Saturday, 18 November 2017

Friday, 10 November 2017

Thursday, 9 November 2017

Wednesday, 8 November 2017

Sunday, 5 November 2017

Saturday, 4 November 2017

Merasa Bukan Emak yang Kreatif? Sama. Ini Pengalaman Seru Saya Belajar Kreativitas di Institut Ibu Profesional










Membaca kata diatas sebenarnya saya sudah ciut nyali duluan. Kalau boleh jujur, saya merasa jauh dari kata kreatif.

Mengapa?

Karena saya tidak bisa menggambar, tidak menyukai hal-hal yang berbau seni dan kerajinan tangan, berkeringat dingin kalau diminta untuk menyampaikan ide yang out of the box, serta merasa imajinasi saya tidak cukup untuk bisa berinovasi dan berimprovisasi.

Itulah definisi kreatif bagi saya. Dulu.

Hingga kemudian di tahun 2016 lalu  Allah pertemukan saya dengan teh Sri, founder Hayat School di Rumah Belajar Institut Ibu Profesional Bandung wilayah Cikutra. Saat itu beliau menjadi narasumber diskusi parenting kami bertema Kreativitas Anak. Beliau adalah founder flexischool dan Majelis Kreativitas Hayat School, dan pemikiran beliau banyak didominasi oleh otak kiri. Sebuah konsep yang beliau tularkan dan mengubah paradigma saya saat itu adalah, kreativitas adalah milik semua orang, tak terbatas hanya pada orang-orang berotak kanan dan berjiwa seni tinggi.

Pemaparan beliau senada dengan penjelasan James Clear dalam ebook­-nya yang berjudul Mastering Creativity . Ebook tersebut James Clear susun sebagai sebuah portofolio dirinya untuk membagikan perjalanan belajarnya dan menyampaikan sebuah fakta mengenai kreativitas :

You have brilliance inside of you, but only if you can find the guts and grit to pull it out of yourself
Kata-kata diatas kurang lebih memiliki arti :
Anda memiliki kecemerlangan dalam diri, namun hanya dengan keberanian dan kegigihan Anda bisa mengeluarkannya dari dalam diri Anda.

Oke, pemaparan teh Sri dan om James membuka paradigma baru bagi saya,
Alhamdulillah, ternyata saya masih bisa berproses menjadi orang kreatif meski saya tidak bisa menggambar, pun tidak menyukai seni. Yang perlu saya lakukan adalah mengubah mindset diri.

Bagaimana saya menyusun mindset dan memaknai ulang sebuah kreativitas?
Dimulai dari mendefinisikan kreativitas sesuai versi saya.

Bagi saya saat ini,

Kreativitas adalah sebuah kemampuan seseorang untuk mengeluarkan banyak ide dan gagasan, yang mana ide dan gagasan tersebut dapat diaplikasikan sebagai sebuah alternatif solusi dari tantangan yang muncul dalam kehidupan nyata.

Setelah mendefinisikan kreativitas versi saya, saya mengikuti diskusi mengenai kreativitas di ruang kelas fasilitator bunda sayang Institut Ibu Profesional dan diberi tantangan berupa gambar berikut :


Gambar apa yang tampak?

Seorang teman langsung menjawab LIFT, begitupun jawaban suami saya saat saya kirimkan gambar ini ke beliau? Bagaimana dengan saya?

Saya hanya melihat keping puzzle hitam yang tak bisa disatukan karena bentuknya yang amat beragam. Tulisan LIFT baru bisa terbaca oleh saya saat saya mengikuti instruksi untuk sedikit menjauhkan gambar tersebut dari pandangan.


Di waktu yang tak berselang lama, suami mengirimkan hasil jepretannya pasca jalan-jalan di kota Vienna. Beliau mengabadikan gambar Rathaus, City Hall yang dibidik dari depan pagar berlubang. Di gambar pertama, yang terlihat hanyalah bulatan-bulatan lubang pagar. Namun saat beliau mengubah fokus pandangan, membidik dengan sudut pandang lain, keindahan Rathaus tertangkap oleh kamera. Dengan gambar ini, beliau menekankan pentingnya pemikiran yang kayak persepsi, pentingnya keluasan sudut pandang . Ini menjadi diskusi menarik di family forum kami via WhastApp. Bahwa persepsi, sudut pandang diri akan sebuah hal atau kejadian amat sangat mempengaruhi tindakan seseorang. Maka, memperkaya sudut pandang, melihat sebuah tantangan dari fokus yang berbeda, adalah penting untuk kita lakukan sebelum mengambil sebuah keputusan.

Bagaimana kaitannya dengan memfasilitasi kreativitas anak?

Sebagai orangtua, kita perlu mengubah fokus, menggeser sudut pandang kita hingga memiliki berbagai sudut pandang kreatif dalam melihat aksi anak-anak. Tantangan yang tidak bisa dipungkiri adalah orangtua acapkali berasumsi mengenai tindakan yang dilakukan anak-anak. Saya perlu memperbanyak membuat pertanyaan dengan nada lemah lembut dan tanpa sikap interogasi agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara utuh (CLEAR)  untuk kemudian bisa saya klarifikasi (CLARIFY) maksudnya. Contoh praktiknya kemarin, saat saya menemukan silika gel dan spons yang dimasukkan Raysa ke akuarium milik ayah mertua. Saat saya mencoba menggeser sudut pandang, saya menemukan pemahaman bahwa Raysa sedang mempelajari konsep mengapung dan tenggelam dalam percobaan tersebut. Cerita lengkapnya saya sampaikan disini.

Untuk membiasakan ini, saya perlu berlatih terus menerus. Supaya pemikiran anak-anak terfasilitasi dengan baik, tidak terbatas pada kotak pemikiran dan pengalaman orangtuanya saja.


Apakah langkah diatas sudah cukup?

Untuk membersamai kreativitas anak, ternyata langkah diatas hanya permulaan saja. Dalam materi kreativitas kelas Bunda Sayang, dipaparkan bahwa terdapat tiga hal yang perlu dilakukan untuk menjalankan sebuah proses kreativitas.


Proses tersebut antara lain :
Evolusi
Ide baru dibangkitkan dari ide sebelumnya
Sintesis
Dua atau lebih ide yang ada digabungkan menjadi satu ide baru
Revolusi
Benar-benar membuat perubahan baru dengan pola yang belum pernah ada

Kalau saya telaah ulang, langkah yang sudah saya lakukan sependek ini baru sebatas awalan saja. Belum masuk pada fase menggabungkan ide menjadi sebuah ide baru maupun menyengaja membuat perubahan dengan pola yang belum pernah ada. Bisa jadi, materi ini adalah jalan pembuka untuk memulai dan membiasakannya. Maka, bismillah, kami mulai sekarang. 

Siap menjadi orangtua kreatif? Yuk kita mulai sekarang, bersama-sama!


Sumber Referensi :
Clear, James. Ebook Mastering Creativity. Diunduh dari https://jamesclear.com/ pada tanggal 5 November 2017
Diskusi fasilitator kelas Bunda Sayang bersama Septi Peni Wulandani pada tanggal 29 Oktober 2017
Hasil diskusi tentang pola kreativitas di dalam keluarga oleh Griya Riset, 2017
Hasil membersamai dan proses belajar bersama ananda di keluarga Griya Riset, 2017

#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative


Hanya Mengamati dan Mendengar Saja. Memberi Ruang pada Anak-anak untuk Menyampaikan Gagasannya.






Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan terburu-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara utuh (CLEAR) dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY)). Slide materi Kreativitas kelas Bunda Sayang IIP

Hari ini saya mengamati kejadian yang terjadi pada saya dan anak-anak. Membuka telinga lebih tajam lagi, membuka mata lebih teliti lagi. Untuk dapat membaca kondisi, membaca maksud anak-anak dalam sebuah kejadian.

Beberapa hari ini kami sedang tinggal di rumah mertua. Kebetulan ayah mertua sedang memiliki project membersihkan dan mengecat kandang burung yang dirawatnya. Sejak menjelang siang, Raysa asyik mengamati apa yang dilakukan oleh ayah mertua. Setelah beberapa jam bersama yangkungnya, dia mendatangi saya dengan semangat

R : Ummi, kakak habis nemenin yangkung ngecat kandang sama mandiin burung
S : Ooooh….seru bangeeeet…. Kakak belajar apa aja dari situ?
R : Belajar banyaaak… burungnya mandi jadi bersih. Kandangnya dicat juga
S : Gimana caranya mandiin burung? Pakai selang? Pakai sabun?
R : Ngga…pakai botol kecil, cus…cus…cus…gitu mi
S : Oh…kayak botol semprotan yang dipakai om waktu nyetrika ya?
R : Iya, kayak gitu…
S : Terus burungnya gimana ekspresinya? Ngibas-ngibas sayapnya? Gelng-gelengin kepala juga? (sembari mempraktikkan)
R : Iya mi, kayak gitu…

Dari dialog ini Raysa belajar menyampaikan pengalaman yang baru saja dia dapatkan dan dibagi pada saya. Kami senang menggunakan kata belajar dalam setiap proses, karena belajar memang bisa dari mana saja dan dengan siapa saja, bukan sebuah proses di meja kursi saja.

Hari beranjak senja, di akuarium ayah mertua kami dapati ada sebungkus kecil silika gel dan sekotak kecil spons. Silika gel itu kami ketahui berasal dari makanan yang kemarin kami beli, sponsnya berasal dari tempelan dinding yang terlepas. Ada dua anak kecil di rumah, Raysa dan Faul. Saat mereka sedang bermain balok susun, ayah menanyakan, siapa yang kira-kira melakukannya. Faul lantang menjawab, bukan dia. Saya mengamati gerak-gerik Raysa. Ada salah tingkah yang disembunyikan, mulut yang terkatup rapat dan perhatian yang seolah-solah difokuskan pada permainan yang dia pegang. Saya menahan tawa.

Bertanya saat itu juga pada Raysa bukanlah hal tepat. Bisa jadi saya justru menginterogasinya. Memaksa dia menjawab pertanyaan sehingga membuat dia tidak nyaman. Bertanya di depan orang banyak bukanlah solusi. Untuk apa? Toh saya sudah mendapat jawabannya juga dari gerak-geriknya. Maka saya menunda keinginan saya ini. Masih saya simpan hingga saat ini.

Pikiran saya bertanya-tanya, apa alasan dia melakukan hal tersebut? Hmm… mungkin dia sedang memfasilitasi rasa ingin tahunya. Dia dapati saat memasukkan silika gel ke dalam air, silika gelnya tenggelam. Saat memasukkan spons ke dalam air, sponsnya mengapung. Dimana letak perbedaannya? Mengapa bisa demikian? Bagaimana jika benda lain dimasukkan, apakah akan tenggelam seperti sebungkus silika gel itu atau mengapung seperti spons?

Ah, saya perlu mengklarifikasi hal ini padanya. Bukan untuk memarahi, namun mengajaknya melanjutkan proses belajar hal menarik ini sekaligus meminta maaf pada ayah mertua. Hihi  

#Tantangan 10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative


Friday, 3 November 2017

Mengepel Lantai Dadakan

Usai jeda liburan cawu, kami kembali belajar di kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. Materi yang kami pelajari adalah mengenai kreativitas. Namanya juga belajar kreativitas, penyajian materi yang kami dapatkan pun lain dari biasanya. Usai materi kami dapat, kami diberi tantangan 10 hari sebagai durasi awalan untuk mengamalkan materi kreativitas dalam aktivitas keluarga sehari-hari. Dan tantangan kali ini, membuat kami untuk berpikir kreatif. hihihi

Apa tantangan di level #9 ini?

Kami diminta untuk membuat solusi kreatif dari tantangan sehari-hari
Yang bagaimana?
  • Yang berbeda dari biasanya
  • Pilih yang lebih menarik
  • Temukan yang lebih meningkatkan bonding dalam keluarga
  • Cari yang lebih efektif dan efisien

Dan hari ini, kami mulai mengerjakan tantangan hari pertama. Agenda hari ini adalah memperbarui SKCK di POLDA Surabaya. Diantar ibu dan bapak mertua, kami bisa berangkat sesuai rencana, pukul 05.30. Di kendaraan, anak-anak menikmati perjalanan dengan terlelap, menyiapkan energi untuk belajar di POLDA nanti. Jam menunjukkan angka 07.50 saat kami tiba disana. Petugas-petugas POLDA mayoritas berseragam olahraga, usai menunaikan agenda rutin di Jum’at pagi.

Ibu menggendong Ahsan dan memilih untuk menunggu di area masjid, begitupun dengan Raysa. Saya bergegas masuk ke ruangan pelayanan SKCK, mengambil nomor antrian dan menuju loket pelayanan SKCK. Ini adalah kali ketiga kami ke tempat ini, jadi sudah cukup terbayang proses yang terjadi nanti. Saat di loket pelayanan, saya menyerahkan dokumen yang diminta, dilanjutkan dengan mengisi form isian yang sudah disediakan. Karena SKCK yang diperbarui adalah milik saya dan suami, maka kolom-kolom yang perlu saya isi pun dua kali lebih banyak. Di sela-sela pengisian, ayah masuk ke ruangan bersama Raysa. Ternyata Raysa meminta untuk menemani saya di ruangan pelayanan sedangkan ayah bersama ibu dan Ahsan menunggu kami di kantin.

Saya keluarkan camilan dan minuman dari tas dan meletakkannya di dekat Raysa, kemudian dia meminta saya untuk membukakan botol minum karena dia belum kuat membukanya. Setelah itu, saya kembali tenggelam dengan form isian. Seusai mengisi form, saya langsung menuju loket pelayanan yang mana di saat itu juga petugas langsung memberikan SKCK saya dan suami. Alhamdulillah, proses berlangsung cepat. Saya bergegas menuju kursi tempat Raysa menunggu. Eits…ada apa ini, basah di beberapa tempat dan botol minum yang awalnya penuh, tersisa sedikit saja? Hooo…ternyata minumannya tumpah ke lantai.

Raysa menatap saya lekat-lekat. Sambil mengambil nafas panjang, saya berkata, “Yuk, kita bereskan bersama.” Melihat respon saya, dia tersenyum bersemangat. Qodarullah, tisu yang ada di tas adalah tisu basah. Baiklah, kita bersihkan dengan tisu basah tersebut. Saya mengepel dari belajang kursi, Raysa mengepel dari depan kursi. Saat Raysa mengepel, ternyata seorang pria yang duduk di barisan kursi depan mengamati Raysa dan berbisik pada wanita di sebelahnya. Saya mencoba bertanya pada mereka, apakah ada yang membawa tisu dan bolehkah kami memintanya? Alhamdulillah, wanita tersebut membawa dan mempersilahkan kami menggunakan tisunya.

Sembari mengepel, saya berbicara pada Raysa, “Kalau menumpahkan sesuatu, haruuuuus….” Raysa menjawab dengan antusias, “Bertanggung jawaaaaab!” Tak lama, lantai bersih kembali. Kami bergegas berkemas, Raysa mengembalikan tisu dan tak lupa kami mengucapkan terimakasih.

Fasilitas umum adalah fasilitas yang bisa kami gunakan dengan gratis, pun kami bertanggungjawab juga untuk menjaganya. Hari ini Raysa belajar menjaga fasilitas umum, juga semakin memahami bahwa melakukan kesalahan adalah hal wajar, poin pentingnya adalah kita belajar dari kesalahan tersebut dan bertanggung jawab atas kesalahan yang kita lakukan itu.

Kreativitas hari ini mungkin belum menciptakan sebuah hal baru. Namun menaklukkan tantangan yang menghadang dengan kepala dingin dan fokus pada solusi, juga merupakan sebuah kreativitas dalam menghadapi permasalahan yang datang.
#Tantangan 10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP

#ThinkCreative

Saturday, 14 October 2017

Ayah Bunda, Ingin Mendukung Gerakan Literasi Sekolah Dasar dari Rumah? Terapkan Jam Produktif Keluarga dan Jadilah Keluarga Literasi

Secara fitrah, anak menyukai belajar karena sudah tertanam fitrah belajar dan bernalar dalam dirinya. Setiap anak adalah pembelajar tangguh, tidak ada anak yang tidak suka belajar kecuali fitrahnya telah terkubur atau tersimpangkan. Tengok saja anak-anak kita, terlebih yang masih berusia balita. Bukankah kita seringkali kewalahan karena mereka merengek minta dibacakan buku terus menerus? Dari buku yang satu beralih ke buku berikutnya, padahal suara kita sudah serak dan mata amat sangat ingin terpejam.
Saat melihat kakak atau anak yang lebih besar sedang mengeja bacaan, mereka menirukan seolah-olah tak mau kalah, supaya juga terlihat sudah mahir membaca. Apa yang ada di dalam buku, selalu menarik perhatian mereka. Mengamati halaman demi halaman, dan menanyakan pada ayah bunda temuan-temuan yang mereka belum paham maksudnya. Bukankah ini sebuah indikasi kecintaan mereka pada buku bacaan?

Tahapan dalam Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Anak
Ada empat tahapan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa anak, yaitu :

  • Keterampilan mendengarkan
  • Keterampilan berbicara
  • Keterampilan membaca
  •  Keterampilan menulis
Setiap tahapan ini idealnya dapat dilalui dengan matang oleh anak. Sehingga anak yang bisa mendengarkan, menyimak pembicaraan dengan baik, secara otomatis juga bisa berbicara dengan baik selama indera pendengaran dan indera pengecapnya berfungsi dengan baik. Maka, untuk melatih anak memiliki kemampuan berbicara dengan baik, dimulai dari melatih kemampuan mendengarnya dengan cara melakukan dialog secara intensif dengan anak.



Gambar 1. Membacakan buku di Jam Produktif Keluarga

Mendengar dan berbicara merupakan tahap yang seringkali diabaikan oleh orangtua dalam mengenalkan budaya baca untuk anak. Maka tak heran jika banyak anak yang bisa membaca, namun kurang bisa menyimak pembicaraan dan berbicara dengan baik.

Gambar 2. Melakukan diskusi interaktif untuk menguatkan struktur berpikir anak

Tahapan setelah membaca adalah menulis. Menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah tulisan. Betapa banyak anak yang kesulitan menuangkan buah pikirannya? Bahkan tak jarang orang dewasa pun kesulitan jika diminta untuk menyampaikan hasil dalam sebuah pembelajaran maupun ide yang dimiliki, ke dalam bentuk tulisan. Padahal mereka semua bisa membaca. Ini juga merupakan akibat pembelajaran bisa membaca pada anak, bukan suka membaca.
Ustad Fauzil Adhim menyampaikan dalam sebuah tulisannya, sekurang-kurangnya, ada tiga arti dalam membaca Al Qur’an.
Pertama, memperdengarkan ayat-ayat yang dihafal pada anak (reciting aloud) atau dibaca dengan melihat mushaf (reading aloud). Disini anak dikenalkan keterampilan mendengar. Proses yang berlangsung adalah anak menerima dan merekam (receiving and recording) sehingga memudahkan bagi anak untuk menghafal (memorizing) apa yang sudah tersampaikan padanya.
Kedua, memperdengarkan ke anak, lalu anak menirukan apa yang kita perdengarkan tersebut. Disini, anak melalui dua tahapan, yaitu mendengar dan berbicara. Proses memperdengarkan tersebut dapat berupa reciting aloud maupun reading aloud. Kemudian anak diminta untuk menirukan. Dalam rangkaian ini, proses yang terjadi lebih kompleks, yakni menerima, mengolah dan memproduksi ucapan sesuai yang ia dengar.

Gambar 3. Memberi ruang pada anak untuk melatih kemampuan berbicara

Ketiga, mengajarkan kepada anak mengenali simbol-simbol berupa huruf dan mengubah rangkaian simbol menjadi satu kata bermakna dan selanjutnya menjadi kalimat utuh bermakna. Sebuah proses yang sangat kompleks. Inilah proses yang secara umum dikenal masyarakat sebagai proses mengajarkan membaca (reading).

Fakta Lapangan : Rendahnya Minat Baca dan Budaya Literasi di Indonesia
Bagaimana kondisi literasi dan minat baca di Indonesia? Mari kita simak paparan data berikut ini,
Berdasarkan data UNESCO tahun 2012, indeks tingkat membaca orang Indonesia baru 0.001. Ini artinya dari 1.000 penduduk, hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius. Penelitian UNESCO mengenai minat baca pada tahun 2014 lagi-lagi menyebutkan bahwa anak-anak Indonesia membaca hanya 27 halaman buku dalam satu tahun.
Berdasarkan studi “World’s Most Literate Nations” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, peringkat literasi Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Indonesia hanya lebih baik dari Bostwana, negara di kawasan selatan Afrika. Fakta ini didasarkan pada studi deskriptif dengan menguji sejumlah aspek. Antara lain, mencakup lima kategori, yaitu perpustakaan, koran, input sistem pendidikan, dan ketersediaan komputer.
Fakta tersebut didukung juga oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2012. Dikatakan, hanya 17.66% anak-anak Indonesia yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton mencapai 91.67%
Fakta dan sajian data diatas menghasilkan sebuah simpulan, bahwa budaya literasi dan minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak untuk memperbaiki kondisi ini, terutama dari pihak-pihak yang paling dekat dan berhubungan secara intensif dengan anak.
Anak-anak dalam rentang usia 7 hingga 12 tahun yang duduk di bangku Sekolah Dasar, waktu kesehariannya masih didominasi dihabiskan bersama keluarga. Jika 1 hari adalah 24 jam maka 5-8 jam anak habiskan di sekolah dan 16-19 jam sisanya dia habiskan di rumah. Berkaitan dengan kondisi tersebut, perlu ada langkah sinergi antara pihak keluarga dan sekolah untuk menggaungkan gerakan literasi pada anak.

Jam Produktif Keluarga sebagai Agenda Rutin di Rumah
Anak bisa saja salah mencerna perintah, namun mereka adalah peniru ulung. Maka cara efektif untuk menumbuhkan kecintaan membaca adalah dengan memberikan sebaik-baik keteladanan. Dengan jam produktif keluarga, pembiasaan dimulai dari kesepakatan dan dijalankan dengan semangat kebersamaan. Karena bermula dari kesepakatan, maka masing-masing anggota keluarga menjalankannya dengan bahagia, dan menjadi sesi yang ditunggu-tunggu setiap harinya.
Apa yang dimaksud dengan jam produktif keluarga?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), produktif artinya bersifat atau mampu menghasilkan, mendatangkan, menguntungkan dan mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru. Berangkat dari definisi tersebut, jam produktif keluarga bertujuan memberikan slot waktu keluarga untuk berkumpul setiap harinya untuk berdiskusi dan belajar bersama. Sejalan dengan program penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca (sesuai dengan Permendikbud No. 23 Tahun 2015), kami menerapkan jam produktif keluarga. Jam produktif keluarga adalah waktu yang sudah kami sepakati setiap harinya untuk mendampingi anak-anak menjalankan proses belajarnya dengan fokus, sepenuh hati, hadir secara fisik maupun batin. Tidak dilakukan sembari memegang gawai, melakukan tugas domestik maupun pekerjaan lainnya.
Kapan jam produktif dilakukan?
Kami adalah keluarga kecil dengan dua anak yang berusia bayi dan balita. Setahun belakangan kami juga sedang menjalani Long Distance Marriage karena suami sedang menempuh studi lanjut di luar negeri. Dengan kondisi tersebut dan mempertimbangkan jam jelang tidur anak-anak, jam produktif keluarga kami dilakukan di jam 09.00-12.00 WIB. Tidak harus 3 jam dan di rentang waktu tersebut. Keduanya bersifat fleksibel menyesuaikan kondisi masing-masing keluarga. Bagi keluarga yang anak-anaknya sudah sekolah di Sekolah Dasar, jam produktif keluarga bisa dilakukan bersama ayah dan ibu di malam hari. Tak perlu lama, 30 menit saja jika dilakukan secara konsisten akan sangat baik.
Dimana jam produktif keluarga dilakukan?
Tempat utama adalah di rumah, namun jika hari libur, kjam produktif keluarga bisa dilakukan dengan bermain di alam, bersilaturahmi ke saudara maupun di tempat umum dengan kondisi yang kondusif.
Mengapa perlu diadakan jam produktif keluarga?
Keluarga merupakan orang-orang terdekat bagi anak-anak. Namun banyak kejadian yang dialami anak-anak dan remaja justru tanpa sepengetahuan keluarganya. Mengapa? Karena kebersamaan yang terjalin hanya secara fisik. Pikiran dan hati tersekat, tenggelam dalam kesibukan diri masing-masing.
Jam produktif bagi keluarga kami merupakan momen untuk berkumpul bersama. Hadir sepenuhnya, sadar seutuhnya. Momen yang dinanti setiap anggota keluarga untuk beraktivitas bersama, saling bercerita dan mendengarkan. Sarana mengisi ulang energi dengan keluarga sebagai bekal beraktivitas kembali di lingkungan luar.
Menghadirkan hati sepenuhnya, membuka mata fisik dan jiwa dalam mendampingi anak selama sehari penuh tentu bukan hal yang mudah. Masih ada tugas domestik, amanah pekerjaan dan hal lainnya yang menanti untuk ditunaikan. Jam produktif keluarga hadir dalam porsi kecil setiap harinya namun berkelanjutan menjadi agenda rutin. Jika ada agenda lain yang tiba-tiba hadir, jam produktif keluarga tetap menjadi prioritas utama.
Siapa yang melakukan jam produktif keluarga?
Jam produktif keluarga ini dilakukan oleh anggota keluarga inti, yaitu ayah, ibu dan anak-anak. Penanggung jawab teknis keseluruhan sesi adalah ibu. Jika ayah berhalangan hadir di keseluruhan sesi, bisa disepakati bersama bagaimana strategi menyiasatinya.
Bagaimana cara melakukan jam produktif keluarga?
Perlu dilakukan koordinasi antar anggota keluarga dahulu untuk mendapat kesepakatan pada jam berapa setiap harinya akan dilakukan jam produktif. Tak harus lama, disesuaikan saja dengan kesempatan yang dimiliki masing-masing anggota keluarga. Jika memang hanya bisa 30 menit, lakukan saja. Yang penting, konsistensi dalam melakukannya.
Dari jam produktif keluarga, akan muncul ide-ide yang menjawab kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Semisal,

Mini project Pojok Baca
Latar belakang : rendahnya minat baca di lingkungan sekitar. Porsi anak-anak berinteraksi dengan gawai jauh lebih banyak daripada membaca buku. Hal ini membuat anak-anak mulai tergoda untuk mengikuti perilaku teman-teman dan tetangga sekitar
Ide : Membuat pojok baca di bazar murah yang diadakan majelis ta’lim perumahan. Mengajak teman merasakan serunya berpetualang melalui buku
Realisasi : buku koleksi pribadi diletakkan dalam satu wadah untuk dibaca bersama peserta bazar. Membuat banner buatan sendiri untuk menarik perhatian anak-anak.

Gambar 4. Banner buatan sendiri untuk pojok baca di bazar

Menuju Keluarga Literasi
Ada tujuan besar di balik pembiasaan melakukan jam produktif keluarga. Yaitu tercapainya keluarga literasi, keluarga yang mampu memecahkan masalah, menggunakan segenap potensi dan keterampilan yang dimiliki serta memiliki struktur berpikir yang kuat.
Prosesnya memang panjang namun kita bisa memulainya dari sekarang, dari hal-hal kecil, dari yang terdekat, dengan cara yang menyenangkan.  Sehingga seluruh anggota keluarga menjalankan dengan bahagia.

Gambar 5. Pojok baca mulai menarik perhatian anak-anak
Keluarga yang hebat, adalah keluarga yang terlibat. Mari budayakan sikap solutif dan kontributif!

Sumber Referensi :
Santosa, Harry. 2014. Fitrah based Education. Yayasan Cahaya Mutiara Timur : Bekasi
Januwati, Eka. Peringkat Literasi Indonesia, Nomor Dua dari Bawah. http://www.femina.co.id/trending-topic/peringkat-literasi-indonesia-nomor-dua-dari-bawah. Diakses tanggal 10 Oktober 2017
Wulandani, Septi. Menstimulasi Anak Suka Membaca. Materi dan Review #5 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 2017
Mohammad Fauzil Adhim. Mengajarkan Membaca Sejak Lahir. Suara Hidayatullah, Juni 2015 

Thursday, 28 September 2017

Tak Semuanya Langsung Dihabiskan

Camilan berupa kue kering adalah salah satu hal yang disukai anak-anak. Jika ada dalam jumlah yang banyak, kakak akan tergoda untuk mengambil lagi dan  lagi. Sedangkan ummi membeli dalam jumlah banyak dengan tujuan untuk stok di rumah selama beberapa hari. Dan lagi, camilan jika tidak dibatasi tentu membuat perut menjadi kenyang. Hal ini dapat mengganggu selera dan pola makan utama anak.

Memori masa kecil ummi menyeruak. Pertama kali ummi mencicipi rasa jajanan sekolah, adalah di bangku SMP. Ketika TK dan SD, bekal selalu disiapkan dari rumah. Perbekalan itu pun dibeli dengan sistem stok. Pernah ada rasa kurang, namun ibu mengajarkan untuk bersabar. Tahan keinginan dan menanti jatah esok hari. Semua ada porsinya.


 Pagi tadi kakak menemani ummi berbelanja kebutuhan makanan. Salah satu yang perlu kami beli adalah camilan kakak. Camilan yang dibeli ada beberapa macam. Namun ummi sengaja membeli camilan dengan kemasan kecil-kecil, bukan kemasan besar. Sehari satu kemasan. Lainnya disimpan untuk hari lain atau dibagi dengan teman bermain. Ummi ingin menularkan pada kakak, kebiasaan dan nilai yang dulu ibu ajarkan. Ada rasa kurang nyaman, sedih bahkan ingin menangis. Namun berlebihan dan memperturutkan hawa nafsu adalah hal yang tidak tepat. Mari kita latih diri untuk menaklukkannya. Karena semua ada porsinya J

Wednesday, 27 September 2017

Jangan Beli Lagi, Pinjam Saja Dulu

Ini adalah buah kontemplasi ummi hari ini. Tantangan cerdas finansial untuk diri sendiri. Ada banyak buku bertebaran dan seolah melambai-lambai menawarkan diri untuk dibeli. Baiklah, mari merenung sejenak untuk menentukan sikap.

Ummi, masih ada beberapa buku baru yang belum ummi baca. Bagaimana kalau ummi habiskan dulu buku yang ada, baru kemudian membeli boleh membeli buku baru?

Ummi, apakah ummi sudah mengamalkan ilmu yang ummi dapatkan? Bagaimana jika fokus ummi ke hal tersebut dulu?

Ummi, apakah ummi benar-benar butuh buku tersebut? Apa urgensi buku itu untuk dibeli saat ini?

Usaha ummi menjawab tiga pertanyaan diatas, alhamdulillah bisa membuat diri mengurungkan niat untuk membeli buku baru. Terlebih saat ummi menanyakan isi sebuah buku pada teman yang sudah memilikinya, dia menjawab “Pinjam aku saja dulu, nanti baru dipertimbangkan perlu punya atau tidak.”

Sebenarnya meminjam buku ini adalah langkah yang sudah kami lakukan namun baru untuk buku anak-anak. Kami meminjam buku anak dari sebuah taman baca. Untuk buku-buku kebutuhan ummi, masih jarang taman baca yang menyediakan.

Dan untuk membeli buku, selain alokasi dana bulanan, kecepatan baca juga menjadi bahan pertimbangan. Jumlah buku yang dibeli mengacu pada jumlah buku yang berhasil dituntaskan dalam bulan sebelumnya.

Ah, tawaran teman menjadi solusi konkrit bagi ummi saat ini. Ummi pun menyambutnya gembira.




Tuesday, 26 September 2017

Monday, 25 September 2017

Sunday, 24 September 2017

Saturday, 23 September 2017

Friday, 22 September 2017

Sabar Sejenak, Ada Makanan di Rumah

Hari ini hari Jum’at. Seperti biasa, yangkung menitipkan pada ummi laporan keuangan masjid yang nantinya perlu disampaikan saat sholat Jum’at. Ummi perlu menyerahkannya pada petugas takmir masjid. Di rumah hanya ada ummi, kakak dan adik. Maka usai aktivitas pagi, ummi mengajak kakak dan adik ke rumah pak Hardi untuk menyerahkan titipan yangkung.

Rumah pak Hardi tidak terlalu jauh, hanya berjarak beberapa blok dari tempat tinggal kami. Sepulang dari rumah pak Hardi, matahari sudah mulai terik. Kami melewati beberapa warung yang menjual makanan. Tiba-tiba,
Kakak : Ummiiii..kakak lapar Mi…
Ummi : Kakak lapar? Kan kakak baru saja makan kue tadi di rumah.
Kakak : Iya, tapi kakak lapar lagi sekarang, Mi…

Hmm…kakak paham, bahwa kita keluar rumah adalah untuk pergi ke rumah pak Hardi. Tidak ada tujuan berikutnya termasuk mampir ke warung dan membeli makanan. Maka, kalau kakak langsung meminta untuk beli kue, dia paham kalau hal tersebut akan ummi jawab dengan, “Tadi rencananya kita pergi ini mau kemana?  Ngga sesuai dengan rencana, kan?”  Dan kalau dia meminta dengan memaksa, dia paham ummi tidak akan bergeming. Apa ini yang disebut strategi anak? :D

Ummi : Oh gitu ya. Yuk, segera pulang, di rumah ada bubur kacang ijo yang siap disantap.
Kakak : Tapi kakak ngga kuat menahan lapar, Mi…
Ah, kakak….di saat yang sama ummi juga ngga kuat menahan ketawa. Hihi

Sebenarnya ummi tidak membawa uang saat itu, Tapi jika alasan itu ummi keluarkan, kakak akan langsung terdiam karena itu adalah sebuah alasan yang tidak bisa diutak-utik lagi. Namun ummi menahan diri untuk tidak beralasan demikian. Ummi mengamati sejauh apa kakak akan menahan keinginannya itu.
Ummi : Ya udah, kalau begitu, kita capet-cepat pulang ke rumah. Kita lomba lari yuk, siapa dulu yang sampai rumah dan makan bubur kacang ijo. Mau?
Kakak :  Mauuuu….
Dan kami pun berlari kecil menyusuri masjid kompleks untuk segera sampai di rumah.

Membeli makanan di warung adalah sebuah keinginan. Sedangkan kebutuhan kita adalah makan untuk menghilangkan rasa lapar. Mendidik diri untuk cerdas finansial adalah bermula dari kemampuan membedakan keinginan dan kebutuhan.



Thursday, 21 September 2017

Bentuk dan Nominal Uang Rupiah

“Kak, beli tempe kak…”

Terdengar panggilan yangti pada Raysa, meminta tolong untuk dipanggilkan penjual tempe yang sedang lewat di depan rumah.

“Tolong kakak yang beli ya, 1 saja...uangnya ambil di tempat receh” Lanjut yangti dari dapur.  
Kakak berlari menuju teras rumah, memanggil penjual tempe.  Setelah penjual tempe berhenti, kakak mencari uang di tempat receh. Namun dia bingung, uang mana yang harus diserahkan dan berapa jumlahnya. Kakak memanggil ummi, mencari bala bantuan, hehe.


AHA! Sepertinya ummi perlu mengajak kakak mengenal aneka bentuk dan nominal uang rupiah. Bukan lewat angka-angka yang tertera, namun dari gambar yang ada di uang tersebut.  

Wednesday, 20 September 2017

Tuesday, 19 September 2017

Monday, 18 September 2017

Sunday, 17 September 2017

Saturday, 16 September 2017

Rezeki Berwujud Harta



Di hari ini ummi dan kakak belajar mengenai rezeki yang berwujud harta. Harta tak melulu soal uang. Barang yang kita manfaatkan, kita kenakan dan kita miliki pun adalah harta. Yang kelak tak luput dari pertanggungjawaban kita pada Allah.

Hari itu ummi dan kakak mensortir pakaian adik. Pakaian bayi baru lahir, sarung tangan dan kaki, popok, kain lebar untuk bedong sudah tak digunakan adik di usianya kini. Kami menyimpannya dalam satu kardus dan melabelinya untuk memudahkan pencarian. Kakak bernostalgia dengan pakaian-pakaiannya. Dia menemukan sebuah sepatu kecil, kesayangannya dulu. Kakak ambil dan kakak pakai, tiba-tiba dia berucap, “Ummi…sepatunya masih cukup sama kakak. Kakak pakai ya mi.”

Nak, ummi paham kakak mengucapkannya dengan menahan sakit. Karena sepatu itu memang sudah kekecilan di kaki kakak. Jika pun kaki kakak masih masuk ke sepatu tersebut, tentu ada bagian kaki yang tertekan dan dipaksa bertahan. Tapi karena cinta dan berat berpisah, kakak bertahan.


Bagi ummi, ini adalah AHA moment untuk menjelaskan mengenai harta. Suatu barang yang sudah tidak bisa kita kenakan, bisa jadi saatnya beralih kepemilikan. Dengan melihat orang lain memakainya dengan gembira, bukankah ada rasa senang yang muncul dari hati? Barang yang sudah jarang kita manfaatkan dalam keseharian, saat berpindah ke tangan orang lain ternyata menjadi sangat berharga. Bukankah artinya kebermanfaatannya semakin meluas?

Friday, 15 September 2017

Rezeki itu Apa?



Menjelaskan arti rezeki pada seorang anak berusia 3 tahun adalah project ummi di tantangan hari kedua ini.

Saat kakak mendapatkan sesuatu, baik itu beli atau pemberian orang lain, maka kami menyampaikan padanya, “Itu rezeki dari Allah, untuk kakak...” yang kemudian kami lanjutkan dengan menyampaikan pencapaian konkrit yang berhasil dia lakukan, “….karena kakak bersedia menemani adik bermain saat ummi sedang menjemur pakaian” dan lainnya.

Titik tekan penyampaian kami adalah Allah Maha Pemberi Rezeki. Dia akan memberikan rezeki pada hambaNya dari arah yang tidak disangka-sangka. Allah sangat cinta pada hambaNya, maka kita cinta ngga sama Allah? Kalau cinta, kita wujudkan dengan taat pada perintahNya dan tidak melanggar laranganNya.

Apapun yang diberikan oleh orang lain, atau oleh kami, kami sampaikan padanya bahwa itu adalah rezeki dari Allah, melalui ummi, abi, yangti, yangkung, om, bapak pemilik toko dan seterusnya. Allah yang menggerakkan hati orang-orang tersebut untuk memberikan sesuatu tersebut pada kakak. Allah Maha Baik ya kak?

Beberapa waktu yang lalu, saat ummi berkomunikasi dengan abi dan menceritakan perkembangan kakak dan adik termasuk mendapati kakak tidur dengan menggenggam tangan adik, abi menyampaikan bahwa rezeki besar yang Allah titipkan saat ini ke abi dan ummi adalah mereka, anak-anak yang sholeh dan sholihah. Bentuk syukur kami adalah dengan mendidik mereka sesuai kehendak PenciptaNya.

Ummi pun berdialog tentang ini dengan kakak. Tentang rezeki adalah titipan Allah, tentang pengingat abi pada ummi bahwa anak-anak yang sholih sholihah adalah rezeki besar untuk kami. Kakak tersenyum. Melukiskan perasaan senang sekaligus rindu dengan abi. Ah, iya, berjauhan dengan abi untuk sementara waktu juga merupakan rezeki yang Allah gariskan pada kami saat ini. Melalui rezeki kondisi ini, kami berupaya berkomunikasi dengan lebih produktif. Sinyal internet yang tak selalu bagus membawa kami untuk mencari alternatif untuk melepas rindu. Abi dan kakak berkirim voice notes via WhatsApp dan Telegram.

Nak, tugas kita tak cukup hanya menerima rezeki, tapi bagaimana agar rezeki tersebut menggiring kita untuk semakin dekat dan taat padaNya, sebagai bentuk syukur kita atas rezeki titipanNya.





Thursday, 14 September 2017

Bukan Beli Lagi, Tapi Ayo Kita Coba Perbaiki


Tantangan hari pertama ini, ummi dan kakak belajar mengenai memperbaiki barang sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang Allah titipkan.

“Lhooo…mainannya lepas, mi… Gimana dong? Nanti beli lagi ya mi?”
“Ummiii….buku kakak disobek adik… Nanti beli lagi ya mi?”

Belakangan ini ucapan tersebut terdengar akrab di telinga. Jika ada barang yang rusak, tidak utuh seperti semula, kakak minta untuk dibelikan kembali. Wajar, bahkan ummi pun saat mengetahui ada barang milik ummi yang tidak utuh, ingin barang tersebut utuh seperti semula.

Kali ini yang rusak adalah buku. Saat kakak sedang membaca buku, adik datang dan memegang buku dengan kuat. Kakak mempertahankan buku yang sedang dipegangnya sedangkan adik bersikukuh memegang salah satu halamannya.

“Brrrttttt….” Satu halaman tersobek. Lalu terdengar ekspresi kecewa dari kakak.
“Yaaaaaaah..bukunya sobek miiiiiii…beli lagi ya mi?”

Waaaah…AHA moment ini. Ummi mengajak kakak berdialog untuk meluruskan pemahaman kakak. Bahwa tidak semua barang yang rusak, bisa segera kita beli penggantinya. Barang yang rusak bisa kita lihat dahulu, memungkinkan untuk diperbaiki atau tidak? Jika ya, mengapa tidak kita coba perbaiki? Bagaimana kalau kita selotip saja buku ini? Yuuuuk…

Ajakan ummi disambut dengan antusias. Kakak mencari selotip dan gunting. Kami perbaiki buku 
tersebut bersama-sama. Dengan perlahan dan hati-hati, supaya bekas sobekan samar terlihat. Sembari memperbaiki buku, kami pun berdiskusi. Kebetulan yang sobek adalah buku yang kami pinjam dari sebuah taman baca. Karena milik orang lain, ummi perlu menanyakan dulu bagaimana prosedur pertanggungjawabannya. Apakah perlu kami ganti dengan buku baru, atau cukup dengan kami perbaiki?

Pengelola taman baca menjawab, cukup dengan memperbaiki saja. Karena pengunjung dan peminjam buku taman baca mayoritas anak-anak, maka buku koleksi taman baca sering sobek dan cukup diperbaiki saja. Ummi pun menyampaikan hal ini ke kakak. Kakak dengan sigap menyiapkan selotip yang akan ditempel. Konfirmasi ke pihak taman baca ini penting, karena terkait dengan ridho orang lain atas kita. Apakah pihak yang bersangkutan memaafkan dan ridho atas kesalahan kita? Sebagai orang yang bersalah, kita harus meminta maaf dan bersedia untuk bertanggungjawab. Sikap ksatria ini penting untuk diteladankan pada anak. Karena rezeki itu pasti, kemuliaan yang dicari.

Dari kejadian ini, ummi dan kakak belajar banyak hal. Dengan memperbaiki barang yang rusak, kita bisa belajar apa saja ya?
  • Berhemat
  • Bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukan (jika rusaknya barang disebabkan oleh diri kita)         
  • Bersyukur atas rezeki dari Allah, dengan cara menjaga barang tersebut supaya tetap berfungsi meski kondisinya sudah tidak sempurna
Rezeki Allah itu luas Nak… bersikap ksatria dan berinteraksi dengan orang-orang yang pemaaf juga merupakan rezeki dari Allah, yang tak berbentuk materi. 

Friday, 8 September 2017

Mengambil Jeda Sejenak, Meluruskan Niat dan Menguatkan Tekad

Aliran Rasa Materi #7 Semua Anak adalah Bintang
Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

Semua anak adalah bintang. Allah telah menciptakan manusia dengan peran peradabannya masing-masing. Spesifik, tidak ada yang sama. Untuk mempertemukan mereka dengan peran peradabannya tersebut, dibutuhkan fasilitator yang siap membersamai proses panjang itu. Amanah besar itu ada di pundak kita, para orangtua. Berbekal kepercayaan pada Allah, kesediaan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, orangtua dapat menjelma menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anaknya.

Seorang fasilitator bukanlah yang tahu segala rupa dan bisa menjalankan semua peran. Fasilitator akan bekerjasama dengan para ahli, bersinergi dengan para guru untuk mengasah potensi anak, menguatkan kecerdasannya hingga bertemu dengan peran peradabannya. Terkait hal tersebut, penting bagi orangtua untuk memiliki discovering ability dan child sense.

Discovering ability  merupakan kemampuan daya jelajah para orangtua dan guru selaku pendidik anak-anak untuk menemukan harta karun potensi-potensi yang ada dalam diri anak-anak. Memang tidak mudah, namun sejatinya orangtua sudah dibekali fitrah keayahbundaan oleh Allah. Maka untuk menunjang fitrah dan meningkatkan kemampuan tersebut, orangtua perlu membekali diri dengan pengetahuan, juga menyediakan waktu untuk membersamai terlebih pada masa tujuh tahun pertama anak.

Selama masa menjalani tantangan 10 hari, ummi fokuskan perhatian ummi terhadap respon yang diberikan kakak dan adik saat mempelajari sesuatu. Saat kami menjalankan sebuah family project, apakah kakak bahagia menjalankannya? Apakah adik terlihat bosan? Atau apakah mereka terlihat merindukan Abi yang sedang belaajr nun jauh disana?

Ummi juga mencoba kaitkan dengan empat ranah dalam discovering ability. Semisal saat kami membuka pojok baca di bazar murah, ummi amati respon kakak pada ranah interpersonal. Ternyata kakak berbahagia bukunya dibaca bersama oleh anak-anak yang mengunjungi stand kami. Atau saat mengikuti acara gema takbir dan sholawat, kami berdialog memasuki ranah spiritual, untuk apa bersholawat, mengapa bertakbir, dan seterusnya.

Proses belajar kami jalankan dengan bahagia, tapi ternyata ummi tak cukup waktu untuk menuliskannya dalam sebuah setoran tantangan. Hingga masa tantangan pun terlewatkan tanpa bisa ummi setorkan hasil pembelajaran kami. Ada rasa kecewa menyelimuti, namun tak lama. Tujuan utama mengikuti kelas bunda sayang adalah agar kami semakin bahagia belajar bersama. Jika memang tak semua tahapan bisa kami lalui, setidaknya tujuan utama kami tercapai. Dengan aktivitas membersamai kakak yang masih balita dan adik yang masih bayi, juga kondisi saat ini tinggal di rumah yangti yangkung dan berjauhan dengan abi, memang mungkin belum memungkinkan bagi ummi untuk menjalankan keseluruhan proses. Jika ummi paksakan, ada yang tak imbang dan berat sebelah. Hal tersebut tentu tak baik.


Maka, berdamai dengan ketidaksempurnaan. Jalankan proses yang ada dengan sebaik mungkin, hadir penuh sadar utuh. Ummi sedang menata ulang kapasitas diri. Mencoba mengejar ketertinggalan dengan mencicil tulisan yang belum disetorkan. Tak apa sudah melebihi batas waktu pengumpulan. Tekad ummi saat ini adalah menyelesaikan apa yang sudah ummi mulai, dan mengikat makna dalam setiap proses pembelajaran kami. Bismillah, 15 tulisan sedang ummi tuntaskan. Mohon doa dari pembaca J

Sunday, 27 August 2017

Gambar Kontras dan Jadwal Harian Bergambar


Manajemen waktu dalam memfasilitasi kebutuhan belajar kakak adik menjadi bahan pikiran yang menggelitik bagi ummi saat ini.

Dari segi rencana, ummi menyiapkan slot waktu bermain bagi kakak adalah jam 09.00-12.00 WIB, saat adik terlelap tidur pagi. Dengan catatan kakak sudah mandi, makan dan membantu membereskan rumah. Kami menamakannya sebagai jam riset. Karena di jam itulah, kakak melakukan riset kecil-kecilan. Memilih apa yang ingin dibuat, buku apa yang ingin dibacakan atau hal apa yang ingin dibacakan ke ummi. Setiap pilihan tak lepas dari konsekuensi, bukan? Kadang kakak bosan menggunting di tengah-tengah perjalanan gunting-tempel, mengambil mainan puzzle saat balok susun masih berserakan, dan sebagainya. Ah nak, jangankan dirimu yang masih anak-anak. Ummi pun masih mengalaminya. Namun, mari kita belajar bertanggungjawab, memahami konsekuensi atas pilihan kita dan menjalankannya dengan bahagia. Bukankah bertanggungjawab itu sebuah karakter seorang muslim? Bukankah kita calon muslim tangguh, nak? :)

Jadwal ini akan berjalan sangat baik jika semua berjalan sebagaimana mestinya. Menjelang jam riset adik sudah mulai mengantuk, kakak makan dengan mandiri dan ummi juga sudah siap amunisi. Semua dalam kondisi siap. Maka kami menyambut jam 09.00 tepat dengan sukacita. Yes, adik sudah tidur! Namun tentu ini tidak dapat berjalan setiap hari. Ada kalanya adik bangun kesiangan sehingga di jam riset matanya masih membuka lebar dan mengajak main, hihi… Ada kalanya jadwal pagi tidak kami tepati sehingga di jam 09.00 kami tidak dalam kondisi siap dan beberapa kondisi tak ideal lainnya. Untuk itu, kami perlu menyiapkan plan A, B, C dan D beserta amunisinya sehingga jam jadwal jam riset harian tetap dapat berjalan dan semua pihak menjalaninya dengan bahagia.

Hari ini kami melanjutkan project membuat jadwal harian kakak. Ummi sebagai pimpinan project dan dokumentator, kakak eksekutor, adik pemberi apresiasi pada kakak dan Abi mempersiapkan bahan sekaligus penerima laporan.

Bahan-bahannya berupa aktivitas-aktivitas yang abi dapatkan di internet beberapa bulan lalu. Project ini memang sudah direncanakan sejak lama tapi menunggu momen yang pas. Waktu itu ummi membuat daftar aktivitas apa saja yang perlu dicari gambarnya. Kemudian abi yang mencarinya di internet dan mencetaknya. Lalu masih ummi simpan di lemari, sampai mengundang perhatian kakak. “ Waaaah…ada banyak gambar mi. Bagus-bagus. Buat kakak?” saat itu ummi jawab, “Iya, buat kakak. Tapi nanti ya, waktu kakak buat jadwal.”

Menunggu momen yang pas?

Iya, ummi menunggu momen itu. Momen dimana kakak paham urut-urutan aktivitas yang perlu dia lakukan sebelum melakukan sebuah hal. Dalam deal board yang diadaptasi dari firdaus ark sebenarnya sudah ada peraturan, kalau kakak ingin main bersama teman atau bersepeda, kakak wajib mandi dan makan dulu. Tapi seiring waktu, dia tidak setiap saat antusias bermain bersama teman atau bersepeda. Sehingga makan dan mandi diawali dengan penyampaian berbagai alasan.

Kemudian, beberapa waktu lalu, saat ummi memperbaiki manajemen waktu ummi, ummi mengalokasikan jam riset untuk kakak dan ummi sampaikan padanya. Di jam riset, ummi adalah fasilitator penuh kakak, kita sama-sama mengondisikan agar di jam riset kami berdua siap, adik juga tidur. Mendengar penjelasan ummi, kakak tertarik. Dari situ dia mengenal jadwal, apa saja yang perlu dia penuhi sehingga di jam riset diri dan lingkungan sudah kondusif. Inilah AHA moment, inilah momen yang pas itu. :)

Maka, beberapa waktu lalu ummi membuka gambar-gambar aktivitas itu. Memperlihatkannya pada kakak dan mendiskusikannya satu persatu. Membiarkan tangan kakak mengambil gambar yang sesuai dimasukkan dalam jadwalnya. Setelah beberapa gambar terkumpul, kakak mulai mengguntingnya. Tentu proses ini tak berjalan mulus. Ada saatnya kakak kesal karena menggunting di luar garis, ada saatnya dia protes capek, ada saatnya dia hampir menyerah dan meminta ummi saja yang menggunting untuknya, hihi. Ini pun AHA moment  untuk memberikan pengertian pada kakak. Bahwa wajar hasil gunting kakak belum sesempurna ummi, karena kakak masih berlatih otot-otot tangan, pelajar an ini kakak dapatkan dari buku cerita. Saat capek,  berhenti dan simpan dulu, kemudian keluarkan kembali setelah beberapa hari. Maka dia akan kembali antusias. Sama-sama belajar bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah, dan tugas kita hanyalah berikhtiar optimal. Ya, optimal. Melakukan dan mengerahkan kemampuan terbaik yang kita miliki.

Seperti disebutkan dalam surat Al An’aam 135
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya aku pun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik dari dunia ini. Sesungguhnya, orang-orang yang dzalim itu tidak akan mendapat keberuntungan.

Pagi ini kami kembali menggunting. Dan kakak tetap ceria dengan percaya diri dengan hasil guntingnya. “Ummi, kakinya tergunting. Tapi ngga apa-apa yang mi, kakak kan masih latihan otot-otot tangan ya. Nanti lama-lama rapi ya, mi?” demikian celotehnya. Kami menggunting bersama untuk membuat jadwal aktivitas bergambar kakak. Tak lama kemudian, adik terbangun. Saatnya berkemas benda-benda tajam. Sesi menggunting kami akhiri dan beralih ke sesi menempel. Kami menyatukan gambar-gamabr di kertas HVS yang kami tempel memanjang. Taraaaa…..jadilah jadwal kakak. Siap tempel di dinding.

Untuk adik, sudah ummi siapkan cetakan gambar dengan perpaduan warna hitam, putih dan merah. Istilahnya, high contrast picture for baby. Sudah ditempel di dinding dan siap digapai adik, hihi. Karya kakak dan gambar adik sudah tertempel di dinding. Kakak bangga dengan jadwal harian hasil karyanya. Dengan antusias, dia ceritakan jadwal hariannya ke adik. Adik tertawa-tawa mendengar dongeng kakak. Dia juga terlatih motorik kasarnya dengan berdiri dan berjalan perlahan menyusuri dinding.

Tinggal membuat laporan dan dikirimkan ke pak kepala sekolah griya riset :D
#motorikkasar
#achiever

#kecerdasanlinguistik

Friday, 25 August 2017

Belajar Bersama Saat Rapat Ulul Azmi

Bukan sekali ini mereka mengikuti forum orang dewasa. Bukan sekali ini mereka dilibatkan dalam forum belajar ummi. Dan dari aktivitas berulang itu, selalu saja ada temuan baru dan menarik yang ummi catat, tentang mereka.

Hari ini kakak dan adik mengikuti rapat persiapan acara Gema Takbir dan Sholawat Bersama se-Kabupaten Jombang yang diadakan majlis ta’lim Ulul Azmi. Sebelum berangkat, kami menyiapkan amunisi supaya mereka tetap bisa membersamai ummi dengan nyaman dan tetap dapat bermain seperti biasanya. Harapan ummi, meski mereka membersamai ummi di forum rapat yang notabene formal dan mayoritas terdiri dari orang dewasa, mereka tak kehilangan kenyamanan belajar.

Kebetulan mereka baru saja selesai makan siang sehingga mereka berangkat dalam keadaan kenyang. Maka amunisi yang kami siapkan adalah minuman, buku, puzzle, boneka dan mainan. Semua amunisi tersebut ummi masukkan ke dalam tas ransel kakak dan kakak yang bertanggungjawab terhadap isinya, ummi hanya membawakan dari rumah ke sekretariat lokasi rapat. Disana kakak bertemu dengan mba Nafla, teman di masjid sekaligus di TPQ. Waaaah….wajah sumringah kakak langsung terlihat J

Kakak ceria, ummi bahagia. Bersama mba Nafla, kakak menjadi pembelajar mandiri. Mereka bermain pretend play sebagai ibu-ibu yang menggendong anaknya. Sempat terdengar aba-aba dari kakak saat pembagian peran. Kakak meminta mba Nafla berperan sebagai ibu A, kakak berperan sebagai ibu B dan mereka berjalan bersama-sama. Potensi bakat arranger dan command kakak terlihat di proses ini. Bagaimana kakak membagi peran dan memberikan instruksi supaya teman bermainnya bergerak sesuai arahannya.

Tak lama, mba Nafla memakan sebuah permen dan kakak mendapat bagian. Kakak mendekat ke ummi dan meminta izin, sekaligus review, sehari makan berapa permen ya? Hehe. Kali ini, kakak yang egosentrisnya masih dominan mendapat role model untuk suka berbagi dan menikmati rezeki bersama dengan teman-teman. Mb Nafla cenderung diam, tak banyak berbicara dan suka berbagi. Kakak senang bermain dengan mba Nafla.

Setelah itu, aktivitas belajar mereka beranjak ke membaca buku. Perlahan ummi dengarkan pembicaraan mereka. Ternyata kakak becerita mengenai dirinya, juga tentang isi buku yang sedang mereka pegang. Kakak bercerita, mba Nafla mendengar. Artikulasi dan penyampaian kalimat sudah lugas dan jelas, potensi bakat communicationnya terlihat.. Kosakata kakak cukup banyak dan dia dapat menceritakan ulang poin-poin penting di alur cerita tersebut. Melatih kecerdasan linguistiknya supaya terasah dengan baik. Kakakpun perlu belajar menjadi pendengar yang baik, karena mendengar dan didengar adalah kompetensi yang penting dimiliki oleh semua orang.

Pretend play berikutnya, mereka berpura-pura menjadi penumpang kereta. Kakak rupanya rindu berkereta. Mereka praktik dari ambil tiket, cek isi tas dan bagasi, hingga suara pemberitahuan di stasiun kereta api. Dari kegiatan ini, ummi ingin mengetahui, seberapa hafalnya kakak dengan orang-orang yang kakak jumpai, terlihat bakat context kakak.

Bagaimana dengan adik?

Dia, seorang yang menentramkan hati. Yang mencoba memberikan solusi kala tantangan melanda cukup dengan senyumannya. Di acara tadi, dia merangkak kesana-kemari mengikuti sang kakak. Motorik kasar dan motorik halusnya bisa tumbuh dengan signifikan.

#motorikkasar
#motorikhalus
#context
#communication
#linguistik
#command

#arranger