Friday, 21 February 2020

Optimalisasi Pengelolaan TPA di Kota Wina Austria

Di tantangan level 7 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional kali ini, saya memilih tema hubungan dengan Change Factor. 
Mengapa saya terdorong untuk memilih tema tersebut?
Karena di ranah itulah saya dan keluarga berkecimpung saat ini. Ya, saat ini 22 bulan sudah kami berdomisili sementara di kota Wina, Austria. Dan langkah paling konkret yang sedang saya jalankan bersama keluarga dan teman-teman sebagai sebuah upaya bersama adalah belajar menjalankan pendidikan berbasis komunitas dengan mengelola Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) Masjid As-Salam Warga Pengajian Austria (WAPENA).
Sedikit menengok ke belakang, kala kami baru tiba di kota ini. Saat itu tanggal 14 Mei 2018, kami menginjakkan kaki di kota Wina untuk pertama kalinya. Hanya dua hari menjelang puasa Ramadan. Di awal kedatangan, kami merasakan keanehan karena tak lagi mendengar alunan merdu suara adzan yang biasa kami dengar nyaring lima kali sehari. Di Indonesia, rumah orangtua saya berada di seberang masjid sehingga melangkahkan kaki sebanyak lima kali setiap harinya untuk selalu mengikuti sholat berjamaah di masjid setiap waktu sholat tiba bukanlah hal yang sulit. Keadaan yang sangat jauh berbeda. Kami juga kesulitan untuk menemukan tempat sholat di tempat umum jika sedang beraktivitas di luar rumah. Kondisi demikian sebenarnya sudah ada dalam bayangan kami sejak saat suami mengutarakan keinginannya untuk studi lanjut di luar negeri. Bayangan konsekuensi ini juga yang menjadi salah satu faktor pendorong untuk menguatkan fitrah keimanan dari dalam rumah dan menjalankan pendidikan berbasis keluarga.
Namun syukur alhamdulillah Allah menempatkan kami di sebuah kota yang cukup kondusif. Terlebih karena ada sebuah masjid Indonesia-Asia Tenggara yang hidup, masjid As-Salam namanya. Masjid yang aktif dengan kegiatan kajian di setiap akhir pekannya. Bahkan selama bulan Ramadan didatangkan seorang ustadz dari Indonesia untuk menyampaikan tausiyah secara rutin sebulan penuh. Saat Ramadan, setiap Senin dan Kamis pengurus masjid menyelenggarakan kajian yang dilanjutkan dengan buka bersama dan salat tarawih berjamaah. Momen ini menjadikan proses adaptasi kami di awal kedatangan ke kota ini berjalan lebih mulus.
Di masjid As-Salam rupanya juga ada Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) setiap hari Ahad bersamaan dengan kajian rutin yang diselenggarakan untuk warga Indonesia, Malaysia dan Asia Tenggara. Di sebuah ruangan di dalam masjid, para pengajar siap mendampingi anak-anak untuk belajar membaca Iqro' dan Al Qur'an serta setoran hafalan surat pendek. Beberapa pekan setelah kedatangan rutin kami ke masjid, pengurus TPA mengajak saya untuk bergabung menjadi pengurus TPA. Saya pun menyanggupi, karena pendidikan Islam dan anak-anak adalah dua hal yang saya sukai.
Sebelumnya, mari kita menilik definisi Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) terlebih dahulu. Menurut Budiyanto (2010) dalam Mintarti (2012), Taman Pendidikan Al Qur'an adalah unit pendidikan non formal jenis keagamaan berbasis komunitas muslim yang menjadikan Al Qur'an sebagai materi utamanya dan diselenggarakan dalam suasana yang indah, bersih, rapi, nyaman dan menyenangkan sebagai cerminan nilai simbolis dan filosofis dari kata "taman".
Tujuan diselenggarakannya TPA adalah memberikan lingkungan yang kondusif untuk berkembangkan fitrah keimanan anak muslim di negara dimana muslim sebagai minoritas sekaligus melahirkan generasi-generasi peradaban yang bertaqwa. Hal ini berkaitan dengan tujuan hidup manusia dalam Islam, yaitu untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat 56).
Di titik ini, perlahan saya memahami maksud Allah mengapa di tahun 2016 setelah dari Bandung, Allah takdirkan saya untuk berdomisili sementara di rumah orang tua di Jombang dulu sebelum ke kota ini. Agar sempat bergabung di Majlis Ta'lim Ulul Azmi Kabupaten Jombang yang berkecimpung di ranah pendampingan Taman Pendidikan Al Qur'an di Jombang. Selama kurang lebih satu tahun berkontribusi, saya sempat terlibat dalam program Berkisah untuk santri TPA, Lomba Takbir Akbar dan Pesantren Kilat selama bulan Ramadan. Skenario Allah baru saya pahami maknanya setelah dua tahun berjalan dan situasi telah bergeser di tahap berikutnya.
Di sisi lain saya menyadari adanya perbedaan kebiasaan dan kultur dalam penyelenggaraan TPA di Indonesia seperti pengalaman yang pernah saya jalankan dengan penyelenggaraan TPA di rantau. Dari segi waktu, tentu TPA di tanah rantau tidak bisa berjalan setiap hari di waktu sore namun hanya memungkinkan setiap hari Minggu saja. Kemudian bahasa yang digunakan pun multibahasa, menyesuaikan dengan kefasihan bahasa setiap santri misalnya saja bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan bahasa Jerman. Untuk mempelajari perbedaan ini saya tergugah untuk meminta sharing ide dari teman-teman Ibu Profesional Non Asia yang sudah menjalankan program TPA di rantau terlebih dahulu. Saya pun meminta kesediaan mba Desty untuk berbagi pengalaman beliau mengelola TPA di Leiden, Belanda.

Pembelajaran demi pembelajaran yang saya serap selama berada di Indonesia, sedikit banyak memberikan inspirasi dan ide mengenai langkah yang harus saya jalankan untuk pendidikan Islam anak-anak di rantau. Dimulai dari kebutuhan belajar dua anak kami yang perlu terpenuhi sekalipun fasilitas yang tersedia minim, muncul ide proyeksi program-program untuk TPA ke depan. Kebutuhan terasa semakin mendesak saat kemudian di akhir tahun 2018 tongkat estafet koordinator tim pengurus TPA diamanahkan ke pundak saya.
Tentu ada maksud besar Allah memperjalankan saya pada situasi tersebut dan saya mencoba untuk menggali sebanyak-banyaknya pembelajaran. Langkah yang pertama kali saya jalankan adalah membuka pendaftaran untuk pengajar TPA mengingat di saat yang bersamaan ada dua orang pengajar yang akan segera kembali ke Indonesia. Di sini saya juga mengajak para orang tua untuk berkontribusi menjadi pengajar, di ranah keahlian masing-masing atau kompetensi yang beliau miliki. Karena mendidik anak-anak dalam bingkai Islam adalah sebuah proses panjang yang perlu dikerjakan bersama-sama.
Langkah berikutnya adalah membuka pendaftaran untuk peserta baru, sekaligus melakukan pendataan ulang untuk peserta lama. Merapikan database menjadi hal yang saya pilih sebagai langkah pertama memulai tahun ajaran baru. 


Berikutnya, para pengajar mulai berdiskusi untuk menyusun program dan jadwal. Salah satu hal yang tercetus adalah diadakannya program spesial dalam menyambut Ramadan, bertajuk Ceria Sambut Ramadan untuk menularkan antusiasme dalam menyambut bulan mulia. Di sini, di bulan Ramadan anak-anak beraktivitas seperti biasa, sama seperti hari biasa lainnya. Sehingga aura Ramadan dan semangat menjalaninya memang harus diupayakan.
Selama kurang lebih satu setengah bulan kami mempersiapkan acara tersebut bersama-sama. Target capaian, konsep acara hingga briefing pemateri saya jalankan secara bertahap. Teman-teman pengajar lain sigap mengambil bagian dalam ranah teknis. Ada yang menjadi pemateri, moderator, juga bergerak mempersiapkan hadiah. Para wali santri juga mengambil bagian dengan menyiapkan konsumsi untuk seluruh partisipan. Alhamdulillah acara perdana berdurasi enam jam berlangsung lancar dan meriah.


Untuk program rutin, berlangsung setiap pekan dengan agenda belajar membaca Iqro' atau Al Qur'an, setoran hafalan dan materi tematik. Menurut Mintarti (2012), pada dasarnya TPA terbagi menjadi beberapa kelas sesuai tingkat umur, yaitu :

  1. anak usia lima sampai tujuh tahun
  2. anak usia tujuh sampai sembilan tahun
  3. anak usia sepuluh sampai dua belas tahun
Sedangkan dalam praktiknya di TPA masjid As-Salam, santri juga terklasifikasikan dalam tiga golongan usia yang kurang lebih serupa, yaitu :
  1. usia empat s.d. enam tahun
  2. usia tujuh s.d sepuluh tahun
  3. usia sebelas tahun s.d. empat belas tahun
Berikut beberapa dokumentasinya.


Selanjutnya, tim pengajar mencoba menerapkan satu nilai penting sebagai muslim, tepat waktu. Untuk poin ini, ada satu pengajar yang mengawalinya sejak lama. Kemudian kami upayakan bersama dan terasa perubahan signifikan selama satu tahun proses belajar mengajar, alhamdulillah. Karena antrean setoran santri juga berdasarkan urutan kedatangan, para santri pun mulai terbiasa untuk mengupayakan hadir tepat waktu dengan mengajak orangtua untuk datang ke masjid lebih awal.
Program berikutnya yang sedang berjalan saat ini adalah program upgrading untuk pengajar. Setelah para pengajar berdiskusi, kami menyepakati program tersebut berupa sesi belajar tahsin bersama ustadz Wisnu Arfian yang memiliki kompetensi daam mengajarkan ilmu tersebut. Sesi ini berlangsung setiap hari Minggu siang sebelum sesi TPA dan kajian dimulai, sehingga kami datang lebih awal dari biasanya. Saat ini memasuki sudah memasuki pekan kesembilan.

Mari bergerak dari kebutuhan diri, bergerak dari yang memungkinkan untuk dilakukan, bergerak dari lingkup terdekat dan bergerak untuk menggerakkan. Karena energi dan kebahagiaan itu menular. :)

Wina, Februari 2020


Sumber Referensi :
Dokumentasi Kegiatan TPA Masjid As-Salam WAPENA via Facebook Mesa Dewi. Dapat diakses di https://www.facebook.com/mesa.dp/media_set?set=a.10157487470459650&type=3
Mintarti, Sri. 2012. Pengelolaan Taman Pendidikan Al Qur'an (Studi Situs SDN Panjang 02 Ambarawa). http://eprints.ums.ac.id/22190/14/NASKAH_PUBLIKASI_SRI_MINTARTI.pdf
Pendaftaran Santri dan Pengajar TPA Masjid As-Salam WAPENA. Dapat diakses di http://www.wapena.org/2019/09/pendaftaran-santri-dan-pengajar-tpa/





0 comments:

Post a Comment