Monday, 29 June 2020

Mendeteksi Perkembangan Proses Belajar dengan Mastermind dan Mendengarkan Testimoni


Bismillahhirrohmanirrohim…

Apa yang dilakukan di pekan ini?

Kembali menuliskan jejak perjalanan belajar yang memasuki pekan keenam di program Mentorship ini. Di pekan ini kami ditugaskan untuk fokus pada perkembangan proses belajar. Hal apa saja yang perlu dilakukan terkait hal tersebut? Yang pertama, kami melakukan proses mentoring seperti biasanya, kemudian membuat mastermind harian yang mencakup sudah sukses apa hari ini, apa kunci sukses hari ini? Ingin sukses apa esok hari? Dan ditutup dengan aliran rasa pekan keenam ini.
Selain membuat mastermind, kami juga diajak untuk bermain dan berpikir kreatif dengan cara membuat analogi suasana diri, kemudian membuat analogi untuk mentee dan mentor kita. Selanjutnya adalah kita membutuhkan testimoni dari lingkungan terdekat kita mengenai proses belajar yang sedang kita jalankan.


Bagaimana langkah yang saya lakukan?

Setelah menyimak materi dari ibu, sebenarnya pikiran saya berfokus pada Abschlusstest yang dilakukan keesokan harinya. Namun karena tugas pekan ini adalah tugas rutin harian, maka saya bertekad untuk menjalankannya segera secara rutin untuk melatih konsistensi, bukan merekap menjelang akhir periode tantangan.  Maka rencana aksi yang saya jalankan adalah menuliskan bahan mastermind di buku agenda, sekaliyan dengan rencana kegiatan yang rutin dibuat per hari dan membuat setoran gambar analogi per hari sebagai postingan di media sosial.
Hari Sabtu dan Minggu adalah hari untuk berkegiatan bersama keluarga dan bersosialisasi secara luring. Sudah ada dua kelas daring yang harus saya ikuti di akhir pekan, juga sesi TPA bersama santri yang masih berjalan daring. Karenanya, tugas Bunda Cekatan maupun koordinasi terkaitnya, selain rencana aksi rutin harian diatas, saya jadwalkan pengerjaannya di hari Senin.

Hal apa saja yang didiskusikan dengan mentee?

Hari Senin saya melakukan telefon dengan mentee sesuai permintaan beliau. Beliau memilih untuk berdiskusi dengan telefon ketimbang dengan teks atau kirim suara. Ada banyak poin yang beliau ajukan jadi bahan diskusi seputar manajemen waktu. Kami memulainya dengan topik strategi menjaga fokus. Taraaa....menjaga fokus ini sungguh tak mudah bagi mayoritas perempuan. Ditambah lagi diri ini memang mudah terdistraksi. Hasil asesmen Talents Mapping sudah mengkonfirmasinya koq. Alhasil, menjaga fokus ini cukup jadi tantangan tersendiri. Strategi yang dijalankan saat ini adalah membuat to do list rutin di buku agenda. Mencatat target harian dan membuat rencana kegiatan dengan durasinya. Sengaja saya memilih buku agenda yang dilengkapi kolom per jam, sehingga memudahkan saya untuk membuat kandang waktu harian.
Kami juga membahas mengenai efektivitas penggunaan suatu aplikasi. Pada intinya, aplikasi bisa jadi tak memiliki faktor pengganggu yang mengurangi kenyamanan diri dalam menggunakannya. Wajar saja, karena sang pembuat pun tidak bisa dan tidak pelru juga menyenangkan semua orang. Kita bisa menemukan solusi dengan mencari alternatif aplikasi lain yang serupa, atau melakukannya secara manual tapi bantuan aplikasi. Poin pentingnya adalah kita terus membangun support system untuk keterampilan yang sedang kita asah ini. Jadi, mari fokus pada solusi!

Bagaimana mastermind  yang saya buat?

Di hari Senin, seperti pekan sebelumnya, saya juga mengirimkan logbook harian kepada mentor. Kemudian saya mulai merekap hasil mastermind dan analogi diri yang sudah dibuat secara harian. Berikut mastermind saya :

Lalu, apa kabar analogi diri?


Untuk mentee, saya menganalogikan beliau sebagai seorang yang merawat anggrek. Terinspirasi dari anggrek pemberian teman, yang mana sempat layu karena saya belum bisa merawatnya, kemudian diselamatkan oleh teman yang datang ke rumah. Dari mba Intan, saya belajar bagaimana merawat anggrek. Saya memberikan analogi tersebut kepada mba Nurul karena mba Nurul menjalankan program Mentorship  dengan optimal. Sebelum jadwal telefon, biasanya beliau sudah memiliki daftar pertanyaan dan menyetorkan progress harian beliau. Hal ini memudahkan kami untuk berdiskusi dengan efektif, efisien dan tepat sasaran.

Untuk mentor saya, saya menganalogikan beliau sebagai bibi titi teliti. Beliau mengoreksi tulisan yang saya buat dengan sangat teliti, disertai penjelasan yang detail dalam setiap koreksian. Hal ini memudahkan saya untuk menangkap maksud beliau sekalipun beliau tak memberikan penjelasan secara lisan. Ada kalimat kompleks yang saya buat, dan saya bingung bagaimana merangkainya dengan tepat. Setelah beliau mengoreksi, beliau memberikan alternatif memecahnya menjadi dua kalimat sederhana. Ah iya, terasa lebih mudah dimengerti!
Sumber gambar : https://www.kekenaima.com/2012/07/ke-bobo-fair-bertiga-ajah.html
Dari mentor, saya mendapatkan analogi matahari pagi. Ah, mengapa bisa pas banget dengan apa yang saya sukai? Bahkan saya memanggil si sulung dengan sebutan mentari pagi. Seperti dalam tulisan beberapa tahun lalu ini http://www.griyariset.com/2018/02/lewat-aplikasi-whatsapp-mentari-pagi.html. Terima kasih mba Retno. :)

Kemudian dari mentee, saya mendapat analogi penguin jantan.


Maknanya sangat mendalam. Ternyata ada kebiasaan khusus para penguin jantan ketika masa berkembang biak. Dan mba Nurul menganalogikan dengan hal tersebut karena di proses belajar yang kami jalankan bersama, mentor memberikan teladan konsistensi menjalankan waktu dari pengalaman langsung, seperti halnya penguin jantan yang menunjukkan arti konsistensi kepada anaknya lewat proses pengeraman telur. Memberikan nasehat/ilmu/hikmah saat mentee membutuhkan, yang dianalogikan dengan suapan susu dari penguin jantan kepada anaknya. Aamiin. Semoga proses memfasilitasi mentee dalam hal manajemen waktu ini juga menjadi langkah bagi saya menguatkan manajemen waktu diri dan Allah mudahkan menghadapi tantangan terkait hal tersebut. Aamiin. Bukankah semua ilmu dan keterampilan adalah untuk beribadah padaNya? 

Kini saatnya menyimak testimoni 

Pemberian testimoni untuk diri saya, haruslah dari seorang yang memahami proses belajar bahasa Jerman saya selama ini. Saya mengajukan permintaan testimoni pada suami, guru kursus dan teman dekat yang juga teman sekelas di tempat kursus. Guru kursus belum memberikan jawaban, sehingga saya baru menerima testimoni dari suami dan teman. Testimoni dari teman, beliau menilai saya belajar bahasa Jerman tidak hanya di tempat kursus saja, tapi juga di kehidupan sehari-hari. Hahaha. Beliau tahu persis getolnya saya mengikuti forum belajar kesana-kemari. Beliau sering bertanya, „Mesa ngga capek?“ atau berkata, „Mesa kan hobinya gitu.“ Saat saya menghubungi pihak tertentu untuk mencari informasi atau mendaftar ke sebuah acara.
Testimoni dari suami adalah testimoni yang paling saya nantikan. Meskipun sebenarnya saya perlu menyiapkan mental untuk bisa menerimanya dengan tetap tenang. Beliau seorang yang serius dan cespleng dalam memberi masukan. Bukan devil advocate sih, karena bahkan beliau adalah seorang yang sangat jarang marah atau mengkritisi dengan ekstrem. Namun saya yang dulu cenderung sensitif ini, mudah tersinggung saat mendengarnya. Setelah tujuh tahun menjadi mentee beliau, sekarang saya lebih mudah menerima, terlebih setelah lambat laun paham bahwa ternyata yang beliau sampaikan terbukti benar.
Beliau mengapresiasi saya yang memiliki semangat belajar tinggi dan target yang jelas. Nah, karena ada target maka tentu memiliki standar. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan manajemen agar prosesnya berjalan seimbang dengan peran saya lainnya, juga efektif dan efisien. Beliau mengingatkan saya untuk memperbaiki manajemen secara umum, dari beragam aspek, saya membedahnya menjadi manajemen diri, juga waktu, emosi, dan energi. Yang beliau garis bawahi adalah, segera kerjakan tugas di malam hari sehingga tidak ada lagi tanggungan di pagi hari dan bisa fokus ke pengerjaan standar pagi dan persiapan berangkat kursus. Di musim panas ini waktu Isya' baru masuk di jam 22.30 CEST, seringkali anak-anak baru beranjak tidur jam segitu dan saya alih-alih mengerjakan tugas, kerap terlena untuk ikut tidur saat menemani anak-anak. Bismillah perbaiki diri!
Beliau berpesan bahwa seorang profesional adalah seorang yang mengalokasikan suatu hal dan bisa mencapainya. Bergeraklah ke arah sana. Tugas seorang ibu itu banyak dan ibu di ranah domestik memiliki fleksibilitas tinggi. Itu tantangan. Jam kerja ditentukan sendiri, target capaian pun ditentukan sendiri, tidak ditagih-tagih orang lain atau mengikuti jadwal pihak eksternal. Maka, disiplinkan fleksibilitas diri dan jangan terlena dengan fleksibilitas itu. Ahamdulillah, lega rasanya mendapat testimoni langsung dari beliau, di tengah keheningan malam, duduk bersebelahan di depan meja belajar masing-masing. Ya Allah, ampuni kekhilafan hamba dan mudahkan hamba untuk berproses untuk lebih baik lagi, dalam upaya meraih rida-Mu. Aamiin... Setiap orang memiliki lintasan masing-masing, dan lintasan inilah yang hamba pilih dan jadikan jalan menuju-Mu.

Wina, 30 Juni 2020


0 comments:

Post a comment