Saturday, 24 August 2019

Every Mother is a Changemaker, Insight dari Konferensi Ibu Profesional 2019


Sapaan bu Septi pada perwakilan peserta teleconference Konferensi Ibu Profesional


Konferensi Ibu Profesional menjadi sebuah event yang memberikan suntikan semangat bagi diri saya secara pribadi, untuk tetap keep on track dalan menjalankan peran sebagai istri, ibu dan agen perubahan dengan bahagia. Bukankah bahagia itu harus diciptakan? Dan ini adalah satu cara saya untuk recharge energy.
Tidak semua sesi bisa saya ikuti dengan optimal. Selisih waktu antara CEST dan WIB yang mana di sini lebih lambat lima jam.Tapi tak mengapa, rekaman video full session akan didapatkan oleh peserta teleconference secara lengkap. Tugas saat ini adalah mengikuti sebaik-baiknya sesi yang bisa saya ikuti dengan mengantongi izin dari suami dan anak-anak.

Sesi yang sempat saya ikuti antara lain :
  1. Every Mother is a Changemaker   
  2. Pergerakan Perempuan Indonesia
  3. Cahaya Saujana : Pamella Swalayan
  4. Cahaya Saujana : Konseling Berperspektif Gender
  5. Tangan Terampil : Eco Enzyme
  6. Sesi Changemaker  1 : Jogokariyan
  7. Sesi Changemaker  2 : Kandidat Changemaker
  8. Perempuan Berdaya  1 oleh Pak Dodik Mariyanto
  9. Perempuan Berdaya  2 oleh Bu Tri Mumpuni


Beberapa bulan lalu saat mengetahui informasi penyelenggaraan Konferensi Ibu Profesional, saya tertarik untuk mengikutinya. Beberapa pertanyaanpun muncul di pikiran. Namun, sebelum pertanyaan bagaimana cara mengikutinya, saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang bermunculan seketika dan membuatnya menjadi sebuah daftar tanya jawab.

Mengapa saya ingin mengikuti Konferensi Ibu Profesional?
Karena saya membutuhkannya. Konferensi Ibu Profesional yang mengangkat tema Synergy for Change menggelitik hati saya untuk semakin menguatkan langkah untuk menjadi seorang Ibu Pembaharu.
Apa yang ingin saya ketahui dari acara KIP ini?
  • Cara untuk menjadi seorang Agen Perubahan
  • Cara untuk memfasilitasi anak Aqil Baligh menjadi seorang Pembaharu
  • Strategi menjadi seorang Perempuan Berdaya

Apa yang ingin saya dapatkan di acara KIP ini?
  • Transfer energi positif dari lingkungan lingkungan yang kondusif dan suportif
  • Semangat membara untuk terus memantaskan diri menjadi Ibu Profesional kebanggaan keluarga
  • Bekal untuk membuat Family Strategic Planning ke depan


Dari daftar tanya jawab ini, saya menimbang dan memutuskan bahwa ya, saya perlu mengikuti event Konferensi Ibu Profesional. Maka saya lanjutkan untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana cara mengikutinya?”. Pertanyaan ini saya coba jawab dengan melakukan pendekatan ke panitia dan mengajukan kemungkinan-kemungkinan yang ada sehingga muncullah rencana Teleconference yang Alhamdulillah akhirnya bisa terwujud. Benar adanya bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus berusaha.

Sesi pertama yang saya ikuti bertajuk Every Mother is a Changemaker. Sesi ini sangat menarik, dibuka dengan penuturan Rere dan Lita, dua perempuan usia aqil baligh yang terpilih menjadi Ashoka Young Changemaker dan Ashoka Young Pioneer mengenai social project yang sudah mereka jalankan dan dampak positifnya sudah dirasakan oleh masyarakat luas.
Apa yang mereka lakukan di usia belia tersebut?
Maria Angelita atau yang akrab disapa Lita menginisiasi sebuah proyek bertajuk Melukis dan Berkarya Bersama.  Lita menyampaikan bahwa anak-anak harus berani bermimpi, karena mimpi adalah tujuan hidup. Melalui proyek tersebut, Lita  mengajak anak-anak untuk bercerita mengenai mimpinya, kemudian dia membantu mereka untuk memvisualisasikannya dan membuat karya bersama.  
Sedangkan Rere atau Amarylisse MC Ganz memulai perjalanannya dari aktivitas yang dia sukai, membaca dan menulis. Rere menuturkan bahwa sejak kecil orangtua tidak memfasilitasi rumah dengan televisi. Sebagai gantinya, buku-buku disediakan di rumah dalam jumlah banyak. Membaca buku menjadi sebuah aktivitas rutin yang menyenangkan bagi Rere. Rere kecil tumbuh menjadi seorang anak yang lekat dengan dunia literasi. Kecintaannya pada membaca dan menulis bertemu dengan tergugahnya empati saat melihat kondisi di lingkungan sekitar menggerakkkan hatinya untuk membuat Rumah Baca Mc Ganz. Darinya saya belajar untuk bersegera melakukan hal kecil untuk sebuah perubahan besar, dimulai dari diri kita sendiri.
Lalu, bagaimana bentuk dukungan orangtua bagi Ashoka Young Changemaker dan Ashoka Young Pioneer ini?
Rere menuturkan,“Orangtua adalah sebagian dari diri saya. Orangtua selalu mendukung apa yang kita lakukan. Orangtua adalah elemen terbesar dari anak-anak.”
Bu Wiwin, ibu dari Rere pun menyampaikan,“Support itu total! Saya merelakan ruang tamu di rumah enjadi lebih sempit agar ada ruang untuk rumah baca yang diinisiasi Rere.”
Beliau pun melanjutkan dengan memberikan pesan,“Jika kita ingin memiliki anak yang berjiwa besar, maka perlakukan anak-anak seperti orang besar sekalipun secara fisik mereka masih kecil.”

Bu Indri, ibunda dari Lita membagi cerita mengenai kesepakatan beliau dan suami untuk menjadikan sekolah inklusi sebagai partner dalam bekerjasama untuk pendidikan Lita tidak lain dengan tujuan agar putrinya tumbuh menjadi seorang yang lebih peka dan respect.Bermula dari kesadaran beliau diamanahi seorang anak yang tumbuh di era perubahan, yang mana orangtua pun harus siap belajar dan terbuka terhadap perubahan serta bisa mendukung hal positif dari sang anak. Beliau mengingat-ingat masa beliau seusia Lita, disibukkan dengan hal-hal akademik namun tak memiliki dampak positif bagi lingkungan.
Beliau pun mengajak untuk terus mendukung para generasi pembaharu. Tak lupa keluarga sebagai support system pertama dan utama harus memberikan value  yang kuat sehingga anak memiliki pegangan dan koridor yang kuat. Bagaimana, siap menjadi agen perubahan yang mengawali langkah dari rumah?

Sesi ini disarikan dengan sangat baik oleh Ara Kusuma sebagai pemandu sesi, yang menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kaya akan pertanyaan. Jika secara umum, kata kunci yang dikenal untuk bertanya adalah 5W+1H, maka keluarganya menambahkannya dengan kata kunci “Bagaimana jika” dan “Mengapa tidak”.  Tidak perlu takut untuk bertanya, karena dengan sering bertanya daya imajinasi dan empati anak akan terlatih dengan baik. Bukankah seorang anak luar biasa terlahir dari rahim seorang ibu yang luar biasa? Maka siapkan kita untuk terus belajar, senantiasa memantaskan diri menjadi ibu dari seorang anak luar biasa?
Penutup dari sesi ini adalah sebuah tantangan dari program keluarga pembaharu yang digagas Ashoka Indonesia, yaitu :
  1. Ide apa yang bisa dilakukan untuk memfasilitasi anak?
  2. Dapatkah kita memulai upaya bersama untuk mendukung anak-anak?
  3. Bagaimana kita bisa menciptakan sinergi ini sebagai satu tim?
  4. Siapa saja yang perlu kita libatkan dalam pergerakan ini?


Yuk, mari kita jawab tantangan bersama ini.

Saya mencoba menjawab tantangan diatas di sini :
  1. Untuk memfasilitasi anak, saya mencoba untuk mendengar dengan hati, membersamai dengan mindfulness dan mengajak eksplorasi agar mereka tumbuh dengan kaya aktivitas dan kaya wawasan di tahap tujuh tahun pertamanya.
  2. Bisa. Langkah untuk hal ini yang saat ini saya lakukan ada dua. Secara online dan offline. Secara offline, saya sedang berkolaborasi dengan tim TPA Masjid WAPENA, bergerak bersama orangtua untuk menjalankan pendidikan Islam untuk anak-anak Indonesia di kota Wina. Secara online, saya mengambil peran di bidang Training and Consulting di komunitas Ibu Profesional Non ASIA.
  3. Memetakan potensi masing-masing, bergerak sesuai potensi tersebut dan mengajak orang lain untuk berkolaborasi membangun sebuah tim.
  4. Diri sendiri, keluarga, teman terdekat. Bergerak dulu, meluas kemudian.

Menurut teman-teman bagaimana? Yuk, silahkan turut menjawab juga.