Skip to main content

Memahami Gaya Belajar Diri Sendiri


Tantangan materi #4 mengenai gaya belajar anak ini, membuat saya garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Beberapa hari saya melakukan pengamatan pada anak, saya belum mendapatkan bahan yang bisa saya tuliskan karena saya belum bisa menemukan kecenderungan gaya belajar anak. Namun karena penasaran ingin mengaplikasikan materi tersebut dengan mengidentifikasi gaya belajar seseorang, jadilah saya terpikir untuk mengamati gaya belajar saya terlebih dahulu. Terlebih, materi ini terasa akan lebih saya pahami jika obyek pengamatannya bisa terindentifikasi dengan jelas.

Baiklah, tantangan ini saya mulai dengan mengamati gaya belajar diri sendiri. Karena sebelum mengamati gaya belajar anak, tentu seorang ibu harus paham dan yakin gaya belajar yang dia miliki. Untuk kemudian disesuaikan dengan metode dan strategi pembelajaran yang dilakukan setiap belajar. Bagaimana pengamatannya? Poin-poin pengamatan yang saya dapatkan di materi #4 coba saya ceklis satu per satu. Dan hasil perolehannya adalah sebagai berikut :

Ciri belajar yang saya banget, antara lain :

  • Bicara agak cepat
  • Lirikan keatas bila berbicara
  • Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  • Pembaca cepat dan tekun
  • Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.
Poin-poin diatas adalah ciri gaya belajar VISUAL


  • Cukup pandai memilih kata-kata
  • Lebih suka melakukan pidato daripada demonstrasi
  • Mengingat yang didengar daripada dilihat
  • Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
  • Mudah terganggu oleh keributan
  • Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan daripada yang dilihat
  • Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  • Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  • Cukup fasih saat berbicara
  • Suka bercerita dengan lawan bicara
  • Berbicara dalam irama yang terpola
  • Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara
Poin-poin diatas adalah ciri-ciri gaya belajar AUDITORI

  • Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  • Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.
Poin-poin diatas adalah ciri-ciri gaya belajar KINESTETIK

Nah, dari proses identifikasi yang sudah saya lakukan, ternyata gaya belajar saya adalah kombinasi AUDIO VISUAL.
Setelah menemukan gaya belajar yang Mesa banget, saya pun perlu menyusun strategi belajar untuk mengoptimalkan proses belajar saya. Strategi belajar yang akan saya lakukan antara lain : 
  • Memperbanyak penggunaan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta
  • Menggunakan warna untuk menandai hal-hal penting
  • Memilih buku bacaan yang kaya ilustrasi
  • Menggunakan multi-media (contohnya: komputer dan video)
  • Mengilustrasikan ide ke dalam bentuk gambar
  • Membuka ruang diskusi di keluarga maupun lingkungan terdekat
  • Membaca materi belajar dengan bersuara
  • Belajar dengan metode membaca, mendiskusikan ide dan mendengarkan rekamannya


Identifikasi dan penyusunan strategi sudah dilakukan. Selanjutnya adalah bergerak, menguji keakuratannya. Bismillah J


Comments

Popular posts from this blog

Praktik Cooking Class : Bubur Sumsum Lembut

Apa yang pertama kali terbayang saat melihat bubur sumsum? Jika pertanyaan itu menghampiri saya, saya akan menjawab “kondisi sakit”. Saat sakit, biasanya nafsu makan kita berkurang, susah menelan dan lidah terasa pahit. Tak heran jika makanan ini seringkali menjadi asupan bagi orang sakit. Teksturnya yang lembut dan cita rasa optimal selagi hangat tentu memudahkan pemenuhan kebutuhan energi saat kondisi tubuh kurang prima. Saat sehatpun, mengonsumsi bubur ini terasa nikmat, apalagi jika di luar sedang diguyur hujan dan cuaca dingin menyelimuti. Dikutip dari Wikipedia , bubur sumsum adalah sejenis makanan berupa bubur berwarna putih yang dilengkapi dengan kuah air gula merah. Mengapa dinamakan bubur sumsum? Katanya, dinamakan demikian karena penampakannya yang putih menyerupai warna bagian luar sumsum tulang. Bahan utama bubur ini adalah tepung beras.  Tentu tepung beras dengan kualitas baik. Bagaimana kriterianya? Tentu mengikuti SNI, berikut informasi detilnya : N

Materi 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahapan Belajar di Institut Ibu Profesional Setelah hampir tiga tahun belajar di Institut Ibu Profesional dan belum saja lulus. alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk semakin memperdalam ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional dengan mengikuti program matrikulasi. Program matrikulasi Ibu Profesional batch #1 ini masih khusus diperuntukkan bagi para koordinator, fasilitator dan pengurus rumah belajar yang tersebar di setiap wilayah. Jika batch #1 selesai dijalankan, akan diadakan batch-batch selanjutnya untuk para member Institut Ibu Profesional. Tujuan diadakan program matrikulasi Ibu Profesional adalah agar setiap member memiliki kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang "Ibu Profesional" yang menjadi kebanggan keluarga dan komunitas.  Program matrikulasi ini mulai berlangsung tadi malam, 9 Mei 2016 pukul 20.00-21.00 via WhatsApp dengan materi pembuka [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Sebelum materi disampaikan, bu Septi

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim bersama Ustadz Adriano Rusfi

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Disinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri. Nah, di weekend  menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT ( Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya. Tak hanya kopdar bulanan, komunitas ini juga rutin mengadakan beragam aktivitas menarik untuk memfasilitasi kebutuhan belajar anak dan