Monday, 28 January 2019

Sebuah Kontemplasi, Mengasah Peran Diri dalam Komunitas


Alhamdulillah, atas izin Allah, kuliah WhatsApp perdana di grup Magang Internal Ibu Profesional Non ASIA telah terlaksana dengan baik. Program ini bermula dari kebutuhan diri untuk semakin profesional dalam mengemban peran dan amanah baik sebagai diri, dalam keluarga maupun komunitas. Yang kemudian dirasa perlu untuk membuat sebuah sesi pembekalan bagi para pengurus Ibu Profesional Non ASIA sehingga memiliki pijakan yang kuat, pemahaman yang terintegrasi sebelum melangkah menjalankan amanah kepengurusan.
Gambar 1. Flyer Program Magang Internal 

Kuliah WhatsApp sesi pertama mengambil tema “Mengasah Peran Diri dalam Komunitas” dengan menghadirkan narasumber Direktur Resource Center Ibu Profesional, mba Nesri Baidani. Materi yang disajikan bisa jadi terkesan tidak banyak, namun justru itu ciri khas mba Nesri. Beliau menyampaikan sesuatu dengan singkat dan padat, kemudian melanjutkannya dengan lontaran pertanyaan yang membuat diri merenung dan mengasah logika berpikir. Maka, cara untuk menyerap banyak pembelajaran dari sesi ini adalah dengan terlibat aktif dan langsung menjalankannya melalui praktik.
Gambar 2. Cuplikan materi dari mba Nesri Baidani

Pendidikan adalah tanggungjawab keluarga dan komunitas. Keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.
Dalam materinya, mba Nesri mengajak kita untuk membuka kembali materi di kelas matrikulasi mengenai misi hidup. Dimulai dari misi diri, kemudian misi keluarga lalu misi komunitas. Jika ketiga misi ini sudah terjawab, maka kita bisa menemukan irisan antara ketiganya, dan menemukan keselarasan antara misi diri, keluarga dan komunitas.
Gambar 3. Keselarasan misi berlanjut membangun peradaban

Lalu saya pun merenung dan kembali membuka catatan…
Hasil talents mapping menunjukkan kombinasi bakat kuat saya adalah input, discipline, maximizer, significance, empathy, relator, futuristic. Menilik masa kecil, sejak usia Sekolah Dasar saya selalu memiliki buku catatan kecil. Saya gunakan untuk mencatat hal-hal penting, karena saya menyadari bahwa saya pelupa. Kebiasaan itu pun berlanjut hingga saat ini. Dan terverifikasi dengan adanya bakat kuat discipline. Aktivitas dalam komunitas belajar selalu membuat saya berbinar, usut punya usut, ternyata berkomunitas menjadi jawaban untuk saya dalam memenuhi kebutuhan bakat relator, maximizer, significance, futuristic maupun input. Untuk bakat empathy, ada kaitannya dengan kecintaan pada dunia anak-anak. Dikelilingi banyak anak kecil menghadirkan energi positif dan membangun mood  yang baik, entah mengapa. Meski tentu saya pernah memarahi anak, pernah bersuara tinggi ataupun tersulut emosi. Sembari terus berlatih untuk semakin sabar dan istiqomah. Saya juga menyukai ranah pengembangan diri. Itulah mengapa saya mendalami Talents Mapping, berawal dari kebutuhan memahami diri seutuhnya, suka mendengar dan menginterpretasikan. 
Gambar 4. Training TM Dynamics bersama Abah Rama dan Pak Endro

Maka, jika boleh mencoba merumuskan, misi individu saya saat ini adalah sebagai konselor.
Gambar 5. Learning by sharing mengenai Talents Mapping

Bagaimana dengan misi keluarga?
Hingga saat ini pun kami masih terus menggali. Kolaborasi yang cukup terasa adalah dinamika bakat saya dan suami yang saling melengkapi. Beberapa bakat yang menempati urutan terendah saya, terlihat dominan pada diri suami, seperti bakat focus, restorative dan analytical. Begitu pun sebaliknya. Aktivitas yang sama-sama kami sukai adalah diskusi serta mengambil insight dari kejadian. Maka di waktu yang sempit, kami upayakan mengalokasikan waktu untuk bertukar pikiran dan pendapat. Hal ini juga yang mendasari penamaan hometeam Griya Riset untuk keluarga kami.
Gambar 6. Griya Riset, nama hometeam keluarga

Kemudian, untuk misi komunitas. Tak dipungkiri, informasi saat ini sudah amat sangat mudah untuk didapatkan. Justru tantangannya saat ini adalah mencegah terjadinya banjir informasi, bersikap skeptis untuk setiap informasi yang didapatkan, serta menjaga fokus. Ibu Profesional adalah komunitas yang sudah saya ikuti sejak akhir tahun 2013. Wadah yang menjadi rumah kedua sekaligus tempat saya bertumbuh. Mengawali perjalanan dengan bergabung di Ibu Profesional Bandung saat baru saja diinisiasi. Kemudian mengajukan diri terlibat sebagai tim admin WAG untuk mendapat akses belajar langsung ke para teteh-teteh pengurus senior. Di periode berikutnya mengemban amanah sebagai sekretaris yang masuk dalam jajaran kepengurusan inti. Sempat keteteran, suami juga sempat mengingatkan kala itu. Terus belajar manajemen waktu dan prioritas. Mendapat kesempatan belajar juga menjadi fasilitator kelas Matrikulasi dan Bunda Sayang. Sempat pindah domisili ke Jombang dan bersama teman-teman menginisiasi Ibu Profesional Jombang. Dan saat ini mendarat di Ibu Profesional Non ASIA dan mengasah peran diri dengan berkecimpung di divisi Training and Consulting.
Gambar 7. Sudahkah saya mengasah peran diri di komunitas?

Jika kita sudah mengenali diri, mulai memahami misi diri dan mengidentifikasi misi keluarga, maka saat bertemu dengan banyak wadah belajar, kita bisa mengenali dan memilih mana yang selaras. Jika sudah menemukannya, maka kita bisa berkontribusi aktif di dalamnya dengan memilih peran yang sesuai dengan misi diri dan keluarga. Sehingga, emban amanah dalam komunitas akan mengasah misi diri, menguatkan misi keluarga dan menciptakan sebuah sinergi yang meluaskan kebermanfaatan.  
Bergabung di komunitas belajar yang memiliki misi yang selaras dengan misi diri dan keluarga, akan memudahkan perjalanan kita. Saat pertama kali merantau di Wina, dengan beragam tantangannya, saya merasa terbantu dengan materi-materi yang sudah didapatkan di Institut Ibu Profesional. Antara lain materi Manajemen Menu 10 Hari, Manajemen Waktu, Keluarga Multimedia, A Home Team dan lain sebagainya. Durasi kerja suami di kampus yang 12-14 jam setiap harinya, tugas domestik yang tak bisa didelegasikan ke pihak lain dan ragam tantangan lainnya alhamdulillah bisa dijalani dengan emosi yang cukup stabil. Ditambah dengan bergabungnya saya di Ibu Profesional Non ASIA, memberi kesempatan saya untuk banyak bertanya dan mendapatkan ilmu dari para ibu diaspora yang sudah banyak pengalaman di rantau.
Secara offline pun, Allah takdirkan kami sekeluarga tinggal di kota yang mana terdapat masjid Indonesia – Asia Tenggara, yang di dalamnya sudah berjalan aktif beragam kegiatan, sudah ada komunitas WAPENA (Warga Pengajian Austria) yang hangat. Sudah ada Taman Pendidikan Al Qur’annya juga dengan kegiatan rutin setiap akhir pekan. Alhamdulillah, rezeki yang amat saya syukuri. Maka, saat kemudian saya bergabung dalam kepengurusan TPA pun, saya merasa ini adalah tugas yang Allah berikan untuk mengasah peran diri. Yang mana beberapa bulan kemudian periodisasi kepengurusan pun  berganti, amanah sebagai koordinator TPA disematkan di pundak, maka innalillahi wainna ilaihi rojiun, semoga saya bisa menjalankannya dengan penuh sungguh.
Gambar 8. Apa maksud Allah menempatkan kita disini saat ini?

Terus belajar dan berproses memperbaiki diri. Memantaskan diri menjalankan misi hidup yang digariskan olehNya.


Wien, Januari 2019




0 comments:

Post a Comment