Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2017

Kakak, Sang Pimpinan Project Bersih-Bersih Rumah

13 Jam Menyenangkan di Atas Kereta

Berani Bermain, Berani Membereskan

Usai bermain, seringkali kakak segera beralih ke mainan lainnya tanpa membereskan mainan sebelumnya terlebih dahulu.

Awas, Ibu Beruang Datang!

Ibu beruang senang kebersihan. Ibu beruang akan menginspeksi barang-barang berada di tempatnya atau tidak. Jika tidak, ibu beruang akan memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah.

Karena Segala Sesuatu Ada Tempatnya

Tujuh hari tantangan kemandirian terlewati sudah. Latihan kemandirian berupa makan mandiri, terlewati dengan cukup baik. Di hari kedelapan ini, kami mencoba beralih ke bentuk kemandirian yang lain, yaitu meletakkan barang di tempatnya. Diawali dengan membaca salah satu buku dari paket buku “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Di dalam buku ini ada cerita mengenai Jumper yang kesulitan mencari sepatu di rumahnya, karena rumahnya sangat berantakan. Sebagai teman yang baik, Goop si Beruang membantunya mencari sepatu sekaligus menata rumah Jumper. Goop teringat nasihat ayahnya, “Berikan tempat untuk segala sesuatu dan segala sesuatu ada tempatnya”. Kata-kata ini menarik bagi Ummica! Meski bisa jadi masih terlalu kompleks bagi kakak untuk mencernanya, tapi dari sini Mica justru mendapat ide untuk latihan kemandirian kakak. Maka, jadilah hari ini kami memberikan tempat untuk segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan barang-barang milik kakak. Selain itu, kami juga menata barang yang telah

Bersih Tanpa Sisa

Teruslah bergerak, maka Allah akan bukakan pintu kemudahan-kemudahanNya dari jalan yang tak kau sangka. Teruslah optimis, hasil manis akan terlihat seiring langkah kala ragu telah kau kikis. Ummi tersenyum melihat perkembanganmu, Nak. Di hari ketujuh ini, kakak mulai dapat mengambil makan sesuai porsi, dan menghabiskannya dengan mandiri. Serta menaruh piring bekas makannya langsung ke tempat cucian piring. Ummi sadar Nak, beradaptasi di lingkungan baru, menyandang status baru sebagai kakak, berjauhan dengan orang kesayanganmu adalah bukan hal yang mudah untukmu. Wajar, jika kau sedikit manja. Mungkin itu bentuk adaptasimu atas perubahan kondisi ini. Wajar, jika kau sedikit merajuk. Harusnya ummi bisa memakluminya. Bukan melabeli bahwa itu merupakan suatu kemunduran kemandirian. Ummi, bercerminlah. Jika ada sebuah perubahan menyapamu, bukankah kau memerlukan dukungan orang sekeliling untuk menguatkan pijakan? Jika ada hal baru yang datang dan membuatmu menja

Sayur Bening Kesukaan Kakak

Hari ini kakak makan dengan lahap dan penuh kemandirian. Sayur bening bikinan yangti sanggup membuat kakak berbinar, bergegas mengambil piring dan nasi sesuai porsinya. Kami makan bersama di meja makan lesehan. Kakak memilih duduk dekat yangkung. Awalnya, sebelum kakak tertarik untuk makan, kakak memang sudah menempel dengan yangkung. Mencicipi beberapa suap makanan yang sedang disantap oleh yangkung. Hingga kemudian, Yangkung : “Kak, makan ya, yangkung suapi ya. Kakak : “Iya, mau yangkung” Mica : “Hmm…enak bangeeeet masakannya yangti. Kalau begini, ummi juga mau makan ah. Ummi mau ambil piring, ambil nasi sendiri terus makan sendiri. Ummi kan ummi mandiriiiii…” (Sambil lirik-lirik kakak, semoga terdengar) Kakak : “Kakak juga Mi, kakak juga mau ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri. Yuk, makan bareng-bareng. Yangti, Om, yuk makan bareng-bareng. Mica : Ayooook, makan bersama  yaaaa… (“yes, alhamdulillah!” bergumam dalam hati sembari pasang senyum lebar mengapresias

Memunculkan Inisiatif

Menu kesukaan menyambut hari kelima praktik makan mandiri kakak. Ya, Yangti masak opor ayam. Karena semalam kakak makan opor ayam yang didapat dari acara pengajian dengan lahap. Tapi ternyata, pola “cukup sekali saja” masih berlaku bagi kakak, sekalipun pada menu kesukaannya. Kakak bisa makan dengan lahap untuk menu favoritnya. Tapi tidak akan terulang di sesi makan berikutnya. Jadi, meski menunya sama, kakak sudah datar-datar saja. Hari ini, Mica belajar untuk memunculkan inisiatif kakak saat makan. Teringat materi yang disampaikan oleh bu Septi minggu lalu, bahwasanya dalam memandu kemandirian untuk anak seusia kakak, jadilah anak-anak yang menjalankan kesepakatan tersebut, jangan berperan sebagai orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya. Baiklah, bagaimana cara Mica menjadi teman makan kakak hingga kakak menganggap sedang makan bersama teman sebayanya? Hihihi Begini, sejak kelahiran adiknya, kami seri

Kakak Masih Kenyang, Mi

Memasuki hari keempat tantangan melatih kemandirian anak, Mica masih berjibaku untuk menghadapi pernyataan ini. “Kakak masih kenyang, Mi” Mica seringkali menjawab dengan senyuman. Itu adalah jawaban yang mengisyaratkan bahwa kakak belum ingin makan. Hihi Kalau ingat bahwa sedari pagi kakak belum makan apapun, ingin rasanya ummi mengatakan, “Ummi suapin ya kak?” atau “Ummi merem, pesawat meluncur ke mulut kakak, siaaap?” Tapi Mica menahan diri hingga kata-kata tersebut tak sampai terlontar. “Kakak, kakak kan belum makan dari tadi, koq bisa kenyang?” “Iya Mi, kakak masih kenyang, kakak minum susu aja ya..” Maka, saya putuskan untuk mengalah dulu lalu menawarkan kesepakatan padanya. “Oke, boleh. Tapi nanti, setelah jamaah Dhuhur di masjid kakak makan ya.” “Iya, Mi.” Dan mengawali sesi makan dengan kesepakatan terasa lebih ringan untuk dijalankan, dibanding harus menawarkan kemudahan dan menggunakan bujuk rayu. #hari4