Tuesday, 28 January 2020

Berbagi Potluck Pengalaman dan Menelusuri Makanan yang telah Dicerna

Tantangan pekan ini sungguh mencengangkan! Kami perlu membuat audio atau video berbagi pengalaman sebagai potluck untuk teman-teman sesama peserta kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional.

Aku Berbagi Pengalaman tentang ...

Apa yang saya bagikan?
Tentu sesuatu yang sudah saya jalankan. Beberapa tema sudah sempat saya tuliskan di kolom “Aku Tahu Tentang…” di jurnal pekan lalu. Namun potluck seperti apa dari pengalaman saya yang sekiranya bisa bermanfaat bagi teman-teman?
Awalnya saya ingin membuat video mengenai belajar bahasa Jerman untuk pemula. Namun saya urungkan. Saya mencari topik lain yang lebih bisa dirasakan manfaatnya oleh teman-teman di samping saya juga bahagia membagikan pengalaman tersebut. Mengapa tidak saya ceritakan perjalanan proyek Ibu Profesional Diaspora, project yang saya canangkan sejak awal menginjakkan kaki di kota Wina, Austria sebagai bentuk komitmen akan tekad bersungguh-sungguh belajar selama membersamai suami studi lanjut di kota ini? Saya merasakan banyak pembelajaran yang Allah berikan selama 20 bulan proses belajar ini, dan tiga pembelajar utama yang saya rasakan sangat terasah adalah kemandirian keluarga, adaptif dan berani mencoba, serta menjaga fokus saya bagikan di video berdurasi sekitar tiga menit ini.


Maka lahirlah video ini, yang dibuat dalam perjalanan pulang usai dari Magistrat Abteilung 35 menemani suami mengurus perpanjangan izin tinggal dan ke Berangtunszentrum fuer Migranten untuk berkonsultasi.

Makananku Pekan Ini

Lalu, makanan apa yang saya pelajari sepekan ini?
Pertanyaan ini sungguh penting untuk menjaga fokus diri. Saya perlu menuliskan makanan apa saja yang saya dapatkan di hutan pengetahuan kemudian menarik benang merah kesesuaian antara makanan-makanan yang ada di hutan pengetahuan dengan peta belajar yang sudah saya buat. Jangan sampai, makanan-makanan yang saya cicipi tidak berkaitan dengan peta belajar saya. Bisa-bisa saya kekenyangan manyicipi aneka kudapan yang ada sedangkan makanan utama yang saya butuhkan belum sempat saya makan karena kehabisan waktu.
Maka, saya memilih untuk belum menjelajah hutan pengetahuan atau the jungle of knowledge. Bukan tidak mau, namun perlu saya tunda. Saya perlu memastikan makanan akan kebutuhan belajar saat ini terpenuhi terlebih dahulu baru kemudian jika nanti ada bonus waktu bisa saya gunakan untuk mencicipi potluck. Bismillah, berikut rekam jejak jelajah sepekan dalam mencari makanan utama :

  • Mengikuti Konversationsstunde di Perpustakaan Wieden.  


Di forum ini kami berdiskusi mengenai penggunaan alkohol dan regulasinya di kota Wina. Saya sekelompok dengan seorang mahasiswi Korea dan seorang dokter dari Amerika. Dari diskusi ini saya jadi mengetahui aneka minuman dengan prosentase alkohol yang berbeda-beda, reaksi badan saat mengkonsumsinya dan dampak negative bagi kesehatan pecandu alkohol. Saya juga mengajak teman-teman satu kelompok kursus untuk ikut forum diskusi ini, ada satu orang yang mendaftar dan kami bertemu di forum tersebut. Setelah forum ini, teman saya itu justru meminta untuk belajar bersama mempersiapkan diri menyambut kursus semester depan yang dimulai di bulan Maret esok.

  • Periksa ke Dokter dan Mencoba Rangkaian Cek Kesehatan. 


Selama 20 bulan tinggal di sini, saya belum pernah memeriksakan diri ke dokter. Berbekal bahasa Jerman yang dimiliki saat ini, saat saya merasa kurang fit, saya memberanikan diri untuk pergi ke dokter untuk memeriksakan diri sekaligus bertanya mengenai fasilitas Vorsorgeuntersuchung atau cek kesehatan. Benar saja, ada form berbahasa Jerman yang perlu saya isi sebelum menjalankan cek kesehatan. Proses pengisian form dan tanya jawab dengan dokter memperkaya kosakata bahasa Jerman dan keberanian saya daam praktik berkomunikasi.


  • Membacakan Anak-Anak Buku Berbahasa Jerman


Siapa anak-anak yang menolak untuk dibacakan buku? Sepertinya tidak ada ya. Yang ada anak-anak justru meminta dibacakan buku berulang kali. Dalam memenuhi kebutuhan belajar dan membaca buku, kami memanfaatkan fasilitas peminjaman buku dari perpustakaan pemerintah. Setiap pekan minimal satu kali, kami mengunjungi perpustakaan baik untuk mengikuti kegiatan maupun membaca kemudian meminjam buku. Saya dan anak-anak memiliki kartu perpustakaan masing-masing. Setiap pemegang kartu, memiliki kesempatan untuk meminjam 25 media yang disediakan perpustakaan baik itu buku, CD, DVD, majalah maupun lainnya. Pekan ini kami meminjam buku anak. Kartu perpustakaan anak-anak sampai penuh, yang artinya ada 50 buku anak milik perpustakaan di rumah. Konsekuensinya tentu anak-anak dibacakan beragam buku di rumah. Selain memenuhi kebutuhan belajar anak, sesi membacakan buku anak ini juga membantu saya menambah kosakata baru. Apalagi bahasa di buku anak-anak lebih sederhana, sesuai dengan tahap pembelajaran bahasa Jerman saya saat ini. Untuk menambah nilai pembelajaran, saya menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an atau Hadits yang sesuai sehingga fitrah keimanan pun turut terstimulasi dalam proses ini sekalipun buku Islam sangat minim keberadaannya di sini.

  • Berkomunikasi dengan Petugas Publik


Hari ini saya menemani suami mengurus perpanjangan izin tinggal. Suami selama ini belum bisa berbahasa Jerman. Beliau cukup berbahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari di kampus. Saya amati saat kita bisa menggunakan bahasa Jerman dalam berkomunikasi, orang sini akan lebih komunikatif dan kooperatif. Di sini saya kembali praktik. Saya mencoba sejak awal mengawali percakapan dengan bahasa Jerman dengan petugas. Karena mendapati sedikit tantangan, petugas menyarankan kami untuk ke Beratungszentrum fuer Migranten, lagi-lagi saya dihadapkan pada tantangan praktik berbahasa Jerman. Dan pengalaman memang guru terbaik. Sekalipun saya sering terbata-bata namun saya belajar banyak hal dari pengalaman praktik ini.

Nah, di bonus waktu malam hari ini saya mengalokasikan waktu untuk mencicipi beberapa potluck di hutan pengetahuan. Ada dua potluck yang saya cicipi yang keduanya berkaitan dengan bahasa. Yang pertama adalah dari mba Novida Fatma Dewita yang berbagi mengenai perlakuan yang tepat saat menemui anak yang menggunakan bahasa campur-campur. Kemudian satu lagi, potluck dari mba Rifni seputar tips belajar bahasa secara otodidak. Setelah mendengar tips dari beliau, saya semakin bersemangat untuk belajar bahasa Jerman dengan intensif.
Demikian potluck  yang saya bagikan ke hutan pengetahuan, daftar makanan saya pekan ini terkait peta belajar yang sudah saya buat dan potluck yang saya cicipi dari hutan pengetahuan kelas Bunda Cekatan. Tak ada tujuan lain selain mengharap ridhoNya. Semoga Allah senantiasa tuntun setiap proses ini hingga terliputi dengan keberkahan dariNya. Aamiin.

Wien, 28 Januari 2020



Tuesday, 21 January 2020

Saatnya Mencari Sumber Ilmu di Hutan Pengetahuan, Gunakan Petamu Agar Tak Tersesat!


Setelah berhasil mengidentifikasi kebutuhan belajar diri selama kurang lebih satu semester ke depan di tahap Telur, peserta kelas Bunda Cekatan beranjak ke tahap berikutnya yaitu tahap Ulat. Di tahap Ulat ini, peta belajar yang sudah dibentangkan di akhir tahap telur menjadi pijakan untuk mengerjakan tantangan pekan pertama. Apa sajakah tantangannya?
Pertama, menceritakan hasil belajar yang didapatkan selama sepekan ini  dan membagikannya sebagai potluck untuk teman-teman sesama peserta kelas Bunda Cekatan.
Proyek yang saya tuliskan di peta belajar adalah Mama lernt Deutsch. Proyek ini terinspirasi dari kelas bahasa Jerman yang sedang saya ikuti sejak setahun belakangan ini dimana para ibu bisa belajar bahasa Jerman dengan membawa anaknya yang masih kecil atau belum bersekolah dan menitipkannya di Kinderbetreuung sepanjang jam kursus berlangsung. Ada banyak lembaga kursus bahasa Jerman namun sangat sedikit yang menyediakan fasilitas Kids Corner  atau Kinderbetreuung.  Di lembaga kursus tempat saya belajar sekarang pun, dulu saat mendaftar saya tidak langsung diterima. Hasil tes penempatan level saya tidak mencukupi untuk bisa menjadi peserta kursus. Saya perlu belajar lagi dan mencoba tes kembali di semester berikutnya baru kemudian diterima.
Lembaga kursus ini mengadakan kursus bahasa Jerman intensif, empat kali per minggu, dengan durasi 3,5 jam setiap harinya dan pemberian pekerjaan rumah secara rutin. Materi disampaikan secara runut oleh guru yang sangat berkompeten. Tak hanya program belajar di kelas, tersedia pula program kunjungan ke ruang-ruang publik di kota Wina, menonton film bersama dan mendiskusinya ceritanya, mendatangkan narasumber dari suatu bidang untuk berbagi ilmu, sehingga kami tidak hanya mendapatkan materi bahasa Jerman namun juga keterampilan untuk mengakses fasilitas ruang publik dan memahami sistem yang berlaku di kota Wina.
Berawal dari lingkungan yang kondusif inilah saya merasa perlu mengoptimalkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Pun bahasa Jerman merupakan menu belajar yang penting dan mendesak untuk saat ini sehingga fokus belajar saya selama satu semester ini berfokus pada belajar bahasa Jerman dengan penuh kesungguhan yang teracik dalam proyek Mama lernt Deutch di peta belajar.
Tahap pertama yang perlu saya lakukan adalah membagikan sumber belajar yang saya pelajari di pekan ini. Ada dua potluck yang saya bagikan, yang pertama mengenai menetapkan fokus. Tema ini menjadi salah satu subtopik dalam peta belajar saya. Saya perlu fokus tinggi untuk menjalankan proyek yang sudah ditetapkan agar keseimbangan dalam menjalankan beragam peran pun bisa tetap terjaga.

Terkait praktik menetapkan dan menjaga fokus, saya menjalankan dengan berupaya melakukan manajemen waktu yang detail dan disiplin menaatinya. Jika saya disiplin dengan kandang waktu yang ditetapkan maka memudahkan saya beralih hari dengan target yang baru dan ini melegakan. Maka menerapkan komunikasi asertif agar aktivitas serondolan tidak mudah masuk juga menjadi sebuah keterampilan yang perlu saya kuasai.

Potluck kedua yang saya bagikan adalah sumber ilmu yang berkaitan langsung dengan proyek Mama lernt Deutsch. Dua website yang menjadi langganan untuk didatangi saat perlu berlatih soal (terutama saat menjelang tes kemarin).
Setelah menghidangkan potluck,  tugas berikutnya adalah mencari camilan di hutan belantara. Saya menyadari bahwa proyek saya cukup spesifik sehingga akan sangat jarang ditemui camilan yang sesuai. Namun setelah menyusuri satu demi satu potluck, saya tertarik dengan potluck dari mba Syifa Achyar yang berisi ulasan buku The Power of Planning yang ditulis oleh mba Karina Nurin. Setelah itu saya mulai mengisi kolom berikutnya.

Aku tahu tentang :
Saya mengisi kolom tersebut dengan ilmu-ilmu yang sudah saya pelajari dan praktikkan seperti :
  • Bahasa Jerman level A1-A2 yang saya pelajari di lembaga kursus selama tahun 2019 lalu
  • Talents Mapping berbekal training TM Basic dan TM Dynamic yang sudah saya ikuti dan baca bukunya, juga pengalaman mengasesmen diri dan orang lain.
  • Makhorijul Huruf dari kelas Tahsin Rumah Tajwid Luar Negeri dan kelas Tahsin offline untuk pengajar TPA Masjid As-Salam WAPENA

Juga pelajaran yang saya ambil dari proses menjalankannya, antara lain :
  • Manajemen waktu ibu diaspora dengan tantangan uniknya
  • Mengelola TPA masjid Indonesia di kota Wina
  • Memilih dan mendaftarkan anak ke Sekolah Dasar (Volksschule) di kota Wina
  • Ragam aktivitas anak usia 0-6 tahun di kota Wina
  • Pengelolaan sampah di kota Wina

Sedangkan untuk kolom berikutnya,
Aku ingin tahu tentang :
Saya berfokus pada peta belajar dan proyek yang sudah saya tuliskan. Sehingga saya ingin mempelajari mengenai strategi totalitas dalam belajar bahasa Jerman terutama mengenai focus! act more! do it now! ontime!. Untuk poin utamanya, saya ingin belajar bahasa Jerman level B1 dan B2 juga lancar berkomunikasi  berbahasa Jerman.
Beberapa buku yang mayoritas meminjam dari perpustakaan untuk amunisi belajar bahasa Jerman

Pembuatan peta belajar sangat membantu diri untuk fokus dan menahan diri untuk menggelengkan kepala untuk menolak potluck yang menggiurkan namun belum menjadi prioritas saat ini. Sedangkan kolom-kolom yang disediakan untuk dituliskan jawabannya membantu diri untuk mengidentifikasi jejak belajar yang selama ini sudah dijalankan dan kebutuhan belajar yang mendukung tercapaikan proyek yang sudah dicanangkan di peta belajar.
Duhai diri yang sedang menjelma menjadi ulat pembelajar, makanlah sesuai kebutuhan, kunyah hingga lembut dan cerna hingga terpenuhi kebutuhan nutrisimu dengan optimal. Selamat bertumbuh!









Monday, 13 January 2020

Mama lernt Deutsch, Proyek Diri di Kelas Bunda Cekatan


Membuat sebuah peta belajar bukanlah sebuah hal mudah, namun bagi saya yang lebih tidak mudah adalah menentukan urutan prioritas tahap belajarnya. Menilik apa yang sudah saya jalankan di tahun-tahun kemarin, mudah bagi saya untuk membuat sebuah gambaran besar, namun saya kesulitan untuk membaginya dalam sebuah porsi-porsi kecil yang spesifik dan detail. Saya seringkali merasa semua hal penting dan semua hal harus dikerjakan segera sehingga berjalan multitasking dan mendapatkan hasil yang biasa saja atau tidak sampai tuntas banget.

Kali ini, di kelas Bunda Cekatan saya ingin mengerjakan hal penting dan mendesak untuk saat ini dengan detail dan penuh kesungguhan. Proyek yang saya jalankan adalah :



Atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya adalah ibu belajar bahasa Jerman.
Di tahun 2019 lalu, saya sudah menjalankan kursus selama dua semester, di level A1+ dan A2. Satu tahun berproses belajar bahasa membuat saya bahagia. Saya antusias setiap kali pergi ke Deutschkurs, mengerjakan tugas maupun bertemu materi yang belum saya pahami. Karena benefit  dari kepahaman berbahasa sangat saya rasakan, memudahkan dalam segala hal. Kefasihan berbahasa membuka peluang untuk menjalin jejaring pertemanan baru, mendapatkan pengalaman belajar yang belum pernah didapatkan sebelumnya hingga menaikkan level kepercayaan diri dalam bersosialisasi. Di tahun ini saya perlu belajar bahasa Jerman hingga level B2. Dan untuk bisa sampai ke sana, bukahlah hal yang mudah untuk saya. Perlu ada tekad, dedikasi dan kegigihan.
Menilik kembali telur hijau, telur merah dan telur oranye yang sudah saya tetapkan, semua masih on track. Proyek Mama lernt Deutsch ini menjadi praktik penerapan ilmu-ilmu penting dan mendesak yang saat ini perlu saya kuasai dengan segera.
Berikut mindmap proyek saya :

InsyaAllah dengan peta belajar ini saya siap menjelajah ke hutan pengetahuan. J

Tuesday, 7 January 2020

Temukan Tujuan dan Cara Belajarmu, Belajarlah dengan Merdeka


Perjalanan penulisan jurnal telur oranye ini cukup panjang. Pertama, saya menyimak materi dan diskusi live bersama bu Septi dan mencatat beberapa poin penting. Kedua, saya tergelitik untuk menggali pemahaman mengenai ilmu dan keterampilan. Saya bertanya-tanya, mengapa ilmu-ilmu yang dibutuhkan (telur oranye), digali dari keterampilan – keterampilan (telur merah) yang ingin dikuasai? Bagaimana menentukan sesuatu sebagai keterampilan atau ilmu? Bukankah ilmu-ilmu yang saling berkaitan berkumpul dalam sebuah rumpun ilmu? Semisal saat kuliah S1 saya mengambil jurusan Teknologi Pangan, maka saya mempelajari ilmu Mikrobiologi, Bioteknologi, Kimia dan setiap ilmu tersebut ada spesifikasinya lagi seperti untuk Mikrobiologi ada mata kuliah Mikrobiologi Umum dan Mikrobiologi Pangan.
Lalu apa makna ilmu dan keterampilan di sini? Apakah sebuah ilmu itu memang merupakan bagian dari sebuah keterampilan? Pencarian makna ini berkutat di kepala selama beberapa hari. Di sini saya sedang mempelajari hal baru dalam sebuah pembelajaran baru. Maka pemaknaan yang digunakan bisa jadi berbeda dari makna yang sudah saya pahami sebelumnya. Perlu ada proses adaptasi dalam pola berpikir saya, maka saya menggali kembali, mencari pemaknaan di proses belajar kali ini. Pemaknaan ini bagi saya merupakan sebuah hal yang krusial, karena menjadi dasar daam sebuah alur berpikir. Maka merujuklah saya pada KBBI. Menurut KBBI, ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan keterampilan adalah kecakapan dalam menyelesaikan tugas, mampu dan cekatan.
Definisi yang saya dapatkan di atas, nampaknya cukup dapat menjawab makna dan hubungan antara keterampilan dan ilmu di kelas bunda cekatan ini. Sebuah ilmu tentu bersinggungan dengan ilmu lainnya, pun memiliki turunan ilmu yang kompleks. Seorang yang terampil bukan hanya seorang yang menguasai ilmu tertentu, namun ilmu-ilmu yang dimiliki dapat saling terintegrasi dan teraplikasikan dalam sebuah aksi nyata yang memukau. Artinya, saya sedang mendeteksi kebutuhan ilmu-ilmu yang saya perlukan untuk dapat cakap menjalankan peran hidup diri saya.
Proses belajar secara merdeka sangat saya rasakan di sini. Saya tidak disuapi dengan materi-materi (outside in) namun diajak untuk mengenal diri dan menggali kebutuhan belajar diri, hingga diberi keleluasaan untuk meracik menu belajar ala diri sendiri. Bingung? Pasti. Bongkar pasang? Jelas. Trial Error? Tentu. Learning by doing. Proses ini mengasah kepekaan rasa dan membuat pembelajaran menjadi sebuah proses yang dijalankan dengan bahagia dan mata berbinar, karena berasal dari kebutuhan diri. Dan sepertinya ini memang ciri khas pembelajaran ala Institut Ibu Profesional.
Pemahaman alur proses antara pembuatan telur hijau, telur merah dan telur oranye cukup jelas, dan saya menjadi merasa perlu menggali dan mendaftar keterampilan apa saja yang saya butuhkan juga ilmu-ilmu apa saja yang diperlukan di setiap keterampilan baru kemudian membuat urutan berdasar skala prioritas. Ya, saya perlu membuat sebuah peta belajar untuk merekam jejak pembelajaran selama ini dan merencanakan menu belajar ke depan.
AHA! Membuat peta belajar adalah sebuah perjalanan panjang, bisa dicicil namun tak perlu segera tuntas sekarang. Mungkin perlahan akan saya buat, tapi tidak untuk memenuhi tugas telur oranye ini karena terlalu kompleks. Tak perlu terburu-buru, saya perlu lakukan setahap demi setahap. Dalam pekan ini saya perlu mengarahkan fokus pada tahap menemukan cara belajar. Saya membaca kembali jurnal yang saya kerjakan terkait aktivitas di telur hijau (disini) dan keterampilan di telur merah (disini).

Ilmu yang Berkaitan dengan Keterampilan Prioritas

Dari setiap lima telur hijau dan telur merah, ada satu yang berada di urutan paling prioritas. Yaitu yang terletak di ujung daun. Ya, aktivitas prioritas bagi saya adalah Home Education dan keterampilan yang berada di prioritas utama adalah manajemen pikiran (Mind Management). Ilmu-ilmu yang perlu saya kuasai dalam lima bulan berada di kelas Bunda Cekatan ini saya turunkan satu keterampilan terlebih dahulu, yaitu yang paling prioritas, manajemen pikiran. Berikut lima ilmu yang saya prioritaskan untuk dipelajari selama berada di kelas Bunda Cekatan.
Berikut penjabarannya :

Fokus

Ilmu fokus perlu saya pelajari karena saya menyadari bahwa saya masih sering terdistraksi oleh suatu hal yang tak menjadi prioritas saat itu. Saya perlu belajar strategi menjaga fokus untuk orang yang mudah hilang fokus, bagaimana cara meningkatkan fokus, dan cara menghindar dari godaan distraksi.

Prokrastinasi

Saat sedang mengerjakan sesuatu, merasa ada bahan referensi yang kurang, merasa perlu mencari tahu terlebih dahulu, merasa ada poin penting yang  terlupa. Padahal jadwal untuk mengumpulkan tugas adalah hari ini. Daripada kurang optimal, maka saya tunda pengerjaannya untuk bisa melengkapi hal yang kurang. Namun ternyata, saya tak cukup waktu untuk mengulik dalam hal tersebut saat ini. Ada yang merasakan pola serupa? Kita sama ya. Karenanya, saya merasa perlu mempelajari mengenai prokrastinasi. Apa penyebabnya (agar saya bisa lebih waspada), bagaimana cara pencegahannya, dan strategi untuk berhenti melakukan prokrastinasi atau penundaan. Saya perlu menguatkan prinsip, “Tuntaskan sekarang meski dirasa kurang sempurna. Kau masih punya kesempatan untuk terus memperbaikinya. Sekarang saatnya menyelesaikannya dan beralih mengerjakan tugas berikutnya.”

Cipta Positif

Saat setiap janjian dengan orang lain, kita selalu tepat waktu sedangkan yang lainnya tidak, apakah kita kesal? Alih-alh menggerutu, saya berlatih untuk menepuk pundak sendiri sembari berkata, “Gut gemacht, Mesa! Kamu sudah menjaga konsistensi untuk datang tepat waktu.”
Saat donat yang sedang digoreng menjadi coklat karena api agak besar dan sempat ditinggal karena membantu anak yang sedang di WC, saya merasa kesal. Namun si sulung datang dan berkata, “Donatnya kakak taburi gula ya Mi.” Dan ternyata saat dimakan, rasanya tidak pahit. Ternyata pikiran saya menuju ke arah negatif yang hanya kekhawatiran semata. Bukankah sebenarnya saya tidak perlu kesal, karena ternyata donatnya tetap layak dikonsumsi?
Saya perlu belajar bagaimana melatih diri untuk menjadi pribadi yang senantiasa berpikir positif? Apa penyebab datangnya pikiran negatif? Dimana saja bisa saya dapatkan atmosfer positif? Ini penting bagi saya. Bukankah laku dan ucap kita mencerminkan bagaimana pola pikir diri kita?

Batas Waktu (Cut off Time)

Yaaa…ngga sempat memasak, karena pengerjaan tugas yang saya estimasikan cukup dua jam ternyata perlu waktu empat jam.
Yaaa…telat masuk diskusi Bunda Cekatan, karena durasi beberes rumah ternyata perlu waktu tiga jam. Saya kira dua jam cukup.
Saya perlu mendalami ilmu seputar Cut off Time atau teknik menentukan batas waktu. Apakah durasi aktivitas yang saya jadwalkan sudah realistis? Bagaimana strategi mengatur kandang waktu agar sesuai antara jumlah pekerjaan dan alokasi waktu? Apakah perlu disediakan jeda waktu di setiap pergantian kandang waktu? Bagaimana bersikap tegas dan disiplin pada diri?

Berpikir Bertindak

Tak bisa saya pungkiri, bahwa di setiap amanah perlu alokasi waktu yang saya sediakan tidak hanya untuk bertindak (menulis jurnal, mengikuti perkuliahan, mengajar santri, datang ke Deutschkurs, mengerjakan PR) namun juga berpikir (merencanakan jadwal, merancang kegiatan, menemukan pola). Nah, seringkali ada ide-ide menarik yang terlintas, yang kemudian saya catat. Namun sebenarnya, alokasi waktu untuk mengerjakannya belum saya perhitungkan. Sehingga kemampuan dan kesempatan (alokasi tenaga dan waktu) tidak berbanding lurus dengan keinginan yang terpikirkan. Nah, saya perlu belajar untuk membedakan antara berpikir dan bertindak. Apa yang membedakan berpikir dan bertindak? Mana yang lebih penting, berpikir atau bertindak? Bagaimana mengeksekusi ide hingga tuntas sampai menjadi sebuah aksi?  


Tujuan Belajar

Apa alasan terkuat sehingga saya harus menguasai keterampilan manajemen pikiran?
Karena saya ingin bahagia dalam berproses. Mengatasi faktor penghambat, belajar dengan merdeka dan menemukan misi hidup.

Sumber Ilmu

Tuliskan berbagai sumber ilmu yang bisa saya pelajari untuk menata puzzle ilmu yang saya perlukan.
  • Mempelajari Al Qur’an dan Sunnah.
  • Mendatangi sumber ilmu (ulama dan guru).
  • Mengikuti seminar dan pelatihan.
  • Membaca kitab dan buku.
  • Bergabung dalam kelas belajar baik daring maupun luring.
  • Forum keluarga.


Cara Belajar

Bagaimana cara belajar yang “Mesa banget” sehingga mempercepat proses belajar saya?
Menuntut ilmu secara luring tentu lebih saya utamakan daripada daring. Mendatangi majelis ilmu secara langsung tentu juga merupakan sebuah upaya menjemput keberkahan. Cara belajar yang paling saya sukai adalah belajar intensif dengan guru secara privat atau kelompok kecil yang memungkinkan terjadinya interaksi dua arah. Dengan cara ini, saya bisa menyimak detail setiap materi yang disampaikan guru. Selain itu, saya juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan feedback dari beliau, masukan mengenai pemahaman atau praktik yang saya jalankan setelah mendapatkan ilmu dari beliau tersebut, juga koreksi jika ada yang kurang tepat dan saran bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Saat ini proses belajar demikian berjalan di Deutschkurs (kursus bahasa) yang sedang saya ikuti.
Kalau cara diatas tidak bisa terpenuhi, maka tingkatan cara belajar kedua adalah dengan bertemu langsung dengan guru melalui seminar atau pelatihan. Saat mendatangi seminar dan pelatihan luring, saya merasakan hawa dan semangat belajar yang sangat kuat yang terpancar di dalam ruangan. Menyimak pemaparan narasumber dengan seksama, menghadirkan transfer energi yang nyata, terlebih jika kesempatan bertanya menghampiri. Jawaban yang narasumber sampaikan akan terpatri kuat di ingatan.
Karena saat ini sedang merantau, maka akses untuk mengikuti majelis ilmu secara luring dari para pakar Indonesia tentu terbatas. Teknologi menjawab keterbatasan ini, kesempatan belajar secara daring terbuka luas. Sekalipun daring tentu berbeda dan tidak seoptimal luring namun hal itu jauh lebih baik daripada tidak ada akses.
Untuk daring, saya menyukai cara belajar yang menghadirkan narasumber secara live, seperti cara belajar di kelas Bunda Cekatan saat ini. Memperhatikan gesture, mimik muka adalah hal penting bagi saya, karena dengan demikian saya mengetahui penekanan ada di bagian mana saja. Kesempatan mengajukan pertanyaan dan berdiskusi juga memancing saya untuk mengoptimalkan diri dalam menyerap dan mengolah informasi. Karena untuk bisa mengajukan pertanyaan yang berbobot dan aktif berdiskusi, saya perlu memiiki pemahaman yang baik akan materi tersebut.
Bagaimana jika menggunakan teks? Untuk belajar melalui teks, saya memilih untuk belajar melalui buku. Saat belajar melalui teks, saya membutuhkan informasi yang lengkap dan mendetail untuk mendapatkan ilmu yang utuh, tidak terpotong-potong.
Saat menyimak pemaparan dari guru, akan optimal bagi saya jika saya membuat catatan-catatan penting. Biasanya jika menyimak materi dan diskusi kelas Bunda Cekatan, HP saya gunakan untuk menyimak Facebook live sedangkan jemari saya mengetik di laptop atau menulis di buku catatan. Hal-hal yang terkait penggalian diri, misal bu Septi mencotohkan kebiasaan beliau mengikuti kuliah umum di UI, saat itu juga saya menuliskan pengalaman serupa supaya tidak terlupa seperti misalnya mengikuti workshop guru TK bersama Ayah Edy dengan membawa dua anak, mengikuti kuliah umum mahasiswa Psikologi Universitas Darul Ulum bertema Permainan juga bersama anak-anak. Kemudian saya juga mencatat praktik baik apa yang bisa langsung saya mulai begitu sesi belajar selesai.
Jika materi berlanjut dengan tugas,maka saya mencatat poin-poin penting yang harus saya kerjakan di buku catatan kecil, yang kemudian menjadi kata kunci untuk menemukan ide. Seperti misalnya di telur oranye ini, saya memikirkan perihal ilmu vs keterampilan. Setelah terjawab, beralih ke ilmu-ilmu mana saja yang diprioritaskan untuk dikuasai untuk keterampilan manajemen pikiran. Menggali-gali, tantangan apa saja yang sering saya temui? Apa pencetusnya? Bagaimana strategi ke depan?
Jika belajar dengan cara membaca buku, biasanya saya menyiapkan post it (jika bukunya pinjam dari perpustakaan atau teman) atau spidol warna untuk menandai bagian penting. Kemudian menyalin poin-poin itu ke buku yang saya beri judul jurnal belajar dengan bahasa sendiri. Pada intinya saya perlu mengulang-ulang materi yang sudah tersampaikan untuk semakin meningkatkan pemahaman akan materi tersebut.

Demikian releksi diri saya mengenai cara belajar di telur oranye ini. Semoga Alah tuntun senantiasa pada pemahaman yan benar dan lurus. Aamiin…

Wina, 7 Januari 2020



Wednesday, 1 January 2020

Family Strategic Planning ala Griya Riset Hometeam



Family Strategic Planning yang kami jalankan dimulai dari diri saya secara pribadi. Bakat discipline dan futuristic dalam diri, membuat saya rutin membuat rencana tahunan, bulanan, pekanan hingga harian. Namun jangan dikira praktiknya berjalan mulus. Target digeser ke hari berikutnya karena belum tercapai di hari tersebut, sering terjadi. Target yang tidak berjalan sama sekali pun ada, karena ternyata target tersebut tidak menjadi prioritas selama setahun lalu. Namun bagi saya yang mudah terdistraksi, membuat rencana aktivitas dan target capaian sangat membantu diri untuk fokus pada target yang sudah direncanakan.
Sejujurnya, FSP ini sudah saya gaungkan ke suami dan anak-anak sejak pergantian tahun baru Hijriyah. Namun ternyata kami belum memiliki cukup energi dan alokasi waktu untuk benar-benar membahasnya secara mendalam. Perlu ada waktu jeda dari aktivitas rutin yang tak cukup beberapa jam saja. Dan kesempatan itu baru ada di pekan libur pergantian tahun ini. Si sulung libur sekolah selama dua pekan, kursus bahasa Jerman yang saya jalani pun sedang jeda hingga Februari, aktivitas di komunitas dan kelas belajar yang saya jalani libur selama kurang lebih sepekan. Suami bisa mengalokasikan waktu dua hari tanpa memegang pekerjaan. FSP keluarga kami pun bisa dimulai.

Bagaimana teknisnya?
Sebenarnya materi Family Branding yang kami dapatkan di Mini Perak tahun 2016 lalu cukup menuntun kami dalam hal teknis. Rangkuman materinya bisa disimak di sini. Saya memulainya dengan membuat Mastermind diri sendiri terlebih dahulu, yang mencakup :
Apa yang sudah tercapai di tahun 2019?
Apa yang belum tercapai di tahun 2019?
Apa yang tidak tercapai di tahun 2019?
Secara garis besar, aktivitas saya sepanjang 2019 didominasi oleh kebutuhan belajar bahasa Jerman baik melalui kursus intensif maupun aktif mengikuti kegiatan-kegiatan baik untuk dewasa maupun anak-anak. Selain itu, berkomunitas baik secara luring maupun daring di Taman Pendidikan Al Qur’an Masji As-Salam WAPENA maupun di komunitas Ibu Profesional Non Asia. Dua kegiatan ini mengambil porsi dominan selama tahun 2019.
Terkait menulis, alhamdulillah bersama teman-teman komunitas saya berkontribusi di enam buku antologi bertema pendidikan keluarga dan manajemen rumah tangga.
Untuk mengawali, saya menyampaikan apa yang sudah saya tulis mengenai tiga poin tersebut ke suami dan anak-anak. Suami menanggapi, memberikan masukan juga kritik yang membangun. Oh iya, selama kami menjalani FSP ini, kami meliburkan diri dari aktivitas lain, termasuk tugas domestik. Kami sepakati untuk membiarkan rumah berantakan sementara waktu, makan di tempat makan (tak jauh-jauh dari biasanya, stand kebab dan sejenisnya :D) dan mencari suasana baru di luar rumah. Bagi kami, FSP merupakan bahasan yang cukup sensitif, perlu pikiran yang jernih dan hati terbuka juga kestabilan emosi. Dan kesepakatan diatas merupakan upaya untuk mencapai kondisi tersebut.

Saat giliran suami, beliau mengutarakan dua hal saja. Singkat dan padat. Saya yang menuliskan detailnya. Kami saling menggali, dukungan apa saja yang dibutuhkan untuk mencapai target masing-masing? Bagaimana bentuk kolaborasi satu dengan yang lain? Dan seterusnya.
FSP kami tutup dengan yel-yel sederhana namun penuh semangat,
FSP Griya Riset 2020, SUKSES!


 Semoga Allah mudahkan dan senantiasa tuntun langkah bersama ini. Aamiin.