Monday, 14 March 2016

Brokoli dan Prasangka Hamba


Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai sebuah refleksi diri yang berawal dari keseharian, membeli brokoli. Jenis sayuran satu ini memang cukup sering hadir dalam menu harian kami. Selain karena merupakan salah satu sayuran favorit putri kami, teksturnya yang khas membuat saya dan suami juga menyukainya. Dalam keseharian, saya biasa membeli brokoli di warung dekat rumah, atau tukang sayur keliling yang lewat setiap pagi.
Dulu, awalnya, saya membeli brokoli dari tempat manapun, baik dari tempat A, B maupun C. Terlebih jika membeli di tempat B atau C, mata saya berbinar-binar karena harga yang amat terjangkau, hampir setengah harga dari tempat A!. Tak mau kecewa, sebelum membeli saya sengaja ekstra dalam memilih, memastikan brokoli pilihan saya bermutu baik dengan harga ekonomis. Secara kasat mata, pilihan saya sudah cukup bagus. Sesampainya di rumah, saat brokoli saya bersihkan dan potong-potong, ternyata ada saja bagian yang harus dihilangkan dalam jumlah banyak, entah ternyata terdapat bagian yang busuk di dalam ulat yang menerobos celah rongga disana-sini, atau kuntum berwarna putih kekuningan yang tersembul di balik deretan hijau segar yang nampak dari luar. Semuanya baru terlihat saat kuntum brokoli dipisah-pisah.  Tak kapok, saya mengulangnya kembali, membeli di tempat B dan C, kali ini dengan mata yang semakin awas dalam memilih. Lagi-lagi, perbedaan harga menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan. *Emak-emak banget!
Dan, hal yang sama kembali terulang. Dari situ saya mulai geregetan, hehe… Saya pun membulatkan tekad :
Membeli brokoli hanya di tempat A, tidak di tempat B, tidak juga di tempat C
Saya kapok, selalu kecewa setiap membeli brokoli di tempat B maupun C. Memang secara nominal, harga yang ditawarkan di tempat B dan C memang lebih murah, bahkan untuk semua bahan pangan yang didagangkan. Waktupun bergulir, jika membutuhkan brokoli, saya selalu ke tempat A. Kualitas pas, tak mengecewakan. Sampai di suatu hari, di pembelian yang etah keberapa kali, saat saya sangat bersemangat membersihkannya, ternyata brokoli yang saya beli di tempat A, tidak sebagus biasanya. Hiks.
Awalnya merengut, sempat kecewa. Namun saya segera tersadar. Sepertinya Allah sedang memberikan pelajaran kepada saya. Bahwa seyakin-yakinnya keyakinan saya terhadap suatu hal, tetap Allah-lah tempat bersandar sepenuhnya.


Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim kepada bapaknya: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (Surat Al Mumtahanah ayat 4)

Siang itu, dari sekuntum brokoli dalam genggaman tangan saya belajar.

#ODOPfor99days
#day51







4 comments:

  1. Pelajaran bgt ini.. kadang manusia suka lupa ya mbak, kalo masih ada Allah tempat bersandar, tempat percaya, tempat ngadu. suka malu sndiri kalo inget, aku msih sering ngelupain yg di Atas.. baru berpaling kalo ada masalah :(..

    ReplyDelete
  2. Menurut saya ikhtiar memilih tempat membeli brokoli dibolehkan kok mbak. Saya jg kalau di tempat A dapat barang gak bagus, akan pindah ke pedagang lain, selama ada pilihan lain yg lbh baik.

    Oh ya, brokoli yg berulat bukannya tanda bahwa pestisidanya dikit ya yg dipakai? :D

    Komennya nyambung gak ya? hehehe

    Salam kenal

    keluargahamsa(dot)com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyambung koq mba, memang lagi bahas brokoli, hihi.. salam kenal ya :)

      Delete