Sunday, 28 March 2021

Laporan Pertanggungjawaban Tim TPA Masjid As-Salam WAPENA Wina, Austria 2018-2020

Bismillahirrohmanirrohim…

Menjelang akhir pekan, saya menyusun laporan pertanggungjawaban kegiatan TPA Masjid As-Salam WAPENA yang sudah berjalan sejak Oktober 2018 hingga Maret 2021. Alhamdulillah wasyukurillah Allah tuntun setiap langkah dalam kebersamaan sebuah tim. Sebagai dokumentasi, laporan tersebut saya simpan juga di postingan blog berikut.   

LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

TPA MASJID AS-SALAM WAPENA

PERIODE 2018-2020 

VISI :

Bersama-sama bergerak menjalankan pendidikan Islam untuk anak muslim Indonesia di Austria menuju generasi Qur’ani yang cerdas dan berakhlak mulia

MISI :

  1. Mengajarkan kemampuan membaca Al-Qur'an kepada santri/anak-anak Indonesia di Austria
  2. Menanamkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup kepada santri
  3. Menanamkan akhlak Islami kepada santri
  4. Menjalin ukhuwah islamiyah

SUSUNAN KEPENGURUSAN

Pembina                   : Bu Ning

Ketua                        : Mesa Dewi Puspita

Bendahara               : Ramlina Ramdeni

Sie Dokumentasi      : Riesa Yosita

Tim Pengajar            :          

Bu Levi Marfianti. Bu Rini, Mas Muhammad Luthfi, Mas Fermi Austrianto, Mba Anies Mutiari, Mba Annisa Maulidyaningtyas, Mba Elok Waziiroh, Mas Agis (Maulana Mughitz Naji), Mas Naufal Ahmad, Mas Apri Irianto dll.

Jumlah pengajar aktif saat ini : 7 orang

Jumlah santri aktif saat ini : 14 anak

PROGRAM KERJA YANG SUDAH TERLAKSANA

TPA rutin di masjid setiap Ahad (s.d. Maret 2020)



Ceria Sambut Ramadan (April 2019)

Forum Wali Santri (1 Maret 2020)



Pembagian laporan santri dan diskusi bersama wali santri.

Kegiatan Tentatif Hari Besar Islam (Ramadan & Maulid Nabi)


Games Piknik WAPENA (2019)



Tahsin Pengajar TPA bersama Ustadz Arfi (8x pertemuan selama Januari-Februari 2020)

Peserta : Bu Levi, Bu Rini, Mba Annisa, Mas Agis, Mesa

Piknik Pengajar TPA


Mulai Maret 2020 hingga saat ini TPA berlangsung secara online. Adapun program online yang sudah terlaksana antara lain :

TPA online





Sesi Kisah Islam (September 2020)

 


 

Dua Pengajar mengikuti Pelatihan Pengajaran Mutqin TPA - Rumah Tajwid (Januari 2021)

Pengajar yang menjadi perwakilan : Mesa Dewi Puspita dan Riesa Yosita

Pembukaan TPA online 2021

Setelah vakum di September-Desember 2020, TPA online kembali aktif dengan format baru. Maka sebagai pembuka, diadakan kajian perdana di tahun 2021 dengan tajuk „Menjaga Semangat Belajar Al Qur‘an“

Reaktivasi TPA online 2021

Setelah melakukan evaluasi pelaksanaan TPA online selama tahun 2020, maka dilakukan beberapa perbaikan perihal teknis TPA online di tahun 2021. Sehingga TPA online per kelompok dilakukan dua pekan sekali sesuai alokasi waktu pihak terkait. Disiapkan form laporan dimana pengajar dan wali santri melakukan pengisian pasca sesi TPA online berlangsung. Selain itu juga ada sesi Kajian Anak Muslim setiap bulan sekali yang diisi oleh Ustadz Muhammad Luthfi.

Keuangan TPA

Berikut laporan keuangan TPA s.d. Februari 2021 :

Saldo awal                            : 508.74 ~510 EURO

Penggunaan                         : 432.67 EURO (detail tercatat di buku kas TPA)

Saldo usai penggunaan        :   77.33 EURO

Mulai Maret 2021 alhamdulillah TPA memiliki bendahara, sehingga iuran keanggotaan TPA yang memang vakum sejak kepengurusan periode sebelumnya, dapat kembali berjalan. Adapun besaran iuran adalah 5 EURO per anak per bulan, jika dalam satu keluarga ada dua santri maka besaran iuran menjadi 8 EURO per bulan. Iuran dikumpulkan melalui transfer ke rekening bendahara.

Nominal iuran yang terkumpul hingga saat ini  : 166 EURO

Total saldo TPA saat ini                                     : 243.33 EURO


Catatan khusus :

Tantangan pelaksanaan TPA selama pandemi 

  • Menemukan sistem dan teknis pelaksanaan TPA online yang sesuai dengan kondisi pengajar dan santri juga wali santri.
  • Menciptakan bonding dan suasana pembelajaran yang hangat seperti yang dirasakan jika TPA di masjid, melalui media online.
  • Mengadakan acara bersama yang mencakup seluruh santri dengan rentang usia yang luas, juga rentang fokus yang bervariasi.
  • Keterbatasan waktu yang dimiliki pengurus & pengajar untuk berkoordinasi online.

Kejutan dari Allah dalam pelaksanaan TPA selama pandemi :

  • Anak-anak muslim di Austria yang belum terdaftar sebagai santri bisa turut terlibat mengikuti kajian anak muslim TPA, bahkan yang berada di luar kota Wina, Austria
  • Sistem pelaksanaan TPA online menarik perhatian pengurus TPA Leeds UK sehingga beliau sempat bergabung langsung di acara TPA online untuk bisa melakukan hal serupa di sana
  • Tim pengajar yang sudah di Indonesia bisa kembali berkolaborasi dan turut mengajar para santri

Seiring perjalanan waktu dan kerjasama dari seluruh pihak, alhamdulillah Allah bukakan jalan sehingga TPA online yang berjalan saat ini sudah berlangsung dengan cukup lancar.

Mohon maaf atas keterbatasan dan kesalahan yang saya lakukan tanpa sengaja selama mengemban amanah sebagai koordinator TPA Masjid As-Salam WAPENA 2018-2020. Semoga Allah ampuni dan apa yang sudah diikhtiarkan bersama menjadi amal jariyah untuk semua pihak. Aamiin.

Salam,

a.n. Tim TPA

Mesa Dewi Puspita




Thursday, 25 March 2021

Strategi Berdamai dengan Tantangan Zona Waktu ala HIMA Efrimenia

Hari ini alhamdulillah terlaksana juga sesi bagi-bagi sertifikat apresiasi untuk para member Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional Efrimenia. Sertifikat yang dibagikan cukup banyak, kurang lebih sebanyak agenda apa saja yang sudah dijalankan oleh HIMA sepanjang tahun 2020 dan tiga bulan pertama di tahun 2021 ini.

Mengapa menumpuk? Karena itulah keunikan regional ini, bagi saya. Tumpukan sertifikat itu adalah bukti konkret kami berdamai dengan tantangan keunikan regional. Oh iya, bagi yang belum tahu apa itu regional Efrimenia, wajar. Efrimenia sebenarnya merupakan sebuah singkatan dari nama empat benua yang tercakup di dalamnya. Yaitu Eropa, Afrika, Amerika dan Oseania. Ya, member regional ini tersebar di empat benua, dengan zona waktu yang berbeda. Amat jauh terpaut zona waktunya, dari ujung ke ujung, haha.

Kondisi unik ini tentu berdampak pada kecepatan koordinasi kami baik sebagai pengurus maupun member. Saat menerima informasi dari tim pusat, kami kerap ketinggalan beberapa hari karena zona waktu dan keterbatasan jam daring yang kami miliki. Saat membuka WAG koordinasi lintas regional, chat yang ada kerap sudah ratusan, dan kami membutuhkan waktu untuk mencerna informasi yang ada satu persatu sebelum kemudian kami teruskan pesan tersebut ke regional.

Saat berkoordinasi antar pengurus, kami berada dalam zona waktu yang berbeda. Di Eropa pagi hari, di Amerika jelang jam tidur. Setiap chat berupa pertanyaan atau bahan diskusi, kerap belum mendapatkan jawaban sebelum satu hari berlalu, bahkan lebih. Ya memang sulit, dan kami tidak bisa memaksakan diri untuk berlari terus menerus demi mengikuti ritme yang ideal, karena kondisi kami memang jauh dari kata ideal. Maka dari itu, kami mencoba mencari titik ideal versi kami. Bagaimana agar kami bisa bertumbuh dengan berkomunitas dengan ritme yang sesuai dengan kecepatan yang kami sanggupi.

Termasuk pada proses pembuatan sertifikat. Koordinasi dimulai antara tim medkom dan tim program. Tim medkom mendapatkan nama-nama narasumber dari tim program, yang terus bertambah hampir setiap pekan. Dan tim medkom tidak selalu bisa bergerak setiap pekan. Saat tugas kuliah di Institut Ibu Profesional terasa sangat padat merayap, apalagi di kelas Bunda Produktif kemarin, kami memilih mengambil jeda dan fokus dengan pengerjaan project passion yang menjadi tugas utama di kelas Bunda Produktif. Usai kelas Bunda Produktif tuntas, baru kami beralih fokus ke pengerjaan sertifikat. Dan alhamdulillah, tim medkom dengan cekatan menuntaskannya dan hari ini kami bisa membagikannya di WAG HIMA. MasyaAllah tabarakallah...lega rasanya.

 

 

 

Wednesday, 24 March 2021

Ulasan Buku Anak Berbahasa Jerman berjudul “Sicher mit U-Bahn, Bim und Bus!”

Bismillahhirrohmanirrohim...

Saya sedang belajar merutinkan kembali kebiasaan menulis ulasan sebuah buku usai membaca atau membacakannya untuk anak-anak. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan proses belajar yang dijalankan sekaligus menguatkan pemahaman diri terhadap isi bacaan tersebut.

Buku anak ini (lagi-lagi) kami pinjam dari perpustakaan kota. Ya, kami rutin meminjam buku setiap pekan untuk amunisi belajar di rumah. Karena kami merasakan bahwa fasilitas perpustakaan di negara ini sangat mewah sehingga selama di sini kami ingin memanfaatkannya dengan optimal. Terlebih dalam dua tahun belakangan ini, saat saya muai intensif belajar bahasa Jerman juga anak-anak sudah masuk Kindergarten dan Volksschule, kebiasaan membaca buku ini sangat membantu kami melancarkan keterampilan berbahasa Jerman.

Buku ini ditulis oleh tiga penulis, yaitu Silja Topfstedt, Martina Brandstätter dan Angelika Jaklin. Sedangkan ilustratornya adalah Cesare Asaro. Begitu membuka halaman pertama dari buku ini, akan kita temui sebuah rute perjalanan semua kereta di sepanjang kota Wina, Austria. Mmebantu para pembaca untuk semakin memahami rute perjalanan yang dilalui beragam kereta di kota Wina.

Buku ini menceritakan dua orang anak bernama Oskar dan Luisa yang dijemput di sekolah oleh kakek neneknya untuk pergi ke kebun binatang bersama-sama. Mereka berjalan kaki dari sekolah menuju halte Bus dengan menyeberang jalan di zebra cross. Sembari menunggu bus, nenek memberikan tiket kendaraan untuk Lukas yang sudah harus memiliki tiket karena sudah berumur enam tahun dan memasang penutup mulut untuk Lilli, anjing kesayangan mereka. Cerita yang dituturkan di sini mengantarkan pemahaman mengenai apa saja aturan-aturan yang perlu ditaati pengguna jalan dan hal-hal yang perlu disiapkan sebelum naik kendaraan umum.

Di dalam bus, dua orang remaja yang melihat kakek, nenek, Oskar dan Luisa, menawarkan tempat duduk mereka untuk ditempati. Di dalam kendaraan umum, orangtua dan anak kecil memang menjadi prioritas untuk mendapatkan tempat duduk. Kakek yang memilih untuk berdiri, memegang erat pegangan sehingga tetap aman saat bus mengerem mendadak. Perjalanan pun berlanjut menuju stasiun kereta U-Bahn. Ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan saat berada di stasiun U-Bahn, antara lain :

  • Anak sekolah bisa menggunakan eskalator sedangkan anak TK bisa menggunakan tangga
  • Di pinggir lintasan kereta, anak-anak terbagi menjadi dua barisan yang berjalan beriringan
  • Di stasiun tidak boleh lari-larian, menggunakan sepeda maupun skuter
  • Jika tertinggal rombongan dan membutuhkan bantuan, pencet SOS untuk mendapatkan bantuan
  • Cari petugas stasiun, mereka kerap menggunakan seragam khusus bertuliskan Wiener Linien.

Di kendaraan umum, baik di kereta, trem maupun bus kerap ada pemeriksaan tiket. Selama penumpang (berusia diatas enam tahun) memiliki tiket, cukup menunjukkan tiket tersebut saat diminta petugas. Namun jika tidak memiliki tiket, penumpang bisa dikenakan denda. Di stasiun dan seluruh kendaraan umum tersebar 13.000 kamera tersembunyi sehingga jika ada sebuah kejadian bisa segera ditindaklanjuti. Barang-barang yang tertinggal di kendaraan umum pun bisa dicari di pusat barang temuan yang terletak di Zentrale Fundservice der Stadt Wien.Tak lama mereka pun sampai di stasiun Hietzing, stasiun yang terletak di dekat kebun binatang Schönbrunn.

Sayang rasanya jika buku-buku bagus yang kami baca di sini hanya kami nikmati sendiri saja. Menuliskan ulasan buku adalah cara kami mengikat ilmu, juga berbagi dan mensyukuri kesempatan pertemuan dengan beragam buku anak berbahasa Jerman yang menarik ini. Di sisi lain, saya senang melakukan aktivitas mengulas buku. Sebuah kegiatan relaksasi yang menyenangkan. Belakangan saya merasa terlalu larut dalam keramaian, sehingga saya memutuskan untuk melambatkan langkah dan menikmati rasa dalam menjalankan setiap peran kehidupan. Salah satunya, membacakan buku anak. 

Wina, 24 Maret 2021

Mesa

 

 

 

 

Tuesday, 23 March 2021

Kajian Teks Sederhana dari Buku Anak berjudul “Huda bekommt ein Brüderchen“

Bismillahhirrohmanirrohim…

Pasca mengikuti Training of Trainer Read Aloud beberapa bulan lalu, saya jadi belajar untuk membuat sebuah kajian teks sederhana dari sebuah buku yang dibacakan untuk anak. Maka kali ini saya mencoba untuk mempraktikkannya.

Judul : Huda bekommt ein Brüderchen

Penulis : Suleman Taufiq

Ilustrator : Eva Spanjardt

Tema :

Genre :

Tokoh (karakter) : Huda, seorang anak perempuan berusia lima tahun

Letak (setting) / latar tempat : rumah, rumah sakit

Latar waktu : pagi, siang, sore, malam hari

Alur :

Awal

Huda akan memiliki seorang adik laki-laki. Karenanya kakek dan nenek datang dari Damaskus agar bisa membantu ayah dan bunda beradaptasi dengan kondisi baru di rumah. Keesokan harinya, ayah dan Huda menjemput bunda dan adik bayi dari rumah sakit. Nenek menyiapkan tatanan rumah untuk menyambut kedatangan bunda dan Saad, sang adik bayi, menyemprotkan pengharum ruangan yang beda dari biasanya, menaburkan garam di sekeliling rumah dan memberikan sebuah batu untuk Saad yang dipercaya bisa mencegah keburukan dari orang-orang yang menjenguk. Mereka juga berdoa bersama untuk kebaikannya, nenek mengucapkan syahadat di telinga kanan Saad.

Tengah

Huda mengajak bunda untuk mengantarkannya ke TK dengan membawa adik, namun nenek melarangnya. Ternyata bayi belum boleh keluar rumah sebelum berusia tujuh hari.

Akhir

Sepulang sekolah, Huda membawa lima orang teman ke rumah untuk menjenguk Saad. Teman-teman Huda sangat senang bisa bertemu dengan Saad. Nenek membagikan camilan untuk dibawa teman-teman Huda pulang ke rumah.

Tinjauan kosakata : semua kosakata dalam bahasa Jerman

Diskusi

Diskusi tentang buku :

Karena buku ini menceritakan budaya Suriah saat kelahiran seorang bayi, maka cerita ini menimbulkan banyak pertanyaan pada anak-anak. Mengapa perlu menaburkan garam pada setiap sisi rumah? Apa yang terjadi jika hal tersebut tidak dilakukan?

Diskusi di luar buku :

Bagi saya, isi buku cerita ini sangat menarik. Menceritakan sebuah budaya dari negara lain terkait kelahiran adik bayi. Tinggal di negara yang multikultural tentu membuat kita perlu bertoleransi terkait pola hidup dan kebiasaan yang dimiliki oleh orang-orang di lingkungan sekitar kita yang berasal dari negara lain. Keragaman budaya tersebut justru membuat pengetahuan dan wawasan kita menjadi kaya.

 

 

Friday, 19 March 2021

Inspirasi dari Lima Perempuan yang Bergabung dengan Program Komunitas Perempuan di Berbagai Negara

Bismilahhirrohmanirrohim...



Kali ini saya ingin menuliskan seputar acara yang baru saja Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional Efrimenia (Eropa, Afrika, Amerika dan Oseania) selenggarakan berkenaan dengan Hari Perempuan Internasional di tanggal 8 Maret 2021 lalu. Sebenarnya bukan baru saja ya, mengingat acaranya sudah sebelas hari yang lalu. Namun tak apa, karena memang baru sekarang saya bisa mendokumentasikannya. Mendokumentasikan proses belajar adalah hal penting bagi saya sebagai salah satu ikhtiar untuk mengikat ilmu.

Himpunan Mahasiswa (HIMA) Institut Ibu Profesional Efrimenia merupakan wadah berkumpul para member Ibu Profesional yang memilih belajar di komponen Institut dengan mengikuti kelas belajar berjenjang mulai dari kelas Matrikulasi, Bunda Sayang, Bunda Cekatan hingga Bunda Shalihah. Jadi, member HIMA adalah member aktif dari kelas belajar yang beragam. Nah, HIMA menyediakan beragam ruang berbagi dan aktualisasi diri bagi para member karena kami meyakini bahwasanya berbagi akan membuat kita semakin bahagia sekaligus juga mengantarkan kebahagian untuk orang lain. Di HIMA ini saya mengemban amanah sebagai leader sejak Januari 2020 lalu.

Acara ini sebenarnya acara dadakan, karena idenya baru muncul di tanggal 2 Maret 2021. Sebelumnya saya selaku leader dan mba Wafi selaku manajer Program HIMA Efrimenia memang sedang tektokan koordinasi seputar program HIMA di tahun 2021 ini. Saya mengajukan program baru sebagai ruang berbagi yang bisa diakses oleh pihak umum dengan tajuk BELGIA (Berbagi Ilmu dan Pengalaman dengan Bahagia). Lalu tercetus ide spontan,

Mengapa tidak, kita jadikan Hari Perempuan Internasional sebagai momen BELGIA perdana?

Jika demikian, apa topik yang akan diangkat?

Jujur, tantangan zona waktu dan sebaran wilayah yang luas memang sebuah tantangan yang luar biasa dalam regional kami. Untuk diskusi satu topik di WAG saja, kami perlu waktu sekitar satu pekan untuk memberi waktu yang cukup bagi semua member. Saat di Eropa pagi, di Amerika sedang menjelang tidur, di Oseania sedang siang jelang sore hari. Ada yang baru punya alokasi waktu untuk berkontribusi di akhir pekan karena bekerja di ranah publik, ada yang gadget off di akhir pekan. Saat di benua Eropa, Afrika dan Australia sudah hari Senin, di Amerika masih hari Minggu. Saat mayoritas akhir pekan itu adalah hari Sabtu dan Minggu, ada pengurus dan member yang tinggal di negara di mana hari liburnya adalah Jum’at dan Sabtu. Jika mencari titik temu jam untuk koordinasi live via Zoom Meeting, salah satu dari zona waktu ada yang di tengah malam,  sehingga perlu bicara sembari berbisik atau di tengah kegelapan. Hahaha. Sungguh keunikan ini amat menantang, memicu kami untuk senantiasa merumuskan solusi kreatif.

Berangkat dari kondisi tersebut, muncul ide dalam pikiran, untuk mengangkat topik yang tak membutuhkan banyak waktu untuk berkoordinasi dan sudah menjadi pengalaman belajar dari masing-masing member. Maka, topik yang diangkat adalah :

Inspirasi Komunitas Perempuan dari Berbagai Negara

Teringat obrolan bersama Pak Dodik dan Bu Septi saat acara BUANA bulan lalu bahwasanya para perantau adalah orang-orang yang terbiasa menaklukkan tantangan. Mereka sudah biasa beradaptasi dan keluar dari zona nyaman. 

Maka kali ini, kami mengajak member untuk berbagi pengalamannya dalam bergerak di negara domisilinya. Bagaimana mereka beradaptasi dengan lingkungan mutikultural dalam bahasa asing, menyerap ilmu dan manfaat hingga berkontribusi dalam komunitas tersebut.

Saat kami membuka kesempatan berbagi di WAG HIMA Efrimenia, ada lima orang member yang siap berbagi pengalaman, termasuk di dalamnya saya dan mba Wafy dimana kami juga mencakup sebagai pengurus.



Berikut rangkuman singkat sharing dari tiap member :

Mba Febby (California, AS) : komunitas Microwives (para ibu yang memasak dengan microwave)

Di komunitas ini, para ibu berbagi tutorial memasak makanan yang semuanya menggunakan microwave sehingga cukup praktis. Para anggota komunitas ini kemudian membuka PO makanan ke masyarakat umum. Komunitas ini juga mengadakan penggalangan dana untuk pembangunan masjid di California. MasyaAllah...

Mba Rohmah (Iowa, AS) : komunitas Homeschooling

Berawal dari perkenalan dengan ibu-ibu pelaku Homeschooling yang kemudian saling kenal dan menyelenggarakan playdate bersama untuk anak-anaknya. Interaksi multikultural ini membuka kesempatan bagi mba Rohmah untuk belajar menerapkan clear and clarify dengan sesama. Mengedepankan ketersampaikan informasi antara komunikator dengan komunikan ketimbang rasa sungkan.

Mba Mia (Hannover, Jerman) : komunitas Spokusa

Mba Mia yang sudah tinggal selama tujuh tahun di Jerman, sudah banyak bergabung di komunitas di Jerman. Salah satu kegiatan di komunitas ini adalah sarapan bersama. Dari kegiatan ini, mba Mia jadi berkesempatan mencicipi aneka menu sarapan ala Jerman dan Turki. Ada juga kegiatan jalan-jalan bersama menjelajah alam dan budaya Jerman. Bahkan kegiatan sosial seperti membantu orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal yang kemudian mengantarkan mba Mia untuk meningkatkan rasa syukur.

Mba Wafi (Kairo, Mesir): komunitas mahasiswa

Mba Wafi, yang merupakan moderator acara, juga kami minta untuk berbagi pengalaman beliau dalam berkomunitas di Mesir. Mba Wafi sudah tinggal di Mesir sejak beliau kuliah dan masih belum menikah. Dengan tinggal di asrama mahasiswa, beliau jadi banyak belajar budaya dari segala penjuru dunia. Dan pesan dari pihak kampus adalah

Kalian itu tamu kami dan kalian itu akan jadi duta kampus di negara masing-masing.

Sehingga sejak awal setiap mahasiswa sudah dipersiapkan untuk menjadi duta sekembalinya kelak ke tanah air. Pengingat yang sangat mengena dari Al Azhar yang dikutip oleh mba Wafy, 

Kita ini duta, selalu menjadi orang asing di dunia ini. Semua pasti akan kembali. 

MasyaAllah... 

Mesa (Wina, Austria) : program belajar di komunitas sosial

Saya sendiri baru tinggal di Wina sejak Mei 2018 tanpa menguasai kemampuan bahasa Jerman yang menjadi bahasa lokal warga setempat. Karenanya saya belum terpikir untuk bergabung komunitas lokal. Namun bergeraknya diri untuk belajar bahasa Jerman secara gratis dengan memanfaatkan fasilitas yang disediakan di sini, justru mengantarkan saya mengenal komunitas sosial. Ya, selama lima semester saya belajar bahasa Jerman di tiga komunitas sosial untuk perempuan imigran, yaitu di LEFÖ, Vereinigung für Frauenintegration dan Peregrina. Di tempat ini tersedia kursus bahasa Jerman secara gratis maupun berbayar dengan harga terjangkau dan dilengkapi fasilitas penitipan anak. Proses ini juga menjadi proses permulaan adaptasi anak kedua saya untuk bersosialisasi di lingkungan yang menggunakan bahasa Jerman, sebelum masuk di TK.

Bergabung di komunitas sosial dengan mengikuti program belajar bahasa Jerman membuat saya belajar bukan hanya bahasa baru saja namun juga memahami bagaimana kebiasaan orang dari negara lain menjalankan sebuah proses belajar. Dua diantaranya adalah bagaimana pengajar kursus menjaga privasi orang lain termasuk no.HP setiap peserta dan memberikan strategi belajar bahasa dengan memulai dari hal yang kita sukai. Perjalanan ini kemudian membuka kesempatan untuk saya mengikuti berbagai program pengembangan diri perempuan.

Alhamdulillah sesi perdana BELGIA berjalan cukup lancar. Tantangan di balik layar Alhamdulillah bisa dihadapi bersama. Ya, siapa sangka jika di tengah sesi live ada salah satu yang izin terlebih dahulu untuk menunaikan salat Shubuh karena di wilayahnya baru masuk waktu Shubuh. Ada yang baru bisa hadir menyusul setelah tiga puluh menit acara berlangsung sepulang kerja di ranah publik. Ada yang live sambil digelayuti oleh tiga orang buah hati. Ada yang perlu izin pamit terebih dahulu di rapat yang seharusnya beliau ikuti hingga tuntas. Dan ada yang begitu usai live bersegera memakai jaket dan keluar rumah untuk berlari menjemput putrinya di sekolah. Sekalipun demikian semuanya dilakukan dengan bahagia dan lillahi ta’ala.

Senang rasanya bisa berkontribusi melalui cerita pengalaman untuk teman-teman Ibu Profesional dan para perempuan di seluruh dunia. Saya menyimak bagaimana teman-teman bergerak di wilayahnya masing-masing bersama komunitas lokal, dalam sebuah lingkaran kebaikan. Dari sini saya menyadari bahwa komunitas lokal memiliki peranan untuk menjadi salah satu support system yang bisa membantu para ibu rantau untuk beradaptasi dengan lebih nyaman dan efektif. Semoga Allah tuntun langkah kita senantiasa, aamiin…

 

Wina, 20 Maret 2021

Mesa Dewi Puspita

 


Monday, 8 March 2021

Peluncuran Literaksi Tematik dan Selebrasi Cluster Meraki

 Bismillahirrohmanirrohim…

Alhamdulillah Allah takdirkan untuk sampai di titik ini, di jurnal kedelapan belas selama mengikuti pembelajaran di kelas Bunda Produktif. MasyaAllah tabarakallah…

Pekan ini aktivitas bersama kami di Co-Housing adalah launching karya kami, Project Passion Literaksi Tematik yang diawali dengan Facebook live bersama ibu pimpinan project, mba Sari Juwita didampingi oleh mba Saraswati dan mba Dela Criesmayanti yang mengangkat topik “Bagaimana Cara Mengenalkan Emosi pada Anak melalui Membaca Nyaring?” dilanjutkan dengan pelatihan Read Aloud dimana saya mendapatkan kepercayaan amanah dari teman-teman Co-Housing untuk menjadi narasumber pelatihan tersebut.



Saya bersyukur dan amat berterimakasih pada leader dan teman-teman Co-Housing yang member kesempatan berbagi sekaligus bersedia memahami tantangan perbedaan waktu dan kegiatan offline saya di sini yang sedang mengikuti kelas intensif kursus bahasa Jerman B2 setiap jam 8-11 CET selama weekdays, sehingga menyepakati bahwa pelatihan diadakan di 19.00-21 WIB atau jam 13.00-14.30 CET di hari Jum’at. Alhamdulillah acara berjalan lancar, diikuti oleh 74 peserta dari berbagai wilayah.



Menjalankan kelas Bunda Produktif merupakan sebuah tantangan besar bagi saya secara pribadi. Tidak hanya dari segi mengasah produktivitas di ranah bidang yang sudah saya ambil sepenuh sadar, namun juga terkait manajemen waktu dan manajemen daring. Ya, saya sadar sedari awal, bahwa berdomisili di luar negeri, dengan perbedaan waktu enam jam lebih lambat dari pada WIB tentu merupakan sebuah konsekuensi logis yang harus saya jalankan saat memutuskan untuk mengambil kelas belajar dari Indonesia ini. Bu Septi pernah menganalogikan kondisi penuh tantangan ini dengan kata tirakatDan di kelas Bunda Produktif ini, proses bertumbuh menjadi Hexagonia benar-benar menjadi ruang praktik yang luas untuk mengasah keterampilan terkait hal tersebut. Kesempatan untuk bongkar pasang jadwal sehari-hari, mengkomunikasikan agenda pada suami dan anak-anak termasuk di akhir pekan, dan selektif memilah aktivitas sesuai skala prioritas.

Seperti halnya saat persiapan pelatihan kemarin. Demi kelancaran acara kami memutuskan untuk melakukan gladi resik di hari Jum’at siang, beberapa jam sebelum pelatihan dimulai. Tentunya bentrok dengan jam kursus saya di pagi hari. Namun karena gladi resik adalah hal yang juga penting bagi kami, maka saya memutuskan untuk mengikuti gladi resik di tengah kursus bahasa Jerman. Tentu keduanya tak bisa saya ikuti bersamaan. Saya tak bisa memecah konsentrasi untuk dua hal yang sama-sama membutuhkan fokus pikiran. Saya menepi dulu dari kursus kemudian bersama mba Elok, mba Sari, mba Wita dan mba Kiki melakukan gladi resik. Alhamdulillah tiga puluh menit selesai dan saya bisa kembali mengikuti kursus.

Alhamdulillah atas izin Allah pelatihan berjalan lancar. Tidak hanya menyampaikan seputar materi persiapan dan praktik Read Aloud saja, namun juga membahas seputar e-book literaksi tematik yang sudah bisa diakses secara gratis melalui tautan https://sites.google.com/view/hexagoncity/download  kemudian scrolling ke bawah hingga menemukan tampilan berikut :



Dengan klik tombol unduh maka secara otomatis kita akan mendapatkan e-book Literaksi Tematik dan e-book Aktivitas Pendukung yang bisa digunakan untuk mengoptimalkan proses Read Aloud bersama ananda.

Usai pelatihan anggota lainnya yang berperan sebagai tim pemandu di WAG pun member kejutan pada peserta dengan pengumuman doorprize dan memfasilitasi teknis mengunduh e-book serta menjawab beberapa pertanyaan yang belum sempat terbahas saat pelatihan berlangsung. Kebersamaan melangkah dalam tim, keterlibatan setiap anggota dengan masing-masing perannya membuat kerja tim berlangsung kompak diiringi dengan jalinan kedekatan emosi.



Seiring dengan proses tersebut kami juga mempersiapkan selebrasi Cluster. Dimulai dengan adanya Zoom meeting yang diadakan Cluster namun saya berhalangan hadir karena bersamaan dengan persiapan berangkat kursus dan sekolah anak-anak (jam 13.00 WIB ~ 07.00 CET). Alhamdulillah teman-teman yang mengikuti pertemuan Cluster memboyong hasil rapat ke Co-Housing. Sembari jalan bahasan tersebut, kami juga membahas persetujuan Co-Housing terkait proses pendaftaran MURI yang membutuhkan biaya sekitar 25 juta. Hasilnya adalah, 5 orang setuju, 1 orang setuju bersyarat, 5 orang tidak setuju. Apapun hasilnya kelak, semoga Allah ridai dan berkahi. Karena bukankah setiap amal perbuatan kita di dunia adalah rangkaian ikhtiar dalam menggapai rahmatNya? Wallahu a’lam…



Terkait persiapan selebrasi Cluster, kami bersepakat untuk membuat video perjalanan belajar. Maka masing-masing dari kami mengumpulkan foto ke leader yang kemudian diolah menjadi sebuah video lengkap dengan narasinya. Alhamdulillah, terima kasih pada mba Sari yang sudah mengolah menjadi video cantik. Video selebrasi Co-Housing kami bisa disimak di tautan berikut : https://drive.google.com/file/d/1U2Jcmucuc538SLBoTXMoxmvguLyhAfiE/view?usp=drivesdk

Dan hari ini adalah momen selebrasi Cluster Meraki. Dijadwalkan pada pukul 16.00-17.00 WIB atau pukul 10.00-11.00 CET yang mana pada jam tersebut saya masih kursus bahasa Jerman. InsyaAllah mengupayakan hadir sepuluh menit di waktu pembukaan selebrasi, izin sebentar dari ruang kursus. Sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan dari Allah dan apresiasi atas sebuah kerja tim yang luar biasa ini. MasyaAllah tabarakallah. Allah beri kesempatan belajar di tengah-tengah teman-teman yang kaya keterampilan dan tak segan berbagi dan melayani untuk mencapai tujuan bersama.   



Terima kasih untuk diri yang sudah memilih untuk menghadapi tantangan ketimbang menghindarinya. Yang mencoba keluar dari zona nyaman dengan memilih menjawab “aku akan mencoba” ketimbang “aku tak bisa” kala setiap tantangan menghadang. Yang belajar mengkomunikasikan keterbatasan diri pada pihak lain saat diri menunjukkan sinyal overload. Yang bersedia mendengarkan saran dan kritik dari pihak lain sekalipun terasa nylekit terutama para customer utama saat terjadi ketidakseimbangan. Yang memilih untuk menuntaskan ketimbang mengejar kesempurnaan. Yang memilih untuk melakukan perbaikan ketimbang menyerah. Terima kasih sudah berjalan hingga titik ini. Selamat melanjutkan perjalanan bertumbuh berikutnya.

Jurnal ini merupakan jurnal terakhir dalam perjalanan belajar kelas Bunda Produktif. Semoga apa yang sudah dipelajari, satu demi satu bisa mewujud sebagai amal. Satu demi satu materi yang disampaikan oleh Founding Mother pun bisa perlahan diaplikasikan dalam kehidupan. Karena ilmu adalah bekal setiap amal perbuatan. Dan yang paling penting, semoga ilmu yang dipelajari selama kelas Bunda Produktif ini dinaungi keberkahan dan dirasakan kebermanfaatannya bagi diri dan keluarga serta lingkungan sekitar. Aamiin ya Robbal’alamiin.

Wina, 9 Maret 2021

 

 

 


Monday, 1 March 2021

Momen Refleksi Seorang Bunda (menuju) Produktif

Bismillahirrohmanirrohim…

Refleksi saya adalah bahwasanya kelas Bunda Produktif ini sangat identik dengan kerja kelompok. Untuk sukses melaluinya, setiap Hexagonia perlu memiliki sikap proaktif, inisiatif, dan project ownership yang tinggi sebagai kunci sukses dalam membangun kota bersama-sama.



STOP

Proses apa saja yang selama ini tidak bekerja untuk project passion kita?

Apa saja yang harus kita “stop” dan tidak dikerjakan lagi, apabila project passion ini akan berlanjut?

Alur kerja yang tidak end to end.

Analisa pribadi diri :

Penyebab bisa tidak terjadi end to end salah satunya adalah karena tsunami informasi yang terjadi di WAG koordinasi Co-Housing. Jika saya amati, dalam satu hari saja bisa beragam bahasan berseliweran. Mulai dari pengumuman jadwal live, umpan bahan diskusi seputar project passion, hingga bahasan tugas jurnal yang perlu dikerjakan berkelompok. Padahal jam daring seorang ibu sangat terbatas dengan jadwal yang berbeda-beda antara satu ibu dengan ibu lainnya. Materinya sangat bagus, alur belajarnya juga sangat bagus, namun banyaknya informasi yang berlalu lalang bagi saya secara pribadi merasakan banyak distraksi dalam pikiran. Kencangnya arus informasi yang terjadi, membuat diskusi kami di WAG lekas beralih bahasan. Setiap penanggung jawab kegiatan ingin segera menuntaskan kewajibannya dengan membagikan berita yang ada sebagai bagian dari instruksi leader. Namun di sisi lain, menyebabkan bahasan-bahasan sebelumnya tertimpa dan terlupakan untuk dibahas. Dan banyak yang mengalami kejadian serupa, sehingga terjadi alur kerja yang tidak end to end.

Yang harus di-STOP adalah kebiasaan untuk bergantung pada pihak lain, terutama pada leader. Memiliki rasa tanggung jawab untuk menuntaskan amanah yang sudah diemban dan rutin mengkomunikasikan kondisi diri saat memiliki keterbatasan. Dan yang paling penting, memiliki alokasi waktu untuk mengikuti kelas Bunda Produktif dengan penuh kesungguhan. 

START

Apa hal-hal baru yang bisa kita usulkan untuk meningkatkan proses kinerja kita apabila project passion ini akan dilanjutkan?

Mengangkat ragam tema, sambil mengenalkan tema tertentu pada anak

Tahap membuat buku cerita satu tema tertentu

Read Aloud beserta aktivitas pendukung dilanjutkan

Menampung kebutuhan bahasa Inggris dan Jerman dengan membuat buku tiga bahasa

Analisa pribadi diri :

Setiap orang berada di peran yang sesuai dengan dirinya sehingga menghasilkan karya yang excellent dengan durasi waktu yang mencukupi. Di sisi lain, saya merasa ingin mengulik untuk mendalami proses belajar dengan gamifikasi, terutama terkait manajemen waktu dan energi. Karena pada prosesnya kemarin, saya masih mengambil peran sesuai kapasitas yang dimiliki agar tidak menimbulkan ketimpangan di peran lain di luar kelas Bunda Produktif. Apakah saya sudah mengerjakan yang terbaik? Belum, namun saya memilih untuk bahagia dengan realistis. Sempat berpikir, kalau saya sedang tidak kursus bahasa, tidak sedang mengelola komunitas, mungkin saya bisa lebih optimal di kelas Bunda Produktif. Namun hal tersebut dipatahkan oleh pemikiran berikutnya, bahwa justru kelas Bunda Produktif menyajikan kondisi riil, bagaimana proses menuju seorang bunda produktif dengan banyak batu terjal tantangan yang mengiringi. Kelas belajar di Ibu Profesional senantiasa membuat saya terus berpikir. :D

CONTINUE

Apa saja yang sudah bekerja baik di project passion kita, dan akan kita lanjutkan? Proses/hal-hal apa saja yang akan kita eksplor lebih lanjut ke depannya?

Sistem kerja yang sudah baik, Pembagian beberapa peran

Sudah bisa mengidentifikasi keunggulan teman-teman sesuai bakatnya

Saling support

Kontrol dari PJ milestone dan leader

Meet up pekanan

Analisa pribadi diri :

Setiap dari anggota tim bisa mengerjakan tugas dengan optimal, saling melengkapi satu sama lain. Setiap Hexagonia melewati beragam momen. Ada kalanya harus memberanikan diri keluar dari zona nyaman dan mencoba hal baru, ada kalanya mengalah untuk memberi kesempatan yang lain, ada kalanya berusaha memahami kondisi yang lain tanpa hadir perasaan menjadi korban. Mampu menakar kemampuan juga penting untuk merumuskan tujuan yang presisi. Sehingga tidak terlalu stress karena sangat idealis, namun juga tidak hambar karena tujuannya sangat sederhana.

Bertemu dengan sepuluh orang lain yang berbeda-beda tujuan meski memilih bidang yang sama, merumuskan tujuan dan mewujudkannya bersama ke dalam project passion Literaksi Tematik dalam jangka waktu kurang dari lima bulan, dengan tidak ada satu orang pun yang mengundurkan diri dari kelas, itu adalah capaian luar biasa bagi diri saya secara pribadi. Silakan unduh project passion kami di sini



False Celebration

1.       Apa kesalahan yang pernah saya lakukan selama di Hexagon City

Kurang presisi dalam mengukur kapasitas diri sebelum masuk kelas Bunda Produktif terkait ketersediaan waktu yang dimiliki sepaket dengan jumlah amanah yang sedang diemban saat ini.

 

2.       Belajar apa saya dengan kesalahan tersebut?

Semakin menyadari bahwa setiap pilihan selalu diiringi dengan konsekuensi.

3.       Sekarang saya jadi tahu apa saja yang harus saya lakukan, agar tidak terjadi kesalahan yang sama

Di kelas Bunda Produktif ini saya banyak belajar mengenai manajemen diri,  bagaimana bergerak sesuai prioritas, bertanggungjawab dengan tugas, mengerjakan amanah dengan efektif dan efisien, dan komunikasi produktif dengan pihak lain.

4.       Tepuk tangan dan apresiasi

Syukur alhamdulillah, berhasil berproses hingga titik ini. Semoga Allah rida dan tuntun langkah ini senantiasa. Berproses menjadi seorang ibu profesional, kebanggaan keluarga.



 

Wina, 2 Maret 2021

Friday, 26 February 2021

Bagaimana Pembelajaran TPA Masjid As-Salam WAPENA selama Pandemi COVID-19?

Bulan ini adalah bulan pertama dimana kegiatan TPA Masjid As-Salam WAPENA mulai berjalan sebagaimana jadwal yang sudah dicanangkan. Jadi karena terkait pandemi, TPA kembali berjalan secara daring dimulai dari bulan Januari lalu. Namun kami mencoba mengutak-atik jadwal agar sesuai dengan ritme dan kapasitas para pengajar dengan tetap memperhatikan agar kebutuhan santri terpenuhi.

Sebelumnya, mari kita ulas jadwal TPA sebelum pandemi ya. Yang artinya masa dimana TPA berlangsung secara luring di masjid setiap hari Minggu. Kegiatan TPA berjalan rutin sepekan sekali, seiring dengan acara kajian yang berlangsung setiap pekan. Sebelum acara TPA dimulai, para pengajar TPA mengikuti kelas tahsin bersama Ustadz Wisnu Arfian sebagai bekal dalam memfasilitasi para santri TPA. Jadi dulu jadwal rutin setiap hari Minggu adalah saya berangkat ke masjid jam 11.30 CET kemudian ada acara tahsin pengajar TPA dari jam 12.00 CET hingga jam 13.30 CET. Jam 14.00 CET biasanya warga sudah mulai berdatangan ke masjid dan kajian ALT (As-Salam Leadership Talk) pun dimulai. Usai ALT, kami salat Ashar berjamaah kemudian sesi TPA pun dimulai bersamaan dengan dimulainya kajian pekanan. Setiap pengajar memfasilitasi 2-3 santri.

Sejak pandemi, TPA berlangsung via daring setiap pekan. Jumlah pengajar yang bisa memfasilitasi via daring sedikit. Intensitas sepekan sekali pun terasa padat. Maka belajar dari perjalanan TPA daring selama tiga bulan tersebut, per Januari 2021 TPA mulai berjalan secara daring dengan teknis sebagai berikut :

  1. Satu pengajar cukup memegang satu kelompok belajar yang terdiri dari dua hingga tiga anak.
  2. Kegiatan TPA daring berkelompok dilaksanakan dalam durasi satu jam untuk satu kelompok dengan frekuensi dua pekan sekali.
  3. Setiap bulan akan ada kajian anak muslim dengan materi yang berkelanjutan dan sesuai dengan kebutuhan belajar membaca Al Qur’an para santri TPA
  4. Disiapkan formulir laporan perkembangan yang bisa diisi oleh pengajar dan wali santri untuk saling melengkapi data perkembangan santri.

Di bulan Januari lalu di akhir bulan saya masih berjibaku dengan pematangan konsep dan teknis pelaksanaannya dengan memohon pertolongan Allah. Perlahan fiksasi mulai bisa dilakukan dan program mulai berjalan sesuai jadwal. Dan di bulan Februari ini, menjelang akhir pekan keempat, yang mana tidak ada kegiatan TPA di pekan keempat ini, saya bisa merasakan jeda sesuai jadwal yang berjalan.

Saya sangat bersyukur Allah kirimkan anggota tim, para pengajar yang bersedia meluangkan waktu untuk memfasilitasi para santri sekalipun via daring. Di sela kesibukan beliau-beliau berjibaku dengan studi dan penelitian. Bahkan para pengajar TPA yang sudah kembali ke Indonesia namun tetap berada di grup WhatsApp TPA saat saya menyampaikan rencana program TPA dan membuka peluang kebaikan untuk turut mengajar, beliau-beliau pun menyatakan kesediaan. Sungguh ini saya rasakan sebagai bentuk nikmat dari Allah yang tidak disangka-sangka kehadirannya. MasyaAllah tabarakallah...

Para wali santri pun antusias dan bersemangat untuk aktif berkontribusi. Ada yang menghubungi para pengajar untuk sinkronisasi jadwal, ada yang menanyakan bagaimana pengisian formulir perkembangan santri juga teknis seputar iuran TPA memudahkan saya dan tim pengurus untuk menjalin kerjasama bersama wali santri dalam menghadirkan pendidikan islam untuk para santri TPA. Dari segi pribadi dan keluarga, anak-anak pun semakin bersemangat belajar karena belajar bersama teman-teman. Mereka bertemu bersama dalam satu ruang Zoom sebulan sekali. Alhamdulillah...

Menjalankan sebuah project memang tidak mudah, namun Allah berikan kejutan kenikmatan di dalamnya. Ini adalah sebuah ikhtiar bersama dari semua pihak untuk menghadirkan pendidikan islam untuk anak-anak muslim Indonesia di Austria. Semoga Allah hadirkan keberkahan dalam langkah yang jauh dari sempurna ini. Semoga Allah hadirkan orang-orang yang silih berganti bergerak bersama-sama mengaktifkan TPA di masjid As-Salam WAPENA ini. Kehadiran saya dan keluarga di kota Wina ini memang mungkin hanya sekejap saja. Namun semoga sekejapnya ini bisa menghadirkan segaris warna yang menghadirkan kebermanfaatan dan kebaikan. Aamiin...aamiin...allahumma aamiin...

Tulisan ini dibuat untuk mendokumentasikan perjalanan sebuah Community based Education di Wina yang dimulai dengan keberjalanan TPA. Semoga menjadi inspirasi sederhana untuk teman-teman pembaca yang sedang merintis pembuatan TPA di kota atau negaranya masing-masing. Semoga juga Allah mudahkan prosesnya. Aamiin…

 

Wina, 26 Februari 2021

 

 

 

 

Thursday, 25 February 2021

Catatan Belajar mengenai Urgensi Membangun Kepribadian Islami

Bismillahirrohmanirrohim…

Pekan lalu saya mengikuti kajian Islam dengan topik “Urgensi Membangun Kepribadian Islami”

Judul tersebut membuat saya merenungi diri. Sebenarnya, untuk apa kita membangun kepribadian Islami? Bukankah segala langkah yang diupayakan menuju ke arah tersebut adalah untuk keselamatan diri saya sendiri?

Banyak hal yang disampaikan oleh Ustadzah membuat saya tertunduk malu. Forum-forum kajian seperti ini bagi saya merupakan salah satu kenikmatan fasilitas luar biasa yang Allah berikan pada kami yang saat ini tinggal di bumi Eropa, dimana agama Islam menjadi agama minoritas. Tak terdengar kumandang Adzan dalam keseharian, tak ada yang menganggap aneh jika kita makan dengan tangan kiri maupun dalam posisi berdiri, bahkan tak ada yang peduli saat kita berbuat maksiat. Maka saya sangat mensyukuri adalah kajian rutin ini yang bisa dijalankan di sini.

Ustadzah menyampaikan bahwasanya ada tiga aspek yang perlu dibangun oleh seorang muslim, antara lain :

1.       Ruhiyah/ Maknawiyah

QS. Asy Syams ayat 7-10

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

QS. Al Hadid 16

Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang fasik.

Ruhiyah yang baik akan menghadirkan aqidah yang kokoh dan lurus. Akhlak yang baik, juga merupakan tolok ukur keimanan seseorang. Rasulullah diutus pun untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ada masa di mana kita merasa dekat dengan Allah, namun ada juga masa di mana kita merasa futur, jauh dengan Allah, merasa kering dan rapuh. Alhamdulillah wa syukurillah, Allah mengaruniai kita rasa itu, agar kita memahami bahwa ada hal yang tak beres dalam diri. Kemudian bersegera memperbaiki diri dan mendekat padaNya. Melantunkan doa “Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu.”

2.       Fikriyah.

Kejernihan fikroh. Di mana kreativitas seseorang akan dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Apakah ada tidak adanya kita, situasi di sekeliling kita akan sama?

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” HR Ahmad. Aksi nyata terkait hal ini banyak saya rasakan saat belajar dan bertumbuh di komunitas. Di mana saat kita paham kebutuhan diri kita, kemudian kita mengamati sekeliling, apakah lingkungan sekitar kita juga memiliki kebutuhan yang sama? Jika ya, kita bisa bergerak untuk memenuhi kebutuhan diri kita sembari mengajak orang lain untuk turut bergerak sehingga terpenuhilah kebutuhan bersama. Bergerak dan menggerakkan. Bagaimana langkah kita dirasakan manfaatnya tidak hanya oleh diri kita dan keluarga kita namun juga orang-orang di lingkungan sekitar kita. Sebuah langkah yang meluas dampak dan kebermanfaatannya.

Poin yang kedua adalah menghasilkan wawasan dan pola pikir Islami. Rasulullah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.” HR Ibnu Majah. Menuntut ilmu baik terkait Islam maupun ilmu yang berkaitan dalam peran atau profesi yang dijalankan dalam kehidupan. Karena setiap amal perlu dijalani dengan dibekali ilmu. Selanjutnya poin yang ketiga adalah sikap disiplin. Bagaimana agar langkah yang kita lakukan, ilmu yang kita pelajari menjadi sebuah amal dan karakter? Tentu diiringi dengan disiplin diri yang tinggi.  

3.       Amaliyah

QS. At Taubah 105

Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Amaliyah adalah satu diantara tiga tuntutan. Bekerja adalah perintah untuk setiap mukmin. Bergerak, dan menjalankan peran yang diemban sebagai bentuk beribadah pada Allah. Tak pandang peran apapun yang dijalankan, sepanjang dalam kebenaran dan di jalan Allah, maka menjadi sebuah lahan juang dan amal yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Semoga Allah tuntun langkah kita senantiasa. Aamiin...

Wina, 25 Februari 2021