Tuesday, 1 May 2018

Seorang Nenek yang Menggendong Cucunya

Pagi ini di sebuah stasiun besar di Jakarta, sembari membuat daftar barang bawaan yang harus saya persiapkan, saya bertemu dengan seorang nenek yang sedang menggendong bayi.

Bayi laki-laki itu mengingatkan saya pada  Langit dan Mentari Pagi, yang sedang ditemani oleh yangti dan yangkung di Jombang selama saya mengambil visa di kedutaan Austria hari ini.

Nenek itu tersenyum ramah pada saya, dan tanpa menunggu lama, obrolan diantara kami pun bergulir hangat. Rupanya nenek dan cucunya tersebut akan naik kereta menuju Bandung untuk kembali ke rumah. Libur akhir pekan berlanjut dengan hari libur Nasional di awal pekan digunakan nenek dan cucunya ini untuk mendatangi rumah anaknya, orangtua dari cucunya tersebut.

Ya, sejak lahir, bayi laki-laki itu dirawat oleh sang nenek dan kakek di Bandung. Sedangkan kedua orangtuanya bekerja di Jakarta. Orangtuanya pulang dari Jakarta ke Bandung setiap Jum'at, sembari membawa botol-botol ASI perah yang sudah dikumpulkan selama lima hari kerja. Ibu dan anak pun bertemu di setiap akhir pekan.

Sang nenek pun berkisah panjang. Mengenai alasan keputusan tersebut. Kekhawatiran sang nenek akan keselamatan dan keamanan sang cucu jika bayi tersebut dititipkan di tempat pengasuhan anak maupun dijaga oleh asisten rumah tangga. Maraknya berita kecelakaan dan hal kurang baik yang dialami anak-anak saat dijaga oleh asisten rumah tangga, membuat sang nenek tak tega jika cucunya harus dititipkan pada orang lain. Jadilah, tanggungjawab pengasuhan cucu beliau ambil dengan berbagai pertimbangan dan konsekuensi.

Saya tak ingin membahas alternatif-alternatif kondisi untuk bayi laki-laki tadi. Karena saya tak memiliki kuasa atas hal tersebut. Namun, saya merasa Allah menitipkan nilai dari obrolan singkat tadi. Yang kemudian, mau seberapa banyak saya mengambil pelajaran?

Seringkali, banyak orang yang tak memiliki pilihan lain. Dihadapkan pada sebuah peran yang menuntut konsekuensi yang tak ringan. Saat ditanya alasan, jawabannya tak lain adalah karena tak ada pilihan lain.

Saya teringat kalimat yang disampaikan oleh bu Septi, yang kurang lebihnya, memang menyenangkan jika kita bisa melakukan apa yang kita cintai. Namun sebuah rahasia kehidupan adalah, bagaimana kita mencintai dan menjalankan dengan sepenuh hati, proses dan amanah yang sedang kita emban saat ini.

Obrolan singkat pagi ini dengan sang nenek, memompa rasa syukur saya. Yang mana saat ini saya berada dalam sebuah kondisi yang merupakan hasil dari pilihan saya sendiri. Semakin menguatkan tekad untuk mengoptimalkan daya upaya, menyempurnakan ikhtiar, untuk kemudian menyerahkan hasil pada Sang Pemberi Rezeki.

0 comments:

Post a Comment