Tuesday, 30 May 2017

Helm itu Alat Pengaman Kepala, Kan?


Sebuah helm kecil berwarna hitam, bergambar hello kitty terpasang manis di stang sepeda kakak.

Helm ini kakak miliki karena berawal dari rasa ingin tahu kakak. Pengamatan – rasa ingin tahu – proses mencerna jawaban oleh kakak, membuahkan kesimpulan bahwa mica perlu membeli helm untuk kakak.

Waktu itu, mica ajak kakak untuk pergi mengendarai motor. Kakak dibonceng ummi di bagian depan sehingga otomatis kakak bisa mengamati kondisi sekeliling selama perjalanan. Saat berhenti di traffic light obrolan bergulir,

Kakak : Ummi, itu masnya kayak kakak ya. Duduk di depan bapaknya. Tapi masnya pakai helm loh mi. Kenapa mi?
Mica : Menurut kakak kenapa?Pakai helm itu biar aman kak. Kalau tiba-tiba jatuh, kepala kita terlindungi.”
Kakak : Kalau gitu kakak pakai helm juga dong mi, biar aman.

Oke, maka selepas urusan selesai, sebelum pulang ke rumah kami mampir ke toko helm untuk membeli helm pilihan kakak. Sejak saat itu, setiap kali kami keluar rumah dengan mengendarai motor, jarak dekat sekalipun, kami memakai helm. Ini kebiasaan baik, tapi kalau bukan karena ingin memberikan bukti komitmen pada kakak, sepertinya mica sulit memegang komitmen. Seringnya berpikir, “Kan nanggung, keluar ke tetangga dekat aja koq.” Dan lambat laun, niat untuk menjaga keamanan diri pun menepis rasa malas dan berat.

Dan rupanya hari ini, Allah izinkan kakak untuk belajar fungsi lain dari sebuah helm.
Pagi tadi kakak bermain bersama tetangga sebaya. Karena temannya adalah laki-laki, maka permainannya adalah sepak bola. Saat mica masuk ke rumah sebentar untuk menemani adik, tiba-tiba terdengar suara tangisan kakak. Kakak menangis, karena kepalanya terkena bola.

Kakak : Huwaaaa…sakit mi. Kena bola yang ditendang mas.
Mica : (Bersiap memeluk) Iya, sakit ya. Kita berdoa yuk biar sakitnya cepet ilang. (Sembari menengadahkan tangan, mengajak berdoa)
Kakak : Aamiin…(sambil meringis kesakitan)
Mica: Eh, kita cari tahu yuk, kira-kira gimana ya biar kepala terlindungi? Biar kalau kena bola lagi, kakak ngga kesakitan lagi.
Kakak : (perlahan tangisnya mereda) Pakai apa ya mi
Mica : Gimana kalau pakaaaaai, helm?
Kakak : Waaaah…..mau miiiii…. Kakak pakai helm dulu ya biar ngga sakit lagi kalau kepalanya kena bola

Maka beberapa menit kemudian, mica dapati anak kecil sedang bermain bola dengan helm di kepala, dan kaca pelindung yang menutupi wajahnya. Mica riang, kakak senang :D

Aktivitas sederhana hari ini, mengantarkan mica pada beberapa poin pembelajaran :
  • Saat menghadapi tantangan, kita coba fokus pada solusi dan pemecahannya. Kesakitan, kekecewaan, boleh dirasakan terlebih dahulu. Toh, itu artinya kita sedang belajar menerima perasaan kita. Setelah itu mereda, kita cari bersama pemecahan masalahnya. Supaya hal tersebut tidak terulang kembali.
  • Membersamai anak dengan rileks, masuk ke dunia anak, berupaya menjadi teman main anak, itu menyenangkan. Semakin menikmati, maka semakin terasa keseruannya.
  • Banyak hal yang bisa dieksplorasi oleh anak. Tak perlu neko-neko. Cukup memberdayakan yang ada di sekitar. Seringkali justru mica yang sering terpaku oleh fungsi tunggal sebuah barang. Kurang eksplorasi nih :D




Saturday, 6 May 2017

Belajar Stimulasi Belajar dari Media TV

Di hari kedua ini, mica belajar dari sebuah kejadian yang berlangsung secara tidak sengaja.

Saat di Bandung dulu, Raysa hampir steril dari TV, karena di rumah kami memang tidak ada TV. Sejak 6 bulan lalu saat kami pindah domisili ke rumah yangkung yangti, kakak mulai mengenal TV. Meski demikian, alhamdulillah keluarga sangat kooperatif terhadap prinsip kami yang tidak memberikan TV pada anak. Bukan kami yang menyesuaikan dengan kebiasaan keluarga besar, namun keluarga besar berbesar hati, mengalah dengan mengurangi frekuensi menonton TV. Menggantinya dengan mengobrol dan diskusi.  

Sekarang, TV hanya menyala saat om butuh refreshing sepulang sekolah, atau diatas jam 21.00 WIB saat yangkung butuh melihat berita. Toh Raysa saat ini sudah berumur 3 tahun, ada waktu screen time harian sekitar 1 jam untuk anak seusianya. Nah, di suatu siang saat Raysa sedang menonton film bersama om, tiba-tiba dia berteriak, “Jangan…bayinya jangan ditinggal…lhooo….itu bayinya ketinggalan.” Dia mengatakan itu sambil menangis. Adegan film tersebut adalah sebuah adegan yang menanyangkan seorang anak bayi yang sedang belajar jalan, tertinggal di rumah sedangkan kedua orangtuanya pergi dengan mengendarai mobil. Sang bayi terlihat memanggil-manggil orangtuanya dari balik jendela, namun tidak terdengar oleh orangtuanya. Mobil terus melaju dan sang bayi terus memanggil orangtuanya. “Lho, itu cuma film. Ngga beneran.” Ujar om menenangkan. Tapi Raysa tetap menangis, hingga kami memutuskan untuk mematikan acara TV.

Kejadian siang tadi membuat mica berkontemplasi. Begitu dahsyatnya dampak tontonan TV bagi seorang anak.

Apa yang menarik dari tontonan TV untuk seorang anak?

Tontonan TV membuat beberapa indera anak bekerja. Indera penglihatan dan indera pendengaran berperan aktif. Emosi pun turut berpartisipasi. Tak heran jika saat disajikan tontonan TV, anak mudah terbius dan sulit berpaling.

Apa yang bisa mica pelajari dari kejadian ini?

Menyambung dengan gaya belajar yang sedang mica pelajari di materi Bunda Sayang bulan ini, sajian materi yang kita pelajari jika terkemas semenarik tayangan televisi akan membuat penyerapan informasi menjadi sangat mudah. Visualisasi yang apik berpadu dengan pemaparan berupa suara, akan memberikan pemahaman yang baik untuk seorang audio visual seperti mica. Tentu, jika ditambah dengan praktik langsung, ini akan semakin mematangkan pemahaman.





Tuesday, 2 May 2017

Memahami Gaya Belajar Diri Sendiri


Tantangan materi #4 mengenai gaya belajar anak ini, membuat saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Beberapa hari saya melakukan pengamatan pada anak, saya belum mendapatkan bahan yang bisa saya tuliskan karena saya belum bisa menemukan kecenderungan gaya belajar anak. Namun karena penasaran ingin mengaplikasikan materi tersebut dengan mengidentifikasi gaya belajar seseorang, jadilah saya terpikir untuk mengamati gaya belajar saya terlebih dahulu. Terlebih, materi ini terasa akan lebih saya pahami jika obyek pengamatannya bisa terindentifikasi dengan jelas.

Baiklah, tantangan ini saya mulai dengan mengamati gaya belajar diri sendiri. Karena sebelum mengamati gaya belajar anak, tentu seorang ibu harus paham dan yakin gaya belajar yang dia miliki. Untuk kemudian disesuaikan dengan metode dan strategi pembelajaran yang dilakukan setiap belajar. Bagaimana pengamatannya? Poin-poin pengamatan yang saya dapatkan di materi #4 coba saya ceklis satu per satu. Dan hasil perolehannya adalah sebagai berikut :

Ciri belajar yang saya banget, antara lain :

  • Bicara agak cepat
  • Lirikan keatas bila berbicara
  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • Pembaca cepat dan tekun
  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
Poin-poin diatas adalah ciri gaya belajar VISUAL


  • Cukup pandai memilih kata-kata
  • Lebih suka melakukan pidato daripada demonstrasi
  • Mengingat yang didengar daripada dilihat
  • Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
  • Mudah terganggu oleh keributan
  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  • Cukup fasih saat berbicara
  • Suka bercerita dengan lawan bicara
  • Berbicara dalam irama yang terpola
  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Poin-poin diatas adalah ciri-ciri gaya belajar AUDITORI

  • Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  • Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
Poin-poin diatas adalah ciri-ciri gaya belajar KINESTETIK

Nah, dari proses identifikasi yang sudah saya lakukan, ternyata gaya belajar saya adalah kombinasi AUDIO VISUAL.
Setelah menemukan gaya belajar yang Mesa banget, saya pun perlu menyusun strategi belajar untuk mengoptimalkan proses belajar saya. Strategi belajar yang akan saya lakukan antara lain : 
  • Memperbanyak penggunaan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta
  • Menggunakan warna untuk menandai hal-hal penting
  • Memilih buku bacaan yang kaya ilustrasi
  • Menggunakan multi-media (contohnya: komputer dan video)
  • Mengilustrasikan ide ke dalam bentuk gambar
  • Membuka ruang diskusi di keluarga maupun lingkungan terdekat
  • Membaca materi belajar dengan bersuara
  • Belajar dengan metode membaca, mendiskusikan ide dan mendengarkan rekamannya


Identifikasi dan penyusunan strategi sudah dilakukan. Selanjutnya adalah bergerak, menguji keakuratannya. Bismillah J