Tuesday, 31 May 2016

Mini Project : Menyambut Ramadan Ceria dengan Si Ulat Berkisah

31 Mei 2016
[Mini Project]

Ramadan tinggal 6 hari lagi!
Mini project hari ini kita tujukan buat persiapan project Ramadan yuk!
Alhamdulillah beberapa hari lalu baru saja mendapat buku mengenai kehidupan Rasulullah. Buku pertama berjudul Kisah Seru Nabi Muhammad yang ditulis mba Tethy Ezokanzo dan Aan Wulandari. Buku kedua berjudul Rasulullah Sayang Anak karya pak Achmad Zayadi. Suka deh sama cerita di buku ini, karena disampaikan dengan sudut pandang orang pertama (First Person Point of View). Buat si kecil yang masih berusia 25 bulan, cara penyampaian ini menjadikannya seolah-olah sedang mendengarkan temannya bercerita. Nilai yang disampaikan melalui buku ini pun menjadi lebih mudah diserap dan dipahami olehnya. Sama halnya saat berinteraksi dengan buku-buku lainnya, dia lebih antusias mendengarkan cerita yang berupa percakapan langsung. Jadi, dua buku ini rencananya akan menemani aktivitas harian si kecil selama Ramadan.

Penyampaian dengan Sudut Pandang Orang Pertama

Nah, bagaimana supaya aktivitas ini menjadi momen yang menggerakkan dan membuatnya ketagihan? Maka dibuatlah permainan sederhana ini. Berikut tahapan-tahapannya ya, 

Bahan :
  • Kertas warna (kami menggunakan kertas origami)
  • Kertas HVS 70 gram 1 lembar
  • Kertas stiker
  • Buku Rasulullah Sayang Anak dan Kisah Seru Nabi Muhammad

Alat :
  • Gunting
  • Lem kertas
  • Spidol warna
  • Krayon

Cara Membuat :
  1. Buat pola lingkaran pada kertas dengan menggunakan jangka.
  2. Gunting kertas sesuai pola dengan jumlah sesuai kebutuhan/panjangnya ulat yang akan dibuat.
  3. Rekatkan lingkaran satu dengan yang lain hingga membentuk ulat.
  4. Tulis judul subbab isi buku pada kertas HVS menggunakan spidol aneka warna, beri nomor.
  5. Tulis nomor pada kertas stiker 116 pada warnai kertas dengan krayon.
  6. Tempel ulat, kertas HVS dan kertas stiker di dinding.

Cara Bermain :
  1. Pilih satu nomor di kertas stiker, dan tempelkan pada badan ulat. Urut dari depan ( yang paling dekat dengan wajah) ke belakang. Mengilustrasikan dari awal bulan Ramadan hingga nanti menjelang akhir Ramadan.
  2. Cocokkan nomor dengan judul subbab yang tertera di kertas HVS. Buka dan baca buku sesuai dengan judul subbab tersebut.
  3. Lakukan terus, jika 1 judul subbab dalam sehari ternyata masih kurang, silahkan ambil nomor berikutnya sesuai aturan main diatas. Lihatlah, ulatmu akan semakin panjang :D


Persiapan Project Ramadan : Si Ulat Berkisah
Apa yang si kecil pelajari dari aktivitas hari ini? Banyak hal tentunya. Dia belajar menggunakan jangka. Meski belum berhasil membuat lingkaran, dia belajar menggenggam dan memutar jangka diatas kertas. Dengan kertas origami, dia belajar melipat dan membentuk sesuai daya imajinasinya. Dia juga belajar menggunakan lem saat merekatkan satu demi satu lingkaran yang mebentuk badan ulat. Menaklukkan rasa risih karena tangan lengket dan berinisiatif mencuci tangan sendiri di kamar mandi. Saat Abinya tiba di rumah, dengan girang ia menunjukkan Si Ulat Berkisah hasil karyanya bersama Ummi. 

#ODOPfor99days
#day74
#griyariset
#miniproject
#ramadanceria

Monday, 30 May 2016

Mini Project : Berkreasi dengan Cat Warna Bikinan Sendiri

Membuat dan Berkreasi dengan Cat Warna

Hari ini main apa ya?
Iseng-iseng menawarkan ke si kecil, “Nduk, mau bikin cat warna?”
Eeeh, dia antusias banget jawabnya. “Mau Mi, ayo bikin!”.
Daripada bingung cari resep yang pas, mending ngintip di buku Playtime! Resepnya udah teruji di dapur Familia Kreativa. Hihi J
Yuk, kita siapkan bahan dan alatnya :
Bahan :
  • 4 sdm soda kue
  • 2 sdm cuka
  • 2 sdm maizena
  • 1 sdt larutan gula *dibuat dari 1 sdm gula dengan 200ml air
  • Pewarna makanan secukupnya

Alat :
  • Baskom kecil
  • Cetakan es   
  • Tusuk gigi (untuk mengaduk)
  • Kuas
  • Kertas untuk alas melukis
Si kecil menyambut bahan-bahan dengan mata berbinar. Dimulai dari menuang bahan, mengaduk, hingga menyampurkan warna, dia ambil peran di dalamnya.

Ini dia cara membuatnya :
  1. Campurkan soda kue dan cuka ke dalam baskom, aduk merata
  2. Masukkan larutan gula dan maizena secara bertahap, aduk kembali hingga rata
  3.  Bagi adonan ke dalam cetakan es
  4.  Beri pewarna sesuai keinginan, cat warna siap digunakan

Setelah cat warna jadi, Ummi mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan tempat berkarya. Kertas manila yang disangka masih sisa sebagian setelah membuat papan kreasi kemarin, ternyata sudah habis terpakai. Hmm..diganti apa dong ya? Yeay!Alhamdulillah ada kertas kado sisa membungkus kardus kemarin. :D
Kalau diamati, yang membuat si kecil anteng ternyata bukan sesi melukis cat warna, tapi justru sesi pembuatan cat warnanya. Ya, dia menikmati sekali saat mencampurkan pewarna satu dengan yang lainnya. Bahkan sampai minta babak kedua. :D
Dalam permainan ini, banyak manfaat yang bisa diambil. Saat mengambil bahan dan menuangkannya, anak belajar sikap hati-hati dan mengikuti instruksi dari kita. Saat meneteskan warna, mengkombinasikan warna primer satu dengan yang lain serta meratakannya, dia belajar koordinasi mata dan tangan. Saat anak menyapukan cat warna dengan kuas, secara bersamaan kita dapat mengasah memorinya terhadap macam-macam warna. Saat permainan sudah selesai, dan bersama-sama membereskan semuanya, meletakkan bahan dan alat ke tempat semula, dia pun belajar kemandirian dan tanggung jawab.
Mau berkreasi dengan resep dari buku Playtime! juga? Bukunya ready stock nih di rumah :D
Buku Playtime! karya Familia Kreativa *bonus pin  :)
#miniproject
#griyariset
#ODOPfor99days
#day73

Saturday, 28 May 2016

Tugas 3 Program Matrikulasi Ibu Profesional : My Personalized Curriculum

Tulisan ini dibuat sebagai tugas ketiga Program Matrikulasi Ibu Profesional dengan bahasan :

MENDIDIK DENGAN KEKUATAN FITRAH BERBASIS HATI NURANI

NHW #3

Membuat Kurikulum Belajar yang “Gue Banget”
Bunda, masih semangat belajar?
Kali ini kita akan masuk tahap #3 dari proses belajar kita. Setelah semalam Bunda berdiskusi seru seputar mendidik anak dengan kekuatan fitrah berbasis hati nurani, maka sekarang kita akan mulai mempraktekkan ilmu tersebut satu persatu. 
a. Belajar konsisten untuk mengisi checklist harian, yang sudah Anda buat di Nice Homework #1. Checklist ini sebagai sarana kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri” setiap saat. Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi lunak terhadap diri kita. 
b. Baca dan renungkan kembali Nice Homework #2, kemudian tetapkan pada diri Bunda, Misi Hidup apa yang kita emban di muka bumi ini, bidang apa yang ingin Anda kuasai.
Contoh : Misi Hidup : memberikan inspirasi kepada banyak orang
Bidang : Pendidikan Ibu dan Anak
Peran : Inspirator
c. Setelah itu susunlah ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan untuk menjalankan misi hidup tersebut.
Contoh : Untuk bisa menjadi ahli di bidang Pendidikan Ibu dan Anak maka tahapan ilmu yang harus saya kuasai adalah sebagai berikut :
1. Bunda Sayang : Ilmu-ilmu seputar pengasuhan anak
2. Bunda Cekatan : Ilmu-ilmu seputar manajemen pengelolaan diri dan rumah tangga
3. Bunda Produktif : Ilmu-ilmu seputar minat dan bakat, kemandirian finansial dll.
4. Bunda Shaleha : Ilmu tentang berbagi manfaat kepada banyak orang

d. Tetapkan Milestone untuk memandu setiap perjalanan anda menjalankan Misi Hidup
contoh : Saya dulu menetapkan KM 0 saya pada usia 21 th, kemudian berkomitmen tinggi akan mencapai 10.000 (sepuluh ribu ) jam terbang saya di satu bidang tersebut, agar lebih mantap menjalankan misi hidup. Sejak saat itu setiap hari saya dedikasikan 8 jam waktu saya untuk mencari ilmu, mempraktekkan, menuliskannya bersama dengan anak-anak. Sehingga dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, sudah akan terlihat hasilnya.
Milestone yang saya buat saat itu :
KM 0 – KM 1 ( tahun 1 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Sayang
KM 1 – KM 2 (tahun 2 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Cekatan
KM 2 – KM 3 (tahun 3 ) : Menguasai Ilmu seputar Bunda Produktif
KM 3 – KM 4 ( tahun 4) : Menguasai Ilmu seputar Bunda shaleha

e. Koreksi kembali checklist anda di NHW#1, apakah sudah anda masukkan waktu-waktu untuk mempelajari ilmu-ilmu tersebut di atas. Kalau belum segera ubah dan cantumkan.

f. Lakukan, lakukan, lakukan, lakukan

Ini sejarah hidup saya dulu, maka buatlah sejarah hidup Anda.
Salam,
/Septi Peni/


Bismillahirrahmanirrahim…
Sejak awal mendapatkan tugas ini, saya tekadkan untuk bersungguh-sungguh dalam meyusunnya. Bukan perkara ingin menjadi siswi teladan atau agar tulisan ini banyak pembacanya, namun hati kecil saya merasa bahwa tugas ini merupakan sebuah titik balik dari sikap santai diri ini. Untuk itulah, waktu pengerjaan 1 minggu ini saya gunakan seoptimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang memang saya butuhkan dan akan pergunakan. Dengan upaya membersihkan hati terlebih dahulu, tugas ini ditulis.
Membaca tugas yang menjadi Nice Homework #3 membuat saya merasa kembali ke beberapa tahun silam. Ketika saya membuat sebuah tabel usia diri per tahun dan saya isi pencapaian dan rencana di setiap kolomnya, mulai usia 1 hingga 72 tahun.Wallahu a’lam, Allah sampaikan saya atau tidak di usia tersebut. Seberapapun usia yang Allah berikan, sangat besar harapan untuk dapat menjadi bekal kesuksesan di akhirat kelak. Aamiin.
Kolom-kolom tahunan itu masih saya isi hingga kini, namun saya semacam mengubah standar, dari yang awalnya (sebelum nikah) sangat idealis, sekarang menjadi realistis. Dan sepertinya semakin berjalannya waktu, membuat saya secara perlahan kembali menemukan sesuatu yang “klik” banget dengan saya, yang bisa jadi ini disebut dengan misi hidup :D
Tugas kali ini pun mengantarkan saya untuk merenung selama 1 minggu, membuka kembali catatan-catatan lama, buku-buku perencanaan, mempelajari kembali hasil Talents Mapping sekaligus materi training yang saya dapat dari Abah Rama serta berdiskusi intensif dengan bapak direktur terkait hal ini.
Ini sebagian bahan perenungannya, :)
Dari proses pendalaman ini, mendapatkan hasil sebagai berikut :
Saya, Mesa Dewi menemukan bahwa saya memiliki, 

Misi hidup : Membuat perencanaan yang detil, terukur dan matang.
Bidang : Pendidikan Anak
Peran : Arranger/Planner

Untuk dapat menjalankan misi hidup tersebut dalam bidang pendidikan anak, maka ilmu yang harus dikuasai sekaligus milestones yang harus dilalui adalah sebagai berikut :
Kurikulum Personal versi saya

Kurikulum personal ini saya buat dengan jangka waktu 20 tahun, yang terbagi menjadi proyek 5 tahunan dan saya detilkan 5 tahun pertama ke dalam indikator tahunan. Alhamdulillah hingga saat ini saya masih berupaya melatih konsistensi menjalankan dan mengisi checklist profesionalisme perempuan yang merupakan Nice Homework #1. Sependek ini, belum terpikir untuk merevisinya karena dirasa masih cukup relevan dengan kurikulum personal yang baru saja disusun. 
Pengisian checklist yang masih terus berjalan

Adapun dalam rangka menjadi ahli di bidang Pendidikan Anak ini, saya perlu mengalokasikan waktu 10.000 jam yang mana akan menjadi jam terbang saya dalam menyusun anak tangga menggapai impian ini. Untuk itu,  setiap harinya saya alokasikan waktu 6 jam untuk playing time bersama anak dan 2 jam untuk menuntut ilmu dan mendokumentasikan kegiatan harian dengan total waktu 8 jam per hari. Dengan demikian, 10.000 jam terbang akan dapat saya capai jika berkomitmen tinggi selama 5 tahun dengan perhitungan 8 jam x 5 hari kerja.
Tulisan ini merupakan hasil pemikiran saya yang masih sangat sederhana, dengan kapasitas ilmu yang masih amat minim dan tidak mustahil jika akan berubah seiring berjalannya proses. Semoga selalu dalam bimbingan dan lindungan Allah.

#ODOPfor99days
#day72

Tuesday, 24 May 2016

Mini Project : Membuat Donat dan Menempel Bulu Domba

Mini Project Mentari Pagi*
*Panggilan untuk putri sulung kami, dalam dunia online kami biasa menyingkatnya menjadi Megi
24 Mei 2016

Hari ini kita membuat donat dan menempel bulu domba.
Nduk, bikin-bikin yuk!
Bikin apa, Mi?
Bikin donat mau ga?
Mauuuuu!Ayok Mi, bikin donat!
Pertanyaan sederhana dari Ummi langsung disambut dengan antusias oleh si Megi. Bahan-bahanpun kami siapkan. Seperti biasa, mata Megi akan berbinar jika melihat tepung. Mulai dari membuka toples, mengambil tepung dengan sendok, hingga mengaduk tepung menjadi satu, dia lakukan dengan pengawasan Ummi. Setelah adonan selesai dibuat, kami berdua menutup baskom dengan plastik wrap. Supaya masa tunggu tidak terasa lama, kamipun beralih ke kegiatan lainnya. Beberapa jam kemudian, adonan siap digoreng. Si Megi tampak heran melihat adonan yang mengembang hampir memenuhi baskom. Kami segera membuat bulatan-bulatan donat untuk digoreng. Megi membuat bola-bola yang sangat kecil. Hmm…kira-kira seukuran kacang atom, hihi… Setelah minyak panas, Ummi bersiap memasukkan bulatan-bulatan donat ke penggorengan. Dan ternyata, Megi pun ingin berpartisipasi. Jadilah Ummi mengambil kursi lipat, dan meletakkannya di depan kompor, supaya Megi bisa ikut menggoreng. Awalnya Ummi jelaskan kalau minyak di wajan itu panas. Memasukkan bola-bola donat harus pelan-pelan, supaya minyak tidak terciprat di kulit. Megi mencoba mempraktikkan. Seringkali masih terlalu kencang seperti melempar batu ke sungai, dan panasnya minyakpun sedikit dia rasakan. Dia kaget namun sambil meringis tersenyum. Yap, itu resiko, Nak. Sesekali, dia gerakkan sutil untuk meratakan penetrasi minyak ke donat. Lalu, tiba-tiba dia menyeletuk, “Ummi…Ica suka bikin donat..”
Eeeaaaaa….alhamdulillah, semoga Abi dan Ummi dapat merawat fitrah belajarmu dengan baik, Nak J
Uleni - Bentuk Bulatan - Goreng - Makan 

Hari pun bergulir. Bikin donat udah, udah dimakan juga. Mau apa lagi kitaaaa?
Baca Mi, bacaaaa… (rengekan itu tiba-tiba terdengar dari ruang tamu)
Oke, baca apa kita?
(Beranjak ke rak, ambil 1 buku)
Ini Mi. Ayok baca…(Sembari menyodorkan sebuah buku)
Sesi baca pun dimulai.
Saat membacakan buku, Ummi melihat ada gambar domba. Terlintaslah dalam pikiran untuk bermain tempel bulu domba. Toh di lemari masih ada bola kapas sisa Megi saat masih bayi. Oke, nanti kita eksekusi.
Membacapun berlanjut dengan beberapa buku lainnya.  Dilanjut dengan istirahat sholat dhuhur dan makan siang.
Usai makan, kami siap bermain kembali.
Nduk, mau main ini? (Sembari menunjukkan sheep printable yang ada di layar HP)
Domba Mi? Sebentar, Ica tauuuu…. (Menghampiri rak bukunya, mengambil buku yang tadi dibaca dan mencari gambar domba)
Sama kaaaaan… (Bergantian menunjuk gambar domba di layar HP dan di buku)
Iyaaaa, betul. Sama. Yuk, bikin.
Ayok Mi!
Ummi bergegas mengambil bahan-bahan yang diperlukan. Meniru gambar domba-hasil mencari di google - di kertas A4. Setelah itu, menjelaskan cara bermainnya ke Mentari Pagi. Instruksi mengambil lem dapat dijalankannya dengan baik. Namun, dia belum begitu paham untuk mengoleskannya hanya di badan domba. Jadilah bagian di sekeliling domba juga dia olesi lem dan tempeli dengan kapas. Sependek ini, dia sudah bisa memahami urutan proses pengerjaan. Dari pengerjaan ini, tangannya juga menjadi semakin terbiasa berinteraksi dengan lem. Bahwa, adalah sebuah hal wajar jika saat menggunakan lem, tangan kita menjadi lengket, tak jarang jari satu dengan yang lain saling menempel. Dan lama-kelamaan, lem di tangan akan mengering dan membuat jari terasa agak kaku. Dulu, di awal dia mengenal lem, baru beberapa menit dia sudah meminta cuci tangan, lalu kembali lagi bermain lem, lalu minta dibersihkan lagi. Alhamdulillah sekarang sudah semakin terlihat tidak masalah dengan lengket-lengket lem.
Ya, terkadang untuk meraih hasil yang manis, kita perlu berada di kondisi yang kurang nyaman, Nak. Tugas kami adalah membiasakan padamu, untuk tetap bertahan dalam kondisi tersebut.  
Dan bukankah Allahpun menghendaki kita, untuk menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? (QS. 90 ayat 10-20)
Menempel Sesuka Hati

Monday, 23 May 2016

Materi 2 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

Saat ini sudah masuk minggu ketiga pembelajaran di Program Matrikulasi Ibu Profesional. Tapi saya belum sempat meresume materi minggu kedua. Alhamdulillah mba Ike selaku Sekretaris Umum batch 1 ini, sudah meresume dan membagikannya di grup Facebook. Jadilah saya izin untuk mengambil dan menyimpannya disini sebagai catatan belajar. Kelak, jika ada kesempatan, saya berencana merapikannya, terutama beberapa ejaan dna singkatan-singkatan yang tertera di sesi tanya jawab. Sekarang, melakukan yang prioritas dulu. Mengejar setoran ODOP, hehe
Berikut resumenya :

MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH 
Oleh : Septi Peni Wulandani 
“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya” 
Bunda, rumah kita adalah miniatur peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pelaku peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pelaku peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita. 
Allah s.w.t menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifik’nya, tugas kita memahami kehendakNya. Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. 
Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini. Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah. Darimana kita harus memulainya? 
Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda? 
Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini? Potensi unik produktif apa yang kelak menjadi panggilan hidup atau alasan kehadiran di muka bumi yang menebar rahmat dan manfaat bagi alam dan kehidupan. 
Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini? 
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini. 
Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya. Karena orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang. 
Selanjutnya kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita. 
Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan. 
TANYA & JAWAB
1. Berdasarkan pengalaman ibu, apa saja yg mempengaruhi berapa lama bukti itu datang bu? Apakah saat kolaborasi jawaban 4 pertanyaan dasar ttg misi hidup tsb atau ada faktor lain yg menjadi katalisnya? ➡ Mbak Niken, menurut pengalaman saya dan pak Dodik, ternyata kuncinya adalah di no satu, penerimaan kita terhadap pasangan. Ketika secara lahir dan batin kami berdua sudah saling menghargai kehebatan masing-masing, mensiasati kekurangan-kekurangan yang ada pada kami. hal tersebut memudahkan jalan kami untuk menemukan misi spesifik keluarga.
2. Bu Septi, bagaimana tahapannya kita bisa tahu dan menemukan misi spesifik keluarga kita? Apakah berawal dari memetakan kelebihan kita sebagai orang dulu, lalu bila telah hadir anak, usia brp kita bisa mengikutsertakan anak dalam pemetaan misi spesifik keluarga➡ Betul mbak Nia, dimulai dari pemetaan diri kita berdua sebagai pasangan suami istri, kemudian setelah itu berdua memahami anak-anak yang dihadirkan dalam keluarga ini, selanjutnya potensi unik alam, tempat kita tinggal, komunitas sekeliling kita dll. Disanalah kita bakal paham, mengapa Allah menjadikan keluarga kita seperti ini.
3. Bagaimana kita tahu dan yakin bhw sesuatu itu ada misi spesifik kita?➡ Mbak Nonong, ada gejala-gejalanya, anatara lain, ketika kita melakukan hal tersebut, Mata kita selalu berbinar-binar, Energi tidak pernah habis, serasa ada energi yang terbarukan, tidak pantang menyerah, setiap kali ada ujian, selalu makin bersemangat. (Itu versi saya). Kalau versi Abah Rama, ada 4 E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Nah untuk itu perlu dicoba satu persatu, ketika menemukan sesuatu yang "gue banget" segera tekuni dan jangan berganti-ganti (mengingat faktor U- umur) disitulah kita akan semakin memahami mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini.
4. Bagaimana menemukan misi spesifik klrga bu? Apakah learning by doing atau hrs berupaya dg mmbuat poin2 penting dan dievaluasi? Brngkt dr 2 org yg mnikah tnpa visi misi, hnya krn cinta dan mrasa sama2 baik...➡ Mbak Laila di Aceh, cara menemukan misi spesifik sudah saya jawab di atas ya. Kerentanan sebuah rumah tangga itu biasanya disebabkan karena keluarga tersebut tidak memiliki "misi pernikahan" dan "tidak ada kegiatan mendidik" didalamnya. Hanya sekedar cinta dan merasa sama-sama baik. Good is not enough anymore, we have to be different. Harus ada yang membedakan keluarga anda dengan keluarga yang lainnya. Karena keluarga anda adalah unik. Maka tidak bisa keluarga itu asal jalan saja, harus disepakati bersama ke arah mana perjalanan menuju DIA. Dari situlah kita akan paham perjalanan keluarga ini setelah beberapa tahun menikah ON TRACK atau OFF track. Bicarakan dengan suami, dan evaluasi setiap tahun perjalanan hidup.
5. Andita, Blh tau bund misi pernikahan bunda septi & pak dodik?➡ Dari awal menikah, pak Dodik sudah punya misi "membangun peradaban dari dalam rumah", sehingga meminta saya sebagai calon istrinya untuk melepas SK Pegawai Negeri saya, dan full menjadi ibu bagi anak-anaknya. 
6. Pada usia brp tahun bunda septi dan pak dodik menemukan misi spesifik hidup? Kalau saya baru menemukan misi spesifik hidup setelah dikaruniai Enes dan Ara. Perlu proses panjang. Kalau pak Dodik kayaknya sebelum menikah sudah punya. Saya banyak belajar dari beliau. 
7. Boleh tau apa misi spesifik hidup ibu septi & pak dodik? Misi spesifik hidup saya "INSPIRATOR" tugas saya di muka bumi ini ternyata ingin menginspirasi banyak orang, semua pekerjaan yang berhubungan dengan "inspirasi" selalu membuat saya berbinar-binar. Dan lebih spesifik lagi khusus untuk pendidikan anak dan keluarga. Kalau pak Dodik " Developer dan Educator" beliau selalu berbinar ketika menjalankan peran membangun hal baru yang berhubungan dengan pendidikan. Saat ini kami sedang mengamati 3 peran hidup anak-anak, sedang kita lihat konsistensinya. Terimakasih bu🏻.
8. Darimana kita tahu kurikulum yang cocok untuk anak2? Membeli ide dimana biasanya pa dodik dan bu septi? Saya ibu dari 4 anak, jadi kadang bingung jika ketika mereka belajar bersama. Bahasa yang disampaikan harus ikut bahasa usia anak yg mana ➡ personalized curriculum untuk setiap anak itu muncul bersamaan dengan penemuan misi spesifik masing-masing anak. Sehingga kami tidak pernah memakai kurikulum baku yang sudah dibuat oleh manusia. Seiring berjalannya waktu kita amati perkembangan anak-anak, kami diskusikan berdua, buka dasar Alqur'an dan Hadist, kemudian bersilaturahim dengan para ahli, setelah itu kita susun bersama dengan anak-anak. mengenai konsep belajar, bunda nanti bisa belajar di materi "manajemen kelas" biasanya saya mempraktekkan bagaiman mengajar dengan berbagai usia di rumah. Ikuti terus ya.
9. Saya suka bingung kalo ngomongin misi. terakhir kali waktu merumuskan misi keluarga. langkahnya seperti ini : 1. saya buat draft misi keluarga dalam bentuk mind map. draft dibuat.berdasarkan hasil ngobrol ngalor ngidul yang saya simpulkan. 2. mengajukan mind map pada suami 3. mendiskusikan mind map (seringnya sih suami udah setuju aja) 4. kesimpulan misi keluarga. Sudah benar belum ya bu prosesnya? nesri-bogor➡ ikalau melihat langkah mbak nesri, terlihat mbak nesri yang lebih sistematis, lebih proaktif dibandingkan suami. kalau memang kondisinya semacam itu, maka langkah mbak nesri sudah tepat untuk saat ini. ke depan akan lebih baik lagi kalau mindmap itu muncul dari kedua belah pihak, banyakin ngobrol dan libatkan anak-anak. Belajar menjadi fasilitator handal untuk keluarga, sampai kita akhirnya banyak mendengarkan daripada berbicara. Setelah itu sistemasikan.
10. Bu Septi, dulu sama pak dodik di awal pernikahan apa pernah terjadi perubahan visi misi yg sblmnya sudah di gagas di sblm menikah? jika iya,bagaimana caranya bs kembali ke visi misi awal atau malah merubah bersama2 visi misi sesuai keadaan?➡ Mbak Lisa di Banjarmasin, kalau misi pernikahan dari awal selalu ON Track di membangun peradaban. Yang mengganggu biasanya kerikil-kerikil tajam kehidupan yang disebabkan karena kesalahan methodenya bukan MISI nya yang salah. Methode itu bisa komunikasi yang tidak produktif, cara menyelesaikan masalah yang kurang biajasana, kekreativitasan dalam mengelola rumah tangga yang berhenti dll. Jadi yang diperbaiki adalah hal tersebut. Kami berdua selalu menguatkan pada core value sebagai jalan kami yaitu IMAN dan KEHORMATAN. Apakah yang kami lakukan ini menguatkan iman dan kehormatan? kalau ya lanjut, kalau tidak stop. itu yang menjadi indikator perjalanan.
11. Aslm. Bu Septi...sy ingin bertanya ttg NHW2 poin B terkait kekuatan potensi dan kelemahan anak. Bolehkah Ibu memberi batasan kekuatan potensi dan kelemahan anak menggunakan parameter apa? Krn jk tdk dibatasi...mohon maaf jawaban akan sangat luas. Bagi kami dg latbel psikologi...u melihat kekuatan potensi dan kelemahan bisa dilihat dalam byk aspek, meski dalam bahasa kami u anak lebih tepat menggunakan kata matang dan belum matang. Sedangkan istilah kekuatan dan kelemahan lebih cocok digunakan u remaja yg sdh terukur bakatnya. Dg uraian d atas, sy mohon diberi pencerahan dlm menganalisa kekuatan potensi dan kelemahan anak. Apakah berdasarkan; - milestone, yg dijabarkan melalui aspek *kognitif, *emosi, *sosial, *dorongan/motivasi, *fisik & motorik; - tipe temperamen anak yg sdh dibawa sejak lahir; - perkembangan kognitif oleh Piaget; - tahapan psikoseksual oleh Sigmund Freud; - tahapan psikososial oleh erikson; -dsb. Selain itu dalam melihat kekuatan dan kelemahan anak tdk bisa dilihat sepotong2 berdasarkan milestone, tp jg perlu dilihat usia dan pola asuh ortu. Izinkan sy u memberi contoh: Anak umur 4 tahun dibilang kelemahannya agresif & pembangkang. Bagi yg memiliki pemahaman psikologi ttg teori perkembangan anak, mungkin lebih mengerti bhw anak umur 4 tahun secara umum blm bs mengendalikan emosi dan masih berada dalam tahap negativistik, shg tidak akan menganggap hal tsb. kelemahan. Namun orang awam mungkin bilang itu kelemahan.. - Misalnya ortu sangat academic oriented. Sejak bayi, anaknya sudah diperlihatkan flash card berisi huruf alfabet, kata2 & angka2. Sering diberikan games2 edukasi. Yg semuanya dilakukan sambil duduk. Ortunya kurang menstimulasi anaknya untuk melompat, memanjat, menaiki/menuruni tangga, dsb. Lalu saat berusia 3 tahun, si anak sudah bs membaca kata. Tp dia blm bisa naik/turun tangga dengan kaki bergantian, blm bs jalan mundur, belum bs melompat. Apakah kita bs mengambil kesimpulan bahwa kekuatan anak itu adalah membaca (persepsi visual, daya ingat) dan kelemahannya adalah motorik kasar? Pdhl jika dianalisa lebih jauh ketidakmatangan anak dlm aspek motorik kasar lebih disebabkan oleh treatment dr ortunya. Demikian Bu Septi, mohon konfirmasi dan pencerahan --> Bu Zakiyah, di point B kita akan khusus mengamati potensi kekuatan anak kita, tidak perlu menuliskan kelemahannya. Karena dengan mengenal potensi kekuatan kita akan bisa mensiasati kelemahan anak. Prinsip : "pahami kekuatan diri, siasati kelemahan" . "Apabila engkau melihat anakmu berbuat baik, puji dan catatlah, namun ketika anakmu berbuat buruk, tegur, dan jangan pernah kau mencatatnya" (-Umar bin Khattab). Indikator apa yang dipakai? Bergantung pada masing-masing keluarga, mau mengambil milestone berdasarkan teori yg sdh dibuat orang lain atau berdasarkan value keluarga yg disepakati. Untuk hal ini semua keluarga tidak bisa seragam. Karena kita beragam. Sepakati dengan suami, mana track yg akan dipakai. Shg berdua akan mengatakan ON Track atau OFF track. Contoh kalau di keluarga kami sepakat melihat kekuatan anak dengan indikator kefitrahannya; a. Fitrah Ilahiyah dg 4 indikator: iman-akhlak-adab-bicara; b. Fitrah Belajar dg 4 indikator : Intellectual curiosity- creative imagination-art of discovery and invention - noble attitude; c. Fitrah Bakat dg 4 indikator : Enjoy-Easy-Excellent-Earn; d. Fitrah perkembangan : Saya pakai buku KIA nya Jica sejak anak-anak ada dlm kandungan. Silakan buat sesimple mungkin dan semudah mungkin, shg bekerja untuk kita dan anak-anak. Prinsip terakhir "Semua boleh, kecuali yang tidak boleh". Semua teori yg diyakini keluarga boleh dipakai, yg tidak boleh cuma satu " mencari kelemahan anak-anak kita".
12. Maksudnya mensiasati kelemahan Bagaimana ya bu.. Masih bingung. Kita tidak Boleh mencari kelemahan Tapi mensiasati. Kalau Mau disiasati bukannya harus tau dulu? Maaf Belum mengerti --> bener mbak kelemahan itu terdeteksi oleh kita tapi tidak perlu diungkapkan apalagi ditulis gede2 dan ditempel, yg perlu ditulis gede dan dimasukkan alam bawah sadar kita adalah kekuatan anak-anak. Misal : anak kita dalam fitrah bakat terdeteksi lemah di bidang art, maka kita akan siasati kelemahan ini ke depannya dg tidak memaksa anak belajar art melainkan berkolaborasi dg anak-anak yg kuat di bidang art.⁠⁠⁠⁠
13. Indikator kefitrahan Bisa dibaca dimana ya bu Septi. Saya search potential anak baru liat Yg 9 dasar potensi kecerdasan anak dr Prof Dr Howard Gardner. Pengen tau Yg sesuai Yg manaπŸ˜… masih meraba.➡ baru sadar ya mbak skrg, kl selama ini kita mendidik anak, masih mengalir saja tanpa pegangan, dan pakai indikator kekuatan dr nilai di sekolah saja biasanya. Indikator fitrah yg saya pakai ini ala pak Dodik Mariyanto, yg dr awal menetapkan tujuan mendidik anaknya belajar di rumah itu apa saja. kami singkat jadi ICAN ( intelectual curoisity - noble attitude). Ada juga indikator fitrah bedasarkan buku fitrah based education yg ditulis pak Harry dkk. Kl di fitrah bakat saya sdg mengembangkan indikator yg disebut "pandu 45" based on talents mappingnya Abah Rama. Cari ilmunya mbak, dan segera buat formula ala keluarga anda.⁠⁠⁠⁠
14. Bu septi utk poin B kalo anak masih bayi gmna ya caranya?usia 7 bulan..cara melihat potensinya? Sy msh bingung utk bag itu. --> mbak lisa kalau masih bayi, pakai fitrah perkembangan ya, ada banyak indikator disana bisa pakai KIA, ada juga yg dikeluarkan direktorat PAUD dll silakan cari.😁
15. Sy agak kesulitan menentukan misi spesifik bu, bgaimana caranya mungkin bs dijabarkan sedikit?➡ Di materi kedua ini dan materi-materi selanjutnya Bunda akan semakin menemukan misi spesifik hidup masing-masing, untuk itu terus belajar ya. Tp yg saya inginkan, apapun cita2 anak2... mereka tetap hrs hafidz/ hafidzoh. Yg seperti itu terlalu memaksakan tidak ya bu, karena sy menganggap semua anak pasti mampu utk itu➡Pahami masing-masing anak, kuncinya hanya satu TIDAK MEMAKSAKAN/MENITIPKAN mimpi orangtua di kehidupan anak-anak. Anak mau menghafal Al Qur'an karena muncul internal motivation dari dalam dirinya. ✅
16. Salah satu alasan pernikahan kami adalah karena visi misi yang sudah merasa sejalan. Namun ternyata setelah baca materi ke-2 Visi misi kami belum spesifik. Pertanyaannya, apakah Visi Misi itu harus dibuat se detil mungkin sampai langkah terkecil bu?➡ Bunda kadang kita cuma "merasa' sejalan setelah diobrolin bener-bener dan ditulis, baru ketahuan deh sejalannya itu dimana saja. Maka bersungguh-sungguhlah untuk memperbanyak ngobrol dan family forum agar bener-bener paham. Mulai dari cara sampai jangka waktu pencapaian setiap langkah? Lalu dalam setiap langkah tersebut apakah harus mempersiapkan plan A,B,C? karena satu langkah saja bisa saja Error. Mohon pencerahan bu... ➡Setiap perencanaan itu selalu ada plan A, Plan B. Maka kalau di dalam perjalanan keluarga tidak ada istilah "gagal" yang ada adalah hasil yang tidak sesuai harapan, sehingga kita mesti ubah strategy, disitulah perlu Plan A-Z. There is NO FAILURE, only WRONG RESULT, so we have to CHANGE our strategy.
17. Wiliyanti - IIP Lampung. Dari 4 pertanyaan materi tersebut, bagaimana proses mencari jawabannya? Apakah dengan perenungan mendalam? mengobrol dengan suami? Atau bagaimana bu septi ?➡ Dua-duanya ya mbak ngobrol dan perenungan, flash back perjalanan hidup kita selama ini bagaimana. Teman-teman sudah praktek kan seminggu ini, pasti banyak ragam dan kisah untuk menjawab ke empat pertanyaan tsb✅
18. Misi spesifik itu apa bs jg berkaitan dg hobi yg sudah digeluti sejak lama? Krn menekuni hobi ini ga pernah padam semangatnya➡ Bisa jadi bunda, Allah memberikan petunjuk misi spesifik kita ini lewat berbagai cara mulai dari hobi, bisa juga lewat tantangan hidup, dll.✅
19. Bagaimana menentukan dan mengukur visi misi yg spesifik jika mengalami hubungan long distance marriage spt saya? Mengenai pertanyaan ke empat, yg lingkungan. Sy juga bingung krn memiliki ' 2 rumah ' saya menetap di makassar dan suami di kendari. Sejujurnya saya merasa tidak bisa menjalankan visi misi rumah tangga jika berada di kondisi seperti ini.➡ Bunda, pasti Allah punya misi tertentu untuk keluarga bunda, ketika dikondisikan LDM dengan kondisi 2 lingkungan yang berbeda. Karena misi spesifik itu baik ranah individu maupun keluarga tidak berbatas oleh jarak geografis. Seperti yang kita lakukan saat ini contohnya. Saya di Salatiga , teman-teman ada di berbagai kota bahkan LN, meski jauh kita merasa sehati, karena satu tujuan/satu visi yaitu sama-sama ingin membangun generasi yang tangguh. Dengan misi yang berbeda-beda di setiap individu. Misi saya yg di Salatiga, mungkin berbeda dengan teman-teman yang di tempatkan di kota-kota besar. Tapi kita satu arah yang ingin dituju, shg milestone nya jelas. Nah sekarang lihat keluarga kita, apakah komunikasinya sudah makin clear meski berjauhan?✅
20. Apakah dimulai dengan pembicaraan khusus dengan suami? Di tempat khusus tanpa anak-anak? Dan apakah pembicaraan ini di selesaikan saat itu juga? Atau di buat catatan kalau masih ada PR tentang visi misi keluarga yang belum selesai dibicaran?➡ Bila bunda satu rumah, sering-seringlah "pillow talk" ngobrol sebelum tidur, saat ada anak-anak ngobrollah di meja makan bareng, saat di mobil dalam perjalanan, mulailah ngobrol. Tidak akan selesai dalam satu waktu, tapi terus berproseslah, pasti akan sampai juga. Yang pasti saat ngobrol break dari gadget ya. Kecuali gadget sbg alat bantu anda menerjemahkan obrolan dengan membuat mind mapping misalkan, Bagaimana bila pemimpin rumah tangga juga tidak memiliki visi misi dan ga terbayang juga akan mau bagaimana ?➡ Terima ya Bund, karena pasti tidak bisa kita tukar kan? πŸ˜€ setelah itu ambil peran, kalau memang bunda termasuk yang visioner, proaktif, ambillah peran itu, dan obrolin dengan suami sampai terjadi kesepakatan. Tidak ada yang tabu, ketika istri memimpin obrolan ttg visi misi kelaurga, daripada hanya diam dan tidak terjadi apa-apa, lebih baik take action✅
21. Fitrah - IIP Bogor : Antara pekerjaan, berkarya, dan mendidik anak bukanlah sesuatu yg terpisahkan, sehingga harus ada yg dikorbankan. usia brp kah anak2 bunda septi pada saat ibu mulai aktif berbagi ilmu seperti sekarang ini?➡ Bunda di awal ketika kondisi keluarga krismon dan pak Dodik resign dari pekerjaan, maka prioritas kami dulu adalah urusan finansial, asal dapur bisa ngepul. Maka kami buat kesepakatan kita akan berusaha semaksimal mungkin selama tidak meninggalkan anak-anak. maka sejak Enes ara usia 1-2 th saya dan pak dodik selalu bergantian bawa anak-anak. Kami dulu jualan baju muslim, beli di tanah Abang, pak Dodik menyiapkan proses pembelian saya menyiapkan tema pembelajaran apa yang bisa kami lakukan di Tanah Abang dan sekitarnya. Dari situlah kami merasakan dari hari ke hari bahwa "bukan kerja apa" melainkan "peran hidup apa yang kita lakukan terus menerus dengan segala kondisi yang ada. Kemudian ketika Elan Lahir, sudah mulai saya ajak kemana-mana sejak 14 hari. Pertanyaannya adalah mengapa bisa tidak terpisahkan antara bekerja, berkarya dan mendidik anak? karena kita tidak pernah meninggalkan peran utama sebagai Penerima amanah. Maka Allah pasti akan memberikan bonus kemudahan jalan kita dengan berbagai usaha.✅
22. Terkait yg keempat, lingkungan tempat hidup kita saat ini. Bagaimana meyakinkan diri bahwa inilah lingkungan pilihan Allah yg terbaik untuk saat ini, sementara hati kurang menginginkannya karena memiliki impian hidup di tempat lain yang berbeda?➡ Bunda, pagi ini tadi saat sarapan baru kami diskusikan dengan pak Dodik. Memang ada di setiap perjalanan hidup kita ini bukan kehendakNya. Bunda ditempatkan di lingkungan yang sekarang ini atas kehendak dan ridhoNya, maka pasti Allah sedang memiliki rencana untuk kita. Bersihkan hati untuk bisa menerima rencana Allah untuk diri kita ini, kemudian jalankan. Anda dibutuhkan oleh lingkungan dimana kita tinggal. Maka jangan pernah lari dari lingkungan, Tapi buatlah lingkungan agar sesuai dengan kehendakNya.✅
23. Melyantina - IIP Bogor : Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?➡ Setelah menemukan dan menyadarinya, Bagaimana cara mempertahankannya bu?➡ Bunda, memang mempertahankan itu tidak semudah mendapatkannya, untuk itu ijinkan hati anda "jatuh cinta" setiap saat terhadap suami. Ketika salah satu tidak sesuai harapan, jangan saling menyalahkan, itu tandanya kualitas kita juga sedang berkurang di hadapan Allah, maka teruslah memantaskan diri menjadi istri yang baik, Allah Maha membolak balikkan hati, maka hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati pasangan kita, BUKAN kita.✅⁠⁠⁠⁠
24. M Farda Itsnita Its IIP Surabaya. Adakah referensi istilah peran spesifik dlm hidup yg bisa dipelajari mandiri? Sprti ibu inspirator dan pak dodik yg developer n educator. Sy melihat merujuk pd hasil passion/streght personal/hasil psikotest minat bakat? ➡ ada banyak teori yang dibuat oleh manusia mbak, search aja seputar talents, personal strenght dll. Tapi yang lebih kuat dari itu adalah Al Qur'an. Rumusan di keluarga kami, "Kalau kamu ingin berbincang-bincang ke Allah, maka sholatlah. Tetapi apabila kamu ingin mendengar Allah berbicara, memahami apa kehendak Allah padamu, maka baca Al Qur'an, itulah surat cinta Allah untuk kita"✅
25. Niken TFAlimah IIP. Istilah misi hidup ada berapa bu? Ibu td menyebut ada inspirator, developer, educator.. istilah2 tsb bisa dijumpai di manakah? Apakah di temubakat?➡ di temu bakat ada banyak mbak, tapi itu bukan satu-satunya, pelajari saja banyak hal yang ada. Misi itu berkaitan dengan kata kerja. Misal aktivitas yang saya suka adalah belajar dan mengajar, misi hidup saya adalah memberikan inspirasi ke banyak orang, maka peran hidup saya di muka bumi ini adalah sbg INSPIRATOR. Baru kemudian saya cari bidangnya yang lebih spesifik. Apakah saya ingin mnginspirasi di semua bidang? Dulu saya coba bidangnya satu persatu. Pertama jualan baju, di jualan baju itu yang membuat laku ternyata adalah banyak ibu yang ingin tahu pola mendidik saya thd enes dan ara. Jadi kadang mereka banyak sekali berkumpul di depan baju saya, tapi tidak beli baju, hanya pengin denger cerita saya. Saya bahagia banget, artinya jalan saya bukan di baju, melainkan di proses mendidik anaknya. Sehingga baju tidak saya lanjutkan, saya beralih ke aktivitas pendidikan anak dan keluarga. Sampai hari ini, kalau ada aktivitas di luar pendidikan anak dan keluarga. Meski menggiurkan dengan iming-iming finansial besar, saya selalu bilang "Menarik, tapi TIDAK TERTARIK", karena itu tidak menambah jam terbang saya untuk menjalankan misi hidup

Sumber resume : https://web.facebook.com/notes/kelas-matrikulasi-ibu-profesional-batch-1/resume-materi-miip-batch-1-2/1711297905777384

#ODOPfor99days
#day69

Revisi Tugas 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Checklist Indikator Perempuan Profesional

Seusai tugas dikumpulkan, ada sedikit review dari bu Septi, sebelum masuk ke materi berikutnya. Berikut reviewnya :
Pertama yang akan saya katakan adalah SALUUUT untuk para bunda, yang berhasil mengalahkan "rasa" berat untuk mengerjakan nice homework ini. Kalau di Jawa ada pepatah keren yang mengatakan "Ojo kalah karo wegah" (jangan mau kalah dengan rasa tidak mau). eh tepatnya jangan mau kalah dengan rasa malas.  Karena sebenarnya kalau urusan membuat checklist profesionalisme ini bukan MAMPU atau TIDAK MAMPU melainkan MAU atau TIDAK MAU. Terbukti bunda bisa melakukannya di tengah kesibukan.
PR ini bukan untuk saya, tetapi justru untuk teman-teman agar lebih bisa memanage diri dari hari ke hari, dan sebagai bekal teman-teman untuk memasuki bulan Ramadhan. Saya berharap dengan checklist ini Ramadhan teman-teman tahun ini akan berbeda dengan Ramadhan tahun lalu.
Tolong lihat kembali nice homework 1 ini, coba cek :
Apakah kalimat-kalimat di checklist itu sudah spesifik? misal kalimat "akan mengurangi aktivitas gadget selama di rumah" akan lebih baik Anda ganti dengan, setiap hari akan menentukan gadget hours selama 2 jam.
Apakah kalimat-kalimat di checklist yang Anda buat sudah terukur? misal "Menyelenggarakan aktivitas ngobrol di keluarga", akan lebih baik kalau Anda ganti dengan " Sehari minimal menyelenggarakan 1 x family forum (ngobrol) di rumah bersama keluarga"
Apakah checklist yang anda tulis mudah dikerjakan dengan tambahan sedikit usaha? Misal sehari akan membaca 2 buah buku tentang pendidikan. Ukur diri kita apakah mungkin? karena selama ini sehari-harinya kita hanya bisa membaca paling banyak 10 halaman. Maka akan lebih baik kalau Anda ganti. Membaca 15 lembar buku parenting setiap harinya. Sesuatu yang terlalu susah diraih itu akan membuat kita stress dan akhirnya tidak mengejakan apa-apa, tetapi sesuatu yang sangat mudah diraih itu akan membuat kita menyepelekan. Kembali ke istilah jawa ini namanya "gayuk...gayuk tuna" (contoh kasus, kita mau ambil mangga di pohon yang posisinya tidak terlalu tinggi, tetapi cukup berusaha dengan satu lompatan, mangga itu akan bisa teraih. Tidak juga terlalu pendek, sambil jalan aja kita bisa memetik mangga tersebut. Biasanya jadi tidak menghargai hasil).
Apakah tantangan yang anda tulis di checklist ini merupakan permasalahan-permasalahan yang Anda hadapi sehari-hari? misal Anda adalah orang yang susah disiplin selama ini. maka sangat pas kalau di checklist Anda tulis, akan berusaha tepat waktu di setiap mendatangi acara IIP. Jadi jelas memang akan menyelesaikan permasalahan yang ada selama ini.
Berikan batas waktu pada proses latihan ini di checklist. Misal akan membaca satu buku satu minggu selama bulan ramadhan. Akan belajar tepat waktu selama 3 bulan pertama mulai Juni-Agustus 2016 dari kelima hal tersebut di atas akan memudahkan kita pada proses evaluasi. 

Oke itu tambahan dari saya, silakan dilihat kembali checklist Anda masing-masing. Kita akan mulai melihat seberapa bekerjanya checklist itu untuk perkembangan diri teman-teman. maka silakan diprint, dan ditempel di tempat yang Anda lihat setiap hari. Ijinkan suami dan anak-anak memberikan penilaian sesuai dengan yang Anda tentukan. Andaikata tidak ada yang mau menilai, maka diri Andalah yang paling berhak menilai perkembangan kita. Berusaha JUJUR kepada diri sendiri.

Dari review diatas, alhamdulillah saya merasa cukup tepat dalam membuat checklist kemarin. Namun ada beberapa poin yang perlu dispesifikkan supaya lebih jelas dan terukur. Beberapa poin yang perlu diperbaiki antara lain :
1. Menspesifikkan target mempraktekkan dan mendalami materi komunikasi produktif menjadi praktikum the power of question (Salah satu subbab dari komunikasi produktif)
2. Mendetilkan target menulis dan mengejar setoran ODOPfor99days menjadi menulis 1 catatan atau artikel per hari.
3. Menurunkan target kuantitas pencapaian berdasar kemampuan dan kapasitas diri saat ini, bukan berdasar idealisme dan rasa perfeksionis diri.



Revisi checklist saya tampilkan dalam tabel di bawah ini :

Update Checklist Perempuan Profesional versi Diri Sendiri
Update Checklist Perempuan Profesional versi Suami dan Anak
Semoga Allah mudahkan, aamiin..

#ODOPfor99days
#day68

Rencana Semester Pendek Program ODOPfor99days

Dini hari tadi, saya mencoba menghitung berapa banyak setoran yang musti saya kejar untuk lulus program ODOPfor99days. Tidak tanggung-tanggung, dalam jangka waktu 99 hari kerja, saya hanya sempat menulis 18 tulisan!

Mengapa sampai bolong begitu banyak?

Alasan utamanya karena komitmen diri saya kurang. Semoat terlalu muluk ingin membuat tulisan yang berkualitas dengan kemampuan berpikir dan menulis yang masih terbatas, kesempatan yang sempit dan musti kejar setoran 1 tulisan per hari. Sebenarnya sejak awal sudah diwanti-wanti oleh koordinator kelas, bahwa program ini adalah untuk melatih otot-otot tangan saja. Sekadar membiasakan diri untuk menulis setiap hari. Adapun isi tulisan, berbobot tidaknya, bukanlah hal yang saat ini menjadi prioritas untuk dinilai. Ah, lagi-lagi perfeksionis melanda. Dan akhirnya banyak diam di tempat.

Koq bolongnya banyak banget! Apa memang sudah tidak niat dari awal?

Huhuhu...jlebb banget rasanya mendapat pertanyaan ini (padahal ini juga pertanyaan yang muncul dari diri sendiri, hehe). Sebagai bahan introspeksi lah ya. Jadi awalnya sebenarnya niat banget, semangat begadang lah pas awal-awal ikutan program ini. Hingga suatu saat, qodarullah suami mengalami patah tulang yang mengharuskan beliau untuk operasi dan rawat inap. Dilanjutkan dengan saya yang beberapa hari setelahnya terkena demam berdarah dan harus dirawat inap pula. Dari situlah awal bolongnya setoran ODOP saya. hehe...
Beberapa waktu setelahnya, saya kembali menulis freelance untuk sebuah website parenting islami, yang mana juga diminta menulis 1 artikel per hari. Dan karena ini artikel pesanan, tentu tidak bisa saya jadikan sebagai setoran ODOP sebelum tulisan tersebut dimuat. Jadilah saya kelabakan dan lebih memilih ke menulis artikel tersebut. 
Tantangan berikutnya, saya tergiur untuk mengikuti kelas menulis cerita anak yang mana ditargetkan untuk mengirimkan tugas 1 cerita per minggu. Imajinasi saya ternyata tidak cukup tinggi untuk dapat membuat cerita-cerita anak. Tulis-hapus-tulis-hapus-tutup laptop. Mandeg. ODOPpun ikut terbengkalai. Bahan introspeksi banget lah ini. Jangan terlalu lapar mata pada program-program yang seliweran di hadapan kita. 

Terus, sekarang mau gimana?

Cukup dengan mengikuti semester pendek dengan optimal saja. Terlepas 81 tulisan ini bisa dilampaui atau tidak sebelum 23 Juli 2016, saya niatkan kembali untuk menjalani program 1 tulisan per hari mulai hari ini. Idealnya, jika saya ingin lulus dan bisa mengikuti ODOPfor99days semester dua, maka saya harus menulis 2 tulisan per hari. Sebenarnya, sempat beberapa kali saya menuliskan di word dan mengirimkan screeshootinya sebagai setoran. Namun saya kesulitan melacaknya, pun nanti juga tidak bisa menuliskan link-nya. Jadi saya putuskan untuk tidak menghitungnya. 

Dengan mengucap bismillahhirrohmanirrohim...
Saya bertekad menyelesaikan apa yang sudah saya mulai.

#ODOPfor99days
#day67


Saturday, 21 May 2016

Tugas 2 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Membangun Peradaban dari Dalam Rumah

 NICE HOMEWORK #2
Bunda, setelah semalam kita belajar tentang "membangun peradaban dari dalam rumah" maka pekan ini kita akan belajar mempraktekkannya satu persatu.
a. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda.
Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.
Jawab :
Surat cinta belum dilayangkan, hanya saja kami sudah berbicara mengenai hal ini. Beliau tersenyum. Beliau sangat memahami saya, maka yang beliau inginkan dari saya adalah perbanyak praktik dengan konsisten dan disiplin. Buuueeraaaat! Hehe..
b.Lihatlah anak-anak anda, tuliskan kekuatan potensi dari mereka, siasati kelemahan masing2.
Sependek pengamatan saya sebagai ibunya, berikut kekuatan potensi si Mentari Pagi :
Fitrah Keimanan :
Memahami bahwa apa yang kami miliki adalah rezeki dari Allah.
Abi sedang apa? Bekerja
Bekerja untuk apa? Menjemput rezeki
Rezeki dari siapa? Allah
Mungkin baginya konsep ini masih merupakan hal abstrak, karena dia masih berusia 2 tahun. Untuk itu, kami berusaha mengenalkan cintaNya melalui ciptaan-ciptaanNya yang konkrit dan kasat mata. Dia sudah memahami adzan adalah panggilan untuk sholat. Jika adzan sudah berkumandang, maka dia bergegas mengambil air wudhu dan mengajak sholat. Diapun mulai terbiasa berinteraksi dengan Al Quran.
Belajar adab melalui aneka poster adab aktivitas yang kami tempel di dinding rumah dan dari buku bacaan miliknya.
Fitrah Belajar :
Pada dasarnya setiap anak adalah pembelajar sejati, pun si Mentari Pagi. Di usianya saat ini, dia mulai bisa.menghubungkan kejadian sebab-akibat, memiliki daya ingat yang luar biasa dan sering menanyakan hal-hal di luar ekspektasi kami. Maka saat ini kami berupaya mengajaknya belajar di setiap kejadian, mengambil pelajaran dari aktivitasnya seharian dan menerapkan bahasa ibu yang baik dan benar.
Fitrah Bakat :
Beragam aktivitas dan wawasan sedang kami tanamkan. Segala bentuk pertanyaan dan rasa penasarannya, kami upayakan untuk terfasilitasi.
Sependek pengamatan kami, potensi yang menonjol dalam dirinya adalah kemampuan berbicara. Maka kami coba terus fasilitasi, siapa tahu kelak dia akan menggunakan potensi tersebut untuk berdakwah, aamiin :)
Fitrah Perkembangan :
Untuk pertumbuhan dan perkembangannya, kami menggunakan bantuan ceklis dari KPSP dan Diknas. Alhamdulillah hingga saat ini pencapaiannya tergolong baik dan normal di keseluruhan aspek.
c. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, memgapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
InsyaAllah sedang on-track dalam mengasah dan mengkolaborasikannya.
d. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? kearifan lokal apa yg anda lihat? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?
InsyaAllah sudah mengamati dan berupaya menangkap maksud Allah tersebut.
e. Setelah menjawab pertanyaan a-d, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.
Sedang diupayakan. Sudah menemukan 1 peran, yang masih dicek lagi dan lagi, benar ga yaaa... :)
Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #2 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang membacanya.
Alhamdulillah, selesaaai :D

#ODOPfor99days
#day66

Wednesday, 18 May 2016

Talents Mapping : 45 Aktivitas Produktif

Berikut 45 aktivitas produktif yang dapat diasah untuk memetakan potensi kekuatan diri
45 AKTIVITAS
Aktivitas mana saja yang perlu ?
Ada 30 Aktivitas produktif terkait sifat  yang masuk dalam 8 kelompok yaitu
I. Interpersonal
1) Interpersonal mempengaruhi orang
2) Interpersonal bekerja sama dengan orang
3) Interpersonal melayani orang
II. Individual
4) Individual menggunakan otak kanan (intuitif)
5) Individual menggunakan otak kiri atas
6) Individual menggunakan otak kiri bawah
7) Individual menggunakan motivasi diri di dalam ruangan
8) Individual menggunakan motivasi diri di luar ruangan
Dan 15 Aktivitas produktif terkait fisik / indera.
Apabila seseorang pernah melakukan ke-45 aktivitas tersebut maka dia akan tahu mana yang dia suka yang mudah dikerjakan dan yang  hasilnya bagus (umumnya  sebanyak 5 sampai dengan 9 aktivitas).

30 AKTIVITAS TERKAIT SIFAT


INTERPERSONAL DI ATAS ORANG 
1. MENGENDALIKAN ORANG
Mengatur dan mengawasi orang dalam melaksanakan tugas dengan cara yang keras
2. MENENGAHI KONFLIK
Mengatasi dan menyelesaikan konflik antara dua pihak berseberangan
3. MENGATUR ORANG
Mengatur orang untuk bekerja sama melakukan suatu tugas
4. BERJUALAN
Menjual produk atau layanan dengan berbagai cara agar orang lain mau membelinya
5. MENYELEKSI ORANG
Memilih  dan merekrut seseorang sebagai pekerja atau anggota

INTERPERSONAL SEJAJAR ORANG
1. MENGKOMUNIKASIKAN
Menyampaikan informasi secara lisan dengan cara yang mudah dimengerti
2. MEWAKILI
Menjadi perwakilan di suatu tempat dengan membangun jaringan melalui kontak dengan klien atau pihak lainnya
3. MEMOTIVASI
Mendorong , memberi semangat pada satu atau sekumpulan orang agar bisa lebih sukses
4. MENDIDIK
Mengajar, menyampaikan , melatih ilmu dan atau keterampilan agar bisa dipahami oleh orang lain

INTERPERSONAL DI BAWAH ORANG
1. MERAWAT
Menaruh perhatian / merawat orang yang memiliki masalah fisik, medis atau kesejahteraan umum
2. MELAYANI
Melayani orang lain sebagai pekerjaan, tugas ataupun keinginan yang tulus

INDIVIDUAL OTAK KANAN
1. MERANCANG
Membuat gambar dari sesuatu (bangunan, produk) yang direncanakan untuk dibuat (yang memperlihatkan bagaimana cara membuatnya)
2. MENCIPTA
Menggunakan imajinasi untuk menemukan suatu rancangan, produk atau layanan yang terbaru
3. MENSISTESIS
Mengkombinasikan berbagai elemen, ide dan informasi  menjadi sesuatu yang baru
4. MEMASARKAN
Aktivitas strategis untuk memperagakankan produk melalui iklan, brosur , demo dan lain-lain agar orang tertarik untuk membeli
5. MEMBUAT STRATEGI
Memilih atau merencanakan jalan terbaik menuju tujuan
6. MEMBUAT VISI
Kegiatan mengantisipasi masa depan secara bijak dan menentukan tujuan jangka panjang  yang benar

INDIVIDUAL OTAK KIRI
1. MENGANALISIS
Aktivitas hitung menghitung dan menganalisis data
2. MENATA KEUANGAN
Menata keuangan dengan catatan yang rapi dan tanpa kesalahan
3. MEMULIHKAN
Memperbaiki, mengembalikan sesuatu (peralatan, sistem, manusia) ke fungsi semula
4. MENGEVALUASI
Menimbang atau mempelajari , dalam rangka memutuskan sesuatu terkait nilai, mutu, kepentingan atau kondisi
5. MENELITI
Melakukan penelitian terhadap suatu subyek secara metodik untuk menemukan fakta fakta, memperbaiki atau membuat teori baru

INDIVIDUAL SEMANGAT DIRI

1. MENULIS
Menulis artikel, ide, dokumen, cerita ataupun alat bantu pendidikan
2. MENGINTERPRETASI
Menjelaskan arti atau makna dari sesuatu
3. MENATA ADMINISTRASI
Mengetik , memasukan data, menyimpan , merapihkan dan mengambil dokumen, berkas, artikel dan sebagainya
4. MEMPRODUKSI
Memasang , memproduksi, membangun mesin atau bangunan
5. MENJAGA MUTU
Memeriksa dengan seksama agar mutu produk yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan
6. MENJAGA KESELAMATAN
Menjaga keselamatan dan keamanan risiko bahaya atau kecelakaan
7. MENDISTRIBUSI
Mengirimkan sesuatu (barang, surat, artikel) pada saat yang hampir bersamaan ke tempat atau daerah tertentu
8. MENGOPERASIKAN
Membuat sesuatu (mesin, peralatan, proses, sistem) berjalan / beroperasi

15 AKTIVITAS TERKAIT FISIK
1. AKTING
Beraksi mengexpresikan peran sebagai aktor / artis
2. MENATA KECANTIKAN
Merias atau menata kecantikan
3. SENI LUKIS
Kegiatan yang berkaitan dengan seni visual seperti melukis, komunikasi visual, gambar dan lain sebagainya
4. SENI MUSIK
Kegiatan yang berkaitan dengan seni musik
5. MENYANYI
Bernyanyi didepan penonton
6. MEMPERAGAKAN BUSANA
Kegiatan memperagakan busana
7. MENARI
Menampilkan gerakan tubuh yang indah dan harmonis yang diiringi irama tertentu
8. MEMASAK
Membuat dan menyiapkan makanan / kue
9. MEMELIHARA LINGKUNGAN
Menjaga sesuatu, khususnya sumber daya budaya dan lingkungan dari bahaya kehilangan, kerusakan, perubahan atau kelapukan
10. KETERAMPILAN TANGAN
Pekerjaan dimana dibutuhkan keterampilan tangan, kecepatan tangan
11. KERAJINAN TANGAN
Pekerjaan dimana dibutuhkan ketelitian, kerajinan tangan
12. KETERAMPILAN FISIK
Menggunakan fungsi koordinasi fisik seperti memanjat, mengontrol dan mengoperasikan peralatan, dan lain-lain
13. BERCOCOK TANAM
Bertani : menyiapkan, menyemai, menanam, menumbuhkan, memelihara, memangkas, dan lain-lain
14. BEROLAHRAGA
Melakukan kegiatan olahraga tertentu dengan berprestasi
15. Beternak
Memberi makan, merawat, melatih, mengembangbiakan binatang

Disarikan dari Kuliah WhatsApp dengan Abah Rama mengenai Talents Mapping

#ODOPfor99days
#day65

Friday, 13 May 2016

Tugas 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Checklist Indikator Perempuan Profesional

Melanjutkan materi 1 Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional dengan topik Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga yang sudah berlangsung Senin lalu,  masing-masing peserta diminta untuk mengerjakan nice homework untuk mematangkan pemahaman sekaligus memudahkan pengimplementasian materi dalam kehidupan sehari-hari. Resume materi bisa dibaca disini

Apa nice homework  pekan 1 ini?

Membuat checklist Indikator Profesionalisme Perempuan sebagai individu, istri dan ibu. Indikator ini adalah untuk diri kita sendiri, sehingga bu Septi menekankan bahwa indikator tersebut harus :
1.  Spesifik (unik/detil)
2. Terukur
3. Bisa diraih
4. Berhubungan dengan kondisi permasalah sehari-hari
5. Memiliki batas waktu

Pengerjaan nice homework ini saya mulai dengan menanyakan indikator kepada dua juri saya, yaitu suami dan anak-anak, berikut jawabannya :

Indikator Profesionalisme versi Abiya

Indikator Profesionalisme Perempuan versi suami :
ISTRI :
  • Taat suami selama tidak maksiat
  • Menjaga dan mengelola harta suami
  • Menjaga kehormatan keluarga dan pribadi

IBU :
  • Membimbing, menjaga dan mendidik anak dengan sabar dan ikhlas
  • Memberikan teladan kepada anak

INDIVIDU :
  • Segala aktivitas bernafaskan ibadah
  • Semangat belajar dan beramal


Indikator Profesionalisme Perempuan versi anak :
Mentari Pagi belum genap berusia 25 bulan. Jika saya menanyakan secara frontal kepadanya, “Nduk, indikator profesionalisme Ummi apa ya?” Kira-kira, jawaban seperti apakah yang akan saya dapatkan? Bisa jadi senyum manis, pertanyaan balik “Apa, Mi?” atau wajah bingung. Namun, jawaban versi dia saya coba kumpulkan dari ekspresi-ekspresi yang saya tangkap dalam kesehariannya bersama saya. Terbayang saat saya sedang membersamainya bermain, sesekali mata saya terpaku pada obrolan di layar gadget, “keren nih ilmunya!” gumam saya dalam hati. Seketika itu juga, ada tangan kecil yang menarik kedua tangan saya untuk dia libatkan dalam permainannya. Entah untuk dia usapkan tepung, sebagai tempat olesan body lotion atau menggambar bentuk yang dia inginkan. Intinya, meminta perhatian. Atau juga saat sesi membaca buku, saya minta dia untuk membaca mandiri (melihat gambar-gambar di buku dan menebak nama-namanya) karena saya ingin sekali menuntaskan buku bacaan yang sedang saya baca, maka saat itu juga dia akan meminta dibacakan buku cerita dalam jumlah banyak dan berulang-ulang. Lalu, saat dia rewel tidak jelas, saya peluk dan dudukkan dia lalu berkata padanya, “Ummi ngga tau mbak nangis karena apa. Ummi tunggu sampai nangisnya selesai, terus bilang ke Ummi mbak nangis kenapa.” Dia masih saja menangis, sampai beberapa menit setelahnya, agak mereda dan berbisik lirih, “mau jalan-jalan.” Atau keinginan lainnya yang berhasil dia utarakan pasca tangisan. Hati meleleh dan saya tersenyum. Yeay! Kau berhasil, Nak!
Dari beberapa pengamatan diatas, saya coba definisikan indikator profesionalisme diri saya dari pandangan si Mentari Pagi : 
  • Menghadirkan diri sepenuhnya saat beraktivitas bersama anak. Fokus, tidak dibarengi dengan aktivitas lain maupun memegang gadget
  • Menjadi teman bermain yang mengasyikkan untuk anak
  •  Memahami dan membantu mengelola perasaannya.

Hasil wawancara inilah yang menjadi pijakan saya untuk membuat checklist indikator perempuan profesional. Checklist ini akan dibuat secara bertahap seperti anak tangga. Supaya dapat menjadi pijakan yang kokoh, aspek-aspek yang akan dicapai berjumlah sedikit namun semoga dapat konsisten dalam melaksanakannya. Jika sudah konsisten, barulah aspek-aspek lanjutannya akan ditambahkan. 

Checklist Indikator Perempuan Profesional - diisi diri sendiri
Checklist Indikator Perempuan Profesional - diisi suami dan anak
Semoga Allah mampukan, Aamiin... :)



#ODOPfor99days
#day64

Tuesday, 10 May 2016

Kumpul Sahabat SMA : Ibu Temu Kangen, Ayah Momong, Anak Kenalan

Saat yang ditunggu saat mudik ke Jombang,selain bersilaturrahim dengan keluarga adalah reuni kecil-kecilan dengan teman SMA. Maklum, saya dan suami berasal dari SMA yang sama, satu angkatan pula. Jadilah bisa dibilang, teman SMA saya – teman SMA suami – teman SMA kami. Diawali dengan kami menanyakan jadwal praktek bidan di grup WhatsApp Alumni SMA, berlanjut mengabarkan kalau kami sedang berada di Jombang, dan berujung mengajak meet up temana-teman yang sedang ada di Jombang juga. Alhamdulillah disambut positif, insyaAllah bisa bertemu kembali dengan 2 teman, yang sedang pulang juga ke Jombang.

Bikin Mainan, Yuk!

Dua teman kami ini sama-sama memiliki bayi, yang usianya pun hampir seumuran, 4 bulan dan 5 bulan. Karena akan kedatangan dua bayi yang sedang belajar tengkurap, kami iseng-iseng berinisiatif membuat mainan DIY (Do It Yourself), tadinya yang terpikir adalah membuat sensory box, tapi karena kami juga baru sampai di rumah orangtua beberapa jam sebelum meet up, akhirnya beralih untuk membuat sensory board bertema makanan. Bahan-bahan yang digunakan memanfaatkan apa yang ada di dapur ibu, sederhana dan mudah. Proses pembuatannya full melibatkan si Mentari Pagi. Anak perempuan berusia 2 tahun ini excited banget menyiapkan sensory board buat teman-teman bayinya.


Sensory Board dengan Tema Bahan Makanan

Bahan dan alat yang disiapkan :
Beras
 Kismis 
Kacang
Kerupuk
Sambal sachet
Makaroni
Agar-agar
Sereal coklat
Susu kental manis sachet
Susu serbuk sachet
Kardus bekas
Spidol marker
Plastik klip/ziplock
Isolasi bening
Proses pembuatannya cukup mudah. Bahan-bahan makanan yang ada cukup dimasukkan ke dalam plastik klip, plastik klip ditutup dan ditempel ke kardus dengan isolasi.

Apa Manfaat Sensory Board untuk Bayi?

Sensory board  merupakan salah satu dari sekian banyak alternatif sensory play yang berguna untuk mendorong anak untuk belajar observasi, menstimulasi indera, dan membangun hubungan syaraf di otak. Sensory board ini cocok dimainkan oleh bayi berusia di bawah 1 tahun. Tetap harus dengan pengawasan penuh, mengantisipasi jika plastik klipnya bocor lalu  isinya termakan. Manfaat sensory board  antara lain melatih koordinasi indera penglihatan dan perabaan dan melatih motorik halus sang bayi dengan gerakan meraba dan meremas aneka bahan. Sensory board  yang dibuat beraneka warna dan dari bahan yang beraneka ragam juga akan membantu bayi mengenal aneka warna dan bentuk.

Yeay, Kita Reunian!

Akhirnya, yang ditunggu-tunggupun tiba. Savira datang bersama sang suami, mas Faisal dengan menggendong dek Althaf yang menggemaskan banget. Disusul oleh Anida yang membawa dek Fairuz yang tersenyum manis di dalam stroller.
Langsung deh Ummicha, tante Savira dan tante Anida kangen-kangenan, Abiya dan mas Faisal kenalan dan mengobrol, si Mentari Pagi – dek Althaf – dek Fairuz kenalan malu-malu. Berhubung Ibu juga kenal cukup dekat dengan Savira dan Anida, jadilah langsung terjadi obrolan seru. Kebayakan seputar tumbuh kembang anak dan aktivitas harian masing-masing. Obrolan terus berlajut, berhubung kami sekarang juga sudah menjadi orangtua, maka obrolan pun didominasi dengan bahasan seputar pengasuhan anak, pendidikan keluarga bahkan merambah hingga komunitas belajar yang sedang kami ikuti. 
Dek Althaf dan dek Fairuz asyik bermain dengan mainan yang dibawa, teether dan bola. Si Mentari Pagi mendekatkan sensory board  buatan kami ke adek-adek bayi yang baru dikenalnya itu. Namun nampaknya mereka masih terlalu kecil untuk memainkan itu, hihi… Mereka sudah cukup puas dengan meraba-raba sebentar permukaannya. Saat melihat sensory board yang dibawa Mentari Pagi, justru para ibu yang tertarik dan mengalihkan topik obrolan ke seputar sensory play untuk bayi.
Tanpa terasa 3 jam terlewati. Rasanya masih banyak yang ingin dibicarakan dan didiskusikanbersama, tapi alhamdulillah cukup mengobati rasa kangen. InsyaAllah kapan-kapan ketemuan lagi ya…

Para Peserta Meet Up 

#ODOPfor99days
#day63