Sunday, 20 May 2018

Saat Masjid dan Kumandang Adzan Menjadi Sebuah Hal yang Amat Dirindukan

Di kota dimana muslim menjadi minoritas, adzan dan masjid merupakan sebuah hal yang akan amat jarang kita temui.

Awal-awal kedatangan kami disini, kami cukup dibingungkan dengan jadwal sholat. Yang biasanya kami sudah hafal dengan jam sholat, ditambah dengan selalu terdengarnya kumandang adzan dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah.

Saturday, 19 May 2018

Tuesday, 15 May 2018

Monday, 14 May 2018

Sunday, 13 May 2018

Dan Perjalanan Kami Dimulai...

Hari ini, adalah hari keberangkatan kami ke Austria. Progress project Kumbang Kelana hari ini adalah belajar selama perjalanan di pesawat dan bandara. InsyaAllah kami rangkum dalam satu tulisan. Sekarang, kami di thai airways, bersiap menuju Bangkok kemudian Vienna. Doakan kami :)

Wednesday, 2 May 2018

Big Picture Keluarga Griya Riset

Menelaah materi mengenai big picture keluarga rasanya seru-seru sedaaaap...

Materi kami diskusikan di ruang pesan WhatsApp grup keluarga karena kami sedang berjauhan. Membaca bareng, mengobrolkannya, mendiskusikan bersama kemudian garuk-garuk kepala, kebingungan bersama. Hahahaa...

Baiklah, kita coba jalankan saja. Siapa tahu kekompakan dalam kebingungan inilah yang akan memahamkan kami seiring proses ikhtiar dan waktu yang berjalan. Hihi

Kami mulai dengan kolom INPUT. Kami coba kupas karakteristik diri satu demi satu.
Abiya :
Seseorang yang memiliki daya analisa yang tinggi, belief, responsilibity, dan restorative. Menyukai proses riset, menganalisa dan mendidik. Mampu mengukur kapasitas diri sendiri maupun seseorang yang sudah dikenal dengan akurat. Tegas, adil dan mengayomi.

Ummicha :
Seseorang dengan kekuatan bakat futuristic, discipline, input, empathy, maximizer, significance dan relator. Suka mendengarkan orang lain, menyukai dunia anak-anak, mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan dan berkisah.

Mentari Pagi :
Balita perempuan berusia 4 tahun yang senang jika diberi kepercayaan dan melakukan hal yang dilakukan orang dewasa. Memiliki empathy yang tinggi, senang tampil di depan orang lain serta menyukai angka dan bilangan.

Langit :
Bayi berusia 1.5 tahun yang jeli menirukan yang dikerjakan orang lain terutama kakaknya. Menyatakan keinginan dan pendapat dengan sikap yang lugas. Cepat beradaptasi dan murah senyum pada setiap orang.

Setelah menelusuri kolom input, selanjutnya adalah FAMILY SYSTEM.
Cukup njlimet untuk mencoba memahami apa yang dimaksud dengan sistem keluarga. Hasil mencari di mbah google, sebuah sistem idealnya terdiri dari :
1. Objek
2. Atribut
3. Hubungan internal
4. Lingkungan

Maka, berdasar perenungan kami, FAMILY SYSTEM yang berjalan di Griya Riset adalah :
Sistem berjalan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Artinya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam setiap program yang keluarga canangkan, tentunya sesuai kapasitas masing-masing.

Berikutnya, OUTPUT. Output yang kami harapkan lahir dari keluarga kami mencakup :
1. Karya produktif dan solutif
2. Program yang menginspirasi lingkungan
3. Langkah konkrit yang inside out
4. Membuat setiap anggota keluarga bahagia dunia akhirat

Lalu, FEEDBACK yang kami jalankan :
1. Family Productive Time setiap hari
2. Family Mastermind setiap minggu
3. Family Strategic Planning setiap tahun

Tuesday, 1 May 2018

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi.

Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini.

Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut.

Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu dan anak pun bertemu di setiap akhir pekan.

Sang nenek pun berkisah panjang. Mengenai alasan keputusan tersebut. Kekhawatiran sang nenek akan keselamatan dan keamanan sang cucu jika bayi tersebut dititipkan di tempat pengasuhan anak maupun dijaga oleh asisten rumah tangga. Maraknya berita kecelakaan dan hal kurang baik yang dialami anak-anak saat dijaga oleh asisten rumah tangga, membuat sang nenek tak tega jika cucunya harus dititipkan pada orang lain. Jadilah, tanggungjawab pengasuhan cucu beliau ambil dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi.

Saya tak ingin membahas alternatif-alternatif kondisi untuk bayi laki-laki tadi. Karena saya tak memiliki kuasa atas hal tersebut. Namun, saya merasa Allah menitipkan nilai dari obrolan singkat tadi. Yang kemudian, mau seberapa banyak saya mengambil pelajaran?

Seringkali, banyak orang yang tak memiliki pilihan lain. Dihadapkan pada sebuah peran yang menuntut konsekuensi yang tak ringan. Saat ditanya alasan, jawabannya tak lain adalah karena tak ada pilihan lain.

Saya teringat kalimat yang disampaikan oleh bu Septi, yang kurang lebihnya, memang menyenangkan jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun sebuah rahasia kehidupan adalah, bagaimana kita mencintai dan menjalankan dengan sepenuh hati, proses dan amanah yang sedang kita emban saat ini.

Obrolan singkat pagi ini dengan sang nenek, memompa rasa syukur saya. Yang mana saat ini saya berada dalam sebuah kondisi yang merupakan hasil dari pilihan saya sendiri. Semakin menguatkan tekad untuk mengoptimalkan daya upaya, menyempurnakan ikhtiar, untuk kemudian menyerahkan hasil pada Sang Pemberi Rezeki.