Sunday, 20 May 2018

Saat Masjid dan Kumandang Adzan Menjadi Sebuah Hal yang Amat Dirindukan

Di kota dimana muslim menjadi minoritas, adzan dan masjid merupakan sebuah hal yang akan amat jarang kita temui.

Awal-awal kedatangan kami disini, kami cukup dibingungkan dengan jadwal sholat. Yang biasanya kami sudah hafal dengan jam sholat, ditambah dengan selalu terdengarnya kumandang adzan dari masjid yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah.

Saturday, 19 May 2018

Tuesday, 15 May 2018

Monday, 14 May 2018

Sunday, 13 May 2018

Dan Perjalanan Kami Dimulai...

Hari ini, adalah hari keberangkatan kami ke Austria. Progress project Kumbang Kelana hari ini adalah belajar selama perjalanan di pesawat dan bandara. InsyaAllah kami rangkum dalam satu tulisan. Sekarang, kami di thai airways, bersiap menuju Bangkok kemudian Vienna. Doakan kami :)

Wednesday, 2 May 2018

Big Picture Keluarga Griya Riset

Menelaah materi mengenai big picture keluarga rasanya seru-seru sedaaaap...

Materi kami diskusikan di ruang pesan WhatsApp grup keluarga karena kami sedang berjauhan. Membaca bareng, mengobrolkannya, mendiskusikan bersama kemudian garuk-garuk kepala, kebingungan bersama. Hahahaa...

Baiklah, kita coba jalankan saja. Siapa tahu kekompakan dalam kebingungan inilah yang akan memahamkan kami seiring proses ikhtiar dan waktu yang berjalan. Hihi

Kami mulai dengan kolom INPUT. Kami coba kupas karakteristik diri satu demi satu.
Abiya :
Seseorang yang memiliki daya analisa yang tinggi, belief, responsilibity, dan restorative. Menyukai proses riset, menganalisa dan mendidik. Mampu mengukur kapasitas diri sendiri maupun seseorang yang sudah dikenal dengan akurat. Tegas, adil dan mengayomi.

Ummicha :
Seseorang dengan kekuatan bakat futuristic, discipline, input, empathy, maximizer, significance dan relator. Suka mendengarkan orang lain, menyukai dunia anak-anak, mendokumentasikan perjalanan dalam bentuk tulisan dan berkisah.

Mentari Pagi :
Balita perempuan berusia 4 tahun yang senang jika diberi kepercayaan dan melakukan hal yang dilakukan orang dewasa. Memiliki empathy yang tinggi, senang tampil di depan orang lain serta menyukai angka dan bilangan.

Langit :
Bayi berusia 1.5 tahun yang jeli menirukan yang dikerjakan orang lain terutama kakaknya. Menyatakan keinginan dan pendapat dengan sikap yang lugas. Cepat beradaptasi dan murah senyum pada setiap orang.

Setelah menelusuri kolom input, selanjutnya adalah FAMILY SYSTEM.
Cukup njlimet untuk mencoba memahami apa yang dimaksud dengan sistem keluarga. Hasil mencari di mbah google, sebuah sistem idealnya terdiri dari :
1. Objek
2. Atribut
3. Hubungan internal
4. Lingkungan

Maka, berdasar perenungan kami, FAMILY SYSTEM yang berjalan di Griya Riset adalah :
Sistem berjalan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Artinya, setiap anggota keluarga memiliki peran dalam setiap program yang keluarga canangkan, tentunya sesuai kapasitas masing-masing.

Berikutnya, OUTPUT. Output yang kami harapkan lahir dari keluarga kami mencakup :
1. Karya produktif dan solutif
2. Program yang menginspirasi lingkungan
3. Langkah konkrit yang inside out
4. Membuat setiap anggota keluarga bahagia dunia akhirat

Lalu, FEEDBACK yang kami jalankan :
1. Family Productive Time setiap hari
2. Family Mastermind setiap minggu
3. Family Strategic Planning setiap tahun

Tuesday, 1 May 2018

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi.

Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini.

Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut.

Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu dan anak pun bertemu di setiap akhir pekan.

Sang nenek pun berkisah panjang. Mengenai alasan keputusan tersebut. Kekhawatiran sang nenek akan keselamatan dan keamanan sang cucu jika bayi tersebut dititipkan di tempat pengasuhan anak maupun dijaga oleh asisten rumah tangga. Maraknya berita kecelakaan dan hal kurang baik yang dialami anak-anak saat dijaga oleh asisten rumah tangga, membuat sang nenek tak tega jika cucunya harus dititipkan pada orang lain. Jadilah, tanggungjawab pengasuhan cucu beliau ambil dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi.

Saya tak ingin membahas alternatif-alternatif kondisi untuk bayi laki-laki tadi. Karena saya tak memiliki kuasa atas hal tersebut. Namun, saya merasa Allah menitipkan nilai dari obrolan singkat tadi. Yang kemudian, mau seberapa banyak saya mengambil pelajaran?

Seringkali, banyak orang yang tak memiliki pilihan lain. Dihadapkan pada sebuah peran yang menuntut konsekuensi yang tak ringan. Saat ditanya alasan, jawabannya tak lain adalah karena tak ada pilihan lain.

Saya teringat kalimat yang disampaikan oleh bu Septi, yang kurang lebihnya, memang menyenangkan jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun sebuah rahasia kehidupan adalah, bagaimana kita mencintai dan menjalankan dengan sepenuh hati, proses dan amanah yang sedang kita emban saat ini.

Obrolan singkat pagi ini dengan sang nenek, memompa rasa syukur saya. Yang mana saat ini saya berada dalam sebuah kondisi yang merupakan hasil dari pilihan saya sendiri. Semakin menguatkan tekad untuk mengoptimalkan daya upaya, menyempurnakan ikhtiar, untuk kemudian menyerahkan hasil pada Sang Pemberi Rezeki.

Sunday, 29 April 2018

Sunday, 22 April 2018

Saat Bakat Diri Teridentifikasi, Ilmu Apa yang Kubutuhkan dan Siapakah Maestronya?

Ilmu yang menunjang bakat diri :

Bakat discipline dan input : ilmu manajemen rumah tangga, manajemen diri, manajemen perubahan. Maestro : Marie Kondo, Irawati Istadi, Renald Kasali

Bakat emphaty : ilmu pendidikan anak dan keluarga, ilmu pendidikan anak usia dini, ilmu pendidikan anak dalam Islam. Mestro : Septi Peni Wulandani, Budi Ashary, Kiki Barkiah

Bakat significance dan maximizer : ilmu berkomunitas, public speaking. Maestro : ada masukan?

Thursday, 19 April 2018

Hanashimasyou : Bebenah ala KonMari, Our Family Project

Kamis, 19 April 2018 adalah jadwal saya mengisi sesi hanashimasyou di kelas intensif KonMari level Shokyuu – Jawa 1. Saya akan berbagi mengenai perjalanan saya dalam mengenal, memahami dan menerapkan KonMari bersama keluarga serta melakukan tidying festival yang masih terus berjalan.

Ohayou sensei, minna san…

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…

Perkenalkan, saya Mesa Dewi, domisili di Jombang – Jawa Timur. Ada yang pernah atau sedang berdomisili di Jombang?

Saat memutuskan untuk belajar KonMari dan mendaftar kelas intensif level Shokyuu, saya bertekad menjadikan proses bebenah ala KonMari ini menjadi sebuah family project. Ada dua alasan yang menjadi pijakan saya,

Alasan pertama, karena hidup kami yang sedang nomaden. Pertengahan tahun 2016 kami pindahan dari Bandung ke Jombang dan harus mengosongkan kontrakan. Proses pindahan membuka mata saya bahwa ada banyak barang yang tidak sempat kami pakai. Bahkan memilikinya saja pun kami lupa. Barang-barang seisi rumah pun ada yang kami buang, ada yang kami carikan pemilik berikutnya, ada juga yang kami bawa ke rumah orangtua. Untuk yang kami bawa ke rumah orangtua, kami usahakan yang sudah tersortir bahwa memang benar-benar penting. Berangkat dari proses pindahan tersebut dan rencana kami ke depan untuk tinggal di rantau selama beberapa tahun ke depan, membuat saya merasa perlu untuk membangun pola pikir yang ringkas serta dapat bebenah dengan benar.    

Alasan kedua, bebenah merupakan sebuah ketrampilan hidup. Saya bukanlah orang yang suka bebenah. Ibu saya lah yang suka bebenah dan menyimpan. Namun, justru dari situ saya merasa bahwa saya perlu memiliki cara agar proses bebenah rumah dapat saya lakukan dengan cepat dan ringkas. Banyaknya barang yang ada di rumah dan banyaknya tempat penyimpanannya membuat saya merasa waktu untuk bebenah mengambil porsi yang besar dalam keseharian. Dan saya tak ingin terjebak disitu. Saat ini tepatnya sejak 1.5 tahun lalu saya tinggal di rumah orangtua, bersama dua anak saya yang berusia 4 tahun dan 1.5 tahun. Sejak Juli 2017 suami melanjutkan studi ke Austria dan keluarga belum bisa langsung ikut karena adanya tantangan terkait proses administrasi. Dengan posisi berjauhan dengan suami, praktis urusan pengasuhan anak secara fisik saya lakukan sendiri. Di rumah orangtua juga tidak ada ART, maka praktis urusan domestikpun kami lakukan bersama-sama sekeluarga. Dengan kondisi demikian, saya merasa amat perlu untuk dapat bebenah dengan benar, demi menghemat waktu dan tenaga juga melegakan pikiran. 

Indikator sebuah proses layak menjadi family project adalah setiap anggota keluarga dapat menjalankannya dengan bahagia. Dan jika project tersebut tuntas dijalankan, akan meningkatkan level kebahagiaan kami. Bukan hanya salah satu anggota keluarga, tapi seluruhnya. Siap berbahagia dengan berKonMari? Ya!


Apa yang menjadi catatan kami selama proses KonMari dan tidying festival ?

Children see, children do

Tidak ada pilihan lain bagi saya selain melibatkan anak-anak dalam proses tidying festival.  Karena selama mata tak terpejam, mereka terus beraktivitas bersama saya. Maka, tidying festival pun kami lakukan bersama-sama. Kakak membantu saya mensortir pakaian-pakaiannya. Yang sudah kekecilan atau tak disukai dimasukkan ke kardus donasi. Dia turut memberi ide kepada siapa kira-kira pakaiannya cocok diberikan. Saat proses melipat baju, tak jarang lipatan-lipatan yang sudah berjajar rapi menjadi tak berbentuk kembali. Namun justru dari proses melipat tersebut, kakak menjadi ikut melipat ala KonMari.


Saat tidying festival buku, kami menemukan beberapa buku anak yang masih bersegel. Rencananya, buku-buku tersebut akan kami donasikan atau berikan pada teman-teman dari anak-anak. Awalnya, kakak merasa keberatan, kakak ingin membaca dan memiliki semua buku tersebut. Lalu kemudian, ada teman ummi yang datang ke rumah, memiliki putri seumuran kakak yang tak ikut serta. Sebagai oleh-oleh kami membawakannya sebuah buku. Sesampainya teman ummi di rumah, teman ummi cerita, kalau putrinya amat menyukai buku tersebut. Dari situ, kakak menjadi semakin bersemangat untuk berbagi dan melepaskan barang untuk orang lain.


Bisa jadi tidying festival kami memang berjalan lambat, namun kami bersyukur proses tersebut berbonus kebiasaan-kebiasaan baik yang berjalan alami. Dengan menata pakaian ala KonMari, kakak lebih mudah menemukan pakaian miliknya dan adik. Sehingga dengan senang hati menolong ummi mengambilkan pakaian adik saat dibutuhkan. Anak pun menangkap pola keteraturan yang mudah diadaptasi oleh mereka. Karena setiap barang sekarang sudah ada “rumahnya” maka anak-anak dengan mudah mengembalikan setiap hal ke tempatnya juga menjadi alarm otomatis saat melihat anggota keluarga yang lain tidak meletakkan barang pada tempatnya. 



Two in one Tidying Festival

Karena kami berencana menemani studi suami di tahun ini, maka packing pun menjadi agenda utama kami. Saat tidying festival, barang-barang yang sudah tersortir dan lulus sparks joy segera kami pilah. Mana yang kami simpan di rumah dan mana yang kami bawa merantau. Sekaligus membuat daftar kode penyimpanannya. KonMari amat memudahkan kami dalam bebenah. Terimakasih KonMari Indonesia :)

Saturday, 7 April 2018

Sunday, 1 April 2018

Saat Dokumen, Kertas dan Buku Catatan Harus Dirapikan ala KonMari



Apa saja kendala yang dialami saat berbenah kertas ala KonMari?

Kendala tidying festival kertas, buku tulis dan lainnya adalah, kesukaan saya untuk menulis dan mengumpulkan barang bukti. Maka, menumpuklah kertas-kertas hasil coretan, berpuluh buku agenda juga kertas bon pembayaran dan sejenisnya. 
Maka, saat berbenah kertas, saya membuka satu persatu dan ternyata cukup memakan waktu. Tapi lega setelahnya, alhamdulillah.


Sedangkan untuk dokumen-dokumen penting, sudah tersortir dengan cukup baik dan diletakkan pada document keeper.Sehingga saya cukup menatanya kembali dan membuat label di setiap document keeper.

#shokyuuclass
#task7
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass

Saturday, 31 March 2018

Membuat Kandang Waktu Harian untuk Aktivitas Produktif


PROJECT RUANG BERKARYA IBU #2
TUGAS MATERI 3
Setelah membuat 'ruang' untuk unik diri di Tugas Materi 2, tantangan selanjutnya adalah:
Urutkan 'ruang' tersebut berdasarkan prioritas dari dalam keluar, dari lingkar inti yaitu anak dan pasangan, berlanjut ke lingkar luar tetangga, komunitas, dan masyarakat.
Jika di Tugas Materi 2 yang dibuat adalah urusan ranah publik semua, maka sekarang di tugas 3 bisa dibenahi, mulai dari lingkaran inti berlanjut ke lingkaran luar.. 
Silahkan dibuat kandang waktu produktivitas diri sesuai 'ruang' yang sudah ditetapkan:
✳ Ranah Keluarga
✳ Ranah produktif
Laksanakan dan patuhi waktu yang telah dibuat
Tuliskan tugas dengan menyertakan hashtag:
#RuangBerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateriTiga
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Jawaban :
Menilik kembali jawaban saya di tugas 2, maka ranah produktif yang sedang saya jalankan beserta urutan dan kandang waktu hariannya adalah :
Menjalankan program Home Education untuk Mentari Pagi dan Langit (09.00-11.00 WIB)
Menjalankan program Cerita Kita (20.00-20.30 WIB)
Menjalankan program perencanaan dan evaluasi harian dengan rutin dan terstruktur (dini hari dan malam hari)
Menulis perjalanan proyek keluarga Kumbang Kelana (dini hari)
Menjalankan program buku Bunda Sayang (11.00-12.00)




Wednesday, 28 March 2018

Munculnya Inisiatif di Sesi Makan


Mentari Pagi berusia 4 tahun, Langit berusia 1 tahun 4 bulan. Mengamati aktivitas mereka, ummi menjadi sadar bahwa sejatinya fitrah belajar memang sudah Allah installkan pada setiap diri manusia. Justru larangan dari orangtua dan lingkungan yang tanpa sadar mencederai fitrah tersebut sehingga anak-anak tumbuh menjadi pemuda pemudi yang apatis dan kurang peka pada lingkungan. Pemuda pemudi ini pernah peka, pernah berinisiatif, namun lingkungan menekan dan menghambat fitrah tersebut. Aah…ini menjadi bahan kontemplasi ummi…

Hari ini kami belajar di sesi makan. Terinspirasi dari buku Totto Chan, pagi ini ummi menghadirkan sarapan dengan menu “makanan yang berasal dari laut dan pegunungan.” Ya, cah kangkung untuk makanan yang berasal dari pegunungan dan cumi-cumi untuk makanan yang berasal dari laut. Dan ini berhasil menggugah rasa penasaran Mentari Pagi dan membantu mereka makan dengan lahap. 

Kejadian apa saja yang ummi temui di sesi makan ini? 

  1. Mentari Pagi dan Langit akan mulai makan bersama. Mereka duduk di kursinya masing-masing menghadap piringnya masing-masing. Ummi izin ke dapur sebentar, kemudian Mentari Pagi berinisiatif menyuapi Langit
  2. Langit teramat suka dengan air. Kali ini dia merasa haus. Dia dekati tempat air, diambilnya gelas dan berkata, “eh..eh..eh…” artinya, dia meminta tolong untuk dibukakan kran air supaya air mengalir ke gelasnya. Setelah dirasa cukup, dia berjalan kembali ke tempat duduknya, kemudian meminum air tersebut.
  3. Jika hausnya telah hilang dan air di gelas masih ada, langit tak akan menyia-nyiakannya. Dengan senyum kecil dan melirik kiri kanan dia jungkirkan gelas ke bawah. Airnya tumpah? Tentu. Tikar jadi basah? Iya. Maka dia beranjak ke ruang tengah, mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap tikar. Kiri-kanan, maju-mundur, persis seperti apa yang dilihat dari sang kakak saat mengelap sesuatu.
  4. Saat makan, sesi duduk manis di kursi tentu bertahan hanya beberapa menit. Untuk Mentari Pagi, dia bisa tahan cukup lama, bisa sampai dia merasa kenyang. Untuk langit, di menit pertama duduk manis, di menit kedua dia mengeksplorasi alam sekitar, haha. Kali ini Langit naik ke meja makan. Mengambil mangkok yang ada sendoknya dan mencoba mengambilnya. Apa yang dia lakukan? Ternyata dia berupaya mengambil beberapa potong cumi dari mangkok, dan memindahkannya ke piring miliknya. Persis seperti yang ummi lakukan. Kemudian, dia gunakan sendok tersebut untuk menyuapkan cumi ke mulutnya. Berantakan? Iya. Namun Langit belajar banyak hal, bukan?

Apa yang ummi bisa amati, catat dan pelajari dari kejadian-kejadian diatas?

  • Naluri kakak beradik anak-anak Allah semaikan dengan indah. Inisiatif Mentari Pagi sebagai seorang kakak, muncul secara naluriah saat ummi tidak ada. Dia merasa adiknya butuh disuapi saat makan dan dia lakukan itu seperti yang biasa ummi lakukan pada adik. Ummi terkaget saat datang dari dapur dan mendengar Mentari Pagi berucap, “Aaa dulu dek…Nah, pinter... Lhooo..ada nasi yang jatuh, sebentar…sebentar…kakak ambil dulu.”. Muncul inisiatif disitu, muncul rasa tanggungjawab diri sebagai seorang kakak, muncul ketelatenan, yang semuanya dibalut oleh rasa kasih sayang. Alih-alih berkata, “Kakaaaaaak….itu makanannya jadi padha tumpah…tikarnya jadi kotor, baju adik juga kotor. Kenapa ngga nunggu ummi ajaaa? Ummi kan Cuma sebentar ke dapurnya. Jadi nga karu-karuan beginiiii…semuanya kotor.” Ummi lebih memilih untuk terharu, tersenyum bangga dan mengapresiasi inisiatif kakak. Menjadi saksi yang menyakinkan Mentari Pagi bahwa sang adik senang disuapi oleh kakaknya. Apresiasi akan membuat anak semakin percaya diri dalam mengambil keputusan dan berinisiatif atas sebuah kondisi. Di usianya saat ini, perkembangan emosi Mentari Pagi ada di fase Initiative vs Guilt. Di fase ini, anak menunjukkan sikap mulai lepas dari ikatan orangtua, bahwa dia dapat bergerak bebas dan berinteraksi dengan lingkungannya. Maka, ummi mencoba memfasilitasi dengan memberi ruang dan kepercayaan serta apresiasi penuh setelahnya. Coba kita bayangkan jika yang terjadi adalah sebaliknya, mengoreksi dan menyalahkan. Apa yang terjadi? Timbul rasa bersalah pada dirinya dan memudarkan kepercayaan diri sang anak. Lambat laun, anak tersebut akan sulit untuk bergerak jika tidak didikte orang lain.
  • Kejadian Langit menumpahkan air dari gelas, bisa saja ummi respon dengan kekesalan. Ummi gendong Langit dan mengelap tikar yang basah sambil bersungut-sungut. Lebih cepat beres memang. Namun ummi akan kehilangan momen munculnya inisiatif Langit untuk memecahkan masalah dengan mengambil tisu dan mengelap tikar. Saat Langit bosan di kursi dan beranjak naik ke meja kemudian menyendok cumi dari mangkok ke piring, ummi bisa segera menggendongnya dan mengelap kuah yang tumpah di meja. Namun ummi kehilangan momen menyaksikan motorik kasar dan halus Langit terstimulasi saat merangkak dan menyendok juga semai fitrah belajar Langit saat memindahkan cumi dan menyuapkan ke mulut. Bukankah itu salah satu tanda yang menunjukkan kemandirian bahwa Langit siap makan sendiri? Usia 0-2 tahun adalah fase basic trust vs mistrust dalam tahapan perkembangan emosi anak. Dengan memberinya ruang kepercayaan, anak akan mendapat pengalaman yang menyenangkan sehingga tumbuh rasa percaya diri. Kotornya meja makan, basahnya tikar dan lantai, terasa sebanding dengan terpuaskannya rasa ingin tahu anak dan bertambahnya rasa percaya diri padanya.
  • Bagaimana dengan air yang sengaja Langit tumpahkan? Apa yang membuat Langit melakukannya? Untuk menjawab ini, ummi mencoba menarik ingatan ke belakang, memposisikan diri menjadi anak-anak. Ooh…bisa jadi Langit menumpahkan air karena sedang senang mengamati air yang mengalir. Disini ada faktor ketidaksengajaan dari anak. Namun kalau mengingat dia menumpahkan sembari melirik-lirik dan menyimpan senyum, nampaknya Langit melakukannya juga untuk mencari perhatian dan melihat respon ummi. Salah satu fitrah emosi balita adalah, suka mencari perhatian dan menyengaja. Langit bisa jadi paham resiko menumpahkan air adalah membuat tempat duduk dan pakaian menjadi basah, dan Langit ingin melihat bagaimana reaksi ummi atas kondisi tersebut. “Toh, tikar yang basah bisa kulap dengan tisu...namun dengan ini, tentu ummi akan memusatkan perhatiannya padaku. Hihihi…”
Kurang lebih demikian pengamatan dan pencatatan ummi hari ini. Memahami setiap aksi laku Mentari Pagi dan Langit, kemudian mengaitkannya dengan tahapan perkembangan emosi balita dan fitrah anak, membuat ummi bisa merilis emosi dengan lebih baik. Mengedepankan nalar dan logika dengan mendudukkan pemikiran ummi sejajar dengan pemikiran kalian, anak-anak.


#ChallengeHEbATKediriRaya
#day2
#ChallengePortofolioAnak


Tuesday, 27 March 2018

Belajar Bersama Alam dan Lingkungan




Hari ini adalah jadwal kami berkegiatan di luar rumah. Tak jauh-jauh, kami berkegiatan di sekitar rumah, tetap berada di dalam kompleks perumahan. Jalan-jalan pagi ini memang kegiatan yang sudah mereka nantikan, terutama bagi Mentari Pagi. Sedari bangun tidur, dia sudah menodong ummi untuk jalan-jalan pagi. Namun, ummi justru menjawab dengan memberi pertanyaan. “Kalau mau jalan-jalan pagi, syaratnya apa?” Mentari Pagi menjawab segera, “Mandi dan sarapan dulu.” Jawaban singkat itu diikuti langkah cepat menuju kamar mandi, bersegera menuntaskan standar pagi. Mandi sudah, sarapan pun sudah. Mentari Pagi dan Langit bermain di teras rumah sembari menunggu ummi. Fitrah fisik yang Allah anugerahkan membuat setiap anak menyukai aktivitas bergerak aktif berinteraksi dengan alam. Untuk itulah minimal tiga kali dalam seminggu ummi jadwalkan jalan-jalan pagi untuk mengasah semai fitrah dan mempelajari fenomena alam karunia Allah.

Sebelum jalan-jalan, ummi melakukan briefing singkat. Ini penting, supaya anak-anak memiliki bayangan akan perjalanan yang akan mereka lalui. Fitrah bernalar mereka pun semakin terasah. Ada beberapa tempat yang akan kami tuju, dan disepakati bahwa ummi dan Langit akan berjalan kaki sedangkan Mentari Pagi mengendarai sepeda. Dengan catatan, sepeda harus dikendarai dari awal perjalanan hingga pulang kembali. Destinasi pertama kami adalah tetangga di gang belakang. Selain menyampaikan titipan yangti, kami juga bertemu dengan dua anak balita yang sedang bersepeda. Mendengar kami bertiga bernyanyi dan bermain, mereka mendekat dan larut dalam permainan. Kami bermain permainan tradisional yang ummi dapatkan di seminar permainan tradisional dengan metode BERLIAN awal bulan lalu. 

Ular naga panjangnya bukan kepalang
Menari-nari selalu riang gembira
Umpan yang lezat itulah yang dicari
Ini dianya yang terbelakang

Riuh tawa suara empat balita mendamaikan hati ummi. Permainan ini tentu dijalankan dengan amat sederhana, bahkan belum memenuhi aturan main yang berlaku. Titik tekannya ada di pengenalan permainan tradisional dan melekatkan bonding kebersamaan antar anak dan fasilitator, Semua nyaman, semua senang.

Usai bergerak, kami duduk melingkar. Ummi memberikan kesempatan pada masing-masing anak untuk bercerita. Ada yang hanya tersenyum, ada yang mengeluarkan sepatah kata, ada juga yang bercerita mengenai ummi yang sedang memasak sedangkan anaknya makan permen. Sesi ini menstimulasi fitrah bahasa dan keberanian untuk berbicara. 

Tak lama, kami bertiga pamit untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa Mentari Pagi mengajak teman-temannya untuk bermain bersama setiap pagi di rumah yangti, bergabung di jam riset kami. Usai mengucap salam, roda sepeda terkayuh dan Langit berada dalam gendongan ummi. Tinggal satu tujuan sebelum kembali ke rumah, ke teknisi listrik. Saat tiba di rumah bapak teknisi, Mentari Pagi menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan bapak teknisi. Dia belajar fitrah sosial dengan orang tua di momen itu. Dalam perjalanan pulang, langkah kami terhenti. Mentari Pagi menemukan tanaman yang menarik untuknya. Dia ambil beberapa dan dia sampaikan, “Ummi…ini nanti kalau direndam di air, bisa meletus.” Sesampainya di rumah, kami buktikan dan ternyata benar. Hanya saja ummi belum tahu apa nama tanaman itu. Fitrah belajar Mentari Pagi dan Langit pun terasah. 

Membersamai kalian, anak-anak…membuat ummi belajar banyak hal. Membuka mata fisik dan hati agar peka dan awas akan setiap tanda-tanda keunikan yang Allah sematkan pada kalian. Agar ummi tak abai dan terus mengasah fitrah keayahbundaan yang Allah sematkan. 

#ChallengeHEbATKediriRaya
#day1
#ChallengePortofolioAnak




Monday, 26 March 2018

Tidying Festival Books, Supaya Gemar Membaca Tanpa Kalap Membeli Buku


Tidying Festival – Books
Buku-buku sebenarnya sudah banyak disortir sejak kepindahan ke rumah orangtua. Kemudian, demi persiapan menyusul suami pun, buku-buku sudah banyak disortir berdasar kebutuhannya.


Foto sebelum
Adalah buku-buku yang saya gunakan saat ini. Dengan kondisi yang berantakan 

Foto sesudah 
Adalah buku-buku yang digunakan saat ini yang sudah ditata berdasar kategori

Adapun buku-buku lain, tersimpan dalam kontainer yang sementara kami titipkan di rumah orangtua selama kami sekeluarga merantau kelak (sekarang sedang mempersiapkan keberangkatan). 

Saturday, 24 March 2018

Ruang Berkarya untuk Mengembangkan Bakat dan Peran Dominan yang Allah Karuniakan Padaku

Setelah menelusuri bakat dan potensi peran yang kita miliki, pernahkah muncul dalam pikiran kita, 
“Lalu, langkah berikutnya bagaimana?”
Atau
“Ya, itu memang sesuai dengan diri saya. Kemudian, apa yang harus saya lakukan terhadapnya?”
Bisa jadi, kita sudah mulai mengenal dan memahami diri. Namun untuk dapat menebar kebermanfaatan, cukupkah itu? Perlu ada proses lanjutan, yaitu mengembangkannya. Maka, pertanyaan berikutnya, 

Bagaimana caranya?

Ruang Berkarya Ibu #2 kali ini memberitahu langkahnya. Kita diminta untuk memberikan ruang pada tujuh bakat dan enam peran dominan yang kita miliki. Berikut ruang karya yang akan saya jalankan untuk memfasilitasi bakat dan peran yang Allah berikan pada saya :

Discipline, Administrator =
Memberi ruang pada bakat discipline dengan cara melakukan perencanaan dan evaluasi harian secara tertulis di buku agenda harian, mengisi buku productive journal 2018 dan mutabaah yaumiyah setiap hari mulai tanggal 25 Maret 2018 sampai dengan 25 Juni 2018

Futuristic, Input, Relator, Maximizer, Ambasador, Administrator =
Memberi ruang dengan menjadi project leader buku Bunda Sayang versi 2.0 yang ditargetkan rampung akhir bulan April 2018

Competition, Significance, Educator =
Memberi ruang dengan membuat project Cerita Kita bersama anak-anak dan adik. Yaitu sesi presentasi mengenai aktivitas yang dilakukan di hari tersebut serta pelajaran yang bisa dibagi. Dengan durasi 10 menit per orang dan dilakukan setiap ba’da Maghrib.

Journalist, Discipline, Input =
Memberi ruang dengan mendokumentasikan project Griya Riset 2018 yaitu Kumbang Kelana dengan target satu minggu satu tulisan. 

Marketer, Seller, Educator  =
Menginisiasi dan mengajak teman-teman menjalankan program belajar di Ibu Profesional Jombang dan ITP Motherhood. Menularkan semangat berbagi dan melayani untuk semakin meningkatkan kebermanfaatan. 





Monday, 19 March 2018

Bergembira Bersama di Tidying Festival








Tidying Festival adalah momen berbenah habis-habisan, memilih barang-barang yang membuat spark joy kemudian menatanya secara KonMari, dan melepaskan barang-barang di luar itu. Entah dibuang, diberikan ke orang lain, didaur ulang secara fungsional maupun dijual kembali. 

Jujur, saya baru bisa mengalokasikan beberapa menit perhari untuk melakukannya. Itupun tak setiap hari bisa dilakukan. Berjauhan dengan suami dan mendampingi anak-anak yang masih berusia balita dan baduta tanpa adanya asisten rumah tangga, menjadi tantangan tersendiri. 

Namun, tidying festival tetap harus dilakukan dong ya. Tantangan kondisi biasanya memunculkan kreativitas nyata, hihi… Berbenah pakaian saya mulai dari milik anak-anak. Alasannya sederhana, karena lemari anak-anak sudah berupa laci-laci, maka saya sudah merasa spark joy dengan tempat penyimpanannya. Alih-alih menanti jam tidur mereka yang tak datang jua, saya memberanikan diri melakukan tidying festival dengan melibatkan mereka. Sesi mengumpulkan dan memilah pakaian berjalan dengan mulus bersama mereka. Saat mulai melipat pakaian satu demi satu, anak-anak terutama adik ternyata tertarik untuk mengambil pakaian yang sudah saya lipat dan tata di laci. Diambil dan diterbangkan ke segala penjuru arah. Hehehe…

Kejutan tak terduga saya dapatkan dari sulung. Kakak yang bermain bersama adik saat saya melipat-lipat pakaian, ingin terlibat dalam proses melipat tersebut. Lalu tak lama, taraaaa…kakak menunjukkan hasil lipatannya. Sebuah celana panjang yang terlipat dan berdiri ala KonMari. Kyaaaa…ternyata sulung memperhatikan cara saya melipat dan menirukannya dengan mudah. Maka, kami berdua pun asyik melipat ala KonMari. 

Bagaimana dengan pakaian-pakaian yang dihambur-hamburkan adik? Saya sediakan beberapa potong pakaian untuk dimainkan adik yang tidak saya lipat dahulu, juga satu wadah kardus untuk memfasilitasinya bermain. Dengan demikian, adik asyik dengan mainannya dan saya asyik dengan lipat melipat. 







Saturday, 17 March 2018

Memahami Bahasa Bakat dan Kekuatan Peran untuk Semakin Memahami Diri

Tugas kali ini amat menarik, memetakan diri dengan menilik deskripsi tema bakat dan potensi kekuatan peran. Tantangan banget ini. Mengapa? Karena dari tugas ini akan terlihat seberapa jauh kita mengenal diri kita sendiri. Dan tentunya, tugas ini akan mudah dikerjakan jika kita sudah memahami dengan baik definisi dari masing-masing tema bakat dan potensi kekuatan peran tersebut. Keberadaan buku Talents Mapping, Talents Dynamics  juga hasil dari pelatihan Talents Mapping Basic dan Talents Mapping Dynamics  amat membantu saya menginterpretasikan diri. Berikut hasil proses identifikasi yang sudah saya lakukan :

Tujuh bakat dominan diri dengan indikator 34 tema bakat
Discipline
Futuristic
Input
Relator
Competition
Maximizer
Significance

Sedangkan untuk 6 peran dominan dari ST30
Ambasador
Journalist
Marketer
Administrator
Seller
Educator

Saya terbiasa untuk melakukan perencanaan sebelum bertindak. Karena itulah, sejak kecil saya memiliki buku catatan mungil untuk menulis apa saja. Ide, agenda, rencana, pembelajaran bisa masuk semua ke dalamnya. Saya juga senang membayangkan masa depan. Berkaitan dengan bakat discipline, saya memiliki gambaran mengenai rencana di masa yang akan datang. Perencanaan akan semakin mudah saat saya mengumpulkan banyak informasi dan memang itu pekerjaan yang menyenangkan bagi saya. Sempat ada masa saya merasa segala informasi itu penting dan menarik. Lalu kemudian saya merasa banjir informasi. Maka saya mengambil satu sub bidang spesialisasi yaitu pendidikan anak usia dini dan keluarga. Dan kemudian fokus di dalamnya. 

Bergabung di komunitas Ibu Profesional sejak tahun 2013 hingga sekarang karena saya merasa cocok berkarya di dalamnya dan senang berinteraksi dengan orang lain. Bertemu dengan orang lain menjadi motivasi tersendiri bagi diri saya. Itu yang membuat saya tergerak untuk menginisiasi Ibu Profesional Jombang dan mengadaptasi pembelajaran-pembelajaran yang saya dapatkan di Ibu Profesional Bandung. Menjadi bagian kepengurusan dengan mengambil peran sebagai sekretaris di Ibu Profesional Bandung membuat saya belajar banyak hal. Bagi saya, dikelilingi orang-orang inspiratif dan kekuatan-kekuatan dari luar diri memunculkan energi untuk berkarya dan menebar manfaat. 

Kegemaran saya menulis mengenai pendidikan anak dan keluarga tersalurkan melalui blog di www.griyariset.com. Suami yang menyadari potensi bakat ini mendukung dan memfasilitasi dengan mengajak membeli domain blog supaya saya tergerak untuk menjalankan dengan serius. Beberapa orang pun menyapa dan mengenali saya dari blog tersebut. Sekian proses identifikasi yang saya lakukan terhadap diri saya. Besar kemungkinan proses ini akan terus berjalan dan terjadi dinamika dalam perjalanannya. Namun garis besar dan haluannya kurang lebih seperti apa yang sudah saya paparkan diatas. 

#Ruang BerkaryaIbu
#Proyek2
#TugasMateri1
#KenaiPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu

Tuesday, 6 March 2018

Sejauh Mana Saya Mengenal Diri Saya?



Pertanyaan ini muncul dalam benak saya saat mendapat tugas menjawab pertanyaan sebelum mengikuti kuliah WhatsApp bersama Abah Rama di grup Ruang Berkarya Ibu.

Dua minggu lalu saya baru saja berbincang panjang dengan Abah. Saya berkesempatan mengikuti Talents Dynamics di Surabaya untuk lebih mendalami Talents Mapping dan memanfaatkannya untuk mengembangkan kapasitas diri, keluarga dan umat.

Saat training lalu, Abah memaparkan ada banyak definisi bakat. Dan berbeda-beda, bergantung dari sudut pandang mana.

Bagaimana Talents Mapping mendefinisikan bakat?


Bakat merupakan sifat yang produktif. Sifat yang jika diasah secara kontinyu, akan menghasilkan kebermanfaatan bagi umat dan alam. Bakat merupakan nature, sifat bawaan yang dikaruniakan Allah pada setiap hambaNya, secara spesifik. Setiap orang memiliki peta bakat masing-masing.

Maka, antara bakat dan kerja keras, tidak ada yang lebih penting. Keduanya sama pentingnya bagi setiap manusia. Dengan mengetahui peta bakat, kita dapat mengetahui diri kita. Know your self, then be your self. Setelah mengetahui peta bakat diri, kita perlu bekerja keras untuk mengoptimalkan kekuatan kita dan menyiasati kelemahan kita.

Talents Mapping merupakan tes bakat yang pertama saya ikuti dan pelajari cara pembacaannya. Bagi saya secara pribadi, ilmu titen diri jauh lebih penting dan akurat dibanding alat asesmen apapun. Karena ilmu titen menggunakan indera ciptaan Allah, sedangkan alat asesmen adalah hasil karya manusia. Maka, hasil tes bakat adalah sebuah peta bakat yang perlu kita konfirmasi ke diri. Jika sudah yakin dan dirasa sesuai, maka kita bisa menyusun strategi untuk mengoptimalkan kekuatan diri.

Yuk, kenali diri bersama Talents Mapping :)

Sunday, 4 March 2018

Berbenah ala KonMari : Persiapan Griya Riset Mengawali Tidying Festival



Berjumpa lagi di kelas KonMari Indonesia level Shokyuu. Di tugas ketiga ini, kami sebagai peserta diminta untuk menuliskan persiapan-persiapan apa saja yang kami lakukan untuk menyambut Tidyng Festival di rumah. 

Apakah itu Tidyng Festival ?


Tidying festival merupakan istilah yang Marie Kondo buat untuk membuat acara berbenah adalah acara spesial yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Berbenah secara totalitas hingga dapat mengubah cara berpikir dan hidup kita. Asyik, kan?

Alih-alih menganggap berbenah sebagai sebuah rutinitas yang menjemukan, Marie Kondo mengajak kita untuk mengubah midset  terlebih dahulu sebelum berbenah.  Dari sini, berbenah menjadi sebuah momen spesial yang perlu dipersiapkan dan disambut oleh seluruh anggota keluarga. 

Lalu, apa yang keluarga kami lakukan untuk mengawali Tidying Festival  ini?

Saya mulai dengan berpikir keras, hihihi
Saya bersama kedua anak saya yang masih balita dan balita, sedang tinggal di rumah orangtua saya. Saya juga sedang berjauhan dengan suami. Maka persiapan yang kami lakukan pun menyesuaikan kondisi kami saat ini. Yang bisa jadi beda dibanding keluarga lain yang tidak tinggal berjauhan, tinggal di rumah sendiri bersama keluarga inti saja, maupun keluarga dengan anak-anak yang sudah bukan balita.

Poin utama yang saya siapkan adalah, mengajak anak-anak terlibat langsung di proses berbenah ini sesuai kapasitas mereka. Maka, memberikan imaji positif mengenai proses berbenah pada mereka merupakan hal yang cukup krusial. 

Bagaimana caranya?


Kami mulai dengan cerita. Saya bercerita bahwa kami akan menata tempat tinggal impian. Lalu saya mencari gambar penataan yang menarik dari pinterest dan menunjukkan pada anak-anak. Satu demi satu kami amati. Kemudian kami ambil gambar-gambar yang kami sukai untuk kami kumpulkan sebagai inspirasi. 
Inspirasi Ruang Bermain Anak (Sumber : Pinterest)
Inspirasi Pojok Baca Anak (Sumber : Pinterest)


Inspirasi Kamar Tidur (Sumber : Pinterest)

Inspirasi Meja Berkarya Ummi (Sumber : Pinterest)

Kami juga membuat hiasan dinding bertuliskan tidying festival untuk mengingatkan kami dan menjaga semangat kami mewujudkan tempat tinggal dan penataan impian. Visualisasi beraneka warna akan membuat anak-anak menjalankan proyek ini dengan sukacita layaknya sebuah permainan.


Kemudian, saya menilik kembali timeline yang sudah saya buat. Rasa-rasanya perlu saya ubah dan sesuaikan dengan timeline yang ada di kelas Shokyuu. Maka persiapan yang juga saya lakukan adalah memperbaiki timeline agar lebih sinergi dengan perjalanan belajar di kelas. 

Berikutnya, karena bagian yang pertama kali akan disentuh adalah pakaian, yang mana pakaian akan lebih mudah ditata dengan posisi terlipat dan disusun tegak berdiri, maka saya menyiapkan beberapa kardus yang nantinya akan menjadi wadah pakaian yang sudah tertata. Kardus yang saya gunakan adalah kardus bekas wadah air mineral berbentuk cup yang kemudian saya lapisi dengan kertas kado dan dibersihkan dari debu hingga siap dipakai. 

Bismillah, kami siap berbenah dengan bahagia :)

#shokyuuclass
#task3
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass


Thursday, 1 March 2018

Teknologi, Selayaknya Mendekatkan dan Mencerdaskan


Di bulan Februari ini, kami tiba di materi pamungkas, penghujung kelas Bunda Sayang. Materi yang dipelajari bertajuk Keluarga Multimedia. Tak seperti biasanya, materi kali ini disampaikan via aplikasi WizIQ yang memungkinkan peserta mendengar suara dan menyimak presentasi pemateri.

Penerimaan materi yang melibatkan indera penglihatan dan pendengaran ini membuat materi lebih mudah dipahami. Peserta nampak antusias menjajal penggunaan aplikasi WizIQ dan Virtual Class, rela menghapus aplikasi lain untuk dapat mengunduh aplikasi ini, serta memindah dokumen-dokumen gambar supaya proses pembelajaran berlangsung optimal, tidak terkendala oleh keterbatasan memori. Secara naluriah, fitrah belajar manusia terpantik dan berupaya untuk menjalankan dengan seksama.

Tantangan apa yang sering kita hadapi dengan teknologi?

Ibarat dua sisi mata pisau, teknologi bisa mencerdaskan, dapat pula menjerumuskan.

Ya, teknologi menjerumuskan jika tak manusia gunakan dengan tepat dan bijak. Kata kuncinya ada di "kontrol". Kontrol diri yang baik akan membuat kita paham kebutuhan diri, bagaimana menggunakan gawai dengan bijak dan menjadikannya sebagai media pembelajaran, bukan sarana menghabiskan waktu.

Peran wanita sebagai seorang diri, istri dan ibu akan sangat terbantu dengan adanya teknologi. Kita bisa membuat catatan pekerjaan harian dengan aplikasi to do list, menjaga fokus diri dengan pomodoro timer, mencatat keuangan keluarga secara rutin dengan Andro Money, menemukan resep masakan di cookpad, mendokumentasikan portofolio anak di Filio, serta memanfaatkan aplikasi menarik nan bermanfaat lainnya. Aplikasi-aplikasi ini akan memudahkan kita menuntaskan amanah. Namun ada juga aplikasi yang membuat waktu kita banyak terbuang tanpa sadar, seperti media sosial ataupun game online.

Sejatinya, teknologi itu mendekatkan yang jauh dan mengeratkan yang dekat. Maka, keberadaan teknologi idealnya mengeratkan hubungan antar anggota keluarga. Untuk itu, perlu disepakati jam penggunaan gawai selama momen kebersamaan di rumah, juga aturan penggunaan gawai yang perlu ditaati bersama.

Monday, 26 February 2018

Strategi dalam Berbenah, Supaya Tak Menjadi Basa-Basi Tanpa Aksi



Setelah menerima materi pekan ketiga Shokyuu di kelas intensif KonMari, kami diberi tugas kedua berupa mendetilkan apa yang sudah kami tuliskan di tugas pertama. Poin pertama adalah mengenai upaya apa saja yang saya lakukan untuk konsisten dalam menjaga pola pikir. Hmm…saya tertunduk malu. Di hasil asesmen Talents Mapping saya, bakat consistency memiliki warna abu-abu. Namun ini tak bisa menjadi alasan bagi saya untuk tidak menjaga konsistensi. Yang harus saya lakukan adalah mengkolaborasikan bakat-bakat kuat saya supaya bisa konsisten menjaga pola pikir. 

Aha! Bakat discipline dan responsibility  saya tinggi, didukung dengan bakat focus dan futuristic yang cukup kuat. Kolaborasi keempat bakat ini bisa membantu saya dalam menjaga konsistensi, dengan penjabaran sebagai berikut :
  1. Saya perlu membuat perencanaan dengan detil, rapi dan terstruktur dengan bakat discipline  dan futuristic saya
  2. Saya perlu membuat tempelan-tempelan pengingat baik berupa tulisan maupun gambar di tempat yang sering saya lihat untuk mengingatkan dan menjaga focus saya terhadap target yang telah dicanangkan
  3. Target jangka panjang perlu saya bagi menjadi target jangka pendek, target-target besar perlu saya bagi menjadi target-target kecil dan mengapresiasi pencapaian setiap langkah dengan bakat responsibility saya

Visualisasi yang saya harapkan sudah saya jabarkan dengan cukup detil di tugas pertama. Tantangan dalam merealisasikannya adalah mengalokasikan waktu di sela-sela aktivitas yang ada. Di minggu pertama ini, saya belum berhasil membaca buku KonMari hingga tuntas karena ada jadwal training  Talents Mapping Dynamics selama 2 hari. Karena tempatnya di luar kota dan anak-anak tidak memungkinkan untuk dibawa, maka minggu lalu fokus saya adalah meminta restu dari suami, anak-anak dan orangtua untuk mengikuti training tersebut serta mempersiapkan support system sehingga tidak ada pihak yang kepentingannya dikorbankan karena kepentingan saya. 

Solusi yang harus saya lakukan adalah mengalokasikan waktu minimal 30 menit setiap harinya untuk berKonMari. Baik memahami konsepnya secara utuh dengan membaca buku maupun materi yang disampaikan di kelas Shokyuu, maupun berbenah secara KonMari. Ya, cukup 30 menit sehari asalkan istiqomah saya jalankan. Bismillah.

Gambar diambil dari sini

Terkait penyusunan timeline, saya baru menyusunnya saat mengerjakan tugas pertama. Saya rancang target setiap dua minggu sekali untuk mencegah saya meremehkan dan menundanya. Terkait Daily Task, yang sudah mulai saya lakukan adalah memberi tempat untuk setiap barang dan meletakkan barang sesuai tempatnya. Semoga Allah memudahkan langkah berikutnya hingga proses berbenah ini bisa saya lakukan hingga tuntas dan lulus kelas Shokyuu dengan optimal. 


#shokyuuclass
#task2
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass




Friday, 23 February 2018

Memahami Modalitas Belajar dan Cara Otak Mengolah Informasi

Memahami gaya belajar anak itu penting, agar bisa dapat memfasilitasi dan menstimulasi dengan tepat. Namun setelahnya, kita tidak perlu melabeli anak dengan sebuah gaya belajar. Karena gaya belajar seseorang juga relatif.

Apa maksudnya?

Ya, awalnya saya menganggap bahwa gaya belajar adalah sebuah karakter paten yang dimiliki seseorang dan tidak berubah-ubah. Namun ternyata, gaya belajar berkaitan erat dengan modalitas belajar seseorang. Modalitas belajar auditori mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita. Modalitas visual mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik dan peta pikiran. Modalitas kinestetik mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi dan koordinasi.

Manusia dilengkapi indra yang berkaitan dengan ketiga modalitas diatas, artinya setiap manusia memiliki ketiga modalitas belajar dengan prosentase yang berbeda-beda. Modalitas belajar dengan prosentase terbesarlah yang paling mudah terlihat. Dengan mengetahui modalitas belajar dan gaya belajar anak-anak (learning styles), maka kita dapat menyesuaikan cara penyampaian kita dalam mendidik mereka sehingga proses belajar berlangsung secara efektif. Jika menyampaikan materi pada beberapa orang dengan gaya belajar yang berbeda-beda maka cara penyampaianpun harus mengena pada 3 modalitas belajar tersebut. Dominasi modalitas belajar bisa berubah seiring usia. Dibawah usia 7 tahun yang dominan bisa jadi kinestetik dan auditori, namun selanjutnya yang berkembang adalah visual. Untuk itu penting untuk selalu menyampaikan informasi secara seimbang dengan menggunakan visual (gambar atau tulisan), auditori (ceramah dan lisan) dan kinestetik (praktik, presentasi). Sehingga anak mendapatkan stimulasi bagi keseluruhan modalitas.

Setelah informasi terserap, bagaimana kita mengolahnya?

Untuk menentukan dominasi otak dan bagaimana informasi diolah, kita menggunakan model yang awalnya dikembangkan oleh Anthony Gregorc, profesor di bidang kurikulum dan pengajaran di Universitas Connecticur. Kajiannya menyimpulkan adanya dua kemungkinan dominasi otak :
 1. Persepsi konkret dan abstrak
2. Kemampuan pengaturan secara sekuensial (linear) dan acak (nonlinear)

Ini dapat dipadukan menjadi empat kombinasi kelompok perilaku yang kita sebut gaya berpikir manusia, yaitu :

Sekuensial Konkret: atur rencana kegiatan secara realistik, mengetahui semua detail yang diperlukan, pecah tugas menjadi beberapa tahap, atur lingkungan yang sesuai dan menghilangkan pengganggu konsentrasi.

Sekuensial Abstrak: berlatih mengubah masalah menjadi situasi teoritis, memperbanyak rujukan, mengupayakan keteraturan, menganalisis orang-orang yang berhubungan.

Acak Konkret: ciptakan ide-ide alternatif dengan memelihara sikap selalu bertanya, siapkan diri untuk memecahkan masalah, periksa waktu, terima kebutuhan untuk berubah, carilah dukungan dari orang lain.

Acak Abstrak: menggunakan kemampuan alamiah untuk bekerja dengan orang lain, emosi mempengaruhi konsentrasi, memanfaatkan asosiasi visual dan verbal, melihat gambaran besar, mencermati penggunaan waktu, menggunakan isyarat visual.

Sekuensial Konkret

Orang dengan tipe ini cenderung teratur dan rapi. Mereka selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terencana, dan tidak suka hal-hal yang bersifat mendadak. Mereka tidak senang mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk. Biasanya agak perfeksionis sehingga ingin segala sesuatu dikerjakan dengan sempurna dan terencana.

Mereka akan bahagia jika memiliki cara yang mudah dalam mewujudkan ide-ide dan semua berjalan sesuai rencana. Karakter kuat mereka adalah bekerja secara sistematis, langkah demi langkah, suka pada detil, bekerja dengan jadwal, dan berpikir logis.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah jika bekerja secara berkelompok, berada dalam lingkungan yang tidak teratur, tidak ada petunjuk yang kelas, dan dihadapkan dengan ide-ide abstrak.
Mereka perlu belajar mengenai organisasi, paham detil, membagi tugas dalam beberapa tahap dan tata lingkungan kerja dengan tenang.

Sekuensial Abstrak

Biasanya merupakan pemikir yang cerdas dan punya ide-ide yang brilian. Orang ini senang mengetahui dan berpikir tentang apa yang tidak dipikirkan orang lain. Senang membaca membuatnya senang untuk berdiskusi, bahkan berdebat dengan orang lain. Lebih menyukai belajar secara individu daripada berkelompok. Mereka sering disebut "konseptor ulung" dan jago menganalisa informasi.

Mereka akan bahagia jika bisa mengumpulkan banyak informasi sebelum membuat sebuah keputusan, menganalisa ide-ide, melakukan penelitian, menyediakan ide-ide logis yang berurutan, mencari bukti mengenai sebuah teori.Belajar lebih dengan mengamati daripada melakukannya, hal-hal yang logis, bekerja dengan tenang.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah jika dituntut untuk bekerja dalam hal sudut pandang yang berbeda, memiliki waktu yang terlalu sedikit dalam menyelesaikan suatu persoalan, mengulangi tugas yang sama berulang, banyak aturan-aturan yang spesifik dan peraturan-peraturan yang lainnya. Mereka juga sulit untuk mengekspresikan emosi dan memahami sebuah percakapan.

Mereka perlu berlatih logika, mengupayakan keteraturan dan menganalisa orang lain. Jika dirasa-rasa orang tipikal sekuensial abstrak terdekat adalah suami saya :)

Acak Abstrak

Segala sesuatu seringkali dihubungkan dengan perasaan dan emosi, sehingga mereka terkenal sangat sensitif. Semua bisa menjadi menyenangkan jika mood-nya sesuai, tapi menjadi buruk jika mereka sudah tidak lagi memiliki emosi positif terhadap sesuatu. Mudah kehilangan konsentrasi, banyak pertimbangan, dan suka mencoret-coret tanpa arti di buku adalah ciri tipe ini. Mereka juga sangat menjaga hubungan dengan orang lain, tidak senang jika mengalami konflik, dan dikenal "perhatian" di antara orang-orang sekitarnya. Selain itu, mereka juga sangat mudah terpancing emosinya. Istilah kerennya "mudah tersentuh". Ekspresi yang spontan itu mungkin karena kesulitan mereka mengungkapkan sesuatu secara verbal kepada orang lain.

Mereka senang mendengarkan orang lain, paham akan perasaan dan emosi, fokus pada tema dan ide, membawa harmoni, berhubungan dengan baik dan mengenali serta menghargai emosi orang lain. Mereka menyukai belajar sendirian, semangat dalam berpartisipasi, juga membuat keputusan berdasar perasaannya.

Yang menjadi tantangan bagi mereka adalah memberikan penjelasan, bekerjasama dengan orang yang diktator, bekerja di lingkungan yang membatasi, berkonsentrasi pada banyak hal sekaligus dan menerima kritik sekalipun positif.




Monday, 19 February 2018

Fitrah based Portofolio, Aplikasi Gawai yang Memudahkan Pencatatan Portofolio Anak

Aplikasi ini berbeda dari aplikasi lainnya. Jika aplikasi yang saya review sebelumnya bisa diunduh di Playstore, aplikasi ini bisa kita temui dan unduh di blog keluarga inisiatornya. Ya, berangkat dari kebutuhan keluarga, aplikasi ini hadir. Kebutuhan pendokumentasikan portofolio anak berbasis fitrah.


IndonesiaX, Belajar secara Mandiri dari Para Pengajar Berpengalaman

Pernah ikut kuliahnya Coursera ? Nah, kurang lebih IndonesiaX seperti itu, versi Indonesianya ya. Dengan membuka website dan registrasi di dalamnya, kita bisa memilih dan mengikuti perkuliahan online  yang diselenggarakan sesuai jadwalnya masing-masing. 

Apa asyiknya?

Bukannya ilmu sekarang udah bertebaran dimana-mana ya? Tinggal cari materinya, lalu baca, tuntas deh sekali buka. 

Iya, betul. Dan ini adalah pilihan masing-masing orang. Disesuaikan dengan tipikal dan gaya belajar setiap orang ya. Keunggulan perkuliahan di IndonesiaX adalah kita bisa belajar secara utuh, bertahap dan disampaikan langsung oleh ahlinya. Materi yang disampaikan bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya. Memahami sebuah materi secara utuh juga membantu kita lebih bijak dalam beropini, dan ini amat krusial bagi saya. 

Setiap minggu akan ada jadwal penerimaan materi dan kuis. Kuisnya ini cukup sulit loh. Bisa jadi kita merasa mudah di awal, karena soalnya berupa pilihan ganda. Namun saat membaca soalnya, berpotensi menjebak dan perlu pemahaman mendalam. Hehe...

Jika lulus dari perkuliahan IndonesiaX, sertifikatnya bisa dicetak dengan mengganti biaya cetak. Selamat bereksplorasi, para pembelajar mandiri! :)

Saat Balita Belajar melalui Youtube

Pagi tadi saat saya sedang melipat baju bersama kakak, kami membahas mengenai sekolah. Lalu obrolan berlanjut dengan cerita kakak mengenai dua anak yang sedang bersiap sekolah lalu diganggu oleh setan sehingga malas berangkat sekolah. Kemudian ibunya datang, mengingatkan mereka supaya berdoa. Setelah berdoa, setan pergi dan mereka pun berangkat sekolah dengan semangat. 

Saya menebak-nebak, darimana Mentari Pagi belajar hal baik ini. Karena sepanjang saya membersamainya, saya belum bertemu dengan cerita diatas. Ternyata cerita itu dia simak di Youtube. Segera saya mengajaknya untuk menyimak ulang. Channel yang dia temukan ini saya simpan dan memilih untuk berlangganan. Karena channel tersebut memuat pesan positif dan sarat edukasi. Penyajiannya pun sederhana dan konkrit sehingga mudah dipahami anak-anak. Dengan dua tokoh anak kecil berpakaian muslim. Belajar melalui video di Youtube ternyata menyenangkan selama sistem kontrol dijalankan dengan baik. 

Sunday, 18 February 2018

Benarkah dengan KonMari, Berbenah Cukup Sekali Saja? Melalui Kelas Intensif KonMari Indonesia, Saya Ingin Menjadi Bukti.


Mengikuti kelas intensif KonMari adalah salah satu ikhtiar menggapai impian saya dalam berbenah. Ya, berbenah adalah sebuah tantangan yang tak kunjung selesai bagi saya. Siapa yang tidak suka melihat ruangan tertata rapi nan apik? Saya yakin, mayoritas orang pasti menyukai dan mendambakannya. Hanya saja dengan level yang berbeda. Ada orang yang sangat menyukai kerapian, hingga jika tatanan berubah sedikit maka akan mempengaruhi emosinya. Ada orang yang menyukai kerapian, namun jika kondisi berantakanpun tak begitu berpengaruh padanya. Nah, saya tipikal orang yang kedua. Kondisi bersih, rapi dan tertata apik tentu saya idamkan. Namun jika belum bisa tercapai pun, tidak menjadi masalah bagi saya. 

Yang menjadi masalah bagi saya adalah saat saya membutuhkan sebuah benda, namun saya sulit mendapatkannya karena tidak tahu letaknya dimana. Akar permasalahan ini adalah saya tidak mengalokasikan tempat khusus untuk benda-benda tersebut. Kemudian, banyak benda yang menghuni rumah dengan alasan eman-eman. Eman, mungkin suatu saat akan terpakai. Eman, itu dulu dipakai saat momen penting (ada alasan historis yang mengikat). Nyatanya, benda-benda yang saya simpan tersebut tidak bisa saya gunakan saat “waktu penggunaan”nya tiba karena saya lupa lokasi penyimpanan benda-benda tersebut. Dua tantangan diatas melahirkan keinginan untuk berbenah secara tuntas. Akan sangat menyenangkan jika saya hanya dikelilingi dengan benda-benda yang saya inginkan dan butuhkan. Sangat menyenangkan dan semakin membahagiakan karena pada tahap ini artinya saya sudah bisa melepaskan banyak benda, merelakan benda-benda tersebut berpindah kepemilikan untuk lebih bermanfaat. Saya bisa fokus pada benda-benda yang saya butuhkan dan gunakan. Semua benda memiliki tempat dan berada di tempatnya masing-masing. Seiring dengan proses menata ruangan, pikiran saya akan terlatih untuk lebih fokus, sistematis dan terstruktur. Penempaan ini memang perlu dijalankan seorang muslim, terlebih seorang ibu yang pikirannya mudah bercabang. Seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an, 

Surat Al Insyirah ayat 7 
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Untuk memudahkan dalam proses, maka motivasi saya dalam berbenah saya turunkan ke dalam sebuah indikator dengan 3 poin berikut :
  1. Benda yang saya simpan adalah benda yang saya inginkan dan butuhkan di masa ini
  2. Semua benda memiliki tempat dan benda-benda tersebut berada di tempatnya
  3. Kebahagiaan meningkat seiring dengan peningkatan fokus, disiplin, rapi dan sistematis pada diri saya


Untuk lebih menguatkannya, maka saya perlu membuat visualisasi gaya hidup ideal versi saya. Karena saya sudah berkeluarga, maka saya mendiskusikan hal ini bersama suami . Kondisi keluarga kami saat ini adalah tinggal berjauhan. Saya tinggal di rumah orangtua sedangkan suami studi lanjut di luar negeri. Saya dan suami sama-sama suka hal-hal yang simpel. Artistik dan estetika tak menjadi fokus utama kami.  Setelah kami diskusikan, impian hunian keluarga kami adalah hunian yang bersih, nyaman, sederhana, fungsional dan hidup.
Bersih
Hunian yang bersih juga dihuni oleh orang-orang yang menjaga kebersihan fisik dan jiwanya. 
Nyaman
Hunian yang membuat nyaman penghuninya, yang mana para penghuninya juga saling menciptakan kondisi nyaman untuk penghuni lainnya. Adanya keterbukaan, kehangatan dan kompetensi mendengar yang tinggi.
Sederhana
Tak perlu besar dan mewah. Ketulusan seringkali bermula dari kesederhanaan.
Fungsional
Benda-benda tersimpan tanpa memakan tempat. Semua benda dapat berfungsi dengan baik dan bermanfaat. Perawatan cukup simpel dan tak memakan waktu.
Hidup dan Menghidupkan
Hunian bukan sekadar tempat, namun hunian yang selalu dirindukan oleh penghuninya. Hunian yang membuat penghuninya ingin segera pulang. Hunian yang hidup dengan program-program yang diinisiasi penghuninya. Hunian yang hidup dengan program-program yang mencerdaskan penghuninya dan orang-orang sekelilingnya. 

Untuk mencapainya dan mempraktikkannya di kelas intensif KonMari level Shokyuu ini, maka kami membuat target pencapaian untuk 2 bulan ke depan. Target pencapaian yang realistis untuk dicapai dalam jangka waktu 2 bulan ke depan adalah :
Berbenah dengan metode KonMari untuk barang-barang keluarga kecil kami yang ada di rumah orangtua. Memilah mana yang digunakan, disimpan, dipindahtangankan serta yang akan kami bawa jika berangkat menyusul suami. Kemudian menatanya di kamar, ruang main anak dan gudang. 
Sehingga output konkritnya adalah:
  • Saya memahami konsep berbenah metode KonMari secara utuh (dengan menuntaskan membaca buku dan menuliskan resumenya)
  • Saya memiliki kamar yang senantiasa bersih dan rapi, layak untuk menjadi tempat istirahat melepas penat setiap saat
  • Anak-anak memiliki ruang bermain dan belajar yang nyaman. Aneka buku dan mainan tersimpan rapi, mudah dicari dan ditata kembali. Anak-anak semakin ceria dan bersemangat dalam menjaga kerapian
  • Saya memiliki tempat bekerja sederhana. Saat ada waktu luang, saya bisa duduk mengetik dan menulis di buku serta mencetak bahan ajar anak dengan mudah. Laptop, printer, buku, alat tulis dan kipas angin saling berdekatan. Terbebas dari masuk angin atau pinggang pegal.
  • Saya memiliki daftar benda yang disimpan dan yang akan dibawa baik secara fisik maupun file excel. Jika saya mencari sebuah benda, saya dengan mudah mendapatkannya. 
Berikut jadwal berbenah yang saya alokasikan untuk durasi 2 bulan ke depan :

Dan berikut jadwal harian yang berkaitan dengan program berbenah yang sedang dijalankan :

Akhir kata, semoga Allah mudahkan proses ini, senantiasa luruskan niat dalam menjalani proses ini. Masukan dan kritik positif dari fasilitator, teman-teman kelas juga pembaca di kolom komentar akan sangat membantu proses berbenah saya. Terimakasih :)



#shokyuuclass
#task1
#konmariindonesia
#konmarimethod
#intensiveclass







Sunday, 11 February 2018

Lewat Aplikasi WhatsApp, Mentari Pagi Sampaikan Kerinduannya pada Abiya

WhatsApp tentu aplikasi berkirim pesan yang sudah akrab di gawai kita. Aplikasi ini memang sangat membantu dalam berkomunikasi. Fitur membuat dan mengundang orang lain dalam grup amat membantu kita untuk belajar dan berkoneksi. Tapi, bagaimana WhatsApp di tangan balita berusia 4 tahun?

Bukan tanpa alasan putri sulung saya, Mentari Pagi, menggunakan WhatsApp. Aplikasi ini dia gunakan untuk menghubungi abinya sejak abinya berangkat ke Austria. Perbedaan waktu Indonesia dan Austria adalah 6 jam. Jam online  saya dan suamipun berbeda, maka kami perlu mencari strategi untuk memudahkan komunikasi anak-anak dengan abinya. Bagaimana caranya melalui WhatsApp ?

  • Melakukan Video Call
Video Call menjadi agenda wajib harian kami. Biasanya kami lakukan di siang hari menjelang Dhuhur, dimana abinya disana baru saja beranjak dari tidur malamnya. 
  • Berkirim Voice Note
Seringkali Mentari Pagi ingin bercerita pada abinya. Membagi cerita tentang apa yang dia alami, bertutur mengenai apa yang dia rasakan. Tantangannya, abinya sering berada di jam kerja atau jam tidur malam. Sehingga Mentari Pagi kesulitan untuk berinteraksi langsung dengan abinya. Pernah suatu ketika, Mentari Pagi protes pada abinya. Dia sampaikan, "Abi kemana? kakak mau cerita ke abi tapi abi ngga ngangkat-ngangkat telfon?" Abinya merasa bersalah, dan untuk memfasilitasi keinginan putrinya, beliau menjawab, "Kakak....kakak boleh cerita kapan saja ke abi. Tapi kadang abi pas ngga bisa ngangkat. Mungkin abi tidur atau sedang kerja. Kalau kakak mau cerita, kakak kirim pesan suara aja ya. Nanti pas abi sudah buka WhatsApp,  abi dengarkan dan segera telfon kakak. Sama juga nanti kalau abi mau cerita ke kakak tapi kakak belum bisa ngangkat telfon, abi kirim pesan suara supaya nanti kakak bisa dengarkan. Sepakat?" Mentari Pagi menjawab dengan senyuman manis. 

Secara fitrah, anak memang pembelajar sejati. Maka dia cepat sekali bisa menggunakan gawai sekalipun sebelumnya jarang bersentuhan dengan gawai. Maka, tentu ada kesepakatan yang kami buat untuk hal ini, antara lain :
  • Kakak boleh buka gawai ummi dengan izin terlebih dahulu
  • Sebelum menggunakan gawai, kakak perlu menuntaskan standar pagi terlebih dahulu, yaitu mandi, sarapan dan belajar di jam riset
  • Sebelum menggunakan, kakak menyetel alarm dulu dengan waktu yang sudah disepakati bersama. Begitu alarm berbunyi, gawai kembali diletakkan ke tempatnya.
  • WhatsApp dibuka hanya untuk berkirim pesan dengan abinya

Saturday, 10 February 2018

ColorNote, Aplikasi Gawai berupa Media Catat Multifungsi

Aplikasi pencatat adalah aplikasi sederhana yang bisa dibilang wajib ada dalam gawai. Ada banyak aplikasi pencatat yang tersedia dan kita bisa memilih sesuai kebutuhan dan kondisi. Bagi saya, saya menyukai aplikasi pencatat ColorNote. Aplikasi ini cukup ringan, sehingga tidak menyedot ruang memori yang besar. Ada pilihan pencatat berupa narasi atau berupa ceklis. Pencatat berupa narasi bisa kita gunakan untuk mencatat hal-hal penting seperti tautan setoran, temuan unik saat membersamai anak-anak, pesan-pesan penting yang perlu kita simpan, ide yang muncul sekelebat dalam pikiran, maupun draft tulisan yang ingin kita buat. Sedangkan ceklis bisa kita gunakan untuk mencatat daftar belanja bahan makanan, daftar agenda harian kita atau daftar poin diskusi yang akan kita bahas bersama suami dalam family forum.
Catatan dalam aplikasi ColorNote dalam terintegrasi pada kalender sehingga memudahkan kita mengingat jadwal-jadwal penting. Catatan penting juga dapat kita kumpulkan dalam arsip supaya tersimpan lebih sistematis. Untuk catatan-catatan yang bersifat rahasia, kita bisa melengkapinya dengan password sehingga lebih terjaga keamanannya. Setiap catatan juga bisa dikategorikan berdasarkan warna tema. Aplikasi ini bisa diunduh di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.socialnmobile.dictapps.notepad.color.note

 #Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia



Friday, 9 February 2018

PhotoGrid, Aplikasi Gawai yang Membantu Gambar Bercerita

Semakin melesatnya kecanggihan gawai, semakin apiknya hasil jepretan gawai, semakin tingginya keinginan orang-orang untuk eksis, dibidik penyedia layanan aplikasi dengan menghadirkan aneka aplikasi editor foto. Bagi saya, aplikasi editor foto mayoritas digunakan untuk membuat portofolio anak-anak. Aktivitas yang dikerjakan anak-anak saya abadikan tahap demi tahap untuk kemudian dibuat kolasenya, diberi judul dan tanggal. Jika memungkinkan, saya lengkapi foto tersebut dengan narasi.

Untuk apa saya membuatnya?

Meski memang membutuhkan ketelatenan, portofolio ini kelak yang akan bercerita detil kala ketajaman ingatan saya mulai memudar. Ya, tak selamanya kita dapat mengingat kejadian demi kejadian yang kita alami terlebih secara detil. Saat melihat kolase foto demi kolase foto, kita dapat melihat perkembangan anak dari waktu ke waktu. Saat membaca cerita demi cerita kita dapat menangkap sebuah pola yang ditunjukkan anak secara berkesinambungan.

Maka, untuk keperluan diatas, saya memerlukan aplikasi editor foto dengan kriteria sebagai berikut :

  • Bisa membuat kolase yang memuat banyak foto
  • Setiap foto dalam kolase bisa dipotong, difilter dan diedit dengan mudah
  • Membubuhkan tulisan dengan berbagai model dan ukuran
Kemudahan-kemudahan ini banyak saya dapatkan saat menggunakan aplikasi PhotoGrid. Tentu kebutuhan setiap orang berbeda-beda ya. Bermula dari kebutuhan diri, kita dapat menentukan aplikasi mana yang paling sesuai dengan kita. 

Tertarik dengan PhotoGrid? Silahkan unduh disini https://play.google.com/store/apps/details?id=com.roidapp.photogrid


 #Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia


Wednesday, 7 February 2018

IPusNas, Membuat Membaca Semudah Membuka Obrolan di Media Sosial



Kehadiran buku cetak tentu tidak bisa tergantikan dengan kehadiraan buku elektronik. Saya pun menyepakati hal tersebut. Saya jauh lebih menyukai interaksi dengan buku daripada dengan gawai, sekalipun sama-sama membaca buku. Sinar yang terpancar di layar gawai membuat mata cepat lelah. Radiasi yang ditimbulkan oleh gawai juga membuat terasa kurang nyaman. 

Namun, pernahkah Ayah Bunda, saat bepergian keluar kota, menginap beberapa hari di rumah saudara, merasa mati gaya karena tak sempat membawa buku untuk anak-anak, sedangkan di tempat kita menginap tidak ada buku bacaan yang bisa kita bacakan untuk anak-anak kita?

Atau saat kita ingin membaca sebuah buku, namun belum ada alokasi dana untuk membeli buku tersebut dan perpustakaan di daerah kita masih memiliki varian buku yang terbatas?

Saya pernah berada di kondisi-kondisi diatas. Saat demikian, keberadaan IpusNas sungguh sangat membantu saya. IpusNas merupakan perpustakaan buku digital yang berupa aplikasi gawai. Aplikasi ini bisa kita unduh di Playstore. Jauh sebelum mengenal IpusNas, saya sempat menggunakan aplikasi Ijak. Hampir mirip, hanya saja Ijak adalah perpustakaan daring untuk wilayah DKI Jakarta meski tidak menutup kemungkinan juga diunduh oleh orang yang berdomilisi di luar Jakarta. Secara penampilan dan fasilitas keduanya tak menunjukkan perbedaan. 


Bagaimana cara menggunakan IpusNas?

Kita cukup mengunduh aplikasi, kemudian melakukan registrasi anggota. Setelah berhasil terdaftar, kita bisa mulai mencari buku-buku yang menarik untuk kita simpan dan baca. Masa berlaku peminjaman adalah 3 hari dan jumlah maksimal buku yang dipinjam adalah 3 buah. 

Bagaimana jika masa peminjaman telah habis?


Buku akan kembali dan hilang dari rak penyimpanan kita secara otomatis. Namun jika kita ingin meminjam lagi, kita bisa melihat riwayat peminjaman kita dan kembali meminjam. 
Beragam buku dengan berbagai genre siap dipinjam. Untuk ibu dengan bayi dan balita seperti saya, buku yang sering saya pinjam adalah buku cerita anak-anak untuk dibacakan bersama anak-anak dan buku-buku yang bisa saya baca secara cepat. Untuk buku yang tebal dan perlu fokus diri kurang saya prioritaskan untuk saya pinjam. Memang bagus, tapi saya belum punya cukup waktu untuk dapat membacanya hingga tuntas tanpa dibersamai anak-anak. Untuk jenis buku tersebut, saya memilih membaca buku cetak.

Namun, kehadiran IpusNas ini dapat menjadi alternatif bijak dalam penggunaan gawai. Jika sebelumnya, saat menunggu atau mengantri kita membuka gawai untuk membuka media sosial atau bermain game online, kini masa menunggu kita akan lebih berwarna dengan membaca buku digital yang kita pinjam melalui IpusNas. Bagi kutu buku, aplikasi ini tentu inovasi yang menggembirakan. Sekarang, menunggu tak usah takut jemu :)

Aplikasi IpusNas bisa diunduh disini https://play.google.com/store/apps/details?id=mam.reader.ipusnas

#Tantangan10Hari
#Level12
#KuliahBunsayIIP
#KeluargaMultimedia