Friday, 21 October 2016

Mengembalikan ke Tempatnya, Kan?

Mengembalikan sesuatu sesuai dengan kondisi semula.
Poin ini merupakan salah satu bentuk kemandirian yang sedang kami biasakan bersama. Bukan, bukan hanya untuk si kecil berusia 2.5 tahun itu, tapi juga untuk Umminya. Yang seringkali tanpa sadar, masih meletakkan barang di sembarang tempat, tak mengembalikan ke tempat semula.
Pagi tadi, ceritanya kami berdua baru saja membaca buku bersama di kamar yangti. Selesai membaca, kami pun keluar dari kamar. Saya dulu, baru MeGi. Namun, kaki mungil MeGi melangkah cepat mendahului saya menuju ruang makan sembari bertanya, "Kursi bulat MeGi mana ya, Mi?"
Belum sempat saya menjawab, dia sudah datang kembali mengangkat kursi bulat itu dan meletakkannya di depan pintu kamar. Saya bingung. Apa yang mau dilakukannya?
Ternyata dia ingin menutup pintu kamar. Tapi karena belum bisa menggapai gagang pintu, maka kursi bulat itu dijadikan sebagai alat bantu untuk melakukan aksinya.
"Udah ditutup Mi, pintu kamarnya yangti."
"Oh iya, jempol. Kayak tadi ya. Pintunya tertutup. MeGi bertanggungjawab." Jawab saya sembari mengacungkan dua jempol untuknya.
Kami pun melangkah bersama ke ruang makan. Di ruang makan, saya mendapati tempat sendok yang bentuknya aneh. Garpu dengan posisi menghadap bawah, menghiasi mulut tempat sendok. Saya jadi ingat, paginya MeGi memang sempat belajar dengan media ini. Menumpahkan semua isinya, dan mengelompokkan isinya.
"Kakak, kenapa ini jadi kayak begini?"
"Iya, kan dikembalikan ke tempatnya."
"Tapi koq jadi tinggi begini ya?"
"Ngga apa-apa Mi, bagus."
Baiklah, sepertinya dia sedang berimajinasi membuat menara sendok garpu :D
Ah anak-anak, seringkali kalian menerapkan pembiasaan dengan baik, berbonus imajinasi dan kreasi yang membuat kami, para orangtua tersenyum geli.

Terimakasih :)
Griya Riset, 20 Oktober 2016

Wednesday, 19 October 2016

Nak, Ibu Dikritik Cucu

Sudah sekitar 2 minggu ini saya dan MeGi tinggal di rumah orangtua. Sejak itu, MeGi mempunyai kebiasaan baru. Mengikuti kemana saja neneknya melangkah.

Yangti lagi ngapain?
Yangti mau kemana?
Yangti disini aja, temenin MeGi main

Dan celotehan lainnya yang menyiratkan keinginan untuk terus membersamai neneknya. Ini perubahan pesat dalam catatan saya. Menarik mundur memori satu tahun ke belakang, saat MeGi masih berusia sekitar 1 tahun, dia masih menganggap orang lain selain Abi Ummi-nya adalah orang asing. Kepada kakek neneknya sekalipun. Jangankan mengikuti langkah, digendong saja dia enggan. Biasanya baru mau setelah beberapa hari tinggal bersama. Perlu waktu untuk mendekat padanya, karena sepertinya dia tipikal anak yang slow to warm child. Dan kedekatan ini tidak hanya dengan ibu saya, tapi juga dengan bapak, adik serta ibu ayah mertua dan adik ipar. Bagi saya, ini merupakan sebuah kemudahan dari Allah menjelang persalinan anak kedua nanti.
Kembali pada kedekatan MeGi dengan neneknya. Pagi tadi, saat keluar dari kamar mandi, suasana rumah cukup hening. Tak ada suara MeGi dan ibu. Spontan saya memanggil MeGi beberapa kali, sembari bertanya dia ada dimana. Ada suara berdehem dari dalam kamar ibu. Rupanya ibu dan MeGi sedang berada disitu. Cukuplah suara dehem itu menjadi kode yang membuat saya tenang. Namun, sesaat kemudian,

MeGi : "Yangti, Yangti koq gitu?"
Yangti : "Iya, Yangti jawab Ummi.."
MeGi : "Tapi koq gitu? Bukan dalem(iya)"
Yangti : "Oh iya ya, Yangti salah. Harusnya dijawab dalem, Mi… Gitu ya?"
MeGi : (mengangguk mantap)
Yangti : "Naaak…ibu dikritik MeGi…"

Ah iya, kebenaran dan peringatan bisa datang dari siapapun, termasuk celoteh cucu berusia 2.5 tahun ini. Hihi..