Skip to main content

Hanya Mengamati dan Mendengar Saja. Memberi Ruang pada Anak-anak untuk Menyampaikan Gagasannya.






Asumsi kita kadang berbeda jauh dengan asumsi anak-anak, maka jangan terburu-buru membuat pernyataan, perbanyaklah membuat pertanyaan agar anak-anak bisa menyampaikan idenya secara utuh (CLEAR) dan tugas kita hanya mengklarifikasi saja (CLARIFY)). Slide materi Kreativitas kelas Bunda Sayang IIP

Hari ini saya mengamati kejadian yang terjadi pada saya dan anak-anak. Membuka telinga lebih tajam lagi, membuka mata lebih teliti lagi. Untuk dapat membaca kondisi, membaca maksud anak-anak dalam sebuah kejadian.

Beberapa hari ini kami sedang tinggal di rumah mertua. Kebetulan ayah mertua sedang memiliki project membersihkan dan mengecat kandang burung yang dirawatnya. Sejak menjelang siang, Raysa asyik mengamati apa yang dilakukan oleh ayah mertua. Setelah beberapa jam bersama yangkungnya, dia mendatangi saya dengan semangat

R : Ummi, kakak habis nemenin yangkung ngecat kandang sama mandiin burung
S : Ooooh….seru bangeeeet…. Kakak belajar apa aja dari situ?
R : Belajar banyaaak… burungnya mandi jadi bersih. Kandangnya dicat juga
S : Gimana caranya mandiin burung? Pakai selang? Pakai sabun?
R : Ngga…pakai botol kecil, cus…cus…cus…gitu mi
S : Oh…kayak botol semprotan yang dipakai om waktu nyetrika ya?
R : Iya, kayak gitu…
S : Terus burungnya gimana ekspresinya? Ngibas-ngibas sayapnya? Gelng-gelengin kepala juga? (sembari mempraktikkan)
R : Iya mi, kayak gitu…

Dari dialog ini Raysa belajar menyampaikan pengalaman yang baru saja dia dapatkan dan dibagi pada saya. Kami senang menggunakan kata belajar dalam setiap proses, karena belajar memang bisa dari mana saja dan dengan siapa saja, bukan sebuah proses di meja kursi saja.

Hari beranjak senja, di akuarium ayah mertua kami dapati ada sebungkus kecil silika gel dan sekotak kecil spons. Silika gel itu kami ketahui berasal dari makanan yang kemarin kami beli, sponsnya berasal dari tempelan dinding yang terlepas. Ada dua anak kecil di rumah, Raysa dan Faul. Saat mereka sedang bermain balok susun, ayah menanyakan, siapa yang kira-kira melakukannya. Faul lantang menjawab, bukan dia. Saya mengamati gerak-gerik Raysa. Ada salah tingkah yang disembunyikan, mulut yang terkatup rapat dan perhatian yang seolah-solah difokuskan pada permainan yang dia pegang. Saya menahan tawa.

Bertanya saat itu juga pada Raysa bukanlah hal tepat. Bisa jadi saya justru menginterogasinya. Memaksa dia menjawab pertanyaan sehingga membuat dia tidak nyaman. Bertanya di depan orang banyak bukanlah solusi. Untuk apa? Toh saya sudah mendapat jawabannya juga dari gerak-geriknya. Maka saya menunda keinginan saya ini. Masih saya simpan hingga saat ini.

Pikiran saya bertanya-tanya, apa alasan dia melakukan hal tersebut? Hmm… mungkin dia sedang memfasilitasi rasa ingin tahunya. Dia dapati saat memasukkan silika gel ke dalam air, silika gelnya tenggelam. Saat memasukkan spons ke dalam air, sponsnya mengapung. Dimana letak perbedaannya? Mengapa bisa demikian? Bagaimana jika benda lain dimasukkan, apakah akan tenggelam seperti sebungkus silika gel itu atau mengapung seperti spons?

Ah, saya perlu mengklarifikasi hal ini padanya. Bukan untuk memarahi, namun mengajaknya melanjutkan proses belajar hal menarik ini sekaligus meminta maaf pada ayah mertua. Hihi  

#Tantangan 10Hari
#Level9
#KuliahBunSayIIP
#ThinkCreative


Comments

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Mini Project : Belajar Siklus Air

Mini Project 20 Juli 2016 Belajar Siklus Air Beberapa sore belakangan, hujan selalu menyapa. Allahumma shoyyiban nafi’an Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat. Salah satu kebiasaan yang Mentari Pagi lakukan saat hujan adalah melihat kamar belakang sambil melapor, “Ngga bocor koq Mi,alhamdulillah kering.” Hihihi..Atap kamar belakang memang ada yang bocor. Sehingga jika hujan turun, terlebih hujan besar, saya selalu mengeceknya, apakah bocor atau tidak. Dan kebiasaan inilah yang damati dan diduplikasi oleh MeGi. Dari sini jadi terpikir untuk mengenalkan siklus air padanya. Alhamdulillah, kemudahan dari Allah. Saat membuka facebook timeline , ada teman yang membagi album foto mba Amalia Kartika. Berisikan ilustrasi menarik mengenai informasi ayat-ayat yang berkaitan dengan air dan hujan. Jadilah ini sebagai salah satu referensi saya saat belajar bersama mengenai siklus air. Untuk aktivitas ini saya menggunakan ilustrasi siklus air untuk stimulasi m

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas

Membuat Skala Prioritas Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development – Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping ) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas.  Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya . Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat di