Skip to main content

Pertemuan dengan Seorang Anak yang Jiwa Sosialnya Tinggi

Alhamdulillah, akhirnya bisa kembali menuangkan cerita di blog. Semoga cerita demi cerita yang akan kembali tertulis disini, Allah jaga dalam bingkai kebajikan sehingga bisa menjadi sebuah kebermanfaatan bagi yang menuliskan maupun yang membaca. 

Bismillahhirrohmanirrohim…



Kemarin sore, ada sebuah kejadian menarik saat saya menemani anak-anak bermain pasir di taman. Seperti biasa, saya duduk di pinggir bak pasir di dekat tempat anak-anak asyik bermain. Mentari Pagi dan Langit asyik bermain dengan peralatan yang mereka bawa. Ada jerigen air mini dan cetakan kastil dilengkapi empat sekop untuk mengeruk pasir. Di bak pasir itu ada beberapa anak yang juga bermain. Mayoritas dari mereka membawa peralatan bermainnya masing-masing. Hmm…ada seorang anak yang menarik perhatian saya. Dilihat dari postur tubuhnya, usia gadis kecil itu sekitar 6 hingga 7 tahun. Jika diamati dari gaya berpakaian ibunya, mereka berasal dari India. Dia menyapa akrab saya dan Mentari Pagi. Sapaan “Halo” yang dia utarakan, saya jawab disertai senyum manis. Nampaknya gadis kecil ini mengartikan balasan hangat dari kami sebagai lampu hijau baginya untuk bisa bermain bersama kami. Kam pun tak keberatan. 

Si gadis kecil tertarik dengan jerigen air mini milik Mentari Pagi. Dengan bahasanya, dia mengisyaratkan bahwa ingin memakainya. Mentari Pagi tak membolehkan, karena jerigen itu juga sedang ia gunakan untuk bermain pasir. Gadis kecil itu beberapa kali membujuk, namun Mentari Pagi tetap teguh tak membolehkan. Yang menarik, bujukan gadis kecil ini selalu disertai senyuman. Meski belum juga diperbolehkan, tak lantas membuat raut wajahnya berubah. Dia tetap meminta dengan tersenyum. Karena Mentari Pagi tetap pada pendiriannya, gadis kecil itu pergi. Melakukan aktivitas lain seperti berkeliling bak pasir atau bermain ayunan. Selang beberapa lama, muncul seorang anak perempuan lain yang juga bermain di bak pasir. Si gadis kecil tadi juga mendekat, menyapa, melakukan hal yang sama seperti dia memperlakukan kami. Kali ini teman barunya tersebut memperbolehkannya ikut memainkan peralatan. Gadis kecil itu pun asyik bermain selama beberapa saat. Tak lama, dia kembali berkeliling bak pasir dan menyapa anak-anak lain. Hingga kemudian dia kembali menghampiri kami. 

Saat itu, Mentari Pagi sedang membutuhkan air untuk pasirnya. Dengan cekatan, si gadis kecil ini menawarkan diri untuk mengambilkan air di kran yang masih berada di dekat bak pasir. Namun si gadis kecil itu kembali dengan jerigen yang tetap kosong. Rupanya tangannya belum mampu menarik tuas pembuka air di kran. Kran air itu memang sulit jika dibuka oleh anak-anak. Tenaga anak-anak tak cukup kuat untuk menarik tuas kran air tersebut. Telunjuk tangannya bergerak ke atas sembari bola matanya bergerak ke kanan kiri. Saya menanggapi dengan memberikan pertanyaan, “Bagaimana solusinya?” Tak lama dia tersenyum dan berujar, “Aha, aku punya ide…” Dia mengajak saya mengikuti langkahnya ke kran. Ternyata idenya adalah dia meminta bantuan saya untuk menarik tuas pompa air. Hihihi…

Usai jerigen terisi air, dengan sigap dia mendatangi Mentari Pagi dan menawarkan untuk menyiramkan air ke pasir. Mentari Pagi menyambutnya dengan suka cita. Di ujung lainnya, temannya tadi juga memanggilnya dan mengatakan bahwa dia juga membutuhkan air. Hingga saya hitung sampai akhir, ada sekitar lima kali bolak balik gadis kecil ini mengisi air untuk melayani teman-temannya yang membutuhkan air. Dan dia melakukannya selalu dengan senyum lebar. Saya mengulurkan tangan mengajaknya give me five saat usai membantu anak lain. Beberapa saat kemudian, dia yang mengajak saya mengulanginya setiap dia tuntas membawakan air untuk teman-temannya. Dia menyukai apresiasi ini. Kami terus bermain dengan pola demikian. Tak ada lagi anak yang protes, tak ada lagi anak yang bosan hingga menangis, tak ada lagi ibu yang berteriak karena merasa anaknya merugikan orang lain. Alhamdulillah. Dari sini saya membaca sesuatu. Gadis kecil ini memiliki bakat servicing yang tinggi. Bagi orang yang baru mengenalnya, mungkin orang lain merasa risih dengan sikapnya yang selalu mendekat. Namun saat saya menyaksikan cara dia bermain bersama Mentari Pagi dan teman lainnya, saya dapat melihat binar bahagia di sorot matanya setiap kali orang lain berterimakasih padanya atas bantuan yang dia ulurkan. 

Hari menjelang sore, saya dan anak-anak pun berpamitan pada ibunya untuk pulang dulu ke rumah. Ibunya berterimakasih pada kami karena senang bermain dengan gadis kecilnya. Melihat saya menyalami sang ibu, gadis kecil itu berlari mendekat dan menjabat tangan saya dan Mentari Pagi. Ada rasa hangat yang menjalar di hati ini. Saya berharap, semoga Allah senantiasa mudahkan kami para orangtua untuk fokus melihat keunggulan setiap anak, memahami dan memberi ruang pada mereka untuk mengekspresikan keunggulan tersebut. Aamiin…

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menulis Cerita Anak : Pengenalan Anggota Tubuh

CERITA TENTANG PENGENALAN ANGGOTA TUBUH Udara hangat, suara burung berkicau dan air bergemericik, menemani sang mentari menyingsing dari arah timur. “Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh…. Selamat pagi anak-anak… Bagaimana kabar hari ini?” ibu guru membuka ruang kelas batita dengan sapaan penuh semangat. Anak-anakpun menjawab dengan antusias, bahkan mereka berlomba-lomba mengeraskan suara, “Wa’alaykumsalam warahmatullah wabarakatuh… Selamat pagi ibu guru… Alhamdulillah….Luar biasa…Allahu Akbar!” Jawaban sapaan berlogat cedal khas anak-anak membahana di seluruh isi ruangan. Ibu guru tersenyum lebar. (Coba, siapa yang bisa peragakan, bagaimana senyum lebar itu?). Jawaban nyaring anak-anak tadi tak ubahnya pasokan energi yang membuat semangatnya menggebu sehari penuh. Pagi ini sang ibu guru akan mengenalkan pada anak-anak mengenai anggota tubuh. Sengaja beliau datang dengan tangan hampa. Tanpa buku, tanpa alat peraga. Rupanya beliau ingin tahu seberapa jauh anak-...

Nomor Sim Card Indonesia Nonaktif Saat Berdomisili di Luar Negeri? Lakukan Langkah Berikut untuk Reaktivasi!

Saat tahun lal u kami berkesempatan mudik ke Indonesia, saya membeli nomor sim card Indonesia dengan provider Telkomsel dan berniat menjaganya agar tetap aktif. Sekalipun tinggal di luar negeri, kami menggunakan beberapa aplikasi dalam negeri yang membutuhkan nomor sim card Indonesia yang aktif untuk verifikasi. Masa aktif kartu yang saya beli memang relatif pendek, sehingga saya merasa perlu mengeceknya secara berkala agar tidak sampai hangus. Tapi setelah beberapa bulan berjalan, saya larut dengan agenda-agenda keseharian, dan lupa mengeceknya via aplikasi MyTelkomsel. Pagi ini saya baru ingat, kemudian membuka aplikasi MyTelkomsel. Gagal, karena ternyata ter-logout otomatis. Entah sejak kapan, karena memang aplikasi tersebut jarang saya buka selama di Abu Dhabi. Saat saya mencoba login, qodarullah aplikasi meminta untuk melakukan verifikasi via SMS. Dan di sinilah tantangan muncul, SMSnya tidak sampai. Maka verifikasi pun gagal dilakukan. Saya mulai mencari informasi, apakah ada car...

Materi 1 Program Matrikulasi Ibu Profesional : Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Tahapan Belajar di Institut Ibu Profesional Setelah hampir tiga tahun belajar di Institut Ibu Profesional dan belum saja lulus. alhamdulillah Allah beri kesempatan untuk semakin memperdalam ilmu untuk menjadi seorang ibu profesional dengan mengikuti program matrikulasi. Program matrikulasi Ibu Profesional batch #1 ini masih khusus diperuntukkan bagi para koordinator, fasilitator dan pengurus rumah belajar yang tersebar di setiap wilayah. Jika batch #1 selesai dijalankan, akan diadakan batch-batch selanjutnya untuk para member Institut Ibu Profesional. Tujuan diadakan program matrikulasi Ibu Profesional adalah agar setiap member memiliki kompetensi ilmu-ilmu dasar menjadi seorang "Ibu Profesional" yang menjadi kebanggan keluarga dan komunitas.  Program matrikulasi ini mulai berlangsung tadi malam, 9 Mei 2016 pukul 20.00-21.00 via WhatsApp dengan materi pembuka [Overview Ibu Profesional] Menjadi Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Sebelum materi disampaikan, bu Septi...