Sunday, 29 November 2020

Perjalanan Refleksi Diri dan Dokumentasi Kontribusi sebagai Warga Kota

Saya bersyukur di pekan ini kami diberi kesempatan untuk merefleksikan perjalanan selama di kelas Bunda Produktif ini. Secara pribadi saya merasa sesi ini penting, karena bisa kembali melihat tahapan demi tahapan yang sudah dijalani. Mulai dari zona Passion, Character, Habit, dan 4E. Apakah passion sudah bertemu ruang aktualisasinya? Apakah karakter disiplin yang saya ambil sudah terlatih? Apakah habit yang dicanangkan sudah konsisten dijalankan? Apakah aktivitas 4E yang sudah dibuat skala prioritasnya sudah berjalan sesuai prioritas?

Mari kita telusuri satu persatu ya. 

Passionate People

Sudah seberapa fokuskah saya mengasah keterampilan di bidang literasi dan bahasa, yang menjadi fokus saya di kelas Bunda Produktif ini?

Untuk bahasa Jerman, saat ini saya masih aktif mengikuti kursus bahasa Jerman level B2.2 dan sedang mempersiapkan diri untuk ujian bulan Desember depan. Jujur, level ini terasa jauh lebih berat. Penyebab pertama, karena level B2 ini bukan lagi level dasar namun level menengah menuju fasih. Sehingga banyak kosakata baru, pola grammatik baru yang harus dipelajari.  Wajar tapi konsekuensinya adalah saya perlu fokus dan rajin belajar. Penyebab kedua, level ini sebenarnya level loncat. Karena idealnya saya masuk ke kelas B2.1 atau B2.

Sedangkan untuk literasi dan bahasa secara umum, mengikuti kelas Bunda Produktif, memberikan saya ruang untuk terus mengasah passion dengan cara yang lebih menyenangkan baik bagi diri maupun keluarga. Jika saat kursus saya perlu mengalokasikan waktu me time berupa mengikuti pelajaran di kelas maupun mengerjakan tugas yang diberikan layaknya kursus pada umumnya, maka di luar jam kursus saya bisa menjalankan passion dengan melakukan hal yang menyenangkan dengan menjalankan tahapan demi tahapan kelas Bunda Produktif. Bersama tim di Co-House saya juga bisa berkesempatan untuk mendalami literasi melalui belajar hal-hal yang saya minati dan sukai seperti membuat review buku, menulis artikel hingga praktik Read Aloud.

Character Cultivator

Karakter baik itu harus dibangun dan diupayakan. Karakter yang saya pilih untuk saya asah dan perkuat selama di kelas Bunda Produktif adalah karakter disiplin. Jika merujuk pada hasil Talents Mapping, sebenarnya discipline merupakan salah satu dari tujuh bakat terkuat saya dan saya pun merasakan hal tersebut. Namun saya masih ingin mengasahnya hingga kontrol diri berjalan otomatis untuk menjalankan ketetapan yang sudah dibuat diri maupun luar diri.

Sepanjang perjalanan bunda produktif ini, saya masih melatih diri untuk disiplin menjalan peran dengan cara :

  • Membuat prioritas. Kegiatan di kelas Bunda Produktif amat banyak, sedangkan alokasi waktu yang dimiliki terbatas. Maka meskipun semuanya penting, saya perlu mengklasifikasikan berdasarkan prioritas. Saya masih terbata untuk menjaga keseimbangan, seringkali masih belum seimbang antara peran di dalam dan di luar Hexagon City. Maka ini adalah strategi untuk menjaga keseimbangan.
  • Membuat kandang waktu untuk setiap aksi. Kapan waktu mengerjakan habit, kapan hadir ke WAG untuk berdiskusi, kapan hadir di FBG untuk menyimak live dan berkontribusi sebagai warga, kapan mencari dan membaca referensi untuk bahan belajar, dan kapan menulis jurnal.
  • Mengupayakan untuk hadir di diskusi WAG di Zoom maupun di WAG dengan fokus sehingga bisa berkontribusi aktif. Jika terpaksa berhalangan hadir, meminta izin ke leader sebelumnya atau segera setelah bisa menggunakan gawai kembali.
  • Ke depan, saya menerima tantangan leader untuk mengingatkan tim terkait batas waktu pengumpulan beragam tugas ke depan. Dengan demikian saya melatih diri untuk lebih disiplin dan mengajak teman-teman untuk turut menjalankan hal serupa.

Habit Powered

Kebiasaan yang saya latih terkait project passion di milestone ini adalah membacakan dan membuat review buku anak terkait emosi dalam bahasa Jerman. Alhamdulillah standar minimal dari tim yaitu lima review buku berhasil saya setorkan dengan tepat waktu, meski sebenarnya target pribadi saya adalah delapan buku. Namun mencukupkan mencapai standar minimal tim adalah strategi untuk berdamai dengan kondisi yang saat itu penuh tantangan. Alhamdulillah.

Terkait kebiasaan membacakan buku berbahasa Jerman, hingga saat ini alhamdulillah masih terus berjalan, karena memang membacakan buku merupakan jadwal rutin harian bersama anak-anak. Pekan ini kami baru saja tuntas melaksanakan milestone 1 dan bersiap melangkah ke milestone 2 dengan kebiasaan yang berbeda juga.

Shining 4E

Zona 4 E ini menguatkan langkah dalam mengklasifikasikan aktivitas sesuai prioritas. Perlu menjaga fokus untuk mencapai target, baik itu target pribadi yang tercanangkan sejak awal mengikuti kelas Bunda Produktif, target bersama berupa project passion pun kontribusi sebagai warga Hexagon City. Salah satu hasil kontemplasi perjalanan diri, seringkali saya gagal untuk menggapai sebuah tujuan karena saya kehilangan fokus, mudah terdistraksi sehingga berbelok arah melakukan hal lain yang bukan merupakan tujuan yang diprioritaskan sejak awal. Kali ini saya ingin melatih diri untuk lebih fokus, tidak mudah terdistraksi pada hal-hal di luar prioritas.

Apa bentuk kontribusi sebagai warga Hexagon City?

Gambar 1. Bukti kontribusi sebagai warga kota

Perkembangan Hexagon City teramat pesat. Sangat terasa langkah kota virtual ini sebagai sebuah kota yang produktif, dinamis dan canggih. Setiap jadwal membuka FBG, saya dibuat terkagum-kagum dengan inovasi yang terus bermunculan. Belum tuntas menyimak parade project passion, hadir Hexa-Link dan Hexa-Market yang memfasilitasi warga bertransaksi produk maupun jasa. Hexa-News pun rutin muncul setiap pekannya. Keaktifan kota menunjukkan pembangunan yang terus berjalan, sekaligus bukti bahwa setiap potensi dan passion terwadahi dengan optimal.

Setiap warga bisa jadi memiliki definisi bentuk keaktifan kontribusi sebagai warga yang beragam. Nah, di pekan ini tim City Leader dan tim formula memberikan panduan standar minimal yang baku sehingga memudahkan warga untuk menjaga fokus dan memenuhi standar kontribusi. Yaitu dengan bergabung di Hexa-Link, Hexa-Market, follow akun Instagram, Fanpage Facebook juga Youtube Hexagon City serta memberi komentar di postingan parade Project Passion.

Tawaran yang banyak, kesempatan yang beragam, yang kesemuanya terlihat menarik, sedangkan alokasi waktu terbatas sehingga saya perlu menjaga fokus dan bergerak sesuai prioritas. Maka saya memohon perlindungan Allah, agar dijaga dan dituntun untuk bisa senantiasa meluruskan niat dan menjaga keikhlasan dalam setiap langkah. Semoga menggapai rida Allah. Aamiin. 

Monday, 23 November 2020

Dua Kunci Ibu Berkarya, Fokus pada Prioritas dan Membangun Kebiasaan Baru

Bismillaahirrohmaanirrohiim…

Setiap usai mendapat materi di kelas belajar Ibu Profesional, selalu saya upayakan untuk menarik korelasinya tidak hanya untuk pengerjaan tugas jurnal, namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk saat memasuki tahap Enjoy, Easy, Excellent, Earn (4E) di kelas Bunda Produktif kali ini. Zona 4E dibuka dengan pemaparan materi dari bu Septi Peni Wulandani seputar melatih kebiasaan baik.

Gambar 1. Cara Kita Bekerja


Sebuah kebiasaan kecil memiliki dampak yang besar. Analogi yang diberikan mengambil referensi dari buku Atomic Habit oleh James Clear. Karena saya belum membaca bukunya, berbekal apa yang bu Septi sampaikan di materi live, sampailah saya pada website milik James Clear dan membaca beberapa artikel seputar kebiasaan yang ditulis beliau. Menarik!

Alih-alih memulai sebuah kebiasaan baru dengan sebuah gebrakan besar, kita mulai saja melakukan sebuah hal sederhana, yang ringan dan realistis untuk mulai kita lakukan. Karena ternyata motivasi yang kita miliki juga pasang surut. Sehingga, memulai perubahan dengan sebuah kebiasaan yang ringan akan lebih mudah diasah konsistensinya. Ah, saya jadi teringat ketidakkonsistenan saya dalam mengisi aplikasi Habit Tracker yang sudah saya pasang di aplikasi Gewohnlichkeit. Tak apa, ini pengingat untuk memperbaiki dan merutinkannya kembali.

Gambar 2. Memulai Kebiasaan dengan Hal Sederhana 
Sumber gambar : https://jamesclear.com/habit-guide

Selain memulai kebiasaan dari melakukan hal sederhana, poin kedua yang James Clear sampaikan adalah tingkatkan kebiasaan dengan hal yang sangat kecil. Setelah diingatkan untuk jangan memulai kebiasaan dengan melakukan sebuah gebrakan besar, selanjutnya adalah jangan muluk-muluk dalam melakukan perbaikan. Supaya tidak keburu merasa berat, enggan, atau berputus asa. (eh, itu aku aja mungkin ya? hehe)

Gambar 3. Perbaikan Kecil Berdampak Besar 
Sumber gambar : https://jamesclear.com/habit-guide

Sebenarnya poin yang disampaikan ini sudah tak asing di telinga. Sebagai umat muslim tentu tak asing dengan pengingat sebagai berikut "Barang siapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barang siapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang celaka." atau „Barang siapa yang dua harinya (hari ini dan kemarin) sama maka ia telah merugi, barangsiapa yang harinya lebih jelek dari hari sebelumnya, maka ia tergolong orang –orang yang terlaknat.“ Ya, bukankah seorang muslim yang tangguh adalah mereka yang terus melakukan perbaikan berkelanjutan setiap harinya? Karena mereka tak mau merugi atau bahkan celaka.

Bahasan Atomic Habit  hasil penelusuran saya di website James Clear saya cukupkan di dua poin itu dulu, Selain karena cakupan materi di zona 4E ini adalah seputar hal tersebut, saya juga masih perlahan mencerna artikel demi artikel terkait kebiasaan di situ. Sepertinya buku Atomic Habit ini perlu masuk wishlist nih! Nah, lalu bagaimana dengan Identity based Habits atau Outcome based Habits? Bu Septi menyampaikan perbedaan keduanya adalah, jika Identity based Habits maka dimulai dengan mencanangkan identitas diri. Kemudian memetakan kebiasaan untuk mencapai identitas tersebut. Tolok ukurnya adalah perubahan diri dari waktu ke waktu. Sedangkan Outcome based Habits basisnya adalah hasil. Mencanangkan target kemudian memetakan kebiasaan untuk mencapai target tersebut. Tolok ukurnya adalah hasil atau karya. Sehingga kuncinya adalah improvisasi yang berkelanjutan sehingga tak berhenti.

Saya merasa tak ada yang lebih baik diantara keduanya. Akan optimal jika keduanya dipilih berdasar karakteristik diri seseorang. Pun adalah sebuah hal yang saya rasa memungkinkan, jika ada yang ingin mengkombinasikan keduanya. Misalnya, identity atau identitas saya pasang menjadi tujuan akhir dalam perjalanan mengasah jam terbang atas passion ini. Sedangkan outcome atau hasil menjadi target berjangka yang saya pasang selama proses tersebut. Saya mencoba membuat contoh dari praktik kebutuhan diri saat ini :

Identitas yang sedang diupayakan : seorang yang fasih bahasa Jerman

Kebiasaan yang dilatihkan : belajar bahasa Jerman dua jam setiap hari dalam bentuk : mengikuti kursus intensif; bergabung dalam forum belajar bertema Islam, perempuan atau keluarga dalam bahasa Jerman; membaca buku berbahasa Jerman; menonton film berbahasa Jerman dan sebagainya.

Hasil yang ingin dicapai saat ini : lulus OeSD B2 Pruefung

Nah, capaian yang dicanangkan tersebut terus diperbarui sehingga menjadi anak tangga untuk mencapai tujuan akhir yaitu identitas diri. Seiring proses, kebiasaan yang dilatihkan pun bisa jadi berubah bentuknya menyesuaikan capaian outcome. Wallhu a’lam. Saya pun masih perlu mengulik lebih dalam terkait pemahaman mengenai poin tersebut.

Bagi saya secara pribadi, setiap materi yang disampaikan sebagai pembuka zona baru ibarat pijakan yang perlu saya miliki sebelum membuat rencana aksi dan melangkah. Maka setelah usai menyimak materi dari bu Septi, penting bagi saya untuk mencari referensi terkait mengenai bahasan tersebut sehingga saya bisa memiliki pemahaman yang utuh dan menyeluruh sebelum berpindah ke ranah diskusi kelompok, praktik dan menuliskan jurnal. Jika tidak, maka saya merasa bingung saat mengaitkan satu dan lainnya.

Bagaimana dengan pengerjaan project passion terkait aktivitas 4E? 

Kami memulai langkah dengan mendata aktivitas pribadi terlebih dahulu, mengidentifikasi mana saja aktivitas yang 1E, 2E, 3E hingga 4E. Kemudian memilih beberapa aktivitas yang menjadi prioritas dalam pengerjaan project passion (hal yang erat kaitannya dengan kerja tim) untuk menjadi bekal dalam diskusi tim.

Maka sebelum masuk di diskusi kelompok, saya mendata aktivitas yang saya kerjakan di Hexagon City secara keseluruhan, baik yang sudah dikerjakan, sedang berjalan maupun estimasi pekerjan ke depan :

  1. Menulis jurnal belajar (3E)
  2. Menjadi anggota aktif Co-House (2E)
  3. Merumuskan project passion (3E)
  4. Membaca nyaring buku anak berbahasa Jerman (2E)
  5. Membuat ulasan buku anak berbahasa Jerman (2E)
  6. Mendata kosakata bahasa Jerman-Indonesia terkait emosi (3E) √√√
  7. Menulis artikel pratik Read Aloud di kota Wina, Austria (3E) √√
  8. Membuat video Read Aloud (1E) √√
  9. Menjadi tim editor e-book project passion (3E) √√√√

Setelah mendata aktivitas, mengidentifikasi 4E-nya dan menentukan prioritasnya, maka ada enam aktivitas prioritas saya untuk tim :

  1. Membaca nyaring buku anak berbahasa Jerman
  2. Membuat ulasan buku anak berbahasa Jerman
  3. Mendata kosakata bahasa Jerman-Indonesia terkait emosi
  4. Menulis artikel praktik Read Aloud di kota Wina, Austria
  5. Membuat video Read Aloud
  6. Menjadi tim editor e-book project passion

Gambar 4. Roadmap Personal 4E

Setelah merumuskan aktivitas prioritas pribadi, maka kami menjadikan ini sebagai bekal diskusi di Co-House. Berpadu dengan daftar kebiasaan yang sudah dijabarkan dari milestone 1 hingga milestone 4, kami diskusi menentukan rumusan aktivitas 4e tim. Berikut hasil diskusi kelompok kami :

Gambar 5. Roadmap Project Passion 4E to Nation

Maka, inilah saya dengan aktivitas prioritas yang sudah saya pilih untuk saya jalankan dengan bahagia selama berada di Hexagon City :

Gambar 6. Aktivitas 4E Prioritas Pribadi selama di Hexagon City

Lalu, bagaimana perkembangan situasi terkini di Hexagon City?

Layaknya sebuah kota riil, kota virtual Hexagon City yang menaungi kami para Hexagonia yang saat ini berjumlah sekitar 900 orang terus menjalankan pembangunan infrastruktur dan sarana. Pekan ini banyak sekali kejutan yang disampaikan oleh City Leader terkait fasilitas-fasilitas yang akan hadir untuk menyuplai kebutuhan Hexagonia dan mendukung pengerjaan project passion sekitar 90 Co-House. Hexa-News hadir dua kali setiap pekan untuk menyampaikan berita aktual seputar aktivitas di Hexagon City. Mulai pekan lalu, parade project passion-pun berlangsung semarak. Kemudian, aka nada Hexa-Market untuk memfasilitasi transaksi produk-produk hasil project passion para warga. Juga Hexa-Link untuk menaungi karya project passion warga yang berupa jasa. Teknis detailnya pun masih menjadi kejutan yang dinanti kelanjutannya oleh setiap Hexagonia.

Nah, setelah berproses, insight apa yang saya temui di zona 4E ini?

Belajar untuk menjaga fokus dan keseimbangan.

Sedari awal, sudah diingatkan oleh bu Septi, bahwa kelas Bunda Produktif ini jelas lebih berat dari kelas belajar sebelumnya. Perjalanan semakin menanjak, namun kita bisa terus menjalankannya dengan bahagia jika paham strateginya. Saya bersyukur di zona 4E ini kami diajak belajar menentukan dan menjalankan prioritas. Saya kembali mencari benang merah antara pengerjaan tugas kelas Bunda Produktif dengan peran yang sedang dijalani di dunia nyata. Menarik keterkaitan antara habit yang dilatihkan dengan proyek belajar bahasa Jerman, menghubungkan habit Read Aloud dengan upaya membangun keluarga sadar literasi, menemukan korelasi antara mengerjakan project passion bersama dengan tantangan yang sering dihadapi saat berkomunitas dan bermasyarakat.

Kembali menata kandang waktu dan prioritas dalam menjalankan peran diri.

Lagi-lagi saya bersyukur memiliki rekan-rekan Co-House sebagai sebuah support system. Kami belajar mengutarakan dengan jujur dan terbuka dalam meet up via Zoom yang berlangsung hari Sabtu dua pekan lalu. Kami sama-sama merasa kewalahan, terengah-engah dengan pola yang ada. Maka kami sepakat untuk menjalankan pola baru, yaitu dengan menuntaskan tugas jurnal sesegera mungkin setelah tugas diberikan tim formula. Setelah itu baru melanjutkan diskusi seputar perjalanan project passion. Kami pun belajar komunikasi produktif di WAG, yaitu dengan memendekkan jangka waktu diskusi sehingga bahasan WAG tidak stagnan dan berlarut-larut. Bagi yang ketinggalan, dipersilakan menyetor jawaban ke ketua atau sekretaris. Secara pribadi, saya merasa pola ini lebih efektif, efisien dan adil bagi semua pihak.

Alhamdulillah jurnal zona 4E tertunaikan sudah, semoga menjadi anak tangga kebaikan, menuju rida Allah. Aamiin.

Wien, 24 November 2020

Sumber bacaan :

https://jamesclear.com/habit-guide

https://jamesclear.com/identity-based-habits

 

 

 

 

 

 

 

Monday, 16 November 2020

Muffin Coklat Sederhana : Camilan Praktis Kesukaan Anak-Anak

 




Muffin adalah salah satu camilan favorit di rumah. Selain bikinnya simpel, bisa melibatkan anak-anak dari awal hingga akhir proses, rasanya pun enak. Biasanya bikin muffin vanilla. Dulu pernah sekali bikin muffin coklat, tapi kurang oke rasanya. Muffin juga jadi salah satu pilihan camilan yang dibeli di toko, anak-anak suka produk muffin Billa. Tapi tetap lebih enak, sehat dan hemat kalau bikin sendiri ya. Nah, kali ini kami mencoba membuat lagi muffin coklat untuk bekal bermain di luar rumah. Mengadaptasi resep muffin coklat dari akun Cookpad @Sumayyah_Mudzakkir.

Bahan kering :

  • 200 gr tepung terigu/weizenmehl glatt
  • 1 sdt baking powder/backpulver
  • 3 sdm coklat bubuk (saya pakai Nesquik Kakao)

Bahan basah :

  • 150 ml susu cair
  • 100 gr gula pasir
  • 5 sdm minyak goreng
  • 1 butir telur

Cara membuat :

  1. Panaskan oven suhu 200 derajat celcius
  2. Masukkan bahan kering ke dalam satu wadah, aduk merata dan buat lubang di bagian tengah.
  3. Masukkan bahan basah yang sudah diaduk merata, ke bahan kering. Aduk sebentar menggunakan garpu atau whisk. Jangan terlalu lama agar tidak overmix. Jika masih terlihat ada grenjelan tepung, tak masalah.
  4. Tuang adonan dalam cup. Cukup sepertiga dari cup karena adonan nanti akan mengembang.
  5. Panggang selama 25-30 menit sembari perhatikan secara berkala supaya matang merata.
  6. Selamat mencoba.

 

Monday, 9 November 2020

Strategi Melatih Kebiasaan Baik dalam Sebuah Project Passion

Bismillahhirrohmanirrohim…

Menulis kembali jurnal Bunda Produktif setelah pekan lalu tak menuliskan perjalanan dalam bentuk jurnal. Sejak pekan lalu, kami berjibaku di Zona Kebiasaan atau Habit Zone. Habit atau kebiasaan tentu identik dengan kegiatan berulang. Namun dalam dua pekan ini kami tak sekadar melakukan kegiatan berulang, namun juga merumuskan milestone selama roadmap Project Passion. Sebelum membahas mengenai hasil diskusi kelompok, mari kita ulas mengenai makna kebiasaan atau habit.

Kebiasaan dan Cara Melatihnya

Habit to Nation

Begitu tagline di Zona Kebiasaan kali ini. Sebelum memutuskan kebiasaan apa di milestone  1 yang akan saya latihkan dalam diri, saya tergerak untuk mengulik makna kebiasaan. Proses mengulik makna ini bagi saya merupakan hal penting, karena menjadi pondasi langkah sebelum bergerak. Menguatkan strong why diri, alasan saya melakukan suatu hal. Nah, mari sejenak kita mengulas mengenai kebiasaan.

Agus Sukaca dalam buku The 9 Golden Habits for Brighter Muslim memaparkan bahwa kebiasaan adalah perbuatan yang dilakukan berulang-ulang tanpa dipikir-pikir lagi. Pusat kendali kebiasaan berada dalam memori tersirat. Suatu perbuatan yang dilakukan berulang baik perbuatan baik atau buruk, lambat laun akan menjadi kebiasaan. Semakin sering diulang, semakin cepat prosesnya. Ada ahli yang mengatakan bahwa perlu pengulangan sekurang-kurangnya sembilan puluh hari berturut-turut tanpa jeda. Tingginya intensitas dan frekuensi pengulangan akan mengakibatkan perubahan kimiawi dan anatomis pada bagian otak tertentu. Kebiasaan baik lebih sulit dibangun ketimbang kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk biasanya diiringi kenyamanan saat melakukannya, tetapi tidak nyaman hasil akhirnya.

Dalam buku Terapi Berpikir Positif, Dr. Ibrahim Elfiky menyatakan bahwa kebiasaan terbentuk melalui enam tahapan, yaitu

Berpikir

Seseorang memikirkan sesuatu, memberi perhatian dan fokus pada hal tersebut. Sesuatu itu bisa ada dalam pikiran karena dianggap penting. Misal, saat ada tantangan pelaksanaan kebiasaan (habit) yang berkaitan dengan project passion Co-House kelas Bunda Produktif saya berpikir untuk mencari buku anak terkait topik emosi.

Perekaman

Saat berpikir, otak merekam. Otak membuka file sejenis dan menghubungkan dengan pikiran-pikiran lain yang sejenis atau memiliki keterkaitan. Misal, saat muncul ide aksi tantangan habit, memori mengenai tantangan 30 hari yang saya jalankan di kelas Bunda Cekatan lalu pun muncul. Saat itu karena peta belajar saya adalah belajar bahasa Jerman, saya memilih untuk membacakan buku anak berbahasa Jerman selama 30 hari berturut-turut dan membuat ulasannya. Saat ini bidang yang saya ambil di kelas Bunda Produktif pun masih sama, bahasa Jerman. Maka rencana aksi tantangan habit saya adalah mencari buku anak berbahasa Jerman terkait topik emosi, kemudian melakukan Read Aloud dan membuat ulasannya. Di titik ini saya bersyukur karena merasa menemukan benang merah antara perjalanan kelas Bunda Produktif, bidang yang sedang saya tekuni, dan proses pendidikan keluarga.

Pelaksanaan

Anda melakukan seperti apa yang Anda pikirkan. Misal, setelah membuat rencana aksi, saya pun melakukannya.

Penyimpanan

Pengalaman Anda melakukan hal tersebut, direkam oleh otak dan disimpan dalam file. Otak membuat asosiasi antara cue dan aksi. Misal, saya melakukan Read Aloud antara jam 17.00-20.00 CET. Jam 17.00 adalah waktu seusai salat Maghrib. Maka usai salat Maghrib, saya teringat bahwa saya perlu melakukan Read Aloud.

Pengulangan

Pengulangan membuat pikiran semakin kuat. Pengulangan berkali-kali akan menggeser penyimpanan file ke memori bawah sadar. Dalam tahapan ini, disadari atau tidak, seseorang mengulang kembali perilaku yang tersimpan kuat di akal bawah sadarnya. Ia dapat merasakan bahwa dirinya telah mengulangi perilaku itu atau terjadi begitu saja di luar kemauannya. Setiap kali memori yang tersimpan di akal bawah sadar itu diulang, ia semakin kuat dan mendalam.

Tantangan habit yang sedang saya jalankan pun masih berproses di tahap ini. Saya merasa bahwa pengulangan adalah kunci terbentuknya sebuah kebiasaan baru. Pemaparan ini mengantarkan saya pada AHA moment pentingnya cue atau isyarat untuk sebuah kebiasaan baru yang sedang dilatihkan.

Kebiasaan

Apabila setiap tahapan diatas dilalui disertai keyakinan kuat, maka akan menjadi kebiasaan yang mengakar, sehingga tak mudah goyah. Pada awalnya, kita yang membangun kebiasaan, tetapi kemudian kebiasaanlah yang akan membentuk kita.

Rasulullah SAW. bersabda :

„Laksanakanlah oleh kalian amalan semampu kalian, sesungguhnya sebaik-baik amalan adalah yang dikerjakan terus-menerus (menjadi kebiasaan) meskipun sedikit.“ HR Ibnu Majah.

Hasil Diskusi Kelompok Co-House

Berdiskusi adalah sebuah kebiasaan yang yang identik dengan kerjasama dalam sebuah tim. Jika kami ingin berjalan cepat, maka kami bisa berjalan sendirian. Namun bukan itu esensi yang saya tangkap dari kelas Bunda Produktif ini. Seperti yang bu Septi pernah sampaikan dalam salah satu sesi live di Facebook Group, kelas Bunda Produktif adalah ruang belajar untuk membangun dan menjalankan sebuah komunitas. Maka kerja tim tentu diutamakan di sini. Maka sedari awal setiap anggota perlu mempersiapkan mental untuk senantiasa bekerja sama, berkontribusi aktif, siap dipimpin dan memimpin. Dengan fakta kebutuhan ritme diskusi daring yang ternyata perlu cukup intensif, saya belajar mengelola waktu dan jadwal diri terkait dengan kontribusi saya di kelas ini. Kapan saya mengerjakan kebiasaan, kapan saya mengulik mengenai esensi zona ini melalui membaca buku dan referensi lain, kapan saya mencari ide terkait project passion ini, dan kapan saya berdiskusi bersama teman-teman di WhatsApp Group. Jadwal ini kemudian disinkronisasi dengan jadwal terkait peran lainnya, baik daring maupun luring. Saya juga belajar untuk switch fokus sesuai kandang waktu aktivitas yang sudah saya tetapkan.

Berikut road map perjalanan kami :

 


Berikut hasil diskusi milestone dan habit beserta dengan penanggung jawab tiap milestone dan pimpinan proyek yang sudah disepakati bersama :

Milestone 1

Milestone 2


Milestone 3

Milestone 4
Pimpinan proyek Literaksi Tematik ini adalah mba Sari Juwita atau yang biasa akrab kami panggil mba Wita. Sebagai seorang guru TK, beliau terlibat langsung dengan pendidikan anak usia dini bukan hanya di rumah namun juga di instansi tempat beliau bekerja. Yang mana erat kaitannya dengan kategori sasaran proyek yang sedang kami kerjakan. Sehingga kami bersepakat beliau merupakan orang yang berkompeten memimpin proyek ini. Tentunya didukung sepenuhnya oleh kontribusi aktif setiap anggota.

Kebiasaan yang dikerjakan setiap anggota saat ini terkait dengan milestone 1 yang sedang berjalan. Setelah mulai menjalankan milestone 1 dan berdiskusi bersama, kami mengubah durasi perjalanan milestone 1. Sehingga batas waktu pengerjaan tiap milestone  menjadi sebagai berikut :

Milestone 1 : 27 November 2020 (durasi 25 hari)

Milestone 2 : 25 Desember 2020 (30 hari)

Milestone 3 : 14 Januari 2021 (20 hari)

Milestone 4 : 3 Februari 2021 (20 hari)

Masa akhir kelas Bunda Produktif : bulan Maret 2021

Selanjutnya habit yang dilakukan oleh masing-masing anggota. Saya bahagia karena dengan berdiskusi, kami bisa mengasah empati, merasakan kesulitan yang dirasakan anggota lain dan merumuskan solusi bersama. Ada waktu dimana ada yang kesulitan menemukan buku fisik, maka yang lain membantu mencarikan buku digitalnya di aplikasi perpustakaan digital. Ada juga yang membantu mencarikan buku-buku terkait di aplikasi perpustakaan, kemudian membagikan judul-judul buku tersebut untuk dipakai anggota lainnya sebagai bahan melatih kebiasaan. Saat bekerja dalam sebuah tim, kita tak hanya berpikir mengenai progress pribadi saja, namun juga progress bersama. Dan aksi kita, tak hanya menjadi solusi tantangan orang lain, namun juga menjadi booster proyek bersama ini. Berikut habit setiap anggota yang mengarah pada satu tujuan bersama :

 


Agar tak hilang arah, maka kami menuliskan kembali goals project passion yang sedang kami jalankan ini :

 

Kebiasaan yang saya ambil merupakan benang merah antara kebutuhan belajar diri, kebutuhan pengerjaan project passion dan kontribusi dalam tim. Maka berikut kebiasaan yang sedang saya kerjakan dan latihkan dalam diri :

Setelah berjalan selama sekitar satu pekan, ternyata tak mulus seperti yang saya rencanakan di awal. Dalam Self Evaluation, saya mengidentifikasi keterbatasan diri dan sistem serta berupaya menemukan tindakan koreksi untuk pengerjaan kebiasaan yang lebih optimal ke depannya. Berikut Self Evaluation saya :



Bismillah... memang tak mudah, namun semoga Allah mampukan. Keep on track. Semoga tahap demi tahap belajar di Kelas Bunda Produktif ini menjadi bekal dalam membangun komunitas, langkah untuk semakin berkarya di bidang Literasi dan Bahasa, menguatkan proses belajar bahasa Jerman yang sedang saya jalani saat ini dan senantiasa beriringan dengan perjalanan membangun keluarga Cerdas Literasi di rumah dan lingkungan sekitar. Ujung dari semuanya, semoga setiap upaya yang dijalankan mengantarkan pada rida dan rahmat Allah. Aaamiin.            

 

Wien, 10. November 2020

Mesa Dewi Puspita

Sumber Referensi :

Sukaca, Agus. 2014. The 9 Golden Habits for Brighter Muslim. Yogyakarta. Bunyan.

Elfiky, Ibrahim. 2009. Terapi Berpikir Positif. Jakarta. PT. Serambi Ilmu Semesta.