Skip to main content

Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas


Membuat Skala Prioritas

Beberapa pekan lalu, kami sebagai tim Training and Consulting Ibu Profesional Non ASIA mengundang mba Rima Melani (Divisi Research and Development Resource Center Ibu Profesional, Leader Ibu Profesional Banyumas Raya sekaligus Praktisi Talents Mapping) di WhatsApp Group Magang Internal. Bahasan yang disampaikan adalah mengenai Manajemen Prioritas dalam Berkomunitas. 

Bahasan ini kami jadwalkan sebagai materi kedua dari rangkaian materi pembekalan untuk pengurus IP Non ASIA karena bermula dari kebutuhan pribadi sebagai pengurus komunitas. Masih berkaitan dengan materi sebelumnya, yang bisa disimak di tulisan sebelumnya. Di materi pertama lalu kami diajak uni Nesri untuk menelusuri peran diri sebagai individu, yang kemudian dipetakan dan dikaitkan dengan peran dalam keluarga sebagai lingkaran pertama, dilanjutkan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan sosial sekitar. Sehingga antara peran diri, peran dalam keluarga serta peran komunal dapat ditarik benang merah, yang mana peran-peran tersebut saling terkait dan menguatkan satu sama lain.

Tak dipungkiri, beberapa peran yang diampu seringkali menimbulkan tantangan berupa ketidakseimbangan langkah. Terjadi sebuah ketimpangan yang mengganggu keseimbangan diri baik fisik maupun mental. Di materi kedua ini, kami dibekali tips dan trik untuk merumuskan skala prioritas dalam menjalankan aktivitas, serta menjalankan manajemen waktu yang tepat. Dengan gamblang, mba Rima memaparkan tips dan trik yang beliau jalanan selama ini dengan ragam peran yang berhasil beliau ampu. 

Bagaimana cara membuat skala prioritas?
Pertimbangan Skala Prioritas

Ternyata ada beberapa pertimbangan yang dapat dijadikan acuan untuk membuat sebuah skala prioritas. Pertimbangan tersebut antara lain :

  • Tingkat urgensi. Yang mana aktivitas dengan urgensi paling tinggi yang dijadikan prioritas pertama. Urgensi tinggi versi saya adalah yang menyangkut kepentingan banyak pihak dan memiliki batas waktu kesempatan yang sudah mendekati akhir.
  • Kemampuan diri. Semisal kemampuan diri sudah mencapai batas optimal, maka kita perlu menahan diri. Di Ibu Profesional, biasanya lazim dikenal dengan slogan, “Kesempatan ini menarik, tapi saya tidak tertarik.”
  • Kesempatan yang dimiliki. Kesempatan emas bagi saya adalah dimana ada sebuah kesempatan berupa ruang aktualisasi diri sekaligus proses pembelajaran bertahap dan berkelanjutan yang dalam perjalanannya sekaligus bisa dirasakan kebermanfaatannya oleh orang lain. Seperti halnya pada kepengurusan komunitas Ibu Profesional
  • Pertimbangan masa depan. Aktivitas-aktivitas yang kita prioritaskan untuk dilakukan saat ini adalah aktivitas yang menjadi bekal atau modal masa depan. Dunia akhirat. 

Setelah memaparkan mengenai pertimbangan dalam menentukan skala prioritas, disampaikan juga mengenai strategi dalam manajemen waktu. Kami pun membuka-buka kembali catatan kelas matrikulasi. Mulai dari membuat kuadran aktivitas, kandang waktu hingga jadwal tertulis di buku maupun aplikasi. Secara naluri, saya menyukai perencanaan yang detail termasuk dalam hal manajemen waktu. Target hidup dibedah per tahun, per bulan, per minggu, per hari hingga per jam. Setelah menyimak pemaparan mba Rima, saya tersadar bahwa sikap perfeksionis dan menunda masih sering saya lakukan dan hal inilah yang peru segera diperbaiki.
Kuadran Aktivitas


Saat sebuah perencaan sudah dibuat, jadwal telah disusun, kemudian saat dijalankan menemui kebuntuan, kehabisan ide, saya mudah merasa kesal kemudian ingin lekas beralih ke aktivitas lainnya. Atau saat mengerjakan suatu hal namun merasa ada yang kurang, saya enggan untuk mengumpulkan dan cenderung memilih menunda agar dapat mendapat hasil optimal. Namun ternyata, saya tidak memiliki cukup waktu untuk menuntaskannya hingga sempurna (versi saya). Hingga kemudian tugas malah tak kunjung selesai dan tugas yang lain antri menanti untuk dikerjakan. Ayat Al Qur’an berikut pun menjadi pengingat diri, 
“Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Dalam rangka memperbaiki manajemen waktu diri, saya juga menyimak pemaparan Ustadz Adi Hidayat berikut : https://www.youtube.com/watch?v=L_pCkp_zDf0

Di video tersebut beliau menjelaskan bahwa seorang muslim idealnya memiliki manajemen waktu yang tertata rapi. Jelas jadwalnya dan terbentuk sebuah pola kebiasaan rutin. Ah, saya banyak tertohok dan mendapat pelajaran dari video ini. 

Maka, berkaitan dengan manajemen prioritas dalam berkomunitas, strategi yang akan saya jalankan ke depan adalah :
1. Menjaga niat dan tujuan
2. Menjaga fokus
3. Disiplin pada jadwal 
4. Memperbanyak syukur 

Semoga Allah mudahkan dan bimbing senantiasa. Kalau strategi teman-teman bagaimana? Dinantikan sharingnya ya :)






Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan