Friday, 24 March 2017

Saturday, 18 March 2017

Saturday, 11 March 2017

Sunday, 5 March 2017

Karena Segala Sesuatu Ada Tempatnya

Tujuh hari tantangan kemandirian terlewati sudah. Latihan kemandirian berupa makan mandiri, terlewati dengan cukup baik. Di hari kedelapan ini, kami mencoba beralih ke bentuk kemandirian yang lain, yaitu meletakkan barang di tempatnya.
Diawali dengan membaca salah satu buku dari paket buku “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Di dalam buku ini ada cerita mengenai Jumper yang kesulitan mencari sepatu di rumahnya, karena rumahnya sangat berantakan. Sebagai teman yang baik, Goop si Beruang membantunya mencari sepatu sekaligus menata rumah Jumper. Goop teringat nasihat ayahnya, “Berikan tempat untuk segala sesuatu dan segala sesuatu ada tempatnya”. Kata-kata ini menarik bagi Ummica! Meski bisa jadi masih terlalu kompleks bagi kakak untuk mencernanya, tapi dari sini Mica justru mendapat ide untuk latihan kemandirian kakak.
Maka, jadilah hari ini kami memberikan tempat untuk segala sesuatu, terutama yang berhubungan dengan barang-barang milik kakak. Selain itu, kami juga menata barang yang telah kami gunakan, ke tempatnya. Seperti siang tadi, saat kami usai keluar rumah, maka kami berlomba #YangPalingRapi mengembalikan sandal ke tempatnya dan menatanya. Kakak yang sedang berada di fase egosentris, sangat senang jika berhasil menang dari Mica. Dan inilah hasil kerja kakak :



Cukup rapi, yeaaay! Lebih dari itu, bahagia rasanya jika melihat binar bahagia di mata bulatnya dalam melakukan tantangan kemandirian. Ya, dia melakukannya dengan bahagia. Bukan sebagai beban yang memberatkannya.

#hari8


Friday, 3 March 2017

Bersih Tanpa Sisa


Teruslah bergerak, maka Allah akan bukakan pintu kemudahan-kemudahanNya dari jalan yang tak kau sangka. Teruslah optimis, hasil manis akan terlihat seiring langkah kala ragu telah kau kikis.
Ummi tersenyum melihat perkembanganmu, Nak. Di hari ketujuh ini, kakak mulai dapat mengambil makan sesuai porsi, dan menghabiskannya dengan mandiri. Serta menaruh piring bekas makannya langsung ke tempat cucian piring.

Ummi sadar Nak, beradaptasi di lingkungan baru, menyandang status baru sebagai kakak, berjauhan dengan orang kesayanganmu adalah bukan hal yang mudah untukmu.

Wajar, jika kau sedikit manja. Mungkin itu bentuk adaptasimu atas perubahan kondisi ini.
Wajar, jika kau sedikit merajuk. Harusnya ummi bisa memakluminya. Bukan melabeli bahwa itu merupakan suatu kemunduran kemandirian.

Ummi, bercerminlah.

Jika ada sebuah perubahan menyapamu, bukankah kau memerlukan dukungan orang sekeliling untuk menguatkan pijakan?
Jika ada hal baru yang datang dan membuatmu menjadi kurang nyaman, bukankah kau butuh penguatan untuk tetap berdiri teguh?

Hal yang sama sedang terjadi pada putri kecilmu.

Maka, luaskanlah hatimu. Tataplah matanya dalam-dalam. Kau akan temukan jawaban disana.
Bahwa dia hanya membutuhkan dukungan penuhmu, untuk menguatkan kepercayaan dirinya.

Ummi, engkau sanggup kan?

Bukankah engkau sudah berjanji menjadi teman terbaik pertama untuknya dan adik-adiknya kelak?
Maka, buktikan janjimu. Bukan padanya, tapi pada Allah.


#hari7

Sayur Bening Kesukaan Kakak


Hari ini kakak makan dengan lahap dan penuh kemandirian. Sayur bening bikinan yangti sanggup membuat kakak berbinar, bergegas mengambil piring dan nasi sesuai porsinya. Kami makan bersama di meja makan lesehan. Kakak memilih duduk dekat yangkung. Awalnya, sebelum kakak tertarik untuk makan, kakak memang sudah menempel dengan yangkung. Mencicipi beberapa suap makanan yang sedang disantap oleh yangkung. Hingga kemudian,

Yangkung : “Kak, makan ya, yangkung suapi ya.
Kakak : “Iya, mau yangkung”
Mica : “Hmm…enak bangeeeet masakannya yangti. Kalau begini, ummi juga mau makan ah. Ummi mau ambil piring, ambil nasi sendiri terus makan sendiri. Ummi kan ummi mandiriiiii…” (Sambil lirik-lirik kakak, semoga terdengar)
Kakak : “Kakak juga Mi, kakak juga mau ambil piring sendiri, ambil nasi sendiri. Yuk, makan bareng-bareng. Yangti, Om, yuk makan bareng-bareng.
Mica : Ayooook, makan bersama  yaaaa… (“yes, alhamdulillah!” bergumam dalam hati sembari pasang senyum lebar mengapresiasi)

Kami pun makan bersama, dan habis bersama. Kakak dengan suka cita memperlihatkan piringnya yang kosong dan nyaris bersih tanpa sisa.

Alhamdulillah, Allah mudahkan. Menu-menu ringan seperti sayur bening memang jadi favorit kakak. Semoga istiqomah ya Kak.

#hari6



Thursday, 2 March 2017

Memunculkan Inisiatif


Menu kesukaan menyambut hari kelima praktik makan mandiri kakak. Ya, Yangti masak opor ayam. Karena semalam kakak makan opor ayam yang didapat dari acara pengajian dengan lahap. Tapi ternyata, pola “cukup sekali saja” masih berlaku bagi kakak, sekalipun pada menu kesukaannya. Kakak bisa makan dengan lahap untuk menu favoritnya. Tapi tidak akan terulang di sesi makan berikutnya. Jadi, meski menunya sama, kakak sudah datar-datar saja.

Hari ini, Mica belajar untuk memunculkan inisiatif kakak saat makan.

Teringat materi yang disampaikan oleh bu Septi minggu lalu, bahwasanya dalam memandu kemandirian untuk anak seusia kakak, jadilah anak-anak yang menjalankan kesepakatan tersebut, jangan berperan sebagai orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

Baiklah, bagaimana cara Mica menjadi teman makan kakak hingga kakak menganggap sedang makan bersama teman sebayanya? Hihihi

Begini, sejak kelahiran adiknya, kami sering bekerjasama dan memainkan peran sebagai “mbak bidan”. Istilah “mbak bidan” ini muncul saat tujuh hari pertama pasca persalinan, bidan dari klinik bersalin tempat Mica bersalin, datang rutin untuk memandikan adik. Kakak memanggil beliau dengan sebutan “mbak bidan”. Seminggu berlalu dan proses memandikan adik sudah bisa kami lakukan sendiri. Mica berbagi tugas dengan kakak. Mica bertugas memandikan, sedangkan kakak membacakan doa akan mandi, surat Al Fatihah selama adik mandi dan doa mengenakan pakaian. Karena tugas memandikan yang semula dilakukan oleh bidan beralih pada kami, maka kakak merasa bangga jika dipanggil “mbak bidan”. Dia akan sangat bersemangat memainkan perannya.

Dari situlah, dalam aktivitas apapun, untuk memposisikan diri sebagai teman sebaya kakak, Mica memanggil kakak dengan sebutan “mbak bidan”, termasuk saat makan bersama ini.

“Mbak bidan, sarapan bersama yuk. Yangti bikin apa ini coba? Yuk, habi sarapan bersama, jadwal kita selanjutnya adalah sekolah. Ummi sama kakak sudah mandi kan? Kakak siap jadi guru Ummi, Ummi siap jadi guru kakak. Yuk, isi energi dulu.”

“Ayo Mi, sama-sama ya. Kakak ambil piring dan nasi sendiri ya. Tolong turunkan magic comnya, Mi.”

Maka kami pun menyiapkan piring dan makan bersama, layaknya teman sebaya :D


#hari5


Wednesday, 1 March 2017

Kakak Masih Kenyang, Mi


Memasuki hari keempat tantangan melatih kemandirian anak, Mica masih berjibaku untuk menghadapi pernyataan ini.
“Kakak masih kenyang, Mi”
Mica seringkali menjawab dengan senyuman. Itu adalah jawaban yang mengisyaratkan bahwa kakak belum ingin makan. Hihi
Kalau ingat bahwa sedari pagi kakak belum makan apapun, ingin rasanya ummi mengatakan, “Ummi suapin ya kak?” atau “Ummi merem, pesawat meluncur ke mulut kakak, siaaap?”
Tapi Mica menahan diri hingga kata-kata tersebut tak sampai terlontar.
“Kakak, kakak kan belum makan dari tadi, koq bisa kenyang?”
“Iya Mi, kakak masih kenyang, kakak minum susu aja ya..”
Maka, saya putuskan untuk mengalah dulu lalu menawarkan kesepakatan padanya.
“Oke, boleh. Tapi nanti, setelah jamaah Dhuhur di masjid kakak makan ya.”
“Iya, Mi.”
Dan mengawali sesi makan dengan kesepakatan terasa lebih ringan untuk dijalankan, dibanding harus menawarkan kemudahan dan menggunakan bujuk rayu.

#hari4