Saturday, 29 July 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn

Tiga hari ini kami tidak melakukan aktivitas bermain khusus untuk mini project harian. Kakak dan adik belajar bersamaan dengan ummi mengerjakan tugas domestik. Kakak sangat gembira jika dilibatkan dalam aktivitas memasak. Untuk tugas domestik satu ini, ummi sengaja baru melakukannya saat adik terlelap tidur. Karena memasak identik dengan kompor, cipratan air atau minyak panas, benda-benda tajam yang mana cukup riskan jika dilakukan bersama adik yang masih berusia delapan bulan.



Barang apa saja yang ummi pegang saat memasak di dapur, kakak pun ingin memegangnya. Siang itu ummi memarut kelapa untuk mendapatkan santan kental sebagai campuran memasak bubur mutiara. Karena kelapa parut di tukang sayur habis, jadilah ummi membeli kelapa utuh dan memarutnya sendiri. Kebetulan nih, bisa jadi mini project keterampilan hidup kakak. Kakak mengamati apa yang ummi lakukan dengan seksama. Sengaja ummi menahan diri untuk tak lekas bicara. Menantikan suara kakak yang terlebih dulu terlontar. “Kakak boleh coba memarut, mi?” suara kecilnya bertanya. Kalau ummi menuruti keinginan pribadi ummi yang berharap pekerjaan dapur ini segera tuntas supaya bisa beralih ke tugas domestik berikutnya, maka ummi akan menjawab dengan gelengan kepala. Namun karena aktivitas ini adalah rangkaian proses belajar keluarga dan ummi berharap Allah pahamkan kakak dalam proses belajar sederhana ini, maka ummi berhenti memarut dan memberikan parutan kelapa tersebut ke kakak.

Peluang itu langsung kakak tangkap, hap! Dengan sigap dia mempraktikkan apa yang dilihatnya. Memegang parutan dan menggerakkannya ke atas dan ke bawah. “Koq susah ya mi?” tuturnya setelah beberapa saat. Ummi tersenyum meringis, “Mau ummi ajari?” Tawaran ummi disambut dengan anggukan antusias. Ummi arahkan tangan kakak ke parutan, tangan kiri memegang parutan dengan kokoh sedangkan jemari tangan kanan menggenggam kelapa melingkar. Mulailah kakak memarut. Srek…srek…srek…bunyi kelapa diparut perlahan. Kakak menyakinkan diri dan ummi bahwa dia bisa memarut dengan baik. Lalu, muncul pertanyaan, “Mi, koq kelapa yang sudah diparut ini keluarnya ke atas, ngga ke bawah kayak keju?” Ternyata kakak membandingkan parutan kelapa dengan parutan keju yang biasa dia gunakan. Ada kecerdasan logika yang terpantik. Ah, sebuah aktivitas sederhana memang akan kaya makna dan rasa jika kita hadir membersamai proses belajar mereka.

Fitrah bernalar bisa tersemai dalam diskusi atas pertanyaan kakak tadi. Kakak ternyata membandingkan bahwa kalau kelapa diparut, hasil parutannya keluar ke atas, sedangkan kalau keju diparut hasil parutannya keluar ke bawah, ke sisi sebaliknya. Kira-kira mengapa ya? Aha! Perhatikan lubang parutannya dan bandingkan. Ternyata, lubang parutan kelapa jauh lebih kecil dan rapat daripada lubang parutan keju. Ummi jadi penasaran, siapa orang yang berhasil menemukan parutan dengan prinsip kerja seperti ini. Sesi memarut kelapapun diselesaikan oleh ummi. Dan kakak belajar banyak hal dari proses tadi.

Di lain waktu, kakak meminta menu telur dadar. Dan menawarkan diri untuk mengambil telur dari kulkas lalu mengocoknya sendiri di mangkok. “Kakak bisa kan mi, kayak waktu itu?” Bela dia saat ummi menanyakan kesanggupannya. Kakak benar-benar membuktikannya, ummi tinggal membantu menambahkan garam sedikit dan menggorengkannya.

Sesi mengulek juga menjadi sesi favorit kakak di dapur. Baik mengulek sambal atau bumbu, kakak meminta untuk diberi kesempatan melakukannya. Aktivitas ini menguatkan otot-otot tangan kakak dan menstimulasi motorik halusnya. Termasuk bentuk latihan pre-writing skills ngga ya? Hehe

Apa kabar adik?

Adik belum ummi libatkan jika ummi memasak. Adik berpartisipasi di tugas domestik yang tergolong aman saja ya, contohnya menyapu. Waktunya ummi menyapu teras adalah saat yang dinantikan oleh adik. Karena adik akan ikut merangkak di teras dan bereksplorasi ke sepeda kakak atau sepeda om. Dia senang memutar-mutar roda sepeda kakak, menggerakkannya ke depan dan belakang. Mencari pegangan untuk berdiri dan meraba seluruh permukaan sepeda. Ya, indera perabanya masih mendominasi bersamaan dengan perkembangan motorik kasar dan motorik halusnya. Respon adik terhadap suara juga semakin tajam, jika ada suara irama dia dengan cepat akan menggerakkan badan secara teratur. Mungkin ini potensi kecerdasan musik bagi adik.



Anak-anak, belajarlah dimana saja, kapan saja dan dengan siapa saja. Karena sejatinya dunia dan seisinya adalah fasilitas yang Allah hadirkan untuk membersamai proses belajar kalian. Belajarlah sebagai bentuk ibadah seorang hamba Allah…

#kecerdasanmusik
#fitrahbernalar
#motorikkasar
#motorikhalus
#kecerdasanlogika



Wednesday, 26 July 2017

Matematika di Taman Bermain



Siang tadi kakak ikut ummi menjemput om di sekolah. Kebetulan sekolahnya bersebelahan dengan Taman Kanak-Kanak. Sembari menunggu om, kami ingin mengunjungi TK dan bermain disana. Ummi pun menemui ustadzah dan meminta izin, alhamdulillah diperbolehkan.  Ummi memasang alarm lima menit di HPnya dan kami siap bermain.

Mainan pertama yang kakak coba adalah perosotan. Dari permainan ini kami belajar garis. Tangga naiknya jika dihubungkan dari bawah ke atas membentuk garis miring, mengurangi kelelahan saat kita menaikinya. Garis lengkung kita temui di perosotannya, tempat kita berseluncur dari atas ke bawah. Bentuknya yang landai, mengurangi kecepatan luncur kita sehingga bisa sampai ke bawah dengan aman. Di bawah perosotan juga ada bak pasir berbentuk segi empat sebagai tempat mendarat kaki kita.

Setelah itu kakak mencoba permainan tangga titian berbentuk setengah lingkaran. Permainan ini menguji keberanian dan keseimbangan anak. Kakak mencoba dengan hati-hati. Saat hampir di tengah, akan sampai di titian yang paling tinggi, kakak ingin kembali ke awal. Tapi setelah ummi yakinkan kalau dia bisa sampai di titian akhir, dia bersedia melanjutkan. Kemudian ada anak-anak lain yang datang. Jadilah kakak justru ingin menjajal kembali.

Disitu kami juga menemui ayunan. Apa yang bisa membuat ayunan bergerak? Tak lain karena adanya ulir yang berbentuk lingkaran, yang mana lingkaran tidak memiliki sisi dan sudut. Ada satu bagian yang lebih besar dan satu bagian lebih kecil. Keduanya disatukan dan berpadu. Bayangkan jika ulirnya berbentuk segi empat, apa bisa bergerak?

Matematika logis ternyata menyenangkan. Bisa dipelajari dengan bermain.


Belajar di Majlis Ilmu


Sudah sebulan ummi libur dari aktivitas mengikuti kajian tafsir. Diawali dengan libur menjelang Idul Fitri kemudian berlanjut nomaden sehingga baru bisa aktif di minggu ini. Nah dalam sebulan tersebut tumbuh kembang adik berkembang pesat, terutama segi motorik kasarnya. Sepertinya dia banyak mendapat inspirasi dari gerak aktif kakaknya. Ingin segera bisa berdiri dan berjalan untuk bisa bermain bersama kakak.

Sore tadi ummi mengajak adik dan kakak untuk datang ke majlis ilmu. Sesampainya di forum, ummi mengambil duduk di bagian belakang. Selain karena memang datang terlambat, ummi sengaja duduk di belakang supaya kakak dan adik dapat bereksplorasi tanpa mengurangi konsentrasi peserta lain. Adik terkesima melihat putaran kipas angin di atas. Dia mengamati dengan seksama selama beberapa menit. Setelah itu adik merangkak menghampiri kakak yang sedang membuka perbekalan makannya. Adik ingin makan juga ternyata, :D

Melihat meja, adik merangkak menuju meja. Perlahan tangannya bertumpu pada meja kemudian berdiri tegak. Tak lama terdengar suara agak gaduh. Ternyata adik menepuk-nepuk meja dengan tangannya. Ummi meringis. Di satu sisi senang karena adik anteng dengan mainan penemuannya sendiri, di satu sisi sungkan karena membuat agak gaduh, khawatir konsentrasi peserta lain jadi terpecah. Maka jika sudah terlalu lama adik di posisi itu, ummi pindahkan posisinya supaya merangkak ke tempat lain.

Daaaan, memang benar…dia bergerak ke tempat lain. Menemui ibu-ibu yang lain. Sepertinya adik memiliki potensi supel pada setiap orang yang ditemuinya, ummi menebak potensi easy child pada diri adik. Karena ummi khawatir peserta lain justru memanggil adik dan kurang konsentrasi dengan materi, maka adik ummi gendong supaya berada di dekat ummi. Kakak dengan sigap mengajak adik bermain supaya adik tidak cepat bosan.

#portofolioAhsan8m
#motorikkasar
#easychild


Mencicipi Permainan di Taman Kanak-Kanak


Hari ini mini project kami adalah outing sekaligus bonding time ummi dan kakak. Kakak mendapat kesempatan bermain di Taman Kanak-Kanak. Berawal dari om yang berangkat ke sekolah diantar, tidak mengendarai sepeda seperti biasanya karena barang bawaan yang banyak. Maka siang harinya kami menawarkan diri pada yangti untuk menjemput om. Adik di rumah sebentar bersama yangti. 

Sesampainya di sekolah, om belum pulang. Ummi teringat percakapan dengan kakak, kurang lebih sebagai berikut :
Kakak : Ummi, kakak mau sekolah ya…
Ummi : Boleh, mau sekolah dimana kakak? Di sekolah yang banyak mainannya itu, yang waktu itu ummi ada acara disitu dan kakak main-main disitu bersama abi? (Ummi mengingat kakak punya kesan amat menyenangkan di sebuah TK yang pernah kami kunjungi)
Kakak : Bukan mi, kakak mau sekolah di sekolahnya om. Pakai baju hijau-hijau itu mi.
Ummi : Oh iya, boleh. (Dalam hati bingung, karena sekolah om adalah sekolah MI lalu sekarang lanjut ke SMPIT yang mana tidak ada permainan di halaman sekolahnya). Kakak pengen sekolah di sekolahnya om ya? Kenapa kak?
Kakak : Karena di sekolahnya om, ada masjidnya. Kakak mau belajar sholat, mi… Diajari sholat sama guru-gurunya mi…
Ummi : MasyaAllah…iya, boleh kak… (Hati ummi bergetar. Tak menyangka dengan jawaban kakak. Ummi berdoa, “Ya Allah, apakah ini semaian fitrah keimanan yang Engkau sematkan dalam hati seorang anak? Mampukan kami ya Rabb, untuk dapat merawatkan dengan optimal…”)Kakak kalau sekolah mau bawa apa aja?Ummi antar kakak ya?
Kakak : Ngga mi, kakak berangkat naik sepeda sendiri. Bawa bekal kue sama makan, terus bawa mukena juga.

Dari percakapan itulah ummi berencana suatu saat mengajak kakak ke tempat om bersekolah. Dan hari ini Allah mengijabahnya. Berkunjung ke sekolahnya om, dan mengajak kakak ke Taman Kanak-Kanak yang berada satu kompleks dengan sekolah om.

Saat masuk dan meminta izin ke ustadzahnya untuk bermain disana, kakak masih malu-malu. Tapi dia belajar adab pada guru dan adab meminta izin menggunakan barang yang bukan miliknya. Karena ummi adalah teman main kakak, maka ummi memposisikan diri sebagai teman main yang (berusaha) menyenangkan. Ummi berkenalan dengan anak-anak yang bermain disana, yang sedang bersepeda, duduk-duduk di ayunan dan lainnya. Ummi emmasang alarm, sebagai cut off time waktu belajar kami. Menumbuhkan sikap disiplin dan membangun komitmen diri yang tinggi.

Kakak mencoba perosotan. Kali ini perosotannya memang didesain untuk anak-anak usia dini, tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu curam. Bahannya pun plastik. Takut-takut kakak mencoba menaiki tangganya, bahkan sempat berupaya naik tidak dari tangga, tapi dari perosotannya. Tapi setelah mencoba, perlahan fitrahbelajarnya bergerak, rasa takutnya kalah oleh keinginan belajarnya, keluar dari zona nyaman. Kakak kembali mencoba, kali ini menaiki tangga tanpa rasa takut namun tetap hati-hati. Dan meluncur dengan sukses.

Permainan berikutnya yang dicoba kakak adalah tangga titian. Stimulasi motorik kasar untuk kakak. Tangga titian ini berbentuk setengah lingkaran, semakin meniti semakin menanjak. Ini permainan baru untuk kakak, belum pernah dicobanya. Kakak menaikinya perlahan, saat hampir sampai di tengah kakak ingin turun. Namun ummi berupaya meyakinkannya. Kakak berupaya meniti kembali, hingga kemudian ada anak kecil yang juga ikut meniti. Rupanya ini menjadi semangat kakak untuk menyelesaikan tantangan hingga akhir. Ini menjadi catatan bagi ummi, bisa jadi ada potensi bakat maximizer dalam diri kakak.

Kami lanjut bermain lagi, dia sudah mau menebar senyum pada teman seusianya. Kakak memang tipikal yang perlu pemanasan dulu, slow to warm child. Lalu, alarm pun berbunyi. Tanda permainan sudah harus kami akhiri. Kami berpamitan dengan teman-teman yang ada disana juga ke ustadzah sekaligus berterimakasih telah diberi kesempatan bermain disana.

Kami pun menemui om dengan wajah riang gembira. Sembari menggandeng tangan ummi, kakak berucap, “Besok kakak main kesini lagi ya mi?” Cukuplah pertanyaan kakak ini menjadi gambaran bagi ummi bahwa kakak senang bermain di TK tersebut

#portofolioRaysa3y3m
#fitrahbelajar
#fitrahkeimanan
##maximizer






Sunday, 23 July 2017

Mengantarkan Abi ke Bandara

Akhirnya hari ini  tiba. Hari dimana kami sekeluarga terpaut jarak yang tak sedikit dan waktu yang berbeda. Hari keberangkatan abi untuk melanjutkan studi , sedangkan ummi, kakak dan adik menetap di rumah yangti untuk sementara waktu. Sedari jauh-jauh hari, kami menyiapkan diri untuk menyambut hari ini dengan ceria, mengantarkan abi dengan sukacita dan doa penuh semangat. Berjauhan memang suatu hal yang tak mudah, bukan juga kondisi yang ideal. Namun jika itu takdir terbaik kami saat ini, adakah pilihan lain selain menjalani sekemampuan kami?

Sejak jauh-jauh hari, kami sudah memberitahu kakak akan kondisi yang akan kami jalani ini. Kondisi berjauhan dengan abi selama 9 bulan belakangan, dengan pertemuan sekitar setiap 2 bulan sekali, dengan pautan jarak sekitar 300 km cukup menjadi pemanasan bagi kami. Dan sepanjang 9 bulan itu, ummi amati setiap abi kembali ke Bandung, kakak selalu bersedih dan enggan untuk berjauhan dengan abi. Maka, untuk perjalanan kali ini ummi dan abi membuat persiapan ekstra sehingga kakak bisa mengantarkan abi dengan ceria.

Berikut beberapa hal yang menjadi ikhtiar kami :

Pertama, sebulan belakangan abi di rumah. Selama itu pula kakak selalu bersama abi. Melakukan mini project bersama abi, dibacakan buku cerita oleh abi, makan bersama abi, 80% aktivitasnya sehari-hari dilakukannya bersama abi. Ini sebagai upaya memfasilitasi #fitrahseksualitasnya dan memenuhi kebutuhannya atas sosok abi. Membangun imaji positif, merekam jejak penuh makna bersama abi. Harapannya, saat abi berangkat, kakak tidak merasa abi meninggalkannya. Tapi justru terbangun pemahaman bahwa kami sedang berbagi tugas dalam sebuah proyek keluarga yang kami canangkan bersama.

Kedua, walau jarak jauh, hati tetap dekat. Ini jargon yang kakak buat bersama abi. Beberapa hari kemarin abi dan kakak ulang-ulang terus kalimat ini. Hingga terekam dalam pikiran kakak dan hafal di luar kepala. Abi juga menstimulasi #fitrahbernalar kakak, menjelaskan rencana-rencana keluarga dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami oleh kakak. Dan tadi, saat berpamitan, target kami terlampaui. Meski tak seceria biasanya, kakak mengantarkan abi tanpa tangis. Kakak juga beraktivitas seperti biasa.

Ikhtiar-ikhtiar lainpun akan berjalan seiring perjalanan yang dilalui. Senantiasa bertawakkal pada Allah.

Saat sampai di bandara tadi, hari masih pagi dan suasana masih sepi. Di pinggiran tempat parkir, yangti menggelar tikar besar dan kami pun sarapan disitu. Serasa piknik. Berulang kali terdengar dan terlihat pesawat yang lepas landas. Kakak berteriak kegirangan dan memunculkan beragam pertanyaan. #Fitrahalam terasah dengan mengamati lingkungan sekitar yang lain dari biasanya. Adik pun dengan riang bisa merangkak kesana kemari di atas tikar. Tak terbatas seperti jika dalam gendongan.

Matahari beranjak naik. Usai sarapan, kami bersiap mengantarkan abi ke lokasi check in. Kami berdoa bersama dan mengantar abi. Kakak melihat antrian penumpang yang panjang, barang-barang yang naik ke atas conveyor yang kemudian diwrap hingga tertutup rapat. Setelah abi masuk ke dalam, kami bermain sejenak di bandara. Melihat air mancur dan berkeliling. Juga sempat sejenak bertemu abi di dekat pintu keluar. Kakak tersenyum tanpa menangis. Ini sebuah indikator bagi kami, bahwa kakak memahami dengan baik transfer pemahaman dan pengertian yang kami upayakan selama ini. Bersiap melanjutkan ke tahapan belajar berikutnya.

#fitrahalam
#fitrahbernalar

#fitrahseksualitas

Friday, 21 July 2017

Membuat Jasuke dan Membagikannya

Mini project ini disponsori oleh tantangan 10 hari game level 6 kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional.

Pagi tadi ummi dan kakak membuat cemilan jasuke. Abi yang berbelanja bahan-bahannya di warung, kakak dan ummi yang memasaknya di dapur. Ada empat jagung yang abi beli, tiga akan disisir untuk jasuke, sisa satu yang disimpan di kulkas untuk stok bahan MPASI adik. Sependek ini, di usia 3 tahun 3 bulan, kakak paham satu ditambah satu menjadi dua. Selanjutnya kakak masih bingung, hihi

Ummi yang mencuci jagung, menyisir dan mengukusnya. Kakak bertugas memarut keju dan meratakan mentega, keju dan susu kental manis di jasuke yang baru keluar dari panci pengukus. Setelah jasuke jadi, kakak membaginya ke beberapa mangkok. Rencananya kakak membaginya ke saudara yang tinggal di dekat rumah yangti. Sehingga jasuke dibagi ke tiga mangkok. Satu mangkok besar, 2 mangkok kecil. Kakak belajar konsep lebih besar dan lebih kecil saat memilih mangkok.

Pembelajaran hari ini, ternyata matematika sangat erat kaitannya di aktivitas sehari-hari. Dengan adanya tantangan kali ini, aktivitas yang ada menjadi makin bermakna.

#Tantangan10Hari
#Level6
#KuliahBunsayIip
#ILoveMath
#MathAroundUs

Wednesday, 19 July 2017

Stimulasi Motorik Adik


Sejak usia empat bulan, motorik kasar adik mencuri perhatian kami. Dimulai dari tengkurap, kemudian merangkak mundur, merangkak, berdiri dan melangkah sembari berpegangan, kesemuanya berlangsung berurutan dan lebih cepat dari standar yang kami bayangkan. Maka keseharian belajar kami pun tak lepas dari memberikan ruang untuk stimulasi motorik kasarnya.

Beberapa hari belakangan kami sekeluarga mempersiapkan keberangkatan abi yang akan melanjutkan studi. Koper dan barang-barang cukup memakan tempat di rumah yangti. Sudah sejak lama kakak diberi pengertian dan wacana terkait hal ini, sehingga kakak dengan cepat memahami kondisi. Dan kakak adik pun tak luput mengikuti proses packing barang bawaan. Kondisi barang dan koper yang tersebar, seperti wahana permainan baru untuk mereka terutama adik. Kakak ikut melipat baju, sedangkan adik banyak menemukan mainan baru.

Apa saja yang adik temui?

Roda koper yang ditidurkan, menjadi mainan yang menstimulasi #motorikhalus dan koordinasi mata dan tangannya. Kalau sudah duduk dan menggerakkan roda, dia bisa anteng selama beberapa menit. Dipanggil pun lambat merespon. Baginya, gerak putar roda menarik perhatiannya.

Naik di atas koper. Tinggi koper yang ditidurkan setara dengan bahunya, maka perlahan adik memanjat koper itu dan naik ke atasnya. Ketidaksengajaan kondisi ini juga melatih #motorikkasar dan #fitrahbernalarnya. Sebelum menaiki koper, adik menaikkan kaki kemudian menurunkannya, begitu terus beberapa kali. Sepertinya dia sedang mengukur kemampuan panjatnya dengan ketinggian koper. “Kira-kira aku bisa ngga ya naik ke koper ini?” Mungkin itu yang ada di pikirannya.

Tempat koper berdekatan dengan tangga ke atas, yang mana kakak seringkali turun naik tangga. Suatu ketika adik merangkak mendekati tangga yang mana kakak sudah naik ke beberapa tingkat anak tangga. Abi datang dan mendampingi adik. Perlahan tapi pasti, adik menaiki anak tangga hingga tiba-tiba sudah ada di anak tangga ketiga. Di anak tangga keempat, adik mencoba naik tapi belum berhasil. Rupanya anak tangga keempat memiliki ketinggian yang lebih tinggi dibanding anak tangga sebelumnya.

Kecepatan perkembangan motorik kasar adik juga tak bisa lepas dari peran kakak. Gerak kakak rupanya menginspirasi adik untuk segera bisa mencapai milestone-milestone motorik hingga bisa bermain kesana kemari bersama kakak. Seperti malam tadi, kakak mengajak adik berdiri di kasur dengan berpegangan tempat tidur. Adik yang biasanya berdiri dengan berpegangan pada benda yang mudah digapai seperti kursi dan meja mencoba mengikuti kakak, berpegangan dinding. Dan, berhasil! Mereka berdua tersenyum sumringah J

#motorikkasar
#motorikhalus
#fitrahbelajar


Saat Kakak Bereksplorasi di Dapur



Ummi : Kakak, mau sarapan dengan apa?
Kakak : Telur mi…
Ummi : Telurnya diapain? Ceplok atau dadar?
Kakak : Ceplok itu yang gimana? Kalau dadar?
Ummi : Ceplok itu yang ada bagian putih dan kuning. Kalau dadar, kuning semua.
Kakak : Kakak mau yang dadar mi, yang kuning semua.
Ummi : Okeee… (sembari bergegas mengambil telur di kulkas, memecahnya dan mengocoknya di dapur)

Tiba-tiba,
Kakak : Lho miiiiii…. kakak aja yang ngocok telurnya (ekspresi kecewa)
Ummi : Ooo..ya udah, ini baru sekali kocok koq kak. Belum menyatu. Kakak lanjutin ya.
Kakak : Ngga mau, kakak maunya dari awal (dengan nada keukeuh)
Ummi : Hmm…terus ini buat siapa kak? Lanjutin yang ini aja ya kak?
Kakak : Ngga mi, kakak maunya yang baru. Kakak bisa koq. Kakak ambil telur sendiri ya mi. (Bergegas menuju kulkas, mengambil telur dan memperlihatkan pada ummi di dapur)
Ummi : Oke, kalau begitu ummi lanjutkan yang ummi kocok tadi ya. Biar buat abi aja telur yang ini.

Kakak mengangguk. Kemudian dia meminta mangkok untuk wadah telur yang dibuka dan akan dikocoknya. Haaa….sepertinya hampir saja ummi menciderai #fitrahbelajar dan kemandirian kakak. Dalam fase #kemandirian anak, usia tiga hingga lima tahun adalah saat dimana dia ingin melakukan aktivitas-aktivitas yang biasa dilakukan orang dewasa. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa melakukannya. Maka, tugas ummi semestinya adalah memfasilitasi hal tersebut hingga fitrah anak tersemai dengan baik.

Pagi ini dia berhasil membuktikan bahwa dia bisa memecah telur sendiri, menaruhnya di wadah dan mengocoknya dengan rata. Ummi memberi jempol atas pencapaian kakak. Dan ada sorot bahagia yang tampak dari mata kakak atas kepercayaan dan apresiasi yang ummi berikan. Ini membuat mood kakak terjaga baik dan fitrah belajarnya terus bergerak. Usai mengocok telur, sembari menunggu telurnya matang kakak berinisiatif membantu ummi mencuci piring dan gelas. Kakak mengambil kursi pendek dan menaikinya supaya dapat mengambil dan mencuci piring gelas yang kotor. Gelas dan sendok dapat dicucinya sendiri. Tapi untuk piring, kakak belum kuat memegangnya dengan satu tangan sehingga ummi membantu memeganginya. Cucian piring kotor habis, telurpun matang. Kamipun sarapan bersama-sama.

Seringkali keengganan dalam mendampingi proses belajar anak menghinggapi diri ini. Karena ada waktu yang lebih panjang dalam menjalankan proses, ada kegiatan yang tertunda dan ada tumpukan pekerjaan domestik yang menanti untuk disapa. Tapi, bukankah hasil dari sebuah proses itu lebih indah daripada sesuatu yang instan? Bukankah membersamai lebih manis daripada menggegas?
Maka ummi, luaskan hatimu, perpanjang sumbu kesabaranmu. Karena sejatinya engkau sedang bertumbuh bersama mereka, investasi dunia akhiratmu, insyaAllah…

#fitrahbelajar
#kemandirian

#fitrahbernalar
#motorikhalus

Monday, 17 July 2017

Bermain di Posyandu dan Rumah Teman

Hari ini hari yang menyenangkan untuk ummi, kakak dan adik, karena mini project hari ini adalah berjalan-jalan. Setelah Shubuh tadi, ummi mendengar pengumuman bahwa hari ini ada posyandu bayi dan balita di balai RW.  Kami memulai hari dengan pergi ke posyandu. Posyandu yang dijadwalkan dibukan sejak jam 09.00 baru bisa kami datangi pukul 10.15. Kondisi sudah sepi, hanya ada 2 ibu yang memeriksakan balitanya namun ibu-ibu kader posyandu menyambut dengan hangat dan riang.

Dalam perjalanan berangkat tadi, kami membuat kesepakatan mengenai cara timbang kakak. Kakak meminta untuk ditimbang di timbangan injak saja, bukan timbangan gantung seperti balita lainnya. Kelemahan timbangan injak adalah angka berat badan yang ditunjukkan kurang presisi, tidak seperti timbangan gantung. Ummi mencoba menjelaskan pilihan dan konsekuensi pada kakak, dan kakak tetap teguh pada pendiriannya. Baiklah, ummi menyepakatinya. Sesi membuat kesepakatan ini penting untuk menyemai #fitrahbernalar anak, karena anak mulai dihadapkan pada pilihan-pilihan beserta konsekuensinya. Dengan bercerita, melakukan diskusi dan membuat kesepakatan di awal, anak juga menerima tindakan untuk dirinya (ditimbang dan diukur tingginya) dengan lebih rileks. Kondisi rileks ini membuat #fitrahbelajar anak atas sebuah proses menjadi bangkit dengan baik.

Sebelum ditimbang, kakak sempat dirayu untuk ditimbang gantung saja oleh ibu-ibu kader posyandu. Memang ada sebagian anak yang lebih menikmati ditimbang gantung, maka ibu-ibu kader menawarkan hal tersebut padanya. Spontan, kakak menatap ummi. Bagi ummi, pandangan kakak adalah permintaan bantuan. Supaya ummi membantu memberikan penjelasan bahwa kakak lebih nyaman ditimbang dengan timbangan injak. Ummi mencoba menjelaskan dan ibu-ibu kader pun dapat memahami dan menerima dengan sangat pengertian. Alhamdulillah.

Adik ditimbang di timbangan gantung dengan kain seperti gendongan. Disini #fitrahsosialitas adik tersemai. Dia tersenyum gembira saat berinteraksi dengan ibu-ibu kader yang jarang dijumpainya. Rupanya ibu-ibu kader sukses memberikan kenyaman hati pada adik, sehingga adik tak merasa asing meski jarang berjumpa. Ditimbang dan diukur panjang badannya membuat adik merasa kurang nyaman. Ummi mencoba menenangkan dengan terus bersamanya dan mengelus badannya. Saat berada dalam gendongan ummi lagi, adikpun kembali tenang.

Usai ditimbang dan diukur berat badannya, ummi berbincang sejenak dengan bu bidan. Kakak asyik bermain di pojok kids corner yang disediakan ibu-ibu kader posyandu. Sebuah karpet manis dilengkapi mainan masak-masakan membuat kakak anteng menunggu. Adik yang berada dalam gendongan ummi, tak betah terus-terusan berada dalam gendongan. Ummi meletakkan adik di lantai dan tak lama adik sudah merangkak menghampiri kakak dan turut bermain bersama. Merangkak, menjumput mainan, melempar dan memainkannya  merupakan stimulasi #motorikkasar dan #motorikhalus untuk adik.

Di kids corner, kakak bertemu dengan teman sebaya. Mereka saling berkenalan, pun ummi dengan ibu teman kakak tersebut. Meski baru bertemu, mereka langsung bermain akrab. Sependek pengamatan ummi, saat berkenalan dengan teman baru kakak lebih cepat beradaptasi dengan teman perempuan dibandingkan teman laki-laki. Mungkin karena jenis barang yang dimainkan adalah sama. Teman kakak namanya Syakira. Tak lama Syakira pulang terlebih dahulu sedangkan kami masih menunggu data kakak dan adik dimasukkan ke data posyandu dan bidan.  

Pulang dari posyandu, kakak minta untuk berjalan melewati rumah teman kakak. Dan ternyata baru menuju gang tersebut, teman-temannya sudah ada dan menjemputnya untuk bermain bersama. Ada kak Abi, dek Aza, mba Syakira dan mas Dila. Mereka cepat sekali akrab dan kompak bermain apa saja. Ada pasir di sebelah rumah kak Abi. Kakak ikut bermain pasir seperti teman-teman. Menuang dan mengambil pasir ke gelas dan magic com mainan. Adik bermain boneka yang disediakan kak Abi. Dia berlatih #sensori, memegang boneka untuk merasakan teksturnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Hari sudah semakin siang dan adik mulai mengantuk. Adik yang semula duduk, menjadi ingin digendong dan menunjukkan #ekspresi protes. Rupanya adik mulai bisa mengekspresikan perasaannya. Ummi meminta kakak untuk berpamitan dan pulang ke rumah. Kesepakatan dimulai dengan penawaran.

Ummi : Kakak, kakak mau main berapa menit lagi?
Kakak : Dua menit lagi, Mi. (Meskipun dua menit adalah waktu yang abstrak untuk kakak)
Ummi : Oke, ummi pasang alarm ya kak. Tapi ummi ngga bawa HP kak.
Kakak : Ngga apa-apa mi. Pakai suara aja.
Ummi : Okeee…..

Lima menit kemudian,
Ummi : Tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet… tetetet…alarm berbunyi kak, waktunya pulang
Kakak : Iya, sebentar ya Mi (sembari menuang pasir ke gelas, dengan alasan membereskan)      
Saat ummi menunggu kakak, adzan Dhuhur berkumandang. Kakak masih menuang pasir. Kebiasaan kakak, kakak hampir selalu sholat berjamaah di masjid. Seringkali kakak menangis kalau ketinggalan sholat berjamaah di masjid. Maka, ummi memulai dialog dengan kakak. Mengingatkan bahwa adzan adalah panggilan cinta Allah pada umatNya, bahwa kalau kakak tidak bersegera pulang untuk membersihkan badan, berganti baju dan memakai mukena maka konsekuensinya kakak tidak bisa sholat berjamaah di masjid. Ummi berupaya menyemai #fitrahkeimanan kakak. Dari situ, alhamdulillah kakak tergerak untuk berpamitan pada teman-temannya supaya bisa sholat Dhuhur berjamaah di masjid. Kakak pulang dengan riang gembira, ummi mengucap syukur atas karunia Allah. Alhamdulillah…Allahu Akbar…

#fitrahbernalar
#fitrahbelajar
#fitrahsosialitas
#fitrahkeimanan
#motorikkasar
#motorikhalus
#sensori
#ekspresi

Saturday, 15 July 2017

Menuju Keluarga Literasi, Aliran Rasa Materi #5 Bunda Sayang

Tantangan 10 hari, game level #5 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional berhasil kami lewati sebanyak 12 hari tantangan. Baru mencapai excellent, itu juga masih melompat-lompat. Belum bisa sampai ke outstanding performance, semoga tercapai di game level #6. Aamiin…

Pengerjaan tantangan kali ini berhasil kami awali dengan berdiskusi sebelum beraksi. Mengapa saya katakan berhasil? Karena perencanaan merupakan sebuah hal penting yang sedang kami biasakan dalam keluarga kecil kami. Kondisi berjauhan yang sedang kami jalani sebagai sebuah project, membuat kami semakin memanfaatkan teknologi sebagai media komunikasi. Berdiskusi mengenai tantangan game level #5 di grup Griya Riset Hometeam. Sengaja membuat grup khusus meskipun sebenarnya diskusi bisa kami lakukan di chat personal, supaya terbahas dengan fokus dan memudahkan penelusuran masa depan.

Diskusi dilanjutkan dengan membuat list dan mengumpulkan buku-buku bacaan pilihan kami masing-masing. Karena setiap anggota keluarga punya selera, maka kami membaca buku yang berbeda untuk kemudian nanti setelah selesai kami bagi review dari bacaan masing-masing. Kakak memilih buku yang kakak suka, kebanyakan bertema Ramadhan karena memang bertepatan dengan bulan Ramadhan. Adik menjadi penyimak setia kakak. Saya memilih buku Islam dan parenting sedangkan abi melanjutkan target jurnal yang harus selesai dibaca dalam beberapa hari ke depan.

Tantangan yang kami kerjakan berkaitan dengan materi literasi ini tak melulu soal membaca buku. Seperti tahapan membaca yang disampaikan dalam materi, bahwasanya tahapan membaca sejatinya ada 4, yaitu mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Maka kami memasukkan keempat tahapan tersebut dalam menjalankan tantangan. Kami mencoba mengenalkan beragam cara membaca yang menyenangkan untuk kakak. Mulai dari membaca melalui gambar dan mengaitkan satu gambar dengan yang lainnya, mempertemukan kakak dengan teman yang sama-sama menyukai aktivitas membaca buku serta mengerjakan buku aktivitas. Dari proses pengerjaan tantangan ini, sempat terlihat juga rekaman ingatan kakak yang cukup kuat mengenai gambar-gambar di dalam buku yang dia baca.

Proses membaca dan merimbunkan pohon literasi kami lakukan dengan porsi sedikit tapi sering. Dalam sehari mungkin tak banyak lembar buku yang bisa kami baca, tapi ummi usahakan untuk istiqomah membaca buku sesuai jadwal yang sudah kami buat. Kami juga sempat berdiskusi kembali dan mencoba merumuskan tahap literasi dalam keluarga. Menyerap informasi dari luar, dan menyesuaikannya dengan keunikan keluarga. Memperbanyak sesi membaca bersama, mendiskusikan hasil membaca dan saling mendengarkan. Menuju keluarga literasi, yang berpikir dan melakukan klarifikasi, sebelum mempercayai.

Aliran rasa materi #5 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

Mesa Dewi Puspita

Friday, 14 July 2017

Aktivitas Kakak dan Adik Menjelang Tidur



Bercengkerama bersama menjelang tidur adalah saat favorit bagi ummi. Sejak LDM dengan abiya, ummi meningkatkan keterampilan untuk dapat memfasilitasi dua kakak beradik yang mengantuk menjelang tidur. Adik yang masih berusia 7 bulan, selalu membutuhkan ASI untuk mengantarkannya terlelap. Sedangkan kakak saat mulai mengantuk tiba-tiba seluruh badannya gatal hingga minta digaruk dan yang boleh menggaruk hanya ummi, tidak orang lain. Awal kelahiran adik, proses ini cukup menantang bagi ummi. Namun Allah tidak mengirimkan tantangan tanpa solusinya bukan? Maka ummi yakinkan diri untuk bisa mengatasinya, meluaskan hati dan menenangkan pikiran. Jika hari ini belum bisa, mungkin esok hari berhasil. Terus mencoba dan berdoa.
Kemarin malam setelah kakak jamaah Isya’ di masjid, kami berkumpul di kamar. Melihat adik yang belum mengantuk, kakak mengajak cilukba dari balik pintu kamar, masih dengan mengenakan mukena. Bagaimana ekspresi adik? Dia senang sekali digoda kakaknya. Adik merangkak dengan cepat mendekati pinggir kasur, ingin menghampiri kakak. Dengan gerakan tersebut, kakak menstimulasi #motorikkasar dan #fitrahfisik adik, membuat adik bergerak mendekat. Semakin besar, kakak semakin menunjukkan rasa sayangnya pada adik. Kakak memahami bahwa adik senang diajak berinteraksi, dan kakak suka melakukannya. #Fitrahsosialitas pada saudara sekandung sedang dia pupuk.

Usai membuat adik tersenyum gembira, kakak pergi dari kamar. Dia melipat mukena dan sajadah, dan meletakkannya di tempatnya. Dengan bangga, dia menunjukkan hasilnya pada ummi. “Ummi…kakak sudah melipat sajadah dan mukena, dan mengembalikannya di tempatnya. Kakak tanggungjawab kan, Mi?”. Ummi bergegas melihat hasil kerja kakak dan menjawabnya, “Waaah… masyaAllah…rapi bangeeeet…kakak hebat! Anak yang bertanggungjawab itu disayang sama Allah loh. Ummi sama abi juga pasti sayang. Makasih ya kakak shalihah…” Kakak tersenyum mengangguk. Bagi anak kecil seperti dia, apresiasi adalah sebuah hal besar yang menunjukkan keberhasilannya dalam menjalankan sebuah pekerjaan. Tak harus berupa hadiah, cukup dengan perkataan positif yang jika diperdengarkan terus-menerus, akan terbawa di alam bawah sadarnya. Hingga terbentuklah kepercayaan diri, dia tumbuh menjadi pribadi yang penuh #empati serta tak segan mengapresiasi. Nilai dari aktivitas-aktivitas dalam keseharian inilah, yang akan tertanam kuat dalam imajinya sehingga membentuk sebuah karakter positif yang kuat.
Kakak kembali menyapa adik di dalam kamar. Kakak berdiri di samping kasur sedangkan adik berpegangan di dinding dan gorden jendela. Mereka berdua kembali terkekeh bersama. Haaa…kadang ummi tak paham apa yang mereka tertawakan bersama. Tapi melihat bahasa tubuh mereka, nampak pesan kedua pihak saling terkirim dan diterima dengan baik.

Tak perlu alat khusus untuk mendeteksi ikatan batin mereka. Cukup dengan mengamati polah tingkah mereka saat bersama. Seringkali ummi dibuat terkaget-kaget oleh kakak saat dia melakukan hal di luar pikiran ummi. Seperti saat bermain bersama adik dan ummi tinggal sebentar ke dapur, tiba-tiba saja kakak berteriak, “Ummiiii…adik sudah di pinggir niiih..mau jatuh.” Dan saat ummi datang, tangan kakak sudah memegangi badan adik yang sedang bergerak. Ah, kakak mengkhawatirkan keselamatan adiknya. Sebelum ummi tinggal pergi, memang ummi pesankan pada kakak untuk berteriak jika adik sudah berada di pinggir kasur atau akan jatuh. Cukup sering pula ummi tertawa mengamati kakak yang momong adik dengan mengalunkan senandung atau sholawat yang biasa ummi dan yangti senandungkan ke adik. Persis berikut gerakan badannya. Kyaaa….anak memang peniru ulung ya. Semoga ummi senantiasa Allah mampukan menjadi teladan yang benar untuk kakak dan adik-adiknya kelak. Aamiin…

Lalu, bagaimana dengan adik? Ummi baru melihat aksinya malam ini. Kakak yang tidak tidur siang, terlelap dalam gendongan abi dalam perjalanan pulang dari masjid usai sholah Maghrib. Kakak yang tertidur dengan masih memakai mukena direbahkan abi di kasur. Adik yang saat itu sedang bermain bersama ummi, mendekat ke kakak saat melihat kakak tertidur. Apa yang akan dia lakukan? Ummi mencoba menahan diri untuk tidak mengintervensinya. Ternyata adik menarik mukena kakak, ingin melepaskannya dari kakak. Lalu, dia memegang pipi kakak secara berulang. Sebuah kebiasaan yang seringkali kakak lakukan pada adik dengan alasan gemas. Perkembangan #emosional kakak adik ini membuat ummi terharu. Semakin bertambah nikmatNya, semoga semakin bertambah taqwa hamba padaMu Ya Rabb…

#fitrahsosialitas
#fitrahfisik
#emosional
#empati

#motorikkasar

Tuesday, 11 July 2017

Bermain di Taman Kebonrojo


Hari ini abiya akan melakukan perjalanan ke Jakarta mengendarai kereta api. Maka sore tadi, ummi dan kakak bersiap untuk mengantarkan abiya ke stasiun. Dalam perjalanan menuju ke stasiun, terbesit ide untuk mengajak kakak ke suatu tempat atau membeli sesuatu yang merupakan keinginan kakak sepulang dari stasiun nanti. Ummi ingin sejenak bonding time dengan kakak, mumpung adik di rumah bersama om dan yangti. Di stasiun, jadilah ummi mengutarakan rencana ummi pada kakak dan abi. Dan disambut antusias oleh kakak. Tapi rupanya, kakak bingung mau apa dan kemana.  Abi urun ide, mengusulkan untuk main ke taman kebonrojo, siapa tahu disana ada mainan mobil-mobilan seperti yang sempat kakak kendarai di taman Purwokerto saat mudik lebaran lalu. Kakak menyetujuinya dengan riang.

Setelah mengantarkan abi, kami pun menuju Taman Kebonrojo. Meski sudah 8 bulan kami menetap di Jombang, ini kali pertama kali menginjakkan kaki di taman ini setelah renovasi. Daaaaaan…taman ini menjadi lebih indah dan menyenangkan, jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hamparan rumput hijau membentang menyegarkan mata. Tak banyak orang yang berkunjung sore itu, membuat kami menikmati suasana dengan tenang.

Berdua kami mengelilingi taman dengan lomba lari ala-ala. Ada permainan anak-anak sederhana seperti mandi bola dan  odong-odong, pujasera yang  menebarkan aroma pengundang lapar, lapangan tenis yang sedang digunakan bapak dan anak, dan beberapa fasilitas olahraga peregang otot. Cukup puas berkeliling, kami duduk sejenak. Kakak menarik baju ummi, mengajak ke tempat duduk yang berada di bukit buatan.

Meniti tangga menuju puncak bukit buatan melatih motorik kasar kakak. Jumlah tangganya cukup banyak dan tidak ada pegangannya. Kakak berhasil naik tangga sendiri dengan ummi mengikuti di belakangnya. Saat berada di puncak ummi mengamati reaksi kakak, apakah kakak fobia ketinggian atau tidak. Karena ummi sendiri pun merasakan agak fobia jika berada di ketinggian. Kakak tersenyum sumringah, berhasil naik sampai puncak. Kemudian saat ummi minta agak mendekat ke pinggir dan berdiri di samping pagar pembatas, kakak menolak. Dia berujar, “Kakak duduk disini aja mi (di tengah), kalau ke pinggir, kakak nanti bisa jatuh ke bawah.” Oke, alasan logis. Setelah puas memandangi sekeliling dari ketinggian, kami pun turun. Saat ummi ajak turun melewati tangga, kakak minta untuk dipegangi karena memang tangganya tidak ada pegangannya. Oke, kakak tidak takut pada ketinggian dan cukup berhati-hati saat berada di ketinggian menjadi kesimpulan sementara pengamatan ummi di permainan ini.

Kami beralih ke permainan perosotan. Perosotannya terdiri dari dua sisi dan satu tangga naik. Terbuat dari batu dan semen dengan postur yang cukup tinggi. Rasa penasaran menggerakkan kakak untuk mencobanya. Kalau ummi mengingat-ingat, terakhir kali kakak naik perosotan serupa adalah saat bermain di Homeschooling ABATA, dan saat itu kakak belum berani mencoba sendiri. Perlahan dia menaiki tangga dan sampailah dia di bagian atas. Dia menginstruksikan ummi sigap di bak pasir untuk menyambutnya. Setelah ummi bersikap siaga, dia mulai meluncur. Saat badan mulai meluncur, sepertinya kaka cukup kaget dibuatnya sehingga gerak refleks yang kakak lakukan adalah berpegangan pada besi sisi perosotan. Ini membuat kakak sedikit terjerembab. Ummi meminta kakak segera melepas pegangan dan percaya ke ummi hingga tak lama, kakak berhasil sampai di pelukan ummi di bak pasir. Setelah itu dia enggan naik lagi, kakak memilih beralih ke permainan yang lain. Pengamatan sementara dari permainan ini, kecelakaan kecil tadi membuat kakak agak kaget.

Kami beralih ke lokomotif kereta. Sebenarnya permainan ini agak dipaksakan untuk kakak mainkan. Lokomotif berada di sebuah wadah besi yang terkunci. Tapi karena wadah besi itu berongga, lokomotif tetap saja bisa dinaiki oleh anak-anak seusia kakak. Maka, kakak pun mengendarainya dan berimajinasi sebagai masinis. Di sebelah lokomotif ini ada rel kereta berbentuk silinder. Maka kami membahas tentang hal ini. Bahwa saat ini lokomotif belum beroperasi. Jika saatnya beroperasi, maka lokomotif akan dikeluarkan pemiliknya dari wadah besi dan akan berjalan di atas rel jika aliran listriknya terhubung. Kakak mengajak ummi ke Taman Kebonrojo di lain hari saat kereta ini beroperasi.

Hari sudah beranjak sore. Ummi mengajak kakak pulang tapi kakak masih ingin bermain. Ajakan pulang dimulai dengan ummi menyalakan alarm. Ummi mengajak, saat alarm berbunyi maka kami akan pulang ke rumah. Kakak diam saja, belum menyetujui. Alarm berbunyi dan ummi mengajak kakak pulang. Kakak menego ummi, mengajak pulang setelah bermain perosotan. Ummi menyepakatinya.

Perosotan kembali kami hampiri. Ummi bersyukur, insiden kecil tadi tak membuat kakak trauma. Kakak menaiki anak tangga satu demi satu. Sesampainya diatas,  sebelum meluncur kakak meminta ummi siaga menangkap. Bukan di bak pasir, tapi sembari berdiri dengan tangan menengadah di jalur perosotan. Ummi sudah menengadahkan tangan sambil berdiri, tapi menurut kakak masih kurang mendekat. Hingga kemudian kakak meminta ummi mendampinginya ikut meluncur di perosotan. Haaa…

Sebagai bentuk totalitas dalam mendampingi anak (alasan nih, padahal memang pengen mencoba :D), ummi pun naik ke atas. Bersiap meluncur sembari memangku kakak. Saat kakak sudah dalam pangkuan, baru terasa oleh ummi. “Bikin deg-degan juga ya ternyata…” batin ummi dalam hati. Sempat ingin mengurungkan niat, tapi enggan juga memberi contoh pada kakak untuk menyerah. Akhirnya dengan mengucap basmalah, meluncurlah ummi di perosotan dengan memangku kakak. Alhamdulillah BERHASIL! Meski bagi sebagian orang yang melihat mungkin terkesan kekanak-kanakan, tapi ummi belajar banyak dengan mendampingi kakak perosotan tadi. Ummi bisa merasakan kekhawatiran yang kakak alami sebelum meluncur, sehingga ummi paham mengapa kakak sempat refleks memegang pegangan besi di sisi perosotan. Dan yang baru ummi sadari setelah mencoba sendiri adalah ternyata jalur perosotannya berongga. Ada beberapa lubang disana-sini yang selain membuat kurang nyaman di badan karena agak sakit tapi juga membuat lintasan peluncur agak sedikit berkelok akibat gerak refleks dari badan.

Sesuai kesepakatan, aktivitas bermain kami pun selesai. Saat berjalan menuju tempat parkir motor, ada penjual es puter kesukaan yangti. Terbesit ide membawakan es puter untuk keluarga di rumah. Eits, tapi kakak berencana beli vita**min. Maka dialog singkat pun terjadi,

Ummi : Kakak, ummi mau beli es puter buat yangti ya.
Kakak : Kakak mau es puter juga mi.
Ummi : Katanya mau beli vita**min. Jadi? Pilih mana, vita**min atau es puter?
Kakak : (terdiam dan berpikir keras, hihi)
Ummi : Kalau beli vita**min sekarang, kakak ngga beli es puter. Tapi kalau mau beli es puter, beli vita**minnya ditunda dulu. Besok-besok lagi.
Kakak : Es puter aja mi. Beli vita**minnya besok-besok aja ya mi…
Ummi : Oke, sepakat ya…
(Toss berdua)


Ummi pun memesan es puter tiga gelas. Untuk kakak, om dan yangti. Ummi batuk, jadi menghindari minuman dingin dulu. Alhamdulillah, bonding time sore tadi singkat tapi begitu bermakna untuk ummi dan kakak. Terimakasih ya Allah atas kesempatannya, terimakasih abiya atas idenya dan terimakasih yangti dan om sudah berkenan dititipi adik sejenak. J

Saturday, 8 July 2017

Memasak dan Menyajikan Kentang Goreng

Berawal dari ketidaksengajaan, mini project ini terlaksana. Pagi hari saat ummi melihat ketersediaan kentang dalam jumlah banyak di dapur, terbesit keinginan untuk membuat kentang goreng ala KFC. Jadilah ummi menyiapkan bahan dan mencari resep di aplikasi cookpad. Saat asyik memotong kentang dan bersiap membalurnya dengan tepung, terdengar suara setengah berteriak, “Ummi…kakak aja. Kakak bisa koq mi…”

Tak lama kemudian, tampaklah seorang anak kecil yang sibuk membalur potongan dengan tepung dengan sesekali meratakannya dan membubuhkan garam dan merica.


Resep yang ummi pakai kurang lebih demikian :

Bahan :
  • 4 buah kentang besar
  • 4 sdm tepung terigu
  • 4 sdm tepung beras
  • Garam secukupnya
  • Merica secukupnya

Cara membuat :
  • Kupas kentang hingga bersih, masukkan ke dalam air untuk mencegah pencoklatan
  • Iris memanjang dan cuci hingga bersih
  • Didihkan air, masukkan bawang putih geprek dan garam kemudian irisan kentang. Masak sekitar 7 menit
  • Tiriskan dan aliri dengan air dingin, tunggu selama 5 menit di suhu ruang
  • Masukkan potongan kentang ke freezer selama 20 menit
  • Keluarkan kentang dari freezer, balur kentang dengan campuran tepung terigu dan tepung beras. Supaya lebih merata, masukkan kentang dan campuran tepung ke dalam toples, kocok hingga tepung melekat merata di permukaan kentang
  • Masukkan kembali ke freezer, dinginkan selama 2 jam
  • Goreng kentang dengan api sedang hingga matang
  • Kentang siap dihidangkan


Dari mini project ini, kakak bertugas :
  • Membalur tepung ke kentang. Kemudian memasukkannya ke dalam toples.
  • Membersihkan tepung yang berjatuhan di lantai saat membalur kentang
  • Menghidangkan kentang goreng tersebut di piring, dan menyajikannya untuk tamu

Dari proses yang kakak lakukan dalam mini project ini, ummi menangkap sebuah peningkatan pembelajaran, antara lain :
  • Koordinasi mata dan tangan kakak semakin baik. Kinerja motorik halus kakak semakin meningkat. Proses membalur tepung dilakukan dengan cukup merata. Semakin sedikit tepung yang keluar dari tempatnya. Pengerjaan tugas dapur kakak semakin rapi.
  • Saat proses membalur kentang sudah selesai, pengerjaannya menyisakan kotoran di kursi. Dengan sigap dan tanpa dikomando, kakak mengambil tisu dan membersihkannya. Naluri tanggungjawab dan fokus pada solusi sudah bersemai di diri kakak. Perlu dipupuk dan dikembangkan lebih lanjut.
  • Saat menyajikan kentang di piring, beberapa kali kentang sempat jatuh karena posisi memegang piring yang kurang rata. Kakak tidak lagi menggerutu ataupun kesal, tapi dengan tenang memunguti kentang yang jatuh dan merapikannya kembali.
  • Saat ummi menantang kakak untuk menghidangkannya ke tamu, kakak masih malu dan bimbang. Tapi setelah ummi jelaskan mengenai bahagianya orang yang menjamu tamu, maka kakak menjawab tantangan dengan riang gembira. Menghidangkannya tanpa canggung, dengan sesekali mempersilahkannya.  




Wednesday, 5 July 2017

Kenyamanan di Kala Sakit



Lepas dari rangkaian perjalanan mudik, adik rupanya keletihan. Wajar saja, usai menempuh 8 jam perjalanan di kereta, keesokan harinya bayi berusia tujuh bulan ini mengikuti halal bihalal keluarga di luar kota dari pagi hingga petang. Dia tidak rewel, yang ia tunjukkan hanya wajah yang agak sayu tanpa senyum yang menghiasi. Perjalanan hari itu ditutup dengan adik muntah dalam volume yang cukup banyak.

Saat anak-anak sakit, hal pertama yang saya pinta pada Allah adalah ketenangan. Sikap untuk senantiasa tidak panik dan tetap berpikir logis. Ah, perihal ini saja saya belum lulus. Saat beberapa kali dihadapkan dengan situasi mendesak, saya sulit mengontrol diri dan menjalankan tindakan dengan gegabah. Tentunya sikap tersebut bukanlah hal baik dan perlu saya ubah perlahan supaya tidak menjadi kebiasaan buruk. Kadang berhasil kadang tidak bukanlah alasan untuk tidak mencoba kembali. 

Malam itu, panas tubuh adik beranjak naik. Adik tidak menangis, hanya saja dia tidak ingin turun dari gendongan kecuali saat terlelap. Kondisi nyaman tentu saja ia perlukan. Suami fokus membersamai kakak dan memberikan pemahaman pada kakak, sedangkan saya terus bersama adik. Di saat seperti ini saya merasa seperti sedang berdialog emosi dengan adik. Melihat tatap matanya, bahasa tubuhnya seolah meminta kenyamanan dengan kehadiran dan belaian untuknya. Dia banyak menghabiskan waktu di tempat tidur dan gendongan. Hingga di siang hari, saat saya mendampinginya di tempat tidur, tangan kami saling menggenggam. Kami bercengkerama cukup lama hingga dia terlelap tidur dengan posisi bersandar di genggaman tangan kami berdua. 

Ah, adik... melihat lelap tidurmu pun menjadi langkah observasi untuk ummi. Mungkin ini keadaan nyaman versi adik. 

Sunday, 2 July 2017

Sesi Penampilan Anak, Ruang untuk Mengasah Keberanian dan Kepercayaan Diri




Hari ini kami menghadiri pertemuan rutin keluarga besar. Acara berlangsung sebagaimana pada umumnya, ada halal bihalal dan saling sapa. Anak-anak terlihat ceria membersamai orangtua, bercanda dengan sanak kerabat maupun berkejaran dengan saudara sepantaran.

Pembawa acara berbicara menggunakan mikrofon, supaya suara pembicara terdengar jelas oleh setiap peserta tanpa harus mengeluarkan suara yang memekik. Sampai pada giliran abiya bicara, abi teringat pada kakak yang menyukai sesi tampil. Maka abi tawarkan pada kakak, "Apa kakak mau tampil?" Kakak enggan menjawab, hanya melengos saja.

Acara berlanjut dengan agenda berikutnya, dan kakak masih malu-malu. Belajar dari pengalaman sebelumnya yang ummi alami, meski kakak menolak untuk tampil, ummi masih menanyakan kesediaannya, sekali lagi.

Ummi : Kak, kakak mau tampil ngga?
Kakak : Ngga mi.
Ummi : Beneran lo ya, kakak ngga tampil ya...
Kakak : Emm... mau mi. Kakak mau tampil, tapi sama abi ummi ya.
Ummi : Okeee....

Maka, kakak pun tampil ke depan, mengajak peserta anak-anak yang hadir, untuk turut serta bernyanyi bersama.

Pelajaran bagi ummi dan abi hari ini, dalam setiap forum yang kami ikuti, perlu ada sesi dimana anak-anak dapat turut andil di dalamnya. Dan kami upayakan untuk dapat memfasilitasinya.