Monday, 29 June 2020

Mendeteksi Perkembangan Proses Belajar dengan Mastermind dan Mendengarkan Testimoni


Bismillahhirrohmanirrohim…

Apa yang dilakukan di pekan ini?

Kembali menuliskan jejak perjalanan belajar yang memasuki pekan keenam di program Mentorship ini. Di pekan ini kami ditugaskan untuk fokus pada perkembangan proses belajar. Hal apa saja yang perlu dilakukan terkait hal tersebut? Yang pertama, kami melakukan proses mentoring seperti biasanya, kemudian membuat mastermind harian yang mencakup sudah sukses apa hari ini, apa kunci sukses hari ini? Ingin sukses apa esok hari? Dan ditutup dengan aliran rasa pekan keenam ini.
Selain membuat mastermind, kami juga diajak untuk bermain dan berpikir kreatif dengan cara membuat analogi suasana diri, kemudian membuat analogi untuk mentee dan mentor kita. Selanjutnya adalah kita membutuhkan testimoni dari lingkungan terdekat kita mengenai proses belajar yang sedang kita jalankan.


Bagaimana langkah yang saya lakukan?

Setelah menyimak materi dari ibu, sebenarnya pikiran saya berfokus pada Abschlusstest yang dilakukan keesokan harinya. Namun karena tugas pekan ini adalah tugas rutin harian, maka saya bertekad untuk menjalankannya segera secara rutin untuk melatih konsistensi, bukan merekap menjelang akhir periode tantangan.  Maka rencana aksi yang saya jalankan adalah menuliskan bahan mastermind di buku agenda, sekaliyan dengan rencana kegiatan yang rutin dibuat per hari dan membuat setoran gambar analogi per hari sebagai postingan di media sosial.
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari untuk berkegiatan bersama keluarga dan bersosialisasi secara luring. Sudah ada dua kelas daring yang harus saya ikuti di akhir pekan, juga sesi TPA bersama santri yang masih berjalan daring. Karenanya, tugas Bunda Cekatan maupun koordinasi terkaitnya, selain rencana aksi rutin harian diatas, saya jadwalkan pengerjaannya di hari Senin.

Hal apa saja yang didiskusikan dengan mentee?

Hari Senin saya melakukan telefon dengan mentee sesuai permintaan beliau. Beliau memilih untuk berdiskusi dengan telefon ketimbang dengan teks atau kirim suara. Ada banyak poin yang beliau ajukan jadi bahan diskusi seputar manajemen waktu. Kami memulainya dengan topik strategi menjaga fokus. Taraaa....menjaga fokus ini sungguh tak mudah bagi mayoritas perempuan. Ditambah lagi diri ini memang mudah terdistraksi. Hasil asesmen Talents Mapping sudah mengkonfirmasinya koq. Alhasil, menjaga fokus ini cukup jadi tantangan tersendiri. Strategi yang dijalankan saat ini adalah membuat to do list rutin di buku agenda. Mencatat target harian dan membuat rencana kegiatan dengan durasinya. Sengaja saya memilih buku agenda yang dilengkapi kolom per jam, sehingga memudahkan saya untuk membuat kandang waktu harian.
Kami juga membahas mengenai efektivitas penggunaan suatu aplikasi. Pada intinya, aplikasi bisa jadi tak memiliki faktor pengganggu yang mengurangi kenyamanan diri dalam menggunakannya. Wajar saja, karena sang pembuat pun tidak bisa dan tidak pelru juga menyenangkan semua orang. Kita bisa menemukan solusi dengan mencari alternatif aplikasi lain yang serupa, atau melakukannya secara manual tapi bantuan aplikasi. Poin pentingnya adalah kita terus membangun support system untuk keterampilan yang sedang kita asah ini. Jadi, mari fokus pada solusi!

Bagaimana mastermind  yang saya buat?

Di hari Senin, seperti pekan sebelumnya, saya juga mengirimkan logbook harian kepada mentor. Kemudian saya mulai merekap hasil mastermind dan analogi diri yang sudah dibuat secara harian. Berikut mastermind saya :

Lalu, apa kabar analogi diri?


Untuk mentee, saya menganalogikan beliau sebagai seorang yang merawat anggrek. Terinspirasi dari anggrek pemberian teman, yang mana sempat layu karena saya belum bisa merawatnya, kemudian diselamatkan oleh teman yang datang ke rumah. Dari mba Intan, saya belajar bagaimana merawat anggrek. Saya memberikan analogi tersebut kepada mba Nurul karena mba Nurul menjalankan program Mentorship  dengan optimal. Sebelum jadwal telefon, biasanya beliau sudah memiliki daftar pertanyaan dan menyetorkan progress harian beliau. Hal ini memudahkan kami untuk berdiskusi dengan efektif, efisien dan tepat sasaran.

Untuk mentor saya, saya menganalogikan beliau sebagai bibi titi teliti. Beliau mengoreksi tulisan yang saya buat dengan sangat teliti, disertai penjelasan yang detail dalam setiap koreksian. Hal ini memudahkan saya untuk menangkap maksud beliau sekalipun beliau tak memberikan penjelasan secara lisan. Ada kalimat kompleks yang saya buat, dan saya bingung bagaimana merangkainya dengan tepat. Setelah beliau mengoreksi, beliau memberikan alternatif memecahnya menjadi dua kalimat sederhana. Ah iya, terasa lebih mudah dimengerti!
Sumber gambar : https://www.kekenaima.com/2012/07/ke-bobo-fair-bertiga-ajah.html
Dari mentor, saya mendapatkan analogi matahari pagi. Ah, mengapa bisa pas banget dengan apa yang saya sukai? Bahkan saya memanggil si sulung dengan sebutan mentari pagi. Seperti dalam tulisan beberapa tahun lalu ini http://www.griyariset.com/2018/02/lewat-aplikasi-whatsapp-mentari-pagi.html. Terima kasih mba Retno. :)

Kemudian dari mentee, saya mendapat analogi penguin jantan.


Maknanya sangat mendalam. Ternyata ada kebiasaan khusus para penguin jantan ketika masa berkembang biak. Dan mba Nurul menganalogikan dengan hal tersebut karena di proses belajar yang kami jalankan bersama, mentor memberikan teladan konsistensi menjalankan waktu dari pengalaman langsung, seperti halnya penguin jantan yang menunjukkan arti konsistensi kepada anaknya lewat proses pengeraman telur. Memberikan nasehat/ilmu/hikmah saat mentee membutuhkan, yang dianalogikan dengan suapan susu dari penguin jantan kepada anaknya. Aamiin. Semoga proses memfasilitasi mentee dalam hal manajemen waktu ini juga menjadi langkah bagi saya menguatkan manajemen waktu diri dan Allah mudahkan menghadapi tantangan terkait hal tersebut. Aamiin. Bukankah semua ilmu dan keterampilan adalah untuk beribadah padaNya? 

Kini saatnya menyimak testimoni 

Pemberian testimoni untuk diri saya, haruslah dari seorang yang memahami proses belajar bahasa Jerman saya selama ini. Saya mengajukan permintaan testimoni pada suami, guru kursus dan teman dekat yang juga teman sekelas di tempat kursus. Guru kursus belum memberikan jawaban, sehingga saya baru menerima testimoni dari suami dan teman. Testimoni dari teman, beliau menilai saya belajar bahasa Jerman tidak hanya di tempat kursus saja, tapi juga di kehidupan sehari-hari. Hahaha. Beliau tahu persis getolnya saya mengikuti forum belajar kesana-kemari. Beliau sering bertanya, „Mesa ngga capek?“ atau berkata, „Mesa kan hobinya gitu.“ Saat saya menghubungi pihak tertentu untuk mencari informasi atau mendaftar ke sebuah acara.
Testimoni dari suami adalah testimoni yang paling saya nantikan. Meskipun sebenarnya saya perlu menyiapkan mental untuk bisa menerimanya dengan tetap tenang. Beliau seorang yang serius dan cespleng dalam memberi masukan. Bukan devil advocate sih, karena bahkan beliau adalah seorang yang sangat jarang marah atau mengkritisi dengan ekstrem. Namun saya yang dulu cenderung sensitif ini, mudah tersinggung saat mendengarnya. Setelah tujuh tahun menjadi mentee beliau, sekarang saya lebih mudah menerima, terlebih setelah lambat laun paham bahwa ternyata yang beliau sampaikan terbukti benar.
Beliau mengapresiasi saya yang memiliki semangat belajar tinggi dan target yang jelas. Nah, karena ada target maka tentu memiliki standar. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan manajemen agar prosesnya berjalan seimbang dengan peran saya lainnya, juga efektif dan efisien. Beliau mengingatkan saya untuk memperbaiki manajemen secara umum, dari beragam aspek, saya membedahnya menjadi manajemen diri, juga waktu, emosi, dan energi. Yang beliau garis bawahi adalah, segera kerjakan tugas di malam hari sehingga tidak ada lagi tanggungan di pagi hari dan bisa fokus ke pengerjaan standar pagi dan persiapan berangkat kursus. Di musim panas ini waktu Isya' baru masuk di jam 22.30 CEST, seringkali anak-anak baru beranjak tidur jam segitu dan saya alih-alih mengerjakan tugas, kerap terlena untuk ikut tidur saat menemani anak-anak. Bismillah perbaiki diri!
Beliau berpesan bahwa seorang profesional adalah seorang yang mengalokasikan suatu hal dan bisa mencapainya. Bergeraklah ke arah sana. Tugas seorang ibu itu banyak dan ibu di ranah domestik memiliki fleksibilitas tinggi. Itu tantangan. Jam kerja ditentukan sendiri, target capaian pun ditentukan sendiri, tidak ditagih-tagih orang lain atau mengikuti jadwal pihak eksternal. Maka, disiplinkan fleksibilitas diri dan jangan terlena dengan fleksibilitas itu. Ahamdulillah, lega rasanya mendapat testimoni langsung dari beliau, di tengah keheningan malam, duduk bersebelahan di depan meja belajar masing-masing. Ya Allah, ampuni kekhilafan hamba dan mudahkan hamba untuk berproses untuk lebih baik lagi, dalam upaya meraih rida-Mu. Aamiin... Setiap orang memiliki lintasan masing-masing, dan lintasan inilah yang hamba pilih dan jadikan jalan menuju-Mu.

Wina, 30 Juni 2020


Tuesday, 23 June 2020

Antara Topik Manajemen Waktu Ibu Rantau dan Belajar Bahasa Jerman : Bagaimana Kesesuaian antara Rencana Aksi dan Realisasi?

Bismillahhirohmanirrohim…

Membuat jurnal kembali, menuliskan apa yang sudah dikerjakan di pekan kelima program Mentorship ini. Berpijak dari apa yang disampaikan bu Septi di Facebook Live pada hari Kamis lalu, hari Sabtu saya mengalokasikan waktu untuk berdiskusi dengan mentor dan mentee. Hari Sabtu dan Minggu adalah hari libur, artinya porsi family time lebih banyak daripada hari efektif sehingga saya mencoba membuat timeline yang realistis untuk pengerjaan jurnal pekan ini.
Jum’at : memahami materi yang disampaikan bu Septi, membuat notulen saat menyimaknya.
Sabtu : berkoordinasi dengan mentor dan mentee
Minggu : Video Call dengan mentee, sekaligus mencatat poin penting untuk bahan penulisan jurnal
Senin : Video Call dengan mentor, sekaligus mencatat poin penting untuk bahan penulisan jurnal
Selasa : menulis jurnal
Bersegera itu penting, dengan tetap menjaga keseimbangan. Maka inilah timeline bersegera menuliskan jurnal versi saya. Karena memang ada beberapa hal lain yang juga berada di prioritas utama untuk dikerjakan dengan optimal.
Fehler feiern (Selebrasi Kesalahan) sumber : https://twitter.com/groeschelwalter/status/880674391352279041

Sesi bersama mentee

Sebelum menentukan jadwal pertemuan, saya menanyakan terlebih dahulu pada mentee, model forum seperti apa yang sesuai untuk beliau. Dan beliau menghendaki berdiskusi berdua saja dengan saya. Video Call bersama mentee dimulai dengan membahas perkembangan yang dicapai mentee selama melatih keterampilan manajemen waktu bersama Al Qur’an. Strategi kandang waktu yang dijalankan beliau, menemukan kunci pola di dua kandang waktu berdurasi total empat jam di setiap pagi hari. Yaitu pada jam 05.00 – 07.00 dan 07.00 – 09.00. Jika target selama dua kandang waktu tersebut terpenuhi, maka akan memudahkan diri untuk mencapai target harian secara keseluruhan. Alhamdulillah.
Kemudian kami membahas mengenai ketercapaian target pekanan. Beliau mengakui bahwasanya tantangan berat beliau adalah menolak serondolan, terutama yang berasal dari pihak lain. Setelah beliau menyampaikan kesalahan beliau dalam proses ini, saya pun mengapresiasinya dan mengajaknya berdiskusi bersama seputar tantangan yang dialaminya, seputar serondolan.

Bagaimana saya menyikapi serondolan?

Seperti yang pernah saya sampaikan, bahwasanya manajemen waktu memang erat kaitannya dengan keterampilan diri lainnya, termasuk komunikasi produktif. Untuk poin-poin yang bersifat serondolan, saya pun pernah merasakannya. Yang saya lakukan untuk mengatasi hal ini adalah menuliskan bentuk serondolannya dan mengklasifikasikan faktor pencetusnya. Saya membagi faktor pencetus dalam dua bagian, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tak lain adalah faktor yang berasal dari diri kita sendiri. Kita perlu awas, agar jangan sampai faktor pencetus internal, kita masukkan ke faktor eksternal dan mengkambinghitamkan pihak lain.
Saya ceritakan saja apa yang sering saya alami. Di pagi hari biasanya saya alokasikan waktu untuk belajar bahasa Jerman atau mengerjakan PR kursus. Namun sebelumnya, saat membuka WhatsApp saya melihat ada bahasan di WAG komunitas. Ternyata ada hal yang penting, informasi perlu diteruskan atau sesuatu yang perlu segera ditindaklanjuti. Kolaborasi bakat empathy dan relator pada diri saya membuat saya menciptakan serondolan itu. Waktu pagi hari yang seharusnya digunakan untuk belajar bahasa Jerman, saya gunakan untuk mengerjakan tugas komunitas. Alhasil, PR jadi belum selesai dan ada target belajar yang tak tercapai. Nah, faktor pencetus serondolan dari kasus ini bukanlah hal yang diberikan orang lain pada kita (faktor eksternal), namun kita yang mengizinkan kegiatan lain yang tak semestinya, masuk ke kandang waktu hal lain yang sudah kita prioritaskan (faktor internal). Masalahnya ada pada diri saya, dan saya harus berubah menjadi lebih saklek dan tegas dalam bersikap.
Jika faktor pencetusnya adalah pihak eksternal atau berasal dari orang lain, maka saya menyarankan untuk membuat klasifikasi langkah yang harus diambil, yaitu lakukan sekarang juga seperti misalnya anak sakit, agendakan misalnya ajakan menjenguk tetangga yang melahirkan  atau abaikan misalnya ajakan untuk ghibah. Untuk menyampaikan langkah kita pada orang lain, diperlukan sebuah komunikasi produktif. Misalnya saya dengan teman terbiasa untuk menanyakan agenda terlebih dahulu sebelum mengajak bermain bersama. Contoh praktik : „Ada agenda apa sore nanti? Kalau ada waktu luang, bisakah kita bertemu di taman dan anak-anak bermain bersama?“ Nah, untuk poin ini diperlukan pemahaman kedua pihak untuk berkomunikasi versi orang dewasa, yang mana mendahulukan nalar ketimbang emosi atau dominasi perasaan.

Bagaimana dengan pendelegasian tugas?

Setelah berdiskusi panjang mengenai serondolan, diskusi kami berlanjut ke cara mendelegasikan tugas yang tepat. Wajar adanya jika kita membutuhkan bantuan orang lain. Pun jika orang lain membutuhkan bantuan kita. Namun jika hal tersebut terjadi berulang, maka perlu adanya komunikasi dan kesepakatan bersama antara kedua belah pihak agar salah satu pihak tak merasa menjadi korban. Saya kembali menceritakan apa yang saya jalankan seputar pendelegasian dalam keluarga.
Misal, karena sedang ada deadline pekerjaan selama sekitar tiga pekan, suami menyampaikan bahwa pada hari X tidak bisa mengantarkan si sulung ke sekolah seperti biasanya. Keterbatasan tersebut dikomunikasikan beberapa hari sebelumnya sehingga saya bisa mempersiapkan diri dan anak-anak agar kondusif untuk saya antar dan jemput sebelum dan sesudah saya kursus. Pun jika saya belum bisa membereskan rumah untuk beberapa hari karena harus mempersiapkan diri menjelang ujian bahasa, saya menyampaikannya pada suami sejak awal pekan atau jauh hari sebelumnya. Sehingga kondisi tersebut bisa dipahami bersama dan satu sama lain bisa saling menjadi support system.
Diskusi saya bersama mentee berlangsung selama sekitar satu jam. Saya merasa cukup banyak poin yang kami bahas dan diskusikan bersama. Semoga apa yang sudah kami diskusikan, bisa memudahkan mentee untuk berproses menapaki action plan berikutnya.

Sesi bersama mentor

Saat mentor menawarkan ingin sesi seperti apa di Mentorship pekan ini, saya mengusulkan untuk membuat forum bersama dengan mentor dan mentee beliau yang lainnya. Sehingga kami bisa saling menyemangati dan mendapatkan feedback lebih banyak. Sebagai awalan, mentor mempersilakan saya untuk menyampaikan perkembangan proses saya mengasah keterampilan belajar bahasa Jerman di pekan ini. Saya pun menjelaskan poin-poin berikut :
Tujuan Saya
Langkah Saya
Deadline Saya
Progress Saya
Perbaikan Kesalahan

Fasih berbahasa Jerman baik secara lisan maupun tulisan.
Indikator kesuksesan :
Lulus B1 Pruefung dengan nilai optimal
Tidak canggung dan berbicara aktif di forum diskusi
Bisa memahami isi diskusi di forum belajar dengan jelas
Bisa bertanya dengan cepat dan benar
Orang lain bisa menerima penjelasan yang saya sampaikan
Strong Why:
Memudahkan dalam mengurus segala sesuatu dan berkegiatan.
Bisa bersama anak belajar bahasa Jerman.
Optimal memanfaatkan kesempatan join forum-forum belajar.
Pintu pembuka memahami ilmu baik lisan maupun tulisan.
Home Education dan mengajar TPA dengan multibahasa
Konversationsstunde 1x

Juni – Agustus 2020
W-24 mengikuti Konversatiosstunde di NZ16, membahas mengenai Wortschatz tapi mikrofon rusak, jadi bisa dengar ngga bisa bicara.  Mengoptimalkan belajar dengan mendengarkan.
W-25 jadwal KS bentrok dengan jadwal offline. Tapi sempat konsultasi dengan Frauenberatung, Bezirkamt, Beraterin di VFI dan ngobrol dengan siapapun yang ditemui dengan bahasa Jerman, sehingga target tetap bisa tercapai. (70%)
Terlalu banyak mengikuti forum belajar membuat saya target menjadi tak realistis untuk dicapai.KS memang memberi ruang untuk latihan berbicara tapi saya perlu cek agenda dalam pekan tersebut. Sampai dengan Juli 2020 Konversationsstunde target ditiadakan dulu. Optimalkan waktu buat  persiapan Pruefung. Setelah Pruefung bisa ikut Deutsch im Park selama Sommer. 
Kursus VFI 4x
Maret – Juli 2020
Alhamdulillah bisa hadir setiap hari. Kadang ngga mindfulness karena proses di kelas terasa lambat. Jadi kepikir nyambi ngerjain yang lain (nulis agenda harian, koordinasi komunitas). Setelah evaluasi, saya salah. Ngga boleh gitu. Harus sabar dengan proses. (80%)
Mencoba mindfulness selama jam kursus. Mendengarkan dengan aktif dan menjadikan jam kursus sebagai kesempatan untuk CnC pemahaman. Mumpung masih kursus! Jaga adab pada guru dan ilmu.
OeIF B1 onlinekurs
Mei – Juni 2020
W-25 Ngga ikut karena bentrok jadwal offline. (20%)
Sama seperti Konversationsstunde, saat ini ngga jadi prioritas.
Lulus OeIF B1 Pruefung
Agustus 2020
Persiapan
Ikhtiar & tawakkal.
W-26 : tuntas baca semua materi kursus, buat menyambut Abschlusstest
W-27 : baca buku yang dipinjam dari perpustakaan, utamakan buku persiapan OeIF Pruefung.
W-28 : Sprechen, E-Mail Schreiben
W-29 : SIAP TEMPUR. Istirahat jelang ujian.
Memahami Deutsch level B2 baik via kursus, atau belajar mandiri
Desember 2020



Mentor juga memberikan saran saya untuk menentukan prioritas kegiatan utama agar tidak overload Strategi saya untuk memfokuskan langkah ke persiapan Pruefung juga menunda untuk mengikuti Konversationsstunde dan OeIF B1 Kurs disetujui sebagai langkah realistis yang bisa dijalankan saat ini. 
Di pekan ini saya juga mulai menjalankan target yang sudah saya canangkan dan sampaikan ke mentor sejak awal pertemuan kami yang terlambat. Yang mana saya berkomitmen untuk menghubungi beliau setiap hari Jum’at untuk mengkonsultasikan hal yang belum saya pahami seputar materi yang sedang saya pelajari dan setiap hari Senin untuk menyetorkan perkembangan belajar harian (saya membuat logbook harian untuk proyek Mama lernt Deutsch, terinspirasi saat penelitian di laboratorium saat di bangku kuliah S1 dahulu).

Yang saya konsultasikan saat hari Jum’at lalu adalah Schreiben menggunakan Praeteritum sedangkan logbook yang saya tuliskan adalah sebagai berikut :

Ein Bordbuch fuer ein Mentorship-Program
im Schmetterling Schritt - Bunda Cekatan
 Institut Ibu Profesional
Tujuan : fasih berbahasa Jerman dengan benar
Nu.
Datum
Schritte
Notizen
0
Awal mentorship – 7 Juni 2020
Kursus online B1
Futur 1
Praeteritum
Obwohl, trotzdem
Konnektoren
Um...zu...
damit
Awal kursus, langsung ujian materi. Banyak yang lupa. Perlu belajar lagi.
1
8 Juni 2020
OeIF Kurs
-
2
9 Juni 2020
(an)statt = zu + Infinitiv
nicht... +sondern
Sprechen : unterschiedlichen Rollen haben Frauen, Karriere
-
3
10 Juni 2020
Hoereuebung
Lesen : Die Elternkarenz
-
4
11 Juni 2020
LIBUR KURSUS : baca buku anak
Membaca buku anak adalah salah satu cara belajar bahasa Jerman yang menyenangkan, baik buat saya dan anak-anak. Manfaatnya pun ganda. Maka, langkah ini terus dijalankan dan dirutinkan.
5
12 Juni 2020
OeIF Kurs
Ke Perpustakaan pinjam buku anak
-
6
13 Juni 2020
Baca buku anak
-
7
14 Juni 2020
mit Verkauferin sprechen
-
8
15 Juni 2020
OeIF Kurs
Mit Frauen Beratung besprechen
-
9
16 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Lesen verstehen
Nachdem, bevor, waehrend
-
10
17 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
E-Mail Schreiben : beschwerden
-
11
18 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Konjunktiv II : haben, sein, wuerde
Pinjam banyak buku dari perpustakaan. Optimalkan buat persiapan.
12
19 Juni 2020
Hoereuebung : OeIF Vorbereitung
Konjunktiv II
Perbanyak latihan Hoeren. Hoeren B1 banyak kosakata baru dan pilihan jawaban pun sering menjebak
13
20 Juni 2020
Konsultasi Schreiben Praeteritum
Lebih teliti dalam penentuan kasus (Dat-Akk)
14
21 Juni 2020
Revisi Schreiben Praeteritum
-
15
22 Juni 2020
Fehlerfeiern
Sadari kesalahan, pasang strategi perbaikan, bangun mental pejuang.

Schreiben
Eine Geschichte ueber mich als Kind
Als ich ein Kind war, schwamm ich zweimal pro Woche. Ich blieb in der Volksschule bis 3 Uhr. Danach ging ich ins Schwimmbad, weil ich an einem Schwimmkurs teilnahm. Es gab einen Schwimmlehrer, der mich und andere Kinder zu schwimmen unterrichtete. Der Schwimmkurs war jeden Donnerstag und Samstag von 15:30 Uhr bis 17:30 Uhr.
Bevor ich schwamm, machte ich eine Aufwaermung. Die Aufwaermung und  Dehnuebungen vor dem Schwimmen waren sehr wichtig. Sie halfen der Koerper, sich auf die intensive koerperliche Aktivitaet vorzubereiten. Nachdem ich eine Aufwaermung gemacht hatte, unterrichtete meiner Schwimmlehrer mich und meine Klassenkameraden. Er gab uns vier Schwimmarten oder Schwimmtechnik. Zuerst lernte ich Freistilschwimmen oder Kraulschwimmen, zweite war Brustschwimmen, dritte war Schmetterlingsschwimmen und vierte war Rueckenschwimmen.

Fuer mich war das Brustschwimmen die einfachste Technik und das Schmetterlingsschwimmen die schwierigste Technik. Meine Lieblingstechnik war aber Schmetterlingsschwimmen, weil damit ich sehr schnell schwimmen konnte. Jetzt schwimme ich nie. Seit zwei Jahren, wenn ich nach Wien kam, schwamm ich noch nicht.

Alhamdulillah, perasaan saya jauh lebih lega dan merasa memiliki support system tambahan dalam menjalankan proyek Mama lernt Deutsch ini. Jurnal ini dituliskan untuk mendokumentasikan perjalanan belajar selama satu pekan ini, dalam rangka memantaskan diri menuju Cekatan di keterampilan yang sedang diasah saat ini. Semoga Allah rida dan jaga ikhtiar ini agar senantiasa dalam bingkai ketaatan padaNya. Aamiin.
Wina, 23 Juni  2020