Saturday, 29 September 2018

Komunikasi Produktif pada Diri Sendiri Saat Menghadapi Kompleksitas Tantangan

Jurnal Belajar Kelas Bunda Sayang Materi 1
Komunikasi Produktif

Bismillahhirrohmanirrohim…
Kembali masuk ke kelas Bunda Sayang adalah sebuah kesempatan yang amat saya syukuri. Difasilitasi langsung oleh manajer Bunda Sayang dan bertemu dengan teman diskusi yang aktif berbagi, mempelajari materi dan mempraktikkannya tahap demi tahap bersama keluarga adalah sebuah keasyikan tersendiri. Karena kali ini kelas yang saya masuki adalah kelas Bunda Sayang Leader, aturan mainnya sedikit berbeda. Peserta tidak diwajibkan menyetorkan tantangan 10 hari, karena sudah menjalankannya di kelas Bunda Sayang regular yang sudah atau sedang dijalankan. Lalu apa tugas peserta? Peserta diminta untuk membuat sebuah jurnal belajar. Sebuah jurnal untuk setiap level materi.
Setiap level materi berlangsung kurang lebih selama sebulan lamanya. Jika tantangan 10 hari adalah melakukan praktik harian kemudian menyetorkannya dengan konsisten setiap hari selama periode waktu yang ditentukan, maka jurnal dikumpulkan menjelang garis akhir level materi. Sebuah durasi panjang disediakan agar para peserta berkesempatan menyerap materi dengan baik, menjalankan praktik dengan bahagia juga menuliskan insight yang didapatkan selama proses pembelajaran tersebut berlangsung sehingga terikat makna mendalam.
Materi komunikasi produktif yang tersampaikan di bulan September 2018 ini bertepatan dengan aneka tantangan yang sedang saya rasakan saat ini. Maka, komunikasi produktif yang menjadi project kali ini berfokus pada komunikasi produktif pada diri sendiri.
(bersambung...)                                                                               

Sunday, 2 September 2018

Kebutuhan Aktualisasi Diri Seorang Ibu

Kebutuhan aktualisasi diri merupakan sebuah hal yang mutlak dibutuhkan oleh setiap manusia, termasuk seorang ibu. Di sesi materi Pra Bunda Sayang kali ini, peserta diminta untuk membuat kartu nama beserta narasi mengenai diri.

Kartu nama diri sudah saya buat sekitar dua tahun yang lalu, saat saya mencoba semakin mengenali diri dan memperbanyak memberi ruang dan makna pada aktivitas yang saya cintai. Berikut penampakannya :


tampak depan

tampak belakang

Saya memilih profesi sebagai Home based Educator. Apa itu? seorang pendidik terutama bagi anak-anak yang memulai perjalanan perannya dari dalam rumah. Rumah identik dengan tempat tinggal, tempat bernaung, tempat beraktivitas bersama. Rumah erat kaitannya dengan sebuah tim di dalamnya, yaitu keluarga. Belajar dan berkarya bersama keluarga dan berbahagia menjalani prosesnya. Saya ingin menjadi penyokong penuh terwujudnya misi suami yang kemudian menjadi misi keluarga kami, Griya Riset. 

Saturday, 25 August 2018

Belajar Adab Menuntut Ilmu di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional



Tulisan ini dibuat dalam rangka pengerjaan tugas belajar online di kelas Bunda Sayang Leader Institut Ibu Profesional

NHW Adab Menuntut Ilmu adalah dengan menjawab tiga pertanyaan berikut.

Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu Bunda Sayang?

Kelas Bunda Sayang leader yang saya ikuti saat ini merupakan kesempatan kedua saya untuk hadir, belajar dan menyelami kembali ilmu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Sebelumnya, saya sudah lulus kelas Bunda Sayang kelas Fasilitator di bulan Maret 2018 lalu. Mengapa saya ingin belajar kembali di kelas Bunda Sayang? Yang menjadi alasan terkuat adalah karena saya ingin membekali diri untuk mumpuni dalam memfasilitasi anak-anak. Menjadi fasilitator utama dan pertaman bagi anak-anak merupakan profesi yang membahagiakan diri dan keluarga. Tak dipungkiri, selama proses menjalani kelas Bunda Sayang selama lebih dari satu tahun, ada banyak ilmu yang saya dapatkan. Sedikit demi sedikit, saya upayakan untuk menelaah dan mempraktikkannya dalam keluarga. Mengingat manfaatnya yang terasa begitu besar bagi kami sekeluarga, saya mantap untuk memasuki kelas Bunda Sayang kembali. Kali ini di kelas leader, bersama para leader Ibu Profesional dari berbagai regional. Bismillah, saya siap J  

Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?

  • Mengalokasikan waktu secara rutin dalam jadwal waktu harian untuk menelaah materi yang didapat, mempraktikkan dalam keseharian, menyerap makna yang terungkap juga mendiskusikannya bersama suami di family forum
  • Membuat mindmap materi dan mencari referensi yang berkaitan dengan materi tersebut
  • Terlibat dalam diskusi aktif baik dengan suami di rumah maupun teman sekelas dan peer group
  • Menyiapkan dua buku tulis khusus untuk pembelajaran kelas Bunda Sayang. Terpisah antara materi dan jurnal praktik.

 Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaikidalam proses mencari ilmu tersebut?

  • Mengupayakan untuk menyimak diskusi di waktu yang telah disepakati bersama
  • Menyederhanakan masalah besar, mengurangi sikap perfeksionis
  • Menyegerakan dalam pengerjaan tugas. Tidak harus segera mengumpulkan, namun menyegerakan dalam memulai dan bersungguh-sungguh dalam pengerjaannya
  • Menyampaikan kebutuhan waktu untuk belajar kepada suami dan anak-anak, meminta ridho dan doa dari mereka
  • Selalu memegang family first. Ilmu Bunda Sayang saya pelajari untuk semakin meningkatkan servicing pada para customer utama, yaitu suami dan anak-anak.
  • Fokus tinggi dan selalu meminta ridho dan kemudahan dari Allah

Bismillah, dengan masuk kelas Bunda Sayang leader ini, saya berupaya untuk menjaga keseimbangan antara menuntut ilmu, mengaplikasikannya bersama keluarga dan menebar kebermanfaatannya. Semoga senantiasa Allah jaga, mudahkan dan kuatkan dalam menjalankan kelas Bunda Sayang Leader ini. Aamiin…


x

Monday, 20 August 2018

Saling Mendengar


“Itu hasil dari sebuah totalitas mi..."

cetus Abiya (panggilan saya untuk suami), usai kami menyaksikan bersama video rekaman acara pembukaan Asian Games 2018 kemarin yang mengundang banyak decak kagum.

Abiya melanjutkan,
“Karakter ini pun yang harus dimiliki oleh keluarga kita. Mengerjakan amanah dengan fokus dan penuh kesungguhan. Hasil akan mengikuti.”

Saya manggut-manggut sembari membereskan ruangan. Hari itu hari libur, saya mendedikasikan diri untuk menjadi pendengar yang baik untuk beliau. Sebelum anak-anak bangun dan berebut ingin didengarkan juga.

Beliau memberi isyarat untuk mendekat. Ingin menunjukkan pada saya video berikutnya. Bukan, bukan video mengenai Asian Games. Kali ini sebuah video mengenai perjalanan karier seorang animator, Alan Becker. Di video tersebut Alan Becker menceritakan awal mula beliau masuk ke dunia animasi di tahun 2005 hingga sampai di titik saat ini dimana channel Youtubenya sudah memiliki 5.4juta subscribers. Wow, perjalanan selama kurang lebih 13 tahun, terangkum apik dalam sebuah video singkat. Menarik dan inspiratif.  

Percakapan kembali mengalir. Ternyata karya-karya Alan Becker sudah digemari Abiya semenjak awal masa mahasiswa. Dan mungkin banyak subscribers yang juga demikian, mengikuti sejak bertahun-tahun lamanya. Pertanyaannya, mengapa karyanya disukai banyak orang dan membuat orang tertarik untuk terus mengikutinya? Ya, tentu saja karena karyanya bagus dan beliau konsisten menjaga kualitas karya tersebut. Kisah Alan Becker melanjutkan inspirasi pagi kami, Allah sampaikan pada kami bukti dari sebuah kesungguhan yang dibarengi dengan konsistensi.

Apa sebelumnya saya mengetahui tentang Alan Becker? Tidak, saya tidak mengenalnya sama sekali. Saya pun bukan penyuka animasi. Bidang-bidang yang menarik bagi suami, memang asing bagi saya. Saya tak mengerti animasi, coding,maupun hal-hal yang menjadi bidang kesibukan suami. Pun sebaliknya. Namun dari sekian banyak hal yang berbeda maupun bertolak belakang, kami menemukan sebuah irisan. Kami suka berdiskusi. Saya suka mengumpulkan informasi, sedangkan suami suka menganalisa. Maka, kami perbanyak ruang diskusi dalam keseharian. Kami berupaya saling mendengarkan dengan baik, memahami kebutuhan masing-masing diri dan mengalirkan aneka topik bahasan dalam sebuah muara, pembelajaran untuk keluarga.

Saya selalu menantikan momen ini, family forum sarat makna, saat the man of vision and mission sedang mentransfer pandangan hidupnya, untuk kemudian nanti dijalankan oleh saya, sang pelaksana harian pendidikan.


Hasil jepretan Mentari Pagi di depan Schonbrunn Palace

Monday, 16 July 2018

Pertemuan dengan Seorang Anak yang Jiwa Sosialnya Tinggi

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menuangkan cerita di blog. Semoga cerita demi cerita yang akan kembali tertulis disini, Allah jaga dalam bingkai kebajikan sehingga bisa menjadi sebuah kebermanfaatan bagi yang menuliskan maupun yang membaca. 

Bismillahhirrohmanirrohim…



Kemarin sore, ada sebuah kejadian menarik saat saya menemani anak-anak bermain pasir di taman. Seperti biasa, saya duduk di pinggir bak pasir di dekat tempat anak-anak asyik bermain. Mentari Pagi dan Langit asyik bermain dengan peralatan yang mereka bawa. Ada jerigen air mini dan cetakan kastil dilengkapi empat sekop untuk mengeruk pasir. Di bak pasir itu ada beberapa anak yang juga bermain. Mayoritas dari mereka membawa peralatan bermainnya masing-masing. Hmm…ada seorang anak yang menarik perhatian saya. Dilihat dari postur tubuhnya, usia gadis kecil itu sekitar 6 hingga 7 tahun. Jika diamati dari gaya berpakaian ibunya, mereka berasal dari India. Dia menyapa akrab saya dan Mentari Pagi. Sapaan “Halo” yang dia utarakan, saya jawab disertai senyum manis. Nampaknya gadis kecil ini mengartikan balasan hangat dari kami sebagai lampu hijau baginya untuk bisa bermain bersama kami. Kam pun tak keberatan. 

Si gadis kecil tertarik dengan jerigen air mini milik Mentari Pagi. Dengan bahasanya, dia mengisyaratkan bahwa ingin memakainya. Mentari Pagi tak membolehkan, karena jerigen itu juga sedang ia gunakan untuk bermain pasir. Gadis kecil itu beberapa kali membujuk, namun Mentari Pagi tetap teguh tak membolehkan. Yang menarik, bujukan gadis kecil ini selalu disertai senyuman. Meski belum juga diperbolehkan, tak lantas membuat raut wajahnya berubah. Dia tetap meminta dengan tersenyum. Karena Mentari Pagi tetap pada pendiriannya, gadis kecil itu pergi. Melakukan aktivitas lain seperti berkeliling bak pasir atau bermain ayunan. Selang beberapa lama, muncul seorang anak perempuan lain yang juga bermain di bak pasir. Si gadis kecil tadi juga mendekat, menyapa, melakukan hal yang sama seperti dia memperlakukan kami. Kali ini teman barunya tersebut memperbolehkannya ikut memainkan peralatan. Gadis kecil itu pun asyik bermain selama beberapa saat. Tak lama, dia kembali berkeliling bak pasir dan menyapa anak-anak lain. Hingga kemudian dia kembali menghampiri kami. 

Saat itu, Mentari Pagi sedang membutuhkan air untuk pasirnya. Dengan cekatan, si gadis kecil ini menawarkan diri untuk mengambilkan air di kran yang masih berada di dekat bak pasir. Namun si gadis kecil itu kembali dengan jerigen yang tetap kosong. Rupanya tangannya belum mampu menarik tuas pembuka air di kran. Kran air itu memang sulit jika dibuka oleh anak-anak. Tenaga anak-anak tak cukup kuat untuk menarik tuas kran air tersebut. Telunjuk tangannya bergerak ke atas sembari bola matanya bergerak ke kanan kiri. Saya menanggapi dengan memberikan pertanyaan, “Bagaimana solusinya?” Tak lama dia tersenyum dan berujar, “Aha, aku punya ide…” Dia mengajak saya mengikuti langkahnya ke kran. Ternyata idenya adalah dia meminta bantuan saya untuk menarik tuas pompa air. Hihihi…

Usai jerigen terisi air, dengan sigap dia mendatangi Mentari Pagi dan menawarkan untuk menyiramkan air ke pasir. Mentari Pagi menyambutnya dengan suka cita. Di ujung lainnya, temannya tadi juga memanggilnya dan mengatakan bahwa dia juga membutuhkan air. Hingga saya hitung sampai akhir, ada sekitar lima kali bolak balik gadis kecil ini mengisi air untuk melayani teman-temannya yang membutuhkan air. Dan dia melakukannya selalu dengan senyum lebar. Saya mengulurkan tangan mengajaknya give me five saat usai membantu anak lain. Beberapa saat kemudian, dia yang mengajak saya mengulanginya setiap dia tuntas membawakan air untuk teman-temannya. Dia menyukai apresiasi ini. Kami terus bermain dengan pola demikian. Tak ada lagi anak yang protes, tak ada lagi anak yang bosan hingga menangis, tak ada lagi ibu yang berteriak karena merasa anaknya merugikan orang lain. Alhamdulillah. Dari sini saya membaca sesuatu. Gadis kecil ini memiliki bakat servicing yang tinggi. Bagi orang yang baru mengenalnya, mungkin orang lain merasa risih dengan sikapnya yang selalu mendekat. Namun saat saya menyaksikan cara dia bermain bersama Mentari Pagi dan teman lainnya, saya dapat melihat binar bahagia di sorot matanya setiap kali orang lain berterimakasih padanya atas bantuan yang dia ulurkan. 

Hari menjelang sore, saya dan anak-anak pun berpamitan pada ibunya untuk pulang dulu ke rumah. Ibunya berterimakasih pada kami karena senang bermain dengan gadis kecilnya. Melihat saya menyalami sang ibu, gadis kecil itu berlari mendekat dan menjabat tangan saya dan Mentari Pagi. Ada rasa hangat yang menjalar di hati ini. Saya berharap, semoga Allah senantiasa mudahkan kami para orangtua untuk fokus melihat keunggulan setiap anak, memahami dan memberi ruang pada mereka untuk mengekspresikan keunggulan tersebut. Aamiin…

Wednesday, 23 May 2018

Bermain Bersama di Fasilitas Umum

Hari ini kami bermain pasir bersama di taman. Anak banyak anak yang bermain pasir. Untuk bermain di fasilitas umum, kita perlu berdiskusi dan membuat kesepakatan dengan anak agar bermain menjadi lebih nyaman. Terlebih di negeri orang. Antara lain :

Jika ada anak yang ingin bermain bersama, orangtua perlu mengawasi secara berkala. Supaya tidak terjadi pertengkaran atau hal yang tidak diinginkan. Bahasanya kan kita belum paham ya. Jadi lebih baik mengurangi potensi konflik.

Peralatan bermain diberi label nama terlebih dahulu. Ada sebuah kejadian dimana ada seorang ibu yang mendatangi kami saat bermain dan menanyakan apakah kami (orangtua) mengetahui alat bermain milik anaknya? Alhamdulillah saat itu saya bersama teman yang sudah cukup paham bahasa Jerman, sehingga kemudia teman saya membukakan tas tempat alat bermain anak-anak kami dan menunjukkan bahwa alat bermain yang ibu tersebut maksud tidak ada. Dengan demikian, ibu tersebut merasa puas dengan jawaban dan sikap kami.

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day12

Tuesday, 22 May 2018

Sarana Transportasi yang Ramah Anak

Wina merupakan kota yang terkenal akan fasilitas transportasinya. Tak heran, meski bepergian bersama dua anak kecil, kami tetap dapat menikmati perjalanan dengan nyaman. Ada u-bahn, tram maupun bus yang siap kami gunakan setiap saat. 

Mengapa ramah anak?
Semua jadwal kedatangan alat transportasi di halte atau stasiun bisa dimonitor dengan aplikasi sehingga dapat kita ketahui estimasi waktu kedatangannya. Ini memudahkan kita untuk menenangkan anak saat mulai jenuh menunggu. 

Di semua alat transportasi, ada tempat untuk kursi roda dan stroller. Seberapapun berdesak-desakannya, mereka akan memberi ruang untuk stroller bayi dan anak. Ada kursi khusus juga yang diprioritaskan untuk orang yang sudah tua, orang sakit, ibu hamil, orang tua yang membawa anak kecil maupun anak-anak.

Jarak antara halte maupun stasiun amat dekat. Dan semuanya bisa dilihat melalu aplikasi. Bahkan kita bisa memilih rute sesuai prioritas. Mau rute yang paling cepat, yang waktu jalan kakinya paling pendek atau yang perpindahan alat transportasinya paling minim. 

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day11

Monday, 21 May 2018

Kebiasaan Harian yang Perlu Kami Ubah Disini

Ada kebiasaan-kebiasaan yang harus berganti semenjak kepindahan kami ke Wina. Memang tak mudah, perlu waktu untuk memahamkan dan perlu proses untuk berganti kebiasaan. Anak-anak bisa menikmati dengan bahagia.

Beberapa kebiasaan tersebut adalah :

Cara kami membersihkan badan seusai buang air besar dan buang air kecil. Karena disini toiletnya adalah toilet kering maka kami membersihkan najis tetap dengan air namun dengan volume yang lebih sedikit dan dibantu dengan tisu.

Makan selalu di rumah. Karena tidak ada warung makan yang sesuai dengan lidah dan selera kita disini. Selain kehalalannya juga dipertanyakan (Selain kebab berlabel halal), harganya pun kurang ramah kantong. hihihi. Jadi jika bepergian kami berupaya mempersiapkan bekal makanan berat dari rumah.

Pergi berbelanja selalu membawa kantong belanja. Kantong belanja disini benar-benar membayar, dengan harga yang cukup mahal. Sayang kan uangnya. Supaya ramah lingkungan juga, lebih baik bawa kantong belanja dari rumah :)
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day10

Sunday, 20 May 2018

Saat Masjid dan Kumandang Adzan Menjadi Sebuah Hal yang Amat Dirindukan

Di kota dimana muslim menjadi minoritas, adzan dan masjid merupakan sebuah hal yang akan amat jarang kita temui.
Awal-awal kedatangan kami disini, kami cukup dibingungkan dengan jadwal sholat. Yang biasanya kami sudah hafal dengan jam sholat, ditambah dengan selalu terdengarnya kumandang adzan dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah.
Alhamdulillah kami datang dua hari jelang Ramadhan, dimana di bulan Ramadhan ini, Warga Pengajian Wina Austria mengadakan buka bersama di masjid As Salam rutin setiap hari Senin dan Kamis. Ini amat memudahkan porses adaptasi kami disini. Kami banyak berkenalan dengan orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Wina, kami juga bisa menyantap makanan khas Indonesia yang mana kami belum tahu bumbu-bumbu dapur tersebut bisa dibeli dimana, hingga anak-anak bisa bermain dengan teman seusianya menggunakan bahasa ibu mereka. 
Dengan merantau di negeri minoritas, kami semakin paham nikmatnya berislam di negeri sendiri :)
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day9

Saturday, 19 May 2018

Menjejak Taman Am Hundsturm - Wina

Taman disini amat ramah anak. Kita akan dapati banyak taman gratis yang menyediakan aneka permainan. Dan hari ini, kami mencoba salah satunya. Taman Am Hundsturm kami tapaki seusai kami berbelanja. Kami singgah disini untuk melepas lelah sebelum berjalan kembali sembari menemani anak-anak bermain. Aneka permain tersedia disini. Lokasi bermain beralas serpihan kayu sehingga aman untuk anak. Anjing tidak boleh masuk ke taman ini, terdapat peringatan demikian di pintu masuk taman. Selepas bermain, kami siap berjalan kaki kembali dengan bahagia :D

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day8

Tuesday, 15 May 2018

Proses Adaptasi yang Kami Jalani di Awal Kedatangan

Austria dan Indonesia adalah dua negara yang jauh berbeda. Adaptasi pun perlu kami lakukan. Cuaca saat kami datang kesini cukup cerah, semi dingin namun kering. Untuk menjaga kelembaban, kami membatasi waktu mandi dan memakai pelembab bibir dan wajah. 

Anak-anak merasa cukup nyaman dengan hawa dingin disini sehingga bisa pulas tertidur meski tanpa kipas angin. Anak-anak senang sekali karena di depan tempat tinggal kami ada taman bermain. Oiya, disini tidak ada semut, lalat atau serangga lainnya :D

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day4

Monday, 14 May 2018

Hari Pertama Kami di Austria

Kumbang kelana mulai menapak...

Hari masih pagi kala kami menginjakkan diri di bandara Wina. Dua orang teman suami sudah menanti kami di pintu keluar dan dengan cekatan membantu kami membawa barang-barang. Qodarullah di dompet suami tidak ada uang koin sesuai nominal yang dibutuhkan untuk meminjam troli sehingga koper-koper kami bawa secara manual. Setelah membeli tiket perjalanan, kami naik kereta menuju tempat tinggal. Sesampainya di rumah, istri dari teman suami pun datang. Beliau membawa beberapa jenis makanan dan barang titipan saya. Itu pertemuan kami yang pertama kali. Sebelumnya kami banyak berinteraksi di chat WhatsApp. Hari itu kami isi dengan beberes rumah dan beristirahat :)

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day3


Sunday, 13 May 2018

Dan Perjalanan Kami Dimulai...

Hari ini, adalah hari keberangkatan kami ke Austria. Progress project Kumbang Kelana hari ini adalah belajar selama perjalanan di pesawat dan bandara. InsyaAllah kami rangkum dalam satu tulisan. Sekarang, kami di thai airways, bersiap menuju Bangkok kemudian Vienna. Doakan kami :)

#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day2

Wednesday, 2 May 2018

Big Picture Keluarga Griya Riset

Menelaah materi mengenai big picture keluarga rasanya seru-seru sedaaaap...

Materi kami diskusikan di ruang pesan WhatsApp grup keluarga karena kami sedang berjauhan. Membaca bareng, mengobrolkannya, mendiskusikan bersama kemudian garuk-garuk kepala, kebingungan bersama. Hahahaa...

Baiklah, kita coba jalankan saja. Siapa tahu kekompakan dalam kebingungan inilah yang akan memahamkan kami seiring proses ikhtiar dan waktu yang berjalan. Hihi

Kami mulai dengan kolom INPUT. Kami coba kupas karakteristik diri satu demi satu.
Abiya :
Seseorang yang memiliki daya analisa yang tinggi, belief, responsilibity, dan restorative. Menyukai proses riset, menganalisa dan mendidik. Mampu mengukur kapasitas diri sendiri maupun seseorang yang sudah dikenal dengan akurat. Tegas, adil dan mengayomi.

Ummicha :
Seseorang dengan kekuatan bakat futuristic, discipline, input, empathy, maximizer, significance dan relator. Suka mendengarkan orang lain, menyukai dunia anak-anak, mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan dan berkisah.

Mentari Pagi :
Balita perempuan berusia 4 tahun yang senang jika diberi kepercayaan dan melakukan hal yang dilakukan orang dewasa. Memiliki empathy yang tinggi, senang tampil di depan orang lain serta menyukai angka dan bilangan.

Langit :
Bayi berusia 1.5 tahun yang jeli menirukan yang dikerjakan orang lain terutama kakaknya. Menyatakan keinginan dan pendapat dengan sikap yang lugas. Cepat beradaptasi dan murah senyum pada setiap orang.

Setelah menelusuri kolom input, selanjutnya adalah FAMILY SYSTEM.
Cukup njlimet untuk mencoba memahami apa yang dimaksud dengan sistem keluarga. Hasil mencari di mbah google, sebuah sistem idealnya terdiri dari :
1. Objek
2. Atribut
3. Hubungan internal
4. Lingkungan

Maka, berdasar perenungan kami, FAMILY SYSTEM yang berjalan di Griya Riset adalah :
Sistem berjalan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Artinya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam setiap program yang keluarga canangkan, tentunya sesuai kapasitas masing-masing.

Berikutnya, OUTPUT. Output yang kami harapkan lahir dari keluarga kami mencakup :
1. Karya produktif dan solutif
2. Program yang menginspirasi lingkungan
3. Langkah konkrit yang inside out
4. Membuat setiap anggota keluarga bahagia dunia akhirat

Lalu, FEEDBACK yang kami jalankan :
1. Family Productive Time setiap hari
2. Family Mastermind setiap minggu
3. Family Strategic Planning setiap tahun

Tuesday, 1 May 2018

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi.

Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini.

Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut.

Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu dan anak pun bertemu di setiap akhir pekan.

Sang nenek pun berkisah panjang. Mengenai alasan keputusan tersebut. Kekhawatiran sang nenek akan keselamatan dan keamanan sang cucu jika bayi tersebut dititipkan di tempat pengasuhan anak maupun dijaga oleh asisten rumah tangga. Maraknya berita kecelakaan dan hal kurang baik yang dialami anak-anak saat dijaga oleh asisten rumah tangga, membuat sang nenek tak tega jika cucunya harus dititipkan pada orang lain. Jadilah, tanggungjawab pengasuhan cucu beliau ambil dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi.

Saya tak ingin membahas alternatif-alternatif kondisi untuk bayi laki-laki tadi. Karena saya tak memiliki kuasa atas hal tersebut. Namun, saya merasa Allah menitipkan nilai dari obrolan singkat tadi. Yang kemudian, mau seberapa banyak saya mengambil pelajaran?

Seringkali, banyak orang yang tak memiliki pilihan lain. Dihadapkan pada sebuah peran yang menuntut konsekuensi yang tak ringan. Saat ditanya alasan, jawabannya tak lain adalah karena tak ada pilihan lain.

Saya teringat kalimat yang disampaikan oleh bu Septi, yang kurang lebihnya, memang menyenangkan jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun sebuah rahasia kehidupan adalah, bagaimana kita mencintai dan menjalankan dengan sepenuh hati, proses dan amanah yang sedang kita emban saat ini.

Obrolan singkat pagi ini dengan sang nenek, memompa rasa syukur saya. Yang mana saat ini saya berada dalam sebuah kondisi yang merupakan hasil dari pilihan saya sendiri. Semakin menguatkan tekad untuk mengoptimalkan daya upaya, menyempurnakan ikhtiar, untuk kemudian menyerahkan hasil pada Sang Pemberi Rezeki.

Sunday, 29 April 2018

Kumbang Kelana, Family Project di Tahun 2018

Kumbang Kelana merupakan singkatan dari berKUMpul BersAma keluarGa untuk belajar dan bertumbuh bersama di Wina





Durasi :
3 bulan
Output :
Kumpulan tulisan di blog mengenai perjalanan kami menyusul ke Wina dimulai dari persiapan hingga momen kebersamaan kembali.


#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day1

Sunday, 22 April 2018

Saat Bakat Diri Teridentifikasi, Ilmu Apa yang Kubutuhkan dan Siapakah Maestronya?

Ilmu yang menunjang bakat diri :

Bakat discipline dan input : ilmu manajemen rumah tangga, manajemen diri, manajemen perubahan. Maestro : Marie Kondo, Irawati Istadi, Renald Kasali

Bakat emphaty : ilmu pendidikan anak dan keluarga, ilmu pendidikan anak usia dini, ilmu pendidikan anak dalam Islam. Mestro : Septi Peni Wulandani, Budi Ashary, Kiki Barkiah

Bakat significance dan maximizer : ilmu berkomunitas, public speaking. Maestro : ada masukan?

Thursday, 19 April 2018

Hanashimasyou : Bebenah ala KonMari, Our Family Project

Kamis, 19 April 2018 adalah jadwal saya mengisi sesi hanashimasyou di kelas intensif KonMari level Shokyuu – Jawa 1. Saya akan berbagi mengenai perjalanan saya dalam mengenal, memahami dan menerapkan KonMari bersama keluarga serta melakukan tidying festival yang masih terus berjalan.

Ohayou sensei, minna san…

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…

Perkenalkan, saya Mesa Dewi, domisili di Jombang – Jawa Timur. Ada yang pernah atau sedang berdomisili di Jombang?

Saat memutuskan untuk belajar KonMari dan mendaftar kelas intensif level Shokyuu, saya bertekad menjadikan proses bebenah ala KonMari ini menjadi sebuah family project. Ada dua alasan yang menjadi pijakan saya,

Alasan pertama, karena hidup kami yang sedang nomaden. Pertengahan tahun 2016 kami pindahan dari Bandung ke Jombang dan harus mengosongkan kontrakan. Proses pindahan membuka mata saya bahwa ada banyak barang yang tidak sempat kami pakai. Bahkan memilikinya saja pun kami lupa. Barang-barang seisi rumah pun ada yang kami buang, ada yang kami carikan pemilik berikutnya, ada juga yang kami bawa ke rumah orangtua. Untuk yang kami bawa ke rumah orangtua, kami usahakan yang sudah tersortir bahwa memang benar-benar penting. Berangkat dari proses pindahan tersebut dan rencana kami ke depan untuk tinggal di rantau selama beberapa tahun ke depan, membuat saya merasa perlu untuk membangun pola pikir yang ringkas serta dapat bebenah dengan benar.    

Alasan kedua, bebenah merupakan sebuah ketrampilan hidup. Saya bukanlah orang yang suka bebenah. Ibu saya lah yang suka bebenah dan menyimpan. Namun, justru dari situ saya merasa bahwa saya perlu memiliki cara agar proses bebenah rumah dapat saya lakukan dengan cepat dan ringkas. Banyaknya barang yang ada di rumah dan banyaknya tempat penyimpanannya membuat saya merasa waktu untuk bebenah mengambil porsi yang besar dalam keseharian. Dan saya tak ingin terjebak disitu. Saat ini tepatnya sejak 1.5 tahun lalu saya tinggal di rumah orangtua, bersama dua anak saya yang berusia 4 tahun dan 1.5 tahun. Sejak Juli 2017 suami melanjutkan studi ke Austria dan keluarga belum bisa langsung ikut karena adanya tantangan terkait proses administrasi. Dengan posisi berjauhan dengan suami, praktis urusan pengasuhan anak secara fisik saya lakukan sendiri. Di rumah orangtua juga tidak ada ART, maka praktis urusan domestikpun kami lakukan bersama-sama sekeluarga. Dengan kondisi demikian, saya merasa amat perlu untuk dapat bebenah dengan benar, demi menghemat waktu dan tenaga juga melegakan pikiran. 

Indikator sebuah proses layak menjadi family project adalah setiap anggota keluarga dapat menjalankannya dengan bahagia. Dan jika project tersebut tuntas dijalankan, akan meningkatkan level kebahagiaan kami. Bukan hanya salah satu anggota keluarga, tapi seluruhnya. Siap berbahagia dengan berKonMari? Ya!


Apa yang menjadi catatan kami selama proses KonMari dan tidying festival ?

Children see, children do

Tidak ada pilihan lain bagi saya selain melibatkan anak-anak dalam proses tidying festival.  Karena selama mata tak terpejam, mereka terus beraktivitas bersama saya. Maka, tidying festival pun kami lakukan bersama-sama. Kakak membantu saya mensortir pakaian-pakaiannya. Yang sudah kekecilan atau tak disukai dimasukkan ke kardus donasi. Dia turut memberi ide kepada siapa kira-kira pakaiannya cocok diberikan. Saat proses melipat baju, tak jarang lipatan-lipatan yang sudah berjajar rapi menjadi tak berbentuk kembali. Namun justru dari proses melipat tersebut, kakak menjadi ikut melipat ala KonMari.


Saat tidying festival buku, kami menemukan beberapa buku anak yang masih bersegel. Rencananya, buku-buku tersebut akan kami donasikan atau berikan pada teman-teman dari anak-anak. Awalnya, kakak merasa keberatan, kakak ingin membaca dan memiliki semua buku tersebut. Lalu kemudian, ada teman ummi yang datang ke rumah, memiliki putri seumuran kakak yang tak ikut serta. Sebagai oleh-oleh kami membawakannya sebuah buku. Sesampainya teman ummi di rumah, teman ummi cerita, kalau putrinya amat menyukai buku tersebut. Dari situ, kakak menjadi semakin bersemangat untuk berbagi dan melepaskan barang untuk orang lain.


Bisa jadi tidying festival kami memang berjalan lambat, namun kami bersyukur proses tersebut berbonus kebiasaan-kebiasaan baik yang berjalan alami. Dengan menata pakaian ala KonMari, kakak lebih mudah menemukan pakaian miliknya dan adik. Sehingga dengan senang hati menolong ummi mengambilkan pakaian adik saat dibutuhkan. Anak pun menangkap pola keteraturan yang mudah diadaptasi oleh mereka. Karena setiap barang sekarang sudah ada “rumahnya” maka anak-anak dengan mudah mengembalikan setiap hal ke tempatnya juga menjadi alarm otomatis saat melihat anggota keluarga yang lain tidak meletakkan barang pada tempatnya. 



Two in one Tidying Festival

Karena kami berencana menemani studi suami di tahun ini, maka packing pun menjadi agenda utama kami. Saat tidying festival, barang-barang yang sudah tersortir dan lulus sparks joy segera kami pilah. Mana yang kami simpan di rumah dan mana yang kami bawa merantau. Sekaligus membuat daftar kode penyimpanannya. KonMari amat memudahkan kami dalam bebenah. Terimakasih KonMari Indonesia :)

Saturday, 7 April 2018

Sunday, 1 April 2018

Saat Dokumen, Kertas dan Buku Catatan Harus Dirapikan ala KonMari



Apa saja kendala yang dialami saat berbenah kertas ala KonMari?

Kendala tidying festival kertas, buku tulis dan lainnya adalah, kesukaan saya untuk menulis dan mengumpulkan barang bukti. Maka, menumpuklah kertas-kertas hasil coretan, berpuluh buku agenda juga kertas bon pembayaran dan sejenisnya. 
Maka, saat berbenah kertas, saya membuka satu persatu dan ternyata cukup memakan waktu. Tapi lega setelahnya, alhamdulillah.


Sedangkan untuk dokumen-dokumen penting, sudah tersortir dengan cukup baik dan diletakkan pada document keeper.Sehingga saya cukup menatanya kembali dan membuat label di setiap document keeper.

#shokyuuclass
#task7
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass

Saturday, 31 March 2018

Membuat Kandang Waktu Harian untuk Aktivitas Produktif


PROJECT RUANG BERKARYA IBU #2
TUGAS MATERI 3
Setelah membuat 'ruang' untuk unik diri di Tugas Materi 2, tantangan selanjutnya adalah:
Urutkan 'ruang' tersebut berdasarkan prioritas dari dalam keluar, dari lingkar inti yaitu anak dan pasangan, berlanjut ke lingkar luar tetangga, komunitas, dan masyarakat.
Jika di Tugas Materi 2 yang dibuat adalah urusan ranah publik semua, maka sekarang di tugas 3 bisa dibenahi, mulai dari lingkaran inti berlanjut ke lingkaran luar.. 
Silahkan dibuat kandang waktu produktivitas diri sesuai 'ruang' yang sudah ditetapkan:
✳ Ranah Keluarga
✳ Ranah produktif
Laksanakan dan patuhi waktu yang telah dibuat
Tuliskan tugas dengan menyertakan hashtag:
#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateriTiga
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Jawaban :
Menilik kembali jawaban saya di tugas 2, maka ranah produktif yang sedang saya jalankan beserta urutan dan kandang waktu hariannya adalah :
Menjalankan program Home Education untuk Mentari Pagi dan Langit (09.00-11.00 WIB)
Menjalankan program Cerita Kita (20.00-20.30 WIB)
Menjalankan program perencanaan dan evaluasi harian dengan rutin dan terstruktur (dini hari dan malam hari)
Menulis perjalanan proyek keluarga Kumbang Kelana (dini hari)
Menjalankan program buku Bunda Sayang (11.00-12.00)




Wednesday, 28 March 2018

Munculnya Inisiatif di Sesi Makan


Mentari Pagi berusia 4 tahun, Langit berusia 1 tahun 4 bulan. Mengamati aktivitas mereka, ummi menjadi sadar bahwa sejatinya fitrah belajar memang sudah Allah installkan pada setiap diri manusia. Justru larangan dari orangtua dan lingkungan yang tanpa sadar mencederai fitrah tersebut sehingga anak-anak tumbuh menjadi pemuda pemudi yang apatis dan kurang peka pada lingkungan. Pemuda pemudi ini pernah peka, pernah berinisiatif, namun lingkungan menekan dan menghambat fitrah tersebut. Aah…ini menjadi bahan kontemplasi ummi…

Hari ini kami belajar di sesi makan. Terinspirasi dari buku Totto Chan, pagi ini ummi menghadirkan sarapan dengan menu “makanan yang berasal dari laut dan pegunungan.” Ya, cah kangkung untuk makanan yang berasal dari pegunungan dan cumi-cumi untuk makanan yang berasal dari laut. Dan ini berhasil menggugah rasa penasaran Mentari Pagi dan membantu mereka makan dengan lahap. 

Kejadian apa saja yang ummi temui di sesi makan ini? 

  1. Mentari Pagi dan Langit akan mulai makan bersama. Mereka duduk di kursinya masing-masing menghadap piringnya masing-masing. Ummi izin ke dapur sebentar, kemudian Mentari Pagi berinisiatif menyuapi Langit
  2. Langit teramat suka dengan air. Kali ini dia merasa haus. Dia dekati tempat air, diambilnya gelas dan berkata, “eh..eh..eh…” artinya, dia meminta tolong untuk dibukakan kran air supaya air mengalir ke gelasnya. Setelah dirasa cukup, dia berjalan kembali ke tempat duduknya, kemudian meminum air tersebut.
  3. Jika hausnya telah hilang dan air di gelas masih ada, langit tak akan menyia-nyiakannya. Dengan senyum kecil dan melirik kiri kanan dia jungkirkan gelas ke bawah. Airnya tumpah? Tentu. Tikar jadi basah? Iya. Maka dia beranjak ke ruang tengah, mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap tikar. Kiri-kanan, maju-mundur, persis seperti apa yang dilihat dari sang kakak saat mengelap sesuatu.
  4. Saat makan, sesi duduk manis di kursi tentu bertahan hanya beberapa menit. Untuk Mentari Pagi, dia bisa tahan cukup lama, bisa sampai dia merasa kenyang. Untuk langit, di menit pertama duduk manis, di menit kedua dia mengeksplorasi alam sekitar, haha. Kali ini Langit naik ke meja makan. Mengambil mangkok yang ada sendoknya dan mencoba mengambilnya. Apa yang dia lakukan? Ternyata dia berupaya mengambil beberapa potong cumi dari mangkok, dan memindahkannya ke piring miliknya. Persis seperti yang ummi lakukan. Kemudian, dia gunakan sendok tersebut untuk menyuapkan cumi ke mulutnya. Berantakan? Iya. Namun Langit belajar banyak hal, bukan?

Apa yang ummi bisa amati, catat dan pelajari dari kejadian-kejadian diatas?

  • Naluri kakak beradik anak-anak Allah semaikan dengan indah. Inisiatif Mentari Pagi sebagai seorang kakak, muncul secara naluriah saat ummi tidak ada. Dia merasa adiknya butuh disuapi saat makan dan dia lakukan itu seperti yang biasa ummi lakukan pada adik. Ummi terkaget saat datang dari dapur dan mendengar Mentari Pagi berucap, “Aaa dulu dek…Nah, pinter... Lhooo..ada nasi yang jatuh, sebentar…sebentar…kakak ambil dulu.”. Muncul inisiatif disitu, muncul rasa tanggungjawab diri sebagai seorang kakak, muncul ketelatenan, yang semuanya dibalut oleh rasa kasih sayang. Alih-alih berkata, “Kakaaaaaak….itu makanannya jadi padha tumpah…tikarnya jadi kotor, baju adik juga kotor. Kenapa ngga nunggu ummi ajaaa? Ummi kan Cuma sebentar ke dapurnya. Jadi nga karu-karuan beginiiii…semuanya kotor.” Ummi lebih memilih untuk terharu, tersenyum bangga dan mengapresiasi inisiatif kakak. Menjadi saksi yang menyakinkan Mentari Pagi bahwa sang adik senang disuapi oleh kakaknya. Apresiasi akan membuat anak semakin percaya diri dalam mengambil keputusan dan berinisiatif atas sebuah kondisi. Di usianya saat ini, perkembangan emosi Mentari Pagi ada di fase Initiative vs Guilt. Di fase ini, anak menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orangtua, bahwa dia dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Maka, ummi mencoba memfasilitasi dengan memberi ruang dan kepercayaan serta apresiasi penuh setelahnya. Coba kita bayangkan jika yang terjadi adalah sebaliknya, mengoreksi dan menyalahkan. Apa yang terjadi? Timbul rasa bersalah pada dirinya dan memudarkan kepercayaan diri sang anak. Lambat laun, anak tersebut akan sulit untuk bergerak jika tidak didikte orang lain.
  • Kejadian Langit menumpahkan air dari gelas, bisa saja ummi respon dengan kekesalan. Ummi gendong Langit dan mengelap tikar yang basah sambil bersungut-sungut. Lebih cepat beres memang. Namun ummi akan kehilangan momen munculnya inisiatif Langit untuk memecahkan masalah dengan mengambil tisu dan mengelap tikar. Saat Langit bosan di kursi dan beranjak naik ke meja kemudian menyendok cumi dari mangkok ke piring, ummi bisa segera menggendongnya dan mengelap kuah yang tumpah di meja. Namun ummi kehilangan momen menyaksikan motorik kasar dan halus Langit terstimulasi saat merangkak dan menyendok juga semai fitrah belajar Langit saat memindahkan cumi dan menyuapkan ke mulut. Bukankah itu salah satu tanda yang menunjukkan kemandirian bahwa Langit siap makan sendiri? Usia 0-2 tahun adalah fase basic trust vs mistrust dalam tahapan perkembangan emosi anak. Dengan memberinya ruang kepercayaan, anak akan mendapat pengalaman yang menyenangkan sehingga tumbuh rasa percaya diri. Kotornya meja makan, basahnya tikar dan lantai, terasa sebanding dengan terpuaskannya rasa ingin tahu anak dan bertambahnya rasa percaya diri padanya.
  • Bagaimana dengan air yang sengaja Langit tumpahkan? Apa yang membuat Langit melakukannya? Untuk menjawab ini, ummi mencoba menarik ingatan ke belakang, memposisikan diri menjadi anak-anak. Ooh…bisa jadi Langit menumpahkan air karena sedang senang mengamati air yang mengalir. Disini ada faktor ketidaksengajaan dari anak. Namun kalau mengingat dia menumpahkan sembari melirik-lirik dan menyimpan senyum, nampaknya Langit melakukannya juga untuk mencari perhatian dan melihat respon ummi. Salah satu fitrah emosi balita adalah, suka mencari perhatian dan menyengaja. Langit bisa jadi paham resiko menumpahkan air adalah membuat tempat duduk dan pakaian menjadi basah, dan Langit ingin melihat bagaimana reaksi ummi atas kondisi tersebut. “Toh, tikar yang basah bisa kulap dengan tisu...namun dengan ini, tentu ummi akan memusatkan perhatiannya padaku. Hihihi…”
Kurang lebih demikian pengamatan dan pencatatan ummi hari ini. Memahami setiap aksi laku Mentari Pagi dan Langit, kemudian mengaitkannya dengan tahapan perkembangan emosi balita dan fitrah anak, membuat ummi bisa merilis emosi dengan lebih baik. Mengedepankan nalar dan logika dengan mendudukkan pemikiran ummi sejajar dengan pemikiran kalian, anak-anak.


#ChallengeHEbATKediriRaya
#day2
#ChallengePortofolioAnak


Tuesday, 27 March 2018

Belajar Bersama Alam dan Lingkungan




Hari ini adalah jadwal kami berkegiatan di luar rumah. Tak jauh-jauh, kami berkegiatan di sekitar rumah, tetap berada di dalam kompleks perumahan. Jalan-jalan pagi ini memang kegiatan yang sudah mereka nantikan, terutama bagi Mentari Pagi. Sedari bangun tidur, dia sudah menodong ummi untuk jalan-jalan pagi. Namun, ummi justru menjawab dengan memberi pertanyaan. “Kalau mau jalan-jalan pagi, syaratnya apa?” Mentari Pagi menjawab segera, “Mandi dan sarapan dulu.” Jawaban singkat itu diikuti langkah cepat menuju kamar mandi, bersegera menuntaskan standar pagi. Mandi sudah, sarapan pun sudah. Mentari Pagi dan Langit bermain di teras rumah sembari menunggu ummi. Fitrah fisik yang Allah anugerahkan membuat setiap anak menyukai aktivitas bergerak aktif berinteraksi dengan alam. Untuk itulah minimal tiga kali dalam seminggu ummi jadwalkan jalan-jalan pagi untuk mengasah semai fitrah dan mempelajari fenomena alam karunia Allah.

Sebelum jalan-jalan, ummi melakukan briefing singkat. Ini penting, supaya anak-anak memiliki bayangan akan perjalanan yang akan mereka lalui. Fitrah bernalar mereka pun semakin terasah. Ada beberapa tempat yang akan kami tuju, dan disepakati bahwa ummi dan Langit akan berjalan kaki sedangkan Mentari Pagi mengendarai sepeda. Dengan catatan, sepeda harus dikendarai dari awal perjalanan hingga pulang kembali. Destinasi pertama kami adalah tetangga di gang belakang. Selain menyampaikan titipan yangti, kami juga bertemu dengan dua anak balita yang sedang bersepeda. Mendengar kami bertiga bernyanyi dan bermain, mereka mendekat dan larut dalam permainan. Kami bermain permainan tradisional yang ummi dapatkan di seminar permainan tradisional dengan metode BERLIAN awal bulan lalu. 

Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menari-nari selalu riang gembira
Umpan yang lezat itulah yang dicari
Ini dianya yang terbelakang

Riuh tawa suara empat balita mendamaikan hati ummi. Permainan ini tentu dijalankan dengan amat sederhana, bahkan belum memenuhi aturan main yang berlaku. Titik tekannya ada di pengenalan permainan tradisional dan melekatkan bonding kebersamaan antar anak dan fasilitator, Semua nyaman, semua senang.

Usai bergerak, kami duduk melingkar. Ummi memberikan kesempatan pada masing-masing anak untuk bercerita. Ada yang hanya tersenyum, ada yang mengeluarkan sepatah kata, ada juga yang bercerita mengenai ummi yang sedang memasak sedangkan anaknya makan permen. Sesi ini menstimulasi fitrah bahasa dan keberanian untuk berbicara. 

Tak lama, kami bertiga pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa Mentari Pagi mengajak teman-temannya untuk bermain bersama setiap pagi di rumah yangti, bergabung di jam riset kami. Usai mengucap salam, roda sepeda terkayuh dan Langit berada dalam gendongan ummi. Tinggal satu tujuan sebelum kembali ke rumah, ke teknisi listrik. Saat tiba di rumah bapak teknisi, Mentari Pagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bapak teknisi. Dia belajar fitrah sosial dengan orang tua di momen itu. Dalam perjalanan pulang, langkah kami terhenti. Mentari Pagi menemukan tanaman yang menarik untuknya. Dia ambil beberapa dan dia sampaikan, “Ummi…ini nanti kalau direndam di air, bisa meletus.” Sesampainya di rumah, kami buktikan dan ternyata benar. Hanya saja ummi belum tahu apa nama tanaman itu. Fitrah belajar Mentari Pagi dan Langit pun terasah. 

Membersamai kalian, anak-anak…membuat ummi belajar banyak hal. Membuka mata fisik dan hati agar peka dan awas akan setiap tanda-tanda keunikan yang Allah sematkan pada kalian. Agar ummi tak abai dan terus mengasah fitrah keayahbundaan yang Allah sematkan. 

#ChallengeHEbATKediriRaya
#day1
#ChallengePortofolioAnak




Monday, 26 March 2018

Tidying Festival Books, Supaya Gemar Membaca Tanpa Kalap Membeli Buku


Tidying Festival – Books
Buku-buku sebenarnya sudah banyak disortir sejak kepindahan ke rumah orangtua. Kemudian, demi persiapan menyusul suami pun, buku-buku sudah banyak disortir berdasar kebutuhannya.


Foto sebelum
Adalah buku-buku yang saya gunakan saat ini. Dengan kondisi yang berantakan 

Foto sesudah 
Adalah buku-buku yang digunakan saat ini yang sudah ditata berdasar kategori

Adapun buku-buku lain, tersimpan dalam kontainer yang sementara kami titipkan di rumah orangtua selama kami sekeluarga merantau kelak (sekarang sedang mempersiapkan keberangkatan). 

Saturday, 24 March 2018

Ruang Berkarya untuk Mengembangkan Bakat dan Peran Dominan yang Allah Karuniakan Padaku

Setelah menelusuri bakat dan potensi peran yang kita miliki, pernahkah muncul dalam pikiran kita, 
“Lalu, langkah berikutnya bagaimana?”
Atau
“Ya, itu memang sesuai dengan diri saya. Kemudian, apa yang harus saya lakukan terhadapnya?”
Bisa jadi, kita sudah mulai mengenal dan memahami diri. Namun untuk dapat menebar kebermanfaatan, cukupkah itu? Perlu ada proses lanjutan, yaitu mengembangkannya. Maka, pertanyaan berikutnya, 

Bagaimana caranya?

Ruang Berkarya Ibu #2 kali ini memberitahu langkahnya. Kita diminta untuk memberikan ruang pada tujuh bakat dan enam peran dominan yang kita miliki. Berikut ruang karya yang akan saya jalankan untuk memfasilitasi bakat dan peran yang Allah berikan pada saya :

Discipline, Administrator =
Memberi ruang pada bakat discipline dengan cara melakukan perencanaan dan evaluasi harian secara tertulis di buku agenda harian, mengisi buku productive journal 2018 dan mutabaah yaumiyah setiap hari mulai tanggal 25 Maret 2018 sampai dengan 25 Juni 2018

Futuristic, Input, Relator, Maximizer, Ambasador, Administrator =
Memberi ruang dengan menjadi project leader buku Bunda Sayang versi 2.0 yang ditargetkan rampung akhir bulan April 2018

Competition, Significance, Educator =
Memberi ruang dengan membuat project Cerita Kita bersama anak-anak dan adik. Yaitu sesi presentasi mengenai aktivitas yang dilakukan di hari tersebut serta pelajaran yang bisa dibagi. Dengan durasi 10 menit per orang dan dilakukan setiap ba’da Maghrib.

Journalist, Discipline, Input =
Memberi ruang dengan mendokumentasikan project Griya Riset 2018 yaitu Kumbang Kelana dengan target satu minggu satu tulisan. 

Marketer, Seller, Educator  =
Menginisiasi dan mengajak teman-teman menjalankan program belajar di Ibu Profesional Jombang dan ITP Motherhood. Menularkan semangat berbagi dan melayani untuk semakin meningkatkan kebermanfaatan. 





Monday, 19 March 2018

Bergembira Bersama di Tidying Festival








Tidying Festival adalah momen berbenah habis-habisan, memilih barang-barang yang membuat spark joy kemudian menatanya secara KonMari, dan melepaskan barang-barang di luar itu. Entah dibuang, diberikan ke orang lain, didaur ulang secara fungsional maupun dijual kembali. 

Jujur, saya baru bisa mengalokasikan beberapa menit perhari untuk melakukannya. Itupun tak setiap hari bisa dilakukan. Berjauhan dengan suami dan mendampingi anak-anak yang masih berusia balita dan baduta tanpa adanya asisten rumah tangga, menjadi tantangan tersendiri. 

Namun, tidying festival tetap harus dilakukan dong ya. Tantangan kondisi biasanya memunculkan kreativitas nyata, hihi… Berbenah pakaian saya mulai dari milik anak-anak. Alasannya sederhana, karena lemari anak-anak sudah berupa laci-laci, maka saya sudah merasa spark joy dengan tempat penyimpanannya. Alih-alih menanti jam tidur mereka yang tak datang jua, saya memberanikan diri melakukan tidying festival dengan melibatkan mereka. Sesi mengumpulkan dan memilah pakaian berjalan dengan mulus bersama mereka. Saat mulai melipat pakaian satu demi satu, anak-anak terutama adik ternyata tertarik untuk mengambil pakaian yang sudah saya lipat dan tata di laci. Diambil dan diterbangkan ke segala penjuru arah. Hehehe…

Kejutan tak terduga saya dapatkan dari sulung. Kakak yang bermain bersama adik saat saya melipat-lipat pakaian, ingin terlibat dalam proses melipat tersebut. Lalu tak lama, taraaaa…kakak menunjukkan hasil lipatannya. Sebuah celana panjang yang terlipat dan berdiri ala KonMari. Kyaaaa…ternyata sulung memperhatikan cara saya melipat dan menirukannya dengan mudah. Maka, kami berdua pun asyik melipat ala KonMari. 

Bagaimana dengan pakaian-pakaian yang dihambur-hamburkan adik? Saya sediakan beberapa potong pakaian untuk dimainkan adik yang tidak saya lipat dahulu, juga satu wadah kardus untuk memfasilitasinya bermain. Dengan demikian, adik asyik dengan mainannya dan saya asyik dengan lipat melipat. 







Saturday, 17 March 2018

Memahami Bahasa Bakat dan Kekuatan Peran untuk Semakin Memahami Diri

Tugas kali ini amat menarik, memetakan diri dengan menilik deskripsi tema bakat dan potensi kekuatan peran. Tantangan banget ini. Mengapa? Karena dari tugas ini akan terlihat seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri. Dan tentunya, tugas ini akan mudah dikerjakan jika kita sudah memahami dengan baik definisi dari masing-masing tema bakat dan potensi kekuatan peran tersebut. Keberadaan buku Talents Mapping, Talents Dynamics  juga hasil dari pelatihan Talents Mapping Basic dan Talents Mapping Dynamics  amat membantu saya menginterpretasikan diri. Berikut hasil proses identifikasi yang sudah saya lakukan :

Tujuh bakat dominan diri dengan indikator 34 tema bakat
Discipline
Futuristic
Input
Relator
Competition
Maximizer
Significance

Sedangkan untuk 6 peran dominan dari ST30
Ambasador
Journalist
Marketer
Administrator
Seller
Educator

Saya terbiasa untuk melakukan perencanaan sebelum bertindak. Karena itulah, sejak kecil saya memiliki buku catatan mungil untuk menulis apa saja. Ide, agenda, rencana, pembelajaran bisa masuk semua ke dalamnya. Saya juga senang membayangkan masa depan. Berkaitan dengan bakat discipline, saya memiliki gambaran mengenai rencana di masa yang akan datang. Perencanaan akan semakin mudah saat saya mengumpulkan banyak informasi dan memang itu pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Sempat ada masa saya merasa segala informasi itu penting dan menarik. Lalu kemudian saya merasa banjir informasi. Maka saya mengambil satu sub bidang spesialisasi yaitu pendidikan anak usia dini dan keluarga. Dan kemudian fokus di dalamnya. 

Bergabung di komunitas Ibu Profesional sejak tahun 2013 hingga sekarang karena saya merasa cocok berkarya di dalamnya dan senang berinteraksi dengan orang lain. Bertemu dengan orang lain menjadi motivasi tersendiri bagi diri saya. Itu yang membuat saya tergerak untuk menginisiasi Ibu Profesional Jombang dan mengadaptasi pembelajaran-pembelajaran yang saya dapatkan di Ibu Profesional Bandung. Menjadi bagian kepengurusan dengan mengambil peran sebagai sekretaris di Ibu Profesional Bandung membuat saya belajar banyak hal. Bagi saya, dikelilingi orang-orang inspiratif dan kekuatan-kekuatan dari luar diri memunculkan energi untuk berkarya dan menebar manfaat. 

Kegemaran saya menulis mengenai pendidikan anak dan keluarga tersalurkan melalui blog di www.griyariset.com. Suami yang menyadari potensi bakat ini mendukung dan memfasilitasi dengan mengajak membeli domain blog supaya saya tergerak untuk menjalankan dengan serius. Beberapa orang pun menyapa dan mengenali saya dari blog tersebut. Sekian proses identifikasi yang saya lakukan terhadap diri saya. Besar kemungkinan proses ini akan terus berjalan dan terjadi dinamika dalam perjalanannya. Namun garis besar dan haluannya kurang lebih seperti apa yang sudah saya paparkan diatas. 

#Ruang BerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateri1
#KenaiPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Tuesday, 6 March 2018

Sejauh Mana Saya Mengenal Diri Saya?



Pertanyaan ini muncul dalam benak saya saat mendapat tugas menjawab pertanyaan sebelum mengikuti kuliah WhatsApp bersama Abah Rama di grup Ruang Berkarya Ibu.

Dua minggu lalu saya baru saja berbincang panjang dengan Abah. Saya berkesempatan mengikuti Talents Dynamics di Surabaya untuk lebih mendalami Talents Mapping dan memanfaatkannya untuk mengembangkan kapasitas diri, keluarga dan umat.

Saat training lalu, Abah memaparkan ada banyak definisi bakat. Dan berbeda-beda, bergantung dari sudut pandang mana.

Bagaimana Talents Mapping mendefinisikan bakat?


Bakat merupakan sifat yang produktif. Sifat yang jika diasah secara kontinyu, akan menghasilkan kebermanfaatan bagi umat dan alam. Bakat merupakan nature, sifat bawaan yang dikaruniakan Allah pada setiap hambaNya, secara spesifik. Setiap orang memiliki peta bakat masing-masing.

Maka, antara bakat dan kerja keras, tidak ada yang lebih penting. Keduanya sama pentingnya bagi setiap manusia. Dengan mengetahui peta bakat, kita dapat mengetahui diri kita. Know your self, then be your self. Setelah mengetahui peta bakat diri, kita perlu bekerja keras untuk mengoptimalkan kekuatan kita dan menyiasati kelemahan kita.

Talents Mapping merupakan tes bakat yang pertama saya ikuti dan pelajari cara pembacaannya. Bagi saya secara pribadi, ilmu titen diri jauh lebih penting dan akurat dibanding alat asesmen apapun. Karena ilmu titen menggunakan indera ciptaan Allah, sedangkan alat asesmen adalah hasil karya manusia. Maka, hasil tes bakat adalah sebuah peta bakat yang perlu kita konfirmasi ke diri. Jika sudah yakin dan dirasa sesuai, maka kita bisa menyusun strategi untuk mengoptimalkan kekuatan diri.

Yuk, kenali diri bersama Talents Mapping :)

Sunday, 4 March 2018

Berbenah ala KonMari : Persiapan Griya Riset Mengawali Tidying Festival



Berjumpa lagi di kelas KonMari Indonesia level Shokyuu. Di tugas ketiga ini, kami sebagai peserta diminta untuk menuliskan persiapan-persiapan apa saja yang kami lakukan untuk menyambut Tidyng Festival di rumah. 

Apakah itu Tidyng Festival ?


Tidying festival merupakan istilah yang Marie Kondo buat untuk membuat acara berbenah adalah acara spesial yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Berbenah secara totalitas hingga dapat mengubah cara berpikir dan hidup kita. Asyik, kan?

Alih-alih menganggap berbenah sebagai sebuah rutinitas yang menjemukan, Marie Kondo mengajak kita untuk mengubah midset  terlebih dahulu sebelum berbenah.  Dari sini, berbenah menjadi sebuah momen spesial yang perlu dipersiapkan dan disambut oleh seluruh anggota keluarga. 

Lalu, apa yang keluarga kami lakukan untuk mengawali Tidying Festival  ini?

Saya mulai dengan berpikir keras, hihihi
Saya bersama kedua anak saya yang masih balita dan balita, sedang tinggal di rumah orangtua saya. Saya juga sedang berjauhan dengan suami. Maka persiapan yang kami lakukan pun menyesuaikan kondisi kami saat ini. Yang bisa jadi beda dibanding keluarga lain yang tidak tinggal berjauhan, tinggal di rumah sendiri bersama keluarga inti saja, maupun keluarga dengan anak-anak yang sudah bukan balita.

Poin utama yang saya siapkan adalah, mengajak anak-anak terlibat langsung di proses berbenah ini sesuai kapasitas mereka. Maka, memberikan imaji positif mengenai proses berbenah pada mereka merupakan hal yang cukup krusial. 

Bagaimana caranya?


Kami mulai dengan cerita. Saya bercerita bahwa kami akan menata tempat tinggal impian. Lalu saya mencari gambar penataan yang menarik dari pinterest dan menunjukkan pada anak-anak. Satu demi satu kami amati. Kemudian kami ambil gambar-gambar yang kami sukai untuk kami kumpulkan sebagai inspirasi. 
Inspirasi Ruang Bermain Anak (Sumber : Pinterest)
Inspirasi Pojok Baca Anak (Sumber : Pinterest)


Inspirasi Kamar Tidur (Sumber : Pinterest)

Inspirasi Meja Berkarya Ummi (Sumber : Pinterest)

Kami juga membuat hiasan dinding bertuliskan tidying festival untuk mengingatkan kami dan menjaga semangat kami mewujudkan tempat tinggal dan penataan impian. Visualisasi beraneka warna akan membuat anak-anak menjalankan proyek ini dengan sukacita layaknya sebuah permainan.


Kemudian, saya menilik kembali timeline yang sudah saya buat. Rasa-rasanya perlu saya ubah dan sesuaikan dengan timeline yang ada di kelas Shokyuu. Maka persiapan yang juga saya lakukan adalah memperbaiki timeline agar lebih sinergi dengan perjalanan belajar di kelas. 

Berikutnya, karena bagian yang pertama kali akan disentuh adalah pakaian, yang mana pakaian akan lebih mudah ditata dengan posisi terlipat dan disusun tegak berdiri, maka saya menyiapkan beberapa kardus yang nantinya akan menjadi wadah pakaian yang sudah tertata. Kardus yang saya gunakan adalah kardus bekas wadah air mineral berbentuk cup yang kemudian saya lapisi dengan kertas kado dan dibersihkan dari debu hingga siap dipakai. 

Bismillah, kami siap berbenah dengan bahagia :)

#shokyuuclass
#task3
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass


Thursday, 1 March 2018

Teknologi, Selayaknya Mendekatkan dan Mencerdaskan


Di bulan Februari ini, kami tiba di materi pamungkas, penghujung kelas Bunda Sayang. Materi yang dipelajari bertajuk Keluarga Multimedia. Tak seperti biasanya, materi kali ini disampaikan via aplikasi WizIQ yang memungkinkan peserta mendengar suara dan menyimak presentasi pemateri.

Penerimaan materi yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran ini membuat materi lebih mudah dipahami. Peserta nampak antusias menjajal penggunaan aplikasi WizIQ dan Virtual Class, rela menghapus aplikasi lain untuk dapat mengunduh aplikasi ini, serta memindah dokumen-dokumen gambar supaya proses pembelajaran berlangsung optimal, tidak terkendala oleh keterbatasan memori. Secara naluriah, fitrah belajar manusia terpantik dan berupaya untuk menjalankan dengan seksama.

Tantangan apa yang sering kita hadapi dengan teknologi?

Ibarat dua sisi mata pisau, teknologi bisa mencerdaskan, dapat pula menjerumuskan.

Ya, teknologi menjerumuskan jika tak manusia gunakan dengan tepat dan bijak. Kata kuncinya ada di "kontrol". Kontrol diri yang baik akan membuat kita paham kebutuhan diri, bagaimana menggunakan gawai dengan bijak dan menjadikannya sebagai media pembelajaran, bukan sarana menghabiskan waktu.

Peran wanita sebagai seorang diri, istri dan ibu akan sangat terbantu dengan adanya teknologi. Kita bisa membuat catatan pekerjaan harian dengan aplikasi to do list, menjaga fokus diri dengan pomodoro timer, mencatat keuangan keluarga secara rutin dengan Andro Money, menemukan resep masakan di cookpad, mendokumentasikan portofolio anak di Filio, serta memanfaatkan aplikasi menarik nan bermanfaat lainnya. Aplikasi-aplikasi ini akan memudahkan kita menuntaskan amanah. Namun ada juga aplikasi yang membuat waktu kita banyak terbuang tanpa sadar, seperti media sosial ataupun game online.

Sejatinya, teknologi itu mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang dekat. Maka, keberadaan teknologi idealnya mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Untuk itu, perlu disepakati jam penggunaan gawai selama momen kebersamaan di rumah, juga aturan penggunaan gawai yang perlu ditaati bersama.

Monday, 26 February 2018

Strategi dalam Berbenah, Supaya Tak Menjadi Basa-Basi Tanpa Aksi



Setelah menerima materi pekan ketiga Shokyuu di kelas intensif KonMari, kami diberi tugas kedua berupa mendetilkan apa yang sudah kami tuliskan di tugas pertama. Poin pertama adalah mengenai upaya apa saja yang saya lakukan untuk konsisten dalam menjaga pola pikir. Hmm…saya tertunduk malu. Di hasil asesmen Talents Mapping saya, bakat consistency memiliki warna abu-abu. Namun ini tak bisa menjadi alasan bagi saya untuk tidak menjaga konsistensi. Yang harus saya lakukan adalah mengkolaborasikan bakat-bakat kuat saya supaya bisa konsisten menjaga pola pikir. 

Aha! Bakat discipline dan responsibility  saya tinggi, didukung dengan bakat focus dan futuristic yang cukup kuat. Kolaborasi keempat bakat ini bisa membantu saya dalam menjaga konsistensi, dengan penjabaran sebagai berikut :
  1. Saya perlu membuat perencanaan dengan detil, rapi dan terstruktur dengan bakat discipline  dan futuristic saya
  2. Saya perlu membuat tempelan-tempelan pengingat baik berupa tulisan maupun gambar di tempat yang sering saya lihat untuk mengingatkan dan menjaga focus saya terhadap target yang telah dicanangkan
  3. Target jangka panjang perlu saya bagi menjadi target jangka pendek, target-target besar perlu saya bagi menjadi target-target kecil dan mengapresiasi pencapaian setiap langkah dengan bakat responsibility saya

Visualisasi yang saya harapkan sudah saya jabarkan dengan cukup detil di tugas pertama. Tantangan dalam merealisasikannya adalah mengalokasikan waktu di sela-sela aktivitas yang ada. Di minggu pertama ini, saya belum berhasil membaca buku KonMari hingga tuntas karena ada jadwal training  Talents Mapping Dynamics selama 2 hari. Karena tempatnya di luar kota dan anak-anak tidak memungkinkan untuk dibawa, maka minggu lalu fokus saya adalah meminta restu dari suami, anak-anak dan orangtua untuk mengikuti training tersebut serta mempersiapkan support system sehingga tidak ada pihak yang kepentingannya dikorbankan karena kepentingan saya. 

Solusi yang harus saya lakukan adalah mengalokasikan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk berKonMari. Baik memahami konsepnya secara utuh dengan membaca buku maupun materi yang disampaikan di kelas Shokyuu, maupun berbenah secara KonMari. Ya, cukup 30 menit sehari asalkan istiqomah saya jalankan. Bismillah.

Gambar diambil dari sini

Terkait penyusunan timeline, saya baru menyusunnya saat mengerjakan tugas pertama. Saya rancang target setiap dua minggu sekali untuk mencegah saya meremehkan dan menundanya. Terkait Daily Task, yang sudah mulai saya lakukan adalah memberi tempat untuk setiap barang dan meletakkan barang sesuai tempatnya. Semoga Allah memudahkan langkah berikutnya hingga proses berbenah ini bisa saya lakukan hingga tuntas dan lulus kelas Shokyuu dengan optimal. 


#shokyuuclass
#task2
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass