Wednesday, 23 May 2018

Bermain Bersama di Fasilitas Umum

Hari ini kami bermain pasir bersama di taman. Anak banyak anak yang bermain pasir. Untuk bermain di fasilitas umum, kita perlu berdiskusi dan membuat kesepakatan dengan anak agar bermain menjadi lebih nyaman. Terlebih di negeri orang. Antara lain :

Jika ada anak yang ingin bermain bersama, orangtua perlu mengawasi secara berkala. Supaya tidak terjadi pertengkaran atau hal yang tidak diinginkan. Bahasanya kan kita belum paham ya. Jadi lebih baik mengurangi potensi konflik.

Peralatan bermain diberi label nama terlebih dahulu. Ada sebuah kejadian dimana ada seorang ibu yang mendatangi kami saat bermain dan menanyakan apakah kami (orangtua) mengetahui alat bermain milik anaknya? Alhamdulillah saat itu saya bersama teman yang sudah cukup paham bahasa Jerman, sehingga kemudia teman saya membukakan tas tempat alat bermain anak-anak kami dan menunjukkan bahwa alat bermain yang ibu tersebut maksud tidak ada. Dengan demikian, ibu tersebut merasa puas dengan jawaban dan sikap kami.

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day12

Tuesday, 22 May 2018

Sarana Transportasi yang Ramah Anak

Wina merupakan kota yang terkenal akan fasilitas transportasinya. Tak heran, meski bepergian bersama dua anak kecil, kami tetap dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Ada u-bahn, tram maupun bus yang siap kami gunakan setiap saat. 

Mengapa ramah anak?
Semua jadwal kedatangan alat transportasi di halte atau stasiun bisa dimonitor dengan aplikasi sehingga dapat kita ketahui estimasi waktu kedatangannya. Ini memudahkan kita untuk menenangkan anak saat mulai jenuh menunggu. 

Di semua alat transportasi, ada tempat untuk kursi roda dan stroller. Seberapapun berdesak-desakannya, mereka akan memberi ruang untuk stroller bayi dan anak. Ada kursi khusus juga yang diprioritaskan untuk orang yang sudah tua, orang sakit, ibu hamil, orang tua yang membawa anak kecil maupun anak-anak.

Jarak antara halte maupun stasiun amat dekat. Dan semuanya bisa dilihat melalu aplikasi. Bahkan kita bisa memilih rute sesuai prioritas. Mau rute yang paling cepat, yang waktu jalan kakinya paling pendek atau yang perpindahan alat transportasinya paling minim. 

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day11

Monday, 21 May 2018

Kebiasaan Harian yang Perlu Kami Ubah Disini

Ada kebiasaan-kebiasaan yang harus berganti semenjak kepindahan kami ke Wina. Memang tak mudah, perlu waktu untuk memahamkan dan perlu proses untuk berganti kebiasaan. Anak-anak bisa menikmati dengan bahagia.

Beberapa kebiasaan tersebut adalah :

Cara kami membersihkan badan seusai buang air besar dan buang air kecil. Karena disini toiletnya adalah toilet kering maka kami membersihkan najis tetap dengan air namun dengan volume yang lebih sedikit dan dibantu dengan tisu.

Makan selalu di rumah. Karena tidak ada warung makan yang sesuai dengan lidah dan selera kita disini. Selain kehalalannya juga dipertanyakan (Selain kebab berlabel halal), harganya pun kurang ramah kantong. hihihi. Jadi jika bepergian kami berupaya mempersiapkan bekal makanan berat dari rumah.

Pergi berbelanja selalu membawa kantong belanja. Kantong belanja disini benar-benar membayar, dengan harga yang cukup mahal. Sayang kan uangnya. Supaya ramah lingkungan juga, lebih baik bawa kantong belanja dari rumah :)
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day10

Sunday, 20 May 2018

Saat Masjid dan Kumandang Adzan Menjadi Sebuah Hal yang Amat Dirindukan

Di kota dimana muslim menjadi minoritas, adzan dan masjid merupakan sebuah hal yang akan amat jarang kita temui.
Awal-awal kedatangan kami disini, kami cukup dibingungkan dengan jadwal sholat. Yang biasanya kami sudah hafal dengan jam sholat, ditambah dengan selalu terdengarnya kumandang adzan dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah.
Alhamdulillah kami datang dua hari jelang Ramadhan, dimana di bulan Ramadhan ini, Warga Pengajian Wina Austria mengadakan buka bersama di masjid As Salam rutin setiap hari Senin dan Kamis. Ini amat memudahkan porses adaptasi kami disini. Kami banyak berkenalan dengan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Wina, kami juga bisa menyantap makanan khas Indonesia yang mana kami belum tahu bumbu-bumbu dapur tersebut bisa dibeli dimana, hingga anak-anak bisa bermain dengan teman seusianya menggunakan bahasa ibu mereka. 
Dengan merantau di negeri minoritas, kami semakin paham nikmatnya berislam di negeri sendiri :)
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day9

Saturday, 19 May 2018

Menjejak Taman Am Hundsturm - Wina

Taman disini amat ramah anak. Kita akan dapati banyak taman gratis yang menyediakan aneka permainan. Dan hari ini, kami mencoba salah satunya. Taman Am Hundsturm kami tapaki seusai kami berbelanja. Kami singgah disini untuk melepas lelah sebelum berjalan kembali sembari menemani anak-anak bermain. Aneka permain tersedia disini. Lokasi bermain beralas serpihan kayu sehingga aman untuk anak. Anjing tidak boleh masuk ke taman ini, terdapat peringatan demikian di pintu masuk taman. Selepas bermain, kami siap berjalan kaki kembali dengan bahagia :D

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day8

Tuesday, 15 May 2018

Proses Adaptasi yang Kami Jalani di Awal Kedatangan

Austria dan Indonesia adalah dua negara yang jauh berbeda. Adaptasi pun perlu kami lakukan. Cuaca saat kami datang kesini cukup cerah, semi dingin namun kering. Untuk menjaga kelembaban, kami membatasi waktu mandi dan memakai pelembab bibir dan wajah. 

Anak-anak merasa cukup nyaman dengan hawa dingin disini sehingga bisa pulas tertidur meski tanpa kipas angin. Anak-anak senang sekali karena di depan tempat tinggal kami ada taman bermain. Oiya, disini tidak ada semut, lalat atau serangga lainnya :D

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day4

Monday, 14 May 2018

Hari Pertama Kami di Austria

Kumbang kelana mulai menapak...

Hari masih pagi kala kami menginjakkan diri di bandara Wina. Dua orang teman suami sudah menanti kami di pintu keluar dan dengan cekatan membantu kami membawa barang-barang. Qodarullah di dompet suami tidak ada uang koin sesuai nominal yang dibutuhkan untuk meminjam troli sehingga koper-koper kami bawa secara manual. Setelah membeli tiket perjalanan, kami naik kereta menuju tempat tinggal. Sesampainya di rumah, istri dari teman suami pun datang. Beliau membawa beberapa jenis makanan dan barang titipan saya. Itu pertemuan kami yang pertama kali. Sebelumnya kami banyak berinteraksi di chat WhatsApp. Hari itu kami isi dengan beberes rumah dan beristirahat :)

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day3


Sunday, 13 May 2018

Dan Perjalanan Kami Dimulai...

Hari ini, adalah hari keberangkatan kami ke Austria. Progress project Kumbang Kelana hari ini adalah belajar selama perjalanan di pesawat dan bandara. InsyaAllah kami rangkum dalam satu tulisan. Sekarang, kami di thai airways, bersiap menuju Bangkok kemudian Vienna. Doakan kami :)

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day2

Wednesday, 2 May 2018

Big Picture Keluarga Griya Riset

Menelaah materi mengenai big picture keluarga rasanya seru-seru sedaaaap...

Materi kami diskusikan di ruang pesan WhatsApp grup keluarga karena kami sedang berjauhan. Membaca bareng, mengobrolkannya, mendiskusikan bersama kemudian garuk-garuk kepala, kebingungan bersama. Hahahaa...

Baiklah, kita coba jalankan saja. Siapa tahu kekompakan dalam kebingungan inilah yang akan memahamkan kami seiring proses ikhtiar dan waktu yang berjalan. Hihi

Kami mulai dengan kolom INPUT. Kami coba kupas karakteristik diri satu demi satu.
Abiya :
Seseorang yang memiliki daya analisa yang tinggi, belief, responsilibity, dan restorative. Menyukai proses riset, menganalisa dan mendidik. Mampu mengukur kapasitas diri sendiri maupun seseorang yang sudah dikenal dengan akurat. Tegas, adil dan mengayomi.

Ummicha :
Seseorang dengan kekuatan bakat futuristic, discipline, input, empathy, maximizer, significance dan relator. Suka mendengarkan orang lain, menyukai dunia anak-anak, mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan dan berkisah.

Mentari Pagi :
Balita perempuan berusia 4 tahun yang senang jika diberi kepercayaan dan melakukan hal yang dilakukan orang dewasa. Memiliki empathy yang tinggi, senang tampil di depan orang lain serta menyukai angka dan bilangan.

Langit :
Bayi berusia 1.5 tahun yang jeli menirukan yang dikerjakan orang lain terutama kakaknya. Menyatakan keinginan dan pendapat dengan sikap yang lugas. Cepat beradaptasi dan murah senyum pada setiap orang.

Setelah menelusuri kolom input, selanjutnya adalah FAMILY SYSTEM.
Cukup njlimet untuk mencoba memahami apa yang dimaksud dengan sistem keluarga. Hasil mencari di mbah google, sebuah sistem idealnya terdiri dari :
1. Objek
2. Atribut
3. Hubungan internal
4. Lingkungan

Maka, berdasar perenungan kami, FAMILY SYSTEM yang berjalan di Griya Riset adalah :
Sistem berjalan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Artinya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam setiap program yang keluarga canangkan, tentunya sesuai kapasitas masing-masing.

Berikutnya, OUTPUT. Output yang kami harapkan lahir dari keluarga kami mencakup :
1. Karya produktif dan solutif
2. Program yang menginspirasi lingkungan
3. Langkah konkrit yang inside out
4. Membuat setiap anggota keluarga bahagia dunia akhirat

Lalu, FEEDBACK yang kami jalankan :
1. Family Productive Time setiap hari
2. Family Mastermind setiap minggu
3. Family Strategic Planning setiap tahun

Tuesday, 1 May 2018

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi.

Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini.

Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut.

Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu dan anak pun bertemu di setiap akhir pekan.

Sang nenek pun berkisah panjang. Mengenai alasan keputusan tersebut. Kekhawatiran sang nenek akan keselamatan dan keamanan sang cucu jika bayi tersebut dititipkan di tempat pengasuhan anak maupun dijaga oleh asisten rumah tangga. Maraknya berita kecelakaan dan hal kurang baik yang dialami anak-anak saat dijaga oleh asisten rumah tangga, membuat sang nenek tak tega jika cucunya harus dititipkan pada orang lain. Jadilah, tanggungjawab pengasuhan cucu beliau ambil dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi.

Saya tak ingin membahas alternatif-alternatif kondisi untuk bayi laki-laki tadi. Karena saya tak memiliki kuasa atas hal tersebut. Namun, saya merasa Allah menitipkan nilai dari obrolan singkat tadi. Yang kemudian, mau seberapa banyak saya mengambil pelajaran?

Seringkali, banyak orang yang tak memiliki pilihan lain. Dihadapkan pada sebuah peran yang menuntut konsekuensi yang tak ringan. Saat ditanya alasan, jawabannya tak lain adalah karena tak ada pilihan lain.

Saya teringat kalimat yang disampaikan oleh bu Septi, yang kurang lebihnya, memang menyenangkan jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun sebuah rahasia kehidupan adalah, bagaimana kita mencintai dan menjalankan dengan sepenuh hati, proses dan amanah yang sedang kita emban saat ini.

Obrolan singkat pagi ini dengan sang nenek, memompa rasa syukur saya. Yang mana saat ini saya berada dalam sebuah kondisi yang merupakan hasil dari pilihan saya sendiri. Semakin menguatkan tekad untuk mengoptimalkan daya upaya, menyempurnakan ikhtiar, untuk kemudian menyerahkan hasil pada Sang Pemberi Rezeki.