Monday, 8 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Dari Hadir Menjadi Mitra

Sebuah catatan di diskusi hari ini...
Ini terasa banget mba...
Saat saya benar - benar hadir sebagai istri & ibu, saya memperhatikan , saya mendengarkan dengan sepenuh hati , setulus jiwa semua kebutuhan suami & anak-anak, saya belajar untuk selalu meningkat , terus semangat untuk melakukan dengan bahagia ....saya akan paham betapa mulianya peran saya , sehingga saya bisa melaksanakan semua peran dengan penuh cinta sehingga akan menghasilkan banyak cinta dalam keluarga...

Usia 0-7 tahun kami berusaha memenuhi jiwa anak-anak dengan Cinta, kehangatan dalam keluarga

7-14 Masa contoh , 7-10 mencontoh sesuai gender , 11-14 mencontoh lintas gender.
Jika masa ini  kita bisa menjadi teladan/ contoh anak-anak maka kita akan menjadi idola mereka .

>15 Masa Mitra, masa ini anak-anak sudah ingin punya eksistensi sendiri. Jika masa sebelumnya anak-anak mengidolakan kita tentu masa ini anak-anak tidak akan ragu menjadi mitra kita .

Anak saya yg paling besar 13 th November kemarin mba , dulu saat masih sekolah kelas 3 pernah gurunya menyampaikan ke saya , ingin sekali bertemu saya karena beliau penasaran karena Caca begitu mengidolakan Uminya ..#eeaa
Alhamdulillah insyaAllah sampai  sekarang kami bisa mengobrolkan apapun berdua, semoga begitu juga nnt dengan adik2nya, aamiin...

Formula ini sebenarnya nasehat untuk selalu mengingatkan saya juga 😇😇

Semoga nggak bulet ya mba..🙏🏻🙏🏻🙈🙈

Sunday, 7 January 2018

Saturday, 6 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Bicara Seksualitas, Tabu atau Perlu

Fitrah seksualitas sesuai usia

💥 0-2 tahun ➡ Konsepsi fitrah keimanan dan seksualitas 0-2 tahun

• punya rasa ingin tahun tentang tubuh
• belum kenal rasa malu
• dekat dengan ibu (menyusu)
• anak aman dan nyaman dengan orang tua

💥 3-6 tahun ➡ Penguatan konsepsi gender 3-6 tahun

• membentuk identitas gender
• anak dekat dengan ayah ibu
• mengenal perilaku santun, anatomi tubuh dan fungsinya
• anak tahu dan bangga dengan identitas gendernya

💥 7-10 tahun ➡ Penyadaran potensi gender 7-10 tahun

• bertindak sesuai gender
• anak perempuan dekat dengan ibu
• anak laki-laki dekat dengan ayah
• memasuki fase sosiosentri, mulai punya tanggung jawab moral dan perintah sholat
• anak laki-laki kagum dan ingin seperti ayah
• anak perempuan kagum dan  ingin seperti ibu

💥 11-14 tahun ➡ Pengujian eksistensi

• lebih banyak memperhatikan tubuhnya
• mulai tertarik lawan jenis
• mencari identitas diri
• anak perempuan dekat dengan ayah
• anak laki-laki dekat dengan ibu
• persiapan dan keinginan bertanggung jawab menjadi ayah dan ibu

💥 15 tahun ke atas ➡ Penyempurnaan fitrah

• pengungkapan kebebasan diri
• selektif dalam berteman
• mempunyai citra jasmani
• anak secara syariah telah mukallaf
• memasuki masa Aqil Baligh
• anak adalah mitra orang tua
• penyempurnaan fitrah seksualitas menjadi peran keayah-ibuan

Friday, 5 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Fitrah Seksualitas dan Perkembangan Psikoseksual pada Anak

Hari ini, kelompok kedua mempresentasikan materi mengenai fitrah seksualitas dikaitkan dengan perkembangan psikoseksual. Ini bahasan yang menarik, karena di materi ini dipahamkan mengenai perkembangan psikologi anak yang dikaitkan dengan fitrah seksualitasnya. Seringkali saat orangtua memergoki anaknya melakukan hal yang aneh, orangtua langsung marah dan melarang keras. Alhasil, anak justru takut dan melakukannya kembali namun secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orangtua. Terus berjalan dan menjadi kebiasaan sehingga lambat laun justru mengarah ke penyimpangan. Padahal jika saat awal diketahui, orangtua dapat merespon dengan positif, maka orangtua akan menjadi tempat cerita anak dan transfer pemahaman akan berjalan karena komunikasi yang baik. Anak terhindar dari penyimpangan. Maka, perkembangan psikoseksual ini penting untuk dipahami orangtua, sehingga dapat menyikapi perilaku anak dengan lebih bijak.
Tahapan perkembangan psikoseksual merupakan salah satu pandangan dari tokoh yang dikenal dalam dunia psikologi, yaitu Sigmun Freud. Freud mengungkapkan bahwa manusia, pada dasarnya sudah memiliki dorongan-dorongan, yang dikenal dengan istilah libido sejak kecil. Dorongan atau libido ini berkaitan dengan energi-energi psikis yang sifatnya seksual. Dorongan-dorongan seperti ini sudah akan muncul pada manusia, bahkan sejak bayi, dan tersebar di dalam bagian-bagian tubuh, yang berada pada rentang usia tertentu. Ada beberapa tahapan perkembangan psikoseksual manusia, yaitu :
Fase Oral (0 – 1 Tahun)
Pada tahap ini, dorongan utama dari bayi adalah kepuasan pada bagian oral, yaitu daerah sekitar mulut. Jadi, wajar saja bayi pada usia 0 – 1 tahun sering kali mengemut jarinya, dan juga menyusu dari ibunya. Hal ini karena memang secara alamiah, si bayi sedang memiliki dorongan atau libido yang berpusat pada bagian mulut, sehingga libido tersebut harus dipuaskan. Banyak ahli mengatakan, mereka yang pada usia 0 – 1 tahun, tahapan oralnya tidak terpenuhi dengan baik, bisa saja mengalami regresi, misalnya saja pada usia dewasa, masih suka menggigit bolpen, merokok, dan melakukan kegiatan atau perilaku yang berhubungan dengan bagian mulut secara berlebihan, sebagai kompensasi atas tidak terpenuhinya keinginan pada tahapan oral di masa kecilnya.
Fase Anal (1 – 3 tahun)
Pada fase ini, letak pemuasan dari libido atau dorongan seseorang berada pada bagian anal atau dubur. Fase ini merupakan salah satu fase yang tepat untuk melakukan toilet training, yaitu pelatihan menggunakan toilet pada anak.
Fase Falik (3 – 5 tahun)
Tahap-tahap perkembangan psikoseksual manusia berikutnya terjadi pada usia 3 – 5 tahun. Pada fase ini, pemuasan libido atau dorongan seseorang berada pada alat kelamin. Anak-anak sudah mulai paham dan menyadari perbedaan secara anatomis antara laki-laki dan perempuan, dan menyadari fungsinya sebagai makhluk sosial yang memiliki perbedaan jenis kelamin.
Pada fase ini, biasanya sering muncul Oedipus Complex dan Electra Complex. Oedipus Complex merupakan rasa “suka” antara anak laki-laki dengan ibunya, sedangkan Electra Complex merupakan rasa “suka” antara anak perempuan dengan ayahnya.
Fase Laten (5 – 12 tahun)
Tahap-tahap perkembangan psikoseksual berikutnya adalah fase laten. Fase ini merupakan fase tenang, dimana anak – anak akan lebih sibuk dengan kegiatannya tanpa “diganggu” oleh munculnya libido dan dorongan-dorongan seksual. Pada fase ini, anak-anak cenderung bermain dan berteman, terutama dengan anak-anak lain ataupun orang dewasa yang memiliki jenis kelamin sama.
Fase Genital (12 tahun ke atas)

Tahap-tahap perkembangan psikoseksual manusia yang terakhir adalah fase genital. Pada fase ini, organ – organ reproduksi sudah mulai matang, dan pusat keinginan, libido, dan juga dorongan seksual berada pada alat kelamin. Pada fase ini, mulai muncul jalinan relasi heteroseksual.
Jika orangtua sudah mengetahui tahapan perkembangan psikoseksual anak, langkah berikutnya adalah mendampingi anak menjalani tahapan perkembangan psikoseksualnya. Setiap tahapan psikoseksual merupakan Fitrah Manusia, apabila setiap tahapan dapat dilalui dengan baik sesuai fitrahnya, maka ia akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir dan bertindak sesuai fitrahnya. Sebaliknya, jika anak tidak melewati fase perkembangan sesuai fitrahnya, maka akan muncul perilaku menyimpang yang tidak sesuai fitrahnya. Saat ini, beragam perilaku menyimpang seolah menjadi virus yang telah tersebar di masyarakat. Bukan hanya menjangkiti orang dewasa, namun juga pada anak-anak.
Berikut ini beberapa perilaku menyimpang yang harus diwaspadai:
Masturbasi Infantil (Masturbasi pada Anak)
Masturbasi infantil (childhood masturbation) adalah autostimulasi alat genital pada anak prapubertas. Masturbasi merupakan keadaan normal yang ditemukan pada 90-94% laki-laki dan 50-60% wanita pada masa kanak-kanak. Meskipun merupakan suatu keadaan normal, kondisi ini seringkali luput dari perhatian orangtua atau keluarga terutama bila tidak ditemukan manipulasi alat genital secara langsung. Masturbasi infantil (MI) merupakan suatu bentuk pemenuhan kepuasan (gratification) pada masa kanak-kanak. Aktivitas masturbasi pada bayi dan anak tidak selalu dapat dikenali karena seringkali dilakukan tanpa stimulasi alat genital secara manual.
Dengan demikian, adalah keliru jika orang tua menunjukkan reaksi yang kasar dan negatif menanggapi perilaku normal ini. Tapi sungguh dapat dipahami jika kebanyakan orang tua merasa sangat kaget, shock dan bingung ketika mendapati anaknya melakukan aktivitas seks semacam masturbasi. Dan orang tua hendaknya waspada, karena kemungkinan anak yang mempunyai kecenderungan masturbasi dengan intensitas yang tinggi kemungkinan telah mengalami atau menjadi korban pelecehan seksual. Normal atau tidaknya masturbasi yang dilakukan dapat dilihat dari sejauhmana aktivitas tersebut menyita perhatian anak. Jika hanya sekedar memuaskan keingintahuannya maka ini bisa dikatakan normal. Dan sebagai orang tua kita meresponnya dengan memberikan pengertian dan memfasilitasi penyaluran energi dan rasa ingin tahunya melalui kegiatan lain. Tapi jika ia menghabiskan energi dan perhatiannya hanya untuk masturbasi dan enggan melakukan aktivitas lain, maka ini harus diwaspadai.
Disinformasi Gender
Biasanya, anak yang tidak mendapat stimulus dan lingkungan yang positif mengenai fungsi gender, akan mengalami disinformasi gender. Bila berlanjut, ini bisa menjadi akar dari LGBT. Maka dari itu, anak perlu diberi stimulus pemahaman fungsi gender sejak usia dini sesuai tahapan psikoseksual.
Kecanduan Pornografi dan Sexting

Penggunaan gadget yang meluas, menjadi pintu dari paparan pornografi pada anak usia dini. Anak usia dini seharusnya tidak banyak menggunakan gadget dalam kegiatan sehari-hari, apalagi tanpa pendampingan orang tua. Kerusakan otak yang pertama kali terjadi adalah kerusakan di bagian Pre Frontal Cortex, otak yang berada di bagian depan (tepat di dahi) yang merupakan pusat dari kegiatan pengambilan keputusan.
Kekerasan Seksual
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan ratusan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang diduga dilakukan orang terdekat sebagai pelaku.
Komisioner KPAI Jasra Putra mengungkapkan, data menunjukkan bahwa pihaknya menemukan 218 kasus kekerasan seksual anak pada 2015. Sementara pada 2016, KPAI mencatat terdapat 120 kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Kemudian di 2017, tercatat sebanyak 116 kasus. Dalam data juga dinyatakan bahwa pelakunya adalah orang terdekat anak seperti ayah tiri dan kandung, keluarga terdekat, dan temannya.
Setelah melihat fenomena di masyarakat, solusi yang ditawarkan kelompok ini adalah dengan mengajak para orangtua menjaga fitrah seksualitas pada anak di setiap tahap tumbuh kembangnya. Antara lain :

☘ Masa Kehamilan
🔹Menjaga asupan makanan dan nutrisi yang seimbang. Menghindari makanan yang mengandung hormon sintetis.
🔹Menjaga Keseimbangan Emosi selama masa kehamilan
🔹Mengajak janin berkomunikasi

☘ 0-1 tahun
🔹Pemberian ASI eksklusif, dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun
Pemberian MPASI dengan tekstur yang sesuai dengan usia tumbuh kembang anak

☘ 1-3 tahun
🔹Mengupayakan Sistem Pencernaan yang sehat.
🔹Toilet Training yang menyenangkan
🔹Adab Buang Air Besar dan Kecil
🔹Mengenal Nama-nama anggota tubuh, termasuk organ genital dengan nama ilmiah.
🔹Mengajak anak agar mensyukuri anggota tubuh yang dimilikinya
🔹Tidak memaksa anak untuk bersalaman/cium/peluk dengan orang lain, termasuk anggota keluarga.

☘ 3-5 tahun
🔹Mengetahui adab berpakaian (Malu jika auratnya tampak)
🔹Belajar mengenal fungsi tubuh secara ilmiah, misalnya: Proses kehamilan dan melahirkan.
🔹Mengenal perbedaan tubuh laki-laki dan perempuan.
🔹Mengetahui adab bertemu dengan orang lain.
🔹Mengenal sentuhan yang boleh dan tidak boleh.
🔹Mendukung anak supaya berani bertanya, mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.
🔹Mengenalkan peran gender

☘ 5-12 tahun
🔹Kamar Tidur sudah terpisah dari orang tua dan saudara lawan jenis. Jika harus sekamar (perempuan dengan perempuan/ laki-laki dengan laki-laki, maka harus terpisah selimut/tempat tidurnya).
🔹Melakukan beragam aktivitas positif bersama orang tuanya.
🔹Anak Perempuan didekatkan dengan Ayah dan mendapat pemenuhan kebutuhan sentuhan fisik dari Ayahnya (Dipeluk, dicium, diusap). Dan Anak laki-laki dengan Ibunya.
🔹Mengenal ciri-ciri pubertas dan cara menghadapinya

☘ >12 tahun
🔹Melakukan banyak dialog mengenai fitrah peran laki-laki dan perempuan di dunia.
🔹Melakukan aktivitas sesuai peran gender

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak

Thursday, 4 January 2018

Sebuah Catatan dari Bahan Diskusi : Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak

Memasuki materi 11 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami belajar mengenai pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas anak. Materi ini kami sambut dengan cara belajar yang berbeda dari biasanya. Kali ini di kelas fasilitator, kami sebagai peserta diminta untuk learning by teaching dengan cara melakukan diskusi kelompok dan presentasi serta membuat media edukasi.

Unik? Ya

Susah? Ya

Ribet? Ya

Menyerah? Tidak

Sejenak kita menilik ke belakang, saat masih muda, hahaha… Kalau kita ditanya, masa-masa apa yang paling mengesankan saat kuliah? Mayoritas jawabannya bisa jadi adalah saat begadang mengerjakan laporan praktikum, atau saat tidak sempat mandi karena menyelesaikan tugas yang belum juga selesai di detik-detik terakhir batas pengumpulan. Masa-masa yang pada masanya dirasa sulit, justru menjadi pengalaman berkesan saat berhasil terlewati. Ya, situasi genting seringkali membawa kita melampaui ambang batas kemampuan diri. Menegangkan, memicu adrenalin, tapi memunculkan kegembiraan setelahnya. Yap, itulah tantangan.

Cara belajar di materi 11 ini jelas menjadi sebuah tantangan bagi kami. Dan hari ini, kelompok pertama di kelas fasilitator Bunda Sayang batch #1 telah menjawab tantangan tersebut dengan amat jitu. Kelompok yang beranggotakan 4 orang ibu yang berdomisili di tempat yang berbeda yaitu, Luthfia di Bandung; Diah Soehadi di Jakarta; Anna Andriani di Jepang; Firsta di Bogor, berhasil berkolaborasi menyajikan sebuah materi yang apik dan menyeluruh. Pas sekali untuk mengawali presentasi-presentasi ke depan.



Mengambil judul Pentingnya Membangkitkan Fitrah Seksualitas pada Anak, kelompok ini menyajikan materi layaknya presentasi di dunia nyata. Masing-masing orang menempati posisi kerjanya masing-masing. Moderator, presenter materi, penjawab pertanyaan hingga pembuat media edukasi telah ada penanggungjawabnya masing-masing. Tak perlu menunggu lama, moderator segera mengambil alih kelas dan membuka ruang diskusi dengan cekatan. Usai pembukaan, presenter segera menampilkan bahan diskusi yang tersaji dengan visualisasi yang menarik, konten materi selalu dilengkapi dengan gambar juga infografis untuk memudahkan pemahaman.

Poin materi yang dikupas antara lain :
1. Definisi  dan peran gender
2. Pembagian peran gender
3. Penyimpangan dan fenomena yang terjadi di masyarakat
4. Solusi yang ditawarkan : membangkitkan fitrah seksualitas
5. Media edukasi sebagai kontribusi nyata

Secara umum, saat kita berbicara mengenai gender, tergambar jelas perbedaan fisik laki-laki dan perempuan juga peran yang mengikutinya. Seiring berkembangnya budaya masyarakat, peran gender seringkali dikaitkan dengan kekuatan laki-laki dan kekurangberdayaannya perempuan. Kekeliruan yang berkelanjutan membentuk sebuah pola pikir yang diwariskan turun temurun sehingga penyimpangan terjadi di banyak lini. Sebagai contoh, kasus kekerasan para perempuan seringkali terjadi karena anggapan bahwa perempuan adalah makhluk lemah yang tak berdaya. Kejadian ini membuat perempuan merasa perlu menunjukkan eksistensinya dengan menyaingi laki-laki untuk membuktikan bahwa perempuan adalah pihak yang juga dapat berdaya. Perempuan mengesampingkan peran gendernya, fitrah seksualitasnya sehingga sisi maskulinitas lebih mendominasi. Alhasil, perempuan sibuk berkarya di publik, namun keluarga dan anak-anaknya haus belaian dan rindu kelembutan seorang ibu. Terjadi ketimpangan dalam keluarganya.

Pun dalam keluarga, seorang pria yang kurang memahami peran gendernya sebagai seorang kepala keluarga, akan sibuk dengan aktivitas mencari nafkah tanpa mau turun tangan dalam urusan rumah tangga. Sang pria menganggap bahwa urusan anak-anak dan rumah tangga adalah sepenuhnya urusan istri. Padahal peran ayah dalam pengasuhan anak sangat berperan dalam membentuk sisi maskulin, jiwa kepemimpinan, pola pikir yang logis dan sistematis dan masih banyak lainnya.


Setelah akar masalahnya teridentifikasi, langkah berikutnya adalah bergerak membuat sebuah solusi. Kelompok ini merumuskan bahwa solusi dan permasalahan yang ada dalam masyarakat adalah diawali dari keluarga sebagai sebuah unit terkecil. Orangtua kembali pada peran idealnya yaitu sebagai pendidik utama dan pertama untuk anak-anak. Maka, membangkitkan fitrah anak seperti fitrah keimanan, fitrah bakat, fitrah belajar pun juga fitrah seksualitas adalah sebuah tanggungjawab yang perlu ditunaikan oleh para orangtua.

Hal ini tentu bukan hal yang mudah. Membutuhkan sebuah komitmen tinggi dan kerjasama yang kontinyu. Pesan moral paling mengena yang saya tangkap dalam diskusi kelompok 1 adalah saat ada studi kasus, bagaimana jika seorang anak berada dalam sebuah keluarga yang tidak utuh? Bukankah kondisi tersebut bukan pilihan anak?

Peribahasa Afrika yang berbunyi It takes a village to raise a child yang kurang lebih artinya, perlu orang sekampung untuk mendidik anak, tentu sudah tidak asing di telinga.
Mendidik anak kita saja untuk menjadi baik tentu tidak cukup, karena anak kita akan berinteraksi dengan anak tetangga, anak kita juga akan bersosialisasi dengan teman-teman bermainnya. Maka, kita perlu mendidik anak-anak lain untuk baik juga supaya anak kita dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kondusif. Keluarga kita perlu bersinergi dengan keluarga lainnya untuk mewujudkan visi bersama.

Anak yang berada dalam sebuah keluarga yang tidak utuh, pun memiliki hak yang sama. Oleh karena itu, jika ayah atau ibu kandungnya tidak ada, maka perlu ada sosok pengganti yang akan menghadirkan peran ayah atau ibu untuk diri anak tersebut. Bisa dari keluarga terdekat atau bahkan perangkat di lingkungan setempat. Tersemainya fitrah seksualitas anak dengan benar,  menjadi tanggungjawab bersama.

Untuk memudahkan pemahaman, kelompok ini membuat video berdurasi 2 menit 46 detik sebagai media edukasi agar para orangtua semakin memahami fitrah seksualitas dengan benar sehingga dapat membersamai anak-anak semakin baik lagi. Video ini bisa disimak di http://bit.ly/MediaEdukasi1Fasilnas

Harapan ke depan, video ini akan disaksikan oleh semakin banyak orang dan keluarga sehingga semakin banyak pihak yang terpahamkan bagaimana fitrah seksualitas dan betapa pentingnya membangkitkan fitrah seksualitas anak.

#Tantangan10Hari
#Level11
#KuliahBunsayIIP
#MembangkitkanFitrahSeksualitasAnak