Tuesday, 4 August 2015

Komunikasi Produktif, Pijakan Penting dalam Pendidikan Keluarga


Alhamdulillah, malam tadi kembali belajar via webinar di Ibu Profesional. Materi Komunikasi Produktif yang tadi disampaikan bu Septi, mengawali mata kuliah Bunda Sayang di tahun ajaran baru ini :D

Normalnya (dan biasanya),usai kuliah saya akan menutup laptop dan beranjak mengerjakan aktivitas lainnya. Tapi kali ini, saya memulai abnormalitas versi saya dengan membuat resume begitu kuliah berakhir. Harapannya, dengan membuat resume, hati-pikiran-tindakan saya akan semakin melekat dengan materi ini. Yang kemudian ditindaklanjuti dengan praktikum dan pembuatan jurnal. Aamiin.

SUKSES = ABNORMALITY

Ibu sebagai pengemban amanah:
  • Ilmu pendidikan anak dan keluarga
  • Peningkatan kualitas diri sebagai individu, ibu dan istri
Apa yang biasa dilakukan ibu-ibu kebanyakan, kita berikan nilai tambah.
Jika normalnya ibu merupakan seorang yang multitasking, maka jadilah ibu yang memprioritaskan 1 tujuan utama. Semisal, pilih antara :
 ANAK YANG BENAR-BENAR TERDIDIK                          ( V )
SAJIAN MAKANAN YANG SELALU SEGAR SETIAP SAAT   (    )
RUMAH YANG SELALU RAPI                                        (    )
Investasikan waktu untuk belajar -->  BONUS WAKTU
Orang lain tidak belajar mendidik anak, kita BELAJAR --> BEDA

HUKUM PARETO 80:20
80 = yang dilakukan oleh kebanyakan orang.
20 = abnormal positif dan negatif. Jika kita lakukan abnormal positif (10), maka akan sukses melebihi yang lain.
Hasil adalah hak Allah. Tugas kita adalah MELAKUKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.

MENTAL WARRIOR
Mr. Ah Bad. Setiap kita beraktivitas, dicari2 sisi negatifnya.
Mr. Cold Water. Dingin dg aktivitas kita. Apatis. Responnya membuat kita tidak bersemangat.
Mr. Lose Lose. Menyerah dengan keadaan.
Ketiga orang ini ada di sekitar kita atau bahkan di DALAM DIRI KITA. SELESAIKAN
REMEMBER :
FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST
Buat perbandingan diri kita sekarang dengan diri kita yang dulu, bukan membandingkan diri dengan orang lain. Pun juga dengan keluarga dan anak.
PROBLEM = CHALLENGE. Membiasakan diri untuk menguatkan diri
CHOOSE YOUR WORDS
  • Words represent the way you think. Kata-kata akan menunjukkan bagaimana jalan pikiran kita.
  • Words brings energy. Kata-kata akan membawa energi. Jika kita bicara masalah, maka aura kita akan mengisyaratkan jatuh. Jika mengatakan tantangan, mata akan berbinar dan semangat menyelesaikan.
  • Words = You. Kata-kata mencerminkan kepribadian kita.

PROTECT YOURSELF
SWITCH! Sesuatu yang ada di diri kita tidak akan dapat berjalan jika tidak dikatakan.
CANCEL CANCEL GO AWAY!
Mengingat suatu hal yang menyedihkan/membuat trauma, akan membuat semakin sedih. Harus dihentikan, diganti dengan hal-hal yang menyenangkan bagi diri kita.
THE MAGIC COMMUNICATION
  • Fokus pada solusi, bukan pada masalah. Misal, anak memecahkan gelas kesayangan kita. Jika anak tersebut membawa gelas lagi, katakan hati-hati, suruh fokus dan konsentrasi. Bukan dengan mengingatkannya kembali dengan kesalahannya yang dulu. Jangan-jangan nanti jatuh lagi, gagal lagi. Komunikasi produktif ibu akan menguatkan kepercayaan diri anak.
  • Ganti TIDAK BISA menjadi BISA. Tidak ada kegagalan, yang ada hanya hasil yang salah.
  • Katakan apa yang kita inginkan, bukan apa yang tidak kita inginkan. Nak, ibu ingin kamu paham dengan kondisi keuangan keluarga kita. Bukan dengan terus mengeyel.
  • Fokus ke masa depan, bukan masa lalu. Evaluasi dilakukan saat mau memulai projek baru. Untuk memperbaiki projek ke depan. Jika anak melakukan kebaikan, ingatlah. Jika anak melakukan kesalah, tegur dan jangan diingat-ingat.                              

THE MAGIC WORD
  • Anak tidak memahami kata JANGAN
  • Keep Information Short and Simple (KISS)
  • Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan. Nadanya harus benar. Jika mengkritik, sampaikan dengan tegas, tidak perlu sayang2an dulu. Misal,”Sayang, tidak boleh ya Nak..” Setelah mengkritik, baru sampaikan kalau kita melakukan hal tersebut karena sayang pada anak. Jangan mengelus sambil mengkritik. Nanti malah kritikan anda tidak digugu. Tidak ada perubahan mengindikasikan bahwa metode mengkritik anda kurang tepat. Pujian merupakan suatu hal yang membuat anak menjadi bangga.

Marah : disertai emosi. Tidak ada solusi dan kritikan yang membangun. Pitch tinggi, jantung berdebar.
Kritik : Ada logika yang jalan. Nak, ibu sudah bilang, bahwa ini harus diletakkan di tempatnya, Sekarang kamu lakukan perintah ibu.
Di akhir kritik, katakan kalo ibu sayang dan rangkul anak
  • Kendalikan suara dan gunakan suara ramah
  • Seringlah memberi kejutan  menarik ke anak. Anak pulang sekolah beri kejutan. Contoh : Selamat! Kakak layak mendapatkan hadiah. Tiga langkah ke depan, serong ke kiri blablabla, ternyata sampai kulkas. Di kulkas ada eskrim. Diberi tulisan ANDA LAYAK MENDAPATKAN HADIAH KARENA TELAH MEMBERESKAN TEMPAT TIDUR SENDIRI à dipuji karena prosesnya.

CHANGE YOUR WORDS
Masalah = TANTANGAN
Susah = MENARIK
Saya tidak tahu = SAYA CARI DULU
Yaaah… = YESS!. Berfungsi untuk mengubah suasana. Kondisi yang mengecewakan dihadapi tetap dengan positif dan melihat sisi hikmahnya
KAIDAH 2C
Clear
Gunakan bahasa yang dimengerti komunikan, KISS
Clarify
Bila ragu, tanyakan. Jangan berasumsi. Jika ortu tidak sepaham, selesaikan di kamar. Bikin daftar kata yang tidak seharusnya muncul ke anak/di hadapan anak.
Untuk menghindarkan anak dengan pengaruh komunikasi negatif dari luar, bentengi dengan penguatan. Sehingga anak dapat CLEAR n CLARIFY dan memfilter kata-kata tersebut. Jika sudah terlanjur, SWITCH dengan kalimat-kalimat pengganti.

KOMPONEN KOMUNIKASI
Verbal : 7%
Non Verbal : 93% terdiri dari intonasi 38% dan bahasa tubuh 55%

FORMULA KOMUNIKASI

  1.  High energy
  2. Intensity of Eye Contact
  3. Transfer of Feelings
  4.  Strategy

Catatan kuliah ini berasal dari webinar tadi dan rekaman webinar tahu ajaran sebelumnya. Jika belum dapat mengikuti webinarnya, ibu dapat juga membaca bukunya, materi lengkap beserta studi kasusnya.

Selanjutnya, bagaimana?

RENCANA PRAKTIKUM :
Setelah mendapatkan kuliah komunikasi produktif ini, ada 2 hal yang menjadi prioritas saya untuk dijadikan kebiasaan dalam rangka menciptakan komunikasi produktif. Yaitu :
  • Mengendalikan emosi
  • Berkomunikasi produktif terhadap diri sendiri

Di tengah membuat catatan,ada chat WhatsApp dari Ismi Istiqomah Ruhyati, rekan belajar di IIP Bandung. Beberapa waktu lalu saya memang meminta audio lagu yang biasa beliau berikan pada anak-anak didiknya di PAUD, untuk dapat saya adaptasikan dalam mendidik si putri kecil. Berikut liriknya :
Jika aku berdoa kuangkat tanganku
Dengan suara lembut tidak berteriak
Berdoa sungguh2 agar dikabulkan
Segala permohonan hamba yang beriman
Tanganku ada dua jarinya lima lima
Kuangkat keduanya mari kita berdoa



0 comments:

Post a Comment