Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2022

Catatan Buka Bersama Kedua : Tentang Masjid As-Salam Wapena dan Kisah yang Menyertainya

Alhamdulillah hari ini bisa merasakan kembali hangatnya buka bersama di masjid As-Salam WAPENA. Spesial hari ini, acaranya cukup unik, karena tidak ada narasumber khusus, melainkan peserta bergantian membagikan kesan Ramadan di Austria. Topik ini berjalan cukup interaktif sehingga hangatnya kebersamaan di masjid pun semakin terasa. Gambar 1. Suasana buka bersama Buka bersama edisi terakhir ini pun lebih ramai dari biasanya. Panitia mengumumkan bahwa ada sekitar 75 jamaah yang akan hadir. Dan benar saja, menjelang waktu berbuka masjid sudah penuh oleh peserta. Situasi ini membawaku ke memori Ramadan 2019 silam. Saat buka bersama -di masjid lama yang masih mengontrak- masih berlangsung rutin karena belum ada pandemi. Hangat, ramai, tersedia aneka makanan yang lezat pula. Suasananya benar-benar mengobati rasa rindu dengan tanah air. Dan kali ini, suasan itu hadir kembali setelah sekian lama. Menyimak perjalanan Wapena dari tahun ke tahun oleh para sesepuh, membuat hati ini bergetar. Teras

Cerita RAMEN (Ramadan in Ferien) Bagian Dua : Kuis Cepat Tepat dan Ausflug TPA ke Masjid As-Salam

Meskipun kegiatan RAMEN sudah usai berlangsung lebih dari sepekan lalu, namun keseruan kegiatannya baru bisa lanjut kuceritakan sekarang. Untuk bisa mengikuti ceritanya secara utuh, cerita bagian satu bisa disimak di sini ya. Kegiatan banyak berlangsung outdoor karena selain anak-anak bisa bergerak lebih leluasa dan mengasah motorik kasar, juga karena udara sudah semakin menghangat. Setelah beberapa bulan mayoritas kegiatan banyak dilakukan di dalam rumah karena cuaca yang dingin, kini saatnya kembali merasakan sapaan hangat mentari yang sudah lama dirindukan. Kami memilih berkegiatan di taman Setagaya. Tujuan utamanya tentu saja menikmati keindahan bunga sakura yang sedang bermekaran. Taman Setagaya ini didesain di tahun 1992 oleh Ken Nakajima dari Jepang. Sesuai dengan namanya, taman ini memang taman bergaya Jepang. Tak heran jika taman ini sangat ramai dikunjungi pengunjung di musim semi, untuk mengabadikan momen bersama bunga-bunga sakura yang bermekaran. Gambar 1. Taman Setagaya N

Serunya Buka Bersama di Masjid As-Salam Warga Pengajian Austria (WAPENA)

Aku bersyukur sekali, karena kemarin sore kami sekeluarga berkesempatan menghadiri kajian dan buka bersama di masjid As-Salam WAPENA (Warga Pengajian Austria). Karena kajian dijadwalkan mulai jam 17.00 CEST, kami berencana untuk berangkat ke masjid jam 16.00 CEST karena estimasi durasi perjalanan adalah sekitar 45 menit. Namun ternyata molor karena ini itu, sehingga kami baru keluar rumah jam 16.37. Anak-anak membawa tas masing-masing berisi sajadah dan perlengkapan salat mereka. Ada rasa haru yang menyeruak karena kami bisa kembali hadir di acara tersebut, setelah dua tahun ditiadakan karena pandemi. Siapa yang tak rindu dengan masjid dan kebersamaan umat di dalamnya? Sesampainya di masjid, kami perlu melakukan Antigen Test karena hasil PCR Test yang kami lakukan satu hari sebelumnya belum kami terima. Ditambah dengan menunjukkan bukti vaksin lengkap. Dan ternyata di masjid masih relatif sepi. Baru segelintir orang yang hadir meskipun waktu menunjukkan pukul 17 lewat. Kesempatan terse

Jurnal Ausbildung : Pembelajaran saat Berbelanja Bahan Pangan

Gambar 1. Aneka troli belanja yang disediakan untuk pengunjung (Foto hanya sebagai pemanis) Hari ini di kelas, kami belajar membuat Strudel dengan beragam isian. Aku bersama Yanting dan Aisha membuat Milchrahmstrudel sedangkan teman-teman yang lain ada yang membuat Topfenstrudel, Lach-Spinat-Strudel, Brokkolistrudel, Krautstrudel maupun   Zucchinistrudel.  Yang membedakan satu dengan yang lain adalah isiannya, sedangkan untuk Strudel- nya kami semua mengacu resep yang sama. Hari sebelumnya masing-masing dari kami sudah membuat daftar barang kebutuhan memasak yang kemudian disetorkan padaku untuk dibuat daftar belanja secara keseluruhan. Usai kelas kemarin, sore harinya masih ada yang meghubungiku untuk menambahkan bahan yang terlewat. Dan pagi ini juga ada yang merevisi jumlah barang kebutuhannya karena sempat salah hitung. Bagiku, ini pertanda bahwa mereka mempersiapkan sesi praktik hari ini dengan sungguh-sungguh. Aku salut dengan totalitas belajar mereka. Tapi ada juga yang bahan ke

Project Ramadan Griya Riset : RAMEN (Ramadan in den Ferien)

Bismillahhirrohmanirrohim... Di pertengahan Ramadan sekaligus pertengahan Osterferien ini, aku ingin merefleksikan catatan belajar bersama anak-anak di beberapa hari belakangan. Jadi ceritanya kami bertiga (aku dan anak-anak) sedang libur sepekan dalam rangka Osterferien atau libur Paskah. Mayoritas penduduk Austria menganut agama Katolik, sehingga libur sekolah pun kerap didasari oleh hari besar-hari besar agama tersebut. Alhamdulillah Ausbildung  yang sedang kujalani ikut libur seperti halnya libur sekolah anak-anak. Jadi kami bertiga bisa sama-sama senggang dan memanfaatkan waktu bersama-sama. Kalau anak-anak ditanya, "Pengen ngapain aja selama liburan?" Jawaban dasarnya satu, "Main sama ummi." Mau aktivitas di dalam rumah, mau berkegiatan di luar rumah, apa pun itu, pokoknya sama ummi. Jawaban mereka  senada dengan refleksi saya belakangan ini, dimana sejak mengikuti Ausbildung, waktu kebersamaan saya dengan anak-anak memang berkurang drastis. Padahal untuk kele

Catatan Kontemplasi setelah Puasa Facebook dan Instagram selama Sepekan

  Sejak malam satu Ramadan lalu, tepatnya tanggal 1 April 2022, saya memutuskan untuk mengambil jeda untuk tidak terkoneksi dengan media sosial Instagram dan Facebook selama bulan Ramadan ini.   Mengapa? Apa alasan yang mendasarinya? Karena saya ingin mengurangi distraksi. Ya, ada banyak informasi yang berlalu-lalang dalam kehidupan. Salah satu konsekuensi memiliki bakat  input  dan  relator  yang tinggi, adalah derasnya informasi yang masuk dari segala arah. Beragam informasi muncul dari lingkungan, baik lingkaran terdekat maupun jauh sekalipun. Ada yang datang dari dunia luring maupun dunia daring. Nah, mengambil jeda dengan  off  dari media sosial dalam kurun waktu tertentu adalah cara saya memilah informasi dan mengurangi distraksi di bulan Ramadan ini. Saya merasa, banyak informasi-informasi di luar sana yang masuk ke pikiran saya namun sebenarnya tidak perlu saya ketahui. Memang tidak mudah, bakat  input  yang ada dalam diri saya pun meronta. Tapi saya yakin ini merupakan langkah