maknai sebagai urusan domestik, luar saya maknai sebagai urusan publik. Maka mulailah mengerjakan hal-hal profesional yang mbak sering lakukan di tempat kerja, terapkan di rumah terlebih dahulu, misal:
a. Di tempat kerja, kita malu kalau tidak tepat waktu, maka di rumah kita harus lebih malu lagi kalau tidak tepat waktu.
b. Di tempat kerja kita tampil cantik, maka di rumah harus lebih cantik.
c. Di tempat kerja kita sabar dengan anak orang lain/rekan sekerja kita, maka di rumah harus lebih sabar lagi dengan anak dan suami.
d. Di tempat kerja ada perencanaan yang bagus, maka di rumah harus lebih bagus lagi.
Sehingga luangkan waktu khusus ke ART mbak untuk magang cara mendidik anak, ketika mbak Novita di rumah dan mendidik anak. Suruh duduk, lihat dan catat, kemudian berikan menu pendidikan anak dengan rotasi 10 hari-an ke ART kita, siapkan alat dan bahannya, kemudian latih lagi sampai ART kita mahir melakukannya.
Hal tersebut di atas yang saya lakukan untuk ART saya, sehingga 5 tahun bersama saya, ART saya sekarang sudah bisa menjadi guru TK dan sekarang membina rumah tangganya sendiri dengan kondisi lebih baik dari saya ketika saya di awal menikah. Bahkan sekarang bisa jadi pengusaha. Seorang perempuan desa yang tadinya minder karena hanya lulusan SMP sekarang jadi Percaya Diri.
There is no try, DO or DO NOT

Segera lakukan yang terbaik, karena tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini.

Setelah tanya jawab berakhir, diskusi masih dilanjutkan antar peserta. Adapun tindak lanjut dari materi ini adalah Nice Homework yang akan ditulis di tulisan berikutnya.

#ODOPfor99days
#day8
#ibuprofesional

#griyariset