Wednesday, 30 December 2020

Perjalanan Mencari Kursus Bahasa Jerman Gratis yang dilengkapi Fasilitas Penitipan Anak di Kota Wina, Austria

Bismillahirrohmanirrohim…

Sudah sejak lama, saya ingin menulis seputar perjalanan dalam mencari kursus bahasa Jerman. Namun masih terus tertunda, perlu mendahulukan prioritas lainnya mengingat alokasi waktu yang terbatas. Alhamdulillah kali ini Allah hadirkan kesempatan tersebut, saat di sini sedang libur Natal sehingga sekolah dan kursus bahasa Jerman juga sedang libur.

Mengapa harus kursus bahasa Jerman?

Harus? Ngga juga. Bergantung tingkat urgensi yang dirasakan setiap orang saat bermukim di rantau. Ada alasan yang bagi seseorang adalah hal yang penting banget, tapi buat orang lain biasa saja. Ada juga yang merasa alasan tersebut penting, namun memilih jalan lain untuk mencapai tujuan tersebut. Hal itu wajar dan ngga apa-apa. Poin utama menurut saya adalah, sebelum belajar sesuatu, penting bagi diri untuk menemukan strong why terlebih dahulu. Contoh kasus bagi saya, kenapa sih perlu belajar bahasa Jerman? Demi apa memilih melangkah  di upaya tersebut?

Apapun upaya yang kita jalani, sebagai muslim tentu muaranya adalah meraih rida Allah. Apakah dengan belajar hal ini, bertambah amal kebaikan yang bisa saya lakukan? Apakah melalui usaha ini ,bertambah kesempatan mendulang ilmu dan wawasan, yang kemudian bisa jadi jalan kebermanfaatan? Ini menjadi renungan setiap memulai langkah.

Bagi saya pribadi, strong why belajar bahasa Jerman adalah untuk hidup adaptif. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini kota Wina merupakan kota layak huni terbaik di dunia. Maka bagi saya pribadi dua tahun lalu, saat Allah sudah memberikan kesempatan tinggal di kota ini, bagaimana cara saya mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan? Salah satu jalan mengoptimalkan kesempatan belajar yang sudah terpampang di depan mata adalah dengan mempelajari bahasa Jerman, bahasa lokal yang digunakan dalam keseharian warga asli.

Ada sebuah motto yang terkenal, „Sprachen öffnen Türen“, yang kurang lebih artinya "Bahasa membuka banyak pintu". Ya, bahasa ibarat kunci yang membuka pintu peluang belajar berbagai ilmu baru. Aktivitas saya bersama anak-anak berkegiatan ruang publik membuat saya tersadar bahwa penting bagi diri saya untuk menguasai bahasa Jerman sebagai bekal tinggal di sini. Qodarullah beberapa bulan setelah kedatangan kami di kota Wina, anak kedua kami sempat menjalani rawat inap di rumah sakit dan mengharuskan saya berinteraksi dengan para tenaga medis yang kerap memberikan paparan dengan bahasa Jerman. „Saya harus segera belajar bahasa Jerman agar bisa menjalankan peran diri dengan optimal!“ gumam saya dalam hati. Mungkin tingkat urgensi yang saya rasakan berbeda dengan suami yang sehari-hari banyak beraktivitas di kampus menggunakan bahasa Inggris. Tak banyak tantangan bahasa yang beliau alami sehingga beliau tak perlu segera belajar bahasa Jerman.

Cara belajar bahasa Jerman yang paling efektif tentu dengan mengikuti kursus. Namun ternyata harganya selangit, sangat mahal untuk ukuran keluarga mahasiswa seperti kami. Selain itu, di tempat kursus tersebut tidak menyediakan fasilitas penitipan anak sedangkan anak kedua saya saat itu masih berusia 1.5 tahun. Dari pihak lain, muncul masukan opsi solusi turunan agar saya bisa belajar bahasa Jerman, seperti memasukkan anak lebih dini ke Kindergarten atau dengan mengundang guru privat untuk datang ke rumah. Namun saya dan suami belum merasa itu sebagai pilihan yang akan diambil. Kami masih bertanya-tanya, adakah peluang belajar lain yang lebih ramah kondisi?

Alhamdulillah ternyata ada! Saya bersyukur banyak warga Indonesia di kota Wina. Setiap pekan pun kami rutin bertemu di acara pengajian di masjid. Dari forum silaturahim tersebut, saya mendapatkan informasi kursus bahasa Jerman untuk para ibu di Vereinigung für Frauenintegration (VFI). Lembaga kursus ini hanya buka dua kali sepanjang tahun dan ada tes penempatan terlebih dahulu. Di akhir bulan Agustus, saya datang mengantri dan melakukan tes penempatan, namun hasil tes saya belum cukup tinggi untuk bisa mendapatkan kuota, menyisihkan ratusan peserta lainnya. Saya sudah menebaknya, karena memang saya merasa mengerjakan soal dengan tidak lancar. Ngga apa-apa, setidaknya sudah mencoba ya. Selain penolakan, saya mendapatkan oleh-oleh dua lembar kertas berisi informasi aneka lembaga kursus yang bisa saya hubungi untuk kursus bahasa Jerman. Baik, saya pun mulai menghubungi satu-persatu. Jika dirangkum, berikut daftar lembaga yang saya datangi atau kontak via telefon :

Station Wien

Jawaban : ditolak. Karena kursus hanya untuk para ibu yang menempuh pendidikan maksimal delapan tahun. Lebih dari itu, tidak bisa diterima. Namun semester lalu saya mencoba Sprachencafé, program lain yang mereka miliki, seperti kelas Conversation setiap hari Selasa hingga Kamis dengan beberapa pilihan waktu. Selama pandemi, kegiatan tersebut juga bisa diikuti secara daring.

LEFÖ

Jawaban : ditolak, dengan alasan serupa dengan Station Wien.

Integrationshaus

Jawaban : ditolak, karena untuk kursus di situ, harus memiliki dasar minimal A1 sedangkan saya belum pernah kursus sama sekali.

Ada juga beberapa tempat kursus yang saya datangi dan kontak, namun saya lupa namanya. Masih belum mendapatkan jawaban positif, bahkan ada yang ternyata lokasinya sudah pindah dan alamat tersebut sudah beralih fungsi menjadi kantor lain. Namun saat saya menceritakan kebutuhan saya, mereka memberikan rekomendasi tempat yang mereka ketahui.

Mencari tempat kursus dari satu tempat ke tempat lain bersama baduta saat itu cukup menghadirkan kelelahan. Saat tak kunjung mendapatkan jawaban positif, saya sempat meminta pandangan mereka,

„Saya baru tiba di Wina empat bulan dan butuh belajar bahasa Jerman. Saya memiliki anak berusia 1.5 tahun. Ada banyak lembaga kursus namun belum ada yang saya temui menyediakan fasilitas penitipan anak. Apakah Anda memiliki rekomendasi tempat lain, di mana saya bisa belajar?”

Setelah mencoba datang ke berbagai tempat juga menghubungi via telefon namun hasilnya masih nihil, sebuah ayat dalam Al Qur'an mengingatkan saya, 

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (An Nisa [4] : 32)

Bahwasanya ikhtiar senantiasa diiringi dengan tawakkal, memohon pada Allah ditunjukkin jalan yang terbaik, dan berpasrah padaNya. Beberapa pekan kemudian, saat saya merasa bahwa Allah menyuruh saya untuk belajar sendiri terlebih dahulu dan kembali tes di VFI untuk semester berikutnya, saya mendapatkan telefon dari salah satu lembaga kursus yang sudah saya kontak dahulu. Beliau menawarkan satu kuota untuk saya karena ada peserta yang mengundurkan diri dan tidak datang kembali. Namun jamnya adalah jam siang hari dan proses belajarnya agak lambat. Karena prioritas saya saat itu adalah gratis dan tersedia fasilitas penitipan anak, maka saya pun menerima tawaran tersebut.

Perjalanan di babak baru pun dimulai, saya dan anak-anak mulai beradaptasi, menempuh perjalanan ke tempat kursus sepulang menjemput si sulung di Kindergarten. Biasanya saya menjemput si sulung sebelum jam dua belas sehingga tiba lebih awal di tempat kursus dan ada waktu untuk makan siang. Tidak mudah memang, terlebih saat musim dingin dan saat anak mengantuk di siang hari. Namun kami coba menjalankan prosesnya dengan bahagia. Perlahan, anak-anak pun memahami bahwa saya memang perlu belajar bahasa Jerman. Di titik ini saya merasa bahwa Allah memberi kesempatan saya belajar lebih dari bahasa, namun justru mengenai daya tahan dan pembentukan pola pikir positif. Bahwa bahagia itu merupakan sebuah pola pikir yang dibentuk berlandaskan rasa syukur, bukan hanya sebuah respon.

Semester berikutnya, saya kembali mengikuti tes di VFI. Kali ini, alhamdulillah diterima di kelas A1+ dan mendapat kelas pagi hari. Saya pun mengurus perpanjangan durasi si sulung di Kindergarten agar bisa saya jemput sepulang kursus. Anak kedua pun sudah tumbuh besar, lebih bisa memahami kondisi, beradaptasi dan mood-nya lebih bagus karena masih di pagi hari. Selama tiga semester, saya belajar bahasa Jerman di sini.

Gambar 2. Vereinigung für Frauenintegration


Lulus dari VFI, saya kembali mencari tempat kursus baru. Untuk level B2 di Verein, alternatifnya bisa di Integrationshaus dan Peregrina. Namun saat saya menghubungi Integrationshaus, jadwal yang dimiliki baru ada dua semester ke depan, artinya saya perlu menunggu satu semester. Sedangkan di Peregrina, masuk ke daftar tunggu di semester berikutnya sehingga saya tidak perlu menunggu berbulan-bulan. Namun karena B2 sudah bukan termasuk level pondasi, maka ada biaya sebesar 70 Euro untuk satu evel tersebut. Harga tersebut masih jauh terjangkau daripada biaya pada umumnya (300-400 Euro per level).

Setelah datang langsung untuk mendaftar dengan menunjukkan hasil tes level B1 dan menunggu kabar, alhamdulillah hasilnya positif diterima. Kali ini si sulung sudah masuk Volksschule dan anak kedua mulai masuk Kindergarten. Kini, saat saya menulis cerita ini, alhamdulillah kelas B2 baru selesai. Informasi mengenai pembukaan kelas level B2 di Peregrina bisa diakses di situs berikut. Belakangan ini saya mulai memberanikan diri mengikuti forum diskusi dan meminjam buku yang saya minati. Motto „Sprachen öffnen Türen“ sangat terasa. Menguasai bahasa Jerman membuka peluang belajar sebuah ilmu baru dan berinteraksi lebih luas lagi.

Gambar 3. Peregrina


Bagi teman-teman yang sedang mencari kursus bahasa Jerman di kota Wina dengan fasilitas penitipan anak, silakan membuka situs pemerintah kota Wina berikut. Ada banyak informasi lembaga kursus yang bisa dikunjungi situsnya satu persatu dan dikontak langsung via telefon untuk mengetahui ketersediaan kuota kursus dan hal detail lainnya. Jika membutuhkan informasi seputar LEFÖ, VFI maupun Peregrina, silakan kontak saya untuk diskusi lebih lanjut ya. Semoga dengan  membaca tulisan ini, teman-teman  yang sedang mencari hal serupa, bisa bertemu dengan tempat kursus yang tepat, dengan waktu yang lebih singkat dari yang saya alami. Dalam perjalanan belajar bahasa Jerman ini, amat saya rasakan bahwa pertolongan Allah itu sangat nyata dan dekat. Dan semoga rida Allah senantiasa mengiringi setiap langkah yang terayun dalam menapak keluasan ilmuNya. Aamiin.

 

  

 

Monday, 21 December 2020

Melaju dengan Aksi Unik diiringi Komitmen dan Konsisten

 

Gambar 1. Bagan Challenges Deep Dive Extra Miles

Kota Produktif, Warga Kreatif, Penuh Ide Solusi

Begitulah tagline Hexagon City.  Jika kemudian saya memutuskan untuk menjadi bagian di dalamnya dan siap bertumbuh sebagai Hexagonia, artinya saya siap untuk bertumbuh lebih produktif, kreatif dan solutif, bukan?

Maka bismillahhirrohmanirrohim...siap untuk terus berproses dan melaju optimal.

Setelah pekan sebelumnya kami diajak untuk bergerak dengan extra miles yang hingga saat ini pun aksinya masih terus diupayakan, di pekan ini ada kejutan lagi! Kami diajak berkontemplasi terkait perjalanan hingga saat ini dikaitkan dengan tagline kelas Bunda Produktif. Masih on track atau tidak ya? Sederhananya, yuk check in kondisi diri dulu…

Apakah saya sudah produktif di kota ini?

Ya. Tujuan awal saya bergabung di kelas Bunda Produktif adalah untuk produktif menghasilkan karya tulisan dan berbagi ilmu seputar pembelajaran bahasa Jerman. Jika dirunut karya tulis yang saya hasilkan selama mengikuti kelas bunda Produktif adalah :

  1. Tulisan jurnal yang ditulis di blog www.griyariset.com, saya tulis segenap hati untuk mengikat ilmu dan menjadi pengingat di masa depan karena kelas Ibu Profesional adalah kelas kehidupan yang pola belajarnya sangat bisa diduplikasi implementasinya dalam dunia nyata.
  2. Membuat satu artikel dengan topik „Pengalaman Read Aloud  di Wina, Austria“ sesuai dengan aktivitas yang disepakati di milestone 2.1.
  3. Di luar Hexagon City, menghasilkan karya antologi cerita anak yang mana ini merupakan karya pertama saya menulis cerita anak setelah sebelumnya saya memiliki limiting belief bahwa saya tidak berkompeten untuk menulis cerita anak.

Sekreatif apa kita sampai di zona Extra Miles ini?

Arti kreatif menurut KBBI adalah memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Wah, selama di Hexagon City ini saya sudah menciptakan apa ya? Hehehe.

Dimulai dari merumuskan ide proyek Co-House. Di masa awal berkumpul dengan tetangga Co-House, kami saling memperkenalkan diri dan menyampaikan kekuatan maupun hal yang disukai masing-masing. Tentunya dalam cakupan bidang yang kami pilih, Literasi dan Bahasa. Setelah menyimak pemaparan masing-masing tetangga dan menilik kebutuhan belajar diri, maka saya terpikir bentuk ide project passion berupa kolaborasi dari berbagai kekuatan yang akhirnya kami sepakati untuk dijalankan bersama, LiterAksi Tematik.

Kreatif juga seputar aksi yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Terkait dengan hal ini, aksi kreatif terkait project passion adalah membuat review buku anak berbahasa Jerman. Sudah ada keinginan untuk melakukannya sejak lama, namun saat tuntas membacakan, enggan rasanya melanjutkan aksi dengan membuat review. Dan milestone 1 kemarin, berhasil memaksa saya untuk melawan keengganan tersebut hingga bisa membuat lima review buku. Bonus yang dirasakan, saya jadi mengenali kosakata baru dan membaca isi buku berulang kali hingga paham alur cerita secara detail.

Aksi kreatif berikutnya adalah mendalami Read Aloud dengan mengikuti Training of Trainers Read Aloud. Rencana lama yang terus tertunda, qodarullah akhirnya Allah tuntun untuk bisa tereksekusi sekarang. Belajar bagaimana melakukan Read Aloud dengan teknik yang benar, juga bagaimana belajar membuat kajian teks sederhana. Mirip dengan membuat review namun lebih berupa poin-poin yang beragam. Menarik, masyaAllah! Karena pekan ini kursus bahasa semester ini pun sudah berakhir maka alokasi waktu belajar bisa optimal saya gunakan untuk mengulik seputar Read Aloud ini.

Ada problematika apa yang terjadi selama pengerjaan project passion?

Sebelum melaju pada solusi dan masuk ke ranah challenges deep-dive, penting untuk menelusuri permasalahan yang dihadapi baik disadari atau tidak. Ibu Septi selaku founding mothers mewanti-wanti agar jangan sampai kita terkena jebakan Rat Race. Yaitu kondisi dimana kita melakukan hal yang sama terus menerus, secara berulang, dan stagnan. Jika hal tersebut terjadi pada aktivitas kita, kemudian kita tidak melakukan extra miles, maka kondisi akan tetap sama, tidak berubah ke arah yang lebih baik. Mengingatkan saya pada sebuah ayat, QS. Ar-Ra'd:11 bahwa “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.”

Ada tiga jenis permasalahan yang memungkinkan terjadi pada diri kita, yaitu :

Sia-sia

Jika kita melakukan sesuatu di bidang yang tidak terlalu dipahami bahkan dengan target yang biasa sekalipun.

Hal ini mengingatkan saya pada proses pemilihan bidang passion. Pantas saja tim formula menghimbau untuk memilih bidang yang diminati, memang sedang ditekuni dan memiliki passion atau gairah yang besar dalam menjalankannya. Agar kami sudah memiliki pondasi dasar terkait bidang tersebut (meski tidak harus mahir) juga tangguh dalam menghadapi setiap tantangan.

Jalan di tempat

Jika kita hanya mau melakukan sesuatu di area yang sudah kita kenal dan dengan target yang biasa saja.

Ini memang sebuah cara aman untuk menghemat energi. Namun, bukan belajar di kelas Ibu Profesional namanya jika tidak penuh dengan kesungguhan. Sekadar menggugurkan kewajiban tak akan membawa perubahan dalam diri. Bidang literasi dan bahasa memang bukan hal yang asing bagi saya, saya perlu berhati-hati agar tak terjebak diam di tempat. Saya menyukai bidang ini dan memang menyungguhinya. Beberapa hal baru yang saya kerjakan selama di kelas Bunda Produktif ini antara lain : membuat review buku anak berbahasa Jerman, menulis artikel review pengalaman dan mendalami ilmu seputar Read Aloud.  

Merasa istimewa

Jika kita melakukan sesuatu yang sudah kita kenal dengan target yang melebihi standar, namun ternyata tidak terlalu berarti karena cara yang kita lakukan begitu-begitu saja. Makjlebb sekali menyimak definisi ini. Merasa tertohok, dan mawas diri, jangan-jangan selama ini saya terjebak di permasalahan ini? Sudah melakukan usaha dengan effort yang lebih untuk mencapai target yang lebih tinggi namun saya masih menggunakan "cara lama" dalam menggapai target tersebut. Demikiankah yang berlangsung selama ini? Inovasi proses apa yang sudah saya upayakan? Jangan-jangan belum ada. Jentikkan jemari, baca basmalah dan berucap switch! Tidak mau! Memutuskan untuk melakukan langkah berbeda saat itu. Apa itu? Saya tuliskan di kolom X-tra Ordinary Action.

Ide solutif apa yang ingin saya canangkan sebagai Xtra Miles kali ini?

Saat ini pengerjaan project passion akan memasuki milestone 3, yaitu membuat video Read Aloud. Di awal perjalanan project passion, saya menyadari belum memiliki kompetensi mumpuni untuk Read Aloud baik secara teori maupun praktik . Aha! Project passion ini adalah jalan pembuka saya mengenal Read Aloud dan memahaminya secara detail. Maka setelah kemarin saya sudah melakukan X-tra Miles dengan mengikuti ToT Read Aloud, kali ini saya ingin menambah X-tra Miles dengan penjabaran sebagai berikut :

Ide solusi :

Belajar Read Aloud secara lebih mendalam sebagai bekal keterampilan untuk mengerjakan milestone 3

X-tra Miles Concept Note :

Membuat poin-poin rencana aksi yaitu :

  1. Membuat kajian teks sederhana
  2. Membuat review acara ToT Read Aloud
  3. Praktik Read Aloud buku anak seputar emosi dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jerman

X-tra Miles Action :

Sudah belajar membuat kajian teks sederhana. Sedang membuat review acara ToT Read Aloud dan mencoba praktik Read Aloud  buku anak terkait emosi.

X-tra Ordinary Concept Note :

  1. Membagikan review acara ToT Read Aloud jika sudah selesai dikerjakan
  2. Menjaga energi dan konsistensi dalam menjalankan extra miles

X-tra Ordinary Action :

Tanggal 16-18 Desember 2020 lalu saya off karena ada jadwal Pruefung atau ujian bahasa Jerman. Konsekuensi ketidakhadiran saya di tanggal tersebut adalah mengejar ketertinggalan dengan menyimak rekaman materi dan mengerjakan milestone  2.2 berupa alih bahasa kosakata terkait emosi di akhir pekan. Sekali pun membuat saya perlu mengurangi jam tidur tapi saya bahagia karena saya melakukan langkah yang sesuai dengan kebutuhan belajar saya. Tapi cukup untuk momen ini saja, tidak untuk setiap hari. :D

Secara pribadi, aksi mengejar ketertinggalan merupakan x-tra ordinary action sebagai bentuk tanggung jawab saya di Co-House. Sehingga bisa kembali mengikuti ritme dan tidak menjadi delays. Lagi-lagi saya diingatkan bahwa komitmen dan konsistensi adalah kunci dari produktivitas.



Agar tidak terjebak di permasalahan “merasa istimewa”, saya perlu melakukan aksi nyata yang berbeda, dengan low effort high impact. Melakukan hal yang tidak membutuhkan energi banyak tapi memberikan  dampak besar dalam pengerjaan project passion. Mendorong kekuatan bakat relator, saya mencoba mencari informasi mengenai Read Aloud Austria. Bertemulah dengan akun Instagram @oesterreichischer_vorlesetag dan website www.vorlesefest.at. Kemudian mereka memberikan tips untuk bisa saya pelajari lebih lanjut. Alhamdulillah.

Go to the Extra Impact :

Impact adalah ranah Yang Maha Penggerak Hati, maka untuk melihat dampak, saya cukup bertawakkal pada-Nya dan berikhtiar dengan extra miles. Tugas saya saat ini adalah menjalankan apa yang sudah dituliskan dengan penuh komitmen dan konsisten.

Salah satu poin extra miles saya sebelumnya adalah mengenai manajemen waktu, yang hingga saat ini hal tersebut pun masih terus diupayakan. Anak-anak mengajukan protes karena jam daring yang bertambah belakangan ini. Saya menyadari konsekuensi mengikuti kelas belajar adalah alokasi waktu jam daring. Protes anak-anak menjadi pengingat diri untuk lebih efisien dalam menggunakan jam daring dan memanfaatkan waktu dini hari. Berproses menuju seorang bunda produktif sejatinya bukan menjalankan sebuah peran baru, namun bergerak menuju keseimbangan baru seiring bertambahnya peran kehidupan. Maka saya perlu senantiasa meluruskan niat, agar bergerak lillah, dan Allah jaga langkah ini senantiasa. Aamiin...

Wina, 21 Desember 2020

Mesa Dewi Puspita

 

 

 









Tuesday, 8 December 2020

Produktif dengan Menjalankan Extra Miles

Saat awal menyimak materi X-tra Miles ini, saya masih belum menangkap pemahaman detail yang jelas, terkait alur pengerjaan diagram Impact Effort Matrix. Mungkin saya yang terlalu memusingkannya. Mengapa tak memilih untuk berpikir simpel, menangkap garis besarnya, lalu mengerjakan tugasnya. Tuntaslah sudah! Tidak, saya tidak bisa demikian. Bukan gaya belajar yang gue banget. Saya perlu merunut agar paham, sekalipun konsekuensinya adalah perlu waktu pengerjaan yang lebih panjang.

Usai menyimak rekaman materi, saya membuat jurnal pribadi terlebih dahulu. Membuat project list kemudian mengklasifikasikannya ke dalam empat kuadran tersebut. Fokus saya saat mengklasifikasikannya terpaku pada effort dan impact dari setiap kegiatan. Mana yang high effort, low effort, mana yang high impact, low impact. Kemudian memikirkan, mau dipindah ke kuadran mana setiap kegiatan tersebut dan X-tra Miles apa yang mau dilakukan untuk memindahkannya.

Maka berikut jurnal pribadi awal yang saya buat :

Gambar 1. Jurnal Pribadi mengenai Impact Effort Matrix

Hingga tiba jadwal diskusi via ZOOM,  kami berkumpul berdiskusi mengenai jurnal. Senang rasanya ada diskusi rutin, ada ruang untuk berbagi buah pikiran dan menelaah bersama. Dari diskusi tersebut saya merasa ada yang perlu diperbaiki dari jurnal pribadi saya, yaitu lebih didetailkan rencana aksinya dan diberi keterangan letak kuadran dari setiap kegiatan usai dilengkapi dengan X-tra Miles. Baiklah, saya mencoba memperbaikinya dan menyetorkannya kembali di hari berikutnya.

Apakah tuntas, berhenti sampai di situ? Ternyata tidak. Momen menuliskan jurnal adalah momen dimana saya merunut pemahaman atas pembelajaran yang sedang berjalan. Saat menulis, saya kembali dibuat bingung dengan definisi kuadran Major Projects dan Quick Wins. Ya, definisi kuadran Quick Wins bukan sekadar kuadran yang diisi oleh kegiatan yang saya rasa low effort, high impact saja. Namun juga merupakan kuadran ideal dimana sebisa mungkin, kegiatan-kegiatan banyak terletak di sana. Mengerjakan sebuah kegiatan dengan optimal, tanpa usaha ekstra yang berpotensi mengundang kelelahan, namun menghadirkan dampak signifikan. Siapa yang tidak mau? Bukankah hal tersebut erat kaitannya dengan makna sebuah produktivitas?

Maka saya mencoba berselancar, mencari referensi untuk menguatkan struktur berpikir yang sedang saya bangun terkait materi kali ini.

Pertama, saya mencermati makna sebuah produktivitas. Pencarian ini membawa saya membaca buku Productive Muslim yang ditulis oleh Mohammed Faris. Produktivitas erat kaitannya sebagai output dari sebuah ­input. Jika saya memiliki waktu dua jam dan menggunakannya untuk menulis jurnal (menghasilkan karya) maka saya produktif. Namun ada rumus produktif yang saya dapatkan dari buku tersebut, yaitu :

Produktivitas = Fokus x Energi x Waktu (untuk tujuan yang bermanfaat)

Menjadi produktif bukan menjadi sibuk, bukan pula sebuah kejadian melainkan sebuah proses, produktif tidak membosankan dan yang perlu diingat adalah, kita tidak bisa selalu menjadi orang produktif, perlu ada jeda diantara produktivitas satu dengan lainnya. Logis sih ini, perlu ada manajemen energi, manajemen fokus dan manajemen waktu yang saling bersinergi. Makjlebb bangeeet!

Referensi berikutnya yang saya cari adalah seputar Impact Effort Matrix. Dalam laman situs web expertprogrammanagement.com ditemukan matriks setipe dengan nama The Action Priority Matrix. Matriks tersebut sebagai alat bantu memanfaatkan waktu untuk memilih tugas dan peluang yang akan dikejar berdasar prioritas. Dijelaskan pula bahwa kuadran Quick Wins merupakan tempat hal-hal dengan prioritas tinggi. Sebisa mungkin tidak ada lagi kegiatan di Thankless Tasks, minim kegiatan di Fill Ins dan Major Projects.

Untuk memindahkan kegiatan-kegiatan ke kuadran lainnya dengan proporsi lebih tepat sehingga hasilnya berlipat pula, maka perlu ada ide X-tra Miles yang harus djalankan. Ide yang paling mendasar adalah memperbaiki manajemen waktu, energi dan fokus. Terkait hal tersebut, strategi yang akan diterapkan adalah :

  1. Mengalokasikan waktu 15 menit per dini hari untuk mengikuti diskusi WAG Co-House. Menandai chat penting dan melakukan clear chat secara berkala.
  2. Mengalokasikan waktu lima jam dalam satu pekan untuk mengerjakan artikel berkualitas.
  3. Membuat kandang waktu yang lebih ketat dan saklek untuk membuka FBG. Dengan jadwal : menyimak live materi dan pengayaan di dini hari Kamis dan Jum’at (@satu hingga dua jam), mengikuti perkembangan Hexagon City di Sabtu dini hari (15 menit)
  4. Memakai aplikasi YourHour untuk mengidentifikasi seberapa lama penggunaan gawai saya per hari, juga memunculkan pengingat saat saya sudah melewati batas jam daring yang saya tetapkan di awal.
  5. Membagi proses pengerjaan jurnal dalam beberapa bagian yang dikerjakan bertahap. Antara lain berdiskusi dengan tetangga Co-House, membaca buku dan web sebagai acuan referensi, menyimak materi dengan seksama, berdiskusi dengan orang terdekat, menyusun kerangka hingga menuliskan jurnal utuh. Alokasikan waktu untuk setiap bagian.

Selain strategi diatas, ada juga X-tra Miles lain yang dilakukan. Antara lain :

  1. Mengikuti Training of Trainer Read Aloud selama bulan Desember
  2. Menemukan dan membaca buku referensi yang sesuai dengan materi setiap zona
  3. Menyimak aktif pelatihan internal Co-House  dengan seksama

Setelah melakukan X-tra Miles maka kegiatan-kegiatan bermuara ke mana? Saya mengupayakan untuk dominan di kuadran Quick Wins. Melatih otot-otot menuju keseimbangan baru tentu berat ya. Karenanya X-tra Miles dilakukan. Melipatkan hasil dengan durasi pengerjaan yang tetap sama. Perlu meningkatkan fokus, menggunakan waktu dengan lebih efisien dan menjaga ketersediaan energi.

Maka saatnya masing-masing Hexagonia menentukan aksi X-tra Miles-nya maka saatnya mengumpulkannya sehingga menjadi action items tim Co-House. Berikut hasilnya :

Gambar 2. Impact Effort Matrix tim Co-House

Mengikuti sebuah kelas belajar, sejatinya bukan hanya untuk menerima ilmu namun juga untuk berubah ke arah yang lebih baik. Bergabung di kelas belajar Institut Ibu Profesional selalu saya rasakan berbeda. Bukan sebagai sebuah proses disuapi, namun diberi kail yang membuat saya bisa meluaskan pandangan, terbuka terhadap sumber pembelajaran yang lebih luas lagi. Mengajak untuk berkelana di hutan ilmu pengetahuan.

Beragam fasilitas di Hexagon City merupakan tanda produktivitas sebuah kota sekaligus merupakan godaan, selama tidak sesuai dengan kebutuhan belajar diri. Founding mothers pun mengingatkan mengenai hal ini. Maka kuatkan tekad untuk cukup tertarik dengan hal-hal yang sudah menjadi fokus kebutuhan belajar selama berada di kelas Bunda Produktif. Dalami dan tekuni hal tersebut hingga menjadi sebuah karya produktif. Bismillah, semoga Allah tuntun selalu.

Wina, 9 Desember 2020

Sumber Referensi :

Faris, Mohammed. 2015. Muslim Produktif : Ketika Keimanan Menyatu dengan Produktivitas. Jakarta : Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Anonim. 2018. The Action Priority Matrix. https://expertprogrammanagement.com/2018/12/the-action-priority-matrix/. Diakses tanggal 9 Desember 2020.